Anda di halaman 1dari 19

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Produksi udang di Indonesia dari tahun ke tahun semakin meningkat. Hal

ini diindikasikan dengan naiknya jumlah udang yang diekspor oleh peternak

udang. Pada tahun 1996 jumlah udang yang diekspor adalah 162.221 ton, tahun

2000 sebesar 220.520 ton, tahun 2006 mencapai 240.000 ton dan tahun 2009

meningkat hingga 250.000 ton (BPS, 2009).

Salah satu hasil sampingan dari industri pengolahan udang adalah tepung

limbah udang. Tepung limbah udang merupakan sisa pengolahan udang yang

terdiri dari kulit dan alat pencernaan. Perolehan tepung limbah dari tubuh udang

berkisar antara 35-70%. Hasil kalkulasi jumlah tepung limbah dari industri udang

di Indonesia hingga tahun 2009 adalah sebesar 175.000 ton. Tepung limbah udang

menurut beberapa peneliti mengandung protein kasar 39,45-52,70%. Bila dihitung

kandungan protein yang terdapat pada tepung limbah udang ekspor Indonesia

pada tahun 2006 sebesar 92.225 ton. Protein tepung limbah udang yang berlimpah

berpotensi dijadikan sebagai sumber protein pakan ternak (Okoye et al, 2009).

Pemanfaatan tepung limbah udang yang diolah menjadi pakan ternak telah

dilakukan di Indonesia, namun penerapannya terbatas. Hal tersebut dikarenakan

protein limbah udang terikat dalam bentuk senyawa komplek antara protein-kitin

dan garam CaCO3. Kitin merupakan karbohidrat struktural yang disusun oleh

polimer rantai panjang N-Asetil, D-glukosamina dengan ikatan β1,4 glikosidik

yang banyak ditemukan pada kulit udang dan sulit dicerna oleh hewan ternak

1
2

karena ikatannya sangat kuat. Ikatan ini mampu terputus dengan bantuan

biokatalisator yang spesifik yaitu kitinase (Carroad dan Tom, 1978).

Kitinase menghidrolisis struktur ikatan β1,4 glikosidik homopolimer N-

Asetil, D-glukosamina kitin yang terurai menjadi senyawa sederhananya (N-

Asetil, D-glukosamina) dan membebaskan asam amino dan nutrisi penting yang

terikat kitin. Saluran pencernaan ternak tidak menghasilkan kitinase untuk

mencerna kitin, sehingga protein yang terdapat pada limbah udang tidak dapat

dicerna dan dimanfaatkan secara maksimal.

Dekomposisi kitin tepung limbah udang telah dilakukan melalui metode

fisika, kimia dan biologi. Metode fisika memperlakukan tepung limbah udang

dengan tekanan uap panas. Metode kimia melalui perendaman dengan larutan

asam/basa. Metode biologi menggunakan jasa bakteri, jamur dan kapang.

Pengolahan melalui metode biologi banyak dimanfaatkan oleh masyarakat

karena dinilai paling mudah dan murah. Dekomposisi kitin tepung limbah udang

dengan memanfaatkan jamur dan kapang memiliki beberapa kelemahan, yaitu

memerlukan waktu yang lama (di atas tujuh hari), meningkatkan kandungan serat

kasar akibat pertumbuhan miselium dan menurunkan daya cerna pakan.

Fermentasi menggunakan bakteri sebagai inokulum juga menimbulkan masalah

karena tubuh bakteri mengandung asam nukleat. Meningkatnya populasi bakteri

selama proses fermentasi akan meningkatkan jumlah asam nukleat. Nitrogen yang

berasal dari asam nukleat terhitung sebagai protein kasar pada analisa proksimat.

