Anda di halaman 1dari 34

Perbandingan Sistem Transportasi Amerika Serikat, Indonesia, dan Inggris

KATA PENGANTAR

Penulis mengucapkan syukur Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan nikmat dan karunianya sehingga karya tulis ini dapat selesai dengan
lancar. Makalah ini merupakan hasil telaah pustaka dan diskusi mengenai persamaan
dan perbedaan sistem transportasi Amerika Serikat, Indonesia, dan Inggris.
Diharapkan dengan telaah ini dapat diketahui aspek apa saja yang dapat dipelajari dan
diadaptasi oleh negara kita supaya dapat terwujud sistem transportasi yang baik di
Indonesia.
Karya tulis ini dapat selesai dengan lancar berkat bantuan berbagai pihak.
Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Tuhan Yang Maha Esa;

2. Dosen sekaligus fasilitator dalam Mata Kuliah Perbandingan


Administrasi Negara

3. Orang tua kami yang telah memberikan dukungan dan semangat


kepada kami, serta berbagai pihak yang tidak bisa kami sebutkan
semua.

Penulis menyadari karya tulis ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena
itu kami menerima segala kritik dan saran yang bersifat membangun. Akhirnya
penulis berharap karya tulis ini dapat bermanfaat untuk semua pihak khususnya
masyarakat Indonesia.

Depok, Maret 2010

Tim Penyusun

1
Perbandingan Sistem Transportasi Amerika Serikat, Indonesia, dan Inggris

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................. 1


DAFTAR ISI ................................................................................................................ 2
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................ 3
I.1 Latar Belakang .............................................................................................. 3
I.2 Rumusan Masalah ......................................................................................... 4
I.3 Tujuan Penulisan .......................................................................................... 4
I.4 Sistematika Penulisan ................................................................................... 4
BAB II LANDASAN TEORI ...................................................................................... 6
II.1 Pengertian Transportasi................................................................................. 6
II.2 Fungsi dan Manfaat Transportasi ................................................................. 6
II.3 Jenis Transportasi ......................................................................................... 7
II.4 Transportasi Publik ...................................................................................... 7
BAB III PEMBAHASAN ............................................................................................ 8
III.1 Sistem Transportasi di Amerika Serikat, Inggris dan Indonesia ................. 8
III.2 Perbedaan, Persamaan, dan Hal yang dapat diaplikasikan di Indonesia dari
Sistem Transportasi Amerika Serikat dan Inggris .....................................27
III.3 Analisis ...................................................................................................... 30
BAB IV PENUTUP .................................................................................................... 31
IV.1 Kesimpulan ............................................................................................... 33
IV.2 Saran .......................................................................................................... 34
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 35

2
Perbandingan Sistem Transportasi Amerika Serikat, Indonesia, dan Inggris

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Masalah


Tidak dapat dipungkiri saat ini dunia sudah mulai terintegrasi satu sama
lainnya. Globalisasi membawa setiap negara seolah menjadi tanpa sekat dan tidak ada
batasan ruang dan waktu. Globalisasi membawa kesenjangan dan ketidaksetaraan
antara kaum miskin dan kaya. Istilah globalisasi sebenarnya sangat banyak dan
memiliki unsur tersendiri. Untuk pertama kalinya Theodore Levitt, 1995 menyatakan
bahwa globalisasi dapat diartikan sebagai suatu proses westernisasi atau modernisasi
yaitu merebaknya struktur modernitas barat yang menyangkut kapitalisme,
rasionalisme, industrialisme, birokratisme, dan lain sebagainya yang cenderung
merusak budaya lokal yang sudah ada sebelumnya. Proses globalisasi juga
menghendaki adanya penyatuan dunia dalam satu sistem terpadu yang membentuk
perkampungan global (global village). Penyatuan dunia ini membuat dunia menjadi
semakin sempit dan tidak dapat terelakkan lagi bahwa kemajuan teknologi,
komunikasi, dan transportasi menjadi penyokong utama perubahan dunia tersebut.
Ketika dunia sedang berusaha disatukan dalam suatu tatanan yang integral
muncul pertanyaan pengaruh apa yang dihasilkan dari adanya globalisasi. Globalisasi
berpengaruh terhadap segala aspek kehidupan seperti aspek ekonomi, nasionalisme,
komunikasi, sistem transportasi, dan bahkan lingkungan hidup. Sistem transportasi
menjadi hal yang penting dan krusial dalam masyakat yang sudah terglobalisasi.
Dunia yang semakin sempit tersebut menyebabkan manusia dapat lebih mudah untuk
melakukan perjalanan dikarenakan sistem transportasi yang ada menjadi lebih cepat,
mudah, massive, dan murah. Artinya, sistem transportasi menjadi bagian terpenting
dalam kehidupan sehari-hari manusia dan menjadi kebutuhan primer yang dapat
dirasakan langsung oleh masyarakat.
Berdasarkan pemaparan singkat mengenai globalisasi dan pengaruhnya
terhadap kebutuhan manusia akan sistem transportasi, penulis ingin mengetahui dan
mengkaji lebih jauh bagaimana sistem transportasi di Indonesia. Apakah sistem
transportasi Indonesia sudah lebih baik atau sebaliknya, menjadi semakin buruk dan
3
Perbandingan Sistem Transportasi Amerika Serikat, Indonesia, dan Inggris

tidak terkontrol, terlebih apabila melihat fakta konkritnya yang terjadi di lapangan,
sistem transportasi di Indonesia cenderung disoroti sebagai sistem yang dijalankan
dengan kualitas yang dianggap rendah, berstandar keselamatan rendah, dan
kenyamanan yang juga rendah.
Oleh karenanya, permasalahan yang kemudian hendak dikaji dalam makalah
ini adalah bagaimana kualitas dan kemajuan sistem tranportasi di Indonesia,
khususnya pada sistem transportasi massal (Mass Rapid Transportation, MRT) seperti
angkutan kereta commuter dan bus perkotaan. Untuk memperoleh gambaran yang
nyata, makalah ini akan membandingkan sistem transportasi Indonesia dengan sistem
transportasi di negara-negara yang sudah maju seperti Amerika Serikat dan Inggris,
dimana masyarakat di dunia sudah mengakui kemajuan sistem transportasi di
Amerika Serikat dan Inggris. Berangkat dari kenyataan bahwa jumlah penduduk
Indonesia semakin banyak dan meningkat dari tahun ke tahun, tentu saja alangkah
baiknya untuk mencari tahu persamaan dan perbedaan sistem transportasi negara-
negara tersebut, pada segi MRT yang menyangkut aspek kehidupan pertransportasian
sehari-hari.

I.2 Rumusan Masalah


 Bagaimanakah sistem transportasi kereta commuter dan bus perkotaan di
Indonesia jika dibandingkan dengan Amerika Serikat dan Inggris?
 Apa saja persamaan dan perbedaan sistem transportasi ketiga negara tersebut
dan apa yang dapat dipelajari serta diaplikasikan di Indonesia dari sistem MRT
di Amerika Serikat dan Inggris ?

I.3 Tujuan Penulisan


 Menjelaskan bagaimana sistem tranportasi kereta commuter dan bus perkotaan
di Indonesia dibandingkan dengan Amerika Serikat dan Inggris.
 Mengetahui persamaan dan perbedaan sistem transportasi ketiga negara
tersebut dan hal yang dapat dipelajari serta diaplikasikan di Indonesia dari
sistem MRT di Amerika Serikat dan Inggris

I.4 Sistematika Penulisan


Penulisan makalah ini antara lain dengan sistematika sebagai berikut:

4
Perbandingan Sistem Transportasi Amerika Serikat, Indonesia, dan Inggris

Bab I pendahuluan antara lain terdiri atas latar belakang, rumusan masalah, tujuan
penulisan dan sistematika penulisan. Bab II Landasan Teori yang terdiri atas
pengertian transportasi, fungsi dan manfaat transportasi, jenis transportasi, dan
transportasi publik . Bab III isi terdiri atas perbandingan sistem transportasi Indonesia
dibandingkan dengan Amerika Serikat dan Inggris, serta persamaan dan perbedaan
sistem transportasi ketiga negara tersebut dan hal yang dapat dipelajari serta
diaplikasikan di Indonesia dari sistem MRT di Amerika Serikat dan Inggris . Bab IV
penutup yang terdiri atas kesimpulan dan saran.

5
Perbandingan Sistem Transportasi Amerika Serikat, Indonesia, dan Inggris

BAB II
LANDASAN TEORI

II.1 Pengertian Transportasi


Menurut Utomo, transportasi adalah pemindahan barang dan manusia dari tempat
asal ke tempat tujuan. Sedangkan menurut Sukarto, transportasi adalah perpindahandari
suatu tempat ke tempat lain dengan menggunakan alat pengangkutan, baik yang
digerakkan oleh tenaga manusia, hewan (kuda, sapi, kerbau), atau mesin. Konsep
transportasi didasarkan pada adanya perjalanan (trip) antara asal (origin) dan tujuan
(destination).
Di dalam transportasi, terdapat unsur-unsur yang terkait erat dalam berjalannya
konsep transportasi itu sendiri. Unsur-unsur tersebut adalah sebagai berikut:
• Manusia yang membutuhkan
• Barang yang dibutuhkan
• Kendaraan sebagai alat/sarana
• Jalan dan terminal sebagai prasarana transportasi
• Organisasi (pengelola transportasi)

II.2 Fungsi dan Manfaat Transportasi


Menurut Utamo, transportasi memiliki fungsi dan manfaat yang terklasifikasi
menjadi beberapa bagian penting. Transportasi memiliki fungsi yang terbagi menjadi dua
yaitu melancarkan arus barang dan manusia dan menunjang perkembangan pembangunan
(the promoting sector). Sedangkan manfaat transportasi menjadi tiga klasifikasi yaitu:
1. Manfaat Ekonomi
Kegiatan ekonomi bertujuan memenuhi kebutuhan manusia dengan menciptakan manfaat.
Transportasi adalah salah satu jenis kegiatan yang menyangkut peningkatan kebutuhan
manusia dengan mengubah letak geografis barang dan orang sehingga akan menimbulkan
adanya transaksi.
2. Manfaat Sosial
Transportasi menyediakan berbagai kemudahan, diantaranya a) pelayanan untuk
perorangan atau kelompok, b) pertukaran atau penyampaian informasi, c) Perjalanan
untuk bersantai, d) Memendekkan jarak, e) Memencarkan penduduk.
3. Manfaat Politis

6
Perbandingan Sistem Transportasi Amerika Serikat, Indonesia, dan Inggris

Transportasi menciptakan persatuan, pelayanan lebih luas, keamanan negara, mengatasi


bencana, dll.
4. Manfaat Kewilayahan
Memenuhi kebutuhan penduduk di kota, desa, atau pedalaman.

