Anda di halaman 1dari 23

c 

    

oleh : Ustd. M.Fauzil Adhim


di copy dari notes seorang teman.

Bila malam sudah beranjak mendapati subuh, bangunlah sejenak. Lihatlah istri anda yang
sedang terbaring letih menemani bayi anda. Tataplah wajahnya yang masih dipenuhi oleh
gurat-gurat kepenatan karena seharian ini badannya tak menemukan kesempatan untuk istirah
barang sekejap. Kalau saja tak ada air wudhu yang membasahi wajah itu setiap hari,
barangkali sisa-sisa kecantikannya sudah tak ada lagi.

Sesudahnya, bayangkanlah tentang esok hari. Disaat anda sudah bisa merasakan betapa segar
udara pagi, tubuh letih istri anda barangkali belum benar-benar menemukan kesegarannya.
Sementara anak-anak sebentar lagi akan meminta perhatian bundanya, membisingkan
telinganya dengan tangis serta membasahi pakaiannya dengan pipis tak habis-habis. Baru
berganti pakaian, sudah dibasahi pipis lagi. Padahal tangan istri anda pula yang harus
mencucinya.

Disaat seperti itu, apakah yang anda pikirkan tentang dia?

Masihkan anda memimpikan tentang seorang yang akan senantiasa berbicara lembut kepada
anak-anaknya seperti kisah dari negeri dongeng sementara disaat yang sama anda menuntut
dia untuk menjadi istri yang penuh perhatian, santun dalam berbicara, lulus dalam memilih
setiap kata serta tulus dalam menjalani tugasnya sebagai istri, termasuk dalam menjalani apa
yang sesungguhnya bukan kewajiban istri tetapi dianggap sebagai kewajibannya.

Sekali lagi, masihkan anda sampai hati mendambakan tentang seorang perempuan yang
sempurna, yang selalu berlaku halus dan lembut? Tentu saja saya tidak tengah mengajak anda
membiarkan istri membentak anak-anak dengan mata membelalak. Tidak. Saya hanya ingin
mengajak anda melihat bahwa tatkala tubuhnya amat letih, sementara suami tak pernah
menyapa jiwanya, maka amat wajar kalau ia tak sabar.

Begitu pula manakala matanya yang mengantuk tak kunjung memperoleh kesempatan untuk
tidur nyenyak sejenak, maka ketegangan emosinya akan menanjak. Disaat itulah jarinya yang
lentik bisa tiba-tiba membuat anak menjerit karena cubitannya yang bikin sakit.

Apa artinya? Benar, seorang istri shalihah memang tak boleh bermanja-manja secara
kekanak-kanakan, apalagi sampai cengeng. Tetapi istri shalihah tetaplah manusia yang
membutuhkan penerimaan. Ia juga butuh diakui, meski tak pernah meminta kepada anda.

Sementara gejolak-gejolak jiwa memenuhi dada, butuh telinga yang mau mendengar. Kalau
kegelisahan jiwanya tak pernah menemukan muaranya berupa kesediaan utuk mendengar,
atau ia tak pernah anda akui keberadaannya, maka kangan pernah menyalahkan siapa-siapa
kecuali dirimu sendiri jika ia tiba-tiba meledak.

Jangankan istri anda yang suaminya tidak terlalu istimewa, istri Nabi pun pernah mengalami
situasi-situasi yang penuh ledakan, meski yang membuatnya meledak-ledak bukan karena
Nabi SAW tak mau mendengarkan melainkan semata karena dibakar api kecemburuan.
Ketika itu, Nabi SAW hanya diam mengjadapi µAisyah yang sedang cemburu seraya
memintanya untuk mengganti mangkok yang dipecahkan.

Ketika menginginkan ibu anak-anak anda selalu lembut dalam mengasuh, maka bukan hanya
nasehat yang perlu anda berikan. Ada yang lain. Ada kehangatan yang perlu anda berikan
agar hatinya tidak dingin,apalagi beku, dalam menghadapu anak-anak setiap hari. Ada
penerimaan yang perlu kita tunjukkan agar anak-anak itu tetap menemukan bundanya sebagai
tempat untuk memperoleh kedamaian, cinta dan kasih sayang.

Ada ketulusan yang harus anda usapkan kepada perasaan dan pikirannya, agar ia masih tetap
mememilki energi untuk tersenyum kepada anak-anak anda, sepenat apapun ia.

Ada lagi yang lain : PENGAKUAN. Meski ia tak pernah menuntut, tetapi mestikah anda
menunggu sampai mukanya berkerut-kerut.

Karenanya, anda kembali ke bagian awal tulisan ini. Ketika perjalanan waktu melewati
tengah malam, pandanglah istri anda yang terbaring letih itu, lalu pikirkanlah sejenak, tak
adakah yang bisa anda lakukan sekedar mengucapkan terima kasih atau menyatakan sayang
bisa dengan kata yang berbunga-bunga, bisa tanpa kata. Dan sungguh, lihatlah betapa banyak
cara untuk menyatakannya. Tubuh yang letih itu, alangkah bersemangatnya jika di saat
bangun nanti ada secangkir minuman hangat yang diseduh dengan dua sendok teh gula dan
satu cangkir cinta.

Sampaikan kepadanya ketika matanya telah terbuka,³ada secangkir minuman hangat untuk
istriku. Perlukah aku hantarkan intuk itu?³
Sulit melakukan ini? Ada cara lain yang bisa anda lakukan. Mungkin sekedar membantunya
meyiapkan sarapan pagi untuk anak-anak, mungkin juga dengan tindakan-tindakan lain, asal
tak salah niat kita. Kalau anda terlibat dengan pekerjaan di dapur, memandikan anak, atau
menyuapi si mungil sebelum mengantarkannya ke TK, itu bukan karena gender-friendly;
tetapi semata karena mencari ridha Allah, sebab selain niat ikhlas karena Allah, tak ada
artinya apa yang anda lakukan.

Anda tidak akan mendapati amal-amal anda saat berjumpa dengan Allah di yaumil-qiyamah.
Alaakullihal, apa yang ingin anda lakukan, terserah anda. Yang jelas, ada pengakuan
untukknya, baik lewat ucapan terima kasih atau tindakan yang menunjukkan bahwa dialah
yang terkasih. Semoga dengan kerelaan anda untuk menyatakan terima kasih, tak ada airmata
duka yang menetes baginya, tak adal lagi istri yang berlari menelungkupkan wajah di atas
bantal karema merasa tak didengar. Dan semoga pula dengan perhatian yang anda berikan
lepadanya, kelak istri anda akan berkata tentang anda sebagaimana Bunda µAisyah RA
berucap tentang suaminya, Rasulullah SAW,´Ah, semua perilakunya menakjubkan bagiku´.

