Anda di halaman 1dari 60

KABUPATEN KUTAI BARAT

Panduan Pengembangan Peran dan Partisipasi


Masyarakat dalam Pengelolaan Hutan

Editors
Martinus Nanang
G. Simon Devung

Institute for Global Environmental Strategies


Kanagawa, Japan.
ISBN 4-88788-007-3

KABUPATEN KUTAI BARAT


Panduan Pengembangan Peran dan Partisipasi
Masyarakat dalam Pengelolaan Hutan

Disiapkan dalam kerjasama:


Dinas Kehutanan Kabupaten Kutai Barat
Center for Social Forestry (CSF) Universitas Mulawarman
Institute for Global Environmental Strategies (IGES)
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)
Dengan dukungan:
① Masyarakat Kampung Batu Majang, Mataliba’, Engkuni-Pasek,
Tanjung Jaan, dan Muara Jawa’.
② Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM): Puti Jaji dan Bioma
Diterbitkan oleh:
Institute for Global Environmental Strategies (IGES). 2004

Copyright © IGES

Credit:
(Atas Kanan)—Matahari terbenam dan sungai Mahakam
Foto: Martinus Nanang
(Atas Kiri)—Penduduk bepergian dengan perahu motor waktu banjir di hutan hujan tropik
Foto: Martinus Nanang
(Bawah Kanan)—Jalan perusahaan pertambangan batubara membelah hutan primer
Foto: Martinus Nanang
(Bawah Kiri)—Hutan sekunder tua
Foto: Martinus Nanang

Printed by Sato Printing Co. Ltd., Yokohama, JAPAN


Institute for Global Environmental Strategies
2108-11 Kamiyamaguchi, Hayama, Miura,
Kanagawa, 240-0115, JAPAN
Tel: +81-468-55-3700
Fax: +81-468-55-3709
E-mail: iges@iges.or.jp
Web-site: http://www.iges.or.jp
Forest Conservation Project
Tel: +81-468-55-3830
Fax: +81-468-55-3809

Disclaimer: Pernyataan dan pendapat yang dituangkan dalam buku ini tidak mewakili penyataan
dan pendapat penerbit dan editor beserta lembaga mereka. Para penulis bertanggung jawab
sepenuhnya atas penyataan dan pendapat yang dimuat dalam buku ini.
Daftar Isi

Sambutan Bupati Kutai Barat (1)


ƒ Rama A. Asia
Kata Pengantar (2)
ƒ Makoto Inoue
Daftar Istilah (3)
Daftar Singkatan dan Akronim (4)
Daftar Lambang Bunyi Ucapan Bahasa Daerah (5)
Ringkasan (6)

BAGIAN I: PENDAHULUAN

1. Informasi Umum (11)

2. Panduan Kampung (12)


2.1. Alur penyusunan Panduan Kampung
2.2. Maksud dan tujuan Panduan Kampung
2.3. Kerangka Panduan Kampung
2.4. Cara menggunakan Panduan Kampung

3. Panduan Kabupaten (13)


3.1. Maksud Panduan Kabupaten
3.2. Kerangka Panduan Kabupaten

4. Beberapa Pengertian Dasar (14)


4.1. Pengertian “mengelola hutan”
4.2. Pengertain “partisipasi”

BAGIAN II: PANDUAN PENGEMBANGAN PERAN MASYARAKAT KAMPUNG


DALAM PENGELOLAAN HUTAN

1. Panduan untuk Kampung Batu Majang (17)


2. Panduan untuk Kampung Mataliba’ (21)
3. Panduan untuk Kampung Engkuni-Pasek (25)
4. Panduan untuk Kampung Tanjung Jan (28)
5. Panduan untuk Kampung Muara Jawa’ (31)
6. Langkah-langkah lebih lanjut (34)

BAGIAN III. MEMBANGUN SISTEM PENDUKUNG TINGKAT KABUPATEN

1. Pengakuan akan hak dan budaya lokal (35)


2. Modal sosial dan pengorganisasian masyarakat (36)
3. Akses masyarakat ke informasi (37)
4. Pendidikan nilai dan pendidikan kritis (37)
5. Pengawasan sosial dan penegakan hukum (38)
6. Pencegahan dan penyelesaian sengketa (38)
7. Pengembangan ekonomi Kampung (39)
LAMPIRAN-LAMPIRAN

1. Sudut pandang LSM: Panduan pengembangan pengelolaan hutan partisipatif (42)


2. Unsur Strategis dan Langkah Administratif untuk Menunjang Partisipasi Masyarakat dalam
Pengelolaan Hutan (55)
1

Sambutan Bupati Kutai Barat


Rama Alexander Asia
Sendawar
Kutai Barat

Pemerintah Kabupaten Kutai Barat menyambut baik diterbitkannya buku kecil “Panduan Pengembangan
Peran dan Partisipasi Masyarakat dalam Pengelolaan Hutan” ini. Atas terbitnya Panduan ini Pemerintah
menyampaikan ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah bekerja keras dalam mewujudkannya,
yaitu Institute for Global Environmental Strategies (IGES), Jepang, Center for Social Forestry (CSF)
Universitas Mulawarman, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Masyarakat Kampung Batu
Majang, Mataliba’, Engkuni-Pasek, Tanjung Jan dan Muara Jawa.’

Panduan ini merupakan hasil sebuah kerjasama yang baik antara pihak Ilmuwan dari Lembaga Penelitian
dan perguruan tinggi dengan Masyarakat Kampung dan Pemerintah Kabupaten (Dinas Kehutanan). Tentu
saja lingkup sasaran dari hasil kerjasama ini sangat terbatas, yaitu hanya lima Kampung. Diharapkan bahwa
di masa depan terjalin kerjasama serupa dengan cakupan kelompok sasaran yang lebih luas.

Kabupaten Kutai Barat dengan kawasan yang hampir seluruhnya pedesaan (rural) menandakan “kedekatan”
Masyarakatnya dengan hutan. Secara tradisional atau turun-temurun Masyarakat yang hidup di dan sekitar
hutan memperoleh keuntungan dari hutan, walaupun tidak seluruh hidup mereka tergantung pada hutan.
Tetapi makin hari makin banyak pihak yang berkepentingan terhadap hutan, sehingga sering timbul
perselisihan kepentingan (dalam Masyarakat, antar Masyarakat maupun dengan pihak luar) yang dalam
beberapa kasus cenderung makin tajam. Akibatnya hutan terancam kelestariannya dan semua pihak
dirugikan dari segi ekonomi dan kelestarian lingkungan.

Panduan in memberikan arah dasar dalam pengelolaan hutan oleh Masyarakat Kampung. Sebagai arah dasar
panduan ini harus digunakan secara kreatif oleh warga. Artinya, warga Kampunglah, di bawah pimpinan
seorang tokoh (Petinggi atau tokoh lain), yang perlu mengambil sikap dan membuat rincian tindakan dan
program yang diperlukan sehubungan dengan keperluan pengelolaan hutan tertentu.

Panduan ini juga memberi arahan kepada Pemerintah Kabupaten mengenai hal-hal yang perlu dilakukan
untuk menunjang gerakan pada tingkat Kampung. Pada tingkat Pemerintah Kabupaten perlu dibangun suatu
sistem pendukung, yang tidak dibatasi pada Dinas Kehutanan, tetapi juga Dinas-Dinas dan Badan lain dalam
lingkup Pemerintah Kabupaten. Dinas dan Badan tersebut perlu mempelajari dengan seksama Panduan ini
dan melihat mana yang dapat dilaksanakan secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama.

Mengingat keterbatasan yang ada pada Masyarakat dan Pemerintah Kabupaten, masih diharapkan
dampingan dari pihak luar, baik Lembaga Penelitian, perguruan tinggi, lembaga swadaya Masyarakat (LSM)
dalam menunjang gerakan Masyarakat dalam pengelolaan hutan di Kutai Barat.

Panduan ini telah menambah kerangka teoretik dan normatif bagi pengelolaan hutan oleh Masyarakat di
Kutai Barat. Sebelumnya telah dikeluarkan Peraturan Daerah tentang Kehutanan Masyarakat. Tentu saja
sangat diharapkan bahwa kerangka tersebut benar-benar dimanfaatkan oleh semua pihak, terutama
Masyarakat Kampung dan Pemerintah Kabupaten.
2 Indonesia Guidelines

Kata Pengantar

INOUE Makoto Ph.D.


Project Leader,
Forest Conservation Project, IGES

Tujuan dari Forest Conservation Project IGES adalah untuk mengembangkan strategi bagi konservasi hutan
dan pengelolaan hutan yang berkelanjutan. Pada fase kegiatan yang kedua (tahun 2001-2004) tiga negara
menjadi sasaran pokok kegiatan, yaitu Indonesia, Laos and Rusia (Rusia Timur Jauh). Untuk ketiga negara
tersebut telah disusun penuntun atau Panduan pendampingan untuk pengelolaan hutan yang partisipatif.

Untuk penelitian di Indonesia Martinus Nanang, Manejer Forest Conservation Project IGES, berfungsi
sebagai Koordinator dari pihak IGES; Ndan Imang dari UPT. Perhutanan Sosial (CSF) Universitas
Mulawarman, di bawah bimbingan G. Simon Devung, Direktur UPT. Perhutanan Sosial (CSF) Universitas
Mulawarman, telah berperan sebagai Koordinator untuk kegiatan di Kaltim. Saya merasa sangat gembira
bahwa kedua Koordinator ini telah melaksanakan tugas koordinasi dengan sukses dan membuahkan hasil
yang baik.

Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada Bapak Rama A. Asia, Bupati Kutai Barat, dan Bapak Ary
Yasir Pilipus, Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Kutai Barat atas dukungan terhadap seluruh kegiatan.
Juga terima kasih ingin kami sampaikan kepada, Bapak John Haba, Bapak Herman Hidayat dan Ibu Yekti
Maunati dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Jakarta, Masyarakat dari kampung Muara
Jawa’, Tanjung Jan, Engkuni-Pasek, Batu Majang, dan Mataliba’, serta para staf dari Pemkab Kutai Barat,
UPT. Perhutanan Sosial (CSF) Universitas Mulawarman , Puti Jaji dan Bioma atas kerjasama mereka yang
baik dalam kegiatan penelitian dan penyusunan Panduan ini.

Saya memiliki harapan bahwa Panduan ini akan dimanfaatkan oleh semua pihak yang berkepentingan di
Kutai Barat. Forest Conservation Project IGES ingin meneruskan jalinan kerjasama dengan UPT.
Perhutanan Sosial (CSF) Universitas Mulawarman dan Pemkab Kutai Barat pada fase kegiatan yang ketiga
(2004-2006). Saya percaya bahwa semua upaya kerjasama kita akan menyumbangkan sesuatu yang
bermanfaat bagi kemakmuran dan kebaikan Masyarakat dan sumberdaya hutan di Kutai Barat di masa yang
akan datang.
Indonesia Guidelines 3

Daftar Istilah

Istilah Pengertian

Access road (baca: aksés roud - ƒ Jalan yang dibuat oleh Perusahaan HPH untuk
Inggris) mengambil kayu dari hutan.
Agroforestry (Inggris) ƒ Model pengelolaan lahan yang memadukan
tumbuhan/tanaman hutan.
Annual allowable cut (baca: anyual ƒ Batas maksimum jumlah kayu yang diperbolehkan
alowabel kat – Inggris) untuk ditebang oleh suatu Perusahaan dalam satu tahun.

Ba’i (Kenyah) ƒ Hutan rimba.


Banjir kap ƒ Cara penebangan pohon oleh Masyarakat dan
pengangkutan ke sungai dengan memanfaatkan
genangan air banjir.
Fee (baca: fi – Inggris) ƒ Pembayaran kepada Masyarakat atau Kampung yang
dilakukan oleh Perusahaan pemegang HPH atau HPHH
atau IUPHHK.
Illegal logging (baca: iligel loging – ƒ Pembalakan tanpa ijin resmi.
Inggris)
Lepu’un (Bahau), ƒ Salah satu model agroforestry pada beberapa suku
Dayak Bahau.
Over cutting (baca: over kating - ƒ Penebangan yang melebihi jatah tebang yang
Inggris) diperkenankan berdasarkan surat ijin.
Pemung adung (Kenyah) ƒ Rapat atau musyawarah Kampung.
Public hearing (baca: pablik hiering- ƒ Satu bentuk temu wicara antara Pejabat Pemerintah dan
Inggris) massa rakyat.
Reduced impact logging (baca-ridjust ƒ Dampak kegiatan pengusahaan kayu yang diperkecil.
impék loging)
Simpukng (Benua’), ƒ Sama dengan Lepu’un.
Simpukng munan (Tonyoi) ƒ Sama dengan lepu’un dan simpukng.
Stakeholder (baca: stéikholder - ƒ Pihak-pihak yang mempunyai kepentingan dengan suatu
Inggris) hal tertentu, misalnya pemungutan kayu.
Sustainability (baca: sastéinabiliti – ƒ Kelestarian.
Inggris)
Tana’ berahan (Bahau) ƒ Kawasan hutan yang diperuntukkan bagi kegiatan usaha
pemungutan hasil hutan.
Tana’ mawa’ (Bahau) ƒ Hutan cadangan, biasanya hutan rimba yang dilindungi
Adat.
Tana’ ulen (Kenyah) ƒ Sama dengan Tana’ mawa’.
4 Indonesia Guidelines

Daftar Singkatan dan Akronim

Singkatan Kepanjangan/pengertian Singkatan Kepanjangan/pengertian

AMDAL Analisis Mengenai Dampak KhM Kehutanan Masyarakat


Lingkungan KKN Korupsi, Kolusi, Nepotisme
Bappeda Badan Perencanaan KK-PKD Kelompok Kerja Program
Pembangunan Daerah Kehutanan Daerah
BPK Badan Perwakilan Kampung KTP Kartu Tanda Penduduk
BPN Badan Pertanahan Nasional KUK Kredit Usaha Kecil
BRI Bank Rakyat Indonesia LIPI Lembaga Ilmu Pengetahuan
BUMD Badan Usaha Milik Daerah Indonesia
BUMN Badan Usaha Milik Negara LSM Lembaga Swadaya Masyarakat
BUMS Badan Usaha Milik Swasta PAD Pendapatan Asli Daerah
CBP Community-based Planning PAR Participatory Action-Research
CO Community Organizing PIC Prior Informed Consent
CSF Center for Social Forestry PKI Partai Komunis Indonesia
Distan Dinas Pertanian PKK Pendidikan Kesejahteraan Keluarga
DPM Dinas Pemberdayaan PHBM Pengelolaan Hutan Bersama
Masyarakat Masyarakat
DPRD Dewan Perwakilan Rakyat PSDH Pengelolaan Sumber Daya Hutan
Daerah RHL Rehabilitasi Hutan dan Lahan
Dishut Dinas Kehutanan RKN Rekomendasi Kebijakan Nasional
DR Dana Reboisasi RTRWK Rencana Tata Ruang Wilayah
HAM Hak Azasi Manusia Kabupaten
HPH Hak Pengusahaan Hutan SDA Sumber Daya Alam
HPHH Hak Pemungutan Hasil Hutan SDM Sumber Daya Manusia
HPHTI Hak Pengusahaan Hutan SEL Studi Evaluasi Lingkungan
Tanaman Industri SEMIDAL Studi Evaluasi Mengenai Dampak
HTI Hutan Tanaman Industri Lingkungan
IGES Institute for Global SK Surat Keputusan
Environmental Strategies TAP MPR Ketetapan Majelis
IUPHHK Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Permusyawaratan Rakyat
Hutan Kayu (pada hutan alam) UU Undang-undang
Indonesia Guidelines 5

Daftar Lambang Bunyi Ucapan Bahasa Daerah

Simbol Keterangan bunyi ucapan Contoh kata


(Lambang
bunyi)

/a/é/i/o/u Vokal (huruf hidup) yang Munan (=munaan);


diberi simbol garis bawah Tonyoi (=Tonyooi);
diucapkan dengan bunyi talutn; urat
panjang seperti vokal ganda.

/e/ Seperti “e” dalam “pernah” Ulen; berahan

/é/ Seperti “e” dalam “merah.” Kuléh

/’/ Bunyi glottal sebagai penutup Benua’; Mataliba’;


kata seperti “k” dalam kata tana’; Jawa’; lepo’;
“tidak”; Uma’ Baka’; Encui’

Di tengah kata untuk Lepu’un; ba’i


memotong bunyi dua vokal

/kng/ Ucapan diberi tekanan pada Simpukng;


huruf “k” dan disambung Gerongokng
dengan bunyi nasal “ng.”

/tn/ Ucapan diberi tekanan pada Idatn


huruf “t” dan disambung
dengan bunyi nasal “n”.
6 Indonesia Guidelines

Ringkasan

I. Panduan Kampung

1.1. Maksud Panduan Kampung

1) Memandu pimpinan Kampung dalam membuat kebijakan, program dan rencana tindakan pengelolaan hutan.
2) Membantu Pemerintah Kabupaten (Dinas terkait) dalam menyusun kebijakan program yang dapat menunjang
peran Masyarakat Kampung dalam pengelolaan hutan.
3) Menyediakan masukan bagi lembaga pendukung seperti LSM, Lembaga Penelitian, Universitas dan Perusahaan
Swasta dalam menyiapkan rencana pendampingan.

1.2. Isi Panduan Kampung

1) Hutan dan lahan

Masalah Saran penyelesaian Pelaku


Utama Pendukung
1) Kerusakan hutan yang cepat karena 1) Mencegah kebakaran. Warga Dishut,
kebakaran, pertanian, dan penebangan 2) Reboisasi dan penghijauan. Kampung Pemerintah
kayu. Kecamatan, Tim
2) Hutan rentan terhadap kebakaran. Peta Pihak,
3) Pemusatan perladangan pada satu 3) Membuat hutan lindung. LSM.
tempat bisa menyebabkan
pemanfaatan lahan yang berlebihan.
4) Kesulitan menyelesaikan sengketa 4) Membuat batas Kampung.
batas Kampung. 5) Membuat rencana tataguna
5) Pembalakan haram dan pencurian lahan.
kayu oleh Kampung tetangga. 6) Musyawarah penyelesaian
sengketa.

2) Ekonomi Kampung dalam kaitan dengan hutan

Masalah Saran penyelesaian Pelaku


Utama Pendukung
1) Hutan belum merupakan sumber 1) Menanam tumbuhan Warga Distan,
ekonomi pokok bagi kebanyakan kehutan yang bernilai Kampung Dishut, Dinas
penduduk; hanya sumber pendapatan ekonomi tinggi. Pariwisata, Seni
tambahan yang penting. 2) Mengembangkan model dan Budaya
2) Kerusakan hutan mengurangi sumber tumpang sari yang (DPSB).
pendapatan tambahan bagi penduduk. memadukan kegiatan
3) Upaya khusus untuk memadukan pertanian dan kehutanan.
kegiatan pertanian dan pengelolaan 3) Mengembangkan eko-wisata
hutan untuk meningkatkan berbasis hutan.
penghasilan belum menjadi perhatian 4) Meningkatkan
pokok. pengembangan pertanian
4) Tekanan terhadap hutan karena menetap seperti berkebun
meningkatnya usaha pertanian tidak nenas dan sayuran.
menetap. 5) Mengatur sistem
5) Keuntungan dari kayu dinikmati hanya pemanfaatan hutan yang
oleh sebagian kecil anggota bisa dinikmati bersama oleh
Masyarakat. sebagian besar anggota
Masyarakat.
Indonesia Guidelines 7

3) Pranata Kampung

Masalah Saran penyelesaian Pelaku


Utama Pendukung
1) Aturan dan norma adat kadang tidak 1) Mengevaluasi aturan Adat; Warga Dewat Adat
sesuai lagi dengan lingkungan dan jika perlu membuat Kampung, Kabupaten,
keadaan sosial ekonomi yang sudah peraturan baru. terutama DPM,
berubah. Dalam hal tertentu adat yang 2) Mengorganisir Masyarakat Aparat Pemerintah
lama tidak lagi dapat diandalkan, untuk meningkatkan Kampung dan Kecamatan dan
sementara aturan baru belum ada. kepemimpinan dan lembaga atau LSM.
2) Kurangnya kegiatan yang terorganisir manajemen Kampung. kelompok
di tingkat Kampung: banyak pimpinan 3) Menyelesaikan sengketa perempuan.
Kampung tidak memiliki kemampuan dalam (antar warga)
untuk mengorganisir warganya untuk Kampung.
kegiatan bersama. 4) Melakukan koordinasi
3) Lemahnya peran perempuan dalam dengan Kampung yang
pengambilan keputusan Masyarakat. bertetangga.

4) Kebijakan Pemerintah

Masalah Saran penyelesaian Pelaku


Utama Pendukung
1) Terbatasnya akses orang Kampung 1) Mengusulkan kepada Warga Kepala
terhadap hutan karena hutan sudah perusahaan HPH agar Kampung, Pemerintahan,
dikuasai perusahaan. memperoleh hak guna terutama Dishut, LSM,
2) Kebijakan (pertanahan dan kehutanan) lahan dan hak pemenfaatan Pimpinan dan Universitas.
belum menjamin akses dan hak yang hasil hutan bukan kayu di Aparatnya.
permanen terhadap lahan dan hutan. kawasan konsesi.
3) Belum ada pengakuan resmi 2) Masyarakat rajin
Pemerintah atas kawasan Hutan Adat melakukan pendekatan dan
yang ada sekarang ini. komunikasi dengan
4) Perubahan kebijakan yang cepat dan Pemerintah.
sering berganti mengenai kegiatan 3) Mengajukan permohonan
pengusahaan hutan skala kecil dirasa kepada Pemerintah untuk
membingungkan oleh Masyarakat. mendapatkan pengakuan
5) Pemerintah belum cukup membantu resmi atas hutan atau tanah
Masyarakat menyelesaikan sengketa adat, seperti tana’ ulen di
tata batas Kampung. Batu Majang.
6) Penyampaian informasi dari 4) Memperbaiki sistem
Pemerintah masih dirasa kurang dan informasi Kampung.
sering tidak sampai ke seluruh
Masyarakat.

II. Panduan Kabupaten

2.1. Maksud Panduan Kabupaten

1. Memberi pegangan bagi Pemerintah Kabupaten dalam mendukung pelaksanaan atau implementasi Panduan
Kampung.
2. Memberi masukan bagi pihak-pihak lainnya dalam mendukung pelaksanaan Panduan Kampung secara langsung
atau tidak langsung dengan mendukung Pemerintah Kabupaten.
3. Mendukung Pemerintah Kabupaten dalam mencapai visi pembangunan kehutanan dan menjalankan program-
program strategis bidang kehutanan.

2.2. Isi Panduan Kabupaten


8 Indonesia Guidelines

1) Pengakuan atas hak dan kebudayaan Masyarakat setempat

Masalah Saran penyelesaian Pelaku


Utama Pendukung
1) Ketidakamanan akses, penguasaan dan 1) Mencari upaya untuk memberi Kepala Ahli atau
pemilikan Masyarakat atas sumber keamanan akses, penguasaan dan Pemerintahan, Praktisi
daya hutan, terutama di kawasan pemilihan sumber daya hutan; Dishut, DPRD Hukum, LSM,
rawan sengketa seperti kawasan melibatkan Masyarakat dalam Universitas
pertambangan dan perkebunan. pengambilan keputusan yang
2) Pandangan umum Masyarakat dan berdampak pada mereka; menjadi
aparat Pemerintah bahwa perantara bagi mereka dengan
Masyarakat Kampung masih Pemerintah pusat.
“bodoh” dan terbelakang, sehingga 2) Memperkuat hak Masyarakat atas
harus diajari dan dibangun. sumberdaya hutan dalam Peraturan
Daerah.

2) Modal sosial dan pengorganisasian Masyarakat

Masalah Saran penyelesaian Pelaku


Utama Pendukung
1) Hukum adat kurang kuat untuk 1) Menggerakkan dan meningkatkan DPM, Dishut, LSM,
melindungi hutan terhadap eksploitasi. pengorganisasian Masyarakat di Pemerintah Ilmuwan,
2) Ketiadaan peraturan tertulis tingkat Kampung guna Kecamatan Lembaga
mendorong prilaku merusak hutan. memperkuat struktur Kampung, Donor
3) Kurangnya perhatian Pimpinan menyiapkan Peraturan Kampung
Kampung terhadap pentingnya tentang pengelolaan hutan dan
mengelola hutan dengan baik. sumberdaya alam, serta mendorong
4) Rendahnya tingkat partisipasi kerjasama antar Kampung.
perempuan dalam pengambilan 2) Meningkatkan kemampuan petugas
keputusan. Kabupaten (Dinas terkait) dalam
5) Lemahnya mekanisme pengawasan melakukan pengorganisasian
warga terhadap pengambilan Masyarakat.
keputusan Kampung. 3) Mengalokasikan dana untuk
6) Petugas lapangan dari Kabupaten kegiatan pengorganisasian
(Dinas) tidak memiliki kemampuan Masyarakat.
yang memadai untuk mendampingi
pengorganisasian Masyarakat.

3) Akses Masyarakat ke informasi

Masalah Saran Penyelesaian Pelaku


Utama Pendukung
1) Masyarakat umumnya belum 1) Membangun kesadaran Masyarakat Pemerintah LSM, pakar
menganggap akses ke informasi akan hak atas informasi. Kabupaten hukum,
sebagai hak sipil yang penting. 2) Menyediakan data yang sahih. dengan semua Lembaga
2) Pemerintah Kabupaten masih 3) Menggalakkan pembukaan informasi Dinas dan Penelitian,
sering kurang dana dalam berbagai terutama berkaitan dengan Badan. Universitas.
bidang, termasuk kehutanan. kepentingan dan keuangan publik.
3) Kurangnya fasilitas multimedia 4) Memberi sanksi bagi yang sengaja
yang dapat digunakan Pemerintah menutup-nutupi informasi.
dan Masyarakat. 5) Meningkatkan saluran informasi dari
4) Pemerintah sering kurang rajin Pemerintah ke Masyarakat dan
mengumpulkan informasi dari sebaliknya.
Masyarakat.
5) Tanggapan Pemerintah terhadap
informasi dari Masyarakat sering
tidak serius dan terlambat.
Indonesia Guidelines 9

4) Pendidikan nilai dan pendidikan kritis

Masalah Saran Penyelesaian Pelaku


Utama Pendukung
1) Masih kurangnya kesadaran akan 1) Membangun kesadaran akan Nilai Dinas LH, LSM,
perlunya pendidikan Nilai dan ekologis, sosial dan kultural hutan. Diknas, Dishut Lembaga
kritis bagi Aparat Pemerintah dan 2) Membangun kesadaran akan krisis Penelitian,
Masyarakat umum. hutan dan lingkungan. Universitas
2) Belum ada pendidikan Nilai yang 3) Membangun idealisme atau visi
terfokus dan terorganisir di bidang mengenai hutan.
lingkungan hidup.

