Anda di halaman 1dari 110

ENDAPAN SUNGAI

PENDAHULUAN

Berdasarkan morfologinya sistem sungai dikelompokan menjadi 4 tipe sungai,


straight river, braided river, anastomasing river, dan meandering river. (gambar-1).
Straight River adalah sungai yang lurus, sungai yang belum berkelok-kelok.
Bentuk lurus ini disebabkan energi aliran sungai kuat atau deras yang berdampak pada
kurangnya sedimentasi. Untuk tipe straight river ini biasanya terjadi pada daerah
pegunungan dengan kemiringan lereng yang terjal.
Anastomasing River terjadi karena adanya dua aliran sungai yang bercabang-
cabang, dimana cabang yang satu dengan cabang yang lain bertemu pada titik tertentu
dan kemudian bersatu pada titik tertentu membentuk satu aliran pada sungai tersebut.
Energi alir sungai tipe ini adalah rendah (Gambar ).
Meandering River adalah sungai yang berkelok-kelok. Hal ini mengindikasikan
tipe sungai tua yang energi alirannya sedemikian lemah. Meander ini terjadi karena
adanya pnegikisan tepi sungai oleh aliran air utama yang pada daerah kelokan sungai
pinggir luar dan pengendapan pada kelokan tepi dalam (Gambar ). Kalau proses ini
berlangsung lama akan mengakibatkan aliran sungai semakin berkelok-kelok. Pada
kondisi tertentu adakan kelokan-kelokan yang terputus, sehingga terjadinya danau atau
tapal kuda atau oxbow lake (Gambar ).
Braided River, tipe sungai ini terjadi pada daerah datar dengan energi arus alir
yang lemah dengan batuan sekitarnya lunak, pengendapan besar debit air besar. Daerah
yang rata menyebabkan aliran dengan mudah belok karena adanya longsoran atau kayu
yang merintangi aliran sungai utama.

Gambar - 1. Sketsa Empat Tipe dari Sungai - sungai (5-P307)

Study pada laboratorium alam memperlihatkan bahwa lekukan banyak didominasi


oleh tipe sungai meander, sedangkan untuk tipe sungai straight dan braided cenderung
untuk tidak berkelok. Sedangkan untuk kemiringan lereng yang tinggi lebih didominasi
oleh tipe sungai straight. Untuk tipe sungai meander, kemiringan terjadi dengan energi
erosi kesamping kanan kiri sungai yang dominan. Pada sungai braided slope/kemiringan
ini relatif datar (gambar-1), dengan energi sungai yang lemah menyebabkan terjadinya
banyak pengendapan sungai berupa batuan pasir umumnya sortasi atau pemilihannya
bagus. Pasir diendapkan pada active braided channles dan juga lumpur terendapkan pada
abandoned sungai dengan debit aliran air sungai yang relatif sedikit. Biasanya tipe sungai
Braided ini diapit oleh bukit di kanan kirinya. Pengendapan pada sungai Braided selain
bersal dari material sungai itu juga terjadi adanya erosi pada bukit-bukit yang mengapit
dan limbah erosi ini terbawa masuk kedalam sungai Braide. Pengendapan pada sungai
tipe braided ini baiasanya bagus sekali untuk reservoar dengan permeabilitas tinggi dan
jenis pasir yang bersih (gambar-3).

Gambar - 2. Grafik hubungan antara kemiringan dan lekuk sungai (1-P143)

Gambar - 3. Phusiography dan Facies pengendapan sungai Braided. (6)


SYSTEM SUNGAI BRAIDED

Transport dan pengendapan sedimen dari daerah sumber ke daerah


pengendapannya tidaklah dikuasai oleh jenis-jenis mekanisme transport tertentu,
misalnya aurs traksi saja, suspensi saja dan sebagainya, tetapi selalu merupakan suatu
sistem dari berbagai mekanisme, malahan bukan saja bersifat mekanis tetapi juga
kimiawi.
Umumnya tipe sungai braided didominasi oleh pulau-pulau kecil (gosong-gosong)
di atanya dengan berbagai ukuran yang dominasi batuan pasir dan krikil. Pola aliran
sungan braided terkonsentrasi pada zona aliran utama. Jika sedang banjir sungai ini
banyak material yang terbawa menjadi terhambat pada tengah sungai baik berupa batang
pepohonan ataupun ranting-ranting pepohonan. Akibat sering terjadinya banjir maka di
sepanjang bantaran sungai terdapat lumpur (floodplain) yang mendominasi hampir
disempanjang bantaran sungai (gambar-4).
Struktur sedimen yang umum terjadi adalah cross-bedding, ripplers dan ripple
cross-lamination. Pada struktur skala besar perkembangan awal dari bar memperlihatkan
rendahnya pola pembentukan. Pada saat air surut pada sungai braided terjadi cross
bedding dengan perkembangan pada ripples dan laminasi hal ini terjadi pula pada
permukaan bar. (gambar- ).
Pola pengendapan batuan pada braided stream pada skala kecil tidak terlihat pada
beberapa pembacaan well, karena saluran dan bar dapat berubah-ubah, pengendapan akan
terlihat dengan secara acak dalam ukuran yang besar dan distribusi lateral isi dari
fragmen bar dan salluran tersebut.

Gambar - 4. Pandangan sungai Braided dikala air susut, manpang batuan kerikitl
dan pasir pada bagian atas sungai (2-P22)
Gamar - 5. Data arah aliran dari dua area sungai braided berbatuan (2-P24)

Jika sungai sedang tidak dalam keadaan banjir maka yang terednapkan adalah
butiran-butiran halus dengan laminasi dibagian atas dari batuan kerikil. Sedangkan
lempung banyak terbentuk pada bagian tanggul dari sungai. Diagram alir dari sungai
braided seperti terlihat dalam gambar- , yang memperlihatkan jika semakin rendah
energi arus alir maka terbentuklah ripple-ripple halus dari batuan pasir yang melaminasi
pada bagian atas.

Gambar - 6. Hubungan antara arus alir pada pembentukan endapan sungai

SYSTEM PENGENDAPAN SUNGAI BRAIDED


Ada dua arti dalam penggunaan kata “Braided” dan “Anastomasing” untuk
applikasi pola sungai. Untuk beberapa penulis mengatakan tentang sysnonim kata
tersebut, tapi schumm (1971a) mengatakan Sungai Braided adalah sungai dengan alir
menyebar (diverges) dan aliran sungai kembali menyatu dalam lebar sungai tersebut.
Sedangkan untuk sungai Anastomasing adalah beberapa sungai yang terbagi menjadi
beberapa cabang sungai kecil bertemu kembali pada induk sungai pada jarak tertentu. (2-
P20)
Periode terbentuknya sungai Braided dan Meandering secara bertahap atau
gradual dari proses pengendapan sekitar 102 - 103 tahun (1-P146). Tipe sungai Braided
dapat dibedakan dari sungai Meander dengan sedikit lengkungan sungai, dan terdapatnya
pulau-pulau kecil. Batu krikil pada sungai Braided terjadi pada area yang kering dan luas.
Batu pasir lebih banyak dari batuan krikil pada lingkungan pengendapan sungai braided
ini (5).
Sungai Braided memperlihatkan perkembangan dari Distal bagian dari Alluvial
fans. Pada area ini biasanya banyak diendapkan endapan tumbuh-tumbuhan dari
pegunungan yang terbawa oleh aliran sungai tersebut. Dengan kondisi seperti ini
umumnya sungai tersebut kaya akan endapan yang menuju pada alir pengendapan.
Karena seringnya menghayutkan tumbuhan maka sering pula terjadi banjir akibat sampah
tumbuhan tersebut menghalangi aliran sungai tersebut yang menyebabkan banjir pada
hampir seluruh punggung-punggung sungai. (5-P308). Krakterristik istimewa dari sungai
Braided oleh besarnya bed-forms atau beds, dapat dikelompokan menjadi tiga :
1. Longitudinal Bars
2. Linguoid
3. Tranvese Bars
Longitudinal Bars / gosong-gosong adalah pulau ditengah sungai, berorientasi
pada letaknya pulau pada tengah sungai mengakibatkan banyak partikel-partikel yang
terjebak pada daerah ini dan selanjutnya terendapkan pada sungai tersebut. Konsentrasi
material pada sepanjang tengah dan bawah pada bar, dan kecenderungan berkurang
ukurannya butir. Karakteristik struktur Intrenal Longitudinal Bars oleh crude horizontal
bedding hal ini mengindikasikan adanya alur pengendapan dibawah. (gambar-7)
Linguiod dan Tranverse bars berada pada sudut garis potong ke arah alur sungai,
keistimewaan karakteristik pasir pada aliran braided. Bentuk lobate atau rhombic
Llinguoid bars, dengan penurunan ketinggian paras muka sungai. Untuk transverse bars
muncul akibat adanya riak air sungai yang besar sehingga dapat mengakibatkan banjir.
(gambar-7)
Lateral bars, terdapat pada beberapa panjang tepi sungai, karena proses
pengendapan dan erosi dan banjir pada setiap kali musim banjir yang ditimbulkan oleh
air sungai berulang kali maka terjadilah Lateral bars. (gambar-7)
Gambar - 7. Struktur bar pada sungai braided. (5-P309)

Pada umumnya yang endapan batuan sedimen yang terdapat pada sungai Braided
adalah batu pasir dan batuan kasr / krikil. Lumpur terendapkan pada bagian bawah aliran
sungai. Pada Longitudinal bar cenderung mengubah besaran krikil menjadi besaran
pasir. Linguoid, transvese, and lateral bars pada umumnya mengandung batuan berpasir.
Endapan dari sungai braided bervaiasi atas besarnya beban pengendapan yang terkirim,
kedalaman dari air sungai dan variasi pembelokan aliran sungai. Umumnya proses
pengendapan rangkaian vertical facies juga tidak menunjukan pervedaan khusus. Empat
model penampang tegak dengan perbedaan kondisi pengendapan. (gambar-8)
Scott-type, umumnya terdiri dari batuan kasar, krikil-krikil dan sedikit adanya
sisipan batuan pasir pada sepanjang section vertical dari type ini. Model ini menunjukan
sedikitnya perkembangan dari pengendapan batuan krikil.
Donjek-type, model ini teridi dari variasi lapisan pengendapan pada sungai
braided dengan campuran beban pasir dan kekrikil. Batuan berpasir banyak mendominasi
pada Linguoid dan transverse bars. Pada penampang vertical section ini terlihat variasi
dari ketebalan pembentukan lapisan.
Platte-type, pengendapan tidak begitu nampak, sekalipun terindikasi adanya
rangkaian pengendapan pada sebagian longitudinal bar dan superiposes linguoid bars dan
ada sedit mark berupa coal.
Bijou Creek-type, karakteristik proses pengendapan oleh pengendapan
superimposes flood sejak akumulasi arus air pada setiap kali terjadinya banjir.
Gambar -8. Stratigraphic umum untuk batuan berpasir pada Braided
system (5-P310)

Bila terjadi banjir akan menyebabkan pengendapan fining-upward dan


Pengendapan aliran Braided dengan perubahan batas. Catatan geologi dari karakteristik
pengendapan pada sungai braided adalah ukuran butir yang halus pada proses
pengendapan. Sekalipun pada sungai Braided modern proses pengendapan agak mirip.
Penampang vertikal dari batuan berpasir untuk arus Braided seperti ditunjukan
pada gambar-9. Rangkaian penampang ini berawal dari endapan yang menggosok
permukaan lantai bawah (bed SS) mernumpuk pada cross-bedding (bed A). Batuan pasir
terlihat menumpuk pada lapisan diatas (bed B) dan adanya ketebalan besarnya planar
tabular (bed C). Endapan memenuhi secara baik pada bagian atas saluran (bed D) dengan
adanya isolasi (bed E) menumpuk pada lapisan tegak siltstone interbeded dengan batuan
lumpur (bed F) dan yang terakhir batuan berpasir (bed G)

Gambar - 9. Penampang vertikal dari batuan berpasir untuk arus Braided (5-P312)

Pada sungai Braided cenderung membentuk variasi kedalaman dari lebar sungai
dan karena arah aliran dan energi sungai membentuk Lag Deposit pada lantari dasar
sungai, pasir teralirkan pada system bedload. Kedalaman sungai Braided berkisar 3 meter
atau lebih dengan membentuk adanya crossbedding. Pengendapan sungai dengan adanya
Flood stage dapat membentuk channels beds, preserving flood stage sedimentary structur.
Pada muka arus penampang sungai terjadi ripple lapisan pasir dengan gradasi mendatar
pada lapisan atas sungai. Karena kaya akan mineral makanan maka pada sebagian
bantaran sungai dan juga bekas luapan-luapan banjir maka akan tumbuh-tumbuhan akibat
biji-bijinan tumbuhan itu terbawa banjir oleh sungai dan mengendap pada bantaran
sungai. (gambar-10) (3-P27)

Gambar - 10. Block Diagram sungai Braided, terbentuknya beberapa lapisan


pengendapan dan arah arus alir dalam sungai.

SYSTEM PENGENDAPAN SUNGAI MEANDER

Pada sistem Meander proses pengendapan terakumulasi pada 5 (lima) daerah yang
berbeda yaitu :
1. .Pada saluran Pokok (Main Channal),
2. Point Bars,
3. Natural Levee,
4. Floodbasin,
5. Oxbow Lakes
Sedimen yang diendapkan pada saluran induk (Main Channal) adalah terdiri dari
material dengan butiran - butiran kasar yang dapat berpindah hanya oleh aliran sungai
dengan kecepatan maximum. Endapan ini juga terdiri dari runtuhan dinding aliran yang
runtuh akibat pengikisan oleh arus aliran (Walker dan Cant, 1979). Karena saluran induk
ini selalu bergerak dan pada dasar selalu diendapkan butiran yang lebih kasar maka dasar
dari point bar terdiri dari butiran-butiran kasar.
Pada bagian Point Bar, endapan yang terbentuk sangat dipengaruhi oleh aliran
Helical (Helical Flow) dan gaya gravitasi yang bekerja pada butiran-butiran batuan,
sehingga endapan yang terbentuk dari bawah ke atas pada point Bar butiran semakin
halus. Endapan ini mempunyai struktur ripple sebagi akibar adanya gelombang dan
“dunes” yang terbentuk karena adanya pengaruh helicol flow. Pada meander yang sudah
tua kadang - kadang point bar yang terbentuk terpotong kembali oleh aliran karena
lekukan - lekukan alirannya yang sangat besar. Pemotongan point bar juga bisa terjadi
pada saat terjadi banjir. Hal ini bisa pada point bar mempunyai slop yang tidak terlalu
besar dan mempunyai tingkat kelokan yang tinggi.
Natural Levee adalah kedua tanggul yang membatasi saluran yang terbentuk
bersamaan dengan terbentuknya saluran itu sendiri. Endapan yang terjadi diatas natural
levee pada saat banjir yang membentuk tanggul baru yang lebih tinngi dari floodbasin
disebut “levee”
Pada saat banjir sehinnga air meluap hingga daerah floodbasin akan menyebabkan
terbentuknya endapan pada tepi aliran yang lebih tinggi dari floodbasin yang disebut
“levee”, terdiri dari butiran-butiran halus. Juga akan menyebabkan terkikisannya endapan
yang telah terbentuk pada point bar, seperti terlihat pada gambar 9 (sembilan) yang
ditandai oleh garis putus-putus.
Floodabsin adalah dataran sekitar aliran yang terdapat dibelakang natural levee.
Akibat proses pengikisan dan pengendapan yang terjadi mengakibatkan suatu saat dua
buah kelokan aliran Meander saling bertemu. Akibat dari peristiwa ini menyebabkan
terjadinya aliran yang mati menyerupai dnau yang disebut “Oxbow” . Jika musim
kemarau tiba sehingga Oxbow menjadi kering dan menyebabkan rekahan-rekahan pada
permukaan danau yang kita sebut “desicatin”.

