Anda di halaman 1dari 4

Batik Jetis

1.Sejarah

Batik Jetis memiliki sejarah cukup panjang, bermula pada 1675 konon saat itu seorang bangsawan pelarian datang ke

daerah  Kauman-Sidokare.Batik tersebut dibawa oleh Mbah Mulyadi, keturunan Raja Kediri.Daerah tersebut terdapat

suatu komunitas dan pasar “krempyeng” (pasar tradisional), kemudian bangsawan tersebutlah yang mengajarkan pada

masyarakat setempat untuk membatik. 

Motif yang mereka buat saat itu, memiliki filsafat tersendiri disesuaikan dengan masyarakat setempat. Antara lain motif

kembang bayem (bayam), tebu (banyak pabrik gula/kebun tebu), beras utah (beras tumpah. Saat itu pada 1800-an

terdapat penggilangan padi besar. Menunjukkan kemakmuran dan surplus beras di daerah tersebut), iris-iris tempe,

isuk-sore (merupakan motif klasik) dan lainnya.

Pada masa itu, motif yang dibuat berdasarkan situasi daerah tersebut. Pada masa itu Sidoarjo adalah daerah pertanian,

perkebunan yang sangat makmur. Penghasil beras (ada penggilingan beras yang besar) dan tebu (ada pabrik gula).

Maka munculah motif-motif seperti kembang bayem, beras utah, tebu dan semacamnya. Namun perkembangan usaha

batik tulis Jetis baru nampak pada tahun 1950-an.

History

Jetis Batik has a long history, originated in 1675 when it allegedly a fugitive
nobleman came to the area-Sidokare.Batik Kauman were brought by Mbah Mulyadi,
a descendant of King Kediri.Daerah there are a community and market "krempyeng"
(traditional market), then tersebutlah nobleman who teaches at the local community
to batik. 
  
The motive that they made at the time, has its own philosophy adapted to the local
community. Among other flower motif bayem (spinach), sugar (lots of sugar factory /
garden cane), rice Utah (rice spilled. It was in the 1800's there were big rice
penggilangan. Indicates prosperity and a surplus of rice in the area), sliced tempeh ,
isuk-afternoon (a classic motif) and others. 
At that time, the motif is based on the regional situation. At that time Sidoarjo is a
rural community, highly prosperous plantation. Producing rice (there is a large rice
milling) and sugarcane (no sugar factory). So munculah motifs such as flowers
bayem, Utah rice, sugarcane and the like. However, the development of new
business batik Jetis appear in the 1950's. 

2.Alat dan bahan membuat batik

Berikut ini adalah alat dan bahan yang harus disiapkan untuk membuat batik tulis : 

o Kain mori (bisa terbuat dari sutra atau katun)


o Canting sebagai alat pembentuk motif,
o Gawangan (tempat untuk m enyampirkan kain)
o Lilin (malam) yang dicairkan
o Panci dan kompor kecil untuk memanaskan
o Larutan pewarna

3.Cara membuat Batik

Sebelum dilakukan proses penggambaran motif batik, kain mori lebih dulu direndam dengan minyak kacang dan soda

as yang dilarutkan dalam air yang disebut dengan proses pengetelan.  Proses ini bertujuan agar selama proses

pembatikan kain mori tidak mengalami pengerutan. Selain itu proses tersebut membuat warna batik mudah menempel

dan tidak gampang memudar.

Adapun tahapan-tahapan dalam proses pembutan batik tulis ini: 

1. Langkah pertama adalah membuat desain batik yang biasa disebut molani. Dalam penentuan
motif, biasanya tiap orang memiliki selera berbeda-beda. Ada yang lebih suka untuk
membuat motif sendiri, namun yang lain lebih memilih untuk mengikuti motif-motif umum
yang telah ada. Motif yang kerap dipakai di Indonesia sendiri adalah batik yang terbagi
menjadi 2 : batik klasik, yang banyak bermain dengan simbol-simbol, dan batik pesisiran
dengan ciri khas natural seperti gambar bunga dan kupu-kupu. Membuat design atau motif ini
dapat menggunakan pensil.
2. Setelah selesai melakukan molani, langkah kedua adalah melukis dengan (lilin) malam
menggunakan canting (dikandangi/dicantangi) dengan mengikuti pola tersebut.
3. Tahap selanjutnya, menutupi dengan lilin malam bagian-bagian yang akan tetap berwarna
putih (tidak berwarna). Canting untuk bagian halus, atau kuas untuk bagian berukuran besar.
Tujuannya adalah supaya saat pencelupan bahan kedalam larutan pewarna, bagian yang
diberi lapisan lilin tidak terkena.
4. Tahap berikutnya, proses pewarnaan pertama pada bagian yang tidak tertutup oleh lilin
dengan mencelupkan kain tersebut pada warna tertentu .
5. Setelah dicelupkan, kain tersebut di jemur dan dikeringkan.
6. Setelah kering, kembali melakukan proses pembatikan yaitu melukis dengan lilin malam
menggunakan canting untuk menutup bagian yang akan tetap dipertahankan pada
pewarnaan yang pertama.
7. Kemudian, dilanjutkan dengan proses pencelupan warna yang kedua.
8. Proses berikutnya, menghilangkan lilin malam dari kain tersebut dengan cara meletakkan
kain tersebut dengan air panas diatas tungku.
9. Setelah kain bersih dari lilin dan kering, dapat dilakukan kembali proses pembatikan dengan
penutupan lilin (menggunakan alat canting)untuk menahan warna pertama dan kedua.
10. Proses membuka dan menutup lilin malam dapat dilakukan berulangkali sesuai dengan
banyaknya warna dan kompleksitas motif yang diinginkan.
11. Proses selanjutnya adalah nglorot, dimana kain yang telah berubah warna direbus air panas.
Tujuannya adalah untuk menghilangkan lapisan lilin, sehingga motif yang telah digambar
sebelumnya terlihat jelas. Anda tidak perlu kuatir, pencelupan ini tidak akan membuat motif
yang telah Anda gambar terkena warna, karena bagian atas kain tersebut masih diselimuti
lapisan tipis (lilin tidak sepenuhnya luntur). Setelah selesai, maka batik tersebut telah siap
untuk digunakan.
12. Proses terakhir adalah mencuci kain batik tersebut dan kemudian mengeringkannya dengan
menjemurnya sebelum dapat digunakan dan dipakai.

