Anda di halaman 1dari 63

Misteri Cakar Perunggu

BAB I
PERJALANAN KE OREGON

"Awas!" seru Jupiter Jones.


Terlambat bagi Pete Crenshaw. Dibebani oleh sebuah peti model kuno, sepasang dayung
antik, dan berbagai benda kelautan lainnya, anak bertubuh jangkung itu tidak melihat bahwa ia
berjalan tepat ke arah setumpuk per tempat tidur yang telah disusun dengan rapi oleh Jupiter
pada pagi hari itu di dekat gerbang depan Jones Salvage Yard.
Pete berhenti ketika mendengar peringatan Jupiter namun terlambat. Tumpukan per
tempat tidur itu roboh, memaksa Bob Andrews untuk melompat menjauh sebelum ia terkubur!
Tepat pada saat itu Bibi Mathilda keluar tergopoh-gopoh dari kabin kecil yang berfungsi
sebagai kantor pangkalan barang bekas itu.
"Demi Tuhan!" serunya. "Apa-apaan semua ini?" Ketika ia melihat Bob bangkit berdiri
sambil mengibas-ngibaskan debu di tubuhnya, kekhawatiran muncul di wajah wanita itu. "Kau
tidak apa-apa, Robert? Apakah kau terluka?"
"Saya tidak apa-apa," jawab anak yang bertubuh paling kecil di antara rekan-rekannya
itu, "tapi per-per itu perlu bantuan."
Bibi Mathilda melihat jam saku antik yang selalu dibawanya dan mengerutkan kening.
"Biarkan per-per itu," katanya, "kita harus memuati truk itu sebelum Titus dan Hans kembali dari
membeli-beli di Burbank! " Wanita baik hati itu, yang sebenarnya menjalankan pangkalan barang
bekas itu, berpaling dan berjalan kembali ke kantor. Ketika ia sampai di pintu, ia berhenti
dan berseru melewati bahunya.
"Dan kau lebih hati-hati, Pete Crenshaw!"
Pete menatapnya dengan rasa bersalah. "Ya, ma'am," katanya. "Saya rasa saya tidak
seharusnya berusaha membawa semua barang bekas itu sekali jalan."
Mathilda Jones nampak galak dari luar namun semua orang tahu ia memiliki hati emas. Ia
tersenyum kepada Pete. "Tidak ada yang rusak," katanya. "Aku cuma tidak ingin harus
menjelaskan kepada orang tua Bob bagaimana ia sampai masuk rumah sakit dengan per
ranjang di kepalanya!"
Sambil tetap tersenyum wanita itu menghilang ke dalam kantor untuk menyelesaikan
pekerjaannya. K etika ia telah hilang dari pandangan, Pete berpaling ke arah Jupe.
"Apa sih yang diinginkan Paman Titus dari semua peralatan kelautan ini? Bukankah kita
semua akan pergi ke Oregon untuk berlibur?"
Seminggu sebelumnya bibi dan paman Jupiter telah mengumumkan sesuatu yang tak
terduga -- mereka akan berlibur selama dua minggu! Jupiter sama sekali tidak pernah
mendengar hal semacam itu. Terakhir kali Titus dan Mathilda Jones berusaha berlibur adalah
beberapa tahun yang lalu. Mereka seharusnya pergi ke Monterey namun belum lagi satu
minggu berlalu ketika mereka telah memenuhi truk dengan barang bekas, termasuk beberapa
kuda kayu dari sebuah komidi putar rusak, patung gips setinggi 180 cm yang merupakan
replika dari "Daud" karya Michaelangelo, dan sebuah meja tulis yang bagian atasnya bisa
dibuka, yang menurut Paman Titus pernah digunakan oleh seorang penulis ternama meskipun ia
tidak ingat siapa. Dengan semua benda tak ternilai di bak belakang truk menunggu untuk dicuri,
Keluarga Jones tidak punya pilihan lain kecuali berkemas dan pulang lebih cepat ke rumah -- tempat
mereka paling bahagia sesungguhnya!
Kini tanpa diduga mereka mengumumkan bahwa kali ini mereka akan benar-benar
berlibur. Hans dan Konrad, dua bersaudara berambut pirang dari Bavaria yang membantu-
bantu di pangkalan, akan bertanggung jawab selama mereka pergi.
Ketika Jupiter mendengar bahwa bibi dan pamannya akan pergi ke Oregon untuk
mengunjungi adik lelaki Titus, Atticus, dengan segera ia bertanya kalau Pete dan Bob boleh ikut
serta.
"Aku tidak melihat alasan mengapa tidak," jawab Paman Titus sambil mengisap pipanya
penuh perasaan. "Dua minggu bersama Atticus Cornelius Jones akan merupakan pelajaran
yang bagus bagi kalian," katanya dengan mata berbinar mencurigakan, "meskipun yang akan kalian
pelajari mungkin saja lebih baik tidak pernah dimasukkan ke dalam buku pelajaran di sekolah!"
Jupiter baru sekali bertemu dengan Paman Atticus sebelum itu, ketika ia masih sangat
kecil -- tidak lama setelah kedua orang tuanya meninggal. Dari yang bisa diingatnya dan
cerita-cerita Paman Titus, Atticus Jones juga berjual-beli barang bekas tapi dari jenis yang
berbeda. Titus Jones senang menggambarkan adiknya sebagai seorang "arkeolog bawah air," yang
berarti ia mencari barang bekasnya di bawah air, di dalam ceruk dan celah yang banyak terdapat di
pesisir di dekat kediamannya di Anchor Bay, Oregon.
Atticus Jones juga dianggap sebagai salah satu orang yang paling tahu tentang legenda
bajak laut dan Jupiter masih ingat akan banyak karakter seram yang membumbui kisah-kisah
pamannya lama dulu, kisah-kisah yang sebenarnya tidak diinginkan Bibi Mathilda untuk didengar
oleh Jupiter! Mathilda bukannya tidak suka akan adik Titus, ia hanya tidak habis pikir bahwa
Atticus seharusnya menikah dengan seorang wanita baik hati daripada hidup sebagai seorang
petualang laut yang penuh semangat. Jupiter, yang tengah melamun sambil mengangkat peti tua
dan memasukkannya ke bak belakang truk pangkalan, tidak mendengar pertanyaan Pete.
"Jupe, aku tanya, apa yang diinginkan pamanmu dari semua rongsokan ini?"
Jupiter tersentak dari lamunannya. "Oh, itu untuk Paman Atticus. Kalau tidak salah ia
telah memulai suatu bisnis baru, sebuah toko kecil yang menjual segala peralatan kelautan
yang menarik dan benda-benda bajak laut yang ia temukan ketika me nyelam."
"Apakah ia pernah menemukan harta terpendam?" tanya Bob penuh semangat, "emas
atau permata?"
"Setahuku tidak, Data," jawab Penyelidik Pertama yang gempal. "Hanya beberapa bekas
debu emas tapi tidak pernah sesuatu yang benar-benar harta karun bajak laut. Meskipun,"
tambahnya, "menurut Paman Titus adiknya berkata bahwa ia baru-baru ini menemukan sesuatu
yang mungkin saja bernilai sejarah sangat tinggi."
"Wah, aku ingin tahu benda apa itu," kata Pete sambil membantu Jupiter dan Bob
memasukkan sisa barang bekas ke dalam t ruk.
Jupiter menggeleng. "Ia tidak mau bilang. Ia hanya menyuruh Paman Titus untuk datang dan
melihatnya sendiri."
"Mungkin ia akhirnya menemukan harta karun yang sesungguhnya!" seru Bob. "Mungkin
ia kaya raya sekarang!"
Anak-anak masih berbincang-bincang penuh semangat tentang kemungkinan ini ketika
Titus Jones mengemudikan truk yang kecil melewati gerbang besi besar. Ia melompat keluar dan
tersenyum lebar ke arah anak-anak.
"Semua sudah berkemas dan siap untuk berangkat?" katanya dengan suara keras. "Tidak lupa
akan sikat gigimu, Peter?"
"Tidak, sir," jawab Pete, "semua yang ka mi perlukan sudah siap!"
"Hebat!" seru Paman Titus. Ia memilin kumis besarnya dan melirik Jupiter. "Apakah
bibimu sudah selesai dengan pembukuan atau apakah selama ini ia hanya membuang-buang waktu,
Nak?"
Jupiter baru akan menjawa b ketika ia terpotong oleh sebuah geraman dari pintu kantor.
"Membuang-buang waktu!" Bibi Mathilda mengerutkan kening. "Kuhabiskan sepagian
untuk membetulkan kesalahanmu dalam pembukuan, Titus Andronicus Jones!"
Paman Titus mengedipkan mata ke arah Jupiter, lalu mengangkat Bibi Mathilda dan
mendaratkan sebuah ciuman di pipi wanita itu. Anak-anak tertawa terbahak-bahak sementara ia
berubah merah padam, berteriak-teriak agar suaminya menurunkannya. Masih tertawa-tawa, anak-
anak menutup pintu gerbang dan memanjat naik ke bak belakang truk yang besar. Setelah
memberikan instruksi terakhir kepada Hans dan Konrad dan memastikan semua barang bekas
yang diminta adiknya telah dimuat, Titus melompat ke belakang kemudi truk dan menyalakan
mesin.
"Jaga pangkalan baik-baik!" serunya ke arah Hans dan Konrad. "Jangan lupa mengunci
semuanya setelah malam. Dan jaga kotak uang. Dan jangan lupa mengambil surat-surat dari
rumah."
"Ya," jawab Hans, menganggukkan kepalanya yang pirang pada setiap instruksi, "jangan
cemas, Mr. Jones. Konrad dan aku, kami urus semuanya."
Konrad menyeringai ke arah Paman Titus. "Kali ini cobalah benar-benar pergi selama dua
minggu, hokay?"
"Ada daging dan kue apel baru di dalam kulkas dan banyak makanan kaleng di dapur,"
kata Bibi Mathilda.
Paman Titus terkekeh dan memasukkan gigi. "Sampai jumpa dua minggu lagi!" serunya.
Sementara truk keluar dari pangkalan, Trio Detektif melambai ke arah Hans dan Konrad.
Di depan Paman Titus melantunkan versi sumbang dari "Asleep in the Deep," lagu
kesukaannya. Semua sungguh bersemangat. Sepertinya perjalanan itu akan menarik. Anak-anak
tidak tahu akan seberapa menarik nantinya!
BAB II
SELAMAT DATANG DI ANCHOR BAY!

Titus Jones mengemudi terus sepanjang malam, mengaku terlalu bergairah akan bertemu
dengan saudaranya untuk hal-hal sepele sepert i tidur. Fajar mulai menyingsing ketika truk
besar itu melintasi jalan bebas hambatan yang berkabut. Lampu-lampu dari desa nelayan kecil
Anchor Bay berkilauan bagai permata di tengah langit pagi yang kelabu.
Anak-anak telah mengundi siapa di antara mereka yang dapat tidur di dalam kabin truk
yang hangat. Pete menang dan pada awalnya Jupiter dan Bob menyesali nasib buruk mereka. Namun
mereka segera kembali ke semangat petualangan mereka dan memutuskan bahwa mereka lebih
baik meringkuk di dalam kantong tidur di bawah terpal yang melindungi barang bekas Atticus Jones
daripada berdesak-desakan di antara bibi dan paman Jupe -- terlebih lagi dengan reputasi Bibi
Mathilda akan dengkurnya, yang menurut Jupe dapat membangunkan orang mati!
Jupiter terbangun ketika ia merasa truk melambat saat memasuki batas kota Anchor Bay. Ia
menguap dan meregangkan badan seperti seekor kucing gemuk, kemudian menggoyang-
goyangkan Bob hingga terbangun. Anak yang lebih kecil dan bertampang serius itu
mengerang di dalam kantung tidurnya.
"Pergi... Jika kau punya perasaan sedikit saja, kau akan membiarkanku tidur seminggu
lagi!"
Jupiter tersenyum dan membuka beberapa ikatan terpal di dekatnya. Ia menyingkapkan
sebagian terpal dan memunculkan kepalanya di hawa pagi yang dingin. Bob akhirnya
menyerah dan mengeluarkan k epalanya dari dalam kantung tidur bagaikan seekor kura-kura.
"Hari sudah terang namun otakku berkata aku seharusnya masih tidur," gerutunya.
"Kit a sekarang secara resmi berada di Oregon," lapor Jupiter. "Mari berharap Paman
Atticus telah menyiapkan sarapan besar untuk kita. Aku kelaparan!"
Bob menyeringai. "Seperti kata Pete: aku setuju sepenuhnya!"
Kedua anak itu menyaksikan pelabuhan tua di belakang mereka mulai beraktivitas. Di
sebelah kiri mereka, tertutup oleh kabut pagi, nampak toko-toko yang termakan cuaca dengan
papan nama mengiklankan umpan dan kail, yang bersebelahan dengan toko-toko roti tua yang
menjual makanan dan minuman dingin. Di sebelah kanan mereka terdapat dermaga panjang yang
menuju ke laut tempat jala-jala sedang dimuat oleh para nelayan yang mengenakan jas hujan
kuning, bersiap-siap akan hari panjang di atas air, memeriksa perangkap udang karang dan,
lebih jauh ke laut, berburu ikan salem dan tuna.
Jupe merasa kesunyian kota itu mencekam, tidak ada yang bangun sepagi ini kecuali para
nelayan. Ia menatap dengan takjub sementara para lelaki itu, dengan jas hujan, topi, dan
sepatu lars karet, membuka tambatan perahu mereka dan menjauh masuk ke dalam teluk yang
berkabut.
Di kabin depan Paman Titus sedang berjuang dengan selembar peta, berusaha
menemukan jalan kecil yang menuju ke rumah adiknya. Setelah tanpa hasil berusaha
mengemudi dan mengikuti peta sekaligus, ia akhirnya membangunkan Pete dan
menugaskannya mempelajari peta. Sebagai tim mereka menemuk an jalan yang benar dengan
cepat. Pete sepertinya selalu tahu tujuan yang tepat bahkan jika ia belum pernah berada di
kota itu sebelumnya. Truk barang bekas itu berbelok ke kiri dan terguncang-guncang di sepanjang
jalan tanah yang kecil dan curam, mengarah ke laut. Jupiter menduga rumah Paman Atticus berada
tepat di atas air.
Jupe merasa puas ketika melihat pengamatannya sebagian benar. Kediaman Atticus Jones
adalah sebuah rumah kecil yang tidak berbeda dengan kediaman para nelayan yang tinggal di
daerah itu. Orang-orang sederhana itu lebih memilih tempat tinggal yang praktis dan sederhana
pula daripada sesuatu yang megah dengan kemewahan yang tidak perlu.
Cuaca yang keras dan air laut yang mengandung garam menuntut rumah yang kokoh
dan kasar. Kediaman Atticus Jones nampak terpelihara dengan baik meskipun Jupe mendapat
firasat bahwa Bibi Mathilda akan menyuruh anak-anak menyapukan cat baru sebelum liburan itu
berakhir.
Di sebelah rumahnya terdapat sebuah perahu besar berwarna biru dengan garis putih
yang nampak cukup besar untuk ditinggali. Perahu itu tertambat di dinding tebing laut, tiga meter
ke bawah, dan bisa dicapai melalui tangga kayu yang menuju ke sebuah dermaga kecil.
Tertulis dengan huruf-huruf rapi di bagian belakang perahu nama "Pembalasan Ratu Anne."
Jupiter menduga bahwa perahu itulah yang digunakan pamannya untuk menyelam dan juga,
hampir pasti, mencari nafkah.
Paman Titus menghentikan truk di depan pintu dan mematikan mesin. Ia telah memarkir truk
di samping sebuah mobil barang tua. Kendaraan merah berkarat itu pastilah milik Atticus
Jones.
Bibi Mathilda keluar perlahan-lahan dari dalam truk, bergerak dengan kikuk dengan sendi-
sendinya yang kaku. Titus, sebaliknya, keluar dengan penuh semangat, menyerukan nama
adiknya.
"Atticus Jones! Di mana kau, Penjahat Tua? Tunjukkan dirimu, Perompak, atau aku
terpaksa menaikkan bendera tengkorakku dan menyerbu rumahmu, merampok daging dan
telurmu!"
Jupiter berdiri di jalan tanah dengan tangan di pinggang dan mendengarkan, kepalanya
miring ke satu sisi. Tidak ada jawaban dari dala m rumah dan suara Paman Titus yang
menggelegar hanya membuat gugup sekelompok gagak yang hinggap di atap rumah Atticus. Burung-
burung itu berkaok-kaok marah kepada mereka dan terbang menjauh dengan bulu-bulu
bergemerisik.
"Demi para malaikat!" desis Bibi Mathilda. "Kau akan membangunkan semua tetangga,
Titus Jones!"
"Siapapun yang tinggal sedekat ini dengan air akan bangun sepagi matahari, Sayang!"
seru pama n Jupiter. "Nelayan yang masih tidur sesiang ini sebaiknya tinggal saja di ranjang tidak
ada tempat bagus yang tersisa untuknya!"
"Mungkin ia sedang keluar atau ada di belakang," kata B ob.
"Kalau dia manusia normal, tentulah dia masih tidur," gumam Pete.
"Atticus selalu bangun ketika fajar merekah sejak kami masih kanak-kanak," jawab
Paman Titus. "Dia jelas tidak normal tapi aku tidak menyangka bahwa dia lupa kita datang hari
ini."
Bibi Mathilda telah mencapai batas kesabarannya. Dengan gerutuan dan menggumamkan
"sama saja!" wanita itu bergegas menuju ke balik rumah untuk mencari tuan rumah mereka.
"Mungkin kita harus..." Bob hendak mengusulkan untuk membawa barang-barang
mereka masuk ketika ia melihat raut wajah Jupiter. Remaja gempal itu tengah sibuk
mencubiti bibir bawahnya -- suatu tanda yang dikenal baik oleh Bob dan Pete -- Jupiter
sedang memikirkan sesuatu dengan serius. Itu adalah kebiasaan Penyelidik Pertama jika ia
sedang berpikir keras. Seringkali ia sendiri bahkan tidak sadar ia melakukan hal itu.
"Ada apa, Bob?" tanya Pete sambil menyentuh ujung jari-jari kakinya, berusaha
meregangkan ka ki dan lututnya yang pegal, terbentur-bentur di kabin truk sepanjang malam.
"Kurasa ada yang dipikirkan Jupe. Apa yang kau lihat, Pertama?"
Jupiter mendekati pintu depan rumah kecil itu sambil meletakkan jari di bibir. Ia berpaling
dan berbisik kepada Pete. "Dua, pergi ke belakang dan cari Bibi Mathilda. Dan jaga agar ia
tetap tenang."
Pete sama sekali tidak ragu-ragu. Ia percaya akan firasat Jupe. Remaja jangkung itu
bergegas mengelilingi rumah, berjingkat-jingkat agar menimbulkan suara sepelan-pelannya.
"Ada apa, Jupiter?" tanya Paman Titus. Kekhawatiran terdengar di suaranya.
"Pintu depan sedikit terbuka," kata Jupiter. "Sebaiknya kita bergerak dengan hati-hati
hingga kita tahu apa yang sedang berlangsung dan apa yang telah terjadi terhadap Paman
Atticus."
"Kau kira ia ada dalam bahaya?" tanya Bob.
"Sebaiknya kita tidak berspekulasi sampai kita selidiki lebih lanjut," kata Jupiter. Ketika
Pete telah membawa Bibi Mathilda yang terbelalak kembali ke depan rumah, Jupe memberi
aba-aba kepada Bob, Pete, dan Paman Titus.
"Data, tinggal di sini bersama Bibi Mathilda. Paman Titus dan Dua akan bergerak di setiap
sisi rumah, menuju ke balik rumah dan Pembalasan Ratu Anne sementara aku masuk melalui
pintu depan."
"Apa yang harus kita lakukan jika menjumpai seseorang?" tanya Pete gelisah.
Jupiter diam selama beberapa saat, memikirkan tanda yang baik. Ia mengangkat bahu.
"Berkaokla h seperti seekor gagak."
"Hati-hati, Anak-anak," kata Bibi Mathilda, "mungkin saja ada seorang pencuri. Jika kalian
mengejutkannya, ia bisa saja melakukan tindakan nekat."
"Wah, aku tidak berpikir ke situ," Pete mengernyit seraya mengendap-endap di sisi
rumah.
Begitu berada di dalam rumah pamannya, Jupiter menyipitkan mata dan menunggu
hingga terbiasa dengan bagia n dalam rumah yang remang-remang. Sa mbil berjingkat-jingkat
di dalam rumah yang sunyi, ia dapat melihat sosok-sosok besar di dala m bayang-bayang,
tumpukan-tumpukan rongsokan dari laut, dan peralatan menyelam. Di latar belakang
terdengar bunyi laut yang terus-menerus.
Tiba-tiba dari balik keremangan terdengar suara pintu ditutup secara perlahan. Jupe
berhenti sejenak di tengah rumah dan menga mati sekelilingnya. Remaja gempal itu menahan
nafas dan menunggu suara lain terdengar. Mata nya menelusuri tumpukan barang bekas yang
diambil dari laut. Sepertinya Paman Atticus mempunyai barang bekas sebanyak Paman Titus
-- hanya saja miliknya berada di dalam rumah!
Ada beberapa peta pelayaran antik di dalam bingkai kayu buatan tangan. Ada jangkar-
jangkar berkarat yang berasal dari kapal yang telah lama tenggelam, tergeletak di samping
tumpukan peluru meriam. Bahkan ada pula sebuah pakaian selam model kuno yang
digunakan untuk menyelam di laut dalam, lengkap dengan helm tembaga dan katup-katup
bundar. Helm itu serupa dengan yang mereka bawa dari Rocky Beach.
Jupe mendekati pakaian kuno itu, yang
tergantung dengan rantai tebal, dan berdiri di
depannya. Pastilah diperlukan seseorang yang
sangat besar dan sangat kuat untuk
mengoperasikan pakaian itu, pikirnya. Ia telah
membantu Pete mengangkat helm yang
mereka bawa dan memasukkannya ke dalam
truk dan helm itu beratnya hampir 25 kg, tanpa katup-
katup bundarnya yang masing-masing terbuat
dari kaca setebal 2,5 cm! Bagian-bagian lain pakaian
selam itu terbuat dari kanvas putih tebal dengan
sebuah sabuk timah dan sepatu lars timah besar.
Jupiter merasa pakaian itu mirip dengan yang
dikenakan alien-alien dalam sebuah film fiksi
ilmiah.
Ia mengagumi pakaian selam antik itu beberapa
lama, kemudian berpaling, hendak meneruskan
mencari si penyusup. Namun tanpa peringatan
pakaian antik itu sekonyong-kony ong hidup!

Dengan gemerincing rantai lengan dan sarung tangannya yang besar merentang dan
menangkap Jupiter, mengunci lengan anak itu ke samping. Penyelidik Pertama, yang
biasanya selalu tenang, hanya dapat berteriak tertahan sebelum sebuah sarung tangan tebal
membekap mulutnya! Ia didekap dengan kuat dan kasar dan sekuat apapun ia
memberontak, ia tidak dapat membebaskan diri!
BAB III
LEGENDA SI JANGGUT HITAM

Reaksi pertama Jupiter dalam dekapan pakaian selam itu adalah panik namun otaknya
segera mulai bergerak dengan cara kerjanya yang teliti dan teratur. Ia teringat akan suatu
gerakan gulat yang pernah diajarkan oleh Pete dan tanpa ragu-ragu ia mengangkat tangan
kanannya yang digenggam si penyerang dan merentangkannya di atas kepala, secara efektif
membebaskan diri dari dekapan maut si penyerang.
Dari balik pakaian selam itu terdengar sebuah geraman samar-samar. "Kau tak bisa lari
sekarang, pencuri sial! Akhirnya kutangkap basah kau!"
Begitu terlepas dari genggaman orang itu, Jupier segera berkaok seperti seekor gagak
sekencang-kencangnya. Selagi ia berbuat demikian, seraut wajah yang tak asing muncul di
samping pakaian selam itu dan mengerutkan kening.
"Pencuri macam apa kau ini?"
Jupiter berhenti berkaok-kaok dan berkedip. "Paman Atticus?"
"Jupiter?"
Pada saat itu orang-orang yang lain masuk berbondong-bondong ke dalam ruangan yang
remang-remang itu. Atticus Jones menyalakan lampu dan tersenyum. Anak-anak takjub
melihat seraut wajah yang nampak tidak asing. Selain bahwa ia lebih pendek beberapa
sentimeter dan memiliki kumis yang lebih besar, Atticus Jones bisa mengaku sebagai saudara
kembar Titus Jones.
"Titus Andronicus! Dasar penja hat tua, aku kira kau akan datang malam ini! Dan kau
membawa wanita tercantik di California Selatan bersamamu."
Bibi Mathilda mencibir dan menggoyang-goyangkan jari tangannya di depan Atticus. "Kau
sama sekali tidak berubah, Atticus Jones! Menakut-nakuti kami dengan tipuanmu. Dan
jangan coba-coba bermanis mulut di hadapanku. Simpan saja untuk seorang wanita yang
belum menikah, mungkin ia akan bisa membantumu membereskan tempat ini. Kulihat
sepertinya ba nyak yang harus kulakukan di sini!"
Atticus Jones mencium tangan Bibi Mathilda dan terkekeh. "Jangan berani-berani
melakukan itu, Nyonya. Segala sesuatu yang ada di sini telah diatur dan dikatalogkan denga n
seksama. Aku punya sistem khusus dan jika kau membereskannya, kau akan merusak
segalanya. Aku melarangmu!" Kini ia berpaling ke arah anak-anak, kumis walrusnya
bergoyang-goyang seiring dengan senyumannya. "Jupiter, sudah lama sekali. Kau tahu kau
selalu merupakan keponakan kesayanganku. Siapakah teman-temanmu ini?"
Tanpa ragu-ragu Jupe merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan salah satu kartu
nama Trio Detektif yang berukuran besar dan satu kartu lagi, dan memberikannya kepada
pamannya. "Mungkin ini bisa menjelaskan," katanya. Pada kartu pertama tertulis:
TRIO DETEKTIF
"Kami Menyelidiki Apa Saja"
???

Penyelidik Pertama...........Jupiter Jones


Penyelidik Kedua............Peter Crenshaw
Catatan dan Riset..............Bob Andrews
Kartu kedua bertuliskan:
Dengan ini menyatakan bahwa pemegang kartu ini adalah seorang
Asisten Muda Sukarela yang bekerja sama dengan kepolisian
Rocky Beach. Bantuan apapun yang diberikan kepadanya akan
kami hargai.

