Anda di halaman 1dari 17

1

Perlindungan Hak Cipta atas Buku berdasarkan Undang-


Undang No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta

A. Latar Belakang

Pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan, seni dan sastra


memegang peranan penting bagi peningkatan kualitas hidup penduduk suatu
negara. Oleh karena itu, dibeberapa negara, upaya pengembangan ilmu
pengetahuan, seni dan sastra berikut perlindungan hukumnya, menjadi
prioritas utama dalam rencana pembangunan negara yang bersangkutan.

Salah satu upaya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, seni dan


sastra, dilakukan melalui jalur pendidikan, sehingga tidak berlebihan apabila
pemerintah Indonesia sekarang ini mengalokasikan dana bagi sektor
pendidikan sebesar 20% dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara.

Untuk merealisasikan komitmennya dalam meningkatkan sumber daya


manusia yang berkualitas, pemerintah telah menetapkan beberapa arah
kebijakan pendidikan, salah satunya melalui penyediaan materi dan peralatan
pendidikan (teaching and learning materials) terkini baik yang berupa materi
cetak seperti buku pelajaran maupun yang berbasis teknologi informasi dan
komunikasi.1

1
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2004-2005, BAB 27 tentang

Perlindungan Hak Cipta atas Buku,


berdasarkan UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta
2

Dalam mendukung terciptanya peningkatan kualitas sumber daya


manusia, hal terpenting yang tidak dapat diabaikan adalah ketersediaan
sarana dan prasarana pendukung proses belajar mengajar, salah satunya
melalui ketersediaan buku-buku pelajaran, mengingat selama kegiatan
pendidikan berlangsung, baik disekolah maupun luar sekolah tidak dapat
dilepaskan dari buku-buku pelajaran yang tersedia secara memadai baik dari
segi kualitas maupun kuantitas.

Selama ini, usaha pengadaan buku untuk kelancaran proses kegiatan


belajar mengajar dilakukan oleh penerbit pemerintah maupun penerbit
swasta. Namun, upaya tersebut sering terhambat oleh maraknya pembajakan
buku-buku pelajaran di berbagai tingkatan. Akibatnya, muncul keengganan
dari para pengarang dan penerbit buku untuk menghasilkan buku-buku yang
baru dengan kualitas yang baik.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengembalikan


kegairahan para pengarang buku untuk menghasilkan buku-buku yang
berkualitas adalah dengan diberikannya perlindungan hukum kepada para
pencipta buku (pengarang) melalui perlindungan terhadap ciptaan yang
dihasilkannya. Dengan diberikannya perlindungan yang memadai kepada
para pengarang buku diharapkan akan bermunculan ciptaan-ciptaan baru,
khususnya dalam bentuk buku-buku ilmu pengetahuan, seni dan sastra.

PENINGKATAN AKSES MASYARAKAT TERHADAP PENDIDIKAN YANG BERKUALITAS


HURUF C. ARAH KEBIJAKAN angka 14

Perlindungan Hak Cipta atas Buku,


berdasarkan UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta
3

B. Hak Cipta sebagai Hak Eksklusif bagi Pencipta atau Pemegang


Hak Cipta

Istilah Hak Cipta dalam TRIPs disebut sebagai “Hak Cipta dan hak-hak
yang berkaitan” atau “copyright and related rights’, sedangkan dalam
Konvensi Bern disebut perlindungan terhadap karya-karya sastra dan seni
atau “protection of literary and artistic work”.

Apabila memperhatikan beberapa ketentuan yang terdapat dalam


Undang-Undang Hak Cipta No. 19 Tahun 2002, maka akan ditemukan
beberapa sifat dari hak cipta. Hal ini dapat dilihat pada Pasal 2, Pasal 3,
Pasal 4 Undang-Undang Hak Cipta No. 19 Tahun 2002 , yaitu:

1. Hak eksklusif, yaitu hak yang semata-mata diperuntukkan bagi


pemegangnya sehingga tidak ada pihak lain yang boleh
memanfaatkan hak tersebut tanpa izin pemegangnya.2

Dalam Pasal 2, terkandung tiga hak khusus, yaitu:

a. hak untuk mengumumkan ciptaan. Mengumumkan artinya


membacakan, menyuarakan, menyiarkan atau menyebarkan
ciptaan dengan menggunakan alat apapun dan dengan cara
sedemikian rupa, sehingga ciptaan itu dapat dibaca, didengar
atau dilihat oleh orang lain;