Sesudah engkau puas memandangi istrimu yang terbaring letih, sesudah engkau perhatikan
gurat-gurat penat di wajahnya, maka biarkanlah ia sejenak untuk meneruskan istirahatnya.
Hembusan udara dingin yang mungkin bisa mengusik tidurnya, tahanlah dengan sehelai
selimut untuknya.

Hamparkanlah ke tubuh istrimu dengan kasih sayang dan cinta yang tak lekang oleh
perubahan. Semoga engkau termasuk laki-laki yang mulia, sebab tidak memuliakan wanita
kecuali laki-laki yang mulia.

Sesudahnya, kembalilah ke munajat dan tafakkurmu. Marilah anda ingat kembali ketika
Rasulullah SAW berpesan tentang istri. ³wahai manusia, sensungguhnya istri kalian
mempunyai hak atas kalian sebagaimana kalian mempunyai hak atas mereka.
Ketahuilah.´kata Rasulullah SAW melanjutkan.´ kalian mengambil wanita itu sebagai
amanah dari Allah, dan kalian halalkan kehormatan merreka dengan kitan Allah. Takutlah
kepada Allah dalam mengurusi istri kalian. Aku wasiatklan atas kalian intuk selalu berbuat
baik.´

Anda telah mengambil istri anda sebagai amanah dari Allah. Kelak anda harus melaporkan
kepada Allah Ta¶ala bagaimana anda menunaikan amanah dari-Nya. Apakah anda
mengabaikannya sehingga guratan-guratan dengan cepat menggerogoti wajahnya, jauh awal
dari usia yang sebenarnya? Ataukah, anda sempat tercatat selalu berbuat baik untuk istri.

Semoga anda memberi ungkapan yang lebih agung untuk istri anda

ooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo ?

? ?

?
Siapa Bilang Rokok Haram??

.: :.
Rokok adalah barang sial yang banyak menjangkiti kebanyakan kaum muslimin, apalagi
orang-orang kafir. Barang ini betul-betul mencekoki otak para pecandunya. Ketika dinasihati
bahwa rokok itu haram! Mereka akan menyatakan, "Siapa bilang rokok haram!!"

Menjawab pernyataan ini, kami tegaskan bahwa rokok telah diharamkan oleh para ulama
besar kita berdasarkan Al-Qur¶an dan Sunnah.Keharaman ini umum mencakup laki-laki,
maupun wanita, orang besar atau anak kecil!!! Haramnya rokok telah diketahui secara
aksiomatik oleh semua orang sampai semua dokter, perusahaan rokok, pemerintah, bahkan
semua orang yang berakal sehat ikut mengharamkannya. Adapun para pecandu rokok yang
ditunggangi dan dibutakan oleh hawa nafsunya, maka mereka ini tak perlu ditoleh ucapannya
dalam menghalalkan rokok. Tapi tolehlah fatwa-fatwa dan pernyataan ulama dan orang-orang
yang berakal sehat.

Buletin Mungil At-Tauhid kali ini akan menyodorkan beberapa fatwa ilmiah kepada pembaca
budiman agar menjadi ibroh (pelajaran); fatwa ini berisi pernyataan haramnya rokok. Para
ulama yang kami akan nukilkan fatwanya adalah para ulama terpercaya, tidak terseret hawa
nafsu, dan tidak segan menyatakan kebenaran, walaupun banyak yang tersinggung.

Pembaca yang budiman, para ulama kita di Timur Tengah telah lama menyatakan haramnya
rokok, jauh sebelum para dokter "mengharamkannya".

Sebagian penanya pernah melayangkan pertanyaan kepada ulama besar kita di Timur Tengah
yang tergabung dalam "Al-Lajnah Ad-Da¶imah" (Lembaga Fatwa).

* Soal Pertama: Hukum Shoalat di Belakang Perokok


Suatu fenomena yang sering kita jumpai di lapangan, adanya sebagian imam yang biasa
memimpin kaum muslimin dalam mendirikan sholat. Padahal ia adalah seorang yang
tercandu rokok. Hal ini pernah ditanyakan oleh sebagian kaum muslimin kepada para ulama
tentang sikap kita.

Seorang penanya berkata, "Bolehkah sholat di belakang seorang imam yang suka merokok.
Perlu diketahui bahwa imam ini bukan imam tetap, bahkan ia hanya memimpin sholat
jama¶ah, karena Cuma ia yang pintar membaca Al-Qur¶an di antara jama¶ah yang ada di
sekitar masjid?"

Para ulama tersebut menjawab, "Merokok adalah haram, karena telah terbukti bahwa
membahayakan kesehatan, dan termasuk sesuatu yang khobits (buruk lagi menjijikkan), serta
bentuk pemborosan. Allah sungguh telah menyifati Nabi-Nya ±Shollallahu alaihi wa sallam-,

"«dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala
yang buruk«". (QS. Al-A¶raaf: 157)

Adapun hukum sholat di belakang; jika karena seorang tidak sholat di belakangnya lalu
menimbulkan luputnya sholat jumat atau sholat jama¶ah atau muncul masalah (antara
jama¶ah), maka wajib sholat di belakangnya, demi mendahulukan mudhorot yang lebih
ringan atas mudhorot yang lebih besar. Jika ada sebagian orang yang tidak sholat di
belakangnya , sedang ia tidak khawatir luputnya sholat jumat atau jama¶ah atau tidak muncul
mudhorot (masalah dan perseteruan), tapi mengakibatkan tercegah dan berhentinya ia
merokok, maka wajib untuk tidak sholat di belakangnya sebagai kecaman baginya dan
dorongan baginya dalam meninggalkan sesuatu yang diharamkan baginya (yakni, merokok).
Demikian itu termasuk bagi mengingkari kemungkaran. Jika kita meninggalkan sholat di
belakang, tidak menimbulkan mudhorot, tidak luput dari sholat jumat dan jama¶ah, serta tidak
bergeming dengan hal itu, maka sikap paling utama, memilih sholat di belakang orang yang
tidak serupa dengannya dalam hal kefasikan dan maksiat. Demikian itu lebih sempurna bagi
sholatnya, dan lebih menjaga agamanya. Wabillahit taufiq, wa shollallahu ala Nabiyyina wa
alihi wa shohbihi wa sallam". [Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Da'imah lil Buhuts Al-Ilmiyyah
wa Al-Ifta' (9/408-409)]

* Soal Kedua: Hukum Penjual Rokok

Sebagian kaum muslimin yang memiliki profesi dagang, biasa menjual rokok, karena
banyaknya keuntungan yang bisa diraup dari hasil penjualan, apalagi jika ada diskon dari
perusahaan rokok.

