Anda di halaman 1dari 26

UNIVERSITAS

BINA NUSANTARA

TANTANGAN, PELUANG DAN USULAN


STRATEGI PENGEMBANGAN INDUSTRI
TIK DI INDONESIA

Nama: Hendrik
Nim: 1000874374
Jurusan: Sistem Informasi
Dosen: Agus Putranto

Universitas Bina Nusantara


2009
Daftar Isi

Abstrak…………………………………………………………………………………….1

Pendahuluan……………………………………………………………………………….1

Identifikasi Masalah……………………………………………………………………….2

Ruang Lingkup…………………………………………………………………………….3

Tujuan dan Manfaat……………………………………………………………………….3

Kitnas, Solusi, dan Agenda Pembangunan TIK…………………………………………..3

Menjadikan Teknologi Informasi dan Komunikasi sebagai Industri Strategis Penunjang


Pertahanan…………………………………………………………………………………7

Permasalahan Pertahanan Indonesia………………………………………………………8

Langkah Menjadikan TIK sebagai Industri Strategis……………………………………..9

Industri TIK Indonesia, Bangkit di Tengah Krisis dengan Open Source………………..10

Mempertimbangkan Penggunaan Open Source………………………………………….10

Open Source dan Industri TIK Lokal…………………………………………………….11

Saatnya Industri TIK Nasional Bangkit………………………………………………….11

Peran TIK untuk kebangkitan Negeri……………………………………………………12

Pembangunan Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia, Tantangan dan Peluang……… 12

Kesimpulan………………………………………………………………………………21

Saran……………………………………………………………………………………..21
Daftar Pustaka……………………………………………………………………………22

Daftar Riwayat Hidup……………………………………………………………………23


TANTANGAN, PELUANG DAN USULAN STRATEGI
PENGEMBANGAN INDUSTRI TIK DI INDONESIA

Hendrik
Univ.Bina Nusantara

ABSTRAK

Tulisan ini memuat usulan strategi pembangunan industri teknologi informasi dan
komunikasi (TIK) dalam negeri melalui keterlibatan dan peran serta pemerintah, operator
sebagai prime mover, industri dalam negeri beserta industri-industri lokal pendukungnya,
perguruan tinggi, konsorsium R&D nasional dan institusi riset nasional, serta mitra
strategis. Strategi ini sekaligus untuk mengatasi permasalahan hilangnya devisa negara
akibat pembanguan TIK.

Kata kunci: Industri Dalam Negeri, Strategi Pengembangan

PENDAHULUAN
Upaya keras dari pemerintah untuk membangun sarana dan fasilitas teknologi
informasi dan telekomunikasi di Indonesia bertujuan untuk memfasilitasi kegiatan
interakasi ekonomi-sosial masyarakat dan sektor produksi. Oleh sebab itu pemerintah
berupaya keras untuk memperluas jangkauan layanan telekomunikasi sampai ke seluruh
lapisan masyarakat. Instrumen yang digunakan selama ini adalah melalui badan usaha
operator telekomunikasi yang melakukan usaha/bisnis layanan telekomunikasi melalui
layanan fixed line, seluler, atau satelit. Secara teknis cara ini telah berhasil membuat
fasilitas telekomunikasi menjangkau seluruh wilayah geografis Indonesia (dari Sabang
sampai Merauke). Namun keterjangkauan teknis-geografis ini tidak membuat sistem
telekomunikasi terjangkau bagi masyarakat, yang merupakan sasaran utama. Solusi saat
ini masih terlalu mahal bagi sebagian besar calon pelanggan. Akibatnya dari 250 juta
penduduk Indonesia, pelanggan telekomunikasi diperkirakan baru mencapai 8 juta orang
(3%) untuk fixed line, 30 juta (13%) untuk seluler, serta puluhan ribu (0.04%) untuk
satelit. Sekitar 43.000 desa dari 67.000 desa belum terjangkau akses telepon. Oleh sebab
itu, pemerintah, melalui Ditjen Postel, mencanangkan program kewajiban pelayanan
umum, atau yang lebih dikenal dengan nama program universal service obligation
(USO). Program ini dimaksudkan untuk membangun fasilitas dan layanan telekomunikasi
bagi segmen masyarakat yang belum sanggup menjangkau layanan yang diselenggarakan
badan usaha operator. Meskipun USO adalah initiative pemerintah dalam fungsinya
sebagai agen pembangunan dan regulator jaringan, USO tetap merupakan bagian
terintegrasi dari system telekomunikasi nasional, dan memberikan layanan yang
transparan, serta berkualitas sama dan setara dengan pelanggan non-USO. Selain itu,
program USO juga menjadi kepentingan operator dan dibiayai oleh kontribusi operator.
Identifikasi Masalah
Segala upaya membangun dan memperluas fasilitas telekomunikasi di Indonesia,
meskipun bertujuan baik dan perlu didukung, memiliki potensi masalah besar dan
mendasar. Usaha pembangunan ini memerlukan investasi yang tidak sedikit. Sebagai
gambaran, di tahun 2003 menurut estimasi Mastel, industri operator Indonesia
menghabiskan investasi sebesar Rp. 40 triliun, sedangkan revenue yang diperoleh
diperkirakan sekitar Rp. 50 triliun. Proporsi yang investasi yang sangat dominan ini
menyebabkan waktu pengembalian modal mencapai sekitar 7 tahun. Hal ini diperburuk
dengan persaingan harga yang sangat tajam, sehingga menurunkan kemampuan operator
untuk memperpendek waktu pengembalian modal. Dari investasi sebesar ini, industri
produk dalam negeri hanya mendapat pangsa pasar kurang dari 1%. Kontribusi industri
manufaktur telekomunikasi nasional hanya berkisar 3% dari total belanja nasional
infrastruktur telekomunikasi sebesar Rp. 40 trilyun selama periode 2004-2005. Dari total
3% tersebut, yang merupakan produk asli nasional hanya berkisar di angka 0,1% - 0,7%
(IDR 1,2 milyar – IDR 8,4 milyar). Dengan kata lain, praktis semua nilai investasi
menjadi capital flight yang mempengaruhi balance of payment secara negatif. Akibatnya
sebagian besar dana masyarakat yang terkumpul melalui pembayaran pulsa layanan
telekomunikasi harus dikirim ke luar negeri sebagai cicilan investasi peralatan tersebut,
setidak-tidaknya selama tujuh tahun. Hal ini diperparah oleh maraknya pembelian
terminal seluler yang murni produk asing oleh konsumen Indonesia. Akibat dari situasi
ini, janji pertumbuhan ekonomi akibat perluasan fasilitas telekomunikasi tidak terjadi
secara optimal di Indonesia. Efek multiplier dari investasi terhadap ekonomi lokal tidak
terjadi. Sebaliknya setiap penambahan satuan sambungan terpasang (sst) di Indonesia
berarti memperluas mekanisme penyedotan dana masyarakat untuk dikirim ke luar
negeri. Pertumbuhan ekonomi yang diharapkan akan di-offset oleh impak negatif ini.
Jalan keluar dari dilema antara perlunya perluasan fasilitas telekomunikasi dengan
perlunya menghentikan mekanisme kontraksi ekonomi masyarakat akibat penggunaan
layanan telekomunikasi adalah dengan membangkitkan industri telekomunikasi nasional.
Industri peralatan telekomunikasi nasional adalah instrumen Indonesia untuk dapat tetap
memperluas jangkauan fasilitas telekomunikasi dan menikmati multiplier effect dari
investasi tersebut. Bagi sektor yang menghabiskan investasi Rp 40 triliun setahun untuk
memperoleh revenue Rp 50 triliun, impak intervensi dari industri nasional terhadap
ekonomi nasional sangat luas dan fenomenal. Kehadiran industri peralatan nasional
dalam kebijakan pembangunan sektor telekomunikasi ditengarai memiliki impak umpan
balik positif pada upaya memperluas daya jangkau layanan telekomunikasi bagi
masyarakat. Dana investasi yang berputar di dalam negeri membuka lapangan kerja di
dalam negeri, yang pada gilirannya menumbuhkan konsumen bagi operator
telekomunikasi. Operator yang memiliki pelanggan yang semakin bertambah akan
mampu menurunkan harga berkat keuntungan economy-of-scale (increasing return to
scale). Dengan harga semakin terjangkau, semakin banyak masyarakat yang menjadi
pelanggan. Beberapa data dari negara maju mendukung hipotesa ini. Rumah tangga di
Jepang dapat membeli layanan Internet 100 Mbps pada Yahoo!BB dengan biaya Rp 300
ribu per bulan, sedangkan ITB harus membayar PT Telkom Rp. 8 juta perbulan untuk
128 kbps. Turunnya biaya Internet ini sangat membantu upaya mengatasi digital divide.
Program USO perlu dikembangkan dalam kerangka pikiran yang sama. Terlebih lagi,
data yang ada menunjukkan investasi per sst di daerah pedesaan jauh lebih mahal
dibandingkan biaya di daerah perkotaan. Harus dicegah sejak dini sekenario perluasan
mekanisme penyedotan dana masyarakat desa untuk dikirim ke luar negeri. Dengan kata
lain, program USO seharusnya sepenuhnya merupakan peluang bagi industri peralatan
dalam negeri.

