Anda di halaman 1dari 10

TUGAS KIMIA SINTESA

SENYAWA OBAT “AMFETAMIN”

SMESTER 3,KLAS 3B
DI SUSUN OLEH :
AHMAD ADNAN RUSNA : 0804015006

UNIVERSITAS UHAMKA
KLENDER, JAKARTA TIMUR
DRUGS
Drugs didefinisikan sebagi zat-zat yang mempengaruhi keadaan jiwa (psyche)
yang tidak digunakan untuk pengobatan. Sejak dahulu manusia sering menggunakan
obat-obatan yang mempengaruhi suasana jiwa, pikiran dan perasaan.masalah
penyalahgunaan sama tuanya seperti peradaban itu sendiri. Pemicu penyalahgunaan obat
yang mengakibatkan ketergantungan terbagi dari 3 faktor bersamaan, yakni tersedianya
obat-obat tersebut, sifat kepribadian yang mudah terpengaruh dan tekanan-tekanan social.

Istilah “drugs” asal mulanya bersumber dari bahan-bahan obat yang dikeringkan,
tetapi kemudian diperluas sampai obat pada umumnya. Sekarang ini istilah tersebut
terutama terbatas pada obat-obat yang tercakup dalam definisi tersebut diatas. Sejak
tahun 1969, kecendrungan penyalahgunaan drugs atau obat-obat narkotik dan zat adiktif
(NAZA) semakin bervariasi. Dari morfin dan ganja/hashish menjadi brturut-turut obat
penenang (psikotropika golongan IV), heroin (putau), ectasy dan shabu-shabu. Yang
terakhir ini adlah drug dengan dasar amfetamin.

Jumlah penyalahgunaan NAZA di Indonesia berjumlah sekitar 130.000 orang dari


200 juta penduduk dengan peredaran k.l Rp. 390 miliar per hari. Angka 130.000 ini
merupakan hanya bagian dari fenomena gunung es, jadi angka sebenarnya adalah jauh
lebih besar. Obat-oabt terlarang ini umumnya di selundupkan ke Indonesia dari jalur
distribusi yang terkenal dengan sebutan Segitiga Emas (Golden Triangle) yang terletak
diantara Thailand, Myanmar, Laos, dan Cina (heroin dan candu). Ectasy dipasok dari
kawasan Eropa seperti Belanda yang merupakan tempat penghasil dan pemasok ectasy
terbesar. Baru-baru ini di Indonesia terbongkar dua pabrik ectasy terbesar di Asia.

Dengan demikian dewasa ini Indonesia bukan saja “pengimppor” tetapip juag
merupakan produsen dan ekspportir ilegaldari obat psikotropik ini sampai keggiatan
gelap ini diberangus oleh polisi. Shabu-shabu didatangkan dari Guangdong (China) dan
kokain (juga disebut crack, coke, atau rock) dari Peru. Ganja (cannabis, marijuana)
berasal dari daerah Aceh, yang tumbuhannya terdapat dihutan-hutan
Ketergantungan, Adiksi dan habituasi.
Sebelum dilanjutkan kedalam pembahan penyalahgunaan obat (drug abuse),
terlebih dahulu akan di uraikan definisi beberapa istilah yang berhubungan dengan hal
ini. “Drug abuse” 9penyalahgunaan berarti penggunaan berlebihan yang terus-menerus
ataupun kadang-kadang dari suatu obat secara tidak layak, yakni menyimpang dari
indikasi pengobatan yang lazim. Adiksi (“addiction”, ketagihan) dan habituasi
(kebiasaan) adalah istilah ang berhubungan erat dengan abuse. Untuk kedua istilah ini,
WHO dalam laporan ke-18nya 1970 mengunakan istilah “drug dependence”
(ketergantungan). Namun dalam praktek masih sering masih sering digunakan istilah
adiksi untuk melukiskan ketergantungan yang sangat hebat.

