Anda di halaman 1dari 31

Kalbu

Last Updated on Wednesday, 20 October 2010 13:53 Wednesday, 20 October 2010 13:49
Written by Hamid Fahmy Zarkasyi
13Share

Akhir-akhir ini pendidikan disoroti sebagai terlalu intelektualistis. Terkadang juga dianggap
terlalu job-oriented (berorientasi kerja). Sementara pendidikan agama dituduh sebagai terlampau
spiritualistis sehingga nampak tidak rasional.

Sebenarnya pendidikan dalam Islam tidak demikian. Ia meliputi seluruh aspek dalam diri
manusia. Tidak melulu spiritualistis dan tidak pula terlalu intelektualistis atau pragmatis dan
praktis. Pendidikan dalam Islam berkaitan dengan soal ilmu dan ilmu dalam Islam berdimensi
iman dan amal. Oleh sebab itu pendidikan Islam mengharuskan pemahaman tentang dua hal:
pertama letak iman, ilmu dan amal tersebut dalam jiwa manusia. Kedua, bagaimana
menanamkan itu semua kedalam diri manusia. Sistim apa yang cocok untuk pengembangan anak
dalam berbagai aspek kejiwaannya dalam sebuah sistim pendidikan yang terpadu, perlu
dipikirkan terus menerus dan seksama.

Namun, sebelum berfikir tentang metode atau sistim perlu dijelaskan terlebih dulu konsep jiwa
manusia yang akan menjadi obyek pendidikan itu. Sebab jiwa manusia memiliki bagian-bagian
penting yang saling berkaitan.

Hakim Tirmidhi seorang ulama abad ke 9 menulis buku berjudul Bayan al-Farq, Bayn al-
Sadr,wa al-Qalb,wa al-Fuad wa al-Lub. (Penjelasan Tentang Perbedaan antara Sadr (sadar),
Qalb (kalbu/hati), Fuad (nurani) dan Lubb (akal pikiran). Istilah-istilah sadr yang dalam bahasa
Indonesia menjadi sadar-kesadaran ternyara berbeda artinya dari istilah qalb, hati atau kalbu.
Fuad yang di Indonesiakan menjadi nurani berbeda lagi dari lubb yang arti sebenarnya adalah
akal pikiran yang berimana. Ulul Albab adalah orang yang berakal fikiran tauhidi.

Namun itu semua merujuk kepada sesuatu yang bersifat batiniyah. Jika seseorang di bedah
dadanya tentu sadr, qalb, fuad dan lub itu tidak akan ditemukan secara fisik. Maka dalam buku
ini Hakim Tirmidhi menjelaskan bahwa hati atau qalb itu adalah nama yang komprehensif yang
kesemuanya bersifat batiniyah alias tidak zahir alias tidak empiris.

Sadr ada di dalam qalb seperti kedudukan putihnya mata di dalam mata. Sadr adalah pintu masuk
segala sesuatu ke dalam diri manusia. Perasaan waswas, lalai, kebencian, kejahatan, kelapangan
dan kesempitan masuk melalui sadr. Nafsu amarah, cita-cita, keinginan, nafsu birahi, itu pun
masuk kedalam sadr dan bukan kedalam qalb. Akan tetapi sadr itu juga tempat masuknya ilmu
yang datang melalui pendengaran atau khabar. Maka dari itu pengajaran, hafalan, dan
pendengaran itu berhubungan dengan sadr. Dinamakan sadr karena merujuk kepada kata sadara
(muncul), atau sadr (pusat). Jadi kesadaran adalah inti atau pusat dari hati (qalb).

Jika sadr ada di dalam qalb maka qalb itu ada dalam genggaman nafs atau jiwa. Namun, qalb itu
adalah raja dan jiwa itu adalah kerajaannya. “Jika rajanya baik” seperti sabda Nabi, “maka
baiklah bala tentaranya dan jika rusak maka rusaklah bala tentaranya”. Demikian pula baik-
buruknya jasad itu tergantung pada hati (qalb). Hati (qalb) itu bagaikan lampu dan baiknya suatu
lampu itu terlihat dari cahanya. Dan baiknya hati terlihat dari cahaya ketaqwaan dan keyakinan.

Sebagai raja qalb adalah tempat bersemayamnya cahaya Iman, cahaya kekhusyu’an, ketaqwaan,
kecintaan, keridhaan, keyakinan, ketakutan, harapan, kesabaran, kepuasan. Karena iman dalam
Islam berasaskan pada ilmu, maka qalb juga merupakan sumber ilmu. Karena sadr itu tempat
masuknya ilmu, sedangkan qalb itu tempat keimanan, maka di dalam qalb itu pun terdapat ilmu.

Jika qalb (hati) itu adalah mata maka fuad itu adalah hitamnya pupil mata. Fuad ini adalah
tempat bersemayamnya ma’rifah, ide, pemikiran, konsep, pandangan. Ketika seseorang berfikir
maka fuadnya lebih dulu yang bekerja baru kemudian hatinya. Fuad itu ada ditengah-tengah hati,
sedangkan hati ditengah-tengah sadar.

Jika qalb adalah mata, sadr adalah putih mata, fuad adalah hitamnya pupil mata, maka lubb
adalah cahaya mata. Jika qalb adalah tempat bersamayamnya cahaya keimanan dan sadr tempa
cahaya keislaman, dan fuad adalah tempat cahaya ma’rifah maka lubb berkaitan dengan cahaya
ketauhidan.
Gambaran diatas mungkin nampak terlalu spiritual atau dalam bahasa Kant transcendent. Tapi
memang proses berfikir demikian adanya. Hanya saja yang ditekankan disini bukan bagaimana
ilmu didapat akan tetapi bagaimana ia berproses menuju dari ilmu menjadi iman. Apabila
pendidikan Islam memperhatikan potensi batiniyah manusia seperti digambarkan Hakim
Tirmidhi diatas maka yang akan lahir adalah manusia-manusia tinggi ilmu dan imannya
sekaligus banyak amalnya. Yaitu manusia-manusia yang hati (qalb), kesadaran (sadr), nurani
(fuad) dan fikirannya (lubb) berjalan seimbang. Wallau a’lam

Pendidikan Spiritual?
Wednesday, 20 October 2010 12:37
Written by Dinar Dewi Kania
13Share

Peradaban Islam adalah peradaban ilmu yang menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama
dari pembangunan masyarakatnya. Islam menjadikan aktivitas mencari ilmu sebagai suatu
ibadah dan merupakan kewajiban bagi tiap individu. Ibn Khaldun mengatakan pendidikan
haruslah diletakkan sebagai bagian integral dari peradaban karena peradaban sendiri adalah isi
pendidikan. Namun, nilai ideal pendidikan Islam yang bersifat transenden dan integral, tidak
memisahkan antara alam fisik dan alam metafisik, harus tersingkir akibat beberapa faktor
eksternal maupun internal yang dialami oleh umat Islam.
Peradaban Barat yang sekular-liberal kemudian berhasil menyebarkan worldviewnya melalui
ilmu pengetahuan, baik sains maupun humaniora, ke hampir seluruh wilayah dunia dan
terjadilah seperti apa yang dibayangan filsuf asal Perancis, Auguste Comte, pada abad ke 19,
bahwa kebangkitan sains Barat akan menggantikan agama dari peradaban.

Kebangkitan sains di Barat juga telah menggantikan jiwa manusia dengan akal pikirannya.
Tubuh manusia dianggap tak lebih dari sebuah mesin yang sempurna diatur, dan bekerja dengan
prinsip-prinsip hukum matematika. Fritjof Capra seorang ilmuwan Barat dalam bukunya The
Turning Point mengungkapkan kegelisahannya. Menurutnya, saat ini para ahli dalam berbagai
bidang tidak lagi mampu menyelesaikan masalah-masalah mendesak yang muncul dalam bidang
keahlian mereka. Para ekonom tidak mampu lagi memahami inflasi%pit yang tidak cukup untuk
menyelesaikan masalah2C onkolog bingung tentang penyebab kanker, psikiater dikacaukan oleh
schizofrenia, polisi semakin tidak berdaya oleh semakin tingginya tingkat kriminalitas. Ia
menambahkan bahwa sebagian besar akademisi menganut persepsi-persepsi realitas yang sem-
masalah besar yang merupakan masalah sistemik, artinya, persoalan tersebut saling berhubungan
dan saling bergantung (Capra, 2004 : 8-9).

Problematika dunia Barat bukan sekedar problem intelektual, melainkan lebih pada krisis
emosional atau lebih tepatnya krisis eksistensial. Ketika sains menjadi menjadi agama baru
maka timbulah spiritual phatology, krisis makna, dan masalah kejiwaan lainnya. Agama Kristen
telah lama ditinggalkan oleh pengikutnya sehingga Barat sangat bergantung kepada psikologi
untuk memahami manusia dengan segala problematikanya. Psikologi klasik di Barat pada
awalnya terkait erat dengan agama Kristen, yaitu ketika pada abad ke 13, Thomas Aquinas
memadukan psikologi dengan teologi dan etika Kristiani.

Namun akhirnya psikologi berangsur-angsur mengadopsi filsafat materialisme dengan


munculnya pemikiran Decardes, dan positivisme dari tradisi sains Cartesian-Newtonian yang
mengubah secara radikal pokok kajian dan metode psikologi. Kemudian lahirlah aliran psikologi
seperti behaviorisme dalam tradisi Watson dan Skinner, dan psikoanalisis yang berasal dari
Freud. Sehingga Pada awal abad ke 20, buku-buku teks psikologi telah kehilangan semua
referensi tentang kesadaran emosi, dan kehendak .(Graham, 2005 : 34).

Selanjutnya masyarakat Barat yang rasional dan memuja metode ilmiah, tertawan oleh ide
spiritualitas dan mengadopsi budaya mistis Timur seperti Tao, Budhisme, Zen, Yoga dan
berbagai bentuk meditasi lainnya. Persentuhan tersebut memunculkan aliran psikologi seperti
psikologi humanistik serta psikologi transpersonal atau transhuman yang lebih berpusat pada
alam semesta (cosmos) dari pada kebutuhan atau kepentingan manusia. Sebuah intitusi
pendidikan di Amerika, yaitu Institut Esalen di Big Sur, California, pada awal pendiriannya di
tahun 1966, mengundang eksponen dari berbagai disiplin ilmu yang berasal dari Kebudayaan
Timur dan Barat, termasuk Yoga, meditasi, pengubah kondisi kesadaran, seni bela diri, tarian,
pemuka agama, filsuf, artis, ilmuwan, dan psikolog untuk bertukar pandangan dalam seminar
dan workshop serta program-program lainnya dalam rangka mewujudkan tujuan Institusi ini
sebagai pusat pendidikan yang mencakup dimensi spiritual dan intelektual. Pertemuan ini
diklaim telah menghasilkan berbagai pendekatan, dan juga teknik-teknik yang diturunkan dari
filsafat dan agama-agama Timur atau tradisi esoteris yang dicangkokkan pada psikologi Barat
(Graham, 2005: 73).
Topik mengenai spiritualitas kemudian bermunculan dan menjadi cover story majalah terkenal di
Amerika seperti USA Today dan Newsweek. Majalah Time pada tahun 2003 melaporkan bahwa
di Amerika, meditasi diajarkan di sekolah-sekolah, rumah-rumah sakit, firma-firma hukum,
institusi pemerintahan, kantor-kantor korporasi, dan penjara. Bahkan Hotel-hotel di wilyah
Catskills, New York, berubah menjadi tempat-tempat meditasi dengan begitu cepat sehingga
menurut Joel Stein, seorang penulis di Time, kawasan Borscht Belt beralih nama menjadi
Buddhist Belt (Aburdene, 2006 : 7).

Fenomena di atas tidaklah mengherankan, karena Barat memang memiliki kerancuan dalam
mengkonsepsikan spiritualitas dan agama disebabkan pemikiran mereka yang dualistik, yaitu
memisahkan antara dunia material dan spiritual. Sebagian besar ahli psikologi Barat memandang
spiritualitas bersifat personal dan berada pada ranah psikologis, sedangkan agama bersifat
institusional dan pada ranah sosiologis. Beberapa menyatakan bahwa agama diasosiasikan
dengan konservatif (conservatism) dan spiritualitas dikaitkan dengan keterbukaan untuk berubah
(openes to change) (Hood, 2009 : 9-10). Konsekuensinya, spiritualitas bisa dicapai dengan atau
tanpa melalui agama. Dalam konsep spiritual Barat, spiritualitas dapat dibangun melalui banyak
cara, sebagai contoh, melalui agama, pemikiran, doa, meditasi atau ritual (Best, 2000 : 10).

Konsepsi Barat tentang spritualitas yang problematis telah melatarbelakangi munculnya model
pendidikan dan pelatihan spiritual yang mengkombinasikan berbagai macam ajaran mistis, sains,
psikologi, dalam rangka membangun kecerdasan spiritual (SQ) manusia. Konsep SQ sendiri
lahir dari rahim Barat sehingga upaya-upaya meningkatkan kecerdasan spiritual ala Barat pada
umumnya tidak mengajarkan manusia menjadi makhluk yang mengakui kebesaran Tuhan dan
tunduk pada syariat yang diturunkan-Nya. Menurut Zohar, SQ merupakan perangkat kejiwaan
hasil evolusi selama jutaan tahun, yang memungkinkan manusia modern melepaskan kerinduan
spiritual mereka tanpa melalui agama formal. SQ adalah kemampuan internal bawaan otak dan
jiwa manusia, yang sumber terdalamnya adalah inti alam semesta itu sendiri, begitu pendapat
Zohar dalam bukunya Spiritual Intelligence yang telah diterjemahkan di Indonesia .

