Anda di halaman 1dari 26

Undang-Undang & Etika Kesehatan

Peranan Pedagang Besar Farmasi (PBF) dalam


Meningkatkan Pelayanan Kesehatan Masyarakat

Disusun oleh :
Kelompok III

Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Riau


Prodi S-1
2009/2010
Undang-Undang & Etika Kesehatan

Peranan Pedagang Besar Farmasi (PBF)


dalam Meningkatkan Pelayanan Kesehatan
Masyarakat

Disusun oleh :

Kelompok III

Norman Saputra 0901035

Nur Alimin 0901037

Nur Azman Fadli 0901038

Rendi Persaulian Harahap 0901047

Rengga Virgian Panca Wardana 0901048

Murni Adisty Lucita 0901032

Nafila 0901033

Nila Trisna 0901034

Novella Isramidah Fivka 0901036

Nuraisyah 0901039

Nurul Atika 0901044

Nurul Hafizah 0901045

Oviana 0901046

Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Riau


Prodi S-1
2009/2010

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah kami serukan kehadirat Illahi Robbi


karena bimbingan, tuntunan, taufik dan hidayah-Nyalah kami
mampu meyusun dan menyelesaikan makalah ini tepat pada
waktu yang ditentukan. Bahasan makalah kami tentang
Undang-Undang dan Etika Kesehatan dengan sub-bahasan
Peranan Pedagang Besar (PBF) dalam Meningkatkan
Pelayanan Kesehatan Masyarakat.

Kami sangat mengharapkan, dengan dibuatnya makalah ini


mampu meningkatkan wawasan dan kerja sama di kalangan
mahasiswa dalam pencapain pembelajaran yang optimal.
Terutama dalam mata kuliah Undang-Undang dan Etika
Kesehatan.

Kami ucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang


membantu dalam pengupayaan penyusunan makalah ini. Tentu
saja, makalah ini tidaklah sempurna. Oleh karenanya, kami
sangat menantikan saran, gagasan dan kritik yang membangun
demi perbaikan dalam penulisan selanjutnya.
Hormat
kami,

Penyusun

DAFTAR ISI

Kata pengantar--------------------------------------------------------------ii

Daftar isi-----------------------------------------------------------------------iii

Bab I Pendahuluan---------------------------------------------------------1

1.1 Pengertian PBF---------------------------------------------------------1

1.2 Syarat-Syarat Mendirikan PBF------------------------------------1

1.3 Tugas dan Fungsi PBF-----------------------------------------------1

1.4 Pemberian Izin PBF---------------------------------------------------2

1.5 Tata Cara Penyaluran Perbekalan Farmasi-------------------4

1.6 Laporan PBF------------------------------------------------------------4

1.7 Syarat Ketenagakerjaan PBF--------------------------------------5

1.8 Sarana dan Prasarana PBF-----------------------------------------5

Bab II Pedagang Besar Farmasi----------------------------------------6

2.1 Struktur Organisasi---------------------------------------------------6


2.2 Tugas dan Peran Tenaga Kerja Kefarmasian di PBF-------11

2.3 Pendistribusian--------------------------------------------------------13

2.4 Pelaporan----------------------------------------------------------------18

Bab III Kesimpulan---------------------------------------------------------20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 PENGERTIAN PBF

Menurut SK Mentri Kesehatan no: 243/MENKES/SK/V/1990


tentang PBF sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan kefarmasian
dewasa ini, maka ditetapkan Peraturan Menteri Kesehatan
no:918/MENKES/PER/X/1993 bahwa PBF adalah badan hukum
berbentuk perseroan terbatas atau koperasi yang memiliki izin
mengadakan penyimpanan dan menyalurkan perbekalan farmasi
dalam jumlah besar sesuai dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.

1.2 SYARAT-SYARAT MENDIRIKAN PBF


Syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk mendirikan suatu PBF
adalah sebagai berikut:

1) Harus ada izin dari Menteri Kesehatan RI


2) Dilakukan oleh badan hukum berbentuk perseroan terbatas,
koperasi,atau perusahaan modal asing yang telah memiliki
izin usaha industri farmasi Indonesia dengan perusahaan
nasional.
3) Memiliki nomor pokok wajib pajak (NPWP)
4) Memiliki apoteker penanggung jawab (AP).
5) Anggota direksi tidak pernah terlibat pelanggaran ketentuan
perundang-undangan yang berlaku di bidang farmasi.

