Anda di halaman 1dari 104

LEMBAGA KAJIAN DAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN

(L K P P)
_____________________________________________________________

LAPORAN MODUL PEMBELAJARAN BERBASIS SCL

Judul
PENINGKATAN PENGETAHUAN KONSEPSI
SISTEMATIKA DAN PEMAHAMAN SYSTEM ORGAN IKAN
YANG BERBASIS SCL PADA MATAKULIAH IKHTIOLOGI

oleh:

DR. ANDI IQBAL BURHANUDDIN, M.Fish. Sc.

Dibiayai oleh Dana DIPA Universitas Hasanuddin


Sesuai dengan Surat Perjanjian Pelaksanaan Pekerjaan
Nomor: 469/H4.23/PM.05/2008 Tanggal 04 Februari 2008

JURUSAN ILMU KELAUTAN


FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
FEBRUARI 2008
LEMBAGA KAJIAN DAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN
(L K P P)
Lantai Dasar Gedung Perpustakaan Universitas Hasnuddin

HALAMAN PENGESAHAN

LAPORAN MODUL PEMBELAJARAN


PROGRAM TRANSFORMASI DARI TEACHING KE LEARNING
UNIVERSITAS HASANUDDIN 2008

Judul: PENINGKATAN PENGETAHUAN TENTANG KONSEPSI


SISTEMATIKA DAN PEMAHAMAN SYSTEM ORGAN DAN
BENTUK ADAPTASI IKAN YANG BERBASIS SCL PADA
MATAKULIAH IKHTIOLOGI

a. Nama : Dr. Andi Iqbal Burhanuddin, M. Fish. Sc.


b. N I P : 132 102 308
c. Pangkat/ Golongan : Penata/ III.c
d. Jurusan : Ilmu Kelautan
e. Fakultas/Universitas : Ilmu Kelautan dan Perikanan / Univ. Hasanuddin
f. Biaya : Rp. 4.000.000,- (Empat Juta Rupiah)
Dibiayai oleh Dana DIPA Universitas Hasanuddin
Sesuai dengan Surat Perjanjian Pelaksanaan Pekerjaan
Nomor: 469/H4.23/PM.05/2008 Tanggal 04 Februari 2008

Makassar, 04 Februari 2008

Mengetahui,
Dekan Fakultas Ilmu Kelautan dan
Perikanan UNHAS Pembuat Modul

(Prof. Dr. Ir. H. Sudirman, MP) (Dr. Andi Iqbal Burhanuddin, M. Fish. Sc.)
NIP. 131 860 849 NIP. 132 102 308

ii
KATA PENGANTAR

Universitas Hasanuddin dalam mewujudkan penyelenggaraan pendidikan yang


berkualitas dan berkelanjutan sebagai tujuan utamanya memiliki tahapan agenda dalam
rangka mencapai Visi dan Misi Citra Unhas 2010, yaitu memiliki sistem pendidikan
yang handal melalui penyelenggaraan proses pembelajaran berbasis pada pendekatan
learning.
Peningkatan kapasitas belajar mahasiswa sangat ditentukan oleh keaktifan dan
kemampuan untuk memanfaatkan literaratur dari berbagai sumber, termasuk literatur
yang mudah diperoleh berupa modul setiap mata ajaran. Berdasarkan hasil evaluasi diri
jurusan Ilmu Kelautan menunjukkan proses pembelajaran (mahasiswa dituntut aktif)
belum optimal karena salah satunya adalah belum terlaksananya penyusunan
bahan/modul kuliah sebagai salah satu bentuk proses pendekatan metode learning.
Mata kuliah Ikhtiologi adalah mata kuliah wajib yang menjelaskan tentang ikan
dan segala aspek kehidupannya. Dalam penyajian mata kuliah ini memerlukan
penjelasan yang lebih atraktif, detail, jelas dan mudah dimengerti. Oleh karena itu,
sistem pembelajaran matakuliah Ikhtiologi dengan pendekatan SCL ini memungkinkan
mahasiswa lebih aktif berdiskusi, lebih atraktif dan reflektif dalam penyajian, cepat dan
jelas dalam mengakses materi dan literatur perkuliahan, sehingga proses pembelajaran
dengan metode learning dapat tercapai.
Penyediaan bahan atau modul kuliah Ikhtiologi bagi mahasiswa mutlak
diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dalam proses pembelajaran yang optimal.
Perubahan dan pembaruan materi pembelajaran akan menjamin keberlanjutan minat dan
motivasi mahasiswa jurusan Ilmu Kelautan untuk terus memperluas wawasannya dengan
cara lebih aktif.

iii
RINGKASAN

Mata kuliah Ikhtiologi adalah mata kuliah wajib untuk diprogramkan oleh
mahasiswa Jurusan Ilmu Kelautan. Mata kuliah ini menjelaskan tentang ikan dan segala
aspek kehidupannya.
Dalam garis besarnya modul pembelajaran mata kuliah Ikhtiologi ini terbagi atas
10 modul. Modul pertama berupa pendahuluan yang menjelaskan tentang ruang lingkup
ikhtiologi, ikan dan kanekaragaman habitatnya, perkembangan ikhtiologi dan pentingnya
ilmu ikhtiologi, dan sistem penamaan ikan serta peristiwa penyebaran atau distribusi ikan.
Modul ke dua membahas tentang sistem integumen yaitu suatu system yang
sangat bervariasi; padanya terdapat sejumlah organ ataupun struktur tertentu dengan
fungsi yang bermacam-macam. Sistem integumen dapat dianggap terdiri dari kulit yang
sebenarnya dan derivat-derivatnya. Gigi pada ikan hiu, scute, keel dan beberapa tulang
tengkorak pada ikan merupakan modifikasi dari sisik. Pada sistem sistem ini juga
termasuk di dalamnya organ cahaya, pewarnaan kulit dan kelenjar beracun. Pada bab ini
mahasiwa diharapkan mampu menjelaskan tentang integumen ikan dan dapat
membedakan jenis-jenis sisik pada ikan, menjelaskan mekanisme terbentuknya lendir
beserta fungsi secara fisiologis lendir pada kehidupan ikan. Bab ini juga mahasiswa
diharapkan mampu menjelaskan hubungan antara pewarnaan tubuh pada ikan dengan
jenis habitat mereka ditemukan. Selain dari itu, mahasiswa juga diharapkan mampu
menjelaskan proses sistem pewarnaan pada tubuh ikan beracun.
Modul ke tiga menjelaskan tentang sistem urat daging yang pada prinsipnya ikan
mempunyai tiga macam urat daging atau otot berdasarkan struktur dan fungsinya, yaitu:
otot polos, otot bergaris, dan otot jantung. Dari penempelannya juga bisa dibedakan
menjadi dua yaitu otot menempel pada rangka yaitu otot bergaris dan yang tidak
menempel pada rangka yaitu otot jantung dan otot polos. Sasaran pembelajaran pada
bab ini yaitu mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan fungsi sistem otot,
hubungannya dengan pergerakan tubuh ikan.
Modul ke empat menjelaskan tentang sistem rangka yaitu suatu system yang
dibangun oleh struktur-struktur keras dari tubuh yang bersifat menyokong dan
melindungi. Rangka pada ikan seperti halnya pada golongan vertebrata lainnya

iv
berfungsi untuk menegakkan tubuh, menunjang dan menyokong organ-organ tubuh serta
berfungsi pula dalam proses pembentukan butir darah merah. Sasaran pembelajaran pada
bab ini adalah mahasiswa mampu menjelaskan sedikitnya lima macam bentuk tubuh ikan
hubungannya dengan sistem rangka dan dapat menjelaskan fungsi rangka dan derivat-
derivatnya.
Modul ke lima menjelaskan tentang sistem pencernaan pada ikan meliputi organ yang
berhubungan dengan pengambilan makanan, mekanismenya dan penyediaan bahan-bahan
kimia, serta pengeluaran sisa-sisa makanan yang tidak tercernakan keluar dari tubuh.
Dari bab ini diharapkan mahasiswa mampu menjelaskan organ-organ pencernaan
makaan secara berturut-turut, menguraikan perbedaan secara anatomis ikan-ikan
herbivor, karnivor dan omnivor. Pada bagian ini mahasiswa juga diharapkan mampu
menguraikan alat-alat pencernaan yang mengalami modifikasi beserta fungsinya.
Modul ke enam menjelaskan tentang system peredaran darah dengan organ
utamanya adalah jantung yang bertindak sebagai pompa tekan merangkap pompa hisap.
Darah ditekan mengalir keluar dari jantung melalui pembuluh arteri ke seluruh tubuh
sampai ke kapiler darah, kemudian dihisap melalui pembuluh vena dan kembali ke
jantung. Mekanisme kerja sistem peredaran darah tersebut menjadi sasaran pembelajaran
bagi mahasiswa setelah mengikuti perkuliahan ini.
Modul ke tujuh menjelaskan tentang Sistem urogenital yaitu sistem yang
dibangunkan oleh dua system, yaitu system urinaria (systema uropoetica) dan genitalia
(sytema genitalia). Sistem urinaria biasa disebut sistem ekskresi. Fungsinya untuk
membuang bahan-bahan yang tidak diperlukan atau membahayakan bagi kesehatan tubuh
keluar dari tubuh sebagai larutan dalam air dengan perantaraan ginjal dan salurannya.
Mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan tentang sistem eksresi serta hal-hal yang
berhubungan dengan sistem osmoregulasi.
Modul ke delapan tentang Sistem saraf yang mempunyai tiga macam peranan
vital, yaitu: Orientasi terhadap lingkungan luar, menerima stimulus dari luar dan
meresponnya; mengatur agar kerja sekalian sistem dalam tubuh bersesuaian, dengan
bantuan kerja kelenjar endokrin; dan tempat ingatan dan kecerdasan. Peranan ini semua
disempurnakan oleh saraf, medulla spinalis, dan otak, dibantu oleh organ indra sebagai

v
reseptor, dan otot serta kelenjar sebagai efektor. Sasaran pembelajaran pada bab ini yaitu
mahasiswa mampu menjelaskan tentang mekanisme organ sensori pada ikan.
Modul ke sembilan menjelaskan tentang Kelenjar endokrin yaitu suatu kelenjar
yang tidak memiliki saluran pelepasan untuk mengalirkan hasil getahnya yang biasa
disebut kelenjar buntu. Proses tersebut merupakan kegiatan fungsional berbagai sel,
jaringan dan alat-alat tubuh yag bekerja secara terkordinir dan dalam keseimbangan yang
serasi. Hormon ini langsung masuk ke dalam peredaran darah atau limf, atau cairan
badan dan diedarkan ke seluruh tubuh dan akan mempengaruhi organ-organ sasaran pada
organisme. Mekanisme tersebut menjadi sasaran pembelajaran bagi peserta mata kuliah
ini khususnya pada bab tentang sistemhormon.
Modul ke sepuluh mejelaskan tentang sistem reproduksi. Keberhasilan suatu
spesies ikan ditentukan oleh kemampuan ikan tersebut untuk bereproduksi dalam kondisi
lingkungan yang berubah-ubah dan kemampuan untuk mempertahankan populasinya.
Fungsi reproduksi pada ikan pada dasarnya merupakan bagian dari sistem reproduksi
yang terdiri dari komponen kelenjar kelamin atau gonad, dimana pada ikan betina disebut
ovarium sedang pada jantan disebut testis beserta salurannya. Yang menjadi sasaran
pembelajaran pada materi ini adalah mahasiswa mampu menjelaskan hal-hal yang
berhubungan dengan sistem reproduksi pada ikan.

vi
PETA KEDUDUKAN MODUL

PENDAHULUAN

SISTEM INTEGUMEN

SISTEM URAT DAGING

SISTEM RANGKA

SISTEM PENCERNAAN

SISTEM PERNAPASAN

SISTEM PEREDARAN DARAH

SISTEM OROGENITALIA

SISTEM SARAF

SISTEM HORMON

SISTEM REPRODUKSI

vii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ………………………………………………………. i

HALAMAN PENGESAHAN …………………………………………….. ii


KATA PENGANTAR …………………………………………………….. iii
RINGKASAN …………………………………………………………….. iv
PETA KEDUDUKAN MODUL …………………………………………. vi
DAFTAR ISI ……………………………………………………………….. vii
MODUL I PENDAHULUAN ………….………………………………… 1
MODUL II SISTEM INTEGUMEN.…………………………………….. 11
MODUL III SISTEM URAT DAGING ………………………………… 22
MODUL IV SISTEM RANGKA………………………………………….. 30
MODUL V SISTEM PENCERNAAN …………………………………….. 38
MODUL VI SISTEM PEREDARAN DARAH…………………………… 51
MODUL VII SISTEM UROGENITALIA.………………………………. 61
MODUL VIII SISTEM SARAF………………………………………….. 69
MODUL IX SISTEM HORMON…………………………………………… 77
MODUL X SISTEM REPRODUKSI…………………………………….. 84
LAMPIRAN

viii
MODUL I

JUDUL : P E N D A H U L U A N

BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Ikhtiologi merupakan salah satu cabang ilmu Biologi (zoologi) yang mempelajari
khusus tentang ikan beserta segala aspek kehidupan yang dimilikinya. Istilah ini berasal
dari Ichthyologia (bahasa Latin: Yunani) dimana perkataan Ichthys artinya ikan dan logos
artinya ajaran. Ilmu pengetahuan tentang ikan dimunculkan oleh rasa ingin tahu oleh
manusia dan kebutuhan akan informasi untuk kepentingan perdagangan dan industri
ataupun pariwisata. Keuntungan mempelajari ikhtiologi hampir tak terbatas, orang-
orang yang mempelajari ilmu ini adalah para ahli ikan profesional maupun yang bukan.
Distribusi adalah suatu proses atau peristiwa penyebaran atau perpindahan
organisme (ikan) pada suatu Tempat ke tempat lain dan Waktu tertentu. Secara teoritis
bahwa ikan dan binatang lainnya berasal dari suatu “daerah tertentu” pada salah satu
tempat di belahan bumi kita ini. Dari daerah tertentu tersebut ikan-ikan menyebar ke
suluruh bagian bumi kita, baik secara aktif maupun secara pasif.

B. Ruang Lingkup Isi


- Pengertian ikan
- Pengelompokan ikan
- Ikan dan keanekaragaman habitatnya
- Ikan dan perkembangan studinya
- Pentingya mempelajari ikhtiologi
- Ikhtiologi sistematika
- Nomencltural
- Distribusi ikan

ix
C. Kaitan Modul
Modul ini merupakan modul pertama sebagai pengantar menuju modul-moudul
berikutnya. Materi yang dibahas pada modul ini adalah pengertian ikhtiologi, sejarah
serta kedudukan ikan dalam dunia hewan, pengelompokan ikan serta pentingnya
mempelajari ilmu tentang ikan dan segala aspek kehidupannya, serta system penamaan
pada ikan.

D. Sasaran Pembelajaran Modul


Setelah mempelajari modul ini, mahasiswa diharapkan dapat:
1. Menjelaskan pengertian ikan
2. Menjelaskan mengenai pengelompokan ikan
3. Menjelaskan tentang ikan dan keanekaragaman habitatnya
4. Menjelaskan tentang ikan dan perkembangan studinya
5. Menjelaskan tentang pentingya mempelajari ikhtiologi
6. Menjelaskan secara umum tentang Ikhtiologi sistematika dan sistem penamaan
pada ikan
7. Menjelaskan teori, arti, tipe distribusi ikan

BAB II. PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN IKAN
Ikan adalah hewan berdarah dingin, ciri khasnya adalah mempunyai tulang
belakang, insang dan sirip, dan terutama ikan sangat bergantung atas air sebagai medium
dimana tempat mereka tinggal. Ikan memiliki kemampuan di dalam air untuk bergerak
dengan menggunakan sirip untuk menjaga keseimbangan tubuhnya sehingga tidak
tergantung pada arus atau gerakan air yang disebabkan oleh arah angin.
Dalam keluarga hewan bertulang belakang/ vertebrata, ikan menempati jumlah
terbesar, sampai sekarang terdapat sekitar 25.000 species yang tercatat, walaupun
perkiraannya ada pada kisaran 40.000 spesies, yang terdiri dari 483 famili dan 57 ordo.
Jenis-jenis ikan ini sebagian besar tersebar di perairan laut yaitu sekitar 58% (13,630
jenis) dan 42% (9870 jenis) dari keseluruhan jenis ikan. Jumlah jenis ikan yang lebih

x
besar di perairan laut, dapat dimengerti karena hampir 70% permukaan bumi ini terdiri
dari air laut dan hanya sekitar 1% merupakan perairan tawar.
Ini sangat kontras jika dibandingkan dengan perkiraan jumlah spesies burung yakni
9000 spesies, mamalia 4000 (manusia termasuk di dalamnya), reptile 5800, dan amphibi
3500 spesies. Mereka bukan hanya dibedakan oleh jumlah spesies yang beragam, tetapi
juga berbeda dalam berbagai ukuran dan bentuk. Mulai dari ikan yang berukuran kecil
yang disebut Percid dari Amerika (Etheostoma microperca) yang dewasa secara seksual
pada ukuran 27 mm. Di samping itu ada juga jenis goby dari Pacifik (Eviota) yang
bertelur pada ukuran kurang dari 15 mm. Ada pula yang berukuran raksasa seperti Hiu
(Rhincodon) yang dapat mencapai panjang 21 meter dengan berat 25 ton atau lebih.
Kebanyakan ikan berbentuk terpedo, walaupun beberapa diantaranya berbentuk flat dan
bentuk lainnya.

B. PENGELOMPOKAN IKAN
Taksonomi atau sistematika adalah suatu ilmu mengenai klasifikasi atau
pengelompokan ikan. Istilah taksonomi berasal dari perkataan Junani taxis yang berarti
susunan atau pengaturan, dan nomos berarti hukum. Informasi yang digunakan dalam
mempelajari hubungan evolusioner ikan berawal dari pengetahuan taksonomi terutama
deskripsi ikan. Pengetahuan tersebut menjadi dasar dalam iktiologi dan juga bidang
bidang lain seperti ekologi,
fisiologi dan Genetika. Metode yang digunakan dalam bidang taksonomi terbagi menjadi
enam kategori yaitu 1) pengukuran morfometrik, 2) ciri meristik, 3) ciri-ciri anatomi, 4)
pola pewarnaan, 5) kariotipe, dan 6) elektroforesis.

C. IKAN DAN KEANEKARAGAMAN HABITATNYA


Kehadiran suatu populasi ikan di suatu tempat dan penyebaran (distribusi) spesies
ikan tersebut di muka bumi ini, selalu berkaitan dengan masalah habitat dan
sumberdayanya. Keberhasilan populasi tersebut untuk dapat hidup dan bertahan pada
habitat tertentu, tidak terlepas dengan adanya penyesuaian atau adaptasi yang dimiliki
anggota populasi tersebut. Perairan merupakan habitat bagi ikan dalam proses

xi
pembentukan struktur tubuh ikan, proses pernafasan, cara pergerakan, memperoleh
makanan, reproduksi dan hal-hal lainnya.
Seperti telah kita ketahui bersama bahwa 70 persen dari permukaan bumi ini
tertutupi oleh air, sehingga tidak mengherankan jika ditemukan berbagai jenis, morfologi,
serta habitat pada ikan. Ikan-ikan ditemukan di berbagai tempat dan habitat yang
berbeda. Mereka ditemukan di danau tertinggi dunia dari permukaan laut yaitu danau
Titicaca, Amerika Selatan (3812 meter), dan pada daerah kedalaman 7000 m di bawah
permukaan laut. Beberapa jenis ditemukan pada air tawar dengan salinitas 0.01 ‰
(umumnya danau, 0.05 s/d 1‰) hingga pada salinitas yang sangat tinggi, 100‰
(umumnya 35‰ pada laut terbuka).
Mereka juga dapat ditemui pada gua yang sangat gelap seperti ditemukan di Tibet,
China, dan India hingga pada daerah yang berarus kuat. Di Afrika ditemukan jenis ikan
Tilapia yang hidup di sungai dengan temperature 44°C, sedangkan di Antartika
ditemukan hidup pada suhu –2°C. Banyak jenis yang ditemukan memiliki organ
pernapasan udara tambahan dan hidup di rawa-rawa pada daerah tropic. Penyebaran
secara vertical pun dapat melampaui kemampuan jenis vertebata lainnya (sekitar 5 km
diatas permukaan laut sampai 11 km dibawahnya.
Spesies yang memiliki toleransi yang luas terhadap suhu biasa disebut eurythermal
sedangkan sebaliknya, yang memiliki teloransi yang sempit terhadap suhu disebut
stenothermal. Istilah yang diberikan kepada spesies yang memiliki tingkat toleransi yang
luas terhadapap salinitas yaitu euryhaline dan stenohaline terhadap spesies yang memiliki
kisaran sempit terhadap salinitas.
Ikan telah mampu bertahan seiring dengan perkembangan variasi dari tempat
hidupnya. Mereka hidup di air tawar yang bersih sampai pada air yang bersalinitas lebih
tinggi daripada air laut. Mereka ada dalam air gunung yang mengalir deras, di air dalam
sunyi dan gelap yang tidak dihuni oleh vertebrata lainnya. Bagi ikan, air adalah media
komunikasi, tempat beranak, tempat tidur, tempat bermain, toilet sekaligus sebagai
kuburan. Di dalam airlah ikan melakukan respon terhadap lingkungan, sehingga mereka
dapat mempertahankan hidup dan berkembangbiak seperti, respon terhadap jumlah
oksigen terlarut, penetrasi cahaya, suhu, zat beracun, konsentrasi organisme pembawa
penyakit ikan dan, kesempatan untuk lepas dari musuh.

xii
Beberapa ikan mampu bernapas dengan menghirup oksigen secara langsung dari
udara melalui paru-paru, walaupun kebanyakan ikan tetap bergantung pada insang yang
berperan dalam mengekstrak oksigen dari air. Ikan dapat bertahan lama pada habitat
yang kurang oksigen atau yang tidak mencukupi.
Rumput atau tumbuhan mikroskopik, diatom dan alga (phytoplankton) yang
tumbuh di laut, danau dan aliran sungai memberikan suplai oksigen kepada ikan, dan ini
bergantung dari penetrasi cahaya ke dalam air. Phytoplankton berperan penting dalam
permulaan rantai makanan yang mendorong laju produksi ikan pada umumnya. Mereka
menggunakan sinar matahari dalam mengubah CO2 menjadi bahan organik dan menjadi
makanan bagi ikan. Selain dari itu, cahaya matahari juga berpengaruh terhadap pola
reproduksi, pertumbuhan dan perilaku, termasuk dalam kebiasaan makan.
Material yang tidak dikehendaki yang bersifat racun diproduksi secara alami dan polusi
dari aktifitas manusia manjadi ancaman besar dan serius bagi keberadaan ikan-ikan dan
tentunya juga bagi manusia yang mengkonsumsinya. Walaupun ikan dapat mendeteksi
zat-zat kimia berbahaya, tetapi kebanyakan dari mereka tidak dapat menghindar dari
kontaminasi.

D. IKAN DAN PERKEMBANGAN STUDINYA


Ilmu pengetahuan tentang ikan dimunculkan oleh rasa ingin tahu oleh manusia
dan kebutuhan akan informasi untuk kepentingan perdagangan dan industri ataupun
pariwisata.
Sejak berabad-abad sebelum masehi bangsa China telah berusaha untuk
mengetahui tentang ikan dan cukup sukses menyebarluaskannya, begitu juga dengan
Mesir kuno, Yunani dan Romawi berhasil merekam variasi, kebiasaan, serta kualitas dari
berbagai jenis ikan.
Menurut Lagler et. al (1977), sejak abad 18 studi tentang ikan (Ichthyology) telah
berkembang meliputi beberapa cabang utama, antara lain: Klasifikasi, Anatomi, evolusi
dan genetika, Natural history dan Ekologi, Fisiologi dan Biokimia,
Konservasi/Pelestarian
Lingkup kerja di atas dilaksanakan oleh organisasi international, petugas
pemerintah, museum, universitas, dan dunia Industri. Food and Agriculture Organization

xiii
(FAO) sebagai organisaasi bentukan PBB yang menangani persoalan makanan dan
pertanian mempunyai divisi perikanan yang bergerak secara aktif. Banyak negara yang
mempunyai Unit Perikanan yang dibentuk secara terpusat, yang juga berfungsi sebagai
pelayanan perikanan dan binatang liar (Fish and Wildlife Service) dan Pusat Pelayanan
Kelautan dan Perikanan (National Marine and Fisheries Service) di Amerika Serikat, (di
Indonesia dikenal dengan badan pengelola taman nasional seperti BKSDA dan DKP).
Museum dan perguruan tinggi dimana dikembangkan secara scientific biasanya
mempunyai divisi perikanan seperti British Museum (Natural History), Museum National
Amerika, dan Museum Zoology Universitas Michigan USA.

