Anda di halaman 1dari 10

Pertimbangan untuk gizi pada bayi dan anak

terinfeksi HIV
Kekurangan gizi adalah keadaan lazim pada anak terinfeksi HIV dan menyumbang secara besar
pada mortalitas di antara anak yang tidak terinfeksi HIV maupun pada mereka yang terinfeksinya.
Pada anak terinfeksi HIV, wasting (yaitu berat badan yang rendah dibandingkan
tinggi/panjangnya) dikaitkan dengan jangka tahan hidup yang lebih pendek (137), sementara
kehilangan berat badan menyebabkan peningkatan dalam penyakit menular pada anak dengan
AIDS. Sebaliknya HIV dikaitkan dengan masalah gizi, dan status kekebalan serta tingkat
replikasi virus dapat menjadi penting untuk memprediksikan hasil pertumbuhan.
Pertumbuhan (yaitu kombinasi berat badan, panjang atau tingginya badan, dan garis keliling
kepala) adalah indikator yang peka mengenai gizi optimal dan lanjutan penyakit HIV(i). Pada anak
yang terinfeksi HIV, persoalan pertumbuhan yang parah (yaitu kegagalan untuk tumbuh sebagai
kriteria penyakit klinis stadium 3 dan kekurangan gizi/wasting yang parah sebagai kriteria
stadium 4) yang tidak diakibatkan oleh kurang masukan gizi dapat menunjukkan kebutuhan akan
permulaan ART. Pertumbuhan juga berguna dalam penilaian tanggapan terhadap ART.
Sebaliknya, efek buruk yang dapat diakibatkan oleh obat ARV atau infeksi oportunistik dapat
mempengaruhi masukan makanan dan gizi secara umum, dengan kebaikan yang terbatas pada
pertumbuhan dan/atau kepatuhan pada terapi sebagai akibat.
Berikut adalah rangkuman singkat mengenai intervensi gizi yang merupakan kunci terkait dengan
perawatan untuk bayi dan anak terinfeksi HIV sebelum dan selama ART. Untuk informasi lebih
lanjut, sebaiknya mengacu pada buku dan pedoman yang ada mengenai penatalaksanaan klinis
atau gizi untuk anak terinfeksi HIV (141-148).
Penilaian dan dukungan gizi
Mengingat bahwa ada hubungan yang erat antara infeksi HIV, status gizi dan pertumbuhan, WHO
mengusulkan bahwa intervensi gizi secara dini (yaitu penilaian dan dukungan gizi) harus menjadi
bagian yang terpadu dari rencana perawatan untuk anak terinfeksi HIV.
Penilaian gizi, yaitu evaluasi secara sistematis status gizi, diet dan gejala terkait gizi saat itu,
adalah sangat penting untuk mengidentifikasikan kekurangan gizi dan pertumbuhan yang buruk
secara dini, serta untuk memantau kelanjutan penyakit HIV dan efektivitas terapi untuk anak yang
memakai ART. Seperti untuk semua bayi, bayi terinfeksi HIV harus diukur setiap bulan, terbaik
dengan memakai grafik pertumbuhan standar. Setelah itu anak seharusnya ditimbang pada setiap
peninjauan dan penilaian gizi dilakukan secara penuh setiap tiga bulan kecuali kalau anak yang
bersangkutan membutuhkan perhatian khusus karena masalah pertumbuhan atau kebutuhan gizi
khusus.
Pendekatan proaktif pada dukungan gizi untuk anak terinfeksi HIV adalah penting karena
kebutuhan tenaga yang lebih tinggi terkait infeksi. Pada anak terinfeksi HIV tanpa gejala, energi
yang dikeluarkan saat istirahat meningkat kurang lebih 10%, sementara peningkatan pada
kebutuhan energi antara 50% dan 100% pernah dilaporkan pada anak terinfeksi HIV yang
mengalami kegagalan tumbuhan. Penggunaan dan pengeluaran gizi yang lebih tinggi pada infeksi
HIV dapat mengakibatkan kekurangan gizi mikro (149). Oleh karena itu, dukungan gizi harus
termasuk upaya dini untuk meneruskan penyusuan bila mungkin, memastikan pemasukan gizi
yang memadai berdasarkan makanan yang tersedia lokal dan terjangkau, serta pemasukan gizi

