Anda di halaman 1dari 55

Serial Manhaj Tarbawi

MAR’AH
MUSLIMAH

MATERI TARBIYAH
Muslimah
DAFTAR ISI

Urgensi Tarbiyah Bagi Wanita Muslimah


Membangun Kepribadian Islami
Peran dan Tanggung Jawab Wanita Muslimah
Wanita-Wanita Pengukir Sejarah

Muslimah
URGENSI TARBIYAH BAGI WANITA MUSLIMAH

Muslimah merupakan komponen dalam keluarga dan masyarakat yang sangat


menentukan perannya dalam membentuk generasi dan menciptakan peradaban. Sejarah
telah mencatat, sejak zaman nabi Adam, hingga nabi yang terakhir nabi kita Muhammad
SAW, banyak kita dapatkan kisah betapa muslimah (wanita) di sekitar para nabi sangat
berperan di dalam membantu tugas dakwah para nabi. Sebagai contoh misalnya peran Siti
Aisiah istri Firaun, di tengah kehidupan jahil Firaun dan anak buahnya, Aisiah telah
menunjukkan keteguhannya dalam memegang keimanan kepada Allah SWT, dan kepada
Musa AS, walaupun harus menanggung ujian berat. Demikian juga peran ibu Musa ketika
musa masih bayi, yang dengan ikhlas memenuhi perintah Allah untuk menghanyutkan
bayinya. Juga peran kakak Musa AS yang turut serta memantau kotak yang berisi bayi
Musa yang dihanyutkan. Kita lihat juga bagaimana peran Siti Hajar ayah Ismail AS, dalam
mendidik anaknya sehingga mampu menjadi hamba Allah yang sabar ketika menerima
perintah untuk disembelih. Lihatlah juga bagaimana pengorbanan dan perjuangan
Khadijah RA dalam membela dakwah suaminya. Peran Asma binti Abu Bakar yang telah
membantu kesuksesan dakwah Rasulullah SAW. Kepandaian Aisyah RA, sehingga
mampu mendidik kaum wanita sepeninggal Rasul, dengan mengajarkan berbagai macam
hadits.

Munculnya muslimah yang demikian besar perannya dalam kehidupan dan sejarah
perjuangan para nabi, tentu tidak secara instant dan tiba-tiba. Mereka semua menjadi
muslimah yang tangguh dalam segala hal, adalah berkat adanya proses pembinaan yang
berkelanjutan.

Maka jika kita semua, tanpa kecuali, baik laki-laki ataupun perempuan ingin mengulang
sejarah, mengukir kembali pribadi-pribadi muslimah yang siap mendukung terciptanya
peradaban Islam yang gemilang, mestilah memberikan dukungan yang penuh terhadap
aktivitas tarbiyah muslimah. Pemahaman ini penting, sehingga akan ada kerja sama
yang selaras antara ikhwan dan akhwat dalam mensukseskan program tarbiyah
muslimah.

Pembinaan merupakan sesuatu yang niscaya, karena fitrah manusia yang senantiasa
membutuhkan nasihat dan perhatian. Kenapa demikian?

Karena manusia adalah makhluk yang diciptakan Allah SWT di mana salah satunya
memiliki sifat lupa. Dengan demikian, manusia, termasuk di dalamnya muslimah butuh
untuk selalu diingatkan dan diarahkan (Fa dzakir fainna dzikra tanfaaul mu’minin).

Karena tabiat manusia yang membutuhkan hidup berkelompok. Pembinaan dalam


beberapa hal melatih bagaimana muslimah dapat hidup berkelompok dengan berbagai
tanggung jawabnya.

Muslimah
Karena manusia memiliki tabiat lemah dan bodoh. Dengan kesadaran ini, maka
muslimah akan terpacu untuk senantiasa menambah ilmu dan wawasan sehingga akan
dapat mengarungi kehidupannya dengan ilmu dan pemahaman

Dari uraian di atas, kita dapat memahami bahwa beberapa urgensi tarbiyah bagi
Muslimah adalah sebagai berikut:

1. Dengan tarbiyah muslimah dapat menambah ilmu dan wawasan


2. Dengan tarbiyah muslimah dapat mendukung suami dalam dakwah
3. Dengan tarbiyah muslimah dapat sukses dalam mendidik anak
4. Dengan tarbiyah muslimah dapat eksis di tengah masyarakat untuk bekerja sama
dalam memberdayakan lingkungan yang islami.

1. Tarbiyah merupakan sarana untuk menambah ilmu dan wawasan.

Ilmu akan menjadi cahaya dalam melangkah. Ilmu akan memandu setiap langkah
muslimah. Dengan ilmu juga seseorang akan menjadi takut kepada Allah. Ilmu juga akan
mengangkat derajat seseorang di sisi Allah dan di sisi manusia.

Al-Qur’an surat al mujaadilah ayat 11:

‫ ﹺﺢ‬‫ﻔﹾﺴ‬‫ﻮﺍ ﻳ‬‫ﺤ‬‫ﺲﹺ ﻓﹶﺎﻓﹾﺴ‬‫ﺎﻟ‬‫ﺠ‬‫ﻲ ﺍﻟﹾﻤ‬‫ﻮﺍ ﻓ‬‫ﺤ‬‫ﻔﹶﺴ‬‫ ﺗ‬‫ﻴﻞﹶ ﻟﹶﻜﹸﻢ‬‫ﻮﺍ ﺇﹺﺫﹶﺍ ﻗ‬‫ﻨ‬‫ ﺀَﺍﻣ‬‫ﻳﻦ‬‫ﺎ ﺍﻟﱠﺬ‬‫ﻬ‬‫ﺎﺃﹶﻳ‬‫ﻳ‬
‫ﻳﻦ‬‫ﺍﻟﱠﺬ‬‫ ﻭ‬‫ﻜﹸﻢ‬‫ﻨ‬‫ﻮﺍ ﻣ‬‫ﻨ‬‫ ﺀَﺍﻣ‬‫ﻳﻦ‬‫ ﺍﻟﱠﺬ‬‫ﻓﹶﻊﹺ ﺍﻟﻠﱠﻪ‬‫ﺮ‬‫ﻭﺍ ﻳ‬‫ﺰ‬‫ﺸ‬‫ﻭﺍ ﻓﹶﺎﻧ‬‫ﺰ‬‫ﺸ‬‫ﻴﻞﹶ ﺍﻧ‬‫ﺇﹺﺫﹶﺍ ﻗ‬‫ ﻭ‬‫ﻪ ﻟﹶﻜﹸﻢ‬ ‫ﺍﻟﻠﱠ‬
‫ﺒﹺﲑ‬‫ﻠﹸﻮﻥﹶ ﺧ‬‫ﻤ‬‫ﻌ‬‫ﺎ ﺗ‬‫ ﺑﹺﻤ‬‫ﺍﻟﻠﱠﻪ‬‫ ﻭ‬‫ﺎﺕ‬‫ﺟ‬‫ﺭ‬‫ ﺩ‬‫ﻠﹾﻢ‬‫ﻮﺍ ﺍﻟﹾﻌ‬‫ﺃﹸﻭﺗ‬
“Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah
dalam majelis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu.
Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan
meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu
pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al Mujaadilah: 11)

Jika para muslimah memiliki ilmu dan wawasan yang luas, mereka akan mampu
memberikan pengajaran dan pendidikan yang terbaik bagi anak-anaknya, mengetahui
jalan-jalan kebaikan, yang dengannya dia akan banyak kesempatan/peluang untuk
beramal, mampu mengajarkan kebaikan kepada masyarakatnya. Dan seorang muslimah
yang memiliki banyak ilmu dan wawasan tidak akan ditipu dan dibohongi oleh pihak-
pihak yang ingin menjerumuskannya dari kalangan musuh-musuh Allah.

Muslimah
Dengan tarbiyah yang dilakukan secara rutin setiap pekan dalam halaqah, peluang-peluang
untuk mendapatkan tambahan ilmu akan semakin besar, karena selain mendapatkan ilmu-
ilmu secara langsung dari murabbinya, di dalam halaqah juga seorang muslimah akan
dimotivasi untuk memperbanyak kegiatan menggali ilmu di luar halaqah, misalnya
dengan aktivitas membaca. Para shahabiyah terbiasa menanyakan hal-hal yang belum
diketahui kepada Rasulullah dan para istri-istrinya, karena semangat mencari ilmu yang
tinggi. Aisyah RA termasuk salah seorang shahabiyah sekaligus istri nabi yang memiliki
ilmu dan wawasan yang sangat luas, terbukti dengan meriwayatkan banyak hadits, yang
jumlahnya lebih dari 200.

Muslimah yang memiliki ilmu pada gilirannya juga akan meningkatkan keimanan.
Karena iman harus didahului dengan ilmu. Perhatikan firman Allah: Fa’lam annahu Laa
ilaaha illaLLAH. Kata fa’lam tersirat makna agar kita punya ilmu, sehingga kita bisa
mengimani Allah.

Tidak dapat dipungkiri lagi, bahwa iman seseorang kadang naik dan kadang berkurang (Al
Iimanu yaziidu wayankusu). Dalam kehidupan seorang muslimah, manakala dia
mengalami penurunan iman, maka akan berdampak buruk bagi orang-orang di
sekelilingnya, baik suami, orang tua, maupun anak-anaknya. Dampak buruk itu misalnya
dapat berupa menjadi sasaran pelampiasan kemarahan. Jika hal ini berlangsung terus
menerus, tidak mustahil akan berakibat pada penurunan produktivitas dari suatu keluarga.
Kita bisa membayangkan seorang suami yang menjadi sasaran kemarahan istri, pasti tidak
dapat bekerja secara konsentrasi dan optimal. Demikian juga anak-anak di sekolah tidak
dapat belajar dengan konsentrasi dan baik, manakala selalu dimarahi oleh ibunya.
Seseorang yang marah, pada hakikatnya dia sedang membuang-buang energi, yang berarti
melakukan kesia-siaan.

Selain menjadi mudah marah, seorang muslimah yang mengalami penurunan iman juga
akan menjadi malas dalam melakukan aktivitas ibadah. Kemalasan dalam beribadah ini
pada akhirnya juga akan menurunkan kembali keimanan, sehingga menjadi lingkaran tak
berujung. Bisa kita bayangkan jika muslimah tidak mendapatkan siraman dalam tarbiyah
yang akan menghidupkan dan menyegarkan kembali keimanannya. Ibarat tanaman yang
menjadi segar kembali setelah layu karena tidak disiram. Kemalasan dalam melakukan
ibadah juga akan menjadi satu hal yang pada gilirannya akan di contoh oleh anak-anak.
Akhirnya akan lahirlah generasi yang pemalas.

Rasulullah saw mengajarkan kita untuk berdoa agar terhindar dari sifat malas:

Allahumma inna na’udzubika minal hammi wal hazan wana’udzubika minal ajzi wal
kasal, wanau’dzubika minal jubni wal buhl, wanau’dzubika min ghalabatidaeni waqohri
rijal.

Artinya: “Yaa Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa sempit dalam dada dan rasa
gelisah. Aku pun berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan. Aku berlindung

Muslimah
kepada-Mu dari sikap pengecut dan kikir. Aku berlindung kepada-Mu dari belenggu utang
dan tekanan manusia:

Penurunan keimanan pada gilirannya juga akan melemahkan motivasi dalam banyak hal.
Orang yang lemah motivasinya akan kehilangan semangat dalam menggapai sesuatu yang
lebih baik di masa depan. Padahal Rasulullah saw menyampaikan kepada kita bahwa:

“Orang yang keadaannya hari ini lebih buruk dari hari kemarin, adalah orang yang
celaka, sementara orang yang keadaannya hari ini sama dengan hari kemarin, maka dia
adalah orang yang rugi. Dan orang yang beruntung adalah orang yang keadaan hari ini
lebih baik dari hari kemarin.”

Dengan keimanan yang terus meningkat, seorang muslimah akan lebih produktif di dalam
beramal, baik dalam lapangan kehidupan keluarga maupun kehidupan masyarakat.
Dengan demikian tidak dapat di bantah lagi bahwa semua pihak harus mendukung untuk
terlaksananya tarbiyah bagi muslimah.

Selain hal-hal tersebut di atas, dengan aktivitas tarbiyah, yang juga terkandung makna
aktivitas thalabul ilmi, seseorang akan dimudahkan jalan masuk ke surga.

“Barangsiapa yang berjalan untuk mencari ilmu, maka Allah mudahkan jalan baginya
untuk masuk surga”

2. Dengan Tarbiyah, muslimah dapat mendukung suami dalam dakwah

Perempuan dan laki-laki diciptakan oleh untuk saling bekerja sama dalam kebaikan
sebagaimana firman Allah di dalam surat at Taubah 71

‫ ﹶﻥ‬‫ﻮ‬‫ﻬ‬‫ﻨ‬‫ﻳ‬‫ ﻭ‬‫ﻭﻑ‬‫ﺮ‬‫ﻌ‬‫ﻭﻥﹶ ﺑﹺﺎﻟﹾﻤ‬‫ﺮ‬‫ﺄﹾﻣ‬‫ﺾﹴ ﻳ‬‫ﻌ‬‫ﺎﺀُ ﺑ‬‫ﻴ‬‫ﻟ‬‫ ﺃﹶﻭ‬‫ﻢ‬‫ﻬ‬‫ﻀ‬‫ﻌ‬‫ ﺑ‬‫ﺎﺕ‬‫ﻨ‬‫ﻣ‬‫ﺆ‬‫ﺍﻟﹾﻤ‬‫ﻮﻥﹶ ﻭ‬‫ﻨ‬‫ﻣ‬‫ﺆ‬‫ﺍﹾﻟﻤ‬‫ﻭ‬


‫ﻮﻟﹶﻪ‬‫ﺳ‬‫ﺭ‬‫ ﻭ‬‫ﻮﻥﹶ ﺍﻟﻠﱠﻪ‬‫ﻴﻌ‬‫ﻄ‬‫ﻳ‬‫ﻛﹶﺎﺓﹶ ﻭ‬‫ﻮﻥﹶ ﺍﻟﺰ‬‫ﺗ‬‫ﺆ‬‫ﻳ‬‫ﻠﹶﺎﺓﹶ ﻭ‬‫ﻮﻥﹶ ﺍﻟﺼ‬‫ﻴﻤ‬‫ﻘ‬‫ﻳ‬‫ﻜﹶﺮﹺ ﻭ‬‫ﻨ‬‫ﻦﹺ ﺍﻟﹾﻤ‬‫ﻋ‬
‫ﻴﻢ‬‫ﻜ‬‫ ﺣ‬‫ﺰﹺﻳﺰ‬‫ ﻋ‬‫ ﺇﹺﻥﱠ ﺍﻟﻠﱠﻪ‬‫ ﺍﻟﻠﱠﻪ‬‫ﻢ‬‫ﻬ‬‫ﻤ‬‫ﺣ‬‫ﺮ‬‫ﻴ‬‫ ﺳ‬‫ﻚ‬‫ﺃﹸﻭﻟﹶﺌ‬
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah)
menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang
ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka
taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya
Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At Taubah: 71)

Seorang muslimah yang terbina akan memahami posisi dirinya sebagai mitra suami dalam
menjalankan tugas dakwah. Maka ia akan berusaha bahu membahu dalam melaksanakan

Muslimah
amar ma’ruf nahi mungkar, baik dalam lingkungan keluarga maupun lingkungan
masyarakatnya. Ia akan memahami betul bagaimana menjadi seorang istri yang shalihah,
yang senantiasa taat kepada suami dalam kebaikan, menjaga kehormatan dan harta suami,
serta menyenangkan bila dipandang. Muslimah yang terbina juga akan senantiasa
mendukung dan memotivasi suami untuk selalu istiqamah di jalan dakwah, dan tidak akan
menghalang-halangi suami dalam amal kebaikan. Langkahnya selalu terinspirasi oleh
sosok Khadijah RA, istri Rasulullah yang secara total menyerahkan apa saja yang
dimilikinya untuk kepentingan dakwah Islam, baik harta, waktu, serta jiwanya.

Berbahagialah seorang suami yang memiliki pendamping yang setia dan penuh
pengorbanan seperti pengorbanan Khadijah RA. Sosok Khadijah lahir dari proses
pembinaan yang intensif.

Agar muslimah dapat mendukung dakwah suami secara optimal, maka dirinya dituntut
untuk mampu memenej semua sumber daya yang ada dengan baik, baik sumber daya yang
berupa harta, tenaga, ataupun waktu. Di sinilah pentingnya seorang muslimah memiliki
keterampilan-keterampilan rumah tangga ataupun keterampilan tambahan yang akan
mendukung tugas-tugasnya.

Muslimah membutuhkan banyak keterampilan dalam menjalankan seluruh aktivitas


kehidupannya, baik dalam lingkungan rumah tangga, maupun dalam lingkungan
kehidupan sosial masyarakat. Mulai dari keterampilan mengurus diri dengan manajemen
waktu, keterampilan dalam kehidupan rumah tangga dengan tugas-tugas merawat dan
mendidik anak, menjaga kerapian dan keindahan rumah dll. Juga keterampilan untuk
berkomunikasi dengan orang lain. Keterampilan-keterampilan tersebut mungkin
nampaknya sepele, tetapi jika tidak disiasati dengan baik, akan berakibat pada kualitas
hidup yang tidak baik, karena terjadi pemborosan sumber daya. Seorang muslimah di
tuntut untuk dapat bekerja dengan cerdas, ikhlas dan tuntas, dan bukan sekadar bekerja
keras, sehingga ia dapat mendukung tugas dakwah suami, dan melaksanakan tugas
dakwah bagi dirinya.

Allah swt berfirman di dalam surat at Taubah 105 :

‫ﻭﻥﹶ ﺇﹺﻟﹶﻰ‬‫ﺩ‬‫ﺮ‬‫ﺘ‬‫ﺳ‬‫ﻮﻥﹶ ﻭ‬‫ﻨ‬‫ﻣ‬‫ﺆ‬‫ﺍﻟﹾﻤ‬‫ ﻭ‬‫ﻮﻟﹸﻪ‬‫ﺳ‬‫ﺭ‬‫ ﻭ‬‫ﻠﹶﻜﹸﻢ‬‫ﻤ‬‫ ﻋ‬‫ﻯ ﺍﻟﻠﱠﻪ‬‫ﺮ‬‫ﻴ‬‫ﻠﹸﻮﺍ ﻓﹶﺴ‬‫ﻤ‬‫ﻗﹸﻞﹺ ﺍﻋ‬‫ﻭ‬


‫ﻠﹸﻮﻥﹶ‬‫ﻤ‬‫ﻌ‬‫ ﺗ‬‫ﻢ‬‫ﺘ‬‫ﺎ ﻛﹸﻨ‬‫ ﺑﹺﻤ‬‫ﺌﹸﻜﹸﻢ‬‫ﺒ‬‫ﻨ‬‫ ﻓﹶﻴ‬‫ﺓ‬‫ﺎﺩ‬‫ﻬ‬‫ﺍﻟﺸ‬‫ﺐﹺ ﻭ‬‫ﻴ‬‫ﻢﹺ ﺍﻟﹾﻐ‬‫ﺎﻟ‬‫ﻋ‬
“Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, Maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang
mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang
mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang
Telah kamu kerjakan.”” (QS. At Taubah: 105)

Muslimah
Tarbiyah adalah jalan bagi seorang muslimah untuk dapat memahami, termotivasi dan
membekali diri agar dapat melaksanakan tugas-tugas dan fungsinya sebagai seorang istri
dalam membantu tugas suami dengan baik.

3. Dengan tarbiyah, muslimah akan dapat sukses mendidik anak.

Pemahaman akan nilai strategis seorang anak sebagai investasi pahala yang tak pernah
putus bagi orang tuanya, akan memotivasi para muslimah untuk senantiasa
memperhatikan dan bersemangat dalam mendidik anak-anaknya menjadi generasi rabbani,
saleh dan muslih. Pemahaman dan kesadaran demikian akan muslimah dapatkan dalam
proses tarbiyah. Berawal dari pemahaman dan kesadaran inilah seorang muslimah akan
berjuang sungguh-sungguh dalam mendidik anak-anaknya.

Pada hakikatnya, tarbiyatul aulad adalah merupakan kewajiban dan tanggung bersama
antara ayah dan ibu, akan tetapi secara fitrah, muslimah akan lebih dekat interaksinya
dengan anak-anak, karena ia sudah berinteraksi secara fisik dengan “ibu” sejak masih ada
dalam kandungan. Seorang ayah seringkali lebih banyak berperan pada hal-hal yang
bersifat strategis dalam pendidikan anak, adapun manajemennya lebih banyak ada di
tangan ibu. Oleh karena itu, seorang muslimah dituntut untuk memiliki dan memahami
banyak ilmu, keterampilan, dan hal-hal lain terkait dengan pendidikan anak, sehingga
anak-anaknya akan menjadi sukses dunia akhirat.

Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita bagaimana orang tua menyayangi anak-
anaknya dengan ciuman kasih sayang, sehingga beliau mengomentari sahabat yang tidak
pernah sekalipun mencium anak-anaknya dengan ungkapan “barangkali Allah telah
mencabut kasih sayang dari dirinya”

Suatu kali Rasulullah saw juga mendoakan anak-anak yang sedang bermain dengan
dagangannya dengan doa “semoga Allah memberkahi daganganmu”.

Demikian juga kita melihat contoh para shahabiyah dan salafusshaleh dalam mentarbiyah
anak-anaknya. Misalnya al Khansa, telah berhasil menanamkan jiwa syuhada kepada
kelima anaknya, sehingga semuanya mendapatkan anugerah syahid.

