Anda di halaman 1dari 14

TUGAS MK.

AGRIBISNIS NON PANGAN


”Bauran Pemasaran Kelapa Sawit”
Oleh :
Kelompok 5
Bona Pinto (H34096011), Eva Christy J.Sianturi (H34096031), Ismi Haliza
(H34096048), Junita Hutabarat (H34096053), Nanda Pramudya W (H34096071)

Program Sarjana Agribisnis Penyelenggaraan Khusus


Departemen Agribisnis Fakultas Ekonomi dan Manajemen
Institut Pertanian Bogor
2010

Dosen : Siti Jahroh Nilai


Hari/Tanggal : Selasa/ 27 Juli 2010
Ruang : Kimia

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas unggulan yang memberikan
kontribusi penting pada pembangunan ekonomi Indonesia, khususnya pada
pengembangan agroindustri. Dalam perekonomian Indonesia sektor pertanian secara
tradisional dikenal sebagai sektor penting karena berperan antara lain sebagai sumber
utama pangan maupun non pangan dan pertumbuhan ekonomi. Peranan sektor ini di
Indonesia masih dapat ditingkatkan lagi apabila dikelola dengan baik, mengingat
semakin langkanya atau menurunnya mutu sumberdaya alam, seperti minyak
bumi/petrokimia, dan air serta lingkungan secara global, sementara di Indonesia
sumber-sumber ini belum tergarap secara optimal.
Kelapa sawit merupakan salah satu tanaman perkebunan yang mempunyai peran
penting bagi subsektor perkebunan. Pengembangan kelapa sawit antara lain memberi
manfaat dalam: peningkatan pendapatan petani dan masyarakat, produksi yang menjadi
bahan baku industri pengolahan yang menciptakan nilai tambah di dalam negeri, ekspor
CPO yang menghasilkan devisa, dan menyediakan kesempatan kerja bagi lebih dari 2
juta tenaga kerja di berbagai sub sistem. Dari sisi upaya pelestarian lingkungan hidup,
tanaman kelapa sawit yang merupakan tanaman tahunan berbentuk pohon (tree crops)
dapat berperan dalam penyerapan efek gas rumah kaca seperti (CO2), dan mampu
menghasilkan O2 atau jasa lingkungan lainnya seperti konservasi biodiversity atau eko-
wisata.
Potensi sektor perkebunan Indonesia sebagai penghasil kelapa sawit harus
didukung dengan peningkatan kualitas kelapa sawit yang dihasilkan dan strategi
pemasaran yang harus dilakukan untuk memasarkan kelapa sawit baik di dalam negeri
maupun di luar negeri. Salah satu strategi pemasaran adalah penerapan bauran
pemasaran (marketing mix) yang merupakan kumpulan dari variabel-variabel
pemasaran yang dapat dikendalikan yang digunakan oleh suatu badan usaha untuk
mencapai tujuan pemasaran dalam pasar sasaran yang digunakan perusahaan untuk
menyakinkan obyek pemasaran atau target pasar yang dituju. Bauran pemasaran
(marketing mix) adalah kombinasi dari empat variabel atau kegiatan yang merupakan
inti dari sistem pemasaran perusahaan yaitu produk, harga, kegiatan promosi dan sistem
distribusi.
Tujuan
1. Mengetahui bauran pemasaran dari komoditas kelapa sawit
2. Mengetahui analisis marketing margin dari komoditas kelapa sawit
PEMBAHASAN
1. Jelaskan bauran pemsaran dari komoditas kelapa sawit!
Jawab :
Bauran pemasaran yang terdiri dari product, price, place, dan promotion (4P)
seiring perkembangan jaman dan tuntutan pasar yang senantiasa mengalami
perkembangan telah mengalami evolusi dan terus berkembang searah dengan
perkembangan perilaku konsumen dan kecerdasan para ahli pemasaran. Sebagaimana
definisi bauran pemasaran oleh William J. Stanton (1993:7) bahwa pemasaran adalah ”
suatu sistem total dari kegiatan bisnis yang dirancang untuk merencanakan, menentukan
harga, mempromosikan dan mendistribusikan barang-barang yang dapat memuaskan
keinginan dan jasa baik kepada konsumen saat ini maupun konsumen potensial”. Dari
definisi tersebut dapat diketahui bahwa dalam pemasaran terdapat empat unsur pokok