Dalam pandangan Islam, spiritualitas tidak bisa dipisahkan dari Tuhan dan agama (religion).
Spiritualitas hanya dapat diperoleh melalui jalan syariah Islam yang bersumber dalam al Quran
dan Hadits serta telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad, sahabat dan generasi salafusalih.
Jalan-jalan spiritualitas dengan mengabaikan syariah akan membuat pengikutnya jauh dari
kebenaran Islam dan pelakunya tidak akan memperoleh kedamaian hakiki di dunia maupun
akhirat.

Konsep kecerdasan spiritual dalam Islam juga sangat jauh berbeda dengan Barat karena SQ di
Barat hanya berhenti pada kesadaran bahwa manusia merupakan bagian dari sesuatu yang besar
yaitu alam semesta, sedangkan Islam menganggap alam semesta hanyalah makhluk Allah
sebagaimana manusia, yang tunduk kepada aturan dan perintah Allah. Oleh karena itu tujuan
pendidikan spiritual dalam Islam harus mampu membentuk individu-individu muslim yang
paham hakikat eksistensinya di dunia ini serta tidak melupakan hari akhir dimana dirinya akan
kembali. Sebagaimana dikatakan oleh Imam al-Ghazali bahwa pendidikan harus diarahkan
kepada realisasi tujuan keagamaan dan akhlak, dengan titik penekanannya pada perolehan
keutamaan taqarrub kepada Allah, dan bukan untuk mencari kedudukan yang tinggi atau
mendapatkan kemegahan dunia. (***)
Yahoo! Facebook RSS

Pengakuan Aktivis Gender


Last Updated on Saturday, 16 October 2010 05:16 Saturday, 16 October 2010 05:05
Written by Adian Husaini
146Share
Pada hari Sabtu, 9 Oktober 2010, bertempat di arena Indonesia Book Fair, Senayan Jakarta, saya
meluncurkan novel berjudul “Kemi: Cinta Kebebasan yang Tersesat” (Jakarta: GIP, 2010).
Novel ini saya tulis dengan tujuan memudahkan kaum Muslim Indonesia untuk memahami
pemikiran-pemikiran liberal dan bagaimana cara mengatasinya. Hingga kini, penyebaran ide-ide
liberal dilakukan melalui berbagai cara, diantaranya melalui penulisan novel, sinetron, dan film.

“Novel Kemi” ini sarat dengan pergulatan pemikiran tingkat tinggi dan pergulatan jiwa dan
pikiran para aktivis liberal. Novel ini berkisah tentang dua orang santri cerdas yang berpisah
jalan. Kemi (Ahmad Sukaimi), santri pertama, terjebak dalam paham liberalisme. Ia
mengkhianati amanah Sang Kyai. Kemi salah pilih teman dan paham keagamaan. Ujungnya, ia
terjerat sindikat kriminal pembobol dana-dana asing untuk proyek liberalisasi di Indonesia.
Nasibnya berujung tragis. Ia harus dirawat di sebuah Rumah Sakit Jiwa di Cilendek, Bogor.

Rahmat, santri kedua, selain cerdas dan tampan, juga tangguh dalam “menjinakkan” pikiran-
pikiran liberal. Rahmat disiapkan khusus oleh Kyai Aminudin Rois untuk membawa kembali
Kemi ke pesantren. Meskipun misi utamanya gagal, Rahmat berhasil “mengobrak-abrik”
jaringan liberal yang membelit Kemi. Sejumlah aktivis dan tokoh liberal berhasil ditaklukkan
dalam diskusi.

Di dalam novel ini, ada cerita Prof. Malikan, rektor Institut Studi Lintas Agama, tempat Rahmat
dan Kemi kuliah, ditaklukkan Rahmat di ruang kelas. Siti (Murtafiah), seorang aktivis
kesetaraan gender, putri kyai terkenal di Banten, terpesona oleh kesalehan, kecerdasan, dan
ketampanan Rahmat. Siti, akhirnya sadar dan bertobat, kembali ke orangtua dan pesantrennya,
setelah bertahun-tahun bergelimang dengan pikiran dan aktivitas liberal. Rahmat juga berhasil
menyadarkan “Kyai Dulpikir”, seorang Kyai liberal terkenal di Jawa Barat. Sang Kyai sempat
bertobat dan wafat di ruang seminar.

Dalam catatan ini, ada baiknya kita simak pengakuan Siti Murtafiah, setelah dia tersadar dari
kekeliruan paham liberal dan kesetaraan gender yang selama ini dia peluk dan dia perjuangkan.
Siti mengaku telah terjerat berbagai pemikiran salah, secara perlahan-lahan. Ia sadar setelah
bertemu Rahmat. Ia kemudian menyesal dan berjanji akan bertobat. Siti terpesona oleh sikap
dan pemikiran Rahmat, seorang santri kampung yang cerdas dan shalih.
Berikut ini petikan pengakuan Siti kepada Rahmat, akan kekeliruan pemikiran-pemikiran liberal
yang digandrunginya selama ini:

”Coba perhatikan, Rahmat. Saya juga baru menyadari belakangan ini. Saya sudah terseret
makin jauh. Dulu saya tertarik, karena selalu dikatakan, bahwa kita mengembangkan sikap
terbuka, kritis, rasional, tidak partisan. Tapi, ketika sudah masuk ke lingkungan ini, kita tidak
punya pilihan, kita juga dididik sangat partisan. Jika dulu orang Muslim bangga mengutip
Imam Syafii, Imam Ghazali, dan sebagainya, maka sekarang yang dibangga-banggakan adalah
ilmuwan-ilmuwan orientalis. Katanya, kritis. Bahkan, karya-karya para ulama itu diakal-akali
agar sesuai dengan pikiran mereka.

Yang tanpa sadar, kita disuruh membenci sesama Muslim, pelan-pelan kami mau tidak mau
harus mengambil jarak dari aktivitas keislaman dan komunitas Muslim. Coba kamu perhatikan,
pernah nggak kamu lihat Kemi shalat berjamaah ke masjid, aktif dalam majlis-majlis taklim,
mengajar mengaji anak-anak, shalat tahajut, puasa sunnah, dan sebagainya. Lihat, siapa
teman-teman dekatnya! Ingat nggak kata Ali bin Abi Thalib, siapa teman kepercayaan kamu,
itulah kamu.

Perhatikan juga apa yang selalu diomongkan dia. Dia tidak lagi bicara tentang aqidah Islam,
bahwa iman itu penting, kesalehan itu penting. Tidak bicara tentang bahaya kemusyrikan dan
kemurtadan. Padahal, sejak kecil di pesantren, dia sudah diajarkan kitab-kitab Tauhid yang
membahas masalah syirik. Bahkan, kata syirik, kafir, itu sudah dicoret dari kosakata dia. Syirik
dan iman dianggap sama saja. Mukmin dan tidak mukmin dianggap sama. Islam dan bukan
Islam disama-samakan. Padahal, al-Quran jelas-jelas membedakan derajat orang mukmin
dengan derajat orang kafir.

Saya kadang bertanya, mengapa saya menjadi begini. Bahkan, di kepala saya yang ada bukan
lagi bagaimana memahami al-Quran dengan baik dan benar, tetapi bagaimana agar al-Quran
bisa saya gunakan untuk mendukung pemahaman saya tentang Pluralisme, liberalisme,
toleransi, dan sebagainya. Teman saya sampai berusaha keras untuk meraih gelar doktor
dengan membuat metodologi Tafsir yang sesuai dengan pemikiran Pluralisme.

Semua itu tidak terjadi seketika. Perlu waktu panjang. Sedikit demi sedikit, pikiran dibelokkan.
Tanpa sadar. Perasaan dan pikiran dibelokkan. Saya suatu ketika bertanya kepada diri saya
sendiri, mengapa saya tidak lagi mencintai saudara-saudara saya di Palestina? Bahkan, hati
saya mulai condong pada kaum Yahudi. Saya suka melihat kemenangan Yahudi; yang saya
lakukan adalah mencari-cari kelemahan orang Palestina dan kelebihan orang Yahudi. Malah,
saya sama sekali sudah tidak peduli dengan masalah umat Islam di Kasmir, Moro, Afghanistan,
Irak, dan sebagainya. Saya menganggap semua itu adalah komoditas kaum fundamentalis untuk
mencari popularitas.

Yang lebih saya kedepankan adalah isu-isu yang dibawa oleh negara-negara Barat, seperti isu
radikalisme Islam, pluralisme, fundamentalisme, dan sebagainya. Padahal, berapa ratus ribu
bahkan jutaan penduduk sipil di negara-negara Muslim itu yang dibunuhi? Saya sudah
menganggap bahwa mereka itu semua berhak dibunuh, karena mereka bagian dari kaum
fundamentalis. Tidak ada diantara kami yang habis-habisan mengutuk pembunuhan manusia-
manusia Muslim itu. Hanya sesekali keluar pernyataan, agar tidak terlalu dianggap antek
Barat. Tapi, coba kalau ada satu saja orang bule yang tewas dibunuh oleh satu kelompok Islam,
atau ada bom meledak di suatu tempat yang menewaskan puluhan orang, maka kami akan
habis-habisan mengutuk.

Yang lain, ini yang menyadarkan saya, tiba-tiba tertanam dalam diri saya, perasaan benci pada
syariat Islam, dan bahkan benci dengan kemenangan satu partai Islam dalam Pemilu. Saya
benci sekali kalau ada orang ngomong syariat. Bahkan, saya pernah memberi masukan
teman-teman Kristen agar mereka mengeluarkan pernyataan yang menolak syariat. Saya
pernah bingung, kenapa saya bisa menjadi begini. Saya mengenakan kerudung, tetapi isi kepala
saya sama sekali tidak suka dengan kerudung. Saya benci sekali kalau ada orang Islam atau
organisasi Islam yang mencoba membatasi pakaian.

Bahkan saya pernah ikut merancang demonstrasi menentang RUU Pornoaksi dan Pornografi.
Saya benar-benar termakan paham kebebasan. Saya benci MUI, yang menurut saya sok Islam
sendiri. Saya mendukung Lia Eden, saya mendukung Ahmadiyah, saya benci semua orang Islam.
Bahkan, pernah saya membenci ayah saya sendiri, karena saya melihat dia bersama para kyai
di daerah saya mendatangi DPR, meminta agar tayangan-tayangan porno dan tidak senonoh
dihentikan penayangannya. Saya benci itu semua.

Kamu tahu Rahmat, karena untuk membuktikan saya sudah benar-benar menyatu dengan
paham kebebasan, saya mendukung hak wanita untuk menjadi pelacur. Saya menentang
penutupan komplek-komplek WTS di berbagai kota. Melacur saya anggap sebagai hak asasi
wanita. Menjadi gigolo juga hak asasi. Yang penting tidak mengganggu hak orang lain. Hak-
hak kaum homo dan lesbi juga saya perjuangkan. Sebab saya sudah dicekoki paham kebebasan,
bahwa mereka adalah manusia.

Saya tidak tahu, mengapa saya menjadi seperti ini. Semua pergaulan, kuliah, diskusi, kegiatan,
sepertinya sudah diatur sedemikian rupa, sampai saya tidak sadar, bahwa saya telah menjadi
korban dari sebuah skenario besar. Saya korban. Kemi juga korban. Entah dia sadar atau tidak.

Bayangkan Rahmat, saya ini wanita, perempuan. Sampai karena sudah begitu merasuknya
paham kesetaraan gender dalam diriku, saya tidak lagi mengakui laki-laki berhak memimpin
rumah tangga. Saya benci jika dikasihani. Pernah saya naik bus, ada seorang laki-laki
memberikan tempat duduknya karena kasihan saya berdiri, saya bentak dia. Saya mau suami
saya yang nanti melayani saya, menyediakan minum buat saya, mengasuh anak saya, dan kalau
perlu membawakan tas saya. Entah kenapa di kepala saya tertenam kebencian dan dendam
kepada laki-laki, karena mereka telah menindas kaum saya selama umur manusia.

Suatu ketika, saya merenungkan semua itu dengan serius. Mengapa saya menjadi begini?
Mengapa jadi begini? Itulah pertanyaan saya beberapa bulan terakhir ini. Saya sadar, tetapi
saya tidak tahu, bagaimana saya akan keluar dari jeratan ini. Sudah terlalu jauh... Saya sulit
keluar....Rahmat, entah bagaimana ujungnya perjalanan saya ini....”

”Saya sedih .... hati saya sangat perih... ingat ayah saya, Ibu saya, adik-adik saya...Saya dulu
ingin membuktikan kepada mereka, bahwa saya bisa mandiri, saya bisa bebas, saya mau
merdeka, saya tidak mau diatur lagi dengan berbagai belenggu. Saya minggat dari rumah,
kuliah di satu kampus Islam Jakarta, lalu terakhir terseret ke kampus ini, karena ada
beasiswa...Entahlah... sampai kapan saya akan terus seperti ini. Terkadang saya frustrasi...”

”Saya juga tidak tahu... ini sindikat atau tidak. Yang jelas, saya sudah tidak punya teman, tidak
punya komunitas, malu untuk bergaul dengan sesama Muslimah. Pikiran saya yang sudah
terjerat. Untuk membuang jerat-jerat pikiran ini tidak mudah. Saya sadar ini salah, tetapi saya
seperti tidak berdaya untuk melawannya. Belum lagi, instruksi dan program-program yang
rutin. Saya sering tak sadar menghujat-hujat Islam sendiri, memaki-maki umat Islam sendiri.
Semua itu berjalan begitu saja tanpa bisa saya hindari. Saya sudah terjerat; terjerat oleh
pikiran saya sendiri, terjerat oleh lidah saya sendiri! Saya sadar, saya geram, karena tidak
berdaya untuk melepaskan diri dari semua keterjeratan ini... Saya tidak mampu... Padahal, di
depan laki-laki saya selalu mencoba tampil perkasa, saya tidak mau dipandang rendah. Tapi,
kenyataannya, saya tidak berdaya melawan pikiran saya sendiri...”.