5) Pengawasan sosial dan penegakan hukum

Masalah Saran penyelesaian Pelaku


Utama Pendukung
1) Lemahnya pengawasan atas 1) Membuat saluran bagi kritik dan sanksi Pemerintah Media
perusahaan HPH, terutama atas sosial atas pelanggaran hukum. Kabupaten, massa,
kewajiban melakukan program 2) Menciptakan mekanisme penyampaian Lembaga LSM, Pakar
Bina Desa. keluhan Masyarakat. Peradilan dan Hukum,
2) Pengawasan terhadap 3) Membuat aturan tentang sumbangan Penegak Lembaga
pelaksanaan reboisasi oleh pihak ketiga kepada lembaga dan pejabat Hukum, Kemasyara-
Masyarakat kurang mendapat Pemerintah. Dishut, Dinas katan
perhatian yang memadai. 4) Mempertimbangkan rasa keadilan LH.
3) Masyarakat belum memiliki Masyarakat.
kemampuan untuk mengawasi 5) Membangun mekanisme kontrol atas
dan menegakkan hukum atau pengusahaan hutan dan proyek reboisasi.
aturan yang dibuat secara 6) Membangun sistem AMDAL yang sehat
musyawarah. bagi pemegang Hak Pengusahaan Hutan.

6) Penyelesaian dan pencegahan sengketa

Masalah Saran penyelesaian Pelaku


Utama Pendukung
1) Sengketa batas Kampung dan 1) Mecari kejelasan definisi Hutan Adat Pemerintah Warga
persoalan pengertian Hutan dalam Undang-Undang Kehutanan serta Kabupaten, Kampung,
Adat: apakah Hutan Adat sama pengertian hutan Kampung dan hutan BPN, Dishut, Pengusaha
dengan Hutan Kampung? waris genelogis (keturunan). Pemerintah Hutan,
Apakah Hutan Adat adalah 2) Membuat kesepakatan batas antar Kecamatan. LSM,
hutan berbasis genealogis, yaitu Kampung melalui pemetaan partisipatif Aparat
hutan yang dipandang sebagai dan membuat rancana tata ruang yang Keamanan,
hak waris dari orang yang mengakui hak Adat. Pakar/Prak-
berasal dari satu keturunan? 3) Membentuk tim mediasi penyelesaian tisi Hukum,
2) Pemerintah belum cukup sengketa tata batas Kampung yang Ilmuwan.
membantu penyelesaian anggotanya terdiri dari pihak-pihak yang
sengketa tapal batas Kampung berkepentingan.
yang ada 4) Membangun mekanisme penyampaian
3) Masih ada sengketa antara warga keluhan dari Masyarakat.
Kampung dengan Perusahaan, 5) Mendorong pengelolaan bersama atau
terutama karena ijin perusahan kawasan pemanfaatan bersama pada
diperoleh dari Pemerintah Pusat kawasan sengketa.
tanpa konsultasi dengan warga 6) Belajar dari kesalahan pemberian ijin
Kampung. pengusahaan hutan masa lalu.
10 Indonesia Guidelines

7) Pengembangan ekonomi Kampung

Masalah Saran penyelesaian Pelaku


Utama Pendukung
1) Perolehan yang tidak merata 1) Membuat mekanisme yang Pemerintah Pengusaha,
dari hasil kayu: pihak tertentu memungkinkan pemerataan Kabupaten, Lembaga
memperoleh banyak, sedang penghasilan dari hutan bagi Dishut, Distan Donor,
yang lain sedikit atau tidak Masyarakat LSM,
sama sekali. 2) Memperkenalkan insentif berupa Ilmuwan,
2) Kecenderungan bahwa dana jangka panjang bagi Kampung Masyarakat
Masyarakat makin eskploitatif yang terbukti mampu mengelola Kampung
terhadap hutan dengan hutan dengan baik. yang terkait.
mementingkan keuntungan 3) Mencari cara pelaksanaan reboisasi
ekonomi semata. dan penghijauan yang terjangkau
3) Dilema antara kebutuhan akan oleh Masyarakat tanpa harus
penghasilan langsung dan menunggu uluran dana yang besar
tuntutan penanaman pohon dari pihak luar.
yang hasilnya jangka panjang. 4) Mengupayakan peningkatan hasil
4) Pengelolaan hutan belum dilihat hutan bukan kayu.
sebagai kegiatan ekonomi yang 5) Mendukung sistem integrasi usaha
utama, karena kebanyakan pertanian dan kehutanan.
orang mendapat penghasilan Mengupayakan jaminan atas hak
dari pertanian atau perkebunan. jangka panjang Masyarakat terhadap
lahan, terutama agar hak yang ada
tidak dirugikan oleh kegiatan
ekonomi skala besar seperti
perkebunan dan pertambangan.
Indonesia Guidelines 11~15

BAGIAN KESATU
Pendahuluan

1. Informasi umum Panduan Kampung dan Panduan Kabupaten mem-


punyai kaitan erat satu sama lain, yaitu, Panduan Ka-
Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, sejak ter- bupaten mendukung kegiatan yang dicanangkan dalam
bentuk pada tahun 1999 telah secara aktip mendirikan Panduan Kampung; sedangkan Panduan Kampung
tonggak-tonggak pembaharuan dalam pengelolaan hutan. memberi gambaran mengenai keadaan nyata di kam-
Beberapa tonggak pembaharuan tersebut adalah pem- pung-kampung untuk memahami apa yang mengilhami
bentukan Kelompok Kerja Program Kehutanan Daerah Panduan Kabupaten.
(KK-PKD), penyusunan Potret Kehutanan Kutai Barat,
Program Kehutanan Kutai Barat, Perda tentang Kehu- Kedua Panduan adalah hasil akhir dari kajian yang
tanan Daerah Kutai Barat, dan Perda tentang Kehutanan berlangsung sejak tahun 2001 hingga tahun 2003. Kajian
Masyarakat, serta penyiapan Pusat Data Elektronik Ke- mengenai peran masyarakat dalam mengelola hutan
hutanan. tersebut menggunakan pendekatan yang disebut Partici-
patory Action-Research (PAR) atau “Kaji-Tindak Par-
Sebagai bagian dari upaya pembaharuan tersebut, In- tisipatif.” Kajian PAR mengarah ke tindakan nyata dalam
stitute for Global Environmental Strategies (IGES), pengelolaan hutan oleh masyarakat melalui proses yang
Jepang, dan UPT. Perhutanan Sosial (CSF) Universitas berlingkar urut: pengkajian, perencanaan, pelaksanaan,
Mulawarman dan Dinas Kehutanan (Dishut) Kutai Barat dan penilaian. Kajian PAR dilakukan secara ber-
serta Pusat Penelitian Masyarakat dan Kebudayaan sama-sama oleh warga masing-masing kampung, ber-
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jakarta, sama peneliti dari CSF-UNMUL dan IGES, dibantu oleh
bersama-sama merancang dua tonggak baru guna staf LSM Putijaji dan Bioma yang tergabung dalam Tim
menunjang peran dan partisipasi masyarakat dalam PAR. Pada setiap kampung terdapat satu Tim PAR den-
pengelolaan hutan. Kedua tonggak tersebut adalah gan jumlah anggota yang bervariasi dari 10 sampai 21
penyusunan “Panduan Pengembangan Peran Masyara- orang. Panduan Kampung disusun berdasarkan hasil
kat Kampung dalam Pengelolaan Hutan” (selanjutnya kajian lapangan tersebut.
disebut “Panduan Kampung)” dan “Panduan Mem-
bangun Sistem Pendukung Tingkat Kabupaten bagi Panduan Kabupaten disusun dengan memperhatikan
Pengembangan Partisipasi Masyarakat dalam Pengel- hasil kajian lapangan, hasil kajian oleh LIPI di tingkat
olaan Hutan” (selanjutnya disebut “Panduan Kabupaten”). nasional dan masukan dari berbagai diskusi pelengkap.
Panduan Kampung menjadi Bagian Kedua dan Pan- Diskusi-diskusi tersebut antara lain “Working Group
duan Kabupaten menjadi Bagian Ketiga dari buku ini. Discussion” (Diskusi Kelompok Kerja) di Samarinda
pada 23 dan 24 Juli 2003. Peserta Working Group Dis-
Subyek atau pengguna Panduan Kampung adalah cussion adalah staf Dishut Kutai Barat, KK-PKD, CSF
masyarakat kampung dan subyek utama Panduan Ka- dan IGES. Diskusi tersebut juga memperkaya isi Pan-
bupaten adalah pemerintah kabupaten di dukung oleh duan Kampung. Selanjutnya di Sendawar pada 31 Juli
beberapa pihak lainnya seperti LSM, dan dunia bisnis. 2003 diadakan Lokakarya untuk mendiskusikan isi

Internasional Pertemuan Rekomendasi


Kebijakan
(IGES) Nasional Nasional

Pengkajian Nasional Lokakarya Panduan


(LIPI-IGES) Kabupaten Kabupaten

Lokal Pertemuan Panduan


(CSF-IGES) Kampung Kampung

Bagan 1: Proses dan masukan dalam penyusunan Panduan Kampung dan Panduan Kabupaten
12 Indonesia Guidelines

penting dari Panduan Kabupaten dan Panduan Kampung. 2.3. Kerangka Panduan Kampung
Lokakarya dihadiri oleh wakil Dishut (Pemerintah), Inti dari Panduan Kampung terletak pada bagian
DPRD, KK-PKD, LSM dan utusan masyarakat. Be- empat, yaitu permasalahan dan upaya yang diperlukan
berapa masukan yang berupa prinsip-prinsip umum untuk mengatasinya. Bagian tersebut dibagi ke dalam
diperoleh dari draft “National Policy Recommendation” “empat bidang permasalahan pokok”, yaitu keadaan hu-
(Rekomendasi Kebijakan Nasional-RKN) yang disusun tan dan lahan hutan, perekonomian kampung, pranata
oleh IGES bersama LIPI. RKN yang telah disari dijadi- kampung dan kebijakan pemerintah, sesuai dengan hasil
kan “Lampiran 2” dalam Panduan ini. kajian. Kalau permasalahan dari keempat bidang dapat
diselesaikan dengan baik, cukup diyakini bahwa keadaan
Dengan demikian penyusunan Panduan ini dianggap kampung, khususnya pengelolaan hutan akan menjadi
cukup melibatkan pihak-pihak yang berkepentingan. lebih baik.
Namun tentu saja ada keterbatasan dalam proses ini,
yaitu terutama proses diskusi yang singkat dan dan Keadaan “hutan dan lahan hutan” menunjuk kepada
cakupan wilayah studi yang masih terbatas. permasalahan yang berkaitan dengan keadaan fisik hutan
di wilayah kampung. “Perekonomian kampung” dikait-
2. Panduan kampung kan (dibatasi) secara khusus dengan pemanfaatan hutan.
Jadi dalam Panduan ini tidak dibahas segi perekono-
2.1. Alur penyusunan Panduan Kampung mian dan matapencarian penduduk yang lain. “Kelem-
Panduan ini memuat petunjuk-petunjuk pokok bagi bagaan kampung” membahas hal-hal yang menyangkut
Pemerintah kampung dan warga lima kampung di Kutai pengorganisasian kampung, yaitu sarana yang memung-
Barat. Kelima kampung tersebut adalah Muara Jawa’, kin orang kampung dapat bekerjasama atau bergotong
Tanjung Jaan, Engkuni-Pasek, Batu Majang, dan royong sebagai satu warga. Sedangkan dalam “kebijakan
Mataliba.’ Panduan untuk masing-masing kampung pemerintah” dibahas baik segi isi kebijakan sejauh ber-
dibuat secara terpisah karena setiap kampung memiliki kaitan dengan kampung maupun dari segi pelaksanaan di
keadaan dan kebutuhannya sendiri. Agar setiap kampung kampung serta penyampaian informasi ke kampung.
dapat belajar dari pengalaman kampung lainnya, Pan-
duan-panduan kampung disusun dalam satu buku. Se- Untuk memahami permasalahan-permasalahan terse-
bagai hasil dari suatu proses partisipatif yang melibatkan but, dipaparkan keadaan umum kampung pada bagian
masyarakat kampung, panduan ini sesungguhnya pertama. Keadaan umum tersebut meliputi keadaan hutan
adalah hasil karya dan milik warga kampung. dan lingkungan, keadaan ekonomi, dan keadaan sosial
budaya.
2.2. Maksud dan Tujuan Panduan Kampung
Panduan ini dimaksudkan untuk “membantu warga “Keadaan yang diharapkan” mengenai hutan dan
kampung meningkatkan peran mereka dalam mengelola lingkungan ditampilkan sebagai cita-cita mengenai
hutan di wilayah kampung sendiri.” keadaan yang baik (ideal). Untuk mencapai keadaan
yang baik (ideal) itu permasalahan perlu ditangani. Un-
Panduan menguraikan keadaan kampung serta per- tuk menangani itu dilihat dukungan yang diperlukan dari
masalahannya yang berkaitan dengan pengelolaan hutan, pihak luar dan kekuatan atau modal dasar yang telah di-
dan memberikan garis besar arah yang perlu ditempuh miliki warga kampung.
dalam mengelola hutan. Panduan tidak memberi resep
atau rumusan yang rinci mengenai rencana tindakan yang 2.4. Cara menggunakan Panduan Kampung
perlu diambil oleh kampung. Rencana rinci tersebut ha- Panduan ini menyediakan garis besar untuk bertin-
rus dimusyawarahkan dan dikembangkan sendiri pada dak, berupa arah dasar atau rambu-rambu pokok. Warga
tingkat kampung masing-masing. kampung, dibawah pimpinan petinggi, atau kelompok
masyarakat yang memiliki kepedulian akan pelestarian
Sebagai arah dasar, panduan ini berguna bagi para hutan, perlu mengambil prakarsa untuk memusy-
pembuat keputusan di kampung untuk mengambil kebi- awarahkan langkah-langkah yang lebih rinci dari
jakan, menyusun rencana tindakan dan untuk mengkon- rambu-rambu yang disediakan di sini.
solidasikan (mengkompakkan) diri. Panduan juga
berguna bagi pemerintah kabupaten sebagai masukan Permasalahan, upaya penyelesaian masalah dan du-
untuk membuat kebijakan dan program, misalnya untuk kungan yang diperlukan disusun secara terpisah. Namun
menyusun suatu Petunjuk Teknis mengenai pengemban- urutan isi dan nomor butir-butir ketiganya diupayakan
gan peran masyarakat. Bagi kelompok pendukung seperti sejajar, agar mudah dipahami. Juga bahwa ka-
organisasi LSM, lembaga penelitian, perguruan tinggi, dang-kadang terdapat satu usulan penyelesaian untuk
dan perusahaan : panduan ini dapat berguna sebagai lebih dari satu masalah dan sebaliknya ada juga beberapa
rujukan untuk menyusun rencana kerjasama atau pen- usulan penyelesaian untuk satu masalah.
dampingan.
Pendahuluan 13

Kebijakan pemerintah
yang berkaitan dengan Hutan dan
pengelolaan hutan lahan hutan

Pengelolaan

Ekonomi kampung
Pranata kam-
yang berkaitan
pung
dengan hutan

Bagan 2: Bidang-bidang pokok dalam pengelolaan hutan lokal yang dijadikan bahan bahasan dalam
Panduan Kampung

Pada bagian Pendahuluan ini terdapat juga Daftar Kotak 1: Maksud Panduan Kabupaten
Singkatan dan Daftar Istilah yang dapat menjadi rujukan
dalam membaca Panduan ini.
1. Memberi pegangan bagi pemerintah kabupaten dalam
Untuk membantu pembaca mengucapkan kata-kata mendukung pelaksanaan atau implementasi Panduan
dalam bahasa daerah dengan tepat, disediakan Daftar Kampung.
Lambang Bunyi Ucapan (lambang fonetik). 2. Memberi masukan bagi pihak-pihak lainnya dalam
mendukung pelaksanaan Panduan Kampung secara
3. Panduan Kabupaten langsung atau tidak langsung dengan mendukung pe-
merintah kabupaten.
3.1 Maksud Panduan Kabupaten 3. Mendukung pemerintah kabupaten dalam mencapai
Sebagai dukungan terhadap pelaksanaan Panduan visi pembangunan kehutanan dan menjalankan pro-
Kampung, Panduan Kabupaten disusun sebagai bahan gram-program strategis bidang kehutanan.
pegangan untuk pemerintah kabupaten Kutai Barat,
khususnya Dinas Kehutanan, dalam menyusun kebijakan
dan program pelaksanaan kebijakan yang dapat menun- 3.2. Kerangka Panduan Kabupaten
jang kegiatan masyarakat tingkat basis, yaitu masyarakat Tujuan akhir dari kegiatan pengelolaan hutan adalah
kampung. Panduan ini juga sebenarnya adalah produk lestarinya hutan, sehingga dapat menunjang perbaikan
pendukung bagi pelaksanaan Perda Kehutanan Masyara- ekonomi masyarakat, baik mereka yang hidupnya lang-
kat. sung berhubungan dengan hutan (masyarakat desa hutan)
maupun masyarakat umum. Visi pembangunan Kutai
Panduan Kabupaten juga dimaksudkan untuk mem- Barat merumuskan hal ini sebagai “pengelolaan hutan
bantu pemerintah kabupaten, sebagai pihak yang yang lestari, mengakui hak-hak masyarakat adat untuk
memiliki otoritas, untuk menjalankan fungsi koordinatif kesejahteraan masyarakat Kutai Barat” (KK-PKD: 26).
dan pengawasan terhadap pihak-pihak ketiga seperti
dunia bisnis, LSM, dan dunia akademik, guna menunjang Untuk mencapai tujuan tersebut Kabupaten Kutai
kegiatan pengelolaan hutan tingkat kampung. Selain itu Barat telah memiliki tujuh Program Strategis Kehutanan
Panduan Kampung juga secara tidak langsung dimak- sebagai berikut (Kotak 2).
sudkan untuk menunjang pencapaian visi pembangunan
dan program-program strategis kehutanan Kabupaten. Dengan memperhatikan keenam tolok ukur Bagian
4.2.2) dan ketujuh Program Strategis kehutanan Kutai
Barat dalam Kotak 2, peserta diskusi dan lokakarya di
Sendawar melihat bahwa ada tujuh bidang masalah
pokok yang perlu ditangani oleh pemerintah kabupaten.
Ketujuh bidang masalah tersebut dikembangkan dalam
14 Indonesia Guidelines

Panduan Kabupaten ini guna menunjang peran masyara- 4.2. Pengertian Partisipasi
kat kampung dalam pengelolaan hutan, dan dalam men-
jalankan program-program strategis kehutanan. 1) Tingkat-tingkat partisipasi
Untuk pengembangan partisipasi masyarakat, perlu
Kotak 2: Program strategis Kehutanan Kutai Barat pemahaman dasar mengenai partisipasi. Ada beberapa
penjelasan mengenai pengertian “partisipasi.” Dalam
panduan ini dipakai penjelasan sebagaimana tercantum
1. Pengelolaan dan penyelamatan hutan. pada Kotak 4.
2. Kebijakan (pembuatan Peraturan Daerah).
3. Kualitas sumberdaya manusia. Tingkat-tingkat partisipasi masyarakat tersebut ber-
4. Infrastruktur pendidikan dan pelatihan. manfaat sebagai alat untuk menilai partisipasi nyata di
5. Kelembagaan pengelolaan hutan. lapangan. Pada dasarnya partisipasi yang sesungguhnya
6. Penegakan hukum. terdapat pada Tingkat 5 dan Tingkat 6.
7. Pengakuan dan pemberdayaan hak-hak Masyarakat
Adat. 2) Ukuran partisipasi yang baik dalam pengelolaan
hutan
Sumber: KK-PKD 2001 – Urutan program diubah Partisipasi masyarakat dalam pengelolaan hutan perlu
memperhatikan sedikitnya enam tolok ukur di bawah ini.
Pemikiran dasar mengenai hubungan antara ting- Keenam tolok ukur ini menjadi prasyarat agar suatu par-
kat-tingkat partisipasi, tujuh program strategis dan tujuh tisipasi dapat disebut “partisipasi yang sesungguhnya”
bidang masalah pokok adalah sebagai berikut: Jika ketu- atau partisipasi tertinggi.
juh bidang masalah (Kotak 3) ditangani secara propor-
sional dalam menjalankan tujuh program strategis (Kotak Keenam tolok ukur tersebut adalah:
2), maka sebenarnya keenam indikator partisipasi dengan 1) Adanya akses dan kontrol (penguasaan) atas lahan dan
sendirinya sudah menjadi kenyataan pada tingkat par- sumberdaya hutan oleh warga.
tisipasi masyarakat yang tinggi. 2) Adanya keseimbangan kesempatan dalam menikmati
hasil-hasil dari hutan.
Kotak 3. Tujuh Isu Pokok dalam Panduan Kabupaten 3) Adanya komunikasi (tukar wacana) yang baik dan
hubungan yang konstruktif (saling menopang) antar
pihak yang berkepentingan terhadap hutan.
1. Pengakuan hak-hak dan budaya lokal. 4) Adanya keputusan kampung yang dibuat oleh warga
2. Modal sosial dan pengorganisasian masyarakat. kampung tanpa tekanan dari luar (masyarakat tidak
3. Penyelesaian sengketa. didikte saja oleh pihak luar) dan prakarsa-prakarsa di-
4. Pendidikan nilai dan pendidikan kritis. lakukan sendiri oleh warga kampung tanpa tekanan
5. Akses masyarakat ke informasi. pihak manapun.
6. Penguatan ekonomi. 5) Adanya pengaturan untuk mengatasi perbedaan-perbedaan
7. Pengawasan dan penegakan hukum. kepentingan yang berkaitan dengan sumberdaya hutan,
dengan cara yang mengarah pada penghindaran terjadinya
perselisihan dan pengadaan penyelesaian perselisihan se-
Untuk setiap bidang pokok masalah dievaluasi kondisi cara adil.
sekarang atau pengalaman nyata masyarakat dan pemer- 6) Adanya kemampuan teknis warga kampung dalam
intah, didiskusikan upaya penyelesaiannya dan diidenti- mengelola hutan.
fikasi bentuk-bentuk dukungan yang diperlukan.

4. Beberapa pengertian Dasar

4.1. Pengertian “Mengelola Hutan”


“ Mengelola hutan” merupakan rangkaian kegiatan
atau perbuatan yang disengaja untuk mengatur, meng-
gunakan, mempertahankan atau meningkatkan kondisi
lingkungan hutan dan hasil-hasilnya. Perbuatan mengel-
ola mencakup pengaturan penggunaan, pemeliharaan,
penambahan tanaman/tumbuhan hutan, serta pengambi-
lan hasil hutan.
Pendahuluan 15

Kotak 4: Tingkat-tingkat Partisipasi dalam


Pembangunan

Tingkat 6: Mobilisasi dengan kemauan sendiri


(self-mobilization): masyarakat mengambil inisiatip
sendiri, jika perlu dengan bimbingan dan bantuan pihak
luar. Mereka memegang kontrol atas keputusan dan pe-
manfaatan sumber daya; pihak luar memfasilitasi
mereka.

Tingkat 5. Kemitraan (partnership): masyarakat men-


gikuti seluruh proses pengambilan keputusan bersama
dengan pihak luar, seperti studi kelayakan, perencanaan,
implementasi, evaluasi, dll. Partisipasi merupakan hak
mereka dan bukan kewajiban untuk mencapai sesuatu.
Ini disebut “partisipasi interaktif.”

Tingkat 4. Plakasi/konsiliasi (Placation/Conciliation):


masyarakat ikut dalam proses pengambilan keputusan
yang biasanya sudah diputuskan sebelumnya oleh pihak
luar, terutama menyangkut hal-hal penting. Mereka
mungkin terbujuk oleh insentif berupa uang, barang, dll.

Tingkat 3. Perundingan (consultation): pihak luar


berkonsultasi dan berunding dengan masyarakat melalui
pertemuan atau public hearing dan sebagainya. Komu-
nikasi dua arah, tetapi masyarakat tidak ikut serta dalam
menganalisis atau mengambil keputusan.

Tingkat 2. Pengumpulan informasi (information gath-


ering): masyarakat menjawab pertanyaan yang diajukan
oleh orang luar. Komunikasi searah dari masyarakat ke
luar.

Tingkat 1. Pemberitahuan (informing): hasil yang di-


putuskan oleh orang luar (pakar, pejabat, dll.) diberita-
hukan kepada masyarakat. Komunikasi terjadi satu arah
dari luar ke masyarakat setempat.
16 Indonesia Guidelines
Indonesia Guidelines 17~34

BAGIAN KEDUA

Panduan Pengembangan Peran Masyarakat Kampung dalam Pengelolaan Hutan

Tim Participatory Action-Research Tanjung jan (Januari 2002)

1. Panduan untuk kampung Batu Majang wasan hutannya tidak rusak akibat kebakaran hutan tahun
1982 maupun 1997/1998 sehingga hutan rimbanya masih
1. Gambaran umum kampung luas. Lahan kritis di wilayah kampung ini boleh dikata-
Kampung Batu Majang, dihuni oleh orang Kenyah kan masih sedikit terutama pada bekas ladang maupun
Lepo’ Tukung dan Kenyah Uma’ Baka’ dengan jumlah bekas kegiatan HPH dan HPHH. Di wilayah kampung ini
penduduk cukup banyak yakni 866 jiwa menurut sensus terdapat base camp PT. Sumalindo.
terakhir. Kampung ini mulai didiami sejak tahun 1972,
bersama dengan penghuni sebelumnya yaitu Kenyah Lahan antara Km 13 - Km 21 merupakan lahan perta-
Lepo’ Timai yang sudah pindah ke Tabang, Kabupaten nian yang subur, baik untuk padi ladang, sayur mayur
Kutai Kartanegara. maupun sawah beririgasi bantuan PT.Sumalindo. Di ka-
wasan inilah sebagian besar masyarakat kampung di
Kampung Batu Majang masih dikelilingi oleh hutan bawah pembinaan program Bina Desa PT.Sumalindo
dengan bentang alam berbukit sampai bergunung, dan menjalankan kegiatan pertanian sehari-hari, mulai dari
hanya sedikit yang datar (diperkirakan tidak sampai 5%). menanam sampai menjual hasil. Hasil-hasil pertanian
Jika mengambil jarak menyusuri sungai Mahakam, maka khususnya sayur dibeli oleh PT.Sumalindo melalui
kampung ini berjarak 560 km dari Samarinda dengan Koperasi “Udip Mading Alan Mening” yang terletak di
ketinggian 200 m di atas permukaan laut. Suhu harian KM 18. Hasil dari pertanian ini cukup memuaskan bagi
berkisar antara 24oC – 32oC. Curah hujan tahunan masyarakat karena ada yang berpenghasilan di atas Rp.
adalah 1982-3895 mm. 500.000/bulan dari penjualan sayur.

