SINDROME KOMPARTEMEN

Ditulis oleh abukalya di/pada 26/04/2010 A. Definisi Syndrome kompartemen merupakan suatu kondisi dimana terjadi peningkatan tekanan interstitial dalam sebuah ruangan terbatas yakni kompartemen osteofasial yang tertutup. Sehingga mengakibatkan berkurangnya perfusi jaringan dan tekanan oksigen jaringan. Kompartemen osteofasial merupakan ruangan yang berisi otot, saraf dan pembuluh darah yang dibungkus oleh tulang dan fascia serta otot-otot individual yang dibungkus oleh epimisium. Secara anatomik, sebagian besar kompartemen terletak di anggota gerak Berdasarkan letaknya komparteman terdiri dari beberapa macam, antara lain: 1. Anggota gerak atas a. Lengan atas : Terdapat kompartemen anterior dan posterior b. Lengan bawah : Terdapat tiga kompartemen,yaitu: flexor superficial, fleksor profundus, dan ekstensor 2. Anggota gerak bawah a. Tungkai atas: Terdapat tiga kompartemen, yaitu: anterior, medial, dan posterior b. Tungkai bawah Terdapat empat kompartemen, yaitu: kompartemen anterior, lateral, posterior superfisial, posterior profundus Syndrome kompartemen yang paling sering terjadi adalah pada daerah tungkai bawah (yaitu kompartemen anterior, lateral, posterior superficial, dan posterior profundus) serta lengan atas (kompartemen volar dan dorsal) B. Etiologi Terdapat berbagai penyebab dapat meningkatkan tekanan jaringan lokal yang kemudian memicu timbullny sindrom kompartemen, yaitu antara lain: 1. Penurunan volume kompartemen Kondisi ini disebabkan oleh: · Penutupan defek fascia

Penekanan terhadap saraf perifer disekitarnya akan menimbulkan nyeri hebat. dan nekrosis jaringan lokal yang disebabkan hipoksia.· 2. Dalam keadaan ini penghantaran oksigen . C. yang diikuti oleh meningkatnya tekanan dalam kompartemen. Traksi internal berlebihan pada fraktur ekstremitas Peningkatan tekanan eksternal Balutan yang terlalu ketat Berbaring di atas lengan Gips Peningkatan tekanan pada struktur komparteman Beberapa hal yang bisa menyebabkan kondisi ini antara lain: · · · · · · · Pendarahan atau Trauma vaskuler Peningkatan permeabilitas kapiler Penggunaan otot yang berlebihan Luka bakar Operasi Gigitan ular Obstruksi vena Sejauh ini penyebab sindroma kompartemen yang paling sering adalah cedera. tekanan vena meningkat. penurunan aliran darah kapiler. tidak ada lagi darah yang akan masuk ke kapiler sehingga menyebabkan kebocoran ke dalam kompartemen. Pada titik ini. aliran darah melalui kapiler akan berhenti. peningkatan tekanan jaringan menyebabkan obstruksi vena dalam ruang yang tertutup. Patofisiologi Patofisiologi sindrom kompartemen melibatkan hemostasis jaringan lokal normal yang menyebabkan peningkatan tekanan jaringan. dimana 45 % kasus terjadi akibat fraktur. dan 80% darinya terjadi di anggota gerak bawah. Metsen mempelihatkan bahwa bila terjadi peningkatan intrakompartemen. · · · 3. Peningkatan tekanan secara terus menerus menyebabkan tekanan arteriolar intramuskuler bawah meninggi. Setelah itu. Tanpa memperhatikan penyebabnya.

Terdapat tiga teori yang menyebabkan hipoksia pada kompartemen sindrom yaitu. Kondisi seperti ini dinamakan dengan tercapainya critical closing pressure. Bila tekanan tekanan jaringan meningkat atau tekanan arteriol menurun maka tidak ada lagi perbedaan tekanan. ketika ada trauma langsung. Tekanan trans mural secara signifikan berbeda ( tekanan arteriol-tekanan jaringan). Sindroma kompartemen kronik terjadi ketika tekanan antara kontraksi yang terus ± menerus tetap tinggi dan mengganggu aliran darah. dan pasien akan mengalami kram otot. Nyeri merupakan gejala dini yang paling penting. aliran arteri selama relaksasi otot semakin menurun. Tipisnya dinding vena Karena dinding vena itu tipis. yang akan menyebabkan kerusakan ireversibel komponen tersebut. Pain (nyeri) : nyeri yang hebat saat peregangan pasif pada otot-otot yang terkena.´ Hal ini disebabkam oleh diameter pembuluh darah yang kecil dan tekanan mural arteriol yang tinggi. Manifestasi Klinis Gejala klinis yang terjadi pada syndrome kompartemen dikenal dengan 5 P yaitu: 1. Sebagaimana terjadinya kenaikan tekanan. Akan tetapi bila kemudian darah mengalir secara kontinyu dari kapiler maka. Kompartemen anterior dan lateral dari tungkai bagian bawah biasanya yang kena D. Jika hal ini terus berlanjut. Terutama jika munculnya nyeri tidak sebanding dengan keadaan klinik (pada anak-anak . tekanan vena akan meningkat lagi melebihi tekanan jaringan sehingga drainase vena terbentuk kembali McQueen dan Court-Brown berpendapat bahwa perbedaan tekanan diastolik dan tekanan kompartemen yang kurang dari 30 mmHg mempunyai korelasi klinis dengan sindrom kompartemen. maka terjadi iskemia otot dan nervus. Otot dapat membesar sekitar 20% selama latihan dan akan menambah peningkatan sementara dalam tekanan intra kompartemen. Patogenesis dari sindroma kompartemen) kronik telah digambarkan oleh Reneman. antara lain: a. maka ketika tekanan jaringan melebihi tekanan vena maka ia akan kolaps. Akibat selanjutnya adalah arteriol akan menutup c. Spasme arteri akibat peningkatan tekanan kompartemen ³Theori of critical closing pressure.juga akan terhenti. Kontraksi otot berulang dapat meningkatkan tekanan intamuskular pada batas dimana dapat terjadi iskemia berulang. ini dibutuhkan untuk memelihara patensi aliran darah. b. Sehingga terjadi hipoksia jaringan (pale).