Demikianlah sebagian pengakuan dan pertobatan Siti, seorang aktivis gender, kepada Rahmat.
Siti akhirnya diracun oleh sindikat yang menjeratnya, karena dianggap berkhianat. Beruntung,
dia masih bisa diselamatkan. Di akhir cerita, Siti membuktikan kesungguhannya untuk bertobat.
Ia bahkan mengorbankan rasa cintanya pada Rahmat dan memilih berjuang membesarkan
pesantren ayahnya. Ia lebih mengedepankan aktivitas dakwah dan pendidikan Islam.

Kisah Siti, Kemi, dan Rahmat bisa dibaca lebih jauh dalam Novel Kemi: Cinta Kebebasan yang
Tersesat. Selamat membaca

Yahoo! Facebook RSS

Manusia Indonesia
Wednesday, 20 October 2010 13:27
Written by Adian Husaini
Share

Dalam sebuah puisinya yang bertajuk “Kisah Intan dan Batu Arang”, penyair terkenal Pakistan,
Dr. Mohammad Iqbal, memperingatkan nasib manusia-manusia yang terhina karena kelemahan
dirinya:

“Oleh sebab wujudmu belum masak,


Kau menjadi hina-terlempar
Oleh sebab tubuhmu lunak,
Kau pun dibakar orang,
Jauhilah ketakutan, duka dan musuh hati,
Jadilah kuat seperti batu, jadilah intan.”
(Terj. Oleh Kol. Drs. Bahrum Rangkuti dalam buku Asrari Khudi, Rahasia-Rasia Pribadi, 1953).

Dalam bukunya yang berjudul, Pribadi (1982, cet.ke-10), Prof. Hamka juga memberikan
gambaran tentang banyaknya sosok manusia yang pandai tetapi memiliki pribadi yang lemah.
Tulis Hamka: ”Banyak guru, dokter, hakim, insinyur, banyak orang yang bukunya satu gudang
dan diplomanya segulung besar, tiba dalam masyarakat menjadi ”mati”, sebab dia bukan orang
masyarakat. Hidupnya hanya mementingkan dirinya, diplomanya hanya untuk mencari harta,
hatinya sudah seperti batu, tidak mampunyai cita-cita, lain dari pada kesenangan dirinya.
Pribadinya tidak kuat. Dia bergerak bukan karena dorongan jiwa dan akal. Kepandaiannya yang
banyak itu kerap kali menimbulkan takutnya. Bukan menimbulkan keberaniannya memasuki
lapangan hidup.”

Gambaran buruk tentang karakter manusia Indonesia pernah disuarakan oleh budayawan dan
wartawan senior Mochtar Lubis. Dalam ceramahnya di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 6 April
1977, Mochtar Lubis mendeskripsikan ciri-ciri umum manusia Indonesia sebagai berikut:
munafik, enggan bertanggung jawab, berjiwa feodal, masih percaya takhayul, lemah karakter,
cenderung boros, suka jalan pintas, dan sebagainya. Lebih jauh, Mochtar Lubis mendeskripsikan
ciri-ciri utama manusia Indonesia:

1. “Salah satu ciri manusia Indonesia yang cukup menonjol ialah HIPOKRITIS alias
MUNAFIK. Berpura-pura, lain di muka, lain di belakang, merupakan sebuah ciri utama
manusia Indonesia sudah sejak lama, sejak mereka dipaksa oleh kekuatan-kekuatan dari
luar untuk menyembunyikan apa yang sebenarnya dirasakannya atau dipikirkannya atau
pun yang sebenarnya dikehendakinya, karena takut akan mendapat ganjaran yang
membawa bencana bagi dirinya.”
2. “Ciri kedua utama manusia Indonesia masa kini adalah segan dan enggan bertanggung
jawab atas perbuatannya, putusannya, kelakukannya, pikirannya, dan sebagainya. “Bukan
saya” adalah kalimat yang cukup populer pula di mulut manusia Indonesia.”
3. “Ciri ketiga utama manusia Indonesia adalah jiwa feodalnya. Meskipun salah satu tujuan
revolusi kemerdekaan Indonesia ialah juga untuk membebaskan manusia Indonesia dari
feodalisme, tetapi feodalisme dalam bentuk-bentuk baru makin berkembang dalam diri
dan masyarakat manusia Indonesia.”
4. “Ciri keempat utama manusia Indonesia adalah manusia Indonesia masih percaya
takhayul. Dulu, dan sekarang juga, masih ada yang demikian, manusia Indonesia percaya
bahwa batu, gunung, pantai, sungai, danau, karang, pohon, patung, bangunan, keris,
pisau, pedang, itu punya kekuatan gaib, keramat, dan manusia harus mengatur hubungan
khusus dengan ini semua…” “Kemudian, kita membuat mantera dan semboyan baru,
jimat-jimat baru, Tritura, Ampera, orde baru, the rule of law, pemberantasan korupsi,
kemakmuran yang merata dan adil, insan pembangunan. Manusia Indonesia sangat
mudah cenderung percaya pada menara dan semboyan dan lambang yang dibuatnya
sendiri.”
5. Ciri keenam manusia Indonesia punya watak yang lemah. Karakter kurang kuat.
Manusia Indonesia kurang kuat mempertahankan atau memperjuangkan keyakinannya.
Dia mudah, apalagi jika dipaksa, dan demi untuk “survive” bersedia mengubah
keyakinannya. Makanya kita dapat melihat gejala pelacuran intelektual amat mudah
terjadi dengan manusia Indonesia.”
6. “Dia cenderung boros. Dia senang berpakaian bagus, memakai perhiasan, berpesta-pesta.
Hari ini ciri manusia Indonesia ini menjelma dalam membangun rumah mewah, mobil
mewah, pesta besar, hanya memakai barang buatan luar negeri, main golf, singkatnya
segala apa yang serba mahal.” “Dia lebih suka tidak bekerja keras, kecuali kalau
terpaksa… atau dengan mudah mendapat gelar sarjana, sampai memalsukan atau
membeli gelar sarjana, supaya segera dapat pangkat, dan dari kedudukan berpangkat
cepat bisa menjadi kaya. Jadi priyayi, jadi pegawai negeri adalah idaman utama, karena
pangkat demikian merupakan lambang status yang tertinggi.” (Mochtar Lubis, Manusia
Indonesia, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2001).

Anda setuju dengan pendapat Mochtar Lubis? Maka, jika kaum Muslim Indonesia tidak mau
menjadi manusia lemah dan bangsanya bernasib hina, Mohammad Iqbal memberikan resep
sederhana:

“Biarlah cinta membakar


semua ragu dan syak wasangka,
Hanyalah kepada Yang Esa kau tunduk,
agar kau menjadi singa.

Pendidikan Karakter: Apa Lagi?


Wednesday, 20 October 2010 12:25
Written by Anita Syaharudin
17Share

Pendidikan karakter! Dua kata ini, sejak 2009 seolah menjadi primadona, khususnya dalam dunia
pendidikan. Berbagai diskusi, seminar, ceramah, dan bedah buku dilakukan untuk membahas dua
kata tersebut.

Maklum, belakangan, marak berbagai peristiwa yang mempertanyakan moral atau karakter
bangsa Indonesia. Media TV nyaris tiap hari diserbu tayangan-tayangan kekerasan.
Terbongkarnya manipulasi pajak seorang pegawai golongan rendah bernilai puluhan milyar
rupiah membelalakkan mata banyak orang. Berita pelesiran sejumlah wakil rakyat “yang
terhormat” dengan menghambur-hamburkan uang rakyat menambah perut rakyat semakin
mules. Kasus video porno tiga orang artis terkenal dan maraknya pergaulan bebas di kalangan
remaja semakin membetot perhatian pelaku dan praktisi pendidikan.

Data tentang korupsi pejabat misalnya, dari hasil riset yang dilakukan dalam Transparency
International Corruption Perceptions Index 2009, masih menempatkan Indonesia pada peringkat
yang sangat memperihatinkan. Terkait dengan penyalahgunaan narkotika, Badan Narkotika
Nasional (BNN) pada tahun 2009 tercatat adanya 3,6 juta pengguna narkoba di Indonesia, dan
41% diantara mereka pertama kali mencoba narkoba di usia 16-18 tahun, yakni usia remaja
SMP-SMU. (Republika online, 26/06/2009).

Apa yang salah dengan pendidikan kita?


Padahal, di atas kertas, tujuan pendidikan nasional yang tertuang dalam Pasal 3 Undang-Undang
tentang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003 (UU Sisdiknas), sangatlah ideal:
“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta
peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan
untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan
menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Karena tidak “nyambung” antara cita dan fakta itu lalu sejumlah tokoh pendidikan dan
pemerintah menggelorakan slogan besar: kita perlu Pendidikan Karakter! Dulu sudah pernah ada
Pendidikan Moral Pancasila (PMP), ada Pendidikan Akhlak, Pendidikan Etika, Pendidikan
Kewarganegaraan, dan sebagainya.
Lalu, apalagi “makhluk” yang bernama Pendidikan Karakter ini?

Pentingnya karakter
Sejak berabad silam para ahli dan pemikir telah menuangkan ide-ide mereka bagaimana
mendidik manusia agar menjadi manusia yang sebenarnya, yaitu manusia yang baik. Barat
mengembangkan nilai-nilai moral dan karakter yang berasal dari Yunani, sedangkan Islam
mengajarkan manusia berakhlak mulia berdasarkan petunjuk wahyu, Al-Quran dan As-Sunnah.
Akhlak atau karakter Islam terbentuk atas dasar prinsip “ketundukan, kepasrahan, dan
kedamaian” sesuai dengan makna dasar dari kata Islam.

Islam bukan hanya teori, tapi ada contoh. Nabi Muhammad SAW menjadi contoh (uswah
hasanah). Kata ‘Aisyah r.a, akhlak Rasulullah saw adalah al-Quran.

Para pemikir muslim sejak awal telah mengemukakan pentingnya pendidikan karakter. Ibn
Miskawaih ((320-421H/932-1030 M), adalah ulama klasik yang mendalami filsafat etika
sehingga dikenal sebagai Bapak Etika Islam. Dalam bukunya yang berjudul Tahdzib al-Akhlaq
Ibn Miskawaih mengemukakan pentingnya dalam diri manusia menanamkan kualitas-kualitas
akhlak dan melaksanakannya dalam tindakan-tindakan utama secara spontan. Menurutnya,
akhlak adalah "keadaan jiwa yang menyebabkan seseorang bertindak tanpa dipikirkan terlebih
dahulu”. Ia menyebutkan adanya dua sifat yang menonjol dalam jiwa manusia, yaitu sifat buruk
dari jiwa yang pengecut, sombong, dan penipu, dan sifat jiwa yang cerdas yaitu adil, pemberani,
pemurah, sabar, benar, tawakal, dan kerja keras. (Ibn Miskawaih, Tahdzib al-Akhlak, Beirut: Dar
el Kutb al-Taymiyyah, 1405H/1985M)

Al-Ghazali (1058-1111M) yang bernama lengkap Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-
Ghazali memberikan kriteria terhadap akhlak yang mirip dengan Ibn Miskawaih, yaitu bahwa
akhlak harus menetap dalam jiwa dan perbuatan itu muncul dengan mudah tanpa memerlukan
pemikiran yang mendalam atau penelitian terlebih dahulu. Akhlak bukan merupakan
"perbuatan", bukan "kekuatan", bukan "ma'rifah" (mengetahui dengan mendalam). Yang lebih
sepadan dengan akhlak itu adalah "hal" keadaan atau kondisi jiwa yang bersifat bathiniah".(Al-
Ghazali, Ihya Ulumuddin, Jilid 2, Qairo, Mesir: Daar al-Taqwa, 2000, hlm.599)

Istilah karakter berasal dari bahasa Yunani, charassein, yang berarti to engrave atau mengukir.
Membentuk karakter diibaratkan seperti mengukir di atas batu permata atau permukaan besi
yang keras. Dari sanalah kemudian berkembang pengertian karakter yang diartikan sebagai tanda
khusus atau pola perilaku (an individual’s pattern of behavior … his moral contitution) (Karen
E. Bohlin, Deborah Farmer, Kevin Ryan, Building Character in School Resource Guide, San
Fransisco: Jossey Bass, 2001, hlm.1)

Socrates (469-399 SM) menyatakan bahwa tujuan pendidikan yang paling mendasar membentuk
individu menjadi baik dan cerdas (good and smart). “Goodness is knowledge … to be good at
something os a matter of knowledge". (G.M.A. Grube, Plato’s Thought , USA: Hackett
Publishing Company, 1980, hlm. 216-217). Plato (428-348 SM), murid Socrates merefleksikan
pemikiran gurunya untuk hal yang lebih makro dari sekedar kebajikan individu menjadi
negarawan yang baik . Dalam bukunya yang terkenal, Republic, ia mengungkapkan idenya
tentang pendidikan, bahwa agar anak dapat meraih kebenaran dan kebajikan diperlukan pedoman
yang jelas moral agar dapat diaplikasikan dalam kehidupan.

Aristoteles (384-322 SM), murid Plato juga mengarahkan pendidikan kepada kebajikan atau nilai
(virtue) individu. Kebajikan atau nilai (virtue) itu mengandung dua aspek yaitu intelektual dan
moral. “Intelectual virtue in the main owes both its birth and its growth to teaching, while moral
virtue comes about as a result of habit.” (Charless Hummel, Aristotle, p.2).

