Anda di halaman 1dari 8

Optimalisasi Persalinan Non-institusional Untuk Menurunkan Angka

Kematian Ibu Era Millenium Development Goals

Ucke S. Sastrawinata
Divisi Obstetri Ginekologi Sosial
Bagian Obstetri Ginekologi Fakultas Kedokteran
Universitas Kristen Maranatha, Bandung

Abstrak

The Millennium Development Goals (MDGs) adalah delapan target yang harus dicapai pada tahun 2015 sebagai
respons terhadap tantangan pembangunan utama dunia. MDGs dalam bidang kesehatan maternal diukur dengan
indikator angka kematian ibu (AKI) dan persentase persalinan yang dilakukan oleh penolong persalinan terlatih
(skilled birth attendant). Artikel ini membahas kembali program yang sangat baik dan ada di Indonesia namun belum
terlaksana dengan sempurna melihat Indonesia merupakan negara dengan AKI tertinggi di Asia Tenggara. AKI
nasional memang menunjukkan penurunan dalam beberapa tahun terakhir, tetapi di beberapa daerah masih sangat
tinggi, sementara proporsi persalinan yang ditolong oleh penolong persalinan terlatih memang menunjukkan
peningkatan tapi dukungan sistem dan keterampilan penolong dianggap masih belum memenuhi harapan. Sebagian
besar proses persalinan di Indonesia terjadi di rumah (non-institusional), beberapa faktor yang saling berkaitan
dengan karakteristik proses persalinan di Indonesia adalah psikologis, keluarga, dan ekonomi. Upaya menurunkan
AKI di Indonesia merupakan gabungan dari penolong persalinan terlatih, asuhan obstetrik emergensi, dan sistem
rujukan emergensi. Intervensi di atas tidak harus dilakukan di fasilitas kesehatan, tapi dapat diimplementasikan oleh
penolong persalinan terlatih saat persalinan di rumah, harus didukung oleh: lingkungan yang menunjang, rujukan
emergensi, dan juga perbaikan akses kontrasepsi. Optimalisasi persalinan non-institusional dengan desa SIAGA dan
Gerakan Sayang Ibu (GSI). GSI menggalakkan kesiapan persalinan dan kesiagaan komplikasi dengan “desa
SIAGA” yang mempunyai komponen: Sistem Dana, Sistem Transportasi, Sistem Donor Darah, Sistem
Pemberitahuan, dan Kemitraan pertolongan persalinan dukun paraji dan bidan. [MKB. 2009;41(4):212-9].

Kata kunci: MDGs, AKI, persalinan non-institusional, desa SIAGA, GSI

Optimalization Non-institutional Delivery in Reducing Maternal Mortality


Ratios To Achieve Millenium Development Goals

Abstract

The Millennium Development Goals are goals that must be achieved in 2015 as a responds to world development
challenges. MDGs in maternal healthcare were measured by indicators such as maternal mortality ratios and
percentage of births attended by skilled birth attendants (SBA). This article focuses on very good programs in
Indonesia but still not being done perfectly because Indonesia's MMR is still the highest among south east asian
countries. National MMR is declining over decades, but in several provinces MMR still high. Deliveries by SBA
proportion show promising trends although with low system support and skill monitoring support. Most of
deliveries were non-institutional, several aspects known to play important roles were psychological, families, and
economics aspects. Efforts on lowering maternal mortality in Indonesia actually are combinations between SBA,
emergency obstetric care, and emergency referral system. Interventions can be done by SBA at home whileworking,
with an adequate support from community system, emergency referral system, and improvement of contraception

Korespondensi: Dr. dr. Ucke S. Sastrawinata, SpOG(K), Divisi Obstetri Ginekologi Sosial, Bagian Obstetri Ginekologi,
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha, Bandung, Jln. Rajamantri II no 8 Bandung, Telp (022) 7304154,
Hp. 0811222272, E-mail: gunanegara@yahoo.com

MKB, Volume 41 No. 4, Tahun 2009 212


Ucke S. Sastrawinata: Optimalisasi Persalinan Non-institusional Untuk Menurunkan Angka Kematian Ibu

access. Non-institutional delivery optimalization with des SIAGA and GSI (Safe Motherhood Activities) which had
5 components; Funding System, Transportation System, Blood Donor System, Information System, and partnership
in midwives and traditional birth attendant (TBA). [MKB. 2009;41(4):212-9].