Ruang Lingkup
Adapun batasan masalah dalam penulisan ini adalah sebagai berikut:
- Membuka kesempatan bagi terwujudnya iklim usaha yang kondusif
- Menciptakan peraturan perundangan yang transparan, konsisten dan memberikan
jaminan terhadap dunia usaha dan masyarakat
- Meningkatkan wirausaha baru serta meningkatnya produktivitas sumber daya manusia
- Memfasilitasi kegiatan interakasi ekonomi-sosial masyarakat dan sektor produksi

Tujuan dan Manfaat


Tujuan dari penulisan ini adalah:
- menganalisa strategi apa yang digunakan dalam pembangunan industri teknologi
informasi dan komunikasi (TIK) dalam negeri
- merancang fasilitasi kegiatan interakasi ekonomi-sosial masyarakat dan sektor produksi
- menganalisis keterjangkauan teknis-geografis yang tidak membuat sistem
telekomunikasi terjangkau bagi masyarakat
- menganalisis masalah dalam pengembangan telekomunikasi di Indonesia

Manfaat dari penulisan ini adalah :


- untuk mengetahui usulan strategi pembangunan industri teknologi informasi dan
komunikasi (TIK) dalam negeri
- mempunyai gambaran total belanja nasional infrastruktur telekomunikasi selama
periode 2004-2005
- mendapatkan gambaran fungsi program USO

Kitnas, Solusi, dan Agenda Pembangunan TIK


Teknologi Informasi dan komunikasi menurut Anatta Sannai, Jakarta Indonesia, 2004
adalah sebuah media atau alat bantu dalam memperoleh pengetahuan antara seseorang
kepada orang lain.

Menurut Puskur Diknas Indonesia tahun 2008


a. Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) mencakup dua aspek, yaitu Teknologi
Informasi dan Teknologi Komunikasi.

i. Teknologi Informasi adalah meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses,
penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi, dan pengelolaan informasi.
ii. Teknologi Komunikasi adalah segala hal yang berkaitan dengan penggunaan alat bantu
untuk memproses dan mentransfer data dari perangkat yang satu ke lainnya.

b. Teknologi Informasi dan Teknologi Komunikasi adalah suatu padanan yang tidak
terpisahkan yang mengandung pengertian luas tentang segala kegiatan yang terkait
dengan pemrosesan, manipulasi, pengelolaan, dan transfer/pemindahan informasi antar
media

Menurut Armein Z. R. Langi (2006), menyadari strategisnya peran industri


peralatan dalam negeri, maka Konsorsium Industri Telekomunikasi Nasional (KITNAS)
dibentuk pada bulan Desember 2003 di Bandung oleh industri nasional dengan dukungan
PT Telkom Indonesia.
Anggota KITNAS adalah:
• PT INTI
• PT LEN Industri
• PT CMI
• PT Telnic
• PT Hariff
• PT Quasar
• PT TKD
• PT Clarisense
• PT Tri-Tech
• ITB / PP-TIK / RUSNAS TIMe
KITNAS dibangun untuk menjawab ironi hancurnya industri peralatan telekomunikasi
Indonesia ditengah maraknya industri operator telekomunikasi. Tujuan KITNAS adalah
memperjuangkan tumbuhnya industri telekomunikasi nasional untuk menjadi kekuatan
dunia di tahun 2008. KITNAS berupaya membangun kompetensi dunia dengan bertumpu
pada sektor yang masih memiliki celah yaitu telekomunikasi rural (pedesaan). Oleh sebab
itu, penting bagi KITNAS untuk mendominasi peralatan program USO sebagaimana
diperlihatkan pada agenda Gbr. 1. Agenda KITNAS ini perlu mendapat dukungan
stakeholder telekomunikasi Indonesia.
Pembentukan KITNAS tidak lepas dari upaya terpadu untuk membangun ekonomi
Indonesia sampai ke pedesaan. Oleh sebab itu stakeholder KITNAS cukup luas.
Sebagaimana diperlihatkan pada Gbr. 2, stakeholder ini berserta fungsinya adalah
• Operator telekomunikasi membangun dan menawarkan layanan ICT untuk membangun
ekonomi digital masyarakat. Upaya Menkominfo, Depdagri, dan Diknas untuk
membangun masyarakat ICT, egovernment, dan elearning dapat terwujud melalui
tawaran layanan ICT.
• Untuk mendukung layanan ini, operator jaringan serta Ditjen Postel (melalui program
USO) membangun infrastruktur yang menjangkau seluruh masyarakat. Program Menko
Ekuin mengenai pembangunan infrastruktur desa terpadu (IDT) sejalan dengan sekma
ini. Hal ini bertujuan memperkecil digital divide dalam masyarakat Indonesia.
• Deployment dari infrastruktur jaringan perlu dilakukan menggunakan industri peralatan
dalam negeri. Tujuan utamanya adalah agar terjadi economy multiplier effect dari
investasi ini. KITNAS adalah salah satu instrumen untuk memastikan hal ini. Program
Depperindag untuk membangun industri strategis ICT mendapat dukungan dari kegiatan
ini.
• Peralatan industri Indonesia harus dibangun berbasis investasi riset dan teknologi oleh
badan riset dan perguruan tinggi Indonesia. Tujuannya adalah mengurangi
ketergantungan Indonesia pada teknologi asing. Program Menristek seperti Riset
Unggulan Strategis Nasional (RUSNAS) sangat sesuai untuk tujuan ini.

Untuk mendukung skema ini, KITNAS memiliki technology roadmap yang


menuju ke solusi Next Generation Network (NGN)-4G. Sesuai dengan kajian program
Riset Unggulan Strategis Nasional (RUSNAS) TIMe dari Kantor Menristek, teknologi ini
merupakan teknologi strategis yang sedang kuasai peneliti Indonesia. Dengan visi
teknologi yang jauh ke depan ini, KITNAS bertekad untuk menjadi industri kelas dunia
di bidang rural communication. Oleh sebab itu, KITNAS mengusulkan solusi rural NGN
yang disebut USONET yang tidak mudah obsolet. USONET menggunakan teknologi
softswitch, protokol internet, digital radio link, serta terminal multimedia-multi services,
hasil penelitian anggota KITNAS dan program RUSNAS.
Dalam perspektif teknologi, program USO terjadi dalam era unik dimana industri
telekomunikasi sedang mengalami perubahan fundamental (disruptif) dari meninggalkan
teknologi PSTN, berada pada era teknologi seluler, dan menuju era NGN. Skala dari
perubahan ini sangat mendasar, setara dengan munculnya teknologi mobil penumpang
massal yang mendisrupsi industri transportasi kereta api di awal tahun 1900an. Visi
teknologi NGN adalah teknologi berbasis protokol internet IP dengan kemampuan
menjalankan multilayanan [2]. Jaringan inti PSTN mulai diupgrade dengan jaringan IP di
atas fiber optics. Jaringan akses juga mulai diupgrade ke broadband berbasis IP. Terminal
telepon diugrade dengan terminal berkemampuan multimedia. Sentral diganti dengan
router yang disebut softswitch. Proses signaling dilakukan oleh software agent, mirip
dengan travel agent pada industri transportasi. Saluran telekomunikasi tidak lagi
berbicara tentang telepon, tetapil multilayanan. Teknologi selulerpun mulai mengadopsi
NGN pada generasi keempatnya (4G). Wireless digunakan untuk akses pada jaringan inti
IP. Diperkirakan layanan seluler dan fixed akan berintegrasi dengan mulus pada 4G, yaitu
jaringan heterogen. Integrasi yang sangat penting pada NGN juga adalah integrasi
teknologi LAN / WLAN (IEEE 802.11) dan turunan nya (WiMax IEEE 802.16 2004).
Pentingnya integrasi ini terutama dari nilai ekonomis perangkat. Berbeda dengan
peralatan PSTN dan seluler yang dikenal sebagai peralatan profesional (professional
products), peralatan LAN/WLAN adalah peralatan konsumen (consumer products).
Dengan demikian produksi peralatan ini jauh lebih masal, dan mendorong harga investasi
menjadi jauh lebih murah. Biaya investasi per sst dapat ditekan menjadi tinggal 25% dari
biaya PSTN. Dengan demikian, teknologi yang optimal untuk mendukung sistem
telekomunikasi masa depan adalah teknologi NGN-4G. Teknologi ini memudahkan
integrasi teknis dari berbagai ragam teknologi peralatan. Selain itu NGN memungkinkan
multilayanan yang membangun sumber revenue baru. Teknologi NGN sanggup
memberikan layanan yang membangung ekonomi digital, sehingga sustainabilitasnya
lebih terjamin. Sebagai teknologi baru, teknologi NGN ini tidak mudah obsolet.
USONET juga merupakan kasus penting migrasi PSTN ke NGN. Dengan USONET,
KITNAS membantu operator PSTN memuluskan progres upgrade ini. Saat ini
kecenderungan dunia memperlihatkan gejala pudarnya PSTN dan tumbuhnya NGN. Jadi,
USONET membantu transisi operator PSTN dari sunset industry menuju ke sunrise
industry.

