Anda di halaman 1dari 17

Nama :Alif Gilang Perkasa (1102007021)

1. Mempelajari Perubahan - Perubahan Setelah Mati.


1.1. Memahami Tanda-tanda kematian

Ilmu yang mempelajari tentang kematian dan perubahan yang terjadi setelah kematian
serta faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut adalah tanatologi.
Tanatologi berasal dari kata thanatos (yang berhubungan dengan kematian) dan logos
ilmu . Tanatologi adalah bagian dari ilmu kedokteran Forensik yang mempelajari kematian
dan perubahan yang terjadi setelah kematian serta faktor yang mempengaruhi perubahan
tersebut. Dalam tanatologi dikenal beberapa istilah tentang mati, yaitu mati somatis (mati
klinis), mati suri, mati seluler, mati serebral dan mati otak (mati batang otak).
1. Mati somatis (mati klinis)
Terjadi akibat terhentinya fungsi ketiga sistem penunjang kehidupan, yaitu susunan saraf
pusat, sistem kardiovaskular dan sistem pernapasan, yang menetap (irre-versible). Secara
klinis tidak ditemukan refleksrefleks, EEG menda-tar, nadi tidak teraba, denyut jantung tidak
terdengar, tidak ada gerak pernapasan dan suara nafas tidak terdengar pada auskultasi.
2. Mati suri (suspended animation apparent death)
Adalah terhentinya ketiga sistim kehidupan di atas yang ditentukan dengan alat
kedokteran sederhana. Dengan peralatan kedokteran canggih masih dapat dibuktikan bahwa
ketiga sistem tersebut masih berfungsi. Mati suri sering ditemukan pada kasus keracunan obat
tidur, tersengat aliran listrik dan tenggelam.
3. Mati seluler (mati molekuler)
Adalah kematian organ atau ja-ringan tubuh yang timbul beberapa saat setelah kematian
somatis. Daya tahan hidup masing-masing organ atau jaringan berbeda-beda, sehingga
terjadinya kematian seluler pada tiap organ atau jaringan tidak bersamaan. Pengetahuan ini
penting dalam transplantasi organ.
4. Mati serebral adalah kerusakan kedua hemisfer otak yang ireversibel kecuali batang otak
dan serebelum, sedangkan kedua sistem lainnya yaitu sistem pernapasan dan kardiovaskular
masih berfungsi dengan bantuan alat.
Kematian adalah suatu proses yang dapat dikenal secara klinis pada seseorang berupa
tanda kematian, yaitu perubahan yang terjadi pada tubuh mayat. Perubahan tersebut dapat
timbul dini pada saat meninggal atau beberapa menit kemudian, misalnya kerja jantung dan
peredaran darah berhenti, pernapasan berhenti, refleks cahaya dan refleks kornea mata hilang,
kulit pucat dan relaksasi otot. Setelah beberapa waktu timbul perubahan pascamati yang jelas
yang memungkinkan diagnosis kematian lebih pasti.

Tanda Pasti Kematian

Dahulu kematian ditandai dengan tidak berfungsinya lagi jantung. Konsep baru sekarang
ini mengenai kematian mencakup berhentinya fungsi pernafasan, jantung dan otak. Dimana
saat kematian ditentukan berdasarkan saat otak berhenti berfungsi. Pada saat itulah jika
diperiksa dengan elektro-ensefalo-grafi (EEG) diperoleh garis yang datar. Berdasarkan
waktunya tanda kematian dibagi menjadi 3, yaitu:

1. Tanda yang segera dikenali setelah kematian.


Berhentinya sirkulasi darah.
Berhentinya pernafasan.

1
Berhentinya Sirkulasi Darah

Dengan berhentinya jantung berdenyut maka aliran darah dalam arteri juga berhenti.
Denyut nadi tidak dapat lagi diraba dan pada auskultasi juga tidak dapat didengar bunyi
jantung. Beberapa pemeriksaan yang dapat memastikan
berhentinya sirkulasi adalah sebagai berikut :
1. Magnus. Pada pangkal jari diberi ikatan yang cukup kuat untuk menghambat aliran darah
vena tetapi tidak sampai menghambat sirkulasi arteri. Warna jari tersebut akan tetap putih
jika sirkulasi darah sudah berhenti.
2. Tes Diafanus. Pada orang yang masih hidup, warna dari jaringan diantara pangkal jari
tangan akan berwarna merah. Hal ini akan tampak lebih jelas jika dilihat sambil menyorot
tangan dengan lampu. Setelah meninggal, warnanya akan menjadi kuning pucat.
3. Tes Icard. Jika pada orang yang masih hidup disuntikkan zat floresen secara hipodermis,
maka warna kulit sekitarnya akan terlihat kehijauan. Pada orang yang sudah meninggal di
mana tidak ada lagi sirkulasi darah, hal diatas tidak akan terjadi.

2. Tanda-tanda kematian setelah beberapa saat kemudian:


 Perubahan pada mata
 Perubahan pada kulit
 Perubahan temperatur tubuh
 Lebam mayat
 Kaku mayat

Penurunan Temperatur Tubuh (algor Mortis)

Suhu tubuh pada orang yang sudah meninggal perlahan-lahan akan sama dengan suhu
lingkungannya karena mayat tersebut akan melepaskan panas dan suhunya menurun.
Kecepatan penurunan suhu pada mayat bergantung kepada suhu lingkungan dan suhu mayat
tu sendiri. Pada iklim yang dingin maka penurunan suhu mayat berlangsung cepat. Menurut
Sympson (Inggris), menyatakan bahwa dalam keadaan biasa tubuh yang tertutup pakaian
mengalami penurunan temperatur 2,50 F setiap jam pada enam jam pertama dan 1,6-2,0 F
pada enam jam berikutnya, maka dalam 12 jam suhu tubuh akan sama dengan suhu
sekitarnya.
Jasing P Modi (India), menyatakan hubungan penurunan suhu tubuh dengan lama
kematian adalah sebagai berikut :
Dua jam pertama suhu tubuh turun setengah dari perbedaan antara suhu tubuh dan suhu
sekitarnya.
Dua jam berikutnya, penurunan suhu setengah dari nilai pertama.
Dua jam selanjutnya, suhu mayat turun setengah dari nilai pertama
Dua jam selanjutnya, suhu mayat turun setengah dari nilai terakhir atau 1/8 dari
perbedaan suhu intial tadi.

