Anda di halaman 1dari 4

MENGGUGAT ARAH PARPOL

* Puji Sumarsono

Akhir- akhir ini, arah partai politik kembali disorot tajam. Beberapa pengamat

politik dan LSM menilai, bahwa apa yang dilakukan parpol saat ini hanyalah setengah hati.

Akibatnya gerak dan langkah yang dijalankanpun tanpa visi dan misi yang jelas. Paling

tidak lahirnya demokrasi semu dan semakin jauhnya mahkota kesejahteraan yang diperoleh

oleh rakyat adalah bukti konkrit bahwa parpol masih setengah hati dalam menjalankan

amanat yang diberikan oleh rakyat dan UU.

Saya percaya, penilain beberapa pengamat politik dan LSM tidak hanya ditujukan

terhadap arah parpol sepanjang tahun 2003-2004, tetapi juga yang terjadi selama masa

transisi. Fakta membuktikan bahwa banyak parpol yang meninggalkan rakyat (basis)

setelah pemilu berlangsung. Sehingga dapat dipastikan, pendekatan partai politik terhadap

masyarakat hanya sekedar formalitas dan memenuhi konstitus i-mendapatkan legitimasi

dari masyaralkat. Padahal, semula banyak kalangan optimis, maksimalnya kinerja parpol

akan menentukn percepatan keluar dari masa transisi politik yang panjang dan

menyesakkan ini. Lalu apa yang salah dengan parpol?. Benarkah penilain sebagian

masyarakat bahwa parpol hanya setengah hati dan tidak jelas dalam menjaknkan tugasnya?

Memang tidak bisa dipungkiri, sejak tumbangnya kekuasaan Soeharto

(pemerintahan otoriter), telah terjadi perubahan mendasar mengenai parpol. Parpol tidak

lagi berasas tunggal (Pancasila). Sehingga membuka bagi kelompok-kelompok lain yang

dimasa lalu tidak setuju dengan pembelkauan asas tunggal ikut berpartisipasi aktif dalam

kancah perpolitikan nasional. Hal ini dibuktikan dengan lahirnya puluhan parpol yang tidak
hanya berasaskan Pancasila. Fungsi semu yang dimiliki parpol berubah 180 derajat, parpol

kemudian menjadi sebuah kekuatan baru yang tidak hanya dihitung tapi juga

diperhitiungkan oleh pemerintah saat itu.

Kekeliruan arah parpol bermula dari kekacauan di tingkatan pemerintahan. Pada

saat itu (Orba), ketika pemilu menghasilkan satu pemenang pemilu dengan suara terbanyak,

terjadi perubahan-perubahan arah parpol yang dilakukan dengan pola zero zum-game, yaitu

partai pemenang pemilu melalui pemerintahan yang dikusainya, melakukan penguatan-

baik ditingkatang pemerintah maupun basis- dengan memangkas habis fungsi dua parpol

dan musuh-musuh politiknya. Padahal semestinya, untuk meciptakan check and ballance,

harus ada kelompok oposisi yang mengkritisi kebijakan pemerintah saat itu. Kekeliruan

yang ada di pemerintahan baik eksekutif maupun legislatif diperparah dengan lemahnya

mental para politisi yang kemudian tunduk dan patuh karena sebuah jabatan. Hal inilah

yang kemudian membuat fungsi parpol menjadi tumpul dan “impoten”.

Meskipun deskripsi diatas tidak terulang sepenuhnya di pemerintahan sekarang,

paling tidak ada dua hal yang menjadi titik tolak atas gugatan terhadap arah dan kinerja

partai politik. Pertama, yaitu eksistensi partai politik secara struktural. Memang parpol

didirikan hanya poleh beberapa orang -minimal lima puluh orang- UU no 31 tahun 2002

tentang partai politik. Namun parpol dan lima puluh orang tersubut tidak akan punya arti

ketika hanya diakui secara institusional (Departemen Kehakiman), tapi tidak diakui oleh

masyarakat secara luas. Atas posisi tersebut, parpol sadar bahwa mereka (red, parpol) butuh

massa dan basis demi menjamin keberlangsungan hidup partai. Akhirnya mereka

melakukan kampanye dan manuver politik untuk mendapatkan massa dan dukungan dalam

pemilu. Dengan demikian, jelas bahwa secara struktural eksistensi partai diakui tidak hanya
karena tercatat di Departemen Kehakiman tapi juga mempunyai basis massa dan dukungan

yang jelas dari masyarakt. Dukungan yang diberikan itupun tidak Cuma-Cuma, masyarakat

menginginkan kompensasi yang berupa penyampain aspirasi.