kegiatan pemasaran yakni produk, harga, promosi dan distribusi yang dimana satu sama
lain saling berkaitan. Sehingga untuk menciptakan pemasaran yang baik dan berhasil
dalam mencapai tujuan perusahaan serta memberikan kepuasan terhadap konsumen,
maka keempat unsur tadi perlu dirancang sebaik mungkin terutama dengan
memperhatikan apa yang diinginkan dan dibutuhkan konsumen sesuai dengan konsep
pemasaran.
Bauran pemasaran pada komoditas kelapa sawit :
1. Product (produk)
Kelapa sawit adalah penghasil minyak nabati yang memiliki berbagai
keunggulan dibandingkan dengan minyak yang dihasilkan oleh tanaman lain.
keunggulan tersebut di antaranya memiliki kadar kolesterol rendah bahkan tanpa
kolesterol, dapat menghasilkan berbagai produk turunan baik di bidang pangan
maupun non pangan yang dapat memenuhi kebutuhan hidup manusia, dan
merupakan salah satu sumber bahan bakar alternatif.
Minyak nabati yang dihasilkan dari pengolahan buah kelapa sawit berupa
minyak sawit mentah (CPO atau Crude Palm Oil) yang berwarna kuning dan
minyak inti sawit (PKO atau Palm Kernel Oil) yang tidak berwarna/jernih. CPO
atau PKO banyak digunakan sebagai bahan industri sabun (bahan penghasil busa),
industri baja (bahan pelumas),industri tekstil, kosmetik, dan sebagai bahan bakar
alternatif.
2. Price (harga)
Penentuan harga dari suatu produk akan sangat mempengaruhi dari keberhasilan
suatu perusahaan dalam memperoleh keuntungan yang akan didapatkan oleh suatu
perusahaan. Penentapan harga dari suatu produk, akan sangat dipengaruhi dari
seberapa besar pengorbanan yang telah dilakukan dalam memproduksi produk itu
sendiri.
Penetapan harga kelapa sawit berdasarkan pada besarnya biaya produksi yang
dikeluarkan dengan mark up keuntungan yang diinginkan produsen. Dimana harga
dari petani kepada pedagang di desa / KUD adalah Rp 1150/kg. Kemudian
pedagang pengumpul ini menjual kembali kepada Sub-District Seller sebesar Rp
1.300/kg. Akhir dari rantai tataniaga ini adalah penjualan Kelapa Sawit dalam
bentuk CPO seharga Rp 6.650 kepada pedagang di dalam maupun di luar negeri.
3. Place (sistem distribusi)
Distribusi merupakan bagian yang vital dari bagian strategi pemasaran itu
sendiri. Pemilihan strategi dengan tepat akan dapat membantu produk sampai ke
konsumen dengan harga yang sesuai dengan harga yang telah ditentukan oleh
perusahaan.
Hasil budidaya kelapa sawit di Riau pada umunya didistribusikan ke industri
pengolahan kelapa sawit yang terdapat di Riau dan sekitarnya. Saluran distribusi
yang umum terdapat di Riau adalah dari petani ke tengkulak dan didistribusikan ke
industri pengolahan oleh pedagang pengumpul.
4. Promotion (kegiatan promosi)
Kegiatan promosi merupakan komponen prioritas dari kegiatan pemasaran
dengan menganalisis keungulan produk, modal lain yang dimiliki oleh perusahaan,
dan segmen pasar yang dibidik. Kegiatan promosi sangat erat kaitannya dengan
penyebaran informasi untuk disampaikan ke konsumen mengenai keunggulan
produk, harga, cara memperoleh serta informasi lain yang dibutuhkan konsumen.
Pada perkebunan kelapa sawit biasanya petani kurang memperhatikan aspek
promosi karena para tengkulak atau pedagang akan datang dengan sendirinya ke
kebun sawit untuk melihat kualitas dan melakukan kerja sama. Promosi yang
dilakukan petani di Riau biasanya dalam bentuk penjualan yang dilakukan secara
pribadi atau lebih dikenal dengan istilah ‘Personal Selling’. Kegiatan promosi ini
merupakan ujung tombak dari kegiatan promosi, karena kegiatan personal selling
adalah kegiatan promosi yang mengharuskan berhadapan dengan konsumen secara
langsung. Melalui kegiatan promosi personal selling secara professional akan sangat
