Anda di halaman 1dari 28

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA
PENGGANTUNGAN ( HANGING )

I. DEFINISI DAN ETIOLOGI


Hanging atau penggantungan didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana
terjadi konstriksi dari leher akibat kekuatan yang dihasilkan dari penggantungan
oleh berat tubuh. Umumnya melibatkan tali yang erat, tapi hal ini tidaklah perlu.
Penggantungan yang terjadi akibat kecelakaan bisa saja tidak terdapat tali.
Meskipun penggantungan merupakan bentuk dari jeratan tali, pada beberapa
kasus konstriksi dari leher terjadi akibat eratnya jeratan tali bukan oleh berat
badan yang tergantung. Pada beberapa kasus yang jarang, jeratan tali dipererat
oleh berat tubuh yang tergantung oleh individu dalam keadaan tegak lurus.
Kekuatan tambahan juga kadang dibutuhkan untuk mengeratkan tali.(1)
Penggantungan biasanya ditemukan dengan posisi korban lurus tergantung,
dengan kaki tidak menginjak lantai, tetapi saat ini tidak perlu lagi karena
beberapa korban menggantung diri mereka dalam posisi duduk, dimana
gantungan diikat pada pegangan pintu, atau pada sesuatu dengan ketinggian yang
sama, dibandingkan pada cabang pohon atau kayu, dll. Penggantungan melibatkan
adanya gerakan terayun-ayun yang mengakibatkan kematian secara langsung
akibat adanya tekanan yang tiba-tiba pada arteri di leher. Jika jatuh dari tempat
yang tinggi, mungkin saja dapat mematahkan tulang servikal. Hukum gantung
mengakibatkan kematian oleh karena patahnya tulang servikal yang merupakan
kombinasi dari puntiran tali, dijatuhkan dan berat dari kriminal.(2)
Penggantungan dapat terjadi pada beberapa kondisi berikut :
1. Bunuh diri (1,3)

9
Penggantungan merupakan metode yang paling umum digunakan pada
kasus bunuh diri. Alat-alat yang dibutuhkan untuk bunuh diri dengan
penggantungan sangatlah mudah diperoleh, dibandingkan dengan senjata api
atau racun. Penggantungan total tidak diperlukan, dan untuk alasan
penggantungan biasanya ditemukan di kalangan narapidana.
Jenis dari penggantungan bisa saja penggantungan total atau
penggantungan partial di mana lebih ditekankan pada jeratan yang erat oleh
diri sendiri menggunakan tali dan hanya sebagian dari berat tubuh yang
terlibat. Cara ini bergantung dari kesadaran korban di mana terjadi restriksi
dari aliran darah arteri ketika terjerat. Di Kanada, penggantungan merupakan
cara yang paling umum untuk bunuh diri, di AS penggantungan merupakan
kedua yang sering dilakukan setelah senjata api. Di Inggris, dimana senjata
api lebih sulit diperoleh maka pada 2001 penggantungan merupakan cara yang
paling sering digunakan pada pria, sedang pada wanita merupakan cara kedua
setelah meracuni diri sendiri. Alasan bunuh diri pun bervariasi mulai dari
kemarahan pada orang tua ( broken home ), ditinggalkan oleh yang dicintai,
keinginan untuk menyusul orang yang dicintai, gangguan psikiatri, obat-
obatan, antisosial, dan lain-lain.

2. Gangguan Psikiatri.(1)
Gangguan psikiatri biasanya meliputi skizofrenia, biasanya ditemukan
lebih banyak dibanding pada kasus umum. Bunuh diri dilakukan pada saat
korban sedang tidak dalam perawatan rumah sakit. Dengan kekerasan
misalnya dengan melompat dari kereta atau dari sebuah gedung, gantung diri
yang biasa digunakan. Bunuh diri susah diprediksi dikarenakan korban hanya
memberikan sedikit tanda-tanda, dan mungkin saja korban menunjukkan
perbaikan klinis.

10
3. Kecelakaan.(1)
Suatu penelitian di Skotlandia menunjukkan bahwa kejadian
penggantungan akibat kecelakaan lebih banyak ditemukan pada anak-anak
utamanya pada umur antara 6-12 tahun, tidak ditemukan alasan untuk bunuh
diri karena pada usia itu belum ada tilikan dari anak untuk bunuh diri. Hal ini
terjadi akibat kurangnya pengawasan dari orang tua. Meskipun tidak menutup
kemungkinan hal ini dapat terjadi pada orang dewasa.

4. Pembunuhan (Suicide Hanging) (1)


Sering ditemukan kejadian penggantungan tetapi bukan kasus bunuh
diri, namun kejadian diatur sedemikian rupa hingga menyerupai kasus
penggantungan bunuh diri. Banyak alasan yang menyebabkan pembunuhan
terjadi mulai dari masalah sosial, masalah ekonomi, hingga masalah hubungan
sosial.

5. Hukum Gantung (Judisial Hanging)

MORFOLOGI
Kematian akibat penggantungan sangat bervariasi dan kontroversi, kecuali
pada kematian akibat hukum gantung. Pada hukum gantung, jarak jatuh paling tidak
sama dengan tinggi dari korban dan penggantungan sempurna. Pada kasus ini
mekanisme kematian efektif akibat terpenggalnya kepala, dengan putusnya hubungan
antara kepala dengan leher dan badan, patahnya tulang belakang servikal atas dan
tertariknya medula spinalis. Trauma langsung pada medula spinalis dapat atau
mungkin dapat jadi penyebab kematian pada gantung bunuh diri.(4)
Pada kasus penjeratan, ataukah tersedak, penggunaan alat atau tali, ataupun asfiksia
(mis: kejadian tertekannya leher anak akibat tertindih suatu objek yang berat), teori
yang muncul dapat bermacam-macam yaitu ;