Seorang muslimah yang terbina sudah semestinya mencita-citakan agar suami dan anak-
anak serta dirinya menjadi penghuni surga dengan Rahmat dan Kasih SayangNYA. Inilah
cita–cita muslimah seperti yang Allah firmankan dalam surat Ath-Tthuur ayat 21:

‫ﻢ‬‫ﺎﻫ‬‫ﻨ‬‫ﺎ ﺃﹶﻟﹶﺘ‬‫ﻣ‬‫ ﻭ‬‫ﻢ‬‫ﻬ‬‫ﺘ‬‫ﻳ‬‫ ﺫﹸﺭ‬‫ﺎ ﺑﹺﻬﹺﻢ‬‫ﻘﹾﻨ‬‫ ﺃﹶﻟﹾﺤ‬‫ﺎﻥ‬‫ ﺑﹺﺈﹺﳝ‬‫ﻢ‬‫ﻬ‬‫ﺘ‬‫ﻳ‬‫ ﺫﹸﺭ‬‫ﻢ‬‫ﻬ‬‫ﺘ‬‫ﻌ‬‫ﺒ‬‫ﺍﺗ‬‫ﻮﺍ ﻭ‬‫ﻨ‬‫ ﺀَﺍﻣ‬‫ﻳﻦ‬‫ﺍﻟﱠﺬ‬‫ﻭ‬
‫ﲔ‬‫ﻫ‬‫ ﺭ‬‫ﺐ‬‫ﺎ ﻛﹶﺴ‬‫ﺮﹺﺉﹴ ﺑﹺﻤ‬‫ﺀٍ ﻛﹸﻞﱡ ﺍﻣ‬‫ﻲ‬‫ ﺷ‬‫ﻦ‬‫ ﻣ‬‫ﻬﹺﻢ‬‫ﻠ‬‫ﻤ‬‫ ﻋ‬‫ﻦ‬‫ﻣ‬

Muslimah
“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam
keimanan, kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan kami tiada
mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. tiap-tiap manusia terikat dengan apa
yang dikerjakannya.” (QS. Ath-Thuur: 21)

Jadi, ukuran kesuksesan mendidik anak adalah berhasil menjadikan anak-anaknya sebagi
penghuni surga. Adapun kesuksesan-kesuksesan yang sifatnya dunia dan materi
hakikatnya itu merupakan asesoris yang akan mempercantik “kesuksesan hakiki menjadi
penghuni surga”.

4. Dengan Tarbiyah, muslimah dapat eksis di tengah masyarakat untuk bekerja


sama dan memberdayakan lingkungan masyarakat yang Islami

Kehadiran muslimah di tengah lingkungan masyarakatnya harus dapat memberi pengaruh


yang positif, mampu mencetak lukisan indah di tengah masyarakat, dan bukan melebur
pada warna lukisan yang ada di masyarakat. Agar dapat memberikan pengaruh yang
demikian, seorang muslimah membutuhkan bekal-bekal motivasi, keberanian,
kebijaksanaan dan keterampilan. Hal-hal ini insya Allah akan didapatkannya di dalam
proses tarbiyah yang intensif. Di sini muslimah akan mampu memerankan dirinya sebagi
agent of change (agen perubahan) ke arah yang lebih baik, tanpa mengorbankan prinsip
yang kebenaran yang telah diyakininya. Sesuai dengan istilah Yahtalituuna walakin
yatamayazun.

Secara umum, masyarakat yang melingkupi kehidupan muslimah sekarang ini, masih jauh
dari nilai-nilai kebenaran. Berbagai fenomena menunjukkan betapa manusia masih
diperbudak oleh makhluk dan hawa nafsunya. Lihatlah, betapa banyak wanita-wanita yang
notabene seorang muslim, tampil dengan pakaian yang minim, betapa banyak remaja
yang berbeda jenis bergaul tanpa batas. Lihat pula gerombolan ibu-ibu yang lebih suka
bergosip dengan sesama tanpa merasa bersalah. Lihat pula betapa banyak ibu-ibu dari
kalangan menengah ke atas lebih senang berburu perhiasan dan perabot rumah yang
harganya berlipat-lipat dari gaji seorang guru. Semua fenomena tersebut membutuhkan
perhatian yang serius dan kerja keras dari para muslimah yang terbina untuk
mengembalikan masyarakat kepada fitrahnya yang hanif dan cinta kebenaran.

Salah satu hadits Rasul SAW yang dapat di jadikan pedoman dalam merekayasa
masyarakat adalah hadits yang artinya :

“Barang siapa yang melihat kemungkaran, maka cegahlah dengan tangannya, kalau dia
tidak mampu, maka cegahlah dengan lisannya, dan kalau dia tidak mampu juga, maka
cegahlah dengan hati. Dan itulah selemah-lemah iman.”

Jika seorang muslimah sudah tidak ada kepekaan dan kepedulian sama sekali melihat
kemungkaran dan permasalahan yang terjadi di tengah masyarakat, maka ia dipertanyakan
keimanannya. Selain itu, Allah juga mengingatkan kita di dalam firman Allah pada surat
al Anfal ayat 25:

Muslimah
‫ﺪ‬ ‫ﻳ‬‫ﺪ‬‫ ﺷ‬‫ﻮﺍ ﺃﹶﻥﱠ ﺍﻟﻠﱠﻪ‬‫ﻠﹶﻤ‬‫ﺍﻋ‬‫ﺔﹰ ﻭ‬‫ﺎﺻ‬‫ ﺧ‬‫ﻜﹸﻢ‬‫ﻨ‬‫ﻮﺍ ﻣ‬‫ ﻇﹶﻠﹶﻤ‬‫ﻳﻦ‬‫ ﺍﻟﱠﺬ‬‫ﻦ‬‫ﻴﺒ‬‫ﺼ‬‫ﺔﹰ ﻟﹶﺎ ﺗ‬‫ﻨ‬‫ﺘ‬‫ﻘﹸﻮﺍ ﻓ‬‫ﺍﺗ‬‫ﻭ‬
‫ﻘﹶﺎﺏﹺ‬‫ﺍﻟﹾﻌ‬
“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang
yang zhalim saja di antara kamu. dan Ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.”
(QS. Al Anfal: 25)

Ayat ini seharusnya menjadi penyemangat bagi para muslimah untuk senantiasa proaktif
dalam menyeru masyarakat nya kepada kebaikan, sehingga akan jauh dari Azab atau siksa
Allah. Di dalam aktivitas tarbiyah, muslimah akan mendapatkan banyak motivasi untuk
selalu berbuat, berjuang dan melakukan banyak hal. Maka tarbiyah bagi muslimah adalah
suatu yang tidak dapat dipisahkan dari dirinya.

---oo0oo---

Sumber: Tim Kajian Manhaj Tarbiyah (dakwatuna.com)

Muslimah
MEMBANGUN KEPRIBADIAN ISLAMI

Manusia adalah makhluk yang paling sempurna dan paling mulia dibanding dengan
makhluk-makhluk Allah lainnya. Allah SWT berfirman,

 ‫ﺎ‬‫ ﺍﻟﻄﹶّﻴﹺّﺒ‬‫ﻦ‬‫ ﻣ‬‫ﻢ‬‫ﺎﻫ‬‫ﻗﹾﻨ‬‫ﺯ‬‫ﺭ‬‫ﺮﹺ ﻭ‬‫ﺤ‬‫ﺍﻟﹾﺒ‬‫ﺮﹺّ ﻭ‬‫ﻲ ﺍﻟﹾﺒ‬‫ ﻓ‬‫ﻢ‬‫ﺎﻫ‬‫ﻠﹾﻨ‬‫ﻤ‬‫ﺣ‬‫ ﻭ‬‫ﻡ‬‫ﻨﹺﻲ ﺁﺩ‬‫ﺎ ﺑ‬‫ﻨ‬‫ّﻣ‬‫ ﻛﹶﺮ‬‫ﻟﹶﻘﹶﺪ‬‫ﻭ‬
‫ﺕ‬
‫ﻴﻼ‬‫ﻔﹾﻀ‬‫ﺎ ﺗ‬‫ﻠﹶﻘﹾﻨ‬‫ ﺧ‬‫ّﻦ‬‫ﻤ‬‫ﲑﹴ ﻣ‬‫ﻠﹶﻰ ﻛﹶﺜ‬‫ ﻋ‬‫ﻢ‬‫ﺎﻫ‬‫ّﻠﹾﻨ‬‫ﻓﹶﻀ‬‫ﻭ‬
“Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di
daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan
mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah kami
ciptakan.” (QS. Al Isra: 70)

Urgensi Kepribadian Islami

Menjadi pribadi yang Islami merupakan suatu hal yang sangat diperhatikan dalam agama
Islam. Hal ini karena Islam itu tidak hanya ajaran normatif yang hanya diyakini dan
dipahami tanpa diwujudkan dalam kehidupan nyata, tapi Islam memadukan dua hal antara
keyakinan dan aplikasi, antara norma dan perbuatan , antara keimanan dan amal saleh.
Oleh sebab itulah ajaran yang diyakini dalam Islam harus tercermin dalam setiap tingkah
laku, perbuatan dan sikap pribadi-pribadi muslim.

Memang, setiap jiwa yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Tapi bukan berarti kesucian
dari lahir itu meniadakan upaya untuk membangun dan menjaganya, justru karena telah
diawali dengan fitrah itulah, jiwa tersebut harus dijaga dan dirawat kesuciannya dan
selanjutnya dibangun agar menjadi pribadi yang islami.

Ruang Lingkung Kepribadian Islami

Sisi yang harus dibangun pada pribadi muslim adalah sebagai berikut:

A. Ruhiyah (Ma’nawiyah)

Aspek ruhiyah adalah aspek yang harus mendapatkan perhatian khusus oleh setiap
muslim. Sebab ruhiyah menjadi motor utama sisi lainnya, hal ini bisa kita simak dalam
firman Allah SWT di Surat Asy-Syams : 7-10

Muslimah
‫ﺪ‬ ‫ﻗﹶ‬‫ ﻭ‬,‫ﺎ‬‫ﻛﹶّﺎﻫ‬‫ ﺯ‬‫ﻦ‬‫ ﻣ‬‫ ﺃﹶﻓﹾﻠﹶﺢ‬‫ ﻗﹶﺪ‬,‫ﺎ‬‫ﺍﻫ‬‫ﻘﹾﻮ‬‫ﺗ‬‫ﺎ ﻭ‬‫ﻫ‬‫ﻮﺭ‬‫ﺎ ﻓﹸﺠ‬‫ﻬ‬‫ﻤ‬‫ ﻓﹶﺄﹶﻟﹾﻬ‬,‫ﺎ‬‫ّﺍﻫ‬‫ﻮ‬‫ﺎ ﺳ‬‫ﻣ‬‫ﻔﹾﺲﹴ ﻭ‬‫ﻧ‬‫ﻭ‬
‫ﺎ‬‫ّﺎﻫ‬‫ﺳ‬‫ ﺩ‬‫ﻦ‬‫ ﻣ‬‫ﺎﺏ‬‫ﺧ‬
“Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), Maka Allah mengilhamkan kepada
jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya. Sungguh sangat beruntung orang yang
mensucikannya dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya,” (QS. Asy Syams: 7-
10).

Dan dalam surat Al Hadid ayat 16:

‫ﻻ‬‫ﻖﹺّ ﻭ‬‫ ﺍﻟﹾﺤ‬‫ﻦ‬‫ﻝﹶ ﻣ‬‫ﺰ‬‫ﺎ ﻧ‬‫ﻣ‬‫ ﻭ‬‫ﻛﹾﺮﹺ ﺍﻟﻠﹶّﻪ‬‫ﺬ‬‫ ﻟ‬‫ﻢ‬‫ﻬ‬‫ ﻗﹸﻠﹸﻮﺑ‬‫ﻊ‬‫ﺸ‬‫ﺨ‬‫ﻮﺍ ﺃﹶﻥﹾ ﺗ‬‫ﻨ‬‫ ﺁﻣ‬‫ﻳﻦ‬‫ﻠﹶّﺬ‬‫ ﻟ‬‫ﺄﹾﻥ‬‫ ﻳ‬‫ﺃﹶﻟﹶﻢ‬
‫ﻢ‬‫ﻬ‬‫ ﻗﹸﻠﹸﻮﺑ‬‫ﺖ‬‫ ﻓﹶﻘﹶﺴ‬‫ﺪ‬‫ ﺍﻷﻣ‬‫ﻬﹺﻢ‬‫ﻠﹶﻴ‬‫ﻞﹸ ﻓﹶﻄﹶﺎﻝﹶ ﻋ‬‫ ﻗﹶﺒ‬‫ﻦ‬‫ ﻣ‬‫ﺎﺏ‬‫ﺘ‬‫ﻮﺍ ﺍﻟﹾﻜ‬‫ ﺃﹸﻭﺗ‬‫ﻳﻦ‬‫ﻮﺍ ﻛﹶﺎﻟﹶّﺬ‬‫ﻜﹸﻮﻧ‬‫ﻳ‬
‫ﻘﹸﻮﻥﹶ‬‫ ﻓﹶﺎﺳ‬‫ﻢ‬‫ﻬ‬‫ﻨ‬‫ ﻣ‬‫ﲑ‬‫ﻛﹶﺜ‬‫ﻭ‬
“Belumkah datang waktunya untuk orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka
berdzikir kepada Allah dan kepada kebenaran yang telah turun kepada mereka dan
janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Alkitab di
dalamnya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi
keras, dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik ” QS. Al-
Hadid:16).

Ayat-ayat di atas memberikan pelajaran kepada kita akan pentingnya untuk senantiasa
menjaga ruhiyah, kerugian yang besar bagi orang yang mengotorinya dan peringatan keras
agar kita meninggalkan amalan yang bisa mengeraskan hati. Bahkan tarbiyah ruhiyah
adalah dasar dari seluruh bentuk tarbiyah, menjadi pendorong untuk beramal saleh dan dia
juga memperkokoh jiwa manusia dalam menyikapi berbagai problematika kehidupan.

Aspek-aspek yang sangat terkait dengan ma’nawiyah seseorang adalah:

a. Aspek Aqidah. Ruhiyah yang baik akan melahirkan aqidah yang lurus dan kokoh, dan
sebaliknya ruhiyah yang lemah bisa menyebabkan lemahnya aqidah. Padahal aqidah
adalah suatu keyakinan yang akan mewarnai sikap dan tingkah laku seseorang. Oleh sebab
itu kalau ingin aqidahnya terbangun dengan baik maka ruhiyahnya harus dikokohkan. Jadi
ruhiyah menempati posisi yang sangat penting dalam kehidupan seorang muslim karena
dia akan mempengaruhi bangunan aqidahnya.

Muslimah
b. Aspek akhlaq. Akhlaq adalah bukti tingkah laku dari nilai yang diyakini seseorang.
Akhlaq merupakan bagian penting dari keimanan. Akhlaq juga salah satu tolok ukur
kesempurnaan iman seseorang. Terawatnya ruhiyah akan membuahkan bagusnya akhlaq
seseorang. Allah swt dalam beberapa ayat senantiasa menggandengkan antara iman
dengan berbuat baik. Rasulullah saw pun ketika ditanya tentang siapakah yang paling baik
imannya ternyata jawab Rasulullah saw adalah yang baik akhlaqnya (“ahsanuhum
khuluqan”)

‫ ﺭﻭﺍﻩ ﺍﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ ﻭﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻯ‬.‫ﺃﻱ ﺍﳌﺆﻣﻨﲔ ﺍﻓﻀﻞ ﺇﳝﺎﻧﺎ ؟ ﻗﺎﻝ ﺍﺣﺴﻨﻬﻢ ﺧﻠﻘﺎ‬
.‫ﻭﺍﻟﻨﺴﺎﺉ ﻭﺍﳊﺎﻛﻢ‬
“Mukmin mana yang paling baik imannya? Jawab Rasulullah ” yang paling baik
akhlaqnya” (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Nasa’i)

Bahkan diutusnya Rasulullah –shallallâhu `alaihi wa sallam- pun untuk menyempurnakan


akhlaq manusia sehingga menjadi akhlaq yang islami

َ ‫ﺖ إًَِﻧﻤﺎ‬ ‫اﻷﺧ ﻼق رم ﻣﻜ ﺎ ﻷﺗﻤ ﻢ ﺑﻌﺜ‬

Tolok ukur dan patokan baik dan tidaknya akhlaq adalah al-Qur’an. Itulah sebabnya
akhlaq keseharian Rasulullah –shallallâhu `alaihi wa sallam- merupakan cerminan dari Al-
Qur’an yang beliau yakini. Hal ini terbukti dari jawaban Aisyah ra ketika ditanya tentang
bagaimana akhlaq Rasulullah –shallallâhu `alaihi wa sallam- , jawab beliau “Akhlaq
Rasulullah –shallallâhu `alaihi wa sallam- adalah al-Qur’an.

‫َ ﺇﹶًِﳕﺎ ﺑﻌﺜﺖ ﻷﲤﻢ ﻣﻜﺎ ﺭﻡ ﺍﻷﺧﻼﻕ‬


c. Aspek tingkah laku. Tingkah laku adalah cerminan dari akhlaq yang melekat pada diri
seseorang….

B. Fikriyah (‘Aqliyah)

Kepribadian Islami juga ditentukan oleh sejauh mana kokoh dan tidaknya aspek fikriyah.
Kejernihan fikrah, kekuatan akal seseorang akan memunculkan amalan, kreativitas dan
akan lebih dirasa daya manfaat seseorang untuk orang lain. Fikrah yang dimaksud
meliputi:

a. Wawasan keislaman. Sebagai seorang muslim menjadi keniscayaan bagi dia untuk
memperluas wawasan keislaman. Sebab dengan wawasan keislaman akan memperkokoh
keyakinan keimanan dan daya manfaat diri untuk orang lain.

Muslimah
b. Pola pikir islami. Pola pikir islami juga harus dibangun dalam diri seorang muslim.
Semua alur berpikir seorang muslim harus mengarah dan bersumber pada satu sumber
yaitu kebenaran dari Allah swt. Islam sangat menghargai kerja pikir ummatnya. Di dalam
al-Qur’an pun sering kita jumpai ayat ayat yang menganjurkan untuk berpikir: “afala
ta’qiluun, afala tatafakkaruun, la’allakum ta’qiluun, la’allakum tadzakkaruun,”

‫ﻟﻌﻠﻜﻢ‬,‫ ﻟﻌﻠﻜﻢ ﺗﻌﻘﻠﻮﻥ‬,‫ ﺍﻓﻼ ﺗﺘﻔﻜﺮﻭﻥ‬,‫ﺃﻓﻼ ﺗﺬﻛﺮﻭﻥ‬, ‫ﺍﻓﻼ ﺗﻌﻘﻠﻮﻥ‬


‫ﺗﺬﻛﺮﻭﻥ‬
Seorang muslim harus senantiasa menggunakan daya pikirnya. Allah mewujudkan
fenomena alam untuk dipikirkan, beraneka macamnya tingkah laku manusia sampai
adanya aneka pemikiran dan pemahaman manusia hendaknya menjadi pemikiran seorang
muslim. Tetapi satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa tujuan berpikir tidak lain
adalah untuk meningkatkan keimanan kita kepada Allah –subhânahu wa ta`âlâ- bukan
sebaliknya.

c. Disiplin (tepat) dan tetap (tsabat) dalam berislam. Sungguh kehidupan ini tidak terlepas
dari ujian, rintangan dan tantangan serta hambatan. Ujian tersebut tidak akan berakhir
sebelum nafasnya berakhir. Oleh sebab itulah untuk menghadapinya perlu tsabat dalam
berpegang pada syariat Allah swt.

‫ﲔ‬‫ﻘ‬‫ ﺍﻟﹾﻴ‬‫ﻚ‬‫ﻴ‬‫ﺄﹾﺗ‬‫ّﻰ ﻳ‬‫ﺘ‬‫ ﺣ‬‫ّﻚ‬‫ﺑ‬‫ ﺭ‬‫ﺪ‬‫ﺒ‬‫ﺍﻋ‬‫ﻭ‬


“dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (QS. Al-Hijr:
99)

Di surat Ali Imran: 102 Allah SWT menjelaskan,

‫ﻮﻥﹶ‬‫ﻤ‬‫ﻠ‬‫ﺴ‬‫ ﻣ‬‫ﻢ‬‫ﺘ‬‫ﺃﹶﻧ‬‫ّ ﺇﹺﻻ ﻭ‬‫ﻦ‬‫ﻮﺗ‬‫ﻤ‬‫ﻻ ﺗ‬‫ ﻭ‬‫ﻪ‬‫ﻘﹶﺎﺗ‬‫ّ ﺗ‬‫ﻖ‬‫ ﺣ‬‫ّﻘﹸﻮﺍ ﺍﻟﻠﹶّﻪ‬‫ﻮﺍ ﺍﺗ‬‫ﻨ‬‫ ﺁﻣ‬‫ﻳﻦ‬‫ﺎ ﺍﻟﹶّﺬ‬‫ّﻬ‬‫ﺎ ﺃﹶﻳ‬‫ﻳ‬
“Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kamu sebenar-benar taqwa. Dan jangan
sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102)

Begitu pentingnya tsabat dijalan Allah, sampai Rasulullah –shallallâhu `alaihi wa sallam-
mengajarkan do’a kepada ummatnya, sebagai berikut:

(‫ﺍﻟﻠﻬﻢ ﻳﺎ ﻣﻘﻠﺐ ﺍﻟﻘﻠﻮﺏ ﺛﺒﺖ ﻗﻠﻮﺑﻨﺎ ﻋﻠﻰ ﺩﻳﻨﻚ )ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻯ‬

Muslimah
“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, kokohkanlah hati-hati kami untuk tetap
berada pada agamaMu “

C. Amaliyah (Harokiyah)

Di antara sisi yang harus dibangun pada pribadi muslim adalah sisi amaliyahnya.
Amaliyah harakiah yang merubah kehidupan seorang mukmin menjadi lebih baik. Hal ini
penting sebab amaliyah adalah satu di antara tiga tuntutan iman dan Islam seseorang. Tiga
tuntutan tersebut adalah: al-iqror bil- lisan (ikrar dengan lisan), at-tashdiq bil-qalb (
meyakini dengan hati), dan al-amal bil jawarih (beramal dengan seluruh anggota badan).
Jadi tidak cukup seseorang menyatakan beriman tanpa mewujudkan apa yang diyakininya
dalam bentuk amal yang nyata.