membantu untuk tercaipanya penjualan yang diharapkan oleh petani.
2. Identifikasi bauran pemasaran pada komoditas kelapa sawit!
A. Produk sebagai Objek Pemasaran
Produk adalah objek yang sangat vital yang sangat mempengaruhi keberhasilan
dalam mendatangkan keuntungan atau laba yang akan tetap menjaga operasional dan
kesehatan suatu perusahaan. Dengan melalui produk, produsen dapat memanjakan
konsumen. Karena dari produk akan dapat diketahui, seberapa besar kepuasan dan
kebutuhan akan produk itu sendiri dalam kehidupan konsumen. Sedangkan produk itu
sendiri memilki sifat dan karakteristik yang amat beragam, dan suatu produk yang
potensial adalah suatu produk yang sering diburu konsumen, bahkan tidak perlu
melakukan promosi dalam manjemen pemasaran. Berikut beberapa hal karakterisitik
dari produk yang berupa jasa yang mungkin harus Anda ketahui dalam menetapkan
strategi pemasaran:
1. Produk jasa adalah produk yang dipasarkan di pasaran yang memiliki sifat yang
tidak berwujud. Karena biasanya produk jasa adalah tidak bisa dilihat, namun
dapat dirasakan. Selain itu, produk jasa juga tidak bisa diraba, dicium namun
bisa sangat dirasakan manfaatnya dalam menunjang aktivitas konsumen.
2. Produk jasa yang ditawarkan ke konsumen sifatnya tidak bisa dipisahkan dari
perihal faktor yang mendukung dari terciptanya produk berupa jasa itu sendiri.
Sebagai contoh produk dari jasa penginapan yang ditawarkan dari suatu wisma,
maka produk jasa itu sendiri tidak akan bisa dipisahkan dari bangunan wisma itu
sendiri, tempat produk jasa itu dipasarkan.
3. Produk jasa juga memiliki sifat yang dinamis yang mengikuti perkembangan
pola hidup konsumen yang menjadi target pemasaran. Karena mengikuti
tuntutan update dari strategi pemasaran itu sendiri, maka produk jasa yang
ditawarkan juga akan mengalami perubahan untuk menunjang pemasaran
dengan hasil yang maksimal yang akan didapatkan oleh perusahaan. Perubahan
dari produk jasa ini akan menciptakan persaingan usaha baik dari segi kualitas
maupun dari segi harga. Sebagai contoh harga penginapan dari suatu wisma
akan berbeda tarifnya dengan jasa produk yang ditawarkan oleh hotel dengan
kelas berbintang.
4. Produk jasa biasanya memilki dan bersaing dengan berpacunya waktu, sehingga
memiliki daya tahan tertentu. Dalam hal ini dapat juga dibilang produk jasa
tidak dapat disimpan, oleh karena itu manfaatnya biasanya hanya dapat
dirasakan pada saat melakukan transaksi pembelian dari produk jasa itu sendiri.
Dalam kasus kali ini kami mengidentifikasi mengenai produk jadi sabun yang bahan
bakunya adalah Soap Noodles pada PT. Hamparan Pancaran Chemindo (PT. HPC).
Sejak berdiri pada tahun 2003, PT. HPC telah memproduksi Soap Noodles dengan
volume produksi yang berfluktuasi. Hal ini disebabkan karena sejak tahun 2004
terjadinya perubahan struktur kepemilikan perusahaan sehingga berdampak pada
kegiatan pemasaran yang dilakukan. Hal lain yang mempengaruhi yaitu terjadi
perubahan kebijakan perusahaan dengan tidak lagi memproduksi Fatty Acid pada tahun
kedua. Sebagai gantinya perusahaan menggunakan bahan baku dari empat perusahaan
pemasok yaitu PT. Smart Tbk, PT Berkah Sawit Sumatera, PT. Bintang Tenera, dan PT.
Pacifik Medan Industry yang berbasis minyak berupa RBD Palm Stearine (RBDPS),
Palm Fatty Acid Distilled (PFAD), RBD Palm Olein (RBDPO).
Menurut Lubis (1992), minyak yang berasal dari kelapa sawit ada dua macam yaitu
daging buah (mesocrap) yang dikeluarkan melalui perebusan dan pemerasan (pressan)
dan dikenal sebagai minyak sawit kasar atau Crude Palm Oil (CPO), dan inti sawit yang
