Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Penelitian

Persaingan usaha di antara perusahaan-perusahaan yang ada semakin


ketat, kondisi demikian menuntut perusahaan untuk selalu mengembangkan
strategi perusahaan agar dapat bertahan atau bahkan berkembang lebih baik.
Untuk itu perusahaan perlu mengembangkan suatu strategi yang tepat agar
perusahaan bisa mempertahankan eksistensinya dan memperbaiki kinerjanya.
Change Management adalah strategi yang sedang marak dilakukan para pakar
bisnis, menurut Sir Winston Churchill (Perdana Menteri Inggris 1940-1945)
bahwa “untuk menjadi lebih baik, kita harus berubah. Dan untuk menjadi
sempurna, kita harus sering berubah”. Bagaimana perusahaan mengelola
perubahan ini sangat menentukan keberhasilan dalam memenangi persaingan
yang sangat ketat di iklim bisnis yang bergejolak ini.

Restrukturisasi adalah salah satu langkah yang banyak ditempuh


perusahaan saat ini dengan melakukan merger dan akuisisi. Alasan
perusahaan melakukan Merger dan Akuisisi adalah untuk memperoleh
sinergi, strategic opportunities, meningkatkan efektifitas (Foster, 1994)1.
Pada umumnya tujuan dilakukannya merger dan akuisisi adalah
mendapatkan sinergi atau nilai tambah. Nilai tambah yang dimaksud tersebut
lebih bersifat jangka panjang dibanding nilai tambah yang hanya bersifat
sementara saja. Sinergi yang terjadi sebagai akibat penggabungan usaha bisa
berupa turunnya biaya rata-rata per unit karena naiknya skala ekonomis,
maupun sinergi keuangan yang merupakan kenaikan modal.

1
Foster, George. 1994. Fianancial Statement Analysis 2nd Edition. Prentice Hall International :
New Jersey

1
Keputusan Merger dan Akuisisi selain membawa manfaat tidak terlepas
dari permasalahan (Abdul Moin, 2004)2, diantaranya biaya untuk
melaksanakan Merger dan Akuisisi sangat mahal, dan hasilnya pun belum
pasti sesuai dengan yang diharapkan. Disamping itu, pelaksanaan akuisisi
juga dapat memberikan pengaruh negatif terhadap posisi keuangan dari
acquiring company apabila strukturisasi dari akuisisi melibatkan cara
pembayaran dengan kas dan melalui pinjaman. Permasalahan yang lain
adalah kemungkinan adanya corporate culture, sehingga berpengaruh pada
sumber daya manusia yang akan dipekerjakan.

Adapun kegiatan merger dan akuisisi di Indonesia mulai mewarnai


industri pasar modal pada tahun 1990, dengan transaksi akuisisi pertama yang
dilakukan oleh PT. Jakarta International Hotel Development melalui
pembelian 100% saham PT Danayasa Arthatama. Kemudian disusul oleh
perusahan-perusahaan lain misalnya, PT. HM. Sampoerna Tbk yang
diakuisisi oleh Philip Morris pada tahun 2005 dengan mengantongi laba
bersih sebesar Rp. 3,001 triliun (2006) dibandingkan sebelum akuisisi Rp.
1,99 triliun (2004), (SWA, 03/XIII/1-14 Februari 2007). PT. Unilever
Indonesia yang menyatakan bahwa dengan langkah akuisisi telah
menyumbangkan sekitar 12% dari total penjualan perusahaan (warta
ekonomi, 15 Oktober 2003).

Meskipun banyak perusahaan menyatakan langkah akuisisi ini bisa


meningkatkan penjualan dan laba bersih perusahaan namun ada sebagian
yang juga gagal dalam melakukan langkah merger dan akuisisi ini. Misalnya
adalah Hewlett-Packard, Co. (HP) yang melakukan merger dengan Compact
dengan tujuan untuk mengukuhkan posisi HP, agar lebih baik dibandingkan
IBM dan Dell. Mestinya merger antara kedua perusahaan dengan keunggulan
berbeda tersebut bisa menimbulkan sinergi, nyatanya tidak. Kinerja HP tidak
menentu, harga sahamnya naik turun (Business Week Asian Edition February
21, 2005, p40-47).