Kemampuan hewan mencerna protein yang berasal dari asam nukleat terbatas dan

hanya sebagian kecil yang dapat dimanfaatkan karena saluran pencernaannya

tidak menghasilkan nuklease untuk mencerna asam nukleat. Selain itu dinding sel
3

bakteri juga mengandung kitin sehingga akan mempersulit proses absorbsi protein

dalam tubuh ternak. Meskipun produk pengolahan tepung limbah udang

menggunakan metode biologi dapat meningkatkan kandungan protein ransum,

namun hasilnya tidak optimal karena diperkirakan perlakuan yang diberikan

bersifat merenggangkan ikatan β1,4 glikosidik pada kitin dan belum

mendegradasinya secara sempurna.

Pemanfaatan biokatalisator kitinase untuk mendegradasi kitin yang

terdapat pada tepung limbah udang belum banyak dilakukan karena produk

biokatalisator kitinase komersial yang telah dipurifikasi relatif mahal. Jika

digunakan untuk memperbaiki kualitas nutrisi tepung limbah udang tidak efisien

dan tidak ekonomis. Hal ini dapat diatasi dengan memanfaatkan biokatalisator

kitinase ekstraseluler yang diekstrak dari bakteri yang diisolasi dari alam. Serratia

marcescens merupakan mikroorganisme penghasil biokatalisator kitosanase dan

kitinase ekstraseluler, dan biokatalisator yang dihasilkannya mudah diekstraksi

karena bakteri ini menghasilkan biokatalisator untuk menghidrolisis lingkungan.

Karya tulis ini menelaah sejauh mana manfaat kitinase ekstraseluler dari

bakteri Serratia marcescens sebagai biokatalisator dalam meningkatkan kualitas

tepung limbah udang yang selanjutnya digunakan sebagai sumber nutrisi dan

protein ransum ternak.

1.2 Batasan Masalah

Penulis memfokuskan penelitian ini pada penggunaan kitinase

ekstraseluler yang diekstrak dan diisolasi dari bakteri Serratia marcescens sebagai

biokatalisator untuk meningkatkan kualitas tepung limbah udang yang kemudian

digunakan sebagai sumber nutrisi dan protein ransum ternak.


4

1.3 Rumusan Masalah

Permasalahan yang dibahas dalam karya tulis ini adalah “bagaimana

potensi kitinase ekstraseluler yang dihasilkan oleh bakteri Serratia marcescens

dalam meningkatkan kualitas tepung limbah udang sehingga dapat digunakan

sebagai sumber nutrisi dan protein ransum ternak?”

1.3 Tujuan Penulisan

Penulisan karya tulis ini bertujuan untuk memberikan dorongan bagi

masyarakat dan pemerintah untuk mengolah dan memanfaatkan tepung limbah

udang yang dikatalis dengan kitinase ekstraseluler dari bakteri Serratia

marcescens sehingga dapat digunakan sebagai sumber nutrisi dan protein ransum

ternak.

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat dari penulisan ini secara teoritis dapat menambah pengetahuan

dan pemahaman tentang bagaimana memberi perhatian tepat guna pada tepung

limbah udang yang selama ini menimbulkan masalah lingkungan dan hanya

sedikit digunakan dalam dunia pertanian dan peternakan.

Kegunaan praktis dari penulisan karya tulis ini adalah menyadarkan

masyarakat agar menggunakan dan memanfaatkan tepung limbah udang yang

dikatalis dengan kitinase ekstraseluler bakteri Serratia marcescens yang nantinya

bisa digunakan sebagai alternatif pakan ternak.


5

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Potensi Tepung Limbah Udang

Salah satu pilihan sumber protein ternak adalah limbah udang yang secara

umum berwujud tepung. Tepung limbah udang merupakan sisa dari pengolahan

udang yang terdiri dari kulit bagian kepala, alat pencernaan, kulit bagian badan,

dan ekor udang. Proporsi kepala dan kulit udang diperkirakan antara 30-40% dari

bobot udang segar.

Udang di Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat. Selama ini

potensi udang Indonesia mengalami peningkatan rata-rata sebesar 7,4% per tahun.

Potensi udang nasional mencapai 633.681 ton. Dengan asumsi laju peningkatan

tersebut tetap, maka pada tahun 2004 potensi udang sebesar 785.025 ton. Dari

proses pembekuan udang untuk ekspor, 60-70% berat udang menjadi limbah

(bagian kulit, kepala dan ekor) sehingga diperkirakan akan dihasilkan limbah

udang sebesar 510.266 ton (BPS, 2009s).