11
• Obstruksi vena. Menuju ke arah stagnasi pada otak, hipoksia dan kehilangan
kesadaran, dimana akhirnya terjadi relaksasi otot dan akhirnya obstruksi aliran
darah arteri dan juga jalan napas.
• Spasme pada arteri akibat adanya tekanan pada carotid, menuju ke arah
lambatnya aliran darah ke otak dan akhirnya kolaps.
• Reflek vagal disebabkan dari adanya tekanan pada carotid dan peningkatan
tonus parasimpatis. (4)
Dari hal-hal tadi dapat ditemukan temuan-temuan bermakna pada kematian akibat
penggantungan seperti :
1. Jeratan pada leher
Jeratan dapat menggunakan tali, kabel ataupun ikat pinggang yang paling
umum. Tali dapat diikat beberapa kali atau hanya dilingkarkan pada sekeliling
leher. (1)
2. Jeratan pada bagian tubuh lainnya
Adanya ikatan pada daerah tubuh lainnya tidak berarti merupakan kasus
pembunuhan atau kematian autoerotic. Pergelangan tangan dapat diikat di
belakang, biasanya ikatan macam ini mudah untuk dilepaskan. (1)
3. Tanda- tanda kompresi
4. Wajah
Dapat dilihat adanya tanda-tanda sianosis akibat dari kongesti vena dan
terhambatnya aliran carotid. Sebaliknya wajah pucat terjadi jika terdapat blokade
total dari arteri. Yang paling sering adalah ditemukannya kongesti dan edema
pada konjungtiva. Adanya darah kering yang mungkin terdapat pada sudut mulut
dan telinga. Lidah terjulur keluar. (1)
5. Peteki
Penyebaran peteki biasanya pada mata dan pada kulit wajah dan sekitar leher
diatas sisi yang terdapat jeratan. Peteki pada kelopak mata ditemukan sekitar 27%
kasus, pada konjungtiva sekitar 33% kasus. Ditemukan pada kedua sisi sekitar

12
18%. Peteki merupakan tanda bahwa korban masih hidup pada saat
penggantungan terjadi.(1)

Tanda lain yang biasa ditemukan pada penggantungan : (5)

1. Gantung Diri

 Jumlah lilitan dapat hanya satu kali, semakin banyak lilitan dugaan bunuh
diri semakin besar

 Simpul alat penjerat biasanya simpul hidup; letak alat penjerta terhadap
leher berjalan serong. Ini dapat diketahui dari ukuran alat penjerat
terhadap dagu, telinga kanan dan kiri serta batas rambut bagian belakang.

 Letak simpul dapat di belakang atas kiri, belakang atas kanan, depan atas
kiri dan depan atas kanan atau tepat di garis pertengahan bagian depan.
Biasanya meninggalkan tanda terputus, naik ke puncak – titik
penggantungan. Namun, jika menggunakan simpul yang kecil, titik
puncak ini mungkin tidak ada. (6)

 Jejas jerat berupa luka lecet tekan akibat alat penjerat, yang berwarna
merah coklat dengan perabaan seperti perkamen, dan sering dijumpai
adanya vesikel pada tepi jejas tersebut, dan tidak jarang jejas jerat
membentuk cetakan yang sesuai permukaan alat jerat

 Bila permukaan alat jerat luas, muka korban tampak sembab, mata
menonjol, wajah merah kebiruan dan lidah serta air liur dapat keluar
tergantung letak alat penjerat

13
 Bila permukaan alat penjerat kecil, maka korban tampak pucat, tidak ada
penonjolan mata.

 Pada keadaan tertentu tidak ditemukan tanda-tanda mati lemas, dalam hal
ini mekanisme kematian adalah refleks vagal.

 Jika lidah terjepit diantara gigi, tanda gigi sering ditemukan pada lidah.
Pada beberapa kasus, ini dapat memberi indikasi yang bermanfaat pada
kecurigaan gantungan pada saat hidup dan memberi penilaian termasuk
kemungkinan kecurigaan penggantungan tubuh post mortem. Penampilan
oral yang dicurigakan pada kematian kekerasan akibat asphyxia yaitu
penemuan gigi yang berwarna merah muda. (7)

 Umumnya tidak ditemukan patah tulang lidah, patah tulang lidah dapat
terjadi bila alat penjerat di bagian samping depan menonjol dan menekan
tulang lidah.

 Walaupun jarang, dinding arteri carotis dapat cedera karena traksi

2. Pembunuhan

 Selain tanda asfiksia, dapat ditemukan luka-luka pada tubuh korban,


situasi TKP tidak beraturan, dan adanya tanda-tanda perlawanan

 Leher korban seringkali mendapat trauma sehingga tampak luka-luka di


daerah tersebut, dan tidak jarang tampak adanya luka lecet tekan
berbentuk bulan sabit yang berasal dari tangan pelaku; memar hebat dapat
ditemukan pada jaringan jaringan otot dan alat-alat di dalam leher, tulang
lidah dan tawan gondok dapat patah.

 Pembunuhan menggunakan lasso merupakan contoh yang baik

14
 Makin jauh jarak antara kaki korban dengan lantai makin kuat dugaan
pembunuhan, demikian juga makin dekat jarak antara simpul dan tiang
tumpuan untuk menggantung.

3. Hukum gantung

 Letak simpul tepat pada bagian belakang tengah

 Dapat terjadi dislokasi atau fraktur dari vertebra yang disertai putusnya
medulla spinalis; hal ini disebabkan oeh karena lantai di mana terhukum
berdiri secara tiba-tiba terbuka, sehingga korban jatuh ke dalam dan
tersentak dengan kuat.

4. Kecelakaan

 Mati tergantung sewaktu bermain umumnya pada anak-anak dan tidak


membutuhkan penyidikan yang sulit karena biasanya kasusnya sangat
jelas.

 Kematian saat melampiaskan nafsu seksual yang menyimpang memerluka


pemeriksaan teliti dalam menguraikan tali-tali yang dipakai, yang
seringkali diikatkan pada banyak tempat, ikatan pada daerah genitalia,
lengan, tungkai, leher, dan mulut; kematian terjadi karena ikatannya
terlalu kuat sehingga leher terjerat.

 Pada “autoerotic hanging”, tidak jarang ditemukan gambar dan benda-


benda porno, kondom, dan korban umumnya pria yang tidak jarang
memakai pakaian wanita.

