Anda di halaman 1dari 3

Hadiah Kehidupan dari Alam

Pejuang lingkungan dari Donomulyo, Malang, ini membutuhkan waktu satu dekade
untuk mengubah lahan kritis menjadi lahan hijau. Setelah itu alam memberikan
imbal balik: sebuah kehidupan. Pejuang lingkungan dari Donomulyo, Malang, ini
membutuhkan waktu satu dekade untuk mengubah lahan kritis menjadi lahan hijau.
Setelah itu alam memberikan imbal balik: sebuah kehidupan. Cikal bakal Prihatin dengan
kondisi itu, setelah lulus sekolah menengah pertama (SMP) pada 1977, Sutaji menaruh
minat di Pramuka Sakarta Bumi, di bawah asuhan Dinas Kehutanan Pemerintah
Kabupaten (Pemkab) Malang. Ia diasuh petugas penyuluh lapangan bernama
Supriono. Sutaji diajari cara membuat polybag bibit tanaman yang disebut bedengan oleh
warga sekitar. Sutaji juga belajar cara menanam pohon, membuat pupuk, hingga merawat
tanaman agar tidak mudah mati. Saat kelas 2 SMA, Sutaji punya ide untuk menghutankan
bukit cadas. Dia memberanikan diri menyampaikan usulan kepada Kepala Desa
Mentaraman yang waktu itu dijabat Mathari (alm). “Saya mengusulkan untuk
menanami lahan kritis agar menjadi hutan,” tegasnya.Ide itu dianggap mustahil. Banyak
warga menuduh dirinya sebagai pahlawan kesiangan, cari muka, atau hanya untuk
mendapatkan uang (insentif) saat digelar rapat desa. Namun Sutaji sabar saja. Dia tekun
dan pantang menyerah untuk menyelamatkan lingkungan dan meningkatkan taraf hidup
masyarakat. Kiprah dalam menyelamatkan lingkungan terus dilanjutkan di tengah
cemoohan dan hujatan sejumlah warga. Bermodal kesabaran, warga yang protes tentang
rencana menghutankan lahan kritis disadarkan melalui diskusi bersama pamong desa
dalam wadah yang dinamai Gubuk Kerja.Hingga 3 Maret 1981, kata dia, anggota Gubuk
Kerja Kelompok Tani Harapan Masa sudah mencapai 378 orang. Selain diskusi, warga
diajak mendirikan koperasi dan dibina dalam membuat pupuk. Dana untuk menggelar
kegiatandilakukan secara swadaya.“Kami ‘gaplekan’ (patungan)Rp1.000
per bulan,” katanya.Dana itu selanjutnya digunakanuntuk membeli
bibit pohonmahoni, akasia, dan kelor wonosampai ke Karangkates,
sekitar20 km dari desa mereka.“Sebagian lagi bibit jati kamidapatkan
dari bantuan DinasKehutanan Pemerintah KabupatenMalang,” ujar
Sutaji.

Kemiskinan terjadikarena lahan kritis.Tidak adanya hutan di desa


kamilahyang menjadi penyebabnya.”

Penghijauan
Bibit-bibit tanaman kerasitu awalnya ditanam di lahanseluas 2 hektare
di Dusun Gondang
Rejo, dusun paling miskinyang memiliki lahan kritis palingluas di Desa
Mentaraman.
Lahan itu, imbuh dia, milikSumarto Giran, ketua subkelompoktani
dusun setempat.
Cita-cita menghutankanbukit cadas di desa tempatkelahiran Sutaji
tersebut terus
dilanjutkan dengan menanamdi 476 hektare lahan kritis yangtersebar
di Dusun Mentaraman,Gondang Rejo, dan GondangTowo. Seluruh
lahan yang ditanami itu milik warga.Saat tanaman kayu sudahbesar
dan bisa dipanen, hasilnyamenjadi hak warga pemilik lahan. Tidak
hanya tanamankayu, warga juga menanamtanaman buah dan
melinjo.Bahkan, tanaman kakao--bahanpembuat cokelat--juga
dikembangkan
di desa ini.Akhirnya, kerja keras ditengah hujatan warga yangtidak
suka itu membuahkan
hasil sepuluh tahun kemudian.Tahun 1991, banyak warga
bisamenyekolahkan anak-anak
mereka dari menjual kayu.Mereka juga bisa membukausaha keripik
melinjo.Sejauh ini, sudah ada puluhankelompok usaha keripikmelinjo di
desa setempat. Satukelompok terdiri atas lima orang. Saat itu 1 kg
keripik melinjo dijual Rp20 ribu sampaidengan Rp40 ribu, dikirimke
Surabaya, Jakarta, Sumatra,dan Kalimantan.

Mata air
Seiring tanah yang hijaukembali, mata air pun juga bermunculan.Air
bisa disalurkan
ke rumah-rumah penduduksehingga mereka tidak kerepotan lagi
seperti dulu. “Saat
ini, setidaknya terdapat 18 titik sumber air di desa kami,”
tegasnya. Itu karena areal hutan seluas 476 hektare yang dulunya
kering kerontang, seluas 342 hektare di antaranya sudah menghijau.
Berbagai pohon tanaman keras tumbuh subur.
Bahkan embung—penangkap air--setiap tahun terisi air sehingga lebih
dari cukup untuk
mengairi lahan pertanian. Jika sebelumnya warga tidak bisa menanam
padi, kini banyak
yang mengembangkan pertanian. Beras yang sebelumnya tidak terbeli
dan dapat dikatakan langka di desa itu kini mampu mencukupi
kebutuhan warga, bahkan berkelebihan. Berkat upayanya, Sutaji
memang,dihargai negara dengan,ganjaran penghargaan
Kalpataru,pada 1998.,Namun tentu saja, penghargaan,tertinggi datang
dari
alam. Imbal balik alam yang,diperlakukan dengan baik telah,memberi
kehidupan bagi
Sutaji dan warga Desa Mentaram, Malang. (M-4)

bagussuryo@
mediaindonesia.com