Sekarang ada baiknya kita mendengarkan seorang penanya berkata, "Apa hukum Islam
tentang orang menjual rokok yang dijual karena adanya keringanan (diskon) dari arah
perusahaan rokok?"
Para ulama¶ Al-Lajnah Ad-Da¶imah menjawab, "Merokok adalah haram; menanam tembakau
adalah haram; berdagang rokok adalah haram, karena pada rokok terdapat bahaya besar.
Sungguh telah diriwayatkan dalam sebuah hadits,

έ˴ ΍˴ήο
˶ ϻ
˴ ϭ˴ έ˴ ή˴ ο
˴ ϻ
˴

"Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan orang lain". [HR. Ibnu Majah (2341)]

Rokok juga termasuk khoba¶its (sesuatu yang busuk, jelek lagi menjijikkan). Sunnguh Allah -
Ta¶ala- telah berfirman tentang sifat Nabi ±Shollallahu alaihi wa sallam-,

"«dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala
yang buruk«". (QS. Al-A¶raaf: 157)

Allah ±Subhanahu- berfirman,

"Mereka menanyakan kepadamu: "Apakah yang dihalalkan bagi mereka?". Katakanlah:


"Dihalalkan bagimu yang baik-baik". Al-Ayat (QS. Al-Maa¶idah: 4) [Lihat Fatawa Al-Lajnah
Ad-Da'imah lil Buhuts Al-Ilmiyyah wa Al-Ifta' (15/85-86)]

* Soal Ketiga: Hukum Menjual Rokok karena Perintah Orang Tua

Terkadang ada sebagian orang telah mengenal haramnya merokok dan menjual rokok.
Namun ia bingung ketika ia diperintahkan oleh orang tuanya untuk menjual barang haram itu.
Dia bingung, apakah ia mentaati Allah dan Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- ataukah
ia mentaati orang tuanya?!

Seorang penanya pernah bertanya tentang menjual rokok karena adanya perintah dari orang
tua. Apakah hal itu adalah udzur baginya?

Para ulama dalam Al-Lajnah Ad-Da¶imah menjawab, "Merokok adalah haram, jual-beli
rokok adalah haram, walaupun hal itu terjadi atas perintah dari orang tua atau selainnya,
karena adanya hadits dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bahwa beliau bersabda,

Ϟ
˴˷ Ο
˴ ϭ˴ ΰ˴˷ ϋ
˴ Ϫ˶ Ϡ˴˷ϟ΍ Δ˶ ϴ˴ μ
˶ ˸όϣ˴ ϲ˶ϓ ϕ
˳ Ϯ˵Ϡ˸ΨϤ˴ ϟ˶ Δ˴ ϋ
˴ Ύ˴σ ϻ
˴

"Sama sekali tak ada ketaatan kepada seorang makhluk dalam bermaksiat kepada Yang Maha
Pencipta -Azza wa Jalla-". [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (1041)]

Beliau juga bersabda,

Ύ˴Ϥϧ˴˷·˶ ϑ
˶ ϭ˵ή˸όϤ˴ ˸ϟ΍ ϲ˶ϓ Δ˵ ϋ
˴ Ύ˷τ
˴ ϟ΍

"Ketaatan itu hanyalah dalam perkara yang ma¶ruf". (HR. Al-Bukhoriy & Muslim) [Lihat
Fatawa Al-Lajnah Ad-Da'imah lil Buhuts Al-Ilmiyyah wa Al-Ifta' (15/113)]

* Soal Keempat: Hukum Menanam Tembakau

Diantara sebab utama banyaknya produksi, karena adanya ta¶awun (kerja sama) antara
pedagang dengan petani tembakau. Para petani itu terkadang merasa bahwa ia tidak terkena
dosa jika ia menanam tembakau. Sebab ia beralasan bahwa bukan mereka yang membuat
rokok, tapi para pemilik perusahaan rokok.

Benarkah para petani tidak terkena dosa; dalam artian bahwa pekerjaannya tidak haram??!
Kini ada baiknya kita simak seorang penanya pernah berkata, "Bagaimana hukum Islam
tentang tentang menanam tembakau dan harta yang dikumpulkan oleh para petani tembakau
dari hasil penjualan tembakau tersebut?"

Para ulama dalam Al-Lajnah Ad-Da¶imah menjawab, "Tidak boleh menanam tembakau,
menjual, dan menggunakannya, karena rokok haram dari beberapa sisi; karena beberapa
madhorot (bahaya)nya yang besar dari sisi kesehatan, karena keburukannya, tidak ada
faedahnya. Wajib bagi seorang muslim untuk meninggalkannya, menjauhinya, tidak
menanamnya dan tidak pula memperdagangkannya, karena jika Allah mengharamkan
sesuatu, maka Dia mengharamkan harganya, Wallahu A¶lam". [Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-
Da'imah lil Buhuts Al-Ilmiyyah wa Al-Ifta' (15/120)]

* Soal Kelima: Wajib Bertaubat dari Rokok

Ada diantara kita yang menyangka bahwa merokok bukan dosa sehingga ia menyangka
bahwa dirinya tak perlu bertaubat dari perbuatannya tersebut. Tapi demikiankah halnya. Biar
anda tahu tingkat kekeliruan sangkaan batil itu, dengar Seorang penanya berkata, "Bagaimana
hukum syari¶at tentang penjual rokok dengan berbagai macam jenisnya? Saya adalah seorang
perokok; saat aku mendengarkan tukang adzan, maka aku masuk masjid. Apakah wajib
bagiku mengulangi wudhu¶ ataukah berkumur-kumur cukup bagiku? Aku sebenarnya tahu
bahwa rokok menyebabkan berbagai macam penyakit".