E. PENTINGYA MEMPELAJARI IKHTIOLOGI


Keuntungan mempelajari ikhtiologi hampir tak terbatas, orang-orang yang
mempelajari ilmu ini adalah para ahli ikan profesional maupun yang bukan. Banyak
kontribusi tentang ikan yang datang dari para ahli filsafat, pemuka agama, dokter,
nelayan dan para penggemar hewan air. Keuntungan dalam penelitian juga tidak
terhingga dimana aspek tentang ikan , lebih banyak yang belum diketahui dari pada yang
sudah diketahui.
Tidak banyak yang memilih profesi pengajar pada bidang ikhtiologi ini, mereka
yang terjun di bidang ini adalah orang yang memiliki rasa tanggungjawab untuk belajar
dan mengajar tentang ikan. Di bidang ilmu ini peluang untuk bekerja mengembangkan
kepedulian terhadap ikan serta belajar dari koleksi museum-museum cukup besar.
Tugas-tugas orang yang bekerja di museum meliputi, pengembangan ilmu pengetahuan,
studi sejarah, pengadaan koleksi baru, pengawasan terhadap koleksi museum, penerbitan
karya ilmiah dan lain-lain.

F. IKHTIOLOGI SISTEMATIKA
Istilah “Sistematika” berasal dari perkataan Latin, asal mulanya perkataan Junani
yaitu systema yang dipergunakan untuk system klasifikasi yang disusun oleh para ahli
pengetahuan alam pada zaman silam, terutama oleh Linnaeus pada tahun 1735 yang
dikenal dengan Systema naturae. Istilah sistematika mirip artinya dengan istilah
Taxonomi. Taxonomi berasal dari perkataan Junani yaitu Taxis yang berarti susunan atau

xiv
pengaturan, dan Nomos berarti hukum. Istilah ini diusulkan oleh Candolle pada tahun
1813 untuk teori mengklasifikasikan tumbuh-tumbuhan. Dalam penggunaannya dewasa
ini, kedua istilah ini dipakai berganti-ganti dalam bidang pengklasifikasian tumbuh-
tumbuhan dan hewan. Jadi Sistematika atau Taxonomi adalah suatu yang digunakan
untuk mengklasifikasikan jasad.

G. NOMENKLATUR
Istilah nomenklatur berasal dari bahasa Latin yaitu Nomenklatural yang berarti
tatanama atau penamaan. Pengertian nomenklatur sering disamakan artinya dengan
Klasifikasi. Nomenklatur adalah penamaan yang merupakan alat untuk melakukan
komunikasi antara para ahli biologi, sedangkan Klasifikasi adalah suatu hal yang
berhubungan dengan materi biologi. Agar nomenklatur dapat dipakai secara meluas,
maka penerapan harus pula secara luas, oleh sebab itu nomenklatur (utamanya nama
ilmiah) harus mempunyai kata-kata dan arti yang sama atau hakekatnya stabil dan
seragam.
Pada umumnya system penamaan terdapat tiga macam yang sering digunakan
adalah:Valid Scientific name atau Scientific name; Standard common name atau
Common name;Vernacular name atau Local common name.

H. Distribusi Ikan
Arti dan Teori Distribusi Ikan
Distribusi adalah suatu proses atau peristiwa penyebaran atau perpindahan
organisme (ikan) pada suatu Tempat ke tempat lain dan Waktu tertentu. Ikan
Ostracoderms yang ditemukan pertama kali pada zaman Palaezoic, periode Ordovician
maupun binatang lainnya tersebar dan terdapat hampir di seluruh pelosok dunia. Secara
teoritis bahwa ikan dan binatang lainnya berasal dari suatu “daerah tertentu” pada salah
satu tempat di belahan bumi kita ini. Dari daerah tertentu tersebut ikan-ikan menyebar ke
suluruh bagian bumi kita, baik secara aktif maupun secara pasif. Sehubungan dengan ini
Jordan vide Axelord dan Schultz (1955) mengemukakan hukum-hukum tentang
penyebaran (distribusi) ikan yaitu setiap spesies ikan akan dijumpai di seluruh perairan di
muka bumi, terkecuali hal-hal sebagai berikut:

xv
a. Individu species tersebut tidak berhasil mencapai daerah yang menjadi tujuannya,
dikarenakan dalam tujuan ruaya/ migrasinya aktif terhambat oleh adanya barrier.
b. Individu jika seandainya berhasil mencapai daerah tujuan ruayanya, tetapi tidak
mampu lagi beradaptasi dengan lingkungan baru (daerah ekologi baru).
c. Jika seandainya species tersebut mampu beradaptasi sementara waktu dengan
lingkungannya, tetapi dengan adanya proses evolusi, maka tipe asalnya mengalami
modifikasi, sehingga terbentuk tipe yang berbeda.

Teori tentang kemungkinan terjadinya distribusi ikan menurut Axelrod dan Schults
(1955 ) dapat dibagi ke dalam:
a. Secara pasif ikan-ikan pelagis dibawah oleh arus laut dari suatu perairan tertentu ke
perairan lainnya.
b. Secara pasif ikan-ikan dibawa oleh manusia dari suatu perairan tertentu ke perairan
yang lainnya.
c. Angin dan badai dapat pula memindahkan ikan-ikan dari suatu perairan ke perairan
yang lainnya. (mis, Looding).
d. Perubahan-perubahan yang terjadi pada permukaan bumi seperti adanya tanah-tanah
daratan (land masses) yang teggelam dan atau timbulnya. Misalnya Terusan Panama
(Isthmus of Panama), Terusan Suez (Isthmus of Suez), dan penghubung antara
Alaska dengan Siberia, dan begitu pula mungkin terjadinya penghubung antara
Eropah dan Amerika Utara. Sehingga hal demikian dapat dilalui oleh ikan untuk
mencapai daerah lainnya.
e. Adanya perubahan dari aliran air, arus, sungai seperti Great Lakes di amerika dimana
pada zaman Glacier (zaman es) mendapat aliran air dari sungai Mississipi sedangkan
sekarang tidak, melainkan dari “Chicago Sewage Canal”. Demikian pula halnya
dengan “Two Ocean Pass” suatu perairan di dekat Yellowstone National Park (di
Amerika serikat), dimana didapatkan ikan-ikan dari species yang berasal dari
Samudera Atlantik maupun dari Samudera Pasifik, karena dibukanya terusan-terusan
baru.
f. Disebabkan kemungkinan lain, misalnya terjadinya “Continental drift” (hanyutan
benua) akibat adanya gaya-gaya yang berasal dari dalam lapisan bumi.

xvi
Tipe Distribusi Ikan
Berdasarkan unsur Tempat dan Waktu distribusi organisme/binatang dapat
digolongkan menjadi tiga tipe yaitu:
a. Distribusi Geografis (Geographical range)
b. Distribusi Ekologis (Ecological range)
c. Distribusi Geologis (Geological range)

Faktor Penghalang Distribusi Ikan (Barrier)


Barrier adalah faktor-faktor penghalang atau penghambat bagi distribusi species
organisme-organisme. Berdasarkan sifat barrier dapat dibagi atas 3 golongan besar yaitu:
a. Barrier fisik (physical barriers): Dalam golongan ini misalnya tanah (bagi ikan dan
hewan air lainnya), iklim, suhu, kedalaman air, cahaya, arus laut (bagi species ikan
tertentu).
b. Barrier Kimiawi (chemical barriers): dalam golongan ini termasuk misalnya kadar
garam, sifat kimiawi perairan, lainnya (bagi jenis-jenis ikan tertentu).
c. Barrier biologis (Biological barriers): Dalam golongan ini termasuk misalnya faktor-
faktor makanan, persaingan, predator, penyakit, dan kepadatan populasi (terutama
ikan yang biasa schooling).
Pada umumnya ketiga macam barrier tersebut diatas (fisik, kimiawi dan biologis)
sering disebut dengan istilah “ faktor ekologis ” dan biasanya sangat kompleks dan
tidak mudah dipelajari.

Teori Kemusnahan Species Ikan

Selanjutnya dijelaskan pula bahwa spesies ikan dapat musnah dari tempat
perairan tertentu, hal ini berarti secara teoritis ada beberapa kemungkinan yaitu:

xvii
a. Kemusnahan yang disebabkan oleh kejadian evolusi lebih lanjut berlangsung,
sehingga specimen ikan-ikan tersebut dimana organ-organ tubuhnya mengalami
modifikasi menjadi bentuk yang lebih maju tingkatan evolusinya.
b. Specimen suatu species tidak dapat mengadaptasikan dirinya dengan keadaan
lingkungan, oleh karena lingkungan mengalami perubahan yang jauh lebih cepat
daripada kemampuan beradaptasi.
c. Kemusnahan yang disebabkan berbagai persaingan yang dialami oleh specimen
dalam lingkungan hidupnya.
d. Specialisasi yang sangat ekstrim dari suatu species, dimana hanya dapat hidup pada
lingkungan yang sangat terbatas pula.
e. Populasi suatu species memang sudah benar-benar tidak mempunyai kemampuan
untuk dapat hidup terus.
Dari kelima teori tesebut di atas dapat dikatakan bahwa kemusnahan (kepunahan)
suatu species pada suatu tempat atau perairan tertentu, sebagian besar disebabkan oleh
ketidakmampuan organisme beradaptasi terhadap perubahan- perubahan yang terjadi di
dalam lingkungan hidupnya.

INDIKATOR PENILAIAN
1. Ketepatan penyajian pada tugas mandiri, tugas kelompok dan presentasi sesuai sasaran
akhir pembelajaran dan nilai kuis (40%)
2. Kreatifitas dalam memperoleh informasi yang sesuai dengan materi atau pokok
bahasan (30%)
3. Penguasaan materi dalam memaparkan, cara menjawab/menanggapi, serta penampilan
(30%)

BAB III. PENUTUP

Ikhtiologi merupakan salah satu cabang ilmu Biologi (zoologi) yang mempelajari
khusus tentang ikan beserta segala aspek kehidupan yang dimilikinya. Studi tentang
ikan (Ichthyology) telah berkembang sejak abad ke 18 meliputi beberapa cabang utama,
antara lain: Klasifikasi, Anatomi, evolusi dan genetika, Natural history dan Ekologi,

xviii
Fisiologi dan Biokimia, Konservasi/Pelestarian. Di bidang ilmu ini keuntungan
mempelajari hampir tak terbatas. orang-orang yang mempelajari ilmu ini adalah para
ahli ikan profesional maupun yang bukan.
Dalam komunikasi antara para ahli biologi diperlukan sistem penamaan yang
disebut nomenclatur. Pada umumnya system penamaan ini terdapat tiga macam yang
sering digunakan adalah:Valid Scientific name atau Scientific name; Standard common
name atau Common name;Vernacular name atau Local common name.
Secara teoritis bahwa ikan dan binatang lainnya berasal dari suatu “daerah
tertentu” pada salah satu tempat di belahan bumi kita ini. Dari daerah tertentu tersebut
ikan-ikan menyebar ke suluruh bagian bumi kita, baik secara aktif maupun secara pasif.
setiap spesies ikan akan dijumpai di seluruh perairan di muka bumi, terkecuali
Individu species tersebut tidak berhasil mencapai daerah yang menjadi tujuannya,
dikarenakan dalam tujuan ruaya/ migrasinya aktif terhambat oleh adanya barrier atau
individu jika seandainya berhasil mencapai daerah tujuan ruayanya, tetapi tidak mampu
lagi beradaptasi dengan lingkungan baru (daerah ekologi baru) dan Jika seandainya
species tersebut mampu beradaptasi sementara waktu dengan lingkungannya, tetapi
dengan adanya proses evolusi, maka tipe asalnya mengalami modifikasi, sehingga
terbentuk tipe yang berbeda.

DAFTAR PUSTAKA
A. Alamsjah, S. 1974. Ichthiyologi Sistematika (Ichthyologi – I). Proyek
Peningkatan/Pengembangan Perguruan Tinggi, IPB
B. Lagler, K.F., J.E. Bardach, R.R. Miller and D.R.M. Passino. 1977. Ichthyology.
Second edition. John Wiley & Sons, New York
C. Love, M.S. and G.M. Cailliet (eds.). 1979. Readings in Ichthyology. Prentice-Hall
of India Private Limited, New Delhi
D. Moyle, P.B. and J.J. cech, Jr. 1988. Fishes. An Introduction to Ichthyology.
Second edition. Prentice Hall, Englewood Cliffs, New Jersey.
E. Nelson, J.S. 1976. Fishes of the World. John Wiley and Sons, New York.
F. Rahardjo, M.F. 1980. Ichthyologi. Departemen Biologi Perairan, Fakultas
Perikanan, IPB

xix
MODUL II
JUDUL : SISTEM INTEGUMEN
BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Integumen merupakan suatu system yang sangat bervariasi; padanya terdapat
sejumlah organ ataupun struktur tertentu dengan fungsi yang bermacam-macam. Sistem
integumen dapat dianggap terdiri dari kulit yang sebenarnya dan derivat-derivatnya. Gigi
pada ikan hiu, scute, keel dan beberapa tulang tengkorak pada ikan merupakan modifikasi
dari sisik.
Kulit yang sebenarnya yaitu lapisan penutup yang umumnya terdiri dua lapisan
utama, letaknya sebelah luar dari jaringan ikat kendur yang meliputi otot dan struktur
permukaan lain. Sedangkan derivate integumen yaitu struktur tertentu yang secara
embryogenetik berasal dari salah satu atau kedua lapisan kulit sebenarnya. Struktur ini
dapat berupa struktur yang lunak, seperti kelenjar eksresi, tetapi dapat juga berupa
struktur keras dari kulit ini, dinamakan eksoskelet.
Sehubungan dengan bervariasinya integumen pada vertebrata khusunya ikan,
maka fungsinya pun bermacam-macam pula, antara lain: pelindung terhadap gangguan
mekanis, fisis, organis atau penyesuaian diri terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi
kehidupannya, termasuk pelindung terhadap hewan lain yang merupakan musuhnya; kulit
juga digunakan sebagai alat ekskresi dan osmoregulasi dan sebagai alat pernapasan pada
beberapa jenis ikan tertentu.

B. Ruang Lingkup Isi


- Struktur Kulit
- Lendir
- Sisik
- Organ Cahaya
- Pewarnaan kulit
- Kelenjar Beracun

xx
C. Kaitan Modul
Modul ini merupakan modul ke dua setelah mahasiswa memahami modul
pertama mengenai pengertian ikhtiologi, kedudukan ikan, pengelompokan ikan dan
Konsespsi Sistematika dan Peranan Ahli Sistematika; tata nama dan sistem klasifikasi
ikan , menjelaskan teori, tipe, dan faktor penghalang distribusi ikan.

D. Sasaran Pembelajaran Modul


Setelah mempelajari modul ini, mahasiswa diharapkan dapat:
1. Menjelaskan tentang integumen ikan
2. Membedakan jenis sisik pada ikan
3. Menjelaskan sistem pewarnaan pada tubuh ikan-ikan beracun

BAB II. PEMBAHASAN

A. KULIT
Pada phylum chordata dikenal dua tipe dasar dari integumen, yaitu tipe
invertebrata dan tipe vertebrata. Tipe vertebrata pada sekalian hewan vertebrata terdiri
dari beberapa lapisan, dengan dua lapisan utama, yaitu lapisan luar yang disebut
epidermis dan lapisan dalam yang disebut dermis (Gbr 4.1). Lapisan epidermis pada ikan
selalu basah karena adanya lendir yang dihasilkan oleh sel-sel yang berbentuk piala yang
terdapat di seluruh permukaan tubuhnya. Epidermis merupakan bagian tubuh yang
berhubungan langsung dengan lingkungan dan sistem somatis, mempunyai sejarah
evolusi yang kompleks. Integumen sekalian hewan merupakan lapisan protektif yang
menjaga lalulintas air dan zat-zat yang terlarut di dalamnya secara bebas. Epidermis
bagian dalam terdapat lapisan sel yang disebut stratum germinativum (lapisan malphigi).
Lapisan ini sangat giat dalam melakukan pembelahan untuk menggantikan sel-sel bagian
luar yang lepas dan untuk persediaan pengembangan tubuh.
Dermis yang di dalamnya terkandung pembuluh darah, saraf dan jaringan
pengikat memiliki struktur yang lebih tebal dan sel-sel yang susunannya lebih kompak
dari pada epidermis. Derivat-derivat kulit juga juga dibentuk dalam lapisan ini. Lapisan

xxi
dermis berperan dalam pembentukan sisik pada ikan yang bersisik, dan derivat-derivat
kulit lainnya.

Gambar 1. Struktur kulit ikan (Walker and Liem, 1994)

B. LENDIR
Umumnya ikan yang tidak bersisik memproduksi lendir yang lebih banyak dan
tebal dibanding dengan ikan yang bersisik. Ketebalan lendir yang meliputi kulit ikan
dipengaruhi oleh kegiatan sel kelenjar yang berbentuk piala yang terletak di dalam
epidermis. Kelenjar ini akan memproduksi lendir lebih banyak pada saat tertentu,
misalnya pada saat ikan berusaha melepaskan diri dari bahaya/ genting dibanding pada
saat atau keadaan normal.
Lendir berguna untuk mengurangi gesekan dengan air supaya ia dapat berenang
dengan lebih cepat, mencegah infeksi dan menutup luka, berperan dalam osmoregulasi
sebagai lapisan semi-permiable yang mencegah keluar masuknya air melalui kulit. Pada
beberapa ikan tertentu menggunakan lendir sebagai alat perlindungan pada saat terjadi
kekeringan, misalnya ikan paru-paru (Protopterus) yang menanamkan diri pada lumpur
selama musim panas dengan membungkus tubuhnya dengan lendir hingga musim
penghujan tiba. Beberapa ikan yang menggunakan lendirnya untuk melindungi telur dari
gangguan luar, misalnya anggota dari genus Trichogaster.

xxii
C. SISIK
Bentuk, ukuran dan jumlah sisik ikan dapat memberikan gambaran bagaimana
kehidupan ikan tersebut. Sisik ikan mempunyai bentuk dan ukuran yang beraneka macam,
yaitu sisik ganoid merupakan sisik besar dan kasar, sisik cycloid dan ctenoid merupakan
sisik yang kecil, tipis atau ringan hingga sisik placoid merupakan sisik yang lembut.
Umumnya tipe ikan perenang cepat atau secara terus menerus bergerak pada perairan
berarus deras mempunyai tipe sisik yang lembut, sedangkan ikan-ikan yang hidup di
perairan yang tenang dan tidak berenang secara terus menerus pada kecepatan tinggi
umumnya mempunyai tipe sisik yang kasar. Sisik scycloid berbentuk bulat, pinggiran
sisik halus dan rata sementara sisik ctenoid mempunyai bentuk seperti sikloid tetapi
mempunyai pinggiran yang kasar.
Ikan yang bersisik keras biasanya ditemukan pada golongan ikan primitive,
sedangkan pada ikan modern, kekerasan sisiknya sudah fleksibel. Hal tersebut sangat
dipengaruhi oleh jenis bahan yang dikandungnya. Sisik dibuat di dalam dermis sehingga
sering diistilahkan sebagai rangka dermis.
Ada beberapa jenis ikan yang hanya ditemukan sisik pada bagian tubuh tertentu
saja. Seperti “paddle fish”, ikan yang hanya ditemukan sisik pada bagian operculum dan
ekor. Dan adapula yang hanya ditemukan sepanjang linea lateralis. Ikan sidat
(Anguilla) yang terlihat seperti tidak bersisik, sebenarnya bersisik tetapi sisiknya kecil
dan dilapisi lendir yang tebal.
Berdasarkan bentuk dan bahan yang terkandung di dalamnya, sisik ikan dapat
dibedakan menjadi lima jenis, yaitu Placoid, Cosmoid, Ganoid, Cycloid dan Ctenoid.

Sisik Placoid
Jenis sisik ini karakteristik bagi golongan ikan bertulang rawan (Chondrichthyes).
Bentuk sisik tersebut menyerupai bunga mawar dengan dasar yang bulat atau bujur
sangkar. Sisik macam ini terdiri dari keping basal yang letaknya terbenam di bagian
dermis kulit, dan suatu bagian yang menonjol berupa duri keluar dari permukaan
epidermis. Sisik tersebut merupakan struktur exoskeleton yang primitive yang
mempunyai titik perkembangan menuju ke lembaran sisik yang biasa terdapat pada
osteichthyes yang terdiri atas lempeng dasar, tangkai sentral dan duri. Bagian yang lunak

xxiii
dari sisik ini (pulp) berisikan pembuluh darah dan saraf yang berasal dari dermis. Sisik
placoid dibangunkan oleh dentine sehinnga sering disebut dermal denticle yang di
dalamnya terdapat rongga pulpa. Pertumbuhan dari sisik placoid menyerupai
pertumbuhan gigi, yaitu dimulai dengan adanya pengelompokan dari sel-sel dermis yang
seterusnya akan tumbuh menjadi lebih nyata membentuk papila dermis yang mendesak
epidermis yang ada di sebelah permukaan. Gigi ikan hiu merupakan derivate dari sisik.

Type sisik placoid dan pada ikan hiu

Sisik Cosmoid
Sisik ini hanya ditemukan pada ikan fosil dan ikan primitive yang sudah punah
dari kelompok Crossopterygii dan Dipnoi. Sisik ikan ini terdiri dari beberapa lapisan,
yang berturut-turut dari luar adalah vitrodentine, yang dilapisi semacam enamel,
kemudian cosmine yang merupakan lapisan terkuat dan noncellular, terakhir isopedine
yang materialnya terdiri dari substansi tulang. Pertumbuhan sisik ini hanya pada bagian
bawah, sedangkan pada bagian atas tidak terdapat sel-sel hidup yang menutup prmukaan.
Tipe sisik ini ditemukan pada jenis ikan Latimeria chalumnae .

Type sisik ganoid pada family Latimeriidae (lobefins)

xxiv
Sisik Ganoid
Jenis sisik ini dimiliki oleh ikan-ikan Lepidosteus (Holostei) dan Scaphyrynchus
(Chondrostei). Sisik ini terdiri dari beberapa lapisan yakni lapisan terluar disebut ganoine
yang materialnya berupa garam-garam an-organik, kemudian lapisan berikutnya dalah
cosmine, dan lapisan yang paling dalam adalah isopedine. Pertumbuhan sisik ini dari
bagian bawah dan bagian atas. Ikan bersisik type ini adalah antara lain, Polypterus,
Lepisostidae, Acipenceridae dan Polyodontidae.

Type sisik ganoid pada family Acipenseridae (sturgeons)

Sisik Cycloid dan Ctenoid


Sisik ini ditemukan pada golongan ikan teleostei, yang masing-masing terdapat
pada golongan ikan berjari-jari lemah (Malacoptrerygii) dan golongan ikan berjari-jari
keras (Acanthopterygii). Perbedaan antara sisik cycloid dengan ctenoid hanya meliputi
adanya sejumlah duri-duri halus yang disebut ctenii beberapa baris di bagian posteriornya.
Pertumbuhan pada tipe sisik ini adalah bagian atas dan bawah, tidak mengandung dentine
atau enamel dan kepipihannya sudah tereduksi menjadi lebih tipis, fleksibel dan
transparan. Penempelannya secara tertanam ke dalam sebuah kantung kecil di dalam
dermis dengan susunan seperti genting yang dapat mengurangi gesekan dengan air
sehingga dapat berenang lebih cepat. Sisik yang terlihat adalah bagian belakang
(posterior) yang berwarna lebih gelap daripada bagian depan (anterior) karena bagian
posteriornya mengandung butir-butir pigmen (chromatophore). Bagian anterior
(terutama pada bagian tubuh) transparan dan tidak berwarna. Perbedaan antara tipe sisik
cycloid dengan ctenoid adalah pada bagian posterior sisik ctenoid dilengkapi dengan
ctenii (gerigi kecil). Focus merupakan titik awal perkembangan sisik dan biasanya
berkedudukan di tengah-tengah sisik.

xxv
Type sisik ctenoid Type sisik cycloid

D. PEWARNAAN
Sel khusus yang memberikn warna pada ikan ada dua macam yaitu Iridocyte
(leucophore dan guanophore) dan Chromatophora. Iridocyte dinamakan juga sel cermin
karena mengandung bahan yang dapat memantulkan warna di luar tubuh ikan.
Warna pada ikan sangat dipengaruhi oleh schemachrome (konfigurasi fisik) dan
biochrome (pigmen pembawa warna).
Schemachrome warna putih ditemukan pada rangka, gelembung renang, sisik
dan testes; biru dan ungu pada iris mata; warna pelangi pada sisik, mata dan membrane
anus. Sedangkan tergolong ke dalam biochrome adalah: Carotenoid (kuning, merah dan
corak lainnya); chromolipoid (kuning sampai coklat); indigoid (biru, merah dan hijau);
melanin (hitam dan coklat); flavin (fluoresensi kehijau-hijauan); purin (putih atau
keperak-perakan); pterin (putih, kuning, merah dan jingga).
Ikan-ikan yang hidup di perairan bebas mempunyai warna tubuh yang sederhana,
bertingkat dari keputih-putihan pada bagian perut, keperak-perakan pada sisi tubuh
bagian bawah sampaiwarna kebiru-biruan atau kehijau-hijauan pada sisi atas dan
kehitam-hitaman pada bagian punggungnya. Ikan yang hidup di daerah dasar, bagian
dasar perutnya berwarna pucat dan bagian punggungya berwarna gelap. Misalnya pada
kelompok ikan pari dan ikan seblah. Ikan-ikan yang hidupnya di sekitar karang memiliki
warna yang cerah dan cemerlang misalnya ikan-ikan family Chaetodontidae,
Achanturidae, Apogonidae dan sebagainya.

xxvi
Pemiripan warna secara umum antara ikan dan latar belakangnya baik secara
perlahan maupun cepat merupakan karakteristik dasar ikan untuk menyamai lingkungan
atau habitat mereka berada. Ikan laut memiliki warna tubuh yang bertingkat, di bagian
dorsal berwarna biru, bagian sisi keperak-perakan, dan putih di bagian perut. Perubahan
warna sering terjadi berhubungan dengan kondisi lingkungan seperti siang dan malam,
musim dan keadaan habitat. Perubahan warna tersebut diatur oleh intraksi saraf dan
hormon.
Pewarnaan terpecah merupakan suatu upaya ikan untuk mengaburkan pandangan
terhadap tubuh ikan. Bila tubuh permukaan ikan mempunyai garis-garis warna atau
corak kontras yang tidak teratur, maka garis-garis tersebut akan cenderung mengaburkan
pandangan hewan lain. Pada ikan kupu-kupu (Forcipinger longirostris) yang hidup di
daerah karang mampu memcahkan warna tubuhnya menjadi bentuk organ tubuh, warna
demikian dipergunakan untuk memecah bentuk atau mengaburkan bentuk asli ikan.
Selain fungsinya sebagai penyamaran dan penyembunyian, pada beberapa ikan
bentuk pewarnaanya justru cenderung sebagai pemberitahuan. Sejumlah anggota famili
Percidae yang terdapat di air tawar dan sejumlah famili yang ditemukan di laut memiliki
corak warna yang terang dan cemerlang sebagai pengenalan seksual.