II. PATOFISIOLOGI
Penyebab kematian pada “ hanging “ adalah sbb : (4,5,8)

15
1. Asphyxia, yaitu kurangnya atau bahkan tidak adanya O2 dan CO2 pada darah
dan jaringan keadaan dimana sel gagal untuk dapat melangsungkan metabolism
secara efisien ) , dimana dalam kedadaan ini oksigen gagal untuk masuk kadalam
sirkulasi darah.
2. Vagal Reflex, yang terjadi akibat rangsangan ringan/ luka pada reseptor saraf
yang merupakan afferent daripada reflex vagus. Inhibisi vagal sering diikuti oleh
fibrilasi ventrikel, inhibisi fatal pada jantung dan pusat pernapasan, kemudian bisa
terjadi syok → death. Pada kasus hanging, didapatkan memar disekitar otot thyro-
hyoid.
3. Pada batang otak, terjadi kerusakan medulla oblongata/medulla spinalis oleh
karena patahnya tulang leher pada orang yang dihukum mati ( dihukum gantung ).
Hal ini dapat disebabkan karena pada pelaksanaan hukum gantung, lantai dimana
korban berdiri akan terbuka secara tiba – tiba, sehingga korban akan jatuh dan
tersentak dengan kuat. Fraktur dan dislokasi vertebra servikalis akan menekan
medulla oblongata dan mengakibatkan terhentinya pernapasan.
4. Obstruksi vena otak, terjadi karena sumbatan vena jugularis interna
menyebabkan kongesti pada pembuluh darah otak dan mengakibatkan kegagalan
sirkulasi. Obstruksi vena menyebabkan edema serebral dan kemudian iskemik
serebral serta hilangnya kesadaran. Pada obstruksi vena terjadi relaksasi dari
tonus otot kemudian akhirnya obstruksi arteri dan pernapasan. Wajah akan
bengkak dan sianosis.

Tanda – tanda yang dapat ditemukan pada “ hanging “ : (5)


1. Adanya jejas jerat yang sebenarnya luka lecet akibat dari alat penjerat yang
digunakan, jejas tersebut berwarna merah coklat dengan perabaan seperti
perkamen ( kertas berwana coklat ), dan juga sering dijumpai adanya vesikel –
vesikel yang terdapat pada tepi jejas jerat tersebut, dan tidak jarang jejas jerat
membentuk cetakan yang sesuai dengan bentuk permukaan dari alat penjerat.

16
2. Bila alat penjerat mempunyai permukaan yang luas, berarti tekanan yang
ditimbulkan tidak terlalu besar tetapi dapat menekan pembuluh balik, maka pada
muka korban akan tampak kelihatan sembab, mata menonjol ( oleh karena
bendungan pada kepala, dimana vena – vena terhambat, sedangkan arteri tidak
terhambat ), wajah berwarna merah kebiruan , dan lidah terjulur serta air liur
dapat keluar tergantung dari letak alat penjerat.Apabila alat penjerat tepat pada
cartilago thyroid, maka lidah akan terjulur.
3. Bila permukaan alat penjerat kecil, yang berarti tekanan yang ditimbulkan
besar dan dapat menekan pembuluh balik maupun pembuluh nadi, maka korban
akan tampak pucat, dan tidak ada penonjolan dari mata.
4. Bintik perdarahan konjungtiva, yang terjadi karena pecahnya vena oleh
bendungan dan meningkatnya permeabilitas pembuluh darah akibat asfiksia.
5. Adanya lebam mayat dan bintik – bintik perdarahan terutama pada bagian
ujung dari ekstremitas ( pada jari – jari ). Hal ini sangat tergantung dari lamanya
korban berada dalam posisi tergantung.
6. Keluarnya air mani, feses dan urine oleh karena kontraksi otot polos pada saat
stadium konvulsi.
7. Terdapat lebam mayat pada genitalia externa.

Pada kematian yang terjadi karena adanya penekanan pada daerah leher dan pada
obstruksi saluran pernafasan, dapat ditemukan tanda – tanda sebagai berikut : (4,5)
a. Sianosis, dapat dengan mudah terlihat pada daerah ujung jari dan pada bibir
dimana terdapat pembuluh darah kapiler, Sianosis ini dianggap bermakna apabila
pemeriksaan dilakukan kurang dari 24 jam.
b. Kongesti atau pembendungan yang sistemik dan kongesti pada peru – paru
yang disertai dengan dilatasi jantung kanan.
c. Edema pulmonum atau pembengkakan paru – paru.

17
d. Perdarahan berbintik ( Tardieu’s spot / petechial haemorrhages ), keadaan ini
mudah dilihat pada tempat dimana struktur jaringannya longgar, seperti pada
kelopak mata dan selaput biji mata, epiglottis dan jaringan sekitarnya, permukaan
jantung dan paru – paru. Terjadinya perdarahan bintik/ petekie, akibat dari
terjadinya perubahan permeabilitas kapiler sebagai akibat langsung dari hipoksia
dank arena terjadinya peningkatan tekanan intrakapiler, sehingga kapiler pecah
dan terjadilah petekie.
e. Perdarahan pharynx, perdarahan submukosa yang luas pada pharynx terutama
pada bagian dorsal dari cricoid. Perdarahan tersebut dimungkinkan oleh karena
plexus vena pada daerah ini dindingnya tipis, sehingga apabila terjadi kongesti
hebat, pembuluh tersebut akan pecah, yang akan menyebabkan terjadinya
perdarahan.

III. ASFIKSIA
Asfiksia berasal dari kata Yunani yang berarti “hilangnya nadi”. Asfiksia
umumnya diartikan sebagai keadaan tubuh yang kekurangan oksigen atau
keadaan dimana fisiologi tubuh berada dalam kekurangan oksigen untuk
metabolisme normal sel yang terkait dengan kegagalan untuk mengeliminasi
karbon dioksida dari tubuh, baik secara parsial yang disebut hipoksia maupun
total yang disebut anoksia. Dalam hal ini, kematian adalah akibat dua elemen
utama yakni kegagalan metabolisme selular normal diperberat oleh kegagalan
mengeliminasi produk toksik metabolisme (termasuk CO2). (10)
Asfiksia adalah kumpulan dari berbagai keadaan dimana terjadi gangguan
dalam pertukaran udara pernafasan yang normal. Gangguan tersebut dapat
disebabkan karena adanya obstruksi pada saluran pernafasan, dan gangguan yang
diakibatkan karena terhentinya sirkulasi. Kedua gangguan tersebut akan
menimbulkan suatu keadaan dimana oksigen dalam darah berkurang yang disertai
dengan peningkatan kadar karbondioksida. (5,8)