II.3 Jenis-Jenis Transportasi


Menurut Utomo pula, jenis-jenis transportasi terbagi menjadi tiga yaitu,
• Transportasi darat: kendaraan bermotor, kereta api, gerobak yang ditarik oleh
hewan (kuda, sapi,kerbau), atau manusia. Moda transportasi darat dipilih
berdasarkan faktor-faktor seperti jenis dan spesifikasi kendaraan, jarak
perjalanan, tujuan perjalanan, ketersediaan moda, ukuran kota dan kerapatan
permukiman, faktor sosial-ekonomi.
• Transportasi air (sungai, danau, laut): kapal,tongkang, perahu, rakit.
• Transportasi udara: pesawat terbang.
• Transportasi udara dapat menjangkau tempat – tempat yang tidak dapat
ditempuh dengan moda darat atau laut, di samping mampu bergerak lebih
cepat dan mempunyai lintasan yang lurus, serta praktis bebas hambatan.

II.4 Transportasi Publik


Menurut Sukarto, transportasi publik adalah seluruh alat transportasi di mana
penumpang tidak bepergian menggunakan kendaraannya sendiri. Transportasi publik
umumnya termasuk kereta dan bis, namun juga termasuk pelayanan maskapai
penerbangan, feri, taxi, dan lain-lain.
Konsep transportasi publik sendiri tidak dapat dilepaskan dari konsep
kendaraan umum. Pengertian kendaraan umum berdasarkan Keputusan Menteri
Perhubungan Nomor. 35 Tahun 2003 Tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang di
Jalan dengan kendaraan umum yaitu Kendaraan umum adalah setiap kendaraan
bermotor yang disediakan untuk dipergunakan oleh umum dengan dipungut bayaran
baik langsung maupun tidak langsung.

7
Perbandingan Sistem Transportasi Amerika Serikat, Indonesia, dan Inggris

BAB III
PEMBAHASAN

III.1 Sistem Transportasi di Amerika Serikat, Inggris dan Indonesia

Sistem Transportasi di New York, Amerika Serikat.


Pelayanan transportasi yang kurang prima, tidak nyaman dan berbahaya
menjadi salah satu faktor utama dimana masyarakat lebih menyukai menggunakan
kendaraan pribadi dibandingkan harus menggunakan kendaraan umum. Namun
pilihan berkendara menggunakan kendaraan pribadi menimbulkan berbagai dampak
negatif seperti keperluan akan bahan bakar yang besar, kemacetan dan polusi udara.
Negara-negara maju sangat peduli untuk memberikan pelayanan maksimal kepada
pelanggannya. Oleh karenanya, otoritas publik melakukan penyediaan sarana
transportasi kereta commuter dan bus perkotaan yang terdapat di New York, Amerika
Serikat di bawah naungan New York City Transit Authority (NYCTA).
NYCTA merupakan bagian dari Metropolitan Transportation Authority yang
memiliki kewenangan dalam mengurus :
a. New York City Subway, khususnya di Manhanttan, The Bronx, Brooklyn, dan
Queens
b. Staten Island Railway
c. NYCTA departement of buses
Pemerintah New York dalam menjalankan sistem transportasinya menggunakan
sistem public private partnership dimana mengikutsertakan NYCTA sebagai
perusahaan khusus yang bertanggungjawab dalam mengurusi masalah transportasi.
NYCTA menjadi bagian dari otoritas transportasi metropolitan yang paling sibuk dan
terbesar di Amerika Serikat karena pelayanannya menyangkut kepentingan
masyarakat.
Di New York, Amerika Serikat terdapat bermacam transportasi yang dapat
digunakan untuk memudahkan perjalanan karena terdapat angkutan kereta commuter,
bus express, kereta bawah tanah, dan Bus Rapid Transit (BRT). Dimana terdapat 16
jalur kereta commuter, 23 jalur kereta bawah tanah, 385 jalur bus, dan 1 jalur bus
rapid transportation.
8
Perbandingan Sistem Transportasi Amerika Serikat, Indonesia, dan Inggris

1. New York Subway


New York City Subway adalah sebuah sistem transportasi cepat dan massal
yang berada di bawah tanah dan merupakan sistem transportasi terbesar di dunia.
Sistem kereta bawah tanah ini awalnya adalah tiga sistem yang terpisah dan bersaing
satu sama lain. Dua di antaranya dibangun dan dioperasikan oleh perusahaan swasta,
yaitu Interborough Perusahaan Rapid Transit Agustus Belmont (IRT) dan Brooklyn-
Manhattan Transit Corporation (BMT). Namun lama-kelamaan karena kedua
perusahaan tersebut bangkrut akhirnya The Public Independent City-Owned Rapid
Transit Railroad menggabungkan keduanya menjadi satu bagian yang terintegrasi
yang menghasilkan sistem kereta bawah tanah yang dimiliki sepenuhnya oleh New
York City.
New York City Subway ini dikenal sebagai salah satu sistem angkutan yang
cepat di dunia karena beroperasi selama 24 jam dan 365 hari. Kereta bawah tanah
New York adalah satu-satunya sistem yang memegang rekor diantara sepuluh sistem
angkutan cepat di dunia dibandingkan dengan London, Paris dan Mexico City dilihat
menurut banyaknya perjalanan dan penumpang dalam satu tahun.
(http://commons.wikimedia.org/wiki/Category:MTA_Regional_Bus_Operations)
Kereta bawah tanah New York memegang peringkat pertama sebagai sistem
transportasi yang paling sibuk dikarenakan terdapat kapasitas kereta dan sumber daya
manusia yang memadai. Jumlah kereta bawah tanah di New York mencapai angka
6.388 kereta, angka yang menakjubkan dan sebanding apabila dilihat dari permintaan
konsumen yang menggunakan alat transportasi tersebut. Selain kereta bawah tanah,
terdapat juga kereta commuter yaitu Long Island Railroad.

2. Long Island Railroad


Long Island Railroad adalah sebuah sistem rel komuter yang melayani perjalanan
transportasi sepanjang Long Island yang diklasifikasikan sebagai kereta nomor dua
oleh dewan permukaan. Long Island Railroad adalah kereta commuter tersibuk di
Amerika yang melayani sekitar 81 juta penumpang setiap tahunnya dan ditunjang
dengan jumlah stasiun yang cukup banyak, yaitu sekitar 124 stasiun. Setiap hari kerja,
penumpang Long Island Railroad bisa mencapai 303.000 orang. Jumlah penumpang
yang banyak tersebut dikarenakan sistemnya telah ditata sedemikian baik oleh
Metropolitan Tranportation Authority sehingga masyarakat nyaman dalam
menggunkan alat transportasi tersebut.
9
Perbandingan Sistem Transportasi Amerika Serikat, Indonesia, dan Inggris

(http://commons.wikimedia.org/wiki/Category:Long_Island_Rail_Road)
Walaupun tergolong memiliki banyak penumpang, Long Island Railroad tetap
dapat memperlihatkan eksistensi dan keunggulannya dalam menciptakan keamanan
dan kenyamanan bagi para penumpang. Hal tersebut terbukti pada tahun 2006, Long
Island Railroad mendapatkan penghargaan Bronze EH Harriman Award untuk catatan
keamanan transportasi. The Long Island Railroad juga merupakan satu-satunya kereta
commuter di Amerika serikat yang beroperasi selama 24 jam sehari dan tidak pernah
ada libur bahkan akhir pekan dan hari libur.