2
Penjelasan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Hak Cipta No. 19 Tahun 2002

Perlindungan Hak Cipta atas Buku,


berdasarkan UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta
4

b. hak untuk memperbanyak ciptaan. Yang dimaksud


memperbanyak adalah menambah suatu ciptaan dengan
pembuatan yang sama, hampir sama, atau menyerupai ciptaan
tersebut dengan menggunakan bahan-bahan yang sama maupun
tidak sama termasuk mengalih wujudkan sesuatu ciptaan;

c. Hak untuk memberi izin. Yaitu memberi lisensi kepada pihak lain
berdasarkan surat perjanjian lisensi untuk melaksanakan
perbuatan mengumumkan dan/atau memperbanyak ciptaan.
Perbuatan ini harus dilaksanakan dengan perjanjian tertulis
dalam bentuk akta otentik atau tidak otentik. Perbuatan yang
diizinkan untuk dilaksanakan adalah perbuatan yang secara
tegas disebutkan dalam akta.3

2. Hak Cipta dianggap sebagai perbuatan benda bergerak immaterial.

Undang-undang menganggap HKI, khususnya Hak Cipta adalah


benda bergerak tidak berwujud (intangible movable goods). Sebagai
benda bergerak, Hak Cipta dapat dialihkan seluruh atau sebagian
karena pewarisan, hibah, wasiat dijadikan milik negara, perjanjian
yang harus dilakukan dengan akta, dengan ketentuan bahwa
perjanjian itu hanya mengenai wewenang yang disebut dalam akta.
Oleh karena itu, Hak Cipta tidak dapat dialihkan secara lisan,
3
Abdulkadir Muhamad, Kajian Hukum Ekonomi Hak Kekayaan Intelektual, Citra
Aditya Bakti, Bandung, 1999, hlm. 115

Perlindungan Hak Cipta atas Buku,


berdasarkan UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta
5

melainkan secara tertulis dengan akta otentik atau akta di bawah


tangan. Hak Cipta yang beralih karena pewarisan terjadi berdasarkan
ketentuan undang-undang, sehingga kepemilikan beralih kepada ahli
waris karena ketentuan undang-undang, beralih secara otomatis sejak
meninggalnya pemilik hak, meskipun dapat juga dialhikan dengan akta
disaat pewaris hidup.

3. Hak Cipta dapat disita

Hak Cipta bersifat pribadi dan manunggal dengan diri pencipta,


sehingga hak pribadi itu tidak dapat disita darinya, kecuali Hak Cipta
tersebut diperoleh secara melawan hukum. Apabila pemegang Hak
Cipta melakukan pelanggaran hukum diancam dengan hukuman,
maka hukuman ini tidak dapat mengenai Hak Cipta, tetapi yang dapat
disita adalah hasil ciptaannya.

Undang-Undang Hak Cipta No. 19 Tahun 2002 telah memberikan


definisi tentang Pencipta, yaitu: seorang atau beberapa orang secara
bersama-sama yang atas inspirasinya lahir suatu ciptaan berdasarkan
pikiran, imajinasi, kecekatan, keterampilan atau keahlian yang dituangkan
dalam bentuk yang khas dan bersifat pribadi.4

Dalam ketentuan di atas tersirat bahwa yang disebut dengan pencipta


adalah seseorang atau beberapa orang yang mewujudkan suatu ciptaan

4
Pasal 1 angka 2 Undang-Undang Hak Cipta No. 19 Tahun 2002

Perlindungan Hak Cipta atas Buku,


berdasarkan UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta
6

untuk pertama kali berdasarkan ide5 yang dipunyainya dan seseorang itu
mempunyai hak-hak sebagai pencipta atas ciptaannya.

Berdasarkan Pasal 10 Undang-Undang Hak Cipta No. 19 Tahun 2002


yang dapat digolongkan sebagai pencipta adalah:
1. a. Orang yang namanya terdaftar dalam daftar umum ciptaan dan
pengumuman resmi tentang pendaftaran pada Departemen
Kehakiman;
b. Orang yang namanya disebut dalam ciptaan atau diumumkan
sebagai pencipta pada suatu ciptaan;
c. Orang yang berceramah pada ceramah yang tidak tertulis dan tidak
ada pemberitahuan siapa penciptanya, kecuali dapat dibuktikan
sebaliknya;
2. Orang yang memimpin serta mengawasi penyelesaian ciptaan, atau
jika tidak ada orang itu, orang itu menghimpunnya dengan tidak
mengurangi Hak Cipta masing-masing bagian ciptaannya, yaitu jika

