Anda di halaman 1dari 17

Prospek Bisnis UKM dalam Era Perdagangan

Bebas dan Otonomi Daerah

ABSTRAKSI

Usaha kecil menengah telah terbukti mampu hidup dan berkembang di

dalam badai krisis selama lebih dari enam tahun, keberadaannya telah dapat

memberikan kontribusi terhadap PDB sebesar hampir 60%, penyerapan tenaga

kerja sebesar 88,7% dari seluruh angkatan kerja di Indonesia dan kontribusi

UKM terhadap ekspor tahun 1997 sebesar 7,5% (BPS tahun 2000). Dalam

menghadapi era perdagangan bebas dan otonomisasi daerah maka

pengembangan UKM diarahkan pada : (1). Pengembangan lingkungan bisnis

yang kondusif bagi UKM; (2). Pengembangan lembaga-lembaga financial yang

dapat memberikan akses terhadap sumber modal yang transparan dan lebih

murah; (3). Memberikan jasa layanan pengembangan bisnis non finansial kepada

UKM yang lebih efektif; dan (4). Pembentukan aliansi strategis antara UKM dan

UKM lainnya atau dengan usaha besar di Indonesia atau di luar negeri.

Berkembang atau matinya usaha kecil menengah dalam era perdagangan bebas

tergantung dari kemampuan bersaing dan peningkatan efisiensi serta membentuk

jaringan bisnis dengan lembaga lainnya.

Krisis ekonomi kini sudah berusia lebih dari enam tahun. Namun tanda-

tanda pemulihan yang diharapkan agaknya masih berjalan sangat lambat dan

terseok-seok, walaupun nilai tukar rupiah semakin menguat dan kondisi sosial-

politik nasional sudah semakin membaik. Pemulihan ekonomi yang berjalan

lambat ini ditunjukkan antara lain dari masih rendahnya tingkat pertumbuhan
ekonomi nasional, tingginya angka pengangguran dan kemiskinan serta

"mandegnya" perkembangan kegiatan usaha berskala besar baik PMA maupun

PMDN. Secara detail angka-angka perkembangan indikator makro ekonomi yang

belum menjanjikan dapat kita lihat pada laporan yang dikeluarkan, baik oleh

Badan Pusat Statistik maupun dalam literatur-literatur ekonomi lainnnya

(misalnya, Prema Chandra Athukorola, Bulletin Of Indonesian Economic Studies,

Agustus 2002; Badan Pusat Statistik, 2002 dan 2003). Mesin pemulihan ekonomi

selama ini masih sangat tergantung pada besaran tingkat konsumsi semata, dan

sedikit didorong oleh kegiatan investasi portofolio dan ekspor.

Ditengah pemulihan ekonomi yang masih lambat ini, perekonomian

nasional dihantui pula dengan ambisi nasional untuk melakukan otonomi daerah

dan desentralisasi. Selain itu, adanya komitment nasional untuk melaksanakan

perdagangan bebas multilateral (WTO), regional (AFTA), kerjasama informal

APEC, dan bahkan ASEAN Economic Community (AEC) tahun 2020 merupakan

tambahan pekerjaan rumah yang harus pula disikapi secara serius. Dalam hal

otonomi daerah dan desentralisasi, berbagai persoalan masih semrawut. Ini terjadi

karena disatu pihak ada pihak-pihak tertentu yang tetap berkeinginan untuk

melakukan otonomi daerah dan desentralisasi sesuai dengan UU no. 22/1999 dan

UU no. 25/1999, sedangkan di pihak lain banyak yang menuntut revisi alas kedua

undang-undang tersebut. Tarik menarik ini selanjutnya menimbulkan berbagai

ketidakpastian, sehingga banyak daerah menetapkan berbagai peraturan baru

khususnya yang berkaitan dengan pajak daerah, lisensi dan pungutan lainnya.

Diperkirakan lebih dari 1000 peraturan yang berkaitan dengan pajak dan pungutan
lainnya telah dikeluarkan daerah-daerah sejak diundangkannya pelaksanaan

desentralisasi (Jakarta Post, 6 Mei 2002). Peraturan-peraturan ini telah

menghasilkan beban berat bagi pelaksanaan kegiatan usaha di daerah (Firdausy,

2002; Ilyas Saad, 2002).