Tertanda
Samuel Reynolds
Kepala Polisi
Jupiter, yang tidak pernah melewatkan kemungkinan akan adanya misteri, segera
meneruskan. "Tadi aku dengar yang Paman katakan dari balik pakaian selam itu, Paman
Atticus. Paman sepertinya menyangka aku adalah seorang penjahat. Jika akhir-akhir ini
terjadi pencurian, mungkin Trio Detektif bisa membantu Paman."
Atticus Jones tertawa dan seperti menyembunyikan sesuatu mengusap hidungnya yang
besar, lalu menunjuk ke arah Jupe dan menge dipkan sebelah mata. "Kakakku selalu berkata
bahwa kau setajam paku payung. Aku mungkin punya sesuatu untuk biro penyelidikmu."
Tapi sebelum ia sempat melanjutkan, terdengar ketukan keras di pintu depan. Atticus
Jones berjalan ke ruang depan, diikuti oleh para tamunya.
Seorang lelaki muda yang tampan, berusia kira-kira tiga puluh tahun, dengan rambut
pirang dan mata biru seperti kristal, berdiri terengah-engah di depan pintu. Ia mengusap
keringat dari keningnya dan berusaha mengatur nafas.
"Ada hasil, Cutter?" tanya Atticus suram.
Lelaki bernama Cutter itu menggelengkan kepala, sama sekali tidak menghiraukan orang-
orang yang berkumpul di dalam ruangan.
"Sayangnya tidak. Kukira aku melihatnya menuju kota, pakaiannya serba hitam. Ia bisa
ada di mana saja. Mungkin sekali ia bersembunyi di dalam salah satu perahu yang masih
tertambat. Kita takkan menemukannya sekarang."
"Demi petir!" geram Atticus. "Penjahat itu baru saja mencuri untuk terakhir kalinya! Lihat
saja nanti!"
Mata Jupiter berbinar-bi nar. "Jadi memang ada yang telah mencuri dari rumah Paman!
Dan bukan untuk pertama kalinya!"
Bibi Mathilda berdiri dengan tangan dilipat. Ia menatap Jupiter dengan galak. "Jangan
ikut campur urusan orang, Jupiter Jones. Klub teka-teki kalian harus menunggu sampai kita
kembali ke Rocky Beach. Ini urusan polisi."
Lelaki yang bernama Cutter menatap Jupiter, kemudian Atticus, dengan bingung. "Klub
teka-teki? Siapa mereka ini, Jones?"
Paman Atticus melingkarkan tangannya di pundak Jupe dan tersenyum. "Di manakah
sopan-santunku? Kapten Oscar Cutter, ini keponakanku Jupiter Jones, sahabat-sahabatnya
Bob dan Peter, dan kakakku Titus dan istrinya yang cantik Mathilda. Mereka datang jauh-jauh
dari Rocky Beach, California untuk mengunjungiku."
Dengan sopan Kapten Cutter bersalaman dengan semuanya. "Sungguh menyenangkan
dapat bertemu dengan kalian. Kuharap kalian menikmati kunjungan kalian di Anchor Bay.
Aku berani jamin, kalian takkan menemukan masakan salmon yang lebih enak di Pesisir
Barat!"
Mendengar makanan disebut-sebut, perut Jupe mengeluarkan suara cukup keras dan
mereka semua tertawa terbahak-bahak.
Pete menepuk punggung Jupiter. "Inilah misteri yang sesungguhnya. Bagaimana Jupiter
bertahan sedemikian lamanya tanpa makanan?"
Titus Jones berdiri di samping adiknya dan menyalakan pipa, mengisapnya dengan penuh
perasaan selama beberapa saat. "Kurasa kita harus memanggil polisi dan kemudian mencari
makan. Anak-anak ini belum makan apa-apa sejak makan malam kemarin."
Jones yang lebih muda menggelengkan kepala. "Tidak ada gunanya memanggil polisi.
Aku memanggil mereka setiap dua minggu selama dua bulan terakhir. Mereka datang,
mengendus-endus di sana-sini, dan setiap kali mengatakan hal yang sama. Tidak ada yang
dapat mereka lakukan. Mereka menyarankan aku memasang alarm atau mengganti kunci
pintu. Tapi apa gunanya? Bagi sebagian besar orang, yang kujual hanyalah rongsokan tak
berharga! Hanya seorang kolektor benda-benda kelautan sejati tahu nilai sebenarnya dari
penemuan-penemuanku ini."
Jupiter memberi isyarat kepada Bob untuk mengeluarkan buku catatan kecil dan
pensilnya. Begitu Jupiter Jones mencium sebuah kasus, tidak ada yang dapat
menghentikannya hingga kasus itu terungkap -- apapun yang dikatakan oleh Bibi Mathilda.
"Apakah pencuri berpakaian hitam itu mengambil sesuatu yang berharga pagi ini, Paman
Atticus?"
Atticus Jones nampak terkejut. "Aku... aku tidak tahu. Sampai kini pencuri itu hanya
mengambil benda-benda sepele: beberapa peluru meriam, botol-botol anggur tua, satu atau
dua blunderbuss."
"Blunder-apa...?" tanya Pete.
"Blunderbuss," jawab Oscar Cutter. "Sejenis pistol antik yang digunakan oleh bajak laut
dan militer dulu. Benda sema cam itu banyak terdapat di dasar laut sekitar sini."
Giliran Bob yang bersuara. "Paman Titus pernah menyinggung bahwa Anda menemukan
suatu harta baru-baru ini , Mr. Jones. Sesuatu dengan nilai sejarah yang besar. Mungkinkah
benda itu yang dicari si pencuri?"
"Kau menemukan sesuatu yang besar?" tanya Cutter, suaranya terdengar sedikit kesal
karena tidak diikutsertakan dalam penemuan terbaru Atticus Jones. "Kapan? Kau tidak
pernah bercerita..."
Tapi Atticus tidak mendengarkannya. Wajahnya berubah muram. "Ya ampun! Aku sama
sekali tidak berpikir ke sana. Lebih baik kulihat kalau benda itu masih ada!"
Atticus berlari melintasi rumah, diikuti oleh semua orang. Ia berhenti di sebelah pakaian
selam yang tadi dipakainya untuk menyergap Jupiter. Jupe kini dapat melihat bahwa pakaian
itu hanyalah sebuah hiasan yang ditopang oleh sebuah papan miring di baliknya. Atticus
membuka dua buah gerendel dan membuka suatu peti tua. Ia berseru tertahan.
"Hilang! Demi Tuhan... benda itu hilang!"
Jupiter, Pete, dan Bob berkerumun di sekeliling Atticus dan mengintip ke dalam peti tua
itu. Peti itu nampak seperti satu dari ratusan peti serupa yang muncul di pangkalan barang
bekas selama bertahun-tahun. Jelas tidak cukup kokoh untuk menyimpan suatu harta di
dalamnya, pikir Jupiter. Seorang anak kecil dapat dengan mudah mengambil isinya. Peti itu
bahkan tidak dikunci!
Titus seperti berdansa, melompat dari satu kaki ke kaki yang lain. "Apa itu, Dik? Apa
yang telah diambil? Ayo bicara sebelum aku mati penasaran!"
Atticus Jones mendesah dan mengusap keningnya dengan sehelai sapu tangan.
"Penemuan terbaruku..." ia menghela nafas tanpa daya. "Kalau benda itu benar-benar
seperti yang kuduga, segala sesuatu yang sekarang kita ketahui tentang peninggalan William
Teach akan berubah!"
"William Teach?" kata Jupiter bersemangat. "Maksud Paman Si Janggut Hitam?"
"Satu-satunya," gumam Atticus.
"Kau pikir kau telah menemukan sesuatu milik Janggut Hitam?" Cutter berseru tak
percaya. Pria itu seolah-olah hendak pingsan dan harus meraih sebuah meja kayu untuk
mengembalikan keseimbangannya.
"Kemungkinan... Kemungkinan," kata Atticus Jones, menggeleng-gelengkan kepala. "Aku
sedang mencari rongsokan dari sebuah kapal karam di dekat Semenanjung Ocracoke -- kalau
kau tahu tempat yang tepat, banyak sekali bangkai kapal di sana -- ketika aku menemukan
sesuatu yang besar!" Atticus memandang anak-anak. "Kalian tahu sejarah William Teach?"
"Jupe tahu banyak!" kata Pete bangga. "Kami telah mengungkap berbagai kasus yang
menyangkut perompak, meskipun misteri-misteri itu berhubungan dengan perompak dari
Pantai Barat, seperti legenda Perompak Ungu."
Jupiter, yang memiliki daya ingat yang menakjubkan dan bakat untuk mengingat kembali
nyaris semua yang pernah dibacanya, menarik nafas panjang. "William Teach, lebih dikenal
sebagai Si Janggut Hitam, memulai petualangan lautnya pada akhir 1600-an sebagai
perompak di kawasan yang kini dikenal sebagai North Carolina. Perompak adalah suatu
profesi yang legal dan bahkan didukung oleh pemerintahan waktu itu. Sebenarnya karir
Janggut Hitam sebagai bajak laut tidak berlangsung lama. Sekitar tahun 1716 ia memiliki
armada yang terdiri dari empat buah kapal: kapal utamanya Pembalasan Ratu Anne, dua
buah kapal bertiang satu Petualangan dan Balas Dendam, dan kapal kecil yang digunakan
untuk memperbaiki tiga yang lain."
Atticus Jones mengagumi pengetahuan keponakannya akan bajak laut namun Jupiter
baru saja mulai. "Pada tahun 1718 Si Janggut Hitam dan anak buahnya yang terdiri dari
hampir tiga ratus orang sangat ditakuti di kawasan Pantai Timur sehingga kapal-kapal lebih
suka berlayar menjauhi North Carolina, ratusan mil menyimpang dari tujuan untuk
menghindari mereka.
"Gubernur Spotswood dari Virginia, setelah yakin bahwa gubernur North Carolina tidak
melakukan apapun, memutuskan untuk menindak para bajak laut. Ia mengirim dua kapal
perang di bawah komando Letnan Robert Maynard ke sebuah kanal yang dikenal sebagai
Lubang Teach.
"Yang terjadi selanjutnya adalah pertempuran berdarah yang di dalamnya Pembasalan
Ratu Anne dan Petualangan tenggela m. Konon Janggut Hitam mendapat lebih dari tiga puluh
luka dalam pertempuran itu, termasuk luka tembakan dan pisau. Dikatakan bahwa ia
mengarahkan peluru terakhirnya ke arah kepa la Letnan Maynard sebelum kemudian jatuh
dan tewas di atas geladak kapal Maynard yang penuh darah tanpa sempat menarik pelatuk.
Letnan Maynard memenggal kepala Janggut Hitam sebagai bukti kematian bajak laut itu dan
menggantungnya di tiang utama kapalnya. Kemudian ia membuang tubuh bajak laut itu ke
laut. Menurut para anak buahnya tubuh Si Janggut Hitam demikian jahatnya sehingga ia
sempat berenang mengelilingi kapal Angkatan Laut itu tiga kali sebelum akhirnya
tenggela m."
Bibi Mathilda menggeleng-gelengkan kepalanya, seolah-olah hendak menyingkirkan
bayangan tewasnya Si Janggut Hitam. "Cerita yang sungguh seram! Aku tidak dapat
membayangkan mengapa kau mengisi kepalamu dengan sampah seperti itu, Jupiter."
"Jadi sekarang kita semua tahu lata r belakang Si Janggut Hitam," kata Oscar Cutter
dengan tidak sabar, "apa hubungannya dengan penemuanmu?"
Atticus Jones memandang peti yang kosong dengan tatapan kosong dan mendesah lagi.
"Kau telah mendengar bagaimana Pembasalan Ratu Anne dan Petualangan tenggelam dalam
pertempuran di Lubang Teach?"
"Ya, lalu?" desak Cutter.
"Nah," kata Atticus, "sekarang kutanya: apa yang terjadi terhadap kapal ketiga? Balas
Dendam tidak pernah disebut-sebut, begitu pula dengan kapal keempat. Menurut legenda
setempat di North Carolina, Janggut Hitam memindahkan semua harta dari kedua kapalnya
ke atas Balas Dendam dan kemudian menenggelamkan Pembasalan Ratu Anne dan
Petualangan untuk mengurangi ukuran armadanya. Secara kebetulan, pada hari yang sama
Maynard menyerbu. Hart a itu tidak pernah ditemukan hingga kini."
Oscar Cutter terlihat tidak percaya. Ia bangkit dan mulai mondar-mandir. "Apakah kau
bilang Balas Dendam berlayar mengelilingi Kepulauan America hingga ke Pantai Barat? Ke
Oregon? Kuharap kau sadar betapa tidak masuk akalnya hal ini! Kejadian itu lama sebelum
Terusan Panama mulai direncanakan! Kapal itu terlalu kecil untuk melakukan perjalanan
sejauh itu!"
Atticus mengangkat tangannya dalam keputusasaan. "Aku tahu, aku tahu! Meskipun
demikian berdasarkan penemuanku, memang itulah yang telah terjadi!"
"Dan apakah penemuan Anda itu, Mr. Jones?" Pete ingin tahu.
Atticus Jones menatap kosong ke arah peti. "Terkubur di bawah pasir dan kerikil
Semenanjung Ocracoke terdapat sesuatu yang kupercaya merupakan tiang haluan dari kapal
ketiga Janggut Hitam, Bala s Dendam."
"Apa itu tiang haluan?" tanya Bob.
"Tiang haluan," Jupiter menjelaskan, "adalah suatu tiang panjang atau patung yang
menempel di haluan sebuah kapal. Pada masa itu seringkali dalam bentuk wanita cantik atau
putri duyung."
"Juputer benar," kata Att icus. "Namun tiang haluan Balas Dendam berwujud seekor elang
raksasa setinggi empat kaki. Cakar dan paruhnya terbuat dari perunggu dan matanya batu
delima!"
"Dan itukah yang kau temukan?" desak Bibi Mathilda. "Seekor burung raksasa?"
"Tidak juga," jawab Atticus, menggelengkan kepala. "Kayu itu pasti telah lapuk dan
hancur ratusan tahun yang lalu. Yang kutemukan adal ah sebuah cakar perunggu di dasar laut
-- dengan ukuran dan bentuk yang tepat untuk seekor elang kayu setinggi empat kaki!"
BAB IV
KASUS BARU!

"Tidak masuk akal!" Oscar Cutter tertawa. "Cerita yang terlalu ajaib untuk menjadi
kenyataan!"
"Aku tahu hal itu memang terdengar mustahil," Atticus Jones mengakui, "dan sangat
mungkin cakar itu berasal dari sebuah kapal yang lain sama sekali. Namun kemungkinan itu -
- kemungkinan sejuta banding satu bahwa harta karun Si Janggut Hitam tersebar di dasar
perairan Ocracoke ... ayolah, Cutter, bahkan kau pun, seorang skeptis sejati, pasti mengakui
bahwa ini adalah impian seorang pemburu bajak laut!"
Oscar Cutter mengibaskan tangan dengan kesal dan berjalan menuju pintu. "Kau ingin
tahu apa pendapatku, Jones? Kurasa ada buih nitrogen di dalam otakmu akibat terlalu cepat
keluar dari rua ng dekompresi. Kata-katamu tidak masuk akal! Dan sekarang, aku mohon diri,
aku harus pergi. Universitas tidak membayarku untuk memburu legenda gila. Mereka
menuntut bukti nyata." Ia menoleh ke arah Titus dan Mathilda, tidak menghiraukan anak-
anak. "Senang berkenalan dengan Anda." Dan ia pun berpaling dengan kaku dan berjalan ke
mobilnya.
Pete menggaruk-garuk kepalanya sambil memandangi lelaki pirang itu pergi menjauh di
dalam mobil putihnya yang kecil. "Wah, ada apa dengannya?"
Atticus Jones menenangkannya. "Jangan hiraukan Cutter. Ia berasal dari keluarga pelaut
dan kesal jika bajak laut disebut-sebut. Ia emosional namun tidak berbahaya. Ia juga
seorang penyelam. Bahkan ia punya tempat penggalian besar beberapa mil di sebelah utara
tempat penggalianku. Sebuah universitas di Portland mendanainya dan ia terus-menerus
ditekan. Universitas itu menginginkan hasil atau mereka akan menghentikan kucuran dana.
Itulah sebabnya aku bekerja seorang diri. Aku tidak tahan jika ada seseorang yang
mengawasiku selagi aku bekerja!"
Jupiter masih sibuk berpikir tentang si penyusup berpakaian serba hitam. Ia mendesak
pamannya. "Paman Atticus punya dugaan siapa orang itu? Maksudku, siapa yang mau
menyusup ke rumah ini? Sepertinya benda-benda rongsokan dari kapal karam bukanlah
sesuatu yang berharga. Tidak ada pasar yang besar untuk jangkar dan peluru timah."
Atticus Jones menatap Jupe. "Jupiter, Anakku, itu adalah pengamatan yang sangat teliti.
Dan aku tahu siapa penjahat yang menyusup ke rumahku!"
"Anda tahu siapa orangnya?" Pete terkejut. "Kalau demikian mengapa Anda tidak bilang
dari tadi? Kita bisa memanggil polisi!"
"Ahh..." kata Atticus, "tidak ada bukti, Peter. Tapi dengan bantuan Trio Detektif kurasa
aku bisa mendapatkan cukup bukti untuk mengirim para Perompak Baru dari Barat ke balik
terali besi selama beberapa waktu!"
"Perompak Baru dari Barat!" seru Bob bersemangat. "Maksud Anda, benar-benar ada
bajak laut yang masih hidup di Anchor Bay?"
Atticus tertawa dengan ceria, mengembalikan penutup peti, dan duduk di atas peti itu,
yang hingga beberapa saat sebelum itu menyimpan Cakar Perunggu. Atticus tidak mau
bersusah payah memasang kembali gerendel di peti yang kini kosong itu. "Bukan bajak laut
sesungguhnya, Bob, meskipun mereka menyebut diri perompak. Perompak Baru dari Barat
adalah sebuah organisasi pria dan wanita dari California Selatan hingga Washington yang
mengaku keturunan bandit-bandit zaman dahulu dari Pantai Barat. Bajak laut seperti Black
Jack Sebastian, Kapten Ronald 'Kaki Kayu' LeForge, Salt y Jon Waters, dan Black Peter
Blanch. Banyak yang tidak punya bukti kuat selain nama keluarga yang sama namun
beberapa memang benar-benar keturunan langsung."
"Perompak di Anchor Bay," dengus Bibi Mathilda, "sekarang aku sudah mendengar
semuanya! Ide konyol..." gumamnya, lalu kembali ke tumpukan peta kuno yang sedang
dirapikannya di atas meja Atticus yang penuh sesak.
Jupiter tidak menghiraukan bibinya dan menatap pamannya dengan tatapan puas.
"Kuduga Perompak Baru dari Barat menentang pengambilan barang-barang dari kapal
karam, terutama kapal bajak laut. Mereka menganggap Paman mengganggu ketenangan
tempat peristirahatan terakhir leluhur mereka."
"Benar-benar menakjubkan!" seru Paman Atticus. "Memang itulah pekerjaan mereka!
Setiap kali aku pergi untuk mengadakan ekspedisi, aku harus berurusan dengan tiga atau
empat perahu motor yang mengelilingi perahuku. Perahu-perahu mereka mengeruhkan air
dan membuat penyelamanku sungguh berbahaya. Tapi aku tidak akan menyerah! Aku
pernah menyelam dalam kondisi terburuk dan air yang sedikit berombak takkan cukup untuk
menakut-nakuti Atticus Jones!"
"Tapi kini lebih dari air yang berombak," tukas Titus. "Kini mereka melanggar dan
mencuri hak milikmu."
"Memang bena r," kata Atticus setuju. "Dan aku tidak dapat menjelaskannya. Seperti yang
kukatakan tadi, kejadiannya hanya sekali setiap dua minggu kira-kira dan setiap kali mereka
hanya mengambil satu benda. Sesungguhnya aku belum pernah memergoki seorang pun.
Oscar melihat seseorang pagi ini dan itu pertama kalinya. Kurasa kejadian-kejadian itu
hanyalah peringatan bahwa para perompak itu mengawasiku, berusaha menakut-nakuti aku
sehingga berhenti menyelam. Mungkin tidak akan terjadi apa-apa selama kalian di sini."
"Dapatkah aku dan rekan-rekan berasumsi Paman hendak menyewa Trio Detektif?" tanya
Jupiter dengan gayanya yang paling profesional.
Bibi Mathilda mencibir dan menggeleng-gelengkan kepala sement ara Atticus Jones
mengelua rkan dompet usangnya dan mengambil selembar uang kertas senilai dua puluh
dolar. "Uang muka," katanya sambil menyerahkannya kepada Jupiter. "Nanti akan ada dua
puluh lagi untuk kalian masing-masing jika kalian berhasil menangkap pencuri yang
mengambil Cakar Perunggu sebelum kalian kembali ke Rocky Beach dua minggu lagi!"
Jupiter tidak tahan untuk tidak menyeringai. Tidak ada yang dicintainya lebih daripada
sebuah misteri yang menantang dan otaknya sudah mulai berputar kencang memikirkan
kasus baru ini. "Paman tahu perwakilan Perompak Baru dari Barat di daerah ini?"
"Aku tahu," kata pria berkumis besar itu, "tapi aku tidak akan memberi tahu kalian!"
Jupiter, Pete, dan Bob nampak terkejut. "A-Apa..." Jupe hendak mengatakan sesuatu. Ia
berhenti ketika melihat seringai nakal pamannya.
"Maksudku, aku tidak akan memberi tahu kalian sebelum kita memasukkan telur dan
daging panas serta jus jeruk ke dalam perut lapa r kalian masing-masing!"
BAB V
PARA PEROMPAK BARU

