Anda di halaman 1dari 22

PERADILAN ISLAM

MASA UMAR BIN KHATTAB

Disusun Oleh:
Anwar Nuris
Alfi Rohmatin

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam kitab Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu bab Qadha’ oleh Wahbah
Zuhaili dijelaskan bahwa salah satu hikmah diadakannya peradilan adalah untuk
mewujudkan keinginan manusia, yaitu menghilangkan perselisihan, dan menjaga
hak-hak mereka. Hal ini menunjukkan bahwa eksistensi peradilan islam
merupakan hal yang urgen bagi seluruh manusia.
Umar adalah sahabat dan Khalifah yang memimpin paling lama
dibandingkan dengan Khulafa’ ar-Rasyidin yang lain. Beliau memegang estafet
pemerintahan islam selama 10 tahun. Oleh karena itu, selama masa yang cukup
lama ini beliau banyak menghasilkan kebijakan-kebijakan baru- yang berkaitan
dengan agama atau pemerintahan- yang sebelumnya -baik pada zaman Nabi
maupun Abu Bakar- belum pernah ada. Hal ini disebabkan karena perluasan
wilayah islam semakin melebar, sehingga akulturasi budaya islam dengan budaya
lokal secara apriori tidak dapat dihindarkan.
Termasuk dalam hal peradilan. Di zaman Umar juga mengalami banyak
reformulasi dan rekonstruksi kebijakan. Sehingga tidak berlebihan jika Umar
dikatakan sebagai seorang yang reformis (mujaddid).

1
Pemerintahan juga memegang peranan penting dalam perkembangan
peradilan. Di masa Umar faktor pemerintahanlah yang mengakibatkan perubahan
dalam peradilan. Seperti adanya pemisahan kekuasaan antara Eksekutif dan
Yudikatif. Oleh karena itu, membahas peradilan di masa Umar tanpa mengetahui
kondisi pemerintahannya akan menghasilkan pemahaman yang parsial.
Selain itu, Umar-lah yang sebenarnya pencetus teori trias politika. Pada
periode kepemimpinannya dalam islam (13-23 H/634-644 M). Akan tetapi pada
waktu hanya nampak pada tataran praksis dan belum menjadi sebuah teori ilmiah
sebagaimana yang dilakukan oleh ilmuan barat pada beberapa abad kemudian.

B. RUMUSAN MASALAH

1. Bagaimana Kondisi Pemerintahan Islam Pada Masa Umar ?

2. Bagaimana Perkembangan Peradilan Islam Pada Masa Umar ?


3. Bagaimana Metode Pengambilan Hukum Pada Masa Umar ?

C. TUJUAN
1. Untuk Mengetahui perkembangan Pemerintahan Islam pada masa Umar.
2. Memahami Perkembangan Peradilan Islam Pada Masa Umar.
3. Memahami Metode Pengambilan Hukum Dalam Peradilan Islam Pada
Masa Umar.

2
BAB II
PEMBAHASAN

1. Kondisi Pemerintahan Islam Masa Umar


Umar bin Khattab (583-644) memiliki nama lengkap Umar bin Khattab
bin Nufail bin Abd Al-Uzza bin Ribaah bin Abdillah bin Qart bin Razail bin ‘Adi
bin Ka’ab bin Lu’ay adalah khalifah kedua yang menggantikan Abu Bakar Ash-
Shiddiq.1 Dia adalah salah seorang sahabat terbesar sepanjang sejarah sesudah
Nabi SAW. Kebesarannya terletak pada keberhasilannya, baik sebagai negarawan
yang bijaksana maupun sebagai mujtahid yang ahli dalam membangun Negara
besar yang didirikan atas prinsip-prinsip keadilan (wisdom), persamaan (equality),
dan persaudaraan yang diajarkan oleh Nabi muhammad SAW. Dalam banyak hal,
Umar bin Khattab dikenal sebagai tokoh yang sangat bijaksana dan kreatif,
bahkan genius.
Sebelum masuk islam, Umar termasuk diantara kaum kafir Quraisy yang
paling ditakuti oleh orang-orang yang sudah masuk islam2. Dia adalah musuh dan
penentang Nabi Muhammad SAW yang paling ganas dan kejam, bahkan sangat
besar keinginannya untuk membunuh nabi Muhammad dan Pengikut-
pengikutnya. Dia sering menuduh menyebar fitnah dan menuduh Nabi sebagai
penyair tukang tenung.
Setelah masuk agama islam, pada bulan Dzulhijjah enam tahun setelah
kerasulan Nabi kepribadiannya bertolak belakang dengan keadaan sebelumnya.
Dia berubah menjadi seorang yang gigih dan setia membela islam. Dan menjadi
sahabat terkemuka dan paling dekat dengan Nabi serta menjadi orang besar dalam
sejarah islam3. Ia memerintah selama 10 tahun (13 H/ 624 M - 23 H/ 634 M)4.
Setelah wafatnya Abu Bakar RA, kekhalifahan dipegang Sayyidina Umar
bin Khattab RA. Pada saat ini, daerah Islam semakin luas. Tugas-tugas
pemerintahan dalam bidang politik, sosial, dan ekonomi semakin rumit. Khalifah

1
Departemen Agama, Ensiklopedi Islam, Jilid III. (Jakarta: Depag, 1993). Hlm. 1256.
2
Dewan Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam, Jilid. I, (Jakarta: ikhtiar baru Van Hoeve, 1993),
hlm. 1256.
3
Untuk lebih lengkapnya Lihat Muhammad Husain Haekal, Umar bin Khattab, Terj. Ali
Audah. Cet. III. (Bogor: PT. Pustaka Litera AntarNusa, 2002), hlm. 15-33. lihat pula Dedy
Supriyadi, Op. Cit., hlm. 78.
4
Dedy Supriyadi, sejarah Peradaban Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2008), hlm. 80.

3
Umar RA juga mulai sibuk dengan peperangan yang berlaku antara negara Islam
dengan Parsi dan Romawi. Dengan semua kesibukan ini, Umar tidak sempat
untuk menyelesaikan semua masalah peradilan. Maka dari itu, beliau memutuskan
untuk mengangkat hakim yang berada di luar kekuasaan eksekutif. Ini adalah
pertama kali pemisahan antara kekuasaan eksekutif dan yudikatif terjadi.
Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, keadaan daerah kekuasaan Islam
semakin luas dan pemerintahan menghadapi berbagai masalah politik, ekonomi,
sosial dan budaya, disebabkan terjadinya akulturasi budaya, sehingga Umar perlu
untuk memisahkan kekuasaan Eksekutif dan Yudikatif (Kekuasaan Pemerintahan
dan Peradilan). Dan Umar bin Khattab mengangkat Abu Darda' sebagai Qadli di
kota Madinah, Syuraih di Basrah, Abu Musa al Asy'ary di Kufah, dan Syuraih bin
Qais bin Abil Ash di daerah Mesir5.
Umar bin Khattab dikenal dengan seorang moderenis. Sejarah
membuktikan bahwa Umar bin Khattab memperkenalkan sebuah sistem
administrasi pemerintahan. Dan membentuk badan yaitu Majlis Syuro serta
Majelis Penasehat. Selain itu beliau membentuk Dewan Keuangan Negara, yang
bernama al-Diwan, baik di tingkat pusat maupun propinsi6.
Karena perluasan daerah terjadi dengan cepat, Umar segera mengatur
adminsitrasi negara dengan mencontoh administrasi yang sudah berkembang
terutama di Persia. Administrasi diatur pemerintahan menjadi delapan propinsi:
Makkah, Madinah, Syiria, Jazirah, Basrah, Kufah, Palestina, dan Mesir. Beberapa
departemen yang dipandang perlu didirikan. Pada masanya mulai diatur dan
ditertibkan sistem pembayaran gaji dan pajak tanah. Pengadilan didirikan dalam
rangka memisahkan lembaga yudikatif dengan eksekutif. Untuk menjaga
keamanan dan ketertiban, jawatan kepolisian dibentuk. Demikian pula jawatan
pekerjaan umum, Umar juga mendirikan Baitul Mal, menempa mata uang, dan
menciptakan tahun Hijriyah7.
Yang dilakukan Umar bin Khattab dalam memperbaiki dan
menyempurnakan sistem pemerintahan beliau membentuk propinsi-propinsi baru
5
http://rangerwhite09-artikel.blogspot.com/2010/04/sejarah-peradilan-islam-masa-khulafaur.html:
Posted by Syifaul Qulub S.Hi at 11:56 AM.
6
K. Ali, A Study Of Islamic History, Terj. Ghufron A. Mas’adi, Cet. III, (Jakarta: Grafindo
Persada, 2000), hlm. 115-116.
7
Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam. (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada , 2004), hlm.
37.

4
seperti Makkah, Madinah, Syiria, Jazirah, Basroh, Kufah, Palestina dan Mesir.
Selain itu untuk lebih membantu propinsi, Makkah dibentuklah departemen-
departemen yang bermaksud mengefektifkan kerja khalifah, ini sudah merupakan
bentuk pemerintahan yang sangat efektif dan melampaui zaman. Membentuk
jawatan kepolisian, pekerjaan umum dan Baitul Mal yang bertujuan menjaga
stabilitas negara sehingga program pemerintahan berjalan dengan lancar.
Umar melakukan reformasi dalam pemerintahan. Selama memimpin
dalam kurun waktu sepuluh tahun, ia termasuk pemimpin berhasil terutama bagi
kesejahteraan rakyat dan peraturan islam yang semakin kokoh dalam
pemerintahannya, ada Majlis Syura’ karena bagi Umar tanpa musyawarah, maka
pemerintahan tidak bisa berjalan.
Di sisi lain, ia bukan hanya menanamkan nasionalisme arab – untuk arab
demi kekuasaan dan kesatuan negara- juga yang paling utama adalah, in arabia
there shall be no faith but the faith of islam. Dapat diartikan, bahwa di negeri arab
tidak akan ada kepercayaan (kesetiaan) selain islam. Umar mengusir Yahudi dari
Khaibar dan Kristen di Nasran. Namun demikian, mereka mendapatkan ganti rugi.
Mereka (dzimmi) dengan membayar jizyah (pajak) akan dijamin keamanannya
oleh pemerintah islam8. Meskipun demikian, Yahudi dan Nasrani seringkali
merongrong pemerintahan islam.
Umar membentuk departemen dan membagi daerah kekuasaan islam
menjadi delapan propinsi. Setiap propinsi dikepalai oleh Wali (Amir dalam istilah
kekhalifahan Muawiyah, Umayyah). Setiap propinsi didirikan kantor Gubernur.
Tugas-tugas seorang gubernur disamping sebagai kepala pemerintahan daerah,
juga sebagai pemimpin agama, memelihara keamanan dan ketertiban di daerah,
memimpin ekspedisi militer dan mengawasi pelaksanaan pungutan pajak.
Umar juga membentuk kepala distrik yang disebut Amil. Pada masanya, setiap
jabatan pemerintahan sebelum diambil sumpah terlebih dahulu diaudit harta
kekayaannya oleh tim yang telah dibentuk oleh Umar. Kebijakan yang paling
fenomenal adalah kebijakan ekonomi Umar di Sawad (daerah subur).
Pranata sosial politik lain Negara Madinah yang dibangun oleh Khalifah
Umar adalah pelaksanaan administrasi pemerintah di daerah dengan menerapkan
8
A.F.M. Shamsur Rahman, Spaine Musalmander Itihash. (Khulna: Piramaund Press, 1977), hlm.
49-50.

5
sistem Desentralisasi, yaitu pelimpahan wewenang dan otonomi seluas-luasnya
kepada pemerintah daerah. Wilayah kekuasaan Negara Madinah yang luas itu ia
bagi ke dalam delapan propinsi, yaitu Madinah, Mekkah, Syria, Jazirah, Basrah,
Kufah, Mesir, Palestina. Untuk setiap propinsi Umar mengangkat seorang
gubernur yang disebut Wali atau Amir yang berkedudukan sebagai pembantu atau
wakil Khalifah di daerah.
Di bidang pranata sosial ekonomi, khalifah Umar sangat memperhatikan
kesejahteraan rakyat dan pegawai Negara. Hal ini sangat memungkinkan karena
pendapatan Negara di masanya melimpah. Sementara penyelewengan kekayaan
negara relatif kecil karena para pejabat, pegawai dan tentara diberi penghasilan
yang cukup serta peraturan yang tegas tidak memberi peluang untuk itu9.
Adapun kekuasaan eksekutif dipegang oleh Umar bin Khhattab dalam
kedudukannya sebagai kepala Negara. untuk menunjang kelancaran administrasi
dan operasional tugas-tugas eksekutif, Umar melengkapinya dengan beberapa
jawatan, diantaranya:
1. Diwan al-kharraj (jawatan pajak).
2. Diwan alddats (jawatan kepolisian).
3. Nazar al-nafi’at (jawatan pekerjaan umum).
4. Diwana al-jund (jawatan militer).
5. Bait al-Mal (baitul mal)10.
Sistem yang dijalankan oleh khalifah Umar ini sudah sangat baik sekali.
Dan mungkin sudah sangat modern. dibandingkan pada waktu itu, di sinilah Islam
sudah memperlihatkan kemajuan yang sangat pesat baik dari segi moral, politik,
ekonomi islam pada waktu itu sudah selangkah lebih maju bila dibandingkan
dengan negara lain.
Selain itu, Umar bin Khattab juga mereformulasi zakat yang diberikan
kepada para muallaf sebagaimana yang pernah diberlakukan oleh khalifah
sebelumnya. Umar berpendapat bahwa zakat yang diberikan kepada para Muallaf
tersebut bertujuan agar mereka berminat masuk islam, akan tetapi sekarang islam
sudah jaya dan menyebar luas sehingga tidak membutuhkan mereka lagi 11. Kalau

9
http://jangan-bungkamhendaru.blog.friendster.com/2006/03/politik-islam-dan-kekuasaan-2.
10
Dedy Supriyadi, sejarah Peradaban Islam, Op. Cit., hlm. 82.
11
Munawaair Syadzali, Ijtihad Kemanusiaan, Cet. I, (Jakarta: Paramadina, 1997), hlm. 40.

6
mereka masuk islam silahkan, dan sebaliknya apabila mereka tetap kafir ya
silahkan. Demikian juga dalam talaq tiga sekaligus yang sebelumnya jatuh talak
satu. Lalu Umar merubah pernyataan talaq tiga yang diucapkan sekaligus itu
dihitung jatuh talaq tiga. Alasnanya adalah banyak suami yang mudah dan ringan
saja menyatakan talaq tiga sekaligus12.
Umar bin Khattab menaruh perhatian yang sangat besar dalam usaha
perbaikan keuangan negara, dengan menempatkannya pada kedudukan yang
sehat. Ia membentuk “Diwan” (departemen keuangan) yang dipercayakan
menjalankan administrasi pendapatan negara.
Semasa kekhalifahan sebelumnya, yaitu Abu Bakar, tanah yang telah
ditaklukkan oleh umat muslim menjadi hak para prajurit yang berperang.
Sehingga dengan terpaksa penduduk lokal yang menempati tanah tersebut harus
pindah. Sistem pertanahan di masa kekhalifahan Umar tidak lagi demikian. Ketika
umat muslim menaklukkan daerah tertentu, maka pertanahan tetap menjadi milik
penduduk lokal. Sehingga sebagai konsekuensi, Umar menetapkan gaji tetap
bulanan kepada para prajurit, tentara islam. Selain itu Umar juga memberikan
dekrit agar orang Arab termasuk para prajurit tidak berjual beli tanah di luar Arab.
Hal ini memancing anggota Syuro, namun Umar memberi alasan dengan
seperti itu, maka negara akan rugi 80% dari pendapatan, mutu tentara Arab
menurun, produksi menurun, dan rakyat akan kehilangan mata pencaharian
(sawah), menyebabkan mereka mudah memberontak negara. Padahal sebelumnya,
mereka terjajah oleh tentara Sassania dan Romawi yang merampas tanah-tanah
subur pada daerah yang mereka kuasai, dan hal ini berlanjut sampai masa Abu
Bakar, dimana para tentara mendapat 4/5 bagian dan sisanya disebut al-khums
menjadi hak negara pada daerah taklukan.
Khalifah umar menerapkan pajak perdagangan (bea cukai) yang bernama
al-ushr setelah ia mendapatkan laporan apabila pedagang arab datang ke
Bizantium ditarik pajak 10 % dari barang yang dijual, maka melihat efek
positifnya khalifah juga menerapkan sistem itu bagi para pedagang non-muslim
yang memasuki wilayah kekuasaan islam. Sementara itu bagi dzimmi yang berada

12
Muhammad Ali Al-Sayis, Nasy’at al-Fiqhi li Ijtihadi wa Athwaruhu, Cet. I, Terj. M. Ali Hasan,
(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995), hlm. 71-72.

7
di dalam negeri dikenakan sebesar 5% sedangkan bagi orang islam membayar
2,5% dari harga barang dagangan.

Pembentukkan Lembaga Keuangan (Baitul Mal)


Kas negara dipungut dari zakat, Kharaj dan Jizyah. Zakat atau pajak yang
dikenakan secara bertahap terhadap Muslim yang berharta. Kharaj atau pajak
bumi dan Jizyah atau pajak perseorangan. Pajak yang dikenakan pada orang non
Muslim jauh lebih kecil jumlahnya dari pada yang dibebankan pada kaum
Muslimin. Umar bin Khattab menetapkan pajak bumi menurut jenis penggunaan
tanah yang terkena. Ia menetapkan 4 dirham untuk satu Jarib gandum. Sejumlah
dua dirham dikenakan untuk luas tanah yang sama tapi ditanami gersb (gandum
pembuat ragi). Padang rumput dan tanah yang tidak ditanami tidak dipungut
pajak. Menurut sumber-sumber sejarah yang dapat dipercaya, pendapatan pajak
tahunan di Irak berjumlah 860 juta dirham. Jumlah itu tak pernah terlampaui pada
masa setelah wafatnya Umar.
Pendapat Umar terhadap uang rakyatpun sangat keras, Umar berkata:
“Aku tidak berkuasa apa pun terhadap Baitul Maal (harta umum) selain sebagai
petugas penjaga milik yatim piatu. Jika aku kaya, aku mengambil uang sedikit
sebagai pemenuh kebutuhan sehari-hari. Saudara-saudaraku sekalian! Aku abdi
kalian, kalian harus mengawasi dan menanyakan segala tindakanku. Salah satu
hal yang harus diingat, uang rakyat tidak boleh dihambur-hamburkan. Aku harus
bekerja di atas prinsip kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.”
Dalam penggunaan anggaran kas negara ini, Umar membentuk
Departemen-Departemen yang dibutuhkan, contohnya Departemen Kesejahteraan
Rakyat, Departemen Pertanian. Departemen Kesejahteraan Rakyat dibentuk untuk
mengawasi pekerjaan pembangunan dan melanjutkan rencana-rencana. Di bidang
pertanian Umar memperkenalkan reform (penataan) yang luas, hal yang bahkan
tidak terdapat di negara-negara berkebudayaan tinggi di zaman modern ini. Salah
satu dari reform itu ialah penghapusan zamindari (tuan tanah), sehingga pada
gilirannya terhapus pula beban buruk yang mencekik petani penggarap.
Seorang sejarawan Eropa menulis dalam The Encyclopedia of Islam:
“Peranan Umar sangatlah besar. Pengaturan warganya yang non-Muslim,

8
pembentukan lembaga yang mendaftar orang-orang yang mendapat hak untuk
pensiun tentara (diwan), pengadaan pusat-pusat militer (amsar) yang dikemudian
hari berkembang menjadi kota-kota besar Islam, pembentukan kantor kadi (qazi),
semuanya adalah hasil karyanya. Demikian pula seperangkat peraturan, seperti
sembahyang tarawih di bulan Ramadhan, keharusan naik haji, hukuman bagi
pemabuk, dan hukuman pelemparan dengan batu bagi orang yang berzina.”
Umar bin Khattab merupakan Khalifah yang sangat memperhatikan
rakyatnya, sehingga pada suatu ketika secara diam-diam ia turun berkeliling di
malam hari untuk menyaksikan langsung keadaan rakyatnya. Pada suatu malam,
ketika sedang berkeliling di luar kota Madinah, di sebuah rumah dilihatnya
seorang wanita sedang memasak sesuatu, sedang dua anak perempuan duduk di
sampingnya berteriak-teriak minta makan. Perempuan itu, ketika menjawab
Khalifah, menjelaskan bahwa anak-anaknya lapar, sedangkan di ceret yang ia
jerang tidak ada apa-apa selain air dan beberapa buah batu. Itulah caranya ia
menenangkan anak-anaknya agar mereka percaya bahwa makanan sedang
disiapkan. Tanpa menunjukan identitasnya, Khalifah bergegas kembali ke
Madinah yang berjarak tiga mil. Ia kembali dengan memikul sekarung terigu,
memasakkannya sendiri, dan baru merasa puas setelah melihat anak-anak yang
malang itu sudah merasa kenyang. Keesokan harinya, ia berkunjung kembali, dan
sambil meminta maaf kepada wanita itu ia meninggalkan sejumlah uang sebagai
sedekah kepadanya.

Sistem Monitoring dan Kontroling Pemerintah Daerah


Wilayah kedaulatan umat Islam yang semakin meluas mengharuskan
Umar bin Khattab sebagai khalifah melakukan monitoring dan kontroling yang
baik terhadap gubernur-gubernurnya. Sebelum diangkat seorang gubernur harus
menandatangani pernyataan yang mensyaratkan bahwa “Dia harus mengenakan
pakaian sederhana, makan roti yang kasar, dan setiap orang yang ingin
mengadukan suatu hal bebas menghadapnya setiap saat.” Lalu dibuat daftar
barang bergerak dan tidak bergerak begitu pegawai tinggi yang terpilih diangkat.
Daftar itu akan diteliti pada setiap waktu tertentu, dan penguasa tersebut
harus mempertanggungjawabkan terhadap setiap hartanya yang bertambah dengan

9
sangat mencolok. Pada saat musim haji setiap tahunnya, semua pegawai tinggi
harus melapor kepada Khalifah. Menurut penulis buku Kitab ul-Kharaj, setiap
orang berhak mengadukan kesalahan pejabat negara, yang tertinggi sekalipun, dan
pengaduan itu harus dilayani. Bila terbukti bersalah, pejabat tersebut mendapat
ganjaran hukuman13.
Selain itu Umar mengangkat seorang penyidik keliling, dia adalah
Muhammad bin Muslamah Ansari, seorang yang dikenal berintegritas tinggi. Dia
mengunjungi berbagai negara dan meneliti pengaduan masyarakat. Sekali waktu,
Khalifah menerima pengaduan bahwa Sa’ad bin Abi Waqqash, gubernur Kufah,
telah membangun sebuah istana. Seketika itu juga Umar mengutus Muhammad
Ansari untuk menyaksikan adanya bagian istana yang ternyata menghambat jalan
masuk kepemukiman sebagian penduduk Kufah. Bagian istana yang merugikan
kepentingan umum itu kemudian dibongkar. Kasus pengaduan lainnya
menyebabkan Sa’ad dipecat dari jabatannya, seperti kesombongannya dalam
memipin pasukan perang.

2. Peradilan Islam Pada Masa Umar


Salah satu hal fenomenal yang diukir oleh Umar pada masa
pemerintahannya adalah etika beliau dalam proses peradilan (al-Qadla’), Sehingga
tidak terlalu berlebihan jika dikatakan beliau ibarat lentera yang menjadi petunjuk
dan suriteladan yang dijadikan panutan ketika hendak menjalankan peadilan yang
menyangkut masalah umat Islam.
Para Hakim ditetapkan daerah yurisdiksinya dan diangkat oleh Khalifah
atau diwakilkan kepada para gubernur di daerah. Kepada hakim yang diangkat
secara langsung, Khalifah memberikan ketentuan-ketentuan untuk dijadikan
pedoman. Hal ini terjadi dari surat yang dikirim oleh Umar kepada Abu Musa
al-'Asyari, (Qadli di Kufah) yang isinya mengandung pokok-pokok penyelesaian
perkara dimuka sidang, yang ternyata disambut dan diterima dikalangan Ulama'
serta menghimpun pokok-pokok hukum.
Surat Umar tersebut berisikan 10 (sepuluh) butir yang merupakan
Pemikiran Umar khususnya dalam peradilan yang masih berlaku sampai sekarang
13
. lihat Muhammad Abdul Aziz al-Halawi, Fatwa dan Ijihad Umar bin khattab, Terj. Zubeir
Suryadi Abdullah, (Surabaya: Risalah Gusti, 2003), hlm. 16-23.

10
dalam istilah kutipan M. Fauzan disebut Naskah Asas-asas Hukum Acara14
sebagai berikut:
1. Kedudukan Lembaga Peradilan.
Kedudukan lembaga peradilan ditengah-tengah masyarakat suatu Negara
hukumnya wajib (sangat urgen) dan sunnah yang harus diikuti/ dipatuhi.
2. Memahami Kasus Persoalan, baru Memutuskannya.
Pahami persoalan suatu kasus gugatan yang diajukan kepada anda, dan
ambillah keputusan setelah jelas persoalan mana yang benar dan mana
yang salah. Karena sesungguhnya, suatu kebenaran yang tidak
memperoleh perhatian hakim akan menjadi sia-sia.
3. Samakan Pandangan Anda Kepada Kedua Belah Pihak dan
Berlaku Adillah.
Dudukkan kedua belah pihak di majelis secara sama, pandangan mereka
dengan pandangan yang sama, agar orang yang terhormat tidak
melecehkan anda, dan orang yang lemah tidak merasa teraniaya. Dalam
teori hukum positif hal ini disebut asas equality before the law.
4. Kewajiban Pembuktian
Penggugat wajib membuktikan gagatannya, dan tergugat wajib
membuktikan bantahannya.
5. Lembaga Damai
Penyelesaian perkara secara damai dibenarkan, sepanjang tidak
menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal.
6. Penundaan Persidangan
Barang siapa menyatakan ada suatu hal yang tidak ada ditempatnya atau
sesuatu keterangan, berilah tempo kepadanya untuk dilaluinya.kemudian
jika dia memberi keterangan hendaklah anda memberikan kepadanya
haknya. Jika dia tidak mampu memberikan yang demikian, anda dapat
memutuskan perkara yang merugikan haknya, karena yang demikian itu
lebih mantap lagi keudzurannya- tak ada jalan baginya untuk mengatakan
ini itu lagi- dan lebih menampakkan apa yang tersembunyi.
7. Kebenaran dan Keadilan adalah Masalah Universal
14
M fauzan, Pokok-pokok Hukum Acara Perdata Peradilan Agama dan Mahkamah Syar’iyah di
Indonesia, (Jakarta: Kencana 2005), Cet. II, hlm. 93-94.

11
Janganlah anda dihalangi oleh suatu putusan yang telah anda putuskan
pada hari ini, kemudian anda tinjau kembali putusan itu lalu anda ditunjuk
pada kebenaran untuk kembali kepada kebenaran, karena kebenaran itu
suatu hal yang qadim yang tidak dapat dibatalkan oleh sesuatu. Kembali
pada hak, lebih baik dari pada terus bergelimang dalam kebatilan.
8. Kewajiban Untuk Menggali Hukum Yang Hidup dan Melakukan
Penalaran Logis.
Pergunakanlah kekuatan logis suatu kasus perkara yang diajukan kepada
anda dengan menggali dan memahami hokum yang hidup, apabila hukum
suatu perkara kurang jelas dalam al-Quran dan Sunnah. Kemudian
bandingkanlah permasalahan tersebut satu sama lain, dan ketahuilah
(kenalilah) hukum yang serupa, kemudian ambillah mana yang lebih mirip
dengan kebenaran15.
9. Orang Islam Haruslah Berlaku Adil.
Orang Islam dengan orang Islam lainnya haruslah adil, terkecuali orang
yang sudah pernah menjadi saksi palsu atau pernah dijatuhi hukuman had
atas orang yang diragukan asal-usulnya, karena sesunggunya Allah yang
mengendalikan rahasia hamba dan menutupi hukuman atas mereka,
terkecuali dengan adanya keterangan dan sumpah.
10. Larangan Bersidang Ketika Sedang Emosional.
Jauhilah diri anda dari marah, pikiran kacau, perasaan tidak senang, dan
berlaku kasar terhadap para pihak. Karena kebenaran itu hanya berada
dalam jiwa yang tenang dan niat yang bersih.
Surat tersebut berisi petunjuk tentang peradilan yang kemudian dikenal
dengan Risalah al-Qadha dari Umar. Risalah al-Qadha ini berisi sepuluh butir
pedoman para hakim dalam melaksanakan peradilan. Dengan demikian, pada
masa ini lembaga peradilan merupakan badan khusus di bawah pengawasan
penguasa. Meskipun telah terjadi pemisahan antara lembaga " Eksekutif dan
Yudikatif ", pada masa Khalifah Umar belum terdapat Panitera pengadilan dan

15
Hal yang dimaksud Umar yaitu Deduksi Analogis (Qiyas).

12
registrasi keputusan hakim. Akan tetapi, pada masa ini sudah dikenal praktek
Yurisprudensi16.
Dalam pemisahan yang dilakukan Umar RA adalah pemisahan yang
sesungguhnya, sehingga kekuasaan Eksekutif benar-benar dapat diadili oleh
kekuasaan Yudikatif. Ini dibuktikan dengan sebuah riwayat bahwa, suatu ketika
Umar RA mengambil seekor kuda untuk ditawar. Maka beliau menunggangnya
untuk mencobanya. Lalu kuda tersebut rusak. Lelaki itupun bertikaian dengan
Umar. Umar RA berkata: “Ambillah kudamu!”. Lelaki yang memiliki kuda pun
menjawab: “Aku tidak mau menggambilnya, kuda itu sudah rusak!”. Umar pula
berkata: “Kamu harus mencari orang tengah pada apa yang berlaku antara aku
dan kamu”. Lelaki itu berkata: “Aku rida dengan Syuraih dari Irak”.
Pada saat dibawa pada Syuraih, Syuraih berkata: “Kamu mengambilnya
dalam keadaaan sehat dan selamat, maka kamulah yang menggantinya sampai
kamu memulangkannya dalam keadaan sehat dan selamat”. Lalu Umar berkata:
“Aku sungguh kagum dengannya, maka aku pun mengutusnya menjadi hakim”.
Lalu Umar berkata pada Syuraih: “Apabila telah jelas bagimu sesuatu melalui
Alquran, maka jangan kamu pertanyakan lagi. Seumpama tidak jelas apa yang
ada di Alquran, maka carilah sunnah. Seumpama kamu tidak menemukannya di
sunnah, berijtihadlah memakai rasio kamu!”.
Menurut Doktor ‘Athiyyah, peradilan pada masa Khalifah Umar RA
adalah sesuatu yang mudah, luas, serta bebas dari administrasi yang banyak
seperti yang dapat disaksikan sekarang ini. Hakim pada masa itu tidak
memerlukan panitera, juga sekretaris. Pada masa itu juga tidak diperlukan untuk
mengkodifikasi hukum-hukum peradilan, karena semua hukum keluar di balik
hati seorang hakim. Hukum acara juga tidak diperlukan. Ini karena peradilan
masih berada pada awal-awalnya dilahirkan. Belum ada pemikiran untuk ke situ.
Selain dari itu, hakim juga adalah sebagai pelaksana hukum, dalam arti mereka
juga adalah sebagai juru sita, bukan hanya pemutus hukum.
Sumber hukum yang dipakai Umar RA adalah sama seperti Abu Bakar
RA. Beliau memakai Alquran, lalu sunnah Nabi. Sempama tidak ada, beliau
melihat apakah Abu Bakar RA pernah memutuskan hal serupa. Seumpama tidak
16
Dedy Supriyadi, Op. Cit., hlm. 78 dan lihat Moh. Idris Ramulyo, Asas-asas Hukum Islam,
(Jakarta: Sinar Grafika, 1995), hlm. 171.

13
ada barulah memanggil para tokoh untuk dimusyawarahkan. Kalau ada
kesepakatan, barulah diputuskan17.
Meskipun jalan ijtihadnya sama, ada perbedaan mendasar pada masa
Khalifah Abu Bakar dan Umar, yakni di masa Abu Bakar Ulama’ yang
dikumpulkan untuk berembug, masih sedikit sehingga Ijma’ masih dapat
dijalankan dengan mudah. Berbeda halnya di zaman Khalifah Umar, mengadakan
Ijma’ mulai sulit, karena para sahabat terpencar di daerah-daerah yang baru yang
jatuh di bawah kekuasaan Negara Islam. Diantara mereka ada yang tinggal di
Mesir, Suria, Irak, dan Persia. Namun demikian karena sahabat mempunyai
wibawa yang besar, ijtihad mereka mudah diterima oleh masyarakat umum18.
Tegasnya, para sahabat yang memegang kewenangan berijtihad pada periode ini
menetapkan hukum berdasarkan al-Qur’an dan Sunnah. Setelah mereka
menyelidiki dengan sungguh-sungguh barulah berijtihad.
Khalifah Umar RA juga pernah memiliki dustûr al-qudlât, yaitu sebuah
pedoman bagi hakim agung dalam menjalankan peradilan serta dasar-dasar pokok.
Dustûr ini dikenal dengan nama risâlat al-qadlâ’. Isi dari dustûr ini adalah seperti
yang dicatat dalam A’lamul Muwaqqi’ien, berisi pokok-pokok penyelesaian
perkara di muka sidang19:
Dikarenakan peradilan adalah sebagian dari kewenangan umum, maka
yang memiliki kekuasaan ini (kepala negara) yang dapat menentukan wewenang
hakim dalam wilayah tertentu, dan tidak pada lainnya. Oleh karena itu, Umar bin
al- Khattab pada saat beliau menentukan seseorang untuk menjadi hakim, beliau
membatasi wilayah wewenang mereka hanya pada hal-hal pertikaian perdata saja.
Sedangkan permasalahan pidana dan yang berhubungan dengannya seperti
qishâsh, atau hudûd itu tetap dipegang pemimpin negara, yaitu khalifah sendiri
atau penguasa daerah20.

3. Metode/ Mekanisme Dalam Pemutusan Perkara


17
Dedy Supriyadi, Sejarah Hukum Islam, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2007), hlm. 71.
18
Harun Nasution, Islam di Tinjau dari berbagai Aspeknya, Jilid II, (Jakarta: UI-Pres, 1986),
hlm. 10.
19
Selengkapnya lihat, Salam Madzkur, Peradilan Dalam Islam, Cet. VI. Terj. Imron AM,
(Surabaya: PT Bina Ilmu, 1993), hlm. 43-46.
20
Ibid., hlm. 42

14
Sebagaimana telah dijelaskan diatas, bahwa Umar adalah sosok
pembaharu, sehingga tidak heran jika fatwa-fatwanya acapkali berseberangan
dengan Nabi, baik ketika beliau masih hidup maupun sesudah wafatnya. Seperti
Umar berpendapat lain yang telah diputuskan oleh Nabi, yaitu dalam masalah
tawanan perang. Sedangkan sesudah nabi, Umar mengambil beberapa kebijakan
yang berbeda dengan Kebijakan Nabi maupun Abu Bakar, baik mengenai
pembagian ghanimah (rampasan perang), pembagian zakat untuk muallaf,
hukuman bagi pencuri dan lain-lain21.
Metode yang dipakai oleh Umar secara garis besar sama dengan apa yang
telah dilakukan oleh Abu Bakar; yaitu Al-Qur’an, Sunnah, Ijma’, Qiyas jika dari
salah satu keempat sumber hukum tersebut masih belum menemukan solusinya,
maka Ia akan memanggil para sahabat lainnya untuk bermusyawarah. Umar akan
menanyakan apakah Abu Bakar sebelumnya pernah menetapkan hal serupa atau
tidak, jika tidak ada baru Umar dengan para sahabat lain menetapkan. Dan apa
yang telah disepakati bersama itulah yang akan dipakai22.
Umar lebih mengedepankan makna batin (tersirat) dari pada makna lahir
(tersurat). Umar lebih mengedepankan moral hukum dari pada logika formal
dalam menangkap isyarat-isyarat tertentu dan makna-makna al-Qur’an. Lantaran
ide-ide kreatifnya itu, Umar diakui baik oleh kalangan sarjana muslim maupun
nonmuslim, sebagai orang kedua setelah Nabi Muhammad SAW. Yang paling
menentukan dalam sejarah hukum islam23.

Pembentukan Lembaga Peradilan yang Independen


Selama masa pemerintahan Umar diadakan pemisahan antara kekuasaan
pengadilan dan kekuasaan eksekutif. Von Hamer mengatakan, “Dahulu hakim
diangkat dan sekarang pun masih diangkat. Hakim ush-Shara ialah penguasa yang
ditetapkan berdasarkan undang-undang, karena undang-undang menguasai
seluruh keputusan pengadilan, dan para gubernur dikuasakan menjalankan
keputusan itu. Dengan demikian dengan usianya yang masih sangat muda, Islam
telah mengumandangkan dalam kata dan perbuatan, pemisahan antara kekuasaan

21
Munawir Sadjali, Ijtihad Kemanusiaan, (Jakarta: Paramadina, 1997), hlm. 41.
22
Dedy Supriyadi, Sejarah Hukum Islam, Ibid.,
23
Ibid., hlm. 79.

15
pengadilan dan kekuasaan eksekutif.” Pemisahan seperti itu belum lagi dicapai
oleh negara-negara paling maju, sekalipun di zaman modern ini.
Pemisahan wewenang ini menghidupkan check and balance antara
eksekutif yang melaksanakan pemerintahan dengan lembaga peradilan sebagai
ujung tombak penegakkan hukum. Dengan sistem ini eksekutif tidak dapat meng-
intervensi keputusan dan proses hukum yang sedang berjalan, hingga jauh dari
budaya Korupsi, Kolusi dan Nepotisme.
Maka sesungguhnya, jauh sebelum ada teori tentang trias politica
(Eksekutif, Yudikatif dan Legislatif), Umar bin Khattab sudah menerapkan hal
tersebut, meskipun dalam teori trias plotika oleh seorang ahli politik dan filsafat
Perancis yaitu Montesquieu yang baru muncul pada kurun waktu (1689-1755)24.
Akan tetapi, perbedaannya hanya Umar tidak menjadikannya sebagai teori, tetapi
Umar menerapkan dalam pemerintahannya, sebagaimana yang pernah Umar
sampaikan di depan kaum muslimin:
“Saudara-saudaraku! Aku bukanlah rajamu yang ingin menjadikan Anda
budak. Aku adalah hamba Allah dan pengabdi hamba-Nya. Kepadaku telah
dipercayakan tanggung jawab yang berat untuk menjalankan pemerintahan
khilafah. Adalah tugasku membuat Anda senang dalam segala hal, dan akan
menjadi hari nahas bagiku jika timbul keinginan barang sekalipun agar Anda
melayaniku. Aku berhasrat mendidik Anda bukan melalui perintah-perintah,
tetapi melalui perbuatan.”
Umar mendidik rakyatnya dengan perbuatan dan contoh, bukan dengan
teori dan kata-kata.

Pembentukan Majelis Permusyawaratan dan Dewan Pertimbangan


Musyawarah bukan bentuk pembatasan wewenang khalifah dalam
memimpin kaum muslimin seperti dalam pengertian parlemen sekarang ini.
Musyawarah dilakukan sebagai upaya mencari ke-ridho-an dan keberkahan Allah
dalam setiap pengambilan kebijakan negara. Keputusan tertinggi tetap berada
ditangan khalifah.

24
CST. Kansil, Sistem Pemerintahan Indonesia, (Jakarta: Bumi Aksara, 1990), hlm. 10.

16
Nabi SAW sendiri tidak pernah mengambil keputusan penting tanpa
melakukan musyawarah, kecuali yang sifatnya wahyu dari Allah SWT. Pohon
demokrasi dalam Islam yang ditanam Nabi dan dipelihara oleh Abu Bakar
mencapai puncaknya pada zaman Khalifah Umar. Semasa pemerintahan Umar
telah dibentuk dua badan penasehat. Badan penasehat yang satu merupakan
sidang umum atau majelis permusyawaratan yang diundang bersidang bila negara
menghadapi bahaya. Sifatnya insidental dan melibatkan banyak orang yang
mempunyai kompetensi akan masalah yang sedang dibicarakan. Sedang yang satu
lagi adalah badan khusus yang terdiri dari orang-orang yang integritasnya tidak
diragukan untuk diajak membicarakan hal rutin dan penting. Bahkan masalah
pengangkatan dan pemecatan pegawai sipil serta lainnya dapat dibawa ke badan
khusus ini, dan keputusannya dipatuhi.

Pembentukan Demokrasi
Di awal pembaitannya sebagai khalifah Umar bin Khattab berpidato di
depan kaum muslimin, dia berkata:
“Aku telah terpilih menjadi khaliifah. Kerendahan hatu Abu Bakar selaras
dengan jiwanya yang terbaik diantara kamu dan lebih kuat diantara kamu dan
lebih mampu untuk memikul urusan kamu yang penting-penting. Aku diangkat
dalam jabatan ini tidaklah sama dengan beliau. Andaikata aku tahu bahwa ada
orang yang lebih kuat untuk memikul jabatan ini. Maka memberikan leherku
untuk dipotong lebih aku sukai daripada memikul jabatan ini25”. “Sesungguhnya
Allah menguji kamu dengan aku dan mengujiku dengan kamu dan membiarkan
aku memimpin kamu sesudah sahabatku. Maka demi Allah bila ada suatu urusan
dari urusan kamu dihadapkan kepadaku , maka janganlah urusan itu diurus oleh
seseorang selain aku, dan janganlah seseorang menjauhkan diri dari aku,
sehingga aku tidak dapat memilih orang yang benar dan memegang amanah, jika
mereka berrbuat baik, tentu aku akan berbuat baik kepada mereka dan jika
mereka berbuat jahat, maka tentu aku akan menghukum mereka”26.
Dalam pidato awal kepemimpinannya itu Umar tidak menempatkan
dirinya lebih tinggi dari umat Islam lainnya, justru Umar menempatkan dirinya
25
Tim Penyusun, Sejarah dan Kebudayaan Islam, (Jakarta: Depag, 1981/1982), hlm. 54.
26
Dedy Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, Op. Cit., hlm. 80.

17
sebagai pelayan masyarakat. Suatu kali Umar berpidato di depan para
Gubernurnya: “Ingatlah, saya mengangkat Anda bukan untuk memerintah rakyat,
tapi agar Anda melayani mereka. Anda harus memberi contoh dengan tindakan
yang baik sehingga rakyat dapat meneladani Anda.”
Dalam pidato awal itupun Umar menegaskan bahwa semua orang sejajar
di mata hukum (equality before the law), bahwa yang berbuat kebaikan akan
mendapat kebaikan dan yang melakukan kejahatan akan dihukum sesuai
kadarnya, tidak memandang siapa dan seberapa kaya27. Suatu ketika anaknya
sendiri yang bernama Abu Syahma, dilaporkan terbiasa meminum khamar. Umar
memanggilnya menghadap dan ia sendiri yang mendera anak itu sampai
meninggal. Cemeti yang dipakai menghukum Abu Syahma ditancapkan di atas
kuburan anak itu.
Bukan hanya itu, Umar bin Khattab membuka keran pendapat seluas-
luasnya. Umar dengan lapang dada mendengarkan kritik dan saran dari rakyatnya.
Suatu kali dalam sebuah rapat umum, seseorang berteriak: “O, Umar, takutlah
kepada Tuhan.” Para hadirin bermaksud membungkam orang itu, tapi Khalifah
mencegahnya sambil berkata: “Jika sikap jujur seperti itu tidak ditunjukan oleh
rakyat, rakyat menjadi tidak ada artinya. Jika kita tidak mendengarkannya, kita
akan seperti mereka.” Suatu kebebasan menyampaikan pendapat telah
dipraktekan dengan baik.
Umar pernah berkata, “Kata-kata seorang Muslim biasa sama beratnya
dengan ucapan komandannya atau khalifahnya.” Demokrasi sejati seperti ini
diajarkan dan dilaksanakan selama masa Khulafa’ ar-Rasyidin, hampir tidak ada
persamaannya dalam sejarah umat manusia. Islam sebagai agama yang
demokratis, seperti digariskan Al-Qur’an, dengan tegas meletakkan dasar
kehidupan demokrasi dalam kehidupan Muslimin, dan dengan demikian setiap
masalah kenegaraan harus dilaksanakan melalui konsultasi dan perundingan.
Dapatlah disimpulkan pada masa Umar bin Khattab- sebagaimana pada
masa Khulafa’ ar-rasyidin- para qadli belum mempunyai sekretaris atau catatan
yang menghimpun hukum-hukum produk qadla’nya, karena qadlilah yang
melaksanakan sendiri segala keputusan yang dikeluarkannya, demikian juga qadli

27
Ibid.,

18
pada masa itu, belum memiliki tempat khusus (gedung pengadilan), sehingga
mula-mula seorang qadli hanya berada di rumah, kemudian dalam perkembangan
selanjutnya, masjidlah yang dijadikan tempat untuk menyelesaikan segala
sengketa dimana fungsi masjid yang sebenarnya tidaklah terbatas hanya untuk
melakukan sembahyang saja, tetapi ia merupakan pusat bagi memecahkan segala
urusan sosial, seperti peradilan, pengajaran, dan memecahkan berbagai masalah28.

Beberapa Keputusan Umar Bin Khattab Dalam Peradilan


Secara praktis, Umar bin Khattab sering menjadi rujukan berbagai buku
hukum baik Islam ataupun Murni29. Contoh mekanisme pengambilan keputusan
Umar. Pada suatu ketika Khalifah Umar RA yang sedang menjalankan tugasnya
sebgai hakim, didatangi seorang wanita yang menyeret seorang pemuda
bersamanya, sambil berteriak-teriak seperti orang panik. Wanita itu melapor dan
mengadu kepada Khalifah Umar bahwa si pemuda yang diseretnya itu telah
memperkosanya dan mempermalukannya ditengah-tengah keluarganya. Dalam
dakwa dan pengaduannya itu, ia memajukan saksi-saksi, bahkan bahan bukti lain
juga diajukan, yakni dengan menunjukkan tempat tertentu dari pakainnya yang
basah dan bagian tertentu dari anggota badannya. Sementara itu terdakwa, yaitu si
pemuda dengan nada mohon dikasihani menyangkal perbuatan yang dituduhkan
atas dirinya, dan menangkis tuduhan itu bahwa yang sesungguhnya terjadi ialah
wanita tersebut merayu dan mengajak saya berbuat sesuatu atas dirinya, tetapi
saya menampik rayuannya itu. Karena ia malu, datanglah menyeret saya seperti
ini30.
Dalam mempertimbangkan perkara ini, Khalifah Umar selaku hakim yang
bijaksana melakukan dua hal penting yang patut mendapat perhatian dan menjadi
pelajaran berharga bagi para hakim di sepanjang zaman. Kadua hal penting
tersebut adalah:
1. Beliau sekalipun dikenal sebagai orang yang keras dan tegas menghadapi
setiap pelanggar hukum Allah, dan orang-orang jahat, namun beliau

28
Muhammad Salam Madzkur, Op. Cit., hlm. 47.
29
Dedy Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, Op. Cit., hlm. 84.
30
Ibid.,

19
mampu menguasai dan mengendalikan diri untuk tidak terburu-buru
menjatuhkan suatu keputusan (vonis).
2. Beliau memanfaatkan tenaga ahli/ penasihat ahli dalam hal ini sahabat
nabi yang terkenal dengan Babul-ilm, yaitu ‘Ali bin Abi Thalib RA31.
Upaya yang dilakukan oleh Umar denga meminta bantuan Ali adalah apa
yang dinamakan sekarang Tahlil Unshuril-Jarimah (menganalisis unsur
kejahatannya sendiri), seperti pemeriksaan darah, sidik jari, dan sebagainya dalam
peristiwa pembunuhan misalnya. Langkah selanjutnya, Umar menitikberatkan
pada bahan bukti yang diajukan oleh pendakwa (wanita yang menuduh). Tempat
yang basah dari kain itu disiram dengan air panas yang mendidih begitu rupa dan
ternyata di tempat yang disiram tersebut tampak suatu unsur yang putih, yaitu
putih telur yang tidak meleleh bersama-sama air panas. Khalifah Umar
memberikan peringatan yang keras kepada wanita tersebut yang akhirnya
mengakui terus terang segala perbuatannya yang tidak benar, dan pemuda yang
tidak berdosa (bersalah) itu, berkat kecerdasan hakimnya, dapat bebas dari segala
tuduhan32.
Lebih lanjut tentang Hasil Fatwa dan Ijtihad Umar bin Khattab mengenai
masalah hukum- termasuk di dalamnya fiqh- bisa dilihat dalam kitab Fatawa wa
Aqhdiyah Amiril Mukminin Umar Ibn al-Khattab33.

BAB III
31
Ibid.,
32
Dedy Supriyadi, Sejarah Peradaban islam, Op. Cit., hlm. 85-86.
33
Muhammad Abdul Aziz Al-halawi, Fatawa wa Aqhdiyah Amiril Mukminin Umar Ibn al-
Khattab, (Kairo: Maktabah Al-quran, Bulaq-Kairo, 1986).

20
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Umar terkenal dengan seorang yang keras, tetapi juga sangat perduli dan
sangat zuhud. Semula ia adalah orang yang membenci dakwah Nabi kemudian
setelah masuk islam, Ia begitu setia dan teguh akan pendiriannya. Maka, wajar
jika ada yang mengatakan bahwa, Ia menempati posisi kedua setelah Nabi
Muhammad SAW.
Secara umum, bisa dikatakan bahwa peradilan islam pada masa Umar
mengalami banyak perubahan. Perubahan tersebut disebabkan karena adanya
tuntutan masyarakat muslim. Karena pada masa Umar wilayah islam semakin
meluas, sehingga islam bukan hanya bertemu dengan penduduk Arab saja, tetapi
juga masyaraakat ‘Ajam yang notebene sangat berbeda secara sosiologis, dan
kebiasaanya.
Perkembangan peradilan di masa Umar juga disebabkan karena faktor
pemerintahan. Khalifah selaku pemegang kebijakan dan kondisi politik juga
mempengaruhi eksistensi peradilan islam pada waktu itu. Umar menetapkan 10
dasar pedoman dalam beracara yang pada masa selanjutnya, hal ini menjadi
pedoman para hakim.
Kejeniusan Umar tampak dengan menyeimbangkan berbagai jabatan
dalam pemerintahan islam. Sehingga, Eksekutif dan Yudikatif menjadi seimbang
dan saling melaksanakan fungsinya masing-masing. Di sisi lain, dibentuknya
Baitul Mal, beberapa jawatan keamanan serta Majlis Syuro. Hal ini menunjukkan
bahwa semua itu dalam rangka menyerasikan lembaga-lembaga Negara agar
sesuai dan menutup terjadinya berbagai penyelewengan.
Dalam teori hukum dijelaskan bahwa unsur-unsur hukum ada tiga, yaitu
Substansi hukum, Struktur hukum dan Kultur hukum. Penegakan hukum ideal
harus memenuhi ke tiga unsure hukum tersebut. Sehingga keamanan, ketertiban
dan keadilan akan terwujud. Di masa Umar, selain sumber hukum yang sudah
jelas, juga didukung oleh para qadli yang adil. Selain itu, kebiasaan masyarakat
untuk melanggar hukum juga sangat sedikit sekali. Sehingga teori hukum di atas
sudah terwujud ketika pemerintahan Umar bin Khattab.
DAFTAR PUSTAKA

21
Ali, K. A Study Of Islamic History, Terj. Ghufron A. Mas’adi, Cet. III, Jakarta:
Grafindo Persada, 2000.
Al-Sayis, Muhammad Ali, Nasy’at al-Fiqhi li Ijtihadi wa Athwaruhu, Cet. I,
Terj. M. Ali Hasan, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995.
Abdul Aziz, Muhammad al-Halawi, Fatwa dan Ijihad Umar bin khattab, Terj.
Zubeir Suryadi Abdullah, Surabaya: Risalah Gusti, 2003.
http://rangerwhite09-artikel.blogspot.com/2010/04/sejarah-peradilan-islam-masa-
khulafaur.html: Posted by Syifaul Qulub S.Hi at 11:56 AM.
Departemen Agama, Ensiklopedi Islam, Jilid III. (Jakarta: Depag, 1993).
Dewan Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam, Jilid. I, Jakarta: ikhtiar baru Van
Hoeve, 1993.
A.F.M. Shamsur Rahman, Spaine Musalmander Itihash. Khulna: Piramaund
Press, 1977.
Fauzan, M, Pokok-pokok Hukum Acara Perdata Peradilan Agama dan
Mahkamah Syar’iyah di Indonesia, Cet. II, Jakarta: Kencana 2005.
Kansil CST. Sistem Pemerintahan Indonesia, Jakarta: Bumi Aksara, 1990.
Husain Haekal. Muhammad, Umar bin Khattab, Terj. Ali Audah. Cet. III.
Bogor: PT. Pustaka Litera AntarNusa, 2002.
Idris Ramulyo. Moh. Asas-asas Hukum Islam, Jakarta: Sinar Grafika, 1995.
Nasution Harun, Islam di Tinjau dari berbagai Aspeknya, Jilid II, Jakarta: UI-
Pres, 1986.
Rahman, A.F.M. Shamsur. Spain e Musalmander Itihash. Khulna: Piramaund
Press, 1977.
Syadzali, Munawir, Ijtihad Kemanusiaan, Cet. I, Jakarta: Paramadina, 1997.
Ali, K. Isamer Itihash. Dhaka: Ali Publication, 1976.
http://jangan-bungkamhendaru.blog.friendster.com/2006/03/politik-islam-dan-
kekuasaan-2.
Salam Madzkur, Peradilan Dalam Islam, Cet. VI. Terj. Imron AM, Surabaya: PT
Bina Ilmu, 1993.
Supriyadi, Dedy, Sejarah Hukum Islam, Bandung: CV Pustaka Setia, 2007.
Sejarah Peradaban Islam, Bandung: Pustaka Setia, 2008.
Tim Penyusun, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Jakarta: Depag, 1981/1982.
Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,
2003.

22