Dalam situasi dan kondisi ekonomi yang belum kondusif ini,

pengembangan kegiatan usaha kecil dan menengah (selanjutnya disebut UKM)

dianggap sebagai satu alternatif penting yang mampu mengurangi beban berat

yang dihadapi perekonomian nasional dan daerah. Argumentasi ekonomi

dibelakang ini yakni karena UKM merupakan kegiatan usaha dominan yang

dimiliki bangsa ini. Selain itu pengembangan kegiatan UKM relatif tidak

memerlukan kapital yang besar dan dalam periode krisis selama ini UKM relatif

Utahan banting", terutama UKM yang berkaitan dengan kegiatan usaha pertanian.

Depresiasi rupiah terhadap dollar Amerika telah menyebabkan UKM dalam sektor

pertanian dapat mengeruk keuntungan yang relatif besar. Sebaliknya, UKM yang

tergantung pada input import mengalami keterpurukan dengan adanya gejolak

depresiasi rupiah ini.

Tulisan singkat ini bertujuan untuk mediskusikan prospek bisnis UKM

dalam era perdagangan bebas dan otonomi daerah. Untuk membahas topik ini,

berikut akan diuraikan potensi dan kontribusi UKM terhadap perekonomian

nasional sebagai latar belakang analisis. Kemudian, didiskusikan upaya apa yang

harus dilakukan dalam pengembangan UKM khususnya di daerah dalam

menghadapi perdagangan bebas dan otonomi daerah.


Potensi dan Kontribusi UKM terhadap Perekonomian

Usaha kecil dan menengah (UKM) memegang peranan penting dalam

ekonomi Indonesia, baik ditinjau dari segi jumlah usaha (establishment) maupun

dari segi penciptaan lapangan kerja. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh BPS

dan Kantor Menteri Negara untuk Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah

(Menegkop & UKM), usaha-usaha kecil termasuk usaha-usaha rumah tangga atau

mikro (yaitu usaha dengan jumlah total penjualan (turn over) setahun yang kurang

dari Rp. 1 milyar), pada tahun 2000 meliputi 99,9 persen dari total usaha-usaha

yang bergerak di Indonesia. Sedangkan usaha-usaha menengah (yaitu usaha-usaha

dengan total penjualan tahunan yang berkisar antara Rp. 1 Milyar dan Rp. 50

Milyar) meliputi hanya 0,14 persen dari jumlah total usaha. Dengan demikian,

potensi UKM sebagai keseluruhan meliputi 99,9 per sen dari jumlah total usaha

yang bergerak di Indonesia.

Besarnya peran UKM ini mengindikasikan bahwa UKM merupakan sektor

usaha dominan dalam menyerap tenaga kerja. Berdasarkan survei yang dilakukan

BPS (2000), pad a tahun 1999 usaha-usaha kecil (termasuk usaha rumah tangga)

mempekerjakan 88,7 persen dari seluruh angkatan kerja Indonesia., sedangkan

usaha menengah mempekerjakan sebanyak 10,7 persen. Ini berarti bahwa UKM

mempekerjakan sebanyak 99,4 persen dari seluruh angkatan kerja Indonesia.

Disamping ini nilai tambah bruto total yang dihasilkan usaha-usaha kecil secara

keseluruhan meliputi 41,9 per sen dari Produk Domestik Bruto (POB) Indonesia

pada tahun 1999, sedangkan usaha-usaha menengah secara keseluruhan

menghasilkan 17,5 persen dari POB (Iihat juga Thee Kian Wie, 2001). Dengan
demikian, nilai tambah bruto total yang dihasilkan UKM secara keseluruhan

hampir sebesar 60 persen dari POB (TabeI1).