2. Nyeri bersifat sementara dan akan sembuh setelah beristirahat 15-30 menit. Penanganan Tujuan dari penanganan sindrom kompartemen adalah mengurangi defisit fungsi neurologis dengan lebih dulu mengembalikan aliran darah lokal. yang tegang pada kompartemen merupakan gejala yang spesifik dan sering. diakibatkan oleh menurunnya perfusi ke daereah tersebut. Nyeri yang timbul saat aktivitas. Tekanan kompartemen normalnya adalah 0. penegakan diagnosa kompartemen syndrome dilakukan dengan pengukuran tekanan kompartemen. 4. namun beberapa hal.tampak semakin gelisah atau memerlukan analgesia lebih banyak dari biasanya). seperti anakanak. Tidak ada perfusi yang efektif ketika tekanannya sama dengan tekanan diastoli. pasien yang sulit berkomunikasi dan pasien-pasien dengan multiple trauma seperti trauma kepala. melalui bedah dekompresi. Pengukuran intra kompartemen ini diperlukan pada pasien-pasien yang tidak sadar. medulla spinalis atau trauma saraf perifer. Pulselesness (berkurang atau hilangnya denyut nadi ) Parestesia (rasa kesemutan) Otot 5. Pallor (pucat). Sedangkan pada kompartemen syndrome akan timbul beberapa gejala khas. pasien yang tidak kooperatif. E. Paralysis : Merupakan tanda lambat akibat menurunnya sensasi saraf yang berlanjut dengan hilangnya fungsi bagian yang terkena kompartemen sindrom. F. terutama saat olehraga. masih diperdebatkan. 3. Walaupun fasciotomi disepakati sebagai terapi yang terbaik. Penegakan Diagnosa Selain melalui gejala dan tanda yang ditimbulkannya. Perfusi yang tidak adekuat dan iskemia relative ketika tekanan meningkat antara 10-30 mmHg dari tekanan diastolic. Terjadi kelemahan atau atrofi otot. Terapi Medikal/non bedah . Biasanya setelah berlari atau beraktivitas selama 20 menit. Semua ahli bedah setuju bahwa adanya disfungsi neuromuskular adalah indikasi mutlak untuk melakukan fasciotomi Penanganan kompartemen secara umum meliputi: 1. antara lain: 1. seperti timing. 2. 3.

jari. sedangkan insisi tunggal membutuhkan diseksi yang lebih luas dan resiko kerusakan arteri dan vena peroneal. Nekrosis pada syaraf dan otot dalam kompartemen 2. Manitol mereduksi edema seluler. diuretik dan pemakainan manitol dapat mengurangi tekanan kompartemen. merupakan kerusakan otot yang disebabkan oleh terlambatnya penanganan sindrom kompartemen sehingga timbul deformitas pada tangan.Pemilihan terapi ini adalah jika diagnosa kompartemen masih dalam bentuk dugaan sementara. Pada kasus penurunan ukuran kompartemen. dan pergelangan tangan karena adanya trauma pada lengan bawa . Akan tetapi jika memburuk maka segera lakukan fasciotomi. G. Berbagai bentuk terapi ini meliputi: a.Insisi ganda pada tungkai bawah paling sering digunakan karena lebih aman dan lebih efektif. untuk mempertahankan ketinggian kompartemen yang minimal. Terapi Bedah Fasciotomi dilakukan jika tekanan intrakompartemen mencapai > 30 mmHg. Menempatkan kaki setinggi jantung. akan menimbulkan berbagai komplikasi antara lain: 1. dengan memproduksi kembali energi seluler yang normal dan mereduksi sel otot yang nekrosis melalui kemampuan dari radikal bebas 2. elevasi dihindari karena dapat menurunkan aliran darah dan akan lebih memperberat iskemia b. Komplikasi Sindrom kompartemen jika tidak mendapatkan penanganan dengan segera. Pada peningkatan isi kompartemen. Terdapat dua teknik dalam fasciotomi yaitu teknik insisi tunggal dan insisi ganda. evaluasi terus dilakukan hingga fase berbahaya terlewati. Keberhasilan dekompresi untuk perbaikan perfusi adalah 6 jam. pemberian anti racun dapat menghambat perkembangan sindroma kompartemen d. Jika tekanannya < 30 mm Hg maka tungkai cukup diobservasi dengan cermat dan diperiksa lagi pada jam-jam berikutnya. gips harus di buka dan pembalut kontriksi dilepas. Pada kasus gigitan ular berbisa. Mengoreksi hipoperfusi dengan cairan kristaloid dan produk darah e. c. Kalau keadaan tungkai membaik. Kontraktur volkman. Tujuan dilakukan tindakan ini adalah menurunkan tekanan dengan memperbaiki perfusi otot.

2. Trauma vascular Gagal ginjal akut Sepsis Acute respiratory distress syndrome (ARDS) H. Nursing Diagnoses: Definitions & Classification 2001-2002 . Philadelphia diambil dari URL:http://masperawat. 2008. Nyeri akut bd agen injuri fisik/kimiawi Ketidakepektifan perfusi jaringan perifer bd gangguan aliran darah arteri Referensi Irga.passangereng.wordpress. dilihat 12 November 2008. http://www. 6.blogspot. Diagnosa keperawatan 1. 4.com/2009/03/05/sindrome-kompartemen/ Blog ini Di-link Dari Sini BlogRoll Web Blog ini Di-link Dari Sini .com NANDA. Sindroma Kompartemen.3. 5.