2
Moin, Abdul. 2004. Merger, Akuisisi dan Divestasi 2nd Edition. FE UII. Yogyakarta

2
Banyak penelitian telah dilakukan untuk menginvestigasi pengaruh
merger dan akuisisi terhadap kinerja perusahaan, namun hasilnya tidak selalu
konsisten. Caves (1989)3 menemukan bahwa merger dan takeover
berpengaruh positif terhadap efisiensi ekonomi, karena adanya sinergi dan
perubahan terhadap kontrol perusahaan dan pangsa pasarnya. Penelitian
Caves (1989) dikonfirmasikan oleh Berkowitch dan Narayanan (1993), Eun,
Kolodny dan Scheraga (1996)4 yang juga menunjukkan merger dan akuisisi
berpengaruh positif terhadap shareholder perusahaan bidder dan target. Di
lain pihak penelitian Agrawal, Jaffe dan Mandelker (1992)5, menunjukkan
bukti keputusan merger dan akuisisi berpengaruh negatif terhadap kinerja
perusahaan.

Sebagaimana sebuah organisme, perusahaan akan mengalami berbagai


kondisi yaitu (1) tumbuh dan berkembang secara dinamis, (2) berada pada
kondisi statis dan (3) mengalami proses kemunduran atau pengkerutan.
Dalam rangka tumbuh dan berkembang ini perusahaan bisa melakukan
ekspansi bisnis yaitu pertumbuhan dari dalam perusahaan (internal growth),
dan pertumbuhan dari luar perusahaan (external growth).

Pertumbuhan internal adalah ekspansi yang dilakukan dengan


membangun bisnis atau unit bisnis baru dari awal (start-ups business). Jalur
ini memerlukan berbagai pentahapan mulai dari riset pasar, desain produk,
perekrutan tenaga ahli, test pasar, pengadaan dan pembangunan fasilitas
produksi/operasi sebelum perusahaan menjual produknya ke pasar. Merger
dan akuisisi adalah strategi pertumbuhan eksternal dan merupakan jalur cepat
untuk mengakses pasar baru atau produk baru tanpa harus membangun dari
nol. Terdapat penghematan waktu yang sangat signifikan antara pertumbuhan
internal dan eksternal melalui merger dan akuisisi.

3
Caves, Richard, E., 1989, Mergers, Takeover and Economical Efficiency
4
Eun, Cheols, Richard Kolodny and Carl Scheraga, 1996, Cross border acquisition and
shareholder wealth : Test of synergy and Internalization hypotheses journal of banking &
finance
5
Agrawal, Anup, Jeffrey F.F., and Gherson N.M., 1992, The Post Merger of Acqiring Firms :
A Re-examination of an Anomaly, Journal of Finance

3
Merger dan Akuisisi adalah penggabungan dua atau lebih perusahaan,
dengan sendirinya akan ada peningkatan asset, dan diharapkan akan
menimbulkan sinergi atau nilai tambah dengan meningkatnya penjualan
diikuti penurunan biaya rata-rata per unit yang pada akhirnya akan
meningkatkan nilai tambah berupa kenaikan laba perusahaan. Hal ini
terlihat dalam grafik berikut ini

Sumber : BEJ
Gambar 1. Pertumbuhan Asset dan Penjualan Perusahaan
Manufaktur yang Melakukan Merger dan Akuisisi

Sumber : BEJ
Gambar 2. Pertumbuhan Profitabilitas Perusahaan Manufaktur
yang Melakukan Merger dan Akuisisi

4
Melihat kenyataan di atas, penulis tertarik untuk meneliti bagaimana
merger dan akuisisi ini berpengaruh/meningkatkan profitabilitas
perusahaan-perusahaan publik di Indonesia, khususnya perusahaan
manufaktur.
Meskipun strategi merger dan akuisisi tidak selalu berjalan mulus,
namun sejauh ini konsep merger dan akuisisi merupakan bentuk
pengembangan usaha yang relatif dapat dilakukan secara lebih cepat, jika
dibandingkan dengan cara pengembangan usaha konservatif lainnya, yang
cenderung lebih banyak memakan waktu dan biaya. Melalui merger dan
akuisisi6, seorang pengusaha dapat dengan cepat dan mudah menguasai
suatu kegiatan bidang usaha tanpa harus merintis usaha dari awal, dengan
menanggung resiko kegagalan usaha.

Sensitifitas makro ekonomi, seperti real interest rate dan kurs juga
mempunyai pengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan. Sakhowi A.
(2004), menyatakan bahwa peningkatan/penurunan tingkat bunga riil
melalui penurunan/peningkatan inflasi sementara tingkat bunga nominal
tetap, maka peningkatan/penurunan tingkat bunga riil akan mendorong
meningkatnya aktivitas ekonomi sehingga akan meningkatkan ekspektasi
return yang pada akhirnya akan meningkatkan laba bersih perusahaan.
Demikian juga dengan nilai tukar/kurs, yang mempunyai hubungan
berbanding terbalik inflasi. Apabila nilai tukar terdepresiasi maka aka nada
kecenderungan inflasi meningkat. Data perkembangan kurs dan real
interest rate di Indonesia periode 1998 sampai dengan 2006 tersaji pada
tabel lampiran 2.