2
Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Suhu Mayat

1. Usia. Penurunan suhu lebih cepat pada anak-anak dan orang tua dibandingkan orang
dewasa.
2. Jenis kelamin. Wanita mengalami penurunan suhu tubuh yang lebih lambat dibandingkan
pria karena jaringan lemaknya lebih banyak.
3. Lingkungan sekitar mayat. Jika mayat berada pada ruangan kecil tertutup tanpa ventilasi,
kecepatan penurunan suhu mayat akan lebih lambat dibandingkan jika mayat berada pada
tempat terbuka dengan ventilasi yang cukup.

Kalorisitas Post Mortem

Merupakan keadaan dimana temperatur mayat meningkat dalam 2 jam pertama setelah
kematian. Hal ini terjadi jika :
1. Jika sistem regulasi suhu tubuh terganggu sesaat sebelum kematian, misalnya
meninggal akibat sengatan matahari.
2. Jika terdapat aktivitas bakteri yang berlebihan, misalnya pada septikemia.
3. Adanya proses peningkatan suhu tubuh akibat kejangkejang, misalnya pada tetanus
dan keracunan striknin.

Lebam mayat
Sinonimnya adalah :
 Hipostatis
 Post mortem staining
 Livor mortis
 Vibises
 Suggilation
Lebam mayat terjadi akibat terkumpulnya darah pada jaringan kulit dan subkutan disertai
pelebaran pembuluh kapiler pada bagian tubuh yang letaknya rendah atau bagian tubuh yang
tergantung. Keadaan ini memberi gambaran berupa warna ungu kemerahan.
Setelah seseorang meninggal, mayatnya menjadi suatu benda mati sehingga darah akan
berkumpul sesuai dengan hukum gravitasi. Lebam mayat pada awalnya berupa barcak.
Dalam waktu sekitar 6 jam, bercak ini semakin meluas yang pada akhirnya akan membuat
warna kulit menjadi gelap.
Di India bagian utara, lebam mayat mulai tampat 1 jam setelah kematian dan lebam jelas
dalam waktu 4 sampai 12 jam. Pengamatan ini tentunya bisa membantu untuk menentukan
perkiraan saat kematian.
Pembekuan darah terjadi dalam waktu 6-10 jam setelah kematian. Lebam mayat ini bisa
berubah baik ukuran maupun letaknya tergantung dari perubahan posisi mayat. Karena itu
penting sekali untuk memastikan bahwa mayat belum disentuh oleh orang lain. Posisi mayat
ini juga penting untuk menentukan apakah kematian disebabkan karena pembunuhan atau
bunuh diri.
Ada 5 warna lebam mayat yang dapat kita gunakan untuk memperkirakan penyebab
kematian :
• Merah kebiruan merupakan warna normal lebam
• Merah terang menandakan keracunan CO, keracunan CN atau suhu dingin
• Merah gelap menunjukkan asfiksia
• Biru menunjukkan keracunan nitrit
• Coklat menandakan keracunan aniline

3
Kepentingan Medikolegal dari Lebam Mayat

1. Merupakan tanda dari kematian


2. Bisa membantu menentukan posisi dari mayat dan penyebab kematian
3. Jika mayat terletak pada posisi punggung dibawah, maka lebam mayat pertama sekali
terlihat pada bagian leher dan bahu, baru kemudian menyebar ke punggung.
4. Pada mayat dengan posisi tergantung, lebam mayat tampak pada bagian tungkai dan
lengan.
5. Pada beberapa kasus, warna dari lebam mayat ini bisa lain daripada normal.
Misalnya :
 Kematian karena asfiksia, lebam mayat berwarna merah cerah
 Pada keracunan karbon monoksida dan asam hidrosianida, lebam mayat berwarna
merah terang atau merah jambu.
 Pada keracunan kalium klorat, lebam mayat berwarna coklat.
 Pada keracunan fostor, lebam mayat berwarna biru gelap.
6. Dapat juga digunakan memperkirakan saat kematian.

Perbedaan antara lebam mayat dengan memar


Sifat Lebam mayat Memar
Epidermal, karena pelebaran pembuluh Ruptur pembuluh darah yang
darah letaknya bisa superfisial atau lebih
Letak
yang tampak sampai ke permukaan kulit dalam

Kutikula Tidak rusak Kulit ari rusak

Terdapat pada daerah yang luas, terutama Terdapat di sekitar bisa tampak di
Lokasi luka pada bagian tubuh yang letaknya mana di mana saja pada bagian
rendah. tubuh dan tidak meluas

Gambaran Pada lebam mayat tidak ada evalasi dari Biasanya membengkak
kulit
Pinggiran Jelas Tidak jelas
Memar yang lama warnanya
bervariasi. Memar yang baru
Warna Warnyanya sama
berwarna lebih tegas daripada
.
warna lebam mayat disekitarnya
Darah ke jaringan sekitar, susah
Pada pemotongan, darah tampak dalam dibersihkan jaringan sekitar, susah
Pada
pembuluh, dan mudah dibersihkan. dibersihkan jika hanya dengan air
pemotongan
Jaringan subkutan tampak pucat. mengalir. Jaringan subkutan
berwarna merah kehitaman.

Dampak
Akan hilang walaupun hanya diberi Warnanya berubah sedikit saja jika
setelah
penekanan yang ringan diberi penekanan.
penekanan

4
Kaku Mayat (Rigor Mortis)

Perubahan otot yang terjadi setelah kematian bisa dibagi dalam 3 tahap :
1. Periode relaksasi primer (flaksiditas primer)
2. Kaku mayat (rigor mortis)
3. Periode relaksasi sekunder
Relaksasi Primer

Hal ini terjadi segera setelah kematian. Biasanya berlangsung selama 2-3 jam. Seluruh
otot tubuh mengalami relaksasi,dan bisa digerakkan ke segala arah. Iritabilitas otot masih ada
tetapi tonus otot menghilang. Pada kasus di mana mayat letaknya berbaring rahang bawah
akan jatuh dan kelopak mata juga akan turun dan lemas.

