Anda di halaman 1dari 7

23 september 2010

RPP, Murid, Molekul dan Qur’an


Ini merupakan yang kedua kalinya aku mengajar di kelas VII MTs Muallimin
Muhammadiyah Yogyakarta. Pada hari ini, sebetulnya tak ada persiapan yang
matang untuk menyajikan materi molekul. Apalagi harus buat RPP. Jujur saja
kadang saya tidak setuju jika harus disuruh buat RPP, meski saya juga tak
sepenuhnya menolak. Mengapa saya tak setuju seratus persen, sederhana saja
RPP bagi saya adalah acuan yang harus diikuti oleh saya, padahal saya yang
membuatnya. Artinya konsep yang ada dalam pikiran saya harus saya kertaskan
dan nantinya, saat mengajar, itulah yang jadi patokan. Masak iya tho, kita harus
menurut pada kertas? Selain itu bukankah itu hanya pekerjaan yang sia-sia. Di
lapangan saya tetap mengacu dengan yang ada di pikiran saya.

Alasan lain, saat ini gencarnya wacana tentang belajar bebas, mandiri.
Artinya siswa harus kreatif belajar, menemukan, bertanya dan mengeksplorasi
apa yang hendak diinginkan dari proses belajar. Guru hanyalah sebatas
jembatan, penghubung, pemantik. Kalau saya membuat RPP berarti kegiatan
belajar yang menginginkan saya, bukan lagi siswa. Seolah-olah siswa adalah
pemain sandiwara pendidikan dan saya adalah saudaranya. Berarti saya yang
menciptakan kondisi belajar, bukan lagi siswa.

Hal ini mengingatkanku bahwa sekarang ini telah kehilangan makna


filosofis maupun hakikat dari kata “murid’. Murid yang berasal dari bahasa arab.
Araada-yuriidu-iraadatan-fawuha muriidun. Artinya orang yang menghendaki.
Jika seseorang yang punya kehendak pastinya ia akan tahu apa yang
dikehendaki itu, mengapa ia menginginkannya,bagamaina
mencapai/mewujudkan kehendak tersebut, ke mana ia agar dapat menemukan
kehendak tersebut setelah didapatkan kehendak itu mau diapakan. Dengan
begini, berarti murid benar-benar seorang tholib, pencari dengan semangat yang
membara. Tak hanya menjadi subjek, tetapi marangkap sebagai subjek dan
objek. Ia akan mempertanyakan dan mengkaji ke dalam maupun ke luar dirinya.

Kenyataannya sekarang ini, banyak pencari ilmu tak tahu mengapa ia ada
di kelas, mengapa ia harus duduk manis, berpakaian rapi dengan gaya benar-
benar model anak sekolah jaman sekarang yang necis dan dengan dandanan
yang aduhai, terkadang membuatku merinding. Ya..mereka tak paham betul
mengapa harus bersusah payah pagi-pagi harus bangun dan berangkat ke
sekolah dan di tengah terik baru selesai belajar. Apakah kegiatan belajar
dianggap rutinitas, mirip upacara bendera yang dilaksanakan setiap senin pagi.
Bagiku (meski aku bukan orang yang anti nasionalisme dan upacara adalah
bentuk kesyirikan,bukan), upacara bendera sejak dulu tak paham betul dengan
manfaat upacara sendiri, katanya sebagai bukti nasionalisme. Lha sesederhana
inikah bukti nasionalisme? Coba lihat para petani, pengayuh becak, pengais
sampah yang setiap hari berjibaku dengan rutinitas tanpa kenal lelah, apalagi
protes ke negara ini. Meski seharusnya mereka protes tapi tak pernah
dilakukannya. Mereka menerima dengan ketertindasannya dan mencoba
menertawai proyek-proyek yang menindasnya itu. Mereka tetap hormat pada
presiden, gubernur, bupati maupun dengan para punggawa negara yang lain.
Coba lihat, saat para penggede itu berkunjujung ke tempatnya, dengan
takzimnya mereka menciumi tangan punggawa, mengelukan, bahkan
berkeinginan semoga anak keturunannya bisa seperti mereka..lha
dala..bukankah tangan-tangan mereka lebih suci, lebih harum, lebih terhormat di
mata Tuhan karena mereka (petani cs) lebih nrimo ing pandhum. Sedangkan
para punggawa itu..ah tak usah ku teruskan anda tahu sendiri..mereka sering
mengatakan konsep nrimo ing pandhum adalah konsep malas, konsep orang
yang sukanya ongkang-ongkang, mengharap rejiki jatuh dari langit.
Kenyataanya? Silahkan anda renungkan sendiri.