Emile Durkheim (1858 –1917) seorang sosiolog dari Prancis mengatakan, bahwa masyarakat
harus memiliki nilai-nilai yang baik sebagai kontribusi warisan moral. Lebih jauh ia
mengatakan,“Society must have some good to achieve, an original contribution to bring to the
moral patrimony of mankind. Idleness is a bad counselor for collectivities as well was
individual. When individual activity does not know where to take hold, it turns against itself.
When the moral forces of a society remain unemployed, when they are not engaged in some work
to accomplish, they deviate from their moral sense and are used up in a morbid and harmful
manner.”(Emile Durkheim, Moral Education, London: Free Press of Glencoe, 1973, p. 13)

Karakter atau kehancuran


Thomas Lickona seorang pendidik karakter dari Cortland University, dikenal sebagai Bapak
Pendidikan Karakter Amerika. Ide-idenya diterapkan pada level pendidikan dasar dan
mengengah. Lickona mengungkapkan, bahwa sebuah bangsa sedang menuju jurang kehancuran,
jika memiliki sepuluh tanda-tanda zaman, yaitu, meningkatnya kekerasan di kalangan remaja,
membudayanya ketidak jujuran, sikap fanatik terhadap kelompok/peer group, rendahnya rasa
hormat kepada orang tua dan guru, semakin kaburnya moral baik dan buruk, penggunaan bahasa
yang memburuk, meningkatnya perilaku merusak diri seperti penggunaan narkoba, alkohol dan
seks bebas, rendahnya rasa tanggung jawab sebagai individu dan sebagai warga negara,
menurunnya etos kerja, dan adanya rasa saling curiga dan kurangnya kepedulian di antara
sesama.(Thomas Lickona, Educating For Character: How Our School Can Teach Respect and
Responsibility, New York:Bantam Books,1992 ,hlm 12-22).

Lickona mendefinisikan orang yang berkarakter sebagai sifat alami seseorang dalam merespons
situasi secara bermoral—yang dimanifestasikan dalam tindakan nyata melalui tingkah laku yang
baik, jujur, bertanggung jawab, menghormati orang lain dan karakter mulia lainnya. Pengertian
ini mirip dengan apa yang diungkapkan oleh Aristoteles, bahwa karakter itu erat kaitannya
dengan “habit” atau kebiasaan yang terus menerus dilakukan. Lebih jauh, Lickona menekankan
tiga hal dalam mendidik karakter. Tiga hal itu dirumuskan dengan indah: knowing, loving, and
acting the good. Menurutnya keberhasilan pendidikan karakter dimulai dengan pemahaman
karakter yang baik, mencintainya, dan pelaksanaan atau peneladanan atas karakter baik itu.(Ibid,
hlm.23).

Sebenarnya, secara materi, pendidikan karakter di sekolah-sekolah di Indonesia, sudah tercakup


dalam pelajaran Pendidikan Agama dan sebagian pendidikan lainnya. Namun seperti halnya
banyak mata pelajaran lainnya, mata ajaran itu masih lebih berorientasi pada pendekatan
kognitif melalui hafalan dan ditujukan untuk perburuan nilai semata. Artinya pembelajaran
masih berorientasi pada aspek perolehan pengetahuan semata secara akademik. Pendidikan dan
pembelajaran terhadap proses perubahan tingkah laku anak didik masih terabaikan. Jika ini
dibiarkan terus-menerus maka kesenjangan antara mengetahuan dan perilaku semakin melebar.

Oleh karenanya diperlukan usaha yang serius untuk meninjau kembali antara teori pendidikan
moral dan karakter yang diajarkan di sekolah, dan bagaimana praktek yang terjadi dalam
keseharian siswa di sekolah. Teori, yaitu mencakup dimensi dan kurikulum pendidikan karakter
apa saja yang diajarkan di sekolah, bagaimana kualifikasi atau kriteria pendidik yang semestinya,
bagaimana hal tersebut diajarkan, bagaimana sistem penilaian keberhasilan pendidikan karakter
tersebut. Lalu, lebih penting lagi, bagaimana praktek nyata dari teori-teori itu dalam bentuk
perilaku guru dan siswa di sekolah.
Juga, yang terpenting, adalah keteladanan pemimpin dan guru. Guru harus bisa menjadi contoh.
Jika guru gagal menjadi teladan, jangan heran, jika pepatah klasik berubah ekstrim: guru kencing
berlari, murid bisa mengencingi gurunya.

Jika tiada kesungguhan keteladanan, maka Pendidikan Karakter hanya akan menjadi slogan dan
menambah daftar panjang daftar kefrustrasian program pendidikan. Na’udzubillahi min dzalika.
(***)

ersedia paket ISLAMIA yang berisi 11 edisi (termasuk edisi terbaru) . Harga Rp.
200.000,- sudah termasuk ongkos kirim via Pos Kilat/TIKI. Luar pulau jawa Rp.
220.000,- via paket pos biasa . Peminat bisa menghubungi 0217940381 SMS
087878147997.

Yahoo! Facebook RSS

Prof. Dr. MLIK Badri: Psikologi Modern


Tidak Netral
24Share

Lebih dari setengah abad menggeluti psikologi modern, pakar bernama lengkap Malik Babikir
Badri ini dikenal luas lewat bukunya The Dilemma of Muslim Psychologists. Ketidakselektifan
psikolog muslim, menurutnya, telah menyebabkan mereka mengikuti pola pikir dan pendekatan
kaum Yahudi dan Kristen, meskipun cara itu berkualitas rendah dan tidak islami. Persis seperti
dinyatakan oleh Rasulullah saw dalam sebuah hadis: “… bahkan jika mereka masuk ke dalam
lubang biawak pun, orang Islam tanpa pikir panjang akan mengikutinya.” Yakni mengambil
bulat-bulat psikologi Barat modern dan menerapkannya di dunia Islam.

Prof. Malik Badri lulus dari American University of Beirut tahun 1956, meraih doktor dari
Universitas Leicester, Inggris 1961, dan mengantongi gelar profesor sejak 1971. Namanya
tercatat sebagai Fellow dan Chartered Psychologist, British Psychological Society, anggota
dewan pakar UNESCO, dan pendiri sekaligus presiden International Association of Muslim
Psychologists. Kini ia tercatat sebagai pengajar di Universitas Islam Internasional Malaysia.
Di tengah beragam kesibukannya, pria asal Sudan kelahiran 16 Februari 1932 dan ayah tujuh
anak ini, Senin (7/9) petang lalu menerima wartawan Islamia, Dr. Syamsuddin Arif, di
kantornya, di kampus Universitas Islam Internasional Malaysia (IIUM) Gombak, Kuala
Lumpur.

Apa yang melatari Anda menjadi ahli psikologi?


Awalnya saya ingin kuliah bidang farmasi. Namun, setelah mengambil mata kuliah psikologi,
minat saya berubah. Apalagi waktu itu – tahun 1950-an -- psikologi sebagai disiplin tersendiri
sama sekali belum dikenal. Di negara-negara Arab ketika itu psikologi hanya diajarkan sebagai
cabang dari ilmu pendidikan. Kemudian secara pribadi sebagai Muslim saya juga tertarik untuk
memahami ajaran agama saya terutama yang berkaitan dengan sains modern. Saya pikir, orang
Islam harus belajar psikologi agar bisa menanggulangi berbagai krisis sosial yang diimpor dari
Barat. Dua hal itulah yang mendorong saya untuk menekuni psikologi.

Banyak yang bilang gagasan ‘psikologi Islam’ itu omong kosong. Pendapat Anda?
Hemat saya, orang yang berpendapat seperti itu sesungguhnya tidak paham psikologi dan tidak
tahu Islam. Ia tidak mengerti kedua-duanya. Kalau di Barat sendiri sekarang ini hampir tidak ada
ahli psikologi yang mengingkari adanya ‘psikologi Islam’. Anehnya yang mengatakan tidak ada
‘psikologi Islam’ itu justru orang Islam yang masih yakin bahwa sebagai sebuah sains, psikologi
itu netral. Padahal, para psikolog Barat saat ini mulai menyadari bahwa ilmu psikologi yang
berkembang di Barat selama ini sesungguhnya terkait erat dengan nilai-nilai budaya mereka
(culture-bound).

Artinya, psikologi Barat itu produk orang Barat dan untuk kebutuhan masyarakat Barat. Bahkan
ahli-ahli psikologi di Inggris dan Perancis sekarang ini mulai mengeluhkan betapa kentalnya
pengaruh kultur Amerika dalam psikologi kontemporer. Karena buku-buku rujukannya karangan
psikolog-psikolog Amerika, maka mahasiswa Inggris dan Perancis sesudah lulus pun ikut-ikutan
corak dan gaya psikologi Amerika. Padahal psikologi Amerika itu dasarnya adalah eksperimen
terhadap binatang seperti tikus, monyet, kelinci, burung merpati dan mahasiswa yang
kesimpulannya belum tentu berlaku untuk manusia atau konteks budaya di tempat lain. Itulah
sebabnya sejak lama orang-orang Rusia menolak psikologi Amerika seraya membangun
psikologi Rusia yang lebih sesuai dengan dan untuk orang Rusia. Mereka berupaya membuat
teori-teori baru dan eksperimen tersendiri, seperti yang dilakukan Ivan Pavlop pada tahun 1960-
an. Kritik terhadap psikologi modern yang sekular juga banyak dilontarkan oleh kalangan
Katolik di Barat. Makanya, bagi saya, aneh kalau orang Islam masih menelan bulat-bulat
psikologi dari Barat.

Bisa Anda jelaskan apa yang salah dengan psikologi modern?


Psikologi modern dibangun diatas asumsi-asumsi yang keliru tentang manusia. Apa hakikat
manusia? Jawaban kepada pertanyaan inilah yang mendasari pelbagai teori psikologi tentang
kepribadian. Misalnya teori Sigmund Freud yang mengajarkan bahwa manusia hanyalah hewan
yang bertindak atas dorongan-dorongan seksual-agresif dari bawah-sadarnya. Dari sini ia
membangun psikoterapinya. Cara mengobati orang sakit jiwa ialah dengan membawa si pasien
keluar dari bawah-sadar ke alam sadarnya.

Ada juga Watson, yang menganggap manusia tak lebih dari hewan yang perilakunya ditentukan
sepenuhnya oleh lingkungan. Mereka ini tidak percaya akan wujudnya jiwa. Maka fokusnya
hanya lingkungan. Bagaimana mengubah perilaku manusia dengan mengubah lingkungannya.
Apakah Anda kira konsep mereka tentang manusia itu diperoleh dari penelitian di laboratorium?
Tidak. Semua itu sebenarnya hasil reka-reka semata. Nah, sebagai Muslim, Anda tentu tidak bisa
menerima pandangan-pandangan semacam itu. Konsep Islam tentang manusia kan lain. Maka
psikologi kita pun mestinya berbeda.

Yang Anda maksud dengan ‘dilemma psikolog Muslim’ itu apa?


Buku itu asalnya makalah yang saya tulis untuk pertemuan ikatan ahli ilmu sosial muslim
Amerika tahun 1976. Judulnya “Muslim psychologists in the Lizard's hole” (psikolog muslim
dalam lubang biawak) yang kemudian diterbitkan di Journal of Muslim Social Scientists,
sebelum saya kembangkan menjadi buku. Yang ingin saya tegaskan ialah psikologi itu wilayah
yang sangat luas, dimana hanya beberapa keping saja layak disebut sains, seperti neuropsikologi,
psikofarmasi, psikokimia dan sebagainya. Sementara sebagian besarnya lebih tepat disebut
sebagai ’pseudo-science’ – meminjam istilah psikolog kawakan Sigmund Koch. Ini penting
diketahui oleh psikolog muslim, terutama ketika mengajar mahasiswa. Kita mesti selektif,
pandai memilah dan memilih mana yang berguna dan mana yang bermasalah. Saya tidak
mengatakan bahwa semua teori psikologi modern harus dibuang. Misalnya, kita jelas menolak
asumsi psikologi behavioristik bahwa manusia itu hewan belaka. Tetapi terapi behavioristik yang
menekankan pentingnya imbalan dan ganjaran boleh saja kita terapkan. Namun sebagai muslim
alangkah baiknya kalau diikuti juga petunjuk dan tuntunan Islam dalam menangani penderita.
Disinilah perlunya psikolog muslim juga memiliki wawasan keilmuan Islam yang memadai.

Pandangan Anda mengenai Islamisasi psikologi?


Saya punya dua teori tentang Islamisasi. Pertama, yang saya namakan “Islamisasi A”, ialah
bagaimana kita mengubah orang menjadi Muslim yang lebih baik. Adapun “Islamisasi B” ialah
bagaimana menjadikan psikologi sebuah ilmu yang sesuai dan bermanfaat bagi umat Islam. To
use Islam to help Muslims.

Apa yang mesti dilakukan untuk membangun psikologi Islam?


Membangun psikologi Islam tidak semudah membalik telapak tangan. Ia memerlukan kerja
kolektif yang serius dan makan waktu lama. Prosesnya terdiri dari tiga tahap. Langkah pertama
yang perlu dilakukan adalah mengkaji secara intensif karya-karya ilmuwan Muslim tentang jiwa
manusia. Saya sendiri baru saja menyelesaikan sebuah buku tentang psikologi kognitif menurut
al-Balkhi. Dalam hal ini saya tidak sependapat dengan sikap kalangan tertentu yang mencemooh
kajian khazanah klasik. Sebab, kalau Anda perhatikan, orang-orang Barat sendiri selalu kembali
kepada pemikir silam semisal Plato dan Aristotle dan membanggakan tokoh-tokoh dari kalangan
mereka kepada mahasiswanya. Nah, semestinya kita juga mengenalkan para ilmuwan Muslim
kita kepada mahasiswa dan masyarakat kita.