Dengan demikian agenda KITNAS beserta stakeholder terkait adalah sebagai berikut:
• Step 1: Membentuk KITNas (Action Plan: Depperindag, Industri, Telkom, Perguruan
Tinggi)
• Step 2: Mendukung proposal KITNas untuk memenangkan sebagian tender USO 2006
(Action Plan: Menkominfo/Postel, Depkeu, KITNas, operator PSTN/Selular/satelit)
• Step 3: Mendukung proposal KITNas untuk membangun infrastruktur ICT Indonesia
(Action Plan: Menkominfo, KITNas, Telkom)
• Step 4: Membuat Technology Roadmap untuk mengantisipasi teknologi produk KITNas
lima tahun ke depan, serta menggalang komunitas riset Indonesia untuk memfokuskan
segala upaya merebut teknologi yang dituju (Action Plan: Menristek, KITNas)
• Step 5: Menyiapkan KITNas menjadi kekuatan global di tahun 2008.

Menjadikan Teknologi Informasi dan Komunikasi sebagai Industri Strategis


Penunjang Pertahanan

Kesepakatan Presiden SBY dan B.J. Habibie baru-baru ini untuk merevitalisasi industri
strategis Indonesia membawa harapan cerah bagi masa depan bangsa Indonesia.
Pertemuan ini seharusnya dapat menjadi kesempatan besar untuk memasukkan sebuah
bidang penting ke dalam industri strategis, yakni teknologi informasi dan komunikasi
(TIK). Bidang ini telah menjadi penyangga kehidupan umat manusia di zaman modern.
Sadar atau tidak sadar, kehidupan ini telah menjadi semakin praktis berkat teknologi
informasi dan komunikasi (TIK). Bahkan TIK adalah jantung yang mensuplai energi bagi
jalannya industri seperti perbankan, telekomunikasi, dan manufaktur. Melihat fenomena
tersebut, tidak mengherankan jika banyak negara menjadikan TIK sebagai industri
unggulan dalam rencana pembangunan mereka. Bahkan negara-negara yang bangkit di
awal abad 21 seperti India dan China memiliki portfolio industri TIK yang impresif.
Negara-negara tersebut sadar, bahwa TIK dapat melesatkan pertumbuhan ekonomi
mereka. TIK adalah industri masa depan, sehingga penguasaan TIK merupakan langkah
strategis untuk menjadi negara yang berpengaruh di masa depan. Salah satu bidang yang
sangat bergantung pada penguasaan TIK adalah pertahanan. Dengan TIK, peralatan
militer hari ini menjadi jauh lebih efektif dan efisien dibandingkan dengan saat Perang
Dunia II. Contoh peran intensif TIK dalam militer dapat dilihat pada next generation
weaponry yang sedang dibangun negara-negara maju saat ini. Pada 3rd Conference
Examines Role of ICT in Military Transformation 2006, NATO mengumumkan
rencananya untuk menambahkan kapabilitas jaringan (Network Enabled Capability) pada
angkatan bersenjata negara-negara anggotanya. Diharapkan dengan kapabilitas ini,
seluruh sensor, pengambil keputusan, sistem persenjataan, termasuk militer
multinasional, pihak pemerintah serta non pemerintah dapat terhubung secara penuh
dalam sebuah lingkungan perencanaan, penaksiran, dan pelaksanaan yang terintegrasi.
Memang bidang pertahanan membutuhkan seluruh state-of-the-art dari TIK. Bahkan
uniknya, banyak world-class discoveries dalam TIK seperti internet, dilahirkan dan
dibesarkan dalam lingkungan militer sebelum disebar pada khalayak. Adalah sebuah
fakta, bahwa keunggulan komparatif angkatan bersenjata sebuah negara berbanding lurus
dengan kemodernan alat utama sistem pertahanan (alutsista)-nya. Sementara kemodernan
alutsista berbanding lurus dengan penguasaan TIK. Oleh karena itu, mengakselerasi
pertumbuhan industri TIK sangat penting untuk meningkatkan keunggulan komparatif
angkatan bersenjata negara ini. Dan salah satu cara untuk mengakselerasinya adalah
dengan menjadikannya sebagai industri strategis negara. Saat ini, posisi Indonesia sendiri
dalam bidang TIK memang tertinggal dari negara-negara Uni Eropa, Jepang, apalagi
Amerika, China, dan India. Untungnya, TIK memiliki keunikan tersendiri dimana
sebagian besar industri ini bersifat brain-based. Artinya, walau hanya dengan modal yang
sedikit, seseorang sudah bisa melakukan proses pertambahan nilai. Sifat inilah yang
memungkinkan TIK dapat ditingkatkan dengan biaya yang lebih kecil dibanding dengan
industri lain.
Permasalahan Pertahanan Indonesia

Permasalahan yang selama ini dianggap menghambat pembangunan pertahanan


Indonesia adalah kecilnya dana yang disediakan pemerintah. Memang, statistik
menunjukkan anggaran pertahanan Indonesia jauh di bawah negara lain. Sebagai contoh,
pada tahun 2005 Amerika yang sering digunakan untuk menginjak dan mengintimidasi
negara lain memiliki pengeluaran militer hampir 43 kali lipat milik Indonesia
(www,globalissues.com). Atau jangankan dibandingkan Amerika, dengan sesama negara
Asia Tenggara saja, perbandingan anggaran pertahanan / PDB Indonesia pada tahun 2005
menempati posisi kedua terbawah setelah Filipina (J. Danang Widoyoko, Menyoal
Anggaran Pertahanan). Tapi benarkah permasalahan militer ada pada rendahnya
anggaran? Apakah dengan menambah jumlah anggaran, persoalan militer akan selesai?
Hal ini penting dijawab sebelum mengalokasikan APBN untuk pertahanan. Memang
secara pragmatis, dengan bertambahnya anggaran pertahanan maka jumlah alutsista akan
semakin banyak. Namun jika ditilik dari penguasaan teknologi bangsa ini sekarang,
bertambahnya anggaran militer Indonesia malah akan semakin menambah
ketergantungan Indonesia pada negara pengekspor senjata. Habibie pernah
mendeskripsikan dengan contoh pembelian pesawat Boeing yang berharga US$ 100 juta
untuk kepentingan militer. Dalam 20 tahun ke depan, pesawat ini akan membutuhkan
biaya perawatan yang besarnya 2-3 kali lipat biaya pembeliannya. Jadi, pembelian
alutsista dengan teknologi maju dari negara lain bagai buah simalakama: entah akan
semakin menguras sumber daya di kemudian hari untuk perawatan, atau alutsista tersebut
menjadi tidak dapat dipakai karena embargo atau kekurangan dana. Dan satu hal yang
tidak boleh dilupakan, uang yang dikeluarkan negara ini justru akan digunakan negara-
negara maju untuk semakin memperkuat militer mereka. Maka kita lihat bahwa
kemandirian teknologi-lah yang sebenarnya menjadi masalah utama pertahanan
Indonesia. Dalam konteks TIK, seharusnya Indonesia dapat menjadi bangsa yang mandiri
dalam bidang TIK. Akan tetapi, penguasaan teknologi memiliki sejarah erat dengan umur
industrinya. Artinya, bila sebuah industri berumur 200 tahun, maka negara tersebut akan
memiliki keunggulan yang jelas dibanding negara yang baru 2 tahun menguasainya. TIK
sendiri adalah ilmu yang baru berusia 40 tahun. Oleh karena itu, apabila akuisisi TIK
dilakukan secepat mungkin, Indonesia tidak akan terlalu tertinggal dengan bangsa lain.
Bahkan Indonesia masih bisa mengejar ketertinggalannya dan menjadi pelopor, seperti
saat negara ini memutuskan untuk menjadi negara ketiga di dunia yang memiliki satelit
dengan Palapa.

Langkah Menjadikan TIK sebagai Industri Strategis

Untuk meraih keunggulan komparatif itu, TIK harus dimasukkan sebagai salah
satu industri strategis. Sebuah industri layak dijadikan industri strategis karena
komoditinya memiliki 3 sifat, yakni export oriented, import-substitutable, dan capital
raising. Artinya, komoditi tersebut harus bersifat mudah diekspor, dapat menggantikan
barang import yang lebih mahal, serta dapat menaikkan nilai dari pengguna komoditi
tersebut. Tantangan saat ini adalah bagaimana caranya agar industri TIK di Indonesia
memiliki ketiga sifat tersebut. Tiga buah langkah dapat dilakukan, yakni akuisisi
teknologi maju, meningkatkan kecintaan terhadap produk lokal, serta technology sharing
dengan bangsa lain.( Muhammad Ismail Faruqi, 2007).

Langkah pertama adalah akuisisi teknologi maju. Yang dimaksud dengan teknologi maju
adalah teknologi yang dimiliki oleh pihak yang sangat terbatas, entah karena memang
penguasaannya yang sulit dan membutuhkan SDM tingkat tinggi atau terhambat oleh
masalah paten dan lisensi. Apabila industri TIK Indonesia dapat memproduksi teknologi
maju, negara lain harus mengekspornya dari negeri kita.

Langkah kedua adalah meningkatkan kecintaan terhadap produk dalam negeri. Ini
penting, karena sasaran langkah ini memang militer Indonesia. Sayang, konsumen TIK di
Indonesia sudah terlanjur mencintai produk asing. Maka sudah saatnya kecintaan
terhadap produk TIK dalam negeri dipupuk. Kuncinya adalah kepercayaan dan kerjasama
dari pihak produsen dan konsumen. Produsen harus membuktikan bahwa dirinya sebagai
bangsa Indonesia mampu membuat produk TIK yang berkualitas dan teruji, dukungan
yang baik, serta mudah dipakai. Sementara itu, konsumen harus memberikan kesempatan
kepada produsen lokal, meski harganya lebih mahal daripada produk murah buatan Cina
itu.

