Anda di halaman 1dari 51

ASUHAN KEPERAWATAN PADA

KLIEN DENGAN KLIMAKTERIUM

By
Ida Maryati, S.Kp., M.Kep., Sp.Mat
Pengertian Klimakterium

 Masa yang bermula dari akhir masa


reproduksi sampai awal masa senium dan
terjadi pada wanita berumur 40-65 tahun.

 Fase perkembangan yang dialami oleh


seorang wanita yang melewati tahapan
reproduksif menjadi non produktif akibat
regresi fungsi ovarium dan biasanya terjadi
antara 12-18 tahun.
Fase

 Pra menopause adalah kurun waktu 4-5


tahun sebelum menopause.

 Menopause adalah henti haid seorang


wanita.

 Pasca menopause adalah kurun waktu 3-5


tahun setelah menopause
Fase pramenopause
 Siklus haid yang tidak teratur, dengan perdarahan haid yang
memanjang dan jumlah darah haid yang relatif banyak dan
kadang kadang disertai nyeri haid (dismenorea).

 Timbul keluhan vasomotorik dan keluhan sindrom pramenstrual


(PMS).

 Perubahan endokrinologik yang terjadi adalah berupa fase


folikuler yang memendek, kadar esterogen yang tinggi, kadar
FSH juga biasanya tinggi, tetepi juga dapat kadar FSH yang
normal. Fase luteal tetap stabil. Akibat kadar FSH yang tinggi
ini dapat terjadi perangsangan ovarium yang berlebihan
(hiperstimulasi) sehingga kadang – kadang dijumpai kadar
estrogen yang sangat tinggi.
Menopause
 Jumlah folikel yang mengalami atresia makin meningkat, sampai suatu
ketika tidak tersedia lagi folikel yang cukup.
 Produksi estrogenpun berkurang dan tidak terjadi haid lagi yang berakhir
dengan terjadinya menopause.
 Menopause tidak terjadi pada wanita yang menggunakan kontrasepsi
hormonal. Perdarahan terus terjadi selama wanita masih menggunakan pil
kontrasepsi secara siklik.
 Untuk menentukan diagnosa menopause, penggunaan pil kontrasepsi
harus segera dihentikan dan satu bulan kemudian dilakukan pemeriksaan
FSH dan estradiol.
 Pada awal menopause kadar estradiol rendah pada sebagian wanita,
sedangkan pada wanita gemuk, kadar estradiol dapat tinggi. Hal ini terjadi
akibat proses aromatisasi androgen menjadi estrogen di dalam jaringan
lemak.
 Diagnosis menopause merupakan diagnosis retrospektif. Bila seorang
wanita tidak haid selama 12 bulan, dan dijumpai kadar FSH darah > 40
mIU/ml
Pascamenopause

 Pasca menopause adalah masa setelah


menopause sampai senilis.

 Fase ini terjadi pada usia di atas 60 – 65


tahun.

 Biasanya wanita beradaptasi dengan


perubahan fisik dan psikologis.
Etiologi

 Sebelum haid terhenti, sebenarnya pada seorang wanita


terjadi berbagai perubahan dan penurunan fungsi pada
ovarium seperti :
– Sklerosis pembuluh darah
– Berkurangnya jumlah folikel
– Menurunnya sintesis steroid seks
– Penurunan sekresi estrogen
– Gangguan umpan balik pada hipofise

 Menopause dapat terjadi lebih dini akibat beberapa


penyakit, antara lain anemia dan tuberkulosis.
 Selain itu menopause dapat terjadi secara buatan sebagai
akibat pembedahan dan pengangkatan kedua ovarium atau
pengobatan dengan sinar radiasi.
Fungsi Estrogen

 Perkembangan ovarium, tuba, uterus dan


vagina
 Perkembangan seks sekunder
 Proliferasi endometrium
Fungsi Progesteron

 Interaksi dengan hypothalmus and pituitary


to mengatur siklus menstruasi
 Produksi perubahan sekret di endometrium
 Meningkatkan viscositasy mukus cerviks
 Menyiapkan payudara untuk laktasi selama
kehamilan
Dampak Kekurangan Estrogen

 Hot flashes
 Gangguan tidur
 Urogenital Atrophy
 Osteoporosis
 Skin Dryness
 Aging
Manifestasi klinis

 Gejolak panas ( hot flushes)