5
Ide belum merupakan suatu ciptaan, sekalipun seseorang itu telah mempunyai ide
dan diwujudkan ke dalam suatu ciptaan belum tentu seseorang ini dapat dikategorikan
sebagai pencipta. Lihat kasus Water V. Lane (1900) dalam kasus ini beberapa wartawan
harian The Times membuat beberapa laporan untuk The Times dari pidato-pidato Lord
Roseberry yang setelah diedit oleh staf redaksi, dimuat sebagai berita Times. Walaupun para
wartawan dalam membuat laporan dari pidato Lord Roseberry telah menggunakan keahlian,
tenaga dan pikiran dalam penyusunannya, pengadilan dalam perkara ini memutuskan bahwa
yang menjadi pencipta bukanlah para wartawan tetapi The Times karena para wartawan
membuat laporan dalam kapasitas sebagai karyawan The Times. Lihat Eddy Damian,
Hukum Hak Cipta Undang-Undang Hak Cipta No. 19 Tahun 2002, Penerbit PT. Alumni,
Bandung, hlm. 128

Perlindungan Hak Cipta atas Buku,


berdasarkan UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta
7

suatu ciptaan terdiri dari beberapa bagian tersebdiri yang diciptakan


dua orang atau lebih;
3. Orang yang merancang ciptaan, yaitu jika suatu ciptaan yang
dirancang seseorang diwujudkan dan dikerjakan oleh orang lain di
bawah pimpinan dan pengawasan orang yang merancang

4. Orang yang membuat ciptaan, yaitu dalam hubungan dinas, hubungan


kerja atau berdasarkan pesanan, kecuali diperjanjikan lain;

5. Badan hukum yang mengumumkan ciptaan dengan tidak menyebut


seseorang sebagai penciptanya, kecuali dibuktikan sebaliknya;

6. Terhadap ciptaan yang tidak diketahui penciptanya, maka berlaku


ketentuan Pasal 10 Undang-Undang Hak Cipta No. 19 Tahun 2002:

a. Apabila suatu ciptaan tidak diketahui penciptanya dan ciptaan


itu belum diterbitkan, maka Negara memegang Hak Cipta atas
ciptaan tersebut untuk kepentingan penciptanya;

b. Negara memegang Hak Cipta atas karya pra sejarah, sejarah,


benda, budaya nasional, juga memegang Hak Cipta atas hasil
kebudayaan rakyat yang telah menjadi milik bersama terhadap
luar negeri.

c. Apabila suatu ciptaan telah diterbitkan tetapi tidak diketahui


penciptanya atau pada ciptaan tersebut hanya tertera nama

Perlindungan Hak Cipta atas Buku,


berdasarkan UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta
8

samaran penciptanya, maka penerbit memegang Hak Cipta


atas ciptaan tersebut untuk kepentingan penciptanya.

Berdasarkan Pasal 12 ayat (1) UUHC, ciptaan yang dilindungi adalah


ciptaan dalam bidang ilmu pengethaun, seni dan sastra, antara lain:

a. Buku, program komputer, pamplet, perwajahan (lay out), karya


tulis yang diterbitkan, dan semua hasil karya tulis lainnya;
b. Ceramah, kuliah, pidato dan ciptaan lainnya yang sejenis
dengan itu;
c. Alat peraga yang dibuat untuk kepentingan pendidikan dan ilmu
pengetahuan;
d. Lagu atau musik dengan atau tanpa teks;
e. Drama atau drama musical, tari koreografi, pewayangan dan
pantomim;
f. Seni rupa dalam segala bentuk seperti seni lukis, gambar, seni
ukir, seni kaligrafi, seni pahat, seni patung kolase dan seni
terapan;
g. Arsitektur;
h. Peta;
i. Seni batik;
j. Fotografi;
k. Sinematografi;

Perlindungan Hak Cipta atas Buku,


berdasarkan UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta
9

l. Terjemahan, tafsir, saduran, bunga rampai, data base, dan


karya lain dari hasil pengalihwujudan

Sebuah karya tulis agar mendapatkan suatu perlindungan Hak Cipta


maka harus merupakan karya yang asli. Maksudnya, karya tersebut harus
dihasilkan oleh orang yang mengakui karya tersebut sebagai ciptaannya. Dan
ciptaan tersebut bukan merupakan jiplakan/tiruan dari ciptaan lain dan
pencipta telah menggunakan kemampuan pikiran, imajinasi, kecekatan,
keterampilan, atau keahlian yang dituangkan ke dalam bentuk yang khas dan
pribadi6