Melihat kemungkinan strategis, sudah banyak dilakukan analisa mengenai

kandungan nutrisi tepung limbah udang. Suatu penelitian juga telah dilakukan

untuk memastikan tingkat penggunaan tepung limbah sebagai pakan ternak serta

memperhitungkan kemampuan substitusi untuk mengurangi ketergantungan yang

bersifat penuh pada tepung ternak impor.

5
6

Nutrisi Kandungan dalam tepung limbah udang (%)


Air 6,09
Abu 22,75
Protein 42,65
Lemak 8,07
Serat Kasar 18,18
Tabel 2.1 Analisa kandungan nutrisi pada tepung limbah udang.

Sumber: Laboratorium Ilmu Makanan Ternak, Departemen peternakan USU.

2.2 Bakteri Serratia marcescens

Kingdom : Bakteri

Phylum : Proteobakteri

Class : Gamma Proteobakteri

Ordo : Enterobacteriales

Famili : Enterobacteriaceae

Genus : Serratia

Spesies : Serratia marcescens

Serratia marcescens adalah jenis bakteri gram negatif berbentuk basil

(bulat lonjong) dan beberapa galur membentuk kapsul. Bakteri ini termasuk

organisme yang bergerak dengan cepat (motil) karena mempunyai flagela peritrik,

dapat tumbuh dalam kisaran suhu 50°-400° C dan dalam kisaran pH 5-9. Serratia

marcescens sering digunakan dalam dunia farmasi dan kedokteran, sehingga

sering dikembang biakkan dan dijual belikan di apotek. Pada suhu kamar, bakteri

patogen ini menghasilkan zat warna (pigmen) merah. Bakteri jenis ini tergolong

fakultatif anaerobik yang tidak terlalu membutuhkan oksigen.

2.2.1 Aktivitas Biokimia


7

Serratia marcescens menfermentasi mannitol, salisin, dan sukrosa dengan

produknya berupa jenis asam. Serratia marcescens dibedakan dari bakteri gram

negatif lainnya karena melakukan hidrolisis kasein. Hidrolisis kasein yang

dilakukan Serratia marcescens untuk menghasilkan metalloprotease ekstraselular

yang berfungsi dalam interaksi sel ke matriks ekstraselular. Serratia marcescens

juga menunjukkan adanya triptofan dan degradasi sitrat. Salah satu produk akhir

dari degradasi triptofan adalah asam piruvat. Sitrat dan asetat dapat digunakan

sebagai sumber karbon satu-satunya. Banyak galur menghasilkan pigmen merah

muda dan merah/magenta (Park, 1997).

2.2.2 Mekanisme Kerja Bakteri Serratia marcescens

Degradasi kitin dilakukan oleh mikroorganisme, dimana kitin merupakan

sumber karbon dan nitrogen untuk pertumbuhannya. Terdapat dua macam lintasan

perombakan kitin; lintasan perombakan kitin yang belum diketahui (kitinoklastik)

dan lintasan yang melibatkan hidrolistik ikatan (1,4) glikosida (kitinolitik).

Hidrolisis ikatan ini dilakukan oleh biokatalisator eksokitinase dan endokitinase.

Eksokitinase memecah bagian diasetilkitobiosa dari ujung nonreduksi suatu rantai

kitin. Endokitinase memecah bagian ikatan glikosida rantai kitin secara acak dan

menghasilkan diasetilkitobiosa sebagai hasil utama yang bersama-sama dengan

triasetilkitobiosa akan dirombak secara perlahan menjadi disakarida dan

monosakarida.

2.3 Biokatalisator
8

Biokatalisator terdapat secara alami pada semua organisme hidup dan

berperan sebagai katalis dalam reaksi kimia. Istilah biokatalisator mulai

diperkenalkan pertama kali tahun 1878 oleh Kuhne yang mengisolasi senyawa

biokatalisator dari ragi. Konsep kerja biokatalisator dikembangkan oleh Emil

Fischer di tahun 1894 yang mempopulerkan istilah “gembok dan kunci” untuk

menjelaskan interaksi substrat biokatalisator (Suhartono, 1989).