Setelah menyantap sarapan besar di sebuah rumah makan di pusat Anchor Bay, Trio
Detektif berjalan melewati jalan setapak yang penuh dengan turis, mengikuti petunjuk
Atticus, menuju ke markas Perompa k Baru dari Barat.
"Menurut Paman Atticus Anchor Bay benar-benar telah berubah menjadi sarang
turis," kata Jupiter, mengamati suatu keluarga yang sedang berkantong-kantong
permen dari seorang pe dagang pinggir jalan. "Sebagian tertarik untuk memancing, yang
lain menikmati toko-toko kecil dan rumah makan. Bahkan ada permainan video dan
lintasan go-kart untuk anak-anak. Kurasa semua orang berusaha meraup keuntungan
dari para turis. Itulah sebabnya Paman Atticus membuka toko barang antiknya. Ia
merasa ada baiknya ia mengambil untung dari segala benda tua yang dikumpulkannya
selama bertahun-tahun. Ini dia tokonya."
Anak-anak berhenti di depan sebuah toko kecil yang terjepit di antara sebuah toko
lilin dan sebuah toko teh. Mereka mengintip melalui jendela kaca yang tebal. Bagian
dalam toko itu nampak kosong dan sunyi. Sebuah tanda di pintu berbunyi:
"BARANG-BARANG ANTIK KELAUTAN JONES"
Atticus Jones, Pemilik
Akan Dibuka Tanggal 8 Juni
Anak-anak membeli permen dan mengunyahnya sambil melanjutkan berjalan
menyusuri jalan setapak beralas kayu itu. Mereka telah melewati beberapa blok lagi dan
hampir mencapai batas kawasan bisnis itu ketika Bob berseru.
"Lihat !"
Jupe dan Pete mengikuti pandangannya ke arah atap-atap. Sebuah bendera besar
berwarna hitam dengan gambar tengkorak dan tulang bersilang putih berkibar di sebuah
tiang di samping sebuah pos pemadam keba karan tua.
"Jolly Roger," kata Pete. "Teman-teman, kurasa kita telah menemukan para
perompak kita!"
"Menurutmu apakah ada baiknya kita semua masuk, Pertama?" tanya Bob kepada
Jupiter.
Remaja gempal itu menggeleng dan berpikir sejenak. "Sebaiknya hanya satu saja
yang masuk. Tidak ada gunanya kita bertiga memamerkan wajah, ada kemungkinan kita
nanti harus membuntuti seseorang."
"Kubilang Jupe saja yang masuk," kata Pete. "Ia lebih cocok untuk hal-hal semacam
ini. Aku tidak pernah tahu harus berkata apa ."
Bob setuju. "Ia benar, Pertama. Kau jauh lebih baik daripada kami berdua dalam hal
mengarang cerita."
Jupiter menatap kedua rekannya. "Kalian berdua perlu berlatih mengumpulkan
informasi. Tapi karena kita tidak punya banyak waktu di Anchor Bay, biar aku yang
masuk."
"Sementara itu, Pete dan aku akan mengamat-amati sekitar gedung itu," kata Bob,
"siapa tahu kami melihat sesuatu yang mencurigakan."
"Kit a bertemu di ujung blok ini dua puluh menit lagi," kata Jupiter sambil berjalan
menuju ke pos pemadam kebakaran tua itu. "Kalau saat itu aku belum muncul,
kembalilah ke rumah Paman Atticus dan tunggu aku di sana."
Bob dan Pete mengangguk dan mulai berjalan mengelilingi blok itu, menuju ke arah
suatu lorong sempit yang berada di belakang gedung-gedung tua itu.
Seraya berjalan mendekati markas Perompak Baru dari Barat, Jupiter membiarkan
bahunya turun dan wajahnya yang tembam cemberut. Jupe pernah menjadi seorang
aktor kanak-kanak untuk televisi dan sangat berbakat dalam berakting. Jika mau, ia
dengan bagus sekali dapat memerankan seorang anak yang agak terbelakang. Ia
menarik pegangan pintu yang aus dan sebuah lonceng tembaga besar di atas pintu
berbunyi. Ketika ia menutup pintu di belakangnya, lonceng itu berbunyi lagi.
Jupe berdiri di samping pintu depan itu dan mengamati sekelilingnya. Bekas markas
pemadam kebakaran itu sedang dalam proses perbaikan. Bau cat basah dan bubuk
gergaji mengambang di udara dan ia dapat melihat gergaji, papan, palu, dan paku
berserakan di ruang depan yang besar. Ia memasuki ruangan besar yang remang-
remang itu dan memanggil, suaranya memecah kekosongan.
"Halo! Ada orang di sini?"
Tidak ada jawaban. Ia melihat jam tangannya dan
melihat bahwa saat itu baru pukul sembilan lewat
empat puluh lima menit. Sudah terlambat untuk
sarapan dan terlalu pagi untuk makan siang.
Penyelidik Pertama berjalan lebih jauh ke
dalam ruangan dan kembali memanggil.
"Halo! Ada orangkah?"
Jupiter nyaris tidak mendengar suara aneh
yang bergemerisik dari suatu tempat di atasnya
sebelum ia mendapati dirinya bertatapan muka
dengan seorang perompak yang bengis! Ia tersentak
dan mundur beberapa langkah, membentur kuda-
kuda gergaji dan menjatuhkan sebuah palu
dan sekantong paku ke lantai, menimbulkan bunyi
keras!
Bajak laut berwajah kejam itu mengenakan topi khas bajak laut, jaket pelaut
panjang berwarna merah, sepatu lars hitam set inggi lutut, dan kemeja putih yang lusuh.
Yang paling parah, sebilah belati menyeramkan terselip di sela-sela gigi-giginya yang
putih berkilau.
Ketika Jupe melihat pisau tergigit di antara gigi-gigi perompak itu, ia segera
menemukan kembali keberaniannya.
"Kostum Anda cukup meyakinkan," katanya, mulai tenang, "namun gigi Anda terlalu
putih untuk seorang bajak laut sejati. Untuk efek yang lebih meyakinkan, Anda harus
mendatangi toko kostum dan membeli gigi palsu."
Perompak menyeramka n itu meluruskan tubuhnya dan memiringkan kepalanya ke
samping. Ia mengambil belati di mulutnya, mengusapkan mata pisaunya ke celana, dan
menyeringai. "Baiklah, aku bukan bajak laut sejati. Tapi akuilah, untuk sesaat kau
benar-benar ketakutan."
Jupiter menyadari bahwa ia telah lupa sama sekali akan aktingnya sebagai seorang
anak bodoh akibat kemuncul an si perompak yang mengagetkan itu. Sudah terlambat
sekarang. "Bukan ketakutan," katanya, tersenyum kecut, "terkejut lebih tepatnya. Saya
sempat lupa bahwa bangunan ini tadinya merupakan pos pemadam kebakaran. Saya
tidak menyadari bahwa tiang kuningan yang ada di sebelah saya ini merupakan tiang
yang digunakan para petugas pemadam keba karan untuk meluncur turun."
Bajak laut itu menaikkan alisnya, tercengang. "Pernahkah ada yang bilang kepadamu
bahwa kau bicara seperti kamus?" tanyanya. "Namaku Gaspar St. Vincent. Sebenarnya
nama asliku adalah Francis Shoe. Tapi siapa yang pernah mendengar ada perompak laut
bernama Francis? Jadi panggil saja Gaspar."
Jupe berjabat tangan dengan bajak laut yang ramah itu dan kemudian segera
menuju ke pokok masalah. "Apakah Anda satu-satunya yang bekerja di Perompak Baru
dari Barat, Gaspar?"
"Sebenarnya tidak ada yang bekerja di sini," kata Gaspar menjelaskan, "kami
organisasi nirlaba. Semua orang hanyalah sukarelawan. Satu-satunya syarat menjadi
anggota adalah hubungan keluarga dengan seorang perompak masa lalu. Apakah kau
hendak mendaftarkan diri?"
Jupiter berpikir cepat. "Oh, sebenarnya saya sedang mengerjakan suatu tugas
tentang bajak laut untuk semester pendek. Saya mendengar tentang Perompak Baru
dari Barat dari paman saya dan merasa menemukan subjek yang tepat untuk karya tulis
saya. Anda keberatan saya wawancarai?"
Gaspar menarik kerah jaket panjangnya dan mendongakkan dagu. "Kurasa sudah
waktunya orang-orang bodoh di atas itu kuberi daging kambing dan arak. Ikuti aku,
anjing kurap!"
Jupiter terkekeh mendengar ucapan khas perompak yang kasar itu dan ia mengikuti
pria itu menaiki tangga melingkar ke lantai dua markas pemadam kebakaran tua itu.
Dalam hati ia merasa Gaspar St. Vincent akan cocok sekali berperan dalam pertunjukan
Sarang Perompak Ungu milik Jeremy Joy yang pernah ditontonnya bersama Bob dan
Pete ketika mereka mengusut Misteri Perompak Ungu.
Ketika mereka sampai di ujung tangga, mata Jupiter terbelalak dan mulutnya
ternganga, t erkejut melihat yang ada di lantai dua.
Seluruh lantai itu merupakan suatu ruangan besar yang mirip museum. Dinding-
dindingnya dibuat terlihat seperti bagian dalam sebuah kapal, dengan roda-roda kemudi
besar dari kapal-kapal kuno, jaring, jangkar, dan layar setinggi enam meter. Di tengah
ruangan terdapat tempat-tempat dari kaca. Masing-masing berisi artifak seperti pistol,
pisau, alat makan, dan pakaian. Penjela san masing-masing benda tertempel dengan rapi
di sisinya.
Namun yang paling mengejutkan Jupiter adalah patung-patung lilin. Di dalam
ruangan itu Jupe menghitung ada paling tidak selusin patung para bajak laut paling
terkenal dalam ukuran sebenarnya. Ada Si Janggut Hitam yang berdiri di samping
Caesar dan Red Anny tepat di sebelah William Evans. Masing-masing patung diukir
dengan memperhatikan bagian-bagian terkecil, dari janggut di dagu hingga ke belati di
ikat pinggang mereka. Jupe merasa patung-patung itu cukup hidup untuk melompat
turun dari landasan berdiri mereka dan siap membantai!
Gaspar memulai narasi yang jelas dihapal. "Perompak Baru dari Barat adalah suatu
atraksi yang menghibur sekaligus mendidik seluruh keluarga yang akan dibuka dari
pukul sembilan hingga pukul lima selama musim panas dan dua kali seminggu dari pukul
sembilan hingga pukul dua setelah musim berlibur usai -- jika kami dapat
menyelesaikan pekerjaan ini sebelum pembukaan. Sayangnya pembukaan tinggal dua
minggu lagi dan kami bahkan belum mulai dengan lantai dasar."
"Anda berkata 'kami'," sela Jupiter, memandang berkeliling, "siapa lagi yang ada di
sini?"
"Ah, konyolnya aku," desah Gaspar, "yang lain ada di atap. Seperti yang kau lihat
sendiri, ini adalah bangunan tua dan kami harus bekerja keras memperbaikinya.
Untunglah banyak pendiri Perompak Baru yang berprofesi dokter dan pengacara. Atap
bangunan ini sungguh butuh sapuan tir. Anggota kelompokku yang lain ada di atas,
mengerjakannya. Kau ingin bertemu dengan mereka?"
Jupe hendak berkata tidak usah namun Gaspar St. Vincent yang aneh itu sudah
mulai melangkah di tangga yang menuju ke atap. "Ikuti aku! " serunya.
Jupiter menaiki anak-anak tangga itu dan muncul di teriknya matahari. Di atas atap
ada dua orang lelaki dan seorang gadis, semua berpakaian bajak laut. Mereka baru saja
selesai dengan tir.
Gaspar menoleh ke arah Jupe dengan wajah memerah. "Maaf, anak muda, aku tidak
tahu namamu."
"Jupiter Jones."
"Cocok!" seru Gaspar. "Nama yang cocok untuk seorang bajak laut!" Ia berpaling
kepada ketiga perompak dengan kuas tir. "Perhatian! Awak Kapal Bly, Peterson, dan
O'Reilly, perkenalkan Master Jones. Ia sedang menyusun laporan tentang bajak laut
untuk tugas sekolah."
Ketiga perompak itu meletakkan kuas mereka ke dalam ember berisi cairan hitam
dan lengket dan mendekat. Seorang pria besar dan berotot dengan penutup mata
menyulut sebatang rokok. "Sekolah mana?" tanyanya dingin.
"Maaf?" Jupiter terkejut.
"Francis bilang kau di sini untuk tugas sekolah. Sekolah mana itu?" ulang Bly, mata
satunya menyipit memandang Jupe dengan melecehkan.
Jupe tidak ragu-ragu. "Sekolah Menengah Rocky Beach. Semester pendek untuk
kelas sejarah. Saya sedang menulis tentang bajak laut."
"Tidak pernah dengar," kata Bly curiga.
"Cukup jauh ke selatan dari sini," Jupe menjelaskan dengan lancar. "Saya sedang
berlibur di sini."
"Sepertinya ada udang di balik batu," perompak kekar itu bergumam sambil berjalan
menuju tangga.
Gaspar menepuk punggung Jupe sementara mereka memandangi pria itu menuruni
tangga. "Lupakan Connie Bly. Ia bekerja sepanjang pagi di bawah terik matahari. Siapa
tahu setelah ini ia akan mengikatmu di ujung geladak dan memberimu lima puluh
cambukan."
Seorang gadis muda yang cantik dengan kawat gigi tersenyum dan menjabat tangan
Jupe. Usianya tidak jauh berbeda dengan Jupe. Ia mengenakan kemeja bergaris-garis
dan kepalanya terbungkus bandana. "Hai! Namaku Ashley O'Reilly. Ayahku anggota di
sini. Aku hanya membantu-bantu secara suka rela."
Perompak yang kedua mengangguk ke arah Jupe dan tersenyum. "Senang bertemu
denganmu, Nak. Aku Vic Peterson, salah seorang pendiri Perompak Baru. Apakah ada
leluhurmu yang bajak laut? Hanya itu yang kau butuhkan untuk bergabung. Bahkan
kalaupun tidak, kami selalu menerima sukarelawan yang dapat menggunakan gergaji
dan palu. Kau punya teman yang mungkin tertarik?"
Jupiter tersenyum sopan dan kemudian menjelaskan bahwa ia hanya akan berada di
Anchor Bay selama dua minggu. Selain itu, pikir Jupiter, ia lebih suka mengkarya kan
otaknya daripada ototnya.
Gaspar tersenyum kepa da teman-teman perompaknya. "Silakan menyelesaikan dan
setelah itu pergi makan siang."
Gaspar memimpin Jupiter kembali ke bawah. Ketika mereka tiba di l antai dasar, Jupe
menoleh. "Mr. St. Vincent, saya sempat melihat hiasan-hiasan di lantai dua. Saya
mendapat kesan Perompak Baru menentang pengambilan benda-benda dari kapal bajak
laut yang tenggelam."
"Memang demikian!" Gaspar berkata dengan penuh perasaan. "Semua yang kau lihat
di atas itu adalah replika yang sama persis. Replika adalah tiruan benda asli, aku yakin
kau tahu. Tujuan utama Perompak Baru adalah mendidik masyarakat dan menghentikan
pengrusakan warisan kita! Tapi karena kami belum lagi buka, bagaimana, kutanya, kau
bisa tahu bahwa kami menentang penghancuran sejarah leluhur kita -- juga batu karang
yang menjadi rumah bagi jutaan spesies yang hidup di laut?"
Jupiter merasa tidak ada salahnya berkata jujur kepada Gaspar. Perompak itu
nampak sangat ramah. "Paman saya adalah Atticus Jones, penyelam yang sedang
bekerja di suatu tempat dua mil ke arah pantai. Ia berkata bahwa organisasi ini telah
mengitari perahu-perahu mereka sebagai protes."
Mendengar pengakuan ini kedua mata Gaspar menyipit dan berubah dingin. "Jadi
kau bersaudara dengan dia! Hal itu sebenarnya sudah cukup untuk menyuruhmu
berjalan di atas papan!"
"Berjalan di atas papan" adalah istilah bajak laut yang mengacu pada salah satu
hukuman mereka yang terkenal. Orang terhukum diperintahkan berjalan sepanjang
papan pendek yang menjorok ke atas laut dari sisi geladak kapal, hingga akhirnya
tercebur ke laut.
Lonceng di atas pintu berdentang ketika Gaspar membukanya. Ia praktis mendorong
Jupe keluar. "Hingga pamanmu berhenti menghancurkan makam leluhur kami, kau
dilarang masuk ke Perompak Baru dari Barat! Selamat jalan, Jones!"
"T-t-tapi..." Jupiter tergagap.
"Ah, ah," potong Gaspar sambil menggoyang-goyangkan jari. "Dan jangan sampai
kulihat kau di sekitar sini lagi!" tukasnya -- sebelum membanting pintu di depan wajah
Jupiter!
BAB VI
PRIA BERPAKAIAN HITAM

Sementara Jupiter menyelidiki bagian dalam pos pemadam kebakaran tua, Pete dan Bob berjalan
ke balik bangunan itu. Mereka melihat bahwa terdapat lorong sempit di belakang kawasan bisnis itu,
digunakan oleh truk-truk untuk menurunkan muatan. Pete menduga salah satu dari bangunan itu adalah
rumah makan karena ia dapat mencium bau sedap makanan laut yang sedang dimasak. Meskipun ia
baru saja makan, ia menjilat bibirnya dan menghirup dalam-dalam.

"Aku mencium aroma kaki kepiting," erangnya. "Aku berani bertaruh Jupe dapat menciumnya
dari dalam markas pemadam kebakaran itu."

Bob tidak menghiraukan rekannya dan terus berjalan. Di sisi jalan yang menghadap ke laut
tertanam pohon-pohon pinus dan semak-semak. Semak-semak itu kemudian dilanjutkan oleh batu-batu
karang besar dan kemudian beberapa meter pantai berpasir, sebelum akhinya bermil-mil air hingga ke
kaki langit.

Pete memandangi ombak dan mendesah. Secara naluriah ia mencintai laut dan terkadang merasa
lebih baik berada di lautan daripada mengusut suatu kasus. Namun setiap kali ia berpikir demikian,
Jupe dan Bob selalu mengingatkannya bahwa Trio Detektif sedang bekerja.

"Bumi kepada Dua," kata Bob. "Tenang, Pete, akan ada banyak waktu untuk masuk ke air
sebelum kita pulang."

"Kuharap demikian," gerutu anak yang lebih besar itu. "Aku ingin menyelam bersama paman
Jupiter. Aku ingin mencari harta Si Janggut Hitam untuk dibawa pulang ke Rocky Beach!"

Kedua detektif itu sedang mendekati pintu belakang markas Perompak Baru dari Barat ketika
Bob tiba-tiba berhenti. Ia bergegas merunduk di balik beberapa tong sampah, menarik Pete agar
berbuat yang sama.

"Hei..." seru Pete terkejut.

Bob meletakkan jari di bibir dan menunjuk ke arah pos pemadam kebakaran. "Ada yang keluar
lewat pintu belakang," bisiknya.

Pete mengintip dari atas tong-tong sampah dan mengamati seorang pria berbadan besar dengan
kostum bajak laut membuka pintu belakang sebuah mobil kecil berwarna putih. Pria itu mengenakan
bandana merah di kepalanya dengan gaya perompak yang pernah anak-anak lihat di dalam buku,
anting-anting besar, dan penutup mata.

"Wah, ia benar-benar seram," bisik Bob. "Ia sungguh nampak seperti bajak laut sejati!"

"Benar," Pete sependapat. "Tidak sulit membayangkan ia punya hubungan darah dengan Si
Janggut Hitam."

Pete dan Bob mengintip lagi. Mereka menyaksikan perompak penuh otot itu menyulut sebatang
rokok, kemudian menanggalkan rompi kostumnya dan menggantinya dengan rompi kulit yang
diambilnya dari bagian belakang mobil kecil itu. Ia membanting pintu belakang hingga tertutup dan
hendak masuk ke mobil ketika sesuatu yang tidak disangka-sangka terjadi.

Tutup tempat sampah di depan Pete tiba-tiba jatuh dengan suara berdentang dan seekor kucing
liar melompat keluar dari dalam, mengeong dengan ganas. Terkejut, Pete berteriak dan jatuh ke
belakang, menjatuhkan beberapa tong sampah lainnya.

Sejenak Bob menyangka si perompak tidak mendengar keributan itu. Namun kemudian pria
seram itu membanting rokoknya ke tanah sambil mengumpat dan berlari ke arah mereka. Bob menelan
ludah dan memandang berkeliling mencari jalan keluar. Ia tahu Pete dapat berlari lebih cepat daripada
orang itu namun ia tidak yakin akan dirinya sendiri. Tatapannya jatuh pada sebuah pintu besar
berwarna abu-abu dengan tulisan "PINTU PELAYAN." Ia menyeret Pete dan membuka pintu itu.
Aroma masakan laut yang kuat menghantam hidung mereka.

Mereka berada di dapur rumah makan yang aromanya tercium oleh Pete tadi! Pete bergegas
menutup pintu dan menggerendelnya.

"Ayo!" seru Bob.

Kedua detektif itu melintasi dapur yang penuh asap itu secepat yang mereka berani,
menimbulkan pandangan bingung dari para pelayan dan koki yang berpakaian putih.Bob nyaris
menabrak seorang pelayan yang membawa senampan besar lobster dan kemudian harus menahan Pete
agar tidak membentur kuali panas yang berisi kerang.

"Kita bisa makan nanti," katanya. "Mari pulang ke rumah paman Jupe!"

Anak-anak berlari melewati pintu ayun, masuk ke ruang makan, mengakibatkan beberapa tamu
berhenti mengunyah dan menatap mereka. Mereka bergegas keluar melalui pintu depan menuju ke
jalan. Mereka memandang berkeliling, mencari tanda-tanda si bajak laut bertubuh besar.

"Aman," kata Pete. Tepat pada saat ia berkata demikian, mereka berdua mendengar bunyi mesin
sebuah mobil direm dan ban-ban berdecit.

"Belum!" kata Bob. Mereka berlari menyusuri trotoar dan kemudian menyeberang jalan,
bersembunyi di pintu masuk sebuah tempat minum kecil bernama Kamar Tujuh Lautan.Pete berhenti
cukup lama untuk melihat nama rumah makan di seberang jalan.

"Kait Sang Kapten," ia menyeringai, mengingat-ingat nama itu sambil menjilat bibir. "Kau kan
kenal Jupe, ia selalu ingin tahu segala sesuatu dari laporan kita."

Bob menggeleng-geleng dan kemudian mengintip keluar. Ia melihat perompak bengis itu
berhenti di lampu lalu lintas hanya sekitar tiga puluh meter dari tempat mereka. Lelaki itu memandang
berkeliling mencari mereka, kemudian memacu mobilnya menjauh diiringi bunyi ban berdecit.

Pete mengusap keringat di dahinya. "Wah, perompak itu benar-benar tidak suka dimata-matai."

"Benar sekali," kata Bob. "Ia cocok sekali untuk menakut-nakuti orang agar tidak menyelam
mencari barang bekas lagi."

"Kau pikir dialah yang menyusup ke rumah Paman Atticus?" tanya Pete.

Bob mengangkat bahu. "Ia anggota Perompak Baru dan sangat pemarah. Menurutku ia adalah
tersangka utama!"

Mereka memikirkan hal ini dalam perjalanan pulang ke rumah Atticus Jones. Ketika mereka
tiba, Jupiter belum kembali dan rumah itu sangat sunyi. Satu-satunya bunyi yang terdengar adalah
ombak yang membentur Pembalasan Ratu Anne.

Mereka memutuskan untuk berjalan ke dermaga dan menikmati matahari sambil menunggu
kedatangan rekan mereka. Belum jauh mereka berjalan ketika Pete mendengar sesuatu yang berat
berdebam, membuatnya berpaling.

"Apa itu?" tanyanya.

"Apa itu apa?" tanya Bob.

"Mungkin aku sedikit berlebihan akibat segala sesuatu yang terjadi sepagian ini tapi kurasa ada
seseorang di kapal Paman Atticus!"

Sebelum Bob sempat menjawab, seorang lelaki berwajah jahat, berpakaian serba hitam dari
kepala hingga ujung kaki, melompat keluar dari dalam kapal dan berlari menaiki tangga dermaga
menuju ke jalan!

Pete tidak pernah ragu-ragu untuk melakukan pengejaran sebagai Penyelidik Kedua, itulah
keahliannya. Ia bergegas mengejar Pria Berpakaian Hitam. Namun orang itu terlalu jauh di depan Pete
dan ketika Penyelidik Kedua tiba di ujung blok, Pria Berpakaian Hitam telah mencapai sebuah sedan
hitam tua dan memacunya, meninggalkan Pete terbatuk-batuk terkena asap knalpot.

Terengah-engah, Pete berlari-lari kecil kembali ke tempat Bob menunggu. Sebagai seorang
penyelidik berpengalaman Pete tahu pertanyaan yang akan diajukan Bob sebelum anak itu sempat
bertanya.

"Tidak, aku tidak melihat wajahnya dengan jelas dan tidak, aku tidak dapat membaca plat
nomornya," kata remaja jangkung itu sambil tersengal-sengal.

Bob mengusap dagunya dan menatap Pete.

"Kasus ini semakin lama semakin menarik!"


BAB VII
CAKAR PERUNGGU

Setelah Jupiter kembali ke rumah pamannya, ia menemukan Bob dan Pete sedang
menunggunya di teras depan. Ia duduk di samping rekan-rekannya dan tersenyum.
"Wah, kunjunganku ke Perompak Baru dari Barat benar-benar menarik!"
Pete tidak dapat menahan diri. "Aku berani bertaruh kunjunganmu sama sekali tidak
semenarik petualangan kami!" Pete melanjut kan dengan pertemuan mereka dengan bajak
laut bernama Bly dan pengejarannya terhadap Pria Berpakaian Hitam. Bob menyela sesekali
untuk menambahkan hal-hal kecil yang dilupakan Pete. Jupiter mencubiti bibirnya setiap kali
mendengar sebuah petunjuk baru.
"Menakjubkan," katanya setelah Pete dan Bob selesai bercerita. Kemudian giliran Jupe
melaporkan kejadian di markas Perompak Baru dan Gaspar St. Vincent yang melarangnya
kembali. Ia mengakhiri laporannya dengan berkata, "Kasus ini semakin lama semakin
menarik!"
"Tepat itulah yang baru saja kubilang!" seru Bob. "Dalam waktu sepagian kita telah
melipatgandakan jumlah tersangka!"
Jupe memutuskan bahwa Trio Detektif sebaiknya memeriksa Pembalasan Ratu Anne
dengan seksama. Ketika pencarian mereka terbukti sia-sia, anak-anak berjalan ke ujung
dermaga dan duduk berjemur.
"Kalian yakin kalian tidak mengenali Pria Berpakaian Hitam?" desak Jupe.
Bob menggeleng dan membetulkan letak kacamatanya. "Ia mengenakan topi lebar hitam
dan kacamata hitam. Ia tidak berkumis ataupun berjanggut dan mengenakan jas hitam dan
dasi. Bisa jadi siapa saja."
"Hmm," Jupiter bergumam. Ia bangkit berdiri dan mulai berjalan mondar-mandir.
"Masuknya Pria Berpakai an Hitam yang misterius ke dalam teka-teki ini tidak terduga dan
tidak cocok dengan suatu teori yang telah kususun mengenai kasus ini. Pencarian kita di atas
Pembalasan Ratu Anne tidak menghasilkan apa-apa. Namun saat pamanku pulang, kita harus
memintanya memeriksa kapalnya kalau-kalau ada yang hilang."
"Menurutmu siapakah Pria Berpakaian Hitam itu, Jupe?" tanya Pete.
"Mungkin si perompak yang mengejar Pete dan aku?" kata Bob.
"Kurasa bukan, Data. Ingat, ia pasti langsung keluar dari pos pemadam kebakaran itu
setelah bertemu denganku di atap. Kalian melihatnya pergi ke arah yang berlawanan dengan
rumah Paman Atticus. Karena kalian langsung datang ke sini setelah itu, dia tidak akan
punya cukup waktu untuk berganti pakaian. Dan mengapa harus ganti? Tidak," kata Jupe, "ia
jelas seseorang yang perlu kita amat-amati namun kurasa dia bukanlah Pria Berpakaian
Hitam. Dengan alasan yang sama Gaspar St. Vincent juga bisa kita coret."
"Mungkin Kapten Cutter!" seru Pete. "Mungkin ia iri akan segala penemuan pamanmu dan
ingin mencuri beberapa. Mungkin saja ia penderita kleptomania. Mungkin ia tidak dapat
menahan di ri untuk mencuri!"
"Itu salah satu kemungkinan yang sedang kupikirkan," kata Jupe mengakui. "Ketika ia
pergi pagi ini, ia berkata akan ke tempat penelitiannya. Hanya ada satu cara untuk
mengetahui kebenarannya!"
Anak-anak berlari ke rumah dan dengan menggunakan kunci yang diberikan paman
Jupiter mereka masuk. Bob segera menemukan buku telepon Atticus Jones dan membalik-
balik halamannya hingga menemukan nomor kantor Oscar Cutter di universitas di Portland.
Bob menghubungi nomor itu dan seorang penerima telepon dengan datar memberitahunya
bahwa pria itu berada di tempat penelitian sejak pagi. Kemudian mereka mencoba nomor
telepon seluler Kapten Cutter. Ketika Cutter menjawab, Bob hanya samar-sama r mendenga r
suaranya di tengah-tengah gemuruh omba k dan aba-aba yang diteriakkan awak kapalnya.
"Halo. Cutter di sini," pria itu berseru untuk mengatasi keributan. "Halo? Bicaralah lebih
keras, aku tidak dapat mendengarmu!"
Bob lekas-lekas memutuskan hubungan dan menatap rekan-rekannya. "Belum terbukti ia
memang di tempat penelitian tapi jelas ia ada di atas sebuah kapal."
Jupiter berpikir sejenak. "Seharusnya tidak sulit untuk memastikan ia ada di sana hari ini.
Kurasa kita bisa menyimpulkan bahwa Pria Berpakaian Hitam bukanlah perompak penuh otot
yang bernama Bly itu, bukan juga Kapten Cutter."
"Apa yang kita lakukan sekarang?" tanya Pete.
Jupiter menimbang-nimbang dan kemudian menggeleng. "Kita perlu bertanya kepada
pamanku dan Kapten Cutter jika mereka pernah meliha t seseorang yang ciri-cirinya seperti
Pria Berpakaian Hitam. Sepertinya orang itulah si pencuri yang telah memasuki rumah
pamanku."
"Mungkin kita perlu mengamat-amati Perompak Baru dan memata-matai Bly dan
Gaspar?" usul Bob. "Bly sudah jelas mencurigai aktingmu tentang tugas sekolah itu dan ia
sama sekali tidak senang Pete dan aku memata-matainya!"
"Gagasan bagus, Data," kata Jupiter setuju. "Ini ideku: aku akan tinggal di sini dan
menjaga rumah Paman Atticus kalau-kalau Pria Berpakaian Hitam kembali. Kau pergi ke pos
pemadam kebakaran dan lihat kalau Connie Bly muncul. Pete dapat meminjam sepeda
Paman Atticus dan pergi ke pantai ke tempat penelitian Oscar Cutter. Tanyakan kepada
orang-orang di sana untuk memastikan bahwa Cutter berada di sana sepanjang pagi -- dan
jika ada kesempatan, tanyakan kepadanya kalau-kalau ia pernah melihat seseorang
berpakaian hitam-hitam luntang-lantung di sekitar tempat penelitiannya ataupun rumah
pamanku."
Pete mengedipkan mata ke arah Bob. "Aku tidak tahu persis arti luntang-lantung namun
hal-hal yang lain masuk akal!"
Bob tertawa dan memukul punggung Pete. "Pikirkan saja betapa kosa katamu bertambah
setiap kali Trio Detektif mengusut sebuah kasus!"
Jupiter tidak peduli akan sindiran teman-temannya tentang kegemarannya mengguna kan
kata-kata sukar. Ia telah terbiasa akan hal itu. Ia berdehem dengan lagak penting dan
melanjutkan. "Ada satu hal lagi yang perlu kita diskusikan sebelum kita mengerjakan tugas
kita masing-masing," katanya dengan resmi.
Bob dan Pete menatap rekan mereka yang gempal itu, tidak mengerti hal apa yang belum
mereka bahas. "Apa itu, Jupe?" tanya Bob.
Jupiter meringis dan berlari ke dapur sambil berseru, "Makan siang!"
***