Para ulama besar dalam Al-Lajnah Ad-Da¶imah yang diketuai oleh Syaikh Abdul bin Baaz
memberikan jawaban, "Haram menjual rokok, karena keburukannya, dan bahayanya yang
banyak. Sedang si perokok dianggap fasiq. Tidak wajib mengulangi wudhu¶ karena merokok.
Tapi disyari¶atkan baginya menghilangkan bau yang tak sedap dari mulutnya dengan sesuatu
yang bisa menghilangkannya; di samping ia wajib segera bertaubat kepada Allah dari rokok.
Wabillahit taufiq wa shollallahu ala Nabiyyina wa alihi wa shohbihi wa sallam". [Lihat
Fatawa Al-Lajnah Ad-Da'imah lil Buhuts Al-Ilmiyyah wa Al-Ifta' (15/114)]

Inilah beberapa buah petikan fatwa ilmiah dari para ulama besar kita di zaman ini. Mereka
menjelaskan haramnya merokok, menjual rokok, menanam tembakau, dan segala hal yang
mendukung perbuatan maksiat ini, yakni merokok. Sedang Allah -Ta¶ala- melarang kita
bekerjasama dan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan dalam firman-Nya,
"Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu
kepada Allah". (QS. Al-Maa¶idah: 2)

Faedah : Sebagian orang terkadang berceloteh bahwa rokok tidak haram sebab tidak ada kata
"rokok" dan larangannya dalam Al-Qur¶an sehingga mereka menyangka bahwa merokok
tidak diharamkan. Padahal sebenarnya banyak dalil-dalil dalam Al-¶Qur¶an yang
mengandung kaedah-kaedah yang memastikan haramnya rokok. Tapi kedangkalan ilmu
orang-orang yang berusaha menghalalkan rokok, menyebabkan mereka tidak dapat
menemukan dalil-dalil tersebut. Hal ini mengingatkan kami dengan sebuah kisah dari Masruq
bin Al-Ajda¶ saat ia berkata, " Ada seorang wanita yang pernah datang kepada Ibnu Mas¶ud
seraya berkata, "Aku telah dikabari bahwa Anda melarang wanita dari menyambung rambut
(memakai rambut palsu)? Ibnu Mas¶ud menjawab, "Benar". Wanita itu bertanya, "Apakah hal
itu Anda dapatkan dalam Kitabullah ataukah Anda pernah mendengarnya dari Rasulullah -
Shallallahu alaihi wa sallam-. Ibnu Mas¶ud berkata, "Aku telah mendapatkannya dalam
Kitabullah dan dari Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-. Wanita itu berkata, "Demi
Allah, sungguh aku telah membolak-balik diantara dua lembar (cover) mushaf, tapi aku tak
menemukan di dalamnya sesuatu yang anda nyatakan". Ibnu Mas¶ud berkata, "Apakah
engkau menemukan (s ebuah ayat) di dalam mushaf (yang berbunyi):

"Apa saja yang didatangkan oleh Rasul kepadamu, maka terimalah,. dan apa saja yang
dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah". (QS. Al-Hasyr: 7)

Wanita itu menjawab, "Ya". [HR. Ahmad (3749). Di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam
Ghoyah Al-Marom (93)]

Memakai rambut palsu tak ada dalil yang mengandung lafazh larangannya dalam Kitabullah,
tapi dalil-dalil yang melarang hal tersebut secara tersirat terdapat dalam Kitabullah, sebab
menyambung rambut alias menggunakan rambut palsu termasuk bentuk penipuan dan
kedustaan. Sedang larangan berdusta dan menipu banyak di dalam Al-Qur¶an. Demikian pula
rokok, memang tak ada kata dan lafazh "rokok" dalam Al-Qur¶an. Tapi larangan tersebut
sebenarnya ada secara tersirat, sebab rokok termasuk perbuatan tabdzir (menghambur harta),
membahayakan diri, mengganggu orang lain, menzholimi diri dan orang lain, suatu sebab
besar orang mengidap penyakit, bahkan penyebab kematian!! Bukankah di dalam Al-Qur¶an
terdapat larangan tabdzir, membahayakan diri, mengganggu orang lain, menzholimi diri dan
orang lain, membunuh diri sendiri?! Jawabnya, "Jelas ada!!". Jadi, nyatalah keharaman rokok
berdasarkan Al-Qur¶an dan As-Sunnah.

Sumber : Buletin Jum¶at At-Tauhid edisi 110 Tahun II. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas.
Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te¶ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto
Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa¶izah). Pimpinan
Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa¶izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi :
Santri Ma¶had Tanwirus Sunnah ± Gowa. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa¶izah Abdul Qadir
Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-
Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200, -/exp)

(Sumber http://almakassari.com/artikel-islam/fiqh/siapa-bilang-rokok-haram.html)

ooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo

     


 
------------------------------------------------------------------------------------

!""  #"" 


$   %&

Assalamu'alaikum wr wb..

'( )

Suatu menghabiskan waktu menilik mainan baru bernama FB ini, mata saya tertuju pada
status update dari salah satu sahabat terbaik saya.. kurang lebih seperti ini..

100 - 10 = 7090 *)
100 - 20 = 14080
100 - 30 = 21070
..

Matematika dari planet mana ini???

'$
)
Di hari yang lainnya, sahabat saya bercerita tentang suatu nilai yang diajarkan oleh almarhum
ayahanda.

Ayahandanya berkata "bersedakahlah kamu selagi mampu dan bisa, cobalah untuk terus
meningkatkan kadar dan kualitasnya".

Hari itu didalam dompet sang ayah ada beberapa lembar 500, 1000an, 5.000an dan 10.000an.
"Mana yg akan kamu berikan untuk sedekah?" ia bertanya kepada sahabat saya itu. Ia
menjawab, "500 ayah!" karena biasanya semua orang yg ia tahu akan memberikan yg terkecil
untuk disedekahkan.

Ayahanda beliau pun tersenyum. "kenapa 500?" kembali sang ayah bertanya. "Kenapa bukan
10.000?"

Pertanyaan itu membuat sahabat saya tertegun dan mengernyitkan dahinya.

Sang ayah pun melanjutkan "Lebih berat mana, ngasih 500 atau 10.000?". Ia terdiam dan
menjawab "lebih berat 10.000 ayah".

Kembali ia tersenyum dan berkata


s *  &#""    
 + *  ,
 &

* " &$  *   *  * "

  "&  ! ", "   "+ *   *
 *  ," &*  " +* * 


  +
*&  "   , " ,
"&
 & *  
   "s

Begitulah amanat almarhum yang meninggal dunia di usia 47thn. Rupaya Allah tidak ingin
beliau yang insya Allah sudah bersih, ternoda oleh dosa dunia sehingga segera dipulangkan
ke asalnya.

*********

Mari kita tilik Al-Qur'an:


s( '- &
 " ." ).  . & - 
 &
,"#"" 
"  
 *  *  & *  , 
*" +
  *" /  *,#""  " 
', )*
&0 
0#""  1'  %&)"    s'2
/3 )

!&"" 

*) 100 - 10 = 90
10 dilipat gandakan menjadi: 10 x 700 = 7000
TOTAL AKHIR = 7000 + 90 = 7090

Ada yang bertanya, jadi kalau saya sedekahkan Rp10.000, maka saya akan mendapatkan
kembali Rp.700.000?? Semudah itu?

Silahkan buktikan wahai sahabatku.

