Anda di halaman 1dari 8

Kolom Iklan Silahkan Hubungi Redaksi Untuk Keterangan Lebih Lanjut Contact Person:

Widhi (08562726871) Dwi (08562682112)



Y Edisi XIII/JANUARI 2009 Ganti Ongkos Cetak Rp. 1.000,-

"<J"t-~ ----------------.....,;,.,--

Komuni_aS

ALAMAT REDAKSI :

JI. Tempel Rejo No. 432 Salatiga Jawa Tengah-Indonesia Telp/Fax: (0298) 324135 medcamp@ylskar.org www.lskar.org

Media Informasi Menuju Kemandirian Oesa

MENU

Info Komunitas

Kelorupok tani Margcraharjo IV dusun Slumur , kelurahan Kumpulrejo, kotamadya Salatiga, membangun

proyek percontohan biogas HaI6

Dua Ratus Tujuh Belas Juta Rupiah Hilang Setiap Tahun

II Hektar sawah warga dUSlIl1 Karang, Krajan I, dan Krajan 2, desa Tegaron, kecamatan Banyubiru, kab. Semarang terendam air luapan

Rawapening HaI7

Profil

Mbah Paidi, Penggerak Kelompok Tani Dusun Slumut

Krisis Energi di Indonesia

Saatnya Oesa Mewujudkan Kemandirian Energi

Ketika kehidupan masih sederhana, untuk menghasilkan api, manusia membenturkan dna bongkah batu di dekat tumpukan jerami. Api kemudian dipakai untuk memanggang umbi dan binatang buruan, Kalau malam, dipakai sebagai penerangan dan penghangat badan. Itu saja. Kala itu, kehidupan belum begitu rumit. Kebutuhan manusia masih sedikit.

K emudian, manusia kian pintar, seiring volume atak yang membesar. Peradaban berkembang. Tambang minyak, batubara, gas alam ditemukan. Mesin-mesin baru diciptakan. l ndus tr i bermunculan. Ken daraan bennator menggantikan peran kuda dan keledai. Oncor tak lagi dipakai, diganti lampu p ij a r. Te lev i s i dan radio menyemarakkan sepinya malam.

Semua itu membutuhkan energi.

Maka bumi terus digali. Minyak bumi, batubara, dan gas alam terus dikeduk.

Dan manusia terus berkembang biak, kian hari populasinya kian membesar. Mesin-mesin indusrri dan kendaraan bermoror pun terus menerus dicetak dan diciptakan. Sampai kemudian rnanusia tercengang, minyak bumi dan batu bara dan gas alam makin menipis. Dunia di ambang kebangkrutan.

Kebutuhan Energi di Indonesia

Indonesia adalah negeri dengan tanah yang subur dan perairan yang luas. Namun pelaksanaan pembangunan tidak menganggap keduanya sebagai bagian penting bangsa ini. Petani dibiarkan jalan sendiri. Kepemilikan tanah yang sempir, ketergantungan kepada bib it dan pup uk dan pestis ida buatan pabrik, serbuan produk-produk pertanian impor, seakan

menjadi bagian tak terpisahkan dari petani. Tak jauh berbeda dengan nelayan. Penggusuran kampung-kampung nelayan untuk kemudian dijadikan deretan hotel dan vila megah, serbuan uelayan-nelayan asing lengkap dengan kapal-kapalnya yang canggih dan rakus, pencemaran laut oleh limbah industri seolah kawan yang akrab bagi para nelayan.

Jangankan mendukung keduanya, pemerintah malah terus mengebut sektar industri. Penanam modal dipersilakan menggandakan uangnya di negeri ini, decgan iming-iming tersedianya bahan baku, lahan, dan upah buruh yang murah. Pabrik-pabrik terus berdiri. Mesin-mesin canggih terus didatangkan dari luar negeri. Meski harus dibayar dengan kian menyempitnya lahan pertanian dan hutan. Dan tentu saja peningkatan penggunaan energi, terutarua bahan bakar minyak.

Sementara iru, pada tahun 2008 ini saja, jumlah kendaraan bermotor diprediksi mencapai 50 juta kendaraan (detiknews.com, 22/01). ltu artinya satu dati lima orang Indonesia memi liki kendaraan bermotor. Dan Indonesia pun rnenjadi pcngguna kendaraan bermotor terbesar ke-3 di dunia, setelah China dan India (KKI, 911 0).

Itu akibat negara tidak mampu

meuyediakan angkutan umum yang nyaman, aman, dan murah. Dan masih didukung pula dengan hilir-mudiknya iklan dan para produsen kendaraan bennotor, yang begitu fasih membujuk, melalui media cetak maupun elektronik, baliho-baliho dan spanduk-spanduk di tepian jalan, sebaran brosur-brosur yang menawarkan kredit beruangmuka rendah lengkap dengan iming-iming hadiah.

Akibatnya 65 % kebutuhan energi bangsa ini tergantung kepada bahan bakar min yak (Sinar Harapan, 26/05).

Maka kemudian pemerintah melucuti subsidi BBM. Harga BBM pun naik, diikuti harga barang kebutuhan hidup lainnya. Negara rnengadakan sedekah masal: membagi BLT. Minyak tanah dicabut peredarannya, diganti dengan elpiji-walaupun di beberapa tempat diternui rumah terbakar akibat tabung gas berwarna hijau muda itu meledak, pernbagian yang tidak tepat sa saran, para pengecer minyak tanah dan perajin kompor minyak kehilangan pekerjaan (Kompas.com, 19/07).

Sementara rakyat mengantre min yak tanah, mengaduh karena hargaharga melonjak, terpaksa berkonflik lantaran pembagian BLT yang amburadul, para pengambil keputusan masih terus saja mengingkari UUD 1945. Minyak bumi, gas alarn, batubara, yang sernestinya dipergunakan sebesar-besamya bagi kemakmuran rakyat, terus disedot dan dikeruk oleh perusahaan-perusahaan ..

Bersambung ke halaman 3

2 • Opini

Meneari Pengganti

M end adak harga BBM naik. Mendadak ada pembagian BLT. Mendadak Iistrik sering mati ketika pertandingan sepakbola scdang scruserunya. Mendadak minyak tanah mcnghilang dan diganti dcngan tabungtabung gas elpiji. Mendadak banyak orang bicara tentang penghematan energi. Mendadak banyak orang bicara tcntang encrgi pengganti. Mcmang, ada apa to?

Kita. orang-orang biasa ini, bukan orang-orang yang pintar memikirkan hal yang njiimet-njlimet, Apalagi sampai turun ke jalan untuk memprotes. Tidak, kita orang-orang biasa ini tak bcrpikir sampai ke situ. Paling-paling sedikit nggerundel dan mencari eara untuk menyiasati.

Bcnsin, solar, min yak tanah, dan barang-barang kebutuhan sehari-hari naik, kita orang-orang biasa ini kemudian berusaha bekcrja lebih kcras atau mcncari pekerjaan sampingan untuk menambah pendapatan, agar tctap bisa hidup layak. Minyak tanah mcnghilang dan diganti dengan tabung-tabung gas elpiji, kita mengikuti. Listrik sering mati, kita pergi kc warungsebelah untuk membeli lilin.

Semcntara itu banyak orang pintar bilang bahwa kita scdang rncngalarni krisis energi. Karenanya, kata orang-orang pintar itu juga, kita harus segera rncncari dan menggunakan energi pengganti, yang dalam bahasa mercka discbut cnergi altematif.

Tetapi bagi kita, orang-orang biasa ini, semua itu serasa berada di awangawang, jauh sckali dari kehidupan scharihari kita. Orang-orang pintar bicara tcntang biogas, solar cell, kita hanya bisa manggutmanggut setengah kcbingungan. Orangorang pintar bicara tentang bioctanol, kita hanya mendapar istilah baru tanpa paham apa maksudnya, mencmani kata-kata berakhiran 01 yang kita tahu: dodol, lem kastol, odol, dan bowl.

Padahal sesungguhnya isrilahistilah itu tak jauh dan kehidupan kita. Solar cell itu, ya sinar matahari yang dikumpulkan lalu diubah menjadi listrik. Bioetanol itu, ya bensin yang terbuat dan tumbuh-tumbuhan yang mengandung gula, yang ada rasa manisnya jika kita makan: singkong, tcbu, dan kawan-kawannya. Biogas itu ya gas yang berasal dan bahanbahan yang berasal dari makhluk hidup, bahkan dari kotoran manusia atau hcwan. Yang jelas harus mcngandung protein, lcmak, dan karbohidrat. Dan yang pasti sangat dekat dengan kita, sebab tiap pagi kita mcngeluarkannya. Juga demikian dengan binatang tcmak kita.