Ketika Bob kembali dari pengintaiannya di markas pemadam kebakaran tua, ia


melaporkan bahwa Connie Bly tidak kembali ke sana dan Gaspar St. Vincent secara waja r
mengunci markas dan pulang ke apartemennya, yang terletak hanya di seberang jalan.
Hari sudah hampir gelap ketika Pete meluncur masuk dengan sepeda tua Atticus Jones.
Titus, Mathilda , dan Atticus telah lama kembali dari berbelanja dan setelah mendengar
penuturan Jupiter mengenai Pria Berpakaian Hitam yang berkeliaran di kapal, Atticus
memeriksanya dengan teliti dan menyatakan tidak ada yang hilang. Dengan bantuan Jupe ia
kemudian memasang sebuah gembok besar di pintu depan dan mereka duduk-duduk di
beranda depan sambil minum es teh dan mendengarkan kisah Atticus tentang bajak laut,
ranjau-ranjau, dan barang-barang rampasan.
Atticus berhenti bercerita ketika meliha t Pete memasuki halaman. "Peter! Ke mana saja
kau sepanjang hari?"
Pete sengaja berlagak lelah, lapar, dan mengibakan. "Melakukan satu lagi tugas dari
kemenakan Anda!" keluhnya. "Kapten Cutter ada di atas kapal sepanjang hari dan diantar
pulang oleh seorang kawan. Ketika kutanyai tentang Pria Berpakaian Hitam, ia berkata tidak
yakin. Menurutnya, sepertinya orang yang sama dengan yang dikejarnya pagi ini."
"Kalian menyelidiki Cutter?" tanya Atticus kaget. "Demi langit, untuk apa?"
"Ia nampak seperti seorang lelaki terhormat menurutku," Bibi Mathilda keberatan. "Aku
tidak ingin kalian mengganggunya, ia sudah punya cukup banyak masalah dengan kapal
yang akan datang itu!"
"Kapal?" seru Jupe. "Kapal apa?"
Paman Titus menendang pergelangan kaki istrinya dan Bibi Mathilda menutupi mulutnya
dengan sebelah tangan. "Oh, maaf!" katanya menghembuskan nafas.
Atticus Jones menata p Bibi Mathilda denga n kesal. "Dasar wanita, tidak dapat menyimpan
rahasia sekalipun yang menyangkut nyawamu!" keluhnya. Ia berpaling ke arah anak-anak.
"Pertama-tama katakan padaku apa yang kalian mau dari sahabatku Oscar Cutter dan
kemudian akan kuceritakan tentang kapal yang seharusnya merupakan kejutan itu."
Jupiter duduk di pinggiran beranda dan menyil angkan kaki. Ia terlihat seperti patung
Buddha yang terbakar matahari dan mengenakan kemeja Hawaii. Ia menyatukan kedua
telapak tangannya. "Apa sebenarnya yang dilakukan Kapten Cutter di sini sepagi itu, Paman
Atticus?"
Atticus Jones menghirup tehnya dan mengerutkan kening. "Oscar Cutter ada di sini pagi
ini atas permintaanku. Karena kami berdua selalu bangun pagi-pagi sekali, aku memintanya
mampir sebelum pergi ke tempat penelitiannya untuk memeriksa beberapa meriam besar
yang kutemukan minggu lalu. Meriam adalah bidang khususnya, aku perlu tahu jika yang
kutemukan itu berasal dari militer atau sebuah kapal yang lebih kecil seperti milik Si Janggut
Hitam. Kau kan tidak berpikir bahwa Oscar menyusup ke dalam rumahku? Kuakui dia
memang mudah marah namun ia bukanlah penjahat!"
Jupiter sama sekali tidak ragu-ragu. "Sejauh yang kami tahu, hanya ialah selain Bob dan
Pete yang benar-benar pernah melihat si pencuri. Kuakui bahwa ia dan Pria Berpakaian
Hitam tidak mungkin orang yang sama namun kita juga belum dapat mencoret namanya."
Atticus Jones memandangi keponakannya lama, kemudian tersenyum. "Aku percaya akan
kemampuanmu sebagai seorang detektif, Jupiter. Namun aku tidak segan memberitahumu
bahwa kau menyalak di pohon yang salah dengan Kapten Cutter. Aku telah mengenalnya
selama bertahun-tahun dan ia selalu jujur dan terbuka denganku. Sepertinya Pria Berpakaian
Hitam inilah yang kita cari."
Mata Pete berbinar-binar. "Sekarang beri tahu kami tentang perahu atau kapal atau
apalah itu!"
Paman Atticus tertawa keras. "Ini seharusnya merupakan kejutan tapi kurasa tidak ada
salahnya memberi bocoran kepada kalian. Dua hari lagi Seruling Belanda , sebuah kapal
bertiang layar tiga sepanjang tiga puluh meter, sangat serupa dengan Pembalasan Ratu Anne
milik Si Janggut Hitam, akan datang ke Anchor Bay, berlabuh hanya beberapa meter dari
tempat penelitian Cutter. Kapal itu adalah bagian dari acara yang disponsori oleh universitas
untuk mengumpulkan dana dan membangkitkan minat publik sehingga Cutter dapat
melanjutkan pekerjaannya. Oscar telah mengusahakan tanda masuk khusus bagi kita,
sehingga kita dapat melihat-lihat seluruh bagian kapal -- tidak hanya geladak atas seperti
para pengunjung yang lain!" Atticus bersandar, matanya berbinar-binar. "Apa pendapat
kalian?"
"Hebat!" seru anak-anak serempak .
"Sebuah kapal bajak laut asli!" seru Bob. "Aku harus membeli persedian film untuk
kameraku!"
"Menakjubkan! " kata Pete lantang. "Aku sudah tidak sabar!"
Anak-anak begitu penuh semangat dan mereka mengobrol dengan hebohnya seraya
masuk dan bersiap-siap untuk tidur. Karena Paman Titus dan Bibi Mathilda menggunakan
kamar tidur tambahan di dalam rumah, anak-anak diizinkan tidur di atas kapal bersama
Atticus. Mereka bergegas mengambil kantung tidur dan bantal mereka dan menuju pintu
belakang.
Sebelum tiba di pintu, Jupiter berhenti dan memandang peti tua yang sempat menyimpan
Cakar Perunggu sebelum dicuri. Wajahnya berubah. "Sudah cukup banyak misteri untuk hari
ini, Jupe," protes Pete. "Marilah menyelidiki seberapa cepat kita bisa terlelap."
Jupiter menggelengkan kepala dan mencubiti bibir bawahnya. Ia berdiri diam selama
beberapa saat, menyuruh ingatannya yang tajam bekerja keras, berusaha mengingat hal
yang berbeda dari peti itu sebelumnya.
Bibi Mathilda memanggil dari dalam kamar. "Aku tidak mau kalian berjaga sepanjang
malam. Kalian perlu istirahat untuk tugas-tugas yang telah kusiapkan besok."
"Aku kurang suka mendengarnya," kata Bob. "Ayo, Jupe. Mari kita tidur."
Namun Jupiter tidak bergeming. Ia tetap berdiri kaku hingga sebuah bola lampu seolah-
olah menyala di otaknya. Mukanya yang tembam sekonyong-konyong menyunggingkan
senyum dan ia berjalan ke arah peti.
"Aku tahu!" serunya. "Peti ini telah dipindahkan!"
"Mungkin Bibi Mathilda telah berbenah," Bob menguap.
Jupiter mencubiti bibirnya. "Ya, namun ketika Paman Atticus menutupnya pagi tadi, ia
tidak memasang kembali pengunci kuningan di bagian depan."
"Jadi?" tanya Pete. "Pamanmu bukanlah orang paling rapi di Anchor Bay. Lihatlah
berkeliling. Ada rongsokan di mana-mana!"
Tiba-tiba Bob mengerti maksud Jupiter.
"Tunggu dulu," katanya. "Jika pagi ini pamanmu hanya mengembalikan penutupnya, lalu
mengapa sekarang peti ini terkunci?"
"Tepat!" kata Jupiter. Dan dengan satu gerakan cepat Penyelidik Pertama berlutut,
membuka pengunci, dan mengangkat penutup peti.
Di dasar peti itu tergeletak Cakar Perunggu.
BAB VIII
SERULING BELANDA

"Ya ampun!" seru Pete. "Bagaimana benda itu bisa kembali sendiri?"
Jupiter mengambil cakar elang yang telah aus itu dan mengangkatnya di bawah
cahaya lampu. "Aku tidak tahu, Dua, namun aku jelas ingin tahu!"
"Pasti itulah yang dilakukan Pria Berpakaian Hitam hari ini," tebak Bob,
"mengembalikan Cakar Perunggu ke dalam peti."
"Tapi mengapa?" desak Pete. "Sama sekali tidak masuk
akal. Mengapa bersusah-payah mencurinya hanya untuk
mengembalikannya lagi?"

Anak-anak terdiam beberapa saat sambil berpikir


mengenai hal ini. "Mungkin pemalsuan," kata Bob
menduga. "Mungkin Pria Berpakaian Hitam mengambilnya
cukup lama untuk membuat tiruannya dan menyimpan
cakar yang asli."
Jupiter menggeleng. "Tidak mungkin. Cakar ini nampak
sangat tua. Perunggunya telah menghijau dan penuh
ganggang. Cakar ini jelas telah berada di dalam air selama
bertahun-tahun. Hal ini tidak mungkin dipalsukan."
"Mau kita apakan benda ini sekarang?" tanya Pete. "Kita tidak mungkin
membiarkannya di dal am peti."
Jupiter tersenyum nakal dan berpaling menuju kapal pamannya. "Aku punya ide."
***

Pagi harinya Jupiter bangun pagi dan meraba bagian bawah kantung tidurnya
dengan kaki. Cakar Perunggu masih ada. Ia meraihnya dan menima ng-nimangnya.
"Bagaimana dan mengapa kau kembali?" ia bergumam. Beberapa saat kemudian Jupe
membangunkan Bob dan Pete dan ketiga anak itu berbaris masuk untuk sarapan. Jupe
membawa caka r itu di balik punggungnya.
Titus dan Atticus sedang duduk di meja dapur yang penuh barang-barang kelautan.
Bibi Mathilda telah bersikeras agar benda-benda itu disingkirkan, paling tidak cukup
untuk piring-piring dan perangkat makan lainnya -- dan ia jelas tidak senang melihat
kurangnya ruangan untuk memasak di kompor dan meja dapur.
"Demi langit!" gerutunya sambil menuangkan mentega ke dalam panci. "Aku
sungguh tidak mengerti bagaimana kau bisa memasak dengan segala rongsokan ini,
Atticus Jones!"
Atticus menurunkan surat kabarnya dan mengisap pipanya dalam-dalam. Ia
tersenyum kepada anak-anak ketika mereka masuk melalui pintu belakang, lalu kembali
menghilang di balik koran.
Jupiter melirik Paman Titus yang sedang sibuk membaca halaman humor. Sambil
mengedip ke arah Bob dan Pete, ia diam-diam meletakkan Cakar Perunggu di tengah
meja yang penuh sesak.
Bibi Mathilda membawa sepiring penuh tumpukan panekuk dan sosis panas ke meja.
Ia menatap Cakar Perunggu dan mengerutkan kening, berkata kepada Jupiter dengan
suara galak, "Cendera mata yang bagus, Anak-anak, tapi tolong singkirkan dari atas
meja."
"Menurutku itu adalah hiasan yang cocok diletakkan di tengah meja," kata Jupiter,
berusaha memasang tampang serius. "Mungkin beberapa kuntum bunga akan
membuatnya lebih menarik. Apa pendapat Paman, Paman Atticus?"
Atticus Jones bergumam di balik surat kabarnya namun tidak mengalihkan
pandangan dari berita utama. Bibi Mathilda tidak melihat kelucuan dalam gurauan Jupe.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu, Anak Muda, tapi aku tidak pernah mengira
kau akan mengambil resiko kehilangan sepiring panekuk panas hanya demi sebuah
gurauan!"
Pete tidak tahan lagi dan tawanya meledak. Ia segera diikuti oleh Bob dan kemudian
Jupiter. Segera saja ketiga anak itu berguling-guling di lantai, tertawa terbahak-bahak.
Bibi Mathilda berdiri dengan mulut ternganga, menyaksikan pemandangan itu. Titus dan
Atticus akhirnya meletakkan koran mereka untuk melihat yang terjadi.
Sekonyong-konyong mata Atticus Jones melotot dan ia melompat berdiri seolah-olah
disengat lebah -- pipanya terjatuh dari mulutnya dan jatuh ke dalam sirup di piringnya.
"Demi pipaku! Aku tidak percaya ini!" Ia mengangkat Cakar Perunggu dan
memandanginya seolah-olah benda itu terbuat dari emas murni. "A-apa... Di-di mana..."
ia tergagap.
Sambil masih terkekeh-kekeh, Jupiter menjelaskan betapa cakar itu telah kembali
semalam dan kemudian meminta maaf k epada Bibi Mathilda atas gurauannya.
"Benda jelek itu adalah sumber segala masalah ini?" tukas Bibi Mathilda. "Itukah
harta karun yang harus kita lihat sendiri sebelum percaya?"
"Hmm... begitulah!" jawab Atticus, mengangguk tanpa percaya. "Ditemukannya
tiang haluan dari kapal ketiga Si Janggut Hitam, Balas Dendam, berarti kapal itu
tenggela m di Pantai Barat, bukan Timur, atau kapal itu dijarah dan hartanya
disembunyikan. Apapun yang terjadi, ini sangat berarti bagi sejarah!"
"Bagiku benda itu adalah barang rongsokan besar berwarna hijau," kata Titus. "Aku
ingin barang-barang bekasku berguna, dengan demikian aku bisa mendapat
keuntungan. Siapa yang mau mencuri benda seperti itu?"
Bibi Mathilda mendengus seraya membagikan panekuk kepada anak-anak. "Jelas
mereka tidak menginginkannya jika mereka mengembalikannya lagi. Mungkin mereka
menyadari bahwa benda itu hanyalah logam hijau tidak berharga."
Paman Atticus memainkan jemarinya di atas cakar itu dengan penuh kasih sayang
dan tersenyum. "Sepertinya kasus ini sudah selesai ya? Berarti aku berhutang kepada
kalian bertiga karena telah mengembalikan cakar Si Janggut Hitam. Begitu kan
perjanjiannya?"
"Tidak, sir," kata Jupiter dengan mulut penuh panekuk. "Trio Detektif disewa untuk
menemukan siapa yang mengambil cakar itu dan mengapa ia kemudian
mengembalikannya kepada pemiliknya yang sah. Cakar itu sudah kembali namun kita
tetap belum tahu siapakah Pria Berpakaian Hitam dan mengapa ia menginginkannya."
Jupiter mengigit panekuknya dan tersenyum. "Menurutku kasus ini baru saja dimulai!"
Pete mengerang sambil mengiris sosis. "Aku tahu kau akan berkata seperti itu."
Setelah sarapan, anak-anak menemani Atticus ke toko perkakas untuk membeli
sebuah gembok yang dinyatakan tidak bisa dijebol, yang kemudi an dipasangnya di peti
yang menyimpan Cakar Perunggu.
Jupiter sudah gatal ingin melanjutkan penyelidikian namun begitu mereka tiba di
rumah segera dikecewakan oleh Bibi Mathilda yang telah menyiapkan sederetan panjang
tugas yang harus dikerjakan. Anak-anak tahu lebih baik tidak membantah bibi Jupe jika
menyangkut pekerjaan. Dengan segan mereka mulai bekerja dan baru dua hari
kemudian mereka mendapat kesempatan untuk membahas kasus itu secara panjang lebar.
Selama dua hari itu Jupiter telah menyusun potongan-potongan misteri itu di
otaknya seperti sebuah teka-teki gambar, berusaha menyusun gambar yang benar.
Penyelidik Pertama merasa potongan yang ada terlalu sedikit untuk membentuk gambar
yang akurat. Pria Berpakaian Hitam belum muncul lagi sejak Bob dan Pete mengejarnya
dua hari yang lalu dan keadaan wajar-wajar saja di tempat penelitian Oscar Cutter dan
markas Perompak Baru dari Barat.
Jupiter berdiam diri sepanjang perjalanan mereka di bak belakang truk untuk melihat
pameran Seruling Belanda. Bob dan Pete sudah terbiasa dengan rekan mereka yang
penuh konsentrasi saat sedang menangani kasus. Mereka tahu lebih baik anak itu
dibiarkan saja, ia akan bersuara jika ia telah yakin dan siap.
Sementara Paman Titus mengemudikan truk milik pangkalan barang bekas itu
melalui kawasan niaga kota dan kemudian sepanjang jalan pantai ke luar kota, anak-
anak merasa sungguh bergairah. Kini mereka dapat melihat tiang-tiang layar Seruling
Belanda yang menjulang tinggi, layar-layarnya tergulung dan bendera-benderanya
berkibar-kibar.
Namun semangat mereka segera menurun begitu mereka melihat lautan manusia
yang bergerombol memenuhi dermaga dan landasan yang menuju ke kapal, semuanya
ingin menaiki kapal mewah itu. Mobil-mobil antri sepanjang hampir setengah mil
sepanjang sisi jalan dan lahan parkir kecil di sebelah dermaga penuh dengan turis yang
berebut tempat parkir.
Paman Titus mengeluh namun terus mengemudi sepanjang jalan hingga menemukan
tempat parkir yang cocok. Mereka melompat keluar dan mulai berjalan menuju jalan
masuk ke kapal yang penuh orang. Bob nampak pesimis sementara mereka mendekati
ekor antria n orang-orang yang hendak naik. Ia menggelengkan kepala sambil
memasukkan segulung film baru ke dalam kameranya. "Wah, dengan semua orang ini di
antria n kita tidak akan sempat naik."
"Jangan cemas, Robert," kata Atticus lantang. "Kulihat sahabatku Oscar Cutter." Adik
Titus Jones itu melambaikan tangan dan bersuit untuk menarik perhatian Cutter. Peneliti
tampan itu tersenyum dan balas melambai dari geladak kapal, memberi isyarat agak
mereka langsung menuju ke depan antria n. Hal ini tidak bisa diterima oleh beberapa
turis yang telah mengantri lama, berusaha menggendong anak mereka, kamera, dan
botol minuma n pada saat yang bersamaan. Mereka memprotes dengan suara keras
ketika Trio Detektif dipersilakan naik.
"Wah, kita seolah-olah ada di Magic Mountain," tukas Pete.
Oscar Cutter menemui mereka di ujung jembatan kapal. Senyum yang
dipamerkannya selama ini kepada para pengunjung segera lenyap. "Bencana!" serunya.
"Benar-benar bencana! Lihatlah segala sampah yang mereka buang ke air! Tidak punya
otakkah mereka ? Makanan-makanan itu akan menarik ikan-ikan dan mereka akan
mengeruhkan air. Pekerjaan seminggu akan terbuang percuma hanya demi suatu
publisitas konyol!"
Mereka berdiri diam selama beberapa saat, tidak tahu harus berkata apa. "Tapi
pikirkanlah segala donasi yang akan masuk," kata Jupiter. "Anda mungkin saja akan
mendapatkan cukup dana untuk mempertahankan tempat ini paling tidak setahun lagi!"
Kapten Cutter nampak malu akan emosinya tadi. Ia tersipu-sipu dan mengusap
rambutnya yang terbakar matahari. "Maaf. Kurasa aku hanya sedikit kesal akan orang-
orang yang tidak peduli dan mengotori air. Maafkan aku. Sekarang bagaimana kalau kita
mulai tur yang kujanjikan?"
Anak-anak mengangguk penuh semangat dan Oscar Cutter tersenyum tulus untuk
pertama kalinya pagi itu. "Baiklah! Mari kita mulai dari bawah sehingga kita bisa jauh
dari gerombolan itu." Peneliti itu meminta seorang awak kapal yang mengenakan baju
kaos universitas untuk menggantikannya dan ia memimpin mereka ke bawah.
Selama sejam berikutnya anak-anak, Bibi Mathilda, Paman Titus, dan Atticus
menikmati tur keliling Seruling Belanda yang mengagumkan. Bob mengambil gambar
seperti hilang ingatan sementara mereka mendengarkan keterangan tentang dapur,
ruang bagasi, kabin tempat tidur, dan berbagai ruang kapal khas lainnya, juga tentang para bajak
laut yang pernah berlayar di atas ka pal hebat itu.
Ketika mereka akhirnya muncul kembali ke geladak atas yang disinari matahari t erik,
anak-anak merasa kenyang akan segala informasi yang mereka serap dan Bibi Mathilda
nampak lemah oleh kisah-kisah pertumpahan darah. Oscar Cutter menjabat tangan
semua orang dan berterima kasih karena mereka telah datang berkunjung, memohon
maaf sekali lagi atas emosinya.
"Jangan salah mengerti," katanya muram, "aku benar-benar menghargai niat baik
universitas mengadakan pameran ini. Hanya saja orang-orang ceroboh itu..." suaranya
menghilang seiring dengan tatapan aneh yang muncul di wajahnya yang terbakar
matahari.
Jupiter mengikuti tatapan pria itu ke arah jalan masuk dan kerumunan yang
bagaikan sirkus di bawah. Ia mengamat-amati puluhan wajah hingga akhirnya
tatapannya jatuh pada seorang lelaki yang sedang bersandar di sebuah sedan hitam.
Lelaki itu mengenakan topi hit am dan kaca mata gelap dan sepertinya menatap
langsung ke arah merek a. Pria Berpakaian Hitam!
BAB IX
SEMAKIN SERU