Gambar 10. Bagian-bagian Morfologi dari sistem aliran Meander (Walker 1979)

Pada gambar 11 diperlihatkan arsitektur elemen lingkungan pengendapan bidang


banjir.

Gambar 11. Arsitektur elemen lingkungan pengendapan bidang banjir


(Platt and Keller 1992)

LACUSTRIN

1.0 Pendahuluan
Lacustrin adalah suatu lingkungan tempat berkumpulnya air yang tidak
berhubungan dengan laut (danau). Lingkungan ini bervariasi dalam kedalaman, lebar dan
salinitas yang berkisar dari air tawar hingga hipersaline. Pada lingkungan ini juga
dijumpai adanya delta, barried island hingga submarine fans yang dendapkan dengan
arus turbidite. Danau juga mengendapkan terrigenous dan endapan karbonat termasuk
oolite shoals dan juga terumbu dari algae. Pada daerah dengan iklim kering akan
diendapkan evaporite. Endapan danau ini dibedakan dari endapan laut dari kandungan
fosilnya dan juga dari aspek geokimianya.

2.0. Model lingkungan lacustrin


Danau dapat terbentuk melalui beberapa mekanisme, yaitu berupa pergerakan
tektonik sebagai pensesaran dan pemekaran; proses glasiasi seperti ice scouring, ice
damming dan moraine damming (penyumbatan oleh batu); pergerakan tanah atau hasil
dari aktifitas volkanik sebagai penyumbatan lava atau danau kawah hasil peledakan.
Visher (1965) dan Kukal (1971) membagi lingkungan lacustrin menjadi 2 yaitu
danau permanen dan danau ephemeral (Gb.1). Danau permanen mempunyai 4 model dan
danau ephemeral mempunyai 2 model seperti yang terlihat pada gambar tersebut.

2.1. Danau permanen


Danau permanen model pertama adalah danau yang terisi oleh endapan
terrigenous yang terletak di daerah pegunungan. Danau ini mempunyai hubungan dengan
lingkungan fluvial deltaik yang prograd ke danau mengendapkan pasir dan sedimen
suspensi berukuran halus. Ciri dari endapan danau ini dan juga endapan model lalinnya
adalah berupa varve yaitu laminasi lempung yang reguler (Gb. 2). Pada endapan danau
periglasial, varves berbentuk perselingan antara lempung dan lanau. Lanau diendapkan
pada saat mencairnya es, sedangkan lempung diendapkan pada musim dingin dimana
tidak ada air sungai yang mengallir ke danau. Contoh danau ini adalah Danau Costance
dan Danau Zug di Pegunungan Alpen.
Danau permanen model kedua adalah danau yang terletak di dataran rendah
dengan iklim yang hangat. Material yang dibawa oleh sungai dalam jumlah yang sedikit.
Endapan karbonat terbentuk pada daerah yang jauh dari mulut sungai disekitar pantai.
Cangkang-cangkang molluska dijumpai pada endapan pantai, yang dapat membentuk
kalkarenit jika energi gelombang cukup besar. Kearah dalam dijumpai adanya ganggang
merah berkomposisi gampingan. Contoh danau ini adalah Danau Schonau di Jerman dan
Danau Great Ploner di Kanada Selatan.
Danau permanen model ketiga adalah danau dengan endapan sapropelite
(lempung kaya akan organik) pada bagian dalam yang dikelilingi oleh karbonat di daerah
dangkal. Endapan pantai berupa ganggang dan molluska.
Danau permanen model ke empat dicirikan oleh adanya marsh pada daerah
dangkal yang kearah dalam menjadi sapropelite. Contoh dari danau ini adalah Danau
Gytta di Utara Kanada.

2.2. Danau Ephemeral


Danau ephemeral adalah danau yang terbentuk dalam jangka waktu yang pendek
di daerah gurun dengan iklim yang panas. Hujan hanya terjadi sesekali dalam setahun.
Danau playa intermontane pada bagian dekat pegunungan berupa fan alluvial
piedmont yang kearah luar berubah menjadi pasir dan lempung. Ciri dari danau playa ini
adalah lempung berwarna merah-coklat yang setempat disisipi oleh lanau dan gamping.
Contoh danau ini adalah Danau Qa Saleb dan Qa Disi di Jordania.
Karena adanya pengaruh evaporasi, danau ephemeral ini dapat membentuk
endapan evaporite pada lingkungan sabkha. Contoh dari danau ini adalah Danau Soda di
Amerika Utara dan di Gurun Sahara dan Arab.

3.0. Karakteristik endapan lacustrin


Litologi dari endapan lacustrine dapat berupa batulumpur, batupasir, konglomerat;
kimiawi-biokimiawi evaporit, karbonat, phosphorite, dan endapan yang terbentuk dari
kehidupan seperti skeletal karbonate dan gambut.
Endapan danau purba ditemukan dengan luas beberapa ratus km2 hingga 130.000
km2, sedangkan danau moderen yang dijumpai, mempunyai luas puluhan km2 hingga
436.000 km2. Ketebalan sedimen endapan lacustrin berkisar dari beberapa mete hingga
lebih dari 1000 m, namun pada umumnya kurang dari 300 m. Geometri endapan tersebut
umumnya membentuk lingkaran dengan penampang vertikal berbentuk lensa.
Fosil yang umum dijumpai pada endapan danau dengan kedalaman kurang dari 10
m adalah cangkang-cangkang bivalves, ostracoda, gastropoda, diatome, chloropites dan
algae. Keberadaan fosil tersebut akan berkurang dengan bertambahnya kedalaman.

4.0. Kajian keekonomian dari endapan danau


Sapropelite dapat membentuk “oil-shales” yang mempunyai potensi sebagai
source rock yang dapat menghasilkan minyak dan gas. Danau yang terletak pada
temperatur sedang dapat membentuk batubara, sedangkan danau hipersaline membentuk
endapan evaporites dalam jumlah yang cukup potensial.
Proses terbentuknya “oil-shales” ini seperti yang telihat pada Gambar 3. Air
danau dapat dibagi menjadi 2 bagian, yaitu epilimnion dan hypolimnion, Epilimnion
terdapat pada bagian atas dengan berat jenis rendah, terjadi photosintesa dari ganggang
yang membentuk oksigen. Kombinasi dengan tumbuhan sebagai makanan dan oksigen
membuat banyaknya kehidupan. Organisme yang mati jatuh ke hypolimnion yang anoxic,
terawekan membentuk lapisan lumpur yang kaya akan zat organik. Setelah melalui proses
pematangan, mateial organik tersebut dapat berubah menjadi kerogen sebagai bahan
penghasil minyak. Contoh endapan ini adalah lempung endapan danau Formasi Green
River berumur Eocene di Daerah Utah dan Wyoming. Formasi tersebut selain
menghasilkan oil shales, juga menghasilkan minyak yang bermigrasi ke pasir peripheral
dan juga ke formasi yang lebih tua.

5.0. Daftar Pustaka


Goggs, S.Jr., Principles of Sedimentary and Stratigraphy.
Reineck, H.E. & Singh, I.B. (1973) Depositional Sedimentary Environments-With
Reference to Terrigenous Clastic, 2123-224, Springer-Verlag, Berlin.
Selley, R.C. (1988) Applied Sedimentology, 190-195, Academic Press-Harcourt Brace
Jovanovich, London.
Tucker, M.E. (1981) Sedimentary Petrologyy-An Introduction, Vol 3 Geoscience Text,
67, Blackwell Scienctific Publications, LTD, London.
Gb. 1. Model pengendapan lacustrin menurut Visher (1965) dan Kukal (1971)

Gb. 2. Penampang varves dari endapan Danau periglasial Irish

Gb. 3. Proses pembentukan lempung yang kaya akan zat organik (sapropelite).

DELTA
1. PENDAHULUAN
Kata Delta digunakan pertama kali oleh Filosof Yunani yang bernama Herodotus
pada tahun 490 SM, dalam penelitiannya pada suatu bidang segitiga yang dibentuk oleh
oleh alluvial pada muara sungai nil.
Sebagian besar Delta modern saat ini berbentuk segitiga dan sebagian besar
bentuknya tidak beraturan (Bogg, 1995). Untuk jelasnya lihat lampiran Gambar 1. Bila
dibandingkan dengan Delta yang pertama kali dinyatakan oleh Herodotus pada sungai nil.
Ada istilah lain dari Delta adalah seperti yang dikemukakan oleh Elliot dan Bhatacharya
(Allen, 1994) adalah “Discrette shoreline proturberance formed when a river enters an
ocean or other large body of water”.
Proses pembentukan delta adalah akibat akumulasi dari sedimen fluvial (sungai)
pada “locustrine” atau “marine coasline”. Deposit (endapan) pada delta purba telah
diteliti (identifikasi) dalam urutan umur stratigrafi, dan sedimen yang ada di delta sangat
penting dalam pencarian minyak, gas, batubara dan uranium.
Delta - delta modern saat ini berada pada semua kontinen kecuali Antartica.
Bentuk delta yang besar diakibatkan oleh sistem drainase yang aktif dengan kandungan
sedimen yang tinggi.

II. Klasifikasi dan karekteristik Deposit dari Delta


Delta dibedakan menjadi dua :
1. Alluvial Delta
2. Non Alluvial Delta
Untuk jelasnya dapat dilihat lampiran gambar 2. Pada alluvial delta
dibagi kedalam empat bagian utama dalam pembentukan delta :
a. River Delta
Pembentukannya dari deposit sungai tunggal.
b. Braidplain Delta
Pembentukannya dari sistem deposit aliran “braided” (anyaman)
c. Alluvial fan Delta
Pembentukannya pada lereng yang curam dikaki gunung yang luas
yang dibawa air.

2.1 Fluvial - dominated Delta


“ Fluvial - dominated” delta pada dasarnya dipengaruhi linggkungan yang
disebabkan oleh energi sungai, dikatakan fluvial - dominated karena pengaruh energi
sungai sangat dominan. Selanjutnya pada “fluvial-dominated” dipengaruhi oleh prilaku
air sungai sehingga dapat dapat diidentifikasi menjadi 3 ciri yaitu :

1. Homopycnal flow
Pada proses ini air yang memasuki “basin water” densitasnya sama dengan air laut,
kecepatan alirannya tinggi (jet aot flow) kandungan fluidanya bercampur, endapannya
kasar. Dapat dilihat pada lampiran gambar 3 dan gambar 4.

2. Hypopycnal flow
Pada ciri ini bila air sungai mempunyai densitas yang lebih besar daripada “basin
water “ menghasilkan arah orientasi vertikal ini dikenal sebagai “plane - jet flow”.
Dapat dilihat pada lampiran gambar 5. Pada ciri ini densitas menghasilkan arus yang
dapat mengerosi pada awalnya akan tetapi akhirnya endapannya berada sepanjang
sebagian besar “slope” dari “delta front” pada aliran “turbidit”.

3. Hypopycnal flow
Pada ciri ini bila air sungai yang mengalir densitasnya lebih kecil dari “basin water” .
Pada Hypopycnal flow sedimen yang halus dibawa dalam “supensi” keluar dari
muara sebelum “flucullate” dan mengendap. Lihat gambar 6.
“Flocculate” meliputi gabungan sedimen halus dalam “small lump” memberikan
keberadaan muatan ion positip dalam “sea water” yang menetralisir muatan negatif
pada partikel lempung (clay).
Hypopycnal flow cenderung menghasilkan “delta front area” yang aktif dan besar,
kemiringan nya 1 derajat atau kurang, berbeda dengan sebagian besar delta yang ada

sekitar 10 sampai 20 derajat seperti dikatakan oleh Mial (Bogg, 1995) untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada lampiran gambar 7,8,9.

2.2 Tide - dominated Delta


Pada proses ini digambarkan bila pengaruh “tidal” (pasang surut) lebih besar dari
aliran sungai yang menuju muara sungai, arus “bidirectional” dapat mendistribusikan
kembali sedimen yang ada di muara, menghasilkan “sand filled”, “flumee-shaped
distributariesd”.
Delta moder Ganges-Brahmaputra adalah sebuah contoh delta yang didominasi
oleh “tide” dapat dilihat pada lampiran gambar 10. Bila dibandingkan delta Missisippi
ukuran luas delta Brahmaputra tiga kali lebih besar (Boggs, 1995) untuk jelasnya lihat
lampiran gambar 11.
Rata-rata keluarannya dua kalil dibandingkan dengan delta Missisippi, khususnya
pada saat musim hujan. Rata-rata daerah “tidal” sangat besar, sekitar 4 m dan pengaruh
gelombang sangat kecil. “sand” yang ditransportasikan sangat “intens” selama musim
hujan, dimana “sand” yang diendapkan serupa dengan “braides stream”. Pada jenis delta
ini dicirikan dengan lingkungan “tidal-flat”, “natural levees”, dan “fload basin”, yang
mana sedimennya halus diendapkan dari “suspensiion”.
Pengaruh “tidal” (pasang surut) yang kuat dimanisfestasikan oleh kehadiran
jaringan “tidal sand bars” dan “channel” yang diorientasikan berbentuk kasar paralel
terhadap arah aliran arus “tidal”. Lihat lampiran gambar 11.

2.3. Wave-dominated Delta


Penyebab pada ciri ini adalah aliran gelombang yang kuat dan perlambatan dari
aliran sungai sehingga aliran sungai tertarik atau dibelokan di muara sungai. Distribusi
endapan pada muara, dilakukan oleh gelombang dan di redistribusikan sepanjang “delta
front” oleh arus “long-shore” sehingga bentuk gelombang yang timbul di “shore-line”
lebih menonjol seperti di pantai yaitu “barrier bars” dan “spit” (menyebul).
Selanjutnya dapat dicirikan juga dengan adanya “smooth delta front” yang
meliputi pengembangan yang baik dari punggungan “coalescent beach”, salah satu
contoh pada wave dominated delta adalah Sao Fransisco delta seperti pada lampiran
gambar 12. Dimensi luasnya lebih kecil bila dibandingkan Missisippi delta.