Dan itu sudah terbukti. Tempo hari, Rabu (22/10) dan Kamis (23110), kawankawan kita sesama orang biasa, kclompok tam Margo Raharjo IV dusun Siumut, kelurahan Kurnpulrejo, kotamadya Salatiga, mengadakan kumpulan untuk mcmbahas kcmungkinan membangun proyek percontohan biogas (berita sclengkapnya ada di KK cdisi ini). Scbab mcreka adalah para pctemak sapi. Mcreka ingin kotoran sapi-sapi mereka, tak hanya menwnpuk di belakang rumah, tetapi dapat lebih bermanfaat.

Maka sesungguhnya kita, orangorang biasa ini, hanya perlu rajin-rajin mencari informasi. Mencari orang-orang pintar yang siapa tahu mau mcngajari. Nah, ada yang mau mulai mencari?

Tcmpelrejo, I Desembcr2008(Widhi)

K.o~~ Komuni~aS

Edisi Xll/Desember 2008

Sebuah Catatan atas Keluh Kesah Petani

Mengapa Pupukku Hilang

Petani Nasibmu Kini ...

Para petani di Jepara, Jawa Tengah,

kesulitan mendapatkan pupuk urea

Indonesia adalah negara agraris, bersubsidi dengan harga yang ditetapkan demikian yang selalu disampaikan guru- yaitu Rp 60 ribu untuk satu karung ukuran guru kita ketika duduk di bangku sekolah. 50 kilogram. Seorang petani dari desa Itu memang benar, selaiu lautan, 70% dati Nalumsari, Suradi, pada Minggu (14/9), daratan yang dimiliki Indonesia adalah mengatakan, "Harga dipasaran sudah areal pertanian, perkebunan dan melambung hingga Rp 85 ribu," (TEMPO kehu tan an . Sedangkan 70% lebih illleraklij;KlIdlls,14September2008). masyarakat Indonesia menggantungkan kehidupannya pada sektor pertanian, perkebunan, dan kehutanan. Demikian juga di Jawa Teugah, salah satu lumbung pangan di Indonesia.

Hasil diskusi terfokus bersama kelompok tani yang dilakukan YLSKAR (Yayasan Lingkar Studi Kesetaraan Aksi dan Refleksi) di 7 desa dampingan,

teridentifikasi persoalan-persoalan yang

Namun, sejak tahun 2002 hingga tidak jauh beda dengan gambaran sekarang persoalan pupuk yang hilang dari persoalan di atas. Kelangkaan pupuk pasaran, kelangkaan pupuk, harga yang bahkan telah menyebabkan konflik antar eukup tinggi, yangjustru terjadi di musim- petani, akibat berebut pupuk dari musim tanam dan pemupukan menjadi kendaraan distributor yang lewat di berita yang cukup tragis di negara yang wilayahnya. Kcndisi ini mulai terjadi di salah satu potensi terbesar adalah sektor beberapa wilayahdiJepara.

pertanian dan perkebunan.

Masa pemupukan yang sudah

Pad a musim tanam pertama terlambat, sementara tanaman padi sudah sejurnlah petani di Kabupaten Tegal mulai rnenguning membuat resah petani. mengalami kekurangan pupuk. Sebab, Sehingga segala cara ditempuh untuk kuota pupuk urea bersubsidi yang mendapatkan pupuk yang dibutuhkau, dialokasikan Pemerintah Provinsi bahkan dengan berebut dan berkelabi (Pemprov) Jawa Tengah pada tahun ini dengan sesama petani yang juga ternyata masih belum mampu menutup membutuhkan.

kebutuhan petani. Sedangkan alokasi

pupuk tabun ini masib mengalami Sementara di 3 desa dampingan di kekurangan hingga 4.000 ton. Sebab, dari Kabupaten Semarang dan Kota Salatiga, yang diusulkan Pemerintah Kabupaten petani mulai rnernbiarkan tanaman rnereka Tegal sebanyak 36.000 ton, ternyata hanya tidak diberi pupuk atau diberi pup uk dieairkan 32.000 ton alias kurang4.000 ton seadanya. Akibatnya, bisa dibayangkan

(Suara Karya. 20 Nov 2008).

bagaimana kualitas hasil panen nantinya.

Para petani di daerah Kabupaten Ketua Umum Kontak Nelayan

Kudus, Pati dan Demak masih kesulitan Andalan Na s iona l Winarno Tohir untuk mendapatkan pupuk untuk tanaman menyebutkan bahwa kelangkaan pupuk di padinya. "Untuk be Ii pupuk di pcngcccr berbagai daerah tetap akan terjadi sampai harus bawa surat pembayaran pajak PBB," akhir Desember 2008 dan baru normal ueapSuhari,petaniasaIBesito,Keeamatan awal Januar i 2009. Hal tersebut Gebog, Kudus (21/11). "Jumlahnya juga disebabkan alokasi pupuk subsidi 2008 dibatasi. Jika pemilik satu hektar sawah, sudah tinggal sedikit. Realisasi penyaluran banya dijatah 2,5 kuintal," sambung pupuk hingga Oktober sudah meneapai 70 Sukardi (TEMPO lilt. Kudus, 21 Nov 2008) persen dari total alokasi pupuk urea untuk

tahun 2008 sebanyak 4,3 juta ton.

Jika benar pemyataan tersebut, pertanyaan kita sekaraug, "Kemanakah pupuk harus ku cari? Ada apa dengan pupuk?"

Bagaimana Pupuk Sampai ke Petani?

Hingga saat ini, pola distribusi dan penjualan pup uk dilakukan PT Pupuk Sriwijaya (Pusri) sebagai perusahaan induk dari seluruh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pupuk di Tanah Air. Kapasitas produksi 12 pabrik pupuk pada enam BUIVIN pupuk mencapai 6,95 juta ton dengan pangsa terbesar di tangan PT Pusri dan PT Pupuk Kaltim, masingmasing 2,26 juta ton (4 pabrik) dan 2,41 juta ton (4 pabrik).

Semen tara itu pabrik pupuk PT Petrokimia Gresik selain memproduksi pupuk urea juga memproduksi SP-36, ZA, dan pupuk majemuk untuk mengantisipasi kebutuban pupuk pada masa rnendatang, PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) dan PT Pupuk Kujang merencanakan peningkatan kapasitas produksi sampai 1,2 juta ton dari sekitar 600.000 ton masing-masing saat ini. Di samping itu, 630.000 ton pupuk dapat diproduksi perusahaan patungan PT ASEAN Aceh Fertilizer (AAF) yang berada diAceh.

Namun, pola distribusi pupuk dari lini I (pabrik-pelabuhan) ke Iini II (pelabuhan-UPP) dan ke lini III (distributor kabupaten) dilaksanakan oleh PTPusri.

Dalam pelaksanaan distribusi dan penjualan pupuk, PT Pusri bermitra dengan penyalur yang terdiri dari koperasi, BUMN, dan swasta lainnya. PT Pusrijuga melakukan penjualan kepada penyalur di ..

Bersambung ke Halaman 3

SI1WI1V!-SI1WClV! Dil teplClv\' RnwClpeV\,lvcg bClvcijClIz ijClV\,g Izlelep CllzlbClt pevcDiClvcglzCllClvc.

Suwe-suwe Rawapening ido dadi daratan, terus banyune mlayu nyang ngendi?

Ojo-ojo nyang omahku ...

TEAM REDAKSI K.o",~ KomunicaS

Penanggung jawab: YLSKAR (Yayasan Lingkar Studi Keselaraan Aksi dan RefJeksi) Pemimpin Redaksi: Widhi H.S-Koordinator liputan:Owi Haryatdi

Kontributor: Khoerul Anam, Eko Wahyudi (Banyumas); Ahmad Makhali, Fathurrahman, Masruri (Jepara); Asnawi, Johan Rifqi (Salatiga); Wik Hartono, Tri Mukti, Siti Khotijah (Kab. Semarang)

Litbang: Adoniati Meyria-Editor: Widhi H.S-Layout: Owi Haryatdi-Oistributor: M. Wiyono-Keuangan: Setiyanti Alamat Redaksi: JI. Tempel Rejo No. 432-Salatiga-Jawa Tengah, Telp. (0298) 324135-Fax. (0298) 327719

P"'p",1z LClV\,gIzCl, petClvcl kceblvcg"''''0C1",.