dikenal sebagai minyak inti sawit atau Palm Kernel Oil (PKO). Kedua jenis minyak
sawit ini dapat diolah menjadi berbagai jenis produk lain, baik produk yang siap pakai
maupun diproses kembali. Minyak sawit dapat dipergunakan untuk produk turunan non
pangan, yang melalui proses pengolahan terlebih dahulu. Minyak sawit kasar atau CPO
dapat diuraikan untuk produksi minyak sawit padat (RBD Stearin) dan minyak sawit
cair (RBD Olein). RBD Olein biasanya digunakan sebagai bahan baku pembuatan
minyak goreng, sedangkan RBD Stearin digunakan sebagai bahan baku pembuatan
margarine dan shortening, bahan baku industri sabun dan detergent. Pemisahan CPO
dan PKO dapat menghasilkan oleokimia dasar yang terdiri dari asam lemak dan
gliserol.
Minyak dapat dikembangkan menjadi oleokimia sebagai bahan-bahan kimia.
Menurut Lubis (1992), minyak sawit yang mengandung asam lemak jenuh dan tidak
jenuh dalam proses lanjutnya akan menghasilkan fraksi Olein, Stearin dan Fatty Acid.
Fatty Acid dapat dikembangkan sebagai bahan dasar oleokimia seperti methylester,
fatty alkohol, dan fatty amines, dari bahan dasar ini dapat dikembangkan lebih luas lagi
untuk produksi lain atau kegunaan lain. Penggunaan Fatty Acid semakin meningkat
karena merupakan bahan baku utama industri fatty alcohol, fatty acid ester, fatty
amine, garam-garam metalik dan sebagainya. Bahan utama dalam pembuatan bahan
baku sabun, yang disertai dengan bahan-bahan lain adalah Refined Bleached
Deodorized Palm Stearin (RBDPS), Palm Fatty Acid Distilled (PFAD), dan Refined
Bleached Deodorized Palm Oil (RBDPO).
Sabun merupakan salah satu produk turunan dari kelapa sawit yang diolah dari
minyak sawit dan inti sawit sebagai bahan bakunya. Umumnya untuk menghasilkan
produk sabun yang ideal jarang menggunakan bahan baku dari satu jenis minyak.
Komposisi campuran tersebut bervariasi tergantung pada jenis dan kualitas sabun yang
diinginkan. Kriteria yang dapat dilihat dalam memproduksi sabun adalah ratio asam
lemah jenuh dan tidak jenuh, agar diperoleh produk sabun dengan kualitas yang
dihendaki seperti stabilitas, kekerasan dan sifat detergensi. Sabun merupakan alat
pembersih yang digunakan untuk mencuci dan membersihkan yang bekerja dengan
bantuan air.
B. Analisis terhadap Harga untuk Sebuah Produk
Penentuan dari harga dari suatu produk adalah suatu hal yang juga sangat krusial.
Penentuan harga dari suatu produk akan sangat mempengaruhi dari keberhasilan suatu
perusahaan dalam memperoleh keuntungan yang akan didapatkan oleh suatu
perusahaan. Penentapan dari suatu produk, akan sangant dipengaruhi dari seberapa
besar pengorbanan yang telah dilakukan dalam memproduksi produk itu sendiri.
Semakin besar pengorbanan yang dilakukan maka akan semakin besar dan tinggi harga
yang dibandrol dari produk itu sendiri!
Kebijakan dalam menentukan harga dari suatu produk, maka kelak akan sangat
mempengaruhi dari pelayanan harus dilakukan oleh perusahaan terhadap konsumen.
Dan ini tentunya juga membutuhkan biaya budget yang juga harus diperhitungkan
dengan menentukan nilai harga dari produk itu sendiri yang sangat diharapkan dan telah
dirancang agar dari harga produk itu sendiri dapat menutupi semua biaya produksi
sehingga akan menghasilkan profit bagi perusahaan.
Harga sangat mempengaruhi penjual dari suatu produk yang ditawarkan oleh suatu
perusahaan. Penentuan harga sangat dibutuhkan strategi pemasaran yang amatlah
matang agar perusahaan tidak mengalami kerugian. Menetapkan harga yang murah
adalah bukan solusi diatas segalanya. Namun penetapan harga dengan cerdas akan
sangat membatu untuk mendobrak penjualan. Strategi dalam menetapkan harga produk