Kampung ini mempunyai wilayah yang relatif luas di- Dari sisi ekonomi secara umum, pendapatan masyara-
bandingkan jumlah penduduknya. Luas yang pasti be- kat boleh dikatakan memadai. Hal ini ditunjukkan
lum diketahui, namun warga menunjuk wilayah dari dengan kondisi bangunan rumah dalam kampung yang
muara sungai Alan sampai air menitis sebagai wilayah cukup bagus dan tertata rapi, dan banyaknya masyara-
kampung. Kampung ini termasuk beruntung karena ka- kat yang memiliki barang elektronik seperti TV dengan
18 Indonesia Guidelines

sumber listrik dari generator pribadi. Sumber utama arah tujuan, yaitu:
penghasilan selama ini adalah dari hasil pertanian bagi 1) Melestarikan hutan dan lingkungan alam. Oleh
yang membuka ladang dan kebun di Km 13 - Km 21, karena hasilnya tidak saja hasil hutan kayu tetapi
hasil dari bekerja sebagai karyawan di PT.Sumalindo, juga hasil hutan bukan kayu yang lebih banyak da-
maupun usaha sendiri. pat dinikmati masyarakat secara berkelanjutan.
Contoh: babi, payau, ikan, kayu api, bahan keraji-
Selama ini kebutuhan daging dan ikan bagi Batu Ma- nan dan obatan tradisional.
jang diperoleh dari hasil berburu dan menangkap ikan 2) Meningkatkan penghasilan masyarakat dari
secara tradisional. Untuk menjaga agar hasil berupa babi kegiatan gabungan antara pertanian, perkebunan
hutan dan ikan tidak berkurang, maka hutan yang selama dan kehutanan tanpa merusak lingkungan hutan
ini menjadi tempat hidup satwa-satwa ini perlu dipelihara. yang selama ini merupakan tempat mencari berba-
Dari sisi ekonomi yang berkaitan dengan hutan dan hasil gai jenis sumber makanan dan keperluan hidup.
hutan, masyarakat juga mendapatkan hasil dari empat
sumber yang berkaitan dengan hutan yaitu: sebagai 4. Permasalahan pengelolaan hutan di Batu Majang
karyawan di Perusahaan kayu, dari hasil hutan bukan dan upaya yang diperlukan untuk mengatasinya
kayu seperti sarang burung dan binatang buruan, juga
hasil kayu dari kegiatan HPHH dan banjir kap, sewaktu 4.1. Hutan dan lahan
kedua kegiatan tersebut masih diijinkan pemerintah. 1) Permasalahan
a) Masih ada selisih mengenai batas wilayah kampung
Dalam segi kemasyarakatan, warga kampung Batu Batu Majang dengan wilayah kampung Long Ba-
Majang masih tetap menjunjung tinggi kegotongroyon- gun Ulu. Persetujuan batas wilayah yang telah
gan. Kerukunan antar warga juga cukup baik, walaupun disetujui kedua belah pihak sekitar 20 tahun lalu
mereka berbeda agama (Katolik dan Protestan) dan juga dibatalkan oleh pihak Long Bagun Ulu. Long Ba-
agak berbeda anak suku (Kenyah Lepo’ Tukung dan gun Ulu menuntut kembali sebagian wilayah kam-
Kenyah Uma’ Baka’), bahkan ada juga penduduk pen- pung Batu Majang, termasuk sebagian besar areal
datangnya. Pimpinan kampung (Petinggi dan Kepala pertanian antara Km 13 - Km 21. Bila tuntutan
Adat) kendati mereka berasal dari golongan Paren Long Bagun Ulu dikabulkan, maka masyarakat
(bangsawan lokal), dalam mengatur urusan kampung Batu Majang terpaksa akan membuka lahan hutan
mereka cukup demokratis (mudah mengajak dan diajak rimba di sekitarnya untuk dijadikan ladang. Hal ini
berunding, serta selalu melibatkan banyak pihak). Pen- akan mempercepat hilangnya hutan-hutan yang ma-
gambilan keputusan di kampung biasanya dilakukan sih rimba.
bersama dalam rapat-rapat kampung. Sayangnya, kaum b) Kawasan hutan tana’ ulen Batu Majang belum
perempuan belum begitu banyak bersuara dalam pen- memiliki peta dan patok yang jelas karena tidak ada
gambilan keputusan di kampung. Sebetulnya tidak ada keahlian maupun dana untuk membuat peta dan
larangan bagi perempuan untuk terlibat dalam pengam- memasang patok. Oleh karena belum ada peta dan
bilan keputusan, namun karena menurut kebiasaan patok, ada kemungkinan hasil-hasil hutan di kawa-
setempat perempuan tugasnya mengurus urusan rumah san tana’ ulen ini diambil oleh pihak luar yang ti-
tangga, maka untuk urusan kemasyarakatan biasanya dak tahu bahwa kawasan tersebut merupakan ka-
mereka mempercayakannya kepada kaum lelaki untuk wasan tana’ ulen.
mengambil keputusan. c) Belum ada pengaturan tertulis untuk pemanfaatan
hutan (ba’i) dalam wilayah kampung, baik dari
2. Harapan warga mengenai hutan dan lingkungan di petinggi maupun kepala adat. Masyarakat bebas
Batu Majang mengambil apa saja dari hutan (termasuk kayu un-
Hutan yang ada sekarang diharapkan warga tetap ter- tuk kebutuhan sendiri). Hal ini dapat menyebabkan
jaga dan tidak ada lagi pembukaan ladang baru di hutan cepatnya hutan kehilangan sumberdayanya jika ti-
rimba. Untuk itu diperlukan jaminan atas kelangsungan dak secepatnya diatur dan dikendalikan, terutama
pemasaran hasil-hasil pertanian di Km 13-21 seperti yang jika ada kegiatan pengambilan hasil hutan dalam
sekarang terjadi dengan PT.Sumalindo, karena dengan jumlah yang cukup besar, seperti pada waktu
cara ini ketergantungan ekonomi pada hasil hutan dapat kegiatan banjir kap. Kewajiban pekerja banjir kap
dikurangi. Selain itu kegiatan persawahan di lahan ber- terhadap kelestarian hutan selama ini belum diru-
irigasi, jika berhasil, dapat mengurangi tekanan terhadap muskan oleh Petinggi maupun Kepala Adat.
hutan. Diharapkan juga agar semua warga tetap menjaga
lingkungan hutan kampung, agar tumbuhan dan he- 2) Upaya yang diperlukan untuk penyelesaian ma-
wannya tetap banyak sehingga untuk mencari babi, salah
payau, ikan, dan lain-lain tidak menjadi sulit. a) Membicarakan lagi kesepakatan batas wilayah
kampung dengan Long Bagun Ulu dan membuat
3. Arah tujuan pengelolaan hutan di Batu Majang peta secara bersama, serta membuat patok pada ba-
Pengelolaan hutan di Batu Majang mempunyai dua tas yang disepakati. Jika cara ini belum berhasil,
Panduan Pengembangan Peran Masyarakat kampung dalam Pengelolaan Hutan 19

minta bantuan pada Team Peta Pihak di Kabupaten. untuk tanaman pertanian yang ada.
Team ini terdiri dari staf Pemkab, Dinas Kehutanan, b) Menganekaragamkan tanaman pertanian untuk
BPN, Bappeda, LSM, dan Dinas Pemberdayaan mengisi pasar lain selain PT. Sumalindo. Tanaman
Masyarakat. perkebunan seperti kakao dan kopi mendapat du-
b) Membicarakan bentuk pengakuan HPH terhadap kungan penuh dari PT. Sumalindo untuk persiapan
Tana’ Ulen dan bersama-sama mengusahakan pe- lahan, dan pemasaran hasilnya juga mudah.
masangan patok batas, membuat peta tana’ ulen c) Mencari peluang usaha baru bekerjasama (mitra)
bersama dengan HPH, dan mendiskusikan bagai- dengan Sumalindo misalnya menangani jasa ang-
mana mengelolanya agar memberi manfaat sebesar kutan maupun distribusi Sembako untuk Kecama-
mungkin bagi masyarakat. tan Sungai Boh.
c) Mengadakan musyawarah kampung (pemung d) Menjaga kelestarian binatang buruan di hutan
adung) untuk membuat aturan bagaimana meman- maupun ikan di sungai-sungai dengan menata
faatkan hutan yang ada dalam wilayah kampung kembali aturan untuk berburu dan menangkap ikan
dengan sebaik-baiknya, termasuk cara pemeli- baik yang berlaku untuk warga desa maupun untuk
haraan dan peremajaan sumberdaya hutannya, dan warga dari luar.
bagaimana melindunginya dari bahaya kebakaran, e) Khusus untuk kelestarian ikan, penangkaran ikan di
serta mengatur rencana tindak selanjutnya. Juga sungai dengan menggunakan keramba perlu
perlu diatur hak dan kewajiban para pengusaha dan dimulai secepatnya.
pekerja bila ada kegiatan pembalakan seperti banjir f) Aneka usaha kehutanan dan pertanian (wanatani)
kap, terhadap lingkungan hutan serta keadilan perlu segera dirintis untuk memperoleh manfaat
dalam menikmati hasil kayunya. jangka panjang dari sektor kehutanan.

3) Dukungan yang diperlukan 3) Dukungan yang diperlukan


a) Kebijakan dari Pemkab serta dampingan BPN dan a) Program Bina Desa dari PT. Sumalindo untuk
Kecamatan untuk penyelesaian sengketa batas membantu dalam mengawali pengembangan
kampung. Masalah ini bisa diajukan kepada DPRD perkebunan.
melalui wakil Kecamatan Long Bagun untuk ditin- b) Penyuluhan pertanian dari Dinas Pertanian (Distan).
dak lanjuti. c) KUK (Kredit Usaha Kecil) dari BRI atau Koperasi
b) Program Bina Desa dari PT.Sumalindo dan Tim Kredit Daya Lestari untuk permodalan dan bantuan
Peta Pihak dalam pembuatan peta tana’ ulen. dari perusahaan yang ada di daerah untuk pema-
c) Dampingan dari Dishut dan DPM mengenai isi saran hasil.
peraturan dan pengaturan di tingkat kampung, pen-
jelasan mengenai kebijakan Pemkab tentang Pro- 4.3. Pranata kampung
gram Kehutanan Masyarakat (KhM) serta program
Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL). 1) Permasalahan
a) Lembaga-lembaga utama kampung (Petinggi, BPK,
4.2. Perekonomian Masyarakat dalam kaitan den- dan Lembaga Adat) belum memberikan perhatian
gan pemanfaatan hutan yang memadai terhadap pelestarian dan pengel-
olaan hutan. Belum ada suatu lembaga pengelola
1) Permasalahan yang khusus yang diberi wewenang untuk mengel-
a) Walaupun penghasilan masyarakat tergolong lu- ola hutan. Dalam kenyataan, wewenang ini
mayan, namun masyarakat masih sangat tergantung dipegang oleh petinggi dan kepala adat. Namun
pada pasar tunggal hasil pertanian, yaitu pada masih ada tumpang tindih dalam hal hak dan kewa-
PT.Sumalindo. Bila PT.Sumalindo habis masa jiban petinggi dan kepala adat.
HPHnya dan tidak ada Perusahaan lain yang b) Kegiatan pengusahaan hasil hutan seperti pada
menggantikannya, masyarakat akan kehilangan praktek HPHH dan banjir kap belum diatur dalam
pasaran hasil pertanian sekaligus juga akan kehi- aturan adat, atau peraturan adat yang ada sudah ti-
langan salah satu sumber mata pencaharian. dak lagi sesuai untuk mengatur kegiatan baru
b) Kegiatan pengelolaan hutan belum dilihat oleh tersebut. Khusus mengenai kegiatan banjir kap,
warga masyarakat sebagai kegiatan ekonomi yang petinggi masih memegang peranan paling dominan
berarti, sebab sebagian besar pendapatan didapat- dalam mengambil keputusan dibandingkan lembaga
kan dari hasil pertanian, bukan dari kegiatan kehu- lainnya.
tanan. Dengan demikian perhatian bagi pengelolaan c) Dalam proses pengambilan keputusan di kampung
hutan belum begitu terarah. peranan perempuan masih kurang dibanding
laki-laki. Perempuan Kenyah pada umumnya tidak
2) Upaya yang diperlukan untuk penyelesaian ma- mau terlalu menonjolkan diri, terutama dalam
salah pertemuan-pertemuan tingkat kampung.
a) Mencari peluang pasar lain selain PT.Sumalindo, d) Ada kelemahan dalam perencanaan dan pengambi-
20 Indonesia Guidelines

lan keputusan untuk kegiatan-kegiatan bersama. penyusunan rencana kerja ini.


Masyarakat masih belum terbiasa membuat kepu-
tusan bersama yang terencana, dengan sasaran, 4.4. Kebijakan pemerintah
pembagian tugas dan langkah-langkah kerja yang
jelas. Perencanaan hanya dilakukan secara insiden- 1) Permasalahan
tal jika ada kebutuhan mendesak. a) Tana’ ulen, kawasan pengelolaan hutan khusus se-
cara adat yang menjadi kebanggaan masyarakat
2) Upaya yang diperlukan untuk penyelesaian ma- kampung Batu Majang, statusnya belum mendapat
salah pengakuan resmi dari pemerintah. Pengakuan se-
a) Lembaga-lembaga di tingkat kampung terutama lama ini baru dari PT.Sumalindo dengan
Petinggi, Lembaga Adat dan BPK segera men- memisahkan kawasan ini dari blok RKT. Untuk
gadakan pertemuan untuk menentukan dan mem- pengakuan selanjutnya dari pemerintah, masyarakat
pertegas hak, kewajiban dan tanggung jawab belum tahu bagaimana caranya.
masing-masing dalam hal pengaturan pemanfaatan b) Kebijakan mengenai pemanfaatan Dana Reboisasi
hasil hutan serta pengelolaan kawasan hutan dalam dirasa belum merata. Informasi mengenai Dana
wilayah kampung, agar tidak terjadi tumpang tindih Reboisasi tidak sampai kepada masyarakat Batu
dan agar bisa saling menunjang satu dengan yang Majang. Padahal mereka ingin sekali melakukan
lain. kegiatan reboisasi di bekas jalan sarad dan
b) Segala aturan dan pengaturan yang diperlukan di bekas-bekas kegiatan HPH dan HPHH dengan
tingkat kampung untuk mengatur tatacara peman- bantuan dari dana tersebut.
faatan, pemeliharaan dan perlindungan kawasan c) Kebijakan pemerintah tentang perijinan pengusa-
hutan, baik untuk tana’ ulen maupun untuk kawasan haan kayu oleh masyarakat seperti banjir kap,
ba’i lainnya perlu segera dibuat dan disepakati. HPHH dan IUPHHK bagi masyarakat dianggap
c) Kampung perlu mengatur pengelolaan hutan seba- sering berubah-ubah, sehingga membingungkan
gai suatu kesatuan dengan pengaturan wilayah masyarakat. Kegiatan banjir kap misalnya, ka-
kampung, dalam keseluruhan Rencana Tata Ruang dang-kadang diakui, kadang-kadang dilarang, se-
kampung (RTRK). hingga Petinggi dan Kepala Adat sering ragu-ragu
d) Mengadakan musyawarah kampung dengan men- untuk membuat peraturan kampung tentang
gundang organisasi kewanitaan seperti PKK, Per- kegiatan-kegiatan tersebut.
kawan (Persekutuan Kaum Wanita Gereja) serta d) Kebijakan pemerintah mengenai pemantaban tata
tokoh-tokoh perempuan di kampung untuk membi- batas kampung sampai sekarang belum ada, se-
carakan dan mengatur bersama bagaimana perem- hingga kalau ada perselisihan mengenai batas
puan bisa berperan lebih aktif dalam pengambilan kampung seperti antara Batu Majang dengan Long
keputusan di tingkat kampung. Bagun Ulu, sulit untuk diselesaikan sendiri oleh
e)Mulai membiasakan mengambil keputusan bersama, masyarakat.
membuat rencana kerja yang beralur runtun dengan
sasaran, langkah yang harus diambil, serta dengan 2) Upaya yang diperlukan untuk penyelesaian ma-
pembagian tugas yang jelas antar lembaga dan antar salah
warga kampung. a) Pimpinan kampung minta masukan dari PT. Suma-
lindo tentang bagaimana cara mengurus pelepasan
3) Dukungan yang diperlukan tana’ ulen dari areal PT.Sumalindo berdasarkan
a) Dampingan dari Dishut, DPM, Kecamatan maupun ketentuan dari Dephut dan perusahaan, kemudian
LSM dan lembaga perguruan tinggi dalam penga- mengajukan permohonan pengakuan atas kawasan
turan Tupoksi (Tugas Pokok dan Fungsi) kelemba- tana’ ulen Batu Majang kepada pemerintah melalui
gaan dalam pemerintahan kampung. Dishut.
b) Dampingan dari Dishut, LSM dan lembaga pergu- b) Mengadakan penjajagan langsung ke Dishut men-
ruan tinggi untuk menyusun perturan pengelolaan genai kebijakan dan pemanfaatan Dana Reboisasi
hutan di tingkat kampung. setiap tahun, dan mengajukan permohonan sesuai
c) Dampingan dari Bappeda, DPM, LSM dan lembaga dengan petunjuk teknis yang diberikan oleh Dishut.
perguruan tinggi untuk menyusun RTRK. c) Minta penjelasan langsung ke Dishut mengenai
d) Dampingan dari DPM, LSM dan lembaga pergu- aneka macam ijin pengusahaan hutan berdasarkan
ruan tinggi untuk melatih kaum perempuan bagai- peraturan-peraturan yang ada, serta peluang untuk
mana caranya lebih berperan dalam proses pen- mendapatkannya bagi masyarakat.
gambilan keputusan di kampung d) Minta bantuan pada anggota DPRD yang mewakili
e) Dampingan dari DPM, LSM dan lembaga pergu- masyarakat Kecamatan Long Bagun agar bisa
ruan tinggi tentang cara-cara membuat rencana mengajukan masalah penetapan tata batas kampung
kerja yang baik. Program HPH Bina Desa PT. Su- yang menjadi permasalahan di Batu Majang ke
malindo juga diharapkan bantuannya dalam hal DPRD, untuk selanjutnya disampaikan kepada Pe-
Panduan Pengembangan Peran Masyarakat kampung dalam Pengelolaan Hutan 21

merintah Kabupaten agar ditangani secara menye- duduk cukup rendah, baik melalui kelahiran maupun
luruh bersama-sama dengan permasalahan tata ba- masuknya penduduk pendatang.
tas yang mungkin dihadapi juga oleh kam- Jarak kampung ini dari Samarinda diperkirakan antara
pung-kampung lainnya. 400-450 Km dengan ketinggian wilayah antara 60-100 m
dpl. Curah hujan rata-rata sekitar 440 mm/hari atau 1584
3) Dukungan yang diperlukan: mm/tahun, dengan suhu berkisar antara 19°C-32°C. Di-
a) Penjelasan dari Dishut dan PT. Sumalindo men- bandingkan kampung-kampung lainnya di kawasan hulu
genai cara memperoleh pengakuan hak kelola Mahakam, kampung Mataliba’ memiliki wilayah kam-
masyarakat atas tana’ ulen serta bantuan untuk pung maupun kawasan hutan yang luas, yaitu dari muara
mempersiapkan persyaratan-persyaratan yang sungai Pari’ sampai air menitis, dari muara Sungai Mer-
diperlukan. iti’ juga sampai air menitis, dan dari muara sungai
b) Penjelasan dan petunjuk teknis dari Dishut men- Meribu’ (sebelah kiri mudik) sampai pegunungan perba-
genai kebijakan dan pemanfaatan Dana Reboisasi. tasan dengan Kecamatan Tabang. Luasnya diperkirakan
c) Penjelasan dan petunjuk teknis dari Dishut men- tidak kurang dari 180 km2.
genai ijin-ijin pengusahaan hutan oleh masyarakat
berdasarkan peraturan-peraturan yang ada, serta Kampung Mataliba’ masih cukup beruntung, walau-
bantuan untuk mempersiapkan per- pun sebagian hutan terbakar pada tahun 1997/1998,
syaratan-persyaratan yang diperlukan tetapi masih banyak hutan yang tersisa. Sampai tahun
d) Konsultasi DPRD dengan pihak pemerintah men- 1988 kawasan hutan di kampung ini masih sangat bagus
genai pemantaban tata batas kampung di Kabupaten karena belum banyak dijamah oleh HPH, HPHTI mau-
Kutai Barat dan pengaktifan Tim Peta Pihak yang pun transmigrasi. Berburu babi dan payau maupun men-
sudah dibentuk untuk tujuan tersebut di tingkat cari ikan masih sangat mudah karena tidak perlu jauh
Kabupaten. masuk hutan. Namun setelah masuknya HPH dan
HPH-HTI sekitar 1992, segalanya berubah banyak. Se-
5. Kekuatan dan modal dasar bagian besar kawasan hutan di hulu sungai Pari’ berubah
Kampung Batu Majang memiliki kekuatan dan modal menjadi HTI sengon dan gmelina, dan sebagian untuk
dasar untuk mengelola hutan di wilayah kampungnya, lahan pemukiman transmigrasi. Akibat lainnya dari
yaitu : kegiatan tersebut adalah kebakaran hutan tahun
1) Kawasan hutan yang luas dan masih baik (tidak ter- 1997/1998. Diperkirakan lebih dari 40% wilayah
bakar) merupakan sumber hasil hutan kayu dan bukan Mataliba’ terbakar, termasuk ratusan hektar HTI dan
kayu yang bisa dimanfaatkan dan dikelola ; sun- kebun buah (lepu’un ) penduduk. Di kawasan hutan
gai-sungainya juga masih kaya dengan hasil berupa Mataliba’ sampai sekarang masih beroperasi PT.
ikan yang dapat mencukupi kebutuhan konsumsi Anangga Pundi Nusa, PT. Barito dan IUPHHK Koperasi
masyarakat. Pari’ Ngaliman milik warga setempat.
2) Kepemimpinan kampung (petinggi dan kepala adat)
cukup demokratis (gampang mengajak dan diajak Dari sisi ekonomi yang berkaitan dengan hutan dan
berunding), dan sikap masyarakat yang menghargai hasil hutan, pendapatan dari hasil hutan kayu memberi-
para pemimpin di kampung. kan sumbangan besar terhadap pendapatan masyarakat
3) Semangat gotong royong di kampung masih kuat, dan secara keseluruhan. Kayu diusahakan lewat IUPHHK
dijunjung tinggi oleh semua anggota masyarakat. Koperasi Pari’ Ngaliman milik warga setempat yang ijin
4) Dukungan yang sangat besar dari PT. Sumalindo ter- kegiatannya masih berlaku. Tanaman HTI plasma milik
hadap pembangunan pertanian perkebunan, sosial, warga masyarakat, berupa sengon dan gmelina se-
ekonomi dan budaya masyarakat setempat. benarnya sudah siap dipanen, namun sampai sekarang
5) Adanya bahan tambang, khususnya emas di beberapa belum bisa dibeli oleh Perusahaan yang berjanji akan
anak Sungai Alan yang masih bisa diusahakan pen- membelinya dari masyarakat.
duduk untuk sumber penghasilan sampingan.
Selain hasil hutan kayu sebagai sumber penghasilan,
secara temurun warga masyarakat sudah memanfaatkan
2. Panduan untuk kampung Mataliba’ hasil hutan non kayu untuk pelbagai keperluan hidup
mereka. Hasil hutan non kayu yang paling utama
1. Gambaran umum kampung adalah binatang buruan (babi dan payau), ikan dari sun-
Kampung Mataliba’ yang di lokasi sekarang, dihuni gai di kawasan hutan, serta pelbagai buah-buahan hutan
sejak tahun 1929 oleh orang Bahau Teliva’. Selain orang yang bisa dimakan. Para pemburu dari kampung tetangga
Bahau Teliva’ ada penduduk pendatang yakni orang juga banyak yang datang berburu di wilayah Mataliba’,
Bugis, Tunjung, Timor dan Kenyah yang menetap di dan menurut menurut penduduk setempat, justeru para
Mataliba’ sejak ada kegiatan Perusahaan kayu dan HTI pemburu pendatang ini yang lebih banyak menikmati
di sana. Sampai dengan tahun 2002, jumlah penduduk hasil buruan di sana.
Mataliba’ adalah 688 jiwa, dengan pertambahan pen-
22 Indonesia Guidelines