Langkah ketiga, kita harus giat dalam melakukan technology sharing. Patut disadari,
bahwa Indonesia memiilki jumlah doktor per kepala keluarga yang sangat rendah.
Artinya, jumlah para ilmuwan dan peneliti Indonesia tidak sebanding melawan jumlah
bangsa lain. Padahal, lebih banyak kepala sebanding dengan jumlah inovasi yang dapat
dihasilkan. Oleh karenanya, kerjasama strategis dengan bangsa lain dalam bidang TIK
patut dijalin, sehingga perkembangan industrinya dapat terakselerasi.

Terakhir, pemimpin bangsa ini harus mewaspadai pragmatisme. Penguasaan TIK sampai
taraf teknologi maju bukanlah persoalan yang dapat diselesaikan hanya dalam satu
dekade, akan tetapi mungkin memakan sampai 20-30 tahun. Jika dilihat secara pragmatis,
katakanlah satu sampai lima tahun, mungkin saja TIK akan menjadi industri yang tidak
membawa laba, baik laba ekonomi maupun teknologi. Padahal walaupun terlihat rugi,
keunggulan teknologi yang akan diraih di masa depan bersifat abadi, dan akan menutupi
kerugian ekonomi. Keunggulan teknologi 20 tahun pasti akan menutupi kerugian
ekonomi selama lima tahun. Oleh karenanya, langkah ini harus dikomando oleh
pemimpin yang bervisi jauh ke depan. Karena di tangannya, TIK sebagai industri
strategis akan membawa manfaat bagi bangsa ini.

Industri TIK Indonesia, Bangkit di Tengah Krisis dengan Open Source


Awal Maret 2009, nampaknya badai krisis ekonomi global belum juga
memperlihatkan indikasi akan mereda. Nilai tukar Rupiah terhadap Dollar yang beberapa
waktu lalu telah menguat di level 10 ribu per Rupiah, kini kembali anjlok ke angka 12
ribu per Rupiah. Beberapa perusahaan yang bergerak di bidang industri Teknologi
Informasi dan Komunikasi (TIK) dunia telah melakukan tindakan penyelamatan
perusahaan di tengah krisis ekonomi. Bukan hanya perusahaan kelas menengah saja,
perusahaan yang merajai dunia TIK sekelas Google dan Microsoft pun ikut terombang-
ambing badai krisis yang menerpa dunia sejak akhir tahun 2008 lalu.
Perlahan tapi pasti, dampak krisis global di Indonesia sedikit demi sedikit mulai terasa,
khususnya untuk perusahaan yang bergerak di bidang TIK. Penurunan daya beli
masyarakat terhadap produk-produk TIK dan naiknya biaya operasional, merupakan 2 hal
yang cukup banyak dikeluhkan ketika badai krisis menerpa Indonesia. Hal ini salah
satunya disebabkan lantaran tingginya ketergantungan industri TIK nasional dengan
pasar TIK luar negeri.

Mempertimbangkan Penggunaan Open Source


Guna menyiasati dampak krisis yang nampaknya belum mau usai, industri TIK
nasional seharusnya berbenah dan mulai berpikir untuk mengadopsi Open Source sebagai
basis dari bisnisnya. Dalam hal ini, Open Source tidak melulu sistem operasi Linux,
tetapi juga mencakup aplikasi berbasis Desktop dan Web yang menyediakan akses
terhadap kode sumber (source code).
Penerapan Open Source sebagai basis dari bisnis industri TIK nasional, merujuk pada 3
pertimbangan. Pertimbangan pertama, Open Source mampu mengefektifkan biaya (cost
effective) yang dialokasikan untuk kebutuhan teknologi informasi. Karena kebanyakan
aplikasi Open Source tersedia dengan tanpa biaya alias gratis, kondisi ini mampu
mereduksi biaya lisensi yang dapat mencapai 5 juta Rupiah per satu unit komputernya
apabila menggunakan perangkat lunak proprietary. Belum lagi ditambah dengan
perangkat lunak yang memiliki model biaya berbeda. Contohnya seperti Mail Server
yang pada perangkat lunak proprietary biayanya dibebankan pada banyaknya akun
(account) email yang dibuat.
Tentu saja pengefektifan biaya ini berdampak pada ongkos produksi yang bisa ditekan
seminim mungkin sehingga berimplikasi pada lebih murahnya produk yang dijual ke
masyarakat. Dalam jangka panjang, hal ini mampu memperbaiki daya beli masyarakat
dan mengurangi angka pembajakan perangkat lunak.
Pertimbangan kedua yang membuat industri TIK nasional perlu menggunakan Open
Source adalah perangkat lunak ini mampu meningkatkan kemampuan lokal dan
kompetisi SDM secara global. Dengan kode sumber (source code) yang dapat diakses
dan dipelajari, memungkinkan industri TIK nasional membangun kebutuhan akan
perangkat teknologi informasinya secara mandiri. Belum lagi dengan kualitas produk
Open Source yang terkenal akan kualitasnya, bukan tidak mungkin industri TIK
Indonesia mampu merambah pasar TIK global yang kini cenderung didominasi oleh
perusahaan-perusahaan besar asal Amerika dan Eropa. 
Pertimbangan yang terakhir, Open Source mampu mengurangi ketergantungan terhadap
vendor dan negara asing dalam bidang TIK. Hal ini berkaitan erat dengan Open Source
yang berpotensi sangat besar memajukan industri TIK nasional, baik secara langsung
maupun tidak langsung. Secara langsung, penggunaan aplikasi Open Source
memungkinkan bangsa ini tak harus kebingungan lantaran biaya untuk menggunakan
aplikasi proprietary yang semakin tinggi. Secara tidak langsung, proses tumbuhnya
industri TIK nasional dengan Open Source, membuat bangsa kita akhirnya mampu
menyediakan kebutuhan perangkat teknologi informasinya sendiri.

Open Source dan Industri TIK Lokal


Saat ini, kualitas industri TIK lokal Indonesia masih jauh tertinggal di bawah
India dan China. Sejak beberapa tahun yang lalu, industri TIK kedua negara tersebut
sudah mulai diakui dunia. Salah satu kunci keberhasilan India dan China, mereka mampu
mengembangkan kebutuhan TIK dalam negeri dan mengurangi ketergantungannya
terhadap negara asing. Linux dan perangkat lunak Open Source lainnya, dipercaya
menjadi kekuatan utama mereka dalam mengembangkan industri TIK lokalnya.
Potensi Indonesia untuk berkembang seperti India dan China sebenarnya sangat besar.
Yang menjadi permasalahan, masih banyak orang beranggapan bahwa semakin nol nilai
sebuah barang, semakin kecil manfaatnya. Anggapan ini nampaknya berlaku juga untuk
Open Source di Indonesia. Sehingga tidak heran apabila Open Source masih dipandang
sebelah mata dan hanya dijadikan komoditas percobaan mahasiswa semata.
Belum dipahaminya model bisnis Open Source adalah salah satu sebab lainnya yang
membuat banyak pelaku industri TIK di Indonesia masih enggan mengembangkan Open
Source untuk tujuan bisnis yang lebih serius karena dirasa tidak menguntungkan.
Permasalahan lainnya, permintaan dari masyarakat yang masih syarat akan perangkat
lunak proprietary nampaknya masih menjadi salah satu faktor utama mengapa industri
TIK lokal enggan menggunakan dan mengembangkan Open Source. Seharusnya industri
TIK lokal mampu memberi pemahaman yang holistik kepada masyarakat mengenai apa
itu Open Source dan keuntungan yang bisa didapat apabila menggunakannya.

Saatnya Industri TIK Nasional Bangkit

Peluang untuk maju dan mulai merambah pasar TIK dunia, salah satunya terjadi
ketika krisis global menjambangi dunia seperti sekarang ini. Tak dapat dipungkiri lagi,
peta industri TIK dunia sedang berotasi dan memaksa industri TIK besar untuk istirahat
sejenak guna memberikan kesempatan bagi industri TIK yang lebih kecil untuk maju dan
berkembang. Kesempatan ini seharusnya jangan disia-siakan. Bagaimana pun juga,
kesempatan tak pernah datang dua kali.

Banyak bukti bahwa pemanfaatan potensi lokal secara optimal, mampu membawa sebuah
bangsa menuju jaman keemasannya. Setelah China dan India memastikan jalannya ke
ranah percaturan industri TIK dunia dengan Open Source, industri TIK Indonesia
seharusnya juga mulai berbenah mengejar ketertinggalannya.
Pertanyaannya bukanlah bisa atau tidak menggunakan Open Source. Melainkan, kapan
kita mau melakukannya dan membuka diri untuk maju bersama Open Source.