E. ORGAN CAHAYA
Cahaya yang dihasilkan ikan memiliki fungsi sebagai tanda pengenal individu
yang sejenis, untuk mengikat mangsa, menerangi lingkungan, dan penciri ikan beracun.
Umumnya ikan-ikan yang memiliki organ cahaya hidupnya pada daerah laut dalam
(antara 300 – 1000 m ) dengan warna biru atau biru kehijau-hijauan yang biasa dikenal
dengan bioluminescens . Namun telah ditemukan pula ikan laut yang hidup di perairan
dangkal memiliki organ cahaya seperti, ikan leweri batu (Photoblepharon palpebratus)
dan ikan leweri air (Anomalops katopron). Cahaya yang dikeluarkan berkedap-kedip
secara teratur yang dikendalikan oleh organ cahaya yang keluar masuk suatu kantong
pigmen hitam di bawah mata.
Terdapat dua kelompok ikan berdasarkan sumber cahaya yang dikeluarkannya
yaitu, kelompok ikan yang cahaya dikeluarkan oleh sel pada kulit ikan itu sendiri
(photophore = potocyt) misalnya pada golongan elasmobranchii (Etmopterus,

xxvii
Benthobatis dan Spinax) dan pada golongan ikan teleostei (Batrachoididae dan
Stomiatidae). Kelompok kedua adalah ikan yang mengeluarkan cahaya dari bakteri yang
bersimbiose dengannya, misalnya pada ikan-ikan family Monocentridae, Gadidae,
Leognathidae, Serranidae dan Macroridae. Bakteri yang dapat mengeluarkan cahaya
terdapat di dalam kantung kelenjar epidermis. Pemantulan cahaya yang dikeluarkan
bakteri tersebut diatur oleh jaringan yang berfungsi sebagai lensa. Pada bagian yang
berlawanan dengan lensa terdapata banyak pigmen yang berfungsi sebagai pemantul.
Pemancaran cahaya yang dikeluarkan oleh bakteri diatur oleh kontraksi pigmen yang
berfungsi sebagai iris mata.
Pada ikan-ikan yang hidup di laut dalam, pengeluaran cahayanya mempunyai
peranan dalam pemijahan. Pada musim pemijahan, ikan jantan berusaha membimbing
betina untuk mencari tempat yang baik untuk memijah. Cahaya yang dikeluarkan
memiliki kekuatan panjang gelombang 400-600 mµ yang dapat menerangi sejauh 10
meter. Anglerfishes (Linophyrin brevibarbis) yang terdapat di laut dalam mempunyai
tentakel yang bercahaya. Diduga pada tentakelnya mempunyai kultur bakteri yang
terdapat pada kulitnya. Tentakel yang ujungnya mempunyai jaringan jaringan yang
membesar itu digosokkan di atas kultur bakteri tersebut, sehingga bakteri yang bercahaya
terbawa oleh tentakel untuk menarik perhatian mangsanya.

E. KELENJAR BERACUN
Kelenjar beracun pada ikan merupakan derivate dari kulit yang merupakan
modifikasi kelenjar yang mengeluarkan lendir. Ikan-ikan yang kelejar integumennya
mengandung racun umumnya dipergunakan ikan untuk mempertahankan diri, menyerang
dan mencari makanan.
Pada ikan lepu (Synanceia verrucosa dan Pterois volitans) memiliki alat beracun
pada daerah jari-jari keras sirip punggung, sirip dubur dan sirip perut. Umumnya ikan
lepu ini tinggal di dasar perairan yang dangkal berpasir atau berkarang dan pada daerah
terdapat vegetasi lamun. Gerakannya lamban dengan warna permukaan tubuh yang mirip
dengan dasar perairan menyebabkan ikan ini sulit untuk dilihat. Beberapa jenis dari ikan
memiliki racun yang dapat mematikan manusia, misalnya jenis Synanceia horrida.

xxviii
Pada ikan pari (Dasyatis) kelenjar racunnya terdapat pada duri di ekornya. Duri
ini tersusun dari bahan yang disebut vasodentine. Sepanjang kedua sisi duri tersebut
terdapat gerigi yang bengkok ke belakang. Duri tersebut ditandai oleh adanya sejumlah
alur dangkal yang sepanjang tepi alur terdiri celah berupa jaringan kelabu “spongi”,
lembut meluas sepanjang celah panjang yang berfungsi sebagai jaringan tempat
dihasilkannya racun. Ikan baronang (Siganus) memiliki kelenjar beracun yang terdapat
pada 13 jari-jari keras sirip punggung, 4 jari-jari keras sirip perut da 7 jari-jari keras sirip
dubur.
Ikan-ikan yang system integumennya mengandung kelenjar beracun antara lain
ikan lele dan sebangsanya (Siluroidea) dan golongan Elasmobranchii (Chimaeridae,
Myliobathidae dan Dasyatidae). Beberapa jenis ikan buntal (Tetraodontidae) juga dikenal
beracun, tetapi racunnya bukan berasal dari system integumennya, melainkan dari
kelenjar empedu.
Studi tentang racun ikan dikenal dengan ichthyotoxisme. Ilmu ini mempelajari
tentang racun yang dikeluarkan oleh ikan serta gejala keracunan dengan aspek- aspeknya.
Ichthyotoxisme meliputi Ichthyosarcotoxisme yang mempelajari berbagai macam
keracunan akibat makan ikan beracun dan Ichthyoacanthotoxisme yang mempelajari
sengatan ikan berbisa.

INDIKATOR PENILAIAN
1. Ketepatan penyajian pada tugas mandiri, tugas kelompok dan presentasi sesuai sasaran
akhir pembelajaran dan nilai kuis (40%)
2. Kreatifitas dalam memperoleh informasi yang sesuai dengan materi atau pokok
bahasan (30%)
3. Penguasaan materi dalam memaparkan, cara menjawab/menanggapi, serta penampilan
(30%)

BAB III. PENUTUP


Sistem Integumen terdiri dari kulit yang sebenarnya dan derivat-derivatnya. Gigi
pada ikan hiu, scute, keel dan beberapa tulang tengkorak pada ikan merupakan modifikasi
dari sisik. Sistem integumen pada ikan, maka memiliki fungsinya bermacam-macam

xxix
pula, antara lain: pelindung terhadap gangguan mekanis, fisis, organis atau penyesuaian
diri terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi kehidupannya, termasuk pelindung
terhadap hewan lain yang merupakan musuhnya; kulit juga digunakan sebagai alat
ekskresi dan osmoregulasi dan sebagai alat pernapasan pada beberapa jenis ikan tertentu.

DAFTAR PUSTAKA

G. Alamsjah, S. 1974. Ichthiyologi Sistematika (Ichthyologi – I). Proyek


Peningkatan/Pengembangan Perguruan Tinggi, IPB
H. Lagler, K.F., J.E. Bardach, R.R. Miller and D.R.M. Passino. 1977. Ichthyology.
Second edition. John Wiley & Sons, New York
I. Love, M.S. and G.M. Cailliet (eds.). 1979. Readings in Ichthyology. Prentice-Hall
of India Private Limited, New Delhi
J. Moyle, P.B. and J.J. cech, Jr. 1988. Fishes. An Introduction to Ichthyology.
Second edition. Prentice Hall, Englewood Cliffs, New Jersey.
K. Nelson, J.S. 1976. Fishes of the World. John Wiley and Sons, New York.
L. Rahardjo, M.F. 1980. Ichthyologi. Departemen Biologi Perairan, Fakultas
Perikanan, IPB

xxx
MODUL III
JUDUL : SISTEM URAT DAGING
BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pekerjaan urat daging atau otot untuk setiap aktifitas kehidupan hewan sehari-
hari sangat penting. Dari mulai gerakan tubuh hingga kepada peredaran darah, kegiatan
utama gerakan tubuh disebabkan karena keaktifan otot tersebut. Secara fungsional otot
ini dibedakan menjadi dua tipe, yaitu yang dibawah rangsangan otak dan yang tidak
dibawah rangsangan otak.
Pada prinsipnya ikan mempunyai tiga macam urat daging atau otot berdasarkan
struktur dan fungsinya, yaitu: otot polos, otot bergaris, dan otot jantung. Dari
penempelannya juga bisa dibedakan menjadi dua yaitu otot menempel pada rangka yaitu
otot bergaris dan yang tidak menempel pada rangka yaitu otot jantung dan otot polos.

B. Ruang Lingkup Isi


- Urat Daging Licin
- Urat Daging Jantung
- Urat Daging Bergaris
- Organ Listrik

C. Kaitan Modul
Modul ini merupakan modul ke tiga yang membahas tentang sistem urat daging
(sistem otot) dan hubungannya dengan pergerakan kan. Modul ini dijelaskan setelah
mahasiswa memahami modul sebelumya yaitu sistem integumen pada ikan.

D. Sasaran Pembelajaran Modul


Setelah mempelajari modul ini, mahasiswa diharapkan dapat:
4. Menjelaskan fungsi sistem otot
5. Menjelaskan hubungan sistem otot dengan pergerakan ikan

xxxi
BAB II. PEMBAHASAN

A. OTOT POLOS (Urat Daging Licin)


Serabut otot polos lebih sederhana dan kecil dibandingkan dengan serabut otot
lainnya. Serabut ini tumbuh dari mesenchim embrio. Secara primer berasal dari
mesoderm dengan disertai sel-sel jaringan ikat, kemudian berkembang menjadi otot polos.
Kerja otot polos ini disebut involuntary karena kerjanya tidak dipengaruhi oleh
rangsangan otak. Serabut otot polos pada umumnya tersusun dalam ikatan, tetapi banyak
pula yang tersebar. Kontraksi otot ini lambat dan kerjanya lama.
Otot polos antara lain terdapat pada:
1. Otot polos yang terdapat pada dinding saluran pencernaan, baik yang melingkar
maupun yang memanjang. Otot ini digunakan untuk menggerakkan makanan
(gerakan peristaltik); yang lainnya ditemukan pada saluran kelenjar pencernaan,
kantung urine, trakhea dan bronkhi dari paru-paru.
2. Otot polos yang terdapat pada saluran peredaran darah, yaitu urat daging melingkar
berguna untuk mengatur tekanan darah.
3. Otot polos yang terdapat pada mata yang digunakan dalam mengatur akomodasi
dengan menggerakkan lensa mata dan mengatur intensitas cahaya.
4. Otot polos yang terdapat pada saluran ekskresi dan reproduksi digunakan dalam
menggerakkan produk yang ada di dalamnya.

B. OTOT JANTUNG (Urat Daging Jantung)


Jaringan otot jantung memperlihatkan garis-garis melintang pada serabutnya.
Pada otot ini tidak ada serabut yang terpisah, masing-masing berhubungan satu sama
lainnya. Otot jantung berkonttraksi kuat dan terus menerus bekerja, sampai individu ini
mati. Kerja otot jantung ini sifatnya involuntary karena bekerja diluar rangsangan otak.
Secara embriologi, otot jantung merupakan tipe istimewa dari otot polos, dimana
sel-selnya menjadi bersatu seperti syncytium.
Otot ini berwarna merah tua, berbeda dengan otot bergaris yang berkisar antara
warna putih hingga warna merah jambu bergantung pada jenis ikannya. Otot ini disebut

xxxii
pula sebagai myocardium. Myocardium ini dilapisi oleh selaput pericardium (selaput
luar) dan endocaardium (selaput dalam).

C. OTOT BERGARIS (Urat Daging Bergaris)


Disebut otot bergaris karena serabutnya memperlihatkan garis-garis melintang
dengan banyak inti tersebar pada bagian-bagian pinggirnya. Otot ini disebut juga otot
rangka karena melekat pada rangka atau kulit, dan disebut voluntary karena kerjanya
dipengaruhi oleh rangsangan otak.
Bila dilihat secara keseluruhan, otot bergaris pada seluruh tubuh ikan terdiri dari
kumpalan blok otot atau urat daging. Tiap-tiap blok otot dinamakan myotome (pada saat
embryo disebut myomer). Pada urat daging yang menempel pada tubuh ikan sebelah kiri
dan kanan, dari belakang kepala sampai ke batang ekor myotome tersusun menurut pola
tertentu yang biasa dibedakan menjadi dua tipe yaitu, Cyclostomine yang ditemukan pada
kelompok agnatha dan Piscine yang ditemukan pada kelompok ikan Elasmobranchii dan
Teleostei (Gambar1). Kumpulan otot ini, biasanya diberi nama sesuai dengan
pergerakannya atau organ tempat otot itu melekat, seperti otot penegak sirip punggung,
otot penarik sirip dada.
Pola kontruksi otot-otot parietal terdiri dari urutan myomere yang zig-zag diikat
oleh myoseptum yaitu bagian jaringan ikat yang membatasi antara myomer berurutan.
Myomer terbentang mulai dari tengkorak sampai ujung ekor yang berdaging. Setiap
myomer terdiri dari bagian dorsal yang disebut epaksial dan bagian ventral disebut
hypaksial (Gbr. 1). Keduanya dipisahkan oleh jaringan ikat yang disebut horizontal
skeletogeneus septum (gambar 2). Di bagian permukaan selaput ini terdapat urat daging
yang menutupinya dinamakan Musculus lateralis superficialis yang banyak mengandung
lemak dengan istilah lain disebut red muscle karena warnanya yang merah kehitaman.
Umumnya serabut otot mengarah anteroposterior, tetapi beberapa serabut hypoksial dari
setiap myomer tersusun serong ventromedial. Kontraksi dari kelompok myomer di satu
pihak akan disambut oleh kontraksi kelompok myomer di lain pihak, menyebabkan tubuh
ikan menjadi meliuk-liuk dalam gerakan berenang.

xxxiii
Gambar 1. Potongan melintang tubuh ikan

Gambar 2. Urat daging permukaan sirip perut ikan tulang sejati dan tulang rawan

xxxiv
Pada umumnya kerja otot memiliki fungsi ganda, ada yang berfungsi sebagai
synergis yang bekerja saling menyokong dengan yang lainnya, ada pula yang berfungsi
sebagai antagonis yang bekerja berlawanan, yaitu satu berkontraksi dan yang lainnya
mengendur.
Bagian-bagian besar otot bergaris pada tubuh ikan ada empat, yaitu:
1. Otot ocolomotor, yang terdapat pada mata dengan jumlah tiga pasang
2. Otot hypobranchial, terdapat pada dasar pharynx, rahang, hyoid dan lengkung insang
(berfungsi sebagai pengembang).
3. Otot branchiomeric yang terdapat pada muka, rahang dan lengkung insang
(berfungsi sebagai pengkerut). Otot yang bekerja terhadap rawan insang pada hiu ialah
kelompok otot branchial yang terdiri dari otot-otot konstriktor, levator dan interakualia.
4. Otot appendicular yang berfungsi untuk menggerakkan sirip.
Pada daerah sirip berpasangan (sirip perut dan sirip dada), otot-ototnya
melanjutkan diri ke dinding tubuh, terjadi pelekatan ikatan otot hypaksial dari beberapa
myomer yang berurutan ke gelang anggota dan menyebar pada sirip, membentuk dua
macam kelompok otot yaitu Abductor (untuk menegakkan) dan Adductor (untuk
mengembangkan), dengan beberapa tambahan seperti lembaran otot tipis yang di antara
jari-jari sirip (untuk melipat) dan otot yang menegang dan menggerakkan girdle.
Dalam beberapa hal, sirip berpasangan selain berfungsi untuk pergerakan, juga
sebagai alat untuk menyalurkan sperma dari ikan jantan kepada betina pada golongan
ikan Elasmobranchii, sehingga urat daging di sini pun berfungsi sebagai pendorong
sperma keluar.
Otot sirip-sirip tunggal berfungsi untuk menggerakkan sirip-sirip tersebut. Otot-
otot permukaan pada sirip punggung dan sirip dubur disusun sebagai pasangan otot
protractor (penegang) dan retractor (pengendur). Urat daging inclinator lateral dan urat
daging erector di bagian depan serta depressor di bagian belakang . Sirip ekor
mempunyai gumpalan otot lateral yang dihubungkan oleh otot pada bagian dasarnya.
Otot ekor berfungsi menggerakkan (dorsal flexor dan ventral flexor) dan
mengembangciutkan seperti kipas (flexor, interfilamental di antara jari-jari sirip)

xxxv
Pada kepala ikan, otot berhubungan terutama dengan rahang dan tulang lengkung
insang. Otot ini mempunyai dua komponen, yaitu komponen urat daging permukaan
(superficialis) dan komponen otot di bagian dalam.

D. ORGAN LISTRIK
Pada beberapa Elasmobranchii dan Teleostei, otot-otot tertentu sudah jauh
berubah atau merupakan modifikasi dari sel-sel otot yang dapat menghasilkan,
menyimpan, dan mengeluarkan muatan listrik. Jumlah ikan yang diketahui mempunyai
organ listrik kira-kira 500 spesies yang tergolong dalam tujuh family Chonrichtheys dan
Osteichthyes. Organ listrik ini dapat ditemukan pada ekor (ikan pari listrik), di bawah
kulit (Teleostei), pada sirip, di belakang mata (star-gazer), atau pada sebagian besar
permukaan tubuh (belut listrik). Pada umumnya organ listrik ini berasal dari otot yang
memiliki ragam penampilan, lokasi, struktur, dan juga fa’alnya.
Ikan yang hidup pada daerah beriklim sedang mempunyai voltage yang lebih
tinggi dari pada ikan yang hidup pada daerah dingin. Pada umumnya ikan laut
mempunyai voltase tinggi dibanding ikan air tawar, kecuali ”electric eel”
(Electrophoros) dan ” electric cat fish” (Malapterurus electricus).
Ikan yang memiliki organ listrik bervoltase tinggi, organ listriknya berfungsi
sebagai senjata untuk bertahan terhadap serangan predator dan alat untuk mencari makan,
contohnya, Electrophorus electricus, Torpedo nobilian, Malapterurus electricus.
Sedangkan ikan bervoltase rendah, organ listriknya berfungsi sebagai bagian dari sistem
electrosensory dan dapat bula berfungsi sebagai alat komunikasi antar ikan, contohnya,
Mormyrus rume, Gymnotus carapo, Gymnoranchus niloticus, Raja clavata. Organ-
organ tersebut berasal dari kelompok otot branchiomer, sebab diatur oleh saraf kranial ke
7 dan ke 9.
Ikan Raja dan Electrophorus, organ listriknya terletak pada ekor dan berubah dari
kelompok otot hypaksial. Pada Electrophorus electricus (belut laut), organ listriknya
mengeluarkan muatan listrik antara 350 - 650 volt. Ikan ini memiliki ukuran tubuh
hingga panjang 3 meter, termasuk ikan dengan pergerakan lamban dan hidup pada daerah
yang visibiltasnya rendah. Pada ikan Torpedo nobilian yang hidupnya di dasar laut

xxxvi
dengan pergerakannya lamban, mengeluarkan cahaya sampai 220 volt. Malapterurus
electricus, hidup di sungai yang gelap di benua Afrika, panjangnya bisa sampai satu
meter dan dapat mengeluarkan muatan listrik sebesar 350 volt (Bond, 1979).
Komunikasi, orientasi, dan deteksi terhadap mangsa merupakan fungsi yang
paling umum dari organ listrik. Pada beberapa spesies, organ listrik dipergunakan juga
untuk menyerang lawan atau mempertahankan diri, bahkan ikan-ikan besarpun dapat
dilemahkan dengan muatan listrik yang lebih kuat. Ikan-ikan listrik memancarkan
muatan yang tetap, dan sangat sensitif terhadap gangguan-gangguan yang dihasilkan oleh
obyek di dalam medan listrik dekat tubuhnya.
Unit fungsional organ listrik adalah electroplaks, berupa sel berinti banyak,
berbentuk uang logam besar. Umumnya sebelah permukaannya datar melipat-lipat kecil;
mitokhondria terkonsentrasi di bawah selaput ini. Permukaan datar yang sebelahnya lagi
penuh dengan saraf-saraf yang masuk. Beratus bahkan beribu-ribu electroplaks
bertumpuk membentuk batang, dan banyak batang-batang terdapat dalam satu organ.
Dalam stadium istirahat, potensial listrik tumbuh antara permukaan dalam (negatif) dan
permukaan luar dari setiap electroplaks. Jika organ tersebut dirangsang oleh sarafnya,
potensial listrik sejenak berbalik dengan demikian arus listrik melampaui potensial
istirahatnya.

INDIKATOR PENILAIAN
1. Ketepatan penyajian pada tugas mandiri, tugas kelompok dan presentasi sesuai sasaran
akhir pembelajaran dan nilai kuis (40%)
2. Kreatifitas dalam memperoleh informasi yang sesuai dengan materi atau pokok
bahasan (30%)
3. Penguasaan materi dalam memaparkan, cara menjawab/menanggapi, serta penampilan
(30%)

BAB III. PENUTUP


Sistem urat dagin atau sistem otot pada ikan secara fungsional otot ini dibedakan
menjadi dua tipe, yaitu yang dibawah rangsangan otak dan yang tidak dibawah
rangsangan otak. Pada prinsipnya ikan mempunyai tiga macam urat daging atau otot

xxxvii
berdasarkan struktur dan fungsinya, yaitu: otot polos, otot bergaris, dan otot jantung.
Dari penempelannya juga bisa dibedakan menjadi dua yaitu otot menempel pada rangka
yaitu otot bergaris dan yang tidak menempel pada rangka yaitu otot jantung dan otot
polos.

DAFTAR PUSTAKA
M. Alamsjah, S. 1974. Ichthiyologi Sistematika (Ichthyologi – I). Proyek
Peningkatan/Pengembangan Perguruan Tinggi, IPB
N. Lagler, K.F., J.E. Bardach, R.R. Miller and D.R.M. Passino. 1977. Ichthyology.
Second edition. John Wiley & Sons, New York
O. Love, M.S. and G.M. Cailliet (eds.). 1979. Readings in Ichthyology. Prentice-Hall
of India Private Limited, New Delhi
P. Moyle, P.B. and J.J. cech, Jr. 1988. Fishes. An Introduction to Ichthyology.
Second edition. Prentice Hall, Englewood Cliffs, New Jersey.
Q. Nelson, J.S. 1976. Fishes of the World. John Wiley and Sons, New York.
R. Rahardjo, M.F. 1980. Ichthyologi. Departemen Biologi Perairan, Fakultas
Perikanan, IPB

xxxviii
MODUL IV
JUDUL : SISTEM RANGKA
BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sistem rangka merupakan suatu system yang dibangun oleh struktur-struktur
keras dari tubuh yang bersifat menyokong dan melindungi. Rangka pada ikan seperti
halnya pada golongan vertebrata lainnya berfungsi untuk menegakkan tubuh, menunjang
dan menyokong organ-organ tubuh serta berfungsi pula dalam proses pembentukan butir
darah merah. Pada beberapa ikan modifikasi tulang penyokong sirip menjadi penyalur
sperma ke dalam saluran reproduksi ikan betina. Secara tidak langsung rangka
menentukan bentuk tubuh ikan yang beraneka ragam. Rangka yang menjadi penegak
tubuh ikan terdiri dari tulang rawan dan tulang sejati. Tulang rawan pada banyak
vertebrata, kecuali cyclostomata dan elasmobranchii merupakan jaringan embrional. Hal
ini dimungkinkan karena dapat memberikan sifat ringan dan kelenturan yang diperlukan
oleh dinamika pertumbuhan. Sebagian besar rangka osteichtyes pada mulanya dibentuk
melalui tahap tulang rawan, kemudian materialnya menjadi tulang sejati dalam bentuk-
bentuk yang khusus melalui proses osifikasi.

B. Ruang Lingkup Isi


- Rangka Axial
- Rangka visceral
- Bentuk Tubuh Ikan

C. Kaitan Modul
Modul ini merupakan modul ke empat yang membahas tentang sistem rangka
pada ikan serta fungsi derivat-derivatnya. Modul ini dijelaskan setelah mahasiswa
memahami modul sebelumya yaitu sistem urat daging atau sistem otot pada ikan.