Oh ya..pembicaraaanku kok sampai ngalor ngidul, nubruk sedulur-sedulur


sing neng duwuran..hehe. ok, ku lanjutkan tentang “murid” yang sekarang ini
telah diubah menjadi “peserta didik” itu. Ya..kalau kita, mereka atau siapapun
yang masih berkendak tentunya ruh bergelora, bergejolak untuk bangkit, cancut
tali wondo, untuk wabtaghu, mencari yang diinginkan itu. Tetapi realitasnya
sekarang ini mereka tak lagi berperan sebagai murid, melainkan “pemain” yang
dirancang oleh sutradara ilmu, ya aku termasuk lah...mereka tak sebatas
“pemain” malah lebih celaka, berperan sebagai peserta, silahkan direnungkan
kata ‘peserta’ ini. Kiro-kiro piye.

Setidaknya hari ini, saya menemukan satu dua, ya Cuma segitu dari tiga
puluh peserta didik, yang benar-benar jadi murid. Entah apakah ini sudah
sunatullah, orang yang mempunyai ghiroh, semangat harus sedikit, aku juga
tidak tahu. Kalau anda tak keberatan silahkan tanyakan langsung pada Tuhan.

Satu –dua murid tadi mengajukan pertanyaan yang sederhana, tetapi


bagiku mendasar. Pertayaan murid tersebut begini: mengapa air dalam kimia
kok dituliskan H2O, bagaimana itu kok bisa terjadi?. Ya mereka menanyakan
masalah penulisan rumus kimia. Bagiku itu cukup bagus dan mendasar. Mereka
mencoba mencari tahu dengan penulisan rumus kimia yang selama ini telah
lazim diterima tanpa dipertanyakan oleh siswa. Meski, mungkin, sebetulnya
mereka ingin mengetahui dari segi sejarahnya saja, tapi itu cukup menarik
bagiku dan membuatku untuk membongkar dan membolak-balikkan tumpukan
buku untuk menjawabnya.

Sayang semua belum saya jawab soalnya keburu jam pelajaran berakhir.
Semoga dalam tulisan ini bisa mewakili. Selain itu aku juga ingin menyinggung
atas teguranku ke siswa yang telah sembrono menaruh, meletakkan al-quran.

******************************************

Bagaimana sebetulnya rumus kimia itu dituliskan, apakah asal saja atau
ada aturannya, kalau memang ada aturannya bagaimana asal muasal itu
dicetuskan? Mengapa H2O dalam kimia rumus molekul yang betul demikian, kok
bukannya H2O atau 2HO atau HO2?. Ini hanyalah pertanyaan tambahan dariku
saja..ya hitung-hitung kita menyelami dunia ilmu-lah.
Saya akan menjawab pertanyaan dari muridku sekaligus menjawab
pertanyaanku sendiri.

Jauh sebelum lambang unsur ditentukan seperti yang ada sekarang ini, lihat
tabel periodik unsur. Filusuf kimia atau ilmuwan kimia (istilah kerennya)
berusaha untuk memberikan lambang unsur. Tujuannya tak lain adalah
memudahkan untuk mengenali unsur-unsur itu sendiri. Layaknya lambang suatu
negara atau sekolah, lambang unsur juga mempunyai maksud sebagai identitas,
jika unsur X berada di kerumunan unsur-unsur lainnya, maka unsur X tersebut
akan cepat dikenali jika ia mempunyai lambang yang membedakan dengan
unsur-unsur yang lain.

Penulisan unsur tersebut juga sembarang tulis, tetapi mengikuti kaidah


yang telah disepakati di jagad kimia, biasanya mengikuti IUPAC. Contoh unsur
besi dituliskan Fe, bukannya B atau Be. Kenapa? Besi masih berupa bahasa
indonesia? Lalu apakah ditulis I atau Ir yang merupakan singkatan dari Irron,
bukankah bahasa inggris bahasa internasional? Ternyata juga tidak, dalam dunia
kimia ada bahasanya sendiri yakni menggunakan bahasa ilmiah, bahasa yunani.
Bagaimana kesepakatannya terjadi? Aku juga belum tahu.

Nah, bahasa ilmiah tersebut nantinya digunakan untuk menuliskan lambang


suatu unsur. Contohnya besi ditulikan Fe (bahasa ilmiahnya Ferrum). Kenapa
ditulis Fe bukannya F. Ternyata F digunakan lambang unsur Flour. Setidaknya
aturan penulisan lambang tersebut adalah unsur sudah ditransfer ke bahasa
ilmiah, ditulis huruf awal dengan huruf kapital. Jika ternyata ada kesamaan
dengan lambang unsur yang lainnya pada huruf awal, maka ditambah dengan
huruf berikutnya dan ditulis dengan huruf kecil.

