Anda di halaman 1dari 18

DATA PEMILIK

Nama : ……………………………………
Nim : ……………………………………
Alamat : ……………………………………
……………………………………
……………………………………
……………………………………
……………………………………
Telepon : ……………………………………
Handphone : ……………………………………
EMAIL : ……………………………………
No. KTP : ……………………………………
No. SIM : ……………………………………
No. Paspor : ……………………………………
Golongan Darah : ……………………………………
Keadaan Darurat Hubungi
Nama : ……………………………………
Alamat : ……………………………………
……………………………………
……………………………………
……………………………………
……………………………………
Telepon : ……………………………………
Handphone : ……………………………………

KETIDAKPASTIAN PADA PENGUKURAN & PENGOLAHAN DATA SEDERHANA

Setiap pengukuran dihinggapi suatu ketidakpastian. Adapun penyebabnya


banyak sekali, beberapa diantaranya :
o Keterbatasan Alat : nst (nilai skala terkecil) yang selalu ada, kalibrasi
yang tidak tepat, gesekan yang terjadi antar bagian alat yang bergerak,
kelelahan pegas - dll.
o Keterbatasan Pengamat : dalam zaman modern ini semakin banyak
peralatan berteknologi tinggi digunakan. Pengoperasiannya memerlukan
Modul Praktikum Fisika (FI-1901)

keterampilan yang tinggi seperti: osiloskop, komputer, scaler- counter


dsb.
o Ketidakpastian Acak : tegangan listrik yang digunakan tidak pernah tetap
nilainya sehingga selalu mengalami fluktuasi, gerak Brown partikel udara -
dll.
Karena itu suatu hasil pengukuran harus dilaporkan bersama dengan
ketidakpastiannya. Berikut adalah cara yang lazim digunakan :

x = { x + x } x
dengan x : lambang besaran yang diukur, misal suhu
0
{x} : nilai yang diperoleh, misal 36 C
{x} : ktp pada x misal 0,5
0
[ X ] : lambang satuan besaran x misal C

Sebagai contoh, kita ingin mengukur suhu (T) dan diperoleh hasil pengukuran
0 o
26 C, sedangkan ketidakpastian pada alat ukur suhu adalah 0,5 , maka hasil
pengukuran suhu tersebut dituliskan sebagai
0
T = (36 ±0,5) C
Untuk memperoleh nilai {x±x} dibedakan 3 kasus berikut ini :
1) Pengukuran Dilaksanakan Sekali Saja.
Bila pengukuran hanya dilakukan sekali saja (apapun alsannya), maka X
adalah nilai yang tebaca pada waktu pengukuran dan (X = ½nst (nilai skala
terkecil), lazimnya demikian. Nst adalah jarak dua titik berdekatan pada
skala alat ukur. Tapi apabila skala alat ukur dirasakan cukup besar, kadang-
kadang digunakan 1/3 nst.
2) Pengukuran dilakukan Beberapa Kali.
Beberapa kali maksudnya adalah pengukuran 2 atau 3 kali saja. Apabila ini
yang dilakukan , maka nilai X adalah nilai rata-rata hasil pengukuran, atau
X  X , dengan

 X i X 1  X 2  ...  X N
X   ,
N N

dan X  X i  X maks dengan i  1, 2,3

3) Pengukuran dilakukan N Kali


Dengan mengadakan pengulangan n kali, diperoleh apa yang disebut
sampel besaran x. Nilai yang digunakan sebagai x adalah nilai rata-rata
sampel X = X , dan sebagai ktp-nya digunakan deviasi standar nilai rata-
rata (Sx) :

Departemen Sains IT Telkom


Modul Praktikum Fisika (FI-1901)

S n 1
X  S x 
N

dengan S n 1  
 Xi  X 2
= N  Xi 2  (  Xi ) 2
N 1 N ( N  1)

dan i = 1,2,3,....N
Contoh : Pengukuran berulang atas besaran A menghasilkan sampel
berikut:
11,8 - 12,0 - 12,2 - 12,0 - 11,9 - 12,0 - 12,2 - 11,8 - 11,9 - 12,2.
 Xi  X
S n 1 
 