"Oh," Oscar Cutter tergagap, "kubilang, orang-orang ceroboh itu benar-benar tidak
menghargai sumber daya alam kita, aku benar-benar marah dibuatnya." Jupe menggamit
Bob sementara pelaut tampan itu lekas-lekas mengantarkan mereka turun dari kapal,
berterima kasih sekali lagi atas kunjungan mereka. "Maafkan aku, aku benar-benar harus
kembali."
"Ada apa, Pertama?" desi s Bob di sela-sela giginya.
Jupiter menggerakkan bola matanya ke arah Pria Berpakaian Hitam. Bob melihatnya -- ia
mengenakan kemeja biru muda dan dasi hitam hari ini namun jelas orang yang sama.
"Berapa banyak lagi film yang ada di kameramu, Data?"
Sambil berusaha tetap mengamati pencuri itu, Bob dengan cepat melirik indikator di
kameranya, yang menunjukkan angka 1. "Ini yang terakhir, Pertama," jawabnya suram.
Penyelidik Pertama bertubuh gempal itu mulai menerobos kerumuna n menuju ke arah
Pria Berpakaian Hitam. "Usahakan yang terakhir itu benar-benar berguna!" perintahnya.
Ketika mencapai deretan mobil-mobil yang pertama, Jupiter dan Bob memandang
berkeliling tanpa daya. "Ke mana dia?" mereka saling bertanya.
"Siapa yang kita cari?" tanya Pete heran.
"Pria Berpakaian Hitam!" seru Bob, menunjuk ke arah pintu keluar. Pria Berpakaian Hitam
ada di dalam sedannya, menunggu peluang untuk masuk ke jalan raya. "Itu dia!"
Trio Detektif berlari namun lalu lintas sedikit berkurang dan lelaki itu meluncur menjauh
pada saat mereka tiba di pintu keluar. Bob bergegas menggunakan film terakhirnya,
berharap agar penyusup misterius itu masuk di dalamnya.
"Nyaris!" serunya.
Pete berusaha mengatur nafasnya. "Apa yang dilakukan Pria Berpakaian Hitam di Seruling
Belanda dengan semua turis ini?" tanyanya.
"Pertanyaan yang lebih penting, Dua," kata Jupiter sambil tersenyum kecut, "bagaimana
Oscar Cutter mengenali Pria Berpakaian Hitam? Ia jelas-jelas nampak ketakutan ketika
melihat orang itu di tengah kerumunan!"
"Wah!" kata Bob. "Akhirnya kita membuktikan bahwa Kapten Cutter bukanlah Pria
Berpakaian Hitam namun dengan itu kita kini tahu mereka saling mengenal!"
Jupiter mencubiti bibir bawahnya. "Kurasa waktu kita untuk memecahkan kasus ini
hampir habis. Kusarankan kita mendesak Kapten Cutter saat ini juga untuk melihat apa yang
dia tahu mengenai Pria Berpakaian Hitam!"
"Kudukung," Pete setuju.
"Marilah!" kata Bob, berlari kecil kembali ke Seruling Belanda. "Tapi kita lebih baik
memberi tahu Paman Atticus bahwa kita akan menyusul pulang nanti."
"Setuju," Jupiter mengangguk.
Setelah hal itu beres, ketiga anak itu bergabung dengan antrian dan menunggu giliran
mereka untuk dapat naik ke atas kapal megah itu lagi. Hampir tiga puluh menit kemudian
mereka sekali lagi disilakan naik ke geladak. Oscar Cutter terkejut melihat mereka. Ia
mengusap keningnya dengan saputangan dan tersenyum lemah.
"Belum puas juga?" tanyanya tidak meyakinkan.
Jupiter menegakkan bada n dan mengangkat bahu -- sebagaimana ia mampu tampil
sebagai seorang anak yang agak terbelakang, ia juga mampu tampil jauh lebih dewasa dan
berwibawa. Hal ini selalu mengesankan orang-orang dewasa.
"Anda mungkin ingat bahwa saya dan rekan-rekan saya adalah detektif," katanya
memulai, menyerahkan selembar kartu nama Trio Detektif kepada penyelam itu. "Kami telah
disewa oleh paman saya untuk mengusut pencurian yang telah terjadi di kediamannya. Saya
harap Anda tidak keberatan kami mengajukan beberapa pertanyaan."
Kening Cutter berkerut dan ia memimpin anak-anak ke lantai bawah yang sejuk dan
tenang. Ketika mereka telah tiba di sebuah kabin yang penuh dengan barang, ia berujar
dengan serius, "Apapun untuk membantu sahabat-sahabatku. Apa yang ingin kalian
ketahui?"
Jupiter mendesaknya. "Apa hubungan Anda dengan pria bertopi dan berkacamata hitam
yang dilihat Bob dan Pete menyusup ke kapal paman saya dan yang baru saja kita lihat
meninggalkan pameran ini?"
Oscar Cutter merah padam. "Begundal itu? Penjahat itu? Ia salah satu dari mereka!"
Peneliti yang mudah naik darah itu menggiring mereka kembali ke lantai atas dan menuju ke
buritan. Ia menuding dengan jari gemetar ke arah laut dan menggeram. "Lihat? Kalian lihat
yang menggangguku selama ini?"
Trio Detektif memandang ke arah lautan dengan terkejut. Dari atas kapal mereka dapat
melihat tiga perahu motor kecil tidak lebih dari lima puluh meter jauhnya, mengibarkan
spanduk besar berwarna putih dengan tulisan "PERAMPOK MAKAM!", "BIARKAN YANG
MATI
BERISTIRAHAT!", dan "KAU MAU MEMBO NGKAR PEMAKAMAN UMUM?" Mereka
tidak
menyadari kehadiran para pengunjuk rasa itu ketika mereka menaiki Seruling Belanda untuk
pertama kalinya.
Oscar Cutter nampak hampir meledak. "Menggangguku dan orang-orangku selagi kami
menyelam adalah satu hal -- namun mengancamku di rumah, di darat, adalah hal lain! Aku
tidak akan tinggal diam! Pria bertopi dan berkacamata hitam itu hanyalah salah satu taktik
mereka untuk menakut-nakuti. Ia adalah masalah! Kunasihati kalian agar menjauhi orang
itu! Terlebih lagi karena me reka tahu kau adalah keponakan Atticus Jones."
Beberapa orang telah mulai berkerumun dan menatap penyelam yang tengah marah itu.
Jupiter sempat terdiam sejenak namun dengan segera kembali menguasai diri. "Saya -- Anda
tentu paham -- kami harus memastikan," katanya cepat. "Terima kasih atas waktu Anda,
Kapten. Kami harus pergi sekarang."
Sambil berkata demikian Jupiter berbalik dan bergegas menja uh, diikuti oleh Bob dan
Pete. Ia menghembuskan nafas lega ketika mereka telah tiba di tempat parkir.
"Wah! Orang i tu benar-benar akan hilang akal sebentar lagi!" kata Bob.
"Begitulah," tukas Pete. "Aku berani bertaruh tekanan darahnya mencapai langit-langit!"
Anak-anak mulai menempuh perjalanan jauh mereka kembali ke rumah paman Jupiter.
Bob bersuara, "Kita tahu bahwa Cutter menge nal Pria Berpakaian Hitam -- seorang tukang
pukul dari Perompak Baru."
Jupiter berpikir keras. "Namun setiap kali kita menemukan jawaban atas Oscar Cutter,
sebuah pertanyaan baru muncul."
"Apa maksudmu, Pertama?" tanya Pete.
"Tepatnya, bagaimana Cutter bisa tahu bahwa aku memberi tahu Gaspar St. Vincent aku
adalah keponakan Atticus Jones? Bukankah ia seharusnya berkata: 'terlebih lagi jika mereka
tahu kau adalah keponakannya' dan bukan 'karena mereka tahu kau adalah keponakannya'?"
"Benar juga," kata Pete. "Bagaimana ia bisa tahu kau memberi tahu Gaspar jika ia tidak
berbicara kepada salah satu dari Perompak Baru? Dan jelas ia bukanlah seseorang yang bisa
berbincang-bincang akrab dengan salah seorang dari mereka!"
"Mungkin ia hanya salah memilih kata," kata Bob. "Ia demikian penuh emosi, kurasa ia
sendiri tidak tahu apa yang dikatakannya."
"Suatu kemungkinan, Data," gumam Jupe. "Tetap saja, tidak ada salahnya kita
mengamat-amatinya. Kasus ini sepertinya menemui jalan buntu. Kita perlu melipatgandakan
usaha kita kalau kita masih ingin menemukan si pencuri sebelum kita pulang minggu depan."
"Nah, sekarang setelah kita mengambil keputusan, apa yang harus kita lakukan dengan
makan siang?" tanya Bob.
Pete menyeri ngai. "Teman-teman, kebetulan aku tahu suatu tempat yang hebat untuk
menikmati kaki kepiting!"
BAB X
JUPE DAN PETE MELACAK

Trio Detektif melanjutkan diskusi tentang kasus mereka sambil menikmati makan
siang berupa kaki kepiting yang berlimpah-ruah. Jupiter meminta Bob membacakan
catatannya dan merangkum para tersangka yang mungkin memiliki motif untuk mencuri
Cakar Perunggu.
"Lupakan siapa yang mencurinya," tukas Pete, "aku ingin tahu siapa yang
mengembalikannya!"
Jupiter menyuapkan makanannya. "Sekarang lebih baik kita berkonsentrasi pada
para tersangka. Mudah-mudahan alasan kejadian-kejadian ini akan jelas setelah kita
tahu siapa penjahatnya." Ia mengangguk ke arah Bob. "Lanjutkan dengan catatanmu,
Data."
Bob membuka buku catatan kecil yang selalu dibawanya di saku belakang. "Coba
kita lihat," mulainya, membetulkan letak kacamatanya, "ada Pria Berpakaian Hitam yang
misterius, yang dikejar oleh Mr. Cutter pada pagi hari ketika kita tiba dan kemudian oleh
Pete pada siang harinya. Menurut teman pamanmu, ia ada hubungannya dengan
Perompak Baru dan telah mengancam pamanmu dan Mr. Cutter selama beberapa
minggu. Kemudian kita punya Perompak Baru dari Barat, termasuk Gaspar St. Vincent
dan Connie Bly. Gaspar sepenuh hati ingin menghentikan kegiatan pamanmu namun
tidak memberi kesan seorang pencuri. Di lain pihak, Bly nampak seperti seseorang yang
mungkin mencuri demi uang semata-mata. Terakhir adalah Oscar Cutter, yang mungkin
menyabot pamanmu karena iri, meskipun jika memang demikian ia tidak punya alasan
untuk mengembalikan Cakar Perunggu."
Anak bertampang serius itu menutup buku catatannya dan meneguk minumannya.
"Itulah rangkumannya, Pertama. Apa pendapatmu?"
Jupiter meraih potongan kaki kepiting terakhir di piringnya dan menimbang-nimbang
untuk memakannya atau tidak. "Pamanku mungkin saja benar mengenai Cutter,"
katanya, mencelupkan kaki kepiting itu ke dalam mentega, "kalau tadi ia hanya salah
bicara, kurasa ia bersih.
"Dengan demikian tinggal tiga orang di dalam daftar tersangka kita." Sambil berpikir
keras ia tanpa sadar memasukkan kaki kepiting itu ke dalam mulut. "Dan hanya ada dua
tempat kita dapat menemukan anggota-anggota Perompak Baru dari Barat -- bekas pos
pemadam kebaka ran atau perahu-perahu yang mengelilingi tempat penelitian."
Ketika menyadari bahwa piringnya sekarang telah kosong, Penyelidik Pertama
tersenyum malu dan memint a bon. "Kuusulkan kita berpencar. Bob dapat meminjam
sepeda pamanku kali ini dan membuntuti Cutter pulang dari pameran Seruling Belanda.
Pete dan aku akan mengamat-amati Connie Bly di markas Perompak Baru. Semuanya harus
waspada akan kemunculan Pria Berpakaian Hitam!"
Setelah membayar, Jupiter merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan tiga batang
kapur, satu biru, satu hijau, dan satu putih. Ia memberikan yang biru kepada Pete dan
yang hijau kepada Bob. Kapur itu adalah gagasan cemerlang Jupe saat menangani salah
satu kasus sebelumnya. Para anggota Trio Detektif dapat meninggalkan jejak tanda
tanya jika mereka harus berpencar. Hampir tidak ada yang menyadari sebuah tanda
tanya yang dibuat dengan kapur di trotoar atau di pagar, orang dewasa biasanya
menyangka itu hanyalah suatu permainan kanak-kanak. Namun bagi Trio Detektif tanda
tanya itu adalah petunjuk yang berharga.
"Selalu ada gunanya siap siaga," Jupe menggurui sementara mereka keluar ke jalan
yang terang. "Aku merasa kita tidak akan membutuhkan kapur-kapur ini selama liburan
kita ini namun aku tetap membawanya, siapa tahu." Ia melihat jam tangannya. "Kita
berkumpul kembali di rumah pamanku lima jam lagi. Paman Atticus akan memasak
lobster mala m ini, jadi jangan sampai terlambat!"
"Oh," erang Pete. "Bagaimana kau dapat berpikir tentang makanan setelah makan
besar tadi?"
Anak-anak tertawa dan Bob pergi ke arah rumah Atticus Jones sementara Pete dan
Jupe menuju ke markas Perompak Baru dari Barat. Karena hari itu bukanlah akhir
pekan, jumlah turis yang bergerombol di jalan tidaklah terlalu besar, sehingga kedua
penyelidik itu bisa mencapai bekas pos pemada m kebakaran dalam waktu relatif singkat.
Setelah sepakat untuk bersuit dua kali jika melihat sesuatu yang mencurigakan, Jupe
duduk di salah satu bangku taman di seberang jalan, mengamat-amati pintu depan
bangunan batu bata itu. Pete memanjat tangga darurat sebuah bangunan beberapa
pintu jauhnya dari pintu belakang pos pemadam kebakaran.
Dari tempatnya mengintai Pete dapat melihat sebuah Mercedes dan sebuah Jeep
terparkir di belakang pos pemadam kebakaran. Ia tidak meliha t mobil kecil berwarna
putih yang digunakan Bly beberapa hari lalu. Anak-anak telah melakukan pengintaian
berkali-kali sebelumnya dan mereka semua terbiasa akan kebosanan yang melanda jika
tidak ada yang terjadi dalam waktu lama. Sepertinya itulah yang akan terjadi kali ini.
Setelah dua jam Jupe membeli es krim dari seorang pedagang jalanan, lalu gulali. Pete
turun untuk mengambil sebuah kursi tua yang telah dibuang seseorang bersama dengan
sampah. Ia menaikkan kursi itu ke tempat mengintainya di atas tangga darurat dan
meregangkan ka kinya yang panjang sambil tersenyum.
Satu jam lagi telah berlalu. Hari mulai sangat terik. Jupiter pindah ke sebuah bangku
taman lain yang terlindung bayang-ba yang sebatang pohon. Di atas tangga darurat
keadaan Pete sungguh menyedihkan. Tidak ada yang melindunginya dari panas
matahari dan anak itu sangat haus. Ia melihat arlojinya untuk kesekian ratus kalinya
dan mendesah. Ia berharap sesuatu akan segera terjadi. Meskipun ia telah menikmati
makan siang besar tadi, perutnya mulai bersuara.
Tepat pada pukul lima pemilik Mercedes dan Jeep muncul membawa ember-ember
cat dan kotak perkakas. Pete berdiri tegak dan mengintip melalui sela-sela pegangan
tangga yang berkarat. Ia tidak mengenali kedua orang itu namun itu bukan masalah --
mereka berdua masuk ke mobil masing-masing dan pergi.
Pete menghela nafas dan hendak melihat jam tangannya lagi ketika pintu belakang
sekali lagi terbuka. Kali ini Gaspar St. Vincent! Pete mengamati pria berkostum bajak
laut itu menjatuhkan seberkas anak kunci dan kemudian mengunci pintu. Penyelidik
Kedua merasa perompak itu nampak sangat marah -- ia berjalan demikian cepatnya
sehingga boleh dikatakan berlari! Pete menahan nafas ketika Gaspar berjalan tepat di
bawahnya. Perompak itu kemudian masuk ke sebuah toko obat di sebelah kiri jalan
melalui pintu belakang. Pete memasukkan jari ke mulut dan bersuit dua kali.
Di bangku taman yang kini didudukinya bersama beberapa ekor merpati, Jupiter
menegakkan badannya. Ia mendengar sinyal dari Pete. Penyelidik Pertama menatap
bagian depan toko-toko dengan bergairah. Sekonyong-konyong ia memahami tanda dari
Pete. Gaspar St. Vincent dapat dikatakan lari keluar dari sebuah toko obat, beberapa
bangunan dari pos pemadam kebakaran. Bajak laut jangkung itu melihat ke kiri dan ke
kanan, kemudian berlari menyeberangi jalan. Mata Jupe terbelalak. Gaspar menuju tepat ke
arahnya!
Jupiter membungkuk dan berpura-pura mengikat tali sepatunya. Gaspar St. Vincent,
yang juga dikenal sebagai Francis Shoe, tidak memperhatikannya meskipun lewat
setengah meter dari Jupiter! Jupe begitu dekat dengan Perompak Baru itu hingga ia
dapat melihat kecemasan yang merambati wajah lelaki itu. Ia memandang penuh minat
sementara Gaspar memasuki sebuah pintu di samping Kamar Tujuh Lautan dan berlari
menaiki tangga, sekali melangkah melompati dua anak tangga sekaligus.
Saat itu Pete Crenshaw yang kehabisan nafas mengusir burung-burung merpati dan
duduk di samping rekannya. "Kau melihat Gaspar?"
Jupe mengangguk. Apartemennya pastilah berada di atas tempat minum itu. Kalau
melihat wajahnya, seolah-olah sesuatu yang mengerikan telah terjadi. Apa yang kau
lihat?"
"Tidak ada apa-apa..."
Sebelum Pete dapat berkata lebih lanjut, Gaspar telah muncul kembali di pintu.
Kedua anak itu berusaha untuk tidak menarik perhatian namun sebenarnya tidak perlu.
Gaspar, mengenakan pakaian baru, berjalan tepat di samping mereka tanpa
mengatakan apa-apa.
"Kau pikir ia melihat kita?" tanya Pete.
"Masa bodoh!" seru Jupe. "Mungkin akhirnya kita mendapat angin segar dalam kasus
ini. Mari kita buntuti dia dan lihat ke mana dia pergi!"
Kedua penyelidik itu mulai berjalan di belakang bajak laut itu, berhati-hati dengan
menjaga jarak kalau-kalau pria itu berpaling. Di ujung blok pria jangkung itu berbelok ke
kanan dan menghilang. Jupe dan Pete lekas-lekas berlari ke belokan itu dan mengintip.
"Ia naik mobil!" teriak Pete.
Dalam hati Jupiter sangat kesal sementara mereka memandangi Gaspar
mengemudikan mobil kecilnya yang berwarna biru bergabung dengan lalu lintas.
"Mengapa kita berikan sepeda kepada Bob?" keluhnya. "Kita harus berusaha
mengikutinya dengan berjalan kaki sejauh yang kita bisa!"
Berkat arus lalu lintas dan beberapa lampu merah yang membawa keberuntungan,
kedua anak itu berhasil mengikuti mobil biru itu sejauh beberapa blok. Namun ketika
Gaspar berbelok masuk ke jalan raya, mereka hanya dapat berdiri tanpa daya sambil
memandangi pria itu meluncur menjauh.
"Kit a kehilangan dia," erang Pete.
Jupiter memandangi mobil yang kian lama kian mengecil itu dengan hati menciut.
Ketika kendaraan itu hampir hilang dari pandangan, hatinya tiba-tiba melonjak. Ia
melihat lampu rem dan sen! Digami tnya lengan Pete.
"Ayo! Mungkin belum terlambat!" Anak-anak berlari sekencang-kencangnya. Namun
mobil Gaspar berbelok ke kiri dan menghilang sebelum mereka berada setengah jalan
dari belokan itu.
Pete menggeleng-geleng dan memperlambat larinya. "Tidak ada gunanya," katanya
terengah-engah. "Mungkin sekarang dia sudah satu mil jauhnya dari sini!"
Jupiter pantang menyerah. "Belum tentu, Dua," ia tersengal-sengal, berusaha
mempercepat langkah. "Kalau aku tidak salah, jalan yang dimasukinya itu buntu! Kita
melewati daerah ini ketika pergi melihat Seruling Belanda." Tanpa mempedulikan rasa
nyeri di pinggang mereka, anak-anak terus berlari. Ketika akhirnya mereka tiba di
belokan tempat Gaspar menghilang, dengan muka merah dan penuh keringat, Jupiter
berseru penuh k emenangan.
"Ya!" teriaknya, menunjuk ke suatu arah di tengah-tengah blok. Pete mengusap
keringat di dahinya dan tersenyum. Mobil biru Gaspar terparkir di depan sebuah gedung
apartemen kecil! Terpampang sebuah papan nama: APARTEMEN LYNDA LE LANE. Anak-
anak menyelinap sedekat yang mereka berani di seberang jalan, kemudian merunduk di
balik pagar semak yang tinggi.
Dengan penuh minat mereka memandang Gaspar berbicara dengan ramai kepada
seseorang melalui interkom apart emen. Mereka te rlalu jauh untuk mendengar
pembicaraan itu namun Gaspar jelas nampak marah. Tangannya bergera k-gerak penuh
emosi dan ia berulang kali menekan tombol-tombol di interkom itu.
"Wah, siapapun yang tinggal di sana jelas tidak ingin ia masuk!" kata Pete.
"Lihat siapa yang datang," desis Jupiter.
Pete hampir-hampir tidak dapat mempercayai pandangannya. Pria Berpakaian
Hitam! Pria itu mengenakan kemeja lengan pendek berwarna ungu dan dasi putih, serta
topi hitam dan kacamata gelap yang biasa. Ia tiba di gedung apartemen itu dan berjalan
menuju ke pintu depan. Ia nampak berbicara kepada Gaspar.
Jupe nyaris meledak penuh rasa ingin tahu. "Seandainya kita bisa mendenga r
pembicaraan mereka!" keluhnya. "Mungkin kita bisa lebih mendekat lagi."
Pete menggeleng. "Mereka jelas akan melihat kita. Satu-satunya mobil di depan
apartemen itu adalah milik Gaspar. Mungkin..."
Ia terdiam ketika kedua pria itu berjalan keluar bersama. Mereka berhenti di depan
mobil kecil milik Gaspar dan Pria Berpakaian Hitam menyerahkan sesuatu kepada
Gaspar, kemudian berjalan menjauh. Anak-anak mengamatinya masuk ke mobilnya
sendiri yang diparkir beberapa rumah jauhnya.
Sambil memasukkan benda kecil itu ke dalam saku, Gaspar St. Vincent masuk ke
mobilnya dan mereka berdua pergi ke arah yang berlawanan -- Pria Berpakaian Hitam
lewat tepat di depan Jupe dan Pete. Jupiter tidak ragu-ragu. Dengan mengambil resiko
ketahuan, ia keluar dari bali k pagar semak dan berlari-lari kecil di tepi jalan, cukup lama
untuk melihat nomor polisi Pria Berpakaian Hitam. Dengan cepat diingatnya nomor itu.
"DLH 555," lapornya ketika tersusul oleh Pete. "Mungkin Chief Reynolds di Rocky
Beach bisa membantu k ita mengidentifikasi Pria Berpakaian Hitam yang misterius!"
Pete menganggukkan kepala ke arah pintu depan kompleks apartemen itu. "Mari kita
lihat, siapa yang berbicara dengan Gaspar tadi."
Kedua anak itu berjalan ke pintu depan gedung kecil itu dan Pete menggerakkan
jarinya menelusuri daftar penghuni. Terdapat empat nama dengan nomor interkom
masing-masing.
1. ADRAGNA, R. #1113
2. KANE, H. #8216
3. VEBBELL, E.D. #0505
4. MOTT, H. #0915
Pete mengerutkan kening. "Aku tidak mengenali satupun dari nama-nama ini.
Siapakah yang diajak bicara oleh Gaspar dengan penuh semangat tadi?"
"Hanya ada satu cara untuk mengetahuinya," kata Jupiter muram. "Kit a harus
mengetuk pintu satu demi satu." Selama beberapa saat Jupe dengan cepat mengarang
suatu cerita dan kedua anak itu mulai mengetuk. Lima menit kemudian mereka telah
berbicara dengan semuanya kecuali KANE, H. di apartemen nomor dua. Semuanya sama
sekali tidak dikenal oleh anak-anak.
Pete menuliskan alamat apartemen itu di telapak tangannya, kemudian menggaruk
kepalanya dengan pen. "Menurutmu apakah Pria Berpakaian Hitam itu adalah H. KANE
ini?"
"Suatu kemungkinan," kata Jupiter sambil berjalan ke sisi gedung. "Mari kita coba
mengintip melalui jendela, siapa tahu kita akan melihat sesuatu yang dapat memberi
petunjuk."
Kedua detektif itu menemukan jendela-jendela apartemen H. KANE. Hanya satu yang
tirainya terbuka. Anak-anak meletakkan tangan mereka di kaca dan mengintip ke
dalam.
Apartemen H. KANE sungguh berantakan. Sebuah meja penuh sesak dengan kertas
dan tagihan terletak di balik jendela. Tumpukan majalah dan surat kabar dengan
gambar kuda pacuan dan anjing balap teronggok di atas meja dan kursi.
"Sepertinya hari ini pembantu libur," kata Pete tidak terkesan.
"Itu majalah-majalah mingguan tentang pacuan," Jupiter memberitahunya.
"Sepertinya Mr. Kane adalah seorang penjudi yang sering mengunjungi arena pacuan."
"Lalu?" Pete mengangkat bahu. "Semua orang perlu hobi. Aku ingin tahu siapa Pria
Berpakaian Hitam -- bukan apa yang dilakukannya pada waktu senggang!"
Jupiter berjalan keluar dan membuat tanda tanya besar dengan kapur putihnya di
sebatang pohon di halaman apartemen. Ia memasukkan kapur ke dalam sakunya dan
menyatukan telapak tangan dengan puas. "Coba kita lihat apakah Chief Reynolds dapat
memberi tahu kita siapa orang itu, Dua. Mungkin DLH 555 sama dengan H. KANE!"
BAB XI
BIARKAN DIA HIDUP

Setelah mengambil sepeda tua dari rumah Paman Atticus,


Bob bergegas pergi ke pameran Seruling Belanda. Ketika
tiba di tempat parkir sepeda, ia melihat bahwa tidak ada
terlalu banyak turis hari ini. Sebuah papan yang tergantung
di haluan kapal itu mengumumkan bahwa pameran itu akan
menuju Kanada besok.

Bob memandang berkeliling, mencari tempat yang tepat


untuk mengawasi Seruling Belanda dan kedua perahu
motor pengunjuk rasa yang berada di teluk.

Anak bertubuh kecil itu tersenyum ketika pandangannya


jatuh pada sebuah toko memancing di dekat situ. Ia
berjalan ke sana dan merogoh saku celananya, mencari
uang. "Siapa bilang mengintai pastilah membosankan?"
katanya kepada dirinya sendiri, meletakkan selembar
sepuluh dolar di kasir. Seorang gadis cantik mengenakan
atasan bikini berwarna merah muda cerah mengambil
tempat di belakang mesin kasir. "Ada yang bisa kubantu?"

"Aku ingin menyewa kail dan umpan," Bob tersenyum,


merasa yakin Jupe tidak akan setuju akan metode
pengintaiannya. Bob tertawa membayangkan dirinya
pulang membawa ikan besar selagi menangani kasus.
Itulah yang akan didapat Jupiter Jones yang berani-
beraninya menemukan suatu misteri tatkala sedang
berlibur!

Gadis itu menyiapkan peralatan di atas meja sambil


tersenyum manis dan berkata semoga Bob sukses. Bob
tersipu-sipu dan keluar ke dermaga, memilih tempat yang
tidak membuat pandangannya ke arah Seruling Belanda
terhalang.

Setelah dengan teliti memasang umpan di kailnya, anak itu


melecutkan jorannya dengan sempurna. Ia mulai
memainkan kail perlahan-lahan dan menggulungnya
dengan lembut, seperti yang telah diajarkan ayahnya
beberapa musim panas yang lalu.

Sambil memancing Bob dapat melihat Oscar Cutter di


geladak Seruling Belanda, menjelaskan metode
penyelamannya dan menceritakan sejarah kapal megah itu.
Pria itu nampak sangat bosan dan sedikit kesal terhadap
para turis. Bob melihat bahwa para pengunjuk rasa di
kedua perahu pun nampak bosan dan jelas sekali
kehilangan antusiasme yang mereka tunjukkan kemarin.

Beberapa jam berlalu dan Bob menduga sepertinya ia akan


sama beruntungnya dalam memancing dengan dalam
mengintai. Kemudian ia merasa ada yang membuat tali
pancingnya bergetar. Tiba-tiba talinya terulur dan jorannya
melengkung oleh tarikan seekor ikan besar! Penuh
semangat, Bob menarik tongkat pancingnya dengan kedua
tangan. Dua puluh meter di depannya, Bob melihat cipratan
air ketika seekor ikan besar melompat keluar, bergerak-
gerak dengan liar di udara, sebelum akhirnya masuk
kembali ke air. Jantung Bob berdebar kencang. Menangkap
ikan yang besarnya setengah kali ikan ini pun ia belum
pernah. Jupe dan Pete pasti akan ternganga! Ia sedang
menimbang-nimbang untuk memakan ikan itu atau
mengawetkannya ketika suatu gerakan di atas Seruling
Belanda membuat hatinya menciut.

Oscar Cutter hendak pergi! Bob mengerutkan kening dan


menggulung talinya sekuat-kuatnya, berusaha mengamati
si ikan dan Cutter pada saat yang bersamaan. Peneliti itu
sedang menyerahkan suatu catatan kepada seorang
mahasiswa dan nampak memberikan instruksi. Ia lalu
menepuk punggung mahasiswa itu, menuruni kapal, dan
menuju ke jalan tepat ketika Bob menarik ikan raksasa itu
keluar dari air ke atas dermaga!

Bob dengan cekatan melepaskan mata kail bagaikan


seorang pemancing ulung dan menjulurkan kepala untuk
melihat arah yang diambil Cutter. Pandangannya terhalang
oleh kapal yang besar itu! Tahu bahwa ia tidak mungkin
membuntuti Cutter sambil membawa-bawa ikan, hati Bob
semakin ciut. Tepat pada saat itu gadis cantik berbikini
merah muda yang tadi menyewakan kail kepada Bob muncul sambil membawa kamera.