Saat ini lebih dari 3.000 biokatalisator telah diidentifikasi. Seperti halnya

protein, biokatalisator juga tersusun oleh rantai asam amino. Biokatalisator akan

mempercepat reaksi kimia dengan cara menempel pada substrat dan keseluruhan

proses reaksi akan stabil menghasilkan kompleks biokatalisator substrat. Dengan

bantuan biokatalisator, energi yang digunakan untuk menggerakan proses reaksi

kimia menjadi lebih kecil. Biokatalisator akan bekerja pada kondisi lingkungan

yang tidak mengubah struktur aslinya, yaitu paling baik pada suhu 40° C dan pH 7

(Sudarmaji, 1984).

2.3.1 Penggunaan Biokatalisator dalam Peternakan

Alasan utama penggunaan biokatalisator dalam industri makanan ternak

adalah untuk memperbaiki nilai nutrisinya. Semua binatang menggunakan

biokatalisator dalam mencerna makanannya, dimana biokatalisator tersebut

dihasilkan oleh binatang itu sendiri maupun mikroorganisme yang ada pada alat

pencernaannya.

Ada empat alasan utama untuk menggunakan biokatalisator dalam industri

pakan ternak (Bedford dan Partridge, 2001), yaitu:

a. Untuk memecah faktor anti-nutrisi yang terdapat di dalam campuran

makanan. Kebanyakan dari senyawa tersebut tidak mudah dicerna oleh


9

biokatalisator endogeneous di dalam ternak segingga mengganggu

pencernaan normal.

b. Untuk meningkatkan ketersediaan pati, protein dan garam mineral yang

terdapat pada dinding sel yang kaya serat.

c. Untuk merombak ikatan kimia khusus dalam bahan mentah yang biasanya

tidak dapat dirombak oleh biokatalisator ternak itu sendiri.

d. Sebagai suplemen biokatalisator yang diproduksi oleh ternak muda yang

mana sistem pencernaannya belum sempurna sehingga endogeneous

kemungkinan belum mencukupi.

2.4 Pengolahan Tepung Limbah Udang Menggunakan Kitinase Ekstraseluler

cBakteri Serratia Marcescens sebagai Biokatalisator

Bakteri Serratia Marcescens yang digunakan diperoleh dari apotek, lalu

dikembangbiakkan dalam media agar (bacterium suitable place/BSP). Pengolahan

tepung limbah udang dengan kitinase sebagai biokatalisator dan tepung limbah

udang sebagai substrat dapat dilakukan secara langsung dengan mencampurkan

biokatalisator dan substrat. Menurut Siblad (1976), perbandingan konsentrasi

kitinase, tepung limbah udang, dan lama reaksi yang efektif meliputi A1 = 4,017

unit biokatalisator/100 gram substrat tepung limbah udang, A2 = 6,084 unit

biokatalisator/100 gram substrat tepung limbah udang dan A3 = 8,034 unit

biokatalisator/100 gram substrat tepung limbah udang, dengan lama kerja B1 = 24

jam, B2 = 48 jam, B3 = 72 jam.

2.4.1 Kandungan Tepung Limbah Udang Sebelum dan Sesudah Pengolahan

nnnnTepung Limbah Udang


10

Sesudah pengolahan tepung limbah udang, kandungan tepung limbah

udang mengalami perubahan. Kandungan tepung limbah udang yang berubah

setelah pengolahan meliputi kitin, nutrisi (kadar air, bahan kering, protein kasar,

serat kasar, lemak kasar, BETN, Ca, P dan gula pereduksi), dan asam amino

esensial dan non-esensial yang menyusun protein ransum, meliputi asam aspartat,

asam glutamat, serin, glisin, histidin, arginin, threonin, alanin, prolin, tirosin,

valin, metionin, sistin, isoleusin, leusin, phenilalanin, lisin dan triptopan (Sibblad,

1976). Untuk mengamati kandungan tepung limbah udang sebelum dan sesudah

perlakuan, dapat dilakukan dengan menggunakan spektrofotometer dengan

panjang gelombang 560 nm.