1.3 TUGAS DAN FUNGSI PBF

1.3.1 Tugas PBF yaitu:

a) Tempat menyediakan dan menyimpan perbekalan farmasi yang


meliputi obat, bahan obat, dan alat kesehatan.
b) Sebagai sarana yang mendistribusikan perbekalan farmasi ke sarana
pelayanan kesehatan masyarakat yang meliputi : apotek, rumah sakit,
toko obat berizin dan sarana pelayanan kesehatan masyarakat lain serta
PBF lainnya.
c) Membuat laporan dengan lengkap setiap pengadaan, penyimpanan,
penyaluran, perbekalan farmasi sehingga dapat
dipertanggungjawabkan setiap dilakukan pemeriksaan.

Untuk toko obat berizin, pendistribusian obat hanya pada obat-


obatan golongan obat bebas dan obat bebas terbatas, sedangkan
untuk apotek, rumah sakit dan PBF lain melakukan pendistribusian
obat bebas, obat bebas terbatas, obat keras dan obat keras tertentu.

1.3.2 Fungsi PBF antara lain:

a) Sebagai sarana distribusi farmasi bagi industri-industri farmasi.


b) Sebagai saluran distribusi obat-obatan yang bekerja aktif ke seluruh
tanah air secara merata dan teratur guna mempermudah pelayanan
kesehatan.
c) Untuk membantu pemerintah dalam mencapai tingkat kesempurnaan
penyediaan obat-obatan untuk pelayanan kesehatan.
d) Sebagai penyalur tunggal obat-obatan golongan narkotik dimana PBF
khusus, yang melakukannya adalah PT. Kimia Farma.
e) Sebagai aset atau kekayaan nasional dan lapangan kerja.

1.4 PEMBERIAN IZIN PBF

1.4.1 Tata cara pemberian PBF

Izin usaha PBF diberikan oleh MENKES. Menteri Kesehatan akan


melimpahkan wewenangnya tersebut kepada Badan POM untuk
memberikan izin usahanya yang berlaku untuk wilayah seluruh
Indonesia. Khusus pendiri PBF cabang provinsi wajib melaporkan
kepada kantor Dinas Kesehatan Provinsi dengan tembusan kepada
balai besar POM.

Tata cara pemberian izin PBF adalah sebagai berikut:

a) Melakukan permohonan izin usaha kepada Badan POM dengan


tembusan dinas kesehatan setempat.
b) Permohonan izin usaha diajukan setelah PBF siap untuk melakukan
kegiatan.
c) Selambat-lambatnya setelah enam hari dinas kesehatan akan
menugaskan balai POM setempat untuk melakukan pemeriksaan
terhadap kesiapan PBF dalam melakukan kegiatan.
d) Selambat-lambatnya enam hari setelah penugasan balai POM untuk
melakukan pemeriksaan balai POM akan melaporkan hasil
pemeriksaannya kepada dinas kesehatan.
e) Selambat-lambatnya enam hari setelah penugasan balai POM dinas
kesehatan akan melaporkan kepada Badan POM.
f) Dalam jangka waktu dua belas hari setelah diterimanya hasil laporan
oleh Badan POM akan mengeluarkan izin usaha PBF yang telah
memenuhi syarat.

1.4.2 PENCABUTAN IZIN USAHA PBF

Badan POM akan melakukan pencabutan izin usaha PBF apabila


PBF yang bersangkutan:

a) Tidak memperkerjakan apoteker/tenaga teknis kefarmasian


penanggung jawab yang memiliki Surat Izin Kerja.
b) Tidak aktif lagi dalam penyaluran obat selama satu tahun
c) Tidak lagi memenuhi persyaratan usaha sebagaimana ditetapkan dalam
peraturan.
d) Tidak lagi menyampaikan informasi PBF tiga kali berturut-turut.
e) Tidak memenuhi ketentuan tata cara penyaluran perbekalan farmasi
sebagaimana yang ditetapkan.