dapat dilakukan dengan menganalsis kelebihan, keunggulan dan kekurangan dari
produk yang dimiliki. Dengan jalan ini maka kelak dikemudian hari tidak akan
ditemukan istilah harga yang seharusnya lebih mahal atau lebih murah dari kualitas
barang yang dimiliki. Penentuan harga barang juga dapat dianalisis dengan melihat
persaingan dan seberapa besar kebutuhan produk yang akan dicari oleh konsumen.
Perusahaan yang merupakan pesaing terbesar bagi PT.HPC adalah PT. Musimas,
PT. Pacific Medan Industry dan PT. Pacific Oleochem. PT.HPC mengalami
permasalahan dalam persaingan harga, dimana perusahaan tidak dapat memasang harga
diatas harga perusahaan kompetitor. Jika perusahaan mematok harga diatas harga
kompetitor, maka pelanggan tidak tertarik untuk membeli produk PT. HPC, sehingga
perusahaan tidak dapat memperoleh banyak keuntungan.
C. Kegiatan Distribusi yang Dijalankan
Distribusi adalah juga merupakan bagian yang vital dari bagian strategi pemasaran
itu sendiri. Pemilihan strategi dengan tepat akan dapat membantu produk sampai ke
konsumen dengan harga yang sesuai dengan yang telah ditentukan oleh perusahaan.
Karena tak jarang suatu produk yang telah dibandrol dengan harga sekian, namun
karena kesalahan ditribusi ketika sampai ke tangan konsumen, harga yang terjadi ketika
transaksi jual beli adalah lebih mahal dari harga yang telah ditetapkan oleh perusahaan
yang sebelumnya.
Salah satu strategi pemasaran yang sebaiknya harus diperhatikan agar aktivitas
jalannya distribusi dapat berjalan dengan lancer, adalah dengan memperhatikan perihal
channel of ditribusi atau jika diterjemahkan mengandung arti saluran distribusi. Saluran
ditribusi dapat membantu perusahaan dalam proses pemasaran terutama untuk
menganalisis berbagai kendala yang terjadi di lapangan, sehingga dapat diambil
kebijakan strategi yang tepat untuk memecahkan masalah yang dihadapi dan distibusi
kembali akan dapat berjalan dengan normal dan baik demi tercapainya kepuasan
konsumen.
Salah satu unit yang sangat membantu dalam jalannya proses distribusi adalah unit
distributor. Distributor sangat dibutuhkan oleh perusahaan dalam membantu pemasaran
objek produksi. Dalam menunjuk distributor yang tepat dan juga menetapkan kebijkan
yang benar tentang saluran distribusi dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1. Melakukan riset dan analisis yang lebih mendalam terhadap pihak-pihak
lembaga yang terkait dalam menunjang proses pemasaran, terutama seabagai
contoh adalah pihak-pihak terkait seperti pedagang perantara antara pihak
perusahaan dengan konsumen di daerah tertentu.
2. Mempertimbangkan karakteristisk dari segmen pasar yang telah dibidik, dan
secara geografis bagaimana lokasi pembali, apakah mudah dijangkau atau
keadaan yang terjadi adalah sebaliknya.
3. Memperhitungkan seberapa besar persediaan produk yang dipasok yang
disesuaikan dengan seberapa besar dengan kebutuhan konsumen. Hal ini
bertujuan untuk menganailisis efektifitas proses distribusi yang akan dilakukan
dalam jangka panjang.
4. Memikirkan dengan segala jaringan pemasaran yang dimiliki agar dapat didaya
upayakan secara maksimal sehingga hasil pemasaran yang disokong dari proses
distribusi dapat memberikan hasil yang optimal.
Pola distribusi yang harus dipertimbangkan dan selalu diamati adalah dengan
melakukan penyesuaian dengan perkembangan pola dinamika gaya hidup masyarakat.
Jika hal ini dapat dilakukan dengan baik, maka proses distibusi dapat berjalan dengan
baik dan akan mensuport untuk menghasilkan nilai penjualan yang memuaskan.
Negara tujuan ekspor PT. HPC adalah Philipina, Yunani, Pakistan, India, Nigeria,