2

X = 12 tepat; N 1 = 0,05 ; (X = 0,02)


maka pelaporan hasil pengukuran dituliskan X = (12,00 + 0,02) satuan

Mengukur besaran secara tak langsung


Jarang sekali besaran yang hendak ditentukan lewat percobaan dapat diukur
dengan langsung. Lebih sering besaran tersebut merupakan fungsi dari besaran
– besaran lain yang dapat kita ukur.
Contoh : tidak dikenal alat untuk mengukur masa jenis ( ). Tapi dengan
mengukkur masa (m) dan volume (V) , kita dapat menentukan (. Akan tetapi
sewaktu mengukur m dan V , melekatlah ktp m dan ktp V. Bagaimana
hubungan antara ktp ( dengan ktp m dan ktp V ?
Misalkan Y adalah besaran yang dicari dari besaran x krena Y = F(x). Karena
adanya ketidakpastian nilai x maka fungsi tersebut dapat ditulis Y = F(x ( (x )
dan apabila diurutkan dengan deret Taylor disekitar X = X , menjadi
 df  1  d2 f 
y  f ( x  x)  f ( x)    x   2  (x) 2  ....
 dx  x 2!  dx  x

dimana nilai y adalah y  f (x) .


x
Untuk  1 maka f ( x  x) dapat didekati dengan dua suku saja,
x
sehingga

Departemen Sains IT Telkom


Modul Praktikum Fisika (FI-1901)

 df 
y  y    x dan y  df x .
 dx  x dx x
Dengan proses yang tidak jauh beda, maka dapatlah dibuktikan bahwa untuk
fungsi yang lebih dari satu variabel, mis Z = F(x , y ) didapat
dz dz
z  x  y .
dx x , y dy x, y

Contoh :
Percepatan gravitasi setempat ingin ditentukan dengan mengukur periode T
suatu bandul matematis sepanjang L. Misalkan dari pengukuran menghasilkan
T = 2,00  0,02 ) s
L = ( 100  1 ) cm sedangkan
 = 3,14 ( dianggap tepat )
Dengan menggunakan rumus T = 2 L / g , maka
L
g = 4 2  43,14
2 100
 985,6
2,002
2
T
g L T
 2
1 0,02
 2   3%
g L T 100 2,00
hingga g  3%985,6  29,578
Mengingat bahwa ktp relatip adalah sebesar 3% maka hasil akhir harus/boleh
dilaporkan dengan 3 AB , jadi menurut pengukuran ini g = 986  30cm / s 2
atau g  9,86  0,30m / s 2

Metoda Persamaan Garis Linier.


Akan diberikan 2 cara untuk ini:
1. Setelah semua titik percobaan di-plot pada kertas grafik, garis lurus ditarik
dengan sebaik-baiknya. Walaupun cara ini kurang cermat, namun dalam
dalam beberapa cara ini sudah memadai , apalagi skala grafik sudah dipilih
dengan baik.
2. Data percobaaan tidak di-plot, melainkan langsung diolah dengan suatu
analisis yang dikenal sebagai “metoda kuadrat terkecil untuk garis lurus”
(regresi linier).
Misalnya suatu hukum fisika atau rumus sudah ‘dilinierkan’ hingga berbentuk
Y0  A  BX 0 , dan pengukuran telah dilakukan untuk selang tertentu dan

Departemen Sains IT Telkom


Modul Praktikum Fisika (FI-1901)

menghasilkan titik-titik xi  xi dan titik-titik Yi  yi . Dengan metoda


kedua diatas , kita akan mendapatkan persamaan garis lurus terbaik berbentuk
Y  a  bX dengan :
N  X i Yi    X i  Yi  X  Y   X  X Y 
2
b dan a i i i i i

N  X   X  N  X   X 
2 2 2
2
i
i i

sedangkan simpangan atau ketidakpastian dari b dalam menaksir nilai B adalah:


N dengan
b  y
N  X   X i 
2 2
i

1   Xi2 Yi   2 Xi Yi XiYi  N  XiYi  


2 2

y 
2
Yi 
2

N 2  N  Xi2   Xi  
2
 
dimana i = 1,2,3,4.......N ; N menyatakan jumlah data pengamatan besaran X
dan besaran Y.

Dalam penulisan X dan X boleh digunakan satu angka desimal lebih banyak
daripada dalam penulisan X dalam sampel. Hal ini dimungkinkan berkat
pengulangan yang telah kita lakukan (usaha lebih kita).

Ktp Mutlak , Ktp Relatip, Angka Berarti Dan Notasi Eksopnen


Perhatikan penunjukan amperemeter berikut ini :

I a  1,7  0,05mA I b  1, 74  0, 03mA


Tampak hasil pengukuran Ia lebih kasar daripada Ib. Dengan alasan ini ktp
mutlak hasil Ia harus dinyatakan lebih besar daripada Ib. JADI : Besar - kecil ktp
mutlak menyatakan kasar halusnya skala alat ukur.
Selain itu, ktp relatip kedua pengukuran diatas ialah :
Ia 0,05 Ib 0,02
  3% dan   1%
Ia 1,7 Ib 1,74
Apa tersirat dalam pelaporan seperti I a  1,7  0,05mA?