4.Pemasaran
Batik Tulis Jetis ini

Saat ini perajin batik Jetis berjumlah 16 perajin dapat menghasilkan 50 – 200 batik perperajin. Jumlah ini mengalami

penurunan dibanding dengan 10 tahun yang lalu. Dimana di daerah Jetis setiap rumah, perempuannya  adalah

pembatik. Penurunan ini  dikarenakan mereka mulai memiliki alternatif lain yang dirasa lebih baik untuk memiliki

penghasilan. Saat ini di Sidoarjo, kampung Jetis telah resmi menjadi kampung batik “Kampung Batik Jetis”. Menjadikan

kampung yang terletak di tengah kota ini sebagai pusat perdagangan batik. 

Translate

How to make

1. The first step is to create batik designs commonly called molani. In determining
the motive, usually each person has different tastes. Some prefer to make their own
motives, but others prefer to follow the general motives that already exist. Motifs are
often used in Indonesian batik, which itself is divided into 2: classical batik, a lot of
playing with the symbols, and coastal batik with natural characteristics such as
pictures of flowers and butterflies. Create a design or motif can use a pencil. 
2. After completing the molani, the second step is to paint with (wax) night using a
canting (dikandangi / dicantangi) by following the pattern. 
3. The next stage, covered with candle night parts will remain white (no
color). Canting to the fine, or brush to a large part. The goal is that when dyeing the
material into the dye solution, the wax layer is not exposed. 
4. The next phase, the first coloring process on the part that is not covered by the
wax with a cloth dipped in a certain color. 
5. Once dyed, the fabric is in drying and dried. 
6. Once dry, re-do the process of painting with wax batik using canting to cover
evening section will be maintained in the first staining. 
7. Then, proceed with the second color dyeing process. 
8. The next process, removing wax from the cloth night by putting the cloth with hot
water on the stove. 
9. After a clean cloth from wax and dried, can be re-closure process of batik with wax
(using a canting) to hold the first and second color. 
10. The process of opening and closing night candles can be performed repeatedly
in accordance with the number of colors and complexity of the desired motif. 
11. The next process is nglorot, where the fabric has changed the color of boiled hot
water. The goal is to eliminate a layer of wax, so the motive which has previously
drawn clearly visible. You do not need to worry, this immersion will not make your
motives have been exposed to color images, as part of the fabric is still shrouded in
a thin layer (wax is not completely washed out). Once completed, the batik is ready
for use. 
12. The last process is to wash the batik cloth and then dry with a drying before it
can be used and worn. 

Marketing

Currently totaling 16 Jetis batik crafters crafters can produce 50-200 batik
perperajin.This number has decreased compared with 10 years ago. Where in the
Jetis every home, daughter is a batik. The decrease is because they begin to have
an alternative that is felt better to have an income. Currently in Sidoarjo, the village
has officially become Jetis batik village "Kampung Batik Jetis". Making the village
which is located in the middle of the city as the center of the batik trade.

Promotional efforts do not stop there. Working closely with Circle of Friends & Yuk Guk
Sidoarjo, in the grand final and also held a fashion show Jetis batik. Cooperation with travel
service providers who bring tourists also performed. Thus, travelers who use these services
will be directed to Jetis to see Kampoeng Batik Jetis closer. 
Inauguration Kampoeng Batik Jetis was not accompanied with the sustainability of
community that has been formed previously. The effort did not stop young people for
granted. They continue to seek community successor organization to eventually set up a
cooperative. Koperasi Batik Sidoarjo inaugurated on December 31, 2008. The cooperative
still survive today and have an outlet as well as accommodate batik showroom result
craftsmen members. 
And in terms of turnover per month can sell 500 pieces 

Upaya promosi tak berhenti di situ saja. Bekerja sama dengan Paguyuban Guk & Yuk
Kabupaten Sidoarjo, pada grand final yang lalu turut diadakan peragaan busana batik tulis Jetis.
Kerja sama dengan penyedia jasa travel yang membawa wisatawan juga dilakukan. Dengan
demikian, wisatawan yang menggunakan jasa tersebut akan diarahkan langsung ke Jetis untuk
melihat Kampoeng Batik Jetis dari dekat.

Peresmian Kampoeng Batik Jetis ternyata tidak dibarengi dengan keberlanjutan paguyuban
yang telah terbentuk sebelumnya. Upaya kaum muda tak berhenti begitu saja. Mereka terus
mengupayakan organisasi pengganti paguyuban hingga akhirnya mendirikan sebuah koperasi.
Koperasi Batik Tulis Sidoarjo diresmikan pada 31 Desember 2008. Koperasi ini masih bertahan
hingga sekarang dan memiliki sebuah outlet sebagai showroom sekaligus menampung batik
hasil pengerajin anggotanya.

Dan dari segi omzet per bulan bisa laku 500 potong