maka iskhemia timbul seperti halnya oklusi (sumbatan) pembuluh darah Tanda dan gejala sindrom kompartemen Nyeri pada keadaan istirahat (pain) Parestesia Pucat (pale) Paresis atau paralisis Denyut nadi hilang Jari di posisi fleksi Tekanan dalam kompartemen tinggi Gangguan diskriminasi dua titik Terapi : fasiotomi segera Komplikasi pada Tulang 1. 2. 18 Mei 2010 Sindrom Kompartemen Iskhemia pada otot dapat terjadi tanpa didahului trauma pada arteri Pembengkakan otot dan tekanan dalam otot meningkat Bila tekanan tsb melebihi tekanan diastolik.BlogRoll Web Selasa. 4. 3. Delayed Union (Penyambungan tertunda) Non Union (Penyambungan tidak tejadi) Malunion (Penyambungan abnormal) Stiffness (Kekakuan sendi) .

graft diambil dari tulang kanselus disekitar fragmen tersebut Malunion Penyambungan fraktur yang tidak normal shg menimbulkan deformitas Penyebab : terapi fraktur yang tidak memadai Apabila terjadi pada tulang panjang yang menyangga badan akan menyebabkan osteoartritis pada sendi-sendi yang terdekat dengan fraktur Terapi : refraktur dan osteotomi koreksi Kekakuan sendi (Stiffness) Perlengketan intraartikular dan periartikular akan membatasi gerakan sendi Terapi : latihan gerakan jangka lama (fisioterapi) utk mengembalikan fungsi anggota tsb. 8. Non Union Secara klinis dan radiologis tidak terdapat penyambungan fraktur Ujung fragmen terlihat sklerosis Tidak ada trabekula yang menyeberangi garis fraktur Kavitas medularis tertutup dan pada pemeriksaan terdapat gerakan luar biasa yang disebut sendi palsu (Pseudoarthrosis) Penyebab non union adalah : Infeksi pada tulang Kerusakan pembuluh darah ke tulang Gerakan karena fiksasi yang tidak memadai Hilangnya aposisi fragmen spt distraksi shg ada gap antara fragmen2 fraktur Interposisi. 7. imobilisasi yang tdk memadai. dll (cari penyebab) Terapi : konservatif hingga 6 bulan. 6. Penyebab : Infeksi. interposisi.5. artinya jaringan lunak atau otot berada di antara fragmen2 fraktur Proses patologis pada tulang yg disebut fraktur patologis Terapi non union : pemberian graft dengan fiksasi interna (ORIF). kadang perlu dilindungi dengan anestesi pada perlengketan intraartikular. . jika setelah 6 bulan tidak terjadi union dilakukan tindakan operasi osteotomi . Osifikasi Patologis Nekrosis Avaskuler Osteoartritis Emboli Lemak Delayed Union Tidak ada tanda-tanda terjadinya union dalam waktu rata-rata penyambungan tulang pada umumnya.

dada bagian atas. shg pada penyembuhan tidak terjadi deformitas. Gambaran sinar-X pada pulmo terlihat pengkabutan yang merata Terapi : tidak ada terapi Terapi oksigen dengan ventilasi adalah tindakan live saving saja . talus. penderita terlihat sianotik dan tanda-tanda kongesti pulmonum. Sering dilakukan operasi untuk memperbaiki sendi Osteoartritis Permukaan sendi pada penderita osteoartritis terlihat tidak rata sebagai akibat fraktur intraartikular. Nekrosis Avaskuler Akibat terputusnya vaskularisasi akibat trauma shg menimbulkan kematian sebagian atau keseluruhan dari satu fragmen fraktur disebut nekrosis avaskuler Nekrosis ini dapat menyebabkan non union. os skapoideum. Jika kelainan tersebut sangat besar dianjurkan eksisi setelah kelainan tersebut matur. Pada pemeriksaan sinar-X tulang mati tampak gambaran sklerotik (radio opak) dibandingkan tulang sekitarnya Terapi : pada anggota gerak bawah harus Non Weight Bearing (NWB). lunatum. bahu dan regio aksilaris Bila oklusi di otak maka keadaan mengantuk berlanjut menjadi koma dan kematian Pada paru-paru.Osifikasi Patologis Disebut juga myositis ossificans akibat osifikasi hematom yg berlokasi di jaringan lunak atau periosteum yg terlepas tulang karena trauma Terbanyak pada sendi siku dan otot quadrisep Terapi : imobilisasi selama 3 minggu setelah trauma dan sekali-kali melakukan stretching. Gerakan aktif setelah 3 minggu imobilisasi. proses degenerasi dan malunion Emboli lemak Akibat fraktur tulang panjang Butiran lemak dari daerah fraktur masuk melalui pembuluh darah balik (vena) terus ke paru-paru dan sampai ke aliran sistemik Emboli tsb menutup pembuluh darah kecil Gejala klinis akan timbul sesuai daerah yg terjadi oklusi Kelainan ini timbul beberapa jam atau beberapa hari pasca trauma Penderita yg semula terlihat normal tiba-tiba spt mengantuk dan irritable Pulsus dan temperatur badan meningkat dan kadangkala terlihat aneh Petekia terlihat di leher. osteoartritis dan degenerasi sendi Daerah yang sering mengalami nekrosis avaskuler kolum femoris.