Tahap berikutnya, setelah kajian-kajian semacam itu dilakukan, mulailah sedikit demi sedikit
membangun psikologi kita sendiri –psikologi yang berangkat dari kebutuhan dan worldview kita
sebagai Muslim. Dan ini perlu dilakukan dengan sikap “seolah-olah psikologi Barat itu tidak ada
sama sekali” (forgetting the Western psychology, as if there is no psychology at all!). Nah,
sesudah itu baru kita coba gagas teori-teori dan metode-metode baru untuk riset dan terapi. Jadi,
psikologi Islam itu bukan sekadar justifikasi ilmu Barat dengan dalil-dalil al-Qur’an dan
Hadis. (***)

Dari Tradisi Ilmu ke Peradaban Islam


(Catatan untuk 7 Tahun INSISTS)
Written by Adian Husaini
23Share

INSISTS (Institute for The Study of Islamic Thought and


Civilizatons)

I venture to maintain that the greatest challenge that has


surreptitiously arisen in our age is the challenge of knowledge,
indeed, not as against ignorance; but knowledge as conceived
and disseminated throughout the world by Western
civilization.” (Prof. Syed Muhammad Naqub al-Attas).

Tahun 2010 ini, Insitute for the Study of Islamic Thought


and Civilization (INSISTS), memasuki usianya yang
ketujuh. Tidak ada peringatan apa-apa untuk tujuh tahun
ini. INSISTS terus berjalan, sesuai visi dan misi
perjuangannya. Dua tahun lalu, saat memasuki usianya
kelimanya, INSISTS sempat menggelar acara khusus, sebuah acara tasyakkur atas lima tahun
kiprahnya dalam dunia pemikiran Islam di Indonesia. INSISTS adalah sebuah lembaga yang
selama beberapa tahun belakangan ini gencar mempromosikan gagasan dan gerakan
“membangun tradisi ilmu menuju Peradaban Islam”, melalui berbagai aktivitas workshop dan
penerbitannya.

Mengapa tradisi ilmu? Tidak ada satu peradaban yang bangkit tanpa didahului oleh bangkitnya
tradisi ilmu. Tanpa kecuali, peradaban Islam. Rasulullah saw telah memberikan teladan yang luar
biasa dalam hal ini. Di tengah masyarakat jahiliah gurun pasir, Rasulullah saw berhasil
mewujudkan sebuah masyarakat yang sangat tinggi tradisi ilmunya. Para sahabat Nabi saw
dikenal sebagai orang-orang yang “gila ilmu”.

Bukan hanya itu, tradisi ilmu Islam yang dibangun oleh Nabi Muhammad saw telah melahirkan
manusia-manusia unggulan dalam satu ”generasi sahaby” yang belum mampu dicapai oleh
peradaban manapun, hingga kini. Rasulullah saw berhasil mengubah ”masyarakat ummiy” yang
hidup dalam tradisi lisan menjadi masyarakat yang cinta ilmu dan tradisi tulis. Tradisi ilmu Islam
saat itu pun mampu mengubah masyarakat yang gila minuman keras menjadi masyarakat yang
bersih dari ”tradisi teler” hanya dalam tempo beberapa tahun saja.

Memang, peradaban yang dibangun oleh Islam adalah peradaban tauhid, yang menyatukan unsur
dunia dan akhirat, aspek jiwa dan raga. Islam bukan agama yang menganjurkan manusia untuk
lari dari dunia demi tujuan mendekat kepada Tuhan. Nabi memerintahkan umatnya bekerja keras
untuk menaklukkan dunia dan meletakkan dunia dalam genggamannya, bukan dalam hatinya.
Nabi melarang keras sahabatnya yang berniat menjauhi wanita dan tidak menikah selamanya,
agar bisa fokus kepada ibadah.

Berbeda dengan jalan pikiran banyak tokoh agama pada zaman itu, Nabi Muhammad saw justru
mendeklarasikan: ”Nikah adalah sunnahku, dan siapa yang benci pada sunnahku, maka dia tidak
termasuk golonganku.” Meskipun begitu, Rasulullah saw juga memperingatkan dengan keras:
”Jika umatku sudah mengagungkan dunia, maka akan dicabut kehebatan Islam dari mereka.”

Inilah peradaban Islam: bukan peradaban yang memuja materi, tetapi bukan pula peradaban yang
meninggalkan materi. Pada titik inilah, tradisi ilmu dalam Islam berbeda dengan tradisi ilmu
dalam masyarakat Barat yang berusaha membuang agama dalam kehidupan mereka. Dalam
tradisi keilmuan Islam, ilmuwan yang zalim dan jahat harus dikeluarkan dari daftar ulama. Dia
masuk kategori fasik dan ucapannya pantas diragukan kebenarannya. Ilmu harus menyatu
dengan amal. Inilah yang ditunjukkan oleh Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, (radhiyallahu
’anhum), Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafii, Imam Ahmad, dan sebagainya. Imam
Abu Hanifah, misalnya, lebih memilih dicambuk setiap hari, ketimbang menerima jabatan Qadhi
negara.

Tradisi ilmu dalam Islam ini berbeda dengan tradisi ilmu dalam masyarakat Yunani, yang
merupakan salah satu unsur penting peradaban Barat. Dalam bukunya, Budaya Ilmu (Satu
Penjelasan) (2003), Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud, guru besar pendidikan dan pemikiran
Islam dari Universitas Islam Internasional Malaysia, mencatat kisah Demonsthenes, seorang
filosof Yunani, yang mengungkap pandangan kaum cendekiawan yang pintar menjustifikasi
amalan bejat: “Kami mempunyai institusi pelacuran kelas tinggi (courtesans) untuk keseronokan
(keindahan. Pen.), gundik untuk kesihatan harian tubuh badan, dan istri untuk melahirkan zuriat
halal dan untuk menjadi penjaga rumah yang dipercayai.”

Karena itu, tradisi ilmu yang dibangun Islam tidaklah sama dengan tradisi ilmu yang dibangun dalam peradaban
sekular. Menurut Prof. Naquib al-Attas, pendiri ISTAC, justru konsep ilmu sekular Barat adalah sumber kerusakan
terbesar bagi umat manusia saat ini. Karena itu, saat menjadi Keynote Speaker pada Konferensi Pendidikan Islam di
Mekkah, 1977, Al-Attas menggulirkan makalah berjudul ”The Dewesternization of Knowledge.” Dan langkah awal
diajukannya untuk membangun peradaban Islam adalah “Islamisasi Ilmu.”
Untuk membangun peradaban Islam, menurut al-Attas, mau tidak mau harus dilakukan melalui
proses pendidikan, yang disebutnya sebagai “ta’dib”. Tujuan utamanya, membentuk manusia
yang beradab, manusia yang mempunyai adab. Adab adalah disiplin rohani, akli, dan jasmani
yang memungkinkan seseorang dan masyarakat mengenal dan meletakkan segala sesuatu pada
tempatnya dengan benar dan wajar, sehingga menimbulkan keharmonisan dan keadilan dalam
diri, masyarakat, dan lingkungannya. Hasil tertinggi dari adab ialah mengenal Allah SWT dan
‘meletakkan’-Nya di tempat-Nya yang wajar dengan melakukan ibadah dan amal shaleh pada
tahap ihsan. Jika konsep adab ini diterapkan dalam masyarakat, maka akan terbentuklah satu
peradaban yang dalam bahasa Melayu disebut ‘tamadun’, yang berbasiskan pada ‘ad-din’.
Madinah adalah kota dimana ”ad-Din” diaplikasikan.

Seorang dapat menjadi manusia beradab jika memiliki ilmu (knowledge) yang benar. Karena
itulah, suatu pendidikan Islam pasti akan gagal mewujudkan tujuannya jika dibangun diatas
konsep ilmu yang salah: yakni ilmu yang tidak mengantarkan seseorang kepada ketaqwaan dan
kebahagiaan. Untuk itulah INSISTS berusaha turut andil dalam sebuah proses pembangunan
peradaban Islam, dengan memulai menghidupkan tradisi ilmu Islam dalam masyarakat Islam.

Peradaban Islam memang peradaban terbuka, siap menerima unsur-unsur asing yang tidak bertentangan dengan
pandangan hidup Islam (Islamic worldview). Tetapi, INSISTS yakin, peradaban Islam hanya bisa berdiri tegak di
atas konsep pemikiran Islam (Islamic thought), dan diwujudkan oleh kaum Muslim sendiri.

Kiprah 5 Tahun

Cerita INSISTS bermula lima tahun lalu, Muharram 1424 H (tahun 2003), di Desa Segambut, Kuala Lumpur.
Berawal dari diskusi-diskusi kecil para mahasiswa ISTAC asal Indonesia dan sejumlah dosen di sana. Ada Hamid
Fahmy Zarkasyi, kyai Gontor yang belum lama lulus doktornya dari ISTAC. Ada Adnin Armas, mahasiswa ISTAC
yang ketika itu baru saja menamatkan diskusinya dengan para aktivis liberal. Ada Dr. Ugi Suharto, pakar Ekonomi
Islam alumnus ISTAC yang juga mengajar mata kuliah sejarah dan metodologi hadits di ISTAC. Ketika itu, Dr. Ugi
juga baru saja merampungkan diskusi via email soal ”Al-Quran Edisi Kritis” dengan aktivis liberal, Taufik Adnan
Amal. Dr. Ugi kini dipercaya sebagai ketua Majlis Tarjih Muhammadiyah Cabang Malaysia. Ada lagi Syamsuddin
Arif, yang juga sudah lulus doktor dari ISTAC dan masih menulis disertasi keduanya di Jerman. Ada lagi Dr. Anis
Malik Thoha, alumnus Universitas Islam Internasional Islamabad Pakistan yang pakar di bidang Pluralisme Agama.
Kini, Dr. Anis menjabat sebagai Ketua Departemen Perbandingan Agama di Universitas Islam Internasional
Malaysia, disamping sebagai Rois Syuriah NU Malaysia. Masih ada sejumlah aktivis INSISTS yang kini sedang
menyelesaikan disertasi doktornya di Kuala Lumpur, seperti Nirwan Syafrin dan Arifin Ismail.

Sebelum berangkat ke Malaysia, Januari 2003, untuk menempuh program PhD di ISTAC, saya sendiri sudah
menulis buku ”Islam Liberal: Sejarah, Konsepsi, Penyimpangan dan Jawabannya” (2002). Ketika menulis buku
ini, fokus saya masih sebatas pada kritik terhadap Jaringan Islam Liberal (JIL). Setelah banyak berdiskusi di Kuala
Lumpur, saya melihat fenomena yang jauh lebih ”mengerikan”. Dalam peta liberalisasi, JIL ternyata hanyalah
sebuah lembaga pengecer ide-ide liberal. Di inilah, saya menemukan banyak gagasan dan suasana baru dalam
pengkajian Islam. Banyak gagasan menarik yang belum pernah saya dengar sebelumnya.

Maka, kemudian, teman-teman sepakat untuk mulai menyebarkan pemikiran-pemikiran hasil diskusi terbatas di
Kuala Lumpur. Berpikir besar, berbuatlah dari yang kecil! Sebagai mahasiswa yang hidupnya serba pas-pasan
mulailah meluncurkan buletin INSISTS. Buletin dicetak hanya sekitar 150 eksemplar, dengan tebal 10 halaman.
Uangnya urunan. Edisi perdana (Maret 2003/Muharram 1424 H) menurunkan tulisan Hamid Fahmy Zarkasyi
berjudul ”Cengkeraman Barat dalam Pemikiran Islam”. Buletin ini kemudian diedarkan ke Indonesia. Infaq: Rp
2000. Edisi kedua (April 2003/Shafar 1424 H) menurunkan tulisan Syamsuddin Arif berjudul ”Jejak Kristen dalam
Islamic Studies”. Sementara itu, diskusi dua mingguan untuk para mahasiswa di Kuala Lumpur, jalan terus. Yang
presentasi makalah, gantian.

Suatu saat, datanglah Pak Edi Setiawan, pemimpin penerbitan Khairul Bayan ke Kuala Lumpur.
Kami ajak dia berkeliling kampus ISTAC, khususnya melihat-melihat perpustakaannya. Ketika
itu terucap dari Pak Edi kalimat, ”Pantas kampus ini dibekukan.” Katanya, jika ISTAC dibiarkan
berkembang, bukan tidak mungkin akan menjadi tantangan serius bagi hegemoni peradaban
Barat dalam bidang keilmuan.

Memang, ISTAC dirancang oleh Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas untuk mencetak
sarjana-sarjana Muslim yang tidak silau dengan peradaban Barat dan mampu menjawab
tantangan keilmuan yang ditimbulkan oleh peradaban Barat. Untuk itu, al-Attas membangun
kampus yang megah, indah, dengan perpustakaan kelas dunia. Bagi al-Attas, tantangan terberat
yang dihadapi umat Islam – bahkan umat manusia – saat ini adalah hegemoni peradaban Barat,
khususnya dalam bidang keilmuan. Karena itulah, sejak puluhan tahun al-Attas menjelaskan
bahaya peradaban sekular Barat dan bagaimana umat Islam harus menghadapinya secara
intelektual.

Setelah melihat-lihat ISTAC dan berdiskusi intensif dengan teman-teman INSISTS, Pak
Edi mendesak agar teman-teman INSISTS segera melakukan langkah yang nyata. Begitu balik
ke Indonesia, Pak Edi kirim SMS, agar segera dibuatkan langkah nyata untuk melanjutkan misi
INSISTS di Indonesia. ”Jika nunggu kalian pulang ke Indonesia untuk berbuat, sudah jadi apa
Indonesia?” kata Pak Edi ketika itu.

Setelah diskusi berulang kali, diputuskanlah untuk menerbitkan majalah ISLAMIA. Naskah dan
keredaksian disuplai oleh INSISTS. Seluruh redaksi bekerja secara sukarela. Urusan penerbitan
dan pemasaran diserahkan kepada ahlinya. ISLAMIA sebenarnya sebuah jurnal ilmiah dalam
bidang pemikiran Islam, yang diterbitkan dalam format majalah, untuk memudahkan pemasaran.
Edisi pertama ISLAMIA langsung menggebrak dunia pemikiran Islam di Indonesia dengan
mengangkat tema ”Tafsir versus Hermeneutika”. Melalui majalah ini, INSISTS mengeluarkan
sikapnya yang jelas dan tegas: menolak penggunaan metode hermeneutika untuk penafsiran al-
Quran.