Tabel.1. Jumlah tenaga kerja dan kontribusi UKM pada PDB, 1999

Usaha Kecil Usaha Usaha Kecil Usaha Total


(termasuk Menengah Dan Besar
mikro) Menengah
Jumlah 36.761.689 51.889 36.813.588 1831 36.816.409
Usaha (99.85%) (0.14%) (99.99%) (0.01%) (100.0%)
Jumlah 57.965.368 7.009.393 64.974.761 364.975 65.339.736
Tenaga (88.7%) (10.7%) (99.4%) (0.6%) (100.0%)
kerja
Sumbangan 450.415.060 187.825.282 638.240.342 436.901.970 1.075.142.312
pada (41.9%) (17.5%) (59.4%) (40.6%) (100.0%)
PDB (dalam
jutaan
Rp. Pada
harga
berlaku

Note : Usaha kecil (termasuk mikro) adalah usaha dengan jumlah penjualan
yang kurang dari Rp. 1 Milyar. Usaha menengah adalah usaha dengan
jumlah penjualan antara Rp. 1 Milyar dan Rp. 50 Milyar. Usaha besar
adalah usaha dengan jumlah penjualan yang melebihi Rp. 50 milyar.
Sumber : BPS, 2000; Urata, 2000.

Dari angka-angka pada Tabel.1 di atas dapat diperhatikan bahwa struktur

ekonomi nasional masih bersifat dualistik atau lebih memperlihatkan strukturyang

tersegmentasi (Thee Kian Wie, 2001). Di satu sisi jumlah usaha besar hanya

berjumlah sedikit yakni 0,01 per sen dari jumlah total usaha yang ada, namun

menghasilkan tidak kurang dari 40,6 persen dari POB Indonesia, sedangkan UKM

yang meliputi 99,9 persen dari seluruh usaha hanya menghasilkan 59,4 persen dari

POB Indonesia.
Potret dualistik struktur usaha nasional juga terjadi pada sektor industri

manufaktur. Berdasarkan data BPS (1999), jumlah total usaha menengah dan

besar hanya meliputi 0,8 per sen dari seluruh usaha yang bergerak di sektor

industri manufaktur. Namun dalam kontribusinya terhadap PDB, UMB (usaha

menengah dan besar) menghasilkan tidak kurang dari 91 ,7 per sen pada tahun

1999. Disisi lain usaha kecil dan rumah tangga meliputi 99,2 per sen dari total

usaha, namun hanya memberikan kontribusi terhadap PDB sebesar 8,3 persen dari

nilai tambah bruto total yang dihasilkan sektor industri manufaktur (TabeI2).

Tabel. 2. Jumlah Usaha, Tenaga Kerja, dan Sumbangan Usaha pada Nilai
Tambah Bruto Sektor Industri Manufaktur.

Usaha rumah Usaha Kecil Usaha Usaha Total


Tangga(mikro) Rumah Menengah
Tangga dan dan Besar
Kecil
Jumlah Usaha 2.610.693 241.169 2.851.862 22.386 2.874.248
(90.8%) (8.4%) (99.2%) (0.8%) (100.0%)
Jumlah 4.275.424 2.077.298 6.353.722 4.170.093 10.522.815
Tenaga kerja (40.6%) (19.7%) (60.4%) (39.6%) (100.0%)
Sumbangan 4.293 4.802 9.095 100.909 110.004
pada nilai (3.9%) (4.4%) (8.3%) (91.7%) (100.0%)
tambah bruto
sector industri
manufaktur
(milyar rupiah
pada harga
berlaku)

Catatan : Usaha rumah tangga adalah usaha yang mempekerjakan kurang dari
lima (5) pekerja termasuk tenaga keluarga; Usaha kecil adalah usaha
yang mempekerjakan antara 5-19 tenaga kerja; usaha menengah adalah
usaha yang mempekerjakan antara 20-99 tenaga kerja; Usaha Besar
adalah usaha yang mempekerjakan lebih dari 100 tenaga kerja.
Sumber: Badan Pusat Statistik, 2000.
Perkembangan UKM ini tidak hanya terdapat di pulau Jawa saja, melainkan juga

tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Umumnya UKM ini bergerak di berbagai

sentra industri (industrial clusters) yang terse- bar di berbagai dae- rah di

Indonesia. Sentra industri kecil ini umumnya bergerak di industri yang mengolah

sumberdaya alam (resource based industries) dan menghasilkan barang-barang

yang khusus di produksi daerah- daerah tersebut. Kebanyakan UKM yang relatif

besar (dengan rata-rata penjualan di atas Rp. 1 Milyar setahun) yang bergerak di

sektor industri manufaktur relatif lebih banyak terdapat dipulau Jawa, sedangkan

UKM yang relatif lebih kecil (dengan penjualan kurang dari Rp. 1 milyar setahun)