Peran TIK untuk kebangkitan Negeri


Sesungguhnya permasalahan utama negeri kita ini akan terpecahkan jika semua
unsur negeri menerima bahwa kompleksitas masyarakat Indonesia memang sangatlah
tinggi.
Menerima kenyataan bahwa perbedaan yang sangat kritis itu ada, adalah sebuah langkah
benar untuk memecahkan permasalahan rumit yang melanda negeri ini.
Setia dan memahami kembali semboyan negeri Bhinneka Tunggal Ika, tan hana dharma
mangrwa Akan membuka pintu pemecahan bagi seluruh permasalahan negeri ini.
Memahami struktur negeri yang dipenuhi oleh kompleksitas yang sedemikian tinggi akan
membuka pintu solusi bagi negeri ini.
Di sinilah peran pentingnya Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). TIK akan
menjadi sebuah perangkat penting untuk mengkomunikasikan dan merekatkan ratusan
bahkan jutaan kompleksitas di negeri ini. Implementasi TIK yang efektif akan membantu
proses identifikasi kompleksitas bangsa. Karakter TIK yang mampu merekam dengan
sangat detil tekstuur perbedaan negeri ini menjadi sebuah prasyarat utama bagi
pemecahan permasalahan bangsa.

Pembangunan Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia, Tantangan dan