D. Sasaran Pembelajaran Modul

xxxix
Setelah mempelajari modul ini, mahasiswa diharapkan dapat:
6. Menjelaskan lima macam bentuk tubuh ikan
7. Menjelaskan fungsi rangka dan derivat-derivatnya

BAB II. PEMBAHASAN

A. Rangka Axial
Rangka axial terdiri dari tulang tengkorak, tulang punggung dan tulang rusuk.
Secara umum perkembangan embrionik tengkorak ikan berasal dari tiga sumber, yaitu
chondrocranium (neurocranium), dermocranium dan splanchoranium. Chondrocranium
adalah pembungkus otak yang pada mulanya berasal dari tulang rawan kemudian akan
berganti menjadi tulang sejati. Pada waktu embrio, tengkorak dibentuk dari sepasang
rawan parachordal yang sejajar dengan ujung depan notochorda dan sepasang rawan
trabeculae yang terletak di bagian anterior rawan parachordal. Setiap rawan parachordal
mengadakan perkembangan dan meluas pada tiap-tiap sisinya ke bagian anterior sampai
ke kapsul optik membentuk basal plate (Bond, 1979).
Pada elasmobranchii, seluruh bagian otak dibungkus oleh tulang rawan yang
massif tanpa batas yang nyata seperti biasanya pada terdapat pada vertebrata lainnya.
Kapsul optic dan nasal bersatu dengan chondrocranium, akan tetapi kapsul optic tetap
bebas sehingga mata degan bebas dapat digerakkan. Saraf dan pembuluh darah yang
berhubungan otak melalui lubang-lubang yang terdapat pada dinding chondrocranium.
Pada golongan ikan teleostei yang rendah tingkatannya, masih terdapat rawan
pada pada neurocranium tetapi pada golongan ikan yang lebih tinggi tingkatannya tulang
tengkorak telah mengalami proses osifikasi dengan baik. Keping-keping tulang yang
mengelilingi kapsul sensori berhubungan erat dengan osifikasi neurocranium.
Tiap-tiap organ sensori dikelilingi oleh rangkaian tulang untuk berkembang.
Umumnya tulang dermal membentuk atap tengkorak. Sepasang tulang parietal
terletak di daerah atap tengkorak paling belakang, di depan supaoccipita. Sepasang
tulang frontal yang merupakan keping dermal yang luas berkembang tepat di depan
tulang parietal. Di depannya terdapat tulang nasal yang bentuknya memanjang dan

xl
terletak di antara dua lubang hidung. Sepasang tulang lacrimal terdapat pada bagian
anterior sisi tengkorak.
Rahang atas terdiri dari tulang premaxilla, maxilla, jugal dan quadratojugal.
Premaxilla dan maxilla pada beberapa ikan buas dilengkapi dengan gigi-gigi tajam.
Tulang dermal yang terdapat pada langit-langit mulut ialah prevomer, endopterygoid,
ectopterygoid, palatine (masing-masing terdiri dari satu pasang) dan sebuah parasphenoid.
Tulang dermal pada rahang bawah ialah dentary yang dilengkapi gigi-gigi, splenial,
angular dan articular.
Pada golongan Osteichtheys terdapat tulang dermal yang menjadi penutup insang,
yaitu operculum, suboperculum, preoperculum dan interoperculum. Di bawah rahang
terdapat branchiostegal dan urohyal yamg merupakan tulang penyokong keeping tutup
insang (Gambar 6.1)

Gambar. 1. Diagram tulang pipih dan tulang tengkorak ikan ikan tuna (Gymnosarda unicolor:
sumber Collette & Chao 1975)

Tulang punggung pada daerah badan berbeda dengan yang terdapat pada daerah
ekor. Tiap-tipa ruas di daerah badan dilengkapi oleh sepasang tulang rusk kiri dan kanan

xli
untuk melindungi organ-organ di dalam ronga badan. Pada batang ekor tiap-tiap ruasnya
di bagian bawah hanya terdapat satu cucuk haemal. Di bagian atas ruas tulang punggung
terdapat cucuk neural (gambar. 2).

Gambar 2. Ruas tulang punggung ikan

B. Rangka Visceral
Rangka visceral terdiri dari struktur tulang yang menyokong insang dan
mengelilingi pharynx. Struktur ini terdiri dari tujuh tulang

lengkung insang. Duan lengkung insang yang pertama menjadi bagian dari tulang-tulang
tengkorak. Sedangkan lima lainnya berfungsi sebagai penyokong insang.
Pada ikan hiu lengkung insang terdiri dari beberapa potong rawan yang
digabungkan menjadi jeruji basal. Potongan dorsal (Pharyngobranchial) diikuti oleh
epibranchial, ceratobranchial dan hypobranchial dengan basibranchial yang memanjang
sepanjang ventral.

C. Morfologi Ikan
Morfologi ikan sangat berhubungan dengan habitat ikan tersebut di perairan dan
pengenalan struktur ikan tidak terlepas dari morfologi ikan yaitu bentuk luar ikan yang
merupakan ciri-ciri yang mudah dilihat, diingat dalam mempelajari dan mengidentifikasi
ikan.

xlii
Bentuk luar ikan seringkali mengalami perubahan dari sejak larva sampai
dewasa misal dari bentuk bilateral simetris pada saat masih larva berubah menjadi
asimetris pada saat dewasa. Bentuk tubuh ikan merupakan suatu adaptasi terhadap
lingkungan hidupnya atau merupakan pola tingkah laku yang khusus.
Secara umum, Moyle & Cech (1988) mengkatergorikan ikan ke dalam enam kelompok
yaitu:
1. Rover predator (predator aktif). Misalnya family Lutjanidae, Scombridae
2. Lie-in-wait predator (predator tak aktif). Misalnya family Esocidae, Belonidae,
Centropomidae dll.
3. Surface-oriented fish (ikan pelagik). Misalnya, family Carangidae
4. Bottom fish (ikan demersal). Misalnya, family Psettodidae, Bothidae, Pleuronectidae,
Soleidae, dll
5. Ikan bertubuh bulat besar, sepeti belut. Misalnya, Muraenidae, Congridae,
Opichthydae, dll

Predator aktif.
Ikan ini mempunyai bentuk tubuh yang langsing/lurus (fusiform), dengan mulut
di ujung (terminal) dan batang ekor menyempit/kecil dengan bentuk ekor cagak atau
bulan sabit.
Ikan-ikan kelompok ini selalu bergerak dan mengejar mangsa, contoh ikan tuna. Bentuk
tubuh dari ikan predator aktif sangat khas di perairan mengalir.
Predator tak aktif
Merupakan kelompok ikan piscivora yang mempunyai bentuk tubuh yang cocok
untuk menangkap mangsa dengan cara menghadang ikan-ikan perenang cepat. Tubuh
berbentuk ramping/lurus memanjang seringkali beebentuk sepertik torpedo. Kepala
berbentuk rata dengan mulut yang besar dan bergigi. Sirip ekor cenderung membesar
dengan sirip punggung dan anal berada jauh dibelakang badan dan letaknya segaris.
Susunan sirip ikan seperti ini memberikan daya dorong pada saat ikan ini akan meluncur
dengan cepat untuk menangkap mangsa yang lewat. Kelompok ikan ini antara lain ikan-
ikan air tawar Esocidae, Belonidae, Centropomidae.
Ikan pelagik

xliii
Ikan ini umumnya berukuran kecil, bentuk mulut superior, kepala berbentuk
pipih datar dengan mata lebar dan sirip punggung berada di bagian belakang badan.
Morfologi dari ikan ini sesuai untuk menangkap plankton dan ikan-ikan kecil yang hidup
di dekat permukaan air, atau insekta yang berada di permukaan contoh ikan Gambusia,
Fundulus.
Ikan demersal
mempunyai bentuk tubuh yang beragam. Gelembung renang dari ikan-ikan
kelompok ini mereduksi atau tidak ada. Ikan demersal terbagi menjadi 5 tipe yaitu (i)
ikan dasar yang aktif mempunyai bentuk tubuh seperti ikan predator aktif tetapi bentuk
kepala rata, mempunyai punuk dan sirip dada yang lebih besar. (ii) ikan yang melekat di
dasar merupakan ikan-ikan kecil dengan bentuk kepala rata, sirip dadap membesar
dengan struktur yang memungkinkan ikan ini berada di dasar perairan. Struktur ikan ini
banyak dijumpai di perairan berarus cepat atau daerah intertidal yang mempunyai arus air
yang kuat. (iii) ikan bottom- hider mempunyai kesamaan respon dengan ikan pelekat
tetapi tidak mempunyai alat pelekat dan cenderung mempunyai bentuk tubuh yang
memanjang dengan kepala lebih kecil. Bentuk seperti ini lebih menyukai hidup di bawah
batu-batuan, celah-celah. (iv) flatfish merupakan ikan dengan morfologi yang unik.
Bentuk tubuh membulat dengan mulut berada dibagian ventral yang sangat
memungkinkan untuk dapat mengambil makanan di dasar perairan, spirakula berada di
bagian atas dari kepala. (v) ikan bentuk rattail mempunyai tubuh bagian belakang
memanjang seperti ekor tikus, kepala besar dengan hidung yang sangat jelas dan sirip
dada besar. Umumnya, ikan seperti ini berada di laut dalam. Ikan-ikan ini merupakan
ikan pemakan bangkai dan memangsa invertebrata bentik.
Ikan berbadan membulat
Ikan ini mempunyai ukuran tubuh 1/3 dari panjang standar (jarak antara hidung
hingga pangkal ekor). Sirip punggung dan sirip anal memanjang dan sirip dada terletak
lebih tinggi sedangkan sirip pelvik lebih rendah dari badan. Mulut kecil dan dapat
disembulkan,
mempunyai mata yang besar dan hidung pendek.
Ikan dengan bentuk badan seperti belut

xliv
mempunyai badan yang panjang dengan bentuk kepala tumpul, ekor meruncing
atau membulat. Jika dijumpai sirip-sirip yang berpasangan misal sirip dada biasanya kecil
sedangkan sirip punggung dan sirip anal sangat panjang. Sisik berukuran sangat kecil
atau tidak ada sama sekali. Ikan-ikan ini seringkali berada di celah-celah atau lobang dari
karang atau batuan.

INDIKATOR PENILAIAN
1. Ketepatan penyajian pada tugas mandiri, tugas kelompok dan presentasi sesuai sasaran
akhir pembelajaran dan nilai kuis (40%)
2. Kreatifitas dalam memperoleh informasi yang sesuai dengan materi atau pokok
bahasan (30%)
3. Penguasaan materi dalam memaparkan, cara menjawab/menanggapi, serta penampilan
(30%)

BAB III. PENUTUP


Rangka pada ikan seperti halnya pada golongan vertebrata lainnya berfungsi
untuk menegakkan tubuh, menunjang dan menyokong organ-organ tubuh serta berfungsi
pula dalam proses pembentukan butir darah merah. Pada beberapa ikan modifikasi
tulang penyokong sirip menjadi penyalur sperma ke dalam saluran reproduksi ikan betina.
Secara tidak langsung rangka menentukan bentuk tubuh ikan yang beraneka ragam.
Rangka yang menjadi penegak tubuh ikan terdiri dari tulang rawan dan tulang sejati.
Tulang rawan pada banyak vertebrata, kecuali cyclostomata dan elasmobranchii
merupakan jaringan embrional.
Morfologi ikan sangat berhubungan dengan habitat ikan tersebut di perairan dan
pengenalan struktur ikan tidak terlepas dari morfologi ikan yaitu bentuk luar ikan yang
merupakan ciri-ciri yang mudah dilihat, diingat dalam mempelajari dan mengidentifikasi
ikan.

DAFTAR PUSTAKA
S. Alamsjah, S. 1974. Ichthiyologi Sistematika (Ichthyologi – I). Proyek
Peningkatan/Pengembangan Perguruan Tinggi, IPB

xlv
T. Lagler, K.F., J.E. Bardach, R.R. Miller and D.R.M. Passino. 1977. Ichthyology.
Second edition. John Wiley & Sons, New York
U. Love, M.S. and G.M. Cailliet (eds.). 1979. Readings in Ichthyology. Prentice-Hall
of India Private Limited, New Delhi
V. Moyle, P.B. and J.J. cech, Jr. 1988. Fishes. An Introduction to Ichthyology.
Second edition. Prentice Hall, Englewood Cliffs, New Jersey.
W. Nelson, J.S. 1976. Fishes of the World. John Wiley and Sons, New York.
X. Rahardjo, M.F. 1980. Ichthyologi. Departemen Biologi Perairan, Fakultas
Perikanan, IPB

xlvi
MODUL V
JUDUL : SISTEM PENCERNAAN
BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Mencernakan makanan merupakan suatu proses di dalam tubuh organisme yang
mengubah atau menyederhanakan bahan-bahan makanan yang dapat diserap oleh
dinding usus yang berguna bagi tubuh. Sistem pencernaan meliputi organ yang
berhubungan dengan pengambilan makanan, mekanismenya dan penyediaan bahan-bahan
kimia, serta pengeluaran sisa-sisa makanan yang tidak tercernakan keluar dari tubuh.

B. Ruang Lingkup Isi


- Alat Pencernaan pada ikan
- Cara makan pada ikan
- Rangsangan makanan

C. Kaitan Modul
Modul ini merupakan modul ke lima yang membahas tentang sistem pencernaan
makanan pada ikan. Modul ini dijelaskan setelah mahasiswa memahami modul
sebelumya yaitu sistem integumen, sistem otot dan sistem rangka pada ikan.

D. Sasaran Pembelajaran Modul


Setelah mempelajari modul ini, mahasiswa diharapkan dapat:
8. Menjelaskan organ-organ pencernaan pada ikan secara umum dan fungsinya
masing-masing
9. Menguraikan perbedaan secara anatomis ikan herbivora, kamnivora dan
omnivora
10. Menguraikan alat pencernaan makanan dan modifikasi tertentu pada ikan

BAB II. PEMBAHASAN

xlvii
A. ALAT PENCERNAAN MAKANAN
Alat-alat pencernaan makanan secara berturut-turut dari awal makanan masuk
ke mulut dapat dikemukakan sebagai berikut: mulut, rongga mulut, pharynx, esophagus,
lambung, pylorus, usus dan anus. Dalam beberapa hal terdapat adaptasi alat-alat tersebut
terhadap makanan dan kebiasaan makannya. Organ pencernaan ini dilengkapi dan
dibantu oleh hati dan pancreas.

Mulut dan Rongga Mulut


Organ ini merupakan bagian depan dari saluran pencernaan, berfungsi untuk
mengambil makanan yang biasanya ditelan bulat-bulat tanpa ada perubahan.
Lendir yang dihasilkan oleh sel-sel kelenjar dari epithel rongga mulut akan bercampur
dengan makanan, memperlancar proses penelanan makanan yang dibantu oleh kontraksi
otot dinding mulut.
Rongga mulut Amphioxus menyimpang jauh dari kepunyaan Craniota. Pada
hewan ini pinggiran lubang mulut mempunyai 12-20 pasang tentakel yang dilengkapi
dengan rambut getar dan indra. Pada mulut bagian belakang terdapat sekat melintang
yang disebut velum, ditembus oleh lubang yang berhubungan dengan farings. Ikan pada
umumnya, rongga mulut meneruskan diri menjadi farings, yang mempunyai beberapa
kantung insang. Menelan makanan pada ikan merupakan gerakan rangka visceral karena
kerja dari otot visceral.
Pada Amphioxus tidak dilengkapi lidah sedangkan pada Cyclostomata lidahnya
hampir tidak ada. Petromizon lidahnya berfungsi seperti alat penghisap, ikan ini melekat
dengan corong mulut pada pada ikan lain, dan dengan gigi tanduk dari lidah ia memarut
kulit dan daging dari mangsanya. Pada Myxinoidea gigi tanduk dari lidah digunakan
untuk mengebor kulit kulit ikan mangsanya, kemudian ia masuk ke dalamnya dan hidup
sebagai parasit. Lidah ikan merupakan suatu peninggian dari dasar mulut yang diselaputi
oleh selaput lendir, disokong oleh rangka Hiobrankhial yang tidak dapat bergerak tanpa
adanya kelenjar.

xlviii
Pada umumnya mulut ikan terletak di ujung depan kepala, yang dinamakan tipe
terminal. Pada ikan yang lain, mulut terletak pada bagian atas (tipe superior), di bagian
bawah kepala (tipe inferior), dan ada pula dekat ujung bagian kepala (tipe subterminal).
Selain letak yang berbeda-beda, bentuk mulutpun bermacam-macam. Bentuk dan letak
mulut ini sangat erat kaitannya dengan macam makanan yang menjadi kesukaan ikan.
Mulut tipe superior mendapatkan makanan dari permukaan atau menunggu pada dasar
perairan untuk menangkap mangsa yang lewat di atasnya.

A B C

Tipe mulut: A. Terminal; B. Sub-terminal; C. Superior

Ukuran mulut ikan dapat memberilkan petunjuk terhadap kebiasaan makan,


terutama bila dikaitkan dengan ukuran dan tempat gigi berada. Ikan-ikan cucut
dilengkapi dengan mulut yang lebar dan gigi tajam, yang menandakan mereka termasuk
golongan predator terhadap mangsa yang berukuran agak besar yang mungkin bisa
ditelan seutuhnya. Beberapa ikan cucut mempunyai pengaturan geligi yang menjadikan
mereka dapat menggigit gumpalan besar binatang yang terlalu besar untuk ditelan begitu
saja. Demikin pula dengan ikan baraccuda (Sphyraena) dan piranha (Serrasalmus).
Ikan yang menelan sepotong kecil makanan biasanya mempunyai bibir yang
relative kecil tanpa modifikasi. Pada ikan yang mendapatkan makanan dengan cara
mengisap, mereka mempunyai mulut tipe inferior dan bibir yang berdaging tebal. Bibir
pengisap ikan perenang bebas berfungsi sebagai organ pencekram batu atau benda-benda
lain pada sungai berarus deras misalnya, Glyptosternus, Gyrinocheilus dan beberapa
anggota family Loricariidae (Lagler et al., 1997). Pada ikan lamprey yang parasitic,
mulut pengisap tak berahang bertindak sebagai sebagai alat pencengkram agar menempel
pada inangnya dan mengambil makanan dari inangnya.

xlix
Mulut seringkali dilengkapi dengan sungut yang bentuk dan jumlahnya sangat
bervariasi. Sungut ini berfungsi sebagai alat peraba ketika ikan tersebut mencari makan.
Sungut dilengkapi dengan saraf, untuk menemukan makanan di antara material yang ada.

Berbagai bentuk mulut: A. Mulut dapat yang dapat disembulkan; B. Mulut gergaji; C.
Mulut tabung

Geligi
Adaptasi terhadap makanan juga terjadi pada gigi. Pada cyclostomata dan
ostracodermata tidak mempunyai gigi sebenarnya, sebab hewan ini mempunyai gigi
tanduk yang dihasilkan oleh epidermis.
Gigi sebenarnya homolog dengan sisik placoid, yang mungkin timbul dari sisik
yang menutupi bibir seperti pada ikan hiu muda (Squaliformes) dimana sisik placoid
menjadi gigi pada rahang. Osteichtheys mempunyai tiga jenis gigi berdasarkan tempat
tumbuhnya: rahang, rongga mulut dan pharyngeal. Di daerah rahang gigi tumbuh pada
premaxilla, maxilla dan dentary. Pada langit-langit rongga mulut, gigi terdapat pada
vover, palatine, pterygoid dan parasphenoid. Gigi juga terdapat pada tulang glossohyal
(tulang lidah) dan basibranchial di antara insang. Gigi pharyngeal terdapat pada berbagai

l
elemen lengkung insang pada banyak species ikan. Gigi pharyngeal family Cyprinidae
dan Catostomidae merupakan modifikasi elemen bawah lengkung insang yang terakhir.
Berdasarkan bentuknya, gigi rahang dapat dibedakan menjadi beberapa bentuk
yaitu: Cardiform, villiform, canine, incisor, comb-like teeth, dan molariform. Gigi
cardiform berbentuk pendek, tajam dan runcing. Bentuk ini didapatkan pada family
Ichtaluridae dan Serranidae. Gigi villiform mirip dengan gigi cardiform, hanya lebih
panjang dan memberikan gambaran seperti rumbai-rumbai, misalnya pada Belone dan
Pterois. Gigi canine menyerupai gigi anjing, seringkali berbentuk taring; bentuknya
panjang dan mengerucut, lurus atau melengkung dipergunakan untuk mencengkram.
Gigi incisor menpunyai pinggiran yang tajam yang disesuaikan untuk memotong.
Bentuk gigi yang mempunyai permukaan rata digunakan untuk menumbuk dan
menggerus, termasuk gigi molariform. Bentuk gigi ini misalnya dipunyai oleh Raja,
Holocephali dan Scianidae (Lagler et al, 1977).

Tipe gigi pada ukan A). Villiform, B. Molariform, C. Comb-like teeth, D. Canine, E.
Incisor

li
Pharynx
Organ ini biasa disebut pangkal tenggerokan, merupakan lanjutan rongga mulut.
Insang terletak tepat di belakang rongga mulut, di dalam pharynx. Umumnya terdapat
empat pasang pada ikan bertulang sejati, sedangkan pada ikan Chodrichthyes mempunyai
5-7 pasang lengkung insang. Di samping melindungi filament insang yang lembut dari
kikisan material makanan yang dimakan keluar melalui insang.
Ikan-ikan yang memakan mangsa besar, mempunyai tapis insang yang
berukuran besar dan jumlahnya sedikit. Pada ikan-ikan pemakan plankton, tapis
insangnya ramping, memanjang dan jumlahnya banyak. Jari-jari tapis insang yang
pendek dan besar didapatkan pada ikan omnivora. Tampak adanya kaitan yang erat
antara jenis makanan dengan bentuk dan jumlah jari-jari tipis insang.

Esophagus
Esophagus ikan biasa disebut kerongkongan, pendek dan mempunyai
kemampuan untuk menggelembung. Organ ini merupakan lanjutan pharinx, bentuknya
seperti kerucut dan terdapat di belakang daerah insang. Kemampuan menggelembung
organ ini tampak jelas pada ikan predator yang mampu menelan makanan yang relative
besar ukurannya. Sedangkan ikan-ikan pemakan jasad kecil mempunyai kemampuan
untuk menggelembung yang kurang disbanding dengan ikan predator. Karena adanya
kempauan menggelembung inilah, maka jarang terjadi seekor ikan tertelan sampai mati
oleh suatu makanan yang melalui mulutnya tetapi tidak dapat ditelan. Pinggiran
esophagus terdiri dari epithelium yang berlapis-lapis dan columnar, dengan sejumlah sel
atau kelenjar lendir. Dinding esophageal delengkapi secara khusus dengan lapisan otot
(muscular sac) yang berhubugan dengan esophagus. Pada beberapa genera (Pampus dan
Nomeus) terdapat gigi di tepi kantung esophageal, yang menempel pada dinding kantung.
Kantung esophageal berfungsi sebagai penghasil lendir, gudang makanan dan
penggilingan makanan. Pada ikan belut, Monopterus albus, esophageal dimodifikasi
menjadi alat pernapasan tambahan.

Lambung

lii
Lambung (ventriculus) atau perut besar adalah lanjutan dari esophagus, di
belakangnya dibatasi oleh otot sfinkter yang disebut pylorus, untuk kemudian menjadi
bagian depan dari usus bagian tengah. Lambung menunjukkan beberapa adaptasi:
diantaranya adalah adaptasi dalam bentuknya. Pada ikan pemakan ikan, lambung semata-
mata berbentuk memanjang seperti pada ikan gar (Lepisosteus), bowfi (Amia), pike
(Esox), barracuda (Sphyraena) dan striped bass (Horone saxatilis). Pada ikan omnivora
seringkali lambung terbentuk seperti kantung. Pada ikan belanak (Mugil), lambung
bermodifikasi menjadi alat penggiling. Lambung tersebut berukuran kecil, tetapi
dindingnya tebal dan berotot. Pada Saccopharyngidae dan Eupharyngidae, lambung
mempunyai kemampuan menggelembung yang besar sehingga memungkinkan ikan-ikan
ini memakan mangsa yang relative besar.
Sebagain besar ikan mempunyai lambung. Lambung tidak terdapat pada
lamprey, hagfish, chimaera dan beberapa ikan bertulang sejati (Cyprinidae,
Scomberesocoidae, dan Scaridae). Pada ikan-ikan tersebut kelenjar lambung tidak ada,
dan makanan dari esophagus langsung ke usus. Adanya lambung dapat dicirikan oleh
rendahnya pH dan adanya pepsine di antara getah pencernaan. Pada beberapa ikan
seringkali bagian depan ususnya membesar menyerupai lambung sehingga bagian ini
dinamakan lambung palsu, misalnya pada ikan mas (Cyprinus carpio).
Pada beberapa spesies tertentu, pada akhir ventrikulus terdapat tonjolan-tonjolan
sebagai kantong buntu disebut appendices pyloricae, yang berguna untuk memperluas
permukaan dinding ventriculus agar pencernaan dan enyerapan makanan dapat lebih
sempurna.