Sekarang kita lanjutkan ke masalah penulisan rumus kimia. Memang


penulisan rumus kimia, semisal H2O bukanlah hal yang asal tulis. Rumus kimia
sendiri menunjukan karekter tersendiri, komponen-komponen atom atau unsur
yang menyusun senyawa tersebut apa saja. Air dituliskan dengan H2O,
menunjukan bahwa air dibentuk oleh 2 atom hidrogen dan 1 atom aksigen.

Rumus kimia menyatakan jenis dan jumlah relatif unsur atau atom yang
menyusun suatu zat, dengan kata lain rumus kimia memberikan informasi
tentang jenis unsur dan jumlah atau perbandingan atom-atom penyusun zat.

Penulisan rumus kimia dilakukan dengan menyatakan lambang unsur dan


angka indeks lambang unsur menunjukkan jenis unsur daan angka indeks
menyatakan jumlah unsur yang menyusun senyawa tersebut.

Bagaimana asal mulanya. Kok air ditentukan: tersusun dari 2 atom hirdogen
dan 1 oksigen, apakah ini didapat dari kerja empiris ataukah hanya reka-reka
saja, alias ngawur.

Untuk membahasnya kita harus kembali ke masa awal bagaimana hukum-


hukum kimia itu dirumuskan. Mungkin, tulisan ini belum bisa menyentuh
jawaban secara menyeluruh, insyaallah akan saya bahas pada tulisan yang lain.
Pada mulanya, hanya sedikit diketahui sifat-sifat dari zat saat reaksi
kimia,sehingga tak mengherankan bila timbul teori yang salah mengenai teori
dari zat misalnya: telah lama diketahui bahwa bila sepotong kayu dibakar, abu
yang terbentuk beratnya berkurang dari berat kayu asal. Teorinya adalah
karena ada sesuatu yang disebut phlogiston akan menguap waktu pembakaran.

Teori phlogiston hidup terus untuk beberapa lama sampai seorang ahli
kimia perancis yang bernama Antoine Lavoiser mendemonstrasikan dengan
sesuatu percobaan dimana pengukuran berat dari zat kimia dibuat secara teliti
bahwa pembakaran adalah suatu reaksi antara zat dengan oksigen. Dia juga
menunjukkan dengan cara pengukuran teliti dibuktikan bahwa bila pembakaran
dilakukan di wadah yang tertutup, pada waktu reaksi tak ada perubahan massa.
Penelitian dan percobaan yang dilakukan pada suasana yang terkontrol menjadi
dasar hukum kekekalan massa: dalam suatu reaksi, massa zat sebelum dan
sesudah reaksi adalah sama.

Percobaan Lavoeiser menyebabkan peneliti-peneliti lain melakukan


pengukuran kuantitatif secara teliti terhadap zat-zat kimia dan hasilnya adalah
didapat suatu hukum perbandingan tetap (huku komposisi tetap). Hukum ini
menyatakan bahwa dalam suatu zat kimia murni, perbandingan unsur-unsur
dalam setiap senyawa adalah tetap., misalnya: pada setiap saampel air murni,
dari manapun sumbernya, kita selalu mendapatkan bahwa perbandingan elemen
Hidrogen dan oksigen adalah 1,00 g H: 8,00 g O. Sehingga apabila kita
mengambil sampel air dengan 2,00 g H, akan ada 16,00 g O, jadi
perbandingannya tetap. Contoh lainnya: pembentukan NH3:
Ilmuwan lain yang melahirkan hukum-hukum kimia yang nantinya
memunculkan mengenai rumus kimia adalah Dalton. Selain dikenal sebagai
pencetus mengenai ide atom, Dalton juga mengemukakan mengenai komposisi
suatu senyawa. Hukum yang digagas oleh Dalton dikenal dengan hukum
perbandingan ganda. Hukum perbandinagn ganda menyatakan: misalkan kita
mempunyai dua sampel senyawa yang dibentuk oleh dua elemen yang sama.
Bila massa dari salah satu elemen dalam kedua sampel itu sama, maka massa
dari elemen yang lain berada dalam perbandingan dari angka yang kecil dan
bulat.

Seperti diketahui kardon dapat membentuk dua macam senyawa dengan


oksigen yaitu karbon monoksida dan karbon dioksida. Dalam 2,33 g karbon
monoksida, ditemukan 1,33 g oksigen yang bergabung dengan 1,00 g karbon.
Sedangkan dalam 3,66 g karbondioksida, ditemukan 2,66 g oksigen bergabung
dengan 1,00 g carbon. Perhatikan bahwa massa karbon yang sama (1,00 g)
berada dalam perbandingan 2:1 (perbandingan dengan angka yang kecil dan
bulat).
Itulah sekelumit tentang bagaimana rumus kimia didapat, tak lain karena
melalui serangkaian eksperimen yang menunjukkan berapa komposisi unsur
yang membentuk senyawa. Dengan demikian, setelah melalui data empiris dan
analisis sehingga memunculkan hukum-hukum dasar kimia (mengenai reaksi
dan pembentukan senyawa maupun yang lain) dan digunakan sebagai patokan
untuk meramalkan suatu senyawa terbentuk,khususnya masalah komposisinya
(bukan pada produknya melainkan lebih cenderung kuantitas produk yang akan
dihasilkan).