4 "
 +$51#$51#$51#

Kadang matematika sedekah ini tidak kasat mata. Tidak melulu diganti uang dengan uang.
Tetapi Allah Yang Maha Suci dengan Kesempurnaan-Nya juga Maha Mengetahui mana yang
terbaik untuk hamba-Nya. Diganti keselamatan dijalan, kesehatan, kemudahan berusaha,
kebahagiaan keluarga, anak yang berbakti dan lain sebagainya.

Wallahu'alam.

Semoga kita senantiasa IKHLAS.. IKHLAS.. dan IKHLAS

@Depok, 17 October 2009


Gita Ranuhardi
ooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo

Adakah istri yang tidak cerewet? Sulit menemukannya. Bahkan istri Khalifah sekaliber Umar
bin Khatab pun sama.

Seorang laki-laki berjalan tergesa-gesa menuju kediaman khalifah Umar


bin Khatab. Ia ingin mengadu pada khalifah; tak tahan dengan
kecerewetan istrinya. Begitu sampai di depan rumah khalifah, laki-laki
itu tertegun. Dari dalam rumah terdengar istri Umar sedang ngomel,
marah-marah. Cerewetnya melebihi istri yang akan diadukannya pada Umar.
Tapi, tak sepatah katapun terdengar keluhan dari mulut khalifah. Umar
diam saja, mendengarkan istrinya yang sedang gundah. Akhirnya lelaki
itu mengurungkan niatnya, batal melaporkan istrinya pada Umar.

Apa yang membuat seorang Umar bin Khatab yang disegani kawan maupun
lawan, berdiam diri saat istrinya ngomel? Mengapa ia hanya
mendengarkan, padahal di luar sana, ia selalu tegas pada siapapun?

Umar berdiam diri karena ingat 5 hal. Istrinya berperan sebagai BP4. Apakah BP4 tersebut?

!  ( ,#% 


Kelemahan laki-laki ada di mata. Jika ia tak bisa menundukkan pandangannya, niscaya
panah-panah setan berlesatan dari matanya, membidik tubuh-tubuh elok di sekitarnya. Panah
yang tertancap membuat darah mendesir, bergolak, membangkitkan raksasa dalam dirinya.
Sang raksasa dapat melakukan apapun demi terpuasnya satu hal; syahwat. Adalah sang istri
yang selalu berada di sisi, menjadi ladang bagi laki-laki untuk menyemai benih, menuai buah
di kemudian hari. Adalah istri tempat ia mengalirkan berjuta gelora. Biar lepas dan bukan
azab yang kelak diterimanya Ia malah mendapatkan dua kenikmatan: dunia dan akhirat.
Maka, ketika Umar terpikat pada liukan penari yang datang dari kobaran api, ia akan ingat
pada istri, pada penyelamat yang melindunginya dari liukan indah namun membakar.
Bukankah sang istri dapat menari, bernyanyi dengan liuka yang sama, lebih indah malah.
Membawanya ke langit biru. Melambungkan raga hingga langit ketujuh. Lebih dari itu istri
yang salihah selalu menjadi penyemangatnya dalam mencari nafkah.

(  "  6


Pagi hingga sore suami bekerja. Berpeluh. Terkadang sampai mejelang malam.
Mengumpulkan harta. Setiap hari selalu begitu. Ia pengumpul dan terkadang tak begitu peduli
dengan apa yang dikumpulkannya. Mendapatkan uang, beli ini beli itu. Untunglah ada istri
yang selalu menjaga, memelihara. Agar harta diperoleh dengan keringat, air mata, bahkan
darah tak menguap sia-sia Ada istri yang siap menjadi pemelihara selama 24 jam, tanpa
bayaran. Jika suami menggaji seseorang untuk menjaga hartanya 24 jam, dengan penuh cinta,
kasih sayang, dan rasa memiliki yang tinggi, siapa yang
sudi? Berapa pula ia mau dibayar. Niscaya sulit menemukan pemelihara rumah yang lebih
telaten daripada istrinya. Umar ingat betul akan hal itu. Maka tak ada salahnya ia
mendengarkan omelan istri, karena (mungkin) ia lelah menjaga harta-harta sang suami yang
semakin hari semakin membebani.

7( ,( "


Umumnya laki-laki tak bisa menjaga penampilan. Kulit legam tapi berpakaian warna gelap.
Tubuh tambun malah suka baju bermotif besar. Atasan dan bawahan sering tak sepadan.
Untunglah suami punya penata busana yang setiap pagi menyiapkan pakaianannya,
memilihkan apa yang pantas untuknya, menjahitkan sendiri di waktu luang, menisik bila ada
yang sobek. Suami yang tampil menawan adalah wujud ketelatenan istri. Tak mengapa
mendengarnya berkeluh kesah atas kecakapannya itu.

(  #


Suami menyemai benih di ladang istri. Benih tumbuh, mekar. Sembilan bulan istri bersusah
payah merawat benih hingga lahir tunas yang menggembirakan. Tak berhenti sampai di situ.
Istri juga merawat tunas agar tumbuh besar. Kokoh dan kuat. Jika ada yang salah dengan
pertumbuhan sang tunas, pastilah istri yang disalahkan. Bila tunas membanggakan lebih dulu
suami maju ke depan, mengaku, ?akulah yang membuatnya begitu.? Baik buruknya sang
tunas beberapa tahun ke depan tak lepas dari sentuhan tangannya. Umar paham benar akan
hal itu.

8( &
5

Pulang kerja, suami memikul lelah di badan. Energi terkuras, beraktivitas di seharian. Ia
butuh asupan untuk mengembalikan energi. Di meja makan suami Cuma tahu ada hidangan:
ayam panggang kecap, sayur asam, sambal terasi danlalapan. Tak terpikir olehnya harga
ayam melambung; tadi bagi istrinya sempat berdebat, menawar, harga melebihi anggaran.
Tak perlu suami memotong sayuran, mengulek bumbu, dan memilah-milih cabai dan
bawang. Tak pusing ia memikirkan berapa takaran bumbu agar rasa pas di lidah. Yang suami
tahu hanya makan. Itupun terkadang dengan jumlah berlebihan; menyisakan sedikit saja
untuk istri si juru masak. Tanpa perhitungan istri selalu menjadi koki terbaik untuk suami.
Mencatat dalam memori makanan apa yang disuka dan dibenci suami.
Dengan mengingat lima peran ini, Umar kerap diam setiap istrinya ngomel. Mungkin dia
capek, mungkin dia jenuh dengan segala beban rumah tangga di pundaknya. Istri telah
berusaha membentenginya dari api neraka, memelihara hartanya, menjaga penampilannya,
mengasuh anak-anak, menyediakan hidangan untuknya. Untuk segala kemurahan hati sang
istri, tak mengapa ia mendengarkan keluh kesah buah lelah.