‫ّﻭﻥﹶ ﺇﹺﻟﹶﻰ‬‫ﺩ‬‫ﺮ‬‫ﺘ‬‫ﺳ‬‫ﻮﻥﹶ ﻭ‬‫ﻨ‬‫ﻣ‬‫ﺆ‬‫ﺍﻟﹾﻤ‬‫ ﻭ‬‫ﻮﻟﹸﻪ‬‫ﺳ‬‫ﺭ‬‫ ﻭ‬‫ﻠﹶﻜﹸﻢ‬‫ﻤ‬‫ ﻋ‬‫ﻯ ﺍﻟﻠﹶّﻪ‬‫ﺮ‬‫ﻴ‬‫ﻠﹸﻮﺍ ﻓﹶﺴ‬‫ﻤ‬‫ﻗﹸﻞﹺ ﺍﻋ‬‫ﻭ‬


‫ﻠﹸﻮﻥﹶ‬‫ﻤ‬‫ﻌ‬‫ ﺗ‬‫ﻢ‬‫ﺘ‬‫ﺎ ﻛﹸﻨ‬‫ ﺑﹺﻤ‬‫ﺒﹺّﺌﹸﻜﹸﻢ‬‫ﻨ‬‫ ﻓﹶﻴ‬‫ﺓ‬‫ﺎﺩ‬‫ّﻬ‬‫ﺍﻟﺸ‬‫ﺐﹺ ﻭ‬‫ﻴ‬‫ﻢﹺ ﺍﻟﹾﻐ‬‫ﺎﻟ‬‫ﻋ‬
“Maka katakanlah “beramallah kamu niscaya Allah dan RasulNya serta orang-orang
beriman akan melihat amalanmu itu. Dan kamu akan dikembalikan kepada Allah yang
mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakanNya kepadamu apa yang telah
kamu kerjakan.” (QS. at-Taubah: 105)

Umat Islam dituntut oleh Allah –subhânahu wa ta`âlâ- untuk menunaikan sejumlah amal,
baik yang bersifat individual maupun yang kolektif bahkan kewajiban yang sistemik.
Kewajiban individual akan lebih khusyu’ dan lebih baik pelaksanaannya jika ditunjang
dengan sistem yang kondusif. Shalat, puasa , zakat dan haji misalnya akan lebih baik dan
lebih khusyu’ kalau dilaksanakan di tengah suasana yang aman tenteram dan kondusif.
Apalagi kewajiban yang bersifat sistemik seperti dakwah, amar ma’ruf nahi mungkar,
jihad dsb, mutlak memerlukan ketersediaan perangkat sistem yang memungkinkan
terlaksananya amal tersebut.

Pentingnya amaliyah harakiah dalam kehidupan seorang mukmin laksana air. Semakin
banyak air bergerak dan mengalir semakin jernih dan semakin sehat air tersebut. Demikian
juga seorang muslim semakin banyak amal baiknya, akan semakin banyak daya untuk
membersihkan dirinya, sebab amalan yang baik bisa menjadi penghapus dosa. Simaklah
QS. Huud: 114

 ‫ّﻴﹺّﺌﹶﺎ‬‫ ﺍﻟﺴ‬‫ﻦ‬‫ﺒ‬‫ﺬﹾﻫ‬‫ ﻳ‬‫ﺎﺕ‬‫ﻨ‬‫ﺴ‬‫ﻞﹺ ﺇﹺﻥﹶّ ﺍﻟﹾﺤ‬‫ ﺍﻟﻠﹶّﻴ‬‫ﻦ‬‫ﻟﹶﻔﹰﺎ ﻣ‬‫ﺯ‬‫ﺎﺭﹺ ﻭ‬‫ّﻬ‬‫ﻓﹶﻲﹺ ﺍﻟﻨ‬‫ّﻼﺓﹶ ﻃﹶﺮ‬‫ﻢﹺ ﺍﻟﺼ‬‫ﺃﹶﻗ‬‫ﻭ‬
‫ﺕ‬
‫ﺮﹺﻳﻦ‬‫ﻠﺬﹶّﺍﻛ‬‫ﻯ ﻟ‬‫ﻛﹾﺮ‬‫ ﺫ‬‫ﻚ‬‫ﺫﹶﻟ‬

Muslimah
“Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian
permulaan malam, sesungguhnya perbuatan yang baik itu menghapuskan perbuatan yang
buruk (dosa), itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat”. (QS. Huud: 114)

Ada sedikitnya tiga alasan kenapa seorang harus beramal:

1. Kewajiban diri pribadi.

Sebagai hamba Allah tentunya harus menyadari bahwa dirinya diciptakan bukan untuk hal
yang sia-sia. Baik jin dan manusia Allah ciptakan untuk tujuan yang amat mulia yaitu
untuk beribadah, menghamba kepada Allah –subhânahu wa ta`âlâ-. Amalan adalah bentuk
refleksi dari rasa penghambaan diri kepada Dzat yang mencipta.

‫ﻭﻥ‬‫ﺪ‬‫ﺒ‬‫ﻌ‬‫ﻴ‬‫ ﺇﹺﻻ ﻟ‬‫ﺲ‬‫ﺍﻹﻧ‬‫ّ ﻭ‬‫ ﺍﻟﹾﺠﹺﻦ‬‫ﻠﹶﻘﹾﺖ‬‫ﺎ ﺧ‬‫ﻣ‬‫ﻭ‬


“Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah” (QS. Adz
Dzaariyaat: 56)

Di samping itu pertanggungjawaban di depan mahkamah Allah nanti bersifat individu.


Setiap individu akan merasakan balasan amalan diri pribadinya.

‫ﺍﻩ‬‫ﺰ‬‫ﺠ‬‫ّﻢ ﻳ‬ ‫ ﺛﹸ‬,‫ﻯ‬‫ﺮ‬‫ ﻳ‬‫ﻑ‬‫ﻮ‬‫ ﺳ‬‫ﻪ‬‫ﻴ‬‫ﻌ‬‫ﺃﹶﻥﹶّ ﺳ‬‫ ﻭ‬,‫ﻰ‬‫ﻌ‬‫ﺎ ﺳ‬‫ ﺇﹺﻻ ﻣ‬‫ﺎﻥ‬‫ﺴ‬‫ﻺﻧ‬‫ ﻟ‬‫ﺲ‬‫ﺃﹶﻥﹾ ﻟﹶﻴ‬‫ﻭ‬
‫ﻓﹶﻰ‬‫ﺍ َﺀ ﺍﻷﻭ‬‫ﺰ‬‫ﺍﻟﹾﺠ‬
“Dan bahwasanya manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.Dan
bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan kepadanya. Kemudian akan diberi
balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna” (QS. an-Najm: 39-41).

2. Kewajiban terhadap keluarga.

Keluarga adalah lapisan kedua dalam pembentukan ummat. Lapisan ini akan memiliki
pengaruh yang kuat baik dan rusaknya sebuah ummat. Oleh sebab itulah seseorang
dituntut untuk beramal karena terkait dengan kewajiban dia membentuk keluarga yang
Islami, sebab tidak akan terbentuk masyarakat yang baik tanpa melalui pembentukan
keluarga yang baik dan islami.

Muslimah
‫ ﹸﺓ‬‫ﺎﺭ‬‫ﺠ‬‫ﺍﻟﹾﺤ‬‫ ﻭ‬‫ّﺎﺱ‬‫ﺎ ﺍﻟﻨ‬‫ﻫ‬‫ﻗﹸﻮﺩ‬‫ﺍ ﻭ‬‫ﺎﺭ‬‫ ﻧ‬‫ﻴﻜﹸﻢ‬‫ﻠ‬‫ﺃﹶﻫ‬‫ ﻭ‬‫ﻜﹸﻢ‬‫ﻔﹸﺴ‬‫ﻮﺍ ﻗﹸﻮﺍ ﺃﹶﻧ‬‫ﻨ‬‫ ﺁﻣ‬‫ﻳﻦ‬‫ﺎ ﺍﻟﹶّﺬ‬‫ّﻬ‬‫ﺎ ﹶﺃﻳ‬‫ﻳ‬
‫ﺎ‬‫ﻌﻠﹸﻮﻥﹶ ﻣ‬ ‫ﻔﹾ‬‫ﻳ‬‫ ﻭ‬‫ﻢ‬‫ﻫ‬‫ﺮ‬‫ﺎ ﺃﹶﻣ‬‫ ﻣ‬‫ﻮﻥﹶ ﺍﻟﻠﹶّﻪ‬‫ﺼ‬‫ﻌ‬‫ ﻻ ﻳ‬‫ﺍﺩ‬‫ﺪ‬‫ﻼﻅﹲ ﺷ‬‫ﻜﹶﺔﹲ ﻏ‬‫ﻼﺋ‬‫ﺎ ﻣ‬‫ﻬ‬‫ﻠﹶﻴ‬‫ﻋ‬
‫ﻭﻥﹶ‬‫ﺮ‬‫ﻣ‬‫ﺆ‬‫ﻳ‬
“Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang
bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar,
yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada
mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim :6)

Setiap muslim seharusnya mampu membentuk keluarga yang berkhidmat untuk Islam,
seluruh anggota keluarga terlibat dalam amal islami di seluruh bidang kehidupan.

3. Kewajiban terhadap dakwah.

Beramal haraki bagi seorang muslim bukan hanya atas tuntutan kewajiban diri dan
keluarganya saja, akan tetapi juga karena tuntutan dakwah. Islam tidak hanya menuntut
seseorang saleh secara individu tapi juga saleh secara sosial.

‫ ﹶﻥ‬‫ﻮ‬‫ﻬ‬‫ﻨ‬‫ﻳ‬‫ ﻭ‬‫ﻭﻑ‬‫ﺮ‬‫ﻌ‬‫ﻭﻥﹶ ﺑﹺﺎﻟﹾﻤ‬‫ﺮ‬‫ﺄﹾﻣ‬‫ﺾﹴ ﻳ‬‫ﻌ‬‫ﺎﺀُ ﺑ‬‫ﻴ‬‫ﻟ‬‫ ﺃﹶﻭ‬‫ﻢ‬‫ﻬ‬‫ﻀ‬‫ﻌ‬‫ ﺑ‬‫ﺎﺕ‬‫ﻨ‬‫ﻣ‬‫ﺆ‬‫ﺍﻟﹾﻤ‬‫ﻮﻥﹶ ﻭ‬‫ﻨ‬‫ﻣ‬‫ﺆ‬‫ﺍﻟﹾﻤ‬‫ﻭ‬


‫ﻮﻟﹶﻪ‬‫ﺳ‬‫ﺭ‬‫ ﻭ‬‫ﻮﻥﹶ ﺍﻟﻠﱠﻪ‬‫ﻴﻌ‬‫ﻄ‬‫ﻳ‬‫ﻛﹶﺎﺓﹶ ﻭ‬‫ﻮﻥﹶ ﺍﻟﺰ‬‫ﺗ‬‫ﺆ‬‫ﻳ‬‫ﻠﹶﺎﺓﹶ ﻭ‬‫ﻮﻥﹶ ﺍﻟﺼ‬‫ﻴﻤ‬‫ﻘ‬‫ﻳ‬‫ﻜﹶﺮﹺ ﻭ‬‫ﻨ‬‫ﻦﹺ ﺍﻟﹾﻤ‬‫ﻋ‬
‫ﻴﻢ‬‫ﻜ‬‫ ﺣ‬‫ﺰﹺﻳﺰ‬‫ ﻋ‬‫ ﺇﹺﻥﱠ ﺍﻟﻠﱠﻪ‬‫ ﺍﻟﻠﱠﻪ‬‫ﻢ‬‫ﻬ‬‫ﻤ‬‫ﺣ‬‫ﺮ‬‫ﻴ‬‫ ﺳ‬‫ﻚ‬‫ﺃﹸﻭﻟﹶﺌ‬
“dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah)
menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang
ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka
taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya
Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah:71)

‫ ﹺﻦ‬‫ﻥﹶ ﻋ‬‫ﻮ‬‫ﻬ‬‫ﻨ‬‫ﻳ‬‫ ﻭ‬‫ﻭﻑ‬‫ﺮ‬‫ﻌ‬‫ﻭﻥﹶ ﺑﹺﺎﻟﹾﻤ‬‫ﺮ‬‫ﺄﹾﻣ‬‫ﻳ‬‫ﺮﹺ ﻭ‬‫ﻴ‬‫ﻮﻥﹶ ﺇﹺﻟﹶﻰ ﺍﻟﹾﺨ‬‫ﻋ‬‫ﺪ‬‫ّﺔﹲ ﻳ‬‫ ﺃﹸﻣ‬‫ﻜﹸﻢ‬‫ﻨ‬‫ ﻣ‬‫ﻜﹸﻦ‬‫ﻭﻟﹾﺘ‬
‫ﻮﻥﹶ‬‫ﺤ‬‫ﻔﹾﻠ‬‫ ﺍﻟﹾﻤ‬‫ﻢ‬‫ ﻫ‬‫ﻚ‬‫ﺃﹸﻭﻟﹶﺌ‬‫ﻜﹶﺮﹺ ﻭ‬‫ﻨ‬‫ﺍﻟﹾﻤ‬

Muslimah
“dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan,
menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar merekalah orang-orang
yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104)

Ma’ruf adalah segala perbuatan yang mendekatkan kita kepada Allah; sedangkan Munkar
ialah segala perbuatan yang menjauhkan kita dari pada-Nya.

Juga di dalam surat Fushshilat ayat 33:

‫ﻦ‬ ‫ّﻨﹺﻲ ﻣ‬‫ﻗﹶﺎﻝﹶ ﺇﹺﻧ‬‫ﺎ ﻭ‬‫ﺤ‬‫ﺎﻟ‬‫ﻞﹶ ﺻ‬‫ﻤ‬‫ﻋ‬‫ ﻭ‬‫ﺎ ﺇﹺﻟﹶﻰ ﺍﻟﻠﹶّﻪ‬‫ﻋ‬‫ ﺩ‬‫ّﻦ‬‫ﻤ‬‫ﻻ ﻣ‬‫ ﻗﹶﻮ‬‫ﻦ‬‫ﺴ‬‫ ﺃﹶﺣ‬‫ﻦ‬‫ﻣ‬‫ﻭ‬
‫ﲔ‬‫ﻤ‬‫ﻠ‬‫ﺴ‬‫ﺍﻟﹾﻤ‬
“siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah,
mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang
yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Allahu a’lam.

---oo0oo---

Sumber: Tim Kajian Manhaj Tarbiyah (dakwatuna.com)

Muslimah
PERAN DAN TANGGUNG JAWAB WANITA MUSLIMAH

Sekilas tentang peran dan tanggungjawab wanita pada masa Rasulullah

Rata-rata kaum wanita pada masa Rasulullah SAW tidak ketinggalan memberikan
kontribusi, peran dan tanggungjawab mereka, mereka ikut berlomba meraih kebaikan,
meskipun mereka juga sibuk sebagai ibu rumah tangga. Mereka ikut belajar dan bertanya
kepada Rasulullah SAW.

Wanita yang paling setia kepada Rasulullah adalah Khadijah yang telah berkorban dengan
jiwa dan hartanya. Kemudian Aisyah, yang banyak belajar dari Rasulullah kemudian
mengajarkannya kepada kaum wanita dan pria. Bahkan, ada pendapat ulama yang
mengatakan, seandainya ilmu seluruh wanita dikumpulkan dibanding ilmu Aisyah, maka
ilmu Aisyah akan lebih banyak. Begitulah Rasulullah SAW memuji Aisyah.

Ada seorang wanita bernama Asma binti Sakan. Dia suka hadir dalam pengajian
Rasulullah saw. Pada suatu hari dia bertanya kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah SAW,
engkau diutus Allah kepada kaum pria dan wanita, tapi mengapa banyak ajaran syariat
lebih banyak untuk kaum pria? Kami pun ingin seperti mereka. Kaum pria diwajibkan
shalat Jum’at, sedangkan kami tidak; mereka mengantar jenazah, sementara kami tidak;
mereka diwajibkan berjihad, sedangkan kami tidak. Bahkan, kami mengurusi rumah,
harta, dan anak mereka. Kami ingin seperti mereka. Maka, Rasulullah SAW menoleh
kepada sahabatnya sambil berkata, “Tidak pernah aku mendapat pertanyaan sebaik
pertanyaan wanita ini. Wahai Asma, sampaikan kepada seluruh wanita di belakangmu,
jika kalian berbakti kepada suami kalian dan bertanggung jawab dalam keluarga kalian,
maka kalian akan mendapatkan pahala yang diperoleh kaum pria tadi.” (HR Ibnu Abdil
Bar).

Dalam riwayat Imam Ahmad, Asma meriwayatkan bahwa suatu kali dia berada dekat
Rasulullah SAW. Di sekitar Rasulullah berkumpullah kaum pria dan juga kaum wanita.
Maka beliau bersabda, “Bisa jadi ada orang laki-laki bertanya tentang hubungan seseorang
dengan istrinya atau seorang wanita menceritakan hubungannya dengan suaminya.” Maka
tak seorang pun yang berani bicara, maka saya angkat suara. “Benar ya Rasulullah, ada
pria atau wanita yang suka menceritakan hal pribadi itu.” Rasulullah menimpali, “Jangan
kalian lakukan itu, karena itu jebakan syaitan seakan syaitan pria bertemu dengan syaitan
wanita, kemudian berselingkuh dan manusia pada melihatnya.”

Ada juga wanita yang tabah dalam kehidupan rumah tangga yang serba pas-pasan tapi
tidak pernah mengeluh seperti Asma’ binti Abi Bakar dan Fatimah. Kutub Tarajim
membenarkan cerita tentang Fatimah. “Suatu saat dia tidak makan berhari-hari karena
nggak ada makanan, sehingga suaminya, Ali bin Abi Thalib, melihat mukanya pucat dan
bertanya, “Mengapa engkau ini, wahai Fatimah, kok kelihatan pucat?”

Dia menjawab, “Saya sudah tiga hari belum makan, karena tidak ada makanan di rumah.”

Muslimah
Ali menimpali, “Mengapa engkau tidak bilang kepadaku?”

Dia menjawab, “Ayahku, Rasulullah SAW, menasehatiku di malam pengantin, jika Ali
membawa makanan, maka makanlah. Bila tidak, maka kamu jangan meminta.”

Luar biasa bukan?

Ada juga wanita yang diuji dengan penyakit, sehingga dia datang kepada Rasulullah SAW
meminta untuk didoakan. Atha’ bin Abi Rabah bercerita bahwa Ibnu Abbas RA berkata
kepadaku, “Maukah aku tunjukkan kepadamu wanita surga?” Aku menjawab, “Ya.”

Dia melanjutkan, “Ini wanita hitam yang datang ke Rasulullah SAW mengadu, ‘Saya
terserang epilepsi dan auratku terbuka, maka doakanlah saya.’ Rasulullah SAW bersabda,
“Jika kamu sabar, itu lebih baik, kamu dapat surga. Atau, kalau kamu mau, saya berdoa
kepada Allah agar kamu sembuh.”

Wanita itu berkata, “Kalau begitu saya sabar, hanya saja auratku suka tersingkap. Doakan
supaya tidak tersingkap auratku.”

Maka, Rasulullah SAW mendoakannya.

Ada juga wanita yang ikut berperang seperti Nasibah binti Kaab yang dikenal dengan
Ummu Imarah. Dia bercerita, “Pada Perang Uhud, sambil membawa air aku keluar agak
siang dan melihat para mujahidin, sampai aku menemukan Rasulullah saw. Sementara,
aku melihat pasukan Islam kocar-kacir. Maka, aku mendekati Rasulullah sambil ikut
berperang membentengi beliau dengan pedang dan terkadang aku memanah. Aku pun
terluka, tapi manakala Rasulullah SAW terpojok dan Ibnu Qamiah ingin membunuhnya,
aku membentengi beliau bersama Mush’ab bin Umair. Aku berusaha memukul dia dengan
pedangku, tapi dia memakai pelindung besi dan dia dapat memukul pundakku sampai
terluka. Rasulullah saw. bercerita, “Setiap kali aku melihat kanan kiriku, kudapati Ummu
Imarah membentengiku pada Perang Uhud.” Begitu tangguhnya Ummu Imarah.

Ada juga Khansa yang merelakan empat anaknya mati syahid. Ia berkata, “Alhamdulillah
yang telah menjadikan anak-anakku mati syahid.”

Begitulah peranan wanita pada masa Rasulullah saw. Mereka berpikir untuk akhiratnya,
sedang wanita sekarang yang lebih banyak memikirkan dunia, rumah tinggal, makanan,
minuman, kendaraan, dan lain-lain.

Kaum Wanita pada Masa Berikutnya

Ketika Utsman bin Affan mengerahkan pasukan melawan manuver-manuver Romawi,


komandan diserahkan kepada Hubaib bin Maslamah al-Fikir. Istri Hubaib termasuk
pasukan yang akan berangkat perang. Sebelum perang dimulai, Hubaib memeriksa
kesiapan pasukan.

Muslimah
Tiba-tiba istrinya bertanya, “Di mana saya menjumpai Anda ketika perang sedang
berkecamuk?”