mikro setiap hari sama dengan kebutuhan diet yang dianjurkan (recommended daily
allowance/RDA) (146, 147, 150). Diusulkan untuk meningkatkan pemasukan energi untuk bayi
dan anak terinfeksi HIV dengan 10% RDA untuk usia dan jenis kelamin bila mereka tanpa gejala
dan 20-30% RDA bila mereka bergejala atau mulai pulih dari infeksi akut (148). Kebutuhan ini
dianggap minimal dan lebih banyak mungkin dibutuhkan pada anak dengan kekurangan gizi
(151). Kebutuhan protein yang ditingkatkan melebihi yang dibutuhkan untuk diet seimbang agar
memenuhi kebutuhan energi total (12-15% pemasukan energi total) tidak dibutuhkan (148).
Bukti saat ini tidak jelas mengenai dampak suplemen gizi mikro pada penularan dan kelanjutan
penyakit infeksi HIV. Namun bukti dari uji coba klinis yang dilakukan secara acak pada anak
terinfeksi HIV mengkonfirmasikan hasil dari penelitian pada orang tidak terinfeksi HIV yang
menunjukkan bahwa tambahan dosis tinggi vitamin A mengurangi morbiditas keseluruhan dan
morbiditas akibat diare serta mortalitas semua penyebab (150, 152, 153). Tambahan vitamin A
seharusnya diberikan sesuai dengan jadwal pencegahan dosis tinggi yang diusulkan oleh WHO
untuk anak berisiko tinggi(i) kekurangan vitamin A (144). Konseling ibu-ibu mengenai penyusuan
dan semua anak dan pengasuhnya mengenai kebersihan makanan dan air adalah unsur kunci
lanjut untuk dukungan gizi.
Pada anak yang mengalami kegagalan pertumbuhan (yaitu kegagalan untuk menambah berat
badan, atau kehilangan berat badan di antara pengukuran berkala) atau kesulitan makan,
dukungan yang lebih terpusat mungkin dibutuhkan. Bila penyebab dasar kegagalan pertumbuhan
diketahui, hal ini dapat memberi informasi yang berharga mengenai strategi dukungan lanjutan.
Strategi ini dapat meliputi pengobatan untuk penyakit yang mendasarinya (penyakit umum harus
ditangani sesuai pedoman IMCI(ii)), penilaian kebutuhan untuk mulai atau mengalihkan ART,
bimbingan pada keluarga mengenai pilihan makanan yang tersedia lokal dan rujukan pada
program makanan, terbaik dengan dukungan untuk keluarga keseluruhan. Lagi pula, pemilihan
makanan khusus berenergi tinggi yang enak untuk anak dengan masalah yang mengganggu
makan atau pencernaan yang normal (mis. sakit tenggorokan atau mulut, kandidiasis mulut, diare)
dapat meringankan gejala dan memastikan pemasukan energi yang cukup.
ART pada bayi dan anak dengan kekurangan gizi yang parah
Wasting(iii) parah adalah tanda klinis yang umum untuk infeksi HIV pada anak. Semua anak
dengan kekurangan gizi yang parah berisiko terhadap berbagai masalah yang gawat dan
membutuhkan makanan terapeutik secara mendesak. Fase pengobatan kekurangan gizi harus
mulai ART belum diketahui. Oleh karena itu pendapat para pakar memberi kesan bahwa anak
terinfeksi HIV dengan kekurangan gizi yang parah sesuai dengan pedoman internasional (146,