Artinya : Pertama, Pelapor hendak mengatakan tidak mengetahui dengan


tepat berapa sebenarnya arus itu, ia hanya menduga /
memperkirakan nilainya adalah sekitar 1,7 mA
Kedua, Tampak pula pelapor menggunakan dua angka berarti
(AB) sekecil itu ( hanya 2 buah ) menandakan

Departemen Sains IT Telkom


Modul Praktikum Fisika (FI-1901)

pengukuran dilakukan dengan alat yang nst-nya cukup


besar dibandingkan dengan hasil Ib.
Ib boleh dilaporkan dengan jumlah (AB) yang lebih besar
(3 buah) yakni angka 1 , 7 dan 4 sebab skala alat ukur
yang digunakan memang lebih halus (nst-nya lebih kecil).

Notasi Eksoponensial dan Angka Berarti.


Hasil suatau pengukuran sebaiknya dilaporkan dengan menggunakan notasi
eksoponensial yang merupakan cara termudah menuliskan bilangan yang besar
sekali maupun kecil sekali ( bilangan demikian sering kita jumpai dalam ilmu
fisika). Disamping itu notasi eksopnensial dengan mudah dapat menonjolkan
ketelitian yang teracapi dalam pengukuran.
Yakni dengan menggunakan jumlah angka desimal yang sesuai dengan AB yang
diperkenankan . Ketentuan ( kasar ) nya adalah:
ketelitian ( sekitar ) 10% -------- 2 AB
ketelitian ( sekitar ) 1% -------- 3 AB
ketelitian ( sekitar ) 0,1% -------- 4 AB
Dalam notasi eksponensial semua bilangan ditulis sebagai bilangan antara 1
n
dan 9 ( bilangan ini disebut ‘mantisa‘ ) dikalikan dengan faktor 10 ( disebut
orde ) . n adalah bilangan bulat positip atau negatip .

Departemen Sains IT Telkom


Modul Praktikum Fisika (FI-1901)

Modul 3
JEMBATAN WHEATSTONE

I. Tujuan :
1. Memahami prinsip dan mampu merangkai Jembatan Wheatstone
2. Dapat mengukur resistansi menggunakan Jembatan Wheatstone,
Multimeter, dan membaca pita warna resistor
3. Dapat mengolah data hasil percobaan Jembatan Wheatstone.

II. Alat-alat :
1. Catu daya 0-5 volt
2. Galvanometer
3. Resistance Decade Box (Resistor variabel)
4. Kawat dengan kontak geser
5. Kisi soket
6. 2 Buah resistor identik yang belum diketahui nilainya
7. Multimeter
8. Kabel penghubung

III. Dasar teori


A. Resistansi
Nilai resistansi R menyatakan karakteristik penghantar atau komponen
listrik yang menunjuk pada kemudahan ataupun kesulitannya
menghantarkan arus listrik. Semakin besar nilai resistansi maka semakin
kecil arus yang mengalir, begitu pula sebaliknya.
Metode untuk mengukur nilai resistansi antara lain :
a. Membaca pita warna pada resistor
b. Menggunakan Ohmmeter
c. Menggunakan jembatan wheatstone
d. Menggunalan amperemeter dan voltmeter secara bersamaan
(tidak dilakukan di praktikum ini)

Departemen Sains IT Telkom


Modul Praktikum Fisika (FI-1901)

B. Prinsip Jembatan Wheatstone


Prinsip kerja Jembatan Wheatstone didasarkan pada rangkaian dibawah ini :

Arus I yang datang di A sebagian melalui R 1 dan sebagian lainnya melalui Rb.
Jika antara C dan D terdapar beda potensial, galvanometer G akan dilalui arus,
dan jarum galvanometer akan menyimpang. Dengan mengubah-ubah
hambatan R1 dan R2 (dan juga Rb kalau perlu), dapat diusahakan agar potensial
C dan D menjadi sama. Apabila ini tercapai tidak ada arus yang melalui G dan
jarum galvanometer tidak mengalami simpangan, sehingga jembatan berada
dalam keadaan seimbang.