Di bidang pertanian, lebih dari 90% warga masyarakat 2) Secara bertahap meningkatkan penghasilan masyara-
bekerja sebagai petani, khususnya ladang. Perladangan kat dari kegiatan gabungan antara aneka usaha kehu-
umumnya tersebar di sepanjang tepi sungai Pari’ dan tanan, pertanian dan perkebunan.
beberapa anak sungainya. Hasilnya berupa padi, sa-
yur-sayuran dan palawija dengan penggunaan masih se- 4. Permasalahan pengelolaan hutan di Mataliba’ dan
batas untuk konsumsi sendiri. Kebun buah-buahan dan upaya yang diperlukan untuk mengatasinya
kebun lada maupun cokelat yang merupakan sumber
pendapatan sektor pertanian lainnya banyak yang ter- 4.1. Keadaan hutan dan lahan
bakar tahun 1997/1998 dan sampai sekarang belum di- 1) Permasalahan
ganti dengan tanaman baru. a) Luasnya hutan rimba yang terbakar tahun
1997/1998 menambah luas lahan kritis walaupun
Dalam bidang kemasyarakatan, kepemimpinan kam- lahan alang-alang masih belum banyak. Seluruh
pung cukup demokratis (mudah mengajak dan diajak areal tana’ mawa’ di sepanjang Sungai Meriti’ yang
berunding, serta selalu melibatkan banyak pihak). Pet- kaya akan hasil hutan juga sudah terbakar. Di
inggi yang sekarang sudah menjadi Petinggi lebih dari 30 samping hutan, lebih dari 50% lepu’un, kebun cok-
tahun. Beberapa kali diadakan pemilihan tetapi yang ter- lat, karet dan lada, kebun HTI penduduk ikut ter-
pilih tetap pejabat yang lama karena masih dipercayai bakar dan sampai sekarang belum direhabilitasi.
oleh warga. Sifat kegotongroyongan serta kerukunan b) Ada warga dari kampung tetangga yang membuka
bermasyarakat masih dipelihara baik. Keterlibatan per- ladang di hutan rimba dalam wilayah Mataliba’
empuan dalam pengambilan keputusan pada tingkat atau mengambil kayu bangunan tanpa minta ijin
kampung cukup banyak. Contohnya, di “Tim 10” terda- terlebih dahulu kepada petinggi Mataliba.’
pat 2 orang perempuan yang terlibat dalam memper- c) Keberadaan HPH dan HTI-trans di wilayah kam-
juangkan kompensasi atas kerugian yang dialami pung menyebabkan sebagian kawasan hutan diba-
masyarakat akibat ekploitasi Hutan Adat oleh HTI bat untuk pemukiman dan HTI. Penunjukan areal
Anangga Pundi Nusa serta atas kebun HTI penduduk HTI-trans dilakukan tanpa konsultasi dan persetu-
yang terbakar. juan dari masyarakat setempat.
d) Belum ada batas-batas yang jelas maupun peraturan
2. Harapan warga mengenai hutan dan lingkungan di kampung yang tertulis mengenai kawasan Tana’
Mataliba’ Mawa’, Tana’ Berahan dan berbagai jenis kawasan
Hutan yang sudah rusak akibat kebakaran diharap bisa pemanfaatan lainnya sehingga kawasan-kawasan
pulih kembali, baik dengan pohon-pohon hutan maupun tersebut sudah ada yang dimanfaatkan tidak sesuai
pohon perkebunan. Hutan yang masih tersisa kalau bisa dengan peruntukannya semula.
dimanfaatkan secara terbatas, tidak ditebang habis dan e) Kegiatan banjir kap yang dilakukan di wilayah hu-
tidak ada lagi ijin untuk HTI karena hanya akan tan Mataliba’ berlangsung tanpa adanya suatu ke-
menghabiskan hutan perawan. wajiban rehabilitasi dan kompensasi atas hutan
serta kayu yang ditebang.
Sekitar 32 gua sarang burung yang menjadi tidak aktif f) Masyarakat masih bingung dengan status tanah adat
setelah masuknya HPH dan HTI kalau bisa diteliti oleh dalam kaitan dengan KBK-KBNK karena ken-
para pakar untuk bisa diaktifkan kembali sebagai sumber yataannya di lapangan tumpang tindih. Adanya
mata pencaharian masyarakat. Selain itu, kawasan hutan KBK dengan peruntukan versi pemerintah menye-
yang ada perlu dipergunakan sebaik-baiknya untuk per- babkan masyarakat tidak bebas mengelola hutan
baikan tingkat ekonomi masyarakat melalui kegiatan yang dari dulu merupakan Hutan Adat mereka.
matapencaharian yang dapat memberikan hasil secara
berkesinambungan, baik dari kegiatan yang berkaitan 2) Upaya yang diperlukan untuk penyelesaian ma-
dengan hutan, perkebunan, maupun pertanian dan atau salah
ketiganya secara bersama-sama. a) Mengajukan usulan kepada Dishut guna mendapat-
kan Dana Reboisasi (DR) untuk penanaman kem-
3. Arah tujuan pengelolaan hutan di Mataliba’ bali lahan yang terbakar, baik dengan jenis kayu
Ada dua arah tujuan pengelolaan hutan di Mataliba’, yang bernilai tinggi dan sering digunakan oleh
yaitu: masyarakat, maupun tanaman perkebunan.
1) Melestarikan hutan dan lingkungan alam, dengan Penanaman kembali bekas kebakaran ini juga perlu
menjaga hutan yang masih baik dan memulihkan hutan didukung swadaya masyarakat karena DR yang ada
yang sudah rusak. Dengan cara ini diharapkan tidak terbatas jumlahnya.
hanya kayu tetapi juga hasil hutan bukan-kayu lainnya b) Segera membicarakan dengan para Petinggi dari
seperti sarang burung, binatang-binatang buruan, ikan kampung tetangga untuk menyepakati pera-
dari sungai di kawasan hutan, buah maupun hasil hu- turan-peraturan adat tentang cara membuka ladang
tan lainnya dapat dimanfaatkan masyarakat secara maupun cara-cara mengambil kayu dalam wilayah
berkelanjutan. kampung Mataliba.’
Panduan Pengembangan Peran Masyarakat kampung dalam Pengelolaan Hutan 23

c) Pihak Pemerintah Kampung, HTI trans dan HPH cuaca. Hanya sebagian anggota masyarakat yang
terdekat secara bersama-sama membuat kesepaka- dapat menikmati hasil hutan kayu sehingga ada
tan tentang batas wilayah kampung dengan HTI kepincangan yang cukup besar dalam hal tingkat
trans yang sudah ada, maupun dengan HPH se- pendapatan.
hingga tidak terjadi lagi saling tuntut. b) Kegiatan pengusahaan hutan, seperti banjir kap,
d) Pengurus kampung segera membuat RTRK yang HPHH maupun IUPHHK masih dilakukan lepas
baru, setelah terjadinya kebakaran hutan dan pe- dari pengaturan pengelolaan hutan. Dalam
rubahan peruntukan kawasan. kegiatan-kegiatan ini masyarakat hanya tahu me-
e) Membuat peraturan mengenai hak dan kewajiban nebang dan menjual kayu, dan langsung bisa mem-
pengusaha kayu (skala kecil) yang beroperasi di peroleh uang tunai. Belum ada kewajiban dan
tingkat kampung sehingga hasil hutan kayu dapat tanggung jawab memelihara keseimbangan antara
dimanfaatkan secara lestari dan seluruh anggota hak menebang kayu dan kewajiban menanam yang
masyarakat mendapat manfaat dari hasil hutan baru. Dengan demikian dikhawatirkan dalam waktu
tersebut, tidak hanya dinikmati oleh sebagian ang- yang tidak terlalu lama kayu yang bernilai jual akan
gota masyarakat saja, seperti dalam praktek banjir habis.
kap.
f) Meminta penjelasan dari Dinas Kehutanan ten- 2) Upaya penyelesaian masalah
tang status hutan yang ada dalam wilayah kampung a) Perlu adanya penganekaragaman produk pertanian
berdasarkan TGHK, RTRWP dan RTRWK, dan yaitu dengan menanam kopi, kakao atau tanaman
mencari peluang untuk memperoleh pengakuan / perkebunan lainnya sehingga petani tidak hanya
pengukuhan atas kawasan-kawasan hutan adat yang tergantung pada hasil ladang. Budidaya ikan (mis-
ada di Mataliba.’ alnya memelihara ikan patin dengan menggunakan
keramba) juga dapat diusahakan dengan meman-
3) Dukungan yang diperlukan faatkan sungai yang ada.
a) Penjelasan dan petunjuk teknis dari Dishut men- b) Perlu ada suatu pertemuan kampung untuk mem-
genai kebijakan dan pemanfaatan Dana Reboisasi bahas masa depan hutan dan meningkatkan kesada-
(DR) serta dampingan dari Disbun untuk penana- ran tentang kelestarian hutan. Pada suatu saat kayu
man kembali lahan yang terbakar, baik dengan jenis akan habis sehingga perlu ada suatu cara bagaimana
kayu yang bernilai tinggi dan sering digunakan oleh masyarakat mengelola hutan untuk kepentingan
masyarakat maupun tanaman perkebunan. masa depan anak cucu.
b) Dampingan dari kecamatan untuk mensosialisasi-
kan peraturan kampung kepada masyarakat atau 3) Dukungan yang diperlukan
kampung sekitar. a) Penyuluhan dan dampingan dari Dinas Pertanian
c) Mediasi (penengahan) dari Dishut dan Pemerintah untuk menjelaskan pada masyarakat tentang budi-
Kecamatan untuk mempertemukan pihak Pemerin- daya tanaman perkebunan maupun perikanan.
tah Kampung, HTI trans dan HPH untuk duduk b) Penyuluhan dari Dishut, LSM dan Lembaga Per-
bersama membuat kesepakatan tentang batas guruan Tinggi mengenai kesadaran kelestarian hu-
wilayah kampung dengan HTI-trans yang sudah ada, tan serta dampingan dalam cara mengelola hutan
maupun dengan HPH. secara lestari.
d) Dampingan dari Bappeda, DPM, LSM dan lembaga
perguruan tinggi dalam membuat RTRK yang baik. 4.3. Pranata Kampung
e) Dampingan dari Dishut, LSM dan lembaga pergu-
ruan tinggi di dalam membuat peraturan mengenai 1) Permasalahan
hak dan kewajiban pengusaha kayu (skala kecil) a) Ada peraturan kampung tentang cara pemanfaatan
yang beroperasi di tingkat kampung. hasil hutan, namun karena tidak tertulis, aturan
f) Bahan informasi dari Dishut dan Bappeda serta tersebut sudah mulai diabaikan, baik oleh orang
dampingan dari Dishut di dalam pengajuan per- luar maupun oleh masyarakat Mataliba’ sendiri,
mohonan pengakuan / pengukuhan kawasan. misalnya mengenai batas-batas lokasi yang boleh
dibuka dan mana yang tidak boleh, ketaatan mem-
4.2. Perekonomian Masyarakat dalam kaitan den- beri fee untuk pengambilan hasil hutan di wilayah
gan pemanfaatan hutan Mataliba.’
b) Wewenang petinggi dan kepala adat juga nam-
1) Permasalahan paknya sudah sangat terbatas, dan tidak lagi sekuat
a) Walaupun kaya akan kayu, namun sebagian besar dulu di dalam mengatur pemanfaatan hasil hutan di
masyarakat bekerja membuat ladang dengan tingkat kampung, karena banyak pelaku luar yang
penghasilan yang masih rendah. Hasil dari ladang ikut berperan dalam pemanfaatan hasil hutan lokal,
kadang tidak mencukupi kebutuhan keluarga dalam seperti para toke yang membiayai kegiatan pen-
setahun. Hasil padi sangat tergantung pada keadaan gusahaan hasil hutan oleh masyarakat, para peda-
24 Indonesia Guidelines

gang dsb. tahu setelah HPH / HPHTI masuk ke wilayahnya


c) Kendati partisipasi perempuan dalam beberapa sehingga masyarakat tidak bisa berbuat apa-apa.
pengambilan keputusan di kampung sudah cukup Setelah masa otonomi, belum ada kebijakan pe-
baik, misalnya ada 2 orang perempuan dalam “Tim merintah untuk menata ulang hubungan HPH /
Sepuluh”, namun secara keseluruhan, peran per- HPHTI dengan masyarakat setempat.
empuan masih agak kurang di dalam urusan-urusan b) Pemerintah dianggap terlalu lemah dalam mengon-
kemasyarakatan. trol HPH tentang kewajiban HPH Bina Desa terha-
d) Masih ada kelemahan-kelemahan di dalam pen- dap masyarakat sekitar. Akibat negatif yang timbul
gadaan perencanaan jangka panjang. Masyarakat jauh lebih besar dibandingkan manfaat yang dijan-
belum terbiasa dengan penyusunan program yang jikan.
terencana dan tertulis, dengan pembagian tugas
yang jelas dan target yang ingin dicapai oleh 2) Upaya penyelesaian masalah
masing-masing kegiatan. a) Mengadakan pendekatan kepada pemerintah agar
praktek pemberian ijin seperti yang lalu tidak teru-
2) Upaya yang diperlukan untuk penyelesaian ma- lang lagi di masa depan dan mengusulkan kepada
salah Pemkab agar ada kebijakan penataan ulang hubun-
a) Peraturan kampung sebaiknya dibuat tertulis dan gan HPH / HPHTI dengan masyarakat lokal.
disampaikan kepada seluruh anggota masyarakat, b) Meminta pemerintah melalui para Wakil Rakyat di
maupun pihak luar yang masuk, sehingga jika ada DPRD untuk sungguh-sungguh melakukan penga-
pelanggaran dapat dikenakan sanksi sesuai aturan wasan terhadap HPH dan pelaksanaan HPH Bina
yang berlaku. Desa agar benar-benar berdaya guna, tidak hanya
b) Meningkatkan kekompakan antar seluruh warga, sekedar pemberian janji pada masyarakat.
antara warga dengan petinggi dan kepala adat, serta
dengan semua unsur lainnya di tingkat kampung, 3) Dukungan yang diperlukan:
sehingga dengan kekompakan ini semua peraturan c) Pengantaraan dari Dewan Adat Kabupaten, LSM
yang sudah dibuat dan disepakati bisa dijalankan dan lembaga perguruan tinggi dan DPRD untuk
bersama di tingkat kampung dan bisa diamankan mengadakan pendekatan kepada Pemerintah Kabu-
terhadap orang luar. paten agar praktek pemberian ijin oleh Pemerintah
c) Mendorong perempuan terutama kaum muda untuk Pusat seperti yang lalu tidak terulang lagi, dan agar
lebih aktif terlibat dalam pengambilan keputusan di ada kebijakan penataan ulang hubungan HPH /
kampung dengan cara mengadakan musyawarah HPHTI dengan masyarakat lokal.
khusus dengan pengurus PKK atau perkumpulan d) Pengantaraan dari Wakil Rakyat di DPRD, Dewan
wanita/tokoh-tokoh wanita tentang bagaimana cara Adat Kabupaten, LSM dan Lembaga Perguruan
terbaik bagi perempuan untuk berperan dalam pen- Tinggi untuk mendesak pemerintah sung-
gambilan keputusan. guh-sungguh melakukan pengawasan terhadap
HPH dan pelaksanaan HPH Bina Desa.
3) Dukungan yang diperlukan
a) Dampingan dari Dishut, DPM, LSM dan lembaga 5. Kekuatan dan modal dasar
perguruan tinggi di dalam penyusunan peraturan Selain memiliki masalah dalam pengelolaan hutan,
kampung, dan dari Kecamatan untuk men- kampung Mataliba’ juga memiliki kekuatan dan modal
sosialisasikan peraturan kampung kepada masyara- dasar untuk bisa mengelola hutan di wilayah kam-
kat atau kampung sekitar serta pihak luar yang ma- pungnya dengan baik, yakni :
suk. 1) Hutan yang ada masih cukup luas, dengan hasil hutan
b) Dampingan dari DPM, LSM dan lembaga pergu- termasuk binatang buruan dan gua sarang burung
ruan tinggi di dalam meningkatkan kekompakan walet masih cukup banyak yang bisa dimanfaatkan dan
masyarakat di tingkat kampung. dikelola oleh masyarakat.
c) Dampingan dari DPM, PKK Kabupaten / Kecama- 2) Lahan untuk pertanian dan perkebunan masih cukup
tan, LSM dan lembaga perguruan tinggi di dalam luas dibandingkan jumlah penduduk, sehingga tekanan
mendorong perempuan terutama kaum muda untuk terhadap kawasan hutan lebih kecil.
lebih aktif terlibat dalam pengambilan keputusan di 3) Kepemimpinan kampung yang cukup demokratis dan
kampung. didukung kuat oleh masyarakat.
4) Ada cukup banyak tenaga berpengalaman di kampung
4.4. Kebijakan pemerintah yang dapat dimanfaatkan keahliannya.
5) Ada dukungan dan hubungan baik dengan LSM mau-
1) Permasalahan pun lembaga perguruan tinggi untuk mengembangkan
a) Sebelum era desentralisasi, pemerintah memberikan sistem pengelolaan hutan lokal.
konsesi kepada HPH tanpa adanya konsultasi ter-
buka dengan masyarakat setempat. Masyarakat baru
Panduan Pengembangan Peran Masyarakat kampung dalam Pengelolaan Hutan 25

3. Panduan untuk kampung Engkuni-Pasek kat dalam membangun kampung. Hal ini diperparah oleh
lesunya praktek gotong royong tradisional di kampung.
1. Gambaran umum kampung
Kampung Engkuni-Pasek mempunyai wilayah yang Selain itu sengketa tapal batas dengan kampung
cukup luas. Dalam wilayah ini, sejak kebakaran hutan Pepas-Eheng hingga kini belum terselesaikan. Sengketa
1997/1998, kondisi hutan rimbanya sudah banyak rusak tersebut sebenarnya hanya bermuara pada kepentingan
sehingga kegiatan HPH atau HPHH tidak ada di daerah untuk mengambil keuntungan dari hasil hutan berupa
ini. Kebakaran tersebut juga menyebabkan berkurangnya kayu yang ada di kawasan yang berbatasan dengan
sumber ekonomi seperti kebun rotan, kebun karet, dan Pepas-Eheng.
kebun buah-buahan (simpukng).
2. Harapan warga mengenai hutan dan lingkungan di
Wilayah Engkuni-Pasek dialiri oleh sejumlah sungai Engkuni-Pasek
yang jernih, seperti antara lain Sungai Idant, Sungai En- Sangat didambakan kembalinya wilayah ini sebagai
cui’, dan Sungai Lungau. Selain airnya yang jernih sun- kawasan hijau yang dipenuhi pepohonan, baik po-
gai-sungai tersebut juga menjadi sediaan ikan yang hon-pohon hutan maupun pohon-pohon perkebunan. Di-
penting bagi masyarakat. Di beberapa sungai ada banyak harapkan tidak ada lagi padang alang-alang yang luas,
batu yang dapat dipakai untuk bangunan. Pemungutan yang terlalu rentan terhadap kemungkinan terbakar. Pe-
batu-batu tersebut untuk kepentingan ekonomi semata lestarian sungai-sungai dan ikan-ikannya diharapkan ikut
bisa mengancam kelestarian sungai-sungai. Pelestarian menyertai pulihnya hutan.
hutan penting sekali untuk menjaga kelestarian sun-
gai-sungai tersebut. Di kampung ini juga terdapat air Perbaikan ekonomi selalu didambakan sebagai hasil
terjun “Jantur Gerongokng” yang berpotensi sebagai dari kegiatan yang berkaitan dengan hutan, maupun per-
obyek wisata dan dan pembangkit tenaga listrik. tanian dan dari kedua-duanya secara bersama-sama. Un-
tuk itu warga masyarakat mengharapkan pulihnya ker-
Cukup banyak dari kawasan ini telah berubah menjadi jasama antar seluruh warga, dan antara warga dengan
kawasan padang alang-alang yang setiap tahun rentan aparat kampung, dalam menyusun peraturan guna mem-
terhadap kebakaran. Ada sebagian dari wilayah kampung permudah kegiatan bersama di semua bidang, termasuk
berupa rawa-rawa yang cukup berpotensi untuk di bidang kehutanan dan pertanian.
pengembangan persawahan. Padi sawah biasanya tum-
buh dengan cukup subur di kawasan ini. Kondisi tanah Disamping itu warga kampung juga mengharapkan ti-
pada umumnya kurang menguntungkan untuk pertanian dak ada lagi selisih dan saling curiga antar kam-
ladang karena agak kurang subur. Maka hasil perta- pung-kampung yang bertetangga dalam kegiatan pengel-
niannya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sendiri. olaan hutan di wilayahnya masing-masing.
Bahkan banyak rumah tangga tidak dapat mencukupi Masing-masing kampung didambakan kembali
kebutuhan pangan dari perladangan, terutama kalau menghargai hak wilayah hutan milik kampung tetang-
kondisi iklim tidak menguntungkan. ganya yang berbatasan langsung seperti antara Eng-
kuni-Pasek dan Pepas-Eheng.
Selain mengusahakan penanaman padi, masyarakat
juga mengandalkan palawija dan buah-buahan untuk 3. Arah tujuan pengelolaan hutan di Engkuni-Pasek
menambah penghasilan. Pada masa lalu penduduk men- Ada dua arah tujuan pengelolaan hutan di Eng-
jual rotan mentah untuk mendapatkan uang. Namun kuni-Pasek, yaitu:
sekarang lebih banyak orang membuat kerajinan berupa 1) Melestarikan hutan dan mencegah kerusakan sun-
tas jinjing yang disebut anyat (anjat). Hasil hutan yang gai-sungai dan sumber-sumber dayanya.
bisa menambah penghasilan dalam nilai yang tidak ter- 2) Meningkatkan penghasilan masyarakat dari kegiatan
lalu besar adalah jenis rotan niaga tertentu, kayu dan bi- gabungan antara perkebunan, kehutanan dan eko-
natang buruan. Perkebunan karet juga diusahakan di wisata.
kampung ini. Sejumlah rumah tangga memiliki pohon
karet yang sudah dipanen secara tetap. Banyak rumah 4. Permasalahan pengelolaan hutan di Engkuni-Pasek
tangga telah menanam karet selama hampir sepuluh ta- dan upaya yang diperlukan untuk mengatasinya
hun, namun banyak yang gagal karena terbakar atau
karena memang kurang diurus. 4.1. Keadaan hutan dan lahan
1) Permasalahan
Kepemimpinan kampung masih mengalami kendala a) Keadaan hutan yang sangat rentan terhadap ke-
karena sering kali pengambilan keputusan yang men- bakaran. Sebabnya, sebagian lahan sudah menjadi
yangkut kepentingan umum dilakukan oleh satu orang padang rumput (alang-alang) yang mudah menjadi
Pimpinan saja. Akibatnya timbul banyak ketidak-puasan kering. Keadaan ini cukup mencemaskan bagi
di kalangan warga kampung. Keadaan demikian berim- setiap warga kampung, sebab kemarau tiba setiap
bas pada hilangnya atau lunturnya kepedulian masyara- tahun.
26 Indonesia Guidelines

b) Kecilnya wilayah kampung yang subur untuk di- bertetangga.


jadikan tempat kegiatan perladangan sehingga
menyebabkan perluasan perladangan menjadi san- 4.2. Perekonomian masyarakat dalam kaitan den-
gat terbatas. Hal tersebut mendorong penggunaan gan pemanfaatan hutan
lahan dengan masa bera lebih pendek, sehingga
kesuburan tanah sangat berkurang. 1) Permasalahan
c) Masih adanya konflik batas dengan Pepas-Eheng, a) Penghasilan warga masyarakat pada umumnya
yang bersumber dari batas wilayah kampung Pepas rendah sebagai akibat dari kegiatan pertanian
(yang sekarang sudah tidak ada lagi) yang memang ladang yang hasilnya sangat rendah.
kurang jelas dari awal, sehingga menjadi masalah b) Sumber-sumber penghasilan tambahan seperti ke-
setelah hasil hutan kayu dari wilayah perbatasan bun rotan, kebun buah-buahan, dan kebun karet
desa akan dimanfaatkan oleh Engkuni-Pasek. banyak yang rusak karena kebakaran hutan.
d) Masih adanya penebangan liar yang cukup merugi- c) Sebagian dari hutan rimba (bengkar / lati) juga ru-
kan kampung. Para penebang liar tersebut keban- sak karena kebakaran hutan, dan walaupun hutan
yakan berasal dari luar kampung Engkuni-Pasek. sebenarnya mempunyai nilai ekonomi tinggi bagi
Pengawasan dari pihak kampung terhadap kea- masyarakat, tetapi warga kampung belum
manan wilayah hutannya masih lemah. mengembangkannya sebagai sumber ekonomi
utama.
2) Upaya yang diperlukan untuk penyelesaian ma-
salah 2) Upaya Penyelesaian Masalah
a) Melakukan upaya pencegahan kebakaran hutan a) Meningkatkan hasil pertanian ladang dengan sistem
swakarsa dengan pembagian peran kepada semua olah dan pemupukan tanah sederhana, serta men-
warga kampung, lewat posko-posko pencegahan gadakan peragaman usaha tani dengan peternakan,
kebakaran hutan dengan regu pemadamnya yang perikanan dan kerajinan.
sewaktu-waktu siap untuk bertugas memadamkan b) Meremajakan kembali kebun rotan, kebun
kebakaran yang terjadi. buah-buahan, dan kebun karet yang rusak, dengan
b) Mengatur pemanfaatan lahan dengan meningkatkan penanaman sisipan serta penanaman baru.
kemampuan bercocok tanam menetap yang berdaya c) Mengusahakan pemulihan kondisi hutan terutama
hasil tinggi, dengan cara olah serta pemupukan yang berada di sekitar pinggiran sungai dan sekitar
tanah yang sesuai dengan kondisi tanah serta ke- air terjun yang merupakan sumber air bagi
mampuan petani setempat. masyarakat.
c) Mengatur kembali kesepakatan mengenai ba- d) Khusus mengenai air terjun “Jantur Gerongokng”
tas-batas yang jelas antar kampung dengan meli- yang letaknya dekat sekali dengan kampung, perlu
batkan warga kedua kampung yang bertetangga. mulai dikembangkan sebagai obyek wisata alam,
Peta wilayah kampung yang pernah dibuat secara dengan menatanya secara bertahap sebagai tempat
partisipatif (bersama) dengan dampingan dari SHK mandi, bersantai dan berkemah yang menyenang-
Kaltim bisa dipakai sebagai dasar awal untuk men- kan bagi wisatawan pengunjung.
gatur kesepakatan batas.
d) Melakukan pengawasan secara bersama secara le- 3) Dukungan yang diperlukan
bih ketat terhadap penebangan kayu secara liar, a) Penyuluhan dan dampingan dari Dinas Pertanian
dengan melibatkan kampung-kampung tetangga. dan Dinas Tenaga Kerja, Penyuluh Pertanian Ke-
Untuk itu perlu musyawarah antar kampung untuk camatan dan Yayasan Rio Tinto untuk pengem-
mengambil tindakan pencegahan bersama, yang di- bangan pertanian, peternakan, perikanan dan
fasilitasi oleh Pemerintah Kecamatan dan Dishut. kerajinan.
b) Dampingan dan alokasi Dana Reboisasi dari Dishut
3) Dukungan yang diperlukan untuk peremajaan kebun rotan, buah-buahan dan
a) Pelatihan teknis dan peralatan pemadam kebakaran karet.
dari Unit Pemadam Kebakaran Hutan Dishut-IFFM. c) Dampingan dan alokasi dana dari Dishut dan Dinas
b) Penyuluhan dan dampingan dari Dinas Pertanian Lingkungan untuk pemulihan kondisi hutan di se-
Kabupaten mengenai cara pengolahan dan pemu- kitar pinggiran sungai dan air terjun.
pukan tanah sederhana sesuai kemampuan petani. d) Dampingan dan alokasi dana dari Dinas Pariwisata
c) Dampingan dan penengahan dari Kecamatan Ba- Kabupaten untuk pengembangan air terjun “Jantur
rong Tongkok, Dewan Adat dan Team Peta Pihak Gerongokng” sebagai obyek wisata alam.
Kabupaten untuk mengatur kesepakatan batas den-
gan Pepas-Eheng. 4.3. Pranata kampong
d) Dampingan dari Pemerintah Kecamatan, Dishut,
dan Dewan Adat dalam pengadaan musyawarah 1) Permasalahan
serta pengaturan kesepakatan antar kampung a) Lembaga pemerintahan kampung (Pemerintah
Panduan Pengembangan Peran Masyarakat kampung dalam Pengelolaan Hutan 27