3. MTA Buses
Selain dalam bidang perkeretaapian, Metropolitan Transportation Authority
juga mengurusi masalah transportasi darat seperti bus yang dinamakan New York
City Transit Buses yang beroperasi di lima wilayah di New york City seperti
Manhanttan, The Bronx, Brooklyn, Staten Island, dan sebagian Queens dengan
jumlah kapasitas MTA buses sekitar 4.500 bus dan beroperasi mulai pukul lima pagi
sampai pukul satu dini hari. Adanya sistem bus ini dimaksudkan untuk melengkapi
jalur rel kereta MTA lainnya seperti subway, dan Long Island Railroad.
Sistem pembayaran ongkos MTA bus New York sedikit berbeda dengan yang
lain. Disini pembayaran ongkos melalui suatu mesin yang sudah disediakan di halte-
halte dekat tempat menunggu bus. Setiap penumpang yang akan naik dan
menggunakan fasilitas bus tersebut diharuskan untuk memasukkan sejumlah koin
yang telah ditentukan, setelah itu akan keluar bukti pembayaran yang dijadikan syarat
utama untuk dapat menggunakan fasilitas bus tersebut. Apabila terdapat masalah
dalam penggunaan mesin tersebut dihimbau agar calon penumpang menghubungi atau
melapor kepada petugas bus yang datang.
Biaya yang dibebankan kepada penumpang bus MTA adalah terbatas pada
setiap rute yang ada. Pembebanan biaya tidak tergantung dari berapa jauh jarak yang
ditempuh, untuk sekali perjalanan biaya yang dibebankan sebesar US $ 2,5 dan US $
1,10 untuk para manusia lanjut usia dan penyandang cacat.
Dalam sistem transportasi di negara maju seperti Amerika Serikat sangat
memperhatikan ketepatan waktu dalam melakukan pelayanan. Baik subway, Long
Island Railroad dan MTA bus memiliki jadwal keberangkatan yang telah ditentukan
dan dijalankan dengan konsisten, apabila terdapat penumpang sampai tempat tujuan
tidak sesuai dengan yang terdapat di jadwal, setiap keterlambatan 15 menit,
10
Perbandingan Sistem Transportasi Amerika Serikat, Indonesia, dan Inggris

penumpang dapat menuntut haknya untuk mendapat kembali uangnya sebesar 50%
dan apabila keterlamatan sampai 30 menit, penumpang dapat meminta
pengembaliannya uangnya sebesar 100%.

4. Jetblue Airlines
Selain transportasi daratnya yang baik, New York juga memiliki transportasi
udara yang dikatakan efektif dan dapat memenuhi keinginan pelanggan. Jetblue
airline adalah salah satu low cost airline Amerika yang dipegang oleh Jetblue Airways
Corporation yang merupakan non-union airline. Dengan hal tersebut berarti dalam
pelaksanaan pelayanan transportasinya, Jet Blue Airline tidak memiliki ikatan dengan
pihak lain seperti kerjasama dengan pihak lain. Jet blue airways beroperasi terutama
di Jhon F. Kennedy Airport di New York City. Namun, terdapat bandara lain juga
yang menjadi tujuan dari Jetblue Airways, yaitu Logan Internasional Airport yang
terdapat di Boston, Fort Lauderdale-Holiwood Internasional Airport, Orlanda
Internasional Airport, dan Long Beach Airport.

Jet Blue Airline memiliki slogan happy jetting dengan tujuan agar penumpang
merasa nyaman dan senang menggunakan transportasi tersebut. JetBlue didirikan di
Delaware pada Agustus 1998 oleh David Neeleman. Pada mulanya JetBlue didirikan
dengan nama Newair. Karena beberapa eksekutif JetBlue termasuk Neeleman adalah
mantan karyaean Southwest Airlines maka ketika JetBlue didirikan dimulai dengan
mengikuti pendekatan yang dilaksanakan oleh Southwest Airlines dengan
menawarkan perjalanan murah, tetapi berusaha untuk membedakan dirinya dengan
fasilitas, seperti hiburan dalam penerbangan, TV di setiap kursi dan radio satelit. Hal
ini kembali lagi pada slogan dari Jet Blue, yaitu ingin mencipatakan kenyamanan
perjalanan bagi para penumpang terutama ketika melakukan perjalanan udara.

Dalam perjalanannya Jet Blue semakin baik dalam melakukan pelayanan


publik dalam bidang transportasi sehingga JetBlue dapat menjadi salah satu saham
maskapai penerbangan yang paling populer dalam sejarah dan saat ini memiliki
sekitar dua miliar dolar dalam kapitalisasi pasar. Karena hal tersebut banyak pihak
yang memuji keberhasilan JetBlue atas kecakapannya dalam melakukan pelayanan
dan dari hasil keuangan yang kuat.

11
Perbandingan Sistem Transportasi Amerika Serikat, Indonesia, dan Inggris

Pada tahun 2004 Jet Blue memulai penerbangan dari Bandara LaGuardia, New
York City dan pada tahun 2005 Jet Blue menambahkan layanannya di Bandar Udara
Internasional Newark Liberty di Newark, New Jersey. Selain itu, Jet Blue
menambahkan layanan di John F. Kennedy yang sekarang menjadi basis utama Jet
Blue dan Logan Airport di Boston. Dengan penambahan yang terus menerus akhirnya
Jet Blue sekarang memegang ketiga bandara terbesar di New York City. Dalam satu
hari Jet Blue airlines dapat melakukan sepuluh penerbangan yang dapat menampung
100-190 penumpang sekali perjalanan. Kiprah Jet Blue tidak sampai disini saja, pada
bulan Oktober 2006 JetBlue mengumumkan mereka akan mulai layanan dari Stewart
Bandar Udara Internasional, di Newburgh, New York dan di Westchester Country
Airport yang lebih sering dikenal dengan White Plains.
(http://en.wikipedia.org/wiki/JetBlue_Airways).

Untuk meningkatkan pelayanannya Jet Blue Airlines terus menerus


menambahkan armadanya, seperti pada tahun 2006 Jetblue melakukan penambahan
36 pesawat untuk memperluas eksistensinya dalam pelayanan transportasi udara. Pada
tahun 2007 Jetblue menjadi maskapai penerbangan domestik nomor satu di Amerika
Serikat yang diberikan oleh ”Conde Nast Traveler” untuk ke-enam kalinya secara
berturut—turut dan pada tahun 2009 JetBlue menduduki peringkat tertinggi dalam
aspek kepuasan pelanggan dikarenakan pelayanan yang baik, tepat waktu, dan biaya
yang murah.

Sistem Transportasi di London, Inggris.


Sebagai wujud dari pelayanan publik, pemerintah lokal di kota London
memiliki suatu badan yang bertanggung jawab atas sebagian besar aspek yang
berhubungan dengan sistem transportasi di kota London. Badan yang bertanggung
jawab atas sistem transportasi tersebut dinamakan Transport for London atau sering
disingkat menjadi TfL.
TfL terorganisasi dalam tiga direktorat utama, masing-masing dengan
tanggung jawab untuk aspek-aspek yang berbeda dan jenis transportasi. Tiga
direktorat utama adalah:
1. London Underground
London Underground bertanggung jawab untuk menjalankan kereta api bawah
tanah London yang biasa disebut sebagai tube. Walaupun tube merupakan miliki

12
Perbandingan Sistem Transportasi Amerika Serikat, Indonesia, dan Inggris

pemerintah lokal, namun pengelola penyediaan layanan perawatan diserahkan kepada


sektor swasta. Rute tube ini dibagi menjadi tiga jalur yaitu:
 BCV: Bakerloo, Tengah, Victoria dan Waterloo & City
 JNP: Jubilee, Northern dan Piccadilly
 SSR (Sub Surface Kereta Api): Metropolitan, District, Circle dan
Hammersmith & City
2. London Rail
London Rail bertanggung jawab untuk berkoordinasi dengan operator yang
memberikan layanan rail nasional di London, khususnya kereta api di permukaan
tanah (London Overground) dan trem.
3. Surface Transport
Surface transport atau transportasi yang ada di permukaan tanah ini terdiri dari:
a. London Bus, yang bertanggung jawab untuk mengelola jaringan bus merah di
seluruh London, sebagian besar oleh jasa kontraktor sektor swasta operator
bus. Menggabungkan CentreComm, London Bus Command & Control Centre,
sebuah Pusat Kontrol Darurat 24hour berbasis di Southwark.
b. London Dial-a-Ride, yang menyediakan layanan paratransit di seluruh
London.
c. London River Services, bertanggung jawab untuk perizinan dan koordinasi
layanan penumpang di Sungai Thames di London.
d. London Streets, yang bertanggung jawab atas pengelolaan jaringan jalan
strategis.
e. London congestion charge.
f. Publik Kantor Carriage, bertanggung jawab untuk perizinan taksi hitam yang
terkenal dan menyewa kendaraan pribadi lainnya.
g. Victoria Coach Station, yang memiliki dan mengoperasikan terminal utama
London untuk bis jarak jauh dan layanan pelatih.
h. Cycling Centre of Excellence, yang mempromosikan bersepeda di London
i. Walking Center, yang mempromosikan akses pejalan kaki yang lebih baik.
j. London Road Safety Unit, yang mempromosikan jalan yang lebih aman
melalui iklan dan mengukur keselamatan di jalan raya.
k. Community Safety, Enforcement dan Policing, bertanggung jawab untuk
menanggulangi penghindaran ongkos di bis, memberikan layanan kepolisian
yang menangani kejahatan dan kekacauan pada transportasi umum
13
Perbandingan Sistem Transportasi Amerika Serikat, Indonesia, dan Inggris