147) atau nasional harus distabilkan sebelum diambil keputusan mengenai permulaan ART.
Pengobatan awal kekurangan gizi yang parah melanjut sehingga anak stabil pada pengobatan
tersebut dan nafsu makan sudah pulih. Pada anak tidak terinfeksi HIV, fase awal ini seharusnya
tidak lebih dari 10 hari, tetapi para pakar menganggap bahwa pada anak terinfeksi HIV,
tanggapan pada pengobatan awal untuk kekurangan gizi yang parah mungkin lebih lama atau
sangat terbatas. Setelah pengobatan awal yang berhasil untuk kekurangan gizi yang parah dan
infeksi atau masalah mendasar, keadaan klinis si anak harus dinilai kembali. Permulaan ART
dapat dipertimbangkan berdasarkan kriteria didaftarkan pada Bagian V. Untuk anak terinfeksi
HIV yang membaik secara lambat setelah pengobatan untuk kekurangan gizi, dapat diambil
i Anak berisiko tinggi kekurangan vitamin A termasuk, antara lain, mereka dengan infeksi parah atau
kekurangan gizi energi protein yang parah.
ii Tersedia di http://www.who.int/child-adolscent-health/publications/pubIMCI.htm
iii WHO mendefinisikan kekurangan gizi yang parah sebagai wasting (yaitu kurang dari 70% berat/tinggi
badan dibandingkan anak rata-rata atau kurang dari minus tiga standard deviation dari median) atau
oedema pada kedua kaki (referensi 146).
XIII. Pertimbangan untuk gizi pada bayi dan anak terinfeksi HIV
XIII–3
keputusan (untuk pasien rawat inap atau rawat jalan) setelah enam sampai delapan minggu bila
mereka belum mencapai 85% berat/tinggi badan (yaitu sembuh). Namun anak terinfeksi HIV
yang dirawat lagi dengan kekurangan gizi yang parah mungkin akan mendapat manfaat dari ART
yang dimulai lebih dini. Harus ditekankan bahwa, bila kekurangan gizi endemis, anak terinfeksi
HIV dapat mengalami kekurangan gizi yang parah karena kekurangan diet yang seimbang secara
memadai, dan dengan pemulihan status gizi permulaan ART mungkin tidak dibutuhkan. Hal ini
mungkin terutama penting dipertimbangkan untuk anak yang didagnosis secara presumptif
dengan penyakit HIV yang parah. Namun, permulaan ART diindikasikan pada bayi dan anak
terinfeksi HIV dengan kekurangan gizi parah tanpa alasan jelas yang tidak disebabkan oleh
infeksi oportunistik yang belum diobati, dan yang tidak menanggapi terapi gizi yang baku (yaitu
penyakit klinis stadium 4).
Pada anak yang meningkatkan berat badan secara cepat karena gizi yang memadai dan ART,
takaran ART harus sering ditinjau kembali (lihat Lampiran E). Kambuhnya kekurangan gizi yang
parah yang tidak disebabkan oleh kekurangan makanan pada anak yang memakai ART dapat
menunjukkan kegagalan terapi dan kebutuhan akan mengalihkan rejimen (lihat Bagian X).
Belum diterbitkan penelitian mengenai efektivitas, farmakokinetik dan keamanan ARV pada anak
kekurangan gizi yang parah. Penelitian lanjutan mengenai masalah ini dibutuhkan secara
mendesak.