BAB III

METODOLOGI
11

3.1 Tahap Pengumpulan Data

Tahap pengumpulan data merupakan tahapan penulis mengumpulkan data-

data dari beberapa sumber yang menjadi unsur-unsur penyusunan karya tulis ini.

Pengumpulan data dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini meliputi metode

kepustakaan, metode menyimak dan metode observasi.

Metode kepustakaan merupakan metode yang digunakan dengan mencatat

pokok bahasan dari buku pustaka yang berkaitan dengan obyek penelitian.

Metode menyimak merupakan metode dengan cara mengamati dan menyimak

secara terperinci dari hal-hal yang berhubungan dengan obyek penelitian.

Sedangkan Metode observasi merupakan metode pengamatan terhadap obyek

penelitian yang dilakukan secara analitis, jujur, dan obyektif.

3.2 Tahap Analisa Data

Tahap analisa data merupakan tahap penulis menganalisa sumber-sumber

obyek yang telah didapat dan memilah-milah data yang berkaitan dengan obyek

yang dianalisa. Analisa data menggunakan beberapa metode sebagai berikut:

a. Metode Deskriptif

Yaitu sistem pemecahan masalah dengan mengumpulkan dan menyusun

data, kemudian dianalisa dan diinterprestasikan.

b. Metode Deduktif

Yaitu cara pengambilan kesimpulan dari hal-hal yang bersifat umum ke hal-

hal yang bersifat khusus.

c. Metode Induktif 11
12

Yaitu pengambilan kesimpulan dari hal-hal yang bersifat khusus ke hal-hal

yang bersifat umum.

3.3 Tahap Hasil Analisa Data

Tahap hasil analisa data merupakan tahap penulis menyajikan hasil

penyelesaian penelitian. Hasil analisa data diperoleh dengan cara membandingkan

atau membuktikan teori yang menjadi patokan dengan data yang melatar

belakangi munculnya teori tersebut. Hasil tahap analisa data kemudian disajikan

menggunakan metode deskripitif, yaitu metode yang memaparkan hasil penelitian

secara terperinci yang disajikan dalam bentuk susunan-susunan kalimat

(kualitatif).

BAB IV
13

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Kandungan Kitin pada Tepung Limbah Udang

Kandungan kitin (%)


Biokatalisator Rataan
B1 (24 jam) B2 (48 jam) B3 (72 jam)
A1 (4,017 Unit) 10,40 10,50 10,50 10,47
A2 (6,084 Unit) 11,40 10,90 10,50 10,93
A3 (8,034 Unit) 11,40 11,10 11,00 11,17
Rataan 11,10 10,83 10,63 10,86
Tabel 4.1 Rataan kandungan kitin (%) limbah udang setelah perlakuan.

Menurut Siblad (1997), kombinasi ketiga interval unit aktivitas dan lama

hidrolisis tersebut efektif menurunkan kandungan kitin limbah udang menjadi

10,40% pada perlakuan 4,017 unit dengan lama hidrolisis 24 jam, 10,15% dan

11% pada perlakuan 6,084 unit dan 8,034 masing-masing selama 72 jam. Sesuai

dengan pernyataan Brurberg et al. (1995), bahwa Serrartia marcescens

merupakan bakteri gram negatif yang sangat efektif untuk mendegradasi kitin,

sehingga nutrisi dan protein ransum yang terikat kitin dapat dibebaskan.

4.2 Kandungan Nutrisi Tepung Limbah


13 Udang

Nutrisi Sebelum Perlakuan Sesudah Perlakuan


Air 7,87 4,10
Bahan Kering 92,13 95,90
Serat Kasar 26,89 20,35
Protein Kasar 24,03 30,30
14

Lemak Kasar 5,14 6,41


BETN 10,47 12,53
Ca 16,69 16,35
P 0,85 0,83
Gula pereduksi 19,20 115,42
Tabel 4.2. Nutrisi tepung limbah udang sebelum dan sesudah perlakuan.