Yang kemudian menjadi permasalahan, kontribusi partai terhadap pendukung atau

basis. Masih belum berubahnya paradigma partai politik untuk menjadikan masyarakat

hanya sekedar sebagai legitimator atau alat untuk mengeruk sebanyak mungkin suara

dalam pemilu. Setelah proses pemilu selesai, berarti parpol sah untuk meninggalkan dan

mencampakkan masyarakat pendukung setianya. Paradigma konservatif ini tampaknya

masih laku manis di era Reformasi ini, bahwa kehadiran atau pendekatan parpol adalah

ketika merasa butuh yaitu menjelang pemilu dan saat pemilu berlangsung. Setelah itu

mereka (red, parpol) menggunakan jargon “tinggal gelanggang colong playu” atau

meninggalkan begitu saja basis massanya yang menjadikan parpol itu menjadi ada. Dengan

demikian, praktis parai politik tidak lagi memperjuangkan kepentingan rakyat dan bahkan

mengkhianati janji-janji yang telah disodorkan pada saat kampanye.

Kedua, yaitu fungsi parpol secara konstitusional. Dalam UU no 31 tahun 2002

tentang parpol, parpol berfungsi sebagai sarana pendidikan politik bagi anggotanya dan

masyarakat luas agar menjadi warga RI yang sadar akan hak dan kewajibanya. Selama ini

fungsi yang diamanatkan UU tersebut hanya dijalankan setengah hati -untuk tidak

menyebut tidak dijalankan sama sekali- oleh partai. Indikasi tersebut bisa dilihat dari dua

subjek. Pertama, pendidikan politik bagi the voters atau pemilih, banyak pemilih yang

tidak tahu sistem baru pemilu. LSI (Lembaga Survei Indonesia) yang dipimpin oleh Jonny

menyebutkan bahwa banyak pemilih kita yang tidak tahu apa itu DPD, KPU dan bahkan

mereka tidak tahu kalau Presiden dan wakilnya akan dipilih langsung. Kedua, pendidikan
politik bagi Politisi. Lembeknya mental politisi adalah bukti bahwa mereka tidak

mendapatkan pendidikan politik yang memadai. Sehingga muncul istilah politiusi busuk,

hitam yang sudah tidak mempunyai kredibilitas baik secara kapabilitas maupun moril

-terlibat berbagi kasus.

Disfungsi parpol diatas menunjukkan bahwa parpol tidak mmemiliki politicall will

atau Itikad baik untuk memberantas “buta” politik. Bisa jadi, disfungsi tersebut adalah

sebuah kesengajaan parpol agar pemilih tidak melek politik sehingga bisa dibodohi dan

suaranya menjadi angka-angka yang bisa dimanipulasi. Disinilah mulai perang antara

idealisme dan pragmatisme. Hanya parpol yang mempunyai komitmen tinggi yang akan

mampu menjalankan amanat rakyat dan UU dengan konsisten.

Untuk mengawasi efektivitas kinerja dan fungsi parpol tersebut, belum ada lembaga

khusus yang mengwasinya. kemungkinan untuk mbalelo -tidak aspiratif- sangat besar

sekali karena secara konstitusional tidak ada UU yang menghakimi jika parpol tidak

aspiratif. Yang ada hanyalah beban moral dan pengawasan penuh dari masyarakat. Karena

itu, meminjam istilah Komarudin Hidayat, dibutuhkan manajemen pengawasan berbasis

masyarakat. Masyarakat inilah yang akan menghukum parpol dengan tidak memilihnya

kembali pada pemilu jika mereka mengkhianati amanat rakyat.

* Mahasiswa UMM dan Ketua Umum HMI