Jika tidak ada arus yang melalui G, arus yang melalui R1 dan R2 sama, misalnya
I1. Karena potensial titik C dan D sama, maka V AC = VAD dan VCB = VDB. Dengan
menggunakan hukum ohm dapat diturunkan hubungan :
RX = R 2 / R 1 Rb
Dalam percobaan jembatan wheatstone, hambatan R 1 dan R2 diganti dengan
sebuah batang konduktor dengan hambatan jenis seragam (uniform),

Departemen Sains IT Telkom


Modul Praktikum Fisika (FI-1901)

hambatan ini dikenal dengan hambatan geser. Hambatan konduktor


dinyatakan oleh persamaan dibawah ini.
R = ρ L/A
Dimana L adalah panjang konduktor dan A adalah penampang lintang
konduktor. Jadi besar hambatan R1 dan R2 sebanding dengan panjangnya L1,
dan L2.

Sebagai sumber tegangan digunakan catu daya 0-5 volt DC. Resistor R1 dan R2
digunakan kawat homogen sepanjang L

Pada hambatan geser terdapat kontak geser C yang digunakan untuk


mengubah besar hambatan R AC dan RAB. Dengan menggeser kontak C sepanjang
kawat dapat ditentukan kedudukan C dimana jembatan dalam keadaan
seimbang. Jika hal ini dicapai dengan AC = L, dan CB = L 2 = L -L1 maka Rx dapat
ditulis sebagai :

L  L1
Rx  Rb
L1
dengan mengukur panjang L1 dan mengetahui L serta Rb, maka Rx dapat
dihitung.

Departemen Sains IT Telkom


Modul Praktikum Fisika (FI-1901)

Prosedur Percobaan :
1. Rangkai rangkaian seperti gambar berikut

Cara merangkainya sebagai berikut :


a. Pastikan semua alat dalam keadaan 'off'.

b. Pasang kabel di catu daya positif (warna merah) dan hubungkan ke


salah satu ujung kawat (Titik A).

c. Dari ujung kawat yang sama (A), pasang kabel ke hambatan variabel
Rb (tanyakan skala hambatan variabel yang dipakai pada asisten).

d. Dari hambatan variabel, sambungkan kabel ke Galvanometer positif


(warna merah) (Titik B).

e. Pasang resistor yang akan dicari besarnya ke kisi soket (Rx), kemudian
sambungkan salah satu ujungnya ke galvanometer positif (merah)
(Titik B).

Galvanometer berfungsi sebagai pendeteksi arus. Galvanometer bisa


saja diganti dengan alat ukur arus lain seperti Amperemeter, tetapi
karena Galvanometer memiliki jarum penunjuk (titik skala 0) di tengah

Departemen Sains IT Telkom


Modul Praktikum Fisika (FI-1901)

maka lebih mudah untuk mendeteksi kondisi seimbang. Selain itu


Galvanometer memiliki skala yang kecil yaitu µA sehingga pengamatan
akan lebih teliti.

f. Dari ujung lain resistor (Rx) , sambungkan ke ujung kawat yang belum
terpasang kabel (Titik C).

g. Dari ujung kawat yang sama (Titik C), sambungkan ke catu daya negatif
(warna hitam).

h. Terakhir pasang kabel ke galvanometer negatif (warna hitam), dan


ujung yang lain ke kontak geser (Titik D).

2. Dapatkan titik setimbang dengan cara berikut

a. Posisikan kontak geser D tepat di tengah kawat hambatan.

b. Nyalakan catu daya dan putar tombol pengatur tegangan ke sekitar 3


volt.

c. Geserlah kontak geser pada kawat hingga jarum pada galvanometer


menujuk angka nol (arus melalui G nol)

d. Jika nilai arus belum nol, ubahlah nilai hambatan variabel R b hingga
keadaan tersebut terpenuhi (usahakan agar titik
keseimbangan diperoleh dengan C kira-kira di tengah-tengah). Hal ini
menjamin ketidakpastian pada Rx adalah sekecil-kecilnya.

3. Catat panjang AD (L1) dan nilai hambatan Rb.

Departemen Sains IT Telkom


Modul Praktikum Fisika (FI-1901)

L1 = ………………… cm Rb = ……….......
ohm
L2 = L – L1 = ……………………… cm

Cari nilai hambatan Rx dengan rumus


4.