III. Studi Kasus Delta Mahakam.


Delta Mahakam terbentuk pada muara sungai Mahakam di Kalimantan Timur
sekitar 50 km selatan Khatulistiwa. Lihat lampiran gambar 13. Delta Mahakam terletak
dalam “Kutei basin” dengan tipe “Fluvial dominated” dengan umur Miocene tengah.
Delta ini karena terletak pada daerah khatulistiwa sangat dipengaruhi oleh musin,
antara lain musim hujan dan musim panas. Maksimum curah hujan sangat tinggi pada
bulan Januari, minimum pada bulan Agustus (Allen, 1994), temperatur relatif konstan
antara 26 sampai 30 derajat.
Delta Mahakam Menunjukkan bentuk “fan”, dimana cabang “fluvial
distributaries” keluar dari sungai Mahakam lihat gambar 14 dan keluar melintasi “delta
plain” pada jarak 50 km dari batas “upstream” dari delta. Pada delta ini ada 3 sistem
distribusi “fluvial” yang menjadi ciri khas dari delta Mahakam. Distribusi ini
dikelompokkan dalam sistem “northen” dan “southern”. Untuk lebih jelasnya
pembahasan delta Mahakam dapat dijelaskan dalam lampiran gambar dalam paper ini.

Referensi.
1. Allen. G.P, 1994, Sediment Patterns and Facies in the Modern Mahakam Delta,
Centre Scientifique et Technique Saint Remys Les Chevreuse, Total.
2. Boggs. Sam, 1995, Principles of Sedimentology and Stratigraphy, second edition,
Prentice Hall, New Jersey.

Gambar 1. Morfologi Delta


Gambar 2. Klasifikasi Delta

Gambar 3. Homopycnal flow (Bogg, 1995)

Gambar 4. Vertical Facies Sequence yang dihasilkan oleh Delta Prgradation (Bogg,
1995)

Gambar 5. Hyperpycnal Flow (Bogg, 1995)


Gambar 6. Hypopycnal flow (Bogg, 1995)

Gambar 7. Pola endapan yang dihasilkan dari “Inertia-Dominated River Outflow”,


(Bogg, 1995).

Gambar 8. Pola endapan yang diasosiasikan oleh “Friction-dominated River-Moouth


outflow”, (Bogg, 1995).
Gambar 9. Pola endapan yang dihubungkan terhadap “Buoyant Outflow” dari muara
sungai (Bogg, 1995).

Gambar 10. Delta Ganges Brahmaputra India (Bogg, 1995)

Gambar 11. Sistem delata Missisippi - Fluvial - Dominated Delta (Bogg, 1995)

Gambar 12. Sao Fransisco Delta Brazil (Bogg, 1995)


Gambar 13. Delta Mahakam (Allen, 1994)

Gambar 14. Sedimen dari delta Mahakam (Allen, 1994)


Gambar 15. Letak delta Mahakam (Allen, 1994)

Gambar 16. Type Dominasi dari delta (Allen, 1994)

LAGUN
PENDAHULUAN
Lingkungan pengendapan tidak akan dapat ditafsirkan secara akurat hanya
berdasarkan suatu aspek fisik dari batuan saja. Maka dari itu untuk menganalisis
lingkungan pengendapan harus ditinjau mengenai struktur sedimen, ukuran butir (grain
size), kandungan fosil (bentuk dan jejaknya), kandungan mineral, runtunan tegak dan
hubungan lateralnya, geometri serta distribusi batuannya.
Lagun adalah suatu kawasan berair dangkal yang masih.berhubungan dengan laut
lepas, dibatasi oleh suatu punggungan memanjang (barrier) dan relatif sejajar dengan
pantai (Gambar 1). Maka dari itu lagun umumnya tidak luas dan dangkal dengan energi
rendah. Beberapa lagun yang dianggap besar, misal Leeward Lagoon di Bahama luasnya
hanya 10.000 km dengan kedalaman + 10 m (Jordan, 1978, dalam Bruce W. Sellwood,
1990).

Gb. I. Skema rekonstruksi geomorfik lingkungan lagun dan


dan sekitarnya (Reineck, 1980)

Akibat terhalang oleh tanggul, maka pergerakan air di langun dipengaruhi oleh
arus pasang surut yang keluar/masuk lewat celah tanggul. Kawasan tersebut secara klasik
dikelompokkan sebagi daerah peralihan darat - laut (Pettijohn, 1957), dengan salinitas air
dari tawar (fresh water) sampai sangat asin (hypersalin). Keragaman salinitas tersebut
akibat adanya pengaruh kondisi hidrologi, iklim dan jenis material batuan yang
diendapkan di lagun. Lagun di daerah kering memiliki salinitas yang lebih tinggi
dibanding dengan lagun di daerah basah (humid0, hal ini dikarenakan kurangnya air
tawar yang masuk ke daerah itu.
Berdasarkan batasan-batasan tersebut diatas maka batuan sedimen lagun sepintas
kurang berarti dalam aspek geologi. Akan tetapi bila diamati lebih rinci mengenai aspek
lingkungan pengendapannya, lagun akan dapat bertindak sebagai penyekat perangkap
stratigrafi minyak.
Transportasi material sedimen di lagun dilakukan oleh, air pasang energi ombak ,
angin yang dengan sendirinya dikendalikan iklim sehingga akan mempengaruhi kondisi
biologi dan kimia lagun. Endapan delta (tidak delta) dapat terbentuk dibagian ujung alur
pemisah tanggul, yaitu didalam lagun atau dibagian laut terbuka (Boggs, 1992). Material
delta tersebut agak kasar sebagai sisipan pada fraksi halus, yaitu bila terjadi aktifitas
gelombang besar yang mengerosi tanggul dan terendapkan di lagun melalui celah
tersebut.

BENTUK DAN GENESA LAGUN


Bentuk dan genesa lagun berkaitan erat dengan genesa tanggul (barrier), sehingga
dalam hal ini mencirikan pula kondisi geologi dan fisiografi daerah lagun. Bentuk lagun
umunnya memanjang relatif sejajar dengan garis panti sedangkan yang dibatasi oleh atol
reef bentuk lagunnya relatif melingkar.
Bentuk lagun yang memanjang sejajar garis pantai terjadi apaabila tanggul relatif
sejajar dengan garis pantai yang disusun oleh reef ataupun berupa sedimen klasik yang
lain misalnya satuan batu pasir . Lagunyang dibatasi atol reef terbentuk relatip bersamaan
dengan pembentukan atol, akibat proses penurunan dasar cekungan (tempat reef tumuh)
kecepatnya seimbang dengan pembentukan reef (Gambar 2 )

Gb.2. Diagram pertumbuhan reef berkaitan denga perubahanmuka muka laut


(Longgman , 1918 dalam Sellwodd, 1990)

Teori pembentukan atol yang klasik dikemukakan oleh Darwin (1842), dimana
reef tumbuh di atas batuan vulkanik. Selain itu atol berumur resen di beberapa tempat
dijumpai tumbuh dibagian tepi plato yang bentuknya.
Kondisi muka-laut juga pengaruh terhadap lagun (Sander, 1978). Pada laut yang
konstan maka dibagian bawah lagun akan terendapkan sedimen klastik halus yang
kemudian ditutupi oleh rawa - rawa dengan ketebalan mencapai setengah tinggi air
pasang. Kontak antara batuan sedimen dan batuan di bawahnya adalah horizontal. Satuan
batuan fraksi halus dengan sisipan batubara muda (peat) di daerah rawa akan
berhubungan saling menjari dengan batupasir di daerah tanggul. Selain itu batuan
sedimen lagun yang menebal ke atas dan menumpang di bagian atas shoreface biasanya
terjadi menyertai proses transgresi (Gambar 3)

Gb.3. Skema progradasi pada tanggul kaitannya dengan perkembangan


sedimen di lagun (Sanders, 1978)

Lagun juga dapat terbentuk pada daerah tektonik estuarine (Fairbridge RW, 1980
dalam Boggs, 1992) yang disebabkan oleh aktivitas tektonik sehingga terjadi
pengangkatan di bagian tepi pantai dan membelakangi bagian rendahan yang membentuk
lagun.

LINGKUNGAN PENGENDAPAN
Lingkungan lagun karena ada tanggul maka berenergi rendah sehingga material
yang diendapkan berupa fraksi halus, kadang jug dijumpai batupasir dan batulumpur.
Beberapa lagun yang tidak bertindak sebagai muara sungai, maka material yang
diendapkan dikuasai oleh material marin. Material pengisi lagun dapat berasal dari erosi
barrier yang berukuran pasir dan lebih kasar, sedangkan yang halus terendapkan di lagun.
Apabila penghalang berupa reef, dapat juga dijumpai pecahan-pecahan cangkang di
bagian backbarier atau di tidal delta. Akibat angin partikel halus dari tanggul dapat
terangkut dan diendapkan di lagun Angin tersebut dapat juga menyebabkan terjadinya
gelombang pasang yang menerpa garis pantai dan menimbulkan energi tinggi sehingga
terjadi pengikisan dan pengendapan fraksi kasar.
Beberapa jenis batuan sedimen berumur muda dijumpai di Laguna Madre (JA
Miller, 1973, in Friedman & Sanders, 1978).(Gambar 4). Batuan tersebut berupa
batulempung lanauan sebagai hasil sedimentasi air pasang, batupasir kuarsa yang
merupakan hasil aktivitas angin mengerosi tanggul (Padre Island), calkareous gravels
sebagai hasil rombakan batuan di pantai serta batuan karbonat dengan beberapa keratan
didalamnya (skeletal sand, oolitic sand, dsb).
Struktur sedimen yang berkembang umumnya pejal (pada batulempung abu-abu
gelap) dengan sisipan tipis batupasir halus (batulempung Formasi Lidah di Kendang
Timur) (Gambar 5.), gelembur - gelombang dengan beberapa internal small scale cross l

amination yang melibatkan batulempung pasiran. Struktur bioturbasi sering dijumpai


pada batulempung pasiran (siltstone) yang bersisipan batupasir dibagian dasar lagun
(Boggs, 1992). Batupasir tersebut ditafsirkan sebagai hasil endapan angin, umumnya
berstruktur perarian sejajar dan kadang juga berstruktur ripple cross-lamination
(Gambar 6).

Gb.4. Sketsa pelamparan batuan sedimen Gb.5. Singkapan batulempung bersisipan


di Lagun Madre (Miller,1973 dalam batupasir tipis (Sri Widjaja, 1984)
Friedman & Sander, 1978)

Gb.6. Komposit stratigrafi daerah barier - lagun berumur Kapur di Alberta


selatan Canada, (Reinson G.E. 1984 dalam Boggs, 1992
Fosil di daerah lagun sangat bervariasi tergantung dalinitas air lagun (Boggs,
1992) bagian lagun dengan salinitas normal populasi fosilnya sama dengan fosil di laut
terbuka. Fosil-fosil air payau yang dijumpai di lagun dapat sebagai indikasi bagian muara
sungai di lagun. Batulempung Formasi Lidah di Kendang Timur jarang dijumpai fosil
jadi ditafsirkan daerah tersebut sebagian mungkin berair tawar. Selain itu sering
dijumpai mineral pirit sehingga ditafsirkan lagun di Kendang Timur sebagian jauh dari
inlet sehingga sangat terllindungkan proses reduksi berjalan normal. Selain itu pada
sisipan batupasir di beberapa lokasi sering dijumpai gloukonit sehingga ditafsirkan
merupakan hasil pengendapan dekat inlet (laut). Berdasarkan data tersebut di atas
membuktikan bahwa lagun biasanya tidak lebar. Hal ini dikarenakan di daerah penelitian
yang sempit dapat dijumpai beberapa bagian lagun.
Batuan sedimen lagun kadang mengandung lumpur karbonat yang berasosiasi
dengan rombakan cangkang. Hal ini ditafsirkan karena bagian lagun mengalami
pergerakan karena deformasi tektonik yang melibatkan bagian tanggul batugamping.
Beberapa jenis moluska (Ammonite dan lamellibranchiata) sering dijumpai pada
batupasir karbonat sehingga ditafsirkan lokasi fosil tersebut berdekatan dengan
lingkungan laut (Selley, 1980). Kesimpulan tersebut dikaitkan dengan keberadaan
batupasir karbonatan yang ditafsirkan sebagai hasil sedimentasi tidal inlet (celah diantara
barrier) serta ekologi fosil tersebut.

KESIMPULAN

Dari uraian di atas disimpulkan, bahwa batuan sedimen di daerah lagun akan
selalu berbutir halus, berstruktur pejal, perairan sejajar dan gelembur gelombang skala
kecil sebagai hasil sedimentasi lingkungan berenergi rendah. Batuan sedimen berbutir
lebih kasar merupakan sedimentasi bagian tersendiri walaupun di dalam lagun (tidal inlet
misalnya). Selain itu variasi jenis batuan sedimen sangat tergantung jenis batuan
penyusun tanggul (barrier).
Daerah lagun perlu pengkajian lebih jauh kaitannya dengan potensi hidrokarbon
terutama peranannya sebagai penyekat batuan waduk dalam sistem perangkap stratigrafi.
Kemungkinan berpotensi hidrokarbon apabila batuan sedimen lagun cukup tebal, hal ini
dapat dijumpai apabila berkembang sesar tumbuh (growth fault) yang sejajar dengan
pantai.

PUSTAKA
Bruce W. Sellwood, 1990, Course Note of Carbonate Sedimentology. University of
Reading & Lemingas, Jakarta.
Gerald M. Friedman & John E. Sanders, 1978. Principles of Sedimentology, John Willey
& Sons.
Pettijohn, 1957, Sedimentary Rocks, 2nd ed, Harper & row, New York.
Reineck & Singh, 1980, Depositional Sedimentary Environments, Springer, Verlag,
Heidenberg, New York.
Richard C. Selley, 1980, Ancient Sedimentary Environments. Champman & Hall,
London.
Sam Boggs, Jr. 1992, Principles of Sedimentology and Stratigraphy.
Sri Widjaja, 1984. Geologi dan Studi Fasies Formasi Pucangan Daerah Kabuh Gunung
Pucangan Jawa Timur, UPN “Veteran” Yogyakarta.

SEDIMENTASI ANGIN

1. Pendahuluan
Selain itu, angin juga merupakan salah satu enegi yang dapat mengikis dan
mengangkut bahan-bahan untuk diendapkan, khususnya pada daerah yang mempunyai
iklim kering dan semi kering. Angin terjadi karena perbedaan temperatur antara dua
daerah yang berbeda di muka bumi akibat ketidakseragaman pemanasan kedua tempat
oleh sinar matahari yang menimbulkan beda tekanan. Kekuatan angin ditentukan oleh
besarnya beda tekanan pada kedua tempat dan jarak antara kedua tempat tersebut
(Sukendar Asikin, 1978). Kekuatan angin akan bertambah dengan bertambahnya jarak.
Gerakannya akan laminer jika perlahan dan turbulen bila cepat. Endapan sedimen yang
berasal dari proses pengendapan oleh angin disebut endapan Eolian.