Dia menjawab, “Di kemah komandan Romawi atau di surga.”

Ketika perang sedang berkecamuk, Hubaib berperang dengan penuh keberanian sampai
mendapatkan kemenangan. Segera dia menuju ke kemah komandan Romawi menunggui
istrinya. Yang menakjubkan, saat Hubaib sampai ke tenda itu, dia mendapatkan istrinya
sudah mendahuluinya. Allahu Akbar.

Pada masa Dinasti Abbasiyah yang dipimpin oleh Harun al-Rasyid, ada seorang Muslimah
disandera oleh tentara Romawi. Maka, seorang ulama bernama Al-Manshur bin Ammar
mendorong umat Islam untuk berjihad di dekat istana Harun al-Rasyid dan dia pun
menyaksikan ceramahnya. Tiba–tiba ada kiriman bungkusan disertai dengan surat. Surat
itu lalu dibuka dan dibaca oleh ulama tadi dan ternyata berasal dari seorang perempuan
dan berbunyi, “Aku mendengar tentara Romawi melecehkan wanita Muslimah dan engkau
mendorong umat Islam untuk berjihad, maka aku persembahkan yang paling berharga
dalam diriku. Yaitu, seuntai rambutku yang aku kirimkan dalam bungkusan itu. Dan, aku
memohon agar rambut itu dijadikan tali penarik kuda di jalan Allah agar aku dapat
nantinya dilihat Allah dan mendapatkan rahmat-Nya.” Maka, ulama itu menangis dan
seluruh hadirin ikut menangis. Harun al-Rasyid kemudian memutuskan mengirim pasukan
untuk membebaskan wanita Muslimah yang disandera itu.

Seorang istri Shaleh bin Yahya ditinggal suaminya dan hidup bersama dua anaknya. Ia
mendidik anak-anaknya dengan ibadah dan qiyamul lail (shalat malam). Ketika anak-
anaknya semakin besar, dia berkata, “Anak-anakku, mulai malam ini tidak boleh satu
malam pun yang terlewat di rumah ini tanpa ada yang shalat qiyamulail.”

“Apa maksud ibu?” tanya mereka.

Ibu menjawab, “Begini, kita bagi malam menjadi tiga dan kita masing-masing mendapat
bagian sepertiga. Kalian berdua, dua pertiga, dan saya sepertiga yang terakhir. Ketika
waktu sudah mendekati subuh, saya akan bangunkan kalian.”

Ternyata kebiasaan ini berlanjut sampai ibu mereka meninggal. Dan amalan itu tetap
dilanjutkan oleh dua anak itu karena mereka sudah merasakan nikmatnya qiyamulail.

Dari kisah di atas dapat kita pahami bahwa begitu besarnya peran dan tanggungjawab
wanita pada masa salafussalih, mereka tidak pernah berhenti memberikan kontribusi dari
apa yang mereka memiliki.

Secara umum wanita memiliki peran dan tanggung jawab amat besar dan penting dalam
berbagai aspek kehidupannya; baik dalam kehidupan individu, keluarga (suami dan anak),
masyarakat sosial sebagai warga ditempat dirinya tinggal dan berdiam bersama diri

Muslimah
keluarganya, dan negara sebagai bagian dari anak bangsa, dan tempat dirinya dan
keluarganya bernaung.

Sebagaimana pula wanita memiliki peran tanggung jawab khusus, yaitu sebagai pendidik
dan pemberi kontribusi kebaikan sosial, yang tanpanya, kehidupan tidak akan berjalan
semestinya. Sebab ia adalah pencetak generasi baru. Sekiranya di muka bumi ini hanya
dihuni oleh laki-laki, kehidupan mungkin sudah terhenti beribu-ribu abad yang lalu. Oleh
sebab itu, wanita tidak bisa diremehkan dan diabaikan, karena dibalik semua keberhasilan
dan kontinuitas kehidupan, di situ ada wanita.

Adapun secara rinci dari peran dan tanggungjawab wanita muslimah adalah sebagai
berikut:

1. Menghambakan diri kepada Allah SWT

Menghambakan diri kepada Allah adalah merupakan ciri dari Wanita yang saleh.
Sementara itu keshalehan sang istri merupakan asas yang terpenting sekali daripada asas-
asas yang lain. Kegagalan asas ini dapat mengakibatkan asas-asas lain tidak akan
berfungsi untuk memberi kebahagiaan sebenarnya di dalam kehidupan. Tanpa Wanita
yang saleh maka keluarga-keluarga Islam tidak akan dapat diwujudkan, padahal
pembinaan dan terbentuknya pergerakan Islam itu bergantung kepada kelahiran keluarga-
keluarga Islam ini. Kalau sekiranya pergerakan Islam itu penting untuk membawa dan
mempraktekkan Islam maka Wanita yang Saleh juga sama pentingnya.

Adapun Sifat-sifat dari istri yang menghambakan diri kepada Allah adalah sebagai
berikut:

a. Wanita yang menghambakan diri kepada Allah adalah yang taat kepada Allah dan Rasul
dan patuh kepada perintah-Nya. Sanggup menjaga kesucian dirinya walaupun di tempat-
tempat yang sunyi dari pandangan orang lain, juga yang sering berdzikir kepada Allah
serta takut kepada-Nya.

Firman Allah SWT maksudnya:

“Wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya
tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)” (An-Nisa’: 34)

b. Wanita yang menghambakan diri kepada Allah adalah istri yang selalu bersyukur
terhadap nikmat yang diberikan oleh Allah kepada suaminya, karena ia meyakini bahwa
Allah telah menakdirkannya, sementara takdir Allah tidak pernah mencelakakan dirinya.

c. Wanita yang menghambakan diri kepada Allah adalah juga Wanita yang taat kepada
suaminya dan memahami hak dan kewajiban terhadap suaminya. Seperti yang pernah
disabdakan oleh Rasulullah saw.

Muslimah
‫ﺎ‬‫ﻬ‬‫ﺟ‬‫ﻭ‬‫ﺰ‬‫ ﻟ‬‫ﺪ‬‫ﺠ‬‫ﺴ‬‫ﺃﹶﺓﹶ ﺃﹶﻥﹾ ﺗ‬‫ﺮ‬‫ ﺍﻟﹾﻤ‬‫ﺕ‬‫ﺮ‬‫ ﻷَﻣ‬‫ﺪ‬‫ ﻷَﺣ‬‫ﺪ‬‫ﺠ‬‫ﺴ‬‫ﺍ ﺃﹶﻥﹾ ﻳ‬‫ﺪ‬‫ﺍ ﺃﹶﺣ‬‫ﺮ‬‫ ﺁﻣ‬‫ﺖ‬‫ ﻛﹸﻨ‬‫ﻟﹶﻮ‬
“Kalau boleh aku menyuruh seseorang supaya sujud kepada orang yang lain niscaya aku
menyuruh Wanita supaya sujud kepada suaminya”. (HR. Thabrani, Hakim dan ulama
hadits)

Wanita menjaga hak dan kehormatan suaminya, baik suaminya ada di rumah atau tidak.
Memiliki tingkah laku yang disukai oleh suaminya. Pandai menyembunyikan harta benda
suaminya. Mendahului hak suaminya daripada hak dirinya sendiri atau kaum kerabatnya.

d. Wanita yang menghambakan diri kepada Allah adalah wanita yang senantiasa
menunjukkan himmah (rasa senang) yang tinggi, lemah lembut tidak suka memaki,
mengucapkan sumpah serapah, mengumpat-keji, berbantah bantahan dan lain-lain dari
sikap dan perilaku yang negative dan tidak terpuji. Menunjukkan sikap yang jernih dan
lapang dada serta segala hal yang menyebabkan suaminya senang saat ada di rumah.
Seperti sabda Nabi saw:

‫ﻲ‬‫ ﻓ‬‫ﻚ‬‫ﺒ‬‫ﻔﹶﻆﹸ ﻏﹶﻴ‬‫ﺤ‬‫ﺗ‬‫ ﻭ‬،‫ﺕ‬‫ﺮ‬‫ ﺇﹺﺫﹶﺍ ﺃﹶﻣ‬‫ﻚ‬‫ﻴﻌ‬‫ﻄ‬‫ﺗ‬‫ ﻭ‬،‫ﺕ‬‫ﺮ‬‫ﺼ‬‫ ﺇﹺﺫﹶﺍ ﺃﹶﺑ‬‫ﻙ‬‫ﺮ‬‫ﺴ‬‫ﺎﺀِ ﺗ‬‫ﺴ‬‫ ﺍﻟﻨ‬‫ﺮ‬‫ﻴ‬‫ﺧ‬
‫ﻚ‬‫ﺎﻟ‬‫ﻣ‬‫ﺎ ﻭ‬‫ﻔﹾﺴِﻬ‬‫ﻧ‬
“Sebaik-baik wanita ialah perempuan yang apabila engkau memandangnya ia
menyukakan hati dan mentaati apabila engkau memerintah, dan apabila engkau tidak ada
ia menjaga harta engkau dan memelihara dirinya.”

e. Wanita yang menghambakan diri kepada Allah adalah Wanita yang berpengetahuan,
berakhlaq mulia, tahu melayani suami serta mengasihi dan mendidik anak-anak ke jalan
hidup yang dikehendaki oleh Allah dan meneladani sunnah Rasulullah saw.

2. Mendidik anak-anaknya

Allah SWT berfirman:

‫ّﻘﹸﻮﺍ‬‫ﺘ‬‫ ﻓﹶﻠﹾﻴ‬‫ﻬﹺﻢ‬‫ﻠﹶﻴ‬‫ﺎﻓﹸﻮﺍ ﻋ‬‫ﺎﻓﹰﺎ ﺧ‬‫ﻌ‬‫ّﺔﹰ ﺿ‬‫ ﺫﹸﺭﹺّﻳ‬‫ﻬﹺﻢ‬‫ﻠﹾﻔ‬‫ ﺧ‬‫ﻦ‬‫ﻛﹸﻮﺍ ﻣ‬‫ﺮ‬‫ ﺗ‬‫ ﻟﹶﻮ‬‫ﻳﻦ‬‫ ﺍﻟﹶّﺬ‬‫ﺶ‬‫ﺨ‬‫ﻟﹾﻴ‬‫ﻭ‬
‫ﺍ‬‫ﻳﺪ‬‫ﺪ‬‫ﻻ ﺳ‬‫ﻘﹸﻮﻟﹸﻮﺍ ﻗﹶﻮ‬‫ﻟﹾﻴ‬‫ ﻭ‬‫ﺍﻟﻠﹶّﻪ‬
"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan
dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap

Muslimah
(kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan
hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (An-Nisa’: 9)

Diantara peran dan tanggungjawab seorang wanita muslimah adalah memberikan


pendidikan yang terbaik kepada anak-anaknya. Hendaknya juga seorang wanita muslimah
takut dan khawatir jika meninggalkan keturunan yang lemah; baik lemah finansialnya
ataupun lemah akal danpendidikannya. Dan lemah pendidikan harus lebih lebih
diperhatikan daripada lemah harta dan finansialnya.

Dan pendidikan anak sangat disarankan dimulai sejak dini, bahkan sejak dalam
kandungan. Ketika sang ibu rajin beribadah, insya Allah, kelak janin yang dikandungnya
akan menjadi ahli ibadah. Ketika sang ibu rajin membaca Al Qur’an, insya Allah, kelak
anak yang dilahirkannya pun akan mencintai Al Qur’an. Dan ketika sang ibu sangat
berhati-hati menjaga dirinya dari hal-hal yang diharamkan, insya Allah, kelak anaknya
pun akan menjadi hamba-Nya yang ikhsan. Karena itu tidak keliru kalau ada yang
mengatakan: “Seorang ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya”.

Betapa besarnya peranan seorang wanita dalam mencetak generasi robbani. Sebagaimana
visi pernikahannya untuk menjadikan rumah tangga sebagai lahan tumbuhnya generasi
yang akan menegakkan panji islam. Generasi yang tumbuh dalam rumah tangga yang
menjadi pusat kaderisasi terbaik.

Ketika sang anak hadir ke dunia, sebuah tugas sangat berat telah diemban di pundak
seorang ibu. Tugas mendidiknya, membekalinya dengan life-skill, agar kelak anaknya siap
terjun ke dunia yang berubah dengan cepatnya setiap hari. Sepuluh atau 15 tahun lagi,
akan sangat berbeda kondisinya dengan masa kini.

Ketika sang anak mulai banyak bertanya, “Ini apa?”, “Itu apa?”, ”Kenapa begini?”,
Kenapa begitu?”, seorang ibu dituntut untuk dapat memberikan jawaban yang terbaik.
Jawaban yang tidak mematikan rasa ingin tahu anak, bahkan sebaliknya, jawaban yang
membuat anak semakin terpacu untuk belajar.

Masa yang penting ini, yang disebut golden-age, masa di mana anak sangat mudah
menyerap segala informasi, belajar tentang segala sesuatu. Dan ibu adalah orang yang
terdekat dengan anak, yang lebih sering berinteraksi dengan anak. Menjadilah ibu sebagai
sumber ilmu, pendidik pertama bagi anak-anak, yang menanamkan pondasi awal dan
utama bagi generasi yang akan menjadi pemimpin masa depan ini.

Ketika anak mulai memasuki dunia sekolah, tugas ibu tak lantas menjadi tergantikan oleh
sekolah. Bahkan sang ibu dituntut untuk dapat mengimbangi apa yang diajarkan di
sekolah.

Peran yang demikian strategis ini, menuntut wanita untuk membekali dirinya dengan ilmu
yang memadai. Maka, wanita harus terus bergerak meningkatkan kualitas dirinya. Karena,

Muslimah
untuk mencetak generasi yang berkualitas, dibutuhkan pendidik yang berkualitas pula. Hal
itu berarti, seorang wanitia tidak boleh berhenti belajar.

Wanita adalah lembaga pendidikan bila dipersiapkan, darinya akan lahir pemuda-pemuda
berjiwa mulia. Duhai ukhti muslimah, teruslah mencari ilmu, bekali dirimu dengan ilmu.
Ilmu yang dapat meluruskan akidah, menshahihkan ibadah, membaguskan akhlaq,
meluaskan tsaqofah, membuat mandiri, tidak bergantung pada orang lain sekaligus
bermanfaat bagi orang lain.

Teladanilah wanita Anshar yang tidak malu bertanya tentang masalah agama. Teladanilah
para sahabiyah yang bahkan meminta kepada Rasulullah untuk diberikan kesempatan di
hari tertentu khusus untuk mengajari mereka. Sehingga, akan bermunculan kembali
Aisyah-Aisyah yang mempunyai pemahaman yang luas dan mendalam tentang agamanya.

Duhai ukhti muslimah, didik putra-putrimu agar mengenal Allah dan taat pada-Nya, agar
gemar membaca dan menghapal kalam-Nya. Ajarkan mereka mencintai Rasulullah dan
meneladani beliau. Bekali dengan akhlak imani, mencintai sesama, menghormati yang tua
dan menyayangi yang muda. Sehingga akan bermunculan kembali Khonsa-Khonsa yang
mencetak para syuhada.

3. Pendamping setia suaminya

‫ﻢ‬ ‫ﻜﹸ‬‫ﻔﹸﺴ‬‫ﻮﻥﹶ ﹶﺃﻧ‬‫ﺎﻧ‬‫ﺘ‬‫ﺨ‬‫ ﺗ‬‫ﻢ‬‫ﺘ‬‫ ﻛﹸﻨ‬‫ﻜﹸﻢ‬‫ ﺃﹶﻧ‬‫ ﺍﻟﻠﱠﻪ‬‫ﻢ‬‫ﻠ‬‫ ﻋ‬‫ﻦ‬‫ ﻟﹶﻬ‬‫ﺎﺱ‬‫ﺒ‬‫ ﻟ‬‫ﻢ‬‫ﺘ‬‫ﺃﹶﻧ‬‫ ﻭ‬‫ ﻟﹶﻜﹸﻢ‬‫ﺎﺱ‬‫ﺒ‬‫ ﻟ‬‫ﻦ‬‫ﻫ‬
‫ﻜﹸﻢ‬‫ﻨ‬‫ﻔﹶﺎ ﻋ‬‫ﻋ‬‫ ﻭ‬‫ﻜﹸﻢ‬‫ﻠﹶﻴ‬‫ ﻋ‬‫ﺎﺏ‬‫ﻓﹶﺘ‬
“Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah
mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah
mengampuni kamu dan memberi ma'af kepadamu”. (Al-Baqoroh:187)

Seorang laki-laki lebih cenderung menggunakan akalnya di dalam mengatur urusan


keluarga. Adapun seorang Wanita lebih cenderung menggunakan perasaannya di dalam
mengatur semua permasalahannya, termasuk mengatur masalah urusan rumah tangga.
Wanita yang mecintai suaminya dan yang subur keturunannya, maka itulah Wanita yang
didambakan, karena rasa cinta, kasih sayang yang ada pada diri seorang Wanita dalam
mengelola rumah tangga adalah salah satu bentuk rahmat yang nantinya akan dapat
mengarahkan anak ke jenjang yang lebih baik. Dan adanya anak di suatu rumah itu tidak
lain adalah benar-benar sebagai penobatan hubungan yang mulia yang mengikat antara
suami dan Wanita.

Sesungguhnya keberadaan seorang anak pada setiap tahapan dari beberapa tahapan yang
dijalani suami Wanita adalah sebagai penguat unsur-unsur yang mengikat di antara

Muslimah
keduanya (suami Wanita) dan sebagai pembaharu ikatan yang merajut antara mereka
berdua.

Dan setiap kali bertambahnya rasa cinta dan penghormatan di antara mereka berdua, maka
hubungan tersebut akan semakin bertambah (kuat) sehingga menjadi pasangan yang sejati.

Sehingga akhirnya sang Wanita menjadi pendamping setia bagi sang suami di dalam
mengarungi bahtera kehidupannya yang panjang, dan dia menjadi tempat mencurahkan
rahasia sang suami. Karena manusia secara tabiatnya mencari teman yang baik dan dekat
untuk membuka semua rahasianya dengan berterus-terang.

Kelanggengan hubungan suami Wanita yang selalu diiringi rasa cinta, menuntut seorang
Wanita untuk melakukan pekerjaan yang begitu banyak, baik yang berkaitan dengan
materi maupun maknawi.

Di antaranya yaitu:

1. Menertibkan dan mengatur rumahnya dengan suatu cara yang memuaskannya, tetapi
wajib pula baginya untuk meminta pendapat/perhatian dari suaminya, dan jika suaminya
menyutujui, maka itulah yang diharapkan.

2. Wajib bagi Wanita untuk berusaha sekuat tenaga untuk lebih proforsional di dalam
melaksanakan tugas-tugasnya, dan tidak mempersoalkan kekurangan-kekurangan yang
ada pada suaminya. Wajib baginya untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan ini dengan
cara tidak memberitahukan kepada suaminya. Maka seandainya seorang suami tidak
memperhatikan dalam meletakkan pakaian pada tempat yang semestinya dan dia
meletakkan pakaian-pakaian tersebut di atas kursi dan sofa, maka mau tidak mau sang
Wanita dituntut untuk mengambil dan meletakkan pada tempatnya yang sekiranya tempat
tersebut dapat menjaga keindahan/keserasiannya.Bila kebiasaan itu telah terjadi dan
Wanita sedang dalam keadaan sakit, maka sang suami merasakan kesusahan, dia akan
berusaha untuk menggantikan posisi sang Wanita dalam mengurus rumahnya, dia akan
meletakkan pakaian pada tempat yang semestinya dan mulai dari sanalah dia akan
melaksanankan kebiasaan yang baik tersebut.

3. Sang Wanita wajib merasa bahwa dia adalah suaminya dengan tujuan untuk saling
melengkapi antara yang satu dengan yang lain, maka sang Wanita dituntut lebih
mempersembahkan rasa cinta dan kasih sayang dan begitu pula sang suami harus
berkoban dengan jiwa dengan penuh tanggung jawab, keperkasaan dan keberaniannya.

4. Jika keduanya sudah sampai pada perasaan yang sedemikian rupa, menyadari mereka
sebagai dua jenis yang saling memahami dan saling melengkapi antara yang satu dengan
yang lainnya, maka mereka berdua akan hidup bahagia sepanjang hayatnya.

5. Seorang Wanita wajib setia, tidak egois seperti halnya dia seharusnya tidak menuntut
macam-macam kepada suami, seperti membebani suami dari berbagai segi, baik itu

Muslimah
berupa materi maupun maknawi. Sebagai contoh jika suaminya seorang pegawai dan dia
tahu gajinya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, maka hendaklah ia
tidak meminta beberapa permintaan berat yang dapat menyusahkannya, sehingga
terkadang seorang suami mengadu kepada salah seorang temannya untuk meminjam uang
agar dia tidak diketahui kekurangannya oleh sang Wanita.

6. Seorang Wanita wajib menghilangkan tabir penghalang yang ada pada mereka berdua,
sekiranya keduanya menjadi sebuah lembaran kertas yang putih di hadapan yang lain,
mengungkapkan perasaan kepadanya dalam menghadapi semua masalah yang ada, dan
sesungguhnya jiwa keterbukaan yang ada pada mereka berdua itu dapat menenangkannya
dan dapat membersihkan setiap keduanya dihadapan yang lain dengan penuh kebebasan
dan penuh kemerdekaan

4. Saudara bagi masyarakatnya

Maksudnya adalah seorang wanita muslimah juga memiliki peran dan tanggungjawab
dalam kehidupan masyarakatnya, sehingga dengan itu dirinya memiliki kontribusi dalam
melakukan perbaikan dan pembanguan di tengah masyarakatnya, terutama dalam rangka
mencetak individu yang baik yang kelak menjadi anggota masyarakat yang baik. Dan baik
buruknya wanita dapat mempengaruhi kondisi suatu masyarakat.