18
Asfiksia yang diakibatkan oleh karena adanya obstruksi pada saluran
pernafasan disebut asfiksia mekanik, asfiksia jenis inilah yang paling sering
dijumpai di dalam kasus tindak pidana yang menyangkut tubuh dan nyawa
manusia, misalnya :
- obstruksi saluran pernafasan,
- kompresi pembuluh darah leher,
- perangsangan langsung terhadap sinus caroticus, dan
- perubahan biokimiawi dan sirkulasi, seperti yang terjadi pada tenggelam. (5,8)

Anoksia atau hipoksia akibat dari asfiksia dapat diklasifikasi kepada 4


kategori utama: (10)
1. Anoksia anoksik
terjadi bila oksigen yang sampai ke alveoli tidak cukup sehingga terjadi
penurunan tegangan oksigen alveolar dan pengurangan pembentukan
oksihemoglobin, seperti pada keadaan oklusi nasal dan oral oleh objek.
2. Anoksia anemik
disebabkan oleh defisiensi hemoglobin sementara konsentrasi oksigen normal
sehingga terjadi kekurangan oksihemoglobin. Pada keadaan khusus dapat terjadi
anoksia anemik bila perubahan pada molekul hemoglobin secara kimiawi
(karboksihemoglobin dan methemoglobin) sehingga transpor oksiegn terganggu.

3. Anoksia stagnan
terjadi bila hemoglobin yang teroksigenasi secara normal tidak diangkut ke
jaringan secara efisien seperti pada keadaan gangguan sirkulasi.
4. Anoksia histotoksik
terjadi bila abnormalitas intraselular mengganggu sistem oksidatif yang
menghambat sel dari menggunakan oksigen yang disuplai oleh oksihemoglobin

19
yang berada pada kadar normal seperti pada keadaan keracunan ion sianida pada
sistem sitokrom intraselular dan akumulasi produk toksik pada uremia.
Gambaran klasik asfiksia didapatkan pada obstruksi jalan napas dari
tekanan kompresi pada leher atau dada disebut asfiksia mekanik dimana terdapat
usaha bernapas yang melampau (struggle of breathing). Gambaran klasik asfiksia
termasuk: (10)
1. kongesti pada wajah
kulit tampak kemerahan pada wajah dan kepala akibat hambatan aliran kembali
vena ke jantung oleh kompresi leher
2. edema pada wajah
pembengkakan jaringan akibat transudasi cairan dari vena akibat peningkatan
vena hasil obstruksi aliran kembali vena ke jantung
3. sianosis pada wajah
warna biru pada kulit akibat adanya darah terdeoksigenasi dalam sistem vena
yang terkongesti serta kadang-kadang turut melibatkan sistem arteri.
4. peteki pada kulit wajah dan mata
perdarahan halus sebesar ujung jarum lazim ditemukan di wajah dan sekitar
kelopak mata selain pada konjunktiva dan sklera akibat darah bocor dari vena
kecil yang mengalami peningkatan tekanan. Keadaan ini diduga akibat hipoksia
dinding pembuluh darah namun belum terbukti pasti. Peteki bukan tanda
diagnostik asfiksia karena dapat ditemukan pada keadaan batuk atau bersin yang
terlampau keras. Hal yang terkait peteki wajah adalah peteki visceral yang disebut
“Tandieu spots” yang sebelumnya dianggap tanda khas asfiksia kini sudah
terbukti bukan tanda terjadinya obstruksi pernapasan.
Pada orang yang mengalami asfiksia akan timbul gejala : (9,10)
1. Fase dispnu : perangsangan medulla oblongata karena kadar O2 rendah dan
CO2 yang tinggi berupa amplitudo-frekuensi nafas meningkat, nadi cepat, tensi
tinggi, tanda-tanda sianosis pada muka-tangan.

20
2. Fase konvulsi : rangsangan susunan saraf pusat akibat peningkatan CO2
berupa kejang klonik, lalu tonik, akhirnya opistotonus, pupil dilatasi, denyut
jantung menurun, tensi turun.
3. Fase apnu : depresi pusat nafas hingga berhenti, kesadaran turun, relaksasi
spingter.
4. Fase akhir : paralisis pusat pernafasan lengkap. Jantung masih berdenyut
beberapa saat sesudahnya.
Lama proses asfiksia sampai timbul kematian umumnya antara 4-5 menit.

Klasifikasi kondisi asfiksia yang umum adalah seperti berikut: (9,10)


1. kekurangan oksigen pada udara pernapasan disebut Suffocation
2. obstruksi orifice eksternal disebut pembekapan (smothering)
3. obstruksi jalan napas internal disebut Gagging/Choking
4. obstruksi jalan napas internal oleh tekanan luar disebut
strangulasi/penggantungan
5. restriksi pergerakan dada disebut asfiksia traumatik

1. Suffocation
Terjadi bila individu berada dalam situasi dimana terjadi akumulasi gas
yang tidak berfungsi dalam pernapasan seperti di tambang kapur yang umumnya
jenun dengan gas CO2 dimanan individu yang bernapas dalam situasi ini dengan
cepat hilang kesadaran dan akan mati dengan cepat jika tidak dikeluarkan dari
lingkungan yang hipoksik. Pada semua situasi suffiocation, tanda asfiksia
biasanya minimal dan kematian sangat cepat.
Kematian cepat akibat suffocation turut terdapat pada kejadian kantung
plastik yang menutupi kepala dimana tanda asphyxia klasik tidak didapatkan dan
wajah tampak pucat.

21
2. Pembekapan (Smothering)
Pembekapan adalah penutupan lubang hidung dan mulut yang menghambat
pemasukan udara ke paru-paru dengan bantal atau objek lain termasuk tangan
dengan penutupan hidung atau mulut sangat jarang menimbulkan peteki, sianosis
atau kongesti kecuali bila disertai usaha melawan dari mangsa (struggling).

3. Gagging/Choking
Gagging atau chocking terjadi jika jalan nafas tersumbat oleh benda asing.
Pada gagging, sumbatan terdapat pada orofaring, sedangkan pada chocking
terdapat pada laringofaring. Jalan napas dapat terobstruksi bila kain atau objek
lembut menyumbat mulut seperti pada perampokan dimana tindakan ini bertujuan
mendiamkan mangsa. Awalnya, pernapasan masih dapat berfungsi namun bila
berlanjutan, edema dan mukus hidung menutupi nares posterior dan terjadi
asfiksia progresif. Umumnya disebabkan kematian yang tidak disengajakan
seperti tercekik makanan dimana obstruksi berujung dengan kesulitan napas dan
sianosis kepala dan wajah.