Kadar air limbah udang menurun setelah dihidrolisis dengan kitinase

ekstraseluler dari 7,87% menjadi 4,10%. Penurunan ini disebabkan oleh

meningkatnya kandungan bahan kering limbah udang dari 92,13% menjadi

95,90%. Sebagai pembanding, hasil penelitian Mirzah (1997) yang mengolah

limbah udang dengan tekanan uap panas (3 kg/cm2 selama 20 menit) dapat

menurunkan kadar air limbah udang dari 8,72%. Pengolahan tersebut juga

meningkatkan bahan kering limbah udang dari 91,28% menjadi 93,00%.

Setelah dihidrolisis kitinase ekstraseluler, serat kasar limbah udang turun

dari 26,89% menjadi 20,35%. Penurunan ini berkaitan dengan penurunan

kandungan kitin dan meningkatnya gula pereduksi limbah udang pasca perlakuan

menggunakan biokatalisator. Gula pereduksi dapat digunakan sebagai indikator

aktivitas kitinase dalam merombak kitin (ekuivalen N-Asetil,D-glukosamina),

artinya semakin banyak gula pereduksi yang dihasilkan dalam proses hidrolisis

oleh biokatalisator kitinase semakin banyak pula kitin yang terdegradasi menjadi

monomernya N-Asetil,D-glukosamina. Hasil penelitian ini sesuai dengan

pendapat Watkins et al. (1982) bahwa serat kasar yang terdapat pada limbah

udang sebagian besar terdiri dari kitin. Penelitian Mirzah (1997) mendapatkan

limbah udang yang diolah dengan tekanan uap panas 3 kg/cm2 selama 30 menit

dapat menurunkan serat kasar limbah udang dari 14,49% menjadi 11,52% dan

menurunkan kandungan kitin dari 12,24% menjadi 9,94%. Hasil yang ditemukan
15

pada penelitian ini sama dengan hasil penelitian Mirzah (1997), bahwa terdapat

korelasi penurunan jumlah serat kasar dengan penurunan jumlah kitin setelah

dilakukan pengolahan.

Protein kasar tepung limbah udang meningkat dari 24,03% sebelum

perlakuan menjadi 30,30% setelah perlakuan. Peningkatan protein kasar tepung

limbah udang berkaitan dengan terdegradasinya kitin oleh kitinase. Kitin sebagai

salah satu komponen penyusun kulit udang dirombak oleh kitinase melalui

pemutusan ikatan β 1,4 glikosidik menjadi monomernya N-Asetil,D-glukosamina,

selanjutnya protein akan terbebaskan dari senyawa komplek kitin-protein-CaCO3.

Kuantitas lemak kasar tepung limbah udang meningkat setelah perlakuan

dari 5,14% menjadi 6,41%. Peningkatan lemak ini dapat disebabkan oleh

terlarutnya carotenoid (astaxanthin) yang terdapat pada limbah udang pasca

hidrolisis. Terurainya senyawa kitin dan terbebasnya protein dari senyawa

komplek kitin-protein-CaCO3 juga meningkatkan carotenoid yang dapat dianalisa

di dalam analisa proksimat senyawa carotenoid dan vitamin-vitamin yang larut

dalam lemak (A, D, E, K) terhitung sebagai lemak.

Kandungan Ca dan P yang terdapat tepung limbah udang sebelum

perlakuan menggunakan kitinase secara berturut-turut, yaitu 16,69% dan 0,85%,

relatif sama dengan kandungan Ca dan P pada tepung limbah udang sesudah

perlakuan, yaitu 16,35% dan 0,83%. Menurut beberapa peneliti, total kalsium

5,21-15,77% dan pospor berkisar antara 0,45-1,47%. Kandungan Ca dan P limbah

udang pasca perlakuan yang diperoleh pada penelitian ini mendekati kandungan

Ca dan P penelitian tersebut.