Ra mung cah cilik sing seneng, pupuk jebul yo seneng jiiumpet.

Edisi Xll/Desember 2008

K<J~~ HomunicaS

• Info Komunitas

Sambungan Halaman 2

lini ll/UPP dan lini IIlIKabupaten, sedangkan penjualan dari lini HI ke hni IV lKecamatan dilakukan oleh penyalur, dan penjualan kepada petani dilakukan oleh pengecer di lini IV. Seperti dalarn skerna berikut.

bumi semakin menipis, dalam jangka panjang ketersediaan pup uk kimia terbatas dan harganya semakin mahal. Untuk pupuk subsidi, ketersediaannya dibatasi sumber dana yang mampu disediakan pemerintah.

Jika jalur distribusi terse hut dianggap yang terbaik untuk menghindarkan monopoli, dimanakah masalahnya sehingga pupuk rnenjadi langka?

Ketika harga pupuk dilempar dan dibiarkan pacta harga pasar, yang terjadi barga pupuk akan mengaiami naik-turun sesuai harga yang berlaku di pasar. Pada kondisi tertentu prod us en akan tetap memilih menjual barang produksinya pada pasar yang nilaijualnya cukup tinggi.

Subsidi yang dilakukan pemerintah Indonesia tanpa diikuti kebijakan proteksi pasar pada akhirnya membuka peluang politik pasar yang dilakukan produsen tersebut. Jurnlah pupuk yang kernudian diekspor justru lebih banyak dibanding yang digunakan untuk kepentingan di dalam negeri. Kondisi inilah yang menjadi salah satu penyebab tidak tercukupinya kebutuhan pupuk di dalamnegeri.

Berpihakkah Pemerintah kepada Petani?

Kelangkaan pupuk sebenamya bersifat semu, persediaan pupuk dunia di negara-negara prod lisen cukup ban yak, paling tidak dalfim waktu dekat ini. Tetapi mengingat ketersediaan minyak dan gas

Kebutuhan Dan Harga Eceran Tertinggi (HET) Pupuk Bersubsidi Untuk Sektor Pertanian Tahun Anggaran 2009, yang disebut Kelompok Tani ada lab kumpulan petani yang mempunyai kesamaan kepentingan dalam pemanfaatkan sumberdaya pertanian untuk bekerja sarna meningkatkan produktifitas usaha tani dan kesejahteraan anggotanya dalam mengusahakan laban usaha tani secara bersama pada satu harnparan atau kawasan, yang dikukuhkan oleh Bupati/Walikota atau pejabat yang ditunjuk.

Sedang yang dimaksud dengan Kelangkaan pupuk subsidi masih Rencana Definitif Ke b ut uha n akan muncul selama alokasi produksi lebih Kelompoktani (RDKK) adalah perhitungan rendah daripada kebutuhan riil petani. rencana kebutuhan pupuk bersubsidi yang disusun kelompok tani berdasarkan luasan

Menteri Pertanian Anton areal usaha tani yang diusahakan petani, Apriantono mengubah distribusi pupuk peke bun, petemak dan pembudidaya ikan bersubsidi dari sistem terbuka menjadi dan atau udang anggota kelompok tani sistem tertutup yang akan mulai berlaku I dengan rekomendasi p em u p u k a n Januari 2009. Alur distribusi pupuk berirnbang spesifik lokasi.

tersebut akan terdiri dari : Lini I (pabrik)-

Lini II (UPP) - Lini III (Gudang Produsen- Kebijakan ini akan berjalan baik Distributor) - Lini IV (Pengecer Resrni) - jika disertai dengan fungsi kontrol dan Kelompok Tani/Petani. Kendaraan pengawasan yang kuat baik di tingkat pengangkur, pengecer, dan distributor pro d 1I k s i , dis t rib u s i h i n g g a hams teregistrasi. Pengecer hanya boleh implernentasinya di petani. Selain itu, melepas pupuk kepada petani yang sudah dibutuhkan pula upaya-upaya sosialisasi terdaftar di wilayahnya. Tiap titik ada dan kes eriusan d al a m penguatan

Komisi Pengawas Pupuk dan Pestis ida.

Dengan sistem t e r t u t u p , pemerintah pusat atau dinas pertanian di daerah hanya memberik an p upuk bersubsidi langsung kepada kelompok petani. Syaratnya, Petani itu diharuskan mengajukan proposal bemama Rencana Definitif Kelompok Kerja (RDKK). Artinya hanya petani yang tercatat dalam kelorupok tanilbadan usaha yang berhak mendapat alokasi pupuk bersubsidi.

organisasi perani.

Narnun, yang perlu diperhatikan adalah kontroversi antar pasal dalam peraturan menteri pe r t a ni a n ini. Disebutkan dalam pasal (2) bahwa "Pup uk bersubsidi diperuntukkan bagi p et a ni , pekebun, peternak yang mengusahakan lahan seluas-Iuasnya 2 (dua) hektar setiap musim tanam perkeluarga petani kecuali pembudidaya ikan dan atau udang seluas-Iuasnya I (satu) hektar,"

Dalam Pera t u r a n Menteri

Per tan ian NOM 0 R : Selanjutnya, Harga Ecer an 42/PennentanJOT.140109/2008 Tentang Tertinggi (HET) Pupuk Bersubsidi

ditetapkan sebagai berikut :

a. Pupuk Urea ~ Rp. 1.200,- per kg;

b. Pupuk ZAs=Rp. 1.050,-perkg;

c. Pupuk Superphos ~ Rp. 1.550,perkg;

d. Pupuk NPKphonska (15:15:15) ~ Rp. I.750,-perkg;

e. Pupuk NPKpelangi (20:10:10) ~ Rp.1.830,-perkg;

f. Pupuk NPKkujang(30: 6: 8)~Rp. 1.586,- per kg;

g. Pupuk Organik ~ Rp. 500,- per kg.

Dimana, Harga Eccran Tertinggi (HET) pupuk bersubsidi tersebut diproduksi dalam kemasan 50 kg, 40 kg atau 20 kg yang dibeli oleh petani, pekebun, petemak, pembudidaya ikan dan atau udang secara tunai.

Artinya, hanya petani dengan luasan lahan pertanian maksimal 2 (dua) hektar atau petani kecil yang diberikan jarninan subsidi pupuk, namun hal tersebut kemudian akan tidak tepat jika dikaitkan dengan keharusan pembelian tunai pada pasal (8). Bagaimaua dengan petani yang luas lahannya kurang dari 2 ha tetapi tidak memiliki uang tunai untuk membeli pupuk sejumlah yang dibutuhkan?

Sehingga, yang perlu dipikirkan oleh petani dan kelompok tani segera adalab:

I. Apa yang sebaiknya dilakukan oleh kelompok tani yang sudah ada sekarang untuk merespon peraturan distribusi pup uk tersebut?

2. Adakah petani mulai berpikir untuk mencari gagasan-gagasan alternatif untuk memperkecil biaya produksi dengan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, sehingga tidak perlu kuatir kehilangan pupuk di saat masa-masa pemupukan?

(Tim Redaksi)

Redaksi menerima tulisan berupa artikel, opini, berita, karikatur, foto.

Tulisan diketik atau ditulis tangan, menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa Jawa. Dilengkapi fotokopi identitas diri (KTP/SIM/kartu pelajar/kartu mahasiswa). Kirimkan ke:

JI. Tempel Rejo No. 432-Salatiga-Jawa Tengah, Telp. (0298) 324135. Atau melalui email: medcamp@ylskar.org.

Sambungan Halaman 1

multinasional, dibawa kabur entah kemana dengan hanya meninggalkan sisa-sisa saja.

Akibatnya, sekalipun burni dan laut negeri ini kaya akan min yak bumi, batubara, dan gas alam, tetap saja bangsa ini menjadi pengimpor minyak. Sebagai catatan, dalam satu had bangs a ini menghabiskan lebih dari I juta barel BSM, sementara produksi hanya 900 ribu baret per hari (Kontan, 28/07).

Energi Terbarukan

Sesungguhnya, apa yang tak ada di Indonesia ini? Minyak, batubara, dan gas alam, Indonesia kaya. Air, angin,

gelombang laut, sinar matahari, biomassa, yang merupakan energi terbarukan dan ramah lingkungan, Indonesia tak kurang. Lantas kenapa listrik sering mati ketika dangdut sedang bergoyang di televisi? Kenapa min yak tanah mahal dan sulit dicari? Kenapa sampai terjadi krisis energi?