lebih banyak terdapat di daerah-daerah luar Jawa. Pada Tabel 3 dapat diperhatikan

kegiatan UKM di pulau Jawa dengan penjualan di atas Rp. 1 Milyar yakni

sebanyak 66,8 persen dan

Tabel. 3. Persentase Jumlah Usaha Kecil danMenengah di sektor Industri

Manufaktur di Jawa dan Luar Jawa Menurut Nilai Penjualan sisanya berasal dari

luar Pulau Jawa. Kondisi yang sarna juga terlihat pada kegiatan UKM dengan

penjualan di bawah Rp. 1 Milyar dimana sekitar 53,7 persen berasal dari Jawa.

Penjualan di atas Rp. 1 milyar Penjualan di bawah Rp. 1 milyar


Jawa luar 66.8% 53.7%
Jawa 33.2% 46.3%
Total 100.0% 100.0%
Sumber: Deprindag, 2001; Urata, 2000
Potret dominasi UKM di Pulau Jawa tentu saja bukan merupakan hal yang

mengejutkan. Hal ini karena kegiatan ekonomi nasional berpusat di Jawa dengan penduduk

melebihi dua pertiga total penduduk Indonesia sehingga berfungsi sebagai daya tarik

pengembangan kegiatan usaha. Daya tarik lain yakni karena akses dan fasilitas untuk

pengembangan kegiatan ekonomi di Pulau Jawa jauh lebih baik dibandingkan Pulau-Pulau

lain di luar Jawa.

Tabel. 4. Peranan UKM dalam Ekspor 1993-1999 Uutaan US$)


1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 (s/d
September)

Ekspor total 36.823 40.053 49.418 49.814 63.44 48.848 25.922

Ekspor 1.665 2.214 2.160 2.503 2.522 3.646 1.205


Industri kecil
Ekspor 4.6% 5.5% 4.8% 5.0% 4.7% 7.5% 4.6%
industri kecil
terhadap
persentase
ekspor total
Sumber BPS, 2000 dan Depprindag , 2000; Urata, 2000

Kontribusi ekspor, UKM mempunyai potensi besar dalam meningkatkan

penerimaan ekspor Namun besarnya potensi ini belum dioptimalkan. Jenis UKM yang

selama ini mempunyai kontribusi penting pada pemasukan eksporyakni UKM yang

bergerak di sektor industri manufaktur, seperti garmen, tekstil dan produk tekstil, dan

sepatu. UKM jenis ini sudah lama memegang peranan penting dalam kegiatan ekspor.

Peningkatan peranan UKM terhadap ekspor ini terutama pada periode krisis yang terjadi

sejak tahun 1997. Kegiatan UKM yang banyak memberikan kontribusi pad a pemasukan

neraca perdagangan yakni UKM dalam arti sempit (tidak termasuk Usaha Rumah Tangga).
Pada Tabel. 4 dapat diperhatikan bahwa kontribusi UKM sebelum terjadinya krisis

ekonomi (1993-1997) relatif rendah dibandingkan dengan kontribusinya pada periode

krisis, khususnya pada tahun 1998. Pada periode sebelum krisis ekonomi, kontribusi UKM

terhadap ekspor berkisar antara 4,6 persen sampai 5,5 persen. Pada saat perekonomian

nasional anjlok* dengan pertumbuhan ekonomi negatif 14 persen, kontribusi UKM

melonjak dari 4,7 persen pada tahun 1997 menjadi 7,5 persen. Kontribusi UKM terhadap

penerimaan ekspor yang meningkat tersebut paling tidak mempunyai tiga arti penting.

Pertama, UKM merupakan kegiatan ekonomi yang relatif tahan banting ketimbang

kegiatan usaha besar. Kedua, peran UKM dalam penerimaan ekspor nasional cukup penting

dan berpotensi untuk lebih ditingkatkan lagi di masa datang. Ketiga, pengembangan potensi

ekspor UKM ini dapat membantu meringankan tekanan pada neraca pembayaran

internasional sebagai akibat dari besarnya hutang luar negeri maupun karena adanya

rencana pemerintah untuk menarik diri dari program IMF akhir tahun 2003.