 Jantung berdebar – debar
 Gangguan tidur
 Depresi
 Mudah tersinggung, berasa takut, gelisah dan lekas marah
 Sakit kepala
 Cepat lelah, sulit konsentrasi, mudah lupa, kurang tenaga
 Berkunang-kunang
 Kesemutan
 Gangguan libido
 Obstipasi
 Berat badan bertambah
 Nyeri tulang dan otot
Patofisiologi
 Menopause terjadi karena habisnya folikel (sel telur) pada indung
telur. Jumlah sel telur ketika seorang dilahirkan adalah ± 733.000 dan
jumlah ini terus berkurang selama masa kanak-kanak dan masa
reproduksi. Pada usia 39 – 45 tahun jumlah sel telur kira-kira 10.900.

 Pada setiap siklus haid sebanyak 20 – 1000 sel telur akan


dipersiapkan untuk berkembang, tetapi umumnya hanya 1 folikel
yang akan berkembang pesat dan mengalami ovulasi ( pelepasan sel
telur dari folikel indung telur ). Sisanya dan juga sebagian besar sel
telur akan mengalami hambatan perkembangan, penyusutan dan
penyerapan. Dengan demikian sel-sel telur yang tidak berhasil
tumbuh menjadi matang akan mati. Hal ini yang ditandai dengan
masih datangnya haid secara teratur. Seiring dengan tumbuh dan
berkembangnya sel telur dalam indung telur maka hormon estrogen
dan progesteron akan mengalami peningkatan sehingga semakin
sedikit folikel yang berkembang semakin berkurang pembentukan
hormon estrogen dan progesteron.
 Selain itu, kekuatan atau kelenturan alat kelamin luar ( vagina dan
vulva ) menurun. Demikian juga jaringan alat tubuh lainnya yang
berada di bawah pengaruh hormon estrogen.
 Penurunan fungsi ovarium menyebabkan berkurangnya kemampuan
ovarium untuk menjawab rangsangan gonadotropin, sehingga
terganggunya interaksi antara hipotalamus-hipofise.
 Pertama-tama terjadi kegagalan fungsi luteum kemudian
menurunnya fungsi steroid ovarium menyebabkan berkurangnya
reaksi umpan balik negatif terhadap hipotalamus. Keadaan ini
meningkatkan produksi FSH serta LH dan dari kedua gonadotropin
itu, ternyata yang paling mencolok peningkatannya adalah FSH.
 Pada wanita masa reproduksi, estrogen yang dihasilkan 300-800 ng,
pada masa pramenopause menurun menjadi 150-200 ng, dan pada
pascamenopause menjadi 20-150 ng.
Perubahan Pada Organ Reproduksi

 Uterus
Ukuran mengecil oleh karena menciutnya selaput
lendir rahim (atropi endometrium) hilang cairan dan
perubahan bentuk jaringan ikat antar sel.

 Tuba Fallopi
Lipatan tubuh menjadi > pendek, menipis dan
mengendosalping adanya rambut getar dalam tuba
(silia) kemudian menghilang.
 Ovarium
Makin bertambah umur, maka jumlahnya makin berusia
40-50 tahun rata-rata jumlah sel primodial berkurang s.d
8.300 karena adanya ovulasi pada setiap haid dan
proses terhentinya pertumbuhan folikel primodial.

 Serviks
Akan mengerut sampai terselubung oleh dinding vagina
atropi, kripta servikal kanalis servikalis memendek,
menyerupai ukuran serviks fundus pada masa
adolescent.
 Vagina
Terdapat penipisan dinding vagina sehingga menyebabkan
hilangnya rugae (lipatan vagina), berkurangnya pembuluh darah,
elastisitas menurun, secret encer, indeks kario pianotik menurun,
PH vagina meningkat karena terlambatnya pertumbuhan jasad
renik vagina oleh karena peningkatan cadangan gula sel.
 Vulva
– Menipis karena berkurangnya dan hilangnya jaringan lemak dan
jaringan elastis.
– Kulit menipis dan pembuluh darah berkurang : pengerutan lipatan
vulva.
– Pruritus oleh karena atropi dan secret kulit (-)
– Rambut di mons pubis berkurang lebatnya.
– Nyeri saat sanggama (disparema) mengerutnya intratus
Perubahan Pada Organ Non Reproduksi

 Dasar Panggul
Kekuatan dan elastisitasnya menurun karena
penciutan (atropi dan melanya daya sokong prolapsus
uterovaginal/turunnya alat-alat kelamin bagian dalam)

 Anus dan Perineum


Lemak dibawah kulit (-), atropi otot sekitarnya
menyebabkan tonus spinkter melemah dan
menghilang, sering terjadi inkontensia alvi vagina.
 Vesika Urinaria (Bladder)
Aktivitas kendali spinkter dan otot detruser (otot
bladder hilang).