Kaku Mayat

Kaku mayat akan terjadi setelah tahap relaksasi primer. Keadaan ini berlangsung setelah
terjadinya kematian tingkat sel, dimana aktivitas listrik otot tidak ada lagi. Otot menjadi kaku.
Fenomena kaku mayat ini pertama sekali terjadi pada otot-otot mata, bagian belakang leher,
rahang bawah, wajah, bagian depan leher, dada, abdomen bagian atas dan terakhir pada otot
tungkai.
Akibat kaku mayat ini seluruh mayat menjadi kaku, otot memendek dan persendian pada
mayat akan terlihat dalam posisi sedikit fleksi.
Keadaan ini berlangsung selama 24 - 48 jam pada musim dingin dan 18 - 36 jam pada
musim panas.
Penyebabnya adalah otot tetap dalam keadaan hidrasi oleh karena adanya ATP. Jika tidak
ada oksigen, maka ATP akan terurai dan akhirnya habis, sehingga menyebabkan
penumpukan asam laktat dan penggabungan aktinomiosin (protein otot).

Periode Relaksasi Sekunder

Otot menjadi relak (lemas) dan mudah digerakkan. Hal ini terjadi karena pemecahan
protein, dan tidak mengalami reaksi secara fisik maupun kimia. Proses pembusukan juga
mulai terjadi. Pada beberapa kasus, kaku mayat sangat cepat berlangsung sehingga sulit
membedakan antara relaksasi primer dengan relaksasi sekunder.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kaku Mayat

1. Keadaan Lingkungan. Pada keadaan yang kering dan dingin, kaku mayat lebih lambat
terjadi dan berlangsung lebih lama dibandingkan pada lingkungan yang panas dan
lembab. Pada kasus di mana mayat dimasukkan ke dalam air dingin, kaku mayat akan
cepat terjadi dan berlangsung lebih lama.
2. Usia. Pada anak-anak dan orangtua, kaku mayat lebih cepat terjadi dan berlangsung tidak
lama. Pada bayi prematur biasanya tidak ada kaku mayat. Kaku mayat baru tampat pada
bayi yang lahir mati tetapi cukup usia (tidak prematur)
3. Cara kematian. Pada pasien dengan penyakit kronis, dan sangat kurus, kaku mayat cepat
terjadi dan berlangsung tidak lama. Pada pasien yang mati mendadak, kaku mayat lambat
terjadi dan berlangsung lebih lama.

5
4. Kondisi otot. Terjadi kaku mayat lebih lambat dan berlangsung lebih lama pada kasus di
mana otot dalam keadaan sehat sebelum meninggal, dibandingkan jika sebelum
meninggal keadaan otot sudah lemah.
Diagnosis Banding Kaku Mayat

1. Kekakuan karena panas (heat stiffening). Keadaan ini terjadi jika mayat terpapar pada
suhu yang lebih tinggi dari 750 C, atau jika mayat terkena arus listrik tegangan tinggi.
Kedua keadaan diatas akan menyebabkan koagulasi protein otot sehingga otot menjadi
kaku. Pada kasus terbakar, keadaan mayat menunjukkan postur tertentu yang disebut
dengan sikap pugilistik, yaitu suatu posisi di mana semua sendi berada dalam keadaan
fleksi dan tangan terkepal. Sikap yang demikian disebut juga sikap defensif.
Perbedaan antara kaku mayat dengan kaku karena panas adalah :
a) Adanya tanda kekakuan bekas terbakar pada permukaan mayat pada kaku karena
panas.
b) Pada kasus kekakuan karena panas, otot akan mengalami laserasi jika dipaksa
diregangkan.
c) Pada kaku karena panas, kekakuan tersebut akan berlanjut akan melanjut terus sampai
terjadinya pembusukan.

2. Kekakuan karena dingin (cold stiffening). Jika mayat terpapar suhu yang sangat dingin,
maka akan terjadi pembekuan jaringan lemak dan otot. Jika mayat dipindahkan ke tempat
yang suhunya lebih tinggi maka kekakuan tersebut akan hilang. Kaku karena dingin cepat
terjadi dan cepat juga hilang.

3. Spasme kadaver (Cadaveric spasm). Otot yang berkontraksi sewaktu masih hidup akan
lebih cepat mengalami kekakuan setelah meninggal. Pada kekakuan ini tidak ada tahap
pertama yaitu tahapan relaksasi. Keadaan ini biasanya terjadi jika sebelum meninggal
korban melakukan aktivitas berlebihan. Bentuk kekakuan akan menunjukkan saat saat
terakhir kehidupan korban. Fenomena ini sangat jarang ditemukan.

Kepentingan Kaku Mayat dari segi medikolegal :


a) Pada kasus bunuh diri, mungkin alat yang digunakan untuk tujuan bunuh diri masih
berada dalam genggaman.
b) Pada kasus kematian karena tenggelam, mungkin pada tangan korban bisa terdapat
daun atau rumput.
c) Pada kasus pembunuhan, pada gemgaman korban mungkin bisa diperoleh sesuatu
yang memberi petunjuk untuk mencari pembunuhnya.

Perbedaan antara Kaku Mayat dengan Spasme Kadaver

Sifat Kaku Mayat Spasme Kadaver


Mulai timbul 1-2 jam setelah meninggal Segera setelah meninggal

Faktor - Kematian mendadak,aktivitas


predisposisi berlebih, ketakutan, terlalu lelah,
perasaan tegang, dll.

Otot yang Semua otot, termasuk otot Biasanya terbatas pada satu
terkena volunter dan involunter kelompok otot volunter

6
Kaku otot Tidak jelas, dapat dilawan Sangat jelas, perlu tenaga yang
dengan sedikit tenaga. kuat untuk melawan
kekakuannya.