Semestinya sumber-sumber energi terbarukan dan ramah lingkungan itulah lebih dikembangkan. Bukannya malah membuka tender-terder baru untuk menjual tambang-tambang minyak yang masih tersembunyi, atau bahkan berniat membangun instalasi pembangkit listrik tenaga nuklir. Sebab, jika dibiarkan tetap seperti ini, bukan tidak mungkin krisis

yang lebih dahsyat sedang menanri di kemudian hari.

Desa Mandiri Energi

Sementara pemerintah kebingungan mencari solusi mengatasi krisis energi, di beberapa tempat muncul orang-orang kreatif yang memanfaatkan potensi-potensi di daerahnya sebagai sumber energi. Ada yang mengembangkan briket sampah organik (brikel dalam karnus Bahasa Indonesia berarti batu bata). Jadi briket sampah organik adalah benda padat semacam batu bata yang terbuat dari sampah-sampah makhluk hidup, misalnya tempurung kelapa, serbuk sisa penggergajian, dan dedaunan. Pembuatannya adalah dengan membakar

sampah-sampah tersebut, lantas dicampur dengan lem kanji, untuk kemudian dicerak dan dikeringkan. Di tempat lain ada juga yang mengolah limbah peternakan, kotoran temak, dan mengubahnya menjadi gas.

Nah, ada potensi apa di desa Anda, yang murah dan gam pang dibuat untuk memenuhi kebutuhan energi desa Anda? Potensi yang semestinya digunakan sebagai pijakan untuk mewujudkan sebuah desa mandiri energi. Desa yang bisa memenuhi kebutuhan energinya sendiri, Sebuah desa yang warganya tidak kebingungan ketika harga BBM naik atau menghilang dari pasaran. Selamat mencari

3

4 • Info Komunitas

K.o~~ Komuni~aS

Edisi Xll/Desember 2008

8elanja Sayur Desa Tempur Mencapai Satu Milyar Rupiah Setahun

JEPARA, KK - Masyarakat desa Tempur, k ec a m a t a n Ke l i ug , kabupaten Jepara hari Kamis (30/10) mengadakan pelatihan u n t u k membahas tentang permasalahan yang dihadapi desa mereka sekaligus potensi-potensi yang bisa digali dari desa mereka.

K egiatan yang bertempat di Madrasah Tsanawiyah Matholiul Huda ini difasilitasi YLSKAR (Yayasan Lingkar Studi Kesetaraan Aksi dan Refleksi).

Pelatiban diikuti oleh perwakilan dari Karang Taruna, PKK, Posyandu, Perangkat Desa, LPPNU, dan Kelompok Tani. Mereka cukup aktif, sehingga menambah ban yak wawasan yang selama ini jarang d ikomu n ikas i ka n antar masyarakatdesa Tempur.

Pelatihan diawali dengan menghitung anggaran belanja rumah tangga mereka, dari mulai menghitung baraug apa saja yang mereka beli tiap had. Community Organizer YLSKAR wilayah Jepara, Ahmad Makhali, mencoba memfasilitasi masyarakat desa Ternpur untuk menghitung berbagai barang yang mereka beli tiap hari di pasar Kelet. Ternyata masyarakat desa Tempur masih harus membeli bahan makanan yang

sesungguhnya bisa mereka tanam sendiri. Misalnya beras, lombok, bawang merah, bawangputih, sayuran, dan juga teh.

Fasilitator kemudian memandu warga untuk menghitung berapa besar biaya yang mereka keluarkan setiap harinya untuk membeli kebutuhan sayuran tersebut. Masyarakat desa Tempur berjumlah 1200 KK. Jika tiap keluarga membeli sayuran senilai .3.000,- dalam

tersebut membelanjakan uang sebesar Rp. 90.000,-. Itu artinya uang yang keluar dari desa dan berpindah ke pasar Kelet, dalam satu tahunnya sebesar Rp. 1.296.000.000,-

Sekali lagi hanya untuk membeli sayursayuran yang sesungguhnya bisa mereka tanam sendiri.

Menyadari kenyataan itu, para

Pemetaan Potensi dan Masalah Desa Grujugan

BANYUMAS, KK - Jumat (7111) pelatihan yang diadakan di kantor desa Grujugan, kecamatan Kemranjen, kabupaten Banyumas, dihadiri oleh kurang lebih 30 orang, yang merupakan perwakilan dari berbagai kelompok dari masyarakat setempat. Di antaranya dari kelompok tani, posyandu, kelompok pemuda, kelompol pemerhati air bersih, dan PAUD (PendidikanAnak Usia Dini).

P elatihan yang dilaksanakan selama dua hari tersebut membahas bermacam-macam masalah yang dihadapi oleh masing-masing kelompok, beserta Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang akan dilakukan setelah pelatihan.

Perwakilan dari kelompok tani menuturkan bahwa air irigasi yang mengaliri sawah-sawah rnereka sudah mencukupi, tetapi rnasih belum tepat sasaran.

Sernenrara kelompok pemuda mengeluh bahwa mereka kurang memiliki ketrampilan dan skill. Mereka berpikir bahwa inilah yang menyebabkan tingginya angka pcngangguran di desa rnereka.

Btl Eni Yuliawati, yang berprofesi sebagai seorang guru, menambahkan bahwa kesadaran rnasyarakat di desa Grujugan mengenai PAUD (pendidikan Anak Usia Dini) masib rendah.

Padahal kegiatan semacam PAUD (Pendidikan Anak Usia Din) mutlak diperlukan. Sebab, dengan adanya kegiatan tersebut, sekaJipun hanya lewat permainan-permainan, diharapkan sang anak bisa mulai belajar berpikir sejak dini. Sehingga nantinya akan tumbuh menjadi anak yang cerdas.

Dalam kegiatan di PAUD, sebagi contohnya adalah saat anak-anak dilatib memegang pensil, maka sang anak akan terbiasa dan nantinya ketika sang anak sudah masuk ke sekolah taman kanakkanak, sudah tidak kaget lagi untuk belajar menggambar dan rnenulis. Belurn lagi perrnainan-perrnainan lain yang bisa memancing kreatifitas anak-anak. Sehingga, menurut Bu Eni Yuliawati juga, pendidikan semacarn ini juga membantu meringankan pcran guru Taman Kanakkanak (TK) dalam mendidik muridnya.

Semen tara itu, menurut Asisten Community Organizer YLSKAR (Yayasan Lingkar Studi Kesetaraan Aksi dan Refleksi) wilayah Banyumas, Eko Wahyudi, persoalan masalah kanker sampai saat ini belum bisa teratasi. Meski sudah banyak peneliti yang datang ke desa tersebut, di antaranya dari DEPKES (Departemen Kesehatan), YLSKAR (Yayasan Lingkar Studi Kesetaraan Aksi dan Refleksi), UNSUD (Universitas Jenderal Sudirman) Purwokerto, UGM (Universitas Gajah Mada) Yogyakarta, UNDIP (Universitas Diponegoro), dan juga Puskesmas seternpat. (Dwi Haryatdi)

Eko Wahyudi adalah asisten co (Community Organizer)

YLSKAR (Yayasan Lingkar Studi Kesetaraan Aksi dan Refleksi) Wilayah Banyumas

peserta pelatihan kaget, h a mp i r tidakpercaya melihat angka tersebut.

Pelatihan kemudiau mernbahas bagaimana jika masyarakat desa Tempur mulai menanam sayur-sayuran sendiri. Harapan yang utama sayur-sayuran tersebut bisa dipakai untuk memenuhi kebutuhan gizi mereka sehari-hari, syukursyukur sisanya bisa dijual.

Selain berpotensi dalam bidang pertanian, Desa Tempur juga mempunyai potensi sebagai desa wisata, men gin gat melihat pemandangan alam yang indah dan udara sejuknya. KK merasakan sendiri hal ini. Udaranya yang masib bersib dan sejuk, tempatnya yang jauh dari kota, cocok sebagai tempat menenangkan diri. Apalagi ditemani kopi Ternpur yang khas.