Mengenai jangka waktu perlindungan ciptaan, secara umum Undang-


Undang Hak Cipta No. 19 Tahun 2002 membagi dalam 3 (tiga) kelompok
besar yang dihitung sejak 1 Januari tahun berikutnya setelah ciptaan tersebut
diumumkan atau setelah pencipta meninggal dunia, walaupun pada dasarnya
hak tersebut sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 34 Undang-Undang Hak
Cipta No. 19 Tahun 2002, telah dilindungi sejak lahirnya suatu ciptaan.

Berdasarkan Undang-Undang Hak Cipta No. 19 Tahun 2002,


perlindungan Hak Cipta adalah sebagai berikut:

1. Selama hidup pencipta dan terus berlangsung 50 tahun setelah pencipta


meninggal. Jika pencipta lebih dari satu orang, maka ukuran yang dipakai

6
Tim Lindsey (Ed), et. Al, Hak Kekayaan Intelektual, Suatu Pengantar, Alumni,
Bandung, 2002 hlm. 106

Perlindungan Hak Cipta atas Buku,


berdasarkan UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta
10

adalah pencipta yang terlama hidupnya. Ciptaan yang masuk dalam kategori
ini adalah:

a. Buku, pamplet, dan semua hasil karya tulis lainnya;

b. Drama atau drama musical, tari, koreografi;

c. Segala bentuk seni rupa, seperti seni lukis, seni pahat dan seni
patung;

d. Seni batik;

e. Lagu atau musik dengan atau tanpa teks;

f. Arsitektur;

g. Ceramah, kuliah, pidato, dan ciptaan sejenis lain;

h. Alat peraga;

i. Peta;

j. Terjemahan, tafsir, saduran, bunga rampai;

2. Selama 50 Tahun sejak pertama kali diumumkan atau diterbitkan. Dalam


kategori ini terdiri dari:

a. program komputer;
b. sinematografi;
c. fotografi;
d. database;

Perlindungan Hak Cipta atas Buku,


berdasarkan UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta
11

e. karya hasil pengalihwujudan;


f. perwajahan karya tulis;
g. semua karya yang disebutkan pada angka (1) dan angka (2) yang
dimiliki atau dipegang oleh suatu badan hukum;
h. ciptaan yang Hak Ciptanya dipegang penerbit karena tidak diketahui
penciptanya atau pada ciptaan tersebut hanya tertera nama samaran
sebagaimana diatur dalam Pasal 10 A ayat (2) Undang-Undang Hak
Cipta No. 19 Tahun 2002;

i. ciptaan yang dipegang negara untuk kepentingan penciptanya, apabila


tidak diketahui penciptanya dan belum diterbitkan. Perhitungan jangka
waktunya dimulai pada saat diketahui oleh umum.

3. Berlaku tanpa batas waktu, yaitu atas ciptaan tradisional atau folklore atau
hasil kebudayaan rakyat yang menjadi milik bersama, seperti cerita, hikayat,
dongeng, legenda, babad, lagu, kerajinan tangan, koreografi, tarian, kaligrafi,
dan karya seni lainnya.

Dengan adanya pengaturan yang berbeda-beda tentang jangka waktu


perlindungan atas suatu ciptaan, maka dapat dikatakan bahwa jangka waktu
perlindungan terhadap suatu ciptaan berbeda dari suatu jenis ciptaan dengan
jenis ciptaan lainnya.

Jangka waktu perlindungan diberikan sesuai dengan kepentingan


ekonomi dari penciptanya. Apabila suatu ciptaan itu sudah habis masa

Perlindungan Hak Cipta atas Buku,


berdasarkan UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta
12

jangka waktu perlindungan sebagaimana yang telah ditetapkan dalam


Undang-Undang Hak Cipta No. 19 Tahun 2002, maka ciptaan tersebut akan
menjadi milik umum/masyarakat (public domain). Akibatnya, setiap orang
bebas untuk memperbanyak, mengumumkan, dan menyewakan ciptaan yang
sudah habis perlindungannya.