Kepentingan Untuk perkiraan saat kematian Menunjukkan cara kematian


dari segi yaitu bunuh diri,pembunuhan
Medikolegal atau kecelakaan

Suhu mayat Dingin Hangat


Kematian sel Ada Tidak ada
Rangsangan Tidak ada respon otot Ada respon otot
listrik

3. Tanda-tanda kematian setelah selang waktu yang lama:


 Proses pembusukan
 Saponifikasi atau adiposera
 Mumifikasi

Proses Pembusukan

Perubahan warna. Perubahan ini pertama kali tampat pada fossa iliaka kanan dan kiri
berupa warna hijau kekuningan, disebabkan oleh perubahan hemoglobin menjadi
sulfmethemoglobin.
Perubahan warna ini juga tampak pada seluruh abdomen, bagian depan genitalia eksterna,
dada, wajah dan leher. Dengan semakin berlalunya waktu maka warnanya menjadi semakin
ungu.
Jangka waktu mulai terjadinya perubahan warna ini adalah 6-12 jam pada musim panas
dan 1-3 hari pada musin dingin. Perubahan warna tersebut juga diikuti dengan pembengkakan
mayat. Otot sfingter mengalami relaksasi sehingga urin dan faeses keluar. Lidah juga terjulur.
Bibir menebal, mulut membuka dan busa kemerahan bisa terlihat keluar dari rongga mulut.
Mayat berbau tidak enak disebabkan oleh adanya gas pembusukan. Gas ini bisa
terkumpul pada suatu rongga sehingga mayat menjadi tidak mirip dengan korban sewaktu
masih hidup. Gas ini selanjutnya juga bisa membentuk lepuhan kulit

Lepuhan Kulit (blister)

Mulai tampak 36 jam setelah meninggal. Kulit ari dapat dengan cukup mudah dikelupas.
Di mana akan tampak cairan berwarna kemerahan yang sedikit mengandung albumin.

Belatung

Jika pembusukan terus berlangsung, maka bau busuk yang timbul akan menarik lalat
untuk hinggap pada mayat. Lalat menempatkan telurnya pada mayat, di mana dalam waktu 8-
24 jam telur akan menetas menghasilkan larva-yang sering disebut belatung. Dalam waktu 4-
5 hari, belatung ini lalu menjadi pupa, dimana setelah 4-5 hari kemudian akan menjadi lalat
dewasa. Pada tahap ini bagian dari tulang tengkorak mulai tampak. Rektum dan uterus juga
tampak dan uterus gravid juga bisa mengeluarkan isinya Rambut dan kuku dengan mudah
dapat dicabut. Bagian perut dan dada bisa pecah berhubung besarnya tekanan gas yang di
7
kandungnya. Jika pembusukan terus berlangsung, maka jaringan jaringan menjadi lunak,
rapuh dan berwarna kecoklatan.

Organ Tubuh Bagian Dalam

Organ tubuh bagian dalam juga mengalami perubahan. Bentuk perubahan sama seperti
diatas, jaringan-jaringan menjadi berwarna kecoklatan. Ada yang cepat membusuk dan ada
yang lambat.
Jaringan yang cepat membusuk :
 Laring
 Trakea
 Otak terutama pada anak-anak
 Lambung
 Usus halus
 Hati
 Limpa
Jaringan yang lambat membusuk :
 Jantung
 Paru-paru
 Ginjal Prostat
 Uterus non gravid

Pembusukan Dalam Air

Pembusukan dalam air lebih lambat prosesnya dibandingkan pembusukan pada udara
terbuka. Setelah mayat dikeluarkan dari dalam air, maka proses pembusukan akan
berlangsung sangat cepat, lebih kurang 16 kali lebih cepat dibandingkan biasanya. Karena itu
pemeriksaan post-mortem harus segera dilaksanakan pada kasus mati tenggelam. Kecepatan
pembusukan juga bergantung kepada jenis airnya; pada air yang kotor tidak mengalir dan
dalam, pembusukan lebih cepat.
Pada mayat yang tenggelam, waktu yang untuk muncul dan mulai mengapung adalah 24
jam. Kecepatan pengapungan mayat tergantung dari :
a) Usia. Mayat anak-anak dan orangtua lebih lambat terapung.
b) Bentuk tubuh. Orang yang gemuk dan kuat, mayatnya cepat terapung. Mayat yang
kurus lebih lambat terapung.
c) Keadaan air. Pada air yang jernih, pengapungan mayat lebih lambat terjadi
dibandingkan dengan pada air kotor.
d) Cuaca. Pada musin panas, pengapungan mayat 3 kali lebih cepat dibandingkan pada
musim dingin.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kecepatan Pembusukan.

a) Temperatur. Temperatur yang paling cocok untuk proses pembusukan adalah antara
700F sampai 1000F. Pembusukan akan melambat diatas temperatur 1000F dan dibawah
700F, dan berhenti dibawah 320 F atau diatas 2120F .
b) Udara. Udara yang mempercepat pembusukan. Kecepatan pembusukan lebih lambat
didalam air dan dalam tanah dibandingkan di udara terbuka.
c) Kelembaban. Keadaan lembab mempercepat proses pembusukan.
8
d) Penyebab kematian. Bagian tubuh yang terluka biasanya lebih cepat membusuk.
Beberapa jenis racun bisa memperlambat pembusukan, misalnya arsen, zinc (seng) dan
golongan logam antimon. Mayat penderita yang meninggal karena penyakit kronis lebih
cepat membusuk dibandingkan mayat orang sehat.

Adiposera

Fenomena ini terjadi pada mayat yang tidak mengalami proses pembusukan yang biasa.
Melainkan mengalami pembentukan adiposera. Adiposera merupakan subtansi yang mirip
seperti lilin yang lunak, licin dan warnanya bervariasi mulai dari putih keruh sampai coklat
tua. Adiposera mengandung asam lemak bebas, yang dibentuk melalui proses hidrolisa dan
hidrogenasi setelah kematian. Adanya enzim bakteri dan air sangat penting untuk
berlangsungnya proses tersebut. Dengan demikian, maka adiposera biasanya terbentuk pada
mayat yang terbenam dalam air atau rawa-rawa. Lama pembentukan adiposera ini juga
bervariasi, mulai dari 1 minggu sampai 10 minggu. Kepentingan medikolegal dari adiposere
adalah dapat menunjukkan tempat kematian (kering, panas atau tempat basah).

Mummifikasi

Mayat mengalami pengawetan akibat proses pengeringan dan penyusutan bagian-bagian


tubuh. Kulit menjadi kering, keras dan menempel pada tulang kerangka. Mayat menjadi lebih
tahan dari pembusukan sehingga masih jelas menunjukkan ciri-ciri
seseorang.
Fenomena ini terjadi pada daerah yang panas dan lembab, di mana mayat dikuburkan
tidak begitu dalam dan angin yang panas selalu bertiup sehingga mempercepat penguapan
cairan
tubuh.
Lama terjadinya mummifikasi adalah antara 4 bulan sampai beberapa tahun. Kepentingan
medikolegal dari mummfikasi adalah dapat menunjukkan tempat kematian (kering, panas
atau tempat basah).