1.4.3 PERINGATAN DAN PEMBEKUAN IZIN USAHA

Sebelum melakukan pencabutan izin usaha PBF, Balai Besar


POM akan melakukan tindakan-tindakan sebagai berikut terhadap PBF
yang bersangkutan dengan mengeluarkan:

a) Peringatan secara tertulis kepada PBF yang bersangkutan sebanyak


tiga kali berturut-turut dalam waktu masing-masing 2 bulan.
b) Pembekuan izin usaha yang bersangkutan untuk jangka waktu enam
bulan sejak dikeluarkannya penetapan pebekuan kegiatan usaha PBF
yang bersangkutan.
Telah membuktikan memenuhi seluruh syarat sesuai ketentuan
pembekuan atau pencabutan izin usaha PBF berlaku juga untuk
seluruh cabang PBF di Indonesia. Peringatan dan pembekuan izin
usaha tidak berlaku untuk PBF yang sudah tidak aktif lagi selama satu
tahun sehingga untuk PBF yang sudah tidak aktif lagi akan dilakukan
pencabutan izin usaha terhadap PBF tersebut.

1.5 TATA CARA PENYALURAN PERBEKALAN FARMASI

Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya PBF juga diberikan


larangan oleh pemerintah yaitu:

a) PBF dilarang menjual obat-obatan secara eceran.


b) PBF dilarang menyimpan dan menyalurkan obat-obatan golongan
narkotika tanpa izin khusus.
c) PBF tidak boleh melayani resep dokter.
d) PBF dilarang membungkus atau mengemas kembali dengan merubah
bungkus asli dari pabrik kecuali PBF bersangkutan mempunyai
laboratorium.
e) Pedagang Besar Farmasi hanya boleh menyalurkan obat keras kepada
apotek, PBF lain, instansi yang diizinkan oleh Menteri Kesehatan.

1.6 LAPORAN PEDAGANG BESAR FARMASI

Selama menjalankan kegiatannya PBF wajib memberikan


laporan secara rutin dan berkala kepada pihak yang berwenang
diantaranya:

a) PBF dan setiap cabangnya wajib menyampaikan laporan


secara berkala setiap tiga bulan, mengenai kegiatannya yang
meliputi jumlah penerimaan dan penyaluran masing-masing
jenis obat-obatan kepada badan POM dengan tembusan
kepala dinas setempat.
b) PBF yang menyalurkan narkotika dan psikotropika wajib
menyampaikan laporan penerimaan dan penyalurannnya
sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku disamping
laporan berkala.

1.7 SYARAT KETENAGAKERJAAN PBF

1) PBF harus memiliki seorang apoteker atau tenaga teknis


kefarmasian yang memiliki surat izin kerja (SIK) sebagai
penanggung jawab teknis penyimpanan surat penyaluran
obat dan alat kesehatan.
2) Memiliki seorang apoteker yang memiliki surat izin kerja
(SIK) sebagai penaggung jawab.
3) Untuk ketenagakerjaan umum di PBF minimal tamatan SLTA
atau yang sederajat.
4) Masing-masing tenaga kerja harus bekerja sesuai dengan
keahlian, kemampuan, dan keterampilan di bidangnya
masing-masing.

1.8 SARANA DAN PRASARANA PBF

1) PBF merupakan suatu sarana yang berbentuk badan hukum


dengan maksud terdapat kepastian usaha serta kemudahan
pengawasan yang berfungsi mengadakan, menyimpan dan
menyalurkan perbekalan farmasi.
2) Prasarana PBF meliputi perbekalan farmasi berupa obat,
bahan obat dan alat kesehatan yang dijual dalam jumlah
besar pada sarana pelayanan masyarakat atau PBF lainnya.

BAB II
PEDAGANG BESAR FARMASI

2.1 Struktur Organisasi

Direktur
Pimpina
n

Penanggu Acc & Distributi Gudan Salesma


ng jawab Adm on g n
teknis Supervis
(AA) or
Ass. Bagian
Kasi Pembukua Kepala Penyalura
r n Gudan n
g
Penyusunan struktur organisasi dapat mempengaruhi kelancaran dan
perkembangan suatu perusahaan, sehingga mengorganisir struktur
organisasi merupakan langkah pertama yang harus dilaksanakan oleh setiap
manejer. Dengan adanya organisasi yang teratur, tepat dan efisien serta sesuai
dengan kebutuhan perusahaan maka hasil yang diharapkan dapat tercapai apabila
struktur organisasi serta tenaga kerja yang ada didalamnya dapat bekerja sama
dengan baik.