Togo (Afrika) dan Algeria yang disertai dengan penjualan produk lokal dengan tujuan
utama adalah Jakarta. Kegiatan ekspor-impor diperkirakan akan mengalami penurunan
secara umum dikarenakan menurunnya daya beli konsumen dunia terhadap semua
produk, termasuk Soap Noodles yang merupakan produk turunan. Tentunya krisis
global ini juga berpengaruh terhadap PT. HPC yang saat ini mengekspor produknya
sebesar 80 persen dan 20 persen produk untuk pasar lokal dari total jumlah Soap
Noodles yang diproduksi. Saat ini perusahaan diperkirakan mengalami penurunan
penjualan sebanyak 25 persen dari total keseluruhan penjualan.
D. Melakukan Kegiatan Promosi
Kegiatan promosi biasanya merupaka komponen prioritas dari kegiatan pemasaran.
Dengan adanya promosi maka konsumen akan mengetahui bahwa perusahaan
meluncurkan produk baru yang akan menggoda konsumen untuk melakukan kegiatan
pembelian. Kegiatan promosi banyak yang mengatakan identik dengan dana yang
dimiliki oleh perusahaan. Semakin besar dana yang dimiliki oleh suatu perusahaan
maka umumnya akan menghasilkan tingkatan promosi yang juga sangat gencar untuk
dapat dilakukan. Namun dana bukan diatas segala-galanya. Dana yang terbatas dapat
diatasi dengan inovasi yang lebih pintar dan tepat. Salah satu solusi yang dapat
dilakukan dengan menganalisis keungulan produk, modal lain yang dimiliki oleh
perusahaan, dan segmen pasar yang dibidik. Dengan mempertimbangkan faktor strategi
pemsaran diatas, maka promosi dapat dilakukan lebih pintar dan efisien serta tepat
sasaran.
Kegiatasn promosi sangat erat kaitannya dengan penyebaran informasi untuk
disampaikan ke konsumen. Dalam penyampaian strategi informasi ini ada beberapa hal
penting yang hendaknya diperhatikan, yaitu sebagai berikut:
1. Program periklanan yang dijalankan, kegiatan periklanan merupakan sebagai
media utama bagi perusahaan untuk menunjangan kegiatan promosi dimana
promosi memiliki tujuan utama untuk menarik konsumen agar mau melakukan
pembelian terhadap produk yang ditawarkan. Saat ini periklanan yang sering
digalakan adalah melalui kegiatan media cetak dan elektronik. Dunia iklan
sendiri telah mengalami perkembangan yang amat pesat. Salah satunya adalah
dengan mulai maraknya iklan dengan melalui media internet.
2. Promosi dengan mengutamakan penjualan yang dilakukan secara pribadi atau
lebih dikenal dengan istilah ‘Personal Selling’. Kegiatan promosi yang satu ini
bisa dikatakan sebagai ujung tombak dari kegiatan promosi. Karena kegiatan
personal selling adalah kegiatan promosi yang mengharuskan berhadapan
dengan konsumen dengan secara langsung. Melalui kegiatan promosi personal
selling secara professional akan sangat membantu untuk tercaipanya penjualan
yang secara fantastis. Personal selling yang dilakukan secara besar meruapakan
salah satu alternative solusi yang dapat dilakukan oleh suatu perusahaan jika
memilki modal yang cukup besar.
3. Promosi yang dilakukan dengan mengedepankan kualitas promosi penjualan.
Promosi penjualan mengedepankan aspek penambahan intensitas terhadap
strategi dalam pemasaran produk. Penambahan intensitas disini dalam meliputi
berbagai aspek manajemen pemasaran, meliputi peningkatan kualitas produk,
kualitas pelayanan distribusi, menambah kualitas pelayanan agar menjadi lebih
baik dan masih banyak aspek lainnya yang dapat ditingkatkan demi tercapainya
kepuasan pelanggan atas produk yang telah dipasarkan.
4. Promosi dengan cara meningkatkan publisitas, cara ini lebih condong untuk
membentuk sebuah image yang lebih positif terhadap produk yang ditawarkan.
Pembentukan image positif ini dapat dilakukan dengan iklan atau promosi yang