Usus
Usus tengah dan usus akhir biasa disebut Intestinum, suatu bagian dari saluran
pencernaan mulai dari pylorus sampai di kloaka atau anus. Usus mempunyai banyak
variasi pula, umumnya berbentuk seperti pipa panjang berkelok-kelok dan sama besarnya,
berakhir dan bermuara keluar, sebagai lubang anus. Usus diikat (difixer) oleh suatu alat
pengantung, mesentrum yang merupakan derivat dari pembungkus rongga perut
(peritonium).

liii
Pada ikan carnivor ususnya pendek, mungkin karena makanan berdaging dapat
dicerna dengan lebih muda dari pada tanaman. Sebaliknya usus ikan herbivore panjang
dan teratur di dalam satu lipatan atau kumparan. Pada beberapa jenis ikan, seperti
Lamprey, elasmobranchii dan beberapa Osteichtyes yang ususnya pendek untuk
memperluas permukaan absorpsi di dalam ususnya terdapat serangkaian klep spiral yang
disebut tyflosol.
Pada usus sebagian besar ikan bertulang sejati, bagian depan usus yang langsung
berbatasan dengan pylorus disebut duodenum yang memiliki satu atau lebih kantung
buntu yang dinamakan pyloric caeca. Struktur ini tidak terdapat pada family Ictaluridae
dan Cyprinodontidae. Perca flavescense mempunyai tiga buah, sedangkan pada family
salmonidae biasa mencapai jumlah 200 atau lebih. Fungsi alat pyloric caeca mungkin
berkaitan dengan pencernaan dan penyerapan.

KELENJAR PENCERNAAN
Kelenjar pencernaan atau glandula digestoria berfungsi dalam proses pencernaan
terdiri atas hati, pankreas dan kantong empedu.
Hati
Hati atau hepar besar, berwarana merah kecoklatan. Letaknya di bagian depan
rongga badan dan meluas mengelilingi usus, bentuknya tidak tegas. Pembentukan hati
asalnya sepasang. Hal ini dapat dilihat pada Myxine dewasa, dimana hati kiri dan kanan
tidak bersatu dan masing-masing mempunyai saluran empedu yang menuju ke dalam
kantung empedu dan dari sini empedu dialirkan ke melalui ductus kholedokhus ke dalam
usus bagian tengah.
Hati termasuk kelenjar yang besar pada ikan, bahkan pada ikan cucut dan ikan
pari biasa mencapai 20 % bobot tubuhnya. Hati biasanya terletak di muka lambung atau
sebagian mengelilingi lambung. Biasanya hati berjumlah dua buah, tetapi mungkin
hanya satu seperti pada ikan salmon, atau tiga seperti pada mackerel. Pada hati terdapat
kantung empedu yang mengeluarkan cairan empedu. Cairan empedu ini masuk ke dalam
saluran pencernaan makanan pada daerah pylorus melalui ductus choledochus.
Disamping berperan dalam pencernaan, hati juga berfungsi sebagai gudang penyimpanan
lemak dan glikogen. Fungsi selanjutnya adalah dalam perusakan sel darah merah dan

liv
kimiawi darah seperti pembentukan urea dan senyawa yang berhubungan dengan ekskresi
nitrogen dan menetralkan racun serta menghasilkan panas. Ikan-ikan mempunyai variasi
dalam jumlah lemak yang di simpan dalam hati. Pada Pleuronectiformes dan gadidae,
lemak terutama disimpan di dalam hati, sedangkan pada Scombridae dan Clupeidae,
lemak lebih banyak disimpan di dalam otot. Selain lemak, hati ikan juga menyimpan
vitamin A dan D.
Pankreas
Pankreas terdiri dari dua bagian, yaitu bagian eksokrin yang menghasilkan getah
apankreas, penting bagi pencernaan makanan, dan bagian endokrin yang menghasilkan
hormon ensulin, mengendalikan kadar gula di dalam darah. Pankreas mensekresikan
beberapa enzym yang berfungsi dalam proses pencernaan makanan. Pada ikan yang
bertulang sejati biasanya menyebar di sekeliling hati ; bahkan pada ikan yang berjari-jari
sirip keras pankreas dan hati menyatu menjadi hepatopankreas. Pada ikan cucut dan pari
pankreas merupakan dua buah organ yang kompak.
Kantong Empedu
Kantung empedu atau vesica velea bila penuh bentuknya membulat dengan warna
kehijau-hijauan, letaknya pada hati bagian depan salurannya disebut ductus cysticus
bermuara pada usus dekat venticulus. Fungsi dari kantong empedu ini untuk
menampung/menyimpan empdu (bilus) dan mencurahkannya ke dalam usus, bila
diperlukan. Bilus ini berfungsi mencerahkan lemak.

B. RANSANGAN UNTUK MAKAN


Ransangan ikan terhadap makanan merupakan intraksi antara beberapa faktor
yang menentukan kapan ikan akan makan dan makanan apa yang diinginkan.
Rangsangan untuk makan secara umum dipengaruhi oleh motifasi internal atau dorongan
untuk makan seperti, waktu makan, musim, intensitas cahaya dan suhu. Faktor lain
adalah rangsangan makan yang diterima oleh panca indera seperti rasa, bau, penglihatan,
sentuhan dan sistem garis rusuk.
Beberapa jenis ikan yang mendapatkan makanan dengan perantaraan rasa dan bau,
lebih condong makan pada malam hari, misalnya pada ikan Ictalurus . Sedangkan ikan

lv
yang mendapatkan makanan dengan perantaraan mata atau penglihatan cenderung lebih
aktif pada waktu siang hari, misalnya pada Esox.
Ikan Synbranchus dan Onchorhynchus menghentikan kegiatan mencari makan
pada saat musim pemijahan. Mereka selama estivasi dalam lubang yang lembab dan
berlumpur , hanya menggunakan akumulasi lemak dalam tubuhnya. Sebagian besar ikan
yang hidup pada daerah ”temperate” sangat aktif mencari makanan ketika perubahan
kondisi lingkungan pada musim semi.

JENIS IKAN BERDASARKAN TIPE MAKANAN


Lagler et al., (1977) membagi ikan secara garis besar berdasarkan cara
makannya ke dalam golongan predator, grazer, penyaring makanan, pengisap makanan
dan parasit.
Umumnya ikan-ikan yang memakan binatang-binatang makroskopik mempunyai
adaptasi tertentu. Mereka biasanya mempunyai gigi pencengkram yang berkembang
dengan baik, seperti yang terdapat pada ikan cucut (Elasmobranchii), Sphyraenae, Esox,
dan Lepisosteus. Pada ikan-ikan predator terdapat lambung yang jelas dengan sekresi
asam kuat dan ususnya relative lebih pendek dari pada ikan herbivore, pada ukuran
panjang ikan yang sama. Banyak predator seperti bluefish (Pomatomus sallatrix) dan
ikan laut dalam aktif memburu mangsanya, sedangkan yang lain seperti kerapu
(Epinephelus) sering berdiam diri dan menunggu sampai ada seekor binatang lewat yang
kemudian diserbu dan ditangkap. Lophiidae dan Antennaridae mengembangkan jari-jari
pertama sirip punggup menjadi semacam umpan untuk memancing perhatian si mangsa.
Ikan sumpit (Toxotes jaculator) sering menyumpit jatuh serangga yang sedang hinggap di
tanaman air dengan “ air liurnya”. Ketepatan menyumpit sasarannya ini merupakan hasil
dari hasil perkembangan mata yang dapat digunakan untuk melihat udara di luar
permukaan air. Beberapa ikan predator melakukan perburuan dengan mengandalkan
mata, sedangkan cucut (Squaliformes), ikan-ikan nocturnal (misalnya, Ictalurus) dan
Muraenidae bertumpu kepada bau, rasa, sentuhan dan mungkin pula mengandalkan saraf
garis rusuk untuk menemukan tempat si mangsa.

lvi
Penyaringan organisme dari air merupakan cara makan yang paling umum
dilakukan karena sasaran makanan yang dipilih berdasarkan ukuran dan bukan
berdasarkan jenis. Prinsip adaptasi ikan penyaring makanan terletak pada pengembangan
tapis insang yang memanjang, rapat dan dalam jumlah yang banyak. Ikan dewasa
mampu menyaring satu sampai dua gallon air per menit dengan tapis insangnya, dan
dalam waktu yang sama beberapa cc kumpulan plankton terutama diatom dan krustacea
diperolehnya. Kelompok ikan yang menyaring makanan ditemukan banyak pada
clupeoid (Dorosoma).
Pada beberapa anggota family Cyprinidae memiliki cara makan yakni, mengisap
material yang mengandung makanan ke dalam mulut dimana respon pengisapannya
sangat bergantung pada rangsangan sentuhan bibir. Beberapa dari mereka mampu
memisahkan antara makanan yang diinginkan dengan sedimen sebelum dia telan, namun
pada beberapa kelompok seperti Siluridae, endapan dan lumpur sering ditemukan dalam
konsentrasi yang tinggi bersama-sama dengan jasad dasar pada saluran pencernaannya.
Beberapa kelompok ikan yang bersifat parasit misalnya, Simenchelys parasiticus,
petromyzon marinus, Lampreta tridentata mengisap cairan tubuh dari inangnya.
Biasanya ikan jantan relatif kecil, begitu kecilnya sehingga lebih kecil dari pada sebuah
gonad yang matang.
Jenis ikan dapat digolongkan menjadi tujuh kelompok menurut jenis makanannya,
walaupun harus juga diingat bahwa beberapa jenis pola makannya berubah sesuai dengan
perubahan umur, musim dan
ketersediaan makanan. Perbedaan golongan ikan menurut jenis makanannya ini berkaitan
antara satu golongan dengan golongan lain. Penggolongan berdasarkan jenis makanannya
yaitu :
Herbivora
Ikan golongan ini makanan utamanya berasal dari bahan-bahan nabati misalnya
ikan tawes (Puntius javanucus), ikan nila Osteochilus hasseli), ikan bandeng (Chanos
chanos).
Karnivora

lvii
Ikan golongan ini sumber makanan utamanya berasal dari bahan-bahan hewani
misalnya ikan belut (Monopterus albus), ikan lele (Clarias batrachus), ikan kakap (Lates
calcarifer).
Omnivora
Ikan golongan ini sumber makanannya berasal dari bahan-bahan nabati dan
hewani, namun lebih menyesuaikan diri dengan jenis makanan yang tersedia misalnya
ikan mujair (Tilapia mossambica), ikan mas (Ciprinus carpio), ikan gurami (Ospronemus
goramy).
Pemakan plankton
Ikan golongan ini sepanjang hidupnya selalu memakan plankton, baik
fitoplankton atau zooplankton misalnya ikan terbang (Exocoetus volitans), ikan cucut
(Rhinodon typicus).
Pemakan detritus
Ikan golongan ini sumber makanannya berasal dari sisa-sisa hancuran bahan
organik yang telah membusuk dalam air, baik yang berasal dari tumbuhan maupun hewan
misalnya ikan belanak (Mugil sp.).
Selain penggolongan ikan berdasarkan jenis makanannya, ikan dibedakan juga
berdasarkan spesialisasi dari makanannya yaitu:
a. Monophagus : ikan hanya mengkonsumsi satu jenis makanan
b. Stenophagus : ikan mengkonsumsi makanan yang terbatas jenisnya
c. Euriphagus : ikan mengkonsumsi bermacam-macam atau campuran jenis makanan.
Umumnya ikan-ikan yang ada di alam termasuk ke dalam euriphagus ini.
Jenis bahan makanan dan ketersediannya juga menentukan ditribusi ikan-ikan
diperairan. Umumnya, semakin besar ukuran sungai semakin besar pula jumlah dan
keanekaragaman ikannya; dan proporsi biomassa ikan yang bergantung kepada tumbuhan
air dan tumbuhan darat semakin meningkat.

INDIKATOR PENILAIAN
1. Ketepatan penyajian pada tugas mandiri, tugas kelompok dan presentasi sesuai sasaran
akhir pembelajaran dan nilai kuis (40%)
2. Kreatifitas dalam memperoleh informasi yang sesuai dengan materi atau pokok

lviii
bahasan (30%)
3. Penguasaan materi dalam memaparkan, cara menjawab/menanggapi, serta penampilan
(30%)

BAB III. PENUTUP


Sistem pencernaan meliputi organ yang berhubungan dengan pengambilan
makanan, mekanismenya dan penyediaan bahan-bahan kimia, serta pengeluaran sisa-sisa
makanan yang tidak tercernakan keluar dari tubuh. Alat-alat pencernaan makanan secara
berturut-turut dari awal makanan masuk ke mulut dapat dikemukakan sebagai berikut:
mulut, rongga mulut, pharynx, esophagus, lambung, pylorus, usus dan anus

DAFTAR PUSTAKA
Y. Alamsjah, S. 1974. Ichthiyologi Sistematika (Ichthyologi – I). Proyek
Peningkatan/Pengembangan Perguruan Tinggi, IPB
Z. Lagler, K.F., J.E. Bardach, R.R. Miller and D.R.M. Passino. 1977. Ichthyology.
Second edition. John Wiley & Sons, New York
AA. Love, M.S. and G.M. Cailliet (eds.). 1979. Readings in Ichthyology.
Prentice-Hall of India Private Limited, New Delhi
BB. Moyle, P.B. and J.J. cech, Jr. 1988. Fishes. An Introduction to Ichthyology.
Second edition. Prentice Hall, Englewood Cliffs, New Jersey.
CC. Nelson, J.S. 1976. Fishes of the World. John Wiley and Sons, New York.
AA. Rahardjo, M.F. 1980. Ichthyologi. Departemen Biologi Perairan, Fakultas
Perikanan, IPB

lix
MODUL VI
JUDUL : SISTEM PEREDARAN DARAH
BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Seperti pada golongan vertebrata lainnya, ikan mempunyai sistem peredaran
darah tertutup, artinya darah tidak pernah keluar dari pembulunya, jadi tidak ada
hubungan langsung dengan sel tubuh sekitarnya. Sistem peredaran darah pada ikan
bersifat tunggal, artinya hanya terdapat satu jalur sirkulasi peredaran darah.
Sistem peredaran darah, organ utamanya adalah jantung yang bertindak sebagai
pompa tekan merangkap pompa hisap. Darah ditekan mengalir keluar dari jantung
melalui pembuluh arteri ke seluruh tubuh sampai ke kapiler darah, kemudian dihisap
melalui pembuluh vena dan kembali ke jantung. Sistem peredaran darah ini disebut
sistem peredaran darah tunggal.

B. Ruang Lingkup Isi


- Jantung
- Darah
- Organ pembentu darah

C. Kaitan Modul
Modul ini merupakan modul ke lima yang membahas tentang sistem peredaran
darah pada ikan. Modul ini dijelaskan setelah mahasiswa memahami modul sebelumya
yaitu sistem integumen, sistem otot dan sistem rangka pada dan sistem pencernaan pada
ikan.

D. Sasaran Pembelajaran Modul


Setelah mempelajari modul ini, mahasiswa diharapkan dapat:
11. Menjelaskan tentang Jantung, darah dan organ-organ pembentuk darah

lx
12. Menjelaskan tentang anatomi ikan yang dikaitkan dengan fungsi sistem
peredaran darah.

BAB II. PEMBAHASAN

A. JANTUNG
Jantung adalah suatu organ yang berupa benda berongga dan terletak dalam
ronga ruang mediastinal atau bagian posterior lengkung insang. Organ ini merupakan
suatu pompa yang terdiri atas otot licin yang secara ritmis berkontraksi untuk memompa
darah dari vena ke arteri. Untuk melaksanakan fungsi ini jantung mempunyai suatu
sistem klep yang menyebabkan darah mengalir ke satu arah.
Jantung pada ikan dibangunkan oleh dua ruangan yang terletak di bagian
posterior lengkung insang, di bagian depan rongga badan dan di atas Ithmus. Kedua
ruang tersebut ialah atrium (auricle) yang berdinding tipis dan ventricle yang berdidnding
tebal. Ruangan ini berurutan dari belakang ke depan, yaitu:

Sinus venosus
Adalah ruang tambahan atau kantung yang berdinding tipis, hampir tidak
mengandung jaringan otot. Dinding kaudalnya bersatu dengan bagian depan dari septum
transversum, yang memisahkan rongga pericardial dari rongga pleuroperitoneal. Darah
venus dari seluruh tubuh, masuk di sinus venosus melalu sepasang ductus Cuvieri yang
masuk di bagian lateral, dan sepasang sinus hepaticus yang masuk pada dinding posterior
dari sinus venosus. Vena coronaria yang datang dari dinding otot jantung, juga masuk
dari sinus venosus . Dari sini darah melalui lubang sinus atrial masuk ke dalam atrium.
Atau dengan kata lain bahwa kantung berdinding tipis ini berfungsi untuk menanpung
darah dari vena hepatika yang membawa darah dari vna kardial anterior dan posterior.

Atrium
Adalah ruang tunggal yang dindingnya relatif tipis, terletak anterior dari sinus
venosus. Darah dari atrium melalui lubang atrioventikular diteruskan ke dalam rongga

lxi
ventrikel. Lubang ini dijaga oleh klep atau katup atrioventrikular, supaya aliran darah
tidak kembali ke rongga atrium.

Ventrikel
Adalah ruang berdinding tebal berotot, menerima darah hanya dari atrium saja
dan memompakan darah melalui aorta ventral ke insang. Ruang ini dibentuk oleh dua
lapisan otot yaitu lapisan otot luar disebut kortikal dan lapisan otot dalam disebut spongi.
Bagian ini menerima darah dari atrium melalui atrioventricular. Ujung anterior dari
ventrikel tumbuh memanjang dan berdinding tebal, di dalamnya terdapat suatu seri klep
semilunar.

Conus Arteriosus
Pada Elasmobranchii, conus arteriosus berkembang denga baik, tetapi tidak
mempunyai bulbus arteriosus. Pada sebagian ikan Teleostei conus arteriosus sudah
tereduksi menjadi suatu struktur yang sangat kecil, sedangkan bulbus arteriosus
(perluasan sebagian dari aorta ventralis) berkembang dengan baik.
Antara sinus venosus dan atrium terdapat katup sinuatrial, yang berasal dari
jaringan endikardial dan miokardial/ otot jantung, berfungsi menahan darah agar tidak
kembali ke sinus venosus; antara atrium dan ventrikel terdapat katup atriventrikular, yang
menahan darah agar tidak kembali ke atrium. Pada elasmibranhi dan osteichthye,
terdapat dua baris katup atriventrakular, tetapi pada ikan bowfn Amia calva dan mrigal
Chirrinus mrigala ada empat baris, dan ikan gars Lepisosterus dan Polypterus terdapat
enam baris. Sedang pada Dipnoi tida ada sama sekali.
Perjalanan dari bulbus keluar arteri ventralius menuju ke depan, bercabang halus
menjadi arteri branchialis afferent yang menuju ke tiap insang. Di dalam insang arteri in
bercabang menjadi kapiler-kapiler halus yang berfungsi dalam pertukaran gas
(mengambil O2 dan melepaskan Co2) keluar dari insang, kapiler-kapiler tersebut kembali
menyatu menjadi arteri branchialis afferent. Arteri-arteri ini kemudian bersatu menjadi
aorta dorsalis yang berjalan mengikuti tulang punggung dan bercabang-cabang ke seluruh
tubuh dan untuk selanjutnya kembali lagi menuju jantung melalui pembuluh vena. Vena
yang masuk ke jantung terdiri dari sepasang ductus cuvier.

lxii
Secara umum sistem peredaran darah pada ikan mirip sistem hidraulis yang terdiri
atas sebuah pompa, pipa, katup, dan cairan. Meskipun, jantung ikan terdiri atas empat
bagian, namun pada kenyataannya mirip dengan satu silinder atau pompa piston tunggal
(Gambar 1 dan 2). Akibat adanya perbedaan tekanan sehingga terjadi aliran darah.
Untuk menjamin aliran darah terus berlangsung, maka daerah dipompa dengan perbedaan
tekanan. Tekanan jantung lebih besar dari tekanan arteri dan, tekanan arteri lebih besar
dari tekanan arterionale.

1. Diagram penampang melintang jantung ikan teleostei dan elasmobranchii.

2. Bagan jantung ikan

B. SALURAN DARAH

Ada tiga bentuk saluran darah yaitu arteri, vena dan kapiler.

lxiii
Arteri
Adalah pembuluh darah yang aliran darahnya menjauhi jantung atau saluran yang
dilalui darah yang keluar dari insang dan menuju ke bagian-bagian tubuh. Biasanya
membawa darah yang kaya dengan oksigen ke seluruh bagian tubuh. Saluran darah ini
terdiri dari tiga lapisan yaitu bagian dalam (intima), memiliki lapisan endothelium dan
sub endothelium

Vena
Adalah pembuluh darah balik yang aliran darahnya menuju ke jantung. Struktur
vena sama halnya dengan arteri, namun mempunyai dinding yang lebih tipis dan rongga
yang lebih besar dibanding arteri pada ukuran diameter yang sama. Bagian dalam dari
vena yang mengalami tekanan hidrostatik tinggi, umumnya kaya akan jaringan elastis dan
sel otot licin. Dinding vena umumnya berkontraksi secara aktif, tidak hanya
mempertahankan tekanan darah dalam sistem vena, tetapi juga untuk memompakan darah
dari dinding ke jantung.

Kapiler
Adalah bagian percabangan saluran darah yang merupakan tempat terjadinya
pertukaran zat (gas nutrien) antara darah dengan jaringan/sel. Ada tiga macam kapiler
darah yaitu, kapiler kontinyu, kapiler berpori dan kapiler diskontinyu (sinusoid).

DARAH
Darah berupa cairan yang dibangunkan oleh plasma darah, sel darah dan substansi
lain yang terlarut di dalamnya. Plasma darah berupa cairan zat putih telur yang
mengandung bagian-bagian dari sel darh, mineral terlarut. Di luar pembuluh darah ,
darah akan membeku disebabkan oleh kerja ensim trhombokinase yang bereaksi dengan
garam kalsium menjadi trombin yang aktif.
Ikan memiliki kadar protein plasma berupa albumin (pengontrol tekanan osmotik),
lipoprotein (pembawa lemak), globulin (pengikat heme), ceruloplasmin (pengikat Cu),
fibrinogen (bahan pembeku darah), dan iodurophorine (sebagai yudium anorganik).
Fungsi utama darah yaitu transportasi bahan materi yang dibutuhkan bagian tubuh,

lxiv
atau yang tidak diperlukan dibawa ke organ pembuangan. Darah, juga menjaga
masuknya bahan penyakit, memperbaiki bahan jaringan yang rusak, mengantarkan bahan
pertumbuhan, dan membawa oksigen ke jaringan-jaringan tubuh. Dengan adanya
hormon dalam aliran peredaran darah, seolah-olah darah berfungsi seperti sistem saraf
tambahan.
Pertukaran oksigen dari air dengan CO2 terjadi pada bagian semipermiable yaitu
pembuluh yang terdapat di daerah insang. Selain dari itu, di daerah insang terjadi
pengeluaran kotoran yang bernitrogen dan insang juga mengeleminir mineral yang
berdifusi. Jantung mengeluarkan darah yang relatif kurang oksigen dan berkadar CO2
tinggi. Bagan peredaran darah dalam tubuh ikan tertera pada gambar 3.

Ket:
1. atrium, 2. ventricle, 3. aorta ventralis, 4. arteri branchialis afferent, 5. insang, 6. arteri
branchialis afferent, 7. arteri carotid, 8. kepala, 9. vena jugularis, 10. vena cardinal,
11.??? .....12. aorta dorsalis, 13. usus, 14. vena portae hepatica, 15. hati, 16. vena hepatica,
17. arteri caudalis, 18. arteri renalis, 19. vena portae renalis, 20. ginjal, 21. vena renalis.

3. Diagram peredaran darah ikan teleostei (Adam and Eddy, 1951)

Volume darah yang beredar dalam tubuh ikan Teleostei berkisar antara 1.5 – 3%
dari bobot tubuhnya. Pada Squalus acanthius volume darah bisa mencapai 5% dari bobot
tubuhnya. Jumlah organ yang membuat darah pada ikan lebih banyak jumlahya bila
dibanding dengan mamalia.

lxv
Ikan pada umumnya, vena utama yang membawa darah kembali ke jantung ialah
sepasang vena kardinalis anterior dan posterior (Gambar. 4). Vena yang pertama,
membawa darah dari bagian kepala berjalan berdampingan dengan sepasang vena
jugularis yang letaknya lebih ke tengah. Dari ekor berjalan vena caudalis yang tunggal,
kemudian bercabang dua menjadi vena portae renalis menuju ke ginjal. Di dalam ginjal
vena portae renalis mempercabangkan banyak vena renalis advehentes, dan masing-
masing cabang ini pecah menjadi kapiler darah. Jaring kapiler darah ini kemudian
bersatu kembali menjadi beberapa vena renalis revehentis yang mengalir ke permukaan
tengah dari ginjal dan bermuara pada vena kardinalis posterior.