4.2 Kandungan Asam Amino dalam Protein Ransum Tepung Limbah Udang
16

Asam Amino Sebelum Perlakuan (%) Sesudah Perlakuan (%)


Asam Aspartat 0,840 1,182
Asam Glutamat 2,403 2,617
Serin 0,376 0,593
Glisin 0,519 0,876
Histidin 0,843 0,912
Arginin 0,429 0,597
Treonin 0,438 0,610
Alanin 0,486 0,715
Prolin 0,309 0,485
Tirosin 0,387 0,962
Valin 0,630 0,987
Metionin 0,423 0,508
Sistin 0,405 0,878
Isoleusin 0,489 0,617
Leusin 0,747 0,685
Penilalanin 0,491 0,711
Lisin 0,534 0,690
Triptopan 0,077 0,063
Tabel 4.3. Kandungan asam amino dalam protein ransum tepung limbah udang.

Pada tabel dapat dilihat bahwa masing-masing asam amino dalam protein

tepung limbah udang sesudah perlakuan dengan biokatalisator mengalami

perubahan secara kuantitas dibandingkan dengan asam amino sebelum perlakuan.

Asam amino aspartat, asam glutamat, serin, glisin, histidin, arginin, treonin,

alanin, prolin, tirosin, valin, metionin, sistin, isoleusin, penilalanin, lisin

kuantitasnya meningkat. Asam amino triptopan dan leusin mengalami penurunan.

Penurunan jumlah asam amino triptopan dan leusin dapat disebabkan oleh

berhentinya kinerja biokatalisator karena inhibitor non kompetitif, dimana asam

amino ini terakhir dikonversi.

Meningkatnya rata-rata asam amino dalam protein ransum tepung limbah

udang setelah perlakuan disebabkan oleh protein yang terikat dengan kitin dan

CaCO3 dapat larut sejalan dengan terdegradasinya kitin. Biokatalisator kitinase

menghidrolisis ikatan B1,4 glikosidik kitin dan menguraikannya menjadi


17

monomer sederhananya N-Asetil,D-glukosamina sehingga protein yang terikat

dengan kitin dan CaCO3 terbebaskan dari senyawa komplek tersebut.

BAB V

PENUTUP

5.1 Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kitinase

ekstraseluler dari bakteri Serratia marcescens dapat digunakan sebagai

biokatalisator untuk meningkatkan kualitas tepung limbah udang. Setelah

perlakuan, kandungan kitin limbah udang menurun. Terdegradasinya kitin akibat

aktivitas kitinase mampu melepaskan kandungan nutrisi dan asam amino dalam

protein ransum, sehingga kandungannya meningkat. Berdasarkan hasil tersebut,

limbah udang yang telah diproses menggunakan kitinase ekstraseluler bakteri

Serratia marcencens sebagai biokatalisator dapat digunakan sebagai pakan ternak.

5.2 Saran

Perlu pemurnian kitinase ekstraseluler yang dihasilkan bakteri Serratia

marcescens agar tingkat aktivitas dan produk katalisasi dapat ditingkatkan. Hasil

penelitian ini perlu diterapkan oleh masyarakat, khususnya peternak dalam

pemberian pakan sebagai upaya diversitas pakan yang lebih alami dan efisien.

Pemerintah juga perlu mendorong masyarakat dan memberikan perhatian terhadap


18

sumber pakan alternatif ternak dari tepung limbah udang untuk mengurangi

ketergantungan terhadap pakan ternak non-organik.

DAFTAR18
PUSTAKA

Armenta, R.E., Legaretta, G. dan Lall. 2002. Amino Acid Composition of A


Carotenoprotein Obtained From Fermented and Non Fermented Shrimp
Waste. California: Food Composition and Analysis Chemistry.

Biro Pusat Statistik. 2002. Statistik Perdagangan Luar Negeri Indonesia. Jakarta:
Ekspor Biro Pusat Statistik.

Biro Pusat Statistik. 2009. Statistik Perdagangan Luar Negeri Indonesia. Jakarta:
Ekspor Biro Pusat Statistik.