"Hebat sekali!" katanya. "Mau kuambil gambarmu? Hanya


satu dolar."

"Tentu saja," Bob mendesah, memegang ikan itu di


hadapannya. "Paling tidak kini aku punya bukti."

Gadis itu mengambil gambarnya. "Apa maksudmu, 'bukti'?"


tanyanya, memberikan foto kepada Bob dan menerima satu
dolar sebagai gantinya.

Bob patah hati ketika ia melemparkan ikan raksasa itu ke


air dan menyaksikannya berenang pergi di balik ombak.
"Biarkan dia hidup, begitulah," ia mengangkat bahu,
terpukul.

Bob berlari kecil meninggalkan dermaga untuk mengejar


Cutter. "Terima kasih atas fotonya!" serunya.

Ketika Bob mencapai Seruling Belanda, ia berdiri di atas


tiang pendek yang membatasi tepi dermaga untuk
memandang di atas kepala orang-orang yang antri untuk
naik ke kapal. Bob semakin kesal ketika melihat bahwa
Oscar Cutter sebenarnya tidak pergi ke mana-mana. Pria itu
hanya berjalan tidak jauh dari kapal ke dermaga sebelah
tempat tertambatnya sebuah perahu kecil yang digunakan
tim penelitinya untuk pergi ke tempat penelitian lima puluh
meter ke tengah laut. Bob merasa ingin menangis! Ia telah
melepaskan tangkapan terhebatnya seumur hidup dengan
percuma!

Anak itu menatap dengan sebal pelaut tampan itu


mengemudikan perahu motor ke kapalnya yang kosong.
Kedua perahu pengunjuk rasa tidak bergeming, sepertinya
memutuskan untuk tetap tinggal di sekitar Seruling
Belanda.

Bob menduga-duga apa yang dilakukan Cutter di kapal


penelitinya sendirian saja, jaraknya terlalu jauh untuk
melihat dengan jelas. Mungkin hanya memeriksa keadaan,
memastikan peralatan sonarnya yang peka tidak dijamah
oleh para Perompak Baru, pikir Bob.

Dalam usahanya untuk mengalihkan pikirannya dari ikan raksasa kembali ke kasus itu, Bob berlari-lari
kecil ke toko
pancing kecil tempat ia menyewa kail tadi.

"Mau mencoba lagi?" gadis berbikini itu tertawa. "Tak perlu


membayar lagi kalau kau ingin menggunakan kail yang
sama."

Bob tersenyum berterima kasih. "Tidak, terima kasih. Aku


hanya ingin minta tolong."

"Silakan," gadis cantik itu mengangguk.

"Apakah kau punya teropong yang bisa kupinjam sebentar?


Penting sekali -- aku hanya akan pergi ke dermaga di dekat
pameran Seruling Belanda."

Gadis itu setuju dan mencari-cari di bawah meja kasir, lalu


menyerahkan sebuah teropong kepada Bob. "Jangan
sampai hilang," katanya memperingatkan. "Itu milik
atasanku. Aku bisa dipecat kalau ia tahu aku meminjamkan
teropongnya yang bagus kepada seorang asing. Apakah kau
dari sekitar sini?"

Bob menyeringai dan menggelengkan kepala. "Tidak, aku


dan teman-teman hanya berlibur di sini. Terima kasih atas
teropongnya. Aku berjanji akan mengembalikannya."

Bob meletakkan teropong di depan matanya begitu tiba di


dermaga, tepat di depan tempat penelitian Cutter. Ia
terkejut melihat Cutter mengenakan pakaian menyelam.
Bob ingat bahwa salah satu pelajaran dasar yang diterima
Trio Detektif di sekolah menyelam di Rocky Beach adalah
tidak menyelam sendirian.

Setelah memasang tabung udara dan kacamata selam,


peneliti itu memandang sekilas ke arah perahu-perahu
Perompak Baru, kemudian menceburkan diri ke air.

Bob menurunkan teropongnya. Apakah yang demikian


pentingnya sehingga tidak dapat menunggu sampai
Seruling Belanda berlayar besok? Bob tidak sempat
memikirkan jawaban atas pertanyaannya sendiri. Beberapa
menit kemudian pria itu muncul di permukaan dan mulai
memanjat tangga di samping kapalnya.

Bob dapat melihat bahwa Cutter menggenggam suatu


benda kecil di tangannya. Benda itu terlihat seperti sebuah
pistol. Mungkin salah satu dari blunder-apalah yang
disebut-sebutnya di rumah Paman Atticus. Lempengan
kuningan di laras dan gagang kayunya berkilau ditimpa
matahari.

Bob menyingkir dari dermaga ketika ia melihat Cutter


menanggalkan pakaian selamnya dan menyimpannya. Ia
hendak kembali ke pantai -- dan ia membawa pistol itu! Bob
kembali ke toko pancing dan mengembalikan teropong
kepada sang gadis.

"Datanglah lagi jika kau ingin memancing," kata gadis itu.


"Dan ajak teman-temanmu. Kami menyewakan kail
termurah di teluk ini!"

Bob melambai sambil berlari ke dermaga Oscar Cutter.


Penyelam itu baru saja menambatkan perahu motornya.
Bob membaur dengan para turis yang mengantri, lalu
berlari mendapatkan sepedanya ketika Cutter melemparkan
pistol antik itu ke tempat duduk penumpang di mobil
kecilnya dan mulai bergerak.

Bob membuat tanda tanya besar dengan kapur hijaunya di


trotoar lapangan parkir dan mulai membuntuti dari jarak
yang aman.

Bob Andrews merasa semakin lama ia mengayuh, semakin


banyak pertanyaan yang muncul di benaknya. Seperti, ke
manakah Cutter membawa pistol itu? Dan mengapa para
pengunjuk rasa dari Perompak Baru tidak berusaha
mencegahnya?
BAB XII
MENGHUBUNGI ROCKY BEACH!

Menjelang makan malam Jupiter dan Pete tiba kembali di


rumah Atticus Jones. Anak-anak dapat mencium harumnya
masakan lobster yang menerbitkan air liur mereka ketika
mereka baru setengah jalan menuju pintu.

Pada saat mereka masuk, mereka hanya dapat meringis


mendengar suara sumbang Titus dan Atticus yang
menyanyikan salah satu lagu pelaut kegemaran mereka
sambil sibuk di dapur. Bibi Mathilda tidak sabar dan
berusaha membantu-bantu namun setiap kali diusir keluar
oleh Atticus.

"Selamat datang kembali, Pelaut!" seru Atticus ketika anak-


anak masuk ke dapur. "Meja untuk tiga orang? Kebetulan
kami ada satu meja kosong dengan pemandangan
menghadap ke teluk!"

"Masakan istimewa malam ini adalah udang karang


panggang mentega, salad yang lezat, dan kue keju nikmat
yang akan menggelitik selera Anda!" Titus menirukan
pelayan rumah makan mewah.

Jupiter memandang berkeliling dapur, tersadar bahwa


anggota ketiga biro mereka belum kembali. "Bob belum
pulang juga?"

"Tidak kelihatan sepanjang hari!" Titus bernyanyi,


memotong bonggol selada. "Kami kira ia bersama kalian."

"Kami berpencar," jawab Pete. "Kami sepakat untuk


berkumpul lagi di sini saat makan malam."

"Ah," Atticus mengedipkan mata, "dan bagaimana dengan


pengusutan kalian? Ada perkembangan baru yang
menjanjikan?"

"Mungkin," jawab Jupiter, memikirkan Gaspar dan Pria


Berpakaian Hitam. "Bolehkah kami mengadakan hubungan
interlokal dengan telepon Paman, Paman Atticus? Aku
berjanji kami akan mengganti ongkosnya."

"Ongkos apa? Hubungi siapa saja yang kau mau, Nak -- asal
jangan sampai kalian terlambat makan saja," tukas
pamannya.

Kedua detektif itu pergi ke ruang kerja Atticus yang


berantakan. Jupiter menemukan pesawat telepon tua yang
nomornya harus diputar dan menghubungi nomor langsung
Chief Samuel Reynolds di Kepolisian Rocky Beach. Trio
Detektif pernah bekerja sama dengan kepala polisi itu
dalam beberapa kasus yang telah lewat. Meskipun kepala
polisi itu menghargai mereka sebagai detektif
sesungguhnya, seringkali ia merasa anak-anak, terutama
Jupiter Jones, terlalu sering mencampuri urusan pihak
berwajib. Chief Reynolds selalu beranggapan hanya ada
garis tipis yang memisahkan pengabdi masyarakat dan
pengganggu!

Pete memandang sekilas ke arah jam yang juga berfungsi


sebagai barometer di dinding dan nampak cemas. "Wah,
Jupe, sudah pukul enam lewat. Chief Reynolds mungkin
telah pulang."

Namun kecemasan Pete tidaklah beralasan ketika kepala


polisi itu mengangkat telepon pada deringan ketiga. Ia
menjawab dengan tegas, "Reynolds."

"Selamat petang, sir. Ini Jupiter Jones. Bolehkah saya


mengganggu Anda sebentar?"

Terdengar desahan enggan di ujung saluran. "Aku tidak


punya waktu, Jones," tukas kepala polisi itu. "Ada
perampokan tadi di pompa bensin Save-U-More -- kini aku
harus bekerja lembur untuk menyelesaikan laporan!"

"Perampokan?" secara naluriah Jupiter ingin tahu lebih


lanjut. "Save-U-More yang di bagian timur atau barat?"

"Sudahlah, Jones," geram kepala polisi itu. "Dengar.


Mengapa kau tidak mencari kepala polisi lain untuk kau
ganggu -- di Meksiko, misalnya."

Jupiter menutupi gagang telepon dengan telapak


tangannya dan berbisik kepada Pete, "Ia sedang kesal. Aku
harus cepat-cepat." Remaja gempal itu mengembalikan
gagang telepon ke telinganya. "Sir, saya mengerti Anda
sangat sibuk namun hal ini hanya perlu waktu sebentar." Ia
menahan nafas, menunggu jawaban kepala polisi di ujung
saluran. Akhirnya Chief Reynolds menyerah.

"Baiklah, Jones, apa maumu?"

"Terima kasih, sir."

"Ya, ya, kembali," tukas kepala polisi itu, "jangan lama-


lama. Dan jangan gunakan kata-kata sukar!"

"Ada nomor polisi yang perlu Anda usut, sir. Nomor Oregon
DLH 555. Mobilnya sebuah Ford hitam. Menurut saya, sedan
model baru dengan empat pintu. Nama pemiliknya mungkin
adalah 'H. KANE'," Jupiter juga menyebutkan alamat
apartemen kecil itu. "Sudah? Hanya itu?" sindir kepala
polisi itu. "Tidak sukakah kalian akan kegiatan anak-anak
normal, seperti bermain bisbol? Atau berselancar? Dan apa
yang kalian lakukan di Oregon?"

"Ceritanya panjang, sir," Jupiter meyakinkan.

"Pasti. Baiklah. Perlu waktu satu atau dua hari untuk


memperoleh data dari Departemen Transportasi Oregon.
Bisa diterima, Jones? Apakah setelah ini aku perlu
menelepon Presiden Amerika Serikat untukmu?"

"Tidak, sir," Jupiter menyeringai. "Itu sudah cukup baik,


sir."

Ia memberitahukan nomor telepon pamannya kepada Chief


Reynolds dan memutuskan hubungan. "Wah, nyaris."

"Berapa lama?" tanya Pete.

"Katanya satu atau dua hari. Mulai besok kita punya satu
minggu lagi, mudah-mudahan cukup untuk memecahkan
kasus ini."

Bibi Mathilda memanggil dari dapur. "Jupiter! Pete! Bob!


Ayo cuci tangan, waktunya makan!"

Mendengar nama Bob disebut, kedua anak itu teringat


bahwa rekan mereka belum kembali juga. Mereka sedang
melewati gudang belakang tempat Paman Atticus
menyimpan pakaian selam antiknya dan peti Cakar
Perunggu ketika Jupiter tiba-tiba berhenti dan meletakkan
kedua belah telapak tangan di kepala.

"Benda itu hilang!"

"Maksudmu anak itu hilang," Pete membetulkan. "Di mana


menurutmu Bob berada?"

Jupiter berdiri dengan kedua tangan di kening dan


menggeleng-geleng tanpa daya. "Bukan -- memang
maksudku benda itu hilang! Lihatlah!" Ia menunjuk ke arah
peti. Peti yang telah dipasangi gembok istimewa oleh
Atticus. Peti yang pernah menyimpan Cakar Perunggu, yang
kemudian dicuri dan dikembalikan lagi. Peti itu kini kosong,
tutupnya pecah seolah-olah dihantam sebuah kapak dengan
keras!

"Ada yang mencurinya lagi!" Pete tersentak.

"Aku tidak dapat mengerti," Jupe bergumam sambil


memeriksa peti rusak itu. "Mengapa mencurinya, hanya
untuk mengembalikannya, dan kemudian mencurinya lagi?
Sama sekali tidak rasional." Ia berdiri dan berjalan ke pintu
belakang, mendorongnya. Pintu itu terbuka dengan
mudahnya.

"Kunci pintu ini telah dirusak juga," katanya muram. "Ada


yang bersusah-payah hanya untuk mengambil cakar itu."

"Lagi," kata Pete mengingatkan. "Mungkin ada


hubungannya dengan Bob yang tidak muncul untuk makan
malam. Pasti ada sesuatu yang sungguh penting jika Data
sampai melewatkan lobster dan kue keju!"

Jupiter mengangguk dan mencubiti bibirnya. "Sebaiknya


kita lapor Paman Atticus," putusnya. "Lalu mulai mencari
Bob, mungkin ia berada dalam bahaya."

Anak-anak dengan murung kembali ke dapur. Mereka benci


untuk melewatkan makan malam istimewa itu namun Bob
perlu bantuan. Jupiter melaporkan bahwa rumah telah
dibobol sekali lagi dan Cakar Perunggu telah dicuri lagi.
Suasana ceria di sekitar meja segera berubah.

"Di-dicuri," Paman Atticus tergagap-gagap.

"Lagi?" Ia bangkit dari tempat duduknya dan menyerbu ke


gudang. Ketika yang lain tiba di sana, Atticus Jones sedang
berdiri di depan peti rusak itu sambil menariki kumis
besarnya dan mengumpat-umpat ke arah langit-langit.

Bibi Mathilda tidak tahan lagi. Wanita itu masuk ke


kamarnya, membuka koper, dan mulai berkemas-kemas,
bibirnya terkatup rapat. "Tempat ini tidak aman lagi!"
jeritnya. "Aku mau kalian anak-anak berkemas dan
mengambil kantung tidur kalian dari kapal! Aku takkan
tinggal di sebuah rumah yang dimasuki pencuri sesuka hati
mereka! Rumah ini tidak aman, dengar itu!"

Jupiter dan Paman Titus berusaha menenangkan wanita itu


namun tatapan marah Bibi Mathilda membuat mereka
menutup mulut sebelum sempat bersuara.

Atticus menunduk dengan muram. "Kurasa bibimu benar,"


katanya. "Terlalu berbahaya bagi kita untuk tinggal di sini
sebelum orang gila ini tertangkap!"

Jupiter menggamit Paman Titus.

"Kurasa Paman sebaiknya membawa Bibi Mathilda ke


penginapan terdekat."

"Dan apa rencanamu, Nak?" kata pamannya dengan bijak.


"Permainan ini sudah terlalu berbahaya. Menurutku sudah
saatnya polisi mengambil alih sekarang."

"Kami cemas akan Bob," Jupiter menjelaskan. "Ia belum


kembali dari pengintaiannya di Seruling Belanda. Aku
hendak meminta tolong Paman Atticus mengantarkan kami
mencari anak itu. Jika kami tidak dapat menemukannya,
maka tidak ada pilihan lagi selain menghubungi polisi."

Paman Titus menimbang-nimbang sesaat, kemudian


menyetujuinya dan membantu istrinya memasukkan
barang-barang mereka ke bak belakang truk. Sekali lagi ia
memperingatkan Jupe agar benar-benar berhati-hati.
"Sepertinya ada orang tidak waras di luar sana. Aku tidak
ingin kalian anak-anak pergi sendirian!"

Jupiter berjanji bahwa ia dan Pete akan berusaha untuk


tetap bersama Paman Atticus sepanjang waktu sementara
mereka semua naik ke truk.

"Ke pameran Seruling Belanda," Jupiter memberi aba-aba.


"Dan buka mata terhadap tanda tanya yang dibuat dengan
kapur hijau!"
BAB XIII
HANTU SI JANGGUT HITAM

Kaki Bob gemetar sementara ia berusaha mengimbangi mobil putih Oscar Cutter yang
melaju menuju kota. Untuk kesepuluh kalinya anak itu berpikir, seandainya ia mengendarai
sepeda gunungnya yang bergigi lima, yang diperolehnya sebagai hadiah Natal tahun lalu,
membuntuti tersangka jauh lebih mudah dengannya. Paling tidak di Rocky Beach Trio
Detektif bisa memanfaatkan layanan Worthington!
Worthington adalah supir berkebangsaan Inggris yang mengemudikan Rolls Royce
mewah, yang dimenangkan Jupiter dalam sebuah kontes. Berkat kebaikan hati seorang klien
yang sangat berterima kasih, Trio Detektif bisa mengguna kan mobil mewah itu tanpa batas
dan Worthington telah menjadi seorang sahabat sekaligus 'Penyelidik Keempat tidak resmi.'
Namun hari ini Worthington berada ratusan mil jauhnya dan Bob sendirian, mengayuh
sepeda antik Atticus Jones!
Remaja berambut pirang itu menghembuskan nafas lega dan mulai memperlambat
kayuhannya ketika melihat mobil kecil Cutter berbelok masuk ke jalan raya. Berhati-hati, Bob
menjaga jarak satu blok di belakang peneliti itu. Ia terheran-heran meliha t Cutter
membelokkan mobil ke dalam sebuah lorong sempit di belakang deretan toko yang pernah
dimasukinya dan Pete ketika melarikan diri. Bob memarkir sepeda tuanya di tempat parkir
terdekat dan mengintip di sudut jalan.
Cutter sedang berdiri di depan pintu belakang markas Perompak Baru dari Barat -- dan ia
menggenggam pistol yang belum lama diambilnya dari dasar laut! Bob mengamati dan
kemudian mengendap-endap mendekat untuk dapat melihat lebih jelas. Apa yang dil akukan
seorang peneliti kapal karam di tempat orang-orang yang memprot es dan mengancamnya?
Bob sempat berpikir bahwa penyelam itu mungkin hendak menjual pistol itu kepada
Perompak Baru sebagai tambahan koleksi museum mereka. Namun kemudian ia teringat
akan perkataan Jupe bahwa semua yang dipamerkan a dala h i mitasi belaka -- lagipula , segala
sesuatu yang ditemukan Cutter tentu menjadi milik universitas yang membiayai
penelitiannya.
Tak lama kemudian pintu terbuka dan Cutter tanpa bersuara disil akan masuk ke dalam
pos pemadam kebakaran yang gelap. Bob menggigiti kukunya dengan gelisah. Apa yang
harus dilakukannya? Anak yang bertanggung jawab akan Catatan dan Riset tidak ingin
terpisah dari teman-temannya jika ia memutuskan untuk membuntuti Cutter ke dala m. Pete
melakukan hal itu dalam kasus sebelumnya di Inggris, Misteri Warisan Hitchcock, dan
hasilnya ia terkurung di ruang penyimpan anggur sepanjang hari! Bob tidak ingin mengulangi
kesalahan temannya.
Dengan muram Bob memikirkan segala alat yang dirancang Jupiter untuk menangani
kasus seperti ini. Sungguh akan berguna alat-alat itu baginya sekarang! Ia sedikit kesal
terhadap Jupe yang hanya membawa kapur khusus mereka namun sadar bahwa ia sendiri
patut disalahkan. Ia seharusnya tahu bahwa suatu liburan pun dapat berubah menjadi
bahaya jika ada Jupiter Jones!
Bob memutuskan bahwa ia harus puas dengan kapur untuk saat ini. Ia membuat sebuah
tanda tanya besar berwarna hijau di dinding dan beberapa lagi sementara ia mendekati pintu
belakang markas Perompak Baru. Ketika ia telah mencapai pintu yang tadi dimasuki Cutter,
ia berlutut dan menggambar satu lagi tanda tanya dan tanda panah di lantai. Sambil menarik
nafas panjang dan mengumpulkan segenap keberaniannya, Bob memasuki bagian dalam
yang gelap.
Hidungnya segera mencium bau cat basah dan serbuk gergaji. Ruangan lembab itu hanya
diterangi oleh cahaya matahari yang masuk melalui jendela kaca berwarna yang menghadap
jalan raya. Bob membiarkan matanya terbiasa dengan keremangan ruangan itu selama
beberapa saat, lalu berjingkat-jingkat maju.
Brak! Ia menabrak sebuah kuda-kuda gergaji dengan gergaji di atasnya. Bunyi yang
ditimbulkan terasa sungguh kencang memecah kesunyian bangunan besar itu. Bob
mengumpat tertahan, mengatupkan gigi, dan mendengarkan. Setelah beberapa menit di
dalam kesunyian, yakin akan tertangkap basah dengan senter yang disorotkan ke arahnya,
Bob melanjut kan langkahnya ke bagian depan ruangan.
Melihat turis-turis di luar jendela besar itu membuat perasaan Bob sedikit lebih baik. Ia
tahu kalau ada bahaya, paling tidak ia akan dapat menggedor kaca jendela dan berteriak
minta tolong -- bahkan memecahkannya kalau terpaksa!
Ia mengendap-endap di lantai ba wah, mencari petunjuk, da n ketika merasa lebih percaya
diri, mulai menaiki tangga menuju ke lantai dua. Cutter pastilah ada di sana!
Setelah tiba di atas kepercayaan diri Bob luntur. Hanya ada beberapa jendela kecil di
ruangan besar itu dan secercah cahaya matahari yang masuk hanya menimbulkan bayang-
bayang menyeramkan. Ia menggambar satu lagi tanda tanya di anak tangga teratas.
Bob menelan ludah dan kembali maju dengan tangan terentang ke depan bagaikan
antena, berjaga-jaga kalau-kalau ada lagi kuda-kuda gergaji di depannya. Tiba-tiba
tangannya menyentuh sesuatu yang membuatnya tersentak penuh keringat dingin. Rasanya
seperti tangan manusia -- namun dingin, bagaikan tangan mayat!
Bob berteriak tertahan dan menarik tangannya penuh kengerian. Lalu, berkat cahaya
lemah yang menerobos ma suk, ia melihat benda yang disentuhnya.
Itu hanyalah patung lilin William Evans -- yang lebih dikenal oleh Bob sebagai Perompak
Ungu. Dengan matanya yang mulai terbiasa dengan cahaya remang-remang Bob dapat
melihat bahwa ada beberapa patung lilin yang tersebar di ruangan besar itu. Hal ini tidak
membuatnya merasa lebih baik. Matanya menatap patung-patung itu satu per satu -- begitu
ia mengalihkan tatapan ke patung yang lain, patung yang sebelumnya seolah-olah bergerak
sedikit. Begitu ia menatap yang lain lagi, patung yang pertama seolah-olah siap
menghantamnya.
Sambil menggigiti kuku-kukunya lagi Bob memaksa diri meneruskan pencariannya
terhadap Kapten Cutter. Ketika penyelidik bertubuh kecil itu telah tiba di dinding seberang
museum itu tanpa menemukan tanda-tanda si penyelam, ia menghembuskan nafas lega. Ia
nyaris gembira karena tidak menemukannya. Satu-satunya yang ingin ia lakukan adalah
kabur dari ruangan seram ini! Bob memutuskan bahwa cukup sudah penyelidikan yang
dilakukannya untuk hari itu dan ia ingin pulang dan berpesta lobster untuk makan malam.
Setelah mengambil keputusan itu, Bob mulai berjalan dengan cepat namun tanpa suara,
melintasi ruangan, menuju ke tangga .
"Aaaahhhhhhhhhh!"
Sekonyong-konyong ketakutan terbesarnya
menjadi kenyataan. Ketika ia berjalan melewati patung
William Teach, lebih terkenal sebagai Si Janggut Hitam,
sosok tinggi itu menggeram marah dan melompat turun
dari landasan tempatnya berdiri!
Anak bertubuh kecil itu menjerit kencang penuh
ketakutan dan terhuyung ke belakang, menimpa sebuah
benda pameran, dan menjatuhkannya ke lantai
dengan suara keras! Bob berlari melintasi ruangan
sambil dilanda kengerian, otaknya berusaha
memerintahkan kakinya agar bergerak -- dan bergerak
dengan cepat!
Si Janggut Hitam mendesis sambil mendekati
Bob, sepatu larsnya berdencing di lantai
sementara ia semakin mendekat. Salah satu
matanya tertutup kain dan yang lain menatap dengan
tidak waras. Janggut Hitam mencabut sebilah belati
panjang dari sabuknya. "Ini yang kami lakukan terhadap para pencuri!" ia meringis bengis,
menggerakkan jari seolah-olah memotong lehe rnya.
Bob menela n ludah dan menghambur ke tangga. Baru dua anak tangga dilewatinya ketika
sebuah jala nelayan yang besar menyelubunginya dan membuatnya terjatuh ke lantai. Ia
menendang-nendang jala itu dengan liar namun hal itu hanya membuatnya semakin erat
terjerat.
Si Janggut Hitam berdiri di depannya dan mengejek. "Mungkin aku harus membiarkanmu
hidup sebagai umpan! Aku ingin tahu apa yang bisa kutangkap dengan anak yang suka ikut
campur sebagai umpan di kailku!" Perompak itu mencibir, meraih ujung-ujung jala, dan
menyeret Bob di lantai.
"Mudah-mudahan kau telah memberi ciuma n selamat tinggal kepada ibu dan ayahmu,
Teman," katanya bengis, "karena yang akan kau temui berikutnya adalah Setan Laut! Ha ha
ha!"
BAB XIV
BOB DALAM BAHAYA!