4.Pencekikan (strangulasi manual)


Pencekikan adalah penekanan leher dengan tangan yang menyebabkan
dinding saluran nafas bagian atas tertekan dan terjadi penyempitan saluran nafas
sehingga udara udara pernafasan tidak dapat lewat. Mekanisme kematian adalah
asfiksia dan refleks vagal.
5. Penjeratan
Penjeratan adalah penekanan benda asing berupa tali, ikat pinggang
rantai, stageng, kawat, kabel kaos kaki dan sebagainya, melingkari dan
mengikat leher yang makin lama makin kuat sehingga saluran nafas tertutup.
Mekanisme kematian adalah asfiksia atau refleks vagal.

22
6. Asfiksia traumatik
Ciri utama pada asfiksia traumatik adalah fiksasi thorax oleh sumber
eksternal yang menghambat proses respirasi. Asfiksia traumatik ditunjuk
sebagai asfiksia murni karena didapatkan gambaran klasik kongesti, sianosis
dan peteki. Kongesti yang menyebabkan kulit berwarna kemerahan atau
kebiruan pada wajah dan leher biasanya hanya setinggi tulang selangka.
Perdarahan pada mata dapat sangat luas melibatkan peteki dan ekimosis.

7. Penggantungan
Gantung adalah penekanan benda asing berupa benda panjang
melingkari leher dengan tekanan tenaga yang berasal dari berat badan korban
sendiri. Mekanisme kematian berupa kerusakan batang otak atau medulla
spinalis, asfiksia, iskemi otak, dan refleks vagal. Diketahui beberapa jenis
gantung : typical hanging (titik gantung pada garis pertengahan belakang dan
tekanan pada arteri karotis paling besar), atypical hanging (titik gantung di
samping menimbulkan gambaran muka yang kebiruan), dan kasus dengan
titik gantung di depan atau di dagu. (9)

Pada penggantungan letak tinggi yaitu dimana mangsa dalam keadaan


ayunan bebas seperti pada penggantungan judicial tidak dapat ditemukan
tanda klasik asfiksia diduga karena kematian terjadi secara cepat akibat
tekanan pada leher yang menghasilkan inhibisi vagal. Penggantungan letak
rendah dimana mangsa dapat dalam posisi duduk miring, berlutut atau
separuh baring sering didapatkan tanda asfiksia yang jelas, dan hal ini
merupakan indikator bahwa kematian bukan akibat dari inhibisi vagal.

Pemeriksaan Jenazah Pada Kematian Asfiksia (8,9)


Pada pemeriksaan luar dapat ditemukan :

23
1. Sianosis pada bibir, ujung jari dan kuku.
2. Lebam mayat merah kebiruan lebih gelap dan terbentuklebih cepat dan lebih
luas.
3. Busa halus pada hidung dan mulut.
4. Pelebaran pembuluh darah konjuntiva bulbi dan palpebra.
5. Bintik-bintik perdarahan (Tardieu’s spot) pada konjuntiva bulbi dan palpebra.
6. Tanda-tanda kekerasan dan perlawanan: Pada kasus bekap dapat ditemui luka
lecet (goresan kuku, jenis tekan/geser) atau memar pada ujung hidung, bibir,
pipi, dagu. Pada kasus penyumbatan akan ditemukan benda asing atau tanda
kekerasan akibat benda asing. Pada kasus jerat dan gantung dapat ditemui
luka lecet sekitar jejas, berupa kulit mencekung warna coklat-kaku dengan
gambaran sesuai dengan pola permukaan tali.
7. Untuk kasus jerat, jejas biasanya mendatar, melingkari leher,
setinggi/dibawah rawan gondok. Pada kasus gantung yang typical akan timbul
hambatan total arteri sehingga muka pucat dan tidak terdapat petekie pada
kulit-konjuntiva sedangkan pada yang atypical akan terjadi hambatan jalan
nafas dan aliran vena sehingga terjadi bendungan disebelah atas ikatan, pada
kulit-konjuntiva masih terdapat petekie. Kadang pada tepi jerat akan terdapat
sedikit perdarahan. Adanya bula dan vesicel di sekitar juga merupakan
petunjuk bahwa kekerasan terjadi intravital. Jejas gantung biasanya lebih
tinggi dibanding jejas pada kasus jerat. Lebam mayat pada gantung terdapat
pada lengan bawah dan tungkai bawah.
Pada pemeriksaan dalam dapat ditemukan : (9)
1. Darah berwarna lebih gelap dan lebih encer.
2. Busa halus di saluran pernapasan.
3. Perbendungan sirkulasi pada seluruh organ dalam tubuh, sehingga organ
dalam tubuh menjadi lebih gelap dan lebih berat.

24
4. Petekie (Terdieu’s spot) pada mukosa organ dalam: perikardium, pleura
viseralis paru terutama pada aorta lobus dan busur, kelenjar tiroid, kelenjar
timus, pielum ginjal.
5. Edema paru.
6. Kelainan-kelainan lain yang berhubungan dengan kekerasan, seperti resapan
darah pada luka, fraktur tulang lidah, fraktur laring.

IV. Perbedaan Suicide hanging Dengan Judisial Hanging


I. Suicide Hanging (5)
• Keadaan di TKP (tempat kejadian perkara), dimana korban ditemukan
biasanya tenang, dalam ruang atau tempat yang tersembunyi atau pada tempat
yang sudah tidak dipergunakan.
• Posisi korban yang tergantung lebih mendekati lantai, berbeda dengan
pembunuhan dimana jarak antara kaki dengan lantai cukup lebar.
• Pakaian korban rapih, sering didapatkan surat peninggalan pada saku, yang
isinya adalah alasan mengapa ia melakukan tindakan nekad tersebut.
• Pada leher tidak jarang diberi alas sapu tangan atau kain sebelum alat penjerat
digantungkan kelehernya.
• Jumlah lilitan dapat hanya satu kali, semakin banyak lilitan dugaan bunuh diri
semakin besar.
• Simpul alat penjerat biasanya simpul hidup, letak alat penjerat terhadap leher
berjalan serong, ini dapat diketahui dengan pengukuran letak alat penjerat
terhadap dagu, telinga kanan dan kiri serta batas rambut bagian belakang.
• Letak simpul dapat di belakang atas kiri, belakang atas kanan, depan atas kiri
dan depan atas kanan atau tepat di garis pertengahan bagian depan.
• Selain tanda-tanda asfiksia maka kelainan yang khas adalah adanya jejas berat
yang sebenarnya luka lecet tekan akibat alat penjerat, yang berwarna merah
coklat dengan perabaan yang seperti perkamen, dan sering dijumpai adanya