Perbaikan masyarakat ada dua macam, yaitu:

1. Perbaikan yang Zhahir (Tampak)

Yaitu perbaikan yang biasa dilakukan di tempat-tempat terbuka, seperti: Masjid, pasar,
tempat kerja dan sejenisnya. Perbaikan ini tertuju kepada kelompok laki-laki karena
merekalah yang banyak melakukan aktivitas di luar dan sering menampakkan diri.

2. Perbaikan di Balik Tabir (di belakang layar, red)

Yaitu adalah perbaikan yang dilakukan di dalam rumah. Urusan ini biasanya diperankan
oleh kaum wanita, karena merekalah pengatur urusan-urusan intern rumah tangga,
sebagaimana difirmankan oleh Allah kepada Wanita-Wanita Nabi saw , yang artinya:
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku
seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu.” (Al-Ahzab: 33)

Pentingnya peran wanita dalam memperbaiki masyarakat

“Sesungguhnya perbaikan separuh dari jumlah masyarakat yang ada, bahkan sebagian
besarnya tidak akan pernah bisa dipisahkan dari peran wanita,” hal ini karena dua alasan:

Pertama, jumlah wanita sama banyak dengan jumlah laki-laki, bahkan bisa lebih banyak
dari laki-laki sebagaimana pernah disebutkan dalam hadits Rasulullah saw. Akan tetapi,
perbandingan ini terkadang berubah-ubah setiap waktunya atau berbeda-beda antara

Muslimah
tempat yang satu dengan yang lain. Kadangkala di suatu negara wanitanya lebih banyak
dibanding laki-laki, namun di negara lain sebaliknya, laki-lakinya yang lebih banyak.

Demikian pula pada suatu waktu terkadang wanita lebih banyak dari laki-laki dan di
waktu lain terjadi sebaliknya laki-laki yang lebih banyak. Yang jelas bagaimanapun
keadaannya, wanita tetap memiliki peran yang penting dalam perbaikan masyarakat.

Kedua, pertumbuhan generasi muda pada awalnya pasti beranjak dari pangkuan seorang
ibu (wanita). Dengan demikian, maka tampak jelas bagaimana pentingnya peran yang
harus diemban oleh para wanita dalam memperbaiki masyarakat.

Bagaimanakah cara yang seharusnya dilakukan oleh wanita dalam melakukan kontribusi
perbaikan masyarakat? Ada beberapa langkah yang harus diperhatikan, diantaranya:

1. Kesalehan Wanita

Sebagaimana yang telah kita bahas sebelumnya bahwa menghambakan diri kepada Allah
adalah merupakan ciri dari wanita yang soleh. Sementara itu keshalehan seorang wanita
merupakan asas yang terpenting sekali daripada asas-asas yang lain. Kegagalan asas ini
dapat mengakibatkan asas-asas lain tidak akan berfungsi untuk memberi kebahagiaan yang
sebenarnya di dalam kehidupan. Tanpa wanita yang soleh maka keluarga-keluarga Islam
tidak akan dapat diwujudkan, padahal pembinaan dan terbentuknya pergerakan Islam itu
bergantug kepada kelahiran keluarga-keluarga Islam ini. Kalau sekiranya pergerakan
Islam itu penting untuk membawa dan mempraktikkan Islam maka Wanita yang Soleh
juga sama pentingnya.

Karena itu, hendaknya wanita yang berperan dalam memperbaiki masyarakat adalah
wanita yang shalihah agar ia dapat menjadi contoh dan teladan bagi wanita lain. Agar
seorang wanita mencapai derajat shalihah, maka ia harus memiliki ilmu, yaitu ilmu syar’i
yang dapat ia pelajari melalui kitab-kitab (buku) atau melalui apa yang ia dengar dari lisan
para ulama. Ia dapat mendengarkan rekaman ceramah-ceramah mereka, dan media kaset
ini cukup berperan dalam mengarahkan masyarakat menuju perbaikan dan keshalehan.

2. Fasih di Dalam Berbicara

Hendaknya wanita tersebut adalah wanita yang dianugerahi oleh Allah kefasihan dalam
berbicara. Dengan kata lain ia mampu berbicara dengan lancar dan mampu
mengungkapkan apa yang ada dalam benaknya dengan baik dan benar. Sehingga dapat
menyingkap semua makna yang ada dalam hati dan jiwanya. Apalagi makna tersebut
kadang juga ditemukan dalam diri orang lain, namun ia tidak mampu untuk
mengungkapkannya dengan kata-kata atau mungkin ia mampu mengungkapkannya, akan
tetapi kurang jelas dan kurang tepat sehingga perbaikan yang diharap-kan tidak mencapai
hasil yang optimal.

Muslimah
Agar seorang wanita dapat berbicara dengan lancar dan fasih serta mampu
mengungkapkan apa yang ada dalam benaknya secara benar dan jelas, maka hendaknya ia
mempunyai pengetahuan bahasa Arab baik nahwu, sharaf dan balaghah. Demikian pula ia
harus menguasai bahasa yang digunakan oleh masyarakat yang di dakwahinya.

3. Hikmah

Hikmah: ialah Perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak
dengan yang bathil.

Hikmah dan sikap bijaksana merupakan anugerah yang diberikan oleh Allah kepada
hambaNya, sebagaimana firman Allah,

‫ﺎ‬‫ﻣ‬‫ﺍ ﻭ‬‫ﲑ‬‫ﺍ ﹶﻛﺜ‬‫ﺮ‬‫ﻴ‬‫ ﺧ‬‫ﻲ‬‫ ﺃﹸﻭﺗ‬‫ﺔﹶ ﻓﹶﻘﹶﺪ‬‫ﻜﹾﻤ‬‫ ﺍﻟﹾﺤ‬‫ﺕ‬‫ﺆ‬‫ ﻳ‬‫ﻦ‬‫ﻣ‬‫ﺎﺀُ ﻭ‬‫ﺸ‬‫ ﻳ‬‫ﻦ‬‫ﺔﹶ ﻣ‬‫ﻜﹾﻤ‬‫ﻲ ﺍﻟﹾﺤ‬‫ﺗ‬‫ﺆ‬‫ﻳ‬
‫ﺎﺏﹺ‬‫ ﺇﹺﻻ ﺃﹸﻭﻟﹸﻮ ﺍﻷﻟﹾﺒ‬‫ﺬﹶّﻛﹶّﺮ‬‫ﻳ‬
“Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang
diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat
mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal.” (Al Baqarah: 269)

Dan sebagaimana juga Allah berfirman memerintahkan para duat (laki-laki dan wanita)
untuk memilki al-hikmah dalam melakukan dakwahnya:

‫ﻲ‬ ‫ﻲ ﻫ‬‫ ﺑﹺﺎﹶّﻟﺘ‬‫ﻢ‬‫ﻟﹾﻬ‬‫ﺎﺩ‬‫ﺟ‬‫ ﻭ‬‫ﺔ‬‫ﻨ‬‫ﺴ‬‫ ﺍﻟﹾﺤ‬‫ﻈﹶﺔ‬‫ﻋ‬‫ﻮ‬‫ﺍﻟﹾﻤ‬‫ ﻭ‬‫ﺔ‬‫ﻜﹾﻤ‬‫ ﺑﹺﺎﻟﹾﺤ‬‫ﺑﹺّﻚ‬‫ﺒﹺﻴﻞﹺ ﺭ‬‫ ﺇﹺﻟﹶﻰ ﺳ‬‫ﻉ‬‫ﺍﺩ‬
‫ﻳﻦ‬‫ﺪ‬‫ﺘ‬‫ﻬ‬‫ ﺑﹺﺎﻟﹾﻤ‬‫ﻠﹶﻢ‬‫ ﺃﹶﻋ‬‫ﻮ‬‫ﻫ‬‫ ﻭ‬‫ﻪ‬‫ﺒﹺﻴﻠ‬‫ ﺳ‬‫ﻦ‬‫ﻞﹶّ ﻋ‬‫ ﺿ‬‫ﻦ‬‫ ﺑﹺﻤ‬‫ﻠﹶﻢ‬‫ ﺃﹶﻋ‬‫ﻮ‬‫ ﻫ‬‫ّﻚ‬‫ﺑ‬‫ ﺇﹺﻥﹶّ ﺭ‬‫ﻦ‬‫ﺴ‬‫ﺃﹶﺣ‬
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[845] dan pelajaran yang
baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang
lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih
mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. (An-Nahl:125)

Betapa sering tujuan tak tercapai, bahkan kesalahpahamanlah yang timbul karena tidak
adanya hikmah dan sikap bijaksana dalam berdakwah. Termasuk dalam kategori hikmah
dalam berdakwah adalah memposisikan orang yang didakwahi pada posisi yang
semestinya. Jika ia seorang jahil, maka ia diperlakukan sesuai keadaannya. Jika ia seorang
yang memiliki ilmu, namun pada dirinya ada sikap tafrith (menyia-nyiakan), ihmal
(meremehkan) dan ghaflah (melalaikan) maka hendaknya diperlakukan sesuai kondisinya.
Begitu pula, jika seorang yang berilmu namun suka bersikap sombong dan menolak
kebenaran, maka ada cara tersendiri dalam memperlakukannya.

Muslimah
Di antara contoh penerapan hikmah di dalam dakwah Rasulullah saw, yakni:

1. Kasus Orang Badui Kencing di Pojok Masjid.

Para sahabat ketika itu meneriakinya dan berkeinginan untuk mencegahnya, namun
Rasulullah dengan penuh bijaksana bersabda, ”Jangan kalian putuskan kencingnya!” Maka
tatkala orang tersebut selesai dari kencingnya, Nabi menyuruh agar tempat yang terkena
air kencing tersebut disiram dengan seember air, lalu memanggil orang Badui tadi dan
bersabda kepadanya,

“Sesungguhnya masjid ini tidak layak untuk membuang kotoran di dalamnya, namun ia
dipersiapkan untuk shalat, membaca al Qur’an dan dzikrullah.” (riwayat al Bukhari-
Muslim).

Nabi membiarkan orang Badui tersebut meneruskan kencingnya, sebab jika ia berdiri
untuk menghentikan kencingnya maka akan terjadi dua kemungkinan:

Pertama, ia akan berdiri dalam keadaan aurat terbuka untuk menghin-dari terkenanya air
kencing pada pakaiannya dan saat ia berdiri maka air kencing akan meluas. Di samping itu
ia akan dilihat oleh orang banyak dalam keadaan auratnya terbuka. Maka pada saat itu
akan terjadi dua mafsadah (keburukan) baru yaitu melebarnya air kencing dan terbukanya
aurat di hadapan orang.

Kedua, ia akan berdiri dengan menutup auratnya, sehingga pakaiannya akan kotor terkena
air kencing. Maka untuk menghindari efek tambahan ini, Nabi membiarkannya
meneruskan kencing untuk meminimalisir mafsadah.

Dari sini dapat diambil pelajaran bahwa suatu kemungkaran hendaknya dibiarkan saja,
jika mencegahnya ternyata akan menimbulkan kemungkaran baru yang lebih besar. Inilah
salah satu ibrah atau pelajaran yang dapat diambil dari kisah ini.

2. Seorang Shahabat Nabi Bersin pada Waktu Shalat.

Muawiyah ibnul Hakam ketika ia sedang shalat bersama Rasulullah Shallallaahu alaihi wa
Sallam, tiba-tiba ada seseorang yang bersin lalu mengucapkan, “Alhamdulillah”, maka
Muawiyah mengucapkan, “Yarhamukallah”. Seketika itu juga para shahabat yang lain
memandanginya pertanda marah dengan kejadian itu, maka Muawiyah berkata, “Celaka
kalian!” lalu orang-orang pada menepuk pahanya masing-masing sebagai isyarat agar ia
diam, iapun lalu diam.

Setelah selesai shalat, Rasulullah memanggil Muawiyah dan bersabda, “Shalat itu tidak
boleh ada perkataan manusia di dalamnya sedikitpun, namun shalat hanyalah takbir dan
membaca al Qur’an.” Maka berkatalah Muawiyah, “Aku tidak pernah melihat seorang

Muslimah
guru yang lebih bagus cara mengajarnya dari pada Rasulullah Shallallaahu alaihi wa
Sallam. Demi Allah, beliau tidak membentakku dan tidak pula menghardikku.”

3. Seorang Laki-Laki yang Memakai Cincin Emas.

Ia memakai cincin tersebut, padahal Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam sudah


menjelaskan haramnya emas bagi kaum laki-laki dari umat ini. Maka beliau bersabda,
“Salah seorang dari kalian sengaja mengambil bara api kemudian ia taruh di tangannya”,
lalu Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam mencopot cincin itu (dari tangan orang tersebut),
kemudian melemparkannya. Setelah Nabi pergi orang-orang berkata kepadanya,
“Ambillah cincinmu itu dan manfaatkanlah.” Maka ia menjawab, “Aku tidak akan
mengambil cincin yang telah dibuang oleh Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam.”

Di dalam kasus ini Rasulullah bersikap agak keras, hal ini dikarenakan orang tersebut
sudah mengetahui tentang haramnya memakai emas bagi kaum laki-laki. Sikap ini berbeda
dengan (sikap) beliau ketika menghadapi orang yang belum mengerti, sebagaimana di
dalam contoh sebelumnya.

4. Bisa Mendidik dengan Baik

Seorang wanita hendaknya bisa mendidik anak-anaknya dengan baik, karena anak-anak
adalah harapan di masa depan. Pada awal pertumbuhan-nya, anak-anak lebih banyak
bergaul dengan ibu mereka. Jika sang ibu memiliki akhlak dan perilaku yang baik, maka
kelak anak-anak tersebut akan mempunyai andil yang sangat besar di dalam memperbaiki
masyarakat.

Oleh karenanya, seorang wanita yang memiliki anak-anak harus memperhatikan


pendidikan mereka. Seandainya ia sendiri tidak mampu untuk memperbaiki dan mendidik
mereka maka hendaknya ia meminta bantuan dari ayah anak-anak tersebut. Jika anak-anak
sudah tidak punya ayah, maka bisa meminta bantuan kepada wali mereka, seperti:
Saudara, paman, anak saudara (keponakan) dan selainnya.

Seorang wanita juga tidak boleh menyerah dengan keadaan dan berdiam diri sebab jika
demikian maka perubahan dan perbaikan tak akan bisa terlakasan dengan baik.

5. Giat di dalam Berdakwah

Hendaknya seorang wanita giat di dalam meningkatkan taraf keilmuan kaumnya. Hal itu
dapat dilakukan di tengah-tengah masyarakat, baik sekolah, universitas ataupun jenjang
yang lebih tinggi lagi. Hal itu juga dapat dilakukan disela-sela ziarah atau kunjungan
antara sesama wanita dengan menyampaikan beberapa kalimat yang mungkin bermanfaat
bagi mereka.

Tidak diragukan lagi bahwa peran aktif kaum wanita di dalam berdakwah, mengadakan
kajian-kajian ilmu syar’i, pengajaran Bahasa Arab khusus bagi mereka merupakan amalan

Muslimah
yang bagus dan layak mendapat acungan jempol. Pahala dari ilmu yang bermanfaat akan
terus mengalir, sekalipun mereka telah meninggal dunia, sebagaimana yang pernah
disabdakan oleh Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam.

Kami memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala , semoga Dia berkenan menjadikan
kita semua sebagai da’i yang mendapatkan petunjuk. Da’i yang baik dan senantiasa
berusaha memperbaiki orang lain. Dan semoga Dia juga memberikan rahmat-Nya,
sesungguhnya Dia adalah Tuhan yang Maha Memberi.

---oo0oo---

Sumber: Tim Kajian Manhaj Tarbiyah (dakwatuna.com)

Muslimah
WANITA-WANITA PENGUKIR SEJARAH

Dengan menyebut Nama Allah. Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga
dilimpahkan kepada Rasulullah, segenap keluarga, para sahabat dan generasi penerusnya.

Sejarah Islam dipenuhi dengan peristiwa besar dan berpengaruh terhadap peradaban

Kita berada di sini, saat ini, dan dalam kondisi seperti ini adalah buah dari karya besar
para pendahulu kita. Karena jasa merekalah saat ini kita menikmati kehidupan seperti
sekarang. Oleh karena itu, sudah sepantasnyalah kita mengenang, mengingat,
mempelajari, dan meneladani kehidupan dan perjuangan mereka.

“Barang siapa yang tidak berterimakasih kepada manusia, berarti tidak bersyukur
kepada Allah.” (HR Ahmad dan Tirmidzi).

Tak terkecuali orang-orang besar yang telah mengukirkan karyanya dalam sejarah adalah
wanita-wanita Islam. Para muslimah tersebut bahu membahu, berkontribusi dan turut
berjuang bersama kaum lelaki dalam membela yang hak.

‫ﻦ‬ ‫ﻟﹶﻜ‬‫ﻯ ﻭ‬‫ﺮ‬‫ﻔﹾﺘ‬‫ﻳﺜﹰﺎ ﻳ‬‫ﺪ‬‫ﺎ ﻛﹶﺎﻥﹶ ﺣ‬‫ﺎﺏﹺ ﻣ‬‫ﻲ ﺍﻷﻟﹾﺒ‬‫ﺓﹲ ﻷﻭﻟ‬‫ﺮ‬‫ﺒ‬‫ ﻋ‬‫ﻬﹺﻢ‬‫ﺼ‬‫ﻲ ﻗﹶﺼ‬‫ ﻛﹶﺎﻥﹶ ﻓ‬‫ﻟﹶﻘﹶﺪ‬
‫ﻮﻥﹶ‬‫ﻨ‬‫ﻣ‬‫ﺆ‬‫ﻡﹴ ﻳ‬‫ﻘﹶﻮ‬‫ﺔﹰ ﻟ‬‫ﻤ‬‫ﺣ‬‫ﺭ‬‫ﻯ ﻭ‬‫ﺪ‬‫ﻫ‬‫ﺀٍ ﻭ‬‫ﻲ‬‫ﻴﻞﹶ ﻛﹸﻞﹺّ ﺷ‬‫ﻔﹾﺼ‬‫ﺗ‬‫ ﻭ‬‫ﻪ‬‫ﻳ‬‫ﺪ‬‫ ﻳ‬‫ﻦ‬‫ﻴ‬‫ﻱ ﺑ‬‫ ﺍﻟﹶّﺬ‬‫ﻳﻖ‬‫ﺪ‬‫ﺼ‬‫ﺗ‬
“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang
mempunyai akal. Al Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi
membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan
sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS Yusuf: 111)

Musuh-musuh Islam tahu bahwa wanita merupakan salah satu unsur kekuatan masyarakat
Islam. Musuh-musuh Islam telah menempuh berbagai cara untuk merusak wanita
muslimah. Oleh karena itulah, kita harus kembali mengungkap kembali profil dan
meneladani perjuangan wanita-wanita muslimah sebagai bekal untuk mengangkat harkat
dan derajat wanita muslimah. Setiap pejuang muslimah memiliki keistimewaan dan sarat
dengan nilai-nilai positif yang telah mengukirkan sejarahnya dalam sejarah Islam.

Berikut kita bisa menyimak beberapa profil dan meneladani para pejuang wanita Islam
sepanjang sejarah.

Muslimah
A. Ummahat Al Mukminin

1. Khadijah RA.

Nama lengkapnya Khadijah binti Khuwailid bin As’ad bin Abd Al Uzza’. Ia dilahirkan di
Makkah tahun 68 sebelum hijrah. Ia adalah wanita yang sukses dalam perniagaan, seorang
saudagar wanita terhormat dan kaya raya. Pada masa jahiliyah ia dipanggil Ath Thaharoh
(wanita suci) karena ia senantiasa menjaga kehormatan dan kesucian dirinya. Orang-
orang Quraisy menyebutnya sebagai pemimpin wanita Quraisy.

Rasulullah bersabda tentang Khadijah, “Allah tidak menggantikan untukku wanita yang
lebih baik darinya. la beriman kepadaku di saat orang lain ingkar kepadaku, ia
mempercayaiku di saat orang lain mendustakanku, ia menolongku dengan hartanya di
saat orang lain tidak ada yang menolongku, dan Allah telah mengaruniakan kepadaku
putra (dari hasil perkawinan dengan) nya sedang wanita-wanita lain tidak.”

Keistimewaan Khadijah:

1. Ia adalah wanita yang pertama kali memeluk Islam. Ia beriman kepada Nabi disaat
semua orang kafir padanya.
2. Ia adalah wanita pertama yang dijamin masuk surga bahkan ia mendapat kabar
gembira dari Allah, bahwa Allah telah membangunkan bagi rumah di surga.

Abu Hurairah RA menyatakan bahwa Jibril datang kepada nabi saw seraya berkata,
“Wahai Rasulullah, Khadijah sedang berjalan kemari. Ia membawa wadah yang berisi
kuah, makanan atau minuman. Jika ia sampai kepadamu, maka katakanlah bahwa
Tuhannya dan aku menyampaikan salam kepadanya. Dan sampaikanlah kabar gembira
kepadanya bahwa ia mendapat sebuah rumah di dalam surga”. (Mutafaq ‘alaih)

a. Manusia pertama yang mendapat salam dari Allah yang disampaikan dari langit ke
tujuh. Ia pantas menerimanya karena selalu setia mendampingi Nabi dalam kondisi seperti
apapun.