Struktur organisasi merupakan susunan dan hubungan antara


bagian komponen dan posisi dalam suatu perusahaan. Dengan demikian
organisasi merupakan serangkaian aktivitas yang meliputi :
• Penyusunan bentuk dan pola usaha bersama

• Pembagian pekerjaan yang dijalankan guna menyelenggarakan


rencana kepada petugas-petugas tertentu
• Menetapkan hubungan kerja seluruh perintah dari tanggung jawab
diantara mereka.
• menetapkan cara-cara keorganisasian.

Struktur organisasi memberikan stabilitas dan kontinuitas


yang memungkinkan organisasi mempertahankan kelangsungan hidup
perusahaan untuk koordinasi hubungan dengan lingkungannya. Adapun
struktur organisasi yang perlu diketahui adalah sebagai berikut :
1. Spesialisasi aktivitas
Merupakan unsur yang mengacu pada spesifikasi tugas-tugas perorangan
dan kelompok kerja di seluruh organisasi.
2. Standarisasi aktivitas
Suatu prosedur yang digunakan organisasi untuk menjamin kelayakan
aktivitasnya.
3. Koordinasi Kerja

Prosedur yang mengintegrasikan fungsi-fungsi subunit dalam organisasi

4. Sentralisasi dan desentralisasi pengambilan keputusan

Pada struktur yang sentralisasi pengambilan keputusan mengacu pada satu


pimpinan puncak sedangkan pada desentralisasi dengan
pengambilan keputusan dibagi antar menejer yang lebih rendah
tingkatnya.
5. Ukuran unit kedua mengacu pada jumlah pegawai dalam suatu kelompok

Sebelum membahas struktur organisasi PBF dalam bentuk badan hukum


perseroan terbatas, akan dilihat secara umum unsur-unsur dari organisasi tersebut
adalah
1) Adanya dua orang atau lebih.

2) Adanya maksud untuk bekerja sama.

3) Adanya pengaturan hubungan dan proses pembagian kerja.

4) Adanya tujuan yang hendak dicapai.

Jadi organisasi pada suatu perusahaan merupakan faktor yang menentukan


dalam kegiatan perusahaan. Terutama dalam melakukan tugas yang dibebankan,
pendelegasian kekuasaan di dalam perusahaan dan pengaturan hubungan
antar anggota yang terlibat dalam organisasi, guna mencapai tujuan
yang telah ditetapkan.
Dalam suatu perusahaan struktur organisasi yang baik adalah
struktur organisasi yang sehat dan efisien. Struktur organisasi yang sehat adalah
tiap satuan organisasi yang ada dapat menjalankan peranannya dengan
tertib. Struktur organisasi yang efisien berarti dalam menjalankan
peranannya masing-masing satuan organisasi dapat mencapai perbandingan
terbaik antara usaha dan hasil kerja, menurut pola hubungan serta lalu lintas
wewenang dan tanggung jawab.

1. Direktur

Merupakan pimpinan tertinggi pada perusahaan, dan untuk saat ini tugas
direktur dilimpahkan kepada usaha, bagian ini mempunyai tugas dan
wewenang sebagai berikut :
a. Menyusun dan membuat target pasar

b. Memimpin tim penjualan yang terdiri dari sales supervisor dan


salesman
c. Menganalisa pasar serta mengontrol hasil penjualan

d. Memberi informasi mengenai kebijaksanaan perusahaan kepada


bawahan.
e. Membantu tingkat atau jumlah pembelian.

2. Sales Supervisor

Sales supervisor merupakan bagian dari aktivitas pemasaran


langsung yang terdiri dari pemasaran produk untuk dalam dan luar kota
yang mempunyai tugas sebagai berikut :
a. Menggantikan kedudukan atau wewenang direktur bila tidak tepat
b. Mengontrol kegiatan salesman
c. Mengadakan transaksi kepada langganan.

3. Accountant Administrasi Supervior

Pada bagian accountant administrator supervisor ini diberi tugas


dan wewenang sebagai berikut :
a. Membuat perjanjian dengan langganan tentang transaksi yang
dilakukan
b. Menyetujui atau membatalkan order yang diminta oleh langganan
sesuai dengan ketentuan perusahaan
c. Membuat laporan penjualan baik tunai maupun kredit.

d. Melakukan pengontrolan data, terutama nota kredit yang telah


jatuh tempo maupun yang belum.
e. Mengirimkan segala laporan baik dari bagian gudang, keuangan
dan kepada atasan.