1.2. Memahami Penentuan Lama kematian.

Isi Saluran Pencernaan

Makanan masuk kedalam saluran pencernaan akan mengalami proses pencernaan hingga
akhirnya akan dikeluarkan dari tubuh. Proses yang mempunyai pola dan waktu yang tetap ini
dapat pula dipakai sebagai petunjuk.

Isi Lambung

Dalam 1 jam pertama separuh dari makanan yang masuk ke lambung sudah dicernakan
dan masuk ke pilorus. Setengahnya dari sisa ini akan masuk ke pilorus pada jam ke 2. Sisa
setengahnya lagi akan selesai dicerna dan keluar dari lambung pada jam ke 3, dan selesai
seluruhnya kira-kira 4 jam. Makanan yang mengandung banyak karbohidrat akan lebih cepat
dicerna (cepat keluar dari lambung); yang mengandung protein lebih lama dan yang paling
lama yang mengandung lemak. Tetapi perlu diperhitungkan tonus dan keadaan lambung,
seperti gangguan fungsi pilorus dan keadaan fisik korban sebelum mati. Syok, koma, geger
otak, depresi mental menghambat gerakan pencernaan.

9
Usus

Makanan yang sudah dicerna sampai di daerah ileo-caecal dalam waktu 6-8 jam, di colon
tranversum dalam waktu 9-10 jam colon-pelvis 12-14 jam, dikeluarkan dalam waktu 24-28
jam. Penentuan lama kematian dari isi pencernaan ini dinilai dari suatu korban makan dan
tidak ada hubungan langsung dengan waktu pemeriksaan dilakukan.

Kandung kemih

Kandung kemih biasanya dikosongkan sebelum tidur, dan dalam waktu tidur isi kandung
kemih akan bertambah. Bila didapati mayat pada pagi hari dengan kandung kemih kosong,
kemungkinan ia meninggal menjelang pagi hari dan bila masih penuh tentu meninggalnya
lebih awal.

Pakaian

Pakaian dapat menentukan lama kematian karena orang mempunyai kebiasaan


menggunakan pakaian sesuai dengan waktu Pakaian kantor/sekolah, pakaian tidur, pakaian
renang, olah raga dan lain-lain, kadang-kadang dapat dipakai sebagai petunjuk. Bila korban
terbunuh sedang memakai pakaian tidur tentu diperkirakan waktu kematian adalah malam
atau sebelum bangun pagi.

Jam Tangan

Bila korban memakai jam tangan pada waktu mengalami cedera maka saat kematian
dapat ditunjukkan secara tepat dari jarum jam berhenti. Begitu juga dengan peristiwa
kebakaran.

2. Mempelajari Tentang Visus et Repertum

Definisi dan Dasar Hukum VeR

Visum et Repertum adalah keterangan tertulis yang dibuat dokter atas permintaan tertulis
(resmi) penyidik tentang pemeriksaan medis terhadap seseorang manusia baik hidup maupun
mati ataupun bagian dari tubuh manusia, berupa temuan dan interpretasinya, di bawah
sumpah dan untuk kepentingan peradilan.
Menurut Budiyanto et al, dasar hukum Visum et Repertum adalah sebagai berikut:
Pasal 133 KUHAP menyebutkan:
(1) Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka,
keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia
berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman
atau dokter dan atau ahli lainnya.
(2) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara
tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau
pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat.
10
Yang berwenang meminta keterangan ahli adalah penyidik dan penyidik pembantu
sebagaimana bunyi pasal 7(1) butir h dan pasal 11 KUHAP :
Penyidik yang dimaksud di sini adalah penyidik sesuai dengan pasal 6(1) butir a, yaitu
penyidik yang pejabat Polisi Negara RI. Penyidik ini adalah penyidik tunggal bagi pidana
umum, termasuk pidana yang berkaitan dengan kesehatan dan jiwa manusia. Oleh karena
visum et repertum adalah keterangan ahli mengenai pidana yang berkaitan dengan kesehatan
jiwa manusia, maka penyidik pegawai negeri sipil tidak berwenang meminta visum et
repertum, karena mereka hanya mempunyai wewenang sesuai dengan undang-undang yang
menjadi dasar hukumnya masing-masing (Pasal 7(2) KUHAP).
Sanksi hukum bila dokter menolak permintaan penyidik, dapat dikenakan sanki pidana :
Pasal 216 KUHP :
Barangsiapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan
menurut undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu, atau oleh pejabat
berdasar- kan tugasnya, demikian pula yang diberi kuasa untuk mengusut atau memeriksa
tindak pidana; demikian pula barangsiapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi
atau mengga-galkan tindakan guna menjalankan ketentuan, diancam dengan pidana penjara
paling lama empat bulan dua minggu atau denda paling banyak sembilan ribu rupiah.

Peranan dan Fungsi VeR

Visum et repertum adalah salah satu alat bukti yang sah sebagaimana tertulis dalam pasal
184 KUHP. Visum et repertum turut berperan dalam proses pembuktian suatu perkara pidana
terhadap kesehatan dan jiwa manusia, dimana VeR menguraikan segala sesuatu tentang hasil
pemeriksaan medik yang tertuang di dalam bagian pemberitaan, yang karenanya dapat
dianggap sebagai pengganti barang bukti. Visum et repertum juga memuat keterangan atau
pendapat dokter mengenai hasil pemeriksaan medik tersebut yang tertuang di dalam bagian
kesimpulan. Dengan demikian visum et repertum secara utuh telah menjembatani ilmu
kedokteran dengan ilmu hukum sehingga dengan membaca visum et repertum, dapat
diketahui dengan jelas apa yang telah terjadi pada seseorang, dan para praktisi hukum dapat
menerapkan norma-norma hukum pada perkara pidana yang menyangkut tubuh dan jiwa
manusia. Apabila visum et repertum belum dapat menjernihkan duduk persoalan di sidang
pengadilan, maka hakim dapat meminta keterangan ahli atau diajukannya bahan baru, seperti
yang tercantum dalam KUHAP, yang memungkinkan dilakukannya pemeriksaan atau
penelitian ulang atas barang bukti, apabila timbul keberatan yang beralasan dari terdakwa
atau penasehat hukumnya terhadap suatu hasil pemeriksaan. Hal ini sesuai dengan pasal 180
KUHAP.
Bagi penyidik (Polisi/Polisi Militer) visum et repertum berguna untuk mengungkapkan
perkara. Bagi Penuntut Umum (Jaksa) keterangan itu berguna untuk menentukan pasal yang
akan didakwakan, sedangkan bagi Hakim sebagai alat bukti formal untuk menjatuhkan
pidana atau membebaskan seseorang dari tuntutan hukum. Untuk itu perlu dibuat suatu
Standar Prosedur Operasional Prosedur (SPO) pada suatu Rumah Sakit tentang tata laksana
pengadaan visum et repertum.