2. Proses Terjadinya Endapan Angin

Menurut Allen (1970), endapan oleh angin (eolian) dapat terjadi pada :
a. Daerah gurun, dimana iklimnya tropis, subtropis dan lintang tengah.
b. Daerah disekitar, outwash plain pda endapan glasial dan tudung es pada daerah
lintang tinggi.
c. Di daerah pantai, di puncak pulau penghalang (barrier island) atau di muka pantai
terbuka dalam berbagai iklim.
Lingkungan pengendapan oleh angin dapat dilihat pada Gambar 1.

Gurun terjadi pada lintang tengah dan rendah yang berhubungan dengan daerah
yang tertutup dengan curah hujan dari 30 cm. Daerahnya kira-kira 20 % dari total
daratan. Gurun modern yang tervesar dengan panjang 12.000 km dan lebar 3.000 km
terletak antara Afrika Utara dan Asia Tengah. Dengan gurun lain yang luas adalah
Australia Tengah, berukuran 1500 - 3000 km. Gurun yang berukuran kecil berada di
Afrika baratdaya, Chili - Peru dan Patagonia, dan di baratnya Afrika Utara.
Pelapukan di gurun terjadi secara mekanis dan kimiawi. Pelapukan mekanis
tergantung pada perubahan gradien temperatur oleh pemanasan pada siang hari dan
pendinginan pada malam hari. Perbedaan temperatur permukaan batuan pada waktu siang
dan malam dapat mencapai 50° C. Pada kondisi seperti ini batuan secara perlahan akan
rekah dan pecah. Butiran tersebut akan terbawa oleh angin dan diendapkan sebagai bukit
pasir.
Bukit pasir dapat pula terbentuk di muka pantai. Meskipun demikian hanya terjadi
pada pantai pada daerah kering dimana vegetasi (tumbuhan) tidak ada. Angin kering yang
kuat dengan arah tegak lurus pantai secara aktif memindahkan pasir menjadi gundukan
pasir. Gugusan bukit pasir yang terjadi dengan cara ini terjadi sepanjang pantai timur
Laut Utara, bagian selatan Pantai Baltik, pantai utara Gulf of Mezico, pantai selatan Laut
Mediterian dan pantai barat Australia. Hanya sedikit gugusan bukit pasir di muka pantai
yang terjadi pada daerah curah hujan rendah. Selain itu, endapan angin dapat pula terjadi
pada outwash plain dari arus air es glasial yang ditemukan pada daerah lintang tinggi.
Allen (1970) menggambarkan bahwa angin mengangkut sedimen secara suspensi
dan saltasi atau merayap dipermukaan (surface creep). Kecepatan geser pada perpindahan
butir dapat ditulis sebagai :

U * (crit) = √ ( α 0 (crit) /ρ )
= K1 (√ ( α -ρ ) / ρ ) g D

dimana : U * (crit) = kecepatan geser


α o (crit) = tegangan geser
α = densitas butir
D = diameter butir
ρ = densitas fluida
k1 = konstanta yang bergantung dengan bilangan Reynold

Butiran yang halus (0 - 0,2 mm ) akan diangkat secara suspensi, yaitu sedimen
dibawa oleh angin tanpa terjadi kontak dengan lapisan. Angin bertiup melalui alluvium
yang mengering dan membawa butiran terbang di udara Lanau lempung adalah contoh
batuan yang dapat diangkut dengan cara suspensi. Bahan ini umumnya akan diangkut
melalui jarak yang lebih jauh.
Cara kedua adalah saltasi dimana butiran dengan ukuran yang lebih besar (0,2 - 2
mm) akan diangkut dengan cara menggelinding, bergeser dan bertumbukan. Bila angin
bertiup di atas permukaan pasri, maka kalau cukup kuat butiran pasir akan melaju melalui
seretan lompatan yang panjang. Jika mendarat mereka akan terpantul dan meloncat
kembali ke udara dan akan melontarkan butiran pasir lainnya. Batupasir sangat halus
adalah yang pertama dapat dipindahkan dengan saltasi.
Pengangkutan bahan yang berukuran pasir ini disebut sand storm. Pasir umumnya
terdiri dari mineral kwarsa yang membulat. Butiran demikian akan mampu melompat
dengan mudah bila terbentur dengan bahan yang keras seperti butiran pasir lainnya atau
kerakal . Gambar 2 menunjukkan trajektori saltasi dari butiran batupasir, dimana butiran
yang lebih kecil akan mempunyai trajektori yang lebih panjang dari pada butiran yang
benar.
Studi tentang kecepatan ambang yang dibutuhkan untuk memulai pergerakan
butir menunjukkan bahwa kecepatan ambang bertambah dengan bertambahnya ukuran
butir. Butiran yang lebih kecil akan mempunyai kecepatan awal yang lebih kecil dari
pada butiran yang besar. Allen (1970) menggambarkan bahwa panjang trajektori lintasan
butir dan besarnya kecepatan awal diberikan sebagai :

L = k2 (( U* + U* (crit))2 / g )
H = k3 (( U* + U* (crit))2 / g )

Dimana : L= Panjang trajektori


H= besarnya trajektori
k2 dan k3 = konstanta empiris yang berhubungan dengan ukuran butir
g = percepatan gravitasi

Proses pemindahan bahan-bahan oleh angin dapat terjadi dengan 2 cara, yaitu deflasi dan
abrasi (Sukendar Asikin, 1978)

 Deflasi adalah proses pemindahan bahan dengan cara menyapu bahan - bahan
yang ringan. Proses ini menghasilkan relief di gurun-gurun pasir. Deflasi
dapat pula menyebabkan lekukan yang dalam hingga beberapa ratus meter di
bawah permukaan laut. Kalau mencapai batas permukaan air tanah, maka
akan membentuk oase (mata air di gurun)

 Abrasi adalah pengikisan oleh angin yang menggunakan bahan yang


diangkutnya sebagai senjata. Daerahnya tidak luas. Contohnya adalah batuan
bentuk jamur yang terjadi karena bahan yang diangkut tidak merata. Dibagian
bawah lebih banyak dan lebih kasar dibandingkan dengan diatasnya.

3. Macam Endapan Oleh Angin

Bahan yang diangkut oleh angin akan menimbulkan tiga macam endapan yang sangat
berbeda (Boggs, 1995) yaitu :

- Endapan lanau (silt), kadang-kadang disebut loess yang berasal dari sumber
yang cukup jauh.
- Endapan pasir yang terpilah sangat baik.
- Endapan lag (lag deposit), terdiri dari partikel berukuran gravel yang diangkut
oleh angin dengan kecepatan yang cukup besar.

Endapan gurun dapat dikelompokkan ke dalam 3 sublingkungan pengendapan utama


yaitu bukti pasir (sand dune), interdune dan sand sheet.

3.1 Bukit pasir (sand dune)

Lingkungan bukit pasir pada umumnya yang diangkut dan diendapkan adalah pasir yang
diakumulasi dalam berbagai bentuk dune . Sand dune (bukit pasir) dapat dibagi menjadi 4
tipe morfologi utama (Selley, 1988), yaitu :

a. Barchan atau lunate dune, adalah bukit pasir yang paling indah. Bentuknya cembung
terhadap arah angin umum (utama dengan kedua titik ujungnya seperti tanduk,
dimana pada kedua arah tersebut kekuatan angin berkurang. Barchan mempunyai
muka gelincir yang curam pada sisi cekung. Barchan terjadi pada daerah yang terisola
(tertutup) atau disekitar sudut pantai. Pada permukaan yang turun biasanya ditutupi
oleh lumpur (mud) atau granula. Hal ini menunjukkan bahwa barchan/lunate dunate
terbentuk terbentuk dimana pengangkutan pasir lebih sedikit.

b. Tipe stellate, piramida atau Matterhorn. Terdiri dari rangkaian sinus, tajam, punggung
pasir yang tinggi, yang bergabung bersama-sama dalam satu puncak yang tinggi.
Angin selalu meniup bulu-bulu pasir di puncak peramida, membuat dune tampak
seperti berasap. Stellate dune kadang-kadang ratusan meter tingginya, terbentuk pada
batas pasir laut dan jebel, menandakan titik interferensi dari arus angin dengan
topografi yang resistan.
c. Longitudinal atau Seif dune. Bentuknya panjang, tipis dengan batas punggung yang
jelas. Dune secara individu dapat mencapai 200 km panjangnya, kadang-kadang dapat
konvergen pada perbatasan seif dimana arah angin berkurang. Tingginya dapat
mencapai 100 km dan batas dune lebarnya sampai 1 atau 2 km, dengan daerah
interdune yang datar, terdiri dari pasir atau gravel.

d. Tranversal dune, bentuknya kursus atau sinusoidal ramping dengan puncak tegak
lurus arah angin rata - rata. Muka gelincir yang curam terdapat pada arah angin yang
berkurang. Transversal dune jarang terjadi pada permukaan deflasi. Tranversal dune
adalah tipe berkelompok, naik pada bagian belakang dari dune berikutnya.

Gambar dari tipe bukit pasir ini dapat dilihat pada Gb.3

3.2 Interdune

Interdune adalah antara dua dune, dibatasi oleh bukit pasir atau sand sheet. Interdune
dapat terdeflasi (erosi) atau pengendapan. Sedikit sekali sedimen yang terakulasi pada
interdune yang terdeflasi. Daerah interdune dapat meliputi dua arah endapan angin dan
sedimen diangkut dan diendapkan oleh arus di daerah paparan.

3.3 Sand Sheet

Sand sheet adalah badan pasir yang berundulasi dari datar sampai tegas yang terdapat di
sekitar lapangan bukit pasir. Dicirikan oleh kemiringan yang rendah (00 - 200 ).
Lingkungan sand sheet berada di pinggiran bukit pasir.

4. Bentuk Perlapisan

Wilson (1991, 1992) dalam Walker (1992) menyatakan ada tiga skala utama bentuk
perlapisan pada endapan eolin yaitu ripple, dune dan draa. Ripple yang disebabkan oleh
angin lebih datar dari pada yang disebabkan oleh air dan biasanya mempunyai garis
puncak yang lebih regular. Bentuk perlapisan dune lebih besar dari pada ripple dan
ketinggiannya bervariasi dari 0,1 sampai 100 meter. Bentuk perlapisan draa adalah
perlapisan pasir yang besar antara 20 sampai 450 meter tingginya dan dicirikan oleh
melampiskan keatas (superimpose) dari dune yang lebih kecil. Tabel- 1 adalah klasifikasi
perlapisan endapan eolian.
5. Tekstur

Tekstur meliputi bentuk, ukuran dan susunan butir. Batupasir eolian mempunyai 3
sublingkungan pengendapan (Walker, 1992) yang membedakan 3 macam tekstur pada
endapan eolian, yaitu :

• terpilah baik sampai dengan sangat baik pada batupasr halus yang terjadi pada
sublingkungan pantai.
• terpilah sedang sampai baik pada batupasir dune di darat yang berbutir baik.
• terpilah jelek pada batupasir interdune dan serir.

Bukit pasir bervariasi dalam ukuran butir dari 1,6 - 0,1 mm. Endapan bukit pasir
umumnya terdiri dari tekstur pasir yang terpilah baik dan kebundaran baik juga ;kaya
akan kwarsa. Endapan bukit pasir di pantai mungkin kaya akan mineral berat dan
fragmen batuan yang tidak stabil. Bukit pasir di pantai yang terjadi didaerah tropis
banyak mengandung ooid, fragmen cangkang, atau butiran karbonat lainnya. Bukit pasir
yang terdapat di daerah gurun dapat mengandung gypsum seperti White Sand, New
Mexico

6. Struktur Sedimen

Pengangkutan dan pengendapan oleh angin membentuk tipe struktur sedimen ripple,
dune dan silang siur (cross-bed) seperti yang dihasilkan pada pengangkutan oleh air
(Boggs, 1995). Struktur sedimen yang terdapat pada bukit pasir adalah :

 kumpulan perlapisan silang (cross-strata) berukuran sedang sampai besar, yang


cirinya terdapat pada muka kemiringan arah sari angin bertiup pada sudut 300 - 340 .
 kumpulan perlapisan silang tabular-planar dalam arah vertikal yang terdapat pada
bagian bawah.
 bidang batas antara kumpulan individu dan perlapisan silang yang umumnya
horinsontal atau miring dengan sudut rendah.
-
Tipe geometri struktur bagian dalam barchan dapat dilihat pada gambar-4. Selain itu
beberapa jenis struktur sedimen internal pada skala kecil dapat pula berbentuk perarian
lapisan datar (plane -bed lamination), perarian bergelombang (rippleform
lamination),ripple-foreset cross lamination, climbing ripple, grainfall lamination dan
sandflow cross -strata.

Pada bukit pasir yang kecil terdapat perarian silang siur tunggal (single cross lamination)
dan perlapisan silang siur yang tebal terdapat pada lapisan pasir yang cukup tebal.
Struktur sedimen yang besar tidak tampak pada inti pemboran, sehingga struktur sedimen
seolah-olah massive. Pengeboran melalui tranversal dan lunate dune mengungkapkan
bahwa beberapa kumpulan dari puncak bukit pasir dipisahkan oleh permukaan erosi dan
lapisan datar. Heterogenenitas perlapisan ini menggambarkan variasi yang tidak menentu
dari morfologi bukit pasir secara kasar. Perlapisan silang siur diendapkan saat migrasi
angin rendah pada muka gelincir dan unit perlapisan datar dan subhorisontal diendapkan
pada sisi belakang dari bukit pasir.

Endapan interdune dicirikan oleh perlapisan dengan sudut kemiringan yang rendah (< 100
) karena interdune terbentuk oleh proses migrasi dari bukit pasir, banyak terdapat
bioturbasi yang merusak struktur perlapisan. Sedimen yang diendapkan pada interdune
dapat mencakup dua macam endapan yaitu subaquaeous dan subaerial, tergantung pada
iklim dimana mereka diendapkan, basah, kering atau daerah yang banyak terjadi
penguapan.

Endapan pada interdune kering dibentuk oleh ripple karena proses pengangkutan oleh
angin. Endapannya relatif kasar, bimodal dan terpilah jelek dengan kemiringan yang
tegas, lapisannya membentuk perarian yang jelek. Endapannya banyak mengandung
bioturbasi yang merupakan hasil acak binatang maupun bekas tumbuhan.

Pada interdune yang terjadi di daerah basah dekat dengan danau, silt dan clay
terperangkap oleh badan yang semipermanen. Endapan ini dapat mengandung spesies
organisme air tawar seperti gastrododa, pelesipoda, diatome dan ostracoda (Boggs, 1995).
Dapat pula terbentuk bioturbasi seperti jejak kaki binatang.

Endapan sheet sand juga mengandung kemiringan yang tegas atau permukaan iregular
dari erosi beberapa meter panjangnya, terdapat jejak bioturbasi yang disebabkan oleh
serangga atau tumbuhan, struktur cut-and-fill pada skala kecil, kemiringan yang tegas,
lapisan perarian yang jelek sebagai hasil dari perbatasan pengendapan grainfall,
diskontinu, lapisan tipis pasir kasar yang interkalasi dengan pasir halus, dan kadang-
kadang interkalasi dengan endapan eolian yang mempunyai sudut besar Gb.5
menunjukkan distribusi dan hubungan stratigrafi dari sheet sand dan endapan bukit pasir
eolian.
Gb.6,7,8,9 dan 10 adalah contoh-contoh struktur sedimen pada endapan eolian.