4. Salesman

Salesman adalah tenaga kerja langsung terjun ke pasar untuk


mengamati dan sekaligus melayani pasar. Tugas dan wewenangnya adalah
sebagai berikut :
a. Melayani pemesanan barang-barang yang dibutuhkan dan yang
diminta oleh pelanggan.
b. Mencatat semua pesanan yang dibutuhkan setiap pelanggan.
c. Melakukan penagihan piutang dari barang-barang yang telah dijual
kepada pelanggan sebelumnya
d. Memberikan umpan balik (feed back) atas gejala yang tepat dari
pasar kepada perusahaan.

5. Pembukuan

Bagian ini mempunyai tugas dan wewenang sebagai berikut:

a. Menerima dan memenuhi order dari para pelanggan.

b. Mencatat transaksi penjualan dan penerimaan.

c. Mempersiapkan laporan penjualan harian untuk disampaikan


kepada accounting and administrator supervisor.

6. Distribution
Bagian ini memiliki tugas dan wewenang untuk membuat dan
memberikan laporan distribusi obat kepada Dinas Kesehatan Propinsi dan
Balai Pengawasan Obat dan Makan Kota Propinsi. Disamping itu bagian ini juga
bertanggung jawab langsung pada kuasa usaha dan membuat laporan
tentang pengembalian obat-obat yang telah expired date.

7. Kasir

Kasir mempunyai tugas dan wewenang sebagai berikut:

a. Penerimaan pembayaran atas tagihan yang telah dilakukan oleh para


salesman sesuai faktur
b. Mempersiapkan sejumlah uang yang harus disetor ke rekening
giro pada bank.
c. Melakukan pembayaran-pembayaran yang sehubungan dengan
transaksi dari perusahaan.
d. Membuat laporan penerimaan dan pengeluaran kas untuk disampaikan
kepada accounting and administrator supervisor.
a. Membuat rencana penerimaan tagihan atau piutang perusahaan
untuk bulan mendatang.

8. Gudang

B agian gudang mempunyai tugas dan kew ajiban mengontrol,


mengeluarkan serta memasukkan obat-obat dari dan ke gudang.

9. Driver

Bagian ini mempunyai tugas dan wewenang sebagai berikut

a. Mengantarkan salesman untuk melayani pesanan yang dibutuhkan


pelanggan
b. Mengangkut barang-barang dari gudang ke daerah pemasaran.

2.2 TUGAS DAN PERAN TTK DI PBF


Aktivitas perusahaan menentukan besar kecilnya pendapatan
dari perusahaan tersebut. PBF kegiatan utama adalah memasarkan obat-obatan
yang diproduksi oleh berbagai pabrik. Daerah pemasaran dari perusahaan
adalah kota dan daerah di luar Kota. Obat-obatan yang dipasarkan adalah
berbagai produk yang dihasilkan oleh perusahaan mitra termasuk obat-obat yang
memiliki label K (obat keras).
Sasaran pemasaran dari PBF adalah dokter-dokter yang ada di daerah
sasaran maupun di luar daerah sasaran, apotek-apotek baik yang
lingkungan rumah sakit maupun tidak dalam lingkungan rumah sakit, serta
toko-toko obat. Selain obat-obatan, PBF juga memasarkan berbagai jenis
jamu atau obat tradisional, alat-alat kesehatan serta bahan-bahan kimia.
Dengan demikian berarti perusahaan tidak hanya terfokus pada pemasaran obat-
obatan saja tetapi juga memasarkan produk-produk kesehatan lainnya.
2.2.1 Pengadaan dan Pemesanan
Pengadaan obat-obat dilakukan berdasarkan jumlah persedian yang ada di
gudang melalui kartu stok. Jika ada barang yang akan habis maka segera
dilakukan pemesanan barang ke pabrik. Pemesanan barang dilakukan oleh tenaga
teknis kefarmasian dan di setujui oleh pimpinan dengan mengirimkan surat
pesanan langsung kepada pabrik yang bersangkutan melalui faximile. Selanjutnya
pabrik akan mengirimkan barang sesuai dengan pesanan yang disertai faktur
pengiriman barang dari pabrik.