25
vesikel pada tepi jejas jerat tersebut, dan tidak jarang jejas jerat membentuk
cetakan yang sesuai dengan bentuk permukaan dari alat penjerat.
• Bila alat penjerat mempunyai permukaan yang luas, yang berarti tekanan yang
ditimbulkan tidak terlalu besar tapi cukup menekan pembuluh balik, maka
muka korban tampak sembab, mata menonjol, wajah berwarna merah
kebiruan dan lidah serta air liur dapat keluar tergantung dari letak alat
penjerat.
• Bila permukaan alat penjerat kecil, yang berarti tekanan yang ditimbulkan
besar dan dapat menekan baik pembuluh balik maupun pembuluh nadi, maka
korban tampak pucat, tidak ada penonjolan dari mata.
• Pada keadaan tertentu hanya akan ditemukan jejas jerat, tanpa disertai dengan
tanda-tanda mati lemas, dalam hal ini mekanisme kematian korban adalah
reflex vagal.
• Adanya lebam mayat dan bintik-bintik perdarahan terutama pada bagian akral
(ujung) dari ekstremitas, sangat tergantung dari lamanya korban berada dalam
posisi tergantung.
• Keluarnya air mani dan tinja bukan merupakan tanda khas dari
penggantungan, dan kedua keadaan tersebut tidak selalu ada menyertai
penggantungan.
• Mekanisme kematian pada gantung diri yaitu asfiksia, anoksia, spasme laryng
dan vagal reflex.
• Untuk dapat melihat kelainan pada leher secara teliti, jantung dan otak harus
dikeluarkan dulu, sehingga daerah leher bersih, baru kemudian dilakukan
pemeriksaan.
• Pada gantung diri umumnya tidak dijumpai patah tulang lidah, tulang lidah
dapat patah bila alat penjerat dibagian samping depan menonjol dan menekan
tulang lidah.

26
• Walaupun jarak dinding arteri carotis dapat cedera karena traksi, fraktur
tulang lidah atau rawan gondok dapat terjadi pada korban yang usia diatas 40
tahun, dimana patahnya tulang-tulang tersebut bukan oleh karena tekanan alat
penjerat melainkan oleh karena terjadinya traksi pada penggantungan.

II. Judisial Hanging (3,5)


• Letak simpul tepat pada bagian belakang tengah, keadaan seperti ini disebut
”typical hanging”.
• Dapat terjadi dislokasi atau fraktur dari vertebra yang disertai putusnya
medula spinalis, hal ini disebabkan oleh karena pelaksanaan hukum gantung,
lantai dimana terhukum berdiri secara tiba-tiba terbuka, sehingga korban jatuh
ke dalam dan tersentak dengan kuat.
• Cara-cara melakukan hukum gantung :
1. Shirt Drop ( Jarak Pendek )
Dilakukan dengan menaruh terpidana dibelakang pedati, diatas kuda,
atau kendaraan lain, dengan tali yang diikatkan sekeliling leher. Kendaraan
kemudian dipindahkan meninggalkan terpidana tergantung di tali. Kematian
terjadi perlahan dan mematikan, hingga 1850 cara ini merupakan yanh utama
digunakan. Sebuah tangga juga biasa digunakan, terpidana naik ke atas tangga
dan ketika ujung tali dieratkan tangga lalu ditarik dan terpidana dibiarkan
tergantung.

2. Suspension Hanging ( Penggantungan )


Hampir menyerupai short drop, kecuali tiang gantung yang digunakan
dapat digerakkan, sehingga tali dapat ditarik begitu terpidana ditaruh. Metode
ini sering digunakan di Iran, metode yang sama juga dengan menaruh tali
diantara katrol sehingga terpidana bisa ditarik.
3. Standard Drop

27
Mulai digunakan di Inggris dan daerah jajahannya pada abad ke-19,
pengembangan dari short drop dimana terpidana ditaruh dan di jatuhkan dari
ketinggian 4-6 kaki ( 1,2-1,8 m ). Dimana akibat terjatuh dengan leher terikat
memungkinkan untuk mematahkan leher terpidana, menyebabkan paralysis
dan immobilitas dan mungkin juga langsung kehilangan kesadaran.
Kebanyakan korban meninggal karena asfixia.
4. Long Drop ( Jarak Jauh )
Juga dikenal dengan Measured drop, pertama kali dikenalkan oleh
William Marwood pada tahun 1872 sebagai penelitian lanjut dari standard
drop. Metode ini diambil dari Inggris dan dilakukan oleh beberapa negara
yang mengiginkan agar kematian yang lebih berperikemanusiaan. Daripada
semua orang jatuh dengan ketinggian yang sama, berat badan korban
digunakan untuk mengukur berapa banyak tali yang digunakan sehingga
panjang tali cukup untuk memastikan bahwa leher patah. Patahnya leher
diakibatkan hentakan yang kuat dari tali, bila posisi tali disebelah kiri bawah
dari rahang akan menyebabkan rotasi kepala kebelakang, yang disertai dengan
penurunan momentum dari tubuh, yang menyebabkan patahnya leher dan
ruptur medulla spinalis sehingga kematian menjadi lebih cepat

28
V. ASPEK MEDIKOLEGAL HANGING

Pada tahun1808, Hindia Belanda mengeluarkan peraturan hukum pidana


yang terkenal dengan nama Intermaire Strafbepalingen LNHB Nr 6 Pasal 1 yang
intinya menentukan bahwa pidana mati hanya boleh dilakukan dengan cara
digantung. Pemerintah Hindia Belanda selanjutnya pada tahun 1915 memaksakan
kehendaknya dengan memberlakukan Kitab Undang-undang Hukum Pidana
Belanda (WvSNI) .Pelaksanaan pidana mati menurut KUHP yang diberlakukan
oleh Belanda tersebut tercantum dalam Pasal 11 yang menyatakan bahwa:
"Hukuman mati dijalankan oleh algojo ditempat penggantungan, dengan
menggunakan sebuah jerat di leher terhukum dan mengikatkan jerat itu pada tiang
penggantungan dan menjatuhkan papan tempat orang itu berdiri." Hal ini berlanjut
sampai tahun 1944 yatu saat pemerintahan jepang. Indonesia memproklamasikan
kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, menurut Pasal II Aturan
Peraturan Peralihan UUD 1945 jo Peraturan Pemerintah No. 2 Tahun 1945
dikatakan bahwa "peraturan lama dipandang tetap berlaku", dalam hal ini WvSNI
dan peraturan hukum pidana pemerintah bala tentara Jepang, sehingga cara
pelaksanaan hukuman mati sama dengan cara yang berlaku pada masa pendudukan
Jepang, yaitu ditembak atau digantung (11,13)