Key words: MDGs, MMR, non-institutional deliveries, desa SIAGA, GSI

Pendahuluan attendant). MDGs menargetkan penurunan AKI


dalam tiga kuarter, antara 1990-2015. AKI tahun
Indonesia sebagai negara dengan angka kematian 2000 menurun 50% dari tahun 1990 dan menurun
ibu (AKI) tertinggi di Asia Tenggara. AKI di 50% lagi pada tahun 2015. Indonesia diharapkan
Indonesia pada tahun 2005 masih sangat tinggi dapat mencapai AKI 60 per 100.000 kelahiran
6
yaitu sebesar 290,8 per 100.000 kelahiran hidup, hidup pada tahun 2015.
walaupun mengalami penurunan dari 307 per
1-3
100.000 kelahiran hidup pada tahun 2003.
AKI yang tinggi menggambarkan besarnya Kematian Maternal Dapat Dihindari
risiko yang dihadapi ibu hamil dan bersalin, juga
mempunyai hubungan erat dengan kualitas bayi Pengalaman negara lain memperlihatkan dengan
yang dilahirkan, sehingga AKI dan AKB (angka jelas bahwa mortalitas maternal dan neonatal
kematian bayi) saling berkaitan. Kondisi kesehat- ternyata dapat dihindari (avoidable).
an ibu sangat mempengaruhi proses kehamilan Paket penyelamat kematian ibu pada kese-
dan persalinan, pada akhirnya menentukan baik hatan maternal dan neonatal adalah kombinasi
buruknya kondisi bayi yang dilahirkan.4 antara penolong persalinan terlatih, asuhan obste-
UNICEF (United Nations Children's Fund) trik emergensi, dan sistem rujukan emergensi.
menyebutkan AKB di Indonesia mengalami Luasnya cakupan asuhan antenatal merupa-
penurunan dari 60 per 1.000 kelahiran hidup pada kan fokus upaya pemerintah di beberapa negara
tahun 1990, menjadi 46 pada tahun 1995, dan 35 sekitar satu dekade yang lalu, saat ini tampaknya
pada tahun 2000 dan 2003. Angka ini sedikit mulai bergeser ke arah asuhan obstetrik emergensi
berbeda dengan yang dikemukakan oleh SUSE dan penolong persalinan terlatih. Pada umumnya
NAS (Survei Sosio Ekonomi Nasional) sebesar 56 komplikasi obstetrik tidak dapat diprediksi dan
pada tahun 1995 dan 45 pada tahun 2002. AKB semua wanita harus dianggap berisiko terhadap
tidak mengalami penurunan pada periode 2000- komplikasi obstetrik, keadaan ini membutuhkan
2003 memperlihatkan bahwa kondisi kesehatan akses yang cepat ke asuhan obstetrik emergensi.
bayi di Indonesia masih sangat memprihatinkan, Pencegahan primer dan kematian maternal
beberapa pengamat menyatakan penurunan AKB dapat dicapai dengan mengurangi kejadian keha-
terjadi karena turunnya jumlah kematian bayi usia milan tidak diinginkan (KTD), diperkirakan bila
di atas satu bulan bukan karena penurunan jumlah kebutuhan akan kontrasepsi dipenuhi, kematian
kematian neonatal.5 maternal akan turun sebesar 20-35% dengan
The Millennium Development Goals (MDGs) mengurangi terjadinya kehamilan, menyediakan
adalah delapan goal (target) yang harus dicapai akses yang baik untuk keluarga berencana saja
pada tahun 2015 sebagai respons terhadap ternyata dapat mengurangi kematian maternal
7
tantangan pembangunan utama dunia. MDGs ini 25% dan kematian anak 20%.
berawal dari deklarasi milenium yang diadopsi Beberapa intervensi tidak saja dilakukan di
oleh 189 negara dan ditandatangani oleh 147 fasilitas kesehatan, tapi dapat diimplementasikan
kepala negara pada saat United Nations (UN) oleh penolong persalinan terlatih saat menolong
Millennium Summit bulan September 2000. persalinan di rumah. Manajemen aktif kala tiga
Millennium Development Goals (MDGs) (oksitosin profilaktik sebelum pelepasan plasenta,
dalam bidang kesehatan maternal dicanangkan masase uterus dan peregangan tali pusat terken-
oleh WHO (World Health Organization) bulan dali) mengurangi perdarahan pascasalin hampir
8
September 2005, diukur dengan indikator AKI pada 2/3 kasus. Penggunaan magnesium sulfat
dan persentase persalinan yang dilakukan oleh pada pasien preeklamsi juga telah mengurangi
9
penolong persalinan terlatih (skilled birth kematian lebih dari ½ kasus.