Harapan dari pelatihan adalah agar masyarakat desa Tempur bisa mengembangkan tanaman sayur-sayuran dan buah-buahan di desa mereka. Juga mengelola tanaman kopi mereka dengan lebih serius. Selain itu diharapkan masyarakat desa Tempur membuat tim kerja yang anggotanya terdiri dari BPD, RT, RW, tokoh masyarakat, kyai, bisa bekerjasama dengan pemerintah desa, untuk mengetahui masalah-masalah dan potensi-potensi yang ada di desa mereka. Yang berupa masalah akan menjadi rencana kerja tingkat desa. Sedangkan

Desa Surga

Eko Wahyudi

Hidup di desa serba ada Ada sawah, ladang, kebun

Ada suara burung, kambing, sapi Makan buah tinggal metik

Enaknya tinggal di desa Sejuk, indab , nyaman Tentram damai, lohjinawi Hati tenang, ban yak ternan

Aku pernah ke Malaysia di sana banyak uang

tapi aku tak tenang

aku 'nggak betah

Aku sampai mati tetap di desa Aku bosan dengan kota

di kota serba beli

di desa semua gratis

Bagaikan surga dunia Desa tempatnya

Banyumas, 29 November 2008

Warga desa Tempur sedang mengikuti pelatihan.

yang merupakan potensi bisa menjadi informasi yang bisa ditengkap dan dilirik oleh pihak luar(swasta).

Dalam hal ini adalah sektor pertanian dan pariwisata. (Dwi Haryatdi)

Orang Desa Eko wahyudi

Aku bangun ambit cangkul Ibuku bangun pagi sholat subub masak buat sara pan

di anter kesawah, ub uenak

Bajuku kumal tak berarti ga punya baju

Kulitku hitam tak berarti jelek Rumah tak beriantai dan bleketepe Tak berarti tak bisa punya gedung

Karena sering mencangkul

Badanku sehat, tak ada penyakit 'Nggak pernah ada keluhan kelaparan Makanan malah lebih kadang kuberikan sarna tetangga

Desaku tak pernah sepi

Pagi, siang sore hingga malam Aman damai tentram

'Ngga ada rna ling

Beda dengan kota

Aku ga ingin hidup di kota Diberi Imilyar, aku tak mau Aku bertanya ... Siapa yang mencangkul

Banyumas, 29 November 2008

K.c~~ KomunicaS

• Info Komunitas

5

Edisi Xll/Desember 2008

Karang, desa Tegaron.

menurut besar-kecil serta halus-tidaknya, yakni berkisar antara Rp 2000,- sampai Rp 8.500,-. Sehingga dalam satu harinya perajin mendapatkan uang Rp. 5.000,sampai dengan Rp 16.000,-.

Tenggok dari Tepian Rawapening

Ya, sebagian besar warga Tegaron mcmang petani dan nelayan. Namun, jika meugandalkau pendapatan dari bertani dan mencari ikan saja tidak cukup, maka kami membuat tenggok, begitu kata mereka. Apalagi beJakangan kondisi Rawapening kian memburuk: eceng gondok dan bedudukan (tanah mengapung) kian meluas hingga ikan-ikan sulit didapat dan jaring sering rusak akibat dilabrak gerombolan eceng gondok, semen tara sawah-sawah kian banyak dibanjiri air luapan Rawapening. Selain itu, sebagian besar warga Tegaron hanyalah lulusan Sekolah Dasar, terutama perempuan.

Mengingat kecilnya pendapatan dan belum adanya wadah untuk saling bertukar gagasan antar perajin tenggok, Selasa (25/11), para perajin tenggok mengadakan perternuan. Hasi l dari pertemuan i ni adalah terbentuknya kelompok usaha bersama perajin tenggok, yang diberi nama Manunggal Karya.

Kelompok usaha bersama tersebut diketuai oleh Erik. Semen tara sebagai sekretaris dan bend ahara adalah Wahyuni dan Siti Hamidah, dengan Parjono sebagai penasihat.

"Barangkali itulah alasannya kenapa orang tua-orang tua kami mengajari membuat tenggok. Sebab jika hanya mengandalkan hasil pertanian dan mencari ikan saja, memang tidak akan bisa mencukupi kebutuhan hidup," terang Nur Fazuli lagi.

Dulunya mudah sekali menemui rumpun bambu di desa Tegaron. Namun kian waktu rumpun bambu terse but kian sedikit. Bahan baku pembuatan tenggok yang tadinya bisa didapat di desa sendiri, kini mau tak mau harus dibeli.

Tenggok-tenggok buatan perajin di desa regaron, kec. Banyubiru, kab. Semarang.

KAB. SEMARANG, KK - Tangan manusia hanya dna, kurang banyak "otuk membawa benda-benda ke mana-mana. Maka manusia menciptakan barang-barang yang berfungsi sebagai wadah, Salah satunya adalah tenggok.

TenggOk adalah semacam keranjang yang terbuat dari pohon bambu. Biasanya digunakan oleh para pedagang keliling dan petani, untuk mengangkut barang dagangan mereka atau membawa hasil pancn ke pasar. Caranya adalah dengan menggendongnya di punggung, setelah diikat dengan selendang.

Salah satu pusat perajin tenggok di kabupaten Semarang adalah di desa Tegaron, kecamatan Banyubiru. Sebuah desa yang berada di tepian danau Rawapening.

Biasanya para perajin menggunakan bambu pringapus, karena harganya yang lebib murah dibanding bambu jenis lain. Untuk barnbu kecil, harga menapai Rp 6.000 per batang, sedangkan yang besar meneapai Rp 8.000 perbatang.

Sebagian besar warga Tegaron, selain bekerja sebagai petani dan nelayan, bekerja pula sebagai perajin tenggok. Ini adalah ketrampilan turun temurun.

Selain nama serta struktur orgauisasi, kelompok usaha bersama perajin tenggok tersebut juga menyepakati iuran simpanan pokok sebesar Rp. 7.000,dan simpanan wajib sebesar Rp. 3.000,-. Nantinya kelompok usaha bersama ini juga akan rnengembangkan unit usaha simpan pinjam, Kita tunggu saja, bagaimana nanti hasil kelompok usaha bersama perajin tenggok ini. (Siti Khotijah, Widhi)

"Sejak keeil kami diajari orang tua-orang tua karni membuar tenggok. Tak ada yang susah untuk membuatnya. Belajar seminggu saja, sudah langsung bisa," kata Nur Fazuli, warga RT 04/RW 04

Dalam sehari peraj i n bisa menghasilkan 4 tenggok keeil, 3 tenggok sedang, dan 2 tenggok besar. Oleh pengepul, yang biasa datang ke desa tersebut, harga tenggok dibedakan

....J

{:vf"

Sebelum

KIAT PEMBESARAN LELE

khusus unfuk koJam dengan air menggenang/lidak mengalfr

membesarkan tentu saja belu dulu bibit lele. Biasanya

Sampai lele berusia 2 minggu, sebelumkan ditaburkan ke dalam kolam, pakan (pelet) sebaiknya dimasukkan terlebih dahulu ke dalam mangkuk berisi air agar pelet tersebut haneur. Setelah usia 2 minggu ke atas tak ada masalah jika pelet langsung ditaburkan ke dalam kolam.

berukuran 3-5 em atau 4-6 em.

Bagi kolam dengan tanah sawah, I meter kubiknya bensi 200-300 ekor lele. Sedangkan untuk kolam pennanen (semen), I meter kubiknya berisl 100-200 ekor lele.

Usahakan total pakan dalam satu harinya adalah 3% dari berat tubuh lele. Jika terlalu sedikit akan membuat lele kurang makan. Jika terlalu berlebih akan menyebabkan kolam Anda kotor dan berpotensi menimbulkan penyakit.

Seminggu sebelum bibit lele dimasukkan ke kolam, pastikan kolam telah ditaburi dengan dolonit (kapur penetralisir air), sehingga air di kolam sesuai dengan habitat bibit lele. Lebih baik lagi jika dasarnya ditaburi juga dengan kotoran hewan. Ini lebih memungkinkan plankton dapat lebih hidup. Plankton adalah makanan yang bergizi bagi ikan.

Penaburan pakan dilakukan dua kali sehari: pagi dan petang. Pagi adalah setelah matahari keluar (setelah kolam Anda terkena sinar matahari). Sementara petang adalah sekitar jam 7 malam (matahari sudah tenggelam). Persentasenya adalah, I % berat tubuh lele untuk pagi hari, dan 2 % berat tubuh lele untuk petang hari. Sebab petang hari air lebih dingin, sehingga nafsu makan Ie Ie lebih besar.

Ketika membeli bibit, pilih waktu pagi atau sore hari (ketika matahari tak begitu panas). lni berhubungan dengan saat di mana penjual bibit memindahkan bibit dari kolamnya ke wadahAnda (biasanyajerigen). Kalaupun dipindah siang hari, harus di bawah atap/terpal.