Kampung, BPK, dan Lembaga Adat) belum mem- Reboisasi juga tidak jelas bagi sebagian besar
beri perhatian memadai terhadap pe- masyarakat kampung sehingga banyak yang
lestarian/pengelolaan hutan, karena untuk uru- ragu-ragu untuk mengajukan permohonan peman-
san-urusan pemerintahan kampung lainnyapun faatannya ke Dinas Kehutanan, atau mengajukan
mereka belum terorganisasi dengan baik. Kepu- permohonan dengan cara yang kurang sesuai.
tusan adakalanya masih diambil sepihak baik oleh
Petinggi maupun oleh Kepala Adat. 2) Upaya Penyelesaian Masalah
b) Keadaan sumberdaya hutan yang sudah banyak a) Perlu selalu meminta penjelasan mengenai setiap
berkurang dan situasi kehutanan yang sudah proyek pembangunan yang masuk ke kampung dari
berubah membuat sejumlah aturan adat tidak sesuai dinas/instansi/lembaga yang menangani kegiatan
lagi. proyek tersebut, dan berusaha agar bisa membantu
c) Aspirasi masyarakat mengenai perbaikan kampung pelaksanaan dan pengawasan kegiatan proyeknya
hampir tidak ada, karena kelemahan dalam ke- sebagai bagian dari tanggung jawab sebagai aparat
pemimpinan kampung yang telah berlangsung pu- dan warga kampung.
luhan tahun membuat warga kurang bersemangat b) Perlu aktif meminta penjelasan tentang kebijakan
menyampaikan pemikiran-pemikiran untuk pem- pemerintah mengenai pemanfaatan Dana Reboisasi
bangunan kampung. serta tata cara pengajuan permohonan peman-
faatannya ke Dinas Kehutanan, bagian Proyek Re-
2) Upaya Penyelesaian Masalah habilitasi Hutan dan Lahan.
a) Membenahi organisasi dan koordinasi antar lem-
baga pemerintahan kampung dan mengembangkan 3) Dukungan yang Diperlukan
program-program menuju pengelolaan hutan lestari a) Keterbukaan dan kesediaan dari di-
berdasarkan kearifan dan kondisi lokal. nas/instansi/lembaga yang menangani kegiatan
b) Menyusun kembali aturan Adat sesuai dengan tun- proyek untuk memberikan penjelasan mengenai
tutan jaman dengan memperhatikan kondisi sum- proyek pembangunan yang masuk ke kampung, dan
berdaya hutan dan situasi kehutanan yang ada. Un- memberikan peluang bagi aparat dan warga kam-
tuk itu perlu melakukan musyawarah bersama den- pung untuk bisa membantu pelaksanaan dan pen-
gan melibatkan lembaga formal/informal kampung gawasan kegiatan proyeknya, sebagai bagian dari
dan Lembaga Adat. tanggung jawab mereka sebagai aparat dan warga
c) Membuat perencanaan kampung secara partisipatif kampung.
(bersama-sama), dengan sasaran, langkah-langkah b) Penyediaan dokumen-dokumen oleh Dinas Kehu-
dan pembagian kerja yang jelas, sehingga mem- tanan, baik yang menyangkut Surat Keputusan (SK)
berikan peluang untuk pengembangan aspirasi se- maupun Petunjuk Teknis (Juknis) tentang pelak-
banyak mungkin dari warga kampung. sanaan Rehabilitasi Hutan dan Lahan, serta tata cara
pengajuan permohonannya ke Dinas Kehutanan.
3) Dukungan yang diperlukan
a) Penyuluhan dan dampingan dari Dinas Pember- 5. Kekuatan dan modal dasar
dayaan Masyarakat untuk membenahi organisasi Kampung Engkuni-Pasek setidaknya memiliki kekua-
dan koordinasi antar lembaga pemerintahan kam- tan dan modal dasar untuk bisa mengelola hutan yang
pung. ada di dalam wilayah kampung dengan baik, yakni:
b) Penyuluhan dan dampingan dari Dinas Kehutanan 1) Kendati Lembaga Pemerintahan kampung sekarang
serta Dewan Adat Kabupaten dalam pengembangan masih agak lemah, di kampung Engkuni-Pasek cukup
program-program menuju pengelolaan hutan lestari banyak kaum muda dan kaum perempuan yang telah
dan penyusunan aturan Adat mengenai sumberdaya mendapat pendidikan menengah dan tinggi yang dapat
hutan. dilatih untuk keperluan pengembangan masyarakat dan
c) Dampingan dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat, pembangunan kampung. Sebagian besar dari mereka
LSM dan lembaga perguruan tinggi dalam pem- ini juga terlihat memiliki kepedulian yang besar ter-
buatan perencanaan kampung secara partisipatif. hadap kepentingan kampung.
2) Letak geografis kampung cukup strategis, dekat den-
4.4. Kebijakan pemerintah gan Ibu Kota Kecamatan dan Kabupaten dengan
transportasi yang lumayan lancar. Letak ini sebenarnya
1) Permasalahan telah membuka jalur pasar bagi hasil pertanian, kehu-
a) Kebijakan pemerintah mengenai proyek pemban- tanan, kerajinan dan pariwisata.
gunan yang masuk ke kampung sering tidak jelas 3) Adanya dukungan dan hubungan baik dengan lembaga
untuk sebagian besar warga kampung, sehingga luar seperti Yayasan Rio Tinto, SHK Kaltim dan
mereka tidak begitu perduli dengan pelaksanaan CSF-Unmul.
maupun pengawasannya.
b) Kebijakan pemerintah mengenai pemanfaatan Dana
28 Indonesia Guidelines

4. Panduan untuk kampung Tanjung Jan Sekurang-kurangnya sejak 1999 kepemimpinan kam-
pung dijalankan dengan cukup demokratis, sehingga
1. Gambaran umum kampung banyak keputusan kampung diambil bersama-sama den-
Kampung Tanjung Jan mempunyai wilayah yang tidak gan warga. Namun demikian pengambilan keputusan
begitu luas, hanya 7,000 hektar. Dalam wilayah yang masih didominasi oleh kaum laki-laki, sementara kaum
kecil ini sekarang, sejak kebakaran hutan 1997, tidak ada perempuan sedikit sekali terlibat dalam urusan ke-
lagi hutan rimba. Dengan demikian tidak ada juga masyarakatan.
kegiatan HPH atau HPHH seperti di daerah lain. Banyak
dari kawasan ini telah berubah menjadi kawasan padang Kampung Tanjung Jan telah mendapat dampingan dari
alang-alang yang setiap tahun rentan terhadap kebakaran. LSM Puti Jaji selama beberapa tahun, baik dalam pem-
Kerusakan hutan tersebut membahayakan kelestarian belaan kasus (advokasi) maupun penguatan kelembagaan
sumber daya alam penting di kawasan tersebut, yaitu air kampung. Puti Jaji juga menyediakan perpustakaan
sungai dan Danau Jempang. Danau Jempang dengan luas kampung sebagai sumber informasi penting. Informasi
sekitar 5000 hektar membentang luas di sisi kampung yang tersedia di perpustakaan umumnya menyangkut
dan telah berfungsi sebagai jalur transportasi penting bidang pertanian dan peternakan, pengetahuan tentang
selama berpuluh-puluh tahun bagi sejumlah kampung hukum dan undang-undang, khususnya yang menyangkut
seperti Tanjung Isuy, Tanjung Joné, Pulau Lanting, Jan- hak-hak masyarakat dan demokratisasi.
tur, dan Tanjung Jan sendiri. Ribuan penduduk dari
kampung-kampung tersebut menggantungkan hidup dari 2. Harapan warga mengenai hutan dan lingkungan di
kegiatan perikanan di danau tersebut. Namun beberapa Tanjung Jan
tahun terakhir kekeringan yang melanda danau Jempang Warga Tanjung Jan mengharapkan bahwa wilayah
menjadi gejala tahunan, sehingga fungsi danau sebagai kampung yang sudah hilang hutannya ini bisa ditumbuhi
jalur transportasi dan tempat menangkap dan menangkar kembali oleh pohon-pohon, baik pohon kehutanan mau-
ikan juga terganggu. pun perkebunan. Dengan demikian persoalan lahan hutan
kritis yang ditumbuhi oleh padang ilalang dan rentan
Sebagian dari wilayah kampung berupa rawa-rawa terhadap api juga teratasi. Dari kegiatan yang berkaitan
yang sedikit dijamah orang. Hutan di rawa-rawa pun su- dengan hutan maupun pertanian diharapkan ekonomi
dah musnah terbakar. Wilayah yang sempit ini telah warga dapat ditingkatkan. Untuk itu warga memerlukan
menjadi incaran Perusahaan perkebunan sawit sehingga kekompakan di dalam dan kerjasama yang baik antar
menimbulkan persengketaan tajam antara warga kam- mereka. Warga juga mengharapkan agar pemulihan hu-
pung dengan perusahaan pada tahun 1996. tan di kawasan Tanjung Jan mempunyai dampak yang
baik terhadap pelestarian Danau Jempang.
Peringkat keadaan ekonomi rumahtangga dari sekitar
600 penduduk tahun 2001 terdiri dari 8 persen baik, 44 3. Arah tujuan pengelolaan hutan di Tanjung Jan
persen sedang dan 48 persen tergolong rendah. Artinya Sesuai dengan keadaan lingkungan hutan dan kebutu-
tingkat ekonomi kampung secara keseluruhan tidak ter- han ekonomi warga, arah tujuan pengelolaan hutan di
golong buruk karena lebih dari 50 persen masuk pering- Tanjung Jan dapat dirumuskan sebagai berikut:
kat menengah ke atas. 1) Meningkatkan penghasilan masyarakat dari kegiatan
perkebunan dan kehutanan bersama-sama.
Sifat tanah kampung kurang cocok untuk pertanian 2) Melestarikan hutan dan lingkungan alam, termasuk
ladang karena tanah pasir tidak memungkinkan padi pelestarian sungai-sungai dan Danau Jempang.
tumbuh dengan subur. Untuk sumber penghasilan warga
telah banyak berpijak pada budidaya nenas. Nenas bi- 4. Permasalahan pengelolaan hutan di Tanjung Jan
asanya ditanam secara tumpang sari bersama dengan dan upaya yang diperlukan untuk mengatasinya
karet. Selain nenas warga juga bercocok tanam ubi kayu
dan rotan. Cara berocok tanam yang bersifat tetap ini 4.1. Keadaan hutan dan lahan
mengurangi tekanan terhadap hutan karena pembukaan 1) Permasalahan
lahan baru menurun. Walau mengambil manfaat dari a) Hutan sangat rentan terhadap kebakaran. Sebabnya,
danau, umumnya warga Tanjung Jan tidak tergantung sebagian lahan sudah menjadi padang rumput (ila-
pada danau sebagai sumber penghasilan utama. Kegiatan lang dan kanau) yang mudah menjadi kering.
ekonomi pokok masyarakat lebih bertumpu pada lahan Keadaan ini cukup mencemaskan bagi warga kam-
darat. Tenun tradisional ulap doyo sebenarnya meru- pung, sebab kemarau yang kering terjadi setiap ta-
pakan potensi yang cukup baik. Namun kegiatan per- hun.
tenunan telah banyak berkurang karena pembuatannya b) Ada sebagian kawasan wilayah kampung Tanjung
yang lama dan pemasaran yang kurang menggembirakan. Jan yang diklaim masuk wilayah kampung Pulau
Selain itu sediaan bahan baku berkurang karena banyak Lanting.
tumbuhan doyo yang telah terbakar.
Panduan Pengembangan Peran Masyarakat kampung dalam Pengelolaan Hutan 29

2) Upaya yang diperlukan untuk penyelesaian ma- c) Masyarakat perlu melakukan upaya untuk
salah mengembangkan kembali tenun tradisional ulap
a) Mencegah kebakaran dengan melakukan kerjasama doyo untuk dijual ke luar termasuk kepada turis.
(koordinasi) dengan kampung-kampung tetangga d) Juga perlu untuk mencari cara untuk membudi-
dalam upaya mencegah kebakaran. dayakan tanaman doyo agar tidak tergantung pada
b) Penanaman kembali hutan yang telah hilang atau tumbuhan doyo alam.
telah menjadi kritis. Kegiatan ini disebut reboisasi
atau penghijauan. Untuk memperoleh dorongan 3) Dukungan yang diperlukan
ekonomi yang lebih tinggi, penghijauan dapat dila- a) Bantuan teknis untuk upaya no. 1 dan no. 2 di-
kukan dengan dengan menanam tanaman perkebu- harapkan dari Dishut dan Distan.
nan. b) Dishut mungkin dapat membantu pendanaan me-
c) Pendekatan kembali dengan pengurus dan warga lalui program DR, khususnya untuk kegiatan dalam
Pulau Lanting untuk mengadakan kesepakatan ber- skala yang cukup besar, yang berada di luar batas
sama mengenai batas wilayah kampung. kemampuan rumahtangga untuk membiayai.
c) Pemkab (Perusda) dan dunia bisnis diharapkan
3) Dukungan yang diperlukan membantu membuka pasar ulap doyo.
a) Masyarakat memerlukan dukungan Dana Reboisasi d) Bantuan dari ahli diperlukan untuk pembudidayaan
Departemen Kehutanan (melalui Dishut Kutai tumbuhan doyo. Bantuan teknis dan dana dalam
Barat). implementasi sistem tumpang sari diperlukan dari
b) Pencegahan kebakaran memerlukan dukungan dan Distan dan Dishut atau pihak lain.
kerjasama dari kampung-kampung yang e) Dukungan dari dunia bisnis diperlukan dalam men-
bertetangga seperti Pulau Lanting dan Tanjung stabilkan pasar hasil-hasil pertanian.
Isuy.
c) Pihak Kecamatan perlu ikut membantu pengurusan 4.3. Pranata kampung
kesepakatan antara kampung Tanjung Jan dan
kampung Pulau Lanting mengenai batas wilayah 1) Permasalahan
antar kedua kampung. a) Peran kelembagaan: belum ada perhatian yang ter-
arah dari lembaga-lembaga utama kampung (Pe-
4.2. Perekonomian masyarakat dalam kaitan den- merintah Kampung, BPK, dan Lembaga adat) ter-
gan pemanfaatan hutan hadap perlunya upaya pemulihan dan pelestarian
hutan.
1) Permasalahan b) Perubahan keadaan hutan, termasuk hak atas hutan,
a) Karena hutan alam sudah sangat rusak, maka tidak serta perubahan pola mata pencaharian dari ber-
begitu penting bagi ekonomi masyarakat. ladang ke berkebun membuat model kerjasama
b) Pengelolaan hutan dan kegiatan pertanian belum lama yang disebut pelo jerab tidak selalu dapat di-
dipadukan dengan baik, padahal penanaman pohon laksanakan lagi seperti sedia kala.
dapat dilakukan bersamaan dengan kegiatan perta- c) Partisipasi perempuan dalam kegiatan kemasyara-
nian seperti tanaman ubi kayu, nenas, tanaman obat, katan masih terasa kurang memadai karena tingkat
dan lain-lain. pendidikan kaum perempuan yang rata-rata di
c) Meskipun doyo (curculigo spp.) sebagai bahan bawah laki-laki.
tenun tradisional perlahan-lahan tumbuh kembali di d) Kelemahan dalam perencanaan dalam kegiatan
lahan bekas kebakaran enam tahun lalu, kegiatan bersama. Masyarakat masih belum terbiasa mem-
pengrajinan masyarakat tidak dapat tumbuh kem- buat keputusan bersama yang terencana dengan sa-
bali karena kurangnya pasar. saran, pembagian tugas dan langkah-langkah kerja
yang jelas.
2) Upaya yang diperlukan untuk penyelesaian ma-
salah 2) Upaya yang diperlukan untuk penyelesaian ma-
a) Sebagai ganti hutan alam, perlu bagi masyarakat salah
untuk mengembangkan hutan buatan seperti agro- a) Peningkatan peran lembaga-lembaga kampung
forestry and perkebunan sebagai sumber tambahan dalam program pemulihan hutan, khususnya dengan
penting untuk penghasilan dan jika memungkinkan lebih banyak melakukan musyawarah bersama
menjadi sumber penghasilan pokok. antar lembaga.
b) Masyarakat perlu menggabungkan kegiatan b) Warga di bawah pimpinan kepala kampung perlu
pengelolaan hutan dan pertanian melalui pola tanam mengembangkan model kerjasama baru dalam
tumpang sari di mana kayu yang berharga seperti masyarakat dengan membawa semangat asli pelo
sungkai, ulin, dan gaharu ditanam bersama dengan jerab.
tanaman pertanian seperti ubi kayu, lombok, sayur c)Warga sendiri, di bawah pimpinan Kepala kampung,
mayur, nenas dan lain-lain. perlu meningkatkan peran perempuan dalam pen-
30 Indonesia Guidelines

gambilan keputusan dengan mendorong dan mem- seperti kejadian sebelumnya.


beri kesempatan seluas-luasnya bagi mereka untuk
berperan. 2) Upaya yang diperlukan untuk penyelesaian ma-
d) Pimpinan kampung perlu mengikuti pelatihan salah
khusus pengelolaan kampung, yang memuat masu- Pimpinan dan warga kampung perlu aktif meminta
kan tentang cara membuat perencanaan. Pemkab dukungan pemerintah atas hak warga kampung atas
khususnya DPM perlu merancang pengadaan pe- lahan yang ada dengan melakukan banyak pendekatan
latihan ini dalam program tahunannya. dengan pemerintah.

3) Dukungan yang diperlukan 3) Dukungan yang diperlukan:


a) LSM Puti Jaji yang masih berkarya di kampung Pendampingan dari LSM diharapkan dalam pem-
Tanjung Jan dan sekitarnya, diharapkan masih me- belaan hak-hak masyarakat dan negosiasi/dialog den-
lakukan pendampingan dalam penguatan kelemba- gan pihak pemerintah dan perusahaan yang berke-
gaan kampung. pentingan dalam wilayah Tanjung Jan.
b) Selain itu DPM juga diharapkan memberi pen-
dampingan dalam penguatan kelembagaan kam- 5. Kekuatan dan dan modal dasar
pung di sini. Selain memiliki masalah, warga Tanjung Jan juga
memiliki kekuatan dan modal dasar sebagai berikut:
4.4. Kebijakan pemerintah 1) Kepemimpinan kampung yang cukup demokratis.
2) Dukungan dari LSM Puti Jaji sudah berlangsung cu-
1) Permasalahan kup lama.
Pembelaan pemerintah atas hak masyarakat atas 3) Adanya sejumlah kaum muda yang bersemangat dan
lahan tidak jelas. Lahan mereka suatu waktu dapat aktif dalam urusan yang menyangkut kepentingan
diambil alih atau direbut oleh perusahaan kelapa sawit kampung.

Kebun nenas:
Nenas adalah produk andalan kampung Tanjung Jan
Panduan Pengembangan Peran Masyarakat kampung dalam Pengelolaan Hutan 31

5. Panduan untuk kampung Muara Jawa’ haan-perusahaan kayu (HPH) seperti diceritakan di atas.

1. Gambaran Umum kampung Peringkat keadaan ekonomi rumah tangga dari sekitar
Luas kampung Muara Jawa’ tidak diketahui secara 1,600 penduduk tahun 2001 terdiri dari 2 persen baik, 26
pasti, tetapi keadaan hutan dan lingkungannya dapat di- persen sedang, dan 72 persen tergolong rendah. Peringkat
gambarkan. Kampung ini telah mengalami se- ini menunjukkan bahwa masih banyak upaya harus dila-
kurang-kurangnya dua bencana lingkungan yang besar, kukan untuk memperbaiki taraf hidup warga.
yaitu kebakaran hutan 1982 dan 1997/1998. Kedua ke-
bakaran itu menghancurkan hutan-hutan dalam luasan Mata pencarian warga umumnya adalah pertanian
yang besar. Selain itu banjir merupakan masalah rutin ladang. Namun pertanian ladang produktivitasnya (daya
setiap tahun. hasilnya) rendah. Maka umumnya warga mencari
penghasilan tambahan dengan pembuatan gula aren,
Kondisi lahan kawasan kampung terdiri dari kawasan penjualan atap rumah dari daun rumbia, pengumpulan
lahan kritis, kawasan hutan, kawasan perkebunan, rotan, penjualan buah-buahan (terutama sebelum ke-
rawa-rawa dan kawasan perladangan. Lahan kritis yang bakaran hutan terjadi), dan kerja upahan di Perusahaan.
ditandai tumbuhnya rumput alang-alang tersebar di selu- Banyak dari sumber pendapatan tambahan tersebut
ruh kawasan terutama hulu sungai Lalukng (Lalong) punah oleh kabakaran hutan 1997/1998, namun sebagian
dengan luas yang terus bertambah setiap tahun. Kawasan sudah mulai pulih kembali.
hutan rimba hanya tersisa sedikit juga di kawasan hulu
sungai Lalong. Kawasan rawa-rawa sebagian kecil masih Karena jumlah penduduk yang besar dan letak pe-
berupa hutan yang utuh yang ditumbuhi meranti merah. mukiman yang terpisah dalam tiga kelompok besar,
Kawasan hutan bera (talutn batakng dan talutn urat) koordinasi kegiatan seluruh kampung merupakan hal
tersebar luas dan biasanya digunakan untuk kawasan yang sulit dilakukan.
perladangan. Akhir-akhir ini dalam luasan yang masih
kecil penduduk memanfaatkan lahan kritis untuk 2. Harapan warga mengenai hutan dan lingkungan di
menanam karet. Menurut masyarakat, lahan kritis adalah Muara Jawa’
lahan yang ditumbuhi alang-alang sebagai tumbuhan Keadaan yang menjadi harapan warga Muara Jawa’
utama. adalah keadaan di mana hutan tidak lagi rusak, me-
lainkan terpelihara dengan baik. Lahan-lahan kritis atau
Hasil-hasil hutan yang masih bisa dinikmati masyara- yang telah menjadi gersang ditumbuhi kembali dengan
kat (sebagian untuk tambahan penghasilan) adalah rotan tumbuhan atau tanaman hutan/perkebunan. Keadaan
(sebagian juga dari kebun), aren, rumbia, dan demikian akan menjadi makin indah jika tidak ada lagi
buah-buahan, kayu bakar dan lain-lain. ancaman kebakaran hutan.