bekerjasama dengan Kepolisian Metropolitan Transport Service Komando


Operasi Unit (TOCU) dan British Transport Police.
(http://www.tfl.gov.uk/tickets/14415.aspx).
 Traffic Enforcement, bertanggung jawab untuk menegakkan peraturan lalu
lintas dan parkir
 Freight Unit, yang saat ini sedang mengembangkan London Freight Plan
Walaupun London memiliki beberapa jenis transportasi publik, namun dalam
makalah ini, jenis transportasi di kota London yang dibahas hanya dua macam yaitu
kereta bawah tanah yang dikelola oleh London Underground (Tube) dan bus publik
untuk dalam kota yang dikelola oleh London Bus. Kedua jenis transportasi publik
tersebut akan dibahas lebih lanjut pada pemaparan berikut.
1. London Underground (Tube)
Sampai saat ini, Underground beroperasi sebagai Public-Private Partnership
(PPP), dimana perawatan infrastruktur yang dikelola oleh dua perusahaan swasta
(Perusahaan Tube Lines) di bawah 30 tahun kontrak, sementara kepemilikan dan
pengoperasian berapa pada tangan publik yaitu TfL. Di dalam sistem PPP tersebut,
Underground telah dianggap sebagai kereta bawah tanah yang berstandar dunia.
Standar dunia itu diberikan mengingat tersedianya kereta bawah tanah per waktu
tertentu untuk setiap jalur dilengkapi dengan fasilitas yang baik.
Underground tidak berjalan selama 24 jam sehari (kecuali pada Tahun Baru
dan acara-acara publik utama - seperti Queen's Golden Jubilee pada 2002 dan Upacara
Pembukaan dan Penutupan Olimpiade London pada tahun 2012) karena sebagian
besar garis hanya memiliki dua trek (satu di masing-masing arah) dan pada malam
hari untuk pembersihan dan pemeliharaan. (Menurut Asapsetia dalam
http://asepsetia.multiply.com/journal/item/68/Tube_London : 2010)
Untuk melihat keefektifitasan Underground ini, makalah ini melihat dari
beberapa indikator yang tercakup dalam pelayanan transportasi Underground ini.
Indikator adalah sebagai berikut:
a. Ketepatan Waktu
Kereta bawah tanah ini relatif tepat waktu berdasarkan jadwal yang diberikan, namun
dalam beberapa keadaan tertentu seperti kerusakan sinyal atau kecelakaan,
keterlambatan juga bisa terjadi. Menurut statistik yang diperoleh di bawah Freedom of
Information Act, komuter rata-rata pada baris Metropolitan terbuang tiga hari, 10 jam
dan 25 menit pada 2006 akibat penundaan. Antara 17 September 2006 dan 14 Oktober
14
Perbandingan Sistem Transportasi Amerika Serikat, Indonesia, dan Inggris

2006 , terdapat 211 kasus kereta api yang tertunda oleh lebih dari 15 menit. Untuk
memberikan pertanggungjawaban, penumpang berhak mendapatkan pengembalian
dana jika perjalanan mereka tertunda selama 15 menit atau lebih.
b. Biaya Transportasi Berbanding dengan Pendapatan Per Kapita Inggris
Untuk menggunakan ini, para pengguna Underground dapat membeli tiket langsung
atau menggunakan kartu khusus bernama Oyster. Kartu Oyster bekerja seperti katu
debet yang diisi dengan jumlah uang tertentu. Rata-rata orang mengeluarkan uang
sebesar 100 pound sterling per bulan atau untuk mengakses trasportasi ini, atau jika
dirupiahkan sebesar Rp. 1.351.600. Pengeluaran tersebut berbanding dengan nilai
pendapatan kotor per kapita kota London yaitu 26.192 pound sterling. Harga
transportasi yang cukup besar, namun sebanding dengan efisiensi waktu yang
diberikan jika menggunakan transportasi ini.
c. Kenyamanan dan Keselamatan
Selain dilengkapi alat-alat keselamatan, kereta bawah tanah ini dilengkapi dengan
pendingin dan penghangat ruangan, petugas kebersihan, informasi rute yang
terkomputerisasi, fasilitas khusus untuk penyamdang cacat, dan fasilitas penunjang
lainnya. Sedangkan kecelakaan di Underground jarang sekali terjadi.
d. Kepadatan Penggunaan Transportasi
Kereta api bawah tanah ini kurang lebih telah mengangkup satu milyar orang per
tahun, dimana jalur yang paling sibuk berada di Northern yang mengangkut 850.000
orang per hari dengan 91 kereta. Kepadatan tersebut berada pada puncaknya ketika
jam-jam sibuk seperti jam pergi dan pulang bekerja. Hal itu menjadikan kondisi yang
berdesak-desakan di stasiun. Kondisi crowded ini masih menjadi perhatian dari
pemerintah setempat.

2. London Bus
Seperti London Underground, London Bus juga menerapkan sistem PPP,
dimana terjadi kerjasama pengelolaan antara publik dan swasta. Perbedaannya adalah
servis yang diberikan oleh London Bus lebih banyak disediakan oleh swasta. Publik
memiliki tugas sbagai berikut:
• Perencanaan rute bus
• Menentukan tingkat pelayanan
• Pemantauan kualitas layanan
• Pengelolaan stasiun bis dan bus berhenti dan layanan dukungan lainnya
15
Perbandingan Sistem Transportasi Amerika Serikat, Indonesia, dan Inggris

• Memberikan informasi bagi penumpang dalam bentuk jadwal dan peta di halte bus
dan online, dan online jasa perencanaan rute
• Memproduksi selebaran peta, tersedia dari Travel Information Centre,
perpustakaan dll, dan sebagai online download.
• Operasi CentreComm London Bus 24hour pusat Komando dan Kontrol berbasis
di Southwark
Kualitas Bus ini sendiri dapat dilihat melalui empat indikator di atas dengan
penjabaran sabagai berikut:
a. Ketepatan Waktu
London Bus merupakan salah satu alat transportasi di dunia yang terkenal jarang
mengalami keterlambatan. Rute dan jadwal bus ini dapat diakses di halte-halte bus
atau di website yang disediakan oke TfL.
b. Biaya Transportasi Berbanding dengan Pendapatan Per Kapita Inggris
Seperti halnya dengan London Underground, pembayaran pelayanan publik ini
dilakukan dengan uang tunai atau menggunakan kartu Oyster. Untuk dewasa, biaya
yang dibutuhkan adalah 63.80 pound sterling per bulan atau sebesar Rp. 863.000,
sedangkan untuk pelajar berusia 18 tahun ke atas dikenai 44.60 pound sterling
perbulan atau Rp. 603 500. Tiket diberikan secara gratis bagi para penyandang cacat
dan pelajar di bawah 18 tahun. Harga tersebut terjangkau dibanding pendapatan kotor
per kapita kota London yang mencapai 26.192 pound sterling.
c. Kenyamanan dan Keselamatan
Bus yang bertingkat dua ini memiliki fasilitas yang diberikan bisa dikatakan sangat
baik. Selain terdapat fasilitas umum bus, London Bus juga memiliki tempat duduk
khusus untuk para penyandang cacat dan untuk orang yang membawa anjing. Selain
itu London Bus dilengkapi iBus yang dipercanggih dengan GPS yang memungkinkan
para penumpang untuk mengetahui jarak pemberhentian berikutnya.
d. Kepadatan Penggunaan Transportasi
Jaringan bus lokal di London adalah salah satu yang terbesar dan paling komprehensif
di dunia. Lebih dari 6.800 bus dijadwalkan beroperasi pada lebih dari 700 rute yang
berbeda. Selama tahun jaringan ini membawa lebih dari 1,8 milyar perjalanan
penumpang.

3. Maskapai Penerbangan Inggris

16
Perbandingan Sistem Transportasi Amerika Serikat, Indonesia, dan Inggris

British Airways merupakan maskapai penerbangan terbesar yang


berkedudukan di Inggris. Maskapai penerbangan ini beroperasi dengan sistem Public
Private Partnership. Pusat operasinya berada di Bandara London Heathrow serta
beberapa pusat yang lebih kecil seperti di Bandara Internasional Manchester dan
Bandara Internasional Birmingham. British Airways sering disingkat menjadi BA.
British Airways melayani hampir 150 kota, termasuk enam domestik. British
Airways adalah salah satu dari sembilan operator untuk terbang ke semua benua.
British Airways terus melakukan penerbangan hingga sekarang dengan performa yang
terus ditingkatkan seperti yang ada di dalam table berikut.

British Airways Financial Performance


Net
Year Passengers Turnover Profit/Loss Basic EPS
Profit/Loss
Ended Flown (£) Before Tax (£) (p)
(£)
31 March
33,117,000 8,992 (401) (358) (32.6)
2009
31 March
33,161,000 8,753 883 696 59.0
2008
31 March
33,068,000 8,492 611 438 25.5
2007
31 March
32,432,000 8,213 616 464 40.4
2006*
31 March
35,634,000 8,515 620 467 40.4
2006
31 March
35,717,000 7,772 513 392 35.2
2005
31 March
36,103,000 7,560 230 130 12.1
2004
31 March
38,019,000 7,688 135 72 6.7
2003
31 March
40,004,000 8,340 (200) (142) (13.2)
2002
31 March
36,221,000 9,278 150 114 10.5
2001
31 March
36,346,000 8,940 5 (21) (2.0)
2000
31 March
37,090,000 8,915 225 206 19.5
1999

17
Perbandingan Sistem Transportasi Amerika Serikat, Indonesia, dan Inggris

31 March
34,377,000 8,642 580 460 44.7
1998
31 March
33,440,000 8,359 640 553 55.7
1997
31 March
32,272,000 7,760 585 473 49.4
1996

Pelayanan yang digunakan di penerbangan domestik United Kingdom


umumnya sama dengan maskapai penerbangan lain. Kursi tersedia pada semua jenis
pesawat dan kursi tersebut berada dalam konfigurasi satu kelas. Makanan pada
pelayanan tergantung pada tujuan dan waktu. Pada semua layanan penerbangan
Inggris domestik, sebelum pukul sepuluh pagi, tersedia hidangan sarapan panas,
sedangkan setelah pukul sepuluh pagi terdapat layanan minuman dengan makanan
ringan, pengecualian bagi Skotlandia. Ada perbedaan sedikit dalam penerbangan ke
dan dari Heathrow di malam hari, di mana salad merupakan bagian dari menu setelah
makan malam. Selain itu, British Airways melakukan penerbangan untuk
penerbangan di wilayah Eropa dan Internasional dengan beberapa pilihan kelas.
(British Airways : 2010)
British Airways memang jarang mengalami kecelakaan saat perjalanan, namun
pihak British Airways sendiri memiliki tindakan pencegahan dengan terus melakukan
renovasi pada pesawat-pesawatnya serta memperlengkapi pesawat dengan alat-alat
keselamatan pada umumnya. Selain itu, keselamatan yang diberikan oleh maskapai
penerbangan ini ditanggung melalui asuransi yang diberikan untuk setiap penumpang
yang memakai jasa transportasi udara ini. Asuransi tersebut dikenakan pula pada
bagasi penumpang.