Ketergantungan adalah suatu kedaan fisik dan/ psikis, yang diakibatkan oleh
interaksi antara suatu makhluk hidup dan satu atau lebih obat. Keadaan ini ditandai oleh
perilaku yang terdorong oleh prilaku suatu hasrat kuat untuk terus menerus atau periodic
menggunakan obat tertentu. Tujuannya adalah untuk menyelami efek-efek psikisnya
untuk menghindari gejala abstinensi, karena bila penggunaanya dihentikan segera akan
muncul efek “withdrawal” yang sangat tidak nyaman. Hasrat ini menguasai seluruh
pikiran dan tingkah laku si pecandu dan keinginannya untuk memperoleh obat tersebut
sangat kuat sehingga melebihi kebutuhannya akan makan, tidur, seks, dan membuatnya
bertindak asosial atau criminal. Kemungkinan timbulnya ketergantungan berdasrkan
beberpa factor seperti jenisnya obat/drugs, cara penggunaanya dan individunya.

Kecepatan absorpsi oleh tubuh, misalnya pemberian melalui injeksi intravena atau
menghisapnya sebagai rokok (kokain, heroin) meningkatkan ketergantungan. Berlainan
dengan ketergantungan, pada habituasi seseorang dapat mnghentikan kebiasaanya
(misalnya minum kopi) tanpa menimbulkan konsekuensi yang parah. Ada dua jenis
ketergantungan, yakni ketergantungan fisik dan ketergantungan psikis, juga fenomena
ketergantungan silang.
1. Ketergantungan fisik
Bercirikan terjadinya gejala abstinensi bila penggunaan obat kadang-kadang
menimbulkan suatu efek “rebound” yang berlebihan. SSP mengunkan zat sejenis
morfin (endorfin) sebagai neurotransmitter yang produksinya oleh tubuuh
dihentikan.

2. Ketergantungan psikis
Bercirikan terjadinya gejala abstinensi psikis bila pemberian obat dihentikan,
karena telah terjalin suatu ikatan psikis yang kuat antara si pemakai dan obat.
Penggunaan drugs dapat menciptakan suatu keadaan seolah-olah seseorang dapat
melepaskan diri dari keadaan konflilk dan melarikan diri dari kesulitan. Namun
bila penggunaannya dihentikan, segala masalah dan kesulitan akan timbul
kembali, sehingga untuk dapat melupakan penggunaannya harus dilanjutkan terus.
Dengan perkataan lain, secara mental ia tergantung dari penggunaan drugs. Hasrat
kuat akan oobat akan menimbulkan gejala mudah teriritasi dan kegelisahan, tetapi
dapat pula meningkat menjadi kelakuan asosial dan tindakan kriminal untuk
memperoleh obat. Pada drugs yang bersifat adiktif, ikatan psikis demikian kuat
sekali dan dapat bertahan lama (sampai bertahun-tahun), juga setelah obat
dihentikan

Faktor-faktor penyebab, singkatnya ketergnatungan psikis didasarkan atas hasrat untuk


terus-menerus menggunakan drugs dengan tujuan kenikmatan atau guna menghilangkan
ketegangan dan perasaan tidak nyaman. Obat-obat yang menimbulkan ketergantungan
psikis pada umumnya bekerja terhadap otak dan menimbulkan efek sebagai berikut :
- menghilangkan / mengurangi ketegangan dan kecemasan
- memberikan perasaan nyaman
- mmenimbulkan perasaan meningkatnya kemampuan fisik maupun mental
-
Batasan antara ketergantungan fisik dan psikis tidak selalu jelas, misalnya dihentika
merokok dapat mengakibatkan suatu beban mental mental bagi seorang perokok berat
yang dapat menimbulkan gejala fisik, seperti gangguan pencernaan dan gemetar (tremor).
Mekanisme adiksi
Ada indikasi kuat bahwa terjadinya toleransi dan ketergantungan berkait erat
dengan aktivasi dari system dopaminerg di otak. Semua zat yang bersifat adiksi berhasiat
meningkatkan jumlah dopamine secara akut, yang dihubungkan dengan efek eufori,
labilitas emosiaonal, kekacauan dan histeri. Misalnya Heroin, amfetamin, marihuana,
alcohol, nikotin, dan kofein mencetuskan pelepasan dopamine (berlebihan), sedangkan
kokain menghambat re-uptakenya.