Hak-hak tradisional (asli) atas hutan mulai terganggu Kalau hutan terpelihara dengan baik, sediaan air dari
dengan masuknya perusahaan kayu (HPH) pada tahun sungai Lalong akan terjaga dengan mutu yang terjamin,
1971. Hingga sekarang perusahaan kayu masih memiliki bencana banjir dapat dikurangi, hasil hutan yang bisa
“base camp” di Muara Jawa’ walaupun tidak lagi men- dimanfaatkan bertambah dan ekonomi penduduk bisa
gambil kayu dari wilayah Muara Jawa’, sebab kayu yang meningkat.
layak tebang sudah habis. Kehadiran perusahaan tidak
dianggap amat positip oleh warga kampung, meskipun 3. Arah tujuan pengelolaan hutan di Muara Jawa’
sejumlah bantuan telah diberikan oleh perusahaan seperti Sesuai dengan keadaan lingkungan dan kebutuhan di
mesin-mesin lampu, perbaikan jalan, dan sedikit pen- Muara Jawa’ dapat disusun tujuan pengelolaan hutan
yediaan lapangan kerja. sebagai berikut:
1) Meningkatkan penghasilan masyarakat dari kegiatan
Kampung Muara Jawa’ berdiri sejak sekitar 1905 dan yang berkaitan dengan pengelolaan hutan.
mengalami tiga periode sejarah yang penting, yaitu pen- 2) Melestarikan hutan dan lingkungan alam, termasuk
jajahan Belanda, penjajahan Jepang, jaman Kemerdekaan mengurangi ancaman banjir.
hingga Order Baru, dan jaman reformasi-sekarang. 3) Melestarikan sumberdaya air, khususnya air bersih
Pada jaman Belanda kelembagaan adat (khususnya pe- untuk keperluan seluruh kampung.
merintahan Adat) tidak diganggu dan Petinggi menerima
gelar kebangsawanan (aristokrat) dari Sultan Kutai. 4. Permasalahan pengelolaan hutan di Muara Jawa’
Tetapi pada jaman Jepang semua gelar dihapus. Jaman dan upaya yang diperlukan untuk mengatasinya
Jepang ditandai dengan perampasan-perampasan ha-
sil-hasil pertanian oleh penjajah dan keadaan hidup yang 4.1. Keadaan hutan dan lahan
berat. Jaman kemerdekaan mengubah wajah kampung 1) Hutan dan Lahan
Muara Jawa’ dengan maraknya kegiatan banjir kap, yang a) Kerusakan hutan yang cepat sebagai akibat dari
kemudian diganti dengan masuknya perusa- kebakaran, perladangan dan kegiatan HPH ber-
32 Indonesia Guidelines

sama-sama. Kerusakan tersebut tampak dalam dari Dishut atau Pemkab untuk memastikan status
luasnya kawasan lahan yang telah menjadi gersang lahan, dan dari pihak organisasi bukan-pemerintah
atau kritis. dalam hal-hal teknis, seperti pemetaan dan lainnya.
b) Ancaman kebakaran hutan setiap tahun, terutama Tim Peta Pihak Kabupaten juga diharapkan dapat
pada musim kering. Ancaman kebakaran datang membantu pemetaan. Persetujuan Perusahaan pe-
dari perubahan tumbuhan, perladangan, dan se- megang HPH juga diperlukan karena kawasan
bab-sebab lain. tersebut berada dalam areal HPH.
c) Terancamnya sumberdaya air Sungai Lalukng d) Dukungan dari Distan dan Dishut diharapkan dalam
(Lalong) dan anak-anak sungainya sebagai akibat pengembangan mata pencaharian alternatif yang
kerusakan hutan di kawasan hulu. berbasis pertanian dan/atau kehutanan.
d) Kecenderungan terpusatnya perladangan di daerah e) Fasilitasi dan kesepakatan bersama dari pihak Ke-
sepanjang sisi jalan utama mengandung kemungki- camatan Melak dan Kecamatan Muara Pahu men-
nan bahwa daerah tersebut akan terlalu banyak ter- genai status pemukiman warga kampung Gadur
pakai untuk ladang dengan masa bera yang pendek, yang diklaim Muara Jawa’ masuk wilayah adminis-
sehingga menambah kerusakan hutan dan tanah. tratif kampung Muara Jawa’.
e) Ada penduduk kampung Gadur, Kecamatan Melak
yang membuat unit pemukiman di dalam wilayah 4.2. Perekonomian masyarakat dalam kaitan den-
desa Muara Jawa`. gan pemanfaatan hutan

2) Upaya yang diperlukan untuk penyelesaian ma- 1) Permasalahan


salah a) Sumber-sumber ekonomi pokok (rotan, kebun
a) Warga perlu melakukan penanaman kembali (re- munan/simpukng, aren, rumbia) sebagian besar
boisasi dan penghijauan) kawasan yang telah men- mengalami kerusakan karena kemarau dan ke-
jadi kritis atau yang hutannya sudah rusak. bakaran 1997/1998. Hingga kini kerusakan tersebut
Kegiatan penanaman kembali ini perlu dilakukan belum sepenuhnya pulih.
baik di lahan pribadi maupun di lahan umum. b) Kegiatan berladang rendah daya hasilnya, namun
b) Warga perlu melakukan pencegahan kebakaran. tetap menjadi kegiatan ekonomi pokok karena ter-
Pencegahan kebakaran perlu dilakukan di mana saja, batasnya alternatif mata pencarian yang lebih pro-
baik kawasan berhutan maupun tidak berhutan. duktif.
c) Warga, di bawah pimpinan kepala kampung, perlu
melakukan pencanangan hutan lindung. Perlindun- 2) Upaya penyelesaian masalah
gan hutan rimba yang masih tersisa di kawasan ulu a) Memanfaatkan Dana Reboisasi dengan memper-
sungai Lalong ini amat penting untuk menjaga timbangkan kemungkinan pengembangan tanaman
sediaan air untuk sungai Lalukng, menjaga kualitas kehutanan dan perkebunan yang mempunyai nilai
air sungai dan mengurangi ancaman banjir banjir. ekonomis tinggi seperti ulin, gaharu, dan sungkai,
d) Pemusatan kegiatan perladangan pada satu lokasi dengan tanaman-tanaman sela jangka pendek.
dapat dikurangi jika kegiatan perladangan sendiri b) Mengingat Dana Reboisasi bukan dana abadi,
dikurangi. Untuk itu mata pencaharian alternatif setiap keluarga perlu memikirkan strategi untuk
perlu dikembangkan seperti perkebunan karet, rotan, mengembangkan perkebunan tanpa terlalu tergan-
kayu, atau agroforestry. tung pada dana dari luar. Ini dapat dilakukan mis-
e) Pendekatan kembali secara musyawarah antara alnya dengan menanam secara bertahap sedikit
kedua kampung untuk menyelesaikan masalah demi sedikit atau menggerakkan kembali praktek
status penduduk di unit pemukiman tersebut, atau gotong royong tradisional, yang biasanya diterap-
status wilayah pemukimannya, apakah secara ad- kan dalam kegiatan berladang.
ministratif masuk kampung Muara Jawa’ atau ma-
suk kampung Gadur. 3) Dukungan yang diperlukan
a) Selain dukungan DR yang sudah diterima sekarang
3) Dukungan yang diperlukan dari dari Departemen Kehutanan melalui Dishut,
a) Dukungan pembibitan dan pendanaan untuk masyarakat membutuhkan bantuan teknis dari
kegiatan reboisasi dan penghijauan diperlukan dari Dishut dan Distan
antara lain dari Dana Reboisasi Dishut atau sumber b) Dalam upaya mengurangi ketergantungan pada
lainnya. dana dari luar, masyarakat perlu mengorganisir diri
b) Dukungan untuk pencegahan kebakaran diharapkan dengan baik.
dari pihak Dishut dan lembaga lainnya berupa pe- c) DPM dan LSM diharapkan dapat membantu dalam
latihan pencegahan dan penanggulangan kebakaran. memfasilitasi kegiatan pengorganisasian
c) Pencanangan hutan lindung memerlukan bantuan masyarakat.
Panduan Pengembangan Peran Masyarakat kampung dalam Pengelolaan Hutan 33

tusan tingkat kampung. Kaum perempuan perlu di-


4.3. Pranata kampung jadikan pengambil keputusan, bukan hanya pelak-
sana belaka.
1) Permasalahan d) Pimpinan kampung perlu mencari bentuk peng-
a) Lemahnya fungsi hukum adat dalam melindungi koordinasian warga yang lebih sederhana dan ber-
hutan, terutama hutan rimba. Hutan rimba adalah daya guna, sehingga kerjasama dan kekompakan
hutan umum, di mana semua orang mempunyai hak seluruh warga dapat tercapai guna mendukung
yang sama untuk mengambil hasilnya, kecuali atas pembangunan kampung, termasuk dalam hal
hasil hutan tertentu yang menjadi hak perorangan pengelolaan hutan.
menurut adat dalam jumlah terbatas.
b) Pimpinan kampung belum dapat memberikan per- 3) Dukungan yang diperlukan
hatian serius terhadap persoalan kehutanan di Upaya penguatan instituasi kampung bertumpu
kampung ini, khususnya dengan menggalang pada kegiatan peorganisasian masyarakat. Bantuan
kegiatan bersama yang melibatkan seluruh atau se- untuk kegiatan semacam itu sangat diharapkan dari
bagian besar warga. LSM, DPM, Kecamatan Muara Pahu, dan lembaga
c) Rendahnya peran perempuan dalam pengambilan lain yang bergerak dalam bidang pembangunan
keputusan kampung. Pada umumnya perempuan masyarakat pedesaan.
tidak ambil bagian atau bersifat pasif dalam rapat
kampung. Sebagian dari sikap ini mempunyai dasar 4.4. Kebijakan pemerintah
dalam budaya Tonyoi, di mana secara turun temu-
run perempuan kurang terlibat dalam ranah ke- 1) Permasalahan
masyarakatan (publik). Sebab dasar lain ialah ting- a) Pembatasan akses warga kampung terhadap sum-
kat pendidikan kaum perempuan yang rata-rata berdaya hutan, terutama karena kawasan Muara
rendah dibanding dengan laki-laki. Jawa’ menjadi bagian dari HPH.
d) Rendahnya peran kaum muda dalam pengambilan b) Penyebaran peraturan pemerintah kurang merata di
keputusan kampung. Seperti perempuan, kaum kalangan masyarakat. Contoh, peraturan mengenai
muda juga tidak banyak terlibat dalam proses pen- Dana Reboisasi kurang dimengerti oleh sebagian
gambilan keputusan (rapat-rapat) kampung yang besar warga.
dihadiri orang dewasa. Penyebabnya tidak diketahui.
Namun yang jelas peran mereka dalam kepentingan 2) Upaya yang diperlukan untuk penyelesaian ma-
seluruh kampung sulit ditingkatkan jika mereka ti- salah
dak ikut menjadi penentu kebijakan. a) Masyarakat, di bawah pimpinan kepala kampung
e) Sulitnya melakukan koordinasi seluruh kampung mengajukan usul kepada Perusahaan agar dapat
karena jumlah penduduk yang cukup besar, peker- memperoleh hak kelola sumber daya hutan yang
jaan yang beragam, dan asal usul yang berbeda masih ada, khususnya untuk pengembangan
serta letak unit pemukiman yang terpisah. pengelolaan hutan berbasis masyarakat.
b) Memperbaiki sistem informasi kampung, termasuk
2) Upaya yang diperlukan untuk penyelesaian ma- hubungan dengan pihak luar (Pemkab, dll.) dan in-
salah formasi kedalam (antar anggota masyarakat
a) Pimpinan kampung, termasuk Kepala Adat, dengan sendiri).
dukungan seluruh warga perlu menyusun peraturan
pengelolaan hutan, baik menyangkut penghijauan 3) Dukungan yang diperlukan
dan reboisasi maupun hutan lindung. Aturan dan a) Dukungan dari Perusahaan HPH yang menguasai
hukum adat mengenai hutan perlu dipelajari kem- areal HPH dan Dinas Kehutanan diperlukan untuk
bali dan disesuaikan dengan kebutuhan. Pengem- memperluas akses masyarakat ke hutan.
bangan hukum adat harus memperhatikan kemung- b) Untuk perbaikan sistem informasi dan komunikasi
kinan jangkauan penerapannya, mengingat pen- dalam kampung diharapkan dukungan dari LSM
duduk kampung yang terdiri dari berbagai suku dan lembaga perguruan tinggi dalam upaya perbai-
bangsa. kan pengorganisasian masyarakat.
b) Lembaga-lembaga pemerintahan kampung perlu c) Untuk perbaikan sistem informasi dengan pihak
memperluas dan memperkuat peran mereka dalam luar, khususnya dengan Pemkab, dukungan dari
pengelolaan hutan. Peningkatan kemampuan mana- Pemkab diharapkan minimal dalam bentuk pembe-
jemen kampung bagi aparat Pemerintah Kampung rian informasi ke kampung dengan memperhatikan
perlu menjadi perhatian. sistem informasi yang berlaku di kampung.
c) Pimpinan kampung perlu meningkatkan peran se-
mua unsur dalam masyarakat, termasuk perempuan 5. Kekuatan dan modal dasar
dan kaum muda. Meningkatkan peran perempuan Kampung Muara Jawa’ memiliki kekuatan dan modal
dan kaum muda dalam proses pengambilan kepu- dasar yang dapat digunakan untuk menghadapi ma-
34 Indonesia Guidelines

salah-masalah di atas. Kekuatan dan modal dasar tersebut oleh seluruh pihak yang berkepentingan.
adalah sebagai berikut:
1) Letaknya yang strategis di jalur transportasi dan urat Secara khusus di setiap kampung perlu kepala kam-
nadi perekonomian, yaitu sungai Mahakam, membuka pung mengundang lembaga-lembaga pemerintahan
lebar peluang pasar hasil-hasil pertanian dan kehu- kampung lainnya (BPK dan Lembaga Adat) serta per-
tanan. wakilan kelompok-kelompok seperti kelompok agama,
2) Letaknya yang dekat dengan pusat Kabupaten mem- kelompok kaum muda, dan kelompok perempuan untuk
permudah hubungan dan komunikasi dengan pemerin- melakukan musyawarah :
tah jika diperlukan. 1) Memeriksa kembali isi Panduan untuk mengetahui
3) Jumlah penduduknya yang cukup besar memung- kecocokan atau ketidakcocokannya dengan keadaan
kinkan perhatian yang lebih besar dari pemerintah un- terbaru / sebenarnya di kampung.
tuk meningkatkan pembangunan kampung di masa 2) Mendiskusikan pilihan-pilihan masalah yang perlu
depan.3) Adanya sejumlah kaum muda yang diutamakan penanganannya.
bersemangat dan aktif dalam urusan yang menyangkut 3) Mendiskusikan tindakan-tindakan nyata yang dapat
kepentingan kampung. dilakukan berkaitan dengan pilihan prioritas tersebut.
4) Membuat program kerja nyata sebagai tindak lanjut.
5) Melakukan pengesahan program melalui musyawarah
6. Langkah-langkah lebih lanjut kampung sehingga mendapatkan suatu keputusan yang
dapat dimengerti dan disetujui semua warga.
Panduan untuk kampung-kampung ini disusun tidak 6) Menghubungi pihak-pihak yang dianggap dapat men-
sebagai resep siap pakai dalam melakukan tindakan. dukung kegiatan, baik secara keuangan maupun teknis.
Diperlukan langkah-langkah jangka pendek (dekat) untuk
membawa Panduan ini ke suatu tindakan yang nyata
Indonesia Guidelines 35~40

BAGIAN KETIGA

Membangun Sistem Pendukung Tingkat Kabupaten

Untuk membangun sistem pendukung di tingkat Kabupaten, agar peran dan partisipasi masyarakat dalam pengel-
olaan hutan, bisa berkembang sampai tataran peran dan partisipasi interaktif, seperti yang telah dijelaskan pada
bagian Pendahuluan, ada 6 tolok ukur yang perlu dijadikan pedoman. Keenam tolok ukur tersebut adalah : (1)
adanya akses dan kontrol (penguasaan) atas lahan dan sumberdaya hutan oleh warga; (2) adanya keseimbangan ke-
sempatan dalam menikmati hasil-hasil dari hutan; (3) adanya komunikasi (tukar wacana) yang baik dan hubungan
yang konstruktif (saling menopang) antar pihak yang berkepentingan terhadap hutan; (4) adanya keputusan Kam-
pung yang dibuat oleh warga Kampung tanpa tekanan dari luar (masyarakat tidak didikte saja oleh pihak luar) dan
prakarsa-prakarsa dilakukan sendiri oleh warga Kampung tanpa tekanan pihak manapun; (5) adanya pengaturan un-
tuk mengatasi perbedaan-perbedaan kepentingan yang berkaitan dengan sumberdaya hutan, dengan cara yang men-
garah pada penghindaran terjadinya perselisihan dan pengadaan penyelesaian perselisihan secara adil; dan (6)
adanya kemampuan teknis warga Kampung dalam mengelola hutan.

Berdasarkan kriteria dari keenam tolok ukur tersebut ada tujuh isu pokok yang perlu dijadikan pedoman dalam
pengembangan program dukungan di tingkat Kabupaten yakni : (1) pengakuan hak-hak dan budaya lokal; (2) modal
sosial dan pengorganisasian masyarakat; (3) penyelesaian sengketa; (4) pendidikan nilai dan pendidikan kritis ; (5)
akses masyarakat ke informasi; (6) penguatan ekonomi; (7) pengawasan dan penegakan hukum. Prinsip, permasala-
han, langkah-langkah awal penyelesaian masalah dan dukungan yang diperlukan untuk pengembangan program du-
kungan di tingkat Kabupaten sebagai pedoman dasar adalah seperti yang diuraikan dalam bagian-bagian berikut.

1. Pengakuan Hak dan Budaya Lokal menjamin keamanan akses, kontrol dan kepemilikan
masyarakat atas sumber daya hutan, dengan cara
1. Prinsip 1 melibatkan masyarakat dalam pengambilan keputusan
Pengakuan akan hak dan budaya lokal amat penting dalam proses pemberian ijin lokasi bagi Perusahaan
karena hal itu menyangkut hakekat hidup masyarakat, perkebunan dan HPH. Bila wewenang pengambilan
akses mereka ke sumberdaya, dan kesempatan bagi keputusan ada pada Pemerintah Pusat, Pemerintah
mereka untuk mengembangkan diri. Kabupaten harus berperan sebagai mediator (peran-
tara) antara Pemerintah Pusat dan masyarakat Kam-
2. Permasalahan pung.
1) Tidak adanya kepastian dan keamanan akses, kontrol 2) Memberi pengakuan terhadap hak masyarakat lokal
dan kepemilikan warga Kampung terhadap sumber- dalam wujud peraturan daerah Kabupaten dan program
daya hutan, terutama di kawasan potensial sengketa, pelaksanaan yang realistis pada tingkat Kampung, ter-
seperti kawasan yang kaya akan tambang batubara dan utama dalam hak pemilikan dan hak pemanfaatan atas
kawasan potensial untuk perkebunan. Permasalahan hutan yang telah dimanfaatkan dan dikelola bersama
muncul dari status klasifikasi “hutan negara” dan “hu- oleh masyarakat Kampung.
tan hak” yang ambivalen menurut UU No. 41/1999 3) Meningkatkan kompetensi budaya (cultural compe-
tentang Kehutanan, di mana “hutan adat” dan “hutan tence), di kalangan aparat Pemerintah dan Dewan
desa” termasuk dalam hutan Negara dan bukannya Perwakilan Rakyat Daerah, yaitu kemampuan untuk
“hutan hak”. Termasuk dalam hal ini adalah tidak ada memahami perbedaan dan pengetahuan budaya pada
atau lemahnya keberpihakan Pemerintah selama ini suku yang berbeda-beda di wilayah Kutai Barat.
atas hak masyarakat atas lahan hutan. Lahan masyara- 4) Meningkatkan pemahaman aparat Pemerintah dan
kat suatu waktu dapat diambil alih oleh Perusahaan, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah mengenai hak-hak
dengan dukungan dari pemerintah. azasi manusia dan Undang-Undang yang berisi mani-
2) Pandangan masyarakat umum (common sense), ter- festasi hak-hak tersebut. Disusul dengan pengaturan
masuk sebagian Pejabat Pemerintah, yang mengang- pengakuan hak-hak adat dalam bentuk peraturan dan
gap bahwa masyarakat lokal tradisional masih belum program yang nyata.
mengerti apa-apa, sehingga harus dibina dan dididik
menurut kemauan pihak luar. Pandangan seperti itu 4. Dukungan yang diperlukan
menjurus pada pendekatan pembangunan yang mer- Untuk bisa menjamin hak-hak masyarakat, menyusun
endahkan martabat dan hak-hak masyarakat lokal. peraturan daerah yang diperlukan, dan menjalankan pro-
gram implementasi perlu dukungan dari pakar hukum,
3. Langkah-langkah awal penyelesaian masalah akademisi, dan LSM. Mereka ini perlu memberi dukun-
1) Pemerintah Kabupaten perlu mencari upaya untuk gan dalam berbagai bentuk seperti konsultasi, seminar,
36 Indonesia Guidelines

tulisan di media cetak, dan sebagainya. Dukungan serupa 4) Rendahnya tingkat partisipasi perempuan dalam pen-
juga diperlukan untuk meningkatkan kompetensi budaya gambilan keputusan atau kebijakan Kampung. Pada
(cultural competence) serta pemahaman akan hak azasi umumnya perempuan tidak ambil bagian atau bersifat
manusia dan hak-hak adat di kalangan aparat Pemerintah pasif dalam rapat Kampung. Ada Kampung di mana
dan masyarakat umum. perempuan cukup berani dan aktif, tetapi partisipasi
mereka belum banyak. Sikap ini mempunyai dasar se-
2. Modal Sosial dan Pengorganisasian Masyarakat bagian dalam budaya, di mana secara turun temurun
perempuan kurang terlibat dalam ranah publik. Sebab
1. Prinsip 2 dasar lainnya adalah rendahnya pendidikan rata-rata
1) Untuk memungkinkan partisipasi yang penuh, modal kaum perempuan dibanding dengan laki-laki. Keadaan
sosial (social capital) dan pengorganisasian masyara- seperti ini terdapat pada semua Kampung.
kat perlu ditingkatkan. Modal sosial adalah kemam- 5) Lemahnya mekanisme pengawasan terhadap pengam-
puan untuk melakukan kegiatan bersama secara teratur bilan keputusan tingkat Kampung. Masyarakat sedang
dan terorganisir. dalam transisi menuju demokrasi. Sejumlah Pimpinan
2) Permasalahan modal sosial menyangkut kondisi insti- Kampung belum terbiasa dengan demokrasi dan masih
tusi Kampung. Institusi berarti perbuatan, perilaku mengambil keputusan dengan pola lama yang otokratis.
atau kebiasaan (practices) yang melembaga (berpen- Model parlemen Kampung (BPK) dapat menjadi sis-
gaturan) berdasarkan prinsip-prinsip yang sama se- tem kontrol terhadap kebijakan Kepala Kampung.
hingga memperlihatkan suatu keteraturan.Masalah ini Namun pada umumnya model ini belum berjalan den-
tampil ke depan dalam kenyataan bahwa sejumlah gan baik.
Kampung tidak terorganisasi dengan baik terutama 6) Pemerintah Kabupaten tidak memiliki kapasitas atau
dalam pemanfaatan dan pengelolaan hutan. kemampuan outreach (jangkauan) yang memadai un-
tuk membantu memfasilitasi pengorganisasian
2. Permasalahan masyarakat di semua Kampung di Kutai Barat yang
1) Lemahnya hukum adat dalam melindungi hutan, teru- berjumlah 210 buah. Ketidakmampuan tersebut men-
tama hutan rimba. Banyak hutan rimba adalah hutan cakup pengetahuan dan teknik dasar pengorganisasian
umum, di mana semua orang mempunyai hak yang masyarakat, jumlah personel, dan pembiayaan yang
sama untuk mengambil hasilnya, kecuali atas hasil hu- terbatas.
tan tertentu yang menjadi klaim atau hak perorangan
dalam jumlah terbatas. Kelemahan hukum adat ini 3. Langkah-langkah awal penyelesaian masalah
ditemukan pada semua Kampung yang dikaji. 1) Meningkatkan kegiatan pengorganisasian masyarakat
2) Di semua Kampung tidak ada peraturan Kampung (community organizing-CO) mulai dari Kam-
yang tertulis mengenai pengelolaan dan pemanfaatan pung-Kampung yang memiliki potensi permasalahan
hutan. Padahal kebutuhan akan peraturan Kampung paling besar sampai ke Kampung-Kampung yang
dirasakan oleh semua Kampung, bukan saja karena hampir tidak memiliki persoalan dalam pengelolaan
manfaatnya jelas, tapi juga karena hukum adat (yang sumber daya hutan.
tidak tertulis) tidak menjamin pengelolaan hutan yang 2) Fasilitasi Kampung harus ditujukan untuk membenahi
baik. Peraturan Kampung yang tidak tertulis struktur dan mekanisme manajemen Kampung secara
cenderung dengan mudah diabaikan oleh masyarakat keseluruhan, meningkatkan kemampuan manajerial
Kampung itu sendiri, apalagi orang luar. Tidak adanya aparat Kampung, menyusun peraturan Kampung di
peraturan tertulis ini menyebabkan dalam kasus ter- bidang kehutanan dan pengelolaan sumberdaya alam,
tentu Kepala Kampung lemah dan diabaikan, terutama termasuk meninjau kembali hukum Adat, dan men-
dalam soal eksploitasi hutan. Peraturan tidak tertulis ingkatkan partisipasi perempuan dalam pengambilan
juga menjadi masalah jika orang yang mengerti pera- keputusan Kampung. Pengorganisasian juga hen-
turan sendiri tidak dapat menjadi pelaksana atau men- daknya diarahkan untuk meningkatkan kerjasama yang
gabaikan peraturan tersebut. baik, dalam Kampung dan antar Kampung, berdasar-
3) Rendahnya perhatian Pimpinan Kampung terhadap kan keprihatinan dan kepentingan bersama, menyele-
persoalan pengelolaan hutan; belum ada upaya teror- saikan sengketa internal maupun eksternal, dan pen-
ganisir pada tingkat Kampung, baik antar lembaga gambilan keputusan yang demokratis dalam masyara-
Pemerintahan Kampung maupun antara Pemerintahan kat Kampung.
Kampung dengan warga, untuk mengatasi persoalan 3) Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan Aparat
seperti kebakaran dan eksploitasi hutan yang berlebi- pemerintah, khususnya petugas lapangan dari DPM,
han. Hal ini cukup mengherankan, sebab kerusakan Dishut, dan Dinas lain yang terkait dalam bidang pen-
hutan telah menjadi keprihatinan banyak warga Kam- gorganisasian masyarakat.
pung, termasuk Aparat Kampung sendiri, namun be- 4) Pemerintah perlu mengalokasikan dana yang memadai
lum ada upaya yang berarti untuk mengatasi persoa- untuk melakukan kegiatan fasilitasi pengorganisasian
lannya. Keadaan ini ditemukan pada semua Kampung. masyarakat di lapangan.
Membangun Sistem Pendukung Tingkat Kabupaten 37