Struktur dan Isi VeR

Setiap visum et repertum harus dibuat memenuhi ketentuan umum sebagai berikut:
a. Diketik di atas kertas berkepala surat instansi pemeriksa
b. Bernomor dan bertanggal
c. Mencantumkan kata ”Pro Justitia” di bagian atas kiri (kiri atau tengah)
11
d. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar
e. Tidak menggunakan singkatan, terutama pada waktu mendeskripsikan temuan
pemeriksaan
f. Tidak menggunakan istilah asing
g. Ditandatangani dan diberi nama jelas
h. Berstempel instansi pemeriksa tersebut
i. Diperlakukan sebagai surat yang harus dirahasiakan
j. Hanya diberikan kepada penyidik peminta visum et repertum. Apabila ada lebih dari satu
instansi peminta, misalnya penyidik POLRI dan penyidik POM, dan keduanya berwenang
untuk itu, maka kedua instansi tersebut dapat diberi visum et repertum masing-masing asli
k. Salinannya diarsipkan dengan mengikuti ketentuan arsip pada umumnya, dan
disimpan sebaiknya hingga 20 tahun

Pada umumnya visum et repertum dibuat mengikuti struktur sebagai berikut :


1. Pro Justitia

Kata ini harus dicantumkan di kiri atas, dengan demikian visum et repertum tidak
perlu bermeterai.

CONTOH :
Pekanbaru, 24 Agustus 2008

PRO JUSTITIA
VISUM ET REPERTUM
No. /TUM/VER/VIII/2008

2. Pendahuluan

Pendahuluan memuat : identitas pemohon visum et repertum, tanggal dan pukul


diterimanya permohonan visum et repertum, dentitas dokter yang melakukan pemeriksaan,
identitas objek yang diperiksa : nama, jenis kelamin, umur, bangsa, alamat, pekerjaan, kapan
dilakukan pemeriksaan, dimana dilakukan pemeriksaan, alasan dimintakannya visum et
repertum, rumah sakit tempat korban dirawat sebelumnya, pukul korban meninggal dunia,
keterangan mengenai orang yang mengantar korban ke rumah sakit

CONTOH :
Yang bertandatangan di bawah ini, Dedi Afandi, dokter spesialis forensik pada RSUD Arifin
Achmad, atas permintaan dari kepolisian sektor.........dengan suratnya nomor..........................
tertanggal....................maka dengan ini menerangkan bahwa pada
tanggal..........pukul...........bertempat di RSUD Arifin Achmad, telah melakukan pemeriksaan
korban dengan nomor registrasi..................yang menurut surat tersebut adalah :
Nama :
Umur :
Jenis Kelamin :
Warga negara :
Pekerjaan :
Agama :
Alamat :

12
3.Pemberitaan (Hasil Pemeriksaan)

Memuat hasil pemeriksaan yang objektif sesuai dengan apa yang diamati terutama dilihat
dan ditemukan pada korban atau benda yang diperiksa. Pemeriksaan dilakukan dengan
sistematis dari atas ke bawah sehingga tidak ada yang tertinggal. Deskripsinya juga tertentu
yaitu mulai dari letak anatomisnya, koordinatnya (absis adalah jarak antara luka dengan garis
tengah badan, ordinat adalah jarak antara luka dengan titik anatomis permanen yang
terdekat), jenis luka atau cedera, karakteristiknya serta ukurannya. Rincian ini terutama
penting pada pemeriksaan korban mati yang pada saat persidangan tidak dapat dihadirkan
kembali.
Pada pemeriksaan korban hidup, bagian ini terdiri dari :
a. Hasil pemeriksaan yang memuat seluruh hasil pemeriksaan, baik pemeriksaan fisik
maupun pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan penunjang lainnya. Uraian hasil
pemeriksaan korban hidup berbeda dengan pada korban mati, yaitu hanya uraian tentang
keadaan umum dan perlukaan serta hal-hal lain yang berkaitan dengan tindak pidananya
(status lokalis).
b. Tindakan dan perawatan berikut indikasinya, atau pada keadaan sebaliknya, alasan tidak
dilakukannya suatu tindakan yang seharusnya dilakukan. Uraian meliputi juga semua
temuan pada saat dilakukannya tindakan dan perawatan tersebut. Hal ini perlu diuraikan
untuk menghindari kesalahpahaman tentang-tepat tidaknya penanganan dokter dan tepat-
tidaknya kesimpulan yang diambil.
c. Keadaan akhir korban, terutama tentang gejala sisa dan cacat badan merupakan hal penting
guna pembuatan kesimpulan sehingga harus diuraikan dengan jelas. Pada bagian
pemberitaan memuat 6 unsur yaitu anamnesis, tanda vital, lokasi luka pada tubuh,
karakteristik luka, ukuran luka, dan tindakan pengobatan atau perawatan yang diberikan.

CONTOH :
HASIL PEMERIKSAAN :
1. Korban datang dalam keadaan sadar dengan keadaan umum sakit sedang. Korban
mengeluh sakit kepala dan sempat pingsan setelah kejadian pemukulan pada kepala --
2. Pada korban ditemukan --------------------------------------------------------------------------
a. Pada belakang kepala kiri, dua sentimeter dan garis pertengahan belakang, empat senti
meter diatas batas dasar tulang, dinding luka kotor, sudut luka tumpul, berukuran tiga
senti meter kali satu senti meter, disekitarnya dikelilingi benjolan berukuran empat
sentimeter kali empat senti meter -------------------------------------
b. Pada dagu, tepat pada garis pertengahan depan terdapat luka terbuka tepi tidak rata, dasar
jaringan bawah kulit,dinding kotor, sudut tumpul, berukuran dua senti meter kali setengah
sentimeter dasar otot.-------------------------------------------------
c. Lengan atas kiri terdapat gangguan fungsi, teraba patah pada pertengahan serta nyeri pada
penekanan. -----------------------------------------------------------------------
d. Korban dirujuk ke dokter syaraf dan pada pemeriksaan didapatkan adanya cedera kepala
ringan. ---------------------------------------------------------------------------------
3. Pemeriksaan foto Rontgen kepala posisi depan dan samping tidak menunjukkan adanya
patah tulang. Pemeriksaan foto rontgen lengan atas kiri menunjukkan adanya patah tulang
lengan atas pada pertengahan. ---------------------------------------------------
13
4. Terhadap korban dilakukan penjahitan dan perawatan luka, dan pengobatan. -----------
5. Korban dipulangkan dengan anjuran kontrol seminggu lagi.--------------------------------