Dalam perjalanan hidupnya, terkadang lele tampak menggantung di permukaan air (dengan kepala menghadap ke udara bebas). Ini artinya ada masalah dengan lele atau kolam Anda. Bila demikian, sebaiknya kurangi dulu jumlah pakan, bahkan sampai 1,5 % berat tubuh lele. Dan ketika akan menaburkan pakan, rendam terlebih dahulu di dalam air yang sudah diberi obat (Enroflox 12 atau Enroflox 24 atau Roxine atau Cyprox). Sementara untuk mengatasi air kolam yang terkena limbah atau semaeamnya, campurkan EM4 ke dalam kolam.

Ketika bibit diangkut dari penjual bibit ke tempat Anda, pastikan wadah sudah dieampur dengan min yak goreng dan daun pepaya. Ini adalah obat anti mabuk yang manjur bagi lele.

Ketika Anda hendak memindahkan bibit lele dari wadah ke kolam Anda, celupkan wadah bibit ke dalam kolam (bibit lele jangan langsung dituang ke dalam kolam!). Ini bertujuan agar bibit lele menyesuaikan diri dulu dengan suhu kolam.

Tunggu sampai lele berusia 2-3 bulan (siap panen). Semoga berhasil..

Awas,jangan beri beri makan dulu bibit lele tersebut. Biarkan mereka puasadulu selama I x 24jam!

K.o~~ Komuni~aS

6 • Info Komunitas

Edisi Xll/Desember 2008

Pembangunan Percontohan Energi Alternatif Biogas di Dusun Siumut

percontchan biogas di Slumut. Mereka sepakat bahwa biogas adalah kebutuhan, mengingat harga BBM yang mahal, semen tara mereka tak mati terus-terusan menggunakan kayu sebagai bahan bakar karena bisa merusak lingkungan. Selain itu, banyaknya kotoran sapi di dustin tersebut m e r ek a r a s a k a n cukup mengganggu. Sebagai catatan.jumlah sapi di dusun yang terdiri dari 72 keluarga itu adalah 110 ekor

pukul empat sore, karena sebagian besar peserta akan melaksanakan kegiatan sore mereka: ngombor sapi dan memeras susu. Dan akan dilanjutkan keesokan harinya, Kamis (2311 0).

m e n g e r j akan pertanian dengan berkeianjutan, ungkapnya kemudian. Kotoran sapi dipakai sebagai biogas, lalu sisa biogas dimanfaatkan untuk memupuk lahan. Lahan akan menghasilkan rumput yang kemudian dimakan kembali oleh hewan temak. Begitu seterusnya

Kumpulan hari ke dua, Kamis (23/10), dihadiri pula oleh Jr. Junaidi, seorang ahli biogas yang didatangkan dari Boyolali.

Selain kotoran sapi, kotoran manusia juga bisa dipakai sebagai bahan membuat biogas. Bahkan lebih bagus dibanding kotoran sapi, karena apa yang dimakan manusia lebih bergizi daripada yang dimakan sapi. Hanya saja kelemahannya adalah volume kotoran manusia terlalu sedikit. Sehingga, ini lebih cocok jika dibangun di asrama. Atau bisa saja asal kotoran satu RT ditampung di sebuah tempat sama. Ada yang tertarik?

Kumpulan kelompok tani Margo Raharjo IV, Rabu (22110).

"Selain untuk menjaga kesehatan warga, diharapkan dengan kandang yang bersih, produktifitas sapi dalam menghasilkan susu akan meningkat," ungkap Ratno, sekretaris kelompok tani Margo Raharjo IV dusun Slumut.

SALATIGA, KK - Rabu (22/10) kelompok tani Margo Raharjo IV dusun Slumut, kelurahan Kumpulrejo, kotamadya Salatiga, mengadakan k u m p ul ari untuk membahas pembangunan proyek percontohan biogas.

I n i dilakukan kar e n a sebagian besar penduduk di dusun tersebut bermatapencaharian sebagai peternak sapi, terutama sapi perah.

Selama ini, lethong atau kotoran sapi di dusun Siumut sebagian digunakan sebagai pupuk. Lebih ban yak ditumpuk di belakang rumah (untuk yang padat). Semen tara yang cair dialirkan ke dalam sumur penampung. Tentu ini kurang baik bagi kesehatan warga sendiri jika berdekatan dengan sumber air yang dipakai untuk keperluan sehari-hari. Selain itu, cukup berbahaya pula bagi anak-anak keciljika penutupan sumur kurang baik.

Kumpulan berakhir pada sekitar

Setelah mendengar penjelasan dari Ir. Junaidi, kumpulan dilanjutkan dengan mencari tempat yang tepat untuk membangun proyek percontohan. Warga cukup bersemangat, dengan mencatat dan mengukur, melihat dan bermusyawarah, sampai kemudian diputuskan bahwa proyek percontohan biogas dibangun di rumah Mbah Paidi. Pembangunan rencananya dimulai hari Senin (17/11). (Widhi)

Pembangunan percontohan biogas, (22/11).

Selain manfaat yang telah disebutkan oleh warga Slumut di atas, pria berambut putih ini mengatakan bahwa sisa dari biogas masih bisa dipakai sebagai pupuk organik, dalarn bentuk padat maupun cairo Menarik sekali jika petani

Kumpulan yang dihadiri oleh 30 orang anggota kelompok tani Margo Raharjo IV tersebut pada awalnya membahas kenapa perlu dibangun proyek

SALATIGA, KK - Desa Kumpulrejo, khususnya Peromasan, Slumut, Bendosari, dan Salib Putih termasuk wilayah yang dilalui proyek pembangunan jalan lingkar Solo-Semarang (Tingkir-Blotongan)

Doa untuk Orang Desa Eko Wahyudi

Duh Gusti, aku panjatkan doa untuk orang-orang desa agar mereka bisa betah. dan ayem untuk hidup di desa. Semoga Engkau juga letap melindungi orang-orang desa yang sedang berjuang dikota.

P embangunan ini dimaksudkan sebagai jalur altematif, karena jalan utama Solo-Semarang dinilai sudab tidak mampu menampung volume kendaraan. Panjang jalan ini direncanakan ±15 km. Selain melewati desa-desa tersebut, jalan lingkar ini juga melewati Candran, Pulutan, dan Blotongan.

Ya Gusti, bukan sekadar petunjuk tetapi kenikmatan dan rezeld yang banyak untuk bisa menghidupi orang desa. Agar bisa membesarkan anak-anaknya. Agar mereka bisa pandai dan suatu kelak akan menjadi gnerasi penerus cita- cita bangsa yang hari ini belum tercapai.

Tanah sepanjang pembangunan jalan lingkar, terutama daerah Slumut sampai ke Sa lib Putih digali sampai kedalaman ±14 meter. Hal ini dilakukan karena tanah di daerah terse but jauh lebih tinggi dari daerah Candran-Pulutan. Dengan adanya galian itu, penduduk dusun Sl u m u t m e n d a p a t k a n tam bah an pendapatan, yakui dengan memecah batubatu yang menyembul dari dalam tanah.

Duh Gusti, tabahkanlah orang orang desa. Mereka pagi-pagi sudah ke sawah, pulang sore, membiarkan alam m emb eri ilmu kepada mereka. Berikanlah semangal yang terus membara. Sebab mereka adalah penopang pangan komi. Tanpa mereka kami tak bisa hidup lagi.

Warga menonton alat-alat berat yang mulai mengeduk tanah.

Rejeki Dari Jalan Lingkar

Meski Tidak Menjamin Keberlangsungan Hidup Petani

Menurut penuturan Suratno (29), warga Slumut, pekerjaan memecah batu ini hasilnya lurnayan. "Hasilnya cukup lumayan. Sehari bisa dapat 100 ribu rupiah," katanya kepada KK saat ditemui di lokasi penggalian.

Semen tara di toko bisa mencapai Rp.500.000,- s/d Rp. 600.000,-.

mendapatkan durian runtuh, warga pun menjuallahan mereka dengan senang hati

Selain bekerja sebagai pemecah batu, sebagian warga juga bekerja sebagai buruh bangunan di proyek tersebut. Satu harinya mereka dibayar Rp. 25.000,- pada siang hari, dan Rp. 40.000,- pada malam hari.