Kajian tentang hermeneutika di ISTAC sudah dilakukan sangat intensif. Sejumlah profesor
didatangkan dari berbagai negara untuk mengajar soal hermeneutika dan tafsir. Prof. Al-Attas
adalah ilmuwan Muslim kontemporer yang secara tegas membedakan antara Tafsir dan
hermeneutika. Prof. Wan Mohd Nor, wakil al-Attas di ISTAC, dalam salah satu bukunya,
menulis bahwa hermeneutika adalah gelombang ganas yang memukul pantai pemikiran
keagamaan Islam di seluruh dunia. Hermeneutika adalah cara baru dalam memahami Kitab Suci
al-Quran yang diambil dari kaedah dan pemikiran Barat. Dalam masalah hermeneutika ini, Prof.
Wan bahkan tidak segan-segan untuk memberikan kritik terhadap gurunya sendiri di Chicago
University, yakni Fazlur Rahman, meskipun tanpa mengurangi rasa hormatnya terhadap
sumbangan Fazlur Rahman dalam aspek-aspek lain di bidang pemikiran Islam. Prof. Wan
menekankan, bahwa Islam sudah mempunyai Ilmu Tafsir yang berbeda dengan hermeneutika.
Secara terperinci, dijelaskan, bagaimana perbedaan antara Ilmu Tafsir al-Quran dengan tradisi
hermeneutika yang berkembang dalam masyarakat Yunani, India, Yahudi, Kristen dan Barat
modern.
Seperti diketahui, hermeneutika kini sudah menjadi mata kuliah wajib di sejumlah perguruan
tinggi Islam di Indonesia. Dalam berbagai workshop yang dilakukan, INSISTS kadang kala
harus terlibat dalam perdebatan hangat dengan dosen-dosen hermeneutika. Dan hingga kini,
INSISTS sering dipetakan sebagai pihak yang aktif menentang penggunaan hermeneutika untuk
penafsiran al-Quran.

Sejak didirikan, INSISTS telah melaksanakan ratusan kali seminar, workshop, pelatihan, dalam
bidang pemikiran Islam, untuk para dosen, mahasiswa, pimpinan pesantren, kalangan
profesional, dan sebagainya. Ribuan orang telah mengikuti waorkshop-workshop INSISTS di
berbagai belahan dunia (Indonesia, Malaysia, Mesir, Saudi). Kini, INSISTS masih menjalin
kerjasama dengan sejumlah universitas untuk program pelatihan pemikiran Islam bagi para
dosen dan mahasiswa. Para peneliti INSISTS juga mengembangkan mata kuliah dan kursus-
kursus Islamic Worldview. Mata kuliah ini telah diajarkan di sejumlah program pasca sarjana
studi Islam, baik di pasca sarjana Pusat Studi Timur Tengah dan Islam-Universitas Indonesia
(PSTTI), Universitas Ibn Khaldun Bogor, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Universitas
Islam az-Zahra, Institut Studi Islam Darussalam Gontor, dan sebagainya.

Secara personal, para peneliti INSISTS terus berkiprah dalam dunia pemikiran, baik melalui
penulisan buku dan artikel, aktivitas ceramah, mengajar, diskusi, seminar, dan sebagainya. Di
bidang penulisan, sejumlah buku karya peneliti INSISTS juga telah meraih prestasi penting.
Buku Wajah Peradaban Barat dan Tren Pluralisme Agama mendapat penghargaan sebagai buku
terbaik dalam Islamic Book Fair tahun 2006 dan 2007. Adnin Armas telah menulis sebuah buku
yang sangat penting dalam studi al-Quran, Metode Bibel dalam Studi al-Quran: Kajian Kritis.
Henri Shalahuddin, peneliti INSISTS yang lain, juga secara khusus memberikan kritik terhadap
pemikiran Nasr Hamid Abu Zaid, melalui bukunya, ”al-Quran Dihujat”.

Alhamdulillah, di tengah segala kekurangan dan keterbatasan, kami telah menerima begitu
banyak sambutan yang sangat patut disyukuri. Banyak mahasiswa yang merasa tercerahkan dan
bahkan ada yang mengaku ”kembali ke jalan yang benar” setelah membaca ISLAMIA dan buku-
buku para peneliti INSISTS. Meskipun sangat tertatih-tatih terbitnya, ISLAMIA telah menjadi
satu bacaan alternatif dalam bidang pemikiran Islam di Indonesia. Dan hingga kini, sudah 14
nomor berhasil diterbitkan.

Sejak bulan Maret tahun 2009, INSISTS juga telah menjalin kerjasama dengan Harian Umum
Republika, menerbitkan jurnal pemikiran Islam bulanan, yang juga diberi nama ISLAMIA.
INSISTS mendapatkan jatah empat halaman setiap bulan untuk menerbitkan artikel-artikel
tentang Pemikiran Islam. Kerjasama ini sudah lebih dari setahun masih terus berjalan.

Mengapa INSISTS sangat peduli dengan pemikiran-pemikiran sekular-liberal? Sebab, peradaban


Islam hanya bisa ditegakkan di atas bangunan pemikiran Islam. Pemikiran-pemikiran sekular-
liberal memiliki sifat dan tujuan yang jelas: merusak pemikiran Islam. Tujuan hermeneutika,
misalnya, sangatlah jelas, yakni menggusur ilmu tafsir al-Quran, dan digantikan dengan metode
penafsiran Barat yang serba relatif. Inilah yang dikatakan oleh al-Attas sebagai proses
”dewesternisasi ilmu”.
Masa depan kita

Dalam penelitian dan pengkajian lebih lanjut, INSISTS melihat tantangan berat yang dihadapi
oleh umat Islam, kini dan akan datang. Faktanya, bukan hanya ilmu-ilmu sains dan teknologi
yang terhegemoni oleh Barat. Tapi, ilmu-ilmu keislaman pun sudah terhegemoni. Melalui pusat-
pusat studi Islam di Barat, para orientalis, dulu dan sekarang, sangat aktif melakukan kajian
keislaman dan mendidik sarjana-sarjana Muslim menjadi kader-kader mereka. Banyak yang
mampu bersikap kritis terhadap kajian orientalis. Tetatpi, sangat tidak sedikit yang silau dan
terpukau dengan institusi studi Islam dan kehebatan para orientalis, sehingga seorang kandidat
doktor studi Islam di AS ada yang menyatakan, bahwa studi Islam terbaik di dunia saat ini
adalah di Amerika. Kata dia, studi Islam di Barat didasarkan pada ”kajian kritis”, bukan
”berdasar atas keimanan” (based on faith). Karena itulah, katanya, kajian Islam di Barat lebih
berkembang ketimbang di dunia Islam. Sebab, kajian mereka bersifat objektif ilmiah.

Maklum, para orientalis yang melakukan studi Islam, sangat jarang yang kemudian beriman
dengan yang mereka kaji. Ilmu dipisahkan dari iman dan amal. Inilah yang mereka katakan
sebagai model kajian objektif ilmiah. Kaum Muslim yang mengkaji agama-agama lain dalam
perspektif al-Quran langsung dimasukkan kotak: subjektif tidak ilmiah. Begitu juga jika seorang
mengkaji al-Quran, tetapi sudah mengimani dan mensucikan al-Quran, langsung dimasukkan
dalam kategori ”subjektif-ideologis”. Kata mereka, kajian Islam harus netral dari keberpihakan
ideologis. Ketika mengkaji al-Quran, mahasiswa diminta ”melepaskan keimanannya” dan
mengkaji al-Quran secara objektif. Itu yang dikatakan objektif ilmiah dan kajian kritis.
Meskipun, biasanya, sikap kritis itu hanya ditujukan kepada para ulama Islam, bukan kepada
ilmuwan-ilmuwan Barat.

Dengan metode seperti ini, maka tidak heran, jika banyak skripsi, tesis, disertasi doktor yang
diluluskan, meskipun jelas-jelas salah dan bahkan beberapa diantaranya secara terang-terangan
menghujat al-Quran. Inilah proses liberalisasi atau westernisasi ilmu, yang ironisnya, justru
terjadi secara massif dalam bidang ilmu-ilmu keagamaan (ulumuddin). Proses ini telah terjadi
selama puluhan tahun. Dan kini, semakin berjubel alumni studi Islam dari Barat yang memegang
posisi-posisi penting dalam institusi keagamaan, baik di perguruan tinggi Islam maupun di
organisasi Islam.

Menghadapi serbuan pemikiran semacam ini, secara umum, tampak kaum Muslim masih belum
menyiapkan diri dengan baik. Banyak pakar al-Quran yang berdiam diri dengan masuknya
hermeneutika, metode tafsir Bibel Yahudi-Kristen, sebagai mata kuliah wajib di jurusan tafsir-
hadits. Padahal, ada diantara mereka yang berteriak lantang menolak kedatangan delegasi
parlemen Israel ke Indonesia. Banyak dosen dan pakar yang mendiamkan saja buku-buku studi
Islam yang isinya merusak pemikiran mahasiswa, dalam berbagai bidang keilmuan.

Lihatlah, sebuah fenomena yang sudah puluhan tahun dipandang sebagai hal biasa oleh umat
Islam. Hampir di semua universitas yang membawa label Islam, fakultas yang paling tidak
diminati adalah fakultas agama Islam. Anak-anak pintar jarang yang mau terjun ke bidang studi
Islam. Mereka lebih memilih bidang kedokteran, teknik, komputer, ekonomi, hukum, dan
sebagainya. Dampak dari proses ini sangat fatal. Banyak yang terjun ke bidang-bidang
keagamaan adalah yang kapasitas otaknya pas-pasan. Perasaan minder sering menjangkiti
mereka. Bisa dipahami, jika kemudian muncul fenomena ”cultural schock” (gegar budaya) saat
berhadapan dengan peradaban Barat. Bisa dipahami jika banyak ilmuwan studi Islam yang
kemudian menjadi pemuja Barat. Bahkan, bisa ditemukan sejumlah tulisan mereka yang lebih
brutal dalam menyerang Islam dibanding kaum orientalis sendiri.

Melihat fenomena ini, INSISTS mengajak berbagai kalangan untuk mulai berpikir serius tentang
masa depan studi dan pemikiran Islam di Indonesia. Inilah jantung persoalan umat Islam di
Indonesia, yakni problem keilmuan Islam itu sendiri. Jika ilmu-ilmu agama rusak, maka tidak
mungkin melakukan proses Islamisasi terhadap ilmu-ilmu lain. Barat sepertinya tahu benar akan
nilai strategis studi Islam, sehingga mereka bersedia mengucurkan dana yang sangat besar untuk
memberi beasiswa kepada ribuan sarjana Muslim. Tidak sembarangan orang diberi beasiswa
untuk studi Islam ke Barat. Organisasi dan lembaga-lembaga Islam pun terus dibuat tergantung
hidupnya terhadap lembaga-lembaga donor Barat.

Menghadapi fenomena dan tantangan semacam ini, untuk mencegah semakin banyaknya ulama,
tokoh, dan cendekiawan yang tergelincir pemikirannya, harusnya kaum Muslim mampu
membuat rencana penyelamatan pemikiran Islam secara serius. Studi dan pemikiran Islam tidak
bisa diserahkan begitu saja ke dalam pelukan Barat dan kroninya. Kaum Muslim, khususnya
orang-orang yang pintar dan benar, harus berani terjun ke dalam arena perang pemikiran ini.

Pemikiran Islam bukan monopoli dosen dan mahasiswa IAIN/UIN/STAIN. Ke depan, pemikiran
Islam harus dikembangkan di UI, ITB, IPB, UGM, Unair, ITS, Undip, dan sebagainya. Di
kampus-kampus tersebut harus ditumbuhkan pusat-pusat studi dan pemikiran Islam yang bertaraf
internasional. Dari kampus-kampus itu nantinya harus muncul para cendekiawan Muslim yang
menguasai khazanah keilmuan Islam dengan baik. Jika kampus-kampus besar di Barat
mengembangkan studi Islam, mengapa di Indonesia tidak?

Problemnya, saat ini, nyaris belum ada dosen-dosen di kampus-kampus umum yang menguasai
bidang pemikiran Islam dengan baik. Rata-rata dosen-dosen bidang studi umum yang aktif dalam
kegiatan Islam tidak menguasai studi Islam secara akademis. Untuk itulah, INSISTS telah
melakukan rintisan pengembangan studi Islam di sejumlah kampus dalam bentuk program Pasca
Sarjana bidang Pemikiran Islam. Setiap sarjana muslim yang pintar wajib menguasai ilmu-ilmu
yang fardhu ain, disamping ilmu fardhu kifayah sesuai dengan bidang keilmuannya.

Dengan itu, ke depan, kita Insyaallah, akan melihat doktor-doktor bidang matematika yang fasih
berbahasa Arab dan terampil membaca kitab-kitab klasik tentang sains Islam. Kita juga akan
melihat, Insyaallah, seorang profesor bidang matematika yang menguasai ilmu hadits dengan
baik. Ini sangat tidak mustahil. Coba kita pikirkan, jika Habibie mau belajar bahasa Arab dan
Tafsir al-Quran dengan serius, maka dalam tempo sekitar 5 tahun saja, Insyaallah, dia sudah
dapat meraih gelar doktor dalam bidang Tafsir al-Quran yang tidak kalah mumpuni dari Quraish
Shihab.

Tetapi, di atas semua itu, tradisi ilmu yang harus dibangun dalam Islam, haruslah yang
menghasilkan ilmuwan-ilmuwan yang zuhud, yang tidak ”hubbud-dunya”, dan mencintai jihad
fi-sabilillah. Dan itu, kata Imam al-Ghazali, harus dibangun di atas landasan niat yang kokoh
dalam menuntut ilu, yakni semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah. Niat mencari ilmu
harus benar. Jika sejak awal mencari ilmu diniatkan untuk mencari dunia, maka menurut al-
Ghazali, itu adalah awal kehancuran agama.