Lebih dari sepuluh neurotransmitter lain, antaranya noradrenalin dan serotonin


memegang peranan pula pada adiksi, tetapi pengaruhnya jauh lebih ringan. Kadar
dopamine yang terlalu tinggi dapat mengakibatkan halusinasi dan psikosis akut, seperti
pada schizophrenia. Halusinasi adalah suatu pengalaman (panca) indra (ssensory
perception) tanpa adanya rangsang sensorik (sensory stimulasion). Pada umumnya gejala
halusinasi merupakan suatu gejala psikotik.

Pengobatan adiksi
Pengobatan ketagihan terutama ditujukan pada dua aspek, yaitu penghentiyan
penggunaan (withdrawal) dan rehabilitasi social pasien. Pada pengobatan harus
diperhatikan beberapa factor yaitu:
1. Taraf ketergantungan fisik penderita harus ditelaah
2. Penderita harus diberika drugs lain (metadon atau agonis-a2adrenerg seperti
klonidin) untuk menekan gejala abstinensiserius sambil lambat-laun
mengurangin dosisnya (terapi substitusi)
Penggolongan obat,

Senyawa amfetamin termasuk kedalam golongan obat psikostimulansia, ketergantungan


fisik tidak begitu kuat (amfetamin,kokain). Toleransi dapat terjadi ,misalnya pada
amfetamindan kokain, juga nikotin dan kofein juga termasuk kelompok ini.

AMFETAMIN

Nh2

C C
C

Amfetamin

C18H26N2 Bm 368,49

Amfetamin mengandung tidak kurang dari 99,0% C18H26N2 dihitung terhadap zat

yang telah dikeringkan,

Pemerian serbuk hablur,putih ; tidak berbau ; agak pahit ; disertai rasa tebal

Kelarutan, Larut dalam 9 bagian air, dalam 515 bagian etanol; praktis tidak larut

dalam eter.

Identifikasi.

(A) Larutkan dalam 1gr dalam 50 ml air, + kan 10 ml NaOH 1N + 0,5 ml Benzoil

clorida(p) tiap kali, hingga tidak terbentuk endapan. Hablurkan kembali 2 kali

dengan etanol(p) 50%; suhu lebur hablur lebih kurang 135C


(B) Larutkan dalam 2 mg dala 4 ml air +kan 1 ml HCl 1N, 2ml nitralinina diazotasi

LP, 4 ml NaOH 1N dan 2 ml n-butanol p, kocok biarkan memisah: terjadi warna

merah dalam lapisan butanol (perbedaan dari metal amfetamin)

(C) Larutkan 2% tidak optic aktif (perbedaan dari deksamfetamin)

Keasaman-Kebasaan; Larutkan 500mg dalam 10 ml air, titrasi dengan HCl 0,01 N LV

atau NaOH 0,01 N LV dengan indicator merah metal LP,diperlukan tidak lebih dari 0,1

ml HCl0,01 N atau 0,1 ml NaOH 0,01 N

Penetapan kadar; Timbang seksama lebih kurang 400 mg, larutkan dalam 120 ml air +

kan 2ml NaOH 1 N, destilasi ke dalam 50 ml HCL 0,1 N LV menggunakan indicator

merah metil.

Wadah dan penyimpanan ; Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya

Amfetamin termasuk kelompok psikostimulansia yang bercikan menstimulasi SSP

dan memperkuat pernapasan yang di hambat oleh okbat-obat lain. Kelompok senyawa

amfetamin disebut wekamin, meliputi metamfetamin (“speed”), MTA dan ectasy (XTC)

metilfenidat, Pada waktu perang dunia ke-II senyawa ini digunakan untuk efek

stimulansia antara lain untuk meningkatkan daya tahan prajurit dan penerbang,

menghilangkan rasa pulih, menghilangkan rasa kantuk maupun lapar dan meningkatkan

kewaspadaan dan aktifitas, adrenergic. Disamping ini berdasarkan efek

simpatomimetikperifealnya zat ini juga meningkatkan tekanan darah dan rate jantung,

yang dapat menyebabkan stroke, maupun serangan jantung.