memiliki karakteristik tertentu yang tidak dapat dimiliki oleh strategi pemasaran
produk lainnya. Bisa saja dapat dilakukan dengan cara menciptakan suatu
produk yang memiliki poin lebih, karakteristik unik, dan mempunyai manfaat
lebih yang dapat menjadi pemikiran positif dihadapan konsumen. Jika hal ini
dapat dilakukan maka image atau gambaran positif yang berkembang di
masyarakat akan terbentuk dan mendatangkan beberapa faktor positif untuk
mendongkrak penjualan.
Keempat komponen pemasaran yang telah dipaparkan diatas harus dapat dilakukan
secara singkron agar menghasilkan strategi pemasaran yang baik dalam jangka panjang,
sehingga keuangan perusahaan dapat berjalan dengan sehat dan kesejahteraan dapat
ditingkatkan baik bagi perusahaan itu sendiri atau bagi karyawan yang bekerja di
perusahaan tersebut.
3. Analisis marketing margin dari komoditas kelapa sawit!
Jawab:
Saat ini Indonesia dan Malaysia merupakan produsen utama CPO dunia dengan
menguasai lebih dari 80 % pangsa pasar. Negara-negara produsen lainnya, seperti
Nigeria, Kolombia, Thailand, Papua Nugini, dan bahkan Pantai Gading, boleh dibilang
hanya menjadi pelengkap. Malaysia menempati peringkat teratas dengan volume
produksi pada 2003 mencapai 13,35 juta ton. Sementara Indonesia masih 9,75 juta ton.
Menurut ramalan Oil World, volume produksi CPO Indonesia pada 2010 bakal
mencapai 12 juta ton. Namun, agaknya ramalan itu bakal meleset. Sebab, pada 2004
saja volume produksi CPO Indonesia sudah mencapai 11,5 juta ton. Itu sebabnya
banyak kalangan optimistis volume produksi CPO Indonesia bakal segera mengalahkan
Malaysia, terlebih jika melihat luas lahan di Malaysia yang kian terbatas, sementara di
Indonesia masih begitu luas.
Produksi minyak sawit (CPO) di dalam negeri diserap oleh industri pangan terutama
industri minyak goreng dan industri non pangan seperti industri kosmetik dan farmasi.
Namun, potensi pasar paling besar adalah industri minyak goreng. Potensi tersebut
terlihat dari semakin bertambahnya jumlah penduduk yang berimplikasi pada
pertambahan kebutuhan pangan terutama minyak goreng. Sampai tahun 1997 produksi
minyak goreng Indonesia baru mencapai 3,1 juta ton dengan kontribusi minyak goreng
sawit 2,3 juta ton (74 %). Kebutuhan untuk memproduksi minyak goreng sawit sebesar
itu memerlukan 3,3 juta ton minyak sawit.
Dilihat dari pengusahaannya, perkebunan kelapa sawit di Indonesia ada tiga, yaitu
perkebunan rakyat, perkebunan besar negara, dan perkebunan swasta. Dari ketiga jenis
perkebunan tersebut memiliki pola pemasaran produk kelapa sawit yang berbeda.
Contoh pola pemasaran di Kabupaten Indragiri Hilir, Riau.
1. Pola pemasaran perkebunan rakyat
Perkebunan kelapa sawit yang dikelola oleh rakyat memiliki luas lahan yang
terbatas yaitu berkisar 1-10 hektar. Dengan luas lahan tersebut, tentunya menghasilkan
produksi TBS yang terbatas, untuk mengatasi hal ini maka petani harus menjual TBS
melalui pedagang tingkat desa yang dekat dengan lokasi kebun atau melalui KUD,
kemudian berlanjut ke pedagang besar hingga ke prosesor/industri pengolah. Berikut
pola pemasaran pada perkebunan rakyat.
2. Pola Pemasaran Perkebunan Besar Negara dan Swasta
Pemasaran produk kelapa sawit pada perkebunan besar negara (PBN) dilakukan
secara bersama melalui Kantor Pemasaran Bersama (KPB), sedangkan untuk
perkebunan besar swasta (PBS), pemasaran produk kelapa sawit dilakukan oleh masing-
masing perusahaan. Pada umumnya perusahaan besar baik negara maupun swasta
menjual produk kelapa sawit dalam bentuk olahan yaitu minyak sawit mentah (CPO)
dan minyak inti sawit (PKO). Penjualan langsung kepada eksportir ataupun ke
pedagang/industri dalam negeri.