L  L1
Rx  Rb
L1
Rx = ……………………… ohm

5. Cari pula ketidakpastiannya dan laporkan hasilnya.

Cara menghitung ketidak pastian :

L2
Rx = Rb
L1
Rx = L2 L 1 Rb
1

dR  dR  dR 


ΔRx = 1ΔL2 + 1ΔL1 + 1ΔRb
dL2 dL1 dRb
ΔRx ΔL2 ΔL1 ΔRb
= + +
Rx L2 L1 Rb

 ΔL ΔL ΔR 
ΔR x =  2 + 1 + b  R1
 L2 L1 Rb 
ΔRx = …………………………………… ohm

ΔRb = Ketidakpastian resistor variabel = 5% x Rb

Departemen Sains IT Telkom


Modul Praktikum Fisika (FI-1901)

ΔL1 & ΔL2 = Ketidakpastian penggaris = 1/2 x Nst penggaris

Pelaporan


Rx = Rx ± ΔRx Ω 
Rx = (……………………±……………………………) Ohm

ΔR x
x100
Tingkat Ketelitian (TK) = Rx
= ………………………………… %

6. Cari nilai hambatan Rx dengan multimeter. Caranya sebagai berikut :

a. Ubah mode multimeter ke mode ohmmeter.

b. Hubungkan ujung – ujung multimeter ke ujung-ujung resistor


dan catat hasilnya.

Pemasangan kabel positif dan negatif multimeter tidak


berpengaruh karena resistor tidak memiliki kutub positif dan
negatif.

7. Cari nilai hambatan Rx dengan membaca pita warnanya. Caranya


sebagai berikut :

a. Perhatikan tabel berikut

Departemen Sains IT Telkom


Modul Praktikum Fisika (FI-1901)

b. Cocokkan pita warna pada resistor dengan tabel diatas

1 2 3 4
Warna ke-1 merupakan digit angka pertama
Warna ke-2 merupakan digit angka kedua
Warna ke-3 merupakan bagian / angka pengali (x)
Warna ke-4 merupakan nilai persentage dari toleransi resistor
tersebut

Contoh :
Coklat – Hitam – Merah – Emas
10 x 100 = 1000 ohm (5%)
1000 ohm = 1 K (1 Kilo ohm)
jadi nilainya adalah 1K (5%)

Toleransi 5% artinya nilai resistansi resistor tersebut tidak tepat 1K,

Departemen Sains IT Telkom


Modul Praktikum Fisika (FI-1901)

nilainya berada pada rentang ±50 ohm (5% x 1000). Jadi nilai
sebenarnya berkisar antara 1050 – 950 ohm.

Warna 1 = ……………………… = ………………………….


Warna 2 = ……………………… = ………………………….
Warna 3 = …………………….. = ………………………… X
Warna 4 = ……………………… = …………………………. %
Maka resistansi resistor tersebut = ……………………………………… Ohm

8. Bandingkan nilai hambatan Rx dengan Jembatan Wheatstone,


Multimeter, dan membaca pita warna, apakah hasilnya sama? Jika
tidak sama metode mana menurut anda yang paling akurat?

Jawab :
……………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………
……………………………

9. Ulangi langkah 1 – 4 dengan merangkai seri 2 resistor.

L1 = ………………… cm Rb = ………....... ohm


L2 = L – L1 = ……………………… cm

L  L1
Rx  Rb
L1

Departemen Sains IT Telkom


Modul Praktikum Fisika (FI-1901)

Rx = ……………………… ohm

 ΔL ΔL ΔR 
ΔR x =  2 + 1 + b  Rx
 L2 L1 Rb 
ΔRx = …………………………………… ohm

Pelaporan


Rx = Rx ± ΔRx Ω 
Rx = (……………………±……………………………) Ohm

ΔR x
x100
Tingkat Ketelitian (TK) = Rx
= ………………………………… %

Bagaimana pengaruhnya terhadap besar Rb dan panjang AC? Apakah


besar Rb dan panjang AC akan lebih kecil atau sebaliknya? Mengapa
demikian?
Jawab :
……………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………
……………………………

10. Ulangi langkah 1 – 4 dengan merangkai paralel 2 resistor.

Departemen Sains IT Telkom


Modul Praktikum Fisika (FI-1901)

L1 = ………………… cm Rb = ………....... ohm


L2 = L – L1 = ……………………… cm

L  L1
Rx  Rb
L1
Rx = ……………………… ohm

 ΔL ΔL ΔR 
ΔR x =  2 + 1 + b  Rx
 L2 L1 Rb 
ΔRx = …………………………………… ohm

Pelaporan


Rx = Rx ± ΔRx Ω 
Rx = (……………………±……………………………) Ohm

ΔR x
x100
Tingkat Ketelitian (TK) = Rx
= ………………………………… %

Bagaimana pengaruhnya terhadap besar Rb dan panjang AC? Apakah besar


Rb dan panjang AC akan lebih kecil atau sebaliknya? Mengapa demikian?
Jawab :
…………………………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………………………

Aturan Penilaian :

Departemen Sains IT Telkom


Modul Praktikum Fisika (FI-1901)

TP = 20%
Praktikum = 60%
Tes akhir = 20%
Total = 100%

Departemen Sains IT Telkom