Dari penelitian McQueen (2000). Penyebab umum terjadinya sindroma kompartemen akut adalah fraktur. Paling sering disebabkan oleh trauma.2 % fraktur tibia tertutup. yang melibatkan jaringan otot. kerusakan pada arteri dan luka bakar. Peningkatan tekanan intra kompartemen akan mengakibatkan berkurangnya perfusi jaringan dan tekanan oksigen jaringan. Ellis pada tahun 1958 melaporkan bahwa 2 % iskemi. Sindrom kompartemen akut sering terjadi akibat trauma. terutama mengenai daerah tungkai bawah dan tungkai atas Sindroma Kompartemen dapat di klasifikasikan berdasarkan etiologinya yaitu penurunan volume kompartemen dan peningkatan tekanan struktur kompartemen serta lamanya gejala yaitu akut dan kronik. dilengan bawah (yaitu kompartemen flexor superficial. III. dan kompartemen ekstensor). misalnya pelari jarak jauh. ANATOMI Kompartemen adalah merupakan daerah tertutup yang dibatasi oleh tulang. Pada tahun 1981. kontraktur terjadi pada fraktur tibia. ektremitas bawah distal anterior adalah yang paling banyak dipelajari untuk sindrom kompartemen. sindrom kompartemen lebih sering didiagnosa pada pria dari pada wanita. pucat. dimana pria lebih sering mengalami luka trauma. medial. PENDAHULUAN Sindroma kompartemen adalah suatu kondisi dimana terjadi peningkatan tekanan intertisial di dalam ruangan yang terbatas. Secara anatomi sebagian besar kompartemen terletak di anggota gerak. terdapat : tiga kompartemen ditungkai atas (kompartemen anterior. sebagian besar kompartemen terletak di anggota gerak. 69% berhubungan dengan fraktur dan sebagian adalah fraktur tibia. Otot mempunyai perlindungan khusus yaitu fascia. Secara anatomik. saraf dan pembuluh darah yang dibungkus oleh tulang dan fascia serta otot-otot individual yang dibungkus oleh epimisium. terutama di daerah tungkai bawah dan tungkai atas. dan fascia. parestesi. sedangkan 1. INSIDEN Di Amerika. sehingga terjadi gangguan sirkulasi dan fungsi jaringan di dalam ruangan tersebut. pemain sepak bola dan militer. Di anggota gerak bawah. Detmer dkk melaporkan bahwa sindrom kompartemen bilateral terjadi pada 82% pasien yang menderita sindrom kompartemen kronis. Sedangkan sindroma kompartemen kronik biasa terjadi akibat melakukan aktivitas yang berulang-ulang. syaraf dan pembuluh darah. interosseus membran. II. trauma jaringan lunak. disertai denyut nadi yang hilang.Sindroma Kompartemen 4:08 AM Posted by Irga I. tapi hal ini memiliki bias. empat ditungkai bawah . McQueen memeriksa 164 pasien yang didiagnosis sindrom kompartemen. Dianggap sebagai yang kedua paling sering untuk trauma sekitar 2-12%. dimana fascia ini melindungi semua serabut otot dalam satu kelompok. dan kompartemen posterior). yaitu di dalam kompartemen osteofasial yang tertutup. pemain basket. Terletak di lengan atas (kompartemen anterior dan posterior). Ditandai dengan nyeri yang hebat. paresis. Delee dan Stiehl menemukan bahwa 6 % pasien dengan fraktur tibia terbuka berkembang menjadi sindrom kompartemen. fleksor profundus. Ruangan tersebut berisi otot.

lateral. Apapun penyebab peningkatan tekanan lokal jaringan berpotensi menyebabkan sindrom kompartemen. ETIOLOGI Ada banyak penyebab yang dapat meningkatkan tekanan jaringan lokal yang kemudian menyebabkan sindrom kompartemen. dimana 45 % kasus terjadi akibat fraktur. posterior superficial. dan 80% darinya terjadi di anggota gerak bawah. peningkatan tekanan jaringan menyebabkan obstruksi vena dalam ruang yang tertutup. dan nekrosis jaringan lokal yang disebabkan hipoksia. posterior profundus). lateral. Sindrom kompartemen yang paling sering di daerah tungkai bawah (yaitu kompartemen anterior. Ketika tekanan kompartemen meningkat. suplai vaskuler ke nervus akan terpengaruh menyebabkan timbulnya paresthesia IV.(kompartemen anterior. kompartemen lateral memiliki nervus peroneus superficial. kompartemen posterior profunda memiliki nervus tibialis posterior dan kompartemen posterior superficial memiliki nervus suralis. posterior superfisial. Sejauh ini penyebab sindroma kompartemen yang paling sering adalah cedera. VI. Penurunan volume kompartemen : Penutupan defek fascia Traksi internal berlebihan pada fraktur ekstremitas Peningkatan tekanan struktur compartemen: Pendarahan atau Trauma vaskuler Peningkatan permeabilitas kapiler Penggunaan otot yang berlebihan Luka bakar Operasi Gigitan ular Obstruksi vena Sindrom nefrotik Infus yang infiltrasi Hipertrofi otot Peningkatan tekanan eksternal Balutan yang terlalu ketat Berbaring di atas lengan Gips. Peningkatan tekanan terus meningkat hingga tekanan arteriolar intramuskuler . Kompartemen anterior memiliki nervus peroneus profundus. Setiap kompartemen pada tungkai bawah memiliki satu nervus mayor. PATOGENESIS Patofisiologi sindrom kompartemen melibatkan hemostasis jaringan lokal normal yang menyebabkan peningkatan tekanan jaringan. Tanpa memperhatikan penyebabnya. penurunan aliran darah kapiler. dan posterior profundus) serta lengan atas (kompartemen volar dan dorsal).