C. Perlindungan Hak Cipta atas Buku

Buku merupakan salah satu penemuan terbesar karena buku


merupakan sumber segala informasi ilmu pengetahuan yang kita inginkan
serta mudah disimpan dan diobawa-bawa.

Buku dapat diartikan sebagai tulisan atau cetakan dalam sehelai


kertas atau dalam bentuk material lain yang dijadikan satu pinggiran/dijilid
sehingga bisa dibuka pada bagian mana saja. Kebanyakan buku-buku
mempunyai sampul pelindung untuk melindungi bagian dalamnya.7

Buku merupakan salah satu perwujudan karya ciptaan tulis. Buku yang
diterbitkan perlu mendapat perlindungan sebagai salah satu bentuk apresiasi
terhadap penciptanya sekalipun dalam praktiknya apresiasi dalam bentuk
finasial lebih menonjol daripada apresiasi moral.

Hak Cipta yang melekat pada suatu karya tulis diterbitkan dalam
bentuk suatu buku, jika dikembangkan lebih lanjut dapat terdiri dari

7
The World Book Encyclopedia, Volume 2, World Book, Inc, 1984, hlm. 375

Perlindungan Hak Cipta atas Buku,


berdasarkan UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta
13

sekumpulan hak-hak khusus (a bundle of special rights) yang masing-masing


memperoleh perlindungan hukum Hak Cipta yang berbeda.8

Menurut Undang-Undang Hak Cipta No. 19 Tahun 2002, pencipta


suatu karya tulis mempunyai sekumpulan hak khusus yang mendapat
perlindungan yang terdiri dari:

1. Hak untuk memperbanyak dalam bentuk buku yang diterbitkan


sendiri atau oleh penerbit berdasarkan suatu perjanjian lisensi;

2. Hak untuk menerjemahkan buku ke dalam bahasa lain;

3. Hak untuk membuat karya pertunjukkan dalam bentuk apapun;

4. Hak untuk membuat karya siaran dan lain sebagainya.

Perlindungan-perlindungan dalam butir pertama dan kedua di atas


diberikan kepada penerbit sebagai pihak yang mewujudkan suatu ciptaan
karya tulis seorang pencipta.

Apabila memperhatikan pada Undang-Undang Hak Cipta No. 19


Tahun 2002, dapat ditemukan beberapa bentuk perlindungan hukum yang
diberikan kepada pencipta, khususnya terhadap pengarang buku, yaitu:

1. Pemegang Hak Cipta berhak untuk mengajukan gugatan ganti rugi


atas terjadinya pelanggaran Hak Ciptanya dan dapat meminta

8
Eddy Damian, Op. Cit, hlm. 172

Perlindungan Hak Cipta atas Buku,


berdasarkan UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta
14

dilakukan penyitaan terhadap benda yang diumumkan atau hasil


perbanyakan ciptaan itu (Pasal 56 ayat (1);

2. Pemegang Hak Cipta juga berhak memohon kepada Pengadilan


Niaga agar memerintahkan penyerahan seluruh atau sebagian
penghasilan yang diperoleh seluruh atau sebagian penghasilan yang
diperoleh dari penyelenggaraan ceramah, pertemuan ilmiah,
pertunjukan atau pameran karya, yang merupakan hasil pelanggaran
Hak Cipta; (Pasal 56 ayat (2)

3. Sebelum menjatuhkan petusan akhir dan untuk mencegah kerugian


yang lebih besar pada pihak yang haknya dilanggar, hakim dapat
memerintahkan pelanggar untuk menghentikan kegiatan
pengumuman dan/atau perbanyakan Ciptaan atau barang yang
merupakan hasil pelanggaran hak Cipta. (Pasal 56 ayat (3)

Di Amerika Serikat dan negara-negara yang menganut common law


sistem, kebanyakan pelanggaran atas hak cipta dihadapi dengan tuntutan
perdata dan ganti rugi. Namun d Indonesia, ada kecenderungan untuk
menghadapi pelanggaran Hak Cipta dengan mengusahakan sanksi pidana
dibandingkan dengan pemberian ganti kerugian.