Asuhan gizi merupakan komponen penting dalam perawatan individu yang terinfeksi HIV.
Mereka akan mengalami penurunuan berat badan dan hal ini berkaitan erat dengan kurang gizi.
Penyebab kurang gizi bersifat multifaktoral antara lain karena hilangnya nafsu makan, gangguan
penyerapan sari makanan pada alat pencernaan, hilangnya cairan tubuh akibat muntah dan diare,
dan gangguan metabolisme. Akibat gangguan tersebut kesehatan umum mereka cepat menurun.
Sekitar 97% Odha menunjukkan kehilangan berat badan sebelum meninggal. Kehilangan berat
badan tidak dapat dihindarikan sebagai konsekuensi dari infeksi HIV. Jika seseorang dengan
infeksi HIV mempunyai status gizi yang baik maka daya tahan tubuh akan lebih baik sehingga
memperlambat memasuki tahap AIDS.

Asuhan gizi dan terapi gizi medis bagi Odha sangat penting bila mereka juga mengkonsumsi
obat-obat antiretroviral. Makanan yang dikonsumsi mempengaruhi penyerapan ARV dan obat
infeksi oportunistik dan sebaliknya penggunaan ARV-OI dapat menyebabkan gangguan gizi.
Beberapa jenis ARV-OI harus dikonsumsi pada saat lambung kosong, beberapa obat lainnya
tidak. Pengaturan diet dapat juga digunakan untuk mengurangi efek samping ARV-OI.

Status gizi Odha sangat dipengaruhi oleh kebutuhan dan asupan zat gizi. Asupan zat gizi yang
tidak memenuhi kebutuhan akibat infeksi HIV akan menyebabkan kekurangan gizi yang bersifat
kronis dan pada stadium AIDS terjadi keadaan kurang gizi yang kronis dan drastis yang
mengakibatkan penurunan resistensi terhadap infeksi lainnya. Untuk mengatasi hal tersebut
penatalaksanaan gizi yang baik untuk Odha amat berguna untuk meningkatkan kualitas hidup
seseorang dengan HIV/AIDS.

1. Tujuan asuhan gizi

Tujuan asuhan gizi bagi Odha secara umum adalah mempertahankan kesehatan dan status gizi
serta meningkatkan kekebalan tubuh sehingga kualitas hidup akan lebih baik.

2. Paket asuhan gizi

Asuhan gizi bagi Odha dilakukan melalui tiga kegiatan yang merupakan paket kegiatan yang
terdiri dari:

1. Pemantauan status gizi


2. Intervensi gizi
3. Konseling gizi

(1) Pemantauan status gizi

o Pemantauan status gizi bertujuan untuk mengetahui kondisi Odha apakah


mempunyai status gizi normal, kurang atau buruk. Pemantuan ini dilakukan
dengan cara:

a. Anamnesis diet

 Dilakukan dengan cara menanyakan pola makan yang dilakukan selama 2


atau 3 hari sebelumnya untuk mengetahui pola makan dan asupan zat gizi
serta mengetahui kemungkinan potensi kekurangan zat gizi.
o b. Pengukuran antropometri
 Dilakukan penukuran tinggi badan dan berat badan untuk mengetahui
Indeks Massa Tubuh (IMT) serta pengukuran lingkar lengan atas (LiLA)
untuk mengetahui seberapa jauh terjadi kekurangan zat gizi makro seperti
Kurang Energi Protein.
o c. Pemeriksaan laboratorium
 Pemeriksaan laboratorium yang biasa dilakukan adalah pemeriksaan Hb,
albumin dan prealbumin, kholesterol, trigliserida, fungsi hati, dan kadar
zat gizi mikro dalam darah misalnya: zat besi, magnesium, asam folat, vit
B12, vit A, dll.
 Pemeriksaan kadar hemoglobin untuk mengetahui apakah Odah
menderita anemia.
 Pemeriksaan albumin dan prealbumin dianjurkan pada Odha
dengan penyakit ginjal dan hati, untuk mengetahui apakah terjadi
peningkatan atau penurunan kadar albumin.
 Pemeriksaan laboratorium lain seperti kolesterol, trigliserida,
enzim-enzim hati, kadar besi, magnesium dan apabila mungkin
asam folat, vitamin B12 dan vitamin A (retinol) dilakukan untuk
mengetahui profil Lipid, fungsi hati kekurangan vitamin serta
mineral dalam tubuh. Kadar serum Ferritin akan meningkat pada
fase akut infeksi HIV.

(2) Intervensi gizi

o Intervensi gizi harus dilakukan secara komprehensif meliputi upaya promotif,


preventif, kuratif dan rehabilitatif bekerja sama dengan berbagai profesi yang
terkait dengan pelayanan Odha. Intervensi gizi dapat dilakukan di rumah sakit,
dan institusi pelayanan kesehatan lainnya serta di keluarga. Di rumah sakit,
pelayanan dilakukan oleh Tim Asuhan Gizi.
Dalam upaya intervensi gizi, upaya promotif sangat perlu dilakukan untuk
menyebarluaskan informasi tentang pentingnya mempertahankan status gizi yang
optimal agar orang yang terinfeksi HIV tidak cepat masuk dalam stadium AIDS.