Meski demikian, warga yang lahannya dilalui proyek pembaugunan jalan lingkar, selayaknya sejak saat ini mulai menyiasati masa depan mereka nanti. Sebab mereka adalah masyarakat petani dan peternak sapi perah. Kini, dengan adanya pembangunan tersebut, tentu saja laban mereka menjadi berkurang. Apalagi dari Slumut sampai dengan Salib Putih, pembangunan jalan lingkar dilakukan dengan menggali tanah sampai sedalam 14 meter. Setidaknya ini menyebabkan warga dan lahannya menjadi lebib berjarak. Jika tak pintar menyiasati, dikhawatirkan mereka kelak bukan lagi petani dan peternak yang menjadi tuan atas tanah dan ternaknya sendiri, tetapi menjadi pekerja bagi orang lain. (JnlWh)

Desa adalah kerajaan pangan, kerajaan ketentraman, istana tanaman pangall.

Hal itu dibenarkan warga Siumut lainnya, Mohammad Toha (32), "Pekerjaan ini memang berat, namun jika dilihat basilnya yang cukup lumayan, maka kami rnenjadi bersemangat."

Duh Gusti, berilah kedamaian dan kesejahteraan lahir-batin bagi orangyang hidup di desa. Sebab semua orang butuh orang desa, ketenteraman terciptanya di desa. Dan pangan semua orang ada di desa.

Semen tara itu rnusyawarah rnengenai pembebasan tanah sudah dilakukan jauh hari sebelumnya. Tanah warga dihargai antara Rp. 60.000,- sampai dengan Rp. I I 5.000,- per-metemya. Warga yang lahannya dilalui proyek pembangunan jalan lingkar merasa cukup beruntung dengan harga ini. Karena tanah biasanya tanah di desa-desa tersebut hanya seharga Rp. 25.000,- sampai dengan Rp. 40.000,- per-meternya. Bagai

Dengan peralatan sederhana semacam bodem, linggis, dan pasak, dalam sehari rata-rata mereka memperoleh batu satu rit. Untuk memperoleh batu satu rit, harus dikerjakan oleh 2 sampai 3 orang. Pekerjaan ini mereka lakoni sejak pukul 8 pagi sampai pukul 5 sore. Oleh pedagang batu, yang datang langsung ke lokasi, dihargai Rp. 300.000 sampai Rp. 400.000,-

Banyumas, 28November 2008.

gkn Wahyudi adalah asisten CO (Community Organizer) YLSKAR (Yayasan Lingkar Studi Kesctaraan Aksi dan Refleksi) WilayahBanyumas

Edisi Xll/Desember 2008

K.o~~ Komuni1aS

• Info Komunitas

7

Dua Ratus Tujuh Belas Juta Rupiah Hilang Setiap Tahun

Dampak Kenaikan Permukaan Air Rawapening

Kab. Semarang, KK - Meluapnya air Rawapening telah menggenangi lahan warga di yang berbatasan langsung dengan danau tersebut.

I tu akibat hujan tahun ini yang datang lebih awal dibandingkan tahun lalu. Sehingga padi dan cabai yang seharusnya bisa pancn normal, harus dilakukan dengan cara nggogohi (meraih dari dalaru air). Seperti yang dituturkan Pak Tamzis, warga Donosari Rt 04/111 Krajan II desa Tegaron, kecamatan Banyubiru, kabupaten Semarang, pede KK saat susur sawah di lokasi tersebut.

"Hujan tahun ini lebih awal, akibatnya kami tidak bisa panen normaL Jika bisa pancn pun, adalah pancn yang terpaksa dilakukan. Karena jika tidak dipanen, padi akan klelep air dan kami tidak bisa memanennya. Sebenamya kami sudah menanam lebih awaL Namun karena bujan datang lebih dulu, ya seperti ini. Lihat itu cabai saya, air sudah mendekati batangnya. Jika sampai air mencapai batang pohon cabai, saya tidak bisa pan en. Padahal panen saya belum ada 10 kali," katanya sarnbi! menunjuk tanaman cabainya yang dikelilingi air hampir mencapai batang pohon.

Senasib dengan Pak Tamzis, Pak Muh. Soleh, warga desa Tegaron juga, terpaksa mencabuti cabai yang masih hijau agar tetap bisa pancn. Itu dikarenakan pohon cabai sudah terendam banjir. "Cabai masih hijau seperti ini sudah saya cabuti. Yah, daripada terkena air dan mati semua," ungkapnya dengan nada sedih.

Di wilayah dusun Karang, Krajan I, dan Krajan 2-kesemuanya merupakan bagian desa Tegaron-ada sekitar 55 petani sekaligus nelayan yang mengalami nasib serupa. Kondisi tersebut hampir

_(

Petani di desa Tegaron berperahu di sawah untuk memanen padi mereka yang terkena luapan air Rawapening, Senin (10/11).

terjadi tiap tahun, manakala musim hujan datang, sementara padi belum saatnya panen. Sehingga bila dipanen lebih awal, hasilnya tidak sebagaimana mestinya. Bahkan bisa dikatakan merugi. Biasanya, jika hujan datang masyarakat dusun-dusun tersebut sudah selesai panen. Akan tetapi karena hujan datang lebih awal tahun ini, rnaka terpaksa mereka panen dengan berendam di dalarn air (nggogohi).

Memang, jika berbicara tentang lahan-Iahan sawah produktif yang terkena luapan Rawapening, sebenamya tidak hanya membicarakan kondisi lahan di beberapa dusun saja. Akan tetap i membicarakan kondisi laban di desa-desa yang berbatasan langsung dengan Rawapening, Oesa-desa itu antara lain Desa Banyubiru, Desa Kebondowo, Desa Rowoboni, Desa Tegaron, dan Desa

Ramai-ramai Belaiar Bersama

Pemuda busun Candisari

Pelatihan Selasa (04/11) di dusnn Candisari, desa Rowoboni, kecamatan Banyubiru.

UNGARAN, KK - Tiga puluh orang pernuda-pemudi dusun Candisari, desa Rowoboni, kecamatan Banyubiru, yang tergabung dalam Ospecs (Organisasi Pemuda Candi Sari) dua malam itu, Selasa (04/11) dan Rabu (05/11), berkumpul di rumah salah seorang anggotanya yang bernama Dan; untuk bersama-sama belajar pemotretan dan tata letak.

Kebumen, yang terletak di kecamtan Banyubiru. Belum lagi desa-desa lain yang terletak di kecamatan Tuntang, kecamatan Arnbarawa, dan kecamatan Bawen. Karena menurut pengamatan KK, tidak sedikit lahan yang sudah hilang dan menjadi rawa.

Tulisan ini hanya menceritakan kondisi kritis dan jumlah kerugian akibar terjadinya sedimentasi Rawapening yang terjadi di dusun Karang, Krajan 1, dan Krajan 2. Sebagai catatan, musim tanam hanya sekali pada saat ruusim kernarau, sehingga pancn hanya sekali, pada saat mendekati musim hujan.

Dari total lahan seluas 96 hektar, lahan sawah yang terkena luapan di dusun Karang, Krajan I, dan Krajan 2 kurang lebih seluas II hektar. Satu hektamya,

Kegiatan tersebut diadakan oleh Ospecs dikarenakan mereka ingin membuar kalender tahun 2009 yang sesuai dengan selera mereka. Yakni dengan fotofoto lingkungan Candisari dan tata letak yangmereka bikin sendiri.

Oleh karenanya, di hari pertama, Selasa (04/1 I), acara belajar bersama diisi dengan dasar-dasar komputer dan pemotretan. Acara yang difasilitasi oleh Yayasan Li.ngkar Studi Kesetaraan Aksi dan Refleksi (YLSKAR) ini dimulai pukul tujuh malam dan berakhir pada pukul sepuluh malam.

Setelah mendapat pelatihan hari sebelumnya, bam lab kemudian, Rabu (05/1 I), sepulang mereka dari sekolah dan bekerja, mereka berputar-putar dusun untuk memotret keadaan dusun.

Maka terkumpulah foto-foto Rawapening lengkap dengan hamparan bengok (eceng gondok) yang nyaris memenuhi tububnya, pengumpul dan perajin bengok, candi kecil yang berada di bukit tepat di tepian Rawapening, petani yang mcnggarap sawah. Foto-foto inilah yang kemudian dipakai sebagai bahan belajar bersama malam harinya, yang dimulai di jam yang sama dengan hari sebelumnya.

Kebumen, yang terletak di kecamtan Banyubiru. Belum lagi desa-desa lain yang terletak di kecamatan Tuntang, kecamatan Arnbarawa, dan kecamatan Bawen. Karena menurut pengamatan KK, tidak sedikit lahan yang sudah hilang dan rnenjadi rawa.