Ketahanan bisnis UKM terhadap krisis ekonomi tersebut di atas telah diteliti juga oleh

Urata (2000), Thee Kian Wie (2001) dan The Asia Foundation (1999). Lebih lanjut studi

yang pernah dilakukan. Urata (2000), menemukan bahwa dampak krisis ekonomi ternyata

lebih dahsyat terjadi di perkotaan dibandingkan dengan di daerah pedesaan. Hal ini

dikarenakan pada umumnya usaha besar berlokasi di daerah perkotaan, sebaliknya UKM

relatif berlokasi di daerah pedesaan. Dengan demikian, UKM dapat diharapkan berperanan

penting dalam peningkatan pembangunan ekonomi daerah pedesaan. Dan ini berarti dengan

adanya pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi sejak awal tahun 2001, maka tidak
dapat dihindarkan pentingnya peningkatan peran UKM dalam memberdayakan

perekonomian daerah.

Upaya Pengembangan Iklim Usaha dalam Mendorong UKM di Masa Datang

Prospek bisnis UKM dalam era perdagangan bebas dan otonomi daerah sangat

tergantung pada upaya yang ditempuh oleh pemerintah dalam mengembangkan bisnis

UKM. Salah satu upaya kunci yang perlu dilakukan adalah bagaimana mengembangkan

iklim usaha yang kondusif bagi UKM. Untuk mencapai iklim usaha yang kondusif ini,

diperlukan penciptaan lingkungan kebijakan yang kondusif bagi UKM. Kebijakan yang

kondusif dimaksud dapat diartikan sebagai lingkungan kebijakan yang transparan dan tidak

membebani UKM secara finansial bicara berlebihan. Ini berarti berbagai campur tangan

pemerintah yang berlebihan, baik pada tingkat pusat maupun daerah harus dihapuskan,

khususnya penghapusan berbagai peraturan dan persyaratan administratif yang rumit dan

menghambat kegiatan UKM.

Suatu faktor penting di beberapa daerah yang sangat mengurangi daya saing UKM

adalah pungutan liar (pungli) atau sumbangan wajib yang dikenakan pejabat aparat

pemerintah. Pungli liar ini tentu saja akan meningkatkan biaya operasi UKM sehingga

mengurangi daya saing mereka. Dengan demikian, pungutan liar maupun beban fiskal yang

memberatkan perkembangan UKM di daerah harus dihapuskan.

Selain penciptaan lingkungan bisnis yang kondusif, program-program

pengembangan UKM yang diarahkan pada supply driven strategy sebaiknya mulai

ditinggalkan, sebagai pengganti dari arah program ini yakni pengembangan program UKM

yang berorientasi pasaryang didasarkan atas pertimbangan efisiensi dan kebutuhan riel
UKM (market oriented, demand driven programs). Fokus dari program ini yakni

pertumbuhan UKM yang efisien ditentukan oleh pertumbuhan produktivitas UKM yang

berkelanjutan, dan pada gilirannya akan mendorong pertumbuhan UKM yang

berkelanjutan. Secara lebih spesisfik The Asia Foundation (2000 dalam Thee Kian Wie,

2001) membagi fokus pengembangan UKM baru yang berorientasi pasar tersebut dalam

empat unsur pokok, yaitu: (1) pengembangan lingkungan bisnis yang kondusif bagi UKM;

(2) pengembangan lembaga-lembaga finansial yang bisa memberikan akses kredit yang

lebih mudah kepada U KM atas dasar transparansi; (3) pelayanan jasa-jasa pengembangan

bisnis non-finansial kepada UKM yang lebih efektif; dan (4) pembentukan aliansi strategis

antara UKM dan UKM lainnya atau dengan usaha besar di Indonesia atau di luar negeri.