Untuk itu INSISTS sedang berjuang mewujudkan sebuah kampus Islam Internasional di
Indonesia yang mengaplikasikan konsep keilmuan Islam secara total. Di kampus inilah,
diterapkan keilmuan Islam secara integral. Dan di kampus ini pula, para dosen dan mahasiswa
bersama-sama mengaplikasikan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Kampus ini harus
menjadi pusat studi dan pemikiran Islam internasional, dengan perpustakaan dan dosen-dosen
bertaraf internasional. Insyaallah, di sini akan berdatangan para dosen dan mahasiswa dari
berbagai negeri Islam. Ketika itu sudah terwujud, kita akan berteriak lantang: ”Tidak perlu lagi
mengirim sarjana Muslim untuk belajar Islam pada kaum Yahudi dan Kristen. Cukup belajar di
INSISTS!”

Ini bukan mimpi! Sabda Rasulullah saw: ”Ihrish ’alaa maa yanfauka, wa laa ta’jizan, wasta’in
billah.” (Bersemangatlah kamu meraih apa yang bermanfaat bagimu, dan jangan sekali-kali
merasa lemah, dan mintalah pertolongan kepada Allah). (HR Muslim). Dan kami yakin, kami
tidak sendiri. Banyak umat Islam yang memiliki cita-cita yang sama. (Juni 2010).

Prof. Dr. Sofyan Sauri


Share
Dosen yang satu ini tak bosan-bosannya bercerita tentang pentingnya penanaman nilai dalam
dunia pendidikan. Terlebih kini, saat arus sekularisme dan liberalisme telah mencengkeram
hampir seluruh sendi kehidupan manusia. Dialah Prof. Dr. Sofyan Sauri, guru besar Universitas
Pendidikan Indonesia (UPI), sekaligus ketua Program Studi Pendidikan Umum/Nilai di UPI
Bandung.
Ditemui di kantornya, di lantai enam gedung Pascasarjana UPI, Selasa (19/10/2010), Prof.
Sofyan menyempatkan diri berbagi ilmu kepada Arif Munandar Riswanto dan Agung Aditya
Subhan, dua peserta program Kader Ulama Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia di Magister
Pendidikan Nilai -- UPI.

Berikut petikan wawancaranya.

Bagaimana menurut Profesor, kondisi pendidikan Indonesia saat ini?


Pendidikan di Indonesia saat ini belum memperlihatkan hasil yang maksimal. Dengan kata lain,
pendidikan di Indonesia belum menghasilkan manusia yang baik. Pendidikan di Indonesia hanya
berorientasi untuk menghasilkan manusia yang pintar saja. Padahal, dalam pendidikan, yang
dihasilkan bukan hanya manusia yang pintar. Pendidikan di Indonesia seharusnya bisa
menghasilkan manusia yang cerdas akalnya, lembut hatinya, dan terampil tangannya. Dengan
kata lain, harusnya pendidikan bisa menghasilkan manusia yang berpikir, berzikir, dan
berikhtiar.
Apa yang harus dilakukan oleh pendidikan agar bisa menghasilkan manusia yang baik?
Untuk menghasilkan manusia yang baik, setiap pendidik harus sadar bahwa pendidikan bukan
hanya sekadar mengajarkan pengetahuan yang diajarkan. Jika pendidikan masih dipahami seperti
itu, manusia yang baik yang dicita-citakan dalam pendidikan sulit untuk lahir. Inilah pentingnya
mengapa setiap pendidik harus bisa mengajarkan nilai yang ada di balik Mata Pelajaran.

Bisa diberikan contoh?


Contohnya seperti mata pelajaran agama Islam. Ketika mengajarkan tema shalat, misalnya, guru
agama Islam jangan hanya mengajarkan pengetahuan shalat. Sedangkan nilai-nilai yang ada di
dalam shalat seperti disiplin, tanggung jawab, sopan santun, kasih sayang, dan harus taat kepada
pemimpin, tidak disampaikan. Kalaupun disampaikan, ia biasanya diberikan dengan tidak
maksimal dan tidak terencana.

Apa yang disebut dengan nilai?


Jika disederhanakan, nilai adalah hal positif atau negatif yang dipertimbangkan oleh seseorang
sehingga menjadi pilihan yang kemudian diaplikasikan dalam kehidupan.

Apakah nilai yang abstrak bisa diajarkan kepada anak didik?


Yang diajarkan dalam pendidikan nilai bukan teori. Seperti memberikan definisi bahwa yang
disebut dengan disiplin adalah bla, bla, bla, atau sopan santun yaitu bla, bla, bla. Namun,
pendidikan nilai harus diajarkan seiring dengan pembelajaran mata pelajaran. Nilai langsung
larut dalam mata pelajaran. Jadi, dalam pendidikan nilai, yang tepat bukan mengajarkan nilai,
tetapi menginternalisasikan nilai dalam pembelajaran. Kita memiliki moto, yaitu, pendidikan
nilai adalah nilai pendidikan. Dengan nilai hidup menjadi lebih bermakna.

Berarti pendidikan nilai bukan hal yang mudah dilakukan?


Betul. Ia membutuhkan para pendidik yang sadar bahwa mendidik adalah tugas dari Allah.
Tugas tersebut akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Nah, yang jadi pertanyaan,
apakah para pendidik kita memiliki kesadaran tentang hal tersebut? Karena, yang menjadi
kenyataan, tugas mendidik hanya sekadar untuk menggugurkan kewajiban. Jika seperti itu,
bagaimana tanggung jawab seorang pendidik di hadapan Allah?

Apa yang menjadi penyebab hilangnya pendidikan nilai dalam dunia pendidikan kita?
Penyebabnya adalah karena manusia sudah mendewakan otak. Manusia terlalu bangga dengan
kepintaran saja. Kita sering melihat banyak orangtua yang bangga dengan anaknya yang pintar
tetapi akhlaknya hancur. Penyebab dari hal tersebut karena masyarakat kita hanya mementingkan
dunia. Dunia adalah segala-galanya. Masyarakat kita sudah lupa tujuan hidup. Akibatnya, visi
terhadap akhirat dilupakan. Padahal, di dalam Islam, dunia dan akhirat adalah dua hal yang tidak
bisa ditinggalkan. Sebagaimana dijelaskan dalam Surat Al-Qashash ayat 77. Ayat tersebut
berbicara tentang visi hidup.

Berarti aspek akhirat sangat penting dalam pendidikan?


Oh ya. Dan, dalam tujuan pendidikan nasional kita, aspek tersebut telah dijelaskan. Seperti
tujuan untuk menghasilkan anak didik yang beriman dan bertakwa. Di sini, kita akan mengetahui
pentingnya penanaman nilai tauhid kepada anak didik. Baik dalam pembelajaran formal,
informal, ataupun non-formal.

Apakah pendidikan nilai sama dengan pendidikan karakter?


Pendidikan karakter itu sebenarnya pendidikan akhlak. Sedangkan pendidikan akhlak itu
pendidikan yang penuh dengan makna nilai. Jadi, antara yang satu dengan yang lainnya saling
berkaitan erat. Ia tidak bisa dipisahkan. Meskipun saya lebih enak menggunakan istilah
pendidikan akhlakul karimah.

Apa yang menjadi latar belakang diadakannya Program Studi Pendidikan Umum/Nilai di
UPI?
Pada awalnya, Pendidikan Umum/Nilai di UPI bertujuan untuk membekali para dosen MKDU
(Mata Kuliah Dasar Umum). Pendidikan yang diberikan adalah untuk membentuk kepribadian.
Agar ketika melakukan pembelajaran, para dosen tersebut bisa melakukan upaya memanusiakan
manusia. Namun, dalam perjalanannya, yang belajar di Pendidikan Umum/Nilai bukan dosen-
dosen MKDU saja, tetapi setiap orang dari berbagai latar belakang disiplin ilmu. Oleh karena itu,
Pendidikan Umum/Nilai terbuka untuk semua background pendidikan.

Visi dan Misi Pendidikan Umum/Nilai sendiri seperti apa?


Visinya adalah pembentukan dan pengembangan kepribadian manusia secara utuh (kaffah)
berlandaskan perangkan tatanan nilai moral dan norma luhur yang ada dan berlaku secara
universal maupun nasional sehingga terbina perikehidupan yang agamis, berbudaya, dan berdaya
guna bagi khalayak umum, bangsa, dan negara. Dengan istilah lain, melahirkan lulusan Magister
dan Doktor yang cerdas otaknya, lembut hatinya, dan terampil tangannya.
Adapun misinya antara lain, mempersiapkan pakar atau pengembang ilmu dalam bidang kajian
Filsafat Pendidikan, Sosiologi Pendidikan, Pendidikan Nilai, dan Pendidikan Agama, dalam
konteks disiplin ilmu pendidikan dan disiplin ilmu lainnya.

Saran untuk pendidikan di Indonesia?


Pemerintah harus mengubah mindset dalam melaksanakan pembelajaran. Pendidikan jangan
hanya diarahkan untuk menghasilkan anak didik yang cerdas, tetapi kemudian mengabaikan
hatinya. Namun, pendidikan harus dilakukan secara holistik. Kognitif, afektif, dan psikomotor
anak didik harus dididik. Dan, mindset seperti itu harus menjadi kebijakan pemerintah.[] (***)

Yahoo! Facebook RSS

Nasehat Imam al-Ghazali


Written by Henri Shalahuddin
64Share

"Ilmu itu cahaya", demikian petuah masyhur dari para


Hukama' dan orang-orang saleh. Ibnu Mas'ud r.a., salah
satu Sahabat Nabi berwasiat, bahwa hakekat ilmu itu bukanlah menumpuknya wawasan
pengetahuan pada diri seseorang, tetapi ilmu itu adalah cahaya yang bersemayam dalam kalbu.

Kedudukan ilmu dalam Islam sangatlah penting. Rasulullah saw., bersabda: "Sesungguhnya
Allah swt., para malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi hingga semut dalam tanah, serta ikan di
lautan benar-benar mendoakan bagi pengajar kebaikan". (HR. Tirmidzi). Nabi juga bersabda:
"Terdapat dua golongan dari umatku, apabila keduanya baik, maka manusia pun menjadi baik
dan jika keduanya rusak maka rusaklah semuanya, yakni golongan penguasa dan ulama" (HR.
Ibnu 'Abdil Barr dan Abu Naim dengan sanad yang lemah).

Mengingat kedudukannya yang penting itu, maka menuntut ilmu adalah ibadah, memahaminya
adalah wujud takut kepada Allah, mengkajinya adalah jihad, mengajarkannya adalah sedekah
dan mengingatnya adalah tasbih. Dengan ilmu, manusia akan mengenal Allah dan menyembah-
Nya. Dengan ilmu, mereka akan bertauhid dan memuja-Nya. Dengan ilmu, Allah meninggikan
derajat segolongan manusia atas lainnya dan menjadikan mereka pelopor peradaban.

Oleh karena itu, sebelum menuntut ilmu, Imam al-Ghazali mengarahkan agar para pelajar
membersihkan jiwanya dari akhlak tercela. Sebab ilmu merupakan ibadah kalbu dan salah satu
bentuk pendekatan batin kepada Allah. Sebagaimana shalat itu tidak sah kecuali dengan
membersihkan diri dari hadas dan kotoran, demikian juga ibadah batin dan pembangunan kalbu
dengan ilmu, akan selalu gagal jika berbagai perilaku buruk dan akhlak tercela tidak dibersihkan.
Sebab kalbu yang sehat akan menjamin keselamatan manusia, sedangkan kalbu yang sakit akan
menjerumuskannya pada kehancuran yang abadi. Penyakit kalbu diawali dengan ketidaktahuan
tentang Sang Khalik (al-jahlu billah), dan bertambah parah dengan mengikuti hawa nafsu.
Sedangkan kalbu yang sehat diawali dengan mengenal Allah (ma'rifatullah), dan vitaminnya
adalah mengendalikan nafsu. (lihat al-munqidz min al-dhalal)

Sebagai amalan ibadah, maka mencari ilmu harus didasari niat yang benar dan ditujukan untuk
memperoleh manfaat di akherat. Sebab niat yang salah akan menyeret kedalam neraka,
Rasulullah saw., bersabda: "Janganlah kamu mempelajari ilmu untuk tujuan berkompetisi dan
menyaingi ulama, mengolok-olok orang yang bodoh dan mendapatkan simpati manusia. Barang
siapa berbuat demikian, sungguh mereka kelak berada di neraka. (HR. Ibnu Majah)

Diawali dengan niat yang benar, maka bertambahlah kualitas hidayah Allah pada diri para
ilmuwan. "Barang siapa bertambah ilmunya, tapi tidak bertambah hidayahnya, niscaya ia hanya
semakin jauh dari Allah", demikian nasehat kaum bijak. Maka saat ditanya tentang fenomena
kaum intelektual dan fuqaha yang berakhlak buruk, Imam al-Ghazali berkata: "Jika Anda
mengenal tingkatan ilmu dan mengetahui hakekat ilmu akherat, niscaya Anda akan paham
bahwa yang sebenarnya menyebabkan ulama menyibukkan diri dengan ilmu itu bukan semata-
mata karena mereka butuh ilmu itu, tapi karena mereka membutuhkannya sebagai sarana
mendekatkan diri kepada Allah". Selanjutnya beliau menjelaskan makna nasehat kaum bijak
pandai bahwa 'kami mempelajari ilmu bukan karena Allah, maka ilmu itu pun enggan kecuali
harus diniatkan untuk Allah', berarti bahwa "Ilmu itu tidak mau membuka hakekat dirinya pada
kami, namun yang sampai kepada kami hanyalah lafaz-lafaznya dan definisinya". (Ihya'
'Ulumiddin)
Ringkasnya, Imam al-Ghazali menekankan bahwa ilmu saja tanpa amal adalah junun (gila) dan
amal saja tanpa ilmu adalah takabbur (sombong). Junun berarti berjuang berdasarkan tujuan
yang salah. Sedangkan takabbur berarti tanpa memperdulikan aturan dan kaedahnya, meskipun
tujuannya benar. Maka dalam pendidikan Islam, keimanan harus ditanamkan dengan ilmu; ilmu
harus berdimensi iman; dan amal mesti berdasarkan ilmu. Inilah sejatinya konsep integritas
pendidikan dalam Islam yang berbasis ta'dib. Ta'dib berarti proses pembentukan adab pada diri
peserta didik. Maka dengan konsep pendidikan seperti ini, akan menghasilkan pelajar yang
beradab, baik pada dirinya sendiri, lingkungannya, gurunya maupun pada Penciptanya. Sehingga
terjadi korelasi antara aktivitas pendidikan, orientasi dan tujuannya.

Ketika seseorang mempelajari ilmu-ilmu kedokteran, kelautan, tehnik, komputer dan ilmu-ilmu
fardhu kifayah lainnya, maka mereka tidak memfokuskan niatnya pada nilai-nilai ekonomi,
sosial, budaya, politik, atau tujuan pragmatis sesaat lainnya. Tapi kesemuanya ini dipelajarinya
dalam rangka meningkatkan keimanan dan bermuara pada pengabdian pada Sang Pencipta.
Disorientasi pendidikan diawali dengan hilangnya integritas nilai-nilai ta'dib dalam pendidikan
(sekularisasi). Sekularisasi dalam dunia pendidikan berjalan dengan dua hal: (a) menempatkan
ilmu-ilmu fardhu 'ain yang dianggap tidak menghasilkan nilai ekonomi dalam skala prioritas
terakhir, atau dihapus sama sekali. Sehingga mahasiswa kedokteran misalnya, tidak perlu
dikenalkan pelajaran-pelajaran agama. (b) mengutamakan pencapaian-pencapaian formalitas
akademik. Sehingga keberhasilan seorang pelajar hanya ditentukan dari hasil nilai ujian yang
menjadi ukuran pencapaian ilmu dan keberhasilan sebuah lembaga pendidikan.

Maraknya aksi corat-coret baju seragam, iring-iringan konvoi dan beragam ekspresi negatif
lainnya ketika merayakan kelulusan ujian, menjadi bukti bahwa kualitas pendidikan kita masih
difokuskan untuk pemenuhan komuditas perut yang sarat dengan nilai-nilai hedonis. Padahal Ali
bin Abi Talib ra., telah mengingatkan: "Barang siapa yang kecenderungannya hanya pada apa
yang masuk kedalam perutnya, maka nilainya tidak lebih baik dari apa yang keluar dari
perutnya". Wallahu a'lam wa ahkam bis shawab

KH. Aceng Zakaria: Segudang Karya Ilmiah


Tanpa Gelar
4Share

Menulis adalah tradisi peradaban Islam. Sejak dulu kepakaran dan keilmuan para ulama Islam
diukur dengan seberapa hebat tulisan-tulisannya. Tiap ulama kemudian berusaha menuliskan apa
saja yang mereka ketahui. Lihat Ibnu Taimiyyah, Al-Ghazali, Al-Suyuthi, Ibnu Hajar, dan
sebagainya. Mereka dikenal luas sampai masa kini, karena karya-karya mereka yang hebat.
Peradaban Islam dapat terwariskan dengan baik ke generasi berikutnya karena tradisi menulis
ini.
Di Indonesia pun, tradisi menulis ini adalah tradisi yang hidup di kalangan para ulama dan
intelektual kita. Hamka, A. Hasan, M. Natsir, Hasyim Asy’ari, Nawawi Al-Bantani, dan lainnya.
Semua dikenal dan dikenang generasi berikutnya karena tulisan-tulisan mereka. Sekalipun secara
formal tidak bergelar akademik mentereng, namun tidak ada yang meragukan keilmuan mereka.
Bersekolah formal bukan jaminan kualitas keilmuan. Yang lebih penting adalah penguasaan ilmu
yang dibuktikan dengan karya-karya mereka.

Di antara semakin sedikit ulama yang sangat peduli pada ilmu dari pada gelar akademik adalah
KH. Aceng Zakaria. Secara formal, ia hanya bersekolah sampai SD di kampung kelahirannya,
Sukarasa Wanaraja Garut. Karena lahir di lingkungan pesantren, bahkan kakek dan ayahnya
adalah kiai terkenal di kampungnya, sejak kecil ia sudah belajar berbagai kitab kuning kepada
ayahnya. Saat menyelesaikan SD, sudah enam kitab ia selesaikan.

Ketertarikannya pada kitab-kitab kuning ini membuat kiai yang kini memimpin Pondok
Pesantren Persis 99 Rancabango Garut ini memilih tidak meneruskan pendidikan formalnya. Ia
memutuskan untuk mengaji menamatkan berbagai kitab kuning kepada ayah dan paman-
pamannya. Berbagai disiplin ilmu mulai aqidah, fiqih, nahwu, sharf, tafsir, hadis, dan lainnya
berhasil dipelajari dengan baik. Lima tahun ia lakoni aktivitas itu sambil diberi tugas oleh
ayahnya mengajari santri-santri yunior. Selain itu, ia pun diberi tugas untuk bertabligh di
berbagai mesjid.

Keinginannya yang kuat untuk belajar mendorongnya untuk merantau ke Bandung. Atas saran
beberapa gurunya, ia dianjurkan menemui KH E. Abdurrahman dari Persis. Ia adalah salah
seorang murid A. Hassan yang juga saat itu (th. 1969) diamanahi menjabat Ketua Umum PP
Persis. Mulanya Ust. Abdurrahman ragu menerimanya. Perlu dimaklumi KH. E. Abdurrahman
menyelenggarakan sekolah formal sejak kelas ibtidaiyyah, tsanawiyyah, sampai mu’allimin.
Sementara itu, Aceng secara formal hanya lulus SD. Namun begitu, Ust. Abdurrahman
diyakinkan bahwa sekalipun tidak bersekolah secara formal, kemampuan dan penguasaannya
terhadap ilmu-ilmu agama bisa lebih baik dari yang bersekolah formal. Setelah dites, Aceng
Zakaria diizinkan masuk ke kelas mu’allimin, kelas tertinggi yang dibuka KH. E. Abdurrahman
di Pesantren Pajagalan Bandung.

Karena kemampuannya yang baik, hanya 1,5 tahun pria kelahiran tahun 1948 ini menyelesaikan
studi formalnya. Kemudian Ust. Abdurrahman menugaskannya untuk mengajar di Pesantren
Pajagalan. Sambil mengajar, ia tetap diharuskan mengaji berbagai kitab yang belum dipelajari
langsung kepada Ust. Abdurrahman. Berbagai kitab seperti Tafsir Ibnu Katsir dan lainnya
diselesaikan secara sorogan kepada Ust. Abdurrahman selama ia mengajar di Pesantren
Pajagalan Bandung.

Selain mempelajari berbagai disiplin ilmu, jiwa enterpreuneursip¬-nya sudah diasah sejak kecil.
Saat mengaji di kampung pada ayahnya, siang hari ia sudah biasa dilatih bertani dan menjual
hasilnya ke pasar di waktu-waktu senggang saat tidak ada jadwal mengaji dan mengajar.
Biasanya aktivitas ini dilakukannya siang hari. Saat di Bandung, bersama beberapa saudaranya ia
kadang ikut berjualan. Ia sempat berjualan arloji dan barang-barang lain. Kebiasaan ini secara
tidak langsung mendidiknya untuk hidup mandiri. Hingga saat ini, ia lebih banyak
menggantungkan hidupnya pada usaha sendiri.
Kebiasaannya menulis sudah dilakukannya sejak mengaji pada ayahnya dulu. Selepas mengaji ia
sering menuliskan khulâshah (ringkasan) berbagai kitab yang telah dipelajarinya. “Sambil belajar
dan bertabligh, saya mulai belajar menuliskan apa yang selama ini saya pelajari. Bahkan
manuskripnya masih ada tersimpan rapi”, kenang ayah depalan anak ini. Kebiasaan inilah yang
membuatnya sangat gemar menulis.

Sampai saat ini tidak kurang lima puluh (50) judul buku yang telah ditulis oleh kiai yang juga
menjabat Ketua Bidang Tabiyah PP Persis ini. Buku-buku yang ditulisnya pun sangat beragam
mulai dari Ilmu Nahwu, Sharf, Ushul Fiqih, Musthalah Hadis, Fiqih Muqâranah, Tafsir, sampai
tema-tema aktual kontemporer. Apa yang ditulisnya menunjukkan keluasan penguasaan ilmunya
dalam berbagai bidang. Tipikal para ulama yang dididik dengan model persantren turats memang
tidak fakultatif. Semua ilmu sesuai dengan hirarki ilmu yang dikenal dalam tradisi Islam
diajarkan.

Diantara buku yang paling fenomenal yang ditulisnya adalah Al-Muyassar Fi ‘Ilm Al-Nahwi.
Buku ini sudah dicetak lebih dari tiga puluh kali sejak pertama kali terbit tahun 1980-an. Tidak
hanya santri-santri di Pesantren Persis yang mendapat manfaat dari buku ini. Berbagai kalangan
dari mulai mahasiswa sampai eksekutif yang ingin mempelajari ilmu nahwu banyak yang
menggunakan buku ini. Tidak heran kalau sampai saat ini sudah lebih dari 150 ribu copy buku
ini tersebar ke seluruh Indonesia. “Bahkan buku ini digunakan juga sebagai bahan ajar Ilmu
Nahwu praktis di Malaysia”, tutur Ketua STAI Persis Garut ini.

Al-Muyassar ini merupakan rangkuman ilmu nahwu yang mengadaptasi metode praktis sehingga
mudah dipahami para pemula, namun tidak juga terlalu enteng untuk pelajar tingkat lanjut. Ust.
Aceng, demikian ia akrab disapa, menyusun kitab ini sejak tahun 70-an. Ia mengujicobakannya
terlebih dahulu di berbagai tempat, baik kepada santrinya maupun kepada jamaah pengajiannya
yang meminta diajarkan ilmu nahwu. Setelah diujicoba selama sepuluh tahun lebih, barulah buku
ini dicetak. Hasilnya sangat memuaskan. Saat ini siapapun yang belajar di Pesantren Persis, pasti
akan mempelajari buku ini untuk pelajaran ilmu nahwu (gramatika Bahasa Arab).

Selain Al-Muyassar, buku fenomenal lain karangan KH Aceng Zakaria adalah Al-Hidâyah fî
Masâ’il Fiqhiyyah Muta‘âridhah. Buku ini berisi tentang pembahasan perbedaan-perbedaan
pendapat dalam fikih beserta pemecahannya. Boleh dikatakan buku ini semacam buku fikih
perbandingan (fiqih muqâranah) yang jarang ditulis oleh para ulama Indonesia, apalagi dalam
bahasa Arab. Tidak heran bila Prof. Umar Hasyim, mantan Rektor Univ. Al-Azhar Mesir
memberikan penghargaan yang sangat tinggi pada buku ini saat Ust. Aceng berkunjung
menemuinya ke Mesir. Ia memberikan sambutan resmi untuk buku ini. Sejak tahun 1986, buku
ini sudah dicetak lebih dari sepuluh kali. Bahkan saat ini, para pembaca pemula bisa membaca
edisi terjemahan bahasa Indonesianya dalam tiga jilid.

Buku-buku lain yang telah diterbitkan diantaranya adalah: Kesalahan Umum dalam Pelaksanaan
Sholat, Etika Hidup Seorang Muslim, Materi Dakwah, Doa-doa Shalat, Mengungkap Makna
Syahadat, Bai’at dan Berjama’ah, Belajar Nahwu Praktis 40 Jam, Belajar Tashrif Sistem 20 Jam,
Kamus Tiga Bahasa (Arab-Indonesia-Inggris), Haramkah Isbal dan Wajibkah Jenggot?, Sakitku
Ibadahku, Jabatanku Ibadahku, Al-Kâfi fi Al-Ilm Al-Sharfi, Tarbiyyah Al-Nisâ, Kitab Al-Tauhid
(3 jilid), Ilm Al-Mantiq, Al-Bayân Fi ‘Ulûm Al-Quran, Adâb Al-Muslim, Tarbiyyah Al-Nisâ,
serta belasan buku lainnya yang ditulis dalam bahasa Arab dan Indonesia.

Saat ini, selain menjadi Pimpinan Pondok Pesantren Persatuan Islam 99 Rancabango Garut,
beliau menjadi salah satu anggota Dewan Hisbah Pimpinan Pusat Persatuan Islam, Pengurus dan
Anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Garut, Ketua Badan Kerjasama Pondok
Pesantren se-Indonesia (BKSPPI) Kabupaten Garut.

Aktivitas dakwah yang beliau geluti sangat luas. Selain aktif berdakwah di lingkungan Persatuan
Islam, Kyai Aceng tercatat sebagai instruktur tetap Kursus Kesejahteraan Rohani (KKR)
Pengajian Wanita Salman ITB Bandung, instruktur tetap pada Training Haji di berbagai instansi,
penceramah rutin di Yayasan Madani Geologi ITB Bandung, pengisi rutin kuliah subuh di
berbagai radio dan acara Cahaya Kalbu di TVRI Jabar-Banten, serta seabreg aktivitas dakwah di
tempat lainnya.

Kyai Haji Aceng Zakaria menjadi teladan menarik bagi pecinta dan pegiat ilmu. (***)