Pada Odha yang mendapatkan obat ARV dan OI perlu diperhatikan efek ARV-OI
terhadap fungsi pencernaan seperti mual, muntah, diare karena keadaan ini dapat
mempengaruhi asupan gizi dan status gizi mereka.

(3) Konseling gizi

o Tujuan konseling gizi adalah agar Odha mendapatkan jaminan kebutuhan gizi
yang sesuai dengan kondisi kesehatan dan kemampuan/daya beli keluarga,
pendamping Odha dan masyarakat.

Konseling gizi diberikan kepada Odha, keluarga, pendamping Odha dan


masyarakat lingkungannya serta petugas kesehatan agar Odha mendapatkan
asupan gizi yang cukup, aman, terjangkau.

Konseling mencakup penyuluhan tentang HIV/AIDS dan pengaruh infeksi HIV


pada status gizi. Konseling juga meliputi tatalaksana gizi, terapi gizi medis serta
penyusunan diet, termasuk pemilihan bahan makanan setempat, cara memasak
dan cara penyajian, keamanan makanan dan minuman, serta aspek psikologis dan
efek samping dari ARV-OI yang mempengaruhi nafsu makan.

3. Terapi gizi medis

Terapi gizi medis merupakan terapi dasar selain terapi dengan obat-obatan. Terapi gizi medis
perlu dilakukan segera setelah status HIV diketahui.

Pada prinsipnya terapi diet harus mengandung kalori yang memadai, protein yang sesuai dan
berkualitas tinggi, bahan makanan yang mempunyai efek antioksidan yang tinggi serta
mengandung vitamin dan mineral yang cukup.

Tujuan terapi gizi medis pada orang dengan HIV/AIDS:

a. Meningkatkan status gizi dan daya tahan tubuh


b. Mencapai dan mempertahankan berat badan normal
c. Memberi asupan zat gizi makro dan mikro sesuai dengan kebutuhan
d. Meningkatkan kualitas hidup
e. Menjaga interaksi obat dan makanan agar penyerapan obat lebih optimal

4. Prinsip gizi medis pada Odha

Tinggi kalori tinggi protein (TKTP) diberikan bertahap secara oral (melalui mulut). Kaya
vitamin dan mineral, dan cukup air.
5. Syarat diet

Syarat diet pada orang dengan HIV:

a. Kebutuhan zat gizi dihitung sesuai dengan kebutuhan individu


b. Mengkonsumsi protein yang berkualitas dari sumber hewani dan nabati seperti daging,
telur, ayam, ikan, kacang-kacangan dan produk olahannya
c. Banyak makanan sayuran dan buah-buahan secara teratur, terutama sayuran dan buah-
buahan berwarna yang kaya vitamin A (beta-karoten), zat besi
d. Minum susu setiap hari
e. Menghindari makanan yang diawetkan dan makanan yang beragi (tape, brem)
f. Makanan bersih bebas dari pestisida dan zat-zat kimia
g. Bila Odha mendapatkan obat antiretroviral, pemberian makanan disesuaikan dengan
jadwal minum obat di mana ada obat yang diberikan saat lambung kosong, pada saat
lambung harus penuh, atau diberikan bersama-sama dengan makanan
h. Menghindari makanan yang merangsang alat penciuman (untuk mencegah mual)
i. Menghindari rokok, kafein dan alkohol