7. Model Perlapisan dan Batas Permukaan

Hasil perlapisan dari migrasi bentuk lapisan sebagai pendakian/undakan pasir


mempunyai sudut dan arah yang berbeda-beda (Gb.II). Model perlapisan yang sederhana
meliputi sistem bentuk lapisan termigrasi dengan sederhana dan bentuk kumpulan
arsitektur yang sederhana. Sebagai contoh bukit pasir tranversal migrasi melewati gurun
dari lapisan silang siur tabular (tabular cross-bed) dipisahkan oleh permukaan bidang
planar. Transversal dune migrasi melalui transversal draa dari bentuk yang sederhana ke
bentuk yang lebih kompleks, termasuk permukaan orde kedua pada kemiringan arah
angin berkurang. Meskipun demikian, bentuk lapisan dibangun oleh perpindahan pasir
dan juga disebabkan oleh keberadaan struktur perbahan angin meyebabkan perubahan
bentuk perlapisan yang ada dan perubahan bentuk lapisan juga berinteraksi dengan angin
untuk menghasilkan bermacam-macam bentuk keseimbangan.
8. Kesimpulan

- Angin memegang peranan yang penting pada proses sedimentasi. Hasil endapan oleh
angin banyak dijumpai dimuka bumi ini khususnya didaerah beriklim kering dan semi
kering. Contohnya adalah endapan bukit pasir yang terjadi di lingkungan gurun,
glacial dan pantai.

- Butiran pasir dapat diangkut oleh angin dengan dua cara yaitu suspensi dan sultasi.
Ukuran butir yang lebih kecil akan terbawa dalam gumpalan debu secara traksi ,
sedangkan yang berukuran lebih besar akan terseret, menggelinding dan meloncat.

- Endapan bukit pasir dipantai mempunyai bentuk butir yang baik, kebundaran baik dan
terpilah baik sampai sangat baik. Interdune terdiri dari sand, silt dan clay dengan
pemilahan yang jelek. Batupasir yang berasal dari endapan dune memiliki porositas
yang baik dan baik pula sebagai batuan reservoar.

- Struktur sedimen yang terdapat pada endapan eolin umumnya silang siur, silang siur
sejajar sampai dengan silang siur bergelombang. Ukurannya kecil (internal) sampai
yang berukuran (perlapisan)

Daftar Pustaka

- Allen, JRL, 1970, Physical Processes of sedimentology an Introduction, George Allen


and Unwin LTD, London.
- Sam Boggs, Jr, 1992, Principles of Sedimentology and Stratigraphy 2 nd edition,
Prentice-hall inc, New Jersey.
- Sekunder Asikin, 1978, Diktat Geologi Dasar, Institut Teknologi Bandung.
- Richard C. Selley, 1988, Applied Sedimentology, Academic Press, New York.
 Roger G. Walker and Noel P. James, 1992, Facies Model : Respone to sea level
change, Geological Association of Canada.
Gambar - 1 : Lingkungan pengendapan pada endapan angin (a) gurun
(b) glacial outwash plain © pantai (Allen, 1970)

Gambar - 2 : Trajectori saltasi dari butiranpasir (Allen, 1970)


Gambar - 3 : Tipe bukit pasir (a) Barchan (b) Tranversal © Longitudinal
atau Seif dune (d) Stellate atau piramida (Allen, 1970)

Table 1 Morphology and classification of eolian bedforms. After McKee (1979)

Morphology Name Associations


Sheet - like Sheet sand

Thin elongate strips Streaks COMPOUND - two or more of


the same type combined by
Circular to elliptical Dome overlap or superimposition
mound, dome - shaped (Wilson”s draa)

Crescent in plan Barchan

Connencted crescents Barchanoid (akle)

Asymmetrical ridge Transverse (reversing) COMPLEX - two different basic


types occurring together, either
Symmetrical ridge Linear (seif) Superimposed (wilson”s draa), or
adjacent
Gambar - 4 : Tipe geometri dan strktur bagian dalam dari barchan dune
(Boggs, 1995)
TABLE - 2 : Basic types of stratification in eolian deposits.
Gambar - 5 : Distribusi dan hubungan stratigrafi dari sheet sand dan endapan
Eolian (Boggs, 1995)
Gambar - 6 : Perlapisan pearian sejajar pada Gambar - 7 : Penampang obligue melalui
pasir kasar dan halus (Walker 1992) Grainfall laminasi dengan interbed sand-
flow di bagian atas (Walker, 1992)

Gambar - 8 : Penampang obligue pada ukuran besar (Walker, 1992)


Gambar - 9 : Perlapisan sandflow silang siur pada lapisan perarian
Sejajar (Walker, 1992)
Gambar -10 : Ripple karena angin pada pasir kasar (Walker, 1992)
Gambar - 11 : Model stratifikasi untuk tipe dune yang simple dan kompleks.
Penampang longitudinal dan tranversal sejajar dan tegak lurus.
Dengan resultan arah angin (Walker, 1992)

SISTEM PENGENDAPAN GLASIAL

Pendahuluan

Pengertian tentang sistem pengendapan glasial dan macam - macam bentuknya penting
dalam aplikasi. Pertama, data kandungan endapan glasial dapat digunakan
menyelesaikan masalah tentang proses - proses geologi yang terjadi. Kedua, endapan
glasial merupakan dasar untuk mempelajari lingkungan geologi. Dengan adanya
investigasi karakteristik teknik geologi, pedoman hydrogeological, dan arus transportasi
dalam sistem pengendapan glasial. Sistem pengendapan glasial merupakan suatu
pendorong dalam penyelidikan tentang sistem pengendapan glasial ini juga merupakan
pendorong untuk mempelajari / mengetahui tentang letak dari pengendapan klastik dan
karbonat dari suatu reservoar hidrokarbon pada tahun 1950 - an

Setelah mempelajari aspek - aspek dari glasial dan hubungannya satu sama lain,
kemudian diaplikasikan kedalam ilmu geologi ekonomi atau hasil penyelidikan geologi
yang bernilai ekonomi. Selain itu diketahui pula bahwa dalam sistem pengendapan glasial
juga membawa serta endapan -endapan mineral dan bermacam - macam batuan yang
dibungkus oleh es. (Placer ; Eyles, 1990), dan sistem pengendapan glasial digunakan juga
dalam penyelidikan untuk endapan mineral yang terdapat pada pelindung /
pembungkusnya sendiri. (drift prospecting ; Dilabio and Coker, 1989). Dimana diketahui
pula bahwa lapisan batu dari glasial mempunyai kebiasaan digunakan dalam geologi
minyak, tetapi kandungan dari Paleozoic glasial lebih penting / berarti digunakan dalam
penyelidikan minyak dan gas, seperti : Australia, Argentina, Brasil, Bolivia, Saudi
Arabia, Yordan dan Oman. (Levll et al, 1988; Franca and Potter, 1991). Banyak orang
berpikiran bahwa fasies dari pengendapan glasial masih karakteristik yang unik. Ini
disebabkan oleh campuran yang tidak tersotir dengan baik, semua ukuran ada, mulai dari
bongkah - bongkah / batu - batu besar sampai kelempung, Kadang - kadang endapannya
tepat pada glasier dan lapisan - lapisan esnya. Bagaimana sedimen yang mempunyai
penampilan singkapan sama dapat memberikan sebuah endapan luas baik itu lingkungan
glasial dan nonglasial “Term diamitct” akan digunakan untuk sebuah deskripsi, masa
nongenetic betul - betul dari fasies yang sortirannya kurang baik tanpa memperhatikan
asal mulanya. Hanya dengan diamict dapat diketahui endapan yang langsung pada “ice
glasier” dapat diidentifikasi dengan baik. Suatu permasalahan pokok dalam mempelajari
stratigrafinya adalah untuk menentukan apakah fasies diamict spesifik sumbernya dari
glasial atau nonglasial. Banyak contoh dalam literatur dimana sedimen itu mula - mula
terjadi dan dapat ditunjukkan berasal dari sumber nonglasial. Diamict hanya tipe fasies
dalam keadaan biasa dan produksinya dari lingkungan pengendapan dalam sebuah luas
daerah tertentu dan juga pengaruh iklim. Dalam keadaan biasa tidak mungkin kita
berkesimpulan bahwa sumber sebuah diamict berasal dari sebuah singkapan tunggal dan
kecil. Yang penting selalu diperhatikan adalah hubungan antara facies dalam stratigrafi.

Agar dapat memperkirakan tanda - tanda untuk lingkungan pengendapan digunakan


refensi asosiasi fasies. Dengan pendekatan yang dasar dapat ditarik kesimpulan bahwa itu
adalah produksi facies diamict, sebagai contoh, aliran sedimen oleh gaya berat, yang
cenderung faciesnya dipengaruhi oleh arus turbidit. Dimana asosiasi fasies ini berubah -
rubah pada lingkungan pengendapan yang berbeda, dalam model 3 dimensi dapat
memperlihatkan endapan dengan jelas. Untuk interprestasi yang baik memerlukan profil
defosit vertikal secara terinci, bersama - sama dengan informasi variasi lateral dan
geometri deposit diluar singkapan lokal. Umumnya. Asosiasi glasial fasies beserta
lingkungan pengendapannya terjadi khususnya pada sungai, danau, darat yang berbatu
dan pada kemiringan. Dalam kebanyakan kasus glasier yang mempunyai volume besar
diberikan oleh lingkungan pengendapan dilaut atau lacustrine basin, dimana sedimen
glasial primer lebih banyak bekerja dibandingkan proses sedimen nonglasial yang
berbeda dan pengaruh lingkungan glasial dapat diidentifikasi dan juga asosiasi - asosiasi
fasiesnya. Sistem pengendapan glasial dapat terlihat dengan jelas pada geometri 3
dimensi, dimana proses hubungan fasiesnya mencatat bahwa elemen paleogemorphic
basin yang terbesar. Berdasarkan pemisahan dan krnologis lingkage, sistem pengendapan
ini diidentifikasi menjadi dua bagian yaitu glacioterrestrial dan glaciomarine

Sistem Glacioterestrial Tract.

Lingkungan pengendapan glacioterestrial dapat dibedakan atas 4 jenis yaitu :

1. Subglacial
2. Supraglacial
3. Glaciolacustrine
4. Glaciofluvial
Substrate relief dan lingkungan tektonik adalah berperan sebagai dasar dalam
pengendapan glacialteretrial ini. Menurut hasil penyelidikan bahwa pertumbuhan lembar
- lembar es dibumi ini dalam jumlah yang besar, tetapi kurang yang mengandung
endapan - endapan. Glacial itu aktif pada basin akibat tektonik. Dalam jumlah yang besar
ternyata glacial besar dari sedimen ocean basin. Iklim juga mempengaruhi endapan
glacial terrestrial ditepi es.

Posisi Glacioteretrial Pada Low - Relief.

Glasil low - relief ini ditunjukkan dengan baik dengan adanya distribusi glasial deposit
pleistocene seperti yang terjadi di Amerika bagian utara. (gambar 2,3) Beberapa sistem
pengendapan pada low - relief yang dapat terjadi dapat dilihat pada gambar 1.

1. Sistem Pengendapan Subglacial

Kondisi / keadaan didasar lembaran - lembaran es yang besar akanberubah luasnya yang
diakibatkan oleh perbedaan temperatur es dan kecepatannya. Untuk es yang dasarnya
basah dimana kondisi tertutup oleh tekanan titik lebur es, es tersebut meluncur serta
berakhir pada substrate. (gambar 4a,b). Sedangkan dalam kondisi dasar yang kering es
tetap pada lapisan Frozen dan kebanyakan berpindah / bergeraknya juga menyebabkan
perubahan bentuk pada bagian dalamnya. Sedangkan deposit fasies subglasial diamict
pada prinsipnya terjadi/terdapat dibawah bagian dasar es yang basah. (gambar 4c,d).
Runtuhan Englacial didalam transportasi sebuah lapisan basal tipis (1m) itu terdiri dari
lapisan - lapisan es yang tidak rata. Abrasi yang kuat itu terjadi diantara kedua partikel
dalam lapisan dasar, dan diantara partikel dengan substrate. Runtuhan itu saling
bertubrukan dengan lapisan, dapat membentuk subtratelagi sebagai akibat dari tekanan
cairan dan yang dikeluarkan dari es. Sedangkan ciri dari “Glacially - shaped Clasts” dapat
dilihat pada gambar 5. Kelanjutan dari produksi lodgement membuat lapisan lentircular
menjadi tebal. (gambar 6,7,8). Pada yang poros yang panjang “Clast” mempunyai
penjajaran pararel yang lebih kuatyang ditimbulkan oleh aliran es. Pengukuran poros
yang panjang berorientasi dengan sedikit clasts memberikan sebuah indikasi aliran es
lansung yang cepat. Letak dari “lodgement till” ditentukan oleh lokal dan regional
unconformity dan cenderung mempunyai geometri regional “ sheet - like” (gambar 6,7).
Dimana ketebalan totalnya tidak melebihi dari 50 meter Unit “lentircular till” yang kuat
terjadi didalam bentuk “sheet - like”. Hubunganya merupakan potongan menyilang dan
tumpang tindih sebagi akibat dari erosi pada substrate dalam merespon perubahan
kecepatan gerak dari es. Perubahan aliran lengsung dari es dan runtuhan dari litologi yang
berbeda hasilnya dapat dilihat sebagai suatu tumpukan dari beberapa “lodgement till”
yang berlapis keatas selama sebuah glaciation tunggal. (gambar 6). Setiap unit till
mengandung clasts dan matrix dari perbedaan sumber lapisan batuan (bedrock).
Penekanan ini dibutuhkan untuk ketelitian dalam interprestasi maju/ mundurnya siklus
dari “multiple - till” stratigrafi. Adanya tanah bercampur batu kerikil pada chanel sebagai
hasil dari sungai - sungai kecil yang kering, juga kumpulan dari komponen-komponen
dari stratigrafi subglasial (gambar 6) Chanel mempunyai sebuah planah pada permukaan
bagian atas yang memotong diamict, dimana berorientasi pada aliran es langsung yang
subparalel dan hubungan genetik dengan “ekers ridges” (gambar 6). Oleh karena itu
kehadiran fasies glaciofluvial didalam lingkungan “lodgement - till” tidak terlalu penting
sebagai petunjuk mundurnya glacier.