Peluang

Sejarah Peradaban Manusia mencatat bahwa 50 tahun terakhir peran teknologi


informasi dan komunikasi telah menjadi bagian utama penentu gerak peradaban umat
manusia. Sebutlah bidang kemanusiaan apa yang saat ini tidak tersentuh oleh teknologi
informasi dan komunikasi ini. Bidang ekonomi, perdagangan, pertahanan keamanan,
bidang sosial, pendidikan tidak ada satupun yang tidak tersentuh oleh teknologi informasi
dan komunikasi. Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) telah berkembang sangat
jauh saat ini dan telah merevolusi cara hidup kita, baik terhadap cara berkomunikasi, cara
belajar, cara bekerja, cara berbisnis, dan lain sebagainya. Era informasi memberikan
ruang lingkup yang sangat besar untuk mengorganisasikan segala kegiatan melalui cara
baru, inovatif, instan, transparan, akurat, tepat waktu, lebih baik, memberikan
kenyamanan yang lebih dalam mengelola dan menikmati kehidupan. Dengan teknologi
informasi dan komunikasi semua proses kerja dan konten akan ditransformasikan dari
fisik dan statis menjadi digital, mobile, virtual dan personal. Akibatnya kecepatan kinerja
bisnis meningkat dengan cepat. Kecepatan proses meningkat sangat tajam di banyak
aktivitas modern manusia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak aktivitas yang
berubah menjadi sangat cepat, proses Analisa perdagangan (trading analytics) misalnya,
yang dahulu membutuhkan waktu 30 menit sekarang hanya membutuhkan 5 detik;
Operasional penerbangan (airline operation), yang dahulu 20 menit sekarang hanya 30
detik; Pertanyaan-pertanyaan yang diterima oleh call center (call center inquiries), yang
dahulu membutuhkan waktu 8 jam, dengan bantuan expert information system sekarang
hanya membutuhkan waktu 10 detik; Penelusuran posisi keuangan (track financial
position), yang dahulu membutuhkan waktu 1 hari penuh, sekarang hanya 5 menit;
Supply chain updates, yang dahulu 1 hari sekarang hanya 15 menit; Transfer dokumen
(document transfer) yang dahulu 3 hari, sekarang hanya 45 detik; Aktifasi telepon (phone
activation) yang dahulu 3 hari sekarang hanya 1 jam; Pemulihan gudang data (refresh
data warehouse) yang dahulu 1 bulan sekarang hanya 1 jam; Penyelesaian dagang (trade
settlement) yang dahulu 3 hari, sekarang hanya 1 hari; Pemesanan PC (build to order PC)
yang dahulu 6 hari, sekarang hanya 24 jam.
Bagaimana memanfaatkan Teknologi ini untuk meningkatkan daya saing Nasional
misalnya menjadi tugas yang tidak ringan1. Sampai dua tahun yang lalu daya saing
Indonesia masih menempati urutan ke-58 dari 60 negara di dunia. Posisi ini kembali
turun. Kurang dari dua pekan dari hari ini kembali kita mendengarkan adanya
pengumuman ranking daya saing Indonesia yang kembali diturunkan peringkatnya
sebagai negara yang memiliki daya saing yang rendah di dunia. Human Development
Index Indonesia pada Tahun 2004 masih menempati urutan ke-111 dari 177 negara dan
urutan ke-5 dari negara ASEAN, E-Readiness Indonesia (kesiapan infrastruktur teknologi
informasi dan komunikasi, serta kebijakan lingkungan usaha dan sosial yang mendukung)
pada tahun 2005 menempati urutan ke-59 dari 64 negara. Realitas kondisi ini
memberikan kesempatan yang luas bagi Tekonologi Informasi dan Komunikasi untuk
berperan lebih luas. Ruang perkembangan yang sangat luas inilah yang memberikan
kesempatan bagi seluruh warga negara, bahkan termasuk para Lulusan Jurusan Ilmu
Komputer Unika Parahyangan ini untuk ikut berperan mengisinya. Itulah mengapa topik
Keynote Speech saya saat ini berkaitan dengan tantangan dan peluang bagi para lulusan
Jurusan Ilmu Komputer. Marilah kita berjalan-jalan melihat seluruh wilayah negeri ini.
Marilah kita melihat-lihat garis pantai yang bahkan lebarnyapun akan jauh lebih panjang
dibandingkan dengan panjang benua Eropa. Negeri kita memiliki garis pantai terpanjang
di seluruh dunia. Apa yang dapat dilakukan oleh TIK terhadap kharakter khas alam
negeri ini? Apa yang menjadi kelebihan dari garis pantai yang lebar, apa yang menjadi
kekurangannya, apa yang menjadi kelemahan dan kekuatannya ? Baru-baru ini kita
mendengar keberhasilan Polri membongkar penyelundupan 1 Ton narkoba yang dikirim
oleh para pengedar obat terlarang ini dari salah satu lokasi pantai dari ribuan kilometer
garis pantai yang kita miliki. Dengan garis pantai yang ribuan kilometer yang kita miliki
ini, sebenarnya membuat negeri ini menjadi sangat terbuka. Hampir tidak mungkin untuk
mengendalikan dan mengontrol seluruh aktivitas yang dilakukan di titik-titik pantai di
perairan laut yang kita miliki. Bagaimana TIK berperan dalam memecahkan masalah
seperti itu ? Ada kesempatan yang luar biasa besar bagi TIK untuk ikut membenahi
masalah-masalah seperti ini. Yang berarti terbuka peluang yang sangat luas bagi para
lulusan ilmu komputer untuk ikut berperan langsung. Marilah kita lihat sekarang
kekayaan alam laut yang kita miliki. Bangsa kita ini memiliki sumber daya alam yang
paling banyak ragamnya di muka bumi ini. Belum pernah ada sebuah lokasi yang
memiliki keragaman kekayaan alam laut sebanyak yang diberikan oleh Tuhan kepada
Bangsa ini. Ada sebuah data dari Departemen Kelautan dan Perikanan (Data September
2005) yang mengungkapkan bahwa di tahun 2005 ada sekitar 5 juta orang penduduk di
Pulau General Santos Filipina yang menikmati hasil laut Indonesia dari sebanyak 250
kapal ikan Filipina yang menangkap ikan di Indonesia secara resmi. Data ini membuat
ijin menangkap ikan yang tadinya diberikan terpaksa dihentikan pada tahun itu, karena
diperkirakan terdapat jutaan ton ikan per tahun yang diangkut ke negara tetangga itu
tanpa ada bagi hasil dengan Indonesia. Dari data yang dimiliki oleh Departemen yang
sama misalnya saat ini terdapat potensi lestari ikan laut sebesar 6,2 juta ton ikan yang
baru tereksploitasi kurang lebih sebanyak 3,5 juta ton ikan saja (kurang dari 56 persen).
Sebanyak 65 % potensi ikan tuna dunia ternyata dimiliki oleh Indonesia. Sisanya 35 %
dibagi - bagi di banyak perairan laut lain di muka bumi. Data yang luar biasa ini
memberikan informasi kepada kita bahwa negeri ini sangat kaya raya. Jutaan dollar
potensi hasil laut yang kita miliki dapat kita eksploitasi untuk menyediakan dana yang
cukup bagi kesejahteraan negeri. Jutaan dollar potensi laut yang kita miliki akan
memberikan dana yang cukup bagi puluhan juta keluarga miskin dan jutaan
pengangguran yang ada di Indonesia ini misalnya. Di sinilah peran penting TIK di
Indonesia. Peran penting TIK adalah membantu mengidentifikasi kekayaan yang dimiliki
oleh negeri, membantu proses eksploitasi dan pemanfaataannya, serta membantu
mengarahkan kelebihan yang dimiliki oleh kekayaan alam yang melimpah ruah ini untuk
memecahkan berbagai masalah yang dihadapi oleh negeri. Dalam aktivitas
pengembangan embrio bisnis dikenal istilah technopreneurship. Sebuah aktivitas
pengembangan usaha yang mengedepankan kemandirian dalam bidang permodalan kerja
dan berorientasi pada utilitas dan penggunaan keunggulan teknologi termasuk teknologi
informasi. Kita melihat dengan nyata bukti dari technopreneurship ini di Lembah Silicon.
Hampir 80 % usaha industri yang saat ini mendominasi dunia dibangun dari lembah
silicon dengan pendekatan technopreneurship ini. Marilah kita lihat fenomena Google
yang saat ini memiliki nilai bisnis lebih dari 120 milyar dollar yang mengungguli
pendahulunya Yahoo yang saat ini memiliki nilai bisnis hanya 60 milyar dollar.
Bandingkan nilai bisnis ini dengan misalnya nilai Bisnis PT Telkom Tbk. yang baru
mencapai kurang dari setengah dari nilai bisnis Yahoo. Nilai bisnis besar yang dicapai
oleh perusahaan-perusahaan berbasis TIK ini ternyata dibangun pada awalnya oleh
pengembangan nilai-nilai technopreneurship di lembah silicon. Kita bisa mengusung
konteks technopreneurship ini dalam pemanfaatan keunggulan TIK di Indonesia terhadap
berlimpahnya sumber daya alam yang ada di Indonesia. Di sini dan dalam konteks yang
sama para lulusan jurusan Ilmu Komputer dapat menemukan peran penting dan peluang
yang sangat besar untuk tumbuh dan berkembang. Terkait dengan hal ini juga perlu saya
ingatkan lingkungan industri untuk memperhatikan sektor riset dan development.
Panduan normal untuk alokasi dana Riset dan Pengembangan adalah sebesar 5 % s.d. 25
% dari total nilai penjualan yang dimiliki oleh perusahaan. Besarnya nilai yang
diinvestasikan untuk aktivitas R&D ini akan menjadi salah satu pendorong munculnya
aktivitas terkait technopreneurship2. Pengalokasian dana lebih besar untuk aktivitas R&D
ini akan mendorong lebih cepat technopreneurship. Sebelum mengurai lebih lanjut betapa
luasnya manfaat teknologi Informasi dalam kehidupan kita marilah kita melihat sebentar
apa yang telah terjadi pada bangsa ini beberapa waktu yang lalu, serta apa peran
Teknologi Informasi dan Komunikasi di sana. Baru-baru ini ketika terjadi rangkaian
bencana Tsunami dan gempa bumi besar di Pantai Selatan Pulau Jawa, Yogyakarta, Jawa
Tengah, Sumatera Utara dan Nanggroe Aceh Darussalam teknologi informasi dan
komunikasi hadir membantu remediasi seluruh kehidupan masyarakat korban bencana.
Ratusan ribu korban yang berguguran membuat aktivitas penanganan pasca bencana
harus dilakukan dengan sangat cepat. Rusaknya infrastruktur jalan, jaringan
telekomunikasi, instalasi listrik, perumahan, dan berbagai sarana penunjang aktivitas
sosial lain membuat penanganan korban menjadi sangat tidak mudah. Teknologi
informasi dan komunikasi hadir dan memberikan banyak kemudahan dalam proses
evakuasi terbesar dalam sejarah Republik ini. Dengan perangkat telepon satelit yang kecil
dan mudah dibawa; proses evakuasi korban, pemberian bantuan, dan pemantauan
keadaan korban bencana menjadi mudah dilakukan. Tidak terbayangkan apa yang terjadi
di NAD dan Sumatera Utara, Pantai Selatan Pulau Jawa, dan Yogyakarta pasca bencana
Tsunami dan gempa tanpa bantuan teknologi informasi dan komunikasi. Di Nagroe Aceh
Darussalam diakui atau tidak bencana Tsunami telah menyebabkan sebuah periode
sejarah peradaban manusia Indonesia musnah dari Bhumi Serambi Mekah itu. Demikian
juga di Yogyakarta, dan daerah-daerah pantai pesisir selatan Pulau Jawa. Selain
musnahnya jiwa dan harta, ada tak terhitung data dan informasi yang musnah pasca
bencana tersebut. Informasi yang dikumpulkan selama ratusan tahun di Bhumi Aceh
misalnya hilang bersama dengan ratusan ribu jiwa. Bahkan sampai saat ini Kita tidak tahu
informasi penting apa saja yang telah hilang akibat bencana besar itu. Informasi itu
mungkin sangat dibutuhkan di masa yang akan datang, dan sampai saat ini kita juga tidak
mengetahui bagian peradaban Republik Indonesia mana saja yang akan terhambat jika
informasi tersebut musnah. Dunia masa depan adalah dunia yang dipenuhi jalinan
informasi masa lalu dan masa kini yang rumit. Sebuah bangsa akan kehilangan jati
dirinya jika ada setitik jalinan informasi ini yang hilang. Sampai saat ini ilmu
pengetahuan masih belum mengetahui wajah integral kondisi masa lalu peradaban dan
kehidupan yang ada di dunia. Banyak misteri tak terpecahkan yang muncul karena
adanya missing link informasi. Dan missing link yang muncul ini terbukti banyak
membuat manusia modern malah kehilangan jati dirinya, tak mengerti arah dan tujuan
berkembangnya peradaban. Dan di masa kini missing link informasi ini bisa berarti
munculnya banyak kerusakan besar di dunia. Tugas kita yang hidup pasca bencana
Tsunami yang baru lalu adalah bagaimana memanfaatkan keunggulan Teknologi
Informasi ini untuk melindungi informasi di seluruh Indonesia, agar jika ada bencana
atau kerusakan besar yang melanda, tidak lagi ada kemusnahan informasi massal yang
membuat bangsa ini kehilangan jati dirinya. Puluhan ribu bahkan ratusan ribu yang gugur
pasca rangkaian bencana tersebut, memberikan pesan kepada kita yang masih hidup agar
memanfaatkan teknologi informasi untuk menjaga informasi berharga di sekitar kita,
untuk bekal kehidupan bangsa ini di masa depan. Dengan bencana beruntun yang terjadi
itu kita kembali diingatkan bahwa negeri kita berada di lokasi ring of fire, sebuah negeri
yang paling banyak memiliki potensi terkena guncangan gempa. Tidak bisa kita
bayangkan betapa lebih hancurnya Bangsa Indonesia, jika bencana-bencana ini terjadi di
Ibu Kota Jakarta, misalnya. Sebuah kota yang memuat lebih dari 99 % informasi tentang
hidup dan kehidupan Bangsa Indonesia. Betapa banyak informasi vital Bangsa yang
musnah jika bencana seperti ini terjadi di Jakarta. Sungguh Tuhan masih mencintai
bangsa Indonesia. Tanah serambi Aceh, Yogyakarta, pantai selatan Pulau Jawa, dan
beberapa lokasi negeri ini, untuk kesekian kalinya telah memposisikan diri sebagai
penyelamat seluruh Bangsa. Dengan bersedia menerima rangkaian bencana ini dari
Tuhan, maka sebenarnya seluruh Bangsa Indonesia akan terselamatkan. Bencana-bencana
besar yang melanda, pada hakekatnya adalah salah satu bentuk kecintaan Tuhan Yang
Maha Esa kepada bangsa Indonesia, untuk memberikan ruang pembelajaran besar bagi
Bangsa ini terutama terhadap pengelolaan informasi. Hanya saja mampukah kita semua
saat ini menarik hikmah besar dari peristiwa ini ? Itulah sekelumit peran besar Teknologi
Informasi dalam menyelamatkan Bangsa ini. Contoh kasus penanganan bencana yang
terjadi di beberapa lokasi bencana dengan bantuan Teknologi Informasi dan Komunikasi
sebenarnya telah menunjukkan wajah dan peran penting Teknologi ini bagi bangsa kita di
masa kini dan masa-masa yang akan datang. Transformasi telah terjadi di semua bidang
hidup manusia akibat Teknologi Informasi. Sampai pertengahan 2006 yang lalu misalnya
Time Magazine mencatat angka bisnis biro jodoh di internet mencapai lebih 500 juta
dollar atau sekitar 5 Trilyun rupiah. Di dalam negeri akhir Maret 2006 yang lalu lebih
dari 1 juta orang nasabah perbankan telah menggunakan mobile banking berbasis sms
(sms-banking) pada 17 bank Nasional. Bisnis dan bahkan aktivitas personal saat ini dapat
dilakukan dengan sangat efisien dengan bantuan Teknologi ini. Sebagai gambaran betapa
besarnya nilai transaksi yang berkait dengan aktivitas berbasis on line ini misalnya dapat
dilihat dari transaksi keuangan yang saat ini dilakukan Bank Indonesia dengan sistem
RTGS (real time gross settlement). Volume transaksi yang dilakukan oleh sistem yang
dibangun oleh Bank Indonesia saat ini telah mencapai rata-rata Rp 111 triliun rupiah
sehari dari sekitar 18.900 transaksi (bandingkan dengan kliring harian sebanyak 300.000
warkat dengan jumlah rata-rata Rp.4,9 triliun)4? Aktivitas transaksi elektronik yang
berasal dari kartu kredit, mesin ATM, transaksi elektronik antar perusahaan telah
mencapai 81 Trilyun per hari. Aktivitas E-Commerce dunia berbasis web juga telah
mencapai nilai yang tidak kalah besar. Sebagai gambaran lain tentang besarnya pasar dan
aktivitas manusia yang telah terhubung dengan aktivitas e-commerce adalah statistis
jumlah pengguna internet di dunia dan gambaran kecepatan perkembangannya. Pada
tahun 1994 jumlah pengguna internet dunia hanya 3 juta orang. Jumlah ini berkembang
dengan pesat dan dalam waktu 4 tahun pada tahun 1998 jumlahnya telah mencapai 100
juta pengguna7. Setiap hari jumlah pengguna internet telah berkembang sebanyak 600
ribu orang per hari8, sebanyak 1000 situs per hari tampil di internet pada tahun 2006 ini.
Bandingkan juga data ini dengan data dari DFC Intelligent yang mengungkapkan
penjualan game on line global mencapai nilai lebih dari 3 milyar dollar pada tahun 2006
dan diperkirakan akan mencapai 13 milyar dollar pada tahun 20119. Pada tahun 2006
jumlah pengguna internet diperkirakan mencapai jumlah lebih dari 1 Milyar orang di
seluruh dunia. Karakter pasar raksasa ini berbeda dengan pasar konvensional yang
dibatasi oleh koridor ruang dan waktu. Pasar raksasa internet ini adalah pasar tunggal
dengan karakter sangat terbuka. Tanpa melihat posisi negara yang berbeda dan tanpa
melihat dan mengikutsertakan karakter produsen dan konsumen, maka pasar internet
secara hakikat adalah pasar terbesar yang pernah dibangun oleh umat manusia. Pada
tahun 1996 penerimaan yang diperoleh dari konsumen e-commerce mencapai nilai
sebesar 1,8 milyar dollar Amerika. Pada tahun 2002 mencapai nilai 26 milyar dollar
Amerika. Pada tahun 2002 jumlah ini berkembang pada kisaran 42,2 milyar dollar
Amerika. Besarnya nilai transaksi inilah yang membuat pengamat seperti Amy Harmon
menjuluki E-Commerce sebagai the next big thing11, sementara internet sendiri sebagai
infrastruktur utama Ecommerce saat ini disebut-sebut sebagai the mainstream budaya
saat ini. Data pertengahan tahun 2006 ini menunjukkan industri terkait teknologi
informasi berkembang sebesar 6,9 %. Industri jasa berkembang paling besar dengan
tingkat perkembangan 10,4 %, disusul dengan industri aplikasi telematika 8,7 %,
hardware 6,5 % dan perangkat komunikasi 7,8 %12. Teknologi Informasi dan
Komunikasi menjanjikan banyak keunggulan yang menjadi tugas kita bersama untuk
terus mengelaborasinya. Ada tiga bagian utama pembangun teknologi informasi yang
dirumuskan oleh para ahli sebagai kolaborasi dari 3 domain C (Computer,
Communication, dan Content). Pakar teknologi informasi komunikasi yang lain
merumuskan komponen pembangun itu dengan lebih sederhana yaitu terdiri dari
komponen komponen Hardware, Software, dan Firmware. Komponen Hardware
sungguhpun terlihat kasat mata bentuknya, akan tetapi ternyata hanya merupakan kurang
30 % persen dari seluruh bagian sistem yang membangun Teknologi Informasi dan
Komunikasi. Lebih dari 70 % komponen pembangun Teknologi Informasi dan
Komunikasi adalah software atau aplikasi (Data CITRAS Indonesia). Artinya tanpa ada
aplikasi maka sebuah mikro komputer, desktop komputer, LAP Top atau sebuah Palm
Top, ataupun sebuah Super Computer hanyalah onggokan logam tersusun yang tidak
dapat diambil manfaatnya selain oleh para pencari logam bekas. Sebuah komputer atau
bahkan perangkat telekomunikasi seharga 300 juta dollar US seperti satelit hanyalah
sebuah logam bersusun yang tidak dapat digunakan tanpa adanya aplikasi atau software
yang menjalankannya, susunan logam tersebut hanya akan menjadi sebuah tubuh jiwa.
Sesungguhnya JIWA dari Teknologi Informasi dan Komunikasi ternyata adalah aplikasi
atau softwarenya.
Sama seperti manusia sesungguhnya yang paling berarti dan memberi makna kehidupan
manusia adalah JIWAnya. Karena betatapun sentosa dan kuat fisiknya akan tetapi tanpa
JIWA dia jauh beda dengan SEONGGOK BATU. Sedemikian pentingnya sisi perangkat
lunak dari Teknologi Informasi dan Komunikasi membuat pemerintah memutuskan
membentuk Direktorat Aplikasi Telematika di bawah Departemen komunikasi dan
informatika. Pembentukan Departemen Komunikasi dan Informatika dan khususnya
Dirjen Aplikasi Telematika ini memang ditujukan untuk mendayagunakan kelebihan
Teknologi Informasi untuk kemajuan bangsa. Deretan angka ini masih ditambah dengan
belum siapnya seluruh komponen Teknologi informasi dan komunikasi untuk digelar di
seluruh Indonesia. Teledensitas, sebuah angka untuk mengukur penetrasi infrastruktur
teknologi informasi misalnya masih menunjukkan angka 11 – 25% untuk kota besar,
sementara untuk pedesaan baru mencapai 0.2%. Masih terdapat ± 43.022 desa tanpa
akses telepon (64.4% dari 66.778 desa). Penetrasi infrastruktur telekomunikasi, 7.82 juta
fixed line (±3% penduduk), ± 24 juta telepon selular (5.5% penduduk). Pelanggan
Internet tahun 2004 di-estimasi sebesar 1.3 juta. Pengguna Internet tahun 2004 di-
estimasi sebesar 12 juta. Sementara itu 80 % penggunaan bandwith internet saat ini masih
untuk game online dan akses-akses non produktif lainnya. Sementara di sisi lain kita
dituntut oleh masyarakat internasional untuk segera merampungkan persiapan awal
menuju Masyarakat Informasi Global. WSIS – (World Summit on the Information
Society) yang merupakan forum teknologi informasi dan komunikasi dunia di bawah
badan PBB ITU (International Telecommunication Union) sepakat untuk mencanangkan
pada Tahun 2015, rencana-rencana aksi sebagai berikut :
1. Menghubungkan Desa dengan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dan
membentuk Community Access Point;
2. Menghubungkan Universitas, Akademi, tingkat SMU dan SMP, tingkat SD dengan
Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK);
3. Menghubungkan Pusat Ilmu dan Penelitian dengan Teknologi Informasi dan
Komunikasi (TIK);
4. Menghubungkan Perpustakaan Umum, Pusat Kebudayaan, Museum, Kantor Pos dan
Kearsipan dengan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK);
5. Menghubungkan Pusat Kesehatan dan Rumah Sakit dengan Teknologi Informasi dan
Komunikasi (TIK);
6. Menghubungkan seluruh instansi pemerintah pusat dan daerah dan membuat website
dan alamat e-mail;
7. Mengadopsi seluruh kurikulum sekolah dasar dan menengah dalam menghadapi
tantangan masyarakat informasi, harus diperhitungkan pada taraf nasional;
8. Memastikan bahwa seluruh populasi di dunia mempunyai akses untuk pelayanan
televisi dan radio;
9. Mendorong pengembangan konten dan menempatkan pada tempatnya kondisi secara
teknis dalam rangka memfasilitasi keadaan terkini dan penggunaan semua bahasa di
dunia di Internet;
10. Memastikan bahwa lebih dari setengah penduduk dunia mempunyai akses dengan
Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).