Gejala klinisnya di kenal dengan 5 P. Setelah itu.menerus tetap tinggi dan mengganggu aliran darah. ketika ada trauma langsung. Otot yang tegang pada kompartemen merupakan gejala yang spesifik dan sering. yaitu : 1. Jika hal ini terus berlanjut. Sindroma kompartemen kronik terjadi ketika tekanan antara kontraksi yang terus . aliran arteri selama relaksasi otot semakin menurun. tidak ada lagi darah yang akan masuk ke kapiler. tekanan vena secara kontinyu akan meningkat pula sampai melebihi tekanan jaringan dan drainase vena dibentuk kembali. Pada titik ini. yaitu critical closing pressure dicapai. 3. aliran darah melalui kapiler akan berhenti. Metsen menpelihatkan bahwa bila terjadi peningkatan intrakompartemen. tekanan transmural secara signifikan berbeda ( tekanan arteriol-tekanan jaringan) ini dibutuhkan untuk memelihara patensi. DIAGNOSIS Pada umumnya diagnosis dibuat dengan melihat tanda dan gejala sindrom kompartemen dan pengukuran tekanan secara langsung. Pallor . Kompartemen anterior dan lateral dari tungkai bagian bawah biasanya yang kena VII. Bila darah mengalir secara kontinyu dari kapiler. Ada 3 teori tentang penyebab iskemia. McQueen dan Court-Brown berpendapat bahwa perbedaan tekanan diastolik dan tekanan kompartemen yang kurang dari 30 mmHg mempunyai korelasi klinis dengan sindrom kompartemen. arteriol akan menutup. sehingga tekanan (pressure) dalam kompartemen makin meningkat. Spasme arteri akibat peningkatan tekanan kompartemen 2. Dalam keadaan ini penghantaran oksigen juga akan terhenti. Otot dapat membesar sekitar 20% selama latihan dan akan menambah peningkatan sementara dalam tekanan intra kompartemen. Pain (nyeri) : nyeri yang hebat saat peregangan pasif pada otot-otot yang terkena. yang akan menyebabkan kerusakan ireversibel komponen tersebut. Ini berperan penting pada transudasi plasma dengan endapan sel darah merah ke intramuscular dan menurunkan mikrosirkulasi. Patogenesis dari sindroma kompartemen) kronik telah digambarkan oleh Reneman. Nyeri merupakan gejala dini yang paling penting. Bila tekanan jaringan meningkat atau tekanan arteriol menurun perbedaan tidak ada. Karena dinding vena yang tipis. Sedangkan respon otot terhadap iskemia yaitu dilepaskannya histamine like substans mengakibatkan dilatasi kapiler dan peningkatan permeabilitas endotel. Otot bertambah berat (peningkatan lebih dari 50%). menyebabkan kebocoran ke dalam kompartemen. Kontraksi otot berulang dapat meningkatkan tekanan intamuskular pada batas dimana dapat terjadi iskemia berulang. Theori of critical closing pressure. Penekanan saraf perifer disekitarnya akan menimbulkan nyeri hebat. Sehingga terjadi hipoksia jaringan (pale). dan pasien akan mengalami kram otot. Akibat diameter yang kecil dan tekanan mural arteriol yang tinggi.bawah meninggi. 2. tekanan vena meningkat. Sebagaimana terjadinya kenaikan tekanan. yaitu: 1. vena akan kolaps bila tekanan jaringan melebihi tekanan vena. Terutama jika munculnya nyeri tidak sebanding dengan keadaan klinik (pada anak-anak tampak semakin gelisah atau memerlukan analgesia lebih banyak dari biasanya). maka terjadi iskemia otot dan nervus.

three way tap. nyeri bersifat sementara atau tidak menetap dan akan sembuh dengan beristirahat dalam waktu 15-30 menit dari penghentian latihan. Dorong plunger dan tekanan akan meningkat secara lambat. Normalnya tekanan kompartemen adalah nol. Pengukuran tekanan Pengukuran tekanan secara langsung merupakan cara yang objektif untuk menegakkan diagnosa sindroma kompartemen. Saat tekanan kompartemen tinggi. Perfusi yang tidak adekuat dan iskemia relative ketika tekanan meningkat antara 10-30 mmHg dari tekanan diastolic. Nyeri dirasakan seperti kram dimana akibat dari vasokonstriksi pembuluh darah sehingga darah dan oksigen tidak dapat mencapai otot-otot tersebut. . pasien yang sulit berkomunikasi dan pasienpasien dengan multiple trauma seperti trauma kepala. Parestesia 5. dan dorong sarung plastik kembali. tekanan air raksa akan naik. hubungkan tabung dengan manometer air raksa dan buka three way tap. Hal ini dapat menyebabkan kerusakan permanent pada jaringan. manometer air raksa untuk mengukur tekanan darah. Tandai saline sampai mengisi setengah tabung . Hilangkan semua tekanan external pada otot yang diperiksa dan ukur tekanan kompartemen. Pulselesness (berkurang atau hilangnya denyut nadi ) 4. Dapat juga terjadi kelemahan dan atrofi otot.3. balut wick kateter ke kulit. Dan yang paling pasti bahwa dapat terjadi peningkatan tekanan kompartemen.Pertama. pasien yang tidak kooperatif. normal saline sterile. Kedua. Ketiga. jika tekanan mencapai 30 mmHg. Periksa ulang patensi kateter dengan tangan menekan pada otot. anestesi local pada kulit. b. seperti anak-anak. Tonometer tekanan stryker banyak digunakan untuk mengukur tekanan jaringan yang tidak membutuhkan alat khusus. tarik jarum dan masukkan kateter wick melalui sarung plastik . Biasanya hal ini muncul setelah sekitar 20 menit berlari sebelum dirasakan semakin nyeri hingga dimana orang tersebut tidak dapat melanjutkan aktivitasnya. Prosedur pengukuran tekanan kompartemen antara lain : a. Pertama. Regangan pasif pada otot yang terkena setelah latihan dapat meningkatkan nyeri. Alat yang dibutuhkan spoit 20 cc. medulla spinalis atau trauma saraf perifer. Parestesia dari saraf pada kompartemen bilateral pada sekitar 82 % pasien. tapi tidak sampai menginfiltrasi otot. isi system dengan normal saline yang mengandung heparine dan ukur tekanan kompartemen dengan transducer recorder. Paralysis : Merupakan tanda lambat akibat menurunnya sensasi saraf yang berlanjut dengan hilangnya fungsi. Pengukuran intra kompartemen ini diperlukan pada pasien-pasien yang tidak sadar. indikasi fasciotomi. tabung intra vena.Dan ketiga. tutup three way tap tahan normal saline dalam tabung. Biasanya. atur spoit dengan plunger pada posisi 15 cc.Kedua. Gejala utama berupa nyeri yang ditimbulkan akibat berolah raga. Teknik pengukuran langsung dengan teknik injeksi Teknik adalah criteria dignostik standard seharusnya menjadi prioritas utama jika diagnosis masih penuh tanda tanya. masukkan kateter dengan jarum ke dalam otot . Pasien dengan sindroma kompartemen kronik mempunyai gejala yang khas. Teknik Wick kateter Teknik menggunakannya adalah: . Baca manometer air raksa. Tidak ada perfusi yang efektif ketika tekanannya sama dengan tekanan diastolic. Masukkan jarum 18 kedalam otot yang diperiksa.