4. Sistem peredaran vena pada ikan teleostei (Lagler, et al. 1977)

C. SEL-SEL DARAH
Darah terdiri atas sel-sel dan cairan darah atau plasma. Sel sel darah terdapat
dalam plasma yang terdiri dari tiga macam, yaitu Erythrocyte, Leucocyte dan
Thrombocyte. Ketiga macam sel darah tersebut dibentuk dalam sistem
reticuloendothelial. Pembentukan sel-sel tersebut pada hawan muda terjadi di dalam
kantung yolk, kemudian dalam hati, spleen, dan lymfa. Setelah hewan dewasa, sumsung
tulang merupakan tempat utama pembentukan sel-sel darah merah.
Sel darah terdiri atas sel-sel diskret yang memiliki bentuk khusus dan fungsi yang
berbeda (Gambar 5), sedangkan komponen dari plasma selain fibrinogen, juga terdapat
ion-ion inorganik dan organik untuk fungsi metabolik.

lxvi
Erythrocyte (sel darah merah)
Ikan, sebagaimana vertebrata lain, memiliki sel darah merah atau Erythrocyte
yang berbentuk lonjong dan berinti dengan diameter 7 – 36 mikron (tergantung spesies
ikannya). Warna merah dari darah disebabkan oleh hemoglobin yang terdapat dalam
erythrocyte. Jumlah erythrocyte tiap mm3 darah berkisar antara 20.000 – 3.000.000.
Pengangkutan oksigen sebagai fungsi utama sel darah bergantung kepada komponen Fe
pada hemoglobin (pigmen pernapasan) yang terdapat di dalam erythrocyte. Kemampuan
mengikat oksigen pada tingkat kejenuhan 95%, kandungan besi dalam darah dan jumlah
sel darah merah sangat bervariasi bergantung pada stadia hidup, kebiasaan hidup dan
kondisi lingkungan.
Leucocyte (sel darah putih)
Leucocyte terdiri atas dua kelompok sel yakni yang mengandung butir-butir
(granula) yang disebut granulacyte dan yang mengandung sedikt sekali bahkan tidak
mengandung butir-butir disebut agranulacyte. Yang mengandung granula terdiri atas:
neutrophil, eosinophil dan basophil sedang yang tidak mengandung granula terdiri atas:
limphocyte dan monocyte.
Leucocyte pada ikan tidak berwarna, berjumlah antara 20.000 – 150.000 dalam
tiap mm3 darah. Leucocyte dapat dibedakan menjadi tiga macam sel, yaitu granulocyte,
limphocyte, dan monocyte. Walaupun leucocyte merupakan unsur darah, tetapi fungsi
utama dari padanya ada di luar pembuluh darah. Mereka mempunyai sifat dapat
menerobos keluar dari pembuluh darah, dan bergerak secara amoeboid di antara jaringan
sekelilingnya. Mereka tidak hanya mempunyai sifat daya fagositose saja, tetapi kaya
terhadap enzim yang dapat menimbulkan reaksi kimia. Di luar pembuluh darah,
leucocyte hanya berumur pendek.
Berdasarkan penyerapan warna, granulocyte terdiri dari neutrophil, acidophil
(eosinophil) dan basophil. Agranulocyte yang merupakan komponen terbesar leucocyte
terdiri dari lympocyte, monocyte dan thrombocyte (Gambar. 5)
Thrombocyte
Thrombocyte ukurannya jauh lebih kecil dari erytrocyte, besarnya bervariasi
antara 2 sampai 3 mikron. Mereka merupakan penghasil utama dari thrombokinase.

lxvii
5. Sel-sel darah pada ikan

D. ORGAN PEMBENTUK DARAH


Beberapa organ pada ikan dapat membentuk darah. Pada stadia embrio, saluran
darah dapat menghasilkan sel-sel darah, pada ikan dewasa sel-sel darah masih dibentuk di
permukaan saluran darah, namun pusat-pusat pembentukan sel-sel darah lebih nampak.
Pada Cyclostomata, semua jenis sel darah dibentuk dalam limpa yang tersebar pada
submucosa usus alat pencernaan makanan. Dinding esophagus pada beberapa jenis ikan
pada bagian buco-faring hingga bagian cardinal lambung terdapat organ lymphoid yang
dikenal dengan Leidug yang menghasilkan sel-sel darah putih.
Ginjal adalah organ yang paling kaya akan jaringan lymphoid, thrombocyte
dibentuk di bagian mesonefrik. Pada Lamprey dan kebanyakan Teleostei, ginjal
merupakan penghasil sel darah yang utama selama hidupnya, terutama kepala ginjal.
Jaringan lymphoid juga terdapat pada permukaan gonad jantan dan betina ikan Selachi
dan Dipnoi. Pada bagian-bagian sel tulang rawan pada kepala dari jenis Lepisosteus dan
Amia menghasilkan seluruh jenis sel-sel darah.
Limpa ikan merupakan organ yang sangat bervariasi baik letak, bentuk maupun
ukurannya. Limpa pada ikan Gnathostomata terdiri dari bagian cortex (berwarna merah),
Pulva (berwarna putih) dan medula. Bagian cortex dari limpa membentuk erythricyte dan
thrombocyte sedangkan limphocyte dan beberapa granulocyte dibentuk di dalam medulla.
Pada esophagus ikan hiu, memperlihatkan kumpulan jaringan pembentuk limphocyte.
Pada ikan pari, limpa memanjang antara bagian kardial dan pyloric dari lambung,
sedangkan pada ikan Squalus, limpa ini terletak di belakang persimpangan lambung dan
berbentuk segi tiga. Pada ikan bertulang sejati limpa ini juga berfungsi dalam
menghancurkan sel-sel darah merah.

lxviii
INDIKATOR PENILAIAN
1. Ketepatan penyajian pada tugas mandiri, tugas kelompok dan presentasi sesuai sasaran
akhir pembelajaran dan nilai kuis (40%)
2. Kreatifitas dalam memperoleh informasi yang sesuai dengan materi atau pokok
bahasan (30%)
3. Penguasaan materi dalam memaparkan, cara menjawab/menanggapi, serta penampilan
(30%)

BAB III. PENUTUP

Sistem peredaran darah pada ikan bersifat tunggal, artinya hanya terdapat
satu jalur sirkulasi peredaran darah. Berawal dari jantung, darah menuju insang
untuk melakukan pertukaran gas. Selanjutnya, darh dialirkan ke dorsal aorta dan
terbagi ke segenap organ-organ tubuh melalui saluran-salura kecil. Selain itu,
sebagian darah dari insang kadang langsung kembali ke jantung.

Darah memberi bahan materi dengan perantaraan difusi melalui dinding


yang tipis dari kapiler darah, dan kembali ke jantung melalui pembulu yang ke dua.
Seri pertama dinamakan sistem arteri dan seri ke dua disebut sistem vena.
DAFTAR PUSTAKA
BB. Alamsjah, S. 1974. Ichthiyologi Sistematika (Ichthyologi – I). Proyek
Peningkatan/Pengembangan Perguruan Tinggi, IPB
FF. Lagler, K.F., J.E. Bardach, R.R. Miller and D.R.M. Passino. 1977. Ichthyology.
Second edition. John Wiley & Sons, New York
GG. Love, M.S. and G.M. Cailliet (eds.). 1979. Readings in Ichthyology.
Prentice-Hall of India Private Limited, New Delhi
HH. Moyle, P.B. and J.J. cech, Jr. 1988. Fishes. An Introduction to Ichthyology.
Second edition. Prentice Hall, Englewood Cliffs, New Jersey.
II. Nelson, J.S. 1976. Fishes of the World. John Wiley and Sons, New York.
GG. Rahardjo, M.F. 1980. Ichthyologi. Departemen Biologi Perairan, Fakultas
Perikanan, IPB

lxix
MODUL VII
JUDUL : SISTEM UROGENITALIA
BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sistem urogenital dibangunkan oleh dua system, yaitu system urinaria (systema
uropoetica) dan genitalia (sytema genitalia). Sistem urinaria biasa disebut sistem ekskresi.
Fungsinya untuk membuang bahan-bahan yang tidak diperlukan atau membahayakan
bagi kesehatan tubuh keluar dari tubuh sebagai larutan dalam air dengan perantaraan
ginjal dan salurannya.
Sistem genitalia disebut juga sistem reproduksi yang fungsinya untuk berkembang
biak. Organ utama sistem ini adalah gonade (kelenjar kelamin) sepasang terletak antara
usus dan gelembung renang. Kelenjar kelamin betina disebut ovarium sedangkan
kelenjar kelamin jantan disebut testis (lebih jelas dibahas pada bab Sistem Reproduksi).

B. Ruang Lingkup Isi


- Ginjal
- Osmoregulasi
- Gonad

C. Kaitan Modul
Modul ini merupakan modul ke tujuh yang membahas tentang sistem urogenitalia
pada ikan. Modul ini dijelaskan setelah mahasiswa memahami modul sebelumya yaitu
sistem peredaran darah pada ikan.

D. Sasaran Pembelajaran Modul


Setelah mempelajari modul ini, mahasiswa diharapkan dapat:
13. Menjelaskan tentang sistem sekresi pada ikan
14. Menjelaskan tentang sistem pada gonad
15. Menjelaskan hal-hal yang berhubungan dengan osmoregulasi

lxx
BAB II. PEMBAHASAN

A. EKSRESI
Hewan bertulang belakang membuang beberapa sisa hasil metaboliknya melalui
saluran pencernaan dan kulitnya, tetapi sebagian besar dibuang melalui ginjal.
Ginjal berjumlah sepasang, berbentuk ramping dan memanjang dengan warna
merah tua, terletak di bagian atas rongga perut di bawah tulang punggung. Hasil
buangan berupa urine yang dihasilkan oleh ginjal dialirkan melalui sepasang ureter
(ductus mesonephridicus) yang berjalan dipinggiran rongga badan sebelah dorsal menuju
ke belakang. Ureter kiri dan kanan bertemu di belakang menjadi kantong urine (vesica
urinaria) dan dari organ ini urine dikeluarkan melalui urethrea yang pedek dan bermuara
pada porus urogenital.
Ginjal ini ini memiliki dua tipe anatomik dasar, yaitu pronephros dan
mesonephros (gbr. 1.). Pronephros pada sebagian besar ikan terletak di depan
mesonephros yang memiliki struktur sangat sederhana dan hanya berfungsi pada awal
kehidupan, yang kemudian fungsinya akan digantikan oleh mesonephros ketika menjadi
dewasa.
Mesonephros mempunyai susunan yang lebih rumit, yang terdiri dari unit-unit
yang disebut nephron. Nephron ini terdiri dari badan Malphigi (renal corpuscle) dan
tubuli ginjal. Badan malphigi terdiri dari glomerulus (kumparan kapiler-kapiler darah)
dan kapsul Bowman (semacam mangkuk yang terdiri dari dua dinding, tempat
glomerulus) (gbr 2)

lxxi
Gambar 1. Diagram hubungan struktural tipe ginjal pada ikan

Gambar 2. Diagram badan Malphigi (http://bill.srnr.arizona.edu/)

B. OSMOREGULASI
Hal yang menarik dan harus dihadapi oleh ikan dalam menyesuaikan hidupnya
terhadap lingkungan adalah pengaturan keseimbangan antara air dan garam dalam
jaringan tubuhnya. Oleh karena itu dalam upaya beradaptasi dengan lingkungan tempat
mereka hidup, ia harus mengatur keseimbangan air dan garam dalam jaringan tubuhnya
agar tidak kekurangan atau kelebihan air.
Pengaturan terhadap tekanan osmotik cairan tubuh yang relatif konstan adalah hal
yang dibutuhkan ikan agar proses fisiologi di dalam tubuhnya berjalan normal.
Pengaturan tersebut disebut dengan Omoregulasi. Organ yang berperan dalam proses
osmoregulasi adalah ginjal, Insang, kulit, membran mulut dan beberapa organ khusus
yang digunakan dengan berbagai cara.

Ikan Air Tawar


Tekanan osmotik pada cairan tubuh ikan tergantung pada jumlah mineral dan
bahan organik yang terkandung di dalamnya. Pada semua ikan yang hidup di air tawar

lxxii
memiliki cairan tubuh yang tekanan osmotiknya lebih besar (hipersomatik) dari pada
lingkungannya. Keadaan ini menyebabkan air cenderung masuk ke dalam tubuhnya
secara difusi melalui permukaan tubuh yang semipermiabel. Bila hal ini tidak
terkendalikan atau terimbangi, difusi akan mendorong keluarnya garam-garam tubuh dan
terjadi pengenceran cairan tubuh sehingga fungsi-fungsi fisiologis tubuh tidak berjalan
normal.
Sisik tebal dan sejumlah jaringan pengikat dalam kulit pada ikan membantu dalam
mencegah difusi. Namun, Insang menyediakan suatu permukaan yang luas bagi difusi air,
dengan demikian tidak ada cara yang sempurna untuk dapat menahan air sehingga air
haruslah dikeluarkan dari tubuh dengan berbagai cara. Untuk ikan bertulang sejati,
jelaslah bahwa sebagian besar air yang terabsorbsi masuk melalui insang. Ginjal akan
memompa ke luar kelebihan air tersebut sebagai air seni. Glomerulus sebagai penyaring
mempunyai jumlah banyak dengan diameter besar. Ini dimaksudkan untuk lebih dapat
menahan garam-garam tubuh agar tidak keluar dan sekaligus memompa air seni
sebanyak-banyaknya. Dara dari aorta dorsalis menuju ginjal melalui arteri renalis,
dimana ia akan melalui pembuluh kapiler glomerulus dan kemudian melalui kapiler
sekeliling tubuli ginjal sebelum meninggalkan lewat vena renalis. Darah dari vena renal
portal bergabung dengan jaringan kapiler yang mengelilingi tubuli ginjal. Glomerulus
merupakan filter yang meloloskan plasma darah yang mengandung bahan tersebut
melewati ruang yang terletak diantara dinding-dinding kapsul Bouwman dan kemudian
menuju tubuli ginjal. Sel darah dan molekul besar seperti protein tidak dapat melewati
penyaring.
Ketika cairan dari badan Malphigi memasuki dan melewati tubuli ginjal, beberapa
substansi diserap pada bagian-bagian tertentu. Glukosa diserap kembali pada tubuli
proksimalis, dan garam-garam diserap kembali pada tubuli distalis. Dinding di tubuli
ginjal tersebut bersifat impermiable terhadap air. Air seni yang dikeluarkan ikan sangat
encer dan mengandung sejumlah kecil senyawa nitrogen seperti asam urikat, kreatin,
kreatinin, dan amonia. Meskipun air seni mengandung sedikit garam, keluarnya air
yang melimpah menyebabkan jumlah kehilangan garam cukup berarti. Garam-garam
juga hilang karena difusi dari tubuh. Kehilangan garam ini diimbangi oleh garam-garam
yang terdapat pada makanan, dan perserapan yang aktif melalui insang (gbr. 11.3).

lxxiii
Pada golongan ikan Teleostei terdapat kantung air seni yang dindingnya
impermiabel terhadap air untuk menampung air seni. Di tempat ini dilakukan penyerapan
kembali terhadap ion-ion.
Air tubuh ikan Teleostei tawar menyusun kira-kira 70-75 persen bobot tubuh.
Sedangkan air dikeluarkan sebagian besar lewat ginjal. Air seni yang dikeluarkan
bervariasi dengan spesies, suhu dan lain-lain, tetapi banyak penelitian menunjukkan
antara 50-150 ml/kg/hari.

Ikan Air Laut


Pada ikan air laut hidup pada lingkungan hipersomatik terhadap jaringan dan
cairan tubuhnya, sehingga ikan laut cenderung kehilangan air melalui kulit dan insang
serta kemasukan garam-garam. Beberapa spesies kehilangan 30 – 60 persen air yang
terambil pada proses osmose. Untuk mengatasi kehilangan air, ikan ``minum`` air laut,
yang kemudian diserap melalui saluran pencernaan. Akibatnya adalah meningkatnya
kandungan garam dalam cairan tubuh. Padahal dehidrasi dicegah dengan proses ini.
Untuk itu kelebihan garam harus dihilangkan. Proses tersebut digambarkan pada gambar
11.3. Banyaknya air minum bervariasi dengan spesies dan salinitas. Semakin tinggi
salinitas, maka semakin cepat laju minum. Ikan laut umumnya meminum 7 – 35 persen
bobot tubuhnya per hari. Karena ikan laut dipaksa oleh kondisi osmotik untuk menahan
air, maka volume air seni tereduksi sangat besar dibandingkan dengan ikan air tawar.
Tubuli ginjal tampaknya mampu berfungsi sebagai penahan air, seperti pada family
Cottidae, filtrat glomerular mempunyai volume lima kali volume air seni yang akhirnya
dikeluarkan dari tubuh. Jumlah glomerulus pada ikan air tawar lebih sedikit dan
bentuknya lebih kecil bahkan pada beberapa spesies ikan, tidak memiliki glomerulus,
misalnya pada family Sygnathidae, Tetradonthidae, dan Scorpaenidae.
Lebih 90 persen hasil buangan nitrogen dieliminir melalui insang, sebagian besar
berupa amonia dan sejumlah kecil urea. Meskipun demikian air seni masih mengandung
sedikit senyawa tersebut. Air seni Osteichthyes mengandung kreatin, kreatinin, beberapa
senyawa nitrogen yang belum diidentifikasi dan trimetilamin oksida (TMAO).

lxxiv
Gambar 3. Proses pengeluaran dan penyerapan ion dan air dalam tubuh ikan air tawar
dan air laut.

Ikan Elasmobranchii
Tekanan osmotik pada golongan ikan Elasmobranchii seperti cucut dan pari
umumnya lebih besar daripada lingkungannya. Namun tekanan osmotik cairan tubuhnya
sebagian besar tidak disebabkan oleh garam-garam melainkan oleh tingginya kadar urea
dan trimetilamin oksida (TMAO) dalam tubuh.
Golongan ikan ini cenderung menerima air lewat difusi yang terutama lewat
insang karena cairan tubuhnya yang bersifat hipersomatik terhadap lingkungannya.
Kelebihan air yang diterima dikeluarkan melalui urin untuk mempertahankan tekanan
osmotik cairan tubuhnya. Urea sebagai hasil akhir metabolisme nitrogen yang dihasilkan
di hati disekresikan dalam jumlah yang relatif kecil melalui urin. Hasil buangan nitrogen
lainnya diserap kembali pada tubuli ginjal. Penyerapan kembali terhadap urea dan
TMAO dapat dilihat sebagai upaya dalam mempertahankan tekanan osmotik tubuhnya.
Permukaan tubuh yang relatif impermiabel mencegah masuknya air dari lingkungan ke
dalam tubuhnya.
Banyak jenis ikan yang menetas di perairan tawar seperti sungai kemudian
berpindah menuju ke laut dan tinggal untuk makan dan tumbuh, serta kemudian kembali
ke perairan tawar setelah dewasa untuk memijah. Kelompok ikan ini disebut kelompok
ikan anadromus. Sebaliknya pada ikan kelompok katadromus yang menetas di laut akan
bergerak ke perairan tawar untuk untuk makan dan tumbuh, serta kemudian kembali ke

lxxv
perairan laut setelah dewasa untuk memijah. Selain kedua kelompok tersebut, terdapat
banyak spesies ikan lain yang mampu dan mempunyai toleransi besar terhadap perubahan
salinitas sehingga mampu bergerak secara leluasa di antara perairan air tawar dan laut.
Kondisi tersebut mengharuskan ikan tiga kelompok ini memiliki kemampuan mekanisme
osmoregulasi yang kecepatannya bergantung kepada kecepatan perubahan habitat.
Ikan diadromus umumnya melakukan perubahan progresif yang dapat mengubah
penampilan fisiologis tergantung pada tahap hidupnya.
Di daerah tropis banyak ikan laut yang bergerak ke daerah estuaria, harus mampu
mengubah secara mendadak dari menyimpan air menjadi mengeluarkan sebanyak
mungkin air melalui ginjal dan harus mengubah dari mengekskresi garam yang lebih
menjadi menyimpan.
Volume air seni yang dikeluarkan dan keseimbangan garam pada ikan oleh
sekresi kelenjar endokrin (hormon). Hormon dapat mempengaruhi ginjal dengan
penaikan atau penurunan tekanan darah yang mengubah laju penyaringan ke dalam
kapsul Bowman, yang berarti pula mengubah jumlah cairan sekresi. Hormon juga bisa
mempengaruhi ekskresi ginjal dengan cara tertentu pada saat tubuli ginjal untuk
mengubah permeabilitas dan laju penyerapan kembali terhadap substantsi tertentu.

INDIKATOR PENILAIAN
1. Ketepatan penyajian pada tugas mandiri, tugas kelompok dan presentasi sesuai sasaran
akhir pembelajaran dan nilai kuis (40%)
2. Kreatifitas dalam memperoleh informasi yang sesuai dengan materi atau pokok
bahasan (30%)
3. Penguasaan materi dalam memaparkan, cara menjawab/menanggapi, serta penampilan
(30%)

BAB III. PENUTUP


Sistem urogenital dibangunkan oleh dua system, yaitu system urinaria (systema
uropoetica) dan genitalia (sytema genitalia). Sistem urinaria biasa disebut sistem ekskresi.
Fungsinya untuk membuang bahan-bahan yang tidak diperlukan atau membahayakan
bagi kesehatan tubuh keluar dari tubuh sebagai larutan dalam air dengan perantaraan

lxxvi
ginjal dan salurannya. Pengaturan terhadap tekanan osmotik cairan tubuh yang relatif
konstan adalah hal yang dibutuhkan ikan agar proses fisiologi di dalam tubuhnya berjalan
normal. Pengaturan tersebut disebut dengan Omoregulasi.

DAFTAR PUSTAKA
HH. Alamsjah, S. 1974. Ichthiyologi Sistematika (Ichthyologi – I). Proyek
Peningkatan/Pengembangan Perguruan Tinggi, IPB
LL.Lagler, K.F., J.E. Bardach, R.R. Miller and D.R.M. Passino. 1977. Ichthyology.
Second edition. John Wiley & Sons, New York
MM. Love, M.S. and G.M. Cailliet (eds.). 1979. Readings in Ichthyology.
Prentice-Hall of India Private Limited, New Delhi
NN. Moyle, P.B. and J.J. cech, Jr. 1988. Fishes. An Introduction to Ichthyology.
Second edition. Prentice Hall, Englewood Cliffs, New Jersey.
OO. Nelson, J.S. 1976. Fishes of the World. John Wiley and Sons, New York.
MM. Rahardjo, M.F. 1980. Ichthyologi. Departemen Biologi Perairan, Fakultas
Perikanan, IPB

lxxvii
MODUL VIII
JUDUL : SISTEM SARAF
BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sistem saraf pada vertebrata mempunyai tiga macam peranan vital, yaitu:
Orientasi terhadap lingkungan luar, menerima stimulus dari luar dan meresponnya;
mengatur agar kerja sekalian sistem dalam tubuh bersesuaian, dengan bantuan kerja
kelenjar endokrin; dan tempat ingatan dan kecerdasan (khusus vertebrata tingkat tinggi).
Peranan ini semua disempurnakan oleh saraf, medulla spinalis, dan otak, dibantu oleh
organ indra sebagai reseptor, dan otot serta kelenjar sebagai efektor.
Sistem saraf dibagi menjadi system saraf pusat dan system saraf periferi. Sistem
saraf pusat terdiri otak dan medula spinalis. Sistem saraf periferi terdiri dari saraf cranial
dan spinal beserta cabang-cabangnya. Sistem saraf otonom merupakan bagian dari
sistem perifera, mempengaruhi otot polos dan kelenjar.

B. Ruang Lingkup Isi


- Otak
- Syaraf Cranial
- Syaraf spinal
- Organ sensorik

C. Kaitan Modul
Modul ini merupakan modul ke delapan yang membahas tentang sistem Saraf
pada ikan. Modul ini dijelaskan setelah mahasiswa memahami modul sebelumya yaitu
sistem peredaran darah, sistem urogenital pada ikan.