Setelah Jupiter dan Pete memanjat naik ke dalam kabin truk Paman Atticus, Jupe
meminta pamannya pergi ke pameran Seruling Belanda.
"Di sanalah Data seharusnya berada. Jika ia mendapat kesulitan, mungkin ia
meninggalkan petunjuk bagi kita di sana."
Matahari mulai menghilang di bawah kaki langit dan langit berona campuran biru, jingga,
dan ungu. Sementara pamannya mengemudikan kendaraan tua itu sepanjang jalan pantai,
Jupiter menyaksikan kabut bergumpal-gumpal di atas ombak yang memecah di pantai. Ia
mencubiti bibirnya, cemas akan bahaya yang mungkin mengancam Bob.
***

Ketika Bob Andrews diseret menuruni tangga di bekas pos pemadam kebakaran, ia
berhasil mengelua rkan kapur hijau dari saku depan celananya. Dalam kegelapan yang
mencekam Si Janggut Hitam tidak dapat melihat garis hijau panjang yang ditinggalkan Bob di
lantai sementara ia diseret ke pintu belakang yang beberapa saat lalu dimasuki Cutter.
Bajak laut itu menoleh dan menatap Bob dengan matanya yang tidak tertutup sambil
mengikat pergelangan tangan dan kaki anak itu dengan pita perekat barang. "Kau harus
tutup mulut kalau kau ingin tetap sehat. Siapa tahu aku akan menjadikanmu budak dan tidak
melemparkanmu ke ikan-ikan hiu!"
Bob menelan ludah dan mengangguk ke arah bajak laut itu. Ketika potongan pita perekat
yang tebal direkatkan di mulutnya, anak bertubuh kecil itu tiba-tiba menyadari bahwa dalam
dua kesempatan Trio Detektif melihat Connie Bly, orang itu selalu mengenakan penutup
mata. Dugaan Bob tentang identitas asli perompak itu terbukti benar ketika Si Janggut Hitam
mengangkat Bob dalam jalanya dan melemparkannya ke bagian belakang sebuah mobil kecil
berwarna putih, menutupkan selimut tebal di atasnya. Jadi Connie Bly ada di balik semua ini!
Tidak sulit bagi Bob untuk membayangkan perompak itu terlibat dalam suatu kejahatan.
Ia menduga Bly adalah seorang pencuri profesional yang disewa oleh seseorang yang
berminat akan bajak la ut atau kapal karam.
Sementara mobil kecil itu berjalan, Bob meraba-raba lantai di sekitarnya dengan jari-
jarinya, mencari-cari sesuatu yang dapat diguna kan untuk memotong pita perekat di
pergelangan tangan dan kakinya. Jemarinya menyentuh sesuatu yang keras dan dingin.
Setelah meraba-raba permukaan yang kasar dengan jarinya, Bob tiba-tiba menyadari benda
yang disentuhnya -- Cakar Perunggu! Hatinya melonjak namun hanya untuk sesaat. Cakar
itu tidak berguna untuk membebaskan tangan dan kakinya. Ia melanjutkan mencari-cari.
Tangannya meraba beberapa lemba r kertas dan secara naluriah memasukkannya ke dalam
saku, bisa jadi kertas-kertas itu berisi nama atau alamat orang yang mempekerjakan Bly!
Ketika pencariannya sia-sia, Bob menggambar sebuah tanda tanya kasar di lantai dengan
kapurnya, lalu menyibukkan diri dengan berusaha menyingkirkan selimut di atasnya, cukup
untuk memungkinkannya melihat keluar melalui kaca belakang.
Baru saja ia berhasil, mobil itu berhenti. Melalui kaca yang gelap Bob dapat melihat tiang
layar kapal yang menjulang tinggi dengan matahari terbenam di latar belakangnya. Bly telah
membawahnya ke Seruling Belanda! Tapi mengapa?
Kemudian Bob mendengar pintu mobil ditutup dan kesunyian yang cukup lama. Sepuluh
menit berlalu. Ia mulai berpikir bahwa Bly telah meninggalkannya ketika bajak laut besar itu
kembali dan membuka pintu belakang.
Bajak laut itu mendesis tajam di telinga Bob. "Jangan bergerak sedikit pun -- jangan
bersuara atau kau akan menjadi umpan ikan hiu! Anggukkan kepalamu jika mengerti."
Bob mengangguk.
"Bagus. Ingat, jangan bersuara sedikit pun."
Perompak itu membungkus Bob dengan selimut, mengangkatnya, dan memanggulnya.
Kini Bob dapat mencium bau air laut yang asin dan mendengar deburan ombak. Ia terlonjak-
lonjak sementara Bly berjalan cepat menuju pintu masuk kapal. Bob berusaha mengingat-
ingat tata letak kapal besar itu dan segera menduga bahwa ia sedang dibawa ke bawah
geladak.
Bly berhenti mendadak dan Bob mendengar sebuah pintu dibuka. Pencuri itu
menjatuhkannya bagaikan sekantung kentang ke atas sebuah ranjang dan menyingkirkan
selimut dan jala.
"Jangan macam-macam," geramnya. "Kau tahu apa yang akan terjadi..." ejeknya,
menggerakkan jari di depan leher lagi.
Bob mengangguk sekali lagi, lalu, setelah Bly pergi, menggunakan jari-jarinya untuk
melepaskan pita perekat di mulutnya, menimbulkan rasa nyeri. Pada saat itu Bob teringat
akan pisaunya. Tentu saja! Ia ingin menendang dirinya sendiri! Ia tidak pernah pergi ke
mana pun tanpa pisau lipatnya. Ia begitu panik sehingga melupakan pisau itu!
Bob menggerakkan tangannya yang terikat ke saku depannya. Ia bersyukur Bly tidak
repot-repot menggeledahnya. Jari-jarinya menyentuh pisau kecil itu. Pisau itu terlepas dari
tangannya yang berkeringat. Dengan berkonsentrasi penuh Bob meraih ke dalam sakunya
dan akhirnya berhasil mengeluarkan pisau itu. Dengan ujung-ujung jarinya anak bertubuh
kecil itu membuka mata pisau dan dengan hati-hati mulai memotong pita perekat yang
mengikat tangannya.
Setelah beberapa menit tangannya bebas. Dengan cepat ia memotong ikatan
pergelangan kakinya, lalu mengamati sekeliling. Ia dikurung di sebuah kabin penumpang di
lantai bawah kapal. Hanya ada sebuah pintu dan tidak ada jendela kecuali jendela bundar di
pintu.
Bob memeriksa pintu itu. Engsel-engselnya terlalu besar untuk dicongkel dengan pisau
lipat kecilnya -- namun jendela bundarnya nampak cukup besar bagi seorang anak bertubuh
kecil untuk menyusup keluar! Dengan menggunakan mata pisau petugas Catatan dan Riset
mulai mencopoti baut-baut jendela.
Pekerjaan itu memakan waktu lama. Keringat menetes dari keningnya sementara ia
dengan penuh semangat mulai membuka baut terakhir. Sekonyong-konyong ia mendengar
suara! Siapa lawan bicara Bly? Oscar Cutter? Apakah mereka bekerja sama? Ataukah itu Pria
Berpakaian Hitam -- atau Gaspar St. Vincent?
Bob menempelkan daun telinganya ke kaca, berusaha mendengar perkataan mereka.
Tidak ada gunanya, mereka terlalu jauh. Kemudian ia mendengar langkah-langkah kaki
mendekat. Bob melemparkan dirinya ke ranjang, menjatuhkan kapur dan pisaunya ke dalam
saku, dan menempelkan potongan pita perekat kembali di mulut, tangan, dan kakinya.
Ia hanya dapat berharap Bly tidak menyadari bahwa baut-baut di jendela telah dicopot
dan ikatannya telah dipotong! Perompak be rwajah bengis itu masuk ke ruangan dan
mengangkat Bob di bahunya. "Layanan kamar," ejeknya. "Saatnya memindahkanmu ke
tempat baru. Tidak sebesar ini namun ingat, jika kau berkelakuan baik, kau mungkin bisa
hidup cukup lama untuk bercerita tentang semua ini!"
BAB XV
JANGAN COBA-COBA!

"Lihat ! Di atas kapal!" teriak Pete.


Jupiter dan Atticus memandang melalui kaca truk tua sementara Atticus
menghentikannya di lapangan parkir kosong di depan Seruling Belanda.
"Aku tidak melihat apa-apa, Dua."
"Apa yang kau lihat, Nak?"
"Aku berani bersumpah aku tadi melihat seseorang di atas kapal!" Pete berseru seraya
melompat keluar truk. "Ayo! Mungkin itu Bob!"
Atticus dan Jupiter segera mengikutinya. Ketika mereka tiba di kapal besar itu, Pete
berkata tertahan, "Aku berani bersumpah..." Seruling Belanda menjulang dingin dan diam di
kegelapan malam. Kabut yang beberapa saat lalu hanya sekitar 30 cm di atas permukaan
laut kini mulai merambat naik dan menyelubungi kapal. Jembatan untuk naik ke kapal
dinaikkan dan terdapat tanda di haluan kapal: "TUTUP." Dan di bawahnya terdapat tulisan:
"Terima kasih, Anchor Bay! Seruling Belanda Akan Berlayar Pukul 8:30 Pagi."
Satu-satunya kegiatan yang terlihat hanyalah toko pancing kecil sekitar lima puluh meter
dari mereka yang sedang ditutup. Sebuah mobil kecil berwarna putih terparkir di
sampingnya. Seorang gadis mematikan lampu-lampu, mengunci pintu, dan kemudian pergi
menaiki sepeda. Mereka kini sendirian.
Ombak memukul-mukul lambung kapal dan bunyi sosok kayu raksasa itu menimbulkan
rasa seram tatkala digabungkan dengan kabut yang tebal. Pete memandang berkeliling
dengan gelisah. "Mungkin aku hanya berkhayal," bisiknya. Ia tidak tahu mengapa ia berbisik,
seolah-olah sudah sepantasnya dalam suasana menegangkan itu.
"Lihat ini," desis Jupiter. Pete dan Paman Atticus bergegas mendatangi tempat anak
gempal itu berdiri. Ia menuding ke trotoar.
Terdapat sebuah tanda tanya besar yang digambar dengan kapur hijau di trotoar.
"Jadi Bob tadi ada di sini," Atticus mendesah. "Kita harus memeriksa kapal itu. Besok
akan sudah te rlambat seandainya ia disekap di dalamnya!"
Jupiter mengangguk dengan muram dan menatap Pete. "Kau tahu apa yang harus
dilakukan, Dua."
Pete menelan ludah dan memandang ke atas ke arah kapal besar itu. Tambang setebal
10 cm menghubungkan sisi kapal dengan suatu gelang besi di dermaga. Pete meminta Jupe
menjaga tali itu agar tidak bergoyang-goyang, lalu meludah ke kedua telapak tangannya.
Bagaikan seorang pemain akrobat sirkus, remaja
atletis itu meraih tali dan mengaitkan kedua kakinya di
belakang. Tanpa suara Pete bergantung di tali raksasa
itu dan beringsut maju hingga mencapai sisi geladak
terbawah. Sambil bergantung dengan kedua tangannya
Pete memeriksa geladak, berjaga-jaga akan gerakan
yang mencurigakan. Merasa aman, ia mengayunkan
kakinya ke atas dan me manjat.
Matahari benar-benar menghilang ke bawah kaki
langit ketika Pete menurunkan jembatan kapal. Jupiter
dan Atticus bergegas menaiki kapal. Lampu-lampu jalan
di sepanjang dermaga mendengung dan satu per satu
menyala, memberikan cahaya yang cukup bagi para
pencari itu.
Ketika mereka telah memeriksa geladak, Att icus
menyuruh Pete mengambil senter di truknya. "Aku tidak
mau turun tanpa lampu," bisiknya gelisah. Setelah Pete
kembali dengan senter, mereka menuruni anak tangga
menuju ke lantai bawah. "Seandainya aku juga membawa pemukul bisbolku!" kata Atticus.
"Sepertinya ini adalah..."
"Sebuah perangkap?" suatu suara kasar memot ongnya. Mereka bertiga menudungi mata
dengan tangan ketika cahaya kuat sebuah sent er besar menerpa. "Aku punya pistol," kata
suara itu, "jadi jangan coba-coba lari. Angkat tangan dan teruslah turun. Jangan coba-coba!"
"Lakukan perintahnya, Anak-anak," kata Atticus.
Mereka berbaris dalam kegelapan lantai bawah. "Kami tidak ingin masalah, kami hanya
mencari seorang teman," kata Atticus.
"Diam!" bentak suara di belakang senter. "Masuk!"
Ketiganya didorong masuk ke dala m sebuah ruangan besar dengan langit-langit sangat
rendah. Beberapa jendela bundar terdapat di dinding. Lampu-lampu jalan di luar memberikan
cukup penerangan untuk saling melihat. Jupiter mengingat-ingat tur yang dipimpin Cutter
dan menduga bahwa mereka sekarang berada di dalam ruangan kapten.
"Jupe! Lihat!" seru Pete.
Di sudut ruangan duduklah Oscar Cutter -- pergelangan tangan dan kakinya terikat oleh
tali! Peneliti itu duduk dengan mata terbelalak dan penuh ketakutan. Mereka bertiga didorong
ke tempat Cutter dan diperintahkan untuk duduk.
"Aku-aku hendak menelepon dan mem-memperingatkanmu," penyelam itu tergagap,
"namun penjahat ini memukulku! Aku sungguh ketakuta n!"
"Diam!" suara itu membentak. "Kecuali kalau kau ingin dipukul lagi!"
Dengan cahaya lampu-lampu jalanan yang masuk Jupiter dapat melihat bahwa suara di
belakang senter itu adalah Connie Bly. Perompak itu mengambil beberapa utas tali. Ia
melemparkan tali-tali itu kepada Jupiter.
"Ikat teman-temanmu. Jangan ada simpul pura-pura, Gendut -- aku akan mengikatmu
terakhir dan memeriksa pekerjaanmu!"
Jupiter melakukan seperti yang disuruh dan kemudian membiarkan Bly mengikat tangan
dan kakinya.
"Apa yang akan kau lakukan terhadap kami?" tanya Atticus. "Apa pun itu," gertaknya,
"kau tidak akan dapat k abur. Polisi sedang menuju ke sini!"
Bly menatap Atticus dengan bengis, matanya yang sehat bersinar di dalam cahaya lampu.
"Kuberi tahu apa yang akan kulakukan, Pak Tua. Aku akan menyuruh kalian berjalan di atas
papan, seperti yang telah kulakukan dengan detektif kecil tadi! Sekarang diam. Ingat, aku
punya pistol," ancamnya, kemudian keluar.
Ketika perompak itu telah lenyap, Pete menoleh ke arah Jupiter. "Kau dengar yang
dikatakannya tentang Bob?" tanyanya.
"Aku yakin ia hanya menggertak," jawab Jupiter, berusaha terde ngar percaya diri
sementara ia mempelajari simpul yang mengikat pergelangan tangannya.
"Jupiter benar," Atticus setuju, "ia hanyalah pencuri kelas teri, bukan seorang
pembunuh."
"Aku tidak terlalu yakin," erang Oscar Cutter. "Lebih baik kita ikuti kemauannya, sehingga
kita tidak perlu tahu!"
Bahkan dengan tangan terikat Jupe masih dapat mencubiti bibir bawahnya dengan penuh
konsentrasi. "Aku sedang berpikir..." Ia berhenti dengan tiba-tiba, raut wajahnya yang bulat
berubah aneh, nampak puas. Di luar terdengar bunyi pintu mobil ditutup.
"Berpikir apa, Pertama?" Pete berteriak. "Tolong katakan bahwa kau punya rencana!"
Namun Jupiter tetap diam sementara suara langkah-langkah kaki terdengar mendekati
ruangan kapten. Connie Bly masuk ke kabin dan menyeringai buas, matanya yang sehat
berbinar-binar. Ia mendapati Jupiter dan menarik kemeja anak itu dengan kasa r.
"Baiklah, Gendut, bagaimana jika kau dan aku berjalan-jalan -- di atas papan pendek
yang menuju ke laut!" Ia tertawa terbahak-bahak dan mulai menyeret Jupiter di sepanjang
lantai.
Sekonyong-konyong semua lampu menyala, selama beberapa saat membutakan semua
orang di dalam ruangan.
"Jangan ada yang bergerak!" suatu suara tegas berseru dari ambang pintu.
Jupiter berlutut dan tersentak. Ia berpaling dengan cepat ke arah Pet e dan Atticus, yang
juga menatap ke arah pintu dan ternganga.
Pria Berpakaian Hitam! Dan ia menggenggam sepucuk pistol!
BAB XVI
KEDOK PRIA BERPAKAIAN HITAM TERUNGKAP

"Jangan bergerak!" ancam Pria Berpakaian Hitam. "Pistolku asli, Bly, tidak seperti milikmu
-- jadi dengar baik-baik!"
Penjahat berkostum Si Janggut Hitam itu menjatuhkan pistolnya dan perlahan
mengangkat tangan. "Siapa kau?" perompak itu menukas, "dan bagaimana kau tahu
namaku?"
Dengan lampu-lampu menyala Jupe kini dapat melihat bahwa pistol Connie Bly adalah
sebuah blunderbuss -- sangat mungkin berasal dari museum Perompak Baru. Kemudian ia
memandang Pria Berpakaian Hitam. Pria misterius itu memiliki rahang yang kokoh serta
mata yang dingin dan tajam. Sebuah bekas luka yang seram menghiasi pipi kanannya.
Di kejauhan mereka mendengar raungan sirene polisi yang mendekat.
Bly menatap Oscar Cutter dan Pria Berpakaian Hitam dengan putus asa. "Mari kita
membuat perjanjian," katanya cepat-cepat. "Bukan aku yang kau inginkan," serunya,
menunjuk ke arah Cutter. "Dialah yang kau kejar! Semua ini idenya!"
"Apa?" teriak Cutter, wajahnya penuh kemarahan. "Aku? Orang ini mengigau! Seumur
hidupku aku belum pernah bertemu dengannya!"
Jupiter mengi kuti percakapan itu dengan penuh minat, kemudian mengangguk ke arah
Pria Berpakaian Hitam. "Aku tahu siapa dia," Penyelidik Pertama berkata riang.
Paman Atticus dan Pete menatap Jupit er, terbengong-bengong.
"Kau tahu?" mereka berseru serempak.
Jupiter mengangguk dengan puas dan berpaling ke arah lelaki bertopi hitam itu. "Jika aku
tidak salah, dia adalah seorang detektif."
Pria Berpakaian Hitam berdiri diam. Pete menatapnya, kemudian Jupiter, kemudian
kembali Pria Berpakaian Hitam. Ia tahu dugaan Jupe biasanya tepat -- namun seringkali Pete
tidak dapat mengikuti jalan pikiran rekannya itu.
"Dan bagaimana kau tahu itu, Pertama?"
Masih dalam keadaan terikat, Jupiter berhasil duduk di samping Pete. "Karena polisi ada
di luar dan ia tidak berusaha lari. Berarti dia bukan penjahat. Dia punya pistol namun tidak
berusaha menangkap Bly. Berarti dia bukan polisi. Karena banyak detektif yang memiliki izin
membawa senjata api, kuduga ia adalah detektif swasta."
Pria Berpakaian Hitam menggangguk. "Anak pintar," katanya. "Ia benar, aku seorang
detektif swasta. Namaku Seth Cooley dan aku..."
Cooley menurunkan kewaspadaannya sesaat dan Bly beraksi. Sambil menggeram ia
berlari melewati detektif itu, membuatnya terhuyung. Pistolnya meletus ke langit-langit. Bly
berlari menaiki tangga menuju ke geladak. Mereka mendengar teriakan terkejut dari atas,
diikuti oleh suara ceburan.
Cooley bangkit perla han-lahan dan mengibaskan debu di pakaiannya.
"Ia takkan lari jauh-jauh," tukasnya, nampak agak malu karena lengah. "Tempat ini telah
dipenuhi polisi!" Detektif swasta itu menggeleng kesal dan mulai melepaskan ikatan Jupiter.
"Sudah berapa lama Anda membuntuti Mr. Bly?" Pete bertanya kepada detektif swasta
itu. Ia mengangguk ke arah Oscar Cutter. "Kapten Cutter menyangka Anda tukang pukul dari
Perompak Baru!"
"Yang diselidikinya bukanlah Connie Bly," ujar Jupe tiba-tiba.
Sesaat suasana sunyi senyap di dalam ruangan kapten sementara semua orang,
termasuk Seth Cooley, menatap Jupiter dengan kaget.
"Bukan?" Paman Atticus berkedip kebingungan. "Lalu siapa, Nak?"
Jupiter mengangguk ke arah detektif itu. "Mungkin tidak etis bagi Mr. Cooley untuk
menyebutkan nama kliennya namun saya menduga ia disewa oleh universitas. Begini, Kapten
Cutter adalah penjahat yang sebenarnya. Saya yakin jika Anda menggeledah kapal ini atau
mungkin apartemennya di Lyndale Lane, Anda akan menemukan Cakar Perunggu -- dan juga
Bob!"
Wajah Cutter nampak penuh kemarahan. "Aku tidak percaya telingaku!" ia meledak. "Aku
duduk di sini, terikat, tawanan, dan dituduh juga?" Penyelam itu menatap Jupiter dengan
marah. "Anak muda, seha rusnya kau berpikir dua kali sebelum melemparkan tuduhanmu itu!
Aku sudah lama bersahabat dengan pamanmu -- kini kuminta kau melepaskan ikatanku
dan..."
"Anak ini benar," Cooley memotongnya, nadanya datar saja. "Aku tidak tahu bagaimana
ia bisa tahu namun ia benar." Cooley memasukkan pistolnya ke sarung yang tersembunyi di
balik jaketnya, lalu melepaskan ikatan Pete dan Atticus. Ketika semuanya telah bebas,
mereka menatap Oscar Cutter.
Cutter memandang paman Jupe. "Atticus, jangan percaya! Konyol sekali! Cepat, lepaskan
tali ini sehingga kita dapat menangkap Bly!"
Tepat pada saat itu Paman Titus dan Bibi Mathilda menyerbu masuk ke dalam kabin,
diikuti oleh beberapa pet ugas polisi. Mereka menatap Oscar Cutter yang terikat, lalu Jupiter.
"Tolong! Polisi!" Cutter berteriak. "Orang-orang gila ini... Lepaskan ikatanku cepat!
Namun hati-hati terhadap mereka -- mereka gila!"
Polisi yang menjadi pemimpin memandang Seth Cooley dengan ragu-ragu. "Saya Kapten
Blake. Andakah yang memanggil kami?" Polisi itu menatap pemanda ngan di depannya sekilas
dan kemudian menanggalkan topinya untuk menggaruk kepala. "Anda mau menjelaskan apa
yang terjadi di sini?"
"Mengapa Kapten Cutter terikat, Jupiter Jones?" Bibi Mathilda menuntut jawaban.
"Kalian menemukan Bob?" Paman Titus bertanya sebelum Jupiter dapat membuka mulut
untuk menjawab pertanyaan yang pertama.
Jupiter berpaling ke arah Cutter. "Maukah Anda memberi tahu kami di mana kami dapat
menemukan rekan kami dan Cakar Perunggu? Atau kami terpaksa menggeledah kapal ini?"
Keringat membasahi hidung Cutter. "Geledah kapal ini!" ia mengangkat bahu. "Geledah
apartemenku. Aku tidak menyembunyikan apa-apa. Aku tidak mengerti apa yang kau
bicarakan! Aku diikat oleh Connie Bly sepertimu. Nantinya akan terbukti bahwa tidak ada
orang lain di kapal ini dan aku tidak bersalah. Silakan, geledahlah!"
Kapten Blake menyerukan aba-aba kepada anak buahnya. "Periksa kapal ini dari atas
hingga bawah." Setelah ketiga petugas polisi itu pergi, ia menoleh kepada Seth Cooley.
"Sebaiknya Anda mulai menjelaskan apa yang sedang te rjadi di sini!"
Jupiter berdiri tegap dan tersenyum ke arah Oscar Cutter. "Saya berpikir tentang
perkataan Kapten Cutter tadi. Ia mengak u telah diikat oleh Connie Bly." Jupiter
menggelengkan kepala dengan dramatis. "Sebenarnya, Kapten, tali di tangan dan kaki
Andalah yang membuktikan sebaliknya! "
Semua orang di kabin kapten menatap ikatan Cutter.
"Apa maksudmu, Pertama?" tanya Pete. "Ia sudah terikat ketika kita tiba di sini."
"Tepat sekali," kata Jupiter. "Dan jika kau ingat, Bly menyuruhku mengikatmu dan Pama n
Atticus, kemudian ia mengikat ku. Saat itulah aku memperhatikan simpulnya."
"Simpulnya?" Bibi Mathilda mengulangi. "Hentikan dramatisasimu, Jupiter Jones, dan
katakan apa yang kau lihat!"
Jupiter tidak mengacuhkan interupsi itu. "Jika Bly memang mengikat Mr. Cutter, maka
simpul di talinya tentulah akan sama dengan yang ada di taliku. Namun tidaklah demikian!
Bly mengikatku dengan simpul biasa, simpul sehari-sehari yang bisa dibuat semua orang.
Namun ketika mengamati ikatan Mr. Cutter, aku meliha t bahwa tangannya diikat sepertiku
namun kakinya diikat dengan simpul jangkar. Simpul jangkar, sebagaimana Paman Atticus
dapat memastikan, adalah simpul yang sering digunakan oleh pelaut dan penyelam. Aku
mulai bertanya-tanya, mengapa Bly harus mengikat tangan dan kakinya berbeda?
Jawabannya adalah... bukan dia yang mengikatnya! Cutter mengi kat kakinya sendiri,
mungkin sekali ketika ia melihat Pete dan aku datang bersama Paman Atticus. Kemudian ia
menyuruh Bly mengikat tangannya sehingga kita berpikir bahwa Bly telah menyergap dan
menawannya di sini!"
"Tapi mengapa, Jupiter?" desak Atticus. "Mengapa segala permainan ini? Sejujurnya, aku
masih merasa hal ini sulit dipercaya!"
Oscar Cutter mengangguk-angguk dengan penuh semangat. "Anda lihat, Kapten? Tidak
masuk akal. Bly yang harus Anda tangkap! Andalah pemimpin di sini -- lepaskan saya!"
Selama percakapan itu Seth Cooley berdiri diam di dekat pintu. Jupiter memandangnya.
"Anda membingungkan kami ketika rekan-rekan saya memergoki Anda di kapal Paman
Atticus. Kami beranggapan bahwa Andalah si pencuri. Saya rasa saya bisa menduga apa
yang sedang Anda lakukan." Jupiter menarik nafas panjang sebelum melanjutkan.
"Dalam penyelidikan atas Kapten Cutter, Anda membuntutinya atau Bly ke rumah paman
saya. Di sana mereka masuk ke rumah atau Pembalasan Ratu Anne atau keduanya. Rumah
kosong dan Anda tidak menyangka akan ada yang pulang segera. Namun kedatangan Pete
dan Bob mengejutkan Anda. Bukannya menjelaskan bahwa Anda adalah seorang detektif,
Anda berusaha bersembunyi di kapal hingga teman-teman saya meninggalkan dermaga. Tapi
Anda menjat uhkan sesuat u dan terpergok."
Seth Cooley mengangguk, kagum akan Jupe. "Tepat itulah yang terjadi. Aku mengikuti
Bly ke rumah pamanmu. Cutter menyuruh Bly mengerjakan segala pekerjaan kotornya."
Semuanya menatap Oscar Cutter. Peneliti itu nampak keras kepala. "Aku tidak akan
berkata apa-apa hingga bertemu dengan pengacaraku -- dan setelah itu kalian semua akan
mendapat masalah!"
"Aku tidak mengerti," kata Pete. "Mengapa Cutter bekerja sama dengan salah seorang
Perompak Baru? Bukankah mereka bermusuhan?"
"Kurasa aku bisa menjawab itu juga," Jupiter berkata penuh kemenangan. "Ingat semua
terbitan mengenai pacuan di apartemen Lyndale Lane? Kuduga Kapten Cutter adalah seorang
penjudi. Ia suka berjudi atas pacuan kuda dan anjing. Bahkan ia begitu sukanya hingga
kehilangan semua uangnya. Namun ia tidak berhenti di sana, melainkan mempertaruhkan
semua dana riset yang telah diberikan oleh universitas di Portland!"
Seth Cooley mengangguk setuju. "Dan itu belum cukup juga," tambah detektif itu.
"Berdasarkan yang kulihat, Cutter sepertinya menderita ketergantungan sehingga ia tidak
dapat berhenti berjudi, bahkan setelah ia tidak punya uang lagi untuk dipertaruhkan. Satu-
satunya kesimpulan yang logis adalah meminjam dari seorang lintah darat atau bandarnya
sebagai usaha terakhir untuk memenangkan kemba li semua uang yang telah hilang."
Oscar Cutter duduk di sudut ruangan dengan wajah memelas. "Apa itu bandar?" tanya
Pete.
"Bandar," Cooley menjelaskan, "adalah seseorang yang menentukan pasar taruhan dalam
suatu pacuan dan kemudian menerima serta membayarkan uang taruhan untuk pacuan itu."
Detektif itu memandang Jupiter. "Memang itu yang kutemukan, Nak. Ketika Cutter tidak
dapat mengembalikan uang itu, bandarnya mengirim seorang tukang pukul seperti Connie
Bly untuk memaksanya mendapatkan uang."
Jupiter mengangguk. "Jadi Cutter membuat suatu rencana. Ia akan menggunakan dana
berikut dari universitas untuk membayar sang bandar. Namun ada beberapa penghalang.
Pertama, universitas takkan mendanai penelitiannya tanpa bukti nyata bahwa memang ada
cukup banyak harta di bawah sana. Dan kedua, ia terpaksa berhenti menyelam ketika
pameran Seruling Belanda tiba. Tanpa penyelaman tidak akan ada dana. Ketika Seruling
Belanda pergi lagi, Cutter dapat meneruskan penyelaman dan menerima dana lagi. Nantinya
setelah dana itu cair, ia akan memberikannya kepada Bly, kemudian meninggalkan kota
dengan membawa Cakar Perunggu!"
"Aku mengerti sekarang!" seru Pete. "Sepertinya nasib Kapten Cutter sebagai peneliti
tidak lebih baik daripada nasibnya sebagai seorang penjudi! Universitas mungkin mengancam
akan menghentikan penelitian kecuali jika ia dapat menunjukkan benda-benda yang memang
berharga. Maka ia menyuruh Bly masuk ke rumah pamanmu untuk mencuri peluru meriam
dan pistol -- dan kemudian meletakkan barang-barang itu di tempat penelitiannya dan
berpura-pura menemukannya di sana! "
"Satu hal aku tidak mengerti," kata Cooley, "mengapa Bly bergabung dengan Perompak
Baru dari Barat? Itu tidak sesuai dengan sifatnya sebagai seorang tukang pukul."
"Saya pun ingin tahu," kata Jupiter mengakui. "Dugaan saya adalah bahwa Cutter
mungkin merasa tidak enak mencuri dari paman saya. Maka ketika mendengar sebuah
museum akan segera dibuka di bekas pos pemadam kebakaran, ia merasa menemukan jalan
keluar. Saya berani bertaruh ia menyuruh Bly bergabung dengan Perompak Baru untuk
mencuri beberapa benda dan kemudian meletakkannya di tempat penelitian dengan alasan
semakin cepat ia menemukan sesuatu, semakin cepat pula Bly akan mendapat uangnya.
Yang tidak diketahui Cutter adalah bahwa semua benda di museum Perompak Baru palsu!
Replika da ri benda-benda aslinya!"
Jupiter menghela nafas panjang dan mulai berjalan mondar-mandir. "Bly tidak tahu
perbedaan pistol tua dan baru. Gagang kayu blunderbuss asli pastilah sudah lapuk bertahun-
tahun yang lalu dan bagian logamnya tentu akan menghijau dan tertutup organisme laut.
Ketika Cutter menemukan pistol dan pisau yang masih mengkilat dan baru, ia menyadari
kesalahannya!"
"Mungkin itu sebabnya ia terpaksa menyembunyikan Data," Pete berseru. "Bob pa sti telah
melihat sesuatu ketika mengintai tadi. Aku berani bertaruh Cutter menyembunyikan Bob di
suatu ruangan lain karena ia tahu yang sebenarnya!"
Bibi Mathilda membungkuk dan memungut pistol tua yang telah dijatuhkan Bly. Ia
menatap gagangnya dan membaca keras, "Milik Perompak Baru dari Barat." Ia memandang
Oscar Cutter dengan tajam dan menggoyang-goyangkan jari di depan penyelam itu. "Kau
harus malu akan dirimu sendiri!"
BAB XVII
TAPI DI MANAKAH BOB?