4. Kesimpulan

Memuat hasil interpretasi yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dari fakta
yang ditemukan sendiri oleh dokter pembuat visum et repertum, dikaitkan dengan maksud
dan tujuan dimintakannya visum et repertum tersebut. Pada bagian ini harus memuat minimal
2 unsur yaitu jenis luka dan kekerasan dan derajat kualifikasi luka.

CONTOH :
KESIMPULAN : -------------------------------------------------------------------------------------------
Pada pemeriksaan korban laki-laki berusia tiga puluh empat tahun ini ditemukan cedera
kepala ringan, luka terbuka pada belakang kepala kiri dan dagu serta patah tulang tertutup
pada lengan atas kiri akibat kekerasan tumpul. Cedera tersebut telah mengakibatkan penyakit
/halangan dalam menjalankan pekerjaan jabatan/pencaharian untuk sementara waktu.----------

5. Penutup

- Memuat pernyataan bahwa keterangan tertulis dokter tersebut dibuat dengan mengingat
sumpah atau janji ketika menerima jabatan atau dibuat dengan mengucapkan sumpah atau
janji lebih dahulu sebelum melakukan pemeriksaan
- Dibubuhi tanda tangan dokter pembuat visum et repertum

CONTOH :
Demikianlah visum et repetum ini dibuat dengan sebenarnya dengan menggunakan keilmuan
yang sebaik-baiknya, mengingat sumpah sesuai dengan Kitab Undang-Undang Hukum Acara
Pidana.

Dokter Pemeriksa

ASPEK MEDIKOLEGAL VeR

Prosedur Pengadaan Visum et Repertum

Berbeda dengan prosedur pemeriksaan korban mati, prosedur permintaan visum et


repertum korban hidup tidak diatur secara rinci di dalam KUHAP. Tidak ada ketentuan yang
mengatur tentang pemeriksaan apa saja yang harus dan boleh dilakukan oleh dokter. Hal ini
berarti bahwa pemilihan jenis pemeriksaan yang dilakukan diserahkan sepenuhnya kepada
dokter dengan mengandalkan tanggung jawab profesi kedokteran. KUHAP juga tidak
memuat ketentuan tentang bagaimana menjamin keabsahan korban sebagai barang bukti.
Hal-hal yang merupakan barang bukti pada tubuh korban hidup adalah perlukaannya beserta
akibatnya dan segala sesuatu yang berkaitan dengan perkara pidananya. Sedangkan orangnya
sebagai manusia tetap diakui sebagai subyek hukum dengan segala hak dan kewajibannya.
Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan II FK UR, September 2008 Dengan demikian, Karena
barang bukti tersebut tidak dapat dipisahkan dari orangnya maka tidak dapat disegel maupun
14
disita. Yang dapat dilakukan adalah menyalin barang bukti tersebut ke dalam bentuk visum et
repertum.
KUHAP tidak mengatur prosedur rinci apakah korban harus diantar oleh petugas
kepolisian atau tidak. Padahal petugas pengantar tersebut sebenarnya dimaksudkan untuk
memastikan kesesuaian antara identitas orang yang akan diperiksa dengan identitas korban
yang dimintakan visum et repertumnya seperti yang tertulis di dalam surat permintaan visum
et repertum. Situasi tersebut membawa dokter turut bertanggung jawab atas pemastian
kesesuaian antara identitas yang tertera di dalam surat permintaan visum et repertum dengan
identitas korban yang diperiksa.6
Dalam praktek sehari-hari, korban perlukaan akan langsung ke dokter baru kemudian
dilaporkan ke penyidik. Hal ini membawa kemungkinan bahwa surat permintaan visum et
repertum korban luka akan datang terlambat dibandingkan dengan pemeriksaan korbannya.
Sepanjang keterlambatan ini masih cukup beralasan dan dapat diterima maka keterlambatan
ini tidak boleh dianggap sebagai hambatan pembuatan visum et repertum. Sebagai contoh,
adanya kesulitan komunikasi dan sarana perhubungan, overmacht (berat lawan) dan
noodtoestand (darurat).
Adanya keharusan membuat visum et repertum pada korban hidup tidak berarti bahwa
korban tersebut, dalam hal ini adalah pasien, untuk tidak dapat menolak sesuatu pemeriksaan.
Korban hidup adalah juga pasien sehingga mempunyai hak sebagai pasien. Apabila
pemeriksaan ini sebenarnya perlu menurut dokter pemeriksa sedangkan pasien menolaknya,
maka hendaknya dokter meminta pernyataan tertulis singkat penolakan tersebut dari pasien
disertai alasannya atau bila hal itu tidak mungkin dilakukan, agar mencatatnya di dalam
catatan medis.
Hal penting yang harus diingat adalah bahwa surat permintaan visum et repertum harus
mengacu kepada perlukaan akibat tindak pidana tertentu yang terjadi pada waktu dan tempat
tertentu. Surat permintaan visum et repertum pada korban hidup bukanlah surat yang
meminta pemeriksaan, melainkan surat yang meminta keterangan ahli tentang hasil
pemeriksaan medis.
Tata Laksana VeR pada Korban Hidup

1. Ketentuan standar dalam penyusunan visum et repertum korban hidup


a. Pihak yang berwenang meminta keterangan ahli menurut KUHAP pasal 133 ayat (1)
adalah penyidik yang menurut PP 27/1983 adalah Pejabat Polisi Negara RI. Sedangkan
untuk kalangan militer maka Polisi Militer (POM) dikategorikan sebagai penyidik.
b. Pihak yang berwenang membuat keterangan ahli menurut KUHAP pasal 133 ayat (1)
adalah dokter dan tidak dapat didelegasikan pada pihak lain.
c. Prosedur permintaan keterangan ahli kepada dokter telah ditentukan bahwa permintaan
oleh penyidik harus dilakukan secara tertulis yang secara tegas telah diatur dalam
KUHAP pasal 133 ayat (2).
d. Penyerahan surat keterangan ahli hanya boleh dilakukan pada Penyidik yang memintanya
sesuai dengan identitas pada surat permintaan keterangan ahli. Pihak lain tidak dapat
memintanya.
2. Pihak yang terlibat dalam kegiatan pelayanan forensik klinik
a. Dokter
b. Perawat
c. Petugas Administrasi
3. Tahapan-tahapan dalam pembuatan visum et repertum pada korban hidup
a. Penerimaan korban yang dikirim oleh Penyidik.