Umar hanya mengingat kebaikan-kebaikan istri untuk menutupi segala cela dan
kekurangannya. Bila istri sudah puas menumpahkan kata-katanya, barulah ia menasehati,
dengan cara yang baik, dengan bercanda. Hingga tak terhindar pertumpahan ludah dan caci
maki tak terpuji. Akankah suami-suami masa kini dapat mencontoh perilaku Umar ini. Ia tak
hanya berhasil memimpin negara tapi juga menjadi imam idaman bagi keluarganya

**** Diolah dari Cahaya Iman, edisi kamis, 30 November 2006-11-30, Indosiar pukul 04:30
***

ooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo

Suatu hari Rasulullah S.A.W menyempatkan diri berkunjung kerumah Fatimah az-zahra.
Setiba dikediaman putri kesayangannya itu, Rosulullah berucap salam & kemudian masuk.
Ketika itu didapatinya Fatimah tengah menangis sambil menggiling Syaiir ( Sejenis Gandum
) dengan penggilingan tangan dari batu. Seketika itu Rosul bertanya kepada putrinya.
³ Duhai Fatimah, apa gerangan yang membuat engkau menangis ? Semoga Allah tidak
menyebabkan matamu berderai.´
Fatimah menjawab. ³ Wahai Rosulullah, Penggilingan dan Urusan rumah tangga inilah yang
menyebabkan Ananda menangis.´

Kemudian duduklah Rosulullah S.A.W disisi Fatimah. Kemudian Fatimah melanjutkan. ³


Duhai Ayahanda, sudikah kiranya Ayah meminta kepada Ali, suamiku. Mencarikan seorang
Jariah ( Hamba Perempuan ) untuk membantu Ananda menggiling gandum dan mengerjakan
pekerja¶an Rumah ?´.

Maka bangkitlah Rasulullah S.A.W mendekati penggilingan itu. Dengan tangannya beliau
mengambil sejumput gandum lalu diletakkannya dipenggilingan tangan seraya membaca
BASMALLAH. Ajaib dengan seizing ALLAH S.W.T. penggilingan tersebut berputar sendiri.
Sementara penggilingan itu berputar, Rasulullah bertasbih kepada ALLAH S.W.T dalam
berbagai bahasa, sehingga habislah gandum itu tergiling.. ³ Berhentilah berputar dengan izin
ALLAH S.W.T.´ maka penggilingan itu berhenti berputar.

Lalu dengan izin ALLAH pula penggilingan itu berkata dengan bahasa manusia.´ Yaa..
Rasulullah, demi ALLAH yang telah menjadikan tuan kebenaran sebagai Nabi dan Rasul-
nya. Kalaulah tuan menyuruh hamba menggiling gandum dari timur hingga kebaratpun
niscaya hamba gilingkan semuanya, Sesungguhnya hamba telah mendengar dalam kitab
ALLAH S.W.T. ³ Hai orang yang beriman, peliharalah dirimu, keluargamu dari api neraka
yang bahan bakarnya manusia dan batu, penjaganya malaikat yang kasar lagi keras, yang
tidak mendurhakai ALLAH terhadap apa yang dititahkannya dan mereka mengerjakan apa
yang dititahkannya. Maka hamba takut yaa.. Rasulullah kelak hamba menjadi batu dineraka.´

Dan bersabdalah Rasulullah.´ Bergembiralah, karena engkau adalah salah satu Mahligai
Fatimah az-zahra didalam surga. Maka bergembiralah penggilingan batu itu.

Lalu Rasulullah bersabda.


9:#11#5  
+& " *   
 
 &
 #11#5  

 " & * *  *


 &* * " 0


 &* * 
,  
*";  "
 
&0#11#5
 "& 
&
"&# *

  &#
, s

Kemudian Rasulullah meneruskan nasehatnya.


9< =  +; &*   $ ;  "
 

&#11#5 ,
  
 &
%  ,   
< & &
 &  * &+  
 #11#5    "   *  *. " 

 *  
 *.  ",
; &  "
,   &+#11#5  "&
    "
$  
   9

Rasulullah S.A.W masih meneruskan nasehatnya..


9< =  &" *  
   
"  
> 

 &: 
6
+ 
"  
.
 
  +6

" 6
#11#5<+
   &
" 
   #11#5< 9

Apabila seorang wanita mengandung Janin, Maka beristigfarlah para malaikat. Dan ALLAH
mencatat Tiap ± tiap hari seribu kebaikan dan menghapuskan seribu kejahatan.
Apabila ia mulai sakit karena melahirkan, ALLAH akan mencatat seperti pahala orang-orang
yang berjihad.
Apabila ia Melahirkan, keluarlah ia dari dosa-dosanya seperti keadan sa¶at ibunya
melahirkannya.
Apabila ia Meninggal dalam melahirkan ia meninggalkan dunia ini tanpa dosa sedikitpun.
Kelak ia akan mendapati kuburnya tersebut sebagai taman-taman surga. Dan ALLAH
mangaruniakan pahala seribu haji dan seribu umrah. Dan beristigfarlah seribu malaikat
untuknya dihari kiamat.

9< =  +; & "&&


"   "
*
 
 " 
 &*  #11#5<  
. 

.&0      ,+



   &

   "*"


 * 
 * & * *'  " *
 *)< &  &
 
&+#11#5 
&


6  

.´ Wahai Fatimah, wanita yang menghamparkan alas untuk berbaring atau menata rumah
dengan baik untuk suami dan anaknya, berserulah para malaikat untuknya. Teruskanlah
Amalmu, maka ALLAH telah mengampunimu dari dosa yanglalu maupun yang akan
datang.´

.´ Wahai Fatimah, wanita yang mengoleskan minyak pada rambut dan jenggot suaminya,
serta rela memotong kumis dan menggunting kuku suaminya, ALLAH memberinya minuman
dari sungai ± sungai surga. Dan kuburnya akan menjadi taman di surga. Dan ALLAH
menyelamatkannyadari api neraka, serta selamat dari titian Sirotulmustakim.

DARI ABDULLAH BIN AMR AL-ASH RA, ROSULULLAH BERSABDA.


³ DUNIA ADALAH SUATU KESENANGAN, DAN SEBAIK-BAIK KESENANGAN
ADALAH WANITA YANG SHALEHAH.´
( H.R MUSLIM )

ooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo

Seorang ibu penjual tempe merasa Tuhan tidak mendengar doanya, karena tempe buatannya
masih belum jadi. Bukan sekali dua kali dia bikin tempe.
Padahal dia harus menjual tempe untuk menafkahi hidupnya.