2.2.2 Penerimaan barang

Dalam hal ini dilakukan adalah pengecekan barang – barang


yang datang dari pabrik mengenai jumlah barang, keadaan barang,
dan kecocokkan dengan faktur. Barang yang telah masuk dicek,
diperiksa, disimpan,dan disusun rapi dalam gudang, sesuai dengan
letaknya.

Apabila terjadi kekurangan untuk kekeliruan dari pengirim


barang tersebut, tenaga teknis kefarmasian harus segera
mengkorfirmasikan kepada pabrik. Pengecekan yang dilakukan
mencakup cek fisik yaitu kemasan, keadaan obat, jumlah obat, dan
tanggal exp. date.

2.2.3 Pergudangan
Barang yang telah diterima oleh PBF dicek kembali oleh tenaga teknis
kefarmasian penanggung jawab.

2.2.4 Penyimpanan
Barang yang masuk dan telah diperiksa, disimpan dan disusun dengan rapi
pada rak-rak penyimpanan berdasarkan:
1. Penyimpanan dikelompokan berdasarkan pabrik yang
memproduksinya
2. Penyimpanan dikelompokkan berdasarkan abjad
3. Penyusunan dilakukan dengan sistem FIFO (First in First out), dimana
barang yang pertama masuk akan keluar lebih dahulu.
4. Untuk obat-obat berbentuk syrup disusun di bagian bawah rak untuk
memudahkan pengambilan dan antisipasi bila sirup tersebut jatuh atau
pecah tidak akan membasahi obat lain.
5. Untuk obat golongan OKT disimpan dalam lemari khusus.
6. Untuk obat berbentuk injeksi, suppossitoria dan obat yang higroskopis
disimpan dalam lemari pendingin.

2.2.5 Penanganan Obat Kadaluarsa

Langkah – langakah penanganan obat kadaluarsa sebagai


berikut :

• Obat yang mendekati kadaluarsa dipisahkan dari obat yang


belum mendekati kadaluarsa.
• Setelah dipisahkan, obat dikirimkan ke pabrik untuk
mendapatkan penggantian dengan menyatakan surat
pengembalian barang.
• Obat yang telah dikirim biasanya diganti oleh pabrik ,
biasanya dengan barang sejenis atau barang yang lain
dengan harga yang sesuai ataupun dengan uang .
• Pengembalian obat kadalursa ditentukan berdasarkan
peraturan yang telah ditetapkan oleh pabriknya masing –
masing.
• Untuk produk jamu tidak mematok pada kadaluarsa, artinya
jika mendekati waktu kadaluarsa ataupun lewat batas
kadalursa akan tetap dapat dikembalikan .

2.3 Pendistribusian

PBF melakukan kegiatannya dalam bidang pendistribusian.


Pendistribusian obat-obat dan alat kesehatan ini dilaksanakan kepada :

a. Toko obat.
b. Apotek .
c. Rumah sakit , Puskesmas .
d. Dokter yang mempunyai SIMO (surat izin menyimpan obat).
e. PBF lain .

Jenis – jenis obat yang diperdagangkan di PBF antara lain :

a. Obat bebas .
b. Obat bebas terbatas .
c. Obat keras (Daftar G).
d. Obat psikotropika (OKT) .
e. Alat – alat kesehatan .
f. Jamu .
Penyaluran obat-obatan dilakukan dengan mencari orderan
yang dilakukan berdasarkan oleh salesman-salesman PBF. Penyaluran
dapat juga dilakukan berdasarkan pesanan dari suatu pelayanan
kesehatan atau PBF lain kepada salesman PBF order.
Barang yang akan didistribusian oleh salesman terlebih dahulu
dibuatkan fakturnya lalu diserahkan kepada kepala gudang atau
asistennya akan mengambilan barang sesuai yang tertera di faktur.
Selanjutnya barang berseta faktur akan diantarkan langsung ke sarana
pelayanan kesehatan yang memesan barang tersebut .