Anas RA meriwayatkan bahwa ketika Jibril datang kepada Rasulullah saw yang sedang
berduaan dengan Khadijah RA, Jibril berkata, “Sesungguhnya Allah menyampaikan
salam kepada Khadijah”. Khadijah membalas, “Sesungguhnya Allah-lah As Salaam
(Maha Pemberi Kesejahteraan). Sebaliknya kuucapkan salam kepada Jibril dan
kepadamu. Semoga Allah melimpahkan kesejahteraan, rahmat dan berkahNya
kepadamu.” (HR An Nasa’i)

b. Wanita pertama yang layak dikategorikan shiddiq di antara wanita mukmin lainnya.

c. Mengorbankan seluruh hartanya untuk kepentingan Nabi

d. Wanita yang memberikan keturunan bagi Nabi

Muslimah
e. Wanita yang matang dan cerdas, pandai menjaga kesucian, dan terpandang bahkan sejak
masa jahiliyah dan diberi gelar Ath Thahiroh (wanita yang suci). Ia adalah orang yang
terhormat, taat beragama dan sangat dermawan.

f. Seluruh hidupnya di berikan untuk mendukung dan membela dakwah Nabi.

g. Orang yang pertama shalat bersama Nabi SAW

2. Saudah binti Zam’ah

Nama lengkapnya Saudah binti Zam’ah bin Qais. Ia masuk Islam bersama suaminya,
Sakran bin Amr, di masa awal dakwah Islam. la ikut berhijrah ke Habasyah (Ethiopia).
Suaminya meninggal di Mekah setelah ia pulang dari Habasyah bersama kaum muslimin.
Ia berpostur tubuh tinggi dan kurus. la terkenal suka berkelakar, bercanda, dan humor. la
adalah wanita yang suka berderma.

la merawikan 5 hadits dari Nabi. Di antaranya, ia berkata, “Ada seorang laki-laki yang
datang menemui Nabi sembari berkata, “Ayahku telah lanjut usia dan ia sudah tidak
mampu menunaikan haji.” Nabi bersabda, “Bukankah seandainya ayahmu punya utang,
lalu kamu melunasinya, dan itu akan diterima? ” “Ya”, jawab laki-laki itu. “Allah Maha
Pengasih, maka tunaikanlah haji atas nama ayahmu!” kata Nabi.

Saudah RA adalah wanita pertama yang dinikahi Rasulullah setelah Khadijah RA


meninggal. Ia menjadi satu-satunya istri Nabi saw selama tiga tahun sebelum nabi
menikah dengan Aisyah RA.

Keistimewaan Saudah binti Zam’ah:

a. Termasuk wanita pertama yang memeluk Islam, ikut hijrah dua kali yakni ke Habasyah
dan madinah Munawwarah.

b. Ia termasuk golongan pertama yang masuk Islam

c. Selalu berusaha sekuat tenaga menyenangkan hati Nabi dengan memberikan jatah hari
gilirannya kepada Aisyah RA karena Saudah RA tahu bahwa wanita yang paling dicintai
oleh Nabi saw di antara istri-istrinya adalah Aisyah RA.

d. Aisyah berkata tentang Saudah, ”Aku tidak pernah menemukan seorang wanita yang
lebih kusukai jika aku menjadi dirinya, selain Saudah binti Zam’ah. Seorang wanita yang
kekuatan jiwanya luar biasa”.

e. Selalu mengejar kebaikan dan ketaatan bahkan Aisyah cemburu dengan kesegeraan
Saudah dalam kebaikan dan ketaatan.

Muslimah
f. Saudah RA. adalah seorang wanita yang dermawan dan murah hati. Ibnu Sirin
menceritakan bahwa Umar bin Khaththab (setelah menjadi Khalifah, penj.) pernah
memberi satu karung berisi uang dirham kepada Saudah RA. Ketika melihatnya, Saudah
RA. bertanya, “Apa yang ada dalam karung ini?” Petugas Umar menjawab, “Uang dirham
(perak).” Saudah RA. terkejut, “Karung ini berisi uang dirham, seperti kurma? Hai
pelayan, ambilkan nampan!” Saat itu juga, Saudah RA. membagi-bagikan uang dirham
tersebut kepada orang-orang yang memerlukannya.

g. Mendapat izin dari tujuh lapis langit

Suatu ketika, Saudah RA. pernah mengalami masalah yang cukup memberatkan hatinya.
Oleh sebab itu, ia segera menemui Nabi saw. untuk mengadukan permasalahannya.
Ternyata, Allah berkenan menurunkan wahyu dari tujuh lapis langit untuk menyelesaikan
masalah yang dialaminya, dan berlaku untuk siapa pun yang mengalami masalah yang
sama hingga hari kiamat.

Aisyah RA. menuturkan, “Saudah binti Zam’ah RA. pernah keluar rumah malam hari.
Umar melihatnya dan segera mengenalnya, maka ia berkata, ‘Demi Allah, engkau pasti
Saudah. Kami mudah mengenalmu.’ Saudah merasa tidak enak hati, sehingga ia segera
menjumpai Rasulullah saw. yang saat itu sedang makan malam di rumahku dan
tangannya sedang memegang tulang yang nyaris habis dagingnya. Tidak lama kemudian,
Allah menurunkan wahyu yang membenarkan tindakan Saudah. Rasulullah saw. berkata,
Allah telah mengizinkan kalian keluar rumah selama ada keperluan.’” (Muttafaq ‘alaih)

3. Aisyah binti Abu Bakar

Nama lengkapnya Aisyah binti Abi Bakar bin Utsman, biasa dipanggil Ummu Abdillah,
dan digelari Ash-Shiddiqah (wanita yang membenarkan). la juga masyhur dengan
panggilan ummul mukminin, dan Al-Humaira’, karena warna kulitnya sangat putih.

la dilahirkan tahun ke-4 atau ke-5 setelah kenabian. la menceritakan, bahwa Nabi pernah
mengatakan kepadanya, “Aku bermimpi melihat kamu sebanyak dua kali. Malaikat datang
kepadaku dengan membawa selembar kain sutra (foto) sambil berkata, “Inilah istrimu,
maka bukalah penutup wajahnya!” Setelah kubuka, ternyata itu adalah kamu. Maka aku
berkata, “Sekiranya perkara ini datangnya dari Allah, pasti ia terlaksana.” (HR. Al-
Bukhari)

Pada saat Rasulullah menikahi Aisyah, beliau memberinya mahar sebesar 400 dirham.

Keistimewaan Aisyah RA:

Muslimah
a. Aisyah adalah istri yang paling dicintai oleh Rasulullah, dan yang paling banyak
merawikan hadits dari Beliau. Ia merawikan 2210 hadits, 279 di antaranya terdapat di
dalam Shahih Bukhari.

b. Ia adalah wanita yang paling luas ilmu dan pemahamannya di antara seluruh wanita
umat ini. Ia termasuk wanita muslimah yang paling faqih dan paling mengerti tentang
sastra dan agama. Banyak pembesar sahabat yang bertanya kepadanya tentang masalah-
masalah fiqih, dan ia pun menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka.

c. Wanita yang dinyatakan kesuciannya dalam Al Qur’an. Kecintaan Rasulullah kepada


Aisyah pernah menimbulkan kecemburuan di hati sebagian orang. Mereka menuduh
Aisyah berbuat zina, padahal ia adalah wanita yang senantiasa menjaga kesucian dan
kehormatan dirinya. Allah telah membebaskannya dari tuduhan tersebut di dalam Kitab-
Nya.

d. Tentang Aisyah, Rasulullah pernah mengatakan, “Keutamaan Aisyah atas wanita-


wanita yang lainnya adalah seperti keutamaan tsarid (makanan yang terdiri dari roti dan
daging) atas makanan lainnya.” (HR. Al-Bukhari)

e. Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sakit, Beliau meminta izin kepada istri-
istrinya agar Beliau dirawat di rumah Aisyah.

f. Amr bin Ash pernah bertanya kepada Rasul, “Siapakah orang yang paling Anda
cintai?” Beliau menjawab, “Aisyah”. “Dari kalangan laki-laki?” tanya Amr. “Ayahnya,
Abu Bakar”, jawab Beliau. “Kemudian siapa?” tanya Amr. “Umar bin Khaththab”,
jawab Beliau.” (HR. Al-Bukhari)

g. Satu-satunya wanita yang dinikahi Rasulullah yang masih gadis.

h. Aisyah adalah wanita terkemuka dengan segudang keistimewaan, terkemuka dalam


kedermawanan, kezuhudan dan sifat-sifat yang mulia.

i. Jibril as. memberi salam kepadanya

Ibnu Syihab menyatakan bahwa Abu Usamah berkata, “Sesungguhnya “Aisyah RA.
pernah mengungkapkan bahwa pada suatu hari Rasulullah saw. berkata kepadanya, “Hai
‘Aisyah, ini Jibril. la mengucapkan salam kepadamu.” ’Aisyah membalas, “Wa ‘alaihis
Salaam wa Rahmatullah wa Barakaatuh (semoga Jibril juga mendapat kesejahteraan,
limpahan kasih sayang dan berkah dari Allah), Engkau (Rasulullah SAW) melihat sesuatu
yang tidak dapat kulihat.” (Muttafaq ‘alaih)

j. Wahyu turun saat Nabi berselimut bersama Aisyah

Muslimah
”….Demi Allah sesungguhnya Allah tidak pernah menurunkan wahyu ketika aku sedang
dalam satu selimut dengan siapapun di antara kalian (istri-istri Nabi), selain Aisyah”.
(HR Bukhari)

k. Wanita yang sangat zuhud dan dermawan luar biasa, ahli ibadah dan puasa.

4. Hafshah binti Umar bin Khatthab

Nama lengkapnya Hafshah binti Umar bin Khaththab. Lahir di Mekkah tahun 18 sebelum
hijrah. Rasulullah melamar Hafshah kepada ayahnya Umar bin Khaththab, lalu Beliau
menikahinya tahun 3 H. Rasulullah pernah bermaksud menceraikan Hafshah, tapi Jibril
mengatakan kepada Beliau, “Jangan kamu ceraikan dia, sesungguhnya dia adalah wanita
yang gemar berpuasa dan menunaikan shalat (malam), dan sesungguhnya dia adalah
istrimu di surga.”

la merawikan 60 hadits dari Nabi, 10 di antaranya terdapat dalam kitab Shahih Al-Bukhari
dan Shahih Muslim.

Keistimewaan Hafshah:

a. Wanita yang dibela Jibril

Rasulullah pernah bermaksud menceraikan Hafshah, tapi Jibril mengatakan kepada


Beliau, “Jangan kamu ceraikan dia, sesungguhnya dia adalah wanita yang gemar berpuasa
dan menunaikan shalat malam), dan sesungguhnya dia adalah istrimu di surga.”

b. Ia adalah salah satu wanita yang paling fasih di antara wanita-wanita Quraisy.

c. Hafshah RA memiliki kedudukan yang sangat tinggi di hati Nabi saw., bahkan termasuk
salah seorang istri beliau yang istimewa di antara istri-istri beliau lainnya. ‘Aisyah RA
pernah mengakui hal ini. la berkata, “Hafshah adalah termasuk salah seorang istri Nabi
SAW yang nyaris setara denganku

d. Hafshah RA dikenal memiliki kapasitas keilmuan, pemahaman dan ketakwaan yang


sangat luas. Ketika ayahnya diangkat menjadi Khalifah, tidak jarang Umar bertanya
kepadanya tentang berbagai hukum agama.

e. Hafshah RA telah mengemban amanah penjagaan Al-Qur’an, karena Abu Bakar RA


menunjukinya untuk menjaga lembaran-lembaran tulisan Al-Qur’an setelah berhasil
dihimpun oleh Zaid bin Tsabit RA. Lembaran-lembaran Al-Qur’an itu tetap berada di
tangannya hingga masa pemerintahan Utsman bin ‘Affan ketika ia memutuskan
menghimpun Al-Qur’an dalam satu mushaf.

Muslimah
5. Zainab binti Khuzaimah

Nama lengkapnya Zainab binti Khuzaimah bin Harits. la digelari dengan Ummul Masakin
(ibu orang-orang miskin). la termasuk orang yang mula-mula masuk Islam.

Sebelum menikah dengan Rasulullah, ia menikah dengan Ubaidah bin Harits bin Abdul
Muthalib. Suaminya, Ubaidah bin Harits, gugur sebagai syahid dalam perang Badar tahun
ke-2 H. Setelah suaminya gugur dalam perang Badar, Rasulullah menikahinya pada tahun
ke-3 H.

Keistimewaan:

a. Rumahnya adalah tempat berkumpulnya para fakir miskin, sehingga ia digelari dengan
Ummul Masakin (ibu orang-orang miskin). la meninggal tahun 4 H dalam usia 30 tahun.
Rasulullah menyembahyangi jenazahnya dan menguburkannya di Baqi’.

b. Zainab menghabiskan seluruh waktunya untuk beribadah dan menyantuni orang miskin

6. Ummu Salamah

Nama lengkapnya Hindun binti Hudzaifah bin Mughirah Al-Qursyiyah Al-Makhzumiyah,


biasa dipanggil Ummu Salamah. la dilahirkan tahun 28 sebelum hijrah. la termasuk orang
yang mula-mula masuk Islam. Ia bersama suaminya, Abu Salamah, ikut berhijrah ke
Habasyah. Di Habasyah, ia dikaruniai seorang anak, Salamah. Sepulang dari Habasyah, ia
hijrah ke Madinah. Di madinah, ia dikarunia 3 orang anak, yaitu Umar, Ruqayyah, dan
Zainab. la adalah wanita pertama yang berhijrah ke Madinah. la merawikan 378 hadits
dari Nabi.

Keistimewaan:

a. Wanita yang ikut hijrah ke Habasyah dan pertama hijrah ke Madinah.

b. Wanita yang sabar dan tabah

Ketika Ummu Salamah, Abu Salamah dan putra mereka Salamah hendak berhijrah,
mereka dihalang-halangi oleh Bani Mughiroh. Hingga akhirnya Ummu Salamah terpisah
dari suami dan anaknya. Tetapi Ummu Salamah tetap tabah mendapatkan cobaan ini.

c. Wanita yang cerdas dan bijaksana

Setelah selesai menandatangani perjanjian damai dengan kaum musyrik, Rasulullah SAW
berkata kepada para sahabatnya, ‘Bersiap-siaplah, sembelihlah hewan-hewan kurban
kalian dan cukurlah rambut kalian.’ Demi Allah, saat itu tidak ada satu pun dari para

Muslimah
sahabat yang berdiri dan melaksanakan perintah beliau, padahal beliau mengulangi
perintahnya sebanyak tiga kali. Ketika melihat gejala seperti itu, Rasulullah SAW masuk
kemah dan menemui Ummu Salamah, lalu menceritakan kejadian tersebut kepadanya.

Ummu Salamah berkata, ‘Wahai Nabi Allah, apakah engkau ingin sahabat-sahabatmu
mengerjakan perintahmu? Keluarlah, dan jangan berbicara dengan siapa pun sebelum
engkau menyembelih hewan kurbanmu dan memanggil pencukur untuk mencukur
rambutmu.’

d. Wanita yang sangat penyayang

Ia lah yang menyampaikan berita kepada Abu Lubabah bahwa Allah menerima taubatnya.
Ummu Salamah juga pernah menjadi penyebab kesediaan Nabi untuk memaafkan anak
pamannya.

e. Ummu Salamah dianggap sebagai ulama pada generasi sahabat. Ulama besar sekaliber
Ibnu Abbas tidak jarang mengutus orang untuk menanyakan beberapa masalah hukum
kepadanya.

7. Zainab binti Jahsyin

Nama lengkapnya Zainab binti Jahsyin bin Ri’ab Al-Asadiyah. la adalah putri bibi Nabi,
Umaimah binti Abdul Muthalib. la berparas cantik. Zainab termasuk orang yang mula-
mula masuk Islam. Rasulullah menikahkannya dengan Zaid bin Haritsah. Tetapi kemudian
bercerai dengan Zaid.

 ‫ﺟ‬‫ﻭ‬‫ ﺯ‬‫ﻚ‬‫ﻠﹶﻴ‬‫ ﻋ‬‫ﺴِﻚ‬‫ ﺃﹶﻣ‬‫ﻪ‬‫ﻠﹶﻴ‬‫ ﻋ‬‫ﺖ‬‫ﻤ‬‫ﻌ‬‫ﺃﹶﻧ‬‫ ﻭ‬‫ﻪ‬‫ﻠﹶﻴ‬‫ ﻋ‬‫ ﺍﻟﻠﹶّﻪ‬‫ﻢ‬‫ﻌ‬‫ﻱ ﺃﹶﻧ‬‫ﻠﹶّﺬ‬‫ﻘﹸﻮﻝﹸ ﻟ‬‫ﺇﹺﺫﹾ ﺗ‬‫ﻭ‬
‫ﻚ‬
‫ّ ﺃﹶﻥﹾ‬‫ﻖ‬‫ ﺃﹶﺣ‬‫ﺍﻟﻠﹶّﻪ‬‫ ﻭ‬‫ّﺎﺱ‬‫ﻰ ﺍﻟﻨ‬‫ﺸ‬‫ﺨ‬‫ﺗ‬‫ ﻭ‬‫ﻳﻪ‬‫ﺪ‬‫ﺒ‬‫ ﻣ‬‫ﺎ ﺍﻟﻠﹶّﻪ‬‫ ﻣ‬‫ﻔﹾﺴِﻚ‬‫ﻲ ﻧ‬‫ﻲ ﻓ‬‫ﻔ‬‫ﺨ‬‫ﺗ‬‫ ﻭ‬‫ّﺗﻖﹺ ﺍﻟﻠﹶّﻪ‬‫ﺍ‬‫ﻭ‬
‫ﻠﹶﻰ‬‫ﻜﹸﻮﻥﹶ ﻋ‬‫ ﻻ ﻳ‬‫ﻜﹶﻲ‬‫ﺎ ﻟ‬‫ﺎﻛﹶﻬ‬‫ﺟﻨ‬ ّ‫ﻭ‬‫ﺍ ﺯ‬‫ﻃﹶﺮ‬‫ﺎ ﻭ‬‫ﻬ‬‫ﻨ‬‫ ﻣ‬‫ﺪ‬‫ﻳ‬‫ﻰ ﺯ‬‫ّﺎ ﻗﹶﻀ‬‫ ﻓﹶﻠﹶﻤ‬‫ﺎﻩ‬‫ﺸ‬‫ﺨ‬‫ﺗ‬
‫ ﺍﻟﻠﹶّﻪ‬‫ﺮ‬‫ﻛﹶﺎﻥﹶ ﺃﹶﻣ‬‫ﺍ ﻭ‬‫ﻃﹶﺮ‬‫ّ ﻭ‬‫ﻦ‬‫ﻬ‬‫ﻨ‬‫ﺍ ﻣ‬‫ﻮ‬‫ ﺇﹺﺫﹶﺍ ﻗﹶﻀ‬‫ﻬﹺﻢ‬‫ﺎﺋ‬‫ﻴ‬‫ﻋ‬‫ﺍﺝﹺ ﺃﹶﺩ‬‫ﻭ‬‫ﻲ ﺃﹶﺯ‬‫ ﻓ‬‫ﺝ‬‫ﺮ‬‫ ﺣ‬‫ﻨﹺﲔ‬‫ﺆﻣ‬ ‫ﺍﻟﹾﻤ‬
‫ﻮﻻ‬‫ﻔﹾﻌ‬‫ﻣ‬
“Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya),
Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk
(mengawini) istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah

Muslimah
menyelesaikan keperluannya daripada istri-istrinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti
terjadi.” (QS. Al-Ahzab: 37).

la merawikan 11 hadits dari Nabi. Ketika Zainab RA meninggal dunia, Aisyah menangisi
kepergian Zainab dan berkata, “la menandingiku dari istri-istri Nabi dalam meraih
kedudukan di sisi Rasulullah, dan aku belum pernah melihat wanita yang lebih baik dari
dia dalam menjalankan ajaran agama. Aku juga belum pernah melihat wanita yang paling
mensucikan diri dari dia, paling bertaqwa kepada Allah, paling benar tutur katanya, paling
senang menyambung tali silaturahim, dan paling banyak sedekahnya.”

Keistimewaan:

a. Rasulullah mensifatinya dengan Al-Aiywahah (wanita yang khusyu’ dalam beribadah).

b. Zainab RA adalah pekerja keras, ia bekerja dengan tangannya sendiri menyamak dan
menjahit kulit lalu menjualnya di pasar. Dari hasil kerja ini ia rajin bershadaqoh. Sehingga
Rasulullah menjulukinya sebagai orang yang paling panjang tangannya.

Rasulullah pernah berkata, “Yang paling cepat menyusulku di antara kalian ialah yang
paling panjang tangannya.” Dan ternyata yang dimaksud oleh Beliau di dalam hadits di
atas adalah Zainab, karena ia bekerja dengan tangannya sendiri, membuat manik-manik,
menyamak, dan berdagang kemudian disedekahkan.

c. Istri nabi SAW yang paling pertama kali meninggal setelah beliau wafat.

d. Taat beragama dan paling bertaqwa (ia adalah wanita yang sangat rajin puasa, shalat
malam dan selalu berinteraksi dengan Allah)

e. Wanita yang paling mensucikan diri

f. Tutur katanya benar

g. Paling senang menyambung silaturahim

h. Paling banyak sedekahnya

i. Zainab dinikahkan oleh Allah dengan Nabi SAW

”Zainab selalu berbangga atas istri-istri Nabi saw lainnya. Ia berkata, ‘Kalian
dinikahkan oleh wali-wali kalian, sedangkan aku dinikahkan oleh Allah dari tujuh lapis
langit.’” (HR Bukhari dan Tirmidzi).

j. Ia adalah wanita yang sangat zuhud bahkan ketika Umar bin Khathab memberikan
tunjangan kepadanya, maka uang itu disedekahkan seluruhnya hingga tak bersisa.