Pada tahun 1946 pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan UU No. 1


Tahun 1946, Pasal 1 mengatakan bahwa peraturan hukum pidana yang berlaku
sekarang ialah peraturan hukum pidana yang ada pada tanggal 8 Maret 1942,
hukuman mati dilaksanakan dengan cara digantung. Setelah pemerintah Republik
Indonesia mengeluarkan UU No. 73 Tahun 1958 yang isinya menyatakan
berlakunya UU No. 1 Tahun 1945 untuk seluruh Indonesia, maka cara pelaksanaan
pidana mati dilakukan dengan digantung, sesuai dengan ketentuan Pasal 11
KUHP. Pelaksanaan pidana mati dengan cara digantung berlaku sampai dengan
tahun 1964. Melalui Penetapan Presiden No. 2 Tahun 1964 Pasal 1 pelaksanaan

29
penjatuhan pidana mati di Indonesia tidak lagi dilaksanakan dengan cara
digantung, karena dipandang tidak sesuai lagi dengan jiwa bangsa Indonesia,
untuk selanjutnya pidana mati dilaksanakan dengan cara ditembak sampai mati,
yang berlaku sampai hari ini.(11,12,13)

1. Beberapa faktor di bawah ini dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk


menetukan kasus bunuh diri, penggantungan atau kecelakaan.(8)
(a). Penggantungan biasanya merupakan tindakan bunuh diri, kecuali
dibuktikan lain. Usia tidak menjadi masalah untuk melakukan bunuh diri
dengan cara ini. Pernah ada laporan kasus dimana seorang anak berusia 12
tahun melakukan bunuh diri dengan penggantungan. Kecelakaan yang
menyebabkan penggantungan jarang terjadi kecuali pada anak-anak di bawah
usia 12 tahun
(b). Cara terjadinya penggantungan
(c). Bukti-bukti tidak langsung di sekitar tempat kejadian
(d). Tanda berupa jejas penjeratan
(e). Tanda-tanda kekerasan atau perlawanan

Undang-undang yang berhubungan dengan penggantungan.(14)

Pasal 338
Barang siapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain, diancam karena
pembunuhan dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.

Pasal 339
Pembunuhan yang diikuti, disertai atau didahului oleh suatu perbuatan pidana, yang
dilakukan dengan maksud untuk mempersiapkan atau mempermudah
pelaksanaannya, atau untuk melepaskan diri sendiri maupun peserta lainnya dari
pidana dalam hal tertangkap tangan, ataupun untuk memastikan penguasaan barang

30
yang diperolehnya secara melawan hukum, diancam dengan pidana penjara seumur
hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun.

Pasal 340
Barang siapa dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa
orang lain, diancam karena pembunuhan dengan rencana, dengan pidana rnati atau
pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh
tahun.

Pasal 344
Barang siapa merampas nyawa orang lain atas permintaan orang itu sendiri yang jelas
dinyatakan dengan kesungguhan hati, diancam dengan pidana penjara paling lama
dua belas tahun.

Pasal 345
Barang siapa sengaja mendorong orang lain untuk bunuh diri, menolongnya dalam
perbuatan itu atau memberi sarana kepadanya untuk itu, diancam dengan pidana
penjara paling lama empat tahun kalau orang itu jadi bunuh

Pasal 351
(1) Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan
bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah,

31
Perbedaan antara penggantungan antemortem dan postmortem(8)
No Penggantungan antemortem Penggantungan postmortem
1 Tanda-tanda penggantungan ante- Tanda-tanda post-mortem menunjukkan
mortem bervariasi. Tergantung dari kematian yang bukan disebabkan
cara kematian korban penggantungan
2 Tanda jejas jeratan miring, berupa Tanda jejas jeratan biasanya berbentuk
lingkaran terputus (non-continuous) lingkaran utuh (continuous), agak sirkuler
dan letaknya pada leher bagian atas dan letaknya pada bagian leher tidak begitu
tinggi
3 Simpul tali biasanya tunggal, terdapat Simpul tali biasanya lebih dari satu,
pada sisi leher diikatkan dengan kuat dan diletakkan pada
bagian depan leher
4 Ekimosis tampak jelas pada salah satu Ekimosis pada salah satu sisi jejas penjeratan
sisi dari jejas penjeratan. Lebam tidak ada atau tidak jelas. Lebam mayat
mayat tampak di atas jejas jerat dan terdapat pada bagian tubuh yang
pada tungkai bawah menggantung sesuai dengan posisi mayat
setelah meninggal

5 Pada kulit di tempat jejas penjeratan Tanda parchmentisasi tidak ada atau tidak
teraba seperti perabaan kertas begitu jelas
perkamen, yaitu tanda parchmentisasi
6 Sianosis pada wajah, bibir, telinga, Sianosis pada bagian wajah, bibir, telinga
dan lain-lain sangat jelas terlihat dan lain-lain tergantung dari penyebab
terutama jika kematian karena asfiksia kematian
7 Wajah membengkak dan mata Tanda-tanda pada wajah dan mata tidak
mengalami kongesti dan agak terdapat, kecuali jika penyebab kematian
menonjol, disertai dengan gambaran adalah pencekikan (strangulasi) atau sufokasi
pembuluh dara vena yang jelas pada
bagian kening dan dahi
8 Lidah bisa terjulur atau tidak sama Lidah tidak terjulur kecuali pada kasus
sekali kematian akibat pencekikan
9 Penis. Ereksi penis disertai dengan Penis. Ereksi penis dan cairan sperma tidak
keluarnya cairan sperma sering terjadi ada. Pengeluaran feses juga tidak ada
pada korban pria. Demikian juga
sering ditemukan keluarnya feses
10 Air liur. Ditemukan menetes dari Air liur tidak ditemukan yang menetes pad
sudut mulut, dengan arah yang kasus selain kasus penggantungan.
vertikal menuju dada. Hal ini
merupakan pertanda pasti
penggantungan ante-mortem