213 MKB, Volume 41 No. 4, Tahun 2009


Ucke S. Sastrawinata: Optimalisasi Persalinan Non-institusional Untuk Menurunkan Angka Kematian Ibu

Gambar 1 AKI dan Persentase


4
Kelahiran yang Ditolong oleh Penolong Persalinan Terlatih
Sumber: Sanvarin

Persentase kelahiran oleh penolong persalinan berperan dalam mengurangi kematian maternal.10
terlatih di Indonesia mengalami peningkatan dari Pelatihan dukun beranak hanya menghasilkan
tahun 1995-2005, dari 40% pada tahun 1995 ke pekerja semi terlatih yang tidak mampu menyela-
36% pada tahun 2000 menjadi 68% di tahun 2005, matkan nyawa. Pelatihan dukun beranak saat ini
tetapi masih relatif rendah apabila dibandingkan dianggap kontraproduktif, lebih baik melakukan
dengan beberapa negara Asia lainnya. Persentase pelatihan untuk tenaga kesehatan.
kelahiran beberapa negara Asia berturut-turut Pendekatan berdasarkan risiko, yang pernah
pada tahun 1995, 2000, dan 2005 antara lain Laos dipraktikkan secara luas dalam program asuhan
sebesar 20%, 30%, dan 19%, Filipina 55%, 53%, antenatal, ternyata juga tidak mempunyai dampak
dan 60%, Thailand 66%, 71%, dan 99%, serta yang jelas terhadap penurunan angka kematian
Malaysia sebesar 98%, 98%, dan 97%.4 maternal. Banyak wanita hamil yang mengalami
Pada Gambar 1 tampak bahwa tingginya komplikasi mengancam nyawa ternyata tidak
persentase kelahiran oleh penolong persalinan mempunyai faktor risiko yang tampak, sebaliknya
terlatih ternyata berhubungan dengan rendahnya wanita yang dikategorikan risiko tinggi ternyata
Angka Kematian Ibu (AKI) suatu negara. bersalin dengan baik dan lancar.11 Diperkirakan
sekitar 7% wanita yang akan mengalami kompli-
kasi tidak dapat diprediksi sebelumnya.12 Pene-
Strategi yang Telah Dilakukan dalam kanan program saat ini harus pada keberadaan
Upaya Menurunkan AKI di Indonesia Asuhan Obstetrik Emergensi untuk semua wanita
yang memerlukannya dan semua wanita hamil
Strategi pendekatan dalam kesehatan maternal harus dianggap berisiko terhadap komplikasi
selama 15 tahun terakhir, kita dapat melihat kehamilan.
perkembangan berbagai strategi pendekatan Strategi pendekatan yang dilakukan pada
dalam upaya penurunan angka kematian ibu dan tahun 1990-an adalah model analisis kematian
strategi sukses serta strategi yang tidak sukses maternal tidak terlambat (terlambat memutuskan
dalam kesehatan ibu. untuk merujuk, dan terlambat mencapai tempat
Dua intervensi yang dulu banyak dipraktikkan rujukan, serta terlambat mendapat pertolongan di
dalam kesehatan maternal terbukti tidak efektif tempat rujukan), kemudian mulai meninggalkan
dalam mengurangi kematian ibu. Dua intervensi pelatihan dukun beranak dan skrining berdasarkan
ini yaitu pelatihan penolong persalinan tradisional faktor risiko. Pada dekade ini mulai dilakukan
(dukun beranak) dan strategi pendekatan risiko upaya asuhan obstetrik emergensi dan pelatihan
13
(risk approach strategies). penolong persalinan terlatih.
Peran dari dukun beranak dalam masyarakat
sebenarnya cukup kuat, terutama bila digunakan Asuhan Obstetrik Emergensi
untuk bekerja sama dengan tenaga kesehatan. Diperkirakan sekitar 15% wanita hamil akan
Pengalaman bertahun-tahun dan memperlihatkan mengalami komplikasi selama kehamilanya dan
program pelatihan dukun beranak ternyata tidak membutuhkan intervensi medis dan sekitar 7% di

MKB, Volume 41 No. 4, Tahun 2009 214


Ucke S. Sastrawinata: Optimalisasi Persalinan Non-institusional Untuk Menurunkan Angka Kematian Ibu