terapi kompartemen sindrom sederhana yaitu fasciotomi kompartemen yang terlibat.Menempatkan kaki setinggi jantung. fasiotomi dapat berarti membuka ke empat kompartemen. TERAPI Tujuan dari terapi sindrom kompartemen adalah mengurangi defisit fungsi neurologis dengan lebih dulu mengembalikan aliran darah lokal. Terapi Medikal/non operatif Pemilihan secara medical terapi digunakan apabila masih menduga suatu sindroma kompartemen.Tekanan arteri rata-rata yang normal pada kompartemen otot adalah 8. Apabila tekanannya kurang dari 30 mmHg. yaitu : . namun beberapa hal. Tujuannya untuk menurunkan tekanan dengan memperbaiki perfusi otot. tiap pasien dan tiap sindrom kompartemen memiliki individualitas yang berpengaruh pada cara untuk menindakinya.Pada peningkatan isi kompartemen. . Tekanan lebih dari 10 mmHg dalam kompartemen yang baru bisa menimbulkan sindroma kompartemen. Semua ahli bedah setuju bahwa adanya disfungsi neuromuskular adalah indikasi mutlak untuk melakukan fasciotomi. Kalau tidak ada perbaikan. gips harus di buka dan pembalut kontriksi dilepas. Walaupun fasciotomi disepakati sebagai terapi yang terbaik. evaluasi klinik yang berulang-ulang dilanjutkan hingga bahaya telah terlewati. kita tidak perlu khawatir tentang sindroma kompartemen. Manitol mereduksi edema seluler. masih diperdebatkan.Mengoreksi hipoperfusi dengan cairan kristaloid dan produk darah. untuk mempertahankan ketinggian kompartemen yang minimal. VIII. dengan memproduksi kembali energi seluler yang normal dan mereduksi sel otot yang nekrosis melalui kemampuan dari radikal bebas. kalau keadaan tungkai itu membaik. Ada dua teknik dalam fasciotomi yaitu teknik insisi tunggal dan insisi ganda. Pada tungkai bawah. biasanya dengan bedah dekompresi. fasiotomi harus segera dilakukan. pemberian anti racun dapat menghambat perkembangan sindroma kompartemen.Pada kasus penurunan ukuran kompartemen.5+6 mmHg. Selama tekanan pada salah satu kompartemen kurang dari 30 mmHg (tekanan pengisian kapiler diastolic). seperti timing. Indikasi mutlak untuk operasi dekompresi sulit untuk ditentukan. . Tidak ada keuntungan yang utama dari kedua teknik ini. atau kalau tekanan kompartemen meningkat. Berbeda dengan kompleksitas diagnosis. . diuretik dan pemakainan manitol dapat mengurangi tekanan kompartemen. Penanganan sindroma kompartemen meliputi : 1. .Pada kasus gigitan ular berbisa. Insisi ganda pada tungkai bawah paling sering digunakan karena lebih aman dan lebih efektif. Keberhasilan dekompresi untuk perbaikan perfusi adalah 6 jam. Tindakan nonoperatif tertentu mungkin bisa berhasil. elevasi dihindari karena dapat menurunkan aliran darah dan akan lebih memperberat iskemia. Jika hal tersebut tidak berhasil maka tindakan operasi dekompresi perlu dipertimbangkan. kalau perlu dengan mengeksisi satu . sedangkan insisi tunggal membutuhkan diseksi yang lebih luas dan resiko kerusakan arteri dan vena peroneal. tungkai dapat diobservasi dengan cermat dan diperiksa lagi pada jam-jam berikutnya. Terapi pembedahan / operatif Terapi operatif untuk sindroma kompartemen apabila tekanan intrakompartemen lebih dari 30 mmHg memerlukan tindakan yang cepat dan segera dilakukan fasciotomi. dan berarti memerlukan terapi yang segera. seperti menghilangkan selubung eksternal. 2.