 Lemak subkutan diserap, atropi parenkim, lobulus


menciut, stroma ikat menebal, putting susu
mengecil, kurang erektil, pigmentasi menurun,
payudara mendatar dan mengendor.
Perubahan Pada Susunan Ekstragenital

 Adipositas (penimbunan lemak) diduga berhubungan


dengan penurunan estrogen dan gangguan
pertukaran zat dasar metabolisme lemak.

 Hipertensi
Peningkatan TD selama klimakterium terjadi secara
bertahap kemudian menetap dan lebih tinggi dari TD
sebelumnya.
 Hiperkolosterolemia
 Aterosklerosis
 Vinilisasi (hilangnya rambut)
– Penurunan O2 dan peningkatan pembentukan
ostion.
 Esteopenia
– Pengurangan kadar mineral tulang →
osteroporosis (pengeroposan tulang)
Penatalaksanaan

Terapi sulih hormon (TSH)


 TSH atau HRT (Hormon Replacement Terapy) merupakan
pilihan untuk mengurangi keluhan pada wanita dengan keluhan
atau sindroma menopause dalam masa premenopause dan
postmenopause. Selain itu, TSH juga berguna untuk menjaga
berbagai keluhan yang muncul akibat menopause, seperti
keluhan vasomotor, vagina yang kering, dan gangguan pada
saluran kandung kemih. Penggunaan TSH juga dapat
mencegah perkembangan penyakit akibat dari kehilangan
hormon estrogen, seperti osteoporosis dan jantung koroner.
Jadi, tujuan pemberian TSH adalah sebagai suatu usaha untuk
mengganti hormon yang ada pada keadaan normal untuk
mempertahankan kesehatan wanita yang bertambah tua.
Syarat minimal sebelum pemberian
estrogen dimulai

 Tekanan darah tidak boleh tinggi.


 Pemeriksaan sitologi uji Pap normal.
 Besar uretus normal ( tidak ada mioma uterus ).
 Tidak ada varises di ekstremitas bawah.
 Tidak terlalu gemuk / tidak obesitas.
 Kelenjar tiroid normal.
 Kadar normal : Hb, kolesterol total, HDL, trigliserida, kalsium,
fungsi hati.
 Nyeri dada, hipertensi kronik, hiperlipidemia, diabetes militus
perlu dikonsulkan terlebih dahulu ke spesialis penyakit dalam.
Kontra Indikasi Pemberian Estrogen

 Troboemboli, penderita penyakit hati,


kolelitiasis.
 Sindrom Dubin Johnson / Botor yaitu
gangguan sekresi bilirubin konjugasi.
 Riwayat ikterus dalam kehamilan.
 Kanker endometrium, kanker payudara,
riwayat gangguan penglihatan, anemia berat.
 Varises berat, tromboflebitis.
Persyaratan dalam Pemberian Estrogen

 Mulailah dengan menggunakan estrogen lemah (estriol) dan


dengan dosis rendah yang efektif.
 Pemberian secara siklik.
 Diusahakan kombinasi degan progesteron (bila digunakan
estrogen lain seperti etinil estradiol maupun estrogen
konjugasi).
 Perlu pengawasan ketat ( setiap 6-12 bulan ).
 Bila terjadi perdarahan atipik perlu dilakukan kuretase.
 Keluhan nyeri dada, hipertensi kronik, hiperlipidemia, diabetes
melitus, terlebih dahulu konsul ke bagian penyakit dalam.
Yang perlu diketahui

 Tidak semua keluhan dapat dihilangkan


dengan pemberian estrogen.
 Pelajari faktor-faktor yang menimbulkan
keluhan (faktor psikis, sosial budaya, atau
hanya memang terdapat kekurangan
estrogen ).
 Atasi keluhan emosi dan faktor penyebab
Beberapa cara yang dapat mengurangi
keluhan wanita menopause

