Anda di halaman 1dari 1

Aturan penulisan naskah:

1. Aturan mengenai kertas, margin dan spasi


2. Penulisan nomor halaman, angka dan huruf
3. Penulisan nomor dan judul bab serta anak2 bab
4. Penulisan kutipan
5. Penulisan bibliografi

Angka berdigit Angka dan huruf


Nomor angka bab 2.1 A.
Nomor seksi 2.1.1 1.
Nomor anak seksi 2.1.1.1 a.
Nomor pasal 2.1.1.1.1 1)
Nomor anak pasal 2.1.1.1.1.1 a)
Nomor ayat 2.1.1.1.1.1.1 (1)
Nomor anak ayat 2.1.1.1.1.1.1.1 (a)

Upaya orang-orang Madura menghapus stereotipe negatif yang sudah terlanjur melekat di
benak banyak orang, seperti berjuang dalam sepi karena rendahnya dukungan masyarakat
pendukungnya. Mereka mampu beradaptasi dan memiliki toleransi tinggi terhadap
perubahan. Orang-orang Madura dikenal ulet. Riset majalah Tempo pada tahun 1980-an
pernah menempatkan suku Madura dalam lima besar suku yang paling sukses di Indonesia.

Kampus ITS, ITS Online - Orang-orang Madura di tanah rantau adalah saksi hidup dari
semangat itu. Mereka berani melakukan pekerjaan apa saja demi hidup. Namun, dibalik
kegigihan itu, masyarakat dari pulau garam ini memiliki rasa humor yang khas. Karakter lain
yang lekat dalam diri orang-orang Madura adalah perilaku yang selalu apa adanya dalam
bertindak. Suara yang tegas dan ucapan yang jujur kiranya merupakan salah satu bentuk
keseharian yang bisa kita rasakan jika berkumpul dengan orang Madura.

Sosok yang berpendirian teguh merupakan bentuk lain dari kepribadian umum yang dimiliki
suku Madura. Mereka sangat berpegang pada falsafah yang diyakininya. Apa pun mereka
lakukan untuk mempertahankan harga diri. Masyarakat Madura sangat taat beragama. Selain
ikatan kekerabatan, agama menjadi unsur penting sebagai penanda identitas etnik suku ini.
Bagi orang Madura, agama Islam seakan sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari jati
dirinya. Akibatnya, jika ada warga Madura yang memeluk agama lain selain Islam, identitas
kemaduraannya bisa hilang sama sekali. Lingkungan sosialnya ‘akan menolak’, dan orang
yang bersangkutan bisa terasing dari akar Maduranya.

Hebatnya, di luar urusan perkawinan, masyarakat Madura sangat terbuka dan menghargai
perbedaan identitas keagamaan. Perbedaan agama tidak menjadi penghalang untuk menjalin
kerja sama dengan orang lain. Tidak pernah ada pembakaran tempat ibadah di Madura hanya
karena perbedaan keyakinan agama, kecuali karena konflik politik.