Untuk pengembangan lembaga-lembaga finansial yang memberikan akses kredit

kepada UKM atas dasar terbuka dan transparan diperlukan pengembangan lembaga-

lembaga finansial yang sehat di daerah. Berbeda dengan kredit-kredit yang wajib diberikan

oleh bank-bank komersial kepada UKM dalam rangka skim KUK atau skim kredit

likuiditas yang disalurkan kepada UKM oleh BRI (Bank Rakyat Indonesia) dan BTN (Bank

Tabungan Negara), maka dalam skim baru ini lembaga- lembaga finansial wajib

memudahkan akses kredit kepada U KM atas dasar terbuka dan transparan. Pengalaman

dengan berbagai skim kredit untuk UKM telah menunjukkan, bahwa akses yang mudah ke

berbagai sumber pendanaan jauh lebih efektif dalam membantu operasi UKM daripada

suku bunga kredit.

Dalam hubungan ini, maka peran pemerintah daerah adalah menyediakan kerangka

perundang-undangan dan peraturan- peraturan baru yang memungkinkan mekanisme pasar


dapat berfungsi dengan baik. Dalam hubungan ini diperlukan suatu standar pengawasan dan

standar akutansi baru untuk bank-bank dagang (commercials Bank) dan

bank-bank perkreditan (BPR) agar mereka tidak melakukan diskriminasi yang tidak perlu

dalam pemberian kredit kepada UKM. Dalam pemberian kredit kepada UKM, juga

diperlukan suatu mekanisme transparansi berupa pemberian laporan bank-bank dagang

yang benar tentang kredit yang telah diberikan kepada UKM (Timnberg, 2000 dalam Thee

Kian Wie, 2001). Peraturan-peraturan ini tentu saja harus dilaksanakan secara konsisten

dan konsekuen.

Selanjutnya, upaya pengembangan jasa- jasa non-finansial melalui program bantuan

tehnis (technical assistance programs) yang sebelumnya diberikan oleh pemerintah atau

pejabat pemerintah, pada saat ini dan mendatang harus segera diserahkan pada pihak-pihak

yang mempunyai kompetensi tinggi di bidangnya. Hal ini dimaksudkan agar bantuan tehnis

yang diberikan kepada UKM dapat sesuai dengan kebutuhan riil yang diharapkan oleh

pasar (market oriented dan demand driven programs). Dengan demikian tenaga-tenaga

penyuluh UKM yang bertugas membantu UKM adalah mereka yang benar- benar terampil

dan berwenang serta memahami kebutuhan UKM. Dalam hubungan ini, maka sektor

swasta perlu menjadi alternatif dalam pelaksanaan program ini. Selain itu, peran instansi-

instansi yang terlalu berlebihan dan tumpang tindih dalam program jasa pengembangan

bisnis UKM sebaiknya dikurangi secara bertahap, terutama program yang ternyata kurang

efektif dan efisien, sehingga dapat diganti program pengembangan bisnis UKM yang

dilaksanakan pihak swasta.

Pembentukan aliansi strategis antara UKM dengan usaha-usaha aging merupakan

mekanisme yang paling penting dan efektif untuk alih informasi bisnis, teknologi,
kemampuan manajerial serta organisatoris, serta akses ke pasar ekspor bagi UKM daripada

bantuan yang diberikan oleh instansi pemerintah. Aliansi strategis ini berbeda dengan

program kemitraan dan keterkaitan Bapak angkat dan mitra usaha yang kita kenai selama

ini. Ini karena kemitraan dan keterkaitan cenderung didasarkan atas dorongan, kadang-

kadang paksaan pemerintah, dan bukan atas kehendak kedua belah pihak, sehingga

pengalaman menujukkan program ini tidak efektif. Dalam aliansi ini, maka UKM dan

usaha lain, baik usaha besar atau UKM lainnya, ataupun usaha aging atau usaha domestik

melakukan kerjasama yang didasarkan atas kemauan dan kepentingan bersama. Dengan

demikian dalam aliansi ini tidak terjadi paksaan yang tidak perlu. Keberhasilan model

aliansi strategis ini telah pula dibuktikan manfaatnya bagi pengembangan UKM di

Indonesia.
Penutup

Prospek bisnis UKM di Indonesia masih menghadapi ujian berat, walaupun dari sisi potensi

jumlah dan kemampuan menyerap tenaga kerja, UKM memiliki keunggulan mutlak. Ujian

berat yang dihadapi UKM masih berkutat dalam hal peningkatan kemampuan internalnya

sendiri, maupun juga permasalahan eksternal lainnya. Kondisi UKM yang belum baik ini,