D. Sasaran Pembelajaran Modul


Setelah mempelajari modul ini, mahasiswa diharapkan dapat:
16. Menjelaskan tentang sistem saraf pada ikan

lxxviii
17. Menjelaskan tentang fungsi sistem saraf dan fungsi organ saraf tersebut

BAB II. PEMBAHASAN

A. OTAK
Otak terdapat pada susunan saraf pusat. Otak ikan dapat dibagi menjadi lima
bagian yaitu telencephalon, diencephalon, mesencephalon, metencephalon dan
myelencephalon.
Telencephalon
Otak bagian depan yang dibentuk oleh serebral hemisfer dan rhinecephalon
sebagai pusat hal-hal yang berhubungan dengan pembauan. Saraf utama yang keluar dari
daerah ini adalah saraf olfactory (saraf cranial I). Pada ikan yang mengutamakan
pembauan untuk mencari mangsanya, otak bagian depan menjadi lebih berkembang.
Ikan tilapia tertentu yang biasa memberikan perhatian dan perlindungan terhadap
anaknya, setelah telencephalonnya dirusak menjadi bersifat tidak acuh terhadap anak-
anaknya. Ikan Betta splendens akan kehilangan tingkah laku seksnya akibat pengrusakan
telencephalon.
Diencephalon
Terletak pada bagian belakang telencephalon. Bagian ventral dari dienchephalon
adalah hypothalamus, bagian dorsalnya epithalamus dan bagian lateralnya dinamakan
thalamus. Epithalamus adalah bagian yang nampak pada dorsal dari otak. Struktur yang
paling nyata ialah dua tonjolan dorsal yang tunggal, yaitu epifise (organ pineal) di
sebelah belakang dan parafise (organ parapineal) disebelah depannya. Keduanya tumbuh
sebagai evaginasi dari diencephalons embrio.
Pada Cyclostomata, dinding otak yang terdapat di atas badan pineal menjadi transparan
dan kulit kepala yang ada di atasnya tidak mempunyai pigmen. Dengan demikian cahaya
yang sampai di kepala ikan ini akan mengenai badan pineal. Beberapa ikan hiu
(Squaliformes) pun ada yang tidak berpigmen pada daerah kepala tersebut, tetapi badan
pinealnya kurang berkembang bila diibandingkan dengan Cyclostomata. Ikan-ikan yang
mempunyai kulit kepala transparan umumnya hidup di daerah yang agak dalam dan
termasuk yang suka beruaya vertikal. Ikan yang bersifat fototaksis positif, di kepalanya
terdapat daerah yang tidak berpigmen dan atap cranial yang transparan di atas

lxxix
diencephalon. Dan sebaliknya ikan yang bersifat fototaksis negatif pada kepalanya
terdapat jaringan yang menghalangi cahaya.
Mesencephalon
Otak bagian tengah pada semua vertebrata memiliki atap berupa sepasang lobus
opticus yang bertindak sebagai pusat refleks penglihatan, menerima serabut aferent dari
retina. Mesencephalon pada ikan relatif besar dan berfungsi sebagai pusat penglihatan.
Lobus opticus terdiri dari tectum opticum di bagian atas tegmentum di bagian bawah.
Tectum opticum merupakan organ koordinator yang melayani rangsang penglihatan.
Bayangan yang terjadi pada retina mata akan dipetakan pada tectum opticum. Sedang
tegmentum merupakan pusat sel-sel motoris. Pada mesencephalon terdapat bagian
menonjol yang disebut Cerebellum, memiliki fungsi utama yaitu mengatur
kesetimbangan tubuh dalam air, mengatur tegangan otot dan daya orientasi terhadap
ruang. Pada ikan bertulang sejati cerebellum terbagi atas dua bagian besar, yaitu valvula
cerebelli dan corpus cerebelli yang besarnya tergantung spesiesnya. Beberapa jenis ikan
yang memiliki cerebellum relatif besar, utamanya ikan yang menghasilkan listrik
(mormyridae) dan ikan perenang cepat (mackerel dan tuna).
Myelencephalon
Bagian otak paling belakang (posterior), dengan medula oblongata sebagai
komponen utamanya. Komponen ini merupakan pusat untuk menyalurkan rangsangan
keluar melalui saraf cranial.
Saraf cranial III-X keluar dari medulla oblongata. Di medulla Pada Pada ikan
clupea pallasi, mugil cephalus dan Trachiurus, medulla oblongata membesar, dibagian ini
terdapat organ yang dinamakan cristae cerebelli yang diduga saraf ini ada hubungannya
dengan kecendrungan ikan untuk berkelompok.
B. SARAF CRANIAL
Sebagian besar saraf cranial (SC) berhubungan dengan bagian-bagian kepala,
selain dari itu ditemukan juga yang berhungan dengan bagian-bagian tubuh lainnya. Dari
otak sendiri terdapat sebelas saraf cranial yang menyebar ke organ-organ sensory tertentu
dan otot-otot tertentu.
Saraf terminal (SC 0) adalah suatu saraf kecil yang bergabung dengan saraf
cranial I, yang berhubungan dengan otak depan, dan serabut-serabut saraf terbesar yang

lxxx
mengelilingi ’’olfactory bulb”. Saraf olfactory (SC I) menghubungkan organ olfactory
dengan pusat olfactory otak depan, fungsinya membawa impuls bau-bauan. Saraf optic
(SC II) menghubungkan retina mata dengan tectum opticum dan berfungsi membawa
impuls penglhata. Saraf oculometer (SC III) berfungsi sebagai saraf motor somatik yang
mengatr otot mata superior rectus, inferior oblique, inferior rectus dan internal rectus.
Saraf ini berhubungan dengan otak mesenchepalon dan merupakan saraf motor somatik.
Saraf trochlear (SC IV) menginervasi otot mata superior oblique. Saraf motor
somatik ini berhubungan dengan mesencephalon.

KET.
I. olfactory nerve; II. optic nerve; III. oculamotor nerve; trochlear nerve; V. Trigeminal
nerve; VI. Abducens nerve; VII. Facial nerve; 1-6. octavus nerve (VIIIa anterior ramus;
VIIIp. Posterior ramus); ALLN. Anterior lateral line nerve; PLLN. Posterior lateral line
nerve; IX. Glossopharyngeal nerve;X vagal nerve; C. Cerebellum; D. Diencephalon; R.
Rhombocephalon;T. Telencephalon; TE. Tectum mesencephali.

Gambar 1. Topografi secara umum otak ikan

C. SPINAL CORD DAN SARAF SPINAL


Saraf cranial merupakan lanjutan medulla oblongata dan sampai ke bagian depan
ekor. Batas antara medulla oblongata dengan spinal cord tidak jelas. Spinal cord
merupakan suatu tabung, tetapi alur pusatnya (central canal) berdiameter kecil
dibandingkan dengan dindingnya. Sekeliling alur pusat membentuk pola yang
menyerupai sepasang sayap kupu-kupu pada potongan melintangnya (Gambar 12.2).
Bagian ini merupakan bahan kelabu (gray matter) yang terdiri dari sel-sel saraf dan

lxxxi
dikelilingi oleh serabut-serabut saraf (white matter). Serabut-serabut saraf ini dibungkus
dan dkumpulkan dalam satu ikatan sesuai dengan fungsinya. Bahan kelabu dapat
dibedakan menjadi dua bagian, yaitu sepasang tanduk dorsal (anterior horn) dan sepasang
tanduk vetral (posterior horn). Tanduk dorsal menerima serabut sensori visceral dan
somatic, dan tanduk venral berisikan inti saraf motor. (Gambar 12.3).

Gambar 2. Potongan melintang spinal cord ikan cucut (Laglar et al., 1977)

lxxxii
D. SISTEM INDERA
Sistem indera memerlukan bantuan sistem saraf yang menghubungkan badan
indera dengan sistem saraf pusat. Organ indera ialah sel-sel tertentu yang dapat
menerima stimulus dari lingkungan maupun dari dalam badan sendiri untuk diteruskan
sebagai impuls saraf melalui serabut saraf ke pusat susunan saraf.
Berdasarkan sumber stimulus, organ indera dapat dibedakan sebagai berikut: 1)
Eksoreseptor yaitu reseptor raba dan penlihatan, menerima impuls dari medium
sekitarnya. 2) Propioseptor yaitu yang menerima stimulus dari otot, sendi, urat, dan
kanalis semikularis, memberitahu organisme sampai seberapa otot harus ditekuk untuk
mendapatkan posisi yang tepat dalam ruangan.
3) Enteroseptor iaiah yang menermia stimulus oleh faktor - faktordi dalam lingkungan
dalam tubuh, jadi mempengaruhi kerjanya otot polos dan kelenjar. Eksteroseptor dan
proprioseptor adalah somatis, dan enteroseptor adalah organ indera visceral.
Berdasarkan macam rangsangan yang mempengaruhinya, organ indera dapat
diklasifikasikan sebagai berikut : 1) Fotoreseptor ialah yang peka terhadap cahaya. 2)
Statoreseptor ialah vanq peka terhadap perubahan posisi tubuh dani ruang. 3)
Khemoreseptor ialah yang peka terhadap rangsangan bahan kimia di dalam linkugannya.
4) Fonoreseptor ialah yang peka terhadap rangsangan getaran suara dari medium yang
mempunyai frequensi relatif tinggi. 5) Mekanoreseptor ialah yang peka terhadap
rangsangan mekhanik, seperti rabaan, tekanan atau gesekan. 6) thermoreseptor ialah yang
peka terhadap rangsangan panas atau dingin.
MATA
Secara garis besar struktur mata pada ikan adalah sama dengan pada organisme vertebrata
lainnya, terdiri dari ruang depan, iris, lensa, ruang vitroeus yang berisikan cairan kental
yang dinamakan ”Vitroeus humor” dan dibatasi oleh retina. Mata peka terhadap cahaya,
dan komponen fungsionil utamanya ialah retina yang pertumbuhannya berasal dari
diensefalon. Diensefalon pada embrio memperlihatkan sepasang evaginasi lateral yang
dinamakan veskikula optic. Bagian ujung distalnya dari vesikula ini memperlihatkan
invaginasi yang kemudian terbentuk cawan optic. Dinding sebelah dalam yang
membatasi rongga cawan, tumbuh menjadi retina, sedangkan yang sebelah luarnya tetap

lxxxiii
tipis merupakan lapisan pigmen dari retina. Lapisan ektoderm di depan kapsula optik
akan membentuk plakoda yang mengalami invaginasi dan membentuk lensa.
Retina ialah selaput saraf yang terletak di bagian belakang dari ronqqa mata.
Unsur - unsur saraf dari retina terdiri atas batang dan kerucut yang peka terhadap cahaya
yang panjang gelombangnya bermacam macam. Retina dan rongga bola mata berada di
sebelah dalam lapisan khoroid yang berpigmen, dan terbuka pada lubang pupil. Berkas
cahaya masuk kedalam mata melalui pupil. Bagian dari lapisan khoroid di sekeliling
pupil dinamakan iris.
Mata agak datar pada bagian anterior sehingga lensa yang cembung hampir
menyentuh cornea yang merupakan bagian transparana yang penting dari ”scleroid coat”
biji mata. Lapisan choroid terletak diantara retina dan sclera. Sclera Elasmobranchia dan
Teleostei agak kaku karena adanya struktur rawan. Seringkali teleostei mempunyai satu
atau dua scleral ossicles sebagai penunjang terhadap struktur rawan tersebut (Munz,
1971). Mata ikan dilengkapi dengan tiga pasang otot oculomotor.

Gambar 3. Mata dan bagian-bagiannya

INDIKATOR PENILAIAN
1. Ketepatan penyajian pada tugas mandiri, tugas kelompok dan presentasi sesuai sasaran
akhir pembelajaran dan nilai kuis (40%)
2. Kreatifitas dalam memperoleh informasi yang sesuai dengan materi atau pokok

lxxxiv
bahasan (30%)
3. Penguasaan materi dalam memaparkan, cara menjawab/menanggapi, serta penampilan
(30%)

BAB III. PENUTUP


Sistem saraf dibagi menjadi system saraf pusat dan system saraf periferi. Sistem
saraf pusat terdiri otak dan medula spinalis. Sistem saraf periferi terdiri dari saraf cranial
dan spinal beserta cabang-cabangnya. Sistem saraf otonom merupakan bagian dari
sistem perifera, mempengaruhi otot polos dan kelenjar.
Unit terkecil system saraf adalah sel saraf atau neuron. Neuron merupakan sel
fungsional pada sistem saraf, yang bekerja dengan cara menghasilkan potensial aksi dan
menjalarkan impuls dari satu sel ke sel berikutnya. Pembentukan potensial aksi
merupakan cara yang dilakukan sel saraf dalam memindahkan informasi.
Pembentukan potensial aksi juga merupakan cara yang dilakukan oleh sistem saraf
dalam melaksanakan fungsi kendali dan koordinasi tubuh.

DAFTAR PUSTAKA
NN. Alamsjah, S. 1974. Ichthiyologi Sistematika (Ichthyologi – I). Proyek
Peningkatan/Pengembangan Perguruan Tinggi, IPB
RR. Lagler, K.F., J.E. Bardach, R.R. Miller and D.R.M. Passino. 1977.
Ichthyology.
Second edition. John Wiley & Sons, New York
SS. Love, M.S. and G.M. Cailliet (eds.). 1979. Readings in Ichthyology. Prentice-Hall
of India Private Limited, New Delhi
TT.Moyle, P.B. and J.J. cech, Jr. 1988. Fishes. An Introduction to Ichthyology.
Second edition. Prentice Hall, Englewood Cliffs, New Jersey.
UU. Nelson, J.S. 1976. Fishes of the World. John Wiley and Sons, New York.
SS. Rahardjo, M.F. 1980. Ichthyologi. Departemen Biologi Perairan, Fakultas
Perikanan, IPB

lxxxv
MODUL IX
JUDUL : SISTEM HORMON
BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kelenjar endokrin ialah suatu kelenjar yang tidak memiliki saluran pelepasan
untuk mengalirkan hasil getahnya (segrete) keluar dari kelenjar. Oleh karena itu kelenjar
endokrin biasa juga disebut kelenjar buntu. Getah yang dihasilkan oleh kelenjar ini
disebut hormon yang mempunyai peranan penting dalam proses fisiologis dan
metabolisme. Proses tersebut merupakan kegiatan fungsional berbagai sel, jaringan dan
alat-alat tubuh yag bekerja secara terkordinir dan dalam keseimbangan yang serasi.
Hormon ini langsung masuk ke dalam peredaran darah atau limf, atau cairan badan dan
diedarkan ke seluruh tubuh dan akan mempengaruhi organ-organ sasaran pada organisme.
Kelenjar endokrin ikan mencakup suatu sistim yang mirip dengan vertebrae yang lebih
tinggi tingkatannya. Namun, ikan memiliki beberapa jaringan endokrin yang tidak
didapatkan pada vertebrata yang lebih tinggi, misalnya Badan Stanius yang memiliki
fungsi sebagai kelenjar endokrin yang membantu dalam proses osmoregulasi.

B. Ruang Lingkup Isi


- Kelenjar Pituiatary
- Kelenjar Thyroid
- Kelnjar Ultimobranchia
- Badan stanius dan pineal
- Sistem neurosecretory caudal

C. Kaitan Modul
Modul ini merupakan modul ke sembilan yang membahas tentang kerja sistem
hormon pada ikan. Modul ini dijelaskan setelah mahasiswa memahami modul
sebelumya yaitu sistem peredaran darah, sistem urogenital dan sistem saraf pada ikan.

lxxxvi
D. Sasaran Pembelajaran Modul
Setelah mempelajari modul ini, mahasiswa diharapkan dapat:
18. Menjelaskan tentang sistem hormon dan fungsinya pada ikan
19. Menjelaskan letak beberapa kelenjar hormon pada ikan
20. Menjelaskan hubungan sistem saraf dengan sistem hormon pada ikan

BAB II. PEMBAHASAN

A. KELENJAR PITUITARY
Kelenjar ini disebut pula hypophysa terletak di bawah dienchephalon. Suatu
tangkai yang menghubungkan atara kelenjar ini dengan dienchepalon disebut
Infundibulum. Kelenjar ini walaupun kecil, fungsi dan strukturnya merupakan organ
tubuh yang sangat rumit dan sulit.
Pada stadia embrionik, kelenjar ini berasal dari gabungan elemen neural yang
tumbuh ke bawah dari diencephalon dan elemen epithel (kantung Rathke) yang tumbuh
ke atas dari bagian dorsal rongga mulut. Pertumbuhan dari hypophysa, berasal dari dua
macam organ, yaitu: Neurohypophyse dan Adenohypophyse. Neurohypofise dibentuk
dari bagian alas dienchephalon (Infundibulum) sedangkan Adenohypophyse, terbentuk
dari perlekukan bagian ektodermal dari rongga mulut embrio (stomodaeum), disebut
kantong hypophyse atau kantung Rathke. Hubungannya dengan rongga mulut akan
hilang setelah pertumbuhannya selesai.
Neurohypophyse memiliki struktur berupa serabut-serabut yang sejajar, berasal
dari hypothalamus di dalam otak. Fungsi dari bagian hypophysa ini mengeluarkan
horman ke dalam hypothalmus dan diteruskan ke neurohypophyse oleh sel-sel
neorosekresi dan masuk ke dalam aliran darah. Adenohypophyse terbagi menjadi
beberapa bagian, yaitu: pars distalis atau lobes anterior, merupakan bagian yang terbesar,
lebih konstan dan aktif dari yang lain. Pars intermedia kehadirannya bervariasi dan
fungsinya diketahui mengontrol melanophora dan mungkin juga dalam melanogenesis.
Neurosekresi dari hypothalamus (oxytocyn dan vasetocyn) disimpan dan
dikeluarkan oleh neurohypofise. Sekeresi ini berperan dalam osmoregulasi dan
reproduksi. Adenohypophyse mengandung beaneka sel pembuat hormon. Hormon-
hormon yang disekresikan oleh pars distalis adalah prolactin ikan (penting dalam

lxxxvii
pengaturan Na ikan air tawar), hormon pertumbuhan, carticothropyn (ACTH),
gonadothropyn dan thyrotropyn. Kelenjar pituitary sering diberi gelar kelenjar induk
(master gland) karena banyak menpengaruhi kegiatan kelenjar lainnya.

B. KELENJAR THYROID
Semua vertebrata mempunyai kelenjar thyroid. Sebagian besar ikan bertulang
sejati dan Cyclostomata terdiri dari folikel-folikel yang relatif menyebar di dekat aorta
ventral, arteri branchialis affarent, jantung, insang, kepala ginjal, limp, otak atau mata.
Pada Elasmobranchii dan beberapa ikan bertulang sejati thyroid merupakan kelenjar
tersendiri yang dikelilingi oleh jaringan pengikat.
Hormon thyroid mempunyai beberapa fungsi fisiologik dan beberapa fungsi
lainnya yang belum diketahui, namun terbukti bahwa ia mampu mempengaruhi laju
konsumsi oksigen, membantu pengendapan guanin dalam kulit, dan mengubah
metabolisme nitrogen dan karbohidarat. Ia juga telah diketahui mempengaruhi sistem dan
fungsi saraf dan proses osmoregulasi.

C. KELENJAR PARATHYROID
Bagian sekresi dari kelenjar parathyroid berdiferensiasi dari epithel kantong
farings ketiga dan keempat. Ini berarti kantong-kantong farings mempunyai andil dalam
pembentukan jaringan kelenjar. Hormon parathyroid adalah polipetida yang dinamakan
parathormon yang berfungsi mengatur kadar kalsium, dan sedikit menentukan kadar
fosfor di dalam darah. Kalsium akan menghilang jika dari darah dan terjadi kejang otot
jika hormon ini tidak ada.
Jaringan kelenjar pada Cylostomata dan bangsa ikan, yang homolog dengan
parathyroid telah ditemukan, namum fungsinya belum diketahui pasti. (hildenbran, 1974).

D. JARINGAN INTERRENAL (ADRENAL CORTEX)


Pada ikan Osteichthyes, jaringan yang ekivalen atau homolog dengan adrenal
cortex atau pada vertebrata tingkat tinggi. Strukturnya sama dengan gonad dalam hal
produksi hormonnya yang mengandung steroid, dan asal-usul embriologinya. Jaringan

lxxxviii
korteksnya merupakan derivat dari mesoderm yang membatasi rongga solom dekat
tempat berasalnya pematang genital.
Pada Elasmobranchia, jaringan ini bentuknya memanjang terletak pada bagian
belakang ginjal. Sedangkan pada kelompok-kelompok sel yang tersebar di sepanjang
vena cardinalis. Sel-sel yang menyerupai sel adrenocortical didapatkan pada dinding
vena cardinalis ikan lamprey. Jaringan interrenal mensekresikan hormon
adrenocorticosteroid yang mengontrol proses osmoregulasi dengan cara mempengaruhi
ginjal, insang dan saluran gastrointestinal, dan mempengaruhi metabolisme protein dan
karbohidrat.
Jaringan interrenal pada Cyclostomata, tersebar sepanjang vena cardinalis
posterior dan vena lainnya. Pada Teleostei jaringan interrenal menyebar, tetapi selalu
membentuk bintik-bintik noda yang terdapat di dekat atau pada kepala ginjal.

E. JARINGAN CHROMAFFIN (SUPRARENAL)


Jaringan ini banyak tersebar di dalam badan beberapa vertebrata. Sel-sel
chromaffin pada ikan bertulang sejati tersebar di sepanjang vena poscardinalis dan
dimungkinkan perluasannya tercampur dengan sel interrenal. Jaringan chromaffin pada
Elasmobranchii menyatu dengan saraf simpathetic dan aorta dorsalis, terletak di depan
jaringan interrenal.
Khromaffin dan jaringan medulla dimasuki serabut preganglion dari sistem saraf
otonom. Saraf ini dan kelenjar endokrin Adrenal medulla, keduanya sebagai derivat
endokterm dari neural krest embrio, dan semuanya menggetahkan adrenalin dan non
adrenalin. Jaringan ini mensekresikan adrenalin mengadakan respon terhadap hormon
ini dalam berbagai cara, seperti menaikkan kadar gula dalam darah dan menaikkan
tekanan darah, konsentrasi melanin dalam melanophora, serta merintangi otot polos.
Kerja hormon ini menyerupai sistem kerja saraf simpathetic, yang mana hormon ini
sangat erat hubungannya. Distribusi jaringan khromaffin di dalam tubuh dapat terletak
di dekat tetapi terpisah dari jaringan organ interrena, dapat juga tercampur dengan
jaringan interrenal atau korteks adrenal.

lxxxix
F. KELENJAR ULTIMOBRANCHIAL
Kelenjar ini homolog dengan kelenjar parathyroid pada mammalia. Pada ikan
bertulang sejati kelenjar ini terletak di bawah esophagus dekat sinus venosus. Pada
Elasmobranchii kelenjar ini terletak pada sisi kiri bawah pharynx. Kelenjar ini
mensekresikan hormon calcitonin, yang berperan dalam metabolisme kalsium.
Ultimobranchial yaitu derivat dari sepasang kantong farings yang paling belakang, dan
corpusculus stanus terletak pada bagian posterior dari ginjal Teleostei.

G. GONAD
Dari struktur dan pertumbuhannya, gonad merupakan kelenjar endokrin. Kelenjar
seks ikut dalam sekresi steroid, hal ini sangat penting dalam pemijahan, pembuatan
sarang, dan aspek-aspek tingkah laku reproduksi lainnya. Estrogen mengontrol
pertumbuhan dan perkembangan dari sistem genital betina, dan mengatur sifat-sifat
seksual sekunder.
Sel-sel interstisial dari testis menghasilkan hormon-hormon jantan dan secara
keseluruhan dinamakan Androgen. Androgen diperlukan untuk pertumbuhan diferensiasi,
dan berfungsinya saluran-saluran genitalia jantan, organ kopulasi, dan tingkah laku
seksual dan pemijahan.
Semua hormon gonad mempunyai hubungan timbal balik yang kompleks dengan
hypophyse. Beberapa ditujukan terhadap fungsi jaringan interrenal atau jaringan korteks
atau terhadap aktivitas thyroid atau badan pineal.

H. PULAU-PULAU LANGERHANS
Pada ikan bertulang sejati biasanya jaringan ini terdapat di pyloric caeca, usus
kecil, limpa dan empedu. Jaringan ini menghasilkan insulin yang berperan penting dalam
metabolisme karbohidrat dan dalam pengubahan glukosa menjadi glycogen, dan dalam
oksidasi glukosa dan pembuatan lemak.

I. BADAN PINEAL

xc
Organ pineal pada puncak otak atau pada bagian atas dienchepalon merupakan
fotoreseptor. Sekresi yang dihasilkan oleh badan pineal adalah melatonin yang
mengumpulkan melanin. Bila jaringan ini dihilangkan maka akan membawa perubahan
dalam pertumbuhan.
Ikan terutama Teleostei, pada ekornya terdapat pembekakan ventral pada medulla
spinalisnya. Secara histologis, pembengkakan ini mempunyai kesamaan dengan
neurohypophyse dan dinamakan urohypophysa. Pembengkakan ini diperkirakan
mempunyai fungsi endokrin, dalam hal mengatur tekanan osmose di dalam tubuh.

J. BADAN STANIUS
Kelenjar ini memilik fungsi sebagai kelenjar endokrin yang sekresi sekresinya
diduga ikut dalam proses penyesuaian tekanan osmotik lingkungan dengan tekanan
osmotik cairan tubuh pada ikan (osmoregulasi).

INDIKATOR PENILAIAN
1. Ketepatan penyajian pada tugas mandiri, tugas kelompok dan presentasi sesuai sasaran
akhir pembelajaran dan nilai kuis (40%)
2. Kreatifitas dalam memperoleh informasi yang sesuai dengan materi atau pokok
bahasan (30%)
3. Penguasaan materi dalam memaparkan, cara menjawab/menanggapi, serta penampilan
(30%)

BAB III. PENUTUP


Kelenjar endokrin ikan mencakup suatu sistim yang mirip dengan vertebrae yang
lebih tinggi tingkatannya. Namun, ikan memiliki beberapa jaringan endokrin yang tidak
didapatkan pada vertebrata yang lebih tinggi, misalnya Badan Stanius yang memiliki
fungsi sebagai kelenjar endokrin yang membantu dalam proses osmoregulasi.
Kerja hormon menyerupai kerja saraf, yaitu mengontrol dan mengatur
keseimbangan kerja organ-organ di dalam tubuh. Namun, kontrol kerja saraf lebih cepat
dibanding dengan kontrol endokrin. Hormon yang dihasilkan oleh kelenjar yang berasal
dari ektodermal adalah protein, peptida, atau derivat dari asam-asam amino, dan hormon

xci
yang dihasilkan oleh kelenjar yang berasal dari mesodermal (gonad, korteks ardenal)
berupa steroid.