Syarat diet pada pasien AIDS:

a. Kebutuhan zat gizi ditambah 10-25% dari kebutuhan minimum dianjurkan


b. Diberikan dalam porsi kecil tetapi sering
c. Disesuaikan dengan syarat diet dengan penyakit infeksi yang menyertainya
d. Mengkonsumsi protein yang berkualitas tinggi dan mudah dicerna
e. Sayuran dan buah-buahan dalam bentuk jus
f. Minum susu setiap hari, susu yang rendah lemak dan sudah dipasteurisasi; jika tidak
dapat menerima susu sapi, dapat diganti dengan susu kedelai
g. Menghindari makanan yang diawetkan dan makanan yang beragi (tape, brem)
h. Makanan bersih bebas dari pestisida dan zat-zat kimia
i. Bila Odha mendapatkan obat antiretroviral, pemberian makanan disesuaikan dengan
jadwal minum obat di mana ada obat yang diberikan saat lambung kosong, pada saat
lambung harus penuh, atau diberikan bersama-sama dengan makanan
j. Menghindari makanan yang merangsang alat penciuman (untuk mencegah mual)
k. Rendah serat, makanan lunak/cair, jika ada gangguan saluran pencernaan
l. Rendah laktosa dan rendah lemak jika ada diare
m. Menghindari rokok, kafein dan alkohol
n. Sesuaikan syarat diet dengan infeksi penyakit yang menyertai (TB, diare, sarkoma, oral
kandidiasis)
o. Jika oral tidak bisa, berikan dalam bentuk enteral dan parenteral secara aman (Naso
Gastric Tube = NGT) atau intravena (IV)

6. Gejala klinis dan keterkaitannya dengan gangguan gizi

• Anoreksi dan disfagia


Pada umumnya pasien AIDS mengalami penurunan nafsu makan. Hal ini dapat
disebabkan oleh pengaruh obat-obatan ARV yang diminum. Di samping itu pasien AIDS
sering mengalami kesulitan menelan karena infeksi jamur pada mulut. Keadaan tersebut
memerlukan terapi diet khusus dengan memperhatikan kebutuhan asupan gizi pasien dan
cara pemberiannya.

• Diare

Adanya diare pada HIV/AIDS akan menyebabkan hilangnya zat gizi dalam tubuh seperti
vitamin dan mineral, sehingga harus diberikan asupan gizi yang tepat, terutama yang
mengandung larutan zat gizi mikro, untuk mengganti cairan tubuh yang hilang.
Dianjurkan untuk mengkonsumsi buah-buahan yang rendah serat dan tinggi kalium dan
magnesium seperti jus pisang, jus alpukat.

• Sesak nafas

Dianjurkan makanan tinggi lemak dan rendah karbohidrat untuk mengurangi CO2,
dengan porsi kecil tetapi sering. Bila asupan makan dalam sehari tidak mencukupi
kebutuhan kalori sehingga dapa menyebabkan pasien menjadi lemah, perlu diberikan
makanan tambahan dalam bentuk formula (makanan suplemen). Pemberian makanan
dapat dilakukan pada pasien dalam posisi setengah tidur agar aliran O2 ke paru lebih
optimal.

Gangguan penyerapan lemak (malabsorbsi lemak)

Pasien dengan gangguan penyerapan lemak diberikan diet rendah lemak. Dianjurkan
menggunakan sumber lemak/minyak nabati yang mengandung asam lemak tak jenuh,
seperti minyak kedelai, minyak jagung, minyak sawit. Perlu tambahan vitamin yang larut
dalam lemak (A, D, E dan K).

• Demam

Pada pasien yang demam akan terjadi peningkatan pemakaian kalori dan kehilangan
cairan. Untuk itu diberikan makanan lunak dalam porsi kecil tapi sering dengan jumlah
lebih dari biasanya dan dianjurkan minum lebih dari 2 liter atau 8 gelas/hari.

• Penurunan berat badan

Pasien yang berat badannya menurun secara drastis harus dicari penyebabnya. Pastikan
apakah ada infeksi oportunistik yang tidak terdiagnosis. Bila pasien tidak dapat makan
secara oral maka diberikan secara enteral. Makanan yang dianjurkan adalah tinggi kalori
tinggi protein secara bertahap dengan porsi kecil tapi sering serta padat kalori dan rendah
serat.

7. Kebutuhan zat gizi makro


Umunya Odha mengkonsumsi zat gizi di bawah optimal. Biasanya mereka hanya mengkonsumsi
70% kalori dan 65% protein dari total yang diperlukan oleh tubuh. Konsumsi zat gizi yang
demikian tidak memenuhi kecukupan kalori yang meningkat karena peningkatan proses
metabolisme sehubungan dengan infeksi akut.

Kebutuhan kalori Odha sekitar 2000-3000 Kkcal/hari dan protein 1,5-2 gram/kgBB/hari. Untuk
mencukupi kebutuhan kalori dan protein sehari diberikan dengan memberikan makanan lengkap
3 kali ditambah makanan selingan 3 kali sehari.

Kebutuhan kalori yang berasal dari lemak dianjurkan sebesar 10-15% dari total kalori sehari,
khusus pada Odha dianjurkan mengkonsumsi lemak yang berasal dari MCT agar penyerapan
lebih baik dan mencegah diare.

Kebutuhan zat gizi makro tersebut di atas harus dipenuhi untuk mencegah penurunan berat
badan yang drastis.

8. Suplementasi zat gizi mikro

Prinsip pemberian terapi gizi adalah pemberian zat gizi untuk pembentukan sel-sel dalam tubuh.
Namun di pihak lain HIV bersifat merusak sel-sel tersebut sehingga terjadi suatu persaingan
dalam tubuh Odha. Apabila pada saat terjadi penrusakan sel-sel dalam tubuh terdapat pula
kekurangan zat gizi maka fase AIDS akan terjadi lebih cepat.

Selain penurunan berat badan, Odha sangat rentan terhadap kekurangan zat gizi mikro, oleh
karena itu perlu suplemen multizat gizi mikro terutama yang mengandung vitamin B12, B6, A,
E, dan mineral Zn, Se dan Cu. Pemberian Fe dianjurkan pada Odha dengan anemia. Pada Odha
yang mengalami infeksi oportunistik, pemberian Fe dilakukan 2 minggu setelah pengobatan
infeksi. Mereka dianjurkan untuk mengkonsumsi 1 tablet multivitamin dan mineral setiap hari.

Pemberian suplemen vitamin dan mineral dalam jumlah besar (megadosis)agar berkonsultasi ke
dokter karena pemberian yang berlebihan justru akan menurunkan imunitas tubuh.

Kebutuhan air perlu diperhatikan dan mereka dianjurkan untuk mengkonsumsi paling sedikit 8
gelas cairan sehari untuk memperlancar metabolisme terutama pada penderita yang demam.
Dianjurkan untuk tidak mengkonsumsi minuman atau makanan yang mengandung kafein dan
alkohol serta zat lainnya yang dapat meningkatkan pengeluaran air kencing. Diare kronis, mual
dan muntah, keringat malam dan demam berkepanjangan memerlukan penambahan cairan
sehingga minum perlu diperbanyak untuk menganti kehilangan cairan tersebut.

9. Keamanan makanan dan minuman

Untuk mengurangi kontaminasi bahan makanan dan minuman yang dapat menimbulkan risiko
keracunan atau tertular beberapa infeksi, maka perlu diperhatikan hal-hal sbb:
• Untuk makanan dan minuman kaleng sebelum dibuka periksa kemasan/kaleng untuk
mengetahui kerusakan makanan (ciri fisik, aroma, tekstur, warna), periksa tanggal
kadaluwarsa dan buang makanan yang sudah kadaluwarsa
• Hindari mengkonsumsi daging, ikan dan telur mentah, daging ayam termasuk unggas
lainnya yang dimasak setengah matang atau yang tidak dimasak dengan benar
• Hindari mengkonsumsi sayur-sayuran mentah/lalapan
• Mencuci sayur dan buah dengan air bersih dan mengalir untuk menghilangkan pestisida
dan bakteri
• Hindari susu dan produk susu yang tidak dipasteurisasi
• Sebaiknya memanaskan makanan sebelum dimakan
• Hindari makanan yang sudah berjamur atau basi
• Sebaiknya memisahkan makanan yang belum dimasak dengan makanan yang sudah
dimasak
• Selalu cuci tangan sebelum dan setelah menangani makanan
• Selalu minum air masak atau air mineral dalam kemasan/botol
• Memakai air panas dan sabun untuk membersihkan semua alat dapur
• Jajan sedapat mungkin dihindari, lebih baik makan makanan yang disiapkan sendiri
karena kemanan makanan tersebut lebih terjamin

10. Asuhan gizi pada ibu hamil dengan HIV

Pada prinsipnya pemberian asupan makanan pada ibu hamil dengan HIV sama dengan ibu
dengan HIV tidak hamil dengan menambah kalori dan protein sekitar 300-400 Kkal/hari dan
protein 15 gr/hari

11. Asuhan gizi pada bayi dari ibu dengan HIV

Pada prinsipnya ibu dengan HIV dianjurakn untuk tidak menyusui bayinya, untuk mencegah
penularan HIV kepada bayinya melalui ASI. Oleh karena itu bayi diberikan Pengganti Air Susu
Ibu sesuai dengan anjuran dokter.

Namun dalam keadaan tertentu di mana pemberian PASI tidak memungkinkan dan bayi akan
jatuh ke dalam keadaan kurang gizi, ASI masih dapat diberikan dengan cara diperas dan
dihangatkan terlebih dahulu pada suhu di atas 66°C untuk membunuh virus HIV.

Rekomendasi terkait menyusui untuk ibu dengan HIV adalah sebagai berikut:

a. Menyusui bayinya secara eksklusif selama 4-6 bulan untuk semua ibu yang tidak
terinfeksi atau ibu yang tidak diketahui status HIV-nya.
b. Ibu dengan HIV-positif dianjurakn untuk tidak memberikan ASI dan sebaiknya
memberikan susu formula (PASI) atau susu sapi atau kambing yang diencerkan.
c. Bila PASI tidak memungkinkan disarankan pemberian ASI eksklusif selama 4-6 bulan
kemudian segera dihentikan untuk diganti dengan PASI.

12. Bahan makanan Indonesia yang dianjurkan dikonsumsi Odha


Berbagai bahan makanan yang banyak didpatakan di Indonesia seperti tempe, kelapa, wortel,
kembang kol, sayuran dan kacang-kacangan, dapat diberikan dalam penatalaksanaan gizi pada
Odha.

a. Tempe atau produknya mengandung protein dan Vitamin B12 untuk mencukupi
kebutuhan Odha dan mengandung bakterisida yang dapat mengobati dan mencegah diare.
b. Kelapa dan produknya dapat memenuhi kebutuhan lemak sekaligus sebagai sumber
energi karena mengandung MCT (medium chain trigliseride) yang mudah diserap dan
tidak menyebabkan diare. MCT merupakan enersi yang dapat digunakan untuk
pembentukan sel.
c. Wortel mengadung beta-karoten yang tinggi sehingga dapat meningkatkan daya tahan
tubuh juga sebagai bahan pembentuk CD4. Vitamin E bersama dengan vitamin C dan
beta-karoten berfungsi sebagai antiradikal bebas. Seperti diketahui akibat perusakan oleh
HIV pada sel-sel maka tubuh menghasilkan radikal bebas
d. Kembang kol, tinggi kandungan Zn, Fe, Mn, Se untuk mengatasi dan mencegah
defisiensi zat gizi mikro dan untuk pembentukan CD4
e. Sayuran hijau dan kacang-kacangan, mengandung vitamin neurotropik B1, B6, B12 dan
zat gizi mikro yang berguna untuk pembentukan CD4 dan pencegahan anemia
f. Buah alpukat mengandung lemak yang tinggi, dapat dikonsumsi sebagai makanan
tambahan. Lemak tersebut dalam bentuk MUFA (mono unsaturated fatty acid) 63%
berfungsi sebagai antioksidan dan dapat menurunkan LDL. Di samping itu juga
mengandung glutathion tinggi untuk menghambat replikasi HIV.