Tulisan ini hanya menceritakan kondisi kritis dan jumlah kerugian akibat terjadinya sedimentasi Rawapening yang terjadi di dustin Karang, Krajan 1, dan Krajan 2. Sebagai catatan, musim tanam hanya sekali pada saat rnusim kemarau, sehingga pancn hanya sekali, pada saat mendekati musim hujan.

Dari total lahan seluas 96 hektar, lahan sawah yang terkena luapan di dusun Karang, Krajan I, dan Krajan 2 kurang lebih seluas II hektar. Satu hektamya, menghasilkan gabah 9 ton. Dengan harga gabah Rp. 2.200,- per kilogram, maka kerugian petani di tiga dusun tersebut mencapai Rp. 217.800.000,-. Sebuab angka yang cukup besar bagi para petani.

"Cabai masih hijau seperti ini sudah saya cabuti. Yah, daripada terkena air dan mati semua," ungkapnya dengan nada sedih.

Angka tersebut belumlah mencakup desa-desa lain, sebagaimana belum mencakup jenis tanaman lain, misalnya cabai. Dapat dibayangkan seberapa besarjumlah kerugian yang harus ditanggung petani di seluruh wilayah yang terkena luapan Rawapening. Jika terus dibiarkan, atau ditangani namun tanpa perencanaan yang rnatang dan tidak tepat sasaran, bukan tidak mungkin akibat pendangkalan Rawapening kian meluas. (Siti Khotijah)

Kegiatan belajar bersama hari ke dua ini berlangsung lebih seru dibanding sebelumnya. Di Si11i mereka memuji dan rnengejek foto-foto yang mereka amhil seudiri, sekaligus menentukan foto-foto mana yang layak untuk ditampilkan di kalender. Semuanya dilakukan sambi I bercanda dan tertawa-tawa.

Setelah penilaian foto dirasa cukup, acara dilanjutkan dengan belajar bersama tata letak, menggunakan software Corel Draw. Tampak asyik sekali mereka menggeser dan menempatkan foto, menarik dan mengulur garis, memilih warna-wama, rnencoba-coba efek agar lebib bergaya, sampai tak terasa waktu sudab menunjukkan pukul sepuluh malam. Saatnya untuk pulang ..

Ketua Ospecs, Wahyu (21), ketika ditemui K.K seusai acara, mengungkapkan bahwa sebaiknya acara serna cam ini bisa dilakukan terus-menerus dengan topik yang berbeda-beda, tidak hanya ten tang kalender saja. Bahkan kalau bisa dua kali dalam seminggu. Akhimya disepakati kegiatan dilaksanakan seminggu sekali, setiap selasa malam.

"Agar pemuda-pemudi di dusun ini memiliki kegiatan yang positif," kata Wahyu menutup pembicaraan. (Widhi)

Ko~~ Komuni.aS

8 • Profil

Edisi Xll/Desember 2008

Mbah Paidi, Penggerak Kelompok Tani Dusun Slumut

Sebagaimana warga Siumut tersebut, tentang disiplin dan rajin belajar iainnya, Mbah Paidi juga bekerja sebagai itt! bukan sekadar among kosong belaka. peternak sapi perah, setelah sebelumnya "Jika undangan pertemuan kelompok tani lebih banyak bekerja sebagai blantik sapi pukul delapan malam, maka acara dimulai selama kurang lebih 30 tahun. Pada awal pukul delapan malam tepat," ujar Johan tahun 2000 ia berhenti karena istrinya, begitu mantap. "Atau, jika ada pertemuan Mbah Jirah yang kini telah almarhumah, dadakan, begitu kenthongan dititir, maka terserang penyakit gula. Sehingga petani segera berkumpul," tambah Johan membutuhkan kehadiran Mbah Paidi lebib kemudian.

sering.

pengelolaan kelompok tani, Mbah Paidi menjawab, "Kroso adoh nek ora dilakoni, kroso cedak nek ditandangi. Yang penting untuk kebaikan bersama."

Tak terasa jam sudah menunjuk pukul sepuluh malam. Sebenamya obrolan yang ditemani teh panas itu kian seru. Tetapi hari sudah terlalu larut. Tentu Mbah Paidi lelah dan ingin istirahat, setelah bertani dan beternak seharian. Maka KK dan Johan pamit pulang, dan dengan terpaksa tak bisa mernenuhi tawaran Mbah Paidi untuk menginap, karena ada hal lain yang malam itu juga harus kami kerjakan, ada hal lain yang tak bisa ditinggalkan. (Widhi)

Pernah juga selarna sebulan, difasilitasi oleh YLSKAR, kelompok tani ini belajar pembuatan pupuk dan pestisida organik, Meski sampai saat iui belum sepenuhnya mempraktekkan pertanian organik, namun setidaknya hasil kegiatan i tu dapat mengurangi penggunaan pestisida dan pupuk kimia.

Sejak itulah Mbah Paidi kembali menekuni betemak sapi perah dan bertani. Bergaul kembali dengan tanah dan cangkul. Berkumpul lagi dengan rumput danlenguh sapi.

Selama menekuni peternakan dan pertanian, Mbah Paidi berpikir bahwa sebaiknya petani berorganisasi dan berkumpul. Dengan berkumpul,persoalan lebih mudah diselesaikan, rencana lebih gampang diwujudkan, terangnya. Sampai akhirnya pada tahun 2004 kelompok tani Margo Raharjo IV dusun Slumut terbentuk.

H

ujan baru saja selesai ketika KK ditemani Johan, asisten CO Yayasan Lingkar Studi Kesetaraan Aksi dan Refleksi (YLSKAR) wilayah Salatiga, sampai di rumah Mbah Paidi. Jam menunjuk pukul delapan malam. Udara kian dingin oleh sis a-sis a hujan.

Untuk menjaga lingkungan sekaligus menambah pendapatan, kelompok tani yang diketuai oleh lelaki berbadan kecil namun liat ini juga melakukan usaha bersama pembibitan sengon, yang kemudian ditanam di lahanlahan seputar dusun.

Nama Usia Lahir

: Paidi.

: 65 tahun.

: dusun Slumut, kelurahan Kumpulrejo, kotamadya Salatiga.

: petani, petemak. Jirah (almarhum). : Ngatinem, Kamto.

Kelompok tani tersebut saat ini beranggotakan 40 orang, dan sejak terbentuknya diketuai oleh Mbah Paidi.

Pada tahun 2006 kelompok tani yang ini pernah menjuara i lomb a kelompok tani se-Salatiga. Kelompok tani ini sekarang juga sudah memiliki kelompok simpan pinjam.

Pada bulan November i n i kelompok tani Margo Raharjo IV juga membangun proyek percontohan biogas, yang setelah melalui proses musyawarah dibangun di rumah Mbah Paidi. Pembangunan telab dimulai Senin (17/11). Rencananya kelak, biogas bisa dibangun di rumah-rumah peternak lain di Slumut. Mungk in dengan cara arisan atau sejenisnya, terang Mbah Paidi.

Rumah Mbah Paidi terletak di dusun Siumut, kelurahan Kumpulrejo, kota Salatiga. Sebuah dusun yang terdiri dari 72 keluarga. Menggunakan kendaraan bermotor, butuh waktu kurang-Iebih seperempat jam dari pusat kota Salatiga untuk mencapainya.

Pekerjaan

Istri

Anak Kegiatan bennasyarakat

: Ketua RW dusun Slumut (2000-2006), Ketua kelompok tani Margo Raharjo IV dusun Slumut (2004- sekarang),

Ketika ditanya bagaimana pengelolaan kelompok tani, Mbah Paidi menjawab, "Yang penting disiplin dan mau belajar bersama, demi kebaikan bersarna."

Slumut adalah sebuah dusun dengan kebanyakan penduduknya bekerja sebagai peternak sapi perah, Di dusun ini pula Mbah Paidi lahir 65 tahun yang lalu.

Cukup banyak yang telah dilakukan kelompok tani yang dipimpin Mbah Paidi. Dan saat ditanya apa pegangannya dalam hidup maupun dalam

Apa yang dikatakan Mbah Paidi

iii

minuman instant yang tidak jelas kadar gizinya.

Para petani desa Tegaron terpaksa me man en awal.ltupun dengan nggogohidari dalam air.

Folo oleh: Bu Elik, Pak Tamyiz, Pak Kemi, PakAsroni, Sili Kholijah, Johan.