 Hindari makanan berlemak, alkohol dan kafein


 Berpakaian tipis dan menyerap keringat
 Soy food eats
 Kegel exercise
 Napas dalam dan pelan 6x/mnt saat hot flushes
 Aktifitas seksual tetap aktif untuk menjaga elastisitas
vagina
 Menggunakan tehnik relaksasi seperti yoga, tai chi,
dll
 Menggunakan lubricant saat koitus
Efek samping pemberian TSH

 Nyeri payudara
 Peningkatan berat badan
 Keputihan dan sakit kepala
 Perdarahan
Olahraga

 Olahraga akan meningkatkan kebugaran dan


kesehatan seseorang, biasanya ini juga
membawa dampak positif, seperti :
– Menguatkan tulang
– Meningkatkan kebugaran
– Menstabilkan berat badan
– Mengurangi keluhan menopause
– Mengurangi stress akibat menopause
 Olahraga bagi wanita yang mengalami menopause
tentu saja berbeda dengan wanita yang masih dalam
usia reproduktif karena biasanya beberapa organ
tubuhnya sudah tidak berfungsi sempurna, selain itu
beberapa penyakit sudah dideritanya.
 Tujuan olahraga bagi wanita menopause adalah
selain menjaga kebugaran juga untuk mengurangi
atau mengobati penyakit.
 Jenis-jenis olahraga yang bisa dilakukan untuk
wanita usia menopause yaitu jalan cepat, senam,
dan berenang.
Nutrisi (Diet)

 Bertambahnya usia menyebabkan beberapa organ


tidak melakukan proses perbaikan (remodelling) diri
lagi, misalnya masa tulang tidak melakukan
pembentukan kembali. Selain itu, semakin tua aktivitas
gerak yang dilakukan juga tidak sekuat dulu sehingga
kalori yang dikeluarkan juga berkurang sehingga kalori
yang dibutuhkan untuk metabolisme tubuh juga
menurun dengan demikian, asupan makanan yang
dibutuhkan juga berkurang. Sehingga setiap orang
tetap membutuhkan makanan bergizi seimbang yang
berfungsi untuk memenuhi zat – zat gizi seperti
karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral.
Fitoestrogen

 Terdapat pada: the hijau, kacang kedelai dan


produknya (tahu, tempe, tauco), gandum,wijen,
kacang-kacangan, biji bunga matahari
 Konsumsi fitoestrogen dapat mengurangi gejala: hot
flushes, profil lipid dalam lemak, mencegah
aterosklerosis, menghambat pertumbuhan sel
kanker, memulihkan memory,mengurangi perasaan
depresi
 Konsumsi fitoestrogen tidak berpengaruh terhadap
pencegahan osteoporosis dan vaginal dryness
Kalsium

 Kebutuhan 1200mg/hari

 Dapat diperoleh pada: susu,keju,daun


pepaya,bayam, teri, tahu, singkong, daun
melinjo,kedelai, apel, kangkung, kacang ijo
dan pepaya,kacang tanah kupas, ikan segar,
beras giling, roti putih, ayam, dan daging
sapi.
Gaya Hidup

 Gaya hidup seseorang menentukan


kesehatannya di masa yang akan mendatang.
Perubahan gaya hidup untuk pencegahan
jantung koroner pada wanita, salah satu dgn
mengurangi atau kalau mungkin menghentikan
merokok termasuk minum minuman beralkohol.
 Hal penting yang juga perlu diperhatikan adalah
masalah makanan dan olahraga, pola makanan
yang baik, disesuaikan dengan kebutuhan gizi
usia tersebut serta aktivitas.
Olahraga

 Olahraga tanpa beban


 Gerakan yang dilarang:
– Melompat
– Membungkuk dengan punggung ke depan seperti gerakan
mengambil sesuatu di lantai
– Menggerakkan kaki ke samping atau ke depan melawan
beban
 Gerakan yang dianjurkan:
– Aerobik ringan
– Jalan kaki
– Berenang
Komplikasi

Penyakit Jantung Koroner


 Keluhan yang mempengaruhi fungsi jantung dan pembuluh darah
meliputi : kulit terasa kering, keriput dan longgar dari ototnya oleh
karena turunnya sirkulasi menuju kulit, badan terasa panas
termasuk wajah, terjadi perubahan sirkulasi pada wajah yang dapat
melebar ke tengkuk (hot flushes), mudah berdebar – debar terjadi
tekanan darah tinggi yang berlanjut ke penyakit jantung koroner.
Penurunan kadar estrogen menyebabkan meningkatnya kadar
kolesterol LDL (kolesterol jahat) dan menurunnya kadar kolesterol
HDL (kolesterol baik)