Dalam gugatan pelanggaran hak cipta dikenal putusan sementara


(injunction) sebagaimana diatur dalam Pasal 67 sampai dengan Pasal 790
Undang-undang Hak Cipta. Putusan ini dikeluarkan oleh Pengadilan Niaga

Perlindungan Hak Cipta atas Buku,


berdasarkan UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta
15

atas permintaan dari pihak yang haknya dilanggar. Penetapan Sementara


dikeluarkan antara lain untuk mencegah masuknya barang-barang yang
diduga hasil pelanggaran Hak Cipta dan untuk mengamankan, menyimpan
bukti-bukti yang berkaitan dengan pelanggaran Hak Cipta.9

Di banyak negara, penerapan ini dimungkinkan terjadi tanpa


sepengetahuan pihak pelanggar guna mencegah kerusakan parah atas hak-
hak pemegang hak cipta. Salah satu putusan yang terkenal adalah pitusan
“Anton Piller”. Dalam putusan ini, pengadilan memberikan alasan kepada
suatu pihak untuk mencari dan menyita barang-barang dan dokumen yang
berkaitan dengan pelanggaran Hak Cipta.

Dalam suatu proses pengadilan, hakim dapat memutuskan sejumlah


penyelesaian, termasuk di antaranya:

1. kerugian-kerugian, termasuk kerugian sejumlah tambahan atas


pelanggaran hak cipta secara sengaja;

2. berupa perhitungan/pembagian keuntungan yang diperoleh pihak


pelanggar dari pelanggaran hak cipta yang dilakukannya;

3. berupa penyerahan barang-barang hasil pelanggaran hak cipta atau


teknologi yang digunakan untuk membuat barang-barang tersebut;

4. berupa putusan hukum final untuk mencegah pelanggaran lebih lanjut.

9
Penetapan sementara merupakan hal yang baru dalam sistem hukum nasional .
Hal ini dibuat sebagai salah satu upaya memenuhi standari perjanjian dalam TRIPs.

Perlindungan Hak Cipta atas Buku,


berdasarkan UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta
16

D. Penutup

Buku merupakan salah satu sarana penting bagi kemajuan bangsa.


Namun, hingga saat ini dunia perbukuan di Indonesia belum menunjukkan
iklim yang menggembirakan. Hal ini disebabkan budaya membaca
dikalangan masyarakat Indonesia masih rendah di samping tentunya
perlindungan hukum yang diberikan pada para pencipta/penulis buku masih
banyak menghadapi kendala.

Berangkat dari hal di atas, maka upaya perlindungan hukum terhadap


para pengarang buku dari berbagai aktivitas yang merugikan merupakan
langkah yang harus disambut dengan baik. Karena perlindungan atas karya
cipta dalam bentuk buku setidaknya memberikan 2 (dua) dampak positif:
Pertama, dari aspek ekonomis, hak atas royalti (sebagai salah satu wujud
apresiasi terhadap pengarang) menjadi lebih pasti dan terjamin. Dengan
demikian para pengarang dapat menikmati rolyalti atas hasil jerih payahnya.
Kedua, perlindungan hak cipta bagi pengarang buku merupakan pengakuan
dan penghargaan masyarakat atas keberadaan atau eksistensi pengarang
dan karya-karyanya. Penghargaan terhadap pengarang beserta karya-
karyanya pada hakikatnya merupakan sumber kekuatan moral dan sumber
semangat yang berperan dibalik lahirnya sebuah karya tulis (buku).

Perlindungan Hak Cipta atas Buku,


berdasarkan UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta
17

DAFTAR PUSTAKA

Abdulkadir Muhamad, Kajian Hukum Ekonomi Hak Kekayaan Intelektual,


Citra Aditya Bakti, Bandung, 1999

Ahmad Ramli, Hak Atas Kepemilikan Intelektual (Teori Dasar Perlindungan


Rahasia Dagang), Mandar Maju, Bandung, 2000

Eddy Damian, Hukum Hak Cipta Undang-Undang Hak Cipta No. 19 Tahun
2002, Penerbit PT. Alumni, Bandung

H.O.K. Saidin, Aspek Hukum Hak kekayaan Intelektual (Intelectual Property


Rights), P.T. Raja Grafindo Persada, 2003

J.C.T. Hak Cipta, Djambatan, Jakarta.

Tim Lindsey (Ed), et. al, Hak Kekayaan Intelektual, Suatu Pengantar, Alumni,
Bandung, 2002

The World Book Encyclopedia, Volume 2, World Book, Inc, 1984, hlm. 375

Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2005 tentang


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN)
Tahun 2004-2005,

Undang-Undang Hak Cipta No. 19 Tahun 2002

Perlindungan Hak Cipta atas Buku,


berdasarkan UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta