P. 1
Seminar Askep Kasus Di Menur

Seminar Askep Kasus Di Menur

|Views: 672|Likes:
Dipublikasikan oleh Dodot Besengek Soetomo
ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA Tn. S DENGAN GANGGUAN PERSEPSI SENSORI : HALUSINASI PENDENGARAN
DI RUANG GELATIK RUMAH SAKIT JIWA MENUR
SURABAYA
ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA Tn. S DENGAN GANGGUAN PERSEPSI SENSORI : HALUSINASI PENDENGARAN
DI RUANG GELATIK RUMAH SAKIT JIWA MENUR
SURABAYA

More info:

Published by: Dodot Besengek Soetomo on Nov 25, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/15/2012

pdf

text

original

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA Tn.

S DENGAN GANGGUAN PERSEPSI SENSORI : HALUSINASI PENDENGARAN DI RUANG GELATIK RUMAH SAKIT JIWA MENUR SURABAYA

Disusun Oleh: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. Astrid Andryana N. (P27820108008) Fathoni Eko Adi S. (P27820108016) Feny Andriani (P27820108017) Nanik Ratnawati (P27820108028) Thurfah Kustiati (P27820108034) Vina Intihatus S. (P27820108039) Ary Kurnia (P27820108043) Claudia C.P.P. (P27820108044) Ferri Kusnadi (P27820108053) Gloria Paradita (P27820108057) Okky Andhika M. (P27820108067) Suhartiningsih (P27820108075)

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SURABAYA JURUSAN KEPERAWATAN PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN SOETOMO SURABAYA 2010

1

Lembar Pengesahan Seminar Asuhan Keperawatan Jiwa pada Tn.S dengan gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran Di Ruang Gelatik RS Jiwa Menur Surabaya telah di periksa dan di sahkan sebagai praktik klinik DIII Program Studi Keperawatan Soetomo Surabaya yang dilaksanakan pada tanggal 25 November 2010. Surabaya, 23 November 2010

Pembimbing Ruangan Gelatik

Pembimbing Pendidikan

SHODIKIN, S.Kep.,Ns. NIP. 19690312 199101 1001

KASTUBI, S.Kep., Ns., M.Kes. NIP. 19630607 199003 1002

Mengetahui, Kepala Ruangan Gelatik

SISWO, S.Kep.Ners NIP. 19591201 198110 1004

2

LAPORAN PENDAHULUAN HALUSINASI PENDENGARAN A. KASUS (MASALAH UTAMA) Gangguan Persepsi Sensori : halusinasi pendengaran B. PROSES TERJADINYA MASALAH 1. Pengertian Halusinasi adalah penyerapan tanpa adanya rangsang apapun pada panca indra sesorang pasien yang terjadi dalam keadaan sadar atau bangun, dasarnya mungkin organik, psikotik ataupun histerik (Maramis, 1994). Halusinasi dapat terjadi pada klien gangguan mental organik, psikosis, sindroma putus obat, keracunan obat, gangguan afektif, gangguan keseimbangan endokrin, gangguan tidur. Halusinasi merupakan salah satu disfungsi yang paling sering terjadi pada skizofrenia yang menggambarkan hilangnya kemampuan penilaian realitas. 2. Faktor Predisposisi Menurut Stuart and Sunden (1998 : 305) faktor predisposisi yang menimbulkan halusinasi, antara lain : a. Faktor Biologis  Abnormalitas otak yang menyebabkan respons neurobiologik.  Beberapa bahan kimia juga dikaitkan dapat menyebabkan respon neurbiologis misalnya: dopamine neurotransmiter yang berlebihan, ketidakseimbangan antara dopamine neurotransmiter lain dan masalahmasalah pada sistem receptor dopamine. b. Faktor sosial budaya Stres yang menumpuk, kemiskinan, peperangan, dan kerusuhan, dapat menunjang terjadinya respon neurobiologis yang maladaptif.

3

c. Faktor Psikologis Penolakan dan kekerasan yang dialami klien dalam keluarga dapat menyebabkan timbulnya respon neurobiologis yang maladaptif. 3. Faktor Pencetus Menurut Stuart and sunden (1998: 310), faktor pencetus terjadinya halusinasi antara lain: a. Faktor biologis Gangguan dalam putaran balik otak yang memutar proses informasi dan abnormaltas pada mekanisme pintu masuk dalam otak mengakibatkan ketidakmampuan menghadapi rangsangan. Stres biologis ini dapat menyebabkan respon neurobiologis yang maladaptif. b. Faktor Stres dan Lingkungan Perubahan-perubahan yang terjadi pada lingkungan merupakan stressor lingkungan yang dapat menimbulkan gangguan perilaku. Klien berusaha menyesuaikan diri terhadap stressor lingkungan yang terjadi. c. Faktor Pemicu Gejala 1. Kesehatan Gizi yang buruk, kurang tidur, kurang tidur, keletihan, ansietas sedang sampai berat, dan gangguan proses informasi. 2. Lingkungan Tekanan dalam penampilan (kehilangan kemandirian dalam melakukan aktivitas sehari-hari), rasa bermusuhan dan lingkungan yang selalu mengkritik, masalah perumahan, gangguan dalam hubungan interpersonal, kesepian (kurang dukungan sosial), tekanan pekerjaan, keterampilan sosial, yang kurang, dan kemiskinan. 3. Sikap/ perilaku

4

Konsep diri yang rendah, keputusasaan (kurang percaya diri), kehilangan motivasi untuk melakukan aktivitas, perilaku amuk dan agresif. 4. Macam-macam halusinasi a. Halusinasi pendengaran Karakteristik ditandai dengan mendengar suara, teruatama suara – suara orang, biasanya klien mendengar suara orang yang sedang membicarakan apa yang sedang dipikirkannya dan memerintahkan untuk melakukan sesuatu. b. Halusinasi penglihatan : Karakteristik dengan adanya stimulus penglihatan dalam bentuk pancaran cahaya, gambaran geometrik, gambar kartun dan / atau panorama yang luas dan kompleks. Penglihatan bisa menyenangkan atau menakutkan. c. Halusinasi penghidu : Karakteristik ditandai dengan adanya bau busuk, amis dan bau yang menjijikkan seperti : darah, urine atau feses. Kadang – kadang terhidu bau harum. Biasanya berhubungan dengan stroke, tumor, kejang dan dementia. d. Halusinasi peraba : Karakteristik ditandai dengan adanya rasa sakit atau tidak enak tanpa stimulus yang terlihat. Contoh : merasakan sensasi listrik datang dari tanah, benda mati atau orang lain. e. Halusinasi pengecap : Karakteristik ditandai dengan merasakan sesuatu yang busuk, amis dan menjijikkan. f. Halusinasi sinestetik : Karakteristik ditandai dengan merasakan fungsi tubuh seperti darah mengalir melalui vena atau arteri, makanan dicerna atau pembentukan urine. (Menurut Stuart, 2007) 5

5. Fase-fase halusinasi a. Fase pertama (Comforting) Pada fase ini klien mengalami kecemasan, stres, perasaan yang terpisah, kesepian. Klien mungkin melamun atau memfokuskan pikiran pada hal yang menyenangkan untuk menghilangkan kecemasan dan stres. Cara ini menolong sementara. Klien masih dapat mengontrol kesadarannya dan mengenal pikirannnya namun intensitas persepsi meningkat. b. Fase kedua (Condemning) Kecemasan meningkat dan berhubungan dengan pengalaman internal dan eksternal, klien berada pada tingkat listening pada halusinasi. Pemikiran internal menjadi menonjol seperti gambaran suara dan sensasi. Halusinasi dapat berupa bisikan yang tidak jelas. Klien takut apabila orang lain mendengar, klien merasa tidak mampu mengontrolnya. Klien membuat jarak antara dirinya dan halusinasi dengan memproyeksikan seolah-olah halusinasi datang dari orang lain atau tempat lain. c. Fase ketiga (Controling) Halusinasi lebih menonjol, mengusai dan mengontrol. Klien menjadi terbiasa dan tidak berdaya pada halusinasinya. Halusinasi memberi kesenangan dan rasa aman yang sementara. d. Fase keempat (Consquering) Klien merasa terpaku dan tidak berdaya melepasakan diri dariu kontrol halusinasinya. Halusinasi yang sebelumnya menyenangkan berubah menjadi mengancam, memerintah dan memarahi. Klien tidak dapat berhubungan dengan orang lain karena terlaslu sibuk dengan halusinasinya. Klien mungkin berada dalam dunia yang menakutkan

6

dalam waktu yang singkat, beberap a jam atau selamanya. Proses ini menjadi kronik jika tidak dilakukan intervensi.

6. Rentang Respon Rentang respon halusinasi ( berdasarkan Stuart dan Laria, 2001). Adaptif Pikiran logis Persepsi kuat Emosi konsisten Perilaku sesuai Berhub. Sosial C. POHON MASALAH Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan (Efek) Gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran (Core Problem) Gangguan hubungan sosial : menarik diri (Etiologi) Gangguan konsep diri : harga diri rendah Distorsi pikir Ilusi Reaksi emosi meningkat Perilaku aneh/tidak biasa Menarik diri Maladaptif Gangguan pikir Halusinasi Sulit berespon emosi Perilaku disorganisasi Isolasi sosial

D. MASALAH KEPERAWATAN Masalah Keperawatan 1. Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan (Efek) 2. Gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran (Core Problem) 3. Gangguan hubungan sosial : menarik diri (Etiologi) 7

4. Gangguan konsep diri : harga diri rendah

E. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Gangguan persepsi sensori : Halusinasi pendengaran berhubungan dengan gangguan hubungan sosial : menarik diri. 2. Gangguan hubungan sosial : menarik diri berhubungan dengan gangguan Konsep diri : harga diri rendah. 3. Gangguan Konsep diri : harga diri rendah berhubungan dengan mekanisme koping inefektif. F. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN a. Diagnosa 1 Gangguan persepsi sensori : Halusinasi pendengaran berhubungan dengan gangguan hubungan sosial : menarik diri. Tujuan : Klien mampu mengontrol halusinasinya Kriteria Hasil :  Pasien dapat dan mau berjabat tangan.  Pasien mau menyebutkan nama, mau memanggil nama perawat dan mau duduk bersama.  Pasien dapat menyebutkan penyebab klien menarik diri.  Pasien mau berhubungan dengan orang lain.  Setelah dilakukan kunjungan rumah klien dapat berhubungan secara bertahap dengan keluarga. Intervensi :  Bina hubungan saling percaya.  Buat kontrak dengan klien.

8

 Lakukan perkenalan.  Panggil nama kesukaan.  Ajak pasien bercakap-cakap dengan ramah.  Kaji pengetahuan klien tentang perilaku menarik diri dan tanda-tandanya serta beri kesempatan pada klien mengungkapkan perasaan penyebab pasien tidak mau bergaul/menarik diri.  Jelaskan pada klien tentang perilaku menarik diri, tanda-tanda serta yang mungkin jadi penyebab.  Beri pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaan.  Diskusikan tentang keuntungan dari berhubungan.  Perlahan-lahan serta pasien dalam kegiatan ruangan dengan melalui tahap-tahap yang ditentukan.  Beri pujian atas keberhasilan yang telah dicapai.  Anjurkan pasien mengevaluasi secara mandiri manfaat dari berhubungan.  Diskusikan jadwal harian yang dapat dilakukan pasien mengisi waktunya.  Motivasi pasien dalam mengikuti aktivitas ruangan.  Beri pujian atas keikutsertaan dalam kegiatan ruangan.  Lakukan kungjungan rumah, bina hubungan saling percaya dengan keluarga.  Diskusikan dengan keluarga tentang perilaku menarik diri, penyebab dan car a keluarga menghadapi.  Dorong anggota keluarga untuk berkomunikasi.  Anjurkan anggota keluarga pasien secara rutin menengok pasien minimal sekali seminggu.

9

b. Diagnosa 2 Gangguan hubungan sosial : menarik diri berhubungan dengan gangguan Konsep diri : harga diri rendah. Tujuan : Pasien dapat berhubungan dengan orang lain secara bertahap. Kriteria Hasil :  Pasien dapat menyebutkan koping yang dapat digunakan.  Pasien dapat menyebutkan efektifitas koping yang dipergunakan.  Pasien mampu memulai mengevaluasi diri.  pasien mampu membuat perencanaan yang realistik sesuai dengan kemampuan yang ada pada dirinya.  Pasien bertanggung jawab dalam setiap tindakan yang dilakukan sesuai dengan rencana. Intervensi :

Dorong pasien untuk menyebutkan aspek positip yang ada pada dirinya dari segi fisik. Diskusikan dengan pasien tentang harapan-harapannya. Diskusikan dengan pasien keterampilannya yang menonjol selama di rumah dan di rumah sakit. Berikan pujian. Identifikasi masalah-masalah yang sedang dihadapi oleh pasien Diskusikan koping yang biasa digunakan oleh pasien. Diskusikan strategi koping yang efektif bagi pasien.

 

   

10

Bersama pasien identifikasi stressor dan bagaimana penialian pasien terhadap stressor. Jelaskan bahwa keyakinan pasien terhadap stressor mempengaruhi pikiran dan perilakunya. Bersama pasien identifikasi keyakinan ilustrasikan tujuan yang tidak realistic. Bersama pasien identifikasi kekuatan dan sumber koping yang dimiliki Tunjukkan konsep sukses dan gagal dengan persepsi yang cocok. Diskusikan koping adaptif dan maladaptif. Diskusikan kerugian dan akibat respon koping yang maladaptive. Bantu pasien untuk mengerti bahwa hanya pasien yang dapat merubah dirinya bukan orang lain Dorong pasien untuk merumuskan perencanaan/tujuannya sendiri (bukan perawat). Diskusikan konsekuensi dan realitas dari perencanaan / tujuannya. Bantu pasien untuk menetpkan secara jelas perubahan yang diharapkan. Dorong pasien untuk memulai pengalaman baru untuk berkembang sesuai potensi yang ada pada dirinya.

    

  

11

DAFTAR PUSTAKA 1. Budi Anni Keliat,Dkk. 2005. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: EGC 2. Maramis, Willy F .2009.Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa Edisi 2;Surabaya. 3. Yosep, I.2009. Keperawatan Jiwa, Edisi Revisi. Refika Aditama: Jakarta. 4. Internet : a. Http://www.blog.priyanto.com b. Http://keperawatan-gun.blogspot.com

12

STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN PSP : HALUSINASI PENDENGARAN (Pertemuan Pertama : 15-11-2010) A. PROSES KEPERAWATAN 1. Kondisi Klien Klien tampak menyendiri, gelisah, kontak mata kurang. 2. Diagnosa Keperawatan Resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan b.d gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran. 3. Tujuan Khusus TUK 1: Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat. TUK 2: Klien dapat mengenal halusinasinya 4. Tindakan Keperawatan a. Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, ciptakan lingkungan terapeutik. b. Beri kesempatan klien ungkapkan perasaanya. c. Dengarkan ungkapan perasaan klien dengan empati d. Diskusikan dengan klien halusinasi yang dialaminya. B. STRATEGI KOMUNIKASI DALAM PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN 13

1. Orientasi a. Salam terapeutik “ Selamat pagi Mas ? Perkenalkan nama saya Feny Andriyani, panggil saja saya mbak Feny ya!, saya Mahasiswa Keperawatan Soetomo.” b. Evaluasi/ validasi “ Bagaimana perasaan Mas hari ini? Kenapa mas sampai dibawa kesini ?” c. Kontrak Topik : “ Bagaimana kalau kita berbincang-bincang tentang suara-suara yang sering mas dengar?” Waktu : “ Mau berapa lama kita berbincang-bincang ? Bagaimana kalau selama 15 menit ?” Tempat : “Mas mau ngobrol dimana?” Bagaimana kalau di ruang tamu?” 2. Kerja a. Coba mas ceritakan suara-suara yang mas dengar! b. Kapan saja suara itu muncul? Situasi yang bagaimana menurut mas menjadi pencetus munculnya suara tersebut ? c. Berapa kali suara itu mas dengar dalam sehari? d. Apakah yang mas lakukan jika suara-suara itu muncul? Apakah mas mengikuti printah suara-suara yang mas dengar? e. Bagaimana perasaan mas ketika suara-suara itu muncul ? 3. Terminasi a. b. Evaluasi subyektif Evaluasi obyektif “ Bagaimana perasan mas sekarang setelah bercakap-cakap dengan saya?”. “ Coba masih ingat nama saya ? terus coba sebutkan lagi kenapa mas dibawa kesini ?” c. Rencana tindak lanjut “ Baiklah mas karena waktu kita sudah habis kita sudahi sampai disini ya, besok kita nomong-ngomong lagi ya ? 14

4. Kontrak Topik : “ Besok kita bercakap-cakap lagi ya mas. Kita akan diskusikan bagaimana cara mengontrol suara-suara yang mas dengar itu.” Waktu : “ Jam berapa besok kita bisa bertemu? Bagaimana kalau jam 09.00 WIB selama 15 menit. Mas setuju? Tempat: “Kita akan berbincang-bincang di taman, setuju? STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN PSP : HALUSINASI PENDENGARAN (Pertemuan Kedua : 16-11-2010) A. PROSES KEPERAWATAN 1. Kondisi klien Kllien tampak menyendiri, gelisah, kontak mata kurang. 2. Diagnosa Keperawata. Resiko mencederai diri sendiri /orang lain lingkungan berhubungan dengan halusinasi pendengaran. 3. Tujuan khusus TUK 3 : klien dapat mengontol halusinasinya. 4. Tindakan Keperawatan a. Diskusikan dengan klien cara yang dilakukan selama ini untuk mengontrol halusinasinya. b. Diskusikan manfaat dan kerugian cara yang selama ini dilakukan. c. Diskusikan dengan klien cara baru mengontrol halusinasinya. B. STRATEGI KOMUNIKASI DALAM PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN 1. ORIENTASI a. Salam terapeutik. 15

“ selamat pagi mas.?” b. Evaluasi / validasi “ bagaimana perasaan mas hari ini? Apakah mas masih mendengar suara-suara seperti kemarin?” c. Kontrak. Topik : “ Seperti janji kita kemarin, hari ini kita akan membicarakan tentang bagaimana supaya suara-suara yang mas dengan dapat dikendalikan.” Waktu : “ Mau berapa lama kita berbincang-bincang ? Bagaimana kalau selama 15 menit ?” Tempat : “Mas mau ngobrol dimana?” Bagaimana kalau di ruang tamu?” 2. Kerja a. Kalau mas mendengar suara-suara itu apa yang mas lakukan ? b. Apakah dengan cara seperti itu suara-suara yang mas dengar berkurang? 3. Terminasi a. Evaluasi respon klien terhadap tindakan keperawatan. • Evaluasi subyektif “Bagaimana perasaan mas setelah kita berbincang-bincang?” • Evaluasi obyektif “Jadi ada empat cara untuk mengendalikan suara-suara yang mas dengar. Pertama mengendalikan halusinasi, kedua berbincang dengan orang lain, ketiga mengatur aktifitas, sehingga tidak ada waktu untuk melamun, dan keempat minum obat teratur” b. Tindak lanjut klien “Mas, kalau suara-suara itu muncul lagi, mas langsung mencoba cara yang mas pilih tadi.”

16

c.

Kontrak yang akan datang Topik : “besok kita bercakap-cakap lagi ya mas. Kita akan diskusikan obat-obatan yang mas minum untuk mengatasi suara-suara yang mas dengar” Waktu : “nanti kita bercakap-cakap selama 15 menit, mas setuju” Tempat : “berbincang-bincangnya di taman saja ya?”

FORMULIR PENGKAJIAN KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA RS. JIWA DAERAH MENUR SURABAYA RUANGAN RAWAT: GELATIK I. IDENTITAS KLIEN Inisial Umur Informan Status Alamat : Tn. S : 19 Tahun : Belum nikah : Bulak Jaya VIII Surabaya Tanggal Pengkajian RM No. Pendidikan : 15 – 11 -2010 : 03-78-09 : Pelajar : SMP TANGGAL DIRAWAT: 27 – 10 -2010

: Status, Px dan Keluarga Px Pekerjaan

II. ALASAN MASUK Klien masuk di ruang gelatik pada tanggal 27 Oktober 2010 karena px bicara dan tertawa sendiri. Keluhan saat pengkajian : Px mengatakan sering mendengar bisikan-bisikan atau suara-suara yang menyuruh untuk melaksanakan amalan-amalan (ilmu pelindung diri). Px tidak mengetahui siapa yang membisikkan suara-suara itu. Suara itu muncul jika sendirian dan respon pasien kadang diam, mondar-mondir dan memukul-mukul tembok.

17

III. FAKTOR PREDISPOSISI 1. Pernah mengalami gangguan jiwa di masa lalunya (tidak) Px tidak pernah mengalami gangguan jiwa dimasa lalunya. 2. Pengobatan sebelumnya Pengobatan sebelumnya tidak pernah karena px baru pertama kali mengalami sakit jiwa. 3. Pengalaman Tidak didapatkan data pengalaman klien karena aniaya, kekerasan atau tindakan criminal. Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan 4. Adakah anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa (Tidak) Tidak ditemukan anggota keluarga yang mengalami sakit seperti klien. Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan 5. Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan Px mengatakan saat di pondok pesantren px sering dimarah-marahi oleh kyainya karena tidak bias melaksanakan amalan-amalan yang diberi oleh kyainya. Px mengatakan saat dirumah px juga seering di marah-marahi oleh keluarganya karena dilarang untuk mengikuti ajaran kyainya yang tidak benar. Masalah Keperawatan : Respon pasca Trauma IV. FISIK
1. Tanda Vital

: TD : 110/80 mmHg : TB : 160 cm

N : 88 x/m BB : 55 kg

S : 36,50c

RR : 20

x/mnt 2. Ukur Jelaskan 3. Keluarga Fisik (Tidak) : Klien mengatakan tidak mengalami keluhan fisik Masalah Keperawatan : tidak ada masalah keperawatan 18

V. PSIKOSOSIAL 1. Genogram Jelaskan : a. Posisi klien dalam keluarga Px mengatakan px adalah anak ke 6 dari 10 bersaudara. Px berumur 19 tahun. b. Tinggal serumah Px mengatakan px tinggal serumah dengan ayah ibu kakak kelima dan adik-adiknya c. Faktor herediter Px mengatakan tidak ada anggota keluarga yang mengalami sakit seperti klien. d. Hubungan antar keluarga Px mengatakan hubungan antar keluarganya baik. Px dekat dengan kakak kelima (Tn. Sm) karena px merasa nyaman jika sedang bercerita dengan kakaknya Masalah Keperawatan : tidak ada masalah keperawatan 2. Konsep Diri a. Gambaran Diri : Px mengatakan bagian tubuh yang disukai adalah hidungnya karena hidungnya mancung. Px mengatakan bagian tubuh yang tidak disukai adalah rambutnya karena rambut px beruban.
b.

Identitas

: Px mengatakan bahwa dirinya adalah seorang laki-laki berusia 19 tahun. Px meruapakan anak keenam dari sepuluh bersaudara. Px masih sebagai pelajar di pondok pesantren.

19

c.

Peran

: Px mengatakan bahwa dirinya adalah seorang anak. Px mengatakan jarang membantu pekerjaan di rumah karena px sekolah di pondok pesantren. (Di rumah) Px mengatakan bahwa dirinya adalah px di ruang gelatik. Px termasuk px yang kooperatif. (Di Rumah Sakit Jiwa)

d. e.

Ideal Diri Harga Diri

: Px mengatakan bahwa px tidak mengetahui cita-citanya nanti menjadi apa. Px hanya berharap cepat sembuh. : Px mengatakan malu dengan dokter, perawat, mahasiswa karena takut diejek sebagai orang gila.

Masalah Keperawatan : Gangguan Konsep Diri : Harga diri rendah 3. Hubungan sosial a. Orang yang berarti Px mengatakan bahwa orang yang berarti adalah ayah dan ibunya karena px ingin membahagiakan ayah dan ibunya. b. Peran serta dalam kegiatan kelompok Px mengatakan bahwa px jarang mengikuti kegiatan di masyarakat dan di rumah sakit. Px jarang bergaul dengan orang lain. c. Hambatan dengan hubungan orang lain Px jarang berkomunikasi dengan orang lain (pendiam). Masalah Keperawatan : Resiko menarik diri 4. Spiritual a. Nilai dan keyakinan Px mengatakan px beragama islam. Px menganggap bahwa penyakitnya adalah ujian dari Tuhan Yang Maha Esa. b. Kegiatan ibadah Px mengatakan bahwa selama di rumah (sebelum MRS) px rajin beribadah. Dan di rumah sakit jarang sholat. Masalah Keperawatan : Disstres spiritual 20

GENOGRAM:

: Laki-Laki : Perempuan : Meninggal : Tinggal Serumah
19

: Orang Terdekat : Pasien

VI. STATUS MENTAL 1. Penampilan Jelaskan : Saat dikaji penampilan px cukup rapi, menggunakan pakaian sesuai dengan fungsinya, rambut pendek dan sedikit beruban, kuku pendek, px tidak memakai alas kaki dan mandi dan sikat gigi 2 kali sehari. Masalah Keperawatan : tidak ada masalah keperawatan 2. Pembicaraan Penjelasan : Saat ditanya Px menjawab pertanyaan dengan jawaban singkat dan tidak mampu memulai pembicaraan. 21

Masalah Keperawatan : Kerusakan komunikasi verbal 3. Aktivitas Motorik Tegang dan gelisah. Penjelasan : apabila px gelisah px mondar-mandir keluar masuk ruangan. Saat Halusinasi pendengaran tembok. Masalah Keperawatan : Resiko tinggi mencederai diri. 4. Alam Perasaan Khawatir Penjelasan : Px mengatakan khawatir jika bisikan-bisikan/suara muncul kembali. Masalah Keperawatan : Ansietas 5. Afek Sesuai dengan keadaan Penjelasan : Jika px diajak berbicara cerita lucu, px ikut senang dan tertawa. Jika cerita sedih px ikut sedih. Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan 6. Interaksi selama wawancara Kontak mata kurang. Penjelasan : Saat dikaji px sering menundukkan kepala dan mengalihkan pandangan. Masalah Keperawatan : Menarik diri 7. Persepsi Halusinasi pendengaran Penjelasan : Px mengatakan sering mendengar suara-suara/bisikan yang menyuruhnya kekebalan untuk mengamalkan Px tidak amalan-amalan (Ilmu tubuh) dan mengetahui siapa yang muncul Px selalu memukul-mukul

membisikkan suara-suara itu. Suara itu muncul jika sendirian dan 22

respon pasien kadang diam, mondar-mondir dan memukul-mukul tembok. Masalah Keperawatan : Gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran 8. Proses Pikir Penjelasan : Saat ditanya Px menjawab pertanyaan dengan jawaban singkat dan tidak mampu memulai pembicaraan. Masalah Keperawatan : Gangguan Proses Pikir (Arus pikir : Blocking) 9. Isi Pikir Penjelasan : Saat dikaji px tidak ditemukan kelainan isi pikir. Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan 10. Tingkat Kesadaran Penjelasan : px tau bahwa dia sekarang berada di RS Jiwa tempat orang sakit jiwa, saat ditanya sekarang ini pagi, siang atau malam px dapat menjawab dengan benar yaitu pagi dan siapa saya (pengkaji) px dapat menjawab dengan benar yaitu praktek. Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan 11. Memori Penjelasan : Ketika ditanya oleh pengkaji kapan px dibawa ke rumah sakit px dapat menjawab dengan benar yaitu “kira-kira 3 minggu yang lalu mb.” Saat ditanya pengalaman masa lalunya px bisa menceritakan ceritanya dengan runtut. Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan 12. Tingkat konsentrasi dan berhitung Penjelasan : Saat pengkaji meminta px untuk menghitung [(25 x 2) : 5 + 10 5] px dapat menjawab dengan benar, yaitu 15 dengan waktu 45 detik. Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan 23 mahasiswa yang sedang

13. Kemampuan penilaian Penjelasan : Saat ditanya mandi dulu baru makan atau sebaliknya. Px menjawab mandi dulu, alasannya dia ingin bersih badannya dulu biar saat makan terasa enak. Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan 14. Daya Tilik Diri Penjelasan : Px menerima dan menyadari tentang keadaan penyakitnya. Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan VII. KEBUTUHAN PERSIAPAN PULANG
1. Kemampuan klien memenuhi / menyediakan kebutuhan

Penjelasan : Klien mampu memenuhi atau menyediakan kebutuhannya sendiri, seperti kebutuhan makan, keamanan, perawatan kesehatan, pakaian. Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan 2. Kegiatan hidup sehari-hari a. Perawatan Diri Penjelasan : Px dapat memenuhi kebutuhannya secara mandiri, seperti, mandi, makan, BAK-BAB, serta mengganti pakaian sendiri. Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan b. Nutrisi Penjelasan : Px puas dengan pola makan yang ada dan tidak memisahkan diri saat makan, karena px merasa bahwa menu makanan yang telah disediakan sesuai dengan keinginan px. Px makan dengan frekuensi 3x sehari dan udapan 2x sehari. BB px 60 kg. Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan c. Tidur Penjelasan: Px mengatakan tidak mempunyai gangguan tidur, merasa segar setelah bangun tidur, px memiliki kebiasaan tidur siang (± 2 24

jam). Waktu tidur malam pukul 20:00 WIB, waktu bangun pukul 05:00 WIB. Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan 3. Kemampuan klien Penjelasan : Px mampu mengatasi / mengantisipasi kebutuhan sendiri, membuat keputusan berdasarkan keinginan sendiri, tetapi mengatur penggunaan obat dibantu oleh petugas. Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan 4. Klien memiliki sistem pendukung Penjelasan : Px mengatakan didukung oleh keluarganya dalam melakukan pengobatan di RSJ Menur. Keluarga terkadang menjenguk px. Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan 5. Apakah klien menikmati saat bekerja kegiatan yang menghasilkan atau hobi Penjelasan : Px mengatakan selama di RSJ Menur selalu mengikuti senam pagi. Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan VIII. MEKANISME KOPING Menghindar dan diam Penjelasan : px mengatakan apabila px mempunyai masalah px hanya diam dan menghindar dari masalah. Masalah Keperawatan : Koping Individu Inefektif IX. MASALAH PSIKOSOSIAL DAN LINGKUNGAN Penjelasan : Px adalah seorang yang pendiam. Px jarang berkomunikasi dengan orang lain. Px sekolah di pondok pesantren tetapi tidak kuat/tidak mampu mengamalkan amalan-amalan yang diberikan oleh kyainya.

25

Ketika px meminta sepeda motor, keinginan px tidak dituruti oleh keluarganya. Masalah Keperawatan : Menarik Diri X. PENGETAHUAN KURANG TENTANG Penjelasan : px tidak mengerti tentang penyakit jiwa, faktor presipitasi, koping, system pendukung, dan obat-obatan. Masalah Keperawatan : Defisit Pengetahuan XI. DATA LAIN-LAIN Pemeriksaan Laboratorium tanggal 28 Oktober 2010 Bilirubin Direct Bilirubin total Gamma GT SGOT SGPT BUN Kreatinin Asam Urat Gula Puasa XII. ASPEK MEDIK Diagnosa Medik : Skizofrenia Hebefrenik Terapi : CPZ (Chlorpromazin) 2 x 100 mg : 1 – 0 – 1 Risperidone 2 x 2 mg : 1 – 0 – 1 XIII. DAFTAR MASALAH KEPERAWATAN 1. Respon pasca Trauma 2. Gangguan Konsep Diri : Harga diri rendah Faal Hati 0,30 mg/dl 1,00 mg/dl 15 u/L 26 u/L 13 u/L Faal Ginjal 10,8 mg/dl 1,0 mg/dl 7,0 mg/dl Gula Darah 92 mg/dl 0,1 – 0,2 mg/dl 0,2- 1,0 mg/dl L 11-49 u/L ≤ 40 u/L ≤ 40 u/L 4,5- 23 mg/dl 0,8-15 mg/dl L 3-7 P 2-6 60-110 mg/dl

26

3. Disstres spiritual 4. Kerusakan komunikasi verbal 5. Resiko tinggi mencederai diri 6. Ansietas 7. Menarik diri 8. Gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran 9. Koping Individu Inefektif 10. Defisit Pengetahuan

XIV. DAFTAR DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Resiko Mencederai diri sendiri, orang lain, dan lingkungan berhubungan

dengan gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran 2. Gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran berhubungan dengan gangguan hubungan social : menarik diri 3. Gangguan hubungan social : menarik diri berhubungan dengan ketidak efektifan koping individu.

27

ANALISA DATA No 1 Data Ds: Px mengatakan sering mendengar bisikanbisikan yang menyuruhnya untuk mengamalkan amalanamalan (ilmu kekebalan tubuh) Do: - Px Tampak tegang dan gelisah - Kontak mata px kurang
- Saat terjadi

Etiologi Gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran

Masalah Resiko Mencederai diri sendiri, orang lain, dan lingkungan

TTD Feni

halusinasi px mondar-mandir memukul-mukul tembok

28

Pohon masalah

29

Resiko Mencederai Diri (efek)

Gangguan persepsi sensori: Halusinasi pendengaran ( core problem)

Gangguan

Interaksi

sosial :menarik diri (etiologi)

Gangguan konsep diri: harga diri rendah

Koping

Mekanisme

individu tidak efektif

30

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN TANGGAL No. Dx. 1. DIAGNOSA KEPERAWATAN Resiko mencederai diri sendiri, orang lain, dan lingkungan berhubungan dengan gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran Ditandai dengan • Px Tampak tegang dan gelisah • Kontak mata px kurang • Saat terjadi halusinasi px mondar-mandir dan memukulmukul tembok PERENCANAAN TUJUAN Tujuan Umum: Pasien tidak mencederai diri sendiri, orang lain, dan lingkungan. Tujuan Khusus 1. Pasien dapat membina hubungan saling percaya. 1.1 Ekspresi wajah bersahabat, menunjukkan rasa senang, ada kontak mata, mau memberi salam, mau berjabat tangan, duduk berdampingan dengan perawat, dan mau mengutarakan masalah yang dihadapi. • • • 1.1.1 Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip Sapa pasien dengan nama baik verbal maupun non verbal Perkenalkan diri dengan sopan Tanyakan nama lengkap dan nama panggilan yang disukai pasien 31 Hubungan saling percaya sebagai dasar interaksi KRITERIA HASIL RASIONAL INTERVENSI

komunikasi terapeutik. perawat dan pasien

Tunjukkan sikap empati dan merima pasien dengan apa adanya

Berikan perhatian kepada pasien dan perhatikan kebutuhan pasien

2. Pasien dapat mengenal halusinasinya

2.1 Pasien dapat menyebutkan waktu isi dan frekuensi munculnya halusinasi

2.1.1

Adakan kontak sering dan singkat secara bertahap

2.1.1.1 Menghindari waktu kosong yang dapat menyebabkan halusinasi

2.1.2

Observasi tingkah laku 2.1.1.2 pasien yang terkait dengan halusinasi

Halusinasi

harus dikenal terlebih dahulu intervensi efektif 2.1.1.3 Mengenali 32 agar

2.1.3

Membantu pasien

untuk mengenal halusinasinya : a. Jika menemukan pasien sedang berhalusinasi : Tanyakan apakah ada suara yang di dengarnya b. Jika px menjawab ada, lanjutkan : Apa yang dikatakan suara itu
c. Katakan bahwa

perilaku pada saat halusinasi

perawat percaya pasien mendengar suara itu, namun perawat tidak mendengarnya

2.1.4

Diskusikan dengan

3.1.2.1 Agar pasien 33

pasien situasi yang menimbulkan halusinasi 3. Klien dapat 3.1 yang dilakukan mengendalikan halusinasinya. 3.1.2 Diskusikan manfaat Klien dapat 3.1.1 Identifikasi bersama klien tindakan yang dilakukan jika terjadi halusinasi (tidur, marah menyibukan diri, dll). biasanya untuk

dapat mengenal halusinasinya.

3.1.1.1Agar mengontrol halusinasinya.

pasien

mengontrol halusinasinya

menyebutkan tindakan

3.1.2.1Agar

pasien

cara yang digunakan pasien, jika bermanfaat beri pujian pada klien. 3.2 klien

merasa dihargai.

dapat 3.2.1 Diskusikan dengan klien 3.2.1.1 Agar pasien tentang cara baru mengontrol halusinasinya: • Menghardik /mengusir/tidak memedulikan halusinasinya 34 dapat cara mengetahui mengontrol

menyebutkan cara baru mengontrol halusinasi.

halusinasinya.

• Bercakap-cakap dengan orang lain jika halisinasinya muncul. • Melakukan aktivitas sehari-hari . 3.3 cara mengusir/ memperdulikan halusinasinya klien dapat 3.3.1. Beri contoh cara 3.3.1.1Agar dapat mendemonstrasikan mengontrol mau cara mencuci klien

mendemonstrasikan menghardik/ tidak

menghardik halusinasinya:”pergi! Saya mau dengan suster” tidak

mendengar kamu, saya halusinasinya. piring/bercakap-cakap 3.3.2. Minta klien mengikuti 3.3.2.1Untuk contoh yang dberikan mengetahui dan minta mengulanginya. mampu melaksanakan mengontrol halusinasi yang telah diberikan 35 cara apakah klien klien mengerti dan

3.3.3.

Beri

pujian

atas 3.3.3.1Agar merasa dihargai

klien

keberhasilan klien

3.3.4. Susun jadwal latihan 3.3.4.1Agar klien dan minta klien memiliki kegiatan evaluation) (self- mengontrol halusinasinya.

klien waktu

untuk mengisi jadwal khusus untuk latihan

3.3.5.

Tanyakan

kepada 3.3.5.1Agar mengetahui

dapat tingkat

klien:”bagaimana menghardik? Apakah halusinasinya berkurang?” pujian. berikan

perasaan Tn. S setelah perkembangan klien

36

3.4

klien

dapat 3.4.1. Beri contoh percakapan 3.4.1.1Agar dengan lain:”suster dengar cakap” orang dapat suara-suara,

klien

mendemonstrasikan bercakap-cakap dengan orang lain.

memahami

saya cara yang diberikan.

temani saya bercakap-

3.4.2. Minta klien memberi 3.4.2.1 Agar klien contoh percakapan dan dapat mengulanginya. mendemonstrasikan cara bercakap-cakap yang benar. 3.4.3. Beri pujian atas 3.4.3.1Agar merasa dihargai klien waktu klien

keberhasilan klien

3.4.4. Susun jadwal klien 3.4.4.1Agar untuk mengisi dengan cakap, dan melatih diri, memiliki

kegiatan khusus untuk latihan bercakap- mengontrol mengisi halusinasinya. 37

jadwal kegiatan (selfevaluation). 3.4.5. Tanyakan klien: S setelah latihan halusinasi kepada 3.4.5.1Agar mengetahui tingkat

Bagaimana perasaan Tn perkembangan klien. bercakap-cakap? Apakah pujian. 3.5. klien dapat 3.5.1. kegiatan Diskusikan klien 3.5.1.1Agar klien cara berkurang?”berikan

mendemonstrasikan pelaksanaan sehari-hari.

tentang kegiatan harian mengetahui yang dapat dilakukan mengalihkan dirumah dan di rumah halusinasinya. sakit perilaku sesuaikan control kekerasaan). 38 (untuk klien dengan kekerasaan, dengan perilaku halusinasi

3.5.2.

Latih

klien

untuk 3.5.2.1Agar kegiatan lebih

klien

melakukan masukkan

memahami

yang disepakati dan cara kedalam mendemonstrasikan kegiatan jadwal kegiatan. Minta pelaksaan klien mengisi jadwal sehari-hari. kegiatan evaluation). 3.5.3. tanyakan kapada klien: setelah kegiatan 3.5.3.1 Agar tingkat (self-

“bagaimana perasaan tuan S mengetahui harian?

melakukan perkembangan klien.

Apakah hakusinasinya berkurang? “ berikan pujian. 3.6. klien dapat 3.6.1. Anjurkan terapi mengikuti orientasi stimulant klien untuk 3.6.1.1Agar TAK, dapat persepsi 39 realita, halusinasinya. klien

mengikuti

mengalihkan

aktifitas kelompok .

(pedoman sendiri). 3.7. klien dapat 3.7.1. Klien menyebutkan dosis, minum dan obat

untuk

dapat 3.7.1.1 Agar klien jenis, mengetahui serta prinsip waktu lima benar tesebut.

mendemonstrasikan kepatuhan minum obat untuk halusinasi. mencegah

manfaat obat tersebut (prinsip 5 benar: benar orang, obat, dosis, waktu dan cara) a. Diskusikan dengan klien tentang jenis obat yang diminum (nama, warna, dan besarnya) : waktu minum obat (jika 3x : pukul 07.00, 13.00 dan 19.00) : dosis : cara b. Diskusikan dengan klien tentang manfaat minum obat secara 40

teratur : • Beda perasaan sebelum dan sesudah minum obat • Jelaskan bahwa dosis hanya boleh diubah oleh dokter • Jelaskan tentang akibat minum obat tak teratur, misalnya : penyakit kambuh 3.7.2. Klien mendemonstrasikan kepatuhan minum obat sesuai jadwal yang di tetapkan a. Diskusikan proses minum obat : • Klien meminta obat kepada perawat (jika dirumah sakit), kepada keluarga (jika 41 3.7.2.1 Agar klien mengetahui cara mengkonsumsinya. jenis obat, manfaat dan

dirumah) • Jika memeriksa obat sesuai dosisnya • Klien meminta obat pada waktu yang tepat b. Susun jadwal minum obat bersama klien 3.7.3. Klien mengevaluasi 3.7.3 Agar klien kemampuan dalam mengetahui kemampuannya dalam mengkonsumsi obatnya.

mematuhi minum obat a. Klien mengevaluasi pelaksanaan minum obat dengan mengisi jadwal kegiatan harian (self-evaluation) b. Validasi pelaksanaan minum obat klien c. Beri pujian atas keberhasilan klien d. Tanyakan kepada klien: • “Bagaimana perasaan

42

Tn. S dengan minum obat secara teratur?” • “Apakah keinginan marahnya berkurang?”

43

PELAKSANAAN No. TANGGAL/ Dx. 1. 15 2010 Jam 08.00-10.00 Diagnosis JAM November 1. Resiko Mencederai diri sendiri, orang lain, dan lingkungan berhubungan sensori : halusinasi pendengaran Ditandai dengan • Px Tampak tegang dan gelisah • Kontak mata px kurang • Saat terjadi halusinasi px mondar-mandir dan memukul-mukul tembok Implementasi TUK 1: pasien dapat senang O: klien mau berjabat tangan dan memperkenalkan diri - Kontak mata kurang - Klien menjawab singkat pertanyaan Evaluasi

membina hubungan saling S: suhri, baik, percaya dengan perawat

dengan gangguan persepsi a. BHSP Salam terapeutik “Selamat Pagi, mas” (sambil berjabat tangan) “Perkenalkan nama saya Feny dari mahasiswa akper Soetomo Surabaya. “Siapa namanya, mas?” “Biasanya b. evaluasi nama panggilannya siapa? A: klien dapat saling percaya P : perthankan TUK 1, Lanjutkan TUK 2

“Bagaimana kabar mas membina hubungan hari ini?” c.Kontrak - Topik : “Pada kesempatan ini saya ingin mengenal mas lebih jauh”
- Waktu : “apakah kita bisa

berbincang-bincang selama 15menit?” - Tempat : “bagaimana kalau kita ngobrol disini saja”

S: Pasien berteriak “nenek!!!” O: Pasien hanya diam saja, kontak mata kurang. 44

A: tujuan belum tercapai. “Oh ya, mbak. Hari ini kita P: Pertahankan saling berkenalan dulu ya. 08.00 WIB ya, mbak.” Gangguan persepsi sensori TUK 1: BHSP halusinasi dengan dengan : • • • Pasien tampak menyendiri Pasien tampak tiduran Saat terjadi halusinasi pasien berteriak-teriak “Mati”. Kontak mata kurang TUK 2: “Permisi, mas suhri.” S : “Alhamdulillah baik mbak” ada, pasien menundukkan kepala. Coba mas ceritakan suarasuara yang mas dengar! S: “suara yang saya dengar tidak begitu 45 sekarang?” A: Tujuan tercapai “Oh ya udah kalau begitu. Sekarang ya!” Mbak sebagian Nanti kami kesini lagi. P: Lanjutkan TUK istirahat 2. berhubungan “Selamat Pagi, mbak!!!” interaksi sosial O: Pasien tampak tersenyum saja, “Bagaimana perasaan mbak kontak mata ada. S: TUK 1, Lanjutkan Besok kita ketemu lagi jam TUK 2. 1. 15 November 2010 Jam 08.00

menarik diri yang di tandai “Masih ingat kami, mbak?’

• 1 15 November 2010 Jam 10.00

2. Resiko Mencederai diri sendiri, orang lain, dan lingkungan berhubungan sensori : halusinasi pendengaran Ditandai dengan • Px Tampak tegang dan gelisah • Kontak mata px kurang

dengan gangguan persepsi “Bagaimana keadaan, mas?” O: kontak mata

Saat terjadi halusinasi px mondar-mandir dan memukul-mukul tembok Kapan saja suara itu muncul? Situasi yang bagaimana menurut mas menjadi pencetus munculnya suara tersebut ? Berapa kali suara itu mas dengar dalam sehari? Apakah yang mas lakukan jika suara-suara itu muncul?

jelas mbak” O: pasien tampak menyeringai. S : suara muncul ketika saya sendirian mbak. Ketika suasana saya lagi kosong. S : suara-suara itu muncul kira-kira 4 kali dalam sehari. S : “saya biasanya mondar-mandir mbak”. Apakah mas mengikuti perintah suara-suara yang mas dengar? S : “Saya mencoba untuk tidak mengikutinya tetapi rasanya sakit semua” Bagaimana perasaan mas ketika suara-suara itu muncul ? A : Masalah teratasi sebagian P : Lanjutkan TUK 3. S : “Perasaanya ya takut mbak”

46

1

6 November 2010 3. Resiko Mencederai diri Jam 08.00-10.00 sendiri, orang lain, dan lingkungan berhubungan sensori : halusinasi pendengaran Ditandai dengan • Px Tampak tegang dan gelisah • Kontak mata px kurang • Saat terjadi halusinasi px mondar-mandir dan memukul-mukul tembok

TUK 3 : “Selamat pagi mas?” “Bagaimana kabarnya hari S : “Alhamdulillah baik” mendengar S : “saya biasanya kadang mencoba untuk menolak mbak tapi susah” “Apakah dengan cara S : “kadang juga tidak mbak” A : Masalah teratasi sebagian P : pertahankan TUK 1,2,3 seperti itu suara-suara yang berhasil dan kadang mas dengar berkurang?” “Kalau mas

dengan gangguan persepsi ini mbak?”

suara-suara itu apa yang mengikuti dan mas lakukan ?”

47

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->