Sistem Transportasi di Jakarta, Indonesia


Indonesia adalah negara kepulauan, terdiri atas 5 pulau besar, ratusan pulau
sedang serta ribuan pulau kecil. Ribuan pulau ini dipersatukan laut dan angkasa
menjadi negara kesatuan Republik Indonesia. Laut dan angkasa adalah prasarana
perangkutan yang harus dipandang sebagai pemersatu pulau-pulau menjadi kesatuan
wilayah negara, bukan lagi sebagai pemisah antara satu pulau dengan pulau lainnya.
(Warpani, 1997)

18
Perbandingan Sistem Transportasi Amerika Serikat, Indonesia, dan Inggris

Rentang wilayah negara mengharuskan penanganan moda transportasi


angkutan darat, laut dan udara secara terpadu untuk mewujudkan sistem angkutan
nasional yang andal, efektif dan efisien. Setiap moda angkutan memiliki karakter
khas, keunggulan dan kelemahannya. Moda transportasi darat, laut dan udara harus
menjadi kesatuan sistem agar dapat menjawab tujuan perangkutan, yakni melayani
perpindahan atau mobilisasi orang dan barang dari satu tempat ke tempat lain.

Untuk menjawab tantangan itu, disusun Sistem Transportasi Nasional


(Sistranas) yang bertujuan mewujudkan perangkutan yang andal dan berkemampuan
tinggi dalam menunjang sekaligus menggerakkan dinamika pembangunan,
meningkatkan mobilitas manusia, barang dan jasa, membantu terciptanya pola
distribusi nasional yang mantap dan dinamis, serta mendukung pengembangan
wilayah dan lebih memantapkan perkembangan kehidupan bermasyarakat, berbangsa,
dan bernegara dalam rangka perwujudan Wawasan Nusantara dan peningkatan
hubungan internasional.

Moda transportasi darat dalam sistem angkutan di Indonesia terdiri atas


angkutan jalan, angkutan jalan rel serta angkutan sungai, danau dan penyeberangan.
Jaringan perangkutan darat tersusun dalam suatu jaringan pelayanan yang
menghubungkan seluruh pusat kegiatan di wilayah perkotaan maupun perdesaan.
Dalam seluruh sistem yang terdiri atas matra darat, laut dan udara, jaringan angkutan
darat menjadi titik simpul antarmoda yang vital. Ia menjadi mata rantai awal/akhir
moda angkutan laut dan udara pada titik terminal yang semuanya di daratan.

Kota Jakarta sebagai ibukota negara dengan beragam aktivitas yang tentunya
melibatkan banyak sekali individu dalam sistem yang berlaku di dalamnya. Daerah
hinterland yang menjadi tujuan untuk bertempat tinggal adalah Bogor, Depok,
Tanggerang dan Bekasi (Bodetabek). Penduduk pinggiran dalam melakukan aktivitas
kesehariannya termasuk kedalam kelompok penglaju (commuter).

Data yang diperoleh dari Dinas Perhubungan DKI Jakarta menunjukkan,


kebutuhan perjalanan per hari dengan angkutan umum dari Bodetabek ke Jakarta dan
sebaliknya makin meningkat. Pada tahun 2002, misalnya, tercatat 7,3 juta perjalanan
per hari, tahun 2010 diperkirakan menjadi 9,9 juta perjalanan per hari, dan pada tahun
2020 meningkat menjadi 13 juta perjalanan setiap hari. Perjalanan ulang alik

19
Perbandingan Sistem Transportasi Amerika Serikat, Indonesia, dan Inggris

Tangerang-Jakarta pada tahun 2010 akan mencapai 1.078.963 dan tahun 2010
menjadi 1.465.912. Adapun perjalanan Bogor-Depok-Jakarta dan sebaliknya pa- da
tahun 2010 diperkirakan 791.295 dan pada tahun 2020 melesat menjadi 1.148.528.
Perjalanan Bekasi-Jakarta dan sebaliknya cenderung lebih rendah. Tahun 2010
diprediksi 693.099 dan tahun 2020 mencapai 940.834. Angka-angka prediksi ini
masuk akal karena pertumbuhan kawasan perumahan baru ke arah Tangerang dan
Banten, juga masih ke arah Depok dan Bogor.

Mobilitas masyarakat yang semakin berkembang sangat menuntut tersedianya


pelayanan angkutan umum, disamping prasarana jalan untuk mengakomodasi
permintaan perjalanan tersebut. Dalam penyediaan sarana transportasi juga perlu
diperhatikan kualitas layanan, terutama keselamatan. Dalam Bab I UU No. 22 tahun
2009, keselamatan lalu lintas dan angkutan jalan diartikan sebagai suatu keadaan
tehindarnya setiap orang dari resiko kecelakaan selama berlalu lintas yang disebabkan
oleh manusia, kendaraan, jalan dan/atau lingkungan. Keselamatan transportasi di
Indonesia nampaknya masih menjadi perhatian besar. Tingginya tingkat kecelakaan
menjadi penyebabnya. Isu yang menjadi penyebab tingginya tingkat kecelakaan
tersebut di antaanya adalah isu sumber daya manusia (human resources issues), isu
utama (main issues), isu fasilitas (facility issues), isu infrastruktur (infrastructure
issues). (http://www.dephub.go.id/)

Isu sumber daya manusia (human resources issues) yaitu rendahnya


kedisiplinan akan aturan lalu lintas, rendahnya kesadaran akan keselamatan publik,
official competency dalan keselamatan lalu lintas masih belum mencukupi. Isu utama
(main issues) yaitu rendahnya koordinsi antara stekeholders dengan safety handling,
kurangnya dukungan organisasi dan financial, penegakan hukum yang tidak
membawa efek jera dan sistem informasi yang belum mencukupi. Isu fasilitas (facility
issues) yaitu keadilan kendaraan bermotor, ketersediaan safety facility bagi kendaraan,
desain dan teknologi kendaraan, pemeliharaan kendaraan. Isu infrastruktur
(infrastructure issues) yaitu kondisi jalan dan jembatan, jalan kereta api, rambu-
rambu lalu lintas, peralatan penguji kendaraan, jembatan timbang.

How Much is National Loss?

(estimated)

20
Perbandingan Sistem Transportasi Amerika Serikat, Indonesia, dan Inggris

Condition Numbers of victim Total cost (million Rp)


Fatal 30.464 9.972.037
Serious 450.000 9.614.672
Slight 2.100.000 12.772.448
PDO 13.515.000 9.036.899
Total 41.396.056
PDB 1.427.000.000
% PDB 2,91

KAI Commuter Jabodetabek

Setelah Indonesia merdeka, lokomotif-lokomotif listrik hasil elektrifikasi jalur


kereta api pada zaman penjajahan masih setia melayani para pengguna angkutan
kereta api di daerah Jakarta – Bogor. Pemerintah Indonesia sejak kemerdekaan tidak
pernah membeli lokomotif listrik untuk mengganti atau menambah jumlah lokomotif
listrik yang beroperasi. Namun pada akhirnya, dengan usia yang telah mencapai
setengah abad, lokomotif-lokomotif ini dipandang tidak lagi memadai dan mulai
digantikan dengan rangkaian Kereta Rel Listrik baru buatan Jepang sejak tahun 1976.
KRL Jabotabek, yang sekarang dikenal bernama KA Commuter Jabodetabek, adalah
jalur kereta listrik yang dioperasikan oleh PT KAI Divisi Jabotabek sebelum berubah
nama menjadi PT KAI Commuter Jabodetabek.

Seiring perkembangan zaman, KRL Jabotabek yang beroperasi sekarang sudah


memiliki berbagai fasilitas dan kelas, mulai dari tempat duduk yang ”empuk” hingga
Air Conditioner (AC) yang menyejukkan. Saat ini ada tiga kategori atau kelas
pelayanan KRL Jabodetabek (commuter), antara lain Commuter ekonomi non-AC,
Commuter Ekonomi AC dan Commuter Ekspres AC.

Sistem pengoperasian Commuter terpadu di wilayah Jabotabek dimulai pada


tahun 2000, saat itu pemerintah Indonesia menerima hibah 72 unit KRL. Dari jumlah
tersebut, sebanyak 50 unit gerbong bisa langsung digunakan dan dioperasikan sebagai
rangkaian-rangkaian KRL Pakuan yang melayani rute Jakarta – Bogor, PP.

Jumlah Penumpang dan Pendapatan Tahun 2001

Dirinci Menurut Jenis Kereta Api

21
Perbandingan Sistem Transportasi Amerika Serikat, Indonesia, dan Inggris

No Jenis Kereta Jumlah penumpang Pendapatan

(Jiwa) (Rp)
1 Eksekutif 6.022.366 632.645.130.000
2 Bisnis 13.165.543 342.751.540.000
3 Ekonomi 18.746.465 223.332.300.000
4 Lokal 25.771.448 28.297.530.000
5 Ekonomi Jabodetabek 115.080.970 64.268.850.800
6 Ekspres Jabodetabek 6.353.332 27.831.840.500
Jumlah 185.140.124 1.319.127.191.300

KRL menjadi sarana transportasi pilihan para penglaju karena dinilai lebih
ekonomis dan dapat dijangkau dengan cepat. Pengguna sarana transportasi kereta
commuter sebagian besar adalah dengan maksud sekolah dan bekerja, yang dalam
sepekan melakukan perjalanan antara 5-6 kali. Alasan masyarakat memilih KRL yaitu
lebih murah dan lebih cepat.