Paling tidak sampai dengan tahun ini ketentuan PBB melalui WSIS tersebut belum
mampu kita penuhi dengan baik. Dari sinilah arti penting dan aktivitas pembangunan
yang dilakukan dimulai oleh setiap bangsa di seluruh dunia. Di dalam negeri
perkembangan pasar peranti lunak selama ini masih menjadi target pasar bukan pemain.
Dengan menjadi target pasar-pun, konsumsi Teknologi Informasi (TI) secara keseluruhan
relatif masih sangat rendah terhadap konsumsi TI di negara-negara tetangga seperti
Malaysia dan Singapura. Konsumsi TI di Indonesia per-2005 hanya mencapai US$ 1,9
miliar, dimana 80% masih didominasi oleh peranti keras. Sementara itu, produk peranti
lunak hanya mencapai 8% dan 12% diraih dari penjualan layanan peranti lunak. Bila
peranti lunak digabung dengan layanannya, total menjadi 20% atau sekitar US$380 juta.
Sementara itu, berdasarkan riset dari Forrester Research, pasar peranti lunak secara
global mencapai US$207 miliar. Bila diproyeksikan terhadap PDB, maka angka
konsumsi TI Indonesia di atas hanya sekitar 0,7%. Sementara itu, konsumsi TI di India
sudah mencapai 3% terhadap PDB negara tersebut. Di India, konsumsi TI tahun lalu
mencapai US$18 miliar, sedangkan konsumsi di Amerika Serikat telah mencapai US$346
miliar. Mestinya Indonesia bisa mencapai US$3 miliar (angka ideal konsumsi TI
Indonesia). Di lihat dari kondisi perkembangan TI sekarang, potensi TI Indonesia
sebenarnya besar, namun juga menyimpan tantangan yang tinggi.

Sementara itu Peta Aktivitas Pengembang Aplikasi di Indonesia menunjukkan trend


perkembangan sebagai berikut :
1. Jumlah Pengembangan Tingkat menengah ke atas ada 200 ISV (Independent Software
Vendor); 15 go international
2. Konsentrasi terbesar ada di Jabotabek (>60%)
3. Anggota ASPILUKI: 94 ISV, perkembangan di daerah2: Jambi, Bali, Jogyakarta
4. Pertumbuhan di daerah2: Bali, Jabar, Jateng, Sumut, Jatim dst.
5. Terdapat Inisiatif pengembangan ‘software development centers

~ Pemerintah & swasta: RICE – Regional IT Center of Excellence; ada tiga lokasi saat
ini:
- RICE PT Inti di Bandung
- RICE Trisakti di Jakarta
- RICE Dinas Deperindag di Bali
~ Universitas & swasta: BHTV, SalatigaCamp, Bogor Cyber Park, Cimahi Cyber City,
TobaTech dsb.