antaranya akan mengalami komplikasi serius merujuk seorang ibu ke tingkat pelayanan lebih
sehingga membutuhkan rujukan ke tingkat yang tinggi serta melakukan stabilisasi selama dalam
lebih tinggi.12 Waktu rata-rata kasus meninggal perjalanan. Penolong persalinan terlatih di fasili-
dunia dengan perdarahan pascasalin, penyebab tas kesehatan dapat memperbaiki robekan jalan
paling sering kematian maternal, hanya 2 jam saja. lahir, manual plasenta, melakukan persalinan
Asuhan obstetrik emergensi dasar harus tersedia buatan per vaginam melalui ekstraksi vakum,
untuk setiap persalinan, termasuk pemberian mengelola abortus inkompletus melalui aspirasi
antibiotik parenteral, magnesium sulfat untuk vakum manual.
eklamsi, pemberian oksitosin parenteral, tinda- Penggunaan partograf untuk mendeteksi per-
kan manual plasenta, dan pengeluaran sisa pla- salinan terhambat dan manajemen aktif kala tiga
senta serta persalinan buatan per vaginam. Asuhan untuk mengurangi perdarahan pascasalin adalah
obstetrik emergensi komprehensif termasuk unsur penting dalam keterampilan penolong
tindakan seksio sesar dan transfusi darah. Idealnya persalinan terlatih.
terdapat minimum empat fasilitas PONED
(Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar) Lingkungan yang Menunjang
dan satu fasilitas PONEK (Pelayanan Obstetri Penolong persalinan terlatih harus bekerja di
Neonatal Emergensi Komprehensif) setiap lingkungan yang menunjang agar dapat berfungsi
500.000 populasi. efektif, dan lingkungan yang dapat menyediakan
obat-obatan serta peralatan untuk pengelolaan
Persalinan oleh Penolong Persalinan Terlatih kasus komplikasi emergensi dan sistem rujukan
Keberadaan penolong persalinan terlatih pada saat ke fasilitas pelayanan obstetrik komprehensif
persalinan merupakan prosedur penting dalam (PONEK) bila diperlukan.
penyelamatan nyawa dan kunci rujukan ke fasili- Penolong persalinan terlatih tidak dapat
tas kesehatan terdekat. Diperkirakan sekitar 13- bekerja sendirian, mereka membutuhkan dukung-
33% kematian maternal dapat dikurangi dengan an supervisor (pengawas) dan pelatihan untuk
keberadaan tenaga penolong persalinan terlatih mempertahankan keterampilan mereka.
14
saat persalinan.
Definisi penolong persalinan terlatih menurut Rujukan Emergensi
pernyataan bersama oleh WHO, International Upaya untuk mengurangi kematian maternal telah
Confideration of Midwives (ICM), dan Interna- menempatkan pentingnya mengurangi faktor tiga
tional Federation of Gynecology and Obstetrics terlambat, yaitu terlambat memutuskan untuk
(FIGO) adalah profesional kesehatan terakreditasi mencari pertolongan, terlambat mencapai tempat
seperti bidan, dokter, atau perawat yang telah pertolongan dan terlambat mendapat pertolongan
diberi pendidikan dan dilatih dalam keterampilan di fasilitas kesehatan.4 Keberadaan penolong
yang diperlukan untuk menangani persalinan persalinan terlatih saat persalinan dan tersedianya
normal (tanpa komplikasi), kelahiran bayi, dan pelayanan obstetrik emergensi 24 jam akan dapat
periode pascasalin dini, juga mampu mengiden- menangani faktor terlambat yang pertama dan
tifikasi, mengelola, serta merujuk komplikasi ketiga, tapi bagaimana dengan transportasi emer-
pada ibu dan bayi baru lahir gensi dari tempat persalinan ke fasilitas PONED?.
Tindakan yang dapat dilakukan penolong Kebanyakan sistem kesehatan tidak mampu
persalinan terlatih saat menolong persalinan di menyediakan transportasi emergensi dari tingkat
rumah yaitu pimpinan persalinan normal dengan desa, sehingga masyarakat lokal harus dilibatkan
menggunakan teknik aseptik, menggunakan dalam mengatur transportasi emergensi ke fasili-
partograf untuk mengenali persalinan terhambat, tas kesehatan pertama, puskesmas misalnya. Di
manajemen aktif kala tiga persalinan, asuhan bayi negara yang kondisi geografisnya sulit, didirikan
baru lahir termasuk resusitasi, manajemen awal rumah bersalin dekat dengan fasilitas kesehatan.
perdarahan pascasalin melalui penggunaan oksi- Model ini telah terbukti berhasil dengan baik di
tosin parenteral dan masase abdominal, manaje- Mongolia dan Laos.
men awal preeklamsi dan eklamsi melalui peng-
gunaan magnesium sulfat, mengenali dan menge- Memperbaiki Akses dalam Kontrasepsi
lola infeksi nifas melalui penggunaan antibiotik Akses yang baik terhadap kontrasepsi dapat
parenteral, dan mengetahui kapan, bagaimana menurunkan jumlah kehamilan dan mengurangi