Muslimah
8. Juwairiyah binti Harits

Nama lengkapnya Juwairiyah binti Harits bin Abi Dhirar Al-Khaza’iyah. Ia adalah putri
dari kepala suku bani Mushthaliq. Ketika Rasulullah saw hijrah ke madinah, salah satu
pilar yang dibangun oleh Rasulullah saw adalah membangun hubungan termasuk dengan
umat non muslim. Rasulullah menetapkan prinsip toleransi dan amnesti. Cahaya Islam
ketika itu telah menerangi seluruh pelosok, akan tetapi bani Mushthaliq tetap jahiliyah.

Bani Mushthaliq bersama suku-suku Arab bersekongkol untuk menyerang kaum


muslimin. Kedua pasukan akhirnya berperang. Rasulullah memerintahkan untuk terus
menyerbu hingga pasukan musuh kocar-kacir. Juwairiyah termasuk salah satu tawanan
perang. Kemudian Juwairiyah mengajukan mukaatabah (pengajuan pembebasan diri agar
menjadi merdeka). Rasulullah menawarkan untuk menikahi Juwairiyah dan akhirnya
Juwairiyah menikah dengan Rasulullah saw. Dengar pernikahan tersebut Juwairiyah
berhasil memerdekakan 100 keluarga dari suku bani Mushthaliq. Dengan demikian ia
adalah wanita yang banyak memberikan keberkahan kepada kaumnya.

Ia pernah menunaikan umrah dan haji bersama Rasulullah. la juga menghafal, memahami,
dan merawikan hadits dari Rasulullah. la merawikan 7 hadits dari Nabi yang terdapat di
dalam Kiitub As-Sittah (enam buku hadits).

Di antara hadits yang dirawikannya dari Nabi, bahwa Nabi pernah keluar dari rumahnya
pada waktu dini hari ketika Beliau hendak menunaikan shalat subuh, dan dia juga saat itu
sudah berada di tempat sujudnya (tempat shalat). Kemudian Beliau pulang pada waktu
Dhuha dan Juwairiyah masih tetap berada di tempat sujudnya. Lalu Beliau mengatakan,
“Kamu masih seperti keadaan pada saat aku (tadi) meninggalkanmu?” ” Ya”, jawabnya.
Nabi bersabda, “Sungguh aku telah mengucapkan empat kalimat sebanyak tiga kali yang
jika ditimbang, niscaya akan lebih berat timbangannya dari apa yang telah kamu
ucapkan. Empat kalimat itu adalah, Maha suci Allah dan segala puji miliknya, sebanyak
makhluk-Nya, sebanyak yang diridhai-Nya, seberat timbangan ‘Arsy-Nya, dan sebanyak
bilangan kalimat-kalimat-Nya.” (HR. Muslim)

9. Shafiyah binti Huyay

Nama lengkapnya Shafiyah binti Huyay bin Akhthab. la adalah putri pemimpin Yahudi
Bani Quraizhah, Huyai bin Akhthab. Ayah Shafiyah adalah pemimpin terbesar kaum
Yahudi.

Muslimah
la termasuk salah satu di antara tawanan perang Khaibar dan menjadi bagian Dihyah Al-
Kalbi. Rasulullah memberikan kepada Dihyah tawanan lain sebagai gantinya. Kemudian
Beliau memberikan tawaran kepada Shofiyah antara memilih masuk Islam dan dinikahi
oleh Beliau atau tetap beragama Yahudi dan dibebaskan. Shafiyah memilih masuk Islam
dan dinikahi oleh Rasulullah. Rasulullah menikahi Shafiyah ketika pulang dari Khaibar
menuju Madinah.

Shafiyah berusaha untuk mengejar ketertinggalannya dalam berislam selama ini. Sehingga
setiap waktu ia selalu gunakan untuk beribadah kepada Allah. Ia adalah orang yang sangat
jujur, berkata apa adanya dan bukan basa basi, hatinya bersih dan keterbukaannya tulus.

la merawikan 10 hadits dari Nabi. Di antaranya, ia berkata, “Suatu malam, Nabi beri’tikaf
di masjid, lalu aku datang mengunjungi Beliau. Setelah selesai mengobrol, aku berdiri dan
hendak pulang. Beliau pun berdiri untuk mengantarku. Tiba-tiba dua laki-laki Anshar
lewat. Tatkala mereka melihat Nabi, mereka mempercepat langkah mereka.
“Perlahankanlah langkah kalian! Sesungguhnya ini adalah Shafiyah binti Huyai!” kata
Nabi. “Maha suci Allah, wahai Rasulullah”, kata mereka. Beliau mengatakan,
“Sesungguhnya setan itu berjalan pada aliran darah manusia. Sebenarnya aku khawatir,
kalau-kalau setan membisikkan tuduhan dusta atau hal yang tidak baik dalam hati
kalian.” (HR. Al-Bukhari).

Di hari-hari terakhir kehidupan Utsman bin Affan RA, Shafiyyah RA menorehkan sikap
mulia yang menunjukkan keutamaan dan pengakuannya terhadap kedudukan Utsman bin
‘Affan RA. Kinanah berkata, “Aku menuntun kendaraan Shafiyyah ketika hendak
membela Utsman. Kami dihadang oleh Al-Asytar, lalu ia memukul wajah keledainya
hingga miring. Melihat hal itu, Shafiyyah berkata, ‘Biarkan aku kembali, jangan sampai
orang ini mempermalukanku.’ Kemudian, Shafiyyah membentangkan kayu antara
rumahnya dengan rumah Utsman guna menyalurkan makanan dan air minum.”

Sikap mulia ini menunjukkan ketidaksukaan Ummul Mukminin Shafiyyah RA terhadap


orang-orang yang menzhalimi dan menekan Utsman, bahkan membiarkannya kelaparan
dan kehausan.

Ibnu Al-Atsir dan An-Nawawi rakimahumallah, memujinya seperti berikut, “Shafiyyah


adalah seorang wanita yang sangat cerdas.” Sedangkan Ibnu Katsir rahimahullah, berkata,
“Shafiyyah adalah seorang wanita yang sangat menonjol dalam ibadah, kewara’an,
kezuhudan, kebaikan, dan shadaqah.

10. Ummu Habibah

Nama lengkapnya Ramlah binti Shakhar bin Harb bin Umayyah. la adalah putri Abu
Sufyan bin Harb, dan saudara perempuan Mu’awiyah bin Abi Sufyan. la adalah ummul
mukminin, istri Nabi. la dilahirkan tahun 25 sebelum hijrah. la bersama suaminya,

Muslimah
Ubaidillah bin Jahsyin, ikut berhijrah ke Habasyah, hijrah gelombang kedua. Di sana,
suaminya masuk agama Nasrani dan meninggal dalam keadaan beragama Nasrani,
sementara ia tetap memeluk agama Islam.

la termasuk wanita Quraisy yang tutur katanya terkenal fasih dan memiliki ide-ide yang
cemerlang. Rasulullah mengutus seorang utusan untuk menemuinya dalam rangka untuk
menikahinya. Beliau meminta agar An-Najasyi menyelenggarakan akad nikah untuk
Beliau. Khalid bin Sa’id bin Ash bertindak sebagai walinya. An-Najasyi menyerahkan
mas kawin sebesar 400 dirham. Pernikahan ini berlangsung pada tahun 7 H. Saat itu,
Ummu Habibah berusia 37 tahun.

Abu Sufyan datang ke Madinah untuk membicarakan kembali perjanjian damai. Tetapi di
tolak oleh Rasulullah saw. Merasa gagal, Abu Sufyan pergi dan masuk ke rumah putrinya,
Ummu Habibah RA. Ketika Abu Sufyan hendak duduk di atas alas yang biasa digunakan
oleh Rasulullah saw., Ummu Habibah RA. segera mengambil dan melipatnya.

Melihat hal itu, Abu Sufyan berkata, “Putriku, apakah engkau tidak suka kepadaku karena
ingin duduk di atas alas ini, atau engkau tidak suka alas ini diduduki olehku?” Ummu
Habibah RA menjawab, “Aku tidak suka alas ini diduduki olehmu, karena ia milik Nabi
saw., sedangkan engkau adalah seorang yang najis dan musyrik.”

la merawikan 65 hadits dari Nabi.

11. Maimunah

Nama lengkapnya Maimunah binti Harits bin Hazn Al-Hilaliyah. Dulu ia bernama Barrah,
lalu Nabi menamainya Maimunah. la lahir di Mekkah tahun 6 sebelum kenabian.

la adalah bibi Khalid bin Walid dan Abdullah bin Abbas. Saudara perempuannya adalah
Ummu Fadhl, istri Abbas bin Abdul Muthalib, paman Nabi. la adalah wanita pertama
yang masuk Islam setelah Khadijah.

Nabi menikahinya tahun 7 H. Beliau menyerahkan mas kawin sebesar 400 dirham kepada
Maimunah.

Maimunah dikenal sangat bersemangat dalam menjalankan hukum Allah.

la merawikan 46 hadits dari Nabi.

Muslimah
B. Anak-anak Rasulullah SAW

1. Fatimah Az Zahra’

Nama lengkapnya adalah Fatimah binti Muhammad bin Abdullah bin abu Muthalib. la
lahir lima tahun sebelum masa diutusnya RasulullahShallallahu Alaihi wa Sallam. la
merupakan putri termuda di antara putri-putri Nabi lainnya. la menikah dengan Ali Ra
pada usianya yang ke 18 tahun. la merupakan ibu dari Hasan, Husain, Ummul Kultsum,
dan Zaenab.

Ketika turun kepada Nabi sebuah ayat (dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan
janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu
dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya
Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan
kamu sebersih-bersihnya) di rumah Ummu Kultsum, maka Nabi memanggil Fatimah,
Hasan dan Husain, dan menjadikan mereka sebagai pengikut, begitu pula Ali yang berada
di belakang Nabi juga dijadikan sebagai pengikutnya pula. Maka berkatalah Nabi “Ya
Allah! Mereka semua ini adalah keluargaku. Hilangkanlah dari mereka segala kotoran,
dan bersihkanlah (sucikanlah) sebersih-bersihnya”. (Diriwayatkan oleh Turmudzi)

Miswar bin Makhramah berkata: aku mendengar Rasulullah Saw berkata di atas mimbar
“bahwasanya Hisyam bin al Mughoyyaroh meminta izin kepadaku untuk menikahkan
anak perempuan mereka dengan Ali bin Abi Thalib. Namun aku tidak menyetujuinya, dan
selanjutnya pun juga tetap tidak menyetujuinya. Kecuali jika Ali bin Abi Thalib bersedia
menceraikan anak perempuanku dan menikah dengan anak-anak mereka. Sesungguhnya
anak perempuanku itu (Fatimah Az-Zahra’) adalah bagian dariku.. ….”(HR Bukhari)

Berkatalah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa wanita paling mulia di surga nanti
adalah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, istri Firaun yang bernama
Asyiah binti Muzakhim, dan Maryam binti Imran. (HR Ahmad)

Diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu Anha, ia berkata “Aku bertemu dengan Fatimah.
la berjalan sebagaimana layaknya Nabi berjalan. Dan di saat ia bertemu dengan
Nabi Sallallahu Alaihi wa Sallam, berkatalah Nabi “selamat datang wahai putriku”, lalu
nabi memintanya duduk di sebelah kanan atau kirinya. Kemudian di saat nabi mengatakan
sesuatu kepadanya, menangislah ia. Maka aku langsung berkata kepadanya “kenapa kamu
menangis?” Namun, di saat nabi mengatakan sesuatu lagi kepada Fatimah, maka ia pun
tertawa riang. Sekali lagi, aku pun berkata kepada Fatimah “aku tidak pernah menjumpai
kebahagiaan yang berdekatan dengan kesedihan sebagai mana hari ini” Maka aku bertanya
kepadanya tentang apa yang telah dikatakan Nabi kepadanya. Berkatalah Fatimah “kamu
jangan menyebarluaskan rahasia ini hingga Nabi wafat nanti.” Lalu aku menanyakan
rahasia itu, maka berkatalah Fatimah” Nabi telah memberi isyarat kepadaku, dan berkata
bahwa Jibril biasanya meminta kepadaku (Nabi) untuk membaca al-Qur’an secara
langsung di hadapannya sekali dalam setahun. Namun pada tahun ini, Jibril memintaku
(Nabi) sebanyak dua kali”, maka menangislah aku mendengar perkataan itu. Sebab, itu

Muslimah
tandanya Nabi akan meninggalkan kita semua. Namun aku merasa sangat bahagia di saat
Nabi berkata kepadaku “relakanlah dirimu menjadi ratu wanita-wanita penghuni surga,
atau menjadi ratu wanita-wanita muslim.” Diriwayatkan oleh Al-Bukhari

Anas Ra berkata “di saat sakit Nabi mulai parah dan berselimut, berkatalah Fatimah
“sakitkah wahai ayah?” Maka berkatalah Nabi kepadanya” ayahmu tidak akan mengalami
kesusahan setelah hari ini.” Dan ketika Nabi wafat, berkatalah Fatimah “wahai ayah,
Tuhan telah mengabulkan permohonanmu. Wahai ayah, surga firdaus adalah tempat
kembalimu. Wahai ayah, Jibril lah yang akan memperhatikanmu.

Dari Aisyah Radhiyallahu Anha Ummul Mukminin (ibunya kaum beriman), berkata “aku
tidak pernah melihat seorang pun yang mampu menyamai Fatimah dalam hal
keserupaannya dengan Nabi. Ketenangan dan keistiqamahannya dalam duduk maupun
berdiri sebagaimana ketenangan dan keistiqamahan Nabi. la di saat masuk ke rumah Nabi,
Nabi langsung berdiri menyambut kedatangannya. Begitu pula di saat Nabi mengunjungi
rumah Fatimah, ia pun beranjak dari tempat duduknya untuk menyambut Nabi, dan
memberikan tempat duduknya kepada Nabi.” (Diriwayatkan oleh Turmudzi).

Ibnul Jauzi berkata “bahwa Rasulullah mempunyai anak perempuan yang dimuliakan oleh
Fatimah, dan mempunyai istri-istri yang lebih dahulu dari Aisyah.”

Fatimah meninggal dunia 6 bulan setelah kematian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa


Sallam. la meninggal dunia dalam usianya yang ke 29 tahun.

2. Zainab

la adalah Zainab binti Muhammad bin Abdul Muthalib. la adalah anak perempuan tertua
Rasulullah saw. Lahir sepuluh tahun sebelum masa kenabian Muhammad. la menikah
dengan anak bibinya sendiri yang bernama Abu As bin Rabi’, yang pada waktu itu masih
berstatuskan kafir. Pada perang Badar, suaminya tertangkap oleh kaum muslimin,
sehingga terjadilah perpisahan antara Zainab dengan suaminya. Namun atas perintah
ibunya (Khadijah), Zainab berusaha memberi tebusan kepada tentara Islam untuk
membebaskan suaminya. Namun, akhirnya Nabi memisahkan ke dua pasangan itu. Nabi
meminta kepada suami Zainab agar rela melepaskan Zainab. Suami Zainab pun akhirnya
memenuhi permintaan Nabi itu. Ini terjadi setelah ia bepergian dengan segerombolan
orang-orang Quraisy ke Mekah.

Suami Zainab pernah melarikan diri dari tahanan kaum muslimin pada saat masa
penaklukan Mekah. Dan di saat ia pergi ke Madinah, Zainab berusaha menjadikannya
sebagai orang bayaran. Maka bersabdalah Rasulullah menyikapi tindakan Zainab itu
“setiap anak pasti menghormati orang tuanya, suamimu tak berhak atas dirimu selama ia
masih dalam keadaan Syirik.”

Muslimah
Zainab dikaruniai dua orang anak, yaitu Ali dan Amman. Ali meninggal pada usia yang
masih sangat belia, sedang Amman lah yang bisa tumbuh menjadi dewasa hingga akhirnya
menikah dengan Khalifah Islam Ali bin Abi Thalib setelah ditinggal mati oleh Fatimah
Az-Zahra’. Zainab meninggal dunia pada tahun 8 H.

3. Ruqayyah

la adalah Ruqayyah binti Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib. Lahir tiga tahun
setelah kelahiran Zainab, tepatnya 20 tahun sebelum Hijriyah. Ibunya adalah Khadijah
yang dijuluki sebagai ibunya orang-orang beriman (Ummul Mukminin). la menikah
dengan Attabah bin Abu Lahab. Namun pada saat turun ayat yang berbunyi “Tabbat Yada
Abi Lahabiu wa Tabb”, maka marahlah abu Lahab dan meminta kepada putranya untuk
menceraikan Ruqayyah, yang pada waktu itu masih dalam keadaan perawan.

Ruqayyah masuk Islam di saat ibunya (Khadijah) masuk Islam. la menikah lagi dengan
Utsman bin Affan. la termasuk orang-orang yang ikut melakukan perpindahan (Hijrah) ke
Habsy selama dua kali; yaitu hijrah ke Habsy yang pertama dan sekaligus hijrah ke Habsy
yang ke dua. Dari pernikahannya dengan Usman bin Affan, ia dikaruniai seorang anak
yang diberi nama dengan Abdullah, namun anaknya itu meninggal dunia pada usia 6
tahun. la di saat hendak dipersiapkan oleh Rasulullah dalam perang Badar, sedang
menderita penyakit campak. Oleh karena itu, Usman bin Affan senantiasa menyertainya
karena penyakitnya itu. la meninggal dunia pada tahun 2 Hijriyah, di saat Rasulullah
masih berada di perang Badar.

C. Para Sahabat dari Kalangan Wanita

1. Asma’ binti Abu Bakar

Nama lengkapnya adalah Asma’ binti Abdullah bin Utsman Abi Bakar As-Sidik. Lahir
pada tahun 27 sebelum Hijriyah, dan termasuk orang-orang pertama yang masuk
Islam (Assabiqun Awwalum). Menikah dengan Zubair bin Awwab yang dikenal sebagai
salah satu dari orang-orang yang telah dijanjikan masuk surga. Bahkan ia merupakan ibu
dari Abdullah bin Zubair yang dikenal sebagai salah satu dari ke empat orang-orang
terkemuka dalam bidang Hadits (al Ibadalah al Arbaah). Maka tidaklah mengherankan
sekali, jika kelahirannya pula merupakan kelahiran pertama yang dirayakan di Madinah.
Dan tak hanya itu saja, ayah, ibu, suami, anak, dan saudara perempuan Asma’ bin abu
Bakar, merupakan sahabat-sahabat Nabi yang setia.

la mempunyai pengalaman yang sangat penting dalam hidupnya. Yaitu di saat ia beranjak
meninggalkan rumah Abu Bakar As-Sidik menuju Madinah bersama Rasulullah. Pada saat
itu, ia tak menemukan sebuah solusi yang dapat menyelesaikan rasa hausnya di saat

Muslimah
melakukan perjalanan jauh bersama para sahabat dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa
Sallam. Ia berkata kepada Abu Bakar bahwa ia tidak menemukan sebuah solusi yang dapat
membantu permasalahan itu kecuali hanya sebuah tekad saja. Maka, menjawablah Abu
Bakar “selesaikanlah permasalahan itu melalui dua hal. Pertama selesaikan rasa hausmu
itu, sedang yang kedua adalah bahwa Hijrah Rasulullah itu harus sampai pada tujuan.”
Dua permasalahan itulah, pada akhirnya dijuluki sebagai prasasti dua kemampuan.

Abu Jahal pernah berkata kepadanya tentang keberadaan ayah Asma’ bin Abu Bakar. la
mengatakan kepada Abu Jahal Bahwa ia tidak mengetahui keberadaan Ayahnya. Abu
Lahab spontan langsung mengusap muka Asma’ dan merampas serta membuang perhiasan
yang senantiasa menghiasi hidungnya.

Kakeknya yang bernama abu Khahah juga pernah meminta kepada Asma’ harta
peninggalan ayahnya setelah melakukan Hijrah bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa
Sallam. la ingin meminta keseluruhan harta itu. Melihat fenomena itu, Asma’ bergegas
menuju sebuah kotak yang penuh dengan batu dan meletakkan tangan kakeknya itu di atas
kotak tersebut. Sehingga sang kakek menyangka bahwa ayah Asma’ telah mewariskan
harta benda yang sangat banyak kepada Asma’.

la merupakan salah satu Sahabat Nabi yang ikut menyaksikan dan mengalami secara
langsung perang Yarmuk. la melakukan perang itu bersama dengan suaminya (Zubair). la
meminta kepada anaknya untuk senantiasa menjadi seorang pemberani dan berkemauan
keras. Ini terbukti di saat Bani Umayyah hendak membunuh anaknya itu. Pada saat itu
sang anak berkata kepada Asma’: bahwa ia takut bernasib sama dengan ahli Syam. Asma’
spontan menjawab perkataan anaknya itu bahwa “apa yang ditakutkan oleh seekor domba
di saat telah di sembelih?” Artinya tidak ada yang perlu ditakutkan di saat nasi telah
menjadi bubur, yaitu sebuah keharusan untuk melawan Bani Umayyah.

Dan ketika Al Hijaj bin Yusuf Al Thaqfi yang telah membunuh anaknya mengunjunginya
seraya berkata kepadanya “bagaimana mungkin engkau menganggapku sebagai musuh
Allah? Maka menjawablah Asma’ “di saat engkau telah membunuh anak kandungku itu,
maka akhiratmu pasti akan merugi!. Spontan al Hijaj bin Yusuf membela dirinya, dengan
berkata “anakmu telah melakukan kekafiran di muka bumi ini.” Namun Asma’
membantah perkataan tersebut. la berkata dengan sangat lantang “engkau benar-benar
seorang pendusta!.”