32
Perbedaan penggantungan pada bunuh diri dan pada pembunuhan (8)
No Penggantungan pada bunuh diri Penggantungan pada pembunuhan
1 Usia. Gantung diri lebih sering terjadi Tidak mengenal batas usia, karena tindakan
pada remaja dan orang dewasa. pembunuhan dilakukan oleh musuh atau
Anak-anak di bawah usia 10 tahun lawan dari korban dan tidak bergantung pada
atau orang dewasa di atas usia 50 usia
tahun jarang melakukan gantung diri
2 Tanda jejas jeratan, bentuknya miring, Tanda jejas jeratan, berupa lingkaran tidak
berupa lingkaran terputus (non- terputus, mendatar, dan letaknya di bagian
continuous) dan terletak pada bagian tengah leher, karena usaha pelaku
atas leher pembunuhan untuk membuat simpul tali
3 Simpul tali, biasanya hanya satu Simpul tali biasanya lebih dari satu pada
simpul yang letaknya pada bagian bagian depan leher dan simpul tali tersebut
samping leher terikat kuat
4 Riwayat korban. Biasanya korban Sebelumnya korban tidak mempunyai
mempunyai riwayat untuk mencoba riwayat untuk bunuh diri
bunuh diri dengan cara lain
5 Cedera. Luka-luka pada tubuh korban Cedera berupa luka-luka pada tubuh korban
yang bisa menyebabkan kematian biasanya mengarah kepada pembunuhan
mendadak tidak ditemukan pada kasus
bunuh diri
6 Racun. Ditemukannya racun dalam Terdapatnya racun berupa asam opium
lambung korban, misalnya arsen, hidrosianat atau kalium sianida tidak sesuai
sublimat korosif dan lain-lain tidak pada kasus pembunuhan, karena untuk hal ini
bertentangan dengan kasus gantung perlu waktu dan kemauan dari korban itu
diri. Rasa nyeri yang disebabkan sendiri. Dengan demikian maka kasus
racun tersebut mungkin mendorong penggantungan tersebut adalah karena bunuh
korban untuk melakukan gantung diri diri
7 Tangan tidak dalam keadaan terikat, Tangan yang dalam keadaan terikat
karena sulit untuk gantung diri dalam mengarahkan dugaan pada kasus
keadaan tangan terikat pembunuhan

8 Kemudahan. Pada kasus bunuhdiri, Pada kasus pembunuhan, mayat ditemukan


mayat biasanya ditemukan tergantung tergantung pada tempat yang sulit dicapai
pada tempat yang mudah dicapai oleh oleh korban dan alat yang digunakan untuk
korban atau di sekitarnya ditemukan mencapai tempat tersebut tidak ditemukan
alat yang digunakan untuk mencapai
tempat tersebut
9 Tempat kejadian. Jika kejadian Tempat kejadian. Bila sebaliknya pada
berlangsung di dalam kamar, dimana ruangan ditemukan terkunci dari luar, maka
pintu, jendela ditemukan dalam penggantungan adalah kasus pembunuhan

33
No Penggantungan pada bunuh diri Penggantungan pada pembunuhan
keadaan tertutup dan terkunci dari
dalam, maka kasusnya pasti
merupakan bunuh diri
10 Tanda-tanda perlawanan, tidak Tanda-tanda perlawanan hampir selalu ada
ditemukan pada kasus gantung diri kecuali jika korban sedang tidur, tidak sadar
atau masih anak-anak.

34
DAFTAR PUSTAKA

1. Skhrum J. Michael MD, Ramsay A. David, MB, ChB; Forensic Pathology of


Trauma, Common Problems for The Pathologist : Tontowa, New Jersey: 2007.
Page : 81-107.
2. Richard Jones; Hanging, Available at: http://www.ehresources.co.uk/. Accessed
on: Februari 12nd, 2008.
3. Anonym; Hanging, Available at: http://en.wikipedia.org/wiki/Hanging Accessed
on: Februari 12nd, 2008.
4. Ernoehazy William Jr, MD, FACEP; Hanging and Strangulation, Available at:
http://www.emedicine/hanging/forensic. Accessed on: Februari 14th, 2008.
5. Idries AM. Penggantungan. In: Idries AM, editor. Pedoman ilmu kedokteran
forensik. Edisi 1. Jakarta: Binarupa Aksara; 1997. p202-207.
6. Jones R, editor. Hanging [monograph on the internet]. Inggris:
Ehresources.co.uk; [cited 2008 Feb 13]. Available from:
http://www.forensicmed.co.uk
7. KoAss Forensik RSCM, editor. Tanda dan luka lain pada kematian asfiksia
[monograph on the internet]. Jakarta: KoAss Foreensik RSCM; [cites 2008 Feb
13] Available from:
Http://www.freewebs.com/asfiksia/tandalainpadaasfiksia.htm.
8. Chadha PV. Kematian Akibat Asfiksia. Dalam Ilmu Forensik dan Toksikologi.
Edisi kelima. Penerbit:Widya Medika.
9. Mansjoer A, Suprohaita dkk. Asfiksia, Tenggelam, dan Keracunan. Dalam
Kapita Selekta Kedokteran. Edisi ketiga. Jilid kedua. Penerbit:Media
Aeskulapius. FK-UI. 2000.
10. Shephered R. Simpson’s forensic medicine. 12th ed. London: Blackwell

Publishing; 2003.

11. Rifai E, Yusanuli; Hukuman Mati, Available at:


http://www.apakabar@clark.com. Accessed on: Februari 30th , 2008.

35
12. Fadhly; Legalitas Eksekusi Pidana Mati Ditinjau Dari Perspektif Hukum Positif
Indonesia, Available at: http://www.blog.360.yahoo.com. Accessed on: Februari
30th , 2008.
13. Zebua L; Pidana Mati di Indonesia, Available at: http://www.
hukumbisnislucky.blogspot.com. Accessed on: Februari 30th , 2008.
14. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), Buku kedua, Tentang Kejahatan.
Available at: http://www.wirantaprawira.de/law/criminal/kuhp/index3.html.
Accessed on: Februari 30th , 2008.

36