4. Dukungan yang diperlukan masyarakatan diperlukan untuk mendukung upaya ini.


Upaya pengorganisasian masyarakat perlu mendapat Begitu juga kerjasama dengan praktisi dan penegak hu-
dukungan dari LSM. LSM mempunyai kelebihan khusus kum. Dukungan dari Center for International Forestry
dalam hal ini karena memiliki kedekatan dan pengalaman Research (CIFOR) dan CSF-Unmul dalam membangun
langsung dengan masyarakat di Kampung-Kampung. Pusat Data Kehutanan yang sedang dikembangkan oleh
Program IFAD (International Funds for Agricultural De- Dinas Kehutanan masih terus diperlukan, setidaknya
velopment) yang baru mulai di Kutai Barat juga perlu dalam beberapa tahun mendatang.
mendukung upaya ini. IFAD berkepentingan dengan
pengorganisasian masyarakat sehubungan dengan upaya 4. Pendidikan Nilai dan Pendidikan Kritis
peningkatan status sosial ekonomi masyarakat pedalaman
yang dijalankannya. 1. Prinsip 4
1) Pendidikan nilai atau pendidikan untuk membentuk
3. Akses Masyarakat ke Informasi kesadaran akan pentingnya memelihara kelestarian
hutan sebagai kegiatan bersama seluruh komponen
1. Prinsip 3 masyarakat, perlu menjadi isu penting dalam Program
1) Dalam negara demokrasi akses ke informasi atau hak Kehutanan Kutai Barat.
warganegara untuk memperoleh informasi, merupakan 2) Nilai adalah sesuatu yang dianggap baik dan pantas.
hak dasar/azasi. Nilai tidak sama dengan etika yang berkaitan dengan
2) Dalam negara Indonesia yang bertransisi menuju de- persoalan yang benar dan yang tepat.
mokrasi, hak atas informasi perlu dianggap sebagai hal 3) Pemahaman akan kesadaran nilai perlu didorong dari
yang penting oleh Pemerintah dan masyarakat luas. dua sisi, yakni dari makna nilai itu sendiri dan dari
3) Dengan demikian persoalan pembukaan arus infor- pengetahuan akan situasi yang bertentangan dengan
masi (information disclosure) juga perlu dianggap vi- nilai, seperti misalnya situasi krisis.
tal oleh pemerintah..
2. Permasalahan
2. Permasalahan 1) Belum ada kesadaran pada kalangan Pemerintah men-
1) Publik pada umumnya belum menganggap akses ke genai perlunya pendidikan nilai bagi masyarakat dan
informasi sebagai hak sipil yang penting. bagi aparat dan Pejabat Pemerintah sendiri.
2) Pemerintah Kabupaten masih miskin data dalam ber- 2) Belum ada upaya pendidikan nilai yang terfokus dan
bagai bidang, termasuk bidang kehutanan. terorganisir pada tingkat Kabupaten.
3) Minimalnya sarana dan prasarana informasi multime-
dia yang dapat digunakan oleh Pemerintah maupun 3. Langkah awal pemecahan masalah
masyarakat luas. Dalam pendidikan nilai dan pendidikan kritis Pemer-
4) Pemerintah belum pro-aktif dalam mengumpulkan intah dapat menggunakan berbagai cara dan media
informasi dari masyarakat. seperti radio, televisi, media cetak, teater, sekolah, public
5) Informasi yang disampaikan masyarakat ke Pemerin- hearing, dll. Upaya-upaya pendidikan hendaknya
tah Kabupaten sering kali lambat ditanggapi. diarahkan kepada:
1) Pembentukan kesadaran akan nilai-nilai non-ekonomis
3. Langkah awal penyelesaian masalah hutan (nilai ekologis, spiritual, sosial, kultural) dari
1) Melakukan penyadaran pada masyarakat akan hak-hak hutan dan sumberdaya hutan.
sipil mereka, termasuk hak untuk mendapat dan mem- 2) Pembentukan kesadaran akan krisis hutan dan ling-
berikan informasi. kungan: pemahaman akan realitas buruk sekarang dan
2) Menyediakan data kehutanan yang akurat dan dapat akibatnya untuk masa depan.
dipercaya (reliable), seperti dalam bentuk suatu Pusat 3) Pembentukan idealisme tentang kondisi hutan dan
Data Kehutanan Kutai Barat – (kini sedang dikem- lingkungan (visi mengenai keadaan hutan dan ling-
bangkan oleh Dishut). kungan yang baik).
3) Pemerintah perlu membuka data bagi masyarakat luas
(information disclosure), terutama yang berkaitan 4. Dukungan yang diperlukan
dengan kepentingan umum dan keuangan publik. Lembaga-lembaga yang secara khusus bergerak di
4) Pemerintah perlu mengatur sanksi bagi pihak-pihak bidang konservasi lingkungan dan hutan (LSM, Lembaga
yang dengan sengaja menghalangi akses masyarakat Penelitian, Universitas, dll.) dan sekolah-sekolah formal
ke informasi. adalah pendukung utama upaya penyadaran nilai. Ker-
5) Pemerintah perlu mengatur alur informasi dan pen- jasama Pemerintah Kabupaten dengan mereka diperlukan.
yampaian informasi dari masyarakat ke pemerintah, Kerja sama dengan lembaga-lembaga seperti Natural Re-
termasuk penanganan dan pemanfaatannya. source Management (NRM), The Nature Conservancy
(TNC), IGES, dan CSF Unmul disarankan untuk dilan-
4. Dukungan yang diperlukan: jutkan dalam beberapa tahun ke depan guna menunjang
Kerjasama dengan LSM dan lembaga-lembaga ke- upaya-upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten.
38 Indonesia Guidelines

5. Pengawasan Sosial dan Penegakan hukum mengenai batasan sumbangan pihak ketiga kepada
Pemerintah, Badan dan Pejabat penegak hukum, guna
1. Prinsip 5 mencegah kemungkinan Pemerintah dan Penegak hu-
1) Pengawasan sosial dan penegakan hukum adalah suatu kum menjadi tidak berdaya dalam soal penegakan hu-
keharusan dalam menunjang peran masyarakat dalam kum.
mengelola hutan. 4) Pemerintah perlu melakukan kajian tentang konsep
2) Di Kutai Barat harus dicegah terjadinya “keputusasaan masyarakat mengenai keadilan (people’s notions of
hukum” pada masyarakat, karena akibatnya akan san- justice).
gat buruk. 5) Pemerintah Kabupaten perlu mengefektifkan mekan-
3) Untuk itu harus dilihat bagaimana permainan uang, isme pengawasan pengusahaan kayu (logging, baik
relasi dan kekuasaan mempengaruhi pola pikir dan legal maupun illegal) oleh masyarakat dan Perusahaan.
prilaku Aparat pemerintah. Secara kongkrit, bagai- 6) Dinas Kehutanan perlu mengefektifkan mekanisme
mana otoritas Penegak Hukum dan pembuat Kebijakan pengawasan terhadap pelaksanaan proyek reboisasi di
berpikir, mengambil keputusan dan bertindak, perlu tingkat masyarakat.
dikontrol oleh masyarakat. 7) Pemerintah Kabupaten perlu menyusun aturan dan
4) Penegakan hukum dan pengawasan harus berangkat mekanisme Analisis mengenai Dampak Lingkungan
dari isu-isu sensitif seperti: pertanggung jawaban atas (AMDAL) yang dapat diandalkan.
penggunaan uang publik (dana Pemerintah adalah
“uang publik), pelaksanaan Proyek Reboisasi, pelak- 4. Dukungan yang diperlukan:
sanaan IUPHHK, AMDAL, dan lain-lain. Dukungan untuk pengawasan sosial dan penegakan
hukum perlu digalang dari seluruh masyarakat, media
2. Permasalahan massa (koran, TV, radio), Ilmuwan, LSM, Praktisi dan
Persoalan penegakan hukum adalah persoalan nasional Ahli Hukum, Aparat/Lembaga penegak hukum, lem-
di Indonesia. Ada sindiran bahwa “kucing dapat menjadi baga-lembaga kemasyarakatan, dll. Semua dukungan
kerbau,” kebenaran dapat menjadi kesalahan dan sebali- harus berjalan searah dan saling mendukung (bersinergi).
knya, tergantung pada tiga kondisi, yaitu uang, relasi dan
kekuasaan. Secara nasional terlihat jelas gejala ketidak- 6. Pencegahan dan Penyelesaian sengketa
percayaan masyarakat pada hukum dan Penegak hukum.
Mulai terlihat pula gejala “frustrasi sosial.” Gejala itu 1. Prinsip 6
kelihatan dalam perbuatan-perbuatan main hakim sendiri Segala potensi untuk sengketa harus dicegah dan
dan resistensi dalam wujud perbuatan yang melawan sengketa yang sedang berlangsung harus diselesaikan
hukum. searif mungkin, sebab sengketa menghalangi peran nyata
dari pihak-pihak yang bersengketa untuk menjalankan
Dari lapangan dicatat dua persoalan yang berkaitan pengelolaan hutan khususnya, dan pembangunan
dengan kehutanan sebagai berikut: umumnya, dengan baik.
1) Pemerintah dianggap terlalu lemah dalam mengontrol
HPH tentang kewajiban HPH Bina Desa terhadap 2. Permasalahan
masyarakat sekitar. Akibat negatif yang timbul dari Kabupaten Kutai Barat menyimpan banyak sengketa,
kegiatan HPH selama ini jauh lebih besar dibanding- baik sengketa antara masyarakat dengan Perusahaan,
kan manfaat yang dijanjikan. sengketa antar Kampung, maupun sengketa di dalam
2) Pemerintah kurang mengawasi pelaksanaan Kampung sendiri. Beberapa catatan dari lapangan mem-
proyek-proyek reboisasi, sehingga partisipasi perlihatkan:
masyarakat tidak berjalan secara optimal dalam proyek 1) Nilai ekonomi kayu menimbulkan sengketa batas
tersebut. antar Kampung yang sulit diselesaikan oleh dua pihak
3) Masyarakat sendiri belum memiliki kemampuan untuk yang bersangkutan. Sengketa demikian memunculkan
mengawasi dan menegakkan hukum atau aturan yang pertanyaan mengenai arti dari Hutan Adat : apakah
dibuat secara musyawarah. Hutan Adat adalah Hutan Kampung? Apakah Hutan
Adat sama dengan hutan berbasis genealogis (yaitu
3. Langkah awal penyelesaian masalah hutan yang menjadi hak orang-orang yang berasal dari
1) Memperbanyak dan mengefektifkan saluran untuk satu keturunan, dan biasanya keturunan “bangsa-
kritik sosial dan sanksi sosial bagi pelanggaran hukum wan”)
yang dilakukan oleh siapapun, termasuk Pejabat Pe- 2) Persengketaan masyarakat dengan Perusahaan masih
merintah. ada, sebagian adalah warisan sebelum Kutai Barat
2) Pemerintah Kabupaten perlu membuat mekanisme berdiri. Kebanyakan sengketa tersebut terjadi karena
pengaduan oleh masyarakat atau pihak yang dirugikan pengamlibalihan lahan-lahan atau kawasan mata pen-
dengan pembentukan Lembaga Ombudsman Kabu- caharian masyarakat oleh Perusahaan.
paten. 3) Pemerintah masih kurang membantu penyelesaian
3) Pemerintah Kabupaten perlu membuat peraturan sengketa tapal batas Kampung (misalnya antara
Membangun Sistem Pendukung Tingkat Kabupaten 39

Kampung Long Bagun Ulu - Batu Majang, Eng- ada kecenderungan perolehan keuntungan terlalu besar
kuni-Pasek - Eheng, Muara Jawa’ - Gadur, Tanjung pada kelompok tertentu, sedangkan mayoritas
Jan-Pulau Lanting). Persoalan batas ini serius dan sulit masyarakat mendapat sedikit. Ini persoalan keseim-
diselesaikan oleh pihak-pihak yang bersengketa bangan dalam hak untuk memperoleh manfaat dari
sendiri. hasil hutan.
2) Ada kenderungan masyarakat makin bertindak ek-
3. Langkah Awal Penyelesaian masalah sploitatif terhadap hutan dengan mengutamakan keun-
1) Pemerintah Kabupaten perlu memperhatikan dengan tungan ekonomis ketimbang konservasi. Gejala ini ter-
sungguh-sungguh sebab-sebab persengketaan yang lihat dengan jelas pada Kampung yang masih kaya
pernah terjadi dan berusaha untuk tidak mengulangi akan kayu.
kesalahan yang sama di masa depan dalam proses 3) Masyarakat menganggap bahwa tingkat ekonomi yang
pemberian ijin usaha bagi Perusahaan perkebunan, umumnya rendah menyebabkan sulitnya melakukan
tambang, dan lainnya, sejauh akan berdampak lang- kegiatan reboisasi dan penghijauan sendiri tanpa du-
sung terhadap masyarakat lokal dan dapat menimbul- kungan pendanaan dari luar. Kebutuhan pokok
kan sengketa. masyarakat ialah memenuhi kebutuhan dapur jangka
2) Pemerintah Kabupaten perlu melakukan penentuan pendek, sehingga mereka menjadi sulit untuk berkon-
tapal batas (land delineation) Kampung-Kampung dan sentrasi pada kegiatan reforestasi yang hasilnya jangka
Kecamatan secara tuntas dengan pemetaan yang meli- panjang. Dana reboisasi, walaupun membantu, nam-
batkan pihak-pihak yang berbatasan, serta Tata Ruang paknya tidak dapat menjadi jaminan tetap dalam
Kabupaten, yang memperhatikan hak-hak Adat. jangka waktu tertentu.
3) Pemerintah Kabupaten harus memperjelas pengertian 4) Kegiatan pengelolaan hutan belum dilihat sebagai
“Hutan Adat” seperti tertuang dalam Undang-Undang kegiatan ekonomi pokok (kecuali kegiatan eksploi-
No. 41/1999 tentang Kehutanan, serta pengertian tasinya) sebab sebagian besar masyarakat mendapat
“Hutan Kampung” dan “Hutan Waris” (hutan gene- penghasilan dari perkebunan dan pertanian (perladan-
alogis). gan), bukan dari sektor kehutanan. Padahal kegiatan
4) Pemerintah Kabupaten perlu aktif melakukan mediasi kehutanan dan perkebunan dapat dipadukan.
penyelesaian sengketa dengan pembentukan Tim yang
melibatkan pihak-pihak terkait. 3. Langkah awal penyelesaian masalah
5) Pemerintah Kabupaten perlu membentuk “Lembaga 1) Pemerintah Kabupaten perlu mengupayakan pemer-
Ombudsman” tingkat Kabupaten yang berperan untuk ataan kesempatan untuk menikmati hasil hutan bagi
menyelidiki keluhan dan pengaduan masyarakat. semua unsur warga Kampung, terutama dalam bentuk
6) Pemerintah Kabupaten perlu mendorong model pengelolaan kolektif (collective management) atau
“pengelolaan bersama” (collaborative management) pengelolaan hutan bersama (joint forest management).
atas kawasan yang disengketakan, jika pembagian ka- 2) Pemerintah Kabupaten perlu memberikan insentip
wasan tidak dimungkinkan. berupa dana yang memadai untuk kegiatan penghi-
jauan dan reboisasi bagi Kampung yang secara institu-
4. Dukungan yang diperlukan: sional mampu mengelola dana dengan bertanggung
Pencegahan dan Penyelesaian sengketa pada prinsip- jawab.
nya adalah upaya multipihak, termasuk pihak ketiga. 3) Pemerintah dan masyarakat perlu mencari jalan untuk
Oleh karena itu Pemerintah Kabupaten perlu mendapat melakukan reboisasi dan penghijauan yang murah dan
bantuan dari pihak-pihak yang berkepentingan: terjangkau oleh masyarakat tanpa perlu menunggu
masyarakat, pengusaha, LSM, dan Praktisi Hukum (Ahli dana yang besar dan terus menerus dari Pemerintah
Hukum), serta Ilmuwan sesuai bidang kegiatan dan ka- atau sponsor.
pasitas masing-masing. 4) Di mana hutan rimba tidak ada lagi atau tidak
menghasilkan kayu, pengelolaan ditujukan untuk
7. Penguatan Ekonomi Kampung meningkatkan hasil-hasil hutan bukan kayu bagi selu-
ruh masyarakat.
1. Prinsip 7 5) Pemerintah Kabupaten perlu mendukung integrasi
1) Peran masyarakat dalam pengelolaan hutan lokal harus antara kegiatan pertanian dan pengelolaan hutan, se-
dilihat sebagai bagian tak terpisahkan dari pengem- hingga masyarakat merasa termotivasi untuk melaku-
bangan ekonomi Kampung. kan kegiatan pengelolaan yang konstruktrif, bukan se-
2) Meskipun insentip atau dorongan sosio-kultural dan kedar eksploitatif yakni mengambil hasilnya saja.
spiritual penting bagi suatu masyarakat, dorongan 6) Pemerintah Kabupaten perlu mengupayakan jaminan
ekonomis mungkin lebih menarik terutama pada terhadap hak masyarakat atas lahan dan hutan untuk
tahap-tahap awal. jangka panjang, termasuk kepastian bahwa suatu hak
tertentu tidak akan diganggu oleh kegiatan ekonomi
2. Permasalahan lain, misalnya penggusuran untuk kegiatan Perusahaan
1) Pada Kampung di mana terdapat kegiatan banjir kap, besar. Untuk itu setiap rencana pembukaan Perusahaan
40 Indonesia Guidelines

kayu atau perkebunan di wilayah Kampung tertentu, KK-PKD, 2001. Program Kehutanan Kabupaten Kutai Barat.
harus melalui konsultasi dengan dan mendapat per- Sendawar : Kelompok Kerja Program Kehutanan Daerah
setujuan dari seluruh warga Kampung. [KK-PKD].
KK-PKD, 2002. Aspek Hukum Pengelolaan Hutan Oleh
4. Dukungan yang diperlukan Masyarakat di Kutai barat : Skema-Skema Peluang. Sen-
Dukungan untuk kegiatan pengembangan ekonomi dawar : Kelompok Kerja Program Kehutanan Daerah
dibutuhkan dari dunia Bisnis dalam hal penyediaan pasar, [KK-PKD].
Lembaga Donor untuk penguatan ekonomi rakyat (IFAD Makoto, Inoue et al., 2001. “Research Framework for Local
sedang memulai program di Kutai Barat), LSM dan Approach.” Manuscript, Forest Conservation Project, In-
dunia Akademik sebagai pendukung teknis. stitute for Global Environmental Strategies [IGES].
Matius, Paulus and Setiawati, 2003. “Laporan Workshop
Daftar Bacaan Penyusunan Bahan Local Forest Management Guidelines,
Clarke, W.C. and R.R. Thaman (Editor). 1993. Agroforestry in Sendawar 31 Juli 2003.” CSF Universitas Mulawarman.
the Pacific Islands: Systems for Sustainability. Tokyo: Okamoto, Sachie, 2001. “The Movement and Activities of En-
United Nations University Press vironmental NGOs in Indonesia” in IGES Policy Trend
KK-PKD, 2001. “Potret Kehutanan Kabupaten Kutai Barat. Report 2001. p.13-23. Tokyo: Soubun Printing Co.Ltd.
Sendawar : Kelompok Kerja Program Kehutanan Daerah
[KK-PKD].
Indonesia Guidelines 41~52

LAMPIRAN-LAMPIRAN
Lampiran 1 42
Sudut Pandang LSM: Panduan Pengembangan Pengelolaan Hutan Partisipatif
Disiapkan oleh:
Sachie Okamoto, JANNI

Lampiran ini berisi laporan dari hasil lokakarya beberapa LSM yang diselenggarakan di Bogor pada 14-15 April 2003 di bawah koordinasi Japan
NGO Network on Indonesia (JANNI). Pertemuan yang disponsori oleh IGES tersebut berlangsung selama dua hari. Wakil-wakil LSM yang hadir
berasal dari Jawa dan Sumatera: Forest Link (Ngawi), Konsorsium Pendukung Sistem Hutan Kerakyatan (KP-SHK, Bogor), Rimbawan Muda
Indonesia (RMI, Bogor), Lembaga Studi Pemantauan Lingkungan (LSPL, Medan), Hakiki (Pekanbaru), HuMa (Jakarta), Warsi (Jambi). SHK Kalbar
tidak dapat hadir tetapi mengirimkan catatan.

Sebagai hasil masukan dari beberapa daerah di Indonesia, Lampiran ini bermanfaat sebagai bahan pembanding untuk Kutai Barat, sebab di sini dapat
dilihat gambaran permasalahan daerah-daerah lain dan upaya-upaya yang diperlukan untuk mengatasinya. Pada umumnya permasalahan harus
diatasi secara terpadu dengan melibatkan berbagai pihak yang berkepentingan.

①. Merealisasikan Peranserta Masyarakat

Untuk dapat merealisasikan peranserta masyarakat posisi Masyarakat harus dilihat sebagai setara dengan Pemerintah atau Badan Usaha Milih Negara
Indonesia Guidelines

(BUMN), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dan Badan Usaha Milik Swasta (BUMS). Peranserta atau partisipasi yang dimaksud idealnya adalah
pada tingkat kemitraan dan mobilisasi diri (lihat tingkat-tingkat partisipasi pada Bagian Pendahuluan).

Contoh-contoh masalah:
ƒ "Peranserta masyarakat" dalam program Perhutani, PIR, HTI- ƒ Pemerintah dan pengusaha meragukan kemampuan rakyat
Trans. Posisi tawar masyarakat lemah, mereka tidak dapat untuk mengelola sumber daya alam (SDA).
berperanserta dalam pengelolaan hutan secara sejajar, tidak ƒ Program konservasi tidak efektif.
memiliki kekuatan untuk mempengaruhi manajemen Perhutani ƒ Kebijakan tidak berpihak kepada rakyat.
atau BUMS. ƒ Izin untuk eksploitasi hutan setempat tanpa pemberitahuan
ƒ Upah tidak dibayar oleh perusahaan. sebelumnya kepada rakyat.
ƒ Pembagian hasil tidak adil. ƒ Hutan lebih dipandang sebagai sumber pendapatan asli
ƒ Kontrak tidak adil. daerah (PAD).
ƒ Petani hanya sebagai buruh. ƒ Pemerintah daerah dan pusat lebih melindungi Pengusaha.
ƒ Program PSDH (Pengelolaan Sumberdaya Hutan) Rakyat yg ƒ Pemerintah lamban dalam menanggapi tuntutan Masyarakat.
dipromosikan pemerintah merupakan lebih dirasakan sebagai ƒ Masih ada konflik vertikal (antara Daerah dan Pusat).
tekanan dan paksaan oleh masyakat. ƒ Masih ada pencurian kayu dan penebangan liar.
ƒ Masyarakat tidak terorganisir.
Tabel 1: Upaya multi-pihak untuk merealisasikan peranserta masyarakat dalam pengelolaan hutan.
Masyarakat Hutan BUMN & BUMS Pemerintah Daerah (Badan Pemerintah Pusat LSM Lembaga Media
(masyarakat yang tinggal (termasuk BUMD) eksekutif dan legislatif (Departemen Pusat serta badan Penelitian Massa
dalam atau sekitar hutan) Kabupaten /Kota, serta Camat legislatif)
dan Kades)

ƒ Mengorganisir diri ƒ Paradigma tentang ƒ Paradigma selama ini harus diubah: ƒ Menfasilitasi
agar memperkuat rakyat selama ini o Fungsi SDH: dari sumber kayu ke keanekaragaman fungsi. keperluan
posisi tawar. harus diubah: dari o Peruntukan: dari sumber devisa ke peningkatan masyarakat.
Organisasi tersebut “buruh” atau “obyek kesejahteraan masyakarat.
perlu memenuhi yang dibina” ke o Pengelola: dari negara ke multi-pihak dan masyarakat ƒ Advokasi
unsur dibawah ini: “mitra kerja”. hutan. /usulan
o Adanya aturan o Masyarakat: dari pembinaan atau pemberdayaan ke alternatif
hukum kemitraan. kepada
penyelenggaraan Perhutani,
yang jelas. ƒ Untuk itu perlu ƒ Untuk mengubah pradigma tersebut harus memenuhi perusahaan
o Struktur organisasi dipenuhi unsur persyaratan dibawah ini: swasta, dan
yang jelas. dibawah ini a) Adanya transparansi dalam penyusunan peraturan Pemerintah.
o Adanya sistem transparansi, perundang-udangan, kebijakan serta implementasinya.
insentif bagi akuntabilitas b) Adanya mekanisme dengan kepastian hukum untuk ƒ Penguatan
ƒ Kampanye pengelolaan oleh masyarakat.

anggota. (tanggung gugat). melakukan pertanggung-gugat publik. sistem PSDH


o Ada nilai-nilai c) Adanya sistem perencanaan, pelaksanaan serta oleh inisiatif
yang jelas. ƒ Adanya unit/bagian pemantauan/evaluasi dengan peranserta masyarakat. Rakyat.
tidak hanya mendukung pandangan Pemerintah)

yang dapat
ƒ Identifikasi hak-hak menampung keluhan ƒ Pemangkasan birokrasi yang tidak efesien
dan kewajiban dalam dari masyarakat atau
Sachie Okamoto, JANNI

ƒ Kebijakan Daerah ƒ Kebijakan berpihak pada


ƒ Kampanye kasus yang tidak adil dalam pengelolaan hutan.

partisipasi pihak luar.


usaha/pengelolaan (PSDH) berbasis rakyat rakyat. Penyusunan
hutan (self- ƒ Pemangkasan dengan menggunakan kebijakan yang mendukung
identification). birokrasi di tubuh metodologi partisipatif kearifan masyarakat dalam
BUMN & BUMS. dalam proses penyusunan pengelolaan hutan *2).
ƒ Konsolidasi dengan kebijakan.*1)
seluruh anggota (ada ƒ Mencabut PP No. 34 yang
mekanisme yang mengistimewakan Perhutani.
demokratis dalam
proses keputusan). ƒ Kebijakan yang membuat
Perhutani melakukan
ƒ Negosiasi dengan partisipasi masyarakat (dalam
arti “mitra” atau “setara”)
ƒ Penguatan substansi sistem PSDH oleh rakyat (mendukung sistem yang berbasis kerakyatan,

pihak yang berkait.

*1) Contoh: Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Kotawaringin Timur (dalam penyusunan kebijakan, melibatkan seluruh pihak yang berkepentingan atau
Stakeholder).
43
44
*2) Contoh yang baik: SK Menteri No. 49/98 tentang Kawasan dengan Tujuan Istimewa (KDTI): memberikan pengakuan kepada pengelolaan hutan
dengan sistem repong oleh masyarakat di Krui, Lampung. Contoh yang buruk: Kabupaten Wonosonbo vs Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat
(PHBM, Perhutani).