Adanya tanda-tanda sindrom kompartemen seperti nyeri hebat dan 2. Prosedur ini dilakukan tanpa torniket untuk mencegah terjadinya periode iskemia yang berkepanjangan dan operator juga dapat memperkirakan derajat dari sirkulasi lokal yang akan didekompresi. Insisi 1-5 cm dibuat pada septum intermuskular lateral. dan jika ada. Ada 3 pendekatan fasciotomi untuk kompartemen tungkai bawah: fibulektomy. disesksi subkutaneus digunakan untuk mengekspos daerah iliotibial dan dibuat insisi lurus sejajar dengan insisi kulit sepanjang fascia iliotibial. Fasciotomi untuk sindrom kompartemen akut Fasciotomi tungkai atas Teknik Tarlow : Insisi lateral dibuat mulai dari distal garis intertrocanterik sampai ke epikondilus lateral. Insisi panjang dibuat pada fascia untuk menghilangkan tekanan yang meningkat di dalamnya. Jika dicurigai adanya sindrom kompartemen. Gambaran klinik yang meragukan dengan resiko tinggi (pasien koma. perdarahan ditangani bila ada. dan dibawah pengaruh narkotik) dengan tekanan jaringan lebih dari 30 mmHg pada pasien yang diharapkan memiliki tekanan jaringan yang normal. biasanya 5 hari kemudian. Bila ada indikasi. dibuat insisi setengah medial untuk membebaskan kompartemen adductor. Debridemant otot harus seminimal mungkin selama operasi dekompresi kecuali terdapat otot yang telah nekrosis. termasuk kulit. Terapi untuk sindrom kompartemen akut maupun kronik biasanya adalah operasi. atau dilakukan pencangkokan kulit. kalau jaringan sehat. atau skin graft mungkin diperlukan untuk menutup luka ini. perpanjang ke proksimal dan distal. Waktu adalah inti dari diagnosis dan terapi sindrom kompartemen. Setiap yang berpotensi membatasi ruang. Luka harus dibiarkan terbuka. Beberapa teknik telah diterapkan untuk operasi dekompresi untuk semua sindrom kompartemen akut. Insisi tunggal dapat digunakan untuk jaringan lunak pada ektremitas. pasien dengan masalah psikiatrik. Setelah kompartemen anterior dan posterior terbuka. dapat dilakukan debridemen. Jika meningkat. Fibulektomi adalah prosedur radikan dan jarang dilakukan. Kerusakan nervus permanen mulai setelah 6 jam terjadinya hipertensi intrakompartemen. tekanan kompartemen medial diukur. . fasciotomi insisi tunggal perifibular. kalau terdapat nekrosis otot. luka dapat di jahit ( tanpa regangan ). semua kelompok otot harus lunak pada palpasi setelah prosedur selesai. dibuka di sepanjang daerah kompartemen. kalau jaringan sehat. Luka tersebut dibiarkan terbuka (ditutup dengan pembalut steril) dan ditutup pada operasi kedua. termasuk indikasi pada sindrom kompartemen akut. luka dapat di jahit (tanpa regangan ). pengukuran tekanan dan konsultasi yang diperlukan harus segera dilakukan secepatnya. Teknik insisi ganda lebih aman dan efektif. Perlahan-lahan dibuka sampai vastus lateralis dan septum intermuskular terlihat. kalau terdapat nekrosis otot. operasi dekompresi harus segera dilakukan karena penundaan akan meningkatkan kemungkinan kerusakan jaringan intrakompartemen sebagaimana terjadinya komplikasi. dan fasciotomi insisi ganda.segmen fibula. Indikasi untuk melakukan operasi dekompresi antara lain: 1. dapat dilakukan debridemen.

segera dibuka. Rorabeck. dan Fowler) : Dibuat insisi lateral. Insisi sepanjang 20-25 cm dibuat pada kompartemen anterior. Tekanan kompartemen dapat diukur selama operasi untuk mengkonfirmasi dekompresi. Setelah kompartemen posterior dibuka. Diseksi subkutaneus digunakan untuk mengekspos fascia kompartemen. sepanjang mulai dari distal caput fibula sampai 3-4 cm proksimal malleolus lateralis. Jika terjadi peningkatan tekanan pada kompartemen ini. keduanya kemudian ditarik ke arah radial. Vena dan nervus saphenus ditarik ke anterior. Digunakan diseksi subkutaneus yang luas untuk mengidentifikasi fascia. Kemudian diidentifikasi fascia otot tibialis posterior ke fibula dan dilakukan inisisi secara longitudinal. Kemudian kompartemen fleksor superficial diinsisi. pronatus quadratus. bersebelahan dengan siku kemudian ke sisi radial tangan dan diperpanjang kea rah distal sepenjang brachioradialis. Batas antara kompartemen superficial dan lateral dan interval ini diperluas ke atas dengan memotong soleus dari fibula. Otot dan pembuluh darah peroneal ditarik ke belakang. Lengan disupinasikan dan insisi mulai dari medial bagian atas tendon bisep. Berikutnya kulit dibuka ke bagian posterior dan dilakukan fasciotomi kompartemen posterior superficial. Buka kompartemen anterior kearah proksimal dan distal pada garis tibialis anterior. Dibuat insisi tranversal untuk mengidentifikasi septum antara kompartemen posterior profunda dan superficial. Insisi kulit mulai dari medial ke tendon bicep. Insisi tranversal dibuat pada septum intermuskular lateral dan identifikasi nervus peroneal superficial pada bagian posterior septum. Kemudian nervus radialis diidentifikasi dibawah brachioradialis. setengah antara fibula dan caput tibia. Insisi kulit dimulai dari proksimal ke fossa antecubiti sampai ke palmar pada daerah tunnel carpal. Dibuat insisi lain pada otot fleksor digitorum longus dan dibebaskan seluruh kompartemen posterior profunda. Kemudian dibuka fascia gastrocsoleus sepanjang kompartemen. Kulit dibuka pada bagian anterior dan jangan sampai melukai nervus peroneal superficial.Fasciotomi insisi tunggal (davey. kemudian fleksor carpi radialis dan arteri radialis ditarik ke sisi ulnar yang akan mengekspos fleksor digitorum profundus fleksor pollicis longus. Insisi kedua dibuat secara longiotudinal 1 cm dibelakang garis posterior tibia. Dibuat fasciotomy longitudinal pada kompartemen anterior dan lateral. terus ke bawah . Kemudian dilakukan fasciotomi pada kompartemen lateral ke arah proksimal dan distal pada garis tubulus fibula. melewati lipat siku. Tidak ada penggunaan torniket. dan pronatus teres. harus dilakukan dekompresi fascia disekitar otot tersebut untuk memastikan bahwa dekompresi yang adekuat telah dilakukan. longitudinal pada garis fibula. mulai pada titik 1 atau 2 cm di atas siku kearah bawah sampai di pergelangan. fasciotomi pada lengan bawah pendekatan volar (Henry) Dekompresi kompartemen fleksor volar profunda dan superficial dapat dilakukan dengan insisi tunggal. Karena sindrom kompartemen biasanya melibatkan kompartemen fleksor profunda. dilanjutkan ke palmar. Pendekatan Volar Ulnar Pendekatan volar ulnar dilakukan dengan cara yang sama dengan pendekatan Henry. identifikasi kompartemen otot tibialis posterior.