Di Karangayu, sebuahdesa di Kendal, Jawa Tengah, hiduplah seorang ibu penjual tempe.
Tak ada pekerjaan lain yang dapat dia lalukan sebagai penyambung hidup.
Meski demikian, nyaris tak pernah lahir keluhan dari bibirnya. Ia jalani hidup dengan riang.
"Jika tempe ini yang nanti mengantarku ke surga, kenapa aku harus menyesalinya. .."
demikian dia selalu memaknai hidupnya.

Suatu pagi, setelah salatsubuh, dia pun berkemas. Mengambil keranjang bambu tempat
tempe, dia
berjalan ke dapur. Diambilnya tempe-tempe yang dia letakkan di atasmeja panjang. Tapi,
deg! dadanya gemuruh.Tempe yang akan dia jual, ternyata belum jadi. Masih berupa kacang
kedelai, sebagian
berderai, belum disatukan ikatan-ikatan putih kapas dari peragian.
Tempe itu masih harus menunggu satu hari lagi untuk jadi. Tubuhnya lemas. Dia bayangkan,
hari ini pasti dia tidak akan mendapatkan uang, untuk makan, dan modal membeli kacang
kedelai, yang akan dia olah kembali menjadi tempe.

Di tengah putus asa,terbersit harapan di dadanya. Dia tahu, jika meminta kepada Allah,
pasti tak akan ada yang mustahil. Maka, di tengadahkan kepala, dia angkat tangan, dia baca
doa. "Ya Allah, Engkau tahu kesulitanku. Aku tahu Engkau pasti menyayangi hamba-Mu
yang hina ini.
Bantulah aku ya Allah, jadikanlah kedelai ini menjadi tempe. Hanya kepada-Mu
kuserahkan nasibku..." Dalam hati, dia yakin, Allah akan
mengabulkan doanya.

Dengan tenang, dia tekan dan mampatkan daun pembungkus tempe. Dia rasakan hangat yang
menjalari daun itu. Proses peragian memang masih berlangsung.
Dadanya gemuruh. Dan pelan, dia buka daun pembungkus tempe. Dan... dia kecewa. Tempe
itu
masih belum juga berubah. Kacang kedelainya belum semua menyatu olehkapas-kapas ragi
putih. Tapi, dengan memaksa senyum, dia berdiri. Diayakin, Allah pasti sedang "memproses"
doanya. Dan tempe itu
pasti akan jadi.

Dia yakin, Allah tidak akan menyengsarakan hambanya yang setia beribadah seperti dia.
Sambil meletakkan semua tempe setengah jadi itu ke dalam keranjang,dia berdoa lagi. "Ya
Allah, aku tahu tak pernah ada yang mustahil bagi-Mu. Engkau Maha Tahu, bahwa tak ada
yang bisa aku
lakukan selain berjualan tempe. Karena itu ya Allah, jadikanlah.Bantulah aku, kabulkan
doaku..."

Sebelum mengunci pintu dan berjalan menuju pasar, dia buka lagi daun pembungkus tempe.
Pasti telah jadi sekarang, batinnya. Dengan berdebar, dia intip dari daun itu, dan... belum jadi.
Kacang kedelai itu belum sepenuhnya memutih. Tak ada perubahan apa pun atas ragian
kacang kedelai
tersebut. "Keajaiban Tuhan akan datang... pasti," yakinnya.

Dia pun berjalan ke pasar. Di sepanjang perjalanan itu, dia yakin, "tangan"
Tuhan tengah bekerja untuk mematangkan proses peragian atas tempe-tempenya. Berkali-kali
dia dia memanjatkan doa... berkali-kali dia yakinkan diri, Allah pasti mengabulkan doanya.
Sampai di pasar, di tempat dia biasa berjualan, dia letakkan keranjang-keranjang itu.
"Pasti sekarang telah jadi tempe!" batinnya. Dengan berdebar, dia buka daun pembungkus
tempe itu, pelan-pelan. Dan... diaterlonjak. Tempe itu masih tak ada perubahan. Masih sama
seperti
ketika pertama kali dia buka di dapur tadi.

Kecewa, airmata menitiki keriput pipinya. Kenapa doaku tidak dikabulkan? Kenapa tempe
ini tidak jadi? Kenapa Tuhan begitu tidak adil? Apakah Dia ingin aku menderita? Apa
salahku? Demikian batinnya berkecamuk.

Dengan lemas, dia gelar tempe-tempe setengah jadi itu di atas plastik yang telah dia sediakan.
Tangannya lemas, tak ada keyakinan akan ada yang mau membeli tempenya itu. Dan dia tiba-
tiba merasa lapar... merasa sendirian. Tuhan telah meninggalkan aku, batinnya.

Airmatanya kian menitik. Terbayang esok dia tak dapat berjualan... esok dia pun tak
akan dapat makan. Dilihatnya kesibukan pasar, orang yang lalu lalang, dan "teman-
temannya" sesama penjual tempe di sisi kanan dagangannya yang mulai berkemas.
Dianggukinya mereka yang pamit,
karena tempenya telah laku. Kesedihannya mulai memuncak. Diingatnya, tak pernah dia
mengalami kejadian ini. Tak pernah tempenya tak jadi. Tangisnya kian keras. Dia merasa
cobaan itu terasa berat...

Di tengah kesedihan itu, sebuah tepukan menyinggahi pundaknya. Dia memalingkan wajah,
seorang perempuan cantik, paro baya, tengah tersenyum, memandangnya.
"Maaf Ibu, apa ibu punya tempe yang setengah jadi? Capek saya sejak pagi mencari-cari di
pasar ini, tak ada yang menjualnya. Ibu punya?"

Penjual tempe itu bengong. Terkesima. Tiba-tiba wajahnya pucat. Tanpa menjawab
pertanyaan si ibu cantik tadi, dia cepat menadahkan tangan. "Ya Allah, saat ini aku tidak
ingin tempe itu jadi. Jangan engkau kabulkan doaku yang tadi. Biarkan sajalah tempe itu
seperti tadi,
jangan jadikan tempe..." Lalu segera dia mengambil tempenya. Tapi, setengah ragu, dia
letakkan lagi. "jangan-jangan, sekarang sudah jadi tempe..."

"Bagaimana Bu? Apa ibu menjual tempe setengah jadi?" tanya perempuan itu lagi.

Kepanikan melandanya lagi. "Duh Gusti... bagaimana ini? Tolonglah ya Allah, jangan
jadikan tempe ya?" ucapnya berkali-kali. Dan dengan gemetar, dia buka pelan-pelan daun
pembungkus tempe itu. Dan apa yang dia lihat, pembaca?? Di balik daun yang hangat itu, dia
lihat tempe yang masih
sama. Belum jadi! "Alhamdulillah!" pekiknya, tanpa sadar. Segera dia angsurkan tempe itu
kepada si pembeli.