2. Sistem Pengendapan Supraglasial

Bagian luar dari tepi lembaran - lembaran es biasanya merupakan batas dimana sisa
daerah yang luas dari tofografi bukit-bukit kecil terdiri dari sedimen-sedimen yang
bervariasi dengan geometri komplek. Selama proses glaciation yang terakhir, perluasan
dari es berhenti sekitar seperempat kilometer seperti yang terjadi di Amerika bagian utara

(gambar 2,3). Perbedaan tekanan yang kuat antara “upglacier” yang aktif dengan
penghalang - penghalang oleh bagian tepi es menghasilkan perlipatan yang kompleks dan
perlapisan runtuhan basal yang tebal (gambar 9). Dimana “melt-out till” bersama dengan
perkembangan fasies “diamict” pada permukaan es adalah asosiasi dengan topografi
bukit-bukit kecil yang khusus dimana itu merupakan data kompleks dari pemisahan tepi-
tepi es. (gambar 10 d). Jika bagian luar dari tepi es yang tipis menjadi “frozen” pada
substrate maka lempengan dari “bedrock” yang besar juga glaciotectonized boleh tidak
ikut dengan proses tersebut. Ini adalah pergerakan dari es tidak melakukan luncuran pada
basal, tetapi terjadi deformasi dibawah substrate sedimen. Apabila proses ini tidak
berjalan lagi, maka bentuk ini menjadi menutup oleh runtuhan-runtuhan englasial pada
permukaan es. (gambar 9,10a,b,c). Penutupan ini tidak stabil dan pergerakan sedimen
akibat aliran gravitasi untuk kedalam basin yang berbentuk ketel, merupakan generasi
penutupan oleh pencairan es pada suatu tempat tertentu. (gambar 10b,c). Dimana
pencairan kearah bawah lebih cepat oleh produksi tofografi daerah rendah “diamict”
supraglacial pada prosese sedimentasi ulang secara umum diakibatkan oleh aliran dari
reruntuhan - reruntuhan yang ada, serta mempunyai lapisan berupa “clast” yang pararel
dengan arah alirannya, dimana “clast” itu merupakan rancangan dari lapisan-lapisan
paling atas, bagian-bagian berbentuk rakit dan fragmen-fragmen dari sedimen yang sudah
lebih dulu, juga channelnya berbentuk bagian yang menyilang, terdapat geometri
lenticular yang mengalami penebalan pada “down-slope” serta ketidak hadirin relief pada
perlapisan atas dari permukaan dan adanya suatu kecendrungan untuk mengisi tofografi
yang rendah. Massive dan lapisan kasar dari fasies “diamict” berpengaruh, dimana fasies
lapisan - lapisan kasar sebagai hasil dari aliran massive yang tipis pada lapisan diatasnya.
Dimana fasies “ diamict” adalah merupakan “interbedded” dengan “glaciofluvial” dan
fasies “lacustrine”. Ini merupakan basal yang ada pada bagian atas sebagai hasil dari
“melt-out till” (gambar 9), yang boleh menutup lapisan batuan berbentuk rakit pada
bagian atas yang sekarang merupakan pembentuk dari dasar es. Kondisinya berada
dibawah sehingga struktur englasial berupa perlipatan dari rangkaian runtuhan basal yang
merupakan kelanjutan dari “melt-out” dalam bentuk perlapisan berhubungan serta
berorientasi melintang sebagai pembentuk aliran es langsung (Shaw, 1979).
3. Sistem Pengendapan Glaciolacustrine.

Kolam glaciolacustrine sebagai hasil dari erosi glacial, disrupsi glacial bekas sistem
drainase dan mengeluarkan / menghasilkan air akibat proses pencairan dalam jumlah
yang besar. Berubahnya basin dari daerah yang sempit/terbatas, menyerupai tipe
pegunungan dalam daerah high - relief, daratan yang luas dalam skala danau berada
dibagian dalam dari seaways. Danau yang luas dalam statical yang sama menekan
evaluasi bagian dalam dari daratan oleh lembaran es. Danau Agassiz adalah contoh yang
terkenal, yang luasnya kira - kira 1.000.000 km2 terdapat di Amerika bagian utara (Teller
and Clayton, 1983). Sebuah perbedaan yang sederhana antara kontak es dengan badan
danau dapat dilihat pada gambar dilihat pada gambar (11). Satu dari banyak karakteristik
dari fasies glaciolcustrine, yang setiap tahun produksinya berantai dimana ukuran
butirnya sangat kontras sebagai hasil dari kondisi sedimen yang berbeda dalam musim
dingin dan musim panas. Dimana diketahui jika musim panas lapisannya kebanyakan
terdiri dari sand dan silt, sedangkan pada musim dingin lapisannya terdiri dari cly
(lempung). Untuk model klasik formasi varve dalam non ice - contact danau-danau
glacial menegaskan pengaruh musim kuat sangat kuat, misalnya pada musim panas tepi -
tepi es pada supraglacial mencair sehingga endapan - endapannya dapat berpindah.
Mencairnya supraglacial sangat berarti dalam menahan musim dingin. Dibawah pengaruh
ini sedimentasinya didominasi oleh perkembangan delta yang berbentuk kipas, bulat dan
menonjol. Dalam musim panas, sedimen dibebani kerapatan dibawah aliran. Tanda -
tanda dari fasies lithologi suatu endapan itu menjadi jelas dalam setiap musim panas yang
merupakan musim mencairnya es, (gambar 12) dan pencatatan mulai berawal dari
penambahan dan menurunnya kerapatan aliran bawah yang aktif (Ashley, 1975). Pada
musim panas tanda dari lapisan tipis dikategorikan ke dalam jenis silt dengan bungkus
oleh ripple dan ripple - drift yang tipis dan mengalami laminasi yang menyilang. Bagian
dasar umumnya kasar, tajam dan perlapisannya boleh meratakan tanah (gambar 12,13D).
Kandungan / endapannya boleh dari multiple lamination yang mewakili endapan sebuah
getaran tunggal. Boleh juga kontribusi kecil itu merupakan material pelagic dari interflow
atau overflow yang menyerupai bulu atau sedimen yang melayang-layang. Unit lempung
(clay) hitam boleh juga memperlihatkan indikasi tingkatan deposit normal yang
merupakan sedimen melayang-layang dibawah pembungkus es yang menutupi danau.
Ketebalan dari perlapisan umumnya seragam bersilangan dengan basin tetapi kandungan
endapannya boleh “massive atau”cross-stratified sand” dan laminasi silt yang pada
musim dingin menarik turun tingkatkan danau dan delta foreslope merosot turun.
(gambar 12). Liang dan jejak fosil umumnya dijumpai pada perlapisan saat musim panas.
Tetapi bukan pada musim dingin. Pada kenyataannya sistem pengendapan yang ada.
Banyaknya perlapisan menggambarkan suatu perbangingan tunggal atau ganda dari unit
kelas atau kualitas dari silt dan clay dengan divisi-visi yang tertentu. Ini boleh
mempunyai deposit dengan bagian-bagian yang berlainan dan mempunyai ciri - ciri
khusus berdasarkan arus turbiditnya dengan kontrol musiman yang kurang jelas.
Penarikan kesimpulan ini boleh boleh dikatakan kurang tepat jika bagian perlapisan yang
diakibatkan oleh turbidit pada daerah pusat itu berlainan. Bagaimana “thin-bedded” yang
turbidit boleh juga “interbedded” dengan perlapisan yang dikontrol secara musiman dan
memerlukan studi lapangan yang detail (Ashely, 1975). Ciri-ciri untuk danau yang bukan
“ice-contact” dalam basin “low - relief” dimana sedimentasinya semata - mata ditentukan
oleh musim dimana mencairnya permukaan lembaran-lembaran es. Sedangkan didalam
“high-relief” basin dari danau itu berada pada “zona” pegunungan. Model sedimentasi
dari danau glacial “ice-contact” sangat mengecewakan karena mempersulit pekerjaan dari
bagian logistik pada danau “proglacial” yang modern dan basin danau modrn yang
uikurannya kecil dibandingkan dengan pleistocene contoh-contoh yang lebih tua.
Perluasan dari deposit glaciolacustrine pleistocene itu dapat dilihat disekitar danau-danau
besar yang modern di Amerika utara adalah sangat penting untuk studi sedimentasi dalam
skala besar, khusus danau “ice-contact” didalam posisi “low-relief”. (gambar 14,15).
“Diamict” adalah butiran yang halus dan mempunyai geometri sebuah “blanket-like”,
dimana mengalami penebalan pada tofografi rendah dan penipisan pada daerah yang
sangat tinggi. Dimana pada bagian dalam, “diamict” mempunyai susunan komplek
berupa massive dan fasies yang berlapis-lapis. (gambar 13e,14,15) fasies “diamict”
massive sebagai hasil dari lapisan deras, sehingga sedimennya melayang-layang dan
rakit-rakit es runtuh diatas dasar basin. Stratifikasi yang berikutnya boleh berkembang
oleh proses pekerjaan ulang dari sedimen ini akibat arus yang menarik atau perulangan
sedimentasi pada “down-slope”. “diamict” biasanya adalah “overlain” pada unit-unit
chanel yang berupa laminasi lumpur-lumpur lempung, kemungkinan asalmula turbidit,
kandungan dari “dropstone”. (gambar 13c). ini adalah perubahan :ovelain” oleh
pengkasaran bagian atas yang berjalan dengan baik pada “ripple-laminated”, planar dan
tembus dan tembus ke pasir “cross-bedded” yang menurut catatan letaknya pada pada
progadasi delta yang merupakan akumulasi “diamict”

4. Sistem Pengendapan Glaciofluvial.

Sistem pengendapannya membuat kandungan yang diatas mempunyai berarti bagi


deposit dari sedimen-sedimen glacial sungai-sungai “melt-water”. (gambar 16) Ditepi es
proses agradasi biasanya cukup deras sehingga menutupi bagian-bagian dari tepi es. Ini
mengantarkan struktur deformasi dalam ukuran butir-butir kasar, lapisan kasar atau
lapisan massive pada saat menutupi cairan es yang berikutnya. Lubang dari permukaan
“out - wash” ditutupi oleh es yang mencair, dimana perluasannya dapat mencapai
seperempat kilometer. Ini merupakan sisi “eskers” atau kontak es yang kompleks dari
jajar “diamict” (gambar 9) Dimana sungai-sungai dari glacial “out -wash” ini kebanyakan
bertipe “multiple-channel” atau “Braided”. Depositnya umunya didominasi bentuk dasar
yang luas, dimana perluasannya itu merupakan sebuah aliran tunggal serta dapat
berfungsi sebagai transportasi sedimen sepanjang tahun. Pengaruh angin dalam
menghadirkan vegetasi, sebagai hasilnya adanya deposit akibat gerakan angin yaitu silt
dan pasir. Dimana akumulasi dari “peat” yang tebal dapat menghasilkan batu bara. Proses
glaciofluvial adalah penting karena boleh melengkapi pekerjaan ulang/kembali dari
deposit sedimen pada glacier (gambar 16). Data-data dari bentuk endapan menunjukkan
kehadiran dari es dapat menghancurkan/merusakkan. Ini adalah sebuah masalah dalam
interprestasi deposit-deposit pada jaman dahulu/kuno, karena deposit-deposit sungai
braided terjadi dalam posisi/kedudukan dari banyak deposit. Sebuah hubungan glasial
boleh menjadi sangat sulit, jika tidak mungkin diidentifikasi bukti/tanda harus mencari
dari kehadiran atau ketidak hadirin iklim dingin struktur periglacial, atau dari kejadian
glasial dari clast yang tajam-tajam, (gambar 5) dan kerut-kerut. Ini adalah masalah
terutama dalam kedudukan high-relief.

Sistem Glaciomarine Tract.

Sebuah bagian sederhana sistem pengendapan “glacial marine” yang membedakan posisi
continental self dari continental slope dan teluk yang sepit dan panjang diantara karang

yang tinggi. Dapat juga dipakai untuk menentukan tepi dari es apakah lingkungannya
didominasi oleh proses glasial atau proses marine, (gambar 17). Iklim regional adalah
kontrol yang lain dan penting karena berhubungan dengan volume es yang mencair
dilingkungan marine. Lingkungan laut yang sederhana dicontohkan dengan terdapatnya
volume dalam jumlah yang besar dari cairan es dan lumpur yang langsung mengisi
paparan, (gambar 1). Lingkungan sediment-nourished dapat bertentangan dengan
sediment-starved dalam hal hal posisi, itu adalah tipe frozen yang besar didaerah kutub
masukan “melt-water” adalah sama sekali terbatas sehingga “deposition” kimia dan
biogenic” relatife menjadi penting, ini terdapat di Antarctica, (gambar 18, Domack,
1988). Dengan jelas, bahwa penebalan deposit “glaciomarine” sederhana/sedang pada
daerah laut adalah mungkin karena terlindungi oleh batu-batuan.
Figure I. Depositional environments and typical vertical profiles of facies deposited during a single phase
of glacier advance and retreat in vanaos glacioterrestrial and glaciomarine environments.
Figure 2. Schermatic distribution of sediments resulting from Quatermany glacition of northern North
America. Note widespread distribution of thick, glacially derived marine sediment in ocean basins : these
sediments are preferentially preserved in the Earth.s glacial record.

Figure 3. Schermatic distribution of Quatermary glacioterrestrial sediments in northern North America.


Glaciolacustrine sediments obscure large areas.
Figure 4. A)Top, moverment of dry-based (polar) glacier by internal deformation. Glacier is frozen to the
bed ; bottom, in contrast wet-based glaciers move by internal deformation and basal sliding. Horinzontal
arrows indicate relative amounts of ice moverment.B) moverment of wet-based glacier on bedrock
substrate.C) “Stiff-bed” model for accretion of till sheets below wet-tased ice (see Fig. 8) Accretion occurs
by iricremental smearing of englacial debris agairist substrate (lodgement till ). D) “soft-bed” model where
till is produced below wet based ice by subgtacial shearing of overridden sediments (detormation till ; see
fig 14)
Figure 5. Glacially-shaped clasts. A) exposed in front of modern glacier (athabasca Glacier, Alberta). B)
weathhering out from a late Proterozoic tillite (Tauodeni Basin, Mauretania) Note streamlined nose on
clasts (to left, both photographs) which point up-glacier ; also note truncated ends and striae.
Figure 6. Depositional environment, stratigraphy an generalized vertical profile for lodgment till
succession (see Fig.6c).

Figure 7. Low relief till plain being exposed by retreat of an Iceinandic glacier , lines parallel to ice margin
are margin are annual push ridges. Section in centre of photograph is 8 m high
Figure 8. Massive, overconsolidated lodgement till showing subhorinzontal shear planes. Late Wisconsin
deposits at Sandy By, Northumberland. England

Figure 9. Depositional environment, stratigraphy and generalized vertical profile for supraglacial deposits
at margin of stgnant, debris-rich. Ice margin (see Fig. 17) (1) debris flows, (2) melt-out till, (3) outwash, (4)
deformed subsrate, (5) lodgement till (see Fig 8) or deformation till (see Fig. 14).
Figure 11. Contrasting depositional conditional conditions in ice-contact and non ice-contant lakes

Figure 12. Deposition of seasonally-controlled (varved) sediments in non ice-contact lake.