Gambar : Pola Pemasaran


Pola 1

Farmer Villager Seller Sub-District Seller

Pedagang dalam negeri dan Exportir Process

Pola 2

Farmer KUD

Pedagang dalam negeri dan exportir Processor


Pola 3

Farmer Processor Pedagang dalam negeri dan Exportir

Contoh margin tataniaga Kelapa sawit di Kabupaten Indragiri Hilir Provinsi Riau
sebagai berikut :

MARGIN TATANIAGA PANGSA


URAIAN
(Rp/ Kg) (%)
1. Harga jual di tingkat petani 1.150 60
2. Pedagang tingkat desa/KUD
a. Harga beli 1.150
b. Margin Biaya Total 100 8
• Biaya angkut 100
c. Margin keuntungan 150 10.72
d. Harga jual 1.300 11.54
3. Sub-District Seller
a. Harga beli 1.300
b. Margin biaya total 100 7.6
• Biaya angkut 100
c. Margin keuntungan 100
d. Harga jual 1.400 7.2

4. Processor
a. Harga beli 1.500
b. Margin biaya -
c. Margin keuntungan 100 6.67
d. Harga jual
• CPO 6.650

5. Pedagang dalam dan luar


negeri
Harga beli 6.650
• CPO

Dari margin tataniaga diatas maka dapat diketahui :

a. Marketing Margin
MM = Harga konsumen (Pπ) – Harga produsen (Pf)
= Rp 6.650 – Rp 1.150
= Rp 5.500
b. Farmer’s Share
Pf
= × 100 %

1.150
= × 100 %
6.550
= 17.3 %
Farmer’s share merupakan seberapa besar bagian yang diterima petani terhadap
harga yang diterima oleh konsumen. Artinya pada saluran tataniaga ini petani
memperoleh bagian 17.3% dari harga jual kepada eksportir.
c. Market Share Total
MM
= × 100 %

Rp 5.500
= Rp 6.650 ×100 %

= 82 .71%
Market share yang diperoleh pedagang dalam dan luar negeri adalah sebesar
82.71% yang harus dibagi lagi, masing-masing untuk pedagang tingkat desa dan KUD
serta procssor atau pabrik pengolahan CPO .
d. Margin Lembaga Tataniaga
• Pedagang tingkat desa dan KUD kepada Sub-district seller
Harga jual pedagang −harga beli
= ×100 %
harga konsumen

Rp 1300 −Rp 1.150


= ×100 %
Rp 6.650

Rp 1.50
= Rp 6.650 ×100 %

= 2.26%

• Pedagang tingkat desa dan KUD kepada Proseccor


Harga jual pedagang −harga beli
= ×100 %
harga konsumen

Rp 1.500 −Rp 1.150


= ×100 %
Rp 6.650

Rp 3.50
= Rp 6.650 ×100 %

= 52.63%
• Sub-district Seller
Harga jual −harga beli
= ×100 %
harga konsumen

Rp 1.400 −Rp 1.300


= ×100 %
Rp 6.650

Rp 100
= Rp 6.650 ×100 %

= 1.51%
• Processor
Harga jual −harga beli
= ×100 %
harga konsumen

Rp 6.650 −Rp 1.400


= ×100 %
Rp 6.650

Rp 5.150
= Rp 6.650 ×100 %

= 77.44%
Masing-masing lembaga tataniaga komoditi kelapa sawit memperoleh margin
yang berbeda. Pedagang tingkat desa dan KUD memperoleh margin 2.26% dari harga
jual kepada sub-district seller dan 52,63 % dari harga jual kepada processor, sedangkan
sub-district seller memperoleh margin sebesar 1.51% terhadap harga jual kepada
processor. Processor memperoleh margin sebesar 77.44% dari harga jual ke konsumen
akhir. Perbedaan margin tersebut disebabkan adanya perbedaan biaya yang dikeluarkan
masing-masing lembaga tataniaga dan besar keuntungan yang diinginkan masing-
masing lembaga tataniaga. Harga kelapa sawit sering mengalami fluktuasi harga yang
diakibatkan oleh pasar dunia.
KESIMPULAN
Bauran pemasaran yang terdiri dari product, price, place, dan promotion (4P)
seiring perkembangan jaman dan tuntutan pasar yang senantiasa mengalami
perkembangan telah mengalami evolusi dan terus berkembang searah dengan
perkembangan perilaku konsumen dan kecerdasan para ahli pemasaran. Sebagaimana
definisi bauran pemasaran oleh William J. Stanton (1993:7) bahwa pemasaran adalah ”
suatu sistem total dari kegiatan bisnis yang dirancang untuk merencanakan, menentukan
harga, mempromosikan dan mendistribusikan barang-barang yang dapat memuaskan
keinginan dan jasa baik kepada konsumen saat ini maupun konsumen potensial”.
DAFTAR PUSTAKA
Herman. 2008. Pemerintah Diminta Kembangkan Industri Hilir CPO, Medan, Sumatera
Utara, Medan Bisnis.
Khairani, Ana. 2007. Analisis Prioritas Strategi Bauran Pemasaran VCO (Virgin
Coconut Oil) di PT Bogor Agro Lestari, Bogor, Jawa Barat, Skripsi. Program
Sarjana Ekstensi Manajemen Agribisnis. Fakultas Pertanian.