215 MKB, Volume 41 No. 4, Tahun 2009


Ucke S. Sastrawinata: Optimalisasi Persalinan Non-institusional Untuk Menurunkan Angka Kematian Ibu

jumlah kematian maternal terutama pada kasus tinggi dari AKI nasional. AKI di Papua sebesar
kehamilan tidak diinginkan. Angka kematian ibu 1.025, Maluku 796, Jawa Barat 686, dan Nusa
akan turun 20-35% bila seluruh kebutuhan kontra- Tenggara Timur sebesar 554, sepertinya agak sulit
sepsi terpenuhi.7 untuk mencapai target MDGs.
Negara dengan AKI yang tinggi tampak angka Kematian ibu umumnya terjadi akibat perda-
prevalensi kontrasepsi rendah sekali. Pemberian rahan, infeksi sepsis, preeklamsi, dan komplikasi
kontrasepsi untuk wanita muda, juga penyuluhan aborsi tidak aman, yang hampir seluruhnya dapat
pentingnya menunda kehamilan sangat utama. dicegah.
Wanita usia 15-19 tahun berisiko dua kali lipat Indikator kedua untuk mengukur kemajuan
untuk meninggal saat persalinan dibandingkan dalam mencapai MDGs adalah persentase persa-
wanita usia 20 tahunan, sementara wanita usia di linan yang dilakukan penolong persalinan terlatih.
bawah 15 tahun berisiko 5 kali lebih tinggi.15 Target global untuk kategori ini adalah 90% pada
tahun 2015.
Akses Untuk Aborsi Aman Walaupun Indonesia secara signifikan telah
Kematian akibat aborsi tidak aman merupakan berhasil meningkatkan proporsi persalinan yang
salah satu penyumbang kematian terbesar di ditolong oleh penolong persalinan terlatih, dari
Indonesia, Kamboja, Laos, dan Myanmar. Angka 40% menjadi 68% dalam periode 1995-2005,
kematian akibat aborsi tidak aman sekitar 80-130 WHO masih mempertanyakan apakah penolong
per 100.000 kelahiran hidup. Di Indonesia, juga di persalinan terlatih di Indonesia telah memiliki
Laos, Myanmar, dan Filipina, aborsi dilarang dan keterampilan dan dukungan sistem yang baik
hanya boleh dilakukan untuk menyelamatkan sehingga dapat bekerja dengan efektif.
nyawa ibu. Di Malaysia dan Thailand diperbo- Malaysia telah berhasil mengurangi mortali-
lehkan bila ada kelainan mental pada ibu atau tas maternal melalui asuhan bidan yang ditunjang
kasus perkosaan. oleh sistem rujukan. Pada tahun 1957, Malaysia
memulai rencana untuk menyediakan satu klinik
bidan untuk setiap 2.000 populasi di daerah pede-
Persalinan Institusional Untuk saan. Selama tahun 1960 sampai pertengahan
Menurunkan AKI 1970-an terjadi penurunan mortalitas maternal
dicapai akibat berpindahnya fungsi penolong
Indonesia telah berhasil menurunkan AKI nasio- persalinan traditional (dukun beranak) ke peno-
nal dari 390 menjadi 290,8 per 100.000 kelahiran long persalinan terlatih (bidan).
hidup dalam periode 1998-2005, tapi masih Dari pertengahan 1970 sampai 1990-an, per-
banyak mempunyai daerah dengan AKI lebih salinan oleh bidan meningkat dari 70% menjadi

Gambar 2 Menurunnya Kematian Maternal di Malaysia dan Thailand


Catatan: Nilai-nilai ini berbeda, pada beberapa kasus, dari perkiraan WHO, UNICEF, dan UNFPA
Sumber : Savarin 4
Diadaptasi dari Van Lerberghe W. dan De Brouwere V. 2001 dalam WHO 2005

MKB, Volume 41 No. 4, Tahun 2009 216


Ucke S. Sastrawinata: Optimalisasi Persalinan Non-institusional Untuk Menurunkan Angka Kematian Ibu

90% diikuti dengan meningkatnya jumlah persa- ekonomi.