DAFTAR PUSTAKA
TT.Alamsjah, S. 1974. Ichthiyologi Sistematika (Ichthyologi – I). Proyek
Peningkatan/Pengembangan Perguruan Tinggi, IPB
XX. Lagler, K.F., J.E. Bardach, R.R. Miller and D.R.M. Passino. 1977.
Ichthyology.
Second edition. John Wiley & Sons, New York
YY. Love, M.S. and G.M. Cailliet (eds.). 1979. Readings in Ichthyology.
Prentice-Hall of India Private Limited, New Delhi
ZZ.Moyle, P.B. and J.J. cech, Jr. 1988. Fishes. An Introduction to Ichthyology.
Second edition. Prentice Hall, Englewood Cliffs, New Jersey.
AAA. Nelson, J.S. 1976. Fishes of the World. John Wiley and Sons, New York.
YY. Rahardjo, M.F. 1980. Ichthyologi. Departemen Biologi Perairan, Fakultas
Perikanan, IPB

xcii
MODUL X
JUDUL : SISTEM REPRODUKSI

BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Keberhasilan suatu spesies ikan ditentukan oleh kemampuan ikan tersebut untuk
bereproduksi dalam kondisi lingkungan yang berubah-ubah dan kemampuan untuk
mempertahankan populasinya. Fungsi reproduksi pada ikan pada dasarnya merupakan
bagian dari sistem reproduksi yang terdiri dari komponen kelenjar kelamin atau gonad,
dimana pada ikan betina disebut ovarium sedang pada jantan disebut testis beserta
salurannya. Sementara beberapa kelenjar endokrin mempunyai peranan dalam mengatur
sistem reproduksi (Hoar & Randall, 1983).

B. Ruang Lingkup Isi


- Ovarium
- Testes
- Seksualitas Ikan
- Sifat seksual primer dan sekunder ikan
- Strategi repoduksi

C. Kaitan Modul
Modul ini merupakan modul ke sembilan yang membahas tentang kerja sistem
reproduksi pada ikan. Modul ini dijelaskan setelah mahasiswa memahami modul
sebelumya yaitu sistem peredaran darah, sistem urogenital dan sistem saraf dan sistem
hormon pada ikan.

D. Sasaran Pembelajaran Modul


Setelah mempelajari modul ini, mahasiswa diharapkan dapat:
21. Menjelaskan perbedaan anatomi organ reproduksi jantan dan betina pada ikan

xciii
22. Menjelaskan dapat menjelaskan seksualitas pada ikan
23. Menjelaskan strategi reproduksi pada ikan

BAB II. PEMBAHASAN

A. OVARIUM
Pada kelompok Teleost terdapat sepasang ovarium yang memanjang dan kompak.
Ovarium terdiri dari oogonia dan jaringan penunjang atau stroma. Mereka tergantung
pada bagian atas rongga tubuh dengan perantaraan mesovaria, di bawah atau di samping
gelembung renang (jika ada. Ukuran dan perkembangannya pada rongga tubuh bervariasi
dengan tingkat kematangannya. Pada keadaan matang , ovarium bisa mencapai 70 %
dari berat tubuhnya. Sebagian besar pada waktu masih muda warna keputih-putihan dan
menjadi kekuning-kuningan pada saat matang.
Pada chondrichtyes, oviduct (Mullerian duct) dengan corong masuk (ostium
tubes abdominalis) di ujung terletak di bagian depan rongga tubuh. Telur melewati
oviduct menuju cloaca dan keluar melalui lubang genital. Pada chondrichtyes yang
ovipar, bagian depan jaringan oviduct dimodifikasi menjadi kelenjar cangkang (shell-
gland); sedangkan pada ovivipar dan vivipar, bagian belakang oviduct mmbesar menjadi
suatu uterus temapt penyimpanan anak ikan selama perkembangan embrioniknya.
Keadaan yang demikian ditemukan pada ikan dipnoi, Acipenceriformes dan bowfin.
Pada ovarium terdapat oosit pada berbagai stadia tergantung pada tipe
reproduksinya (Nagahama dalam Hoar, 1983). Menurut Harder (1975) tipe reproduksi
dibagi menjadi a) tipe sinkronisasi total dimana oosit berkembang pada stadia yang sama.
Tipe ini biasanya terdapat pada spesies ikan yang memijah hanya sekali dalam setahun;
b) tipe sinkronisasi kelompok dengan dua stadia, yaitu oosit besar yang matang, di
samping itu ada oosit yang sangat kecil tanpa kuning telur; dan c) tipe asinkronisasi
dimana ovarium terdiri dari berbagai tingkat stadia oosit.
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi fungsi reproduksi pada spesies ikan
terdiri dari faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal meliputi curah hujan,
suhu, sinar matahari, tumbuhan dan adanya ikan jantan. Pada umumnya ikan-ikan di
perairan alami akan memijah pada awal musim hujan atau pada akhir

xciv
musim hujan, karena pada saat itu akan terjadi suatu perubahan lingkungan atau kondisi
perairan yang dapat merangsang ikan-ikan untuk berpijah. Faktor internal meliputi
kondisi tubuh dan adanya hormone reproduksi (Redding & Reynaldo, 1993). Adapun
faktor internal yaitu tersedianya hormon steroid dan gonadotropin baik dalam bentuk
hormon Gonadotropin I (GtH I) dan Gonadotropin II (GtH II) dalam jumlah yang cukup
dalam tubuh untuk memacu kematangan gonad diikuti ovulasi serta pemijahan.
Sebaliknya bilamana salah satu atau kedua hormon; tersebut tidak mencukupi dalam
tubuh maka perkembangan oosit dalam ovarium terganggu
bahkan akan berhenti dan mengalami atresia (Pitcher, 1995)
Faktor lingkungan merupakan stimuli yang dapat ditangkap oleh alat indera ikan seperti
kulit, mata dan hidung. Informasi berasal dari lingkungan sampai di otak melalui
reseptor yang terdapat pada masing-masing organ sensori. Selanjutnya melalui ujung-
ujung saraf akan diteruskan ke hipotalamus untuk mengeluarkan Gonadotropic releasing
Hormon (GnRH) yang dapat merangsang kelenjar hipofisa anterior untuk memproduksi
hormone Gonadotropic (GtH). Hormon Gonadotropic ini melalui aliran darah akan
menuju ke gonad, kemudian akan merangsang pertumbuhan gonad yang selain
mendorong pertumbuhan oosit juga untuk memproduksi hormone steroid yang
merupakan mediator langsung untuk pemijahan.

B. TESTES
Testes (gonad jantan) bersifat internal dan bentuknya longitudinal, pada umumnya
berpasangan. Lamprey dan Hagfishes mempunyai testes tunggal. Pada chodrichtyhes,
seringkali gonad yang satu lebih besar dari pada yang lainnya. Testes ini bergantung
pada bagian atas rongga tubuh dengan perantaraan mesorchium, di bawah atau di
samping gelembung gas (jika ada). Mereka tersusun dari folikel-folikel tempat
spermatozoa berkembang. Ukuran dan warna gonad bervariasi tergantung pada tingkat
kematangannya dengan berat bisa mencapai 12% atau lebih dari bobot tubuhnya.
Kebanyakan testes berwarna putih kekuningan dan halus.
Sebelum sampai pada lubang pelepasan (urogenital pore), spermatozoa yang
berasal dari testes terlebih dahulu melewati vasa efferentia, epididymis, vasa defferentia,

xcv
seminal vesicle, urogenital sinus, dan urogenital papilla pada Chondrichthyes. Pada sisi
seminal vesicle dan atau kantung sperma hanya terdapat pada beberapa ikan.
Pembentukan spermatozoa dari spermatid di dalam testes disebut spermatogenesis.
Proses ini meliputi poliferasi spermatogenia melalui pembelahan mitosis yang berulang
dan tumbuh membentuk spermatocyte primer, kemudian melalui pembelahan reduksi
(meiosis) membentuk spermatocyte sekunder. Spermatocyte sekunder membelah
menjadi spermatid, yang mengadakan metamorfose menjadi gamet yang ``motile`` (dapat
bergerak) dan punya potensi fungsional yang dinamakan spermatozoa. Proses
metamorfose spermatid sering dinamakan ``spermatogenesis``. (Hoar, 1969).
Untuk menjamin terjadinya fertilisasi, setiap ikan jantan menghasilkan banyak
sekali spermatozoa yang ukurannya begitu kecil sehingga dalam satu tetes mani bisa
ditemukan lebih kurang satu juta spermatozoa. Spermatozoa yang dihasilkan oleh jenis
ikan yang berbeda, bukan saja berbeda dalam hereditasnya, tetapi juga berbeda dalam
bentuknya. Spermatozoa ditambah sekresi dari saluran sperma membentuk air mani
(milt) yang dikeluarkan pada waktu memijah. Spermatozoa yang tidak aktif dan tidak
bergerak sampai sekresi sperma berjumpa dengan sel telur dalam fertilisasi.
Jangka waktu hidup spermatozoa bergantung kepada spesies dan kepada substrat
tempat mereka diletakkan. Jika sperma diletakkan pada air, maka jangka waktunya lebih
pendek dari pada bila terletak dalam tubuh hewan betina. Kemungkinan hidup sel
sperma juga dipengaruhi oleh suhu, secara umum mereka hidup lebih lama pada suhu
yang rendah dari pada suhu tinggi.

Alat reproduksi jantan dan betina pada ikan

xcvi
C. SEKSUALITAS IKAN
Pada prinsipnya, seksualitas pada ikan terdiri dari dua jenis kelamin yaitu jantan
dan betina. Ikan jantan adalah ikan yang mempunyai organ penghasil sperma,
sedangkan ikan betina adalah ikan yang mempunyai organ penghasil telur. Suatu populasi
terdiri dari ikan-ikan yang berbeda seksualitasnya, maka populasi tersebut disebut
populasi heteroseksual, bila populasi tersebut terdiri dari ikan-ikan betina saja maka
disebut monoseksual. Namun, penentuan seksualitas ikan di suatu perairan harus berhati-
hati karena secara keseluruhan terdapat bermacam-macam seksualitas ikan mulai dari
hermaprodit sinkroni, protandri, protogini, hingga gonokorisme yang berdiferensiasi
maupun yang tidak berdiferensiasi.
Hermaproditisme
Ikan hermaprodit mempunyai baik jaringan ovarium maupun jaringan testis yang
sering dijumpai dalam beberapa famili ikan. Kedua jaringan tersebut terdapat dalam satu
organ dan letaknya seperti letak gonad yang terdapat pada individu normal. Pada
umumnya, ikan hermaprodit hanya satu sex saja yang berfungsi pada suatu saat,
meskipun ada beberapa spesies yang bersifat hemaprodit sinkroni. Berdasarkan
perkembangan ovarium dan atau testis yang terdapat dalam satu individu dapat
menentukan jenis hermaproditismenya.
a. Hermaprodit sinkroni/simultaneous. Apabila dalam gonad individu terdapat sel
kelamin betina dan sel kelamin jantan yang dapat masak bersama-sama dan siap untuk
dikeluarkan. Ikan hermaprodit jenis ini ada yang dapat mengadakan pembuahan sendiri
dengan mengeluarkan telur terlebih dahulu kemudian dibuahi oleh sperma dari individu
yang sama, ada juga yang tidak dapat mengadakan pembuahan sendiri. Ikan ini dalam
satu kali pemijahan dapat berlaku sebagai jantan dengan mengeluarkan sperma untuk
membuahi telur dari ikan yang lain, dapat pula berlaku sebagai betina dengan
mengeluarkan telur yang akan dibuahi sperma dari individu lain. Contoh ikan
hermaprodit sinkroni yaitu ikan-ikan dari Famili Serranidae.
b. Hermaprodit protandri. Ikan yan di dalam tubuhnya mempunyai gonad yang
mengadakan proses diferensiasi dari fase jantan ke fase betina. Ketika ikan masih muda

xcvii
gonadnya mempunyai daerah ovarium dan daerah testis, tetapi jaringan testis mengisi
sebagian besar gonad pada bagian lateroventral. Setelah jaringan testisnya berfungsi dan
dapat mengeluarkan sperma, terjadi masa transisi yaitu ovariumnya membesar dan testis
mengkerut. Pada ikan yang sudah tua, testis sudah tereduksi sekali sehingga sebagian
besar dari gonad diisi oleh jaringan ovarium yang berfungsi, sehingga ikan berubah
menjadi fase betina. Contoh ikan-ikan yang termasuk dalam golongan ini antara lain
Sparus auratus, Sargus annularis, Lates calcarifer (ikan kakap).
c. Hermaprodit protogini. Merupakan keadaan yang sebaliknya dengan hermaprodit
protandri. Proses diferensiasi gonadnya berjalan dari fase betina ke fase jantan. Pada
beberapa ikan yang termasuk golongan ini sering terjadi sesudah satu kali pemijahan,
jaringan ovariumnya mengkerut kemudian jaringan testisnya berkembang. Salah satu
spesies ikan di Indonesia yang sudah dikenal termasuk ke
dalam golongan hermaprodit protogini ialah ikan belut sawah (Monopterus albus) dan
ikan kerapu Lumpur (Epinephelus tauvina). Ikan ini memulai siklus reproduksinya
sebagai ikan betina yang berfungsi, kemudian berubah menjadi ikan jantan yang
berfungsi. Urutan daur hidupnya yaitu : masa juvenile yang hermaprodit, masa betina
yang berfungsi, masa intersek dan masa terakhir masa jantan
yang berfungsi. Pada ikan-ikan yang termasuk ke dalam Famili Labridae, misalnya
Halichieres sp. terdapat dua macam jantan yang berbeda. Ikan jantan pertama terlihatnya
seperti betina tetapi tetap
jantan selama hidupnya, sedangkan jantan yang kedua ialah jantan yang berasal dari
perubahan ikan betina. Pada ikan-ikan yang mempunyai dua fase dalam satu siklus
hidupnya, pada tiap-tiap fasenya sering didapatkan ada perbedaan baik dalam morfologi
maupun warnanya. Keadaan demikian menyebabkan terjadinya kesalahan dalam
mendeterminasi ikan itu menjadi dua nama, yang
sebenarnya spesies ikan itu sama. Misalnya pada ikan Larbus ossifagus ada dua individu
yang berwarna merah dan ada yang berwarna biru. Ternyata ikan yang berwarna merah
adalah ikan betina, sedangkan yang berwarna biru adalah ikan jantan. Hermaprodit
protandri dan hermaprodit protogini sering disebut hermaprodit beriring. Pada waktu ikan
itu masih muda mempunyai gonad yang berorganisasi dua macam seks, yaitu terdapat
jaringan testis dan ovarium yang belum berkembang dengan baik. Proses suksesi kelamin

xcviii
dari satu populasi hermaprodit protandri atau hermaprodit protogini terjadi pada individu
yang berbeda baik menurut ukuran atau umur, tetapi merupakan suatu proses yang
beriring.
Gonokhorisme
Selain hermaproditisme, pada ikan terdapat juga gonokhorime, yaitu kondisi
seksual berganda yaitu pada ikan bertahap juvenil gonadnya tidak mempunyai jaringan
yang jelas status jantan atau betinanya. Gonad tersebut kemudian berkembang menjadi
semacam ovarium, setelah itu setengah dari individu ikan-ikan itu gonadnya menjadi
ovarium (menjadi ikan betina) dan setengahnya lagi menjadi testis (menjadi ikan jantan).
Gonokhoris yang demikian dinamakan gonokhoris yang “tidak berdiferensiasi:, yaitu
keadaannya tidak stabil dan dapat terjadi interseks yang spontan. Misalnya Anguilla
anguilla dan Salmo gairdneri irideus adalah gonokhoris yang tidak berdiferensiasi. Ikan
gonokhorisme yang “berdiferensiasi” sejak dari mudanya sudah ada perbedaan antara
jantan dan betina yang sifatnya tetap sejak dari kecil sampai dewasa, sehingga tidak
terdapat spesies yang interseks.

D. SIFAT SEKSUAL PRIMER DAN SEKUNDER


Sifat seksual primer pada ikan ditandai dengan adanya organ yang secara
langsung berhubungan dengan proses reproduksi, yaitu ovarium dan pembuluhnya pada
ikan betina, dan testis dengan pembuluhnya pada ikan jantan. Sifat seksual sekunder ialah
tanda-tanda luar yang dapat dipakai untuk membedakan ikan jantan dan ikan betina. Satu
spesies ikan yang mempunyai sifat morfologi yang dapat dipakai untuk membedakan
jantan dan betina dengan jelas, maka spesies itu bersifat seksual dimorfisme. Namun,
apabila satu spesies ikan dibedakan jantan dan betinanya berdasarkan perbedaan warna,
maka ikan itu bersifat seksual dikromatisme. Pada umumnya ikan jantan mempunyai
warna yang lebih cerah dan lebih menarik
dari pada ikan betina. Pada dasarnya sifat seksual sekunder dapat dibagi menjadi dua
yaitu :
a) Sifat seksual sekunder yang bersifat sementara, hanya muncul pada waktu musim
pemijahan saja. Misalnya “ovipositor”, yaitu alat yang dipakai untuk menyalurkan telur
ke bivalvia, adanya semacam jerawat di atas kepalanya pada waktu musim pemijahan.

xcix
Banyaknya jerawat dengan susunan yang khas pada spesies tertentu bisa dipakai untuk
tanda menentukan spesies, contohnya ikan Nocomis biguttatus dan Semotilus
atromaculatus jantan.
b) Sifat seksual sekunder yang bersifat permanent atau tetap, yaitu tanda ini tetap ada
sebelum, selama dan sesudah musim pemijahan. Misalnya tanda bulatan hitam pada ekor
ikan Amia calva jantan, gonopodium pada Gambusia affinis, clasper pada golongan ikan
Elasmobranchia, warna yang lebih menyala pada ikan Lebistes, Beta dan ikan-ikan
karang, ikan Photocornycus yang berparasit pada ikan betinanya dan sebagainya.
Biasanya tanda seksual sekunder itu terdapat positif pada ikan jantan saja. Apabila ikan
jantan tadi dikastrasi (testisnya dihilangkan), bagian yang menjadi tanda seksual sekunder
menghilang, tetapi pada ikan betina tidak menunjukkan sesuatu perubahan. Sebaliknya
tanda bulatan hitan pada ikan Amia betina akan muncul pada bagian ekornya seperti ikan
Amia jantan, bila ovariumnya dihilangkan. Hal ini disebabkan adanya pengaruh dari
hormon yang dikeluarkan oleh testis mempunyai peranan pada tanda
seksual sekunder, sedangkan tanda hitam pada ikan Amia menunjukkan bahwa hormon
yang dikeluarkan oleh ikan betina menjadi penghalang timbulnya tanda bulatan hitam.

E. STRATEGI REPRODUKSI
Berdasarkan organ tempat embrio berkembang dan tempat terjadinya pembuahan,
terdapat tiga golongan ikan:
Ikan ovipar
Golongan ovipar yaitu ikan yang mengeluarkan telur pada waktu pemijahan. Sebagian
besar jenis ikan tergolong ke dalam golongan ovipar. Beberapa contoh ikan yang
termasuk dalam golongan ini adalah Ikan mas (Cyprynus carpio), mujair (Oreochromis
mosambicus), kakap (Lates calcarifer) dan tongkol (Euthynus spp.).
Beberapa ikan berpijah secara bersama-sama dan tanpa berpasangan. Sejumlah
ikan jantan dan betina megeluarkan sperma dan telur secara bersama dalam suatu
lingkungan yang cocok. Jumlah telur yang banyak dibiarkan hanyut dalam perairan
terbuka, terbawa dan terapung oleh turbulensi arus, kemudian menempel pad substrat.
Spesiae lain memiliki kebiasaan berpasangan dalam memijah setelah satu atau dari
pasangan tersebut keduanya menyiapkan tempat untuk meletakkan telur. Beberapa jenis

c
ikan memendam telurnya di krikil dan kemudian meninggalkannya, sedangkan jenis lain
akan menjaga (mengawal) sarangnya.
Ikan belanak (Liza spp, Mugil spp, valamugil sp) merupakan jenis ikan pantai
yang umumnya melakukan pemijahan di daerah pantai dengan salinitas yang agak tinggi.
Telur-telur dikeluarkan begitu saja dan terbawa arus sampai ke muara sungai. Anak-anak
belanak akan bergerak ke tambak dan bahkan ada yang masuk ke perairan tawar.
Ikan vivipar
Golongan vivipar merupakan ikan yang melahirkan anak dalam pola
reproduksinya. Anak ikan yang dilahirkan oleh golongan ikan vivipar hampir
menyerupai individu dewasa. Kandungan kuning telur sangat sedikit dan perkembangan
embrio ditentukan oleh hubungannya dengan placenta pada tahap awal untuk mencukupi
kebutuhan makanannya.
Golongan ikan ini umumnya berfekunditas kecil, tidak seperti pada golongan ikan
ovipar yang memiliki fekunditas lebih besar. Meskipun demikian keturunannya
mendapat semacam jaminan dari induk untuk dapat melangsungkan awal hidupnya
dengan aman. Keadaan demikian menunjukkan bahwa ikan vivipar stuasinya lebih
modern dari pada ikan ovipar dalam mempertahankan eksistensi species dari keadaan
lingkungan sekelilingnya termasuk dari serangan predator.
Umumnya jenis ikan bertulang rawan (hiu dan pari) nerupakan kelompok vivipar,
meskipun demikian beberapa ikan bertulang sejati bisa dikategorikan melahirkan anak,
seperti family Poeciliidae, Goodidae, Anablepidae dan Yaminsiidae.
Ikan ovovivipar
Golongan ikan ovovipar ini melahirkan anak seperti halnya vivipar, namun
pekembangan anak di dalam kandungan induk mendapatkan makanan dari persediaan
kuning telur yang tersedia non placental. Dalam perkembangan yang demikian anak
mendapat keperluan material untuk pertumbuhannya dari induk melalui penyerapan zat-
zat yang dikeluarkan oleh uterus. Zat tersebut disebut “Susu uterin“ atau embriotrophe.
Spesies ikan ovovivpar jumlahnya jauh lebih banyak dari pada ikan vivipar.
Pada embrio ikan Squalus acanthias terdapat dua macam kantung telur yaitu
kantung yang di luar tubuh dan kantung didalam tubuh. Kantung kuning telur dalam
tubuh sebagai hasil perkembangan batang kantung kuning telur bagian luar yang tumbuh

ci
pada bagian dalam. Butir-butir kuning telur dari kantung luar bergerak ke bagian
kantung dalam terus ke usus untuk dicerna.
Berbeda dengan golongan ikan vivipar dan ovovipar, maka ikan ovipar yang
merupakan mayoritas dari ikan yang ada pada waktu pemijahan membuahi telurnya di
luar tubuh. Telur yang dikeluarkan dari tubuh induk dibuahi oleh ikan jantan dengan
berbagai cara. Semua tingkah laku yang dilakukan oleh ikan tersebut pada waktu
pemijahan bertujuan agar semua telur yang dikeluarkan dapat dibuahi dengan baik. Ikan
bertulang rawan yang tergolong ke dalam ovovivipar memiliki masa mengandung yang
berbeda-beda. Ikan Myliobastis bovia masa mengandungnya empat bulan, Urolophus
halleri tiga bulan dan Squalus acanthias dua bulan.

INDIKATOR PENILAIAN
1. Ketepatan penyajian pada tugas mandiri, tugas kelompok dan presentasi sesuai sasaran
akhir pembelajaran dan nilai kuis (40%)
2. Kreatifitas dalam memperoleh informasi yang sesuai dengan materi atau pokok
bahasan (30%)
3. Penguasaan materi dalam memaparkan, cara menjawab/menanggapi, serta penampilan
(30%)

BAB III. PENUTUP


Fungsi reproduksi pada ikan pada dasarnya merupakan bagian dari sistem
reproduksi yang terdiri dari komponen kelenjar kelamin atau gonad, dimana pada ikan
betina disebut ovarium sedang pada jantan disebut testis beserta salurannya. Pada
prinsipnya, seksualitas pada ikan terdiri dari dua jenis kelamin yaitu jantan dan betina.
Ikan jantan adalah ikan yang mempunyai organ penghasil sperma, sedangkan ikan betina
adalah ikan yang mempunyai organ penghasil telur. Sifat seksual primer pada ikan
ditandai dengan adanya organ yang secara langsung berhubungan dengan proses
reproduksi, yaitu ovarium dan pembuluhnya pada ikan betina, dan testis dengan
pembuluhnya pada ikan jantan. Sifat seksual sekunder ialah tanda-tanda luar yang dapat
dipakai untuk membedakan ikan jantan dan ikan betina

cii
DAFTAR PUSTAKA
ZZ.Alamsjah, S. 1974. Ichthiyologi Sistematika (Ichthyologi – I). Proyek
Peningkatan/Pengembangan Perguruan Tinggi, IPB
DDD. Lagler, K.F., J.E. Bardach, R.R. Miller and D.R.M. Passino. 1977.
Ichthyology.
Second edition. John Wiley & Sons, New York
EEE. Love, M.S. and G.M. Cailliet (eds.). 1979. Readings in Ichthyology.
Prentice-Hall of India Private Limited, New Delhi
FFF. Moyle, P.B. and J.J. cech, Jr. 1988. Fishes. An Introduction to Ichthyology.
Second edition. Prentice Hall, Englewood Cliffs, New Jersey.
GGG. Nelson, J.S. 1976. Fishes of the World. John Wiley and Sons, New York.
BBB. Rahardjo, M.F. 1980. Ichthyologi. Departemen Biologi Perairan, Fakultas
Perikanan, IPB

ciii
civ