Nervus peroneal segera dicari dan lewatkan fasciotom ke kompartemen anterior pada garis otot tibialis anterior. termasuk otot digitorum longus dan tibialis posterior dangan merobek sambungan soleus.Batas antara ekstensor carpi radialis brevis dan ekstensor digitorum komunis diidentifikasi kemudian dilakukan fasciotomi. Kompartemen profunda diekspos.(11) IX. Tibialis posterior adalah kunci dekompresi kompartemen posterior dan biasanya berkontraksi ke proksimal antara fleksor hallucis longus. Kemudian dicari vena saphenus pada insisi proksimal dan tarik ke anterior bersama dengan saraf. dapat dilakukan debridemen. atau dilakukan pencangkokan kulit atau dibiarkan sembuh dengan intensi sekunder. Perawatan pasca operasi: Luka harus dibiarkan terbuka selama 5 hari. fasciotome diarahkan ke posterior nervus peroneal superficial pada garis fibular. Tutup kulit dengan cara biasa dan pasang pembalut steril. Insisi lurus dari epikondilus lateral sampai garis tengah pergelangan. Fascia superficial pada fleksor carpi ulnaris diinsisi ke atas sampai ke aponeurosis siku dan ke carpal tunnel ke arah distal. Jika terjadi peningktan tekanan pada kompartemen dorsal yang terus meningkat. Kemudian dicari batas antara fleksor carpi ulnaris dan fleksor digitorum sublimis. Kumparan neurovaskuler dan tendo tibialis posterior kemudian diinsisi ke proksimal dan distal fascia pada terdon tersebut. Fasciotomi insisi ganda: Teknik Rorebeck Dibuat 2 insisi pada tungkai bawah 1 cm dibelakang garis posteromedial tibia. kalau terdapat nekrosis otot. lebarkan batas antaranya untuk memeriksa kontraksinya. dengan beberapa ciri yang sama yang ditemukan pada masing-masingnya . Fascia pada kompartemen fleksor profunda kemudian diinsisi. kalau jaringan itu sehat. fasciotomi harus dilakukan dengan posisi lengan bawah pronasi.melewati garis ulnar lengan bawah. Pendekatan Dorsal Setelah kompartemen superficial dan fleksor profunda lengan bawah didekompresi. Pada dasar fleksor digitorum sublimis terdapat arteri dan nervus ulnaris. luka dapat dijahit (tanpa tegangan). Tutup luka diatas drain untuk meminimalkan pembentukan hematom. yang harus dicari dan dilindungi. Fasciotomi untuk sindrom kompartemen kronik fasciotomi insisi tunggal : Teknik Fronek Dibuat sebuah insisi 5 cm pada pertengahan fibula dan kaput tibia atau melalui defek fascia jika terdapat hernia muskuler pada daerah keluarnya nervus peroneal. dan sampai ke carpal tunnel sepanjang lipat thenar. Pada kompartemen lateral. Fascia profunda kemudian diinsisi. harus diputuskan apakah perlu dilakukan fasciotomi dorsal (ekstensor). Masuk dan dibuka kompartemen superficial. DIAGNOSIS BANDING Diagnosis yang paling sering membingungkan dan sangat sulit dibedakan dengan sindrom kompartemen adalah oklusi arteri dan kerusakan saraf primer. Hal ini lebih baik ditentukan dengan pengukuran tekanan kompartemen intraoperatif setelah dilakukan fasciotomi kompartemen fleksor.

dimana nyeri muncul pada saat berolah raga dan berkurang pada saat beristirahat. biasanya nyeri berhenti 2-5 menit setelah beraktivitas. hampir 20% pasien mengalami deficit motorik dan sensorik yang persisten. tidak ada peningkatan kompartemen dalam hal ini. Disebabkan oleh iskemia yang biasanya disebabkan oleh peningkatan tekanan (sindrom kompartemen). toleransi otot untuk terjadinya iskemia adalah 4 jam. jari. Jika diagnosa terlambat dapat menyebabkan trauma syaraf dan hilangnya fungsi otot. KOMPLIKASI Komplikasi terjadi akibat trauma permanen yang mengenai otot dan syaraf yang dapat mengurangi fungsinya. sepsis dan acute respiratory distress syndrome (ARDS) yang fatal jika terjadi sepsis kegagalan organ secara multi sistem. yang kemudian menyebabkan terjadinya kontraktur Volkmann. kemudian otot digantikan oleh jaringan ikat. Sindroma kompartemen kronik dibedakan dengan claudikasio intermitten yang merupakan nyeri otot atau kelemahan otot pada tungkai bawah karena latihan dan berkurang dengan istirahat. Kerusakan irreversible terjadi bila lebih dari 8 jam. Kontraktur Volkmann adalah deformitas pada tangan. Syaraf dapat beregenerasi sedangkan otot tidak sehingga jika terjadi infark tidak dapat pulih kembali dan digantikan dengan jaringan fibrosa yang tidak elastis yaitu kontraktur iskemik Volkmann.Pada sindroma kompartemen kronik di dapatkan nyeri yang hilang timbul. X. . XI. Kira-kira 1-10% dari semua kasus sindrom kompartemen berkembang menjadi kontraktur volkmann. Kontraktur Volkmann Iskemia berat yang berlangsung selama 6-8 jam dapat menyebabkan kematian otot dan nervus. Walaupun fasciotomi dilakukan dengan cepat dan awal. dan pergelangan tangan karena adanya trauma pada lengan bawah. Trauma vaskuler menyebabkan infark otot dan kematian serat otot. PROGNOSIS Sindroma kompartemen akut cenderung memiliki hasil akhir yang jelek. yaitu kelanjutan dari sindrom kompartemen akut yang tidak mendapat terapi selama lebih dari beberapa minggu atau bulan. Sedangkan sindroma kompartemen kornik adanya kontraksi otot berulangulang yang dapat meningkatkan tekanan intramuskuler sehingga menyebabkan iskemia kemudian menurunkan aliran darah dan otot menjadi kram. Sedangkan komplikasi sistemik yang dapat timbul dari sindroma kompartemen meliputi gagal ginjal akut. Hal ini disebabkan oleh adanya oklusi atau obstruksi pada arteri bagian proksimal. Apabila sindrom kompartemen lebih dari 8 jam dapat mengakibatkan nekrosis dari syaraf dan otot dalam kompartemen.