"Itukah sebabnya Cutter harus mencuri dari Atticus lagi?" tebak Paman Titus.
Jupiter terlihat penuh kemenangan. Ia gemar menerangkan sesuatu sejelas-jelasnya.
"Benar. Namun nasib buruk Oscar Cutter terus berlanjut. Ketika ia menyuruh Bly kembali ke
rumah Paman Atticus untuk mencuri lagi, Bly tanpa sengaja mengambil Cakar Perunggu --
tidak tahu bahwa benda itu adalah penemuan abad ini! Cutter pun tidak mengenalinya.
Karena itulah ia nampak terkejut ketika pagi itu Paman Atticus menjelaskan nilai benda itu
yang sebenarnya!"
"Jadi itulah sebabnya Cakar Perunggu dikembalikan!" seru Pete.
Jupiter mengangguk setuju dan mencubiti bibirnya selama beberapa saat. "Kapten Cutter
tahu ia tidak akan dapat menyamarkan Cakar Perunggu sebagai salah satu temuannya --
beritanya pasti akan sampai ke telinga Paman Atticus. Dan ia tahu ia tidak dapat menjualnya
dengan cepat. Cakar itu tidak ada gunanya. Tidak, Cutter butuh peninggalan bajak laut yang
tidak terlalu menarik perhatian, seperti peluru meriam atau pistol antik. Maka ia menyuruh
Bly mengembalikan Cakar Perunggu dan mencuri sesuatu yang lain.
"Pada saat itulah aku mulai mencurigai Cutter. Aku bertanya-tanya, siapa yang akan
mendapat untung dengan mencuri cakar itu, hanya untuk mengembalikannya kemudian. Aku
menduga bahwa begitu Cutter memutuskan untuk membayar hutang judinya dengan dana
dari universitas, bagaimanapun juga ia harus pergi dan lagipula ia menginginkan Cakar
Perunggu -- mungkin untuk dijual di pasar gelap atau kepada seorang kolektor untuk
mengongkosi pelariannya. Itu sebabnya ia mencurinya dari rumah Paman Atticus untuk
kedua kalinya."
"Ada yang terus menggangguku, Pertama," kata Pete. "Aku ingin tahu, apa hubungan
Gaspar St. Vincent dengan semua ini? Dan siapakah orang bernama H. KANE di Lyndale Lane
itu?"
"Kurasa Gaspar hanyalah seorang Perompak Baru yang penuh dedikasi -- dan terkadang
radikal. Kemungkinan besar ia mengetahui bahwa Bly telah mencuri dari museum dan ingin
memaksanya mengaku. Karena Bly selama ini tinggal bersama Cutter di apartemennya untuk
menjaga agar ia tidak kabur tanpa membayar hutangnya, Bly mungkin menuliskan apartemen
Lyndale Lane sebagai alamatnya ketika mendaftar ke Perompak Baru. Gaspar
pergi ke apartemen itu untuk mencari Bly. Ketika melihat Gaspar mencoba menggunakan
interkom dengan kesal, Mr. Cooley mendat anginya untuk menanyakan beberapa hal dengan
dugaan bahwa ia adalah teman Cutter atau Bly."
"Benar lagi," detektif itu mengiyakan. "Aku telah mengintai apartemen itu beberapa lama
dan aku tahu bahwa Bly tinggal bersama Cutter untuk menjaga agar ia tidak lari. Tulisan di
interkom itu, H. KANE, hanyalah nama orang yang tinggal di sana sebelumnya. Tulisan itu
tidak diganti ketika universitas menyewa apartemen itu untuk tempat tinggal Cutter selama
penelitian."
Seorang polisi memasuki ruangan dan berbicara dengan suara pelan kepada Kapten
Blake. Blake berpaling dan memandang Oscar Cutter. "Sepertinya keadaan tidak terlalu baik
bagimu, Kawan," katanya suram. "Di luar ada sebuah mobil putih kecil dengan cakar yang
dibicarakan semua orang itu ada di bagasinya. Dan ada pula beberapa tanda tanya yang
dibuat dengan kapur hijau."
"Itu Bob!" seru Jupiter. "Terbukti ia dibawa dalam mobil Cutter!"
Pete nampak bingung. "Tapi itu mobil Bly," katanya. "Bob dan aku melihatnya naik mobil
putih kecil di pos pemadam kebakaran pa da hari pertama kit a di sini."
Jupiter menatap rekannya itu dengan tidak percaya dan memukulkan telapak tangan ke
kening. "Apa? Mengapa kau tidak bilang dari dulu, Dua? Bly dan Cutter selama ini
menggunakan mobil yang sama?"
Pete membela diri. "Kami tidak tahu bahwa jenis mobil yang dikendarainya itu penting.
Lagipula kau tidak bertanya!"
Jupiter mengalah dengan segan. "Kurasa kau benar. Seorang penyelidik yang baik
seharusnya tahu bagian paling sepele biasanya adalah yang paling penting."
Bibi Mathilda masih menatap Oscar Cutter dengan marah. "Yang penting sekarang adalah
kita menemukan Bob," katanya tegas. "Kalau Jupiter benar, dia tentu ada di kapal ini atau di
apartemen itu."
Atticus sependapat. "Mari kita periksa kapal ini lagi." Ia berpaling kepada Kapten Blake
dan menunjuk ke arah Cutter. "Mungkin Anda dapat meminta salah satu anak buah Anda
untuk memeriksa apartemen orang ini."
"Tidak tanpa surat perintah pengadilan," Kapten Blake berkata dengan serius. "Dan itu
akan makan waktu." Ia menoleh ke arah Cutter. "Kecuali, tentu saja, jika Anda
mengizinkan."
Oscar Cutter memandang Blake dengan memelas. "B-B-Bly mencuri mobilku... ia... ia
meletakkan cakar itu di sana. Anda harus percaya kepadaku! Geledah kapal ini, geledah
apartemenku. Jika anak itu tidak ada, Anda akan tahu bahwa aku tidak bersalah!"
Kapten Blake memerintahkan salah satu anak buahnya untuk memeriksa apartemen
Cutter di Lyndale Lane dan melaporkan hasilnya melalui radio. "Baiklah," ia berseru untuk
menarik perhatian semua orang, "mari berpencar dan memeriksa kapal ini sekali lagi dari
atas sampai bawah. Saya mau setiap jengkal diperiksa!"
Sejam kemudian seluruh bagian kapal telah disisir tanpa ada tanda-t anda Bob. Para
pencari sedang duduk dengan muram di ruangan kapten ketika seorang petugas masuk.
"Anda menemukannya?" tanya Bibi Mathilda, melompat bangkit dari tempat duduknya.
"Adakah Bob di apartemen itu?"
Kapten Blake menggelengkan kepala. "Aku khawatir tidak ada tanda-tanda teman kalian
itu, Anak-anak. Aku benci mengatakan ini namun jika kita tidak dapat menemukannya, kita
harus membiarkan Kapten Cutter pergi." Polisi itu mulai membuka ikatan Cutter. "Tidak
cukup bukti untuk menahannya. Connie Bly memiliki catatan kriminal sepanjang lenganku --
nampaknya dia ada di balik semua ini."
Oscar Cutter nampak lega. "Tunggu saja sampai aku bertemu dengan pengacaraku!"
penyelam tampan itu menggeram. Ia menatap Atticus dengan marah. "Teman!" cibirnya.
"Menikam punggung sahabat sendiri. Sudah kukatakan aku tidak ada sangkut-pautnya
dengan semua ini! Sekarang permisi, aku harus memeriksa kerusakan yang ditimbulkan si
berandal Cooley itu ketika membahayakan kita semua dengan pistolnya."
Bibi Mathilda nampak cemas dan Paman Titus berusaha menenangkannya sementara
mereka naik ke geladak. Suhu udara telah turun tajam dan gigi-gigi anak-anak
bergemeletuk. Kabut menebal dan menipis, seolah-olah hidup dan merambati kaki mereka.
Pete memandang Jupiter tanpa daya. "Di mana ia mungkin berada, Pertama?"
Jupiter mengerutkan kening dan berusaha agar tidak menggigil. Ia yakin ada sesuatu
yang terlewatkan olehnya. Suatu petunjuk penting yang tidak disadarinya -- seandainya ia
dapat mengingat! Pete nyaris dapat mendengar roda gigi berputar di dalam kepala temannya
sementara Jupiter berpikir keras.
Atticus merangkul keponakannya. "Mungkin Robert sekarang sudah di rumah, Jupiter. Ya,
aku bertaruh di sanalah ia berada. Mungkin saja ia lelah menunggu kita dan dengan cepat
terlelap di atas Pembalasan Ratu Anne. Aku berani bertaruh..."
"Itu dia!" teriak Jupiter.
Mereka sudah setengah jalan menuruni jembatan penghubung. Semuanya berhenti dan
menatap Jupiter.
"Apa itu?" desak Atticus.
Wajah Jupiter yang bulat memancarkan kemenangan. Ia tersenyum kepada pamannya.
"Paman baru saja memberikan petunjuk paling penting dalam misteri ini!"
Seth Cooley dan yang lainnya menatap Jupiter dengan penuh harap. "Ada yang
terpikirkan, Nak?"
"Kau tahu di mana dia!" seru Pete.
"Mungkin," kata Jupe. "Aku punya sebuah teori..."
"Demi petir, Anakku!" suara Bibi Mathilda melengking tinggi, "kau dan dramatisasimu itu
sungguh keterlaluan! Cepat katakan!"
Raut muka Oscar Cutter seolah-olah kehilangan rona. Ia mengayun-ayunkan tangannya
dengan panik dan mencegah mereka naik kembali. "Polisi... Ini benar-benar keterlaluan!
Kapal ini harus berlayar besok pagi -- saya sudah punya banyak pekerjaan tanpa berandal-
berandal ini bermain petak umpet. Saya rasa saya harus memaksa semuanya pergi." Ia
menoleh dan membentak Jupiter. "Anak muda, semuanya sudah bosan akan permainanmu.
Kau telah membuktikan dirimu lebih cerdas dari anak-anak seusiamu namun cukup sudah!"
"Anda hanya mengulur-ulur waktu!" tukas Pete marah. "Jika Bob ikut berlayar bersama
kapal ini, Anda akan bebas mengambil dana itu!"
Penyelam itu mendatangi Pete dengan penuh ancaman dan nampak siap memukul. Titus
dan Atticus Jones mengambil tempat di samping Pete.
"Biarkan kami memeriksa kapal ini sekali lagi," desak Atticus. "Jika kami tidak
menemukan Bob, kami akan pergi tanpa ribut-ribut dan tidak akan ada masalah."
Cooley dan Kapten Blake kembali menaiki jembatan dan berdiri di samping Jupiter.
"Baiklah, Nak," kata Blake, "menurutmu di manakah temanmu itu?"
Jupiter tersenyum. "Ketika Paman Atticus menyinggung nama Pembalasan Ratu Anne,
saya jadi berpikir tentang William Teach, yang juga dikenal sebagai Si Janggut Hitam! Ingat,
Janggut Hitam adalah perompak jahat yang menjarah dan menyelundupkan berbagai macam
harta. Saya perkirakan jika Seruling Belanda ini benar-benar seotentik yang dikatakan
Kapten Cutter, maka tentulah ada semacam ruang tersembunyi yang terlewatkan oleh kita!"
Cooley memandang Jupiter dengan kagum. "Tentu saja! Aku seharusnya juga berpikir ke
sana!"
Kapten Blake kembali mengumpulkan anak buahnya di geladak. "Kita akan menggeledah
kapal ini lagi -- carilah sesuatu yang mungkin saja merupakan ruangan rahasia!"
Oscar Cutter menggeram dan memaki-maki. Kapten Blake menatapnya tajam dan
memerintahkan salah seorang anak buahnya menjaga penyelam itu. "Saya tidak mau Anda
pergi ke mana -mana. Banyak yang harus Anda jelaskan nanti setelah anak itu ditemukan!"
Mereka turun ke lantai bawah dan berpencar. Setelah lima belas menit Pete berteriak
penuh kemenangan. Matanya yang tajam telah melihat sesuatu di lorong yang sempit, yang
tidak akan dilihatnya seandainya ia tidak tahu apa yang dicarinya.
"Lihat !" ia menunjuk ke arah lantai. "Aku pasti telah berjalan melewati koridor ini berkali-
kali tanpa menyadarinya!"
Para pencari dengan penuh semangat berkerumun di lorong yang kini penuh sesak itu
dan menatap lantai.
"Apakah itu, Pete?" seru Jupiter. Remaja gempal itu memeriksa lantai tempat Pete
berlutut. Mendadak wajahnya nampak berseri. "Tentu saja! Papan lantai ini tidak cocok!
Lihatlah, papan kayu di bagian ini telah diganti -- warnanya sedikit lebih gelap! Aku tidak
menyadarinya sebelum ini!"
Pete dan Jupiter bergegas mengeluarkan pisau lipat mereka yang berharga dan
menyelipkan mata pisau ke sela-sela papan yang rapat. Mereka menekan dan sebagian dari
papan itu tiba-tiba bergerak beberapa senti. Jupiter meraba-raba dengan jemarinya ke dalam
celah itu. Dalam satu gerakan cepat papan lantai sepanjang satu setengah meter itu terbuka
sambil berderit dan di sana terbaring Bob Andrews dengan pita perekat di mulutnya.
Anak bertubuh kecil itu duduk dan bergegas melepas perekat itu.
"Sudah saatnya!" teriaknya. "Kusangka kalian
tidak akan pernah menemukan aku! Perekat ini
kukembalikan ke mulutku untuk menipu Bly saat ia
datang untuk membawaku. Aku tidak tahu bahwa ia
akan memasukkan aku ke dalam suatu ruangan yang
begitu sempit sehingga aku tidak dapat menggerakkan
tangan ke wajah untuk melepaskannya! "
Jupiter dan Pete membantu rekan mereka
keluar dari ruang rahasia itu.
"Kalian menangkap Cutter?" tanya Bob. "Ia
bekerja sama dengan Bly dan mereka berdua mencuri
dari rumah pamanmu dan markas Perompak Baru!
Merekalah yang memasukkan aku ke situ."
Remaja terkecil di antara Trio Detektif itu merogoh
saku depannya dan mengelua rkan robekan-
robekan kertas. "Kutemukan ini di belakang mobil Bly!"
katanya, menyerahkan kertas-kertas itu kepada
Jupiter.
Penyelidik Pertama memeriksa potongan-potongan kertas itu.
"Ini potongan dari karcis untuk menonton pacuan. Dan surat peringatan atas pembayaran
kartu kredit yang terlambat. Sepertinya teoriku tentang Oscar Cutter terbukti benar!"
"Bly memberi tahu Kapten Cutter bahwa aku tahu dia terlibat," lanjut Bob. "Cutter
menyadari bahwa ia harus mengamankanku hingga semuanya pergi!"
Jupiter menyeringai ke arah rekannya itu sementara mereka naik ke geladak dan ke
dalam kabut. "Kami tahu tentang itu, Data. Pria Berpakai an Hitam -- maksudku Seth Cooley -
- juga tahu."
Mendengar namanya disebut, Cooley menghampiri dan memperkenalkan diri kepada Bob.
"Aku gembira kau tidak apa-apa, Nak. Kalian bertiga sungguh merupakan trio yang hebat.
Jika suatu saat nanti salah satu penyelidikanku menemui jalan buntu, aku tentu akan
menghubungi Trio Detekti f!"
Jupiter, begitu bangga mendengarnya, bertukar kartu nama dengan Cooley.
Atticus Jones sungguh berbangga hati dan menjabat tangan anak-anak. "Pekerjaan yang
luar biasa, Teman-teman! Benar-benar luar biasa!" serunya. "Titus, Mathilda... Jupiter
sungguh mengharumkan nama Keluarga Jones, bukankah demikian?"
Titus tersenyum lebar dan merangkul keponakannya. Mathilda menggeleng-geleng, lalu
tertawa senang. "Aku tetap berpendapat ia seharusnya mengurusi urusannya sendiri. Namun
kurasa ia memang punya bakat dalam memecahkan teka-teki."
Perut Jupiter berbunyi seolah-olah menyatakan setuju. "Sekarang marilah kita desak
Oscar Cutter agar mengaku sehingga kita bisa pulang dan akhirnya menikmati makan malam
lobster itu!" ia tertawa.
BAB XVIII
JOHN CROWE BERBICARA

Ada beberapa hal menyangkut Misteri Cakar Perunggu yang mungkin membuat kalian
bertanya-tanya, maka aku akan be rusaha membuat pikiran kalian tenang.
Oscar Cutter akhirnya mengakui segala rencana buruknya. Tepat seperti yang
disimpulkan oleh Jupiter, penyelam bernasib malang itu memiliki hutang bertumpuk setelah
kehilangan uangnya hingga ke sen terakhir di meja judi. Seandainya saja ia berhasil
menyembunyikan Bob selama beberapa jam lagi, ia akan dapat melarikan diri dengan
leluasa! Untunglah intuisi Jupiter menyelamatkan sahabatnya dan menyelesaikan misteri itu
dengan baik.
Connie Bly menolak mengatakan apa-apa, kecuali bahwa Cutter ada di balik semua itu.
Karena bukti-bukti yang memberatkan Bly lebih sedikit dibandingkan Cutter, ia menerima
hukuman yang lebih ringan, dan kini sedang menjalani dua tahun di penjara Oregon atas
penculikan dan penyerangan.
Chief Reynolds menelepon kembali beberapa hari kemudian dengan informasi tentang
nomor polisi DLH 555. Tentu saja nomor itu terdaftar atas nama si detektif, Seth Cooley.
Jupiter memberi tahu kepala polisi itu bahwa mereka telah menyelesaikan kasus itu namun
menambahkan bahwa ia takkan ragu-ragu menelepon lagi jika mereka membutuhkan
informasi lain. Kepala polisi itu memutuskan hubungan.
Atticus Jones memanfaatkan tenaga tambahan di rumahnya dan mengkaryakan mereka
untuk memindahkan segala barang bekas dan hartanya ke toko antik kelautan barunya di
kawasan kota Anchor Bay. Tanggal pembukaannya dimajukan sehingga Trio Detektif dapat
secara resmi menggunting pita sebelum kembali ke Rocky Beach. Foto mereka bahkan
terpampang di surat kabar setempat, lengkap dengan kisah singkat mengenai bantuan
mereka dalam memecahkan kasus itu. Tidak perlu dikatakan, sistem pengamanan paling
canggih dipasang di toko itu untuk berjaga-jaga terhadap kemungkinan pencurian.
Dengan gembira kukatakan bahwa anak-anak akhirnya berhasil menikmati lobster
sebanyak yang mereka mampu dan Pete sempat menyelam beberapa kali bersama Atticus.
Meskipun tidak ada harta karun yang ditemukan, Pete menemukan be berapa peluru meriam
dan pistol timah, yang baginya sudah merupakan harta tersendiri.
Mengenai Cakar Perunggu sendiri, hal itu tetap merupakan sebuah misteri hingga
sekarang. Atticus Jones tidak dapat menemukan bukti lebih lanjut yang mendukung teorinya
bahwa benda itu berasal dari tiang haluan kapal Si Janggut Hitam meskipun universitas di
Portland menyatakan sangat berminat dan hendak membelinya dengan harga tinggi dari
Jones. Sepertinya hilangnya harta karun rampasan Si Janggut Merah akan tetap merupakan
salah satu teka-teki terbesar dalam sejarah.
Seperti yang sebelumnya kukatakan, sahabatku Hector Sebastian mengizinkanku
menuliskan kata pengantar untuk petualangan Trio Detektif yang menarik ini dan aku hanya
dapat berharap agar dalam waktu tidak terlalu lama aku akan mendapat kehormatan untuk
melakukannya lagi. Aku harus mengakui bahwa sikapku jauh lebih lunak terhadap anak-anak
itu ketika membahas kasus dibandingkan Mr. Hitchcock ataupun Sebastian. Jupiter sangat
kesal akan dirinya sendiri ketika kutunjukkan sebuah petunjuk di awal misteri yang
terlewatkan olehnya! Ia akan sudah curiga terhadap Oscar Cutter dari awal seandainya saja
ia lebih menaruh perhatian pada mobil kecil putihnya.
Ingat, hanya truk tua berwarna merah milik Atticus yang ada di jalan masuk ketika
mereka tiba pertama kalinya -- namun Cutter yang terengah-engah pergi dengan mobilnya
pagi itu. Bagaimana mungkin Cutter bisa kehabisan nafas mengejar pencuri jika selama ini ia
mengendarai mobilnya? Jawabannya: ia sama sekali tidak mengejar pencuri!
Baiklah, satu hal sudah jelas: tidak diragukan lagi, Trio Detektif akan menemukan misteri
lain untuk diselesaikan dan ketika itu terjadi, kalian dapat bertaruh bahwa hasilnya akan
menakjubkan. Suatu taruhan yang dapat dimenangkan bahkan oleh Oscar Cutter sekalipun!
JOHN CROWE