15
Yang berperan dalam kegiatan ini adalah dokter, mulai dokter umum sampai dokter
spesialis yang pengaturannya mengacu pada S.O.P. Rumah Sakit tersebut. Yang diutamakan
pada kegiatan ini adalah penanganan kesehatannya dulu, bila kondisi telah memungkinkan
barulah ditangani aspek medikolegalnya. Tidak tertutup kemungkinan bahwa terhadap korban
dalam penanganan medis melibatkan berbagai disiplin spesialis.
b. Penerimaan surat permintaan keterangan ahli/visum et revertum
Adanya surat permintaan keterangan ahli/visum et repertum merupakan hal yang penting
untuk dibuatnya visum et repertum tersebut. Dokter sebagai penanggung jawab pemeriksaan
medikolegal harus meneliti adanya surat permintaan tersebut sesuai ketentuan yang berlaku.
Hal ini merupakan aspek yuridis yang sering menimbulkan masalah, yaitu pada saat korban
akan diperiksa surat permintaan dari penyidik belum ada atau korban datang sendiri dengan
membawa surat permintaan keterangan ahli/ visum et repertum.
Untuk mengantisipasi masalah tersebut maka perlu dibuat kriteria tentang pasien/korban
yang pada waktu masuk Rumah Sakit/UGD tidak membawa SpV. Sebagai berikut :
1. Setiap pasien dengan trauma
2. Setiap pasien dengan keracunan/diduga keracunan
3. Pasien tidak sadar dengan riwayat trauma yang tidak jelas
4. Pasien dengan kejahatan kesusilaan/perkosaan
5. Pasien tanpa luka/cedera dengan membawa surat permintaan visum
Kelompok pasien tersebut di atas untuk dilakukan kekhususan dalam hal pencatatan
temuan-temuan medis dalam rekam medis khusus, diberi tanda pada map rekam medisnya
(tanda “VER”), warna sampul rekam medis serta penyimpanan rekam medis yang tidak
digabung dengan rekam medis pasien umum.
kemungkinan atas pasien tersebut di atas pada saat yang akan datang, akan dimintakan
visum et repertumnya dengan surat permintaan visum yang datang menyusul.
c. Pemeriksaan korban secara medis
Tahap ini dikerjakan oleh dokter dengan menggunakan ilmu forensik yang telah
dipelajarinya. Namun tidak tertutup kemungkinan dihadapi kesulitan yang mengakibatkan
beberapa data terlewat dari pemeriksaan.
Ada kemungkinan didapati benda bukti dari tubuh korban misalnya anak peluru, dan
sebagainya. Benda bukti berupa pakaian atau lainnya hanya diserahkan pada pihak penyidik.
Dalam hal pihak penyidik belum mengambilnya maka pihak petugas sarana kesehatan harus
menyimpannya sebaik mungkin agar tidak banyak terjadi perubahan. Status benda bukti itu
adalah milik negara, dan secara yuridis tidak boleh diserahkan pada pihak keluarga/ahli
warisnya tanpa melalui penyidik.
d. Pengetikan surat keterangan ahli/visum et repertum
Pengetikan berkas keterangan ahli/visum et repertum oleh petugas administrasi
memerlukan perhatian dalam bentuk/formatnya karena ditujukan untuk kepentingan
peradilan. Misalnya penutupan setiap akhir alinea dengan garis, untuk mencegah penambahan
kata-kata tertentu oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Contoh :
“Pada pipi kanan ditemukan luka terbuka, tapi tidak rata sepanjang lima senti meter“

e. Penandatanganan surat keterangan ahli / visum et repertum


Undang-undang menentukan bahwa yang berhak menandatanganinya adalah dokter.
Setiap lembar berkas keterangan ahli harus diberi paraf oleh dokter. Sering terjadi Pendidikan
bahwa surat permintaan visum dari pihak penyidik datang terlambat, sedangkan dokter yang
menangani telah tidak bertugas di sarana kesehatan itu lagi. Dalam hal ini sering timbul
keraguan tentang siapa yang harus menandatangani visum et repertum korban hidup tersebut.
16
Hal yang sama juga terjadi bila korban ditangani beberapa dokter sekaligus sesuai dengan
kondisi penyakitnya yang kompleks. Dalam hal korban ditangani oleh hanya satu orang
dokter, maka yang menandatangani visum yang telah selesai adalah dokter yang menangani
tersebut (dokter pemeriksa).
Dalam hal korban ditangani oleh beberapa orang dokter, maka idealnya yang
menandatangani visumnya adalah setiap dokter yang terlibat langsung dalam penanganan atas
korban. Dokter pemeriksa yang dimaksud adalah dokter pemeriksa yang melakukan
pemeriksaan atas korban yang masih berkaitan dengan luka/cedera/racun/tindak pidana.
Dalam hal dokter pemeriksa sering tidak lagi ada di tempat (di luar kota) atau sudah tidak
bekerja pada Rumah Sakit tersebut, maka visum et repertum ditandatangani oleh dokter
penanggung jawab pelayanan forensik klinik yang ditunjuk oleh Rumah Sakit atau oleh
Direktur Rumah Sakit tersebut.
f. Penyerahan benda bukti yang telah selesai diperiksa
Benda bukti yang telah selesai diperiksa hanya boleh diserahkan pada penyidik saja dengan
menggunakan berita acara.
g. Penyerahan surat keterangan ahli/visum et repertum. Surat keterangan ahli/visum et
repertum juga hanya boleh diserahkan pada pihak penyidik yang memintanya saja. Dapat
terjadi dua instansi penyidikan sekaligus meminta surat visum et repertum.

17