jika tidak diperbaiki segera akan menjadi bertambah terpuruk dengan adanya perdagangan

be bas dan otonomi daerah. Oleh karena itu, untuk mengatasi kemelut yang dihadapi UKM,

maka tidak lain kebijakan yang mendorong langsung perkembangan UKM pada masa kini

dan di masa datang sangat diperlukan. Kebijakan langsung dimaksud bukan hanya dalam

hal penyediaan faktor-faktor produksi dan lingkungan bisnis yang sangat diperlukan UKM,

melainkan juga (bila diperlukan) kebijakan proteksi terhadap UKM tertentu. Kebijakan

proteksi ini jangan ditafsirkan bahwa kita harus segera menghentikan komitmen kita

terhadap semangat liberalisasi dan globalisasi yang telah kita setujui, namun lebih

dimaksudkan sebagai upaya untuk menseleksi kegiatan-kegiatan ekonomi yang masih harus

dilindungi, terutama UKM yang baru tumbuh (infant industries) maupun UKM yang

mempunyai keterkaitan dengan rakyat kebanyakan. Ini karena bila tidak dilindungi, maka

UKM dalam kelompok ini akan tergilas dengan adanya perdagangan bebas. Singkat kata,

prospek bisnis UKM kini dan mendatang dalam menghadapi perdagangan bebas dan

otonomi daerah sangat tergantung tidak hanya pada upaya kita dalam meningkatkan daya

saing UKM, melainkan juga pada komitmen nasional untuk secara serius mengembangkan
kegiatan usaha ini. Tanpa ini semua, perdagangan bebas dan otonomi daerah hanya akan

menjadi malapetaka dahsyat bagi kelangsungan pembangunan Indonesia kini dan

mendatang.

Daftar Pustaka

Admiraal, P.H., (ed), 1996. Small Business in the Modern Economy, Blackwell –
Oxford.

Athukorala, P., 2002. Survey of recent development, Bulletin of Indonesian


Economic Studies, vol. 38, no. 2, August 2002.

Badan Pusat Statistik, 1999. Sensus Ekonomi 1996: Hasil Pencacahan Lengkap
Indonesia, BPS, Jakarta.

____________,2000. Perkembangan UKM di Indonesia, mimeo, Jakarta.

Baumol, W. J, 1998. Entreprenuership : productive, Unproductive and


destructive, Journal of Political Economy,vol 98, pp. 893-921.

Berry, A., E. Rodrigues and H. Sandee, 2001. Small and Medium Enterprises
Dynamics in Indonesia, Bulletin of Indonesian Economic Studies,
vol. 37. no. 3, ANU.

Deuster, P.R., 2002. Survey of Recent Development, Bulletin of Indonesian


Economic Studies, vol 38, no. 1, August 2002.

Firdausy, C.M., 2000. Desentralisasi Fiskal di Indonesia : Isu dan Kebijakan


( Fiscal Desentralization in Indonesia : Issues and Policies), Paper
presented at Seminar in Islamic University of Bandung, Bandung, March 20, 2001.

___________,1999. Women Exnterpreneurs in SMEs : An Indonesian Case,


Korean Development Research Institute, Seoul.

___________,1998. Dampak Persetujuan Putaran Uruguay-GATT terhadap


Industri Kecil, Universitas Indonesia, Jakarta.

__________, 2002. Stategi pengembangan Iklim Usaha dalam Pengembangan


Usaha Kecil dan Menegah di Daerah, Jurnal Ekonomi UNTAR, vol 7, no. 1, Jakarta.

___________, 2000.Tantangan dan Peluang Globalisasi Bagi Perekonomian


Nasional, dalam INDONESIA MENAPAK ABAD 21 : KAJIAN EKONOMI
POLITIK, Milenium Publisher-IPSK LIPI, Jakarta.

Grizzell, S., 1988. Promoting Small-Scale Manufacturing in Indonseia : What


Works ? Development Studies Project II, research Project memo no. 17, Jakarta.

Group of Lisbon, 1995. Limits to competition, Cambridge, USA, MIT Press.

Hidayat, S., 2000. Otonomi daerah dalam Perspektif Lokal (Local Autonomy
in Local Perspective), Monograph. Centre for Economic Research –LIPI, Jakarta.