Brurberg, M.B., Eijsink, V.G., Haandrikman, A. J., Venema, G dan Nes, I.F.
1995. Chitinase B from Serratia marcescens BJL200 is Exported to
Periplasm without Processing. Microbiology, Vol 141, 123-131.

Corzo, A., Fritts C.A., Kidd, M.T dan Kerr, B.J. 2005. Response of Broiler Chicks
to Essensial and Non-Essensial Amino Acid Supplementation of Low
Crude Protein Diet. Animal Feed Science Technology 118: 319-327.

Flach, J. dkk. 1992. What`s New in Chitinase Research?. Experimentia 48:701-


716.

Gustav, V.K., Svein, J.H., Aalten, D.M.F.V., Synstad, B dan Eijsink, V.G.H.
2005. The Non-Catalytic Chitin-Binding Protein CBP21 from Serratia
marcescens is Essential for Chitin Degradation. Having a Unique Mode of
Action from Aspergillus Fumigatus YJ-407.

Hong, K. N., Mayers, S.P, dan Lee, K.S. 1989. Isolation and Characterization of
Chitin from Crawfish Shell Waste. Journal of agricultural and food.

Lowry, O.H., Rosebrough, H.P.J., Farr, A.L, dan Randall, R.J. 1951. Protein
Measurement with the Valin Phenol Reagent. J. Biochem.193:256-275.
19

Mahata, Maria Endo., dkk. 2006. Potensi Enzim Kitinase Ekstraseluler Bakteri
Serratia Marcescens dalam Meningkatkan Kualitas Limbah Udang dan
Alpikasinya Sebagai Pakan Ternak. Medan: Universitas Sumatera Utara.

Mirzah, 1990. Pengaruh Tingkat Penggunaan Tepung Limbah Udang yang


Diolah dan Tanpa Diolah Dalam Ransum Terhadap Performans Ayam
Pedaging. Bandung: Tesis Pascasarjana Univesitas Pajajaran.

Mirzah, 1997. Pengaruh Pengolahan Tepung Limbah Udang Dengan Uap Panas
Terhadap Kualitas dan Pemanfaatannya Dalam Ransum Ayam Broiler.
Bandung: Disertasi Pada Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran.

Murray, R. K., Granner, D.K., Mayes, P. A., Rodwell, V. W. 1995. Biokimia.


Harper, Edisi ke 22.

Okoye, F.C., Ojewola, G.S., Njoku-Onu, K. 2005. Evaluation of Shrimp Waste


Meal as a Probable Animal Protein Source for Broiler Chicken.
International Journal of Poultry science 458-461.

Park, J. K., Morita, K., Fukumoto, I., Yamasaki, Y., Nakagawa, T., Kawamukai,
M, dan iA) from Enterobacter sp G1. Biosci. Biotechnol.Biochem., 61:
684-689.

Rosenfeld, D.J., Gernat, A.G., Marcano, J.D., Murillo, J.G., Lopez, G.H, dan
Floes, J.A.1997. The Effect of Using Different Levels of Shrimp Meal in
Broiler Diet. Poult. Sci., 76: 581-587.

Sibbald, I.R. 1976. A Bioassay for True Metabolizable Energy in Feedingstuff.


Poultry Science 55:303-38.

Steel, R.G..D, dan Torrie, T.H. 1991. Prinsip dan Prosedur Statistik Suatu
Pendekatan Biometrik. Jakarta: P.T Gramedia Pustaka Utama.

Sudarmaji, Bambang. 1984. Prosedur Analisa Untuk Bahan Makanan dan


Pertanian. Yogyakarta: Kepustakaan Yogyakarta.

Suhartono, M.T. 1989. Enzim dan Bioteknologi. Bogor: Departemen Pendidikan


dan Kebudayaan.

Wahyu, J. 1988. Ilmu Nutrisi Unggas. Yogyakarta: Gajahmada University Press.

Watkins, B.E dan Oldfield, J.E. 1982. Evaluation of Shrimp and King Crab
Processing by Product as Supplement of Mink. J. Anim. Sci. 55 (3): 578-
580.