Note proximal to distal (1,2,3) trend from thick (cm to m) variably-rippled sand to thin (cm) silts bounded
top and bottom, by a winter clay layer. Slope failure of the delta front in the winter may result in more
comlex successions (I-V. ; see Shaww, 1977)
Figure 13. Glaciolacustrine facies. A) Proximal varved sands (e.g.,1 in fig.19) with winter clay layers
arrowed. These fasies were deposited in a non ice-contact lake (Fraser river valley, British Columbia) B)
Lowermost rippled sands with overlying draped lamination (silt) with winter clay layers arrowed (e.g.,2 in
Fig. 19) Deposited in a non ice-contact lake (Glacial lake Hitchcock, Massachussetts). C) Laminated silt
and clay containing abundant ice-rafted material. Some laminae show normal grading from silt to clay.
Note variable thickness of laminae Depodited in an ice-contact lake; Don Valley Brickyard, Toronto,
Ontario. D) Varved silt and clays deposited in lake Agassiz, northern Ontario Note relatively constant
thickness of laminations. Scale in cm; photograph courtesy T Warman. E). crudely stratifled muddy diamict
formed by ice-ralting and setting of suspended fines in an ice-contact glaciolacustrine environment; photo
shows about 1 m of outcrop. Lale Wisconsin

Figure 14. Outcrop geometry of last glaciation (Wisconsin) glciolacustrine complex (diamicts, sand, silt,
clays) exposed, Scarborough Blutfs, Ontario
Figure 15. Idealized vertical profile through Late Wisconsin glaciolacustrine complex exposed at
Scarborough Bluffs, Ontario. See fig.21 for outcrop geometries.
Figure 16. Glaciofluvial environments and facies A) Scott outwash fan, alaska. B) Typical braided river
gravel facies showing planar tabular sheets of massive to poorty-stratifled gravets deposited on longitudinal
bars. Note thin (30 cm) wedges of sand deposited along trailing edge of gravel bars (see chapter 7). Section
is approximately 8 m high.
Figure 18. Glaciomarine deposition along high relief antarctic continental margin. Subglacial deposits
accumulate when ice extends across shelf. Postglacial reworking and resedimentation of these deposits is
coeval with deposition of siliceand organic oozes under conditions of clastic starvation (see Domack,
1988). Numbers refer to sedimentation raters (cm/1000 yr)

LAGUN (LAGOON)

DEFINISI
Lagoon berarti danau dipinggir laut, sehingga lagun dapat didefinisikan sebagai suatu
kawasan tertutup yang terletak di pinggir pantai dan dibatasi oleh penghalang. Bentuknya
dapat memanjang sejajar dengan pantai apabila penghalang. Bentuknya dapat memanjang
sejajar dengan pantai apabila penghalang berupa punggungan (barrier) dan ada pula yang
bentuknya relatif melingkar apabila dikelilingi oleh reef atol.

KLASIFIKASI

Karena bentuknya yang tertutup, ciri khas dari lagun adalah kadar garam (salinitas) yang
bervariasi dari sangat tinggi hingga tawar, tergantung pada kondisi hidrologi dan iklim
daerah tersebut. Lagun terbentuk di daerah yang kering atau semi kering. Lagun di daerah
kering memiliki salinitas yang lebih tinggi dari pada yang berada didaerah semi kering
yang sering hujan (basah). Lagun di daerah kering dicirikan dengan salinitas yang tinggi
(hypersaline), sedangkan di daerah yang basah dicirikan oleh air payau. Gambar-1
memperlihatkan bentuk umum.

Berdasarkan kandungan garam dalam air (salinitas) lagun secara lateral dapat dibagai
menjadi 4 bagian, yaitu freshwater dominated zone, brackish zone, sea-water dominated
zone dan hypersaline zone (Boggs, 1992).
Pembagian ini dapat dilihat pada Gambar-2.

 Freshwater dominated zone, adalah daerah yang didominasi oleh air tawar yaitu
dekat dengan aliran air tawar masuk.
 Brackist zone (zona payau) adalah daerah dimana terjadi pencampuran air tawar
dan air laut yang masuk melalui celah penghalang.
 Sea - water dominated zone, yaitu zona yang dekat dengan celah penghalang
dimana air laut dapat masuk melalui celah tersebut.
 Hypersaline zone, yaitu daerah yang mempunyai salinitas sangat tinggi karena
dari aliran air tawar.

Beberapa jenis lagun yang tidak mempunyai aliran air tawar hanya mempunyai dua atau
tiga jenis lingkungan. Lingkungan. Selley (1988) membagi lagun menjadi 3 zona, yaitu
Hypersaline, Brackish dan Fresh.

Menurut geomorfologinya dan pertukaran air secara alamiah dan tepi laut, Kjerfve dan
Magil (1989) dalam Boggs (1992) mengidentifikasi 3 tipe lagun. yaitu Choked lagoon,
Restricted lagoon dan leaky lagoon (Gambar - 3).

 Chocked lagoon, bentuknya memanjang dan dipengaruhi oleh energi gelombang


yang lebih besar dari pada pasang surut.
 Restricted lagoon umumnya mempunyai dua atau lebih celah penghalang, arus
pasang surut yang besar dan lebih banyak disebabkan oleh angin.
 Leaky lagoon, terbentang sepanjang pantai hingga mencapai lebih dari 100 km
dengan luas beberapa km saja. Arus pasang surut sangat dominan didaerah ini.

PROSES SEDIMENTASI

Transport sedimen, aliran air dan pencampuran air di dalam lagun dipengaruhi oleh
jumlah air tawar yang masuk, gelombanglaut, pasang surut laut, badai (strom), gradien
densitas, perubahan muka laut serta perubahan iklim dan temperatur (Boggs, 1992).
Sirkulasi air di dalam lagun lebih sedikit yang disebabkan oleh air tawar dari pada yang
terjadi di estuari. Selain itu dapat pula berasal dari air laut dalam bentuk arus pasang surut
yang masuk melalui celah penghalang dan gelombang yang ditimbulkan oleh angin.

Lingkungan lagun umumnya berenergi rendah karena terhalang oleh barrier, sehingga
endapan lagun terdiri dari sedimen berbutir halus. Materialnya terdiri dari batupasir dan
lempung. Batupasir yang kasar dapat berasal dari erosi barrier yang diendapkan di
pinggir lagun dan menghalus ke arah pusat lagun (Gambar-4). Pada umumnya perubahan
antara batupasir, lanau dan lempung adalah berlapis dan menjari (Walker, 1992) Pada
beberapa lagun yang tidak mempunyai muara sungai, material yang diendapkan berasal
dari material marin dan lebih dominan lempung. Dapat pula dijumpai fraksi kasar apabila
terjadi gelombang besar yang mengerosi penghalang (barrier) dan terendapkan di lagun.
endapan delta dapat terbentuk di ujung celah penghalang, didalam lagun atau dibagian
laut terbuka (Boggs, 1992). Materialnya terdiri dari batupasir halus yang terjadi apabila
gelombang besar mengikis barrier dan terendapkan di lagun. Contoh komposisi stratigrafi
daerah lagun di formasi Cretaceous, Alberta Selatan, Kanada, diperlihatkan pada Gambar
-5.

Struktur sedimen yang ada umumnya pejal pada batu lempung dengan sisipan tipis
batupasir halus. Dijumpai pula gelembur gelombang dan beberapa silang - siur (cros
bedding) berukuran kecil pada endapan batupasir yang disebabkan oleh pasang surut.
Struktur bioturbasi sering sering dijumpai pada batulempung pasiran (siltstone) yang
bersisipan batupasir di dasar lagun (Boggs, 1992). Batupasir tersebut ditafsirkan sebagai
hasil endapan angin, yang berstruktur perarian sejajar dan kadang - kadang dijumpai riple
cross lamination. Struktur sedimen burrow (galian binatang) ditemukan pada lapisan
batupasir berbutir halus.

Fosil yang dijumpai di lingkungan lagun sangat tergantung pada kondisi salinitas dari
pada (Boggs, 1992). Fosil-fosil air payau yang dijumpai merupakan indikasi bagian
muara sungai. Pada beberapa tempat sisipan batupasir dijumpai gloukonit yang
mencirikan hasil pengendapan dekat celah penghalang. Lagun dengan dengan kondisi
salinitas normal (sama dengan air laut), fosilnya sama dengan fosil yang ada dilaut
terbuka. Kadangkala mengandung lumpur karbonat yang berasosiasi dengan pecahan-
pecahan cangkang. Hal ini ditafsirkan sebagai bagian lagun yang mengalami perombakan
karena tektonik, pada penghalang berupa batugamping. Selain itu dijumpai jenis
moluska yang menandakan lingkungan berada dekat dengan lingkungan laut (Selley,
1980). Lagun dengan salinitas tinggi sedikit dijumpai fosil karena hanya sedikit yang
dapat hidup pada lingkungan dengan tingkat salinitas tinggi.

KESIMPULAN

Batuan sedimen di daerah lagun umumnya berbutir halus karena lingkungannya relatif
tenang. Didominasi oleh batupasir dan batulempung. Fosil yang dijumpai tergantung
pada tingkat salinitas dan masing-masing mencirikan tipe dari pada lagun. Struktur
sedimen umumnya perarian sejajar dijumpai gelembur gelombang dan silang siur kecil
pada daerah dekat celah penghalang.

PUSTAKA

 Sam Boggs, Jr. 1992, Principles of Sedimentology and Stratigraphy 2nd edition,
Prentice-hall inc., New Jersey.
 Richard C. Selley, 1988, Applied Sedimentology, Academic Press, New York.
 Roger G. Walker and Noel. P. James 1992, Facies Models : Response to sea level
change, Geological Association of Canada.
Gambar - 1 : Diagram yang menggambarkan hubungan antara lagun, estuari
lagun dan estuari (Walker , 1992).

Gambar - 2 : Pembagian lagun berdasrkan salinitasnya, beberapa lagun hanya


mempunyai dua atau tiga jenis lingkungan (Boggs, 1992).
Gambar - 3 : Pembagian lagun berdasarkan lagun energi pertukaran air dan tepi
pantai (Boggs, 1992)

Gambar - 4 : Klasifikasi estuari, menggambarkan morfologi, oceanografi dan


karakter sedimentasi dimasing-masing tipe estuari (Walker, 1992).
Gambar - 5 : Contoh komposisi stratigrafi daerah lagun di formasi Cretaceous,
Alberta Selatan, Kanada (Boggs, 1992).

PAPARAN KARBONAT

1. PENDAHULUAN

Sedimen dan batuan karbonet di definisika sebagai batuan sedimen yang mengandung
mineral karbonal lebih dari 50%, dan menerel ini mengandung CO3 dan satu atau lebih
kation Ca, Mg, Fe, dan Mn. Biasannya kebanyakan mineral karbonal adalah kalsit
(CaCO3) yang merupakan komponen utama batugamping, dan mineral dolomit (CaMg
(Co3)2), yang mana adalah komponen utama batugamping, dan mineral dolomit Dari
seluruh pembentukan batuan karbonat diperkirakan lebih dari 90 % adalah karbonat
natural dan mereka menyumbang 1/6 dari seluruh batuan sedimen.

Dalam reservoar migas, batuan karbonat adalah diantara batuan yang sangat penting,
yang merupakan reservoar penghasil migas kira-kira 40 % dari minyak bumi dan gas
dunia. Salah satu contoh reservoar karbonat dengan produksi migas yang besar adalah
reservoar karbonat Timur Tengah.

Sedimen karbonat yang dijumpai sekarang ini kebanyakan terletak pada lingkungan laut
dan mungkin beberapa di daerah teresterestrial, tetapi tempat yang sangat berlimpah dari
sedimen karbonat ini adalah dilingkungan laut dangkal tropis.

II. PEMBENTUKAN SEDIMEN KARBONAT

Meskipun tidak semua, kebanyakan sedimen karbonat adalah hasil dari proses kimia atau
biologi yang bekrja pada lingkungan laut tertentu, salah satunya bersih, panas, dangkal.
Secara umum, faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan akumulasi maksimum
sedimen karbonat adalah, bahwa lingkungan harus : (a) tidak terlalu dalam dan tidak
terlalu dangkal, (b) tidak terlalu panas dan terlalu dingin © tidak terlalu tawar dan terlalu
asin, (d) tidak terlalu banyak sedimen darat atau klastik, (e) dan tidak terlalu banyak
makanan, tetapi cukup beberpa. Berikut ini tiga faktor utama yang mengontrol
produktivitas sedimen karbonat akan dibicarakan dibawah ini.

II.I Latitude dan Iklim

Pada gambar II-I ditunjukan distribusi daerah sedimen karbonat laut dangkal modern
(wilson, 1975) yang jelas menghubungkan antara pengendapan dan lajur ekuatorial dan
daerah arus laut panas.

Secara umum tata letak iklim sebagian mengontrol laju sedimen klastik darat yang di
kirim ke paparan atau cekungan oleh proses fluvial atau eolian. Masuknya sedimen
silisiklastik menghasilkan partikel-partikel lempung dan lanau tersuspensi yang mana
sangat menghalangi produksi klasium karbonat. Supensi sedimen menurunkan
ketransparan air dan fotosintesa, akibatnya mengganggu pertumbuhan alga kalkareous,
yang mana adalah penghasil utama sedimen karbonat.
II.2. Penetrasi Cahaya

Penetrasi cahaya mengontrol distribusi organisme pengeluar karbonat yang


membutuhkan cahaya untuk fotosintesis, bervariasi dengan kedalaman air, Iatitude, dan
kejernihan air. Raadiasi cahaya menmbus air, ini diserap dengab cepat pada bagian atas
lapisan laut. Kedalaman intessitas cahaya berkurang 1 % pada level permukaan cahaya
berkisar dari 30 sampai 150 m untuk tipe air lautan berbeda.

Batas kedalaman pertumbuhan koral secara geografis bervariasi (Gambar II-2).


Pertumbuhan koral aktif di Carribbean berkisar dari 40 sampai 60 m, sedangkan didaerah
indo-Pasifik hanya 15 sampai 90 m.

II.3. Salinitas

Perbedaan dan kelimpahan biota mengindikasikan seluruh baiknya seluruh faktor-faktor


yang mempengaruhi pertumbuhan karbonat(Carbonat Factory) (Gambar II-3). Berangkat
dari kondisi laut terbuka normal menunjukkan penurunan perbedaan fauna karena
berbagai organisme tidak dapat mentolernasi ganbbuan yang menyebabkan perubahan
salitias. Peningkatan salinita menurunkan keanekaragaman biota dan salinitas diatas 40 %
kebanyakan invertebrata menghilang, meskipun alga kalkareous kontinyu memproduksi
sedimen terhadap waktu.

III. KOMPOSISI

III.I Komposisi Kimia

Elemen kimia utama batuan karbonat adalah didominasi oleh kalsium, Magnesium,
Carbon dan oksigen. Kelimpahan relatif elemen-elemen (lemen oksida) tersebut dalam
batugamping dan dolomit ditunjukkan pada gambar III -IB. Elemen - elemen lain yang
juga dijumpai pada batuan karbonat dijunjukkan pada gambar III-IA. Sedangkan elemen
jejak (trace elemen) yang biasa dijumpai pada batuan karbonat meliputi B, Be, Ba, Sr, Cl,
Cr, Cu, Ga, Ge, dan Li. Konsentrasi elemen jejak tersebut tidak hanya dikontrol oleh
minerologi batuan, tetapi juga dikontrol oleh jenis dan kelimpahan relatif butiran skeletal
fosil dalam batuan. Banyak organisme-organisme menghimpun dan menggabungkan
elemen-elemen jejak tersebut ke dalam struktur skeletalnya.