linan di rumah sakit. Angka kematian maternal 39 Setiap ibu hamil merasa lebih aman dan nya-
per 100.000 kelahiran hidup dicapai pada tahun man bila dapat melahirkan di rumah. Ibu bersalin
1987 walaupun 80% persalinan masih dilakukan sangat membutuhkan dukungan dari orang-orang
di rumah oleh bidan. terdekat, seperti suami dan orangtua. Hal ini akan
Thailand juga telah menggantikan posisi terpenuhi pada persalinan di rumah.
penolong persalinan tradisional dengan bidan Keluarga memiliki peran yang sangat besar
desa bersertifikat pada tahun 1960-an. Pemerintah dalam persalinan, termasuk menentukan di mana
Thailand memperlihatkan komitmen yang tinggi seorang ibu harus melahirkan. Bersalin di rumah
terhadap kesehatan maternal dengan melatih dirasakan lebih baik karena tradisi kebersamaan
7.000 bidan pada tahun 1960-an dan 18.000 bidan masih melekat kuat pada keluarga Indonesia,
pada tahun 1970-an. Keberhasilan ini diikuti oleh terutama di daerah pedesaan.
makin banyaknya persalinan di rumah sakit pada Kondisi ekonomi juga berpengaruh besar
tahun 1980-an. Thailand berhasil mengurangi pada keputusan memilih tempat bersalin. Survei
angka kematian maternal menjadi setengahnya Bank Dunia pada tahun 2004 memperlihatkan
dari 200 menjadi 100 per 100.000 kelahiran hidup bahwa tingginya jumlah persalinan di rumah
dalam 7 tahun selama periode 1974-1981 dan berhubungan erat dengan rendahnya keadaan eko-
mengurangi setengahnya lagi menjadi 50 dalam 5 nomi suatu kelompok masyarakat. Jumlah persa-
tahun pada tahun 1985. linan di rumah pada keluarga miskin di Indonesia
4,17
ternyata lebih dari 90%.
Uraian di atas telah menjelaskan mengenai
Persalinan Non-institusional Untuk pengaruh karakteristik persalinan dan tingginya
Menurunkan AKI AKI dan AKB di Indonesia. Persalinan institusio-
nal sebenarnya merupakan pilihan terbaik dalam
Salah satu karakter menonjol dalam proses menurunkan AKI dan AKB, tetapi mengoptimal-
persalinan di Indonesia adalah peran keluarga kan persalinan non-institusional dan memperbaiki
yang sangat besar. Proses kehamilan dan persalin- sistem rujukan di daerah merupakan pilihan yang
an merupakan suatu proses yang melibatkan rasional saat ini.
banyak orang, tidak hanya pasangan suami istri, Faktor-faktor yang penting untuk optimalisasi
tetapi meliputi seluruh anggota keluarga baik dari persalinan non institusional adalah Gerakan Sa-
pihak istri maupun suami. Di banyak daerah di yang Ibu (GSI) dan desa SIAGA.
Indonesia, keputusan bahkan ditentukan oleh Gerakan Sayang Ibu adalah gerakan yang
orangtua dari pihak istri atau suami dan kerabat dilaksanakan bersama-sama oleh masyarakat dan
yang dituakan. Mereka menentukan semua hal pemerintah untuk mempercepat penurunan angka
penting yang berhubungan dengan persalinan, kematian ibu hamil, ibu bersalin, dan ibu nifas.18
memilih tempat persalinan, tenaga penolong, juga GSI merupakan keterpaduan dan sinergi lima
kebiasaan lain yang harus dilakukan oleh ibu upaya utama: upaya peningkatan status wanita,
setelah melahirkan. Mereka juga yang menentu- upaya pemberdayaan bumil (ibu hamil), keluarga
kan perlu tidaknya ibu bersalin dibawa ke tempat dan masyarakat, upaya pelayanan KB bagi PUS
pelayanan kesehatan atau rumah sakit bila (pasangan usia subur) yang membutuhkan, upaya
persalinan mengalami komplikasi. Sering terjadi pelayanan antenatal bagi semua bumil, upaya
seorang ibu bersalin sampai di rumah sakit dalam pelayanan gawat darurat obstetrik terhadap Bumil
keadaan sangat terlambat atau bahkan meninggal berisiko atau bermasalah.
di perjalanan menuju rumah sakit hanya karena GSI memiliki lima ciri utama, yaitu: lintas
setiap anggota keluarga tidak mencapai kata sektoral, integratif dan sinergis, kepedulian dan
sepakat untuk membawanya berobat.16 peran kaum pria meningkat, pelaksanaannya
Sebagian besar proses persalinan di Indonesia dipantau terus menerus, serta koordinasi di bawah
terjadi di rumah (non-institusional). Sampai tahun pemerintah daerah.
1997, sekitar 77% ibu hamil di Indonesia melaku- Sasaran GSI terdiri dari langsung calon
kan persalinan di rumah, beberapa faktor yang pengantin, wanita usia subur, ibu hamil dan ibu
saling berkaitan dengan karakteristik proses bersalin, serta ibu nifas beserta suami juga seluruh
persalinan di Indonesia: psikologis, keluarga, dan anggota keluarganya. Sedangkan tidak langsung:

217 MKB, Volume 41 No. 4, Tahun 2009


Ucke S. Sastrawinata: Optimalisasi Persalinan Non-institusional Untuk Menurunkan Angka Kematian Ibu

pimpinan daerah di semua tingkatan, institusi akan bersalin, terutama jika ibu bersalin diidenti-
masyarakat, organisasi profesi, lembaga swadaya fikasi akan mengalami komplikasi sehingga
masyarakat, ulama, tokoh masyarakat, dan institu- memerlukan pertolongan segera.
si kesehatan baik RS atau puskesmas. Sistem ini disebut juga “Ambulans Desa”
Pesan GSI antara lain: ibu hamil diperiksa dapat berupa mobil, motor, andong, dan dokar
petugas kesehatan, ibu melahirkan ditolong bidan ataupun becak. Ambulans desa dapat dipergu-
atau dokter, ibu dan bayi selamat, ibu dan suami nakan untuk membawa ibu ke tempat rujukan.
ber-KB, peran suami meningkat agar suami, ibu, Syarat mekanisme transportasi ini adalah dapat
dan anak sehat sejahtera. diakses setiap saat diperlukan dan diketahui oleh
GSI menggalakkan kesiapan persalinan dan semua ibu hamil dan keluarganya.19
kesiagaan komplikasi dengan “Desa Siaga”. Desa
Siaga mempunyai komponen: sistem dana, sistem Sistem Pemberitahuan
transportasi, sistem donor darah, sistem pemberi- Sistem yang dikembangkan oleh masyarakat
tahuan, serta kemitraan pertolongan persalinan untuk mencatat dan menginformasikan kepada
dukun paraji dan bidan. masyarakat tentang keberadaan dan kondisi ibu
hamil serta masa persalinan di lingkungan mere-
Sistem Dana ka. Sistem ini dapat berbentuk bendera yang
Sistem dana adalah tabungan yang dikembangkan diletakkan di depan rumah ibu hamil, peta ibu
oleh masyarakat (Dasolin) atau ibu hamil (Tabu- hamil, atau stiker ibu hamil.
lin) yang keduanya digunakan untuk biaya persa- Syarat untuk sistem pemberitahuan ini
linan. Tabungan ini dapat berbentuk uang yang (notifikasi) adalah memberitahu pengelola semua
dikumpulkan secara rutin oleh masyarakat dan sistem tentang data ibu hamil, memberitahu bidan
dikelola oleh pengurus, atau uang yang dikumpul- mengenai keberadaan setiap ibu hamil yang ada di
kan oleh ibu hamil yang kemudian disimpan di lingkungannya, dan memberitahu setiap ibu hamil
bidan atau bank. dan keluarganya mengenai semua sistem
“SIAGA” yang ada dan cara mengaksesnya.
Sistem Donor Darah
Sistem donor darah adalah kelompok pendonor Kemitraan Pertolongan Persalinan Dukun
darah dari masyarakat yang bertujuan untuk Paraji dan Bidan
menyediakan persediaan darah di PMI. Disebut Proses kerjasama antara dukun paraji dan bidan
juga dengan bank darah melalui PMI. Kelompok dalam membantu melakukan pendampingan pada
pendonor menyumbangkan darahnya melalui seorang ibu dimulai saat seorang ibu tersebut
PMI. Bank darah pada sistem desa SIAGA, hamil, dalam proses persalinan, serta merawat
difokuskan pada penyediaan darah untuk saat nifas sesuai dengan fungsi dan keahliannya.
membantu persalinan. Pendonor harus diketahui Tujuan kemitraan ini untuk meningkatkan
jenis golongan darahnya dan bersedia setiap cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kese-
waktu untuk menyumbangkan darahnya jika hatan dalam rangka menurunkan AKI, dengan
diperlukan. mendayagunakan dukun paraji sebagai pendam-
Dua jenis donor darah, yaitu: donor darah ping spiritual untuk melakukan komunikasi yang
tetap yaitu pendonor rutin yang mendonorkan terarah sesuai kebutuhan ibu hamil, ibu bersalin
darahnya rutin setiap 3 bulan untuk membantu dan ibu nifas, serta membantu bidan dalam semua
memenuhi kebutuhan suplai darah PMI. PMI proses sesuai kemampuannya.
datang ke kecamatan atau desa berdasarkan Kabupaten Subang merupakan salah satu
jadwal yang sudah disepakati atau warga yang kabupaten di Jawa Barat dengan menjalin kemi-
datang ke PMI untuk mendonorkan darahnya. traan baik antara dukun dan bidan, sehingga AKI
Bank darah desa (donor darah on-call) yaitu daftar di kabupaten ini 150/100.000 kelahiran hidup
relawan yang bersedia mendonorkan darahnya pada tahun 2003, dibandingkan dengan AKI Jawa
terutama untuk memenuhi kebutuhan insidentil. Barat sebesar 373 dan AKI nasional sebesar 307.