Sembari membungkus, dia pun bertanya kepada si ibu cantik itu. "Kok Ibu aneh ya, mencari
tempe kok yang belum jadi?"

"Oohh, bukan begitu, Bu. Anak saya, si Shalauddin, yang kuliah S2 di Australia
ingin sekali makan tempe, asli buatan sini. Nah, agar bisa sampai sana belum busuk, saya pun
mencari tempe yang belum jadi. Jadi, saat saya bawa besok, sampai sana masih layak
dimakan. Oh ya, jadi
semuanya berapa, Bu?"

--------------------------------------------------------------------------------

Dalam kehidupan sehari-hari, kita acap berdoa, dan


"memaksakan" Allah memberikan apa yang menurut kita paling
cocok untuk kita. Dan jika doa kita tidak dikabulkan, kita merasa
diabaikan, merasa kecewa. Padahal, Allah paling tahu apa yang paling
cocok untuk kita. Bahwa semua rencananya adalah SEMPURNA.
===== dari : Inspiring Story (Nasehat Melalui Kisah) === search aja di box kanan atas
Fesbuk.. trus baca2 di sana.. sharing sama temen2.. Insya Allah bermanfaat dunia akhirat..
amien

oooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo ooooooo

Seperti yang telah biasa dilakukannya ketika salah satu sahabatnya meninggal dunia
Rosulullah mengantar jenazahnya sampai ke kuburan. Dan pada saat pulangnya
disempatkannya singgah untuk menghibur dan menenangkan keluarga almarhum supaya
tetap bersabar dan tawakal menerima musibah itu.

Kemudian Rosulullah berkata,´ Tidakkah almarhum mengucapkan wasiat sebelum


wafatnya?´

Istrinya menjawab, saya mendengar dia mengatakan sesuatu diantara dengkur nafasnya yang
tersengal-sengal menjelang ajal´ ³Apa yang di katakannya?´ ³saya tidak tahu, ya Rosulullah,
apakah ucapannya itu sekedar rintihan sebelum mati, ataukah pekikan pedih karena dasyatnya
sakaratul maut. Cuma, ucapannya memang sulit dipahami lantaran merupakan kalimat yang
terpotong-potong."

³Bagaimana bunyinya?´ desak Rosulullah.

Istri yang setia itu menjawab, ³suami saya mengatakan ³Andaikata lebih panjang
lagi«.andaikata yang masih baru«. andaikata semuanya«.´
hanya itulah yang tertangkap sehingga kami bingung dibuatnya. Apakah perkataan-perkataan
itu igauan dalam keadaan tidak sadar,ataukah pesan-pesan yang tidak selesai?´

Rosulullah tersenyum.´sungguh yang diucapkan suamimu itu tidak keliru,´ujarnya.

Kisahnya begini. pada suatu hari ia sedang bergegas akan ke masjid untuk melaksanakan
shalat jum¶at. Ditengah jalan ia berjumpa dengan orang buta yang bertujuan sama. Si buta itu
tersaruk-saruk karena tidak ada yang menuntun.

Maka suamimu yang membimbingnya hingga tiba di masjid. Tatkala hendak


menghembuskan nafas penghabisan, ia menyaksikan pahala amal sholehnya itu, lalu iapun
berkata ³andaikan lebih panjang lagi´. Maksud suamimu, andaikata jalan ke masjid itu lebih
panjang lagi, pasti pahalanya lebih besar lagi.

Ucapan lainnya ya Rosulullah?´tanya sang istri mulai tertarik.

Nabi menjawab,´adapun ucapannya yang kedua dikatakannya tatkala, ia melihat hasil


perbuatannya yang lain. Sebab pada hari berikutnya, waktu ia pergi ke masjid pagi-pagi,
sedangkan cuaca dingin sekali, di tepi jalan ia melihat seorang lelaki tua yang tengah duduk
menggigil, hampir mati kedinginan.
Kebetulan suamimu membawa sebuah mantel baru, selain yang dipakainya. Maka ia
mencopot mantelnya yang lama, diberikannya kepada lelaki tersebut. Dan mantelnya yang
baru lalu dikenakannya.

Menjelang saat-saat terakhirnya, suamimu melihat balasan amal kebajikannya itu sehingga ia
pun menyesal dan berkata, ³Coba andaikan yang masih yang kuberikan kepadanya dan bukan
mantelku yang lama, pasti pahalaku jauh lebih besar lagi´.Itulah yang dikatakan suamimu
selengkapnya.

Kemudian, ucapannya yang ketiga, apa maksudnya, ya Rosulullah?´ tanya sang istri makin
ingin tahu.

Dengan sabar Nabi menjelaskan,´ingatkah kamu pada suatu ketika suamimu datang dalam
keadaan sangat lapar dan meminta disediakan makanan? Engkau menghidangkan sepotong
roti yang telah dicampur dengan daging. Namun, tatkala hendak dimakannya, tiba- tiba
seorang musyafir mengetuk pintu dan meminta makanan.

Suamimu lantas membagi rotinya menjadi dua potong, yang sebelah diberikan kepada
musyafir itu. Dengan demikian, pada waktu suamimu akan nazak, ia menyaksikan betapa
besarnya pahala dari amalannya itu. Karenanya, ia pun menyesal dan berkata µ kalau aku tahu
begini hasilnya,
musyafir itu tidak hanya kuberi separoh. Sebab andaikata semuanya kuberikan kepadanya,
sudah pasti ganjaranku akan berlipat ganda.

oOo

Ayo kita menabung sebanyak-banyak bekal untuk akhirat. Beramallah dengan maksimal,
jangan setengah-setengah. Karena kebaikan akan memberikan berkah pagi pelakunya di
dunia dan di akhirat

δ
˴ ˸Σ΃˴ ˸ϢΘ˵Ϩ˴δ˸Σ΃˴ ˸ϥ·˶ Ύ˴ϬϠ˴ϓ˴ ˸ϢΗ˵˸΄γ
˴ ΃˴ ˸ϥ·˶ϭ˴ ˸ϢϜ˵ δ
˶ ϔ˵ ϧ˴Ϸ ˸ϢΘ˵Ϩ

³Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu
berbuat jahat, Maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri´. (Al-Isra:7)

Tidak pernah rugi sedikitpun, orang yang berbuat kebaikan.. Ayo bersungguh-sungguh
berbuat kebajikan. Jangan sampaikelak kita menyesal !!

oOo Inspiring Story II (Kisah-Kisah Pembangun Jiwa) oOo

ooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo -?

Beri Nilai