② Penyelesaian persengketaan
Contoh-contoh masalah:
ƒ Penggunaan kekerasan. ƒ Perbedaan nilai masyarakat lokal dengan pendatang.
ƒ Batas wilayah kurang jelas sebagai akar banyak permasalahan, ƒ Konflik horisontal.
ƒ Akses masyarakat ke hutan dibatasi.oleh BUMN/BUMS. ƒ Pencurian kayu.
ƒ Pergeseran nilai budaya.
Tabel 2. Upaya multi-pihak untuk mengatasi atau mengurangi persengketaan dalam pengelolaan hutan

Masyarakat Hutan BUMN & BUMS Pemerintah Daerah Pemerintah Pusat LSM Media Masa

ƒ Penerapan prinsip "non-kekerasan" dalam penyelesaian sengketa. Fasilitasi Menggalang


ƒ Ada mekanisme yang jelas dalam tubuh organisasi masing-masing untuk penyeselesaian sengketa. (penyadaran dukungan
ƒ Memastikan batas (kawasan, pemilikan, konsesi, dll.), dengan memperhatikan kepentingan semua pihak proses publik
(semua stakeholder). negosiasi) bagi (informasi,
masyarakat sosialisasi).
ƒ Indentifikasi & Tunduk pada keputusan ƒ Devolusi kebijakan: Memastikan semua peraturan yang dengan pihak
Indonesia Guidelines

pemahaman yang dihasilkan (penataan dikeluarkan oleh legislatif, tidak akan merugikan yang
masalah (hak, kembali batas wilayah). masyarakat sebagai yang terkena dampak. bersangkutan.
kewajiban, dsb.)

ƒ pemetaan ƒ Perda Tata Ruang ƒ Ada inisiatif untuk


partisipatif Wilayah yang penataan ulang batas
(proses). mengakui Wilayah wilayah: mengakui sistem
Adat & Kampung*) pengaturan batas versi
ƒ Mengorganisir masyarakat (adat &
diri. ƒ Perda yang tidak men- lokal).
sertifikasikan “Wilayah
ƒ Revitalisasi norma Ulayat.” ƒ Prinsip kepemilikan lahan
pemanfaatan rakyat (MPR TAP
hutan. 9/2001).

*) Pengakuan resmi negara, sejauh tidak mencampuri atau mengatur seluk beluk internal adat itu sendiri, diperlukan untuk melindungi hak adat.
③ Kemampuan pengelolaan Hutan

Contoh-contoh masalah:
ƒ Kurang tenaga kerja (personil). ƒ Sistem tebang tidak jelas.
ƒ Manajemen penanaman tidak baik. ƒ Korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) di Perhutani.
ƒ Aturan lelang Perhutani mengakibatkan kerusakan hutan. ƒ Dominasi petugas Perhutani.
ƒ Pencemaran lingkungan akibat berbagai usaha (contoh; pabrik kelapa ƒ Swasta memperoleh lahan tambahan.
sawit, pabrik pulp & paper dll.) ƒ Konsep Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat (PHBM) tidak jelas.
ƒ Keterlibatan aparat keamanan. ƒ Manipulasi sistem PHBM.
ƒ Pungutan liar (pungli) oleh aparat Perhutani. ƒ Illegal logging/pencurian kayu

Table 3. Upaya multipihak untuk meningkatkan kemampuan pengelolaan hutan

LSM, Lembaga Media Masa dan


Masyarakat Hutan BUMN & BUMS Pemerintah Penelitian Masyakarat Umum

ƒ Menyediakan potret keadaan hutan saat ini (batas kawasan, vegetasi, hak milik, pemanfaatan, dll.) agar semua pihak dapat mempunyai
pemahaman yang sama. Menyempurnakan data yang ada selama ini dan mengumpulkan data yang dibutuhkan.
ƒ Evaluasi /peninjauan terhadap pengelolaan hutan (kinerja BUMN/BUMS) yang menyangkut semua aspek: hukum, sosial, metode
pengelolaan , kelayakan skala usaha/luas area, dll.
ƒ Evaluasi/review program Hutan Kemasyarakatan selama ini.

ƒ Perubahan paradigma dari keuntungan semata ke keletarian (sustainable oriented).*1) ƒ Kampanye anti pola pengelolaan yang
ƒ Membuat wadah buruk.
untuk mengawasi ƒ Adanya sistem kontrol ƒ Pengawasan & akuntabilitas*2)
Sachie Okamoto, JANNI

usaha perusahaan internal. Contoh : Pembukaan jalan masuk (access road*3). ƒ Kontrol ekternal:
milik negara ƒ Peningkatan kapasitas kelembagaan serta sumberdaya o Pencemaran,
maupun swasta. ƒ Tanggung gugat kepada manusia (SDM) dalam tubuh pemerintah pusat o Pengawasan (mendesak
publik*2). maupun daerah. pemerintah/pengusaha).
ƒ Secara organisasi ƒ Konsisten dalam pelaksanaan peraturan lingkungan.
meningkatkan ƒ Penerapan sistem ƒ Membangun sistem penghitungan ketat atau jatah ƒ Mendorong dan mendukung upaya-upaya
kemampuan pengelolaan hutan yang tebang tahunan (Annual Allowable Cut). perusahaan untuk kelestarian
pengelolaan hutan. berkelanjutan. ƒ Mendukung pengelolaan hutan oleh masyarakat hutan (sustainability).
yang sesuai dengan kondisi daerah masing-masing.
ƒ Penerapan standar penembangan kayu yang
mengurangi dampak negatif (Reduce Impact Logging).

ƒ Meningkatkan fungsi sosial terutama bagi masyarakat sekitar *5)


45
*1) BUMN/BUMS, ketika mengajukan permohonan izin Usaha, harus menunjukkan rencana manajemen (jumlah pegawai /peralatan yang tersedia) 46
untuk mengoperasikan usaha tersebut, sehingga sebenarnya tidak ada alasan bagi Badan Usaha tersebut untuk berdalih kekurungan tenaga ataupun
peralatan sebagai alasan tidak bisa berjalan usahanya. Alasan demikian hanya dalih untuk keuntungan saja. Sedangkan pemerintah juga hanya
melihat hutan sebagai sumber devisa dan menetapkan jatah produksi kepada BUMN. Paradigma (pola pandang) seperti ini harus diubah.

*2) BUMN/BUMS juga sebenarnya mengeluarkan biaya tambahan (extra cost) bagi aparat Pemerintah. Di lain pihak, Pemerintah tidak mengawasi
secara ketat apakah BUMN/BUMS betul-betul menaati rencana produksi yang sudah diajukannya, sehingga selalu terjadi penebangan yang
melebihi jatah tebang (over cutting).

*3) Ketika HPH, HTI, Perkebunan besar membuka access road, selalu mengakibatkan perusakan hutan karena dapat diakses dengan mudah oleh pihak-
pihak lain. Maka, perlu suatu sistem pengawasan yang ketat bila usahanya menyertai pembangunan jalan masuk (access road) ke hutan.

*4) Bila terjadi pencemaran lingkungan oleh BUMN/BUMS, tidak cukup hanya pengawasan saja, harus ada peraturan agar dapat mengambil tindakan
yang tepat terhadap pelaku.

*5) Bila BUMN/BUMS dituntut harus meningkatkan fungsi sosialnya, biasanya mereka mengatakan sudah melakukan "program-program seperti
pembinaan masyarakat desa", maka perlunya mengubah pradigma pengusahaan sumberdaya hutan. Disamping itu, pembangunan prasarana sosial
yang minimum sebenarnya harus menjadi tanggung jawab pemerintah, bukan pengusaha.

④ Pertimbangan Aspek Lingkungan Hidup (AMDAL)


Indonesia Guidelines

Contoh-contoh masalah:
ƒ AMDAL menjadi hanya alat pembenaran (justifikasi) untuk melakukan tindakan tertentu.
ƒ Data AMDAL terlalu lama dan pengumpulan data hanya yang dilakukan para ahli secara sepihak.
ƒ Kerusakan koridor marga satwa akibat pengusahaan hutan.
ƒ Kerusakan hutan akibat pengusahaan hutan.
ƒ Pengikisan humus (akibat pembukaan access road).
Table 4. Upaya multi-pihak untuk meningkatkan kepedulian pada lingkungan hidup

Pemerintah Pemrakarsa (Pelaku Lembaga Penelitian LSM


Masyarakat Hutan Usaha) Domestik/internasion-
al
Mendorong warga
PIC (Prior Informed Consent), data yg betul, informatif, tidak dimanipulasi— PIC (dimana ada proyek atau kegiatan, pihak menuntut PIC.
yang diduga terpengaruh dampaknya diberikan informasi secukupnyatentang akibat proyek itu.

ƒ Memperoleh informasi ƒ Metoda pengumpulan data yang lebih terbuka.*1)


permulaan
ƒ Prosedur & metode AMDAL sesuai dengan peraturan.
ƒ Persetujuan dan penolakan Validasi aktual
(Penentu proyek). ƒ Memastikan keterlibatan masyarakat yang terkait atau data/informasi
penerima dampak.
ƒ Mengembangkan metode dan
alat pemantauan. Contoh:
kasus PLTA Renun

ƒ Membangun mekanisme peninjauan AMDAL.*2)

*1) Selama ini pengumpulan data AMDAL, meski disebut partisipatip, kebanyakan hanya menggunakan kuesioner. Sekarang harus dilakukan
pengumpulan data yang lebih partisipatif, yang melibatkan masyarakat sebagai subyek (pelaku), dengan metode seperti Participatory Action-
Research (PAR), Community-Based Planning (CBP), dll.
Sachie Okamoto, JANNI

*2) SEL: Studi Evaluasi Lingkungan, atau Semidal: Studi Evaluasi Mengenai Dampak Lingkungan: Kerangka ini perlu diterapkan karena Izin Usaha
biasanya diberikan lebih dari 20 tahun ke atas dan dalam waktu yang lama biasanya keadaan lingkungan berubah.

⑤ Penghapusan Diskriminasi terhadap Masyarakat Hutan

Contoh-contah masalah:
ƒ Terlihat tuduhan-tuduhan stereotip terhadap masyarakat hutan seperti "terbelakang" dan "perusak hutan".
ƒ Di daerah tertentu terlihat stigma PKI terhadap masyarakat hutan, ada diskriminasi terhadap mereka yang tidak diberikan KTP.
ƒ Masyarakat sendiri kehilangan rasa percaya diri akibat kebijakan selama ini.
47
Tabel 5. Upaya multi-pihak untuk mengatasi diskriminasi terhadap masyarakat hutan 48

Masyarakat Hutan LSM Pemerintah (Pusat & Daerah) Masyarakat Media Masa
Umum

ƒ Klarifikasi pemulihan hak serta kedudukan masyarakat hutan. ƒ Pengakuan pemulihan hak Masyarakat ƒ Menghimbau agar
Adat. o menghilangkan stigma.
ƒ Ada upaya mencatat sejarah guna menumbuhkan kepercayaan diri. o menyadari semua orang
LSM mendorong upaya mereka. ƒ Adanya perubahan citra terhadap punya hak yg sama.
masyarakat hutan, Pegawai Negeri serta
anggota Badan Legislatif.
ƒ Mengoganisir diri, yaitu ƒ Mendukung dan membantu
memiliki organisai untuk masyarakat hutan dalam ƒ Pengakuan positif akan keberadaan
menampung aspirasi anggota pemulihan haknya.*1). suku dan budaya yang beranekaragam.
masyarakat:
o Adanya aturan hukum ƒ Membantu Proses litigasi ƒ Memperketat peraturan perundang-
penyelenggaraan yang jelas. (proses perkara di pengadilan). undangan tentang Hak Asasi Manusia.
o Struktur organisasi yang
jelas. ƒ Ada upaya penghapusan diskriminasi
o Adanya sistem insentif bagi serta peningkatan HAM di pendidikan
anggota. formal.
o Ada nilai-nilai yang jelas.
Indonesia Guidelines

*1) Contoh baik: Upaya LSM dan Lembaga Penelitian untuk menilai kembali sistem pengelolaan Hutan Adat selama ini.
⑥ Meningkatkan Keadaan Ekonomi Masyarakat

Contoh-contoh masalah:
ƒ Tingkat pendapatan rendah. ƒ Perusakan oleh Petani Hutan.
ƒ Jual – sewa lahan. ƒ Ancaman pemilik sawah curah.
ƒ Pembukaan lahan baru. ƒ Kecemburan sosial.
ƒ Penebangan pohon sekitar sumber air (akibat kemiskinan). ƒ Pencurian kayu.

Tabel 6. Upaya multi-pihak untuk meningkatkan status ekonomi masyarakat


Masyarakat BUMN & Pemerintah Daerah Pemerintah Pusat Lembaga Penelitian LSM
Hutan BUMS Dalam Negeri &
Internasional

ƒ Meninjau kembali program/kebijakan untuk pembinaan masyarakat di dalam/sekitar hutan selama ini

ƒ Diversifikasi ƒ Tidak ƒ Peningkatan ekonomi basis rakyat *) ƒ Mengawasi


sumber melakukan kebijakan
kehidupan. monopoli. ƒ Harus mengakui nilai dan fungsi hutan selain sebagai penghasil kayu (peninjauan pemerintah
kembali fungsi hutan). serta
ƒ Pengorganisa- ƒ Harus ada peraturan yang mengamankan sumber air, sumber kehidupan membuat
sian untuk masyarakat lokal. usulan
produksi dan ƒ Adanya kepastian hukum dalam pengusahaan dan pengelolaan sumberdaya hutan alternatif.
penjualan hasil bagi masyarakat hutan.
hutan bukan
Sachie Okamoto, JANNI

kayu.
ƒ Penerapan ƒ Adanya sistem insentif di tingkat national &
sistem agro- internasional yang mendorong perhatian pada
forestry ekonomi masyarakat hutan.

ƒ Membangun sistem pasar yang mendukung pelestarian /ramah dengan


lingkungan.
49
⑦ Menjamin Akses ke Informasi 50

ƒ Akses ke informasi terbatas.


ƒ Hak informasi tidak dihargai.
ƒ Data yang ada di masyarakat sangat terbatas.
ƒ Salah satu akibat kekurangan informasi terutama ttg hukum, sehingga terjadi illegal logging tanpa kesadaran.

Tabel 7. Upaya multi-pihak untuk menjamin akses masyarakat ke informasi

Masyarakat Pemerintah BUMN & BUMS LSM Media Masa


Lokal

ƒ Sadar hak akses ƒ Membuka akses luas bagi ƒ Pendidikan kritis ƒ Kampanye publikasi UU
informasi dan masyarakat. terhadap kebebasan akses ke
data. informasi/data yang informasi.
ƒ Pemberian sanksi bagi yang ada selama ini.
ƒ Mengumpulkan menghalangi informasi.*2)
dan menyusun
data sendiri. *1) ƒ Melepas data/info.
ƒ Transparansi & validasi data dan informasi.
Indonesia Guidelines

ƒ Mengemas data/info agar mudah dipahami.

*1) Agar mereka yakin bahwa mereka juga memiliki data/informasi khususnya tentang lingkungan mereka, tidak harus tergantung pada instansi seperti
Bappeda, sebab itu pun belum tentu valid.
*2) Misalnya Dinas Kehutanan tidak memberikan peta HPH, perlu dikenakan sanksi (karena sudah ada ketetapan).

⑧ Penegakan Hukum

8-1. Masalah Penegakan Hukum Negara


ƒ Masyarakat kurang percaya pada hukum. ƒ Fungsi pemerintah belum optimal ƒ Reformasi agraria tidak jelas.
ƒ Adanya tindakan frustrasi sosial. ƒ Kurangnya upaya pemerintah untuk ƒ Pencurian Kayu.
ƒ Perlawanan (resistensi) masyarakat terhadap peningkatan /publikasi tentang hukum ƒ Illegal logging.
aparat. ƒ Konflik vertikal (penafsiran peraturan ƒ Suap/kreditor mafia.
ƒ Kesadaran masyarakat/rakyat terhadap perundang-undangan antara instansi
hukum negara masih rendah. pemerintah berbeda-beda).
Tabel 8. Upaya multi-pihak untuk meningkatkan penegakan hukum Negara

Masyarakat Pemerintah LSM Masyarakat Lembaga Penegak Hukum


Hutan Umum Penelitian (Polisi, Jaksa,
Pers Hakim)
ƒ Mengikuti ƒ Aturan mekanisme penegakan hukum ƒ Fasilitasi ƒ Menggalang sanksi sosial Melaksanakan tugas
pendidikan ƒ Harus mengenakan sanksi yang sesuai pendidikan bagi Penegak Hukum. masing –masing
paralegal. dengan tingkat perbuatan paralegal. hanya sesuai dengan
kriminal.Contoh: kasus illegal peraturan
logging.*1) ƒ Pengawasan perundang-
ƒ Bagi Penegak Hukum adanya sistem penegakan undangan sebagai
ganjaran (reward) serta sanksi yang hukum. Penegak Hukum
lebih berat profesional.
ƒ Perda dibuat sesuai TAP MPR
no9/2001.
ƒ Menegakkan UU No. 28 Tahun 1999
tentang Bebas KKN dan
Penyelenggaraan Negara yang Bersih.

ƒ Review kasus-kasus kehutanan: Supaya lebih jelas bagi LSM maupun masyarakat (kasus-kasus apa saja yang telah
terjadi dan bagaimana penanganannya.

*1) Contoh buruk: Di Sumatera Utara 2 orang yang diduga terlibat pencurian kayu diserahkan kepada Polisi bersama dengan barang bukti, tetapi Polisi
menghilangkan barang bukti serta melepaskan mereka..
Sachie Okamoto, JANNI

8-2. Menghargai Hukum Adat

Contoh-contoh masalah:
ƒ Aparat/pemerintah tidak menghargai Hukum Adat.
ƒ Pengamanan hutan oleh rakyat tidak didukung Pemerintah Daerah.
51
Tabel 9. Upaya multi-pihak untuk meningkatkan penghargaan terhadap hukum adat 52

Masyarakat Hutan Pemerintah LSM Masyarakat umum Lembaga


Pers penelitian

ƒ Praktek Peradilan ƒ Mendukung Hukum ƒ Re-evaluasi atas ƒ Meningkatkan ƒ Re-evaluasi


Adat: Lembaga Adat: apabila Hukum pengelolaan kesadaran dan atas
Adat masih kuat Adat jelas tidak hutan secara Adat pemahaman terhadap pengelolaan
(kombinasi: Adat, melanggar HAM, bersama dengan pengelolaan hutan hutan secara
Agama, tidak merusak Masyarakat secara adat. Adat.
Pemerintah). lingkungan serta tidak Hutan.
memacetkan kegiatan
ekonomi.

⑨. Peran Lembaga Swadaya Masyarakat

Contoh-contoh masalah:
ƒ Karena ada kecenderungan arah (trend) bahwa LSM perlu dilibatkan dalam proyek tertentu, maka munculnya banyak LSM yang sebenarnya tidak
layak dipanggil LSM.
ƒ Untuk meraih kontrak dalam sebuah proyek, ada perusahaan yang menyebut dirinya “LSM” atau perusahaan mendirikan “LSM”.
Indonesia Guidelines

ƒ Citra LSM di kalangan masyarakat juga kurang jelas.

Tabel 10. Upaya multi-pihak untuk meningkatkan peran Lembaga Swadaya Masyarakat

Masyarakat Hutan LSM Media Masa Pemerintah Organisasi Pendanaan


ƒ Membuat kode etik LSM.
ƒ Redefinisi /Reposisi LSM.*1)
ƒ Perubahan paradigma LSM.

ƒ Peninjauan persyaratan pelibatan LSM dalam Proyek.*2)


ƒ Penerapan prinsip kemitraan.*3)
ƒ Pola penelitian terhadap LSM diperbaiki.*4)

ƒ Mengkomunikasikan ke
masyarakat/publik.
*1) Ada perusahaan Konsultan yang menyebut dirinya LSM agar mudah meraih proyek. Ada pengusaha menunggu kehadiran proyek dan mendirikan
LSM. Tetapi pandangan masyarakat sendiri terhadap LSM belum jelas.
*2) Tidak harus diwajibkan "pelibatan LSM" dalam pelaksanaan proyek khusus proyek yang didanai lembaga dana internasional (international funding
agency).
*3) Tidak dianggap perpanjangan tangan pemerintah atau lembaga dana.
*4) Menilai LSM dari website-nya saja tidak akan tepat; harus mampu menilai kemampuan LSM yang sebenarnya.

⑩. Organisasi Pendanaan

ƒ Kebanyakan LSM tergantung keuangannya pada organisasi pendanaan (funding organization), terutama organisasi Internasional.
ƒ Ada banyak LSM yang tidak terbuka mengenai sumber keuangannya kepada masyarakat yang mereka dampingi.
ƒ Kurang informasi tentang organisasi pendanaan.
ƒ Tema dan kecenderungan arah (trend) kegiatan LSM sangat terpengaruh keinginan organisasi pendanaan.
ƒ Pada umumnya LSM agak sulit berposisi sejajar dengan lembaga yang memberi mereka dana.
ƒ Alokasi dana Pemerintah kurang tepat, sedikit sekali anggaran untuk mendukung kemandirian Masyarakat.

Tabel 11: Upaya dan sikap LSM dalam memperoleh dan menggunakan dana

Masyarakat
Masyarakat Hutan LSM Organisai Pendanaan Pemerintah Internasional
Sachie Okamoto, JANNI

ƒ Meminta/ bebas informasi ƒ Terbuka untuk ƒ Mengurangi & mendialogkan ƒ Alokasi dana khusus ƒ Mengawasi
kepada lembaga pendanaan. menjelaskan lembaga tekanan isu strategis. untuk pemulihan. pemberian
pemberi dananya dukungan
ƒ Memberi dukungan kepada masyarakat. ƒ Kesetaraan dalam penetapan ƒ Mekanisme Lembaga
Pendanaan bagi LSM agenda/ isu. pengalokasikan dana pendanaan.
(Kemandirian). ƒ Mengurangi diperbaiki (efisien).
ketergantungannya ƒ Transparan dan akuntabel
pada Lembaga
pendanaan.
53
54 Indonesia Guidelines
Indonesia Guidelines 55~56

Lampiran 2

Unsur Strategis dan Langkah Administratif


untuk Menunjang Partisipasi Masyarakat dalam Pengelolaan Hutan
Dua Tabel di bawah berisi masing-masing unsur-unsur strategis dan dan langkah-langkah administratif yang perlu
diperhatikan dan diambil oleh Pemerintah untuk menunjang peran serta masyarakat dalam pengelolaan hutan di
Indonesia. Kedua Tabel diambil dari naskah “National Policy Recommendation” yang disiapkan oleh Prof. Hiroji
Isozaki, Dr. Satoshi Tachibana and Kiyoshi Komatsu untuk Forest Conservation Project IGES.

Tabel 1: Unsur Strategis untuk Menjamin Partisipasi Masyarakat Lokal

Situasi Tindakan yang diperlukan Oleh Siapa


Kendati ada kebijakan a) Menyusun pedoman implementasi Pemerintah
reformasi, Pemerintah kebijakan dan revisi hukum di mana perlu.
mengalami kesulitan
dalam b) Peningkatan kemampuan (Capacity Lembaga
mengimplementasikann building) aparat Pemerintah. Internasional,
ya secara efektif. Pemerintah, dan
LSM.
Tidak efektifnya tracing Pembentukan sistem pemantauan (monitoring LSM dan
system produksi kayu. system) atau sistem ombudsman. Masyarakat
Akademik
Korupsi pada dan tidak Pembaruan sistem yudisial dan Pemerintah,
efektifnya sistem pengembangan mekanisme alternatif LSM
yudisial penyelesaian perbedaan pendapat (dispute
settlement). Atau menggunakan sistem
ombudsman dan pengadilan HAM yang
merupakan mekanisme baru yang dibangun
dalam proses demokratisasi sesudah jatuhnya
rejim Orde Baru.
Kurangnya kesadaran / Meningkatkan kesadaran masyarakat dan Pemerintah,
pengetahuan masyarakat Pemerintah akan hak-hak masyarakat lokal. LSM.
lokal tentang hak atas
hutan sebagaimana
dituangkan dalam
Undang-Undang.
56 Indonesia Guidelines

Table 2: Langkah-langkah administratif yang perlu diambil oleh Pemerintah Pusat dan Daerah

Pemberian 1. Pemberian dukungan kepada masyarakat lokal dalam bentuk


dukungan bantuan keuangan, teknis, dan sumber daya manusia dan
mendorong investasi swasta dalam pengelolaan hutan kolektif.
2. Melaksanakan program peningkatan kemampuan/keterampilan
bagi pegawai Pemerintah, anggota-anggota LSM, Wartawan, dan
Masyarakat setempat guna memperbesar kemampuan di bidang
pengelolaan hutan yang berkelanjutan.
3. Membangun suatu sistem yang memungkinkan advis dari
kalangan Pakar, termasuk mengenai langkah-langkah yudisial.
Mengambil langkah guna mendorong penggunaan sistem
tersebut seperti perluasan jumlah Pakar, jaringan antar Pakar,
dan inventarisasi Pakar.
Menjamin 4. Mendukung dan mendorong pengelolaan hutan secara kolektif
pengelolaan oleh Masyarakat setempat.
hutan kolektif 1) Memberi prioritas kepada pengelolaan hutan kolektif oleh
dan individual Masyarakat setempat disamping pengelolaan hutan skala
besar oleh Perusahaan, dalam proses pemberian ijin oleh
Pemerintah.
2) Di mana perlu / bisa pemerintah memberikan wewenang
pengelolaan kolektif kepada suatu Lembaga / Badan yang
dibentuk Masyarakat, guna menjalankan kegiatan
pengelolaan tertentu dan menyediakan dukungan teknis
kepada Lembaga / Badan tersebut.
3) Koordinasi antar Departemen dan Otoritas yang
bersinggungan dengan pengelolaan hutan kolektif dalam
menyusun perencanaan kehutanan dan antar Pemerintah
Daerah dan antara Pemerintah Daerah dengan Pemerintah
Pusat.
5. Penyusunan rencana untuk mendukung penanaman pohon dan
distribusi manfaat dalam rangka individual-based forest
management (pengelolaan hutan perorangan).
“Tracing 6. Diseminasi informasi mengenai tracing systems dan jaminan
systems” atas akses ke informasi.
produksi kayu 7. Pembentukan sistem pemantauan atau tracing systems guna
menjamin kegiatan yang sah dalam produksi dan distribusi kayu,
terutama memberi perhatian khusus kepada prosedur di log
pond.
Penyebaran 8. Penyebaran informasi yang berkaitan dengan pengelolaan hutan
informasi dan jaminan akses ke informasi tersebut.