Akhirnya, setidaknya, kita menemukan jawabannya mengenai rumus kimia


(H2O) ditentukan. Mengapa tidak 2HO? Karena itu menyatakan jumlah molekul.
Mengapa tidak HO2?karena setelah diadakan eksperien maupun penelitian
ternyata satu molekul air dibentuk oleh 2 atom H dan 1 atom O.

***************************

Masalah teguranku tentang al-qur’an. Ini sesuatu yang tak ku sengaja: saat
asyik pelajaran berlangsung, ada beberapa siswa yang tidur. Mengenai tidur tak
masalah. Karena itu nikmat. Persoalannya dihadapan mereka ada al-quran. Al-
qurannya didekep, ada yang menaruhnya sembarangan, asal taruh. Kutegur
mereka: “mbok yao, kalau naruh al-quran yang bagus jangan terus didekepi,
nanti malah kalaian ileri.

Entah, mengapa mereka memperlakukan al-quran sedemikian rupa. apa


faktor paham ataukah murni karena mereka belum paham. Saat masih kecil,
orangtuaku selalu mendidik untuk menghormati al-quran, menempatkanya di
tempat yang bagus, jangan sampai dibawa, ditaruh di bawah pusar. Bahkan saat
aku merantau di kalsel, orang-orang banjar mengormati al-quran melebihi saya.
Kata orang banjar: saat al-quran itu jatuh, entah sengaja atau bukan, karena
keteledoran menaruhnya maka sial akan menimpa kita.

Memang ada perbedaan dalam menginterprestasikan keberadaan al-quran


yang ada. Al-quran yang ada ini bukanlah mushaf, melainkan kertas biasa. Jadi
mengenai firman: laa yamasuhu illalmuthoharun, tidak menyentuh kecuali orang
yang suci, itu hanya berlaku bagi mushaf yang asli.

Baiklah saya juga memahami firman tersebut tidak hanya dalam arti
lahirnya saja: saat menyentuh harus bersuci dulu. Firman tersebut sebetulnya
menyimpan makna bahwa kita takkan mampu menyelami al-quran, mengambil
ilmunya dan memancarkan nurnya kepada kita kecuali lahir batin kita
tersucikan. Keegoisan, pemotongan ayat-ayat yang kita ambil serampangan
hanya untuk tujuan tertentu harus kita singkirkan kalau kita benar-benar
menginginkan al-huda tersebut sebagai damar, sentir, mishbah bagi kita.

Bagi saya masalah membawa al-quran, maupun meletakkannya haruslah


tetap dijaga. Silahkan anda menyebut saya bid’ah karena tidak ada tuntunannya
dalam agama. Tetapi saya tidak akan menggunakan dalil agama untuk
membenarkan tindakan saya ini, melainkan menggunakan dalil akal, kepatutan
serta pertimbangan nurani. Jika anda mengatakan: akal itu terbatas? Kepatutan
itu hanya masalah lokalitas, tergantung adat setempat? Nurani, apakah itu
benar-benar suara nurani?. Ya akal memang terbatas begitu juga kepatutan
memang lokalitas tetapi dalam al-quran juga diseru untuk menggunakan akal.
Untuk apa akal diciptakan kalau toh akhirnya tidak dipakai karena sudah ada
sabda, hadist maupun perkataan ulama. Kalau ini yang terjadi, sia-sia dong
Allah menganugrahi akal, mapun daya pikir yang lain? Demikian juga nurani,
kalau kita selalu meragukan suara nurani, jangan-jangan itu bukan nurani yang
berkata, lalu akan sampai kapan kita akan mendengar suara nurani? Bukankah
nabi pernah bersabda mintalah nasehat pada hatimu.

Kembali pada masalah al-quran. Al-quran tetap harus diperlakukan sebagai


al-quran, bukan hanya sebagai kertas yang dutulisi kalam illahi. Argumen saya
sederhana: kalau anda memperlakukan foto ayah, ibu, pacar atau siapa saja
dengan perawatan yang bagus mengapa juga tidak anda lakukan pada al-quran.
Foto pacar kamu simpan baik-baik dalam dompet kulit mengapa tidak pada al-
quran? Foto seorang tokoh kamu buatkan bingkai dan kamu taruh di tempat
yang mudah kamu pandang, mengapa tidak pada al-quran?

Apakah nilai al-quran di matamu, kita sama dengan buku biasa, koran,
majalah sehingga kamu, kita menempatkannya diantara tumpukan-tumpukan
koran, buku, majalah bahkan bantal?