Namun keterlambatan kereta masih sering dirasakan oleh masyarakat.


Gangguan utama yang dialami pengguna KRL adalah kepadatan penumpang dengan
kekurangan armada kereta. Kemudian keamanan penumpang dirasakan masih kurang
karena banyak pihak tidak bertanggungjawab yang memanfaatkan kepadatan KRL.

Busway-Transjakarta

Dari lima aspek pengukuran yang digunakan untuk mengukur kualitas


pelayanan busway, hany satu aspek yang menunjukkan penilaian cenderung baik dan
sisanya menunjukkan skor yang cenderung kurang baik. Tingkat kualitas pelayanan
yang cenderung baik ditunjukkan pada hal-hal yang berkaitan dengan keamanan,
kenyamanan, kerapihan dan kondisi fisik bus. Sebaliknya, tingkat kualitas pelayanan
yang dirasakan masih cederung kurang baik adalah ketepatan waktu, lama waktu
terlambat, sikap petugas dalam memberikan pelayanan, kesopanan petugas,
kemampuan dan sikap petugas dalam menanggapi masalah, pengalaman petuga di
bidang pekerjaannya, keterampilan dalam memberikan layanan dan informasi,
kepedulian terhadap keluhan pengguna jasa, kebersihan petugas dan kondisi fisik
halte. (Chairunnisa, 2008)

22
Perbandingan Sistem Transportasi Amerika Serikat, Indonesia, dan Inggris

Persepsi masyarakat terhadap tingkat kinerja busway Transjakarta tergolong


baik, khususnya dalam kesesuaian akan kebutuhan masyarakat, pelayanan yang adil
bagi penumpang dan tarif tiket. Persepsi masyarakat terhadap tingkat kualitas
pelayanan tergolong kurang baik, khususnya dalam ketepatan waktu, lama waktu
terlambat, sikap petugas dalam memberikan pelayanan dan informasi, kepedulian
terhadap pengguna jasa, kebersihan petugas dan kondisi fisik halte bus. Masyarakat
dinilai kurang puas terhadap Transjakarta-Busway, khususnya dalam hal pelayanan di
loket, pelayanan di halte dan di dalam bus, jumlah kapasitas penumpang, lokasi halted
an rute bus, serta jumlah armada busway.

Maskapai Penerbangan Indonesia

Sejarah berdirinya perusahaan penerbangan pembawa bendera Negara (Flag


Carrier) Indonesia tidak terpisahkan dengan sejarah perjalanan bangsa Indonesia.
Ketika bangsa Indonesia mengalami masa-masa yang sulit - berjuang
mempertahankan kedaulatannya, dan dalam kondisi yang serba tidak menentu setelah
proklamasi kemerdekaan, para pejuang Indonesia telah memikirkan tentang
pentingnya keberadaan angkutan udara nasional yang handal. Berangkat dari
pemikiran para pejuang inilah yang akhirnya mewujudkan hadirnya sebuah maskapai
penerbangan pembawa bendera nasional.
Sebagai national flag carrier, yang selanjutnya oleh Soekarno diberi nama
Garuda Indonesian Airways, harus selalu siap melaksanakan tugas-tugas kenegaraan.
Adapun tugas kenegaraan pertama adalah membawa Soekarno dari Yogkakarta
menuju Jakarta untuk dilantik menjadi Presiden Republik Indonesia Serikat (RIS)
pada tahun 1949.
Garuda Indonesia resmi menjadi Perusahaan Negara pada tahun 1950, yang
kemudian berubah berdasarkan akta No. 8 tanggal 4 Maret 1975 dari Notaris
Soeleman Ardjasasmita, S.H., sebagai realisasi peraturan Pemerintah No. 67 tahun
1971, serta diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia (RI) No. 68 tanggal
26 Agustus 1975.
Menurut Akte Pendirian Perusahaan, tujuan Perusahaan adalah melaksanakan
dan menunjang kebijaksanaan dan program Pemerintah di bidang pembangunan dan
ekonomi nasional pada umumnya, khususnya di bidang jasa pengangkutan udara dan
23
Perbandingan Sistem Transportasi Amerika Serikat, Indonesia, dan Inggris

bidang lainnya yang berkaitan dengan jasa pengangkutan udara serta memupuk
keuntungan bagi perseroan dengan menyelenggarakan angkutan penerbangan.
Garuda Indonesia menjalankan kegiatan usaha di bidang-bidang sebagai
berikut:
1. Pengangkutan udara penumpang, barang dan pos dalam negeri dan luar negeri

2. Pengangkutan udara borongan untuk penumpang dan barang dalam negeri dan
luar negeri

3. Jasa pelayanan sistem informasi yang berkaitan dengan pengangkutan udara

4. Jasa konsultasi, pendidikan dan pelatihan yang berkaitan dengan


pengangkutan udara

5. Jasa pelayanan kesehatan personil penerbangan.Ketepatan waktu

Garuda Indonesia per akhir 2008 mengoperasikan 54 pesawat terbang,


termasuk tiga Boeing 747-400, enam Airbus 330-300, empat puluh lima pesawat
Boeing 737 (300, 400, 500 dan 800) dan saat ini melayani 50 penerbangan baik tujuan
dalam negeri maupun luar negeri.
Ulasan situs Forbestraveler.com menempatkan Bandara Soekarno Hatta
(Soetta) sebagai bandara nomor dua paling tepat waktu di dunia. Untuk maskapai
domestik, Garuda Indonesia keluar sebagai pemenang, mengungguli 5 pesaingnya.
Garuda Indonesia mencatat ketepatan waktu kedatangannya 92,55 persen dan
ketepatan keberangkatan 98,13 persen. Pada tahun 2002 Garuda Indonesia dinobatkan
menjadi pemenang untuk kategori ketepatan waktu. Garuda Indonesia mengalahkan
maskapai negara lain seperti KLM dan Singapore Airlines. Penganugerahan itu
diberikan Bandar Udara Schiphol, Belanda. Ketepatan terkait dengan waktu
kedatangan dan keberangkatan.
Keselamatan dan kenyamanan
Dalam usaha peningkatan aspek keselamatan dan kenyamanan Garuda Indonesia
mendapatkan sertifikasi internasional mengenai keselamatan dan kemanan
internasional dan penurunan tingkat kecelakaan.
1. IOSA Certification

Setelah melalui proses yang cukup panjang, Garuda Indonesia berhasil meraih
IATA Operational Safety Audit (IOSA) Certification yang merupakan

24
Perbandingan Sistem Transportasi Amerika Serikat, Indonesia, dan Inggris

sertifikasi tingkat dunia terhadap keselamatan dan keamanan penerbangan


yang telah terakreditasi secara internasional. Garuda menjadi maskapai
pertama dan satu-satunya dari Indonesia yang memiliki sertifikasi IOSA ini.
2. Incide Rate (2002-2008)

Upaya meningkatkan keselamatan penerbangan juga bisa diukur dari tingkat


Incident Rate. Berdasarkan data sejak tahun 2002 hingga 2008, tren Incident
Rate menunjukan penurunan. Incident Rate tahun 2008 adalah 0,41/ 1.000
departure, yang terendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Dalam hal keselamatan, Garuda Indonesia tercatat beberapa kali menghadapi
musibah kecelakaan, yaitu:
1. 6 Maret 1979 - Garuda Indonesia Penerbangan 553 menabrak lereng Gunung
Bromo di ketinggian 6.200 kaki menewaskan keempat awaknya.
2. 11 Juli 1979 - Fokker F-28 Garuda Indonesia menabrak lereng Gunung
Pertektekan menewaskan 57 penumpang beserta 4 orang awaknya.
3. 20 Maret 1982 - Fokker F-28 Garuda Indonesia terperosok setelah mendarat di
Bandara Branti, Lampung menewaskan 23 penumpang beserta 4 orang
awaknya
4. 17 Juni 1996 -Mcdonnel Douglas DC-10 Garuda Indonesia 865, pesawat
terbakar setelah overrun akibat aborting take off oleh penerbangnya di
Bandara Fukuoka, Jepang saat akan take off menuju Jakarta, Indonesia. 3 dari
275 penumpang tewas.
5. 26 September 1997 - Garuda Indonesia Penerbangan 152 jatuh di Desa Buah
Nabar, kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara,
Indonesia menewaskan seluruh penumpang yang berjumlah 222 penumpang
dan 12 awak pesawat. Kecelakaan ini merupakan yang terburuk di sejarah
penerbangan Indonesia.
6. 17 Januari 2002 - Garuda Indonesia Penerbangan 421 mendarat darurat di
Bengawan Solo menewaskan 1 awak pesawat.
7. 7 Maret 2007 - Garuda Indonesia Penerbangan 200 terbakar dan meledak
sesaat setelah mendarat di Bandar Udara Adi Sutjipto Kota Yogyakarta.
Sedikitnya 22 orang meninggal dunia. Pesawat tersebut membawa penumpang
sebanyak 133 orang dan 7 awak.