Penelitian ini akan menganalisis sinergi dari sisi finansial, yaitu


kemampuan perusahaan menghasilkan laba hasil merger dan akuisisi.
Laba disini diproksikan melalui ROA. Sedangkan ROA merupakan
keseluruhan keefektifan manajemen dalam menghasilkan laba dengan
aktiva yang tersedia setelah merger dan akuisisi.

6
Moin, Abdul., op.cit

5
1.2. Identifikasi Permasalahan

Mengacu pada paparan di atas, dapat diidentifikasikan beberapa


permasalahan sebagai berikut :

1. Beberapa perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEJ, melakukan


Merger dan Akuisisi untuk meningkatkan kinerja perusahaan, dan
mengalami peningkatan ROA setelah Merger dan Akuisisi karena adanya
sinergi operasional dan sinergi finansial.

2. Rasio-rasio keuangan seperti Gross Profit Margin, Total Assets Turnover,


Current Ratio, Debt to Asset Ratio, digunakan untuk memprediksi kinerja
perusahaan sebelum dan sesudah Merger dan Akuisisi.

3. Sensitifitas perusahaan terhadap kondisi ekonomi makro seperti Kurs dan


Real Interest Rate (RIR), digunakan untuk mengetahui pengaruhnya
terhadap ROA perusahaan.

1.3. Batasan Masalah

Untuk memfokuskan permasalahan, maka dalam penelitian ini hanya


dibatasi pada :

1. Perusahaan manufaktur yang melakukan merger dan akuisisi pada


periode 2000 – 2004 dan terdaftar di BEJ. Data perusahaan yang
digunakan adalah laporan tahunan periode tahun 1998 – 2006.

2. Profitabilitas dalam penelitian ini hanya meliputi komponen ROA,


karena ROA juga digunakan sebagai indikator keberhasilan perusahaan
untuk mengukur keefektifan aset yang ada mampu menghasilkan
keuntungan.

6
3. ROA perusahaan ditinjau dari sisi faktor rasio keuangan seperti : Gross
Profit Margin, Total Assets Turnover, Current Ratio, Debt to Asset
Ratio.

4. ROA perusahaan ditinjau dari sisi faktor ekonomi makro seperti : Kurs
dan Real Interest Rate (RIR).

1.4. Rumusan Masalah

Berdasarkan batasan permasalahan tersebut, maka rumusan masalah yang


diteliti adalah sebagai berikut :

1. Apakah terdapat perbedaan profitabilitas perusahaan yang melakukan


merger dan akuisisi.

2. Apakah terdapat pengaruh yang signifikan : Gross Profit Margin (GPM),


Total Asset Turnover (TAT), Current Rasio (CR), Debt to Asset Ratio
(DAR), Kurs, dan Real Interest Rate (RIR) terhadap ROA.

3. Faktor-faktor apa saja yang paling dominan mempengaruhi ROA pada


perusahaan manufaktur yang melakukan merger dan akuisisi.

1.5. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian adalah sebagai berikut :

1. Untuk menganalisis profitabilitas perusahaan manufaktur yang


melakukan merger dan akuisisi.

2. Untuk menganalisis pengaruh yang signifikan : GPM, Total Asset


Turnover, Current Rasio, Debt Rasio, Kurs, dan Real Interest Rate
terhadap ROA.

7
3. Untuk menganalisis faktor-faktor yang dominan mempengaruhi
ROA perusahaan manufaktur yang melakukan merger dan akuisisi.

1.6. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapakan bermanfaat bagi :

1. Secara akademis hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan


sumbangan baik secara langsung maupun tidak langsung pada pihak yang
tertarik tentang masalah ini dan pihak-pihak lain yang memerlukan
referensi untuk penulisan selanjutnya.

2. Bagi perusahaan, memberikan bukti empiris tentang pengaruh merger dan


akuisisi terhadap profitabilitas perusahaan bagi perusahaan yang akan
melakukan merger dan akuisisi.

3. Bagi masyarakat, memberi sumbangan pengetahuan mengenai


permasalahan yang dihadapi perusahaan publik yang melakukan merger
dan akuisisi.