Zat ini juga berdaya melepaskan dopamindan norepinefrin dari ujung-ujung saraf

seperti memberikan efek seperti amfetamin. Sesuai perang zat ini juga disebut “pep-

pillis”, seringkali disalah digunakan oleh mahasiswa dan pengemudi mobi trukuntuk
memberikan rasa euforiaserta menghilangkan rasa kantuk dan letih. Dikalngan atlet

sering digunakan sebagai “doping” untuk meningkatkan prestasi yang melampaui

kemampuan normalnya. Keadaan ini tidak wajar dan berbahaya bila disadari perasaan

letih merupakan suatu peringatan, suatu pertanda, tercapainya batas maksimum

kemampuan seseorang.

Paksaan untuk berprestasi melebihi kemampuan batas dapat menyebabkan

kaeadaan (“exhaustion”), yang membahayakan kesehatan . Overdose juga dapat

menimbulkan kekacauan pikiran, delirium, halusinasi, perilaku ganas dan juga aritmia

jantung, yang dapat merupakan masalah serius. Untuk mengatasi masalah ini digunakan

sedative misalnya, diazepam. Ktergantungan psikis ataupun fisik dan toleransi dapat

terjadi dengan cepat pada pengguna kronis. Bila penggunaan dihentikan dengan

mendadak, timbul gejala withdrawal seperti perasaan letih dan mengantuk yang

berlangsung sampai 2-3 hari. Mereka yang semula menggunakan zat ini sewaktu depresi,

setelah menghentikan pemakaian akan menjadi lebih parah depresinya sampai menjurus

kepercobaan bunuh diri. Oleh karena itu pengguna kronis harus dirawat dirumah sakit

untuk menghetikan penggunaan zat-zat ini.

Obat-obat dari kelompok amfetamin terutama memicu pelepasan noradrenalin dan

menghambat re-upteknya. Akibatnya antara lain peningkatan frekuensi jantung dan

tekanan darah. Euforia terutama disebabkan oleh meningkatnya dopamine bebas yang

disusul oleh perasaan lelah serta depresi yang dapat berlangsung berminggu-mingggu.

Peningkatan DA juga bertanggung jawab atas gejala ketagihan dan perubahan tingkah

laku. Masa paruh amfetamin dan metil-amfetamin(“speed”) masing-masing 10 dan 5 jam.

Ketergantungan lebih bersifat psikologis dari pada fisikologis.


Party-drug MTA (4 methylthioamfetamin, “flatliner”) telah dipasarkan (1997)

sebagai drug antidepresi dan pep-pill. MTA ternyata berbahya dan telah mengakibatkan

sejumlah kematian di Inggris, mungkin akibat dikombinasikan dengan alcohol atau XTC.

Amfetamin mempunyai efek adrenergic yang meliputi vasokonstriksi, bronchodilatsi

(agak lemah), midriasis, dan kontraksi sphincter kandung kemih. Berhubungan atas sifat

adiksinya, dibanyak Negara, termasuk Belanda, obat-obat ini dijual atas resep dan diatur

secara hokum dalam undang-undang narkotika.

Lama Penggunaannya
Catatan penting
Singkat Lama/intensif
Amfetamin Kewaspadaan Gelisah, mudah Kemungkinan
(wekamin) meningkat, Perasaan tersinggung, bobot degenerasi badan,
letih ditekan, nafsu badan terus resiko jarum infeksi
makan hilang, menurun, psikosis, tercemar
perasaan halusinasi
kemampuan diri
berlebihan, insomnia
DAFTAR PUSTAKA
• Tjay Tan Hoan Drs.,Rahardja Kirana Drs. Obat-Obat Penting PT ELEX MEDIA
KOMPUTINDO, edisi ke enam
• Farmakope Indonesia III