25
Perbandingan Sistem Transportasi Amerika Serikat, Indonesia, dan Inggris

Kepadatan
Jumlah penumpang domestik yang diangkut oleh seluruh maskapai penerbangan
domestik meningkat hanya 2,4% dari 31,2 juta orang pada tahun 2007 menjadi 31,9
orang pada tahun 2008, sesuai laporan BPS. Laju pertumbuhan trafik penumpang
mengalami tekanan dan pada triwulan ketiga dan keempat mengalami penurunan
masing-masing 9,9% dan 7,9%. Hal ini disebabkan oleh:
1. kenaikan harga tiket setelah diterapkan kebijakan fuel surcharge

2. penurunan daya beli masyarakat sebagai akibat kenaikan harga BBM


bersubsidi dan inflasi yang melonjak

3. penurunan kapasitas industri penerbangan domestik yang disebabkan oleh


pelarangan terbang pesawat Adam Air. Mulai tanggal 19 Maret 2008,
Departemen Perhubungan RI memberlakukan larangan terbang pada seluruh
armada pesawat Adam Air, setelah ditemukan beberapa kelemahan yang
membahayakan keselamatan penerbangan.

Di mana per akhir 2008 Garuda Indonesia mengoperasikan 54 armada pesawat


terbang.

Jumlah penumpang domestik tahun 2005-2008

35
30
25
20
15 Penumpang
10
5
0
'05 '06 '07 '08

26
Perbandingan Sistem Transportasi Amerika Serikat, Indonesia, dan Inggris

III.2 Perbedaan, Persamaan, dan Hal yang dapat diaplikasikan di Indonesia dari
Sistem Transportasi Amerika Serikat dan Inggris

Tabel 1.1 Perbandingan Sistem Transportasi Amerika Serikat, Inggris dan Indonesia
Negara
No. Variabel
Amerika Serikat Inggris Indonesia
Belum jadi prioritas
1 Keselamatan Diperhatikan sekali Diperhatikan sekali
utama
a. kereta :
+/- 3,3 pound
Sekitar US $ 2,5
b. bus : a. Kereta:
untuk umum dan
dewasa: 2 pound termurah Rp 2.000
US $ 1,1 untuk
2 Biaya pelajar >18 tahun : termahal Rp 11.000
manu la dan
1,5 pound b. Bus Perkotaan:
penyandang cacat.
penyandang cacat Rp 3.500
dan pelajar < 18
tahun : gratis

a. Kereta:
6.388 subway, dan
ideal 70 orang
4.500 bus Kapasitas alat
maks 120 orang
(kapasitas yang transportasi
3 Kapasitas b. Bus Perkotaan:
memadai sebanding sebanding dengan
Busway
dengan jumlah jumlah penumpang
Ideal 40 - 80 orang
penumpang).
Maks 60-100 orang

27
Perbandingan Sistem Transportasi Amerika Serikat, Indonesia, dan Inggris

Sangat tepat waktu


Keterlambatan a. kereta: a. Kereta :
paling lama adalah hampir selalu tepat tepat waktu > 15
3 menit, apabila waktu, apabila menit
ketika sampai terlambat lebih dari 15 menit < ideal <
keterlambatan lebih 15 menit uang 30 menit
4 Ketepatan waktu
dari 15 menit uang dikembalikan. Telat > 30 menit
kembali 50 % dan b. bus b. busway
apabila sesuai dengan datang setiap 5
keterlambatan lebih jadwal yang sudah menit, tidak
dari 30 menit, uang ada. berjadwal
kembali 100 %.
a. Kereta:
dapat tempat
duduk, tempat
duduk harus
Tempat duduk yang
empuk, AC harus
nyaman, ada untuk a. Kereta:
nyala
penyandang cacat dapat tempat duduk
5 Kenyamanan b. Busway:
dan yang bawa b. busway:
Tidak kelebihan
binatang peliharaan dapat tempat duduk
kapasitas, dapat
(anjing).
tempat duduk, AC
harus nyala, punya
fasilitas untuk
orang cacat.

Dari tabel diatas dapat dilihat perbedaan apa saja yang dimiliki oleh negara
Amerika Serikat, Inggris dan Indonesia dalam bidang transportasi. Untuk melihat
perbedaan apa yang terjadi dari sebuah sistem yang dijalankan, salah satunya dapat
diukur dari kualitas yang dihasilkan oleh sistem tersebut. Dari tabel diatas dapat
terlihat dengan jelas perbedaan sistem transportasi yang dijalankan oleh Amerika
Serikat, Inggris dan Indonesia dilihat dari kualitas yang dirasakan langsung oleh
masyarakat, seperti kenyamanan, ketepatan waktu, biaya, kapasitas, dan keselamatan.
Dari perbedaan yang ada dapat dilihat bahwa aparatur negara Indonesia dalam
menyediakan pelayanan publik khususnya dalam bidang transpotasi baru memikirkan
kepada kepentingan atau pelaksanaan yang sifatnya hanya pada tahap primer, dimana
aparatur pemerintah atau para birokrat hanya berorientasi supaya penumpang dapat
sampai tepat waktu, ada alat transportasi yang dapat mengangkut para penumpang

28
Perbandingan Sistem Transportasi Amerika Serikat, Indonesia, dan Inggris

sampai ke tujuan tanpa memikirkan keamanan dan kenyamanan para penumpang. Hal
tersebut juga dikarenakan biaya yang dibebankan pemerintah Indonesia tidak
sebanding dengan biaya yang dibebankan oleh pemerintah Amerika Serikat atau
Inggris.
Apabila diambil secara umum, dari segi perkeretaapian, biaya paling murah
yang dikeluarkan penumpang sekitar rentang Rp 2.000 – Rp 11.000, jika
dibandingkan dengan income perkapita Indonesia sekitar US $ 2.000 maka
perbandingannya sekitar 1 : 1636 sedangkan di negara Amerika Serikat dan Inggris,
tarif yang dikenakan untuk transportasi sekitar US $ 2,5. Perbandingan biaya
transportasi dengan angka pendapatan perkapita negara tersebut sekitar 1 : 16.000.
Hal itulah yang menyebabkan mengapa masyarakat di negara maju seperti Amerika
Serikat dan Inggris mendapatkan pelayanan yang lebih baik, dimana pemerintah
melakukan pelayanan sudah berorientasi pada tahap sekunder, yaitu sudah
memikirkan kepada kenyamanan dan keselamatan dari para penumpang bahkan sudah
ada yang akan mencapai pada tahap tersier yaitu sudah memperhitungkan
kemewahan.
Namun tidak serta merta dalam pelaksanaan sistem transportasinya, Amerika
Serikat, Inggris dan Indonesia hanya memiliki perbedaan saja, terdapat juga
persamaan yang dimiliki oleh ketiga negara tersebut. Pertama adalah ketiga negara
tersebut memandang dan sangat merasakan bahwa dengan adanya globalisasi yang
terjadi di dunia diperlukan adanya sistem transportasi yang baik, khususnya cepat.
Karena itu sistem transportasi yang cepat dan massal (Mass Rapid Transportation)
sudah menjadi bagian yang terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari.
Kesamaan yang lain adalah ketiga negara tersebut sama-sama menggunakan
sistem Public Private Sector, dimana ada kemitraan antara pemerintah dan swasta
atau lembaga yang ditunjuk oleh pemerintah. Di Indonesia sendiri sistem ini hanya
dijalankan pada sistem transportasi busway (bus perkotaan) dimana Indonesia
bekerjasama dengan beberapa perusahaan swasta seperti Lorena. Namun hal tersebut
tidak ditemukan pada kereta commuter, dimana perkeretaapian Indonesia dipegang
seutuhnya oleh negara. Public Private Sector juga dijalankan di negara Amerika
serikat dan Inggris. Contohnya adalah di New York, Amerika Serikat, sistem
transportasi memang menjadi otoritas dan kewenangan negara, namun badan legislatif
negara Amerika Serikat memberikan kewenangan tersebut kepada Metropolitan
Transportation Authority untuk mengurusi masalah transportasi dan pemerintah
29
Perbandingan Sistem Transportasi Amerika Serikat, Indonesia, dan Inggris

bertugas untuk membuat kebijakan dan mengawasi supaya jalannya sistem tersebut
dapat berjalan dengan baik.

III.3 Analisis
Dari penguraian diatas mengenai sistem transportasi di Indonesia, Amerika
Serikat dan Inggris dapat terlihat perbedaan ketiga negara tersebut dalam hal
administrasi negaranya. Ketiga negara tersebut menjalankan administrasi negara yang
berbeda satu sama lain. Ketika kita berbicara tentang administrasi negara ada dua hal
yang menjadi fokus utama, yaitu bagaimana membuat kebijakan yang tepat untuk
masyarakat dalam negara tersebut dan bagaimana mengimplementasikan atau hasil
pengimplementasian kebijakan tersebut. Jadi intinya administrasi negara berbicara
masalah politik yaitu bagaimana membuat suatu kebijakan serta berbicara masalah
administrasi yaitu bagaimana mengimplementasikan kebijakan tersebut.
Indonesia, Amerika Serikat dan Inggris memperlihatkan bagaimana ketiga
negara tersebut menjalankan adminitrasi yang berbeda, yaitu dari setiap kebijakan
pertransportasian yang dianut oleh Indonesia, Amerika Serikat dan Inggris.
Contohnya adalah kebijakan mengenai kepemilikan atau kepengurusan transportasi
yang menjadi salah satu bagian terpenting di suatu negara. Indonesia, Amerika Serikat
dan Inggris sama-sama menerapkan sistem Public Private Sector namun yang
menjadi perbedaan, Indonesia tidak menerapkan sistem Public Private Sector pada
setiap jenis transportasi massal yang ada. Kereta commuter tetap dipegang dan
dikendalikan sepenuhnya oleh negara dikarenakan negara melihat apabila itu
diserahkan kepada swasta akan muncul yang namanya kegagalan pasar karena adanya
monopoli oleh swasta sehingga masyarakat mengalami kerugian yang cukup besar
yang akan berakibat pada ketidaksejahteraan masyarakat di Indonesia.