Peta kondisi dalam negeri ini di sisi lain bercerita betapa besarnya peluang untuk
membangun industri aplikasi dalam negeri. Sampai 25 tahun yang akan datang Industri
Software akan menjadi industri yang paling penting di seluruh dunia(McFarlan et al).
Peran software menjadi sebagai ‘key enablers’ untuk industri-industri yang lain (dari
entertainment seperti film sampai dengan property, manufacturing, process, e-
governement).Sementara di sisi lain hasil survey Global menunjukkan trend umum
bahwa negara dengan pertumbuhan TIK yang cepat memiliki pertumbuhan ekonomi yang
cepat pula. Sementara pertumbuhan TI dalam survey yang sama ditentukan oleh besar
pembelanjaan yang tepat pada bidang software dan layanan TIK. Dari penurunan hasil
survey Global tersebut dapat diambil kesimpulan tumbuhnya industri dan pasar legal
software lokal akan mendorong tidak hanya pasar TIK tapi juga pertumbuhan ekonomi
yang lebih baik. Pemerintah bersama seluruh stake holder Bangsa berupaya keras
mencapai target besaran-besaran Masyarakat Informasi Indonesia ini. Berikut ini adalah
target utama pengembangan industri software yang akan dibangun di dalam negeri.
Bersama dengan masyarakat, dunia usaha, dan industri target ini akan diraih bersama-
sama.
Target utama pengembangan industri software

Di samping target terbangunnya industri TIK tersebut pemerintah saat ini sedang
memperjuangkan dengan keras proses pembangunan Regulasi yang akan memberikan
kepastian hukum yang lebih baik kepada para pengguna TIK di Indonesia. RUU
Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) saat ini sedang dalam pembahasan yang serius
di lingkungan Pansus RUU ITE DPR-RI untuk dapatnya disahkan menjadi Undang
Undang. Penggelaran aktivitas elektronik ini di Indonesia masih mengalami kendala dari
sisi aspek legalitas dan dasar hukum bagi pelaksanaan dan pengembangan aktivitasnya.
Kendala dari sisi hukum ini menjadi sisi terlemah dari penggelaran aktivitas berbasis TIK
di Indonesia. Sebagai sebuah negara yang menjunjung tinggi nilai hukum kondisi ini
tidak dapat diterima begitu saja di Indonesia. Di hampir seluruh negara di dunia masalah
ini memang masih menjadi masalah yang rumit untuk dipecahkan. Di Amerika Serikat
jauhnya jarak pemahaman hukum dengan pemahaman digital atau pemahaman cyber
melahirkan lusinan regulasi transaksi elektronik yang rumit dan teknis. Pemahaman
aspek inti teknis yang rumit dari transaksi elektronik ini ternyata menyeret lusinan
regulasi yang sangat teknis ke dalam domain hukum. Akan tetapi rendahnya pemahaman
mengenai domain TIK dari para penentu regulasi (legislatif dan juga eksekutif) tidak
harus membuat kita tidak memiliki landasan regulasi yang cukup untuk melakukan
aktivitas yang legal dalam pengelaran TIK. Kita doakan dalam beberapa waktu yang akan
datang kita akan memiliki Undang-undang ITE yang akan mewadahi secara legal seluruh
aspek aktivitas berbasis TIK yang ada di Indonesia. Muara dari seluruh aktivitas
pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah adalah tercapainya Masyarakat Informasi
Indonesia pada tahun 2015 (MII 2015) yang akan datang. Masyarakat Informasi
Indonesia ini adalah masyarakat yang mampu memanfaatkan keunggulan TIK di semua
sektor sebagai sebuah faktor enabler bagi sektor tersebut. Masyarakat Informasi
Indonesia 2015 juga akan memfasilitasi jalan tercapainya bangsa Indonesia yang maju
dengan Teknologi Informasi. Mengutip pesan Presiden Indonesia, Susilo Bambang
Yudhoyono, dalam sebuah pidatonya tentang peran Teknologi Informasi dan
Komunikasi, bahwa sudah selayaknyalah pemanafaatan Teknologi informasi mampu
memberikan nilai tambah bagi masyarakat luas, mendorong partisipasi masyarakat di
dalam pemanfaatan Teknologi Informasi sehingga terwujud masyarakat yang cerdas yang
selanjutnya akan mampu meningkatkan daya saing bangsa. Menurut Presiden
selanjutnya, Masyarakat cerdas berarti setiap komponen masyarakat akan bergerak
bersama mewujudkan Gerakan Siswa Cerdas, Gerakan Desa Maju. Gerakan Guru
Cerdas, Gerakan Pesantren Cerdas, Gerakan Petani Cerdas, Gerakan Aparat Cerdas,
Gerakan Nelayan Pintar, dan seterusnya, sehingga Bangsa Indonesia mampu bersaing di
tataran kompetisi lokal, nasional, regional, maupun global.

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penulisan tantangan , peluang dan usulan strategy pengembangan
industri TIK di Indonesia , maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Keberhasilan KITNAS dalam memperjuangkan agenda revitalisasi industri
telekomunikasi perlu diperjuangkan bersama stakeholder. Agenda KITNAS adalah
agenda untuk kepentingan bangsa secara umum dan kepentingan sektor
telekomunikasi secara khusus. Anggota KITNAS adalah industri peralatan, bukan
pendesain program USO maupun operator. Oleh sebab itu kerjasama terpadu dan
proporsional perlu dilakukan. Pembagian tugas stakeholder harus sesuai dengan
keahlian dan wewenangnya. Tugas utama KITNAS adalah datang dengan produk
USONET yang inovatif dan sanggup memasangnya pada lokasi USO sehingga
beroperasi dengan baik. Tugas kantor Ditjen Postel adalah mengatur administrasi dan
ketentuan USO serta menyalurkan dana USO sehingga dapat mewujudkan USONET
di daerah USO. Tugas Operator (PSTN, Seluler, Satelit, dll) adalah mengintegrasikan
sistem USO ke dalam jaringan operasi nasionalnya sehingga masyarakat desa
terlayani dengan baik.

2. Penguasaan TIK sampai taraf teknologi maju bukanlah persoalan yang dapat
diselesaikan hanya dalam satu dekade, akan tetapi mungkin memakan sampai 20-
30 tahun.

SARAN
Agenda KITNAS penting dan berharga untuk diperjuangkan, sehingga langkah
tegas harus segera dilakukan. Saran dari penulis merekomendasikan stakeholder
untuk melakukan langkah sebagai berikut:
A. Mempertegas dukungan agenda revitalisasi industri telekomunikasi nasional yang
dicanangkan KITNAS, sehingga organisasi internal KITNAS serta dukungan
stakeholder eksternal lebih solid lagi. Kami menyarankan untuk segera melakukan
koordinasi antar departemen terkait, serta operator telekomunikasi, sehingga
agenda KITNAS dapat dievaluasi, disempurnakan, dan dijalankan dengan lebih
pasti.
B. Mengubah pola pelaksanaan program USO agar lebih sejalan dengan agenda
revitalisasi. Program sepenting ini harus dijalankan dengan agenda kepentingan
nasional yang lebih luas, termasuk pengembangan KITNAS. Bila ternyata
memang agenda nasional ini tidak mungkin dilakukan oleh badan departemen
yang terikat ketentuan ketat, maka Ditjen Postel segera membentuk badan
independen yang jauh lebih lincah dan kompeten untuk menjalankan program ini.
Program USO dan agenda KITNAS merupakan peluang emas bagi semua
stakeholder di sektor telekomunikasi. Bila langkah langkah terpadu dapat
dilakukan dengan tegas, maka sektor telekomunikasi akan membawa berkat yang
sungguh besar bagi bangsa Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

1. Armein Z. R. Langi, "Prospek komunikasi masyarakat pedesaan Indonesia yang


berkelanjutan", Makalah dalam eII2006.

2. Armein Z. R. Langi, "Komunikasi Lapis Tiga: strategi baru untuk telekomunikasi


Indonesia", Makalah dalam eII2006.

3.http://ismailfaruqi.jepang.info/menjadikan-teknologi-informasi-dan-komunikasi-
sebagai-industri-strategis-penunjang-pertahanan/id/

4. https://www.aptel.depkominfo.go.id/download/ca_1.pdf

5. https://www.aptel.depkominfo.go.id/index.php?
option=com_content&task=view&id=49

6. https://www.aptel.depkominfo.go.id/index.php?
option=com_content&task=view&id=54

7. http://duniatik.blogspot.com/2008/02/pengertian-teknologi-informasi-dan.html

DAFTAR RIWAYAT HIDUP


Nama: Hendrik
Tempat, tgl lahir: Tanjung Balai, 21 Mei 1988
Jenis kelamin: Pria
Alamat: Kalideres Permai
Blok. G3 No. 5B
No Telepon: 021-5413316
Email: ndrik_21@yahoo.com

Riwayat Pendidikan

Tahun 1994-2000: Tritunggal Katolik (Tanjung Balai)


Tahun 2000-2003: Tritunggal Katolik (Tanjung Balai)
Tahun 2003-2006: San Marino (Jakarta)
Tahun 2006-sekarang: Bina Nusantara

Pengalan kerja: -