 Adanya hipertensi dan peningkatan kadar kolesterol menyebabkan


meningkatkan faktor resiko terhadap terjadinya aterosklerosis.
Khususnya mengenai sklerosis primer koroner dan infark miocard
akan terjadi 1-2 kali lebih sering setelah kadar estrogen menurun.
Osteoporosis
 Dengan turunnya kadar estrogen, maka
proses osteoblast yang berfungsi
membentuk tulang baru terhambat dan
fungsi osteoclast merusak tulang meningkat.
Akibat tulang tua diserap dan dirusak
osteoclast tetapi tidak dibentuk tulang baru
oleh osteoblast, sehingga tulang menjadi
osteoporosis.
Dimensia
 Wanita pascamenopause biasanya
kemampuan berfikir dan ingatnnya menurun
hal ini merupakan pengaruh dari
menurunnya hormon estrogen, dimana
hormon estrogen ini dapat mempengaruhi
kerja dari degenerasi sel – sel saraf dan sel
– sel otak.
Pengkajian
 Pengkajian yang dilaksanakan pada pasien dengan gangguan
masa klimakterium selain pengkajian secara umum juga
dilakukan pengkajian khusus yang ada hubungannya dengan
gangguan masa klimakterium yang meliputi :
 Haid
– Menarche
– Lamanya
– Banyaknya
– Siklus
– Dismenore
 Riwayat penyakit keluarga
 Riwayat obstetri
– Kehamilan
– Abortus
– Pemakaian obat kontrasepsi
 Riwayat perkawinan
 Kebiasaan hidup sehari-hari
– Istirahat
– Pola kegiatan
– Diet
 Penyakit yang pernah diderita
 Pengetahuan pasien dan keluarga tentang masalah
yang sedang dialami
 Keluhan-keluhan yang sedang dialami
Diagnosa keperawatan

 Ganguan pola tidur berhubungan dengan stress


psikologis
 Perubahan proses pikir berhubungan dengan
perubahan fisiologis proses penuaan
 Nyeri berhubungan dengan fisik/psikologik ( contoh :
spasme otot , usia lanjut )
 Gangguan harga diri berhubungan dengan
perubahan feminitas atau ketidakmampuan
mempunyai anak
 Resiko tinggi terhadap disfungsi seksual
berhubungan dengan perubahan fungsi (penurunan
libido)
Intervensi

Ganguan pola tidur berhubungan dengan


stress psikologis
 Tujuan :
– Pasien melaporkan perubahan dalam pola
tidur/istirahat
– Pasien mengungkapkan peningkatan rasa
sejahtera atau segar
 Tentukan kebiasaan tidur dan perubahan yang terjadi
– Mengkaji perlunya dan mengidentifikasi intervensi yang tepat
 Berikan tempat tidur yang nyaman
– Meningkatkan kenyamanan tidur serta dukungan fisiologis dan
psikologis
 Tingkatkan kenyamanan waktu tidur misal: mandi air hangat,
masase
– Meningkatkan efek relaksasi
 Kurangi kebisingan dan lampu
– Memberikan situasi kondusif untuk tidur
 Dorong posisi yang nyaman
– Perubahan posisi mengubah area tekanan dan meningkatkan istirahat
 Kolaborasi pemberian sedatif jika perlu
– Untuk membantu pasien tidur/istirahat
Intervensi

Perubahan proses pikir berhubungan dengan


perubahan fisiologis proses penuaan
 Tujuan :
– Pasien mamapu mempertahankan orientasi
realita sehari – hari
– Pasien mampu mengenali perubahan pola
pemikiran dan tingkah laku
 Sediakan waktu adekuat bagi pasien untuk memberikan respon
terhadap pertanyaan
– Waktu reaksi mungkin diperlambat dengan proses penuaan
 Catat masalah pasien tentang daya ingat jangka pendek dan
sediakan bantuan
– Kehilangan ingatan jangka pendek dapat berguna untuk mengetahui
bahwa hal ini merupakan sesuatu yang wajar
 Evaluasi tingkat stess individu dan hadapi dengan tepat
– Tingkat stess mungkin dapat meningkat dengan pesat karena kehilangan
yang baru terjadi, seperti proses penuaan
 Reorientasikan pada orang/ waktu/ tempat sesuai kebutuhan
– Membantu pasien untuk mempertahankan fokus
 Catat perubahan siklik dalam mental / tingkah laku
– Mungkin timbul sebagai respon dari penurunan fisiologis tubuh
Intervensi