Ia meriwayatkan 56 Hadits Nabi, dan 26 di antaranya terdapat dalam Shahih Bukhari dan
Muslim. Asma’ bin Abu Bakar meninggal dunia di Mekah pada usia seratus tahun.
Anehnya pada usia yang begitu lanjut itu, tak ada satu pun giginya yang patah, dan
otaknya masih sangat sehat dan berjalan sebagaimana mestinya, tidak sebagaimana orang-
orang tua lainnya. Ia merupakan orang Muhajirin yang terakhir meninggal dunia.

Muslimah
2. Asma’ binti Umais

Nama lengkapnya adalah Asma’ binti Umais bin Maad bin Haris bin Tayim bin Haris al
Khats’ami. la juga termasuk salah satu orang-orang yang awal masuk Islam. la ikut serta
melakukan Hijrah menuju Habsy. Hijrah itu ia lakukan bersama suaminya yang bernama
Ja’far bin abi Thalib, dan kemudian kembali dari hijrah bersamanya pula pada tahun 7
Hijriah.

la pernah bersitegang dengan Umar Ra. Yaitu di saat Umar Ra mendatangi Khafshah
anaknya yang pada waktu bersama dengan Asma’. la langsung bertanya “siapakah dia?”.
Menjawablah Khafshah, “ia adalah Asma’ binti Umais.” Lalu Umar bertanya lagi “apakah
dia seorang yang berkebangsaan Habsy?”. Asma’ langsung menjawab “iya”. Berkatalah
Umar untuk kesekian kalinya “Hijrah kita lebih dahulu daripada hijrahnya bangsa kalian,
dan kita mempunyai kedekatan dengan Rasulullah daripada kalian.” Mendengar perkataan
itu, ia langsung berujar, “demi Allah, perkataanmu itu tidak benar.” Kalian lebih
diuntungkan di saat bersama dengan Rasulullah. Rasulullah lah yang telah memberi
makanan kepada kalian dan juga telah mengeluarkan kalian dari kebodohan. Ini berbeda
sekali dengan kita yang berada di tempat yang sangat jauh, sehingga tak memungkinkan
Rasulullah memberi kita makan maupun minum. Kita selalu dihinggapi rasa ketakutan dan
kesedihan lantaran keimanan kita kepada Rasulullah. Ini semua murni karena keimanan
kita kepadanya. Dan perkataanmu (Umar) tadi akan aku laporkan kepada Rasulullah apa
adanya, tanpa mereduksi atau menambahi sedikitpun dari perkataanmu tadi.

Kemudian, di saat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam datang menghampiri mereka,


berkatalah Asma’ “ya Rasulullah Umar telah berkata semacam itu.” Berkatalah
Rasulullah, “apa yang kamu katakan kepada Umar?”. Menjawablah Asma’ dan
mengatakan kepada Rasulullah sebagaimana yang telah ia katakan kepada Umar.
Menjawablah Rasulullah “tidak ada orang yang lebih berhak atas diriku dari pada kalian.
Umar dan Sahabatnya hanya melakukan Hijrah sekali saja, berbeda dengan kalian yang
telah melakukan Hijrah bersamaku sebanyak dua kali.” Mendengar perkataan itu, Asma’
dan orang-orang yang telah melakukan Hijrah ke tanah Habsy merasa bergembira sekali.

Di saat Ja’far bin Mu’nah meninggal dunia, Asma’ kemudian menikah dengan Abu Bakar.
Namun di saat abu Bakar meninggal dunia juga, Ali bin Abi Thaliblah yang menjadi
suaminya yang terakhir. la merupakan seorang sahabat yang pernah melakukan Hijrah
selama dua kali, menjadi istri dua Khalifah Islam yang kedua-duanya mati dalam keadaan
syahid, dan juga merupakan salah seorang pengikut rasul yang menjalani shalat
menghadap dua Kiblat; yaitu Baitul Maqdis dan Mekah.

Anak-anaknya yang bernama Abdullah bin Ja’far dan Muhammad bin abi Bakar adalah
dari suami Abu Bakar As-siddik, sedang Muhammad dan Yahya adalah dari suami Ali bin
abi Thalib. Anaknya yang paling sombong adalah Muhammad bin Ja’far dan Muhammad
bin abi Ja’far Ini terlihat di saat keduanya saling mengatakan satu sama lain “aku lebih
mulia daripada kamu. Ayahku lebih baik daripada ayahmu.” Perkataan itu dilontarkan di
hadapan ibu dan All bin abi Thalib. Di saat mendengar ungkapan itu, Ali meminta kepada

Muslimah
Asma’ untuk meluruskan kedua anaknya itu. Asma’ langsung berkata “aku tak pernah
melihat pemuda Arab yang lebih baik dari Ali, dan juga tak pernah melihat orang tua yang
lebih arif daripada Abu Bakar.” Mendengar perkataan itu, Ali langsung mengatakan
“kamu tak pernah mewariskan sesuatu kepadaku, apabila kamu mengatakan sesuatu yang
tak seperti yang kamu katakan tadi, maka aku pasti akan membencimu.”

Kemuliaan derajat Asma’ terlihat pula dari perkataan Nabi bahwa Maimunah istri Nabi,
Ummu Fadil istri Abas, Asma’ binti Umais istri Ja’far dan Istri Hamzah adalah
sekelompok wanita yang dijuluki sebagai persaudaraan wanita-wanita beriman.” Maka
tidak mengherankan sekali jika Umar bin Khaththab juga pernah meminta kepadanya
untuk menafsirkan mimpinya. Asma’ juga merupakan seorang perawi Hadits. la
meriwayatkan Hadits Nabi sebanyak 60 Hadits.

3. Asma’ binti Yazid

Nama lengkapnya adalah Asma’ binti Yazid bin Sukun bin Rafi’. la termasuk dari
golongan kaum Anshar. la juga dijuluki sebagai juru bicara kaum wanita, sebab tak ada
satupun wanita Arab yang mampu menandingi kepiawaiannya dalam berkhutbah. la
termasuk wanita yang sangat pemberani dan tangguh. la terjun langsung dalam perang
Yarmuk dan berhasil membunuh 9 tentara Romawi yang sedang berada dalam
persembunyiannya.

la pernah mendatangi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang sedang bersama para
Sahabatnya. Asma’ binti Yazid berkata kepada Rasulullah “Engkau bagaikan ibu dan
sekaligus ayahku wahai Rasul.” Keberadaanku di sini adalah untuk mewakili para wanita.
Bahwasanya Allah telah mengutusmu untuk segenap laki-laki dan perempuan. Kami
mengimanimu dan juga Tuhanmu. Aku akan memberitahukan kepadamu, bahwa kita
kaum wanita tak mempunyai gerak yang leluasa tak sebagaimana laki-laki. Amal
perbuatan kami hanya sebatas amal perbuatan yang bersifat rumah tangga saja, tempat
pelampiasan nafsu kalian dan sekaligus untuk mengandung dan melahirkan anak-anak
kalian pula. Ini berbeda dengan kalian semua wahai kaum laki-laki! Kalian melebihi kami
dalam hal berjamaah, menjenguk orang sakit, mengantarkan mayat ke kuburan, Haji, dan
yang lebih utama lagi adalah kemampuan kalian untuk melakukan Jihad di jalan Allah.
Amal perbuatan kami di saat kalian pergi Haji atau melakukan Jihad hanya sebatas
menjaga harta, mencuci pakaian, dan mendidik anak-anak kalian pula. Oleh karena itu,
kami ingin bertanya kepada kalian, apakah amal perbuatan kami itu pahalanya bisa
disetarakan dengan amal perbuatan kalian?

Mendengar perkataan tersebut, Rasulullah sempat tersentak dan seketika itu langsung
menoleh kepada para sahabatnya, seraya berkata “apakah kalian pernah mendengar sebuah
perkataan yang lebih baik daripada perkataan seorang wanita yang sedang membahas
permasalahan-permasalahan agamanya?

Muslimah
Menjawablah para sahabat Rasul: ‘wahai Rasul kami sama sekali tidak menyangka kalau
para wanita mempunyai keinginan yang mulia semacam itu.’ Kemudian Rasulullah
menoleh kepada Asma’ bin Yazid, seraya berkata: “engkau pahamlah dan sampaikanlah
apa yang akan aku katakan nanti kepada wanita-wanita selainmu. Bahwa perlakuan baik
salah seorang di antara mereka kepada suaminya, dan meminta keridhaan suaminya,
mengikuti (patuh terhadap) apa yang ia disetujuinya, itu semua setimpal dengan seluruh
amal yang kamu sebutkan yang dikerjakan oleh kaum lelaki”. Mendengar jawaban Nabi
itu, Asma’ langsung beranjak pergi meninggalkan tempat itu seraya mengucapkan tahlil
dan takbir merasa gembira dengan apa disabdakan Rasuslullah shalallahu ‘alaihi wa
sallam.

la juga termasuk periwayat Hadits Nabi. Banyak sekali para perawi Hadits yang
meriwayatkan Hadits darinya. la telah meriwayatkan sekitar 80 Hadits Nabi.

4. Nasibah binti Ka’ab

Nama lengkapnya adalah Nasibah binti Ka’ab bin Umar bin Auf Al-Khazrajiah. la
merupakan wanita pertama kaum Anshar yang bersedia berikrar kepada Nabi.

la pernah mendatangi Nabi dan berkata “aku tidak pernah melihat segala sesuatu kecuali
hanya diperuntukkan kepada laki-laki. Keberadaan wanita sama sekali tak pernah
dianggap.” Menanggapi perkataan Nasibah itu, turunlah ayat yang
mengatakan:” Sesungguhnya laki-laki dan perempuan-perempuan muslim, laki-laki dan
perempuan-perempuan mukmin, laki-laki dan perempuan-perempuan yang taat, laki-laki
dan perempuan-perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan-perempuan yang
penyabar, laki-laki dan perempuan-perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan-
perempuan yang rajin bersedekah, laki-laki dan perempuan-perempuan yang berpuasa,
laki-laki dan perempuan-perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan
perempuan-perempuan yang senantiasa menyebut (nama) Allah, telah disiapkan oleh
Allah sebuah ampunan dan pahala besar” (al Ahzab: 35).

la ikut serta dalam beberapa perang besar bersama Nabi. la berperan melayani dan
membantu para mujahidin, memberi dorongan kepada orang-orang yang sedang
berperang, menghilangkan keraguan pada diri mereka, dan bahkan di saat waktu
memungkinkan ia juga tak ragu lagi untuk menghunus senjata dan berperang sebagaimana
layaknya seorang perwira.

Ia bersama dengan suami dan anaknya terjun pula dalam perang Uhud. la sempat terluka
parah di saat kemenangan mulai berada di pihak orang-orang kafir. Pakaiannya tercabik-
cabik karena sayatan senjata. la berada dalam naungan Rasulullah dalam keadaan tubuh
penuh luka, akibat pukulan dan lemparan anak panah. Luka dalam tubuhnya sekitar 12
luka. Pada waktu itu, ibunya senantiasa mendampingi dan berusaha membalut luka-luka
Nasibah itu.

Muslimah
Dan di saat Nabi hendak dibunuh oleh Ibnul Qum’ah, Nasibah merupakan orang yang
melindungi Nabi. la melawan Ibn Qum’ah yang hendak membunuh Nabi dengan
melontarkan beberapa pukulan kepadanya. Ibnul Qum’ah pun membalas pukulan-pukulan
itu. la memukul pundak Nasiah hingga mengakibatkan goresan pada punggungnya.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah membicarakannya: “bahwa derajat


Nasibah pada hari ini lebih tinggi daripada derajat siapa pun, aku (Nabi) selalu melihatnya
ditempat manapun, aku senantiasa melihat Nasibah sedang berperang di belakangku.”
Nabi juga pernah berkata kepada anak Nasibah yang bernama Abdullah: “semoga Allah
senantiasa memberkati kalian semua yang tergolong Ahli Bait. Derajat ibu mu lebih tinggi
daripada derajat siapa pun. Derajat suami ibumu juga lebih tinggi daripada derajat siapa
pun. Dan derajatmu pula lebih tinggi daripada derajatnya siapa pun. Allah benar-benar
telah memberkati kalian semua yang termasuk Ahli Bait.” Kemudian Nasibah berkata
kepada Rasulullah: “wahai Rasul, berdoalah kepada Allah agar kami bisa menyertaimu di
surga nanti.” Berdoalah Rasulullah, “Ya Allah jadikanlah mereka teman-temanku di surga
nanti.” Mendengar doa Rasulullah itu, Nasibah berkata: “aku tidak akan merasa resah
setelah ini, dan aku tak akan merasa menderita karena permasalahan-permasalahan
duniawiku. ”

Pada hari Hudaibiyah, di saat kaum muslimin mendengar sebuah isu bahwa Utsman telah
dibunuh oleh kaum Quraisy di tengah-tengah Nabi sedang menyumpah orang-orang yang
akan masuk Islam, Nasibah serentak berdiri dengan mengambil sebuah tongkat dan
menjadikannya sebagai senjata. la memperuncing tongkat tersebut dengan pisau agar bisa
dijadikan sebagai senjata yang mematikan.

Dan pada hari Khunain, ia pun ikut terjun dalam peperangan untuk semakin mengukuhkan
kemenangan umat Islam. la membunuh seorang pemuda dari kabilah Hawazin yang
sedang dalam keadaan terjepit, merebut senjatanya dan kemudian berperang lagi dengan
menggunakan senjata itu.

la ikut pula memerangi orang-orang yang keluar dari agama Islam pada masa
pemerintahan Abu Bakar. la juga ikut serta dalam perang Yamamah bersama Khalid bin
Walid untuk menghadapi Musailamah ‘sang pendusta’.

Namun, Musailamah malah memotong tangan Nasibah, dan melukainya sebanyak 10 luka,
yang akhirnya menjadikan Abu Bakar menganjurkan agar Nasibah dibawa pulang. Dan
tak hanya itu saja, Musailamah juga mampu membunuh anak Nasibah yang bernama
Habib bin Zaed setelah terlebih dahulu ia potong tangan dan kakinya.

Salah satu Hadits yang diriwayatkan oleh Nasibah adalah: bahwasanya Rasulullah pernah
mendatangi Nasibah seraya menawarkan makanan kepadanya. Rasulullah Shallallahu
Alaihi wa Sallam berkata kepadanya “makanlah”, menjawablah Nasiah “aku sedang dalam
keadaan berpuasa.” Mendengar perkataan itu Rasulullah langsung bersabda “para
Malaikat akan selalu melakukan shalat bagi orang-orang yang berpuasa sehingga mereka
senantiasa merasa kenyang akibat shalat yang dilakukan oleh para Malaikat tersebut.

Muslimah
5. Al Khansa’

la adalah binti Umar bin Kharis bin Syarit. la masuk Islam di saat mendatangi Nabi
bersama dengan Bani Syulaim. Semua pakar keilmuan telah sepakat bahwa tak ada
seorang wanita pun, baik sebelum Khansa’ maupun sesudahnya, yang dapat menandingi
kepiawaiannya dan bersyair. Ia dinobatkan sebagai penyair paling mahir di Arab secara
mutlak.

Dan setelah ia masuk Islam, ia pun berujar “dulu aku menangisi kehidupanku, namun
sekarang, aku menangis karena takut akan siksa neraka.” Keempat anaknya pernah diberi
hadiah oleh Umar bin Khathab, masing-masing dari mereka sebanyak 400 dirham.

Al Khansa’ terlibat pula dalam sebuah perang suci bersama ke empat anak laki-lakinya. la
berkata kepada mereka “wahai anak-anakku! Kalian semua masuk Islam secara taat, tanpa
ada tekanan dari siapapun. Kalian sendiri yang telah memilih hijrah. Demi Allah yang tak
ada lagi Tuhan selain-Nya, kalian semua adalah laki-laki yang berasal dari satu wanita.
Jangan kamu permalukan ayah, bibi, saudara, dan garis keturunanmu. Kalian semua telah
mengetahui betapa besar pahala yang akan diberikan Allah kepada orang-orang yang
memerangi orang-orang kafir. Ketahuilah kalian semua! Bahwa kehidupan akhirat lebih
utama daripada kehidupan dunia.

Allah Subhanahu wa Taala Berfirman “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah


kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu)
dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” (AH Imran: 200), dan insya
Allah kalian semua akan menyambut pagi dengan , selamat. Dan pada saat menjelang
siang, berangkatlah kalian memerangi orang-orang kafir dengan penuh kecermatan. Allah
akan selalu menjadikan musuh-musuhnya itu sebagai kaum yang kalah. Dan apabila kalian
semua melihat peperangan telah berkecamuk, hadapilah dengan penuh semangat dan
kelapangan hati.”

Berangkatlah anak-anak Al Khansa’ menuju medan perang dengan memegang teguh


nasihat-nasihat dari ibunya. Mereka semua akhirnya mati terbunuh dalam peperangan itu.
Namun, itu tak menjadikan Al Khansa’ merasa sedih. Mendengar kabar ten tang kematian
anak-anaknya di medan perang, ia malah bersyukur kepada Allah. la berkata “segala puji
bagi Allah yang telah memuliakanku dengan cara mematikan anak-anakku dalam keadaan
syahid. Aku memohon kepada Allah agar bersedia menyatukanku kembali dengan anak-
anakku di surga nanti.

Al Khansa’ meninggal dunia pada tahun 24 Hijriyah.

Muslimah
6. Ummu Sulaim

Nama aslinya adalah Syahlah binti Mulhan bin Khalid bin Zaid bin haram. la berasal dari
kaum Anshar yang berkebangsaan al Khuzrajiah. la merupakan salah satu dari orang-
orang yang awal masuk Islam.

Saudara laki-lakinya adalah Abdullah bin haram yang dianggap sebagai salah satu Qura’
(orang-orang yang menghafal al Qur’an) yang meninggal dunia secara syahid di Bi’ri
Maunah.

Saat dipinang oleh abu Thalhah, ia berkata kepadanya “demi Allah tak ada satu pun alasan
yang bisa membuatku menolak lamaranmu itu. Namun, sangat disayangkan sekali, engkau
adalah seorang kafir, sedang aku adalah seorang muslim. Oleh karena itu, aku tak
mungkin menikah denganmu. Seandainya engkau bersedia masuk Islam, itu akan aku
anggap sebagai mas kawinku, dan aku tak akan meminta selain dari itu”. Mendengar
perkataan itu, abu Thalhah bersedia masuk Islam, dan kelslamannya itu dianggap sebagai
mas kawin bagi Ummu Sulaim.

la pernah datang bersama dengan anaknya kepada Rasulullah agar anaknya yang bernama
Malik bin Anas bisa menjadi pembantu Rasul. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa
Sallam menerima tawaran itu. Akhirnya, Malik bin Anas mengabdikan dirinya kepada
Rasulullah selama sepuluh tahun.

Di saat anak bin Thalhah dari istri Ummu Sulaim meninggal dunia, Ummu Sulaim berkata
kepada keluarganya “janganlah kalian semua membicarakan anak abi Thalhah, sebelum
aku sendiri mulai membicarakannya.” Pada saat menjelang Isya’, akhirnya abu Thalhah
pun tiba. la lekas makan dan minum, dan Ummu Sulaim pun melayaninya sebaik
mungkin. Setelah Abu Thalhah merasa kenyang dan merasa puas atas pelayanan istrinya
itu, Ummu Sulaim pun mulai berkata kepadanya “ya abi Thalhah! Apabila ada sebuah
kaum memamerkan kepada ahli bait tentang aib mereka, dan menuntut ahli bait juga harus
memamerkan aib mereka, maka apakah ahli bait berkewajiban mencegah rencana mereka
itu? Menjawablah abu Thalhah pertanyaan tersebut “tidak!.” lalu berkatalah Ummu
Sulaim, itulah yang menimpa anakmu sekarang ini.” Marahlah abu Thalhah mendengar
perkataan Ummu Sulaim itu. la langsung berkata kepada Ummu Sulaim: “tinggalkan aku
dan jangan engkau datang lagi ke sini tanpa membawa berita tentang keadaan anakku itu.”
Kemudian datanglah Rasulullah menghampiri percekcokan tersebut. Rasulullah bertanya
tentang permasalahan apa yang sebenarnya terjadi di antara kedua suami istri tersebut.
Setelah mengetahui apa yang sebenarnya, Rasul pun berkata “semoga Allah senantiasa
memberikan kalian berdua berkah atas aib seseorang yang berusaha kalian tutup-tutupi.”

Ummu Sulaim mempunyai peran yang sangat nyata pada saat terjadi perang Uhud. la
selalu membawa sebuah pisau besar dan sekaligus berperan sebagai juru medis. la selalu
menyediakan minuman bagi orang-orang yang sedang melakukan perang. la bahkan turut
serta dalam perang Hanin, walaupun saat itu ia masih dalam keadaan hamil. Di tangannya
selalu terhunus sebuah pisau besar. Ini terlihat dalam salah satu Hadits yang diriwayatkan

Muslimah
oleh Anas Radhiyallahu Anhu, la berkata: “bahwa Ummu Sulaim selalu menghunus
sebuah pisau besar dalam keadaan mengandung. Abu Thalhah melihat fenomena tersebut,
dan ia pun berkata kepada Rasulullah ” wahai Rasul! Ummu Sulaim senantiasa
menghunus sebuah pisau besar.” Kemudian Nabi bertanya kepada Ummu Sulaim tentang
tujuannya membawa sebuah pisau besar pada saat mengandung. Ia pun menjawab
pertanyaan Rasulullah itu: “pisau besar ini aku tujukan untuk merobek perut orang-orang
musyrik di saat berdekatan denganku nanti. Sebab, mereka pasti mendekatiku pada saat
aku melahirkan di medan perang nanti.” Mendengar perkataan itu, Rasul pun tertawa
riang.

---oo0oo---

Sumber: Tim Kajian Manhaj Tarbiyah (dakwatuna.com)

Muslimah