2.3.1 Alur pendistribusian:

a. Obat bebas dan obat tradisional

Apotek

Instalasi RS

PBF Konsumen

PBF lain

Toko obat
berizin

b. Obat daftar G

Apotik
PBF Instalasi RS Konsumen

PBF lain

c. Alat kesehatan

Apotik

Pabrik PBAK Instalasi RS Konsumen


Alkes

PBF lain

2.3.2 Pengadaan barang

Pengadaan barang dilakukan dengan membuat pesanan atau


PO (purcising order) kepada pabrik untuk periode tertentu . Misalnya
satu pesanan untuk satu bulan penjualan, ini dilakukan PBF yang
letaknya dekat PBF order.

Perlengkapan pengadaan barang adalah :

a. Estimasi pesanan barang, sebelum membuat pesanan


barang harus membuat perkiraan pemesanan barang
gunanya menentukan seberapa banyak kita menjual . Dan
menentukan jumlah stock bulan berikutnya dan juga untuk
menghindari terjadinya penumpukan barang.
b. Surat pesanan (purcusing order).
Surat ini dibuat setelah berdasarkan estimasi pesanan yang
sudah disetujui oleh semua pihak (team penjualan,
marketing, bag. Keuangan, agen gudang dan pimpinan),
surat pesanan ini dibagi atas tiga macam:

• Surat pesanan obat keras tertentu (OKT), surat ini


berisikan nama dan jumlah pesanan obat OKT periode
tertentu . surat ini terdiri dari 5 lembaran yang dibedakan
dalam berbagai warna :
 Lembaran 1 putih ditujukan kepada pabrik (produsen)
 Lembaran 2 merah ditujukan kepada dinas
pengawasan narkoba.
 Lembaran 3 kuning ditujukan kepada depertemen
kesehatan
 Lembaran 4 biru ditujukan kepada balai POM.
 Lembaran 5 hijau ditujukan kepada apotek yang
memesan
• Surat pesanan obat precursor, ini berisikan obat golongan
precursor (jumlah dan nama obatnya). Obat prekursor
adalah obat yang bisa salah gunakan, kegunaanya dari
yang seharusnya. Contohnya formalin ,lacoldin (PT.
Lapi),efedrin Hcl (PT. Kimia Farma), Quantidex tab (PT.
Ifars), Lapifed (PT. Lapi).
• Surat pesanan obat bebas dan obat keras, ini berisikan
nama dan jumlah obat bebas dan obat keras untuk
periode tertentu,surat pesan obat bebas dan obat keras
dapat digabungkan.
Perbedaan dari surat pesanan di atas adalah:

 Jenis surat pesanan.


 Lembaran surat pesanan.
 Untuk golongan psikotropika dan prekursor surat
pesanannya dibuat terpisah sementara surat pesanan
obat keras bisa digabung dengan surat pesanan obat
bebas.
2.3.3 Penjualan barang

Penjualan adalah proses pemasarkan obat-obatan yang telah


ada di gudang konsumen (rumah sakit, apotek, toko obat, PBF lain)
dengan menyatakan faktur penjualan.dalam alur penjualan ini ada
beberapa ketentuan yang harus dipatuhi:

• PBF hanya boleh menjualan obat bebas kepada toko obat


yang ada izin.
• PBF hanya boleh menjual obat bebas, obat keras, dan obat
keras tertenu kepada apotek, rumah sakit dan PBF lain.
• PBF hanya boleh menjual obat keras tertentu kepada apotek,
rumah sakit, PBF lain harus ada surat pesanan terlebih
dahulu.
• Pada barang kampas hanya boleh untuk obat bebas dan
tidak dibolehkan obat daftar G.

2.3.4 Penarikan Kembali

Proses ini dilakukan untuk suatu nomor batch atau satu kode
produksi tertentu yang dinyatakan tidak layak untuk dikomsumsi.
Contohnya setelah balai POM melakukan pengamatan untuk produk
Quantidex tab ditemukan ketidak cocokan dengan keadaan fisiknya,
maka balai POM memberi surat kepada pabrik untuk menarik
Quantidex tab dari pasaran melalui distributor-distributor yang
memesan produk Quantidex tersebut.

Dari distributor akan mengirim surat kepada para pelanggannya


seperti toko obat, apotek, rumah sakit dll.