Nyeri berhubungan dengan fisik/psikologik


( contoh : spasme otot , usia lanjut )
 Tujuan :
– Keluhan nyeri berkurang/terkontrol
– Pasien tampak rileks
– Pasien mampu melakukan aktivitas
 Kaji keluhan nyeri, perhatikan intensitas (skala 0 – 10 ),
lamanya dan lokasi
– Sebagai dasar pengawasan keefektifan intervensi
 Berikan tindakan kenyamanan
– Menurunkan ketegangan otot , memfokuskan kembali
perhatian dan meningkatkan kemampuan koping
 Batasi aktivitas fisik pasien
– Mengurangi pengeluaran energi
 Dorong teknik managemen stress (relaksasi)
– Memfokuskan kembali perhatian dan kontrol individu
 Berikan analgesik sesuai indikasi
– Menghilangkan nyeri dan mengurangi ketidaknyamanan
Intervensi

Gangguan harga diri berhubungan dengan


perubahan feminitas atau ketidakmampuan
mempunyai anak
 Tujuan :
– Pasien menyatakan masalah dan menunjukkan
pemecahan masalah yang sehat
– Pasien menyatakan penerimaan diri pada situasi
dan adaptasi terhadap perubahan pada citra
tubuh
 Berikan waktu untuk mendengar masalah dan ketakutan pasien
– Memberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan konsep,
seperti : perubahan tubuh karena menopause Kaji stress emosi pasien.
 Dorong pasien untuk mengekspresikan dengan tepat
– Biasanya wanita takut tak mampu memenuhi peran reproduksi dan
mengalami kehilangan
 Berikan informasi akurat tentang masalah pasien
– Memberikan kesempatan pada pasien untuk bertanya dan
mengasimilasi informasi
 Berikan lingkungan terbuka pada pasienuntuk mendiskusikan
masalah seksualitas
– Meningkatkan keyakinan dan mengidentifikasi kesalahan konsep/ mitos
yang dapat mempengaruhi penilaian situasi
Intervensi

Resiko tinggi terhadap disfungsi seksual berhubungan


dengan perubahan fungsi (penurunan libido)
 Tujuan :
– Pasien menyatakan pemahaman perubahan fungsi seksual
– Pasien mampu mendiskusikan masalah tentang hasrat
seksual pasangan dengan orang terdekat
– Pasien mampu mengidentifikasi kepuasan seksual yang
diterima
 Kaji informasi pasien / orang terdekat tentang fungsi seksual
– Masalah seksual sering tersembunyi sebagai pernyataan humor atau
hal yang gamblang
 Dorong pasien untuk berbagi masalah dengan teman
– Komunikasi terbuka dapat mengidentifikasi masalah dan
meningkatkan diskusi dan resolusi
 Solusi pemecahan masalah potensial seperti : menunda koitus
saat kelelahan, menggunakan minyak vagina
– Membantu pasien kembali pada hasrat/ kepuasan aktivitas seksual
 Diskusikan sensasi/ ketidaknyamanan fisik, perubahan pada
respon individu
– Perubahan kadar hormon dan kehilangan sensasi irama kontraksi
uterus selama orgasme mengganggu kepuasan seksual
 Rujuk ke konselor/ahli seksualitas
– Mungkin dibutuhkan bantuan tambahan untuk meningkatkan
kepuasan hasil
Evaluasi

 Klien melaporkan perubahan dalam pola tidur/istirahat


 Klien mengungkapkan peningkatan rasa sejahtera atau segar
 Klien mamapu mempertahankan orientasi realita sehari – hari
 Klien mampu mengenali perubahan pola pemikiran dan tingkah laku
 Klien menyatakan nyeri berkurang/terkontrol
 Klien tampak rileks
 Klien mampu melakukan aktivitas
 Klien menyatakan masalah dan menunjukkan pemecahan masalah
yang sehat
 Klien menyatakan penerimaan diri pada situasi dan adaptasi
terhadap perubahan pada citra tubuh
 Klien menyatakan pemahaman perubahan fungsi seksual
 Klien mampu mendiskusikan masalah tentang hasrat seksual
pasangan dengan orang terdekat
 Klien mampu mengidentifikasi kepuasan seksual yang diterima