Sistem Transportasi
Sistem kegotongroyongan yang dikembangkan Daftar Pustaka
untuk mengantar atau membawa ibu hamil yang
1. Angka kematian ibu 50 Per Hari. Gatra Printed Edition.

MKB, Volume 41 No. 4, Tahun 2009 218


Ucke S. Sastrawinata: Optimalisasi Persalinan Non-institusional Untuk Menurunkan Angka Kematian Ibu

23 Januari 2006 [diunduh 15 November 2007]. Tersedia a review of the evidence. 2001 [diunduh 15 November
dari: http://www.gatra.com/2009-10-13/artikel.php? pil 2007]. Tersedia dari: http://www.jsieurope.org/docs/
=23&id=91706. maternal_mortality_and_ poverty.pdf
2. Eri. Angka kematian ibu hamil tertinggi di ASEAN. 11. WHO and UNICEF. strategy to reduce maternal deaths.
Harian umum sore Sinar Harapan. 28 Desember 2005 East Asia and Pacific Regio-nal Office 2003. 2003
[diunduh 15 November 2007]. Tersedia dari: http:// [diunduh 15 November 2007]. Tersedia dari: http://
www.sinarharapan.co.id/ berita/0512/28/sh14 .html www.unicef.org/eapro/Strategy_to_reduce_maternal_
3. Angka Kematian Ibu di Indonesia Tertinggi di ASEAN death.pdf
[diunduh 15 November 2007]. Tersedia dari: http:// 12. WHO. Make every mother and child count. The World
situs.kesrepro.info/kia/jul/2002/kia01. htm Health Report 2005 [diunduh 16 November 2007].
4. Sauvarin J. Maternal and neonatal health in East and Tersedia dari: http://www.who.int/who/ 2005/en/
South-East Asia. Bangkok: UNFPA Country Technical 13. Liljestrand J. Trends in maternal healthcare in low-
Services Team for East and South-East Asia; 2006. income countries and the implication on neonatal
5. Profil Kesehatan Indonesia 2002. Jakarta: Departemen health. Seminars in Fetal & Neonatal Med. 2006;11:3-6.
Kesehatan RI; 2004. 14. Graham W, Bell J, Bullough C. Can skilled attendance
6. International Conference on Population and Develop- at delivery reduce maternal mortality in developing
ment (ICPD) PoA para 8.21. 1994 [diunduh 16 countries? Studies in Health Service Organisation &
November 2007]. Tersedia dari: http://www.un.org/ Policy. 2001;17:97-129.
popin/icpd2.htm 15. UN Department of International Economic and Social
7. European Parliamentary Working Group on Repro- Affairs. 1991 [diunduh 15 November 2007]. Tersedia
ductive Health, HIV/AIDS and Development. The dari: http://unstats.un.org/UNSD/snaama/metadata.asp
Annual UNPFA State of World Population Report : The ?Ccode=585
Promise of Equity: Gender Equi-ty, Reproductive 16. Ronsmans C, Campbell O, McDermott J, Koblinsky M.
Health and The Millenium Goals. European Parliament, Questioning the indicator of need for obstetric care. Bul
2005. [diunduh 16 November 2007]. Tersedia dari: WHO. 2002; 80(4):317-23.
http://www.epwg.org/fileadmin/documents/sowp- 17. Beegle K, Frankenberg E, Thomas D. Bargaining power
report.pdf within couples and use of prenatal and delivery care in
8. Prendiville WJ, Elbourne D, McDonald S. Active Indonesia. UCLA; 2000.
versus expectant management in the third stage of labor. 18. Praptohardjo U. Mengapa angka kematian ibu di
Cochrane Library. 2003;3. Indonesia masih tertinggi di ASEAN? Mataram: PIT
9. Duley L, Gulmezoglu A, Henderson D. Magnesium POGI XVI; 2007.
sulphate and other anticonvulsants for women with 19. Sastrawinata U. Effort to lower MMR and IMR:
preeclampsia. Cochrane Library. 2003; 3. Traditional delivery or institutional delivery? Mataram:
10. Bergstrom S, Goodburn E. Safe motherhood strategies: PIT POGI XVI; 2007.

219 MKB, Volume 41 No. 4, Tahun 2009