2.3.5 Pemusnahan Obat

Pada PBF PT. Kumala Melur tidak melakukan pemusnahan obat


karena obat-obat yang rusak dan kadaluarsa dikirimkan ke pabrik
untuk dimusnahkan langsung disana. Pemusnahan obat dilakukan
dengan menggunakan alat khusus dengan membuat berita acaranya
dan dihadiri oleh balai POM, aparat kepolisian, dan pemerintah.

2.3.6 Pengiriman Barang

Yaitu proses pengiriman barang kepada konsumen yang


memesan barang tersebut. Pengiriman barang ini dilakukan dengan
menyertakan barang kepada konsumen dengan tanda tangan dan
stempel dari yang memesan barang tersebut.

2.3.7 Pelaporan

Setiap pemasukan dan pengeluaran obat-obatan harus dibuat


laporannya oleh tenaga teknis kefarmasian penanggung jawab.
Laporan tersebut terdiri dari :

a. Laporan distribusi obat daftar G.


b. Laporan distribusi obat Psikotropika.

2.4 PELAPORAN

2.4.1 Laporan Obat Daftar G

• Laporan ini berisikan data logistik obat yang mencakup


pengeluaran dan pemasukan obat golongan daftar G selama
kurun waktu 3 bulan.
• Dengan tembusan kepada Dinas Kesehatan Propinsi Riau,
kepada Kepala Balai POM yang terletak di Jl.Diponegoro
no.10 Pekanbaru, terakhir sebagai arsip PBF di Pekanbaru.
• Data logistik ini diiringi dengan surat pengantar, yang
berisikan data PBF dan diterangkan periode laporan tersebut.
• Laporan ini dikirimkan setiap 3 bulan sekali.
2.4.2 Laporan Obat Pisikotropika

• Laporan ini berisikan data keluar masuknya obat golongan


psikotropika dari dan ke PBF selama 1 bulan.
• Laporan ini ditujukan kepada direktorat jendral bina
kefarmasian dan alkes
• Dengan tembusan kepada :
-Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Riau

-Kepala Balai Besar POM Pekanbaru

-Sebagai arsip.

• Laporan ini disertakan dengan:


-Copy faktur penjualan PBF yang telah dibubuhi tanda
tangan dan stempel penerima (apotek, RS, PBF lain)

-Copy surat pesanan barang dari outlet yang ditanda


tangani penanggung jawab apotek/rumah sakit (harus
apoteker), penanggung jawab PBF (apoteker/tenaga
teknis kefarmasian).
BAB III

KESIMPULAN

• PBF ialah suatu badan hukum berbentuk perseroan terbatas dan


koperasi yang memiliki badan besar sesuai dengan ketentuan
perundang-undangan yang berlaku.
• Izin usaha PBF, diberikan oleh Menteri Kesehatan dalam hal ini
Menteri Kesehatan melimpahkan wewenang pemberian izin
usaha PBF berlaku untuk seterusnya selama PBF yang
bersangkutan masih aktif melakukan kegiatan usahanya jika
ada cabang dibuat izin baru.
• Tenaga teknis kefarmasian di PBF mempunyai tugas dan fungsi
sebagai berikut:
1. Bertanggung jawab atas pengadaan, penyimpanan dan
pendistribusian obat dan alat kesehatan.
2. Menyusun obat-obatan dan alat kesehatan yang ada di
gudang dengan dibantu oleh asisten gudang.
3. Membuat laporan distribusi obat setiap bulan dan setiap
triwulan menyangkut penerimaan serta penyalura kepada
balai POM.
4. Membuat surat pengembalian obat-obatan yang telah
kadaluarsa ke pabrik.
5. Menyiapkan faktur penjualan obat-obatan dan alat kesehatan
beserta foto copy surat pesanan dan instalasi kesehatan
yang untuk informasi untuk Balai POM.
• Peran tenaga teknis kefarmasian dalam PBF sangat penting
karena memerlukan ketelitian, keterampilan dan kejujuran di
samping pengetahuan yang diperoleh di lembaga atau instansi
pendidikan terkait yang harus diterapkan dan dikembangkan
untuk bertanggung jawab di PBF. Bahwa seorang tenaga teknis
kefarmasian mempunyai peran dan tanggung jawab yang tinggi
dalam melaksanakan tugas serta ikut membantu pemerintah
dalam melayani pendistribusian, perbekalan farmasi ke tempat
pelayanan kesehatan.