30
Perbandingan Sistem Transportasi Amerika Serikat, Indonesia, dan Inggris

Bahasan mengenai sistem transportasi Indonesia, Amerika Serikat dan Inggris


dapat dihubungkan dengan mata kuliah Managemen Pelayanan Umum. Menurut
Zeithaml Berry dan Parasuraman dalam melakukan pelayanan publik, kualitas jasa
yang diberikan oleh administrator negara dapat diukur menggunakan metode servqual
yang mengidentifikasikan kualitas jasa dalam lima dimensi, yaitu tangiable,
responsiveness, realibility, assurance, dan emphaty.

Tangiable (tampilan elemen fisik), dimensi ini mencakup tersedianya fasilitas


fisik, peralatan, sumberdaya manusia, materi-materi untuk komunikasi yang
merupakan bukti nyata pelayanan. Reliability (keandalan), dimensi ini mencakup
kemampuan perusahaan untuk memberikan layanan yang akurat sejak pertama kali
tanpa membuat kesalahan apapun dan menyampaikan jasanya sesuai dengan waktu
yang telah disepakati. Responsiveness (daya tanggap), dimensi ini mencakup
kesediaan dan kemampuan para karyawan untuk membantu para pelanggan dan
merespon permintaan mereka, serta menginformasikan kapan jasa akan diberikan dan
kemudian memberikan jasa secara cepat. Assurance (jaminan), dimensi ini mencakup
perilaku karyawan yang mampu menumbuhkan kepercayaan pelanggan terhadap
perusahaan dan perusahaan bisa menciptakan rasa aman bagi pelanggannya. Jaminan
ini berarti bahwa para karyawan selalu bersikap sopan dan menguasai pengetahuan
dan keterampilan yang dibutuhkan untuk menangani setiap pertanyaan atau masalah
pelanggan dan yang terakhir adalah Emphaty (empati), berarti perusahaan memahami
masalah para pelanggannya dan bertindak demi kepentingan pelanggan, serta
memberikan perhatian personal kepada para pelanggan dan memiliki jam operasi
yang nyaman.

Pelayanan publik dalam bidang transportasi di Amerika Serikat dan Inggris


pada dasarnya hampir sama, yaitu sudah memperhatikan kelima dimensi yang ada.
Amerika Serikat sudah sangat memperhatikan dimensi tangiable dari transportasinya,
dalam hal ini Amerika Serikat memperhatikan sekali dan melakukan perawatan
(maintenance) terhadap kendaraan angkutan, stasiun serta halte-halte bus agar
pelanggan dapat merasakan kenyamanan ketika sedang menunggu atau melakukan
perjalanan. Kedua adalah dimensi reability, kedatangan dan keberangkatan bus atau
kereta yang tepat waktu atau keterlambatan maksimal tiga menit dan pengembalian
uang kepada pelanggan apabila terjadi keterlambatan menjadi salah satu bentuk dari

31
Perbandingan Sistem Transportasi Amerika Serikat, Indonesia, dan Inggris

keandalan yang dimiliki oleh Amerika Serikat. Responsivessness ditunjukan dengan


sikap dari para petugas angkutan apabila terdapat mesin koin yang rusak dan
pelanggan merasa dirugikan akan hal tersebut. Dikarenakan pelayanannya yang baik
kepada masyarakat sehingga muncullah kepercayaan masyarakat untuk tetep
menggunakan transportasi massal yang telah disediakan, disini muncul akan apa yang
dimanakan dengan assurance. Dimensi yang terakhir adalah emphaty. Empati bukan
hanya bagaimana petugas memberikan pelayanan yang ramah kepada masyarakat
tetapi juga memiliki jam operasi yang nyaman, seperti terdapat jadwal yang tepat dan
angkutan yang sesuai dengan keperluan masyarakat di setiap jam-jam sibuk dalam
penggunaan pelayanan transportasi.

Sedangkan apabila kita melihat sistem transportasi di Indonesia, kelima


dimensi tersebut belum diterapkan seluruhnya dengan benar. Tangiable, angkutan di
Indonesia terutama kereta ekonomi sangat buruk dalam tampilan fisiknya, kurang ada
perawatan yang seimbang dibandingkan dengan jumlah penumpang dan jam
operasinya. Selain itu, tidak semua stasiun memberikan kenyamanan dan fasilitas
yang baik bagi para pelanggan yang sedang menunggu. Dalam dimensi
responsiveness, para petugas yang dtempatkan dilapangan (stasiun) kurang tanggap
dalam memberikan informasi dimana letak kereta yang paling cepat akan sampai ke
stasiun tersebut sehingga menimbulkan kebingungan bagi para penumpang yang
dalam keadaan terdesak. Reability, dalam aspek ini administrator negara telah
membuat kebijakan yang baik, yaitu dengan membuat jadwal yang harus diikuiti oleh
petugas kereta, namun terkadang rasa acuh yang dimiliki oleh petugas menjadi
momok sendiri bagi sistem perkeretaapian di Indonesia. Assurance, hal ini yang
sangat disoroti dari sistem transportasi Indonesia, terutama kereta. Masih banyaknya
tindakan kriminalitas diatas kereta dan di stasiun-stasiun menimbulkan rasa takut dan
khawatir bagi masyarakat yang akan menggunakan transportasi tersebut. Masyarakat
dihinggapi rasa takut dan cemas. Yang terakhir adalah dimensi emphaty, dimana
petugas yang melakukan pelayanan kadang dipengaruhi oleh keadaan dirinya
sehingga apabila keadaaan petugas tersebut sedang kurang baik, petugas akan
memberikan pelayanan yang kurang baik kepada masyarakat dan menimbulkan word
of mouth di masyarakat.
Apabila dilihat dari metode servqual tersebut, terdapat perbedaan bagaimana
administrator negara mengatur pelayanan publik dalam bidang transportasi. Amerika

32
Perbandingan Sistem Transportasi Amerika Serikat, Indonesia, dan Inggris

Serikat dan Inggris yang sudah memperhatikan kelima dimensi tersebut sedangkan
Indonesia yang belum dapat melaksanakan pelayanan publik berdasarkan kelima
dimensi yang dikemukakan oleh Berry dan Parasuraman.

BAB IV
PENUTUP

IV. 1 Kesimpulan

Amerika Serikat, Inggris dan Indonesia sama-sama menyadari bahwa


transportasi merupakan hal krusial dan sama-sama menggunakan sistem public-privat
partnership dalam penyediaan layanan transportasi publik, kecuali layanan kereta
commuter di Indonesia. Pemerintah Indonesia menguasai sepenuhnya layanan kereta
commuter.
Perbedaan mendasar yaitu orientasi pemerintahnya. Dalam hal pengadaan
layanan transportasi publik, pemerintah Indonesia masih berada pada tahap primer
yang berorientasi pada bagaimana menyediakan transportasi publik agar masyarakat
dapat sampai pada tempat tujuan, sedangkan pemerintah Amerika Serikat sudah
berada pada tahap sekunder yang berorientasi pada kenyamanan dan sangat
memperhatikan keselamatan, bahkan sudah sampai pada tahap tersier, yaitu
memperhatikan kemewahan.
Hal yang dapat dipelajari dari penerapan sistem MRT di Amerika Serikat dan
Inggris adalah pengadaan layanan secara public-privat partnership dan berada pada
33
Perbandingan Sistem Transportasi Amerika Serikat, Indonesia, dan Inggris

tahap sekunder di mana sangat memerhatikan keselamatan dan kenyamanan (kualitas


layanan). Busway-Transjakarta telah menerapkan sistem tersebut, namun pemerintah
masih tetap berada pada tahap primer. Hal ini dibuktikan bahwa Transjakarta
merupakan bus rapid transit yang memiliki rute atau jalur terbanyak di dunia namun
kualitas pelayanannya tidak sebaik bus rapid transit di negara lain.

IV. 2 Saran
Sebenarnya ada beberapa cara yang dapat dilakukan agar pelayanan
transportasi di Indonesia dapat diubah kearah yang lebih baik. Salah satunya dengan
melakukan reformasi administrasi yang dikemukakan oleh Han Been Lee. Ada dua
alternatif reform yang disarankan oleh Han Been Lee apabila organisasi ingin
melakukan perubahan ke arah yang lebih baik, yaitu dengan a new wine in an old
bottle atau an old bottle in a new wine.
A new wine in an old bottle adalah alternatif dimana dalam organisasi, tetap
menggunakan sistem yang lama tapi dengan orang-orang yang berbeda, sedangkan an
old bottle in a new wine adalah alternatif dimana organisasi tetap menggunakan
sumber daya manusia yang sama tapi dengan sistem atau peraturan yang berbeda.
Sebaiknya dalam masalah pertransportasiaan di Indonesia apabila ingin mendapatkan
bentuk pelayanan yang lebih baik diperlukan reform yang menggunakan an old bottle
in a new wine karena apabila semua sistem sudah diperbaiki, peraturan sudah
dijalankan dengan tepat, ketat dan tidak hanya sekedar formalitas, serta adanya sistem
reward and punishment, orang-orang dalam organisasi mau tidak mau harus
mengikuti peraturan ketat yang ada sehingga pelayanan akan jauh lebih baik dan
mengalami suatu perubahan ke arah yang lebih baik.

34