III.2. Mineralogi
Sedimen karbonat moderen umumnya mengandung mineral aragonit (CaCO3), termasuk
kalsit (khususnya pada ooze kalkareous sedimen laut dalam) dan dolomit didalamnya.
Kalsit (CaCO3) dapat mengandung beberapa persen magnesium dalam formulanya
karena magnesium dapat dengan mudah menggantikan kalsium dalam kisi-kisi kristal
kalsit, dimana ion magnesium dan kalsium memiliki ukuran dan muatan yang mirip. Jadi
berdasarkan kandungan magnesiumnya, dapat kita kenali dua macam kalsit, yaitu : (a)
“simple calcite”, yang mengandung MgCO3 kurang dari 4 %. (b) “high magnesian
calcite” yang mengandung MgCO3 lebih dari 4%. Kalsit magnesium tinggi masih
menggambarkan ion Ca dalam kisis - kisi kristal kalsit. Perbedaannya dengan mineral
dolomit adalah, dolomit mempunyai kandungan mineral yang seluruh berada dimana
ion Mg menempati separuh tempat - tempat kation dalam kisi-kisi kristal dan tersusun
dalam bidang yang terurut baik yang berganti-gantian dengan bidang ion CO3 dan ion
Ca. Dolomit terjadi dalam lingkungan sedimen karbonat modern yang terbatas, terutama
dalam lingkungan supratidal tertentu dan danau air bersih, tetapi dolomit kurang
berlimpah dalam lingkungan karbonat modern dibandingkan dengan argonit dan kalsit.
Mineral karbonat lainnya seperti magnesit, ankerit, dan siderit sedikit dalam sedimen
modern.

Berbeda dengan sedimen karbonat modern air dangkal yang didominasi oleh mineral
aragonit, batuan sedimen karbonat purba yang lebih tua dari kapur mengandung sedikit
mineral aragonit. Aragonit adalah mineral metastabil polimorf (memiliki komposisi kimia
sama, tetapi struktur kristal berbeda) CaCO yang berubah cukup cepat dalam kondisi
akueous ke kalsit. Rasio dolomit terhadap kalsit lebih besar pada batuan karbonat purba
dibandingkan pada karonat modern, kemungkinan karena mineral-mineral CaCO3
terkspose diantara air kaya magnesium selama pembebanan dan diagnesa dan berubah ke
dolomit oleh replecemen.

III.3 Butiran dan Matriks

Sedimen karbonat moderen umumnya dibagi ke dalam dua subbagian komponen dasar,
yaitu : butiran (grains) dan lumpur (mud). Butiran adalah kerangka pada kebanyakan
karbonat dan secara organik terdiri dari endapan sisa-sisa cangkang (skeletal), secara
inorganik adalah endapan partikel dan aggregat kedua partikel organik dan inorganik..
Kerangka butiran biasanya dibagi ke dalam dua kelompok butiran, yaitu skeletal dan
nonskeletal. Secara konvensional batuan karbonat juga diklasifikasikan menurut ukuran
butiranya, seperti klasifikasi sedimen klastik berdasarkan skala ukuran butir wentworth.
Ukuran butir lebih dari 2 mm dinamakan calcirudite, ekuivalen dengan konglomerat
sedimen klastik; antara 2 mm sampai 63 mikron disebut kalkarenit atau ekuivalen dengan
batupasir d, dan ukuran butir lebih kecil dari 63 mikron dinamakan kalsilutit setara
dengan batulempung.
Karbonat mud adalah batuan karbonat dengan butiran matriks halus, termasuk partikel-
partikel detritus dengan butiran sangat halus dan endapan kristalin sangat halus. Karbonat
ini ekuivalen dengan serpih dan batulempung silisiklastik. Gamping lumpur (lime mud)
laut adalah diperoleh dari organisme bentonik yang mati dan meluruh, detritus berasal
dari partiel karbonat yang lebih besar, akumulasi biota plantonik, dan pengendapan
lamngsung dari air laut. Mg-kalsit dan aragonit membentuk gamping llumpur moderen
tetapi kebanyakan adalah arogonit.

Selanjutnya sedimen karbonat ini menjadi batu oleh proses lithifikasi, sehingga
komponen utama ketiga adalah semen. Jadi, sebenarnya batuan karbonat terbentuk oleh
tiga komponen utama, yaitu butiran, matriks, dan semen. Dalam lingkungan laut
moderen, beberapa sedimen karbonat membatu pada atau hanya dibawah dasar laut ke
dalam batugamping, sebagai contoh, adalah “beachrocks yang mana adalah pembatuan
sedimen-sedimen pantai yang biasanya tersemen oleh aragonit dan Mg-kalsit berupa
serabut atau seperti jarum, yang merupakan pngendapan dari fluida laut, beberapa
pengendapan semen kalsit terjadi dalam lingkungan meteorik, seperti dalam lensa-lensa
air tawar yang berasosiasi dengan pulau karbonat. Dalam karbonat purba, semen aragonit
dan Mg-kalsit jarang tersimpan baik. Seperti ketidaksatabilan butiran aragonit dan Mg-
kalsit, semen-semen mineral ini juga berubah ke kalsit.

III.3.1. Butiran Karbonat Skeletal

Komponen skeletal batuan karbonat adalah diperoleh dari sisa-sisa organisme yang
menggeluarkan karbonat. Organisme menegeluarkan skeleton untuk mendukung dan
melindungi jaringan (tissue) lunak dan dalam pekerjaannya, secara organik mereka
mengendapan mineral karbonat yang mana mineraloginya bervariasi dengan tingkat
taxanomix organisme, kondisi lingkungan, dan khususnya temperatur. Tabe III-I
menunjukkan minerologi yang dihasilkan oleh berbagai organisme.

Umumnya, banyak butiran skeleton dapat diidentifikasi dalam batuan inti (core) atau
sampel tangan jika butiran tersebut seluruhnya atau sekurang-kurangnya berukuran pasir
kasar, seperti fusulinids dan crinoids, Namun demikian, untuk kebanyakan karbonat
pengujian penampang tipis (thin section) tetap dibutuhkan untuk mengidentifikasi jenis
butiran. Secara normal identifikasinya didasarkan pada ukuruan dan dan bentuk,
mikroarsitektur internal, dan mineralogi awalnya (seperti dinyatakan oleh bukti pabrik
atau kimiawi). Striktur internal, dihasilkan oleh susunan aggregat kristal dalam skeleton.
Pada gambar III-2A dan III-2B diperlihatkan beberapa jenis mikroarsitektur
(mikrostructure) skeletal utama.

Berdasarkan perbedaan minerologinya dan khususnya struktur internalnya, beberapa


material skeletal jenis skeleton terpecah - pecah setelah mati karena resistansi terhadap
abrasi. Pengrusakan skeleton-skeleton ini menghasilkan partikel-partikel yang dapat
dikenali berdasarkan resistansi relatifnya terhadap pengrusakan (breakdown).
Sheathed dan spiculed skeletons, yaitu materialnya-materialnya berukuran lanau sampai
pasir yang lepas dari jaringan (tissue) organiknya. Pada saat organisme mati, jaringan
organik rusak dan partikel-partikel lepas sebagai sedimen halus. Contoh meliputi
Penicillus (alga kalkereous), alcyonarians, koral, sponga, tunicates, dan holothurians.
Segmented skeletons, terdiri dari partikel-partikel mineral yang berhubung bersama-sama
dengan jaringan organik. Kematian dan pembusukan organisme biasanya sering
menghasilkan partikel-partikel berukuran pasir yang selanjutnya diendapkan. Contoh
adalah Halimeda, Persambungan alga merah dan echinoderms.
Branched skeletals, adalah mengandung pengkapuran yang baik proyeksi silinder atau
seperti mata pisau. Ukuran fragmen yang dijumpai dalam sedimen tergantung pada
ukuran asal organisme, kekeuatan dan ukuran cabang, serta sifat dan intensitas organik
dan pengrusakan mekanik yang dialaminya, contoh adalah beberapa koral (Acropora),
alga merah, dan bryzoans.
Chambered skeletons, meliputi semua yang berlubang atau sebagian berlubang,
Chambers berlangsung setelah organisme mati, tetapi variasi resistansinya lebar untuk
jenis chembers berbeda terhadap kerusakan, tergantung pada ukuran absolutnya, tebal
dinding, bentuk, dan mikrostrukturnya. Umumnya, bentuk arcuate bertahan sukses
terhadap pengkrusakan. Contoh adalah gastropods, serpulid worm tubes, foraminifera,
beberapa crustaceans, pelecypods.
Encrushted skeletons, meliputi semua tumbuhan dan binatang yang permukaannya
mengeras (encrusted). Dalam banyak kasus pengkrusakan skeleton-skeleton terutama
tergantung pada pengkrusakan organik pada permukaan kerasnya atau subtrate. Ini adalah
ketahanan trktur secara mekanik. Contoh meliputi beberapa alga, foraminifer, koral,
bryozoans, worms, hydrokorallines.
Massive skeletons, umumnya adalah besar dan berbentuk hemispherikal. Mereka
kebanyakan tahan terhadap pengrusakan karena ukuran butirnya dan dalam beberapa
kasus, karena mikrostrukturnya. Contoh adalah koral dan beberapa coralline algae.
Ukuran butir sedimen skeletal umumnya menunjukkan ukuran asal bagian keras dari
pengapuran (calcified), dan selanjutnya ukuran dan bentuk butiran yang tidak terpadu
(lepas-lepas) ini lebih berkaitan dengan arsitektur internal skeletons atau jenis erosi
biologi daripada regim hidroulik (Gambar III-3)

III.3.2 Butiran karbonat Non-Skeletal

Butiran non-skeletal adalah partikel-partikel yang berasal dari proses fisika, kimia
ataupun secara biologi dan butiran ini bukan bagian struktur organik. Berdasarkan ciri -
cirinya ada beberapa tipe butiran non -skeletal, sebagai berikut,

Lithokalst

Lithoklast, adalah fragmen hasil erosi, yang kemudian mengelami pembantuan (lithified),
atau pengerasan sedimen karbonat melalui pengawetan pecahan, erosi mekanik,
pemboran atau perlubangan secara biologi. Disini ada dua jenis lithocklast (Gambar III.-
4), yaitu :
(1) Ekstraklastadalah fragmen batugamping yang tererosi dari, sebagai contoh dekat
karang terjal dan diendapkan dengan sedimen yang seumur. Fragmen ini diperoleh
dari luar cekungan pengendapan dan tidak berkaitan dalam umur bagaimanapun, asal
pengendapan, atau komosisi sedimen seumur. Ekstraklast tidak biasa dijumpai dalam
batugamping
(2) Intraklasts adalah fragmen batugamping atau pengerasan sedimen diperoleh dari
dalam cekungan pengendapan. Fragmen ini meliputi beachrock, hardgrounds, atau
potongan alga stromatolite semi-terkonsolidasi (Gambar III-5). Intraklasts
mengandung partikel - partikel yang seumur dengan batuan induknya (host rock) dan
beberpa fabrik diagenetik dijumpai dalam interklast yang berkaitan dengan
lingkungan pengendapan sedimen induknya. Interklast sangat sering dijumpai dalam
karbonat. Mereka dapat berupa erosi laut apapun yang terletak pada tidal channels,
pantai, muka terumbu, tidal flat, dan lain - lain.

Kemungkinan jenis ketiga lithoklast, dinamakan grapestone (Gambar III-6), adalah


aggregat butiran (ooids, fragmen skeletal, peloids). Atau lumps, dan mereka tidak
menunjukkan tanda-tanda penorehan pada bouldernya.

Ooids

Ooids adalah partikel penutup (coated grain) berukuran pasir, berbentuk bundar sampai
oval bilamana berlapis adalah semoth dan konsentris disekitar nukleus butiran (Gambar
III - 7). Penutup (coating) terdiri dari cortex dan mungkin ini tebal (ooids yang terbentuk
baik) atau tipis (satu atau dua coating), dalam kasus seperti ini dinamakan ooids
superfisial. Tebal lapisan individu berkisar dari 3 sampai 15 mikron. Nukleus mungkin
berupa fragmen skeletal, peloid, ooid lainnya, atau butiran detritus seperti kuarsa dan
feldspar.

Meskipun data terbatas menunjukan pertumbuhan individu ooids mungkin sangat


perlahan, data yang diperoleh di Bahama menunjukan laju akumulasi hampir 1 m/1000
tahun. Akumulasi ooids berkembang baik pada platform dangkal tropis dan subtropis
dalam air bergerak, biasanya kedalaman berkisar 0 sampai 4 meter dan butiran
digerakkan oleh arus tidal, arus angin, dan gelombang. Pergerakan air mengeluarkan CO2
dari larutan dalam air laut dan meningkatkan pengendapan caCO3. Disini kebanyakan
ooids yang terbentuk adalah aragonit ooids, dan sedikit terjadi Mg-kalsit ooids. Aragonit
ooids cenderung membentuk orentasi kristal tangensial, sedangkan Mg-kalsit ooids
membentuk struktur radial. Selanjutnya, adalah perbedaan pola distribusi araganit dan
Mg-kalsit ooids. Aragonit ooids menempati daerah energi tinggi, sedangkan Mg-kalsit
ooids cenderung lebih terkonsentrasi dalam lingkungan energi rendah. Barangkali, energi
hidroulik mengontrol mineralogi.

Pellets dan peloids

Istilah peloid digunakan untuk menggambarkan semua butiran yang dibentuk pada
aggregat karbonat kriptokristalin, yang mengabaikan asalnya (Gambar III-8). Ini perlu
digunakan asal aggregat ini sering tidak jelas. Tetapi untuk butiran dengan asalnya yang
jelas, digunakan istilah pellet.

III.3.3 Karbonat Lumpur

Karbonat lumpur (carbonate mud) adalah batuan karbonat berbutir halus (<63mikron)
yang mana biasanya diidentifikasi mengunakan cahaya mikroskop. Dibawah pengamatan
mikroskop elektron, karbonat lumpur laut moderen dapat dilihat kandungan yang kecil
sekali, seperti kristal aragonit berbentuk jarum, butiran skeletal yang kelihatannya sangat
halus atau tererosi, atau fragmen skeletal yang sangat kecil, seperti coccoliths.
Kebanyakan lumpur aragonit, berbentuk jarum, adalah diperoleh dari disintegrasi alga
kalkareous yang mati, seperti Penicillus, dan menghasilkan akumulasi komponen
aragonit berbentuk jarum pada dasar laut. Lumpur lainnya, yang mana berbentuk butiran-
nano berbentuk membundar tanggung, adalah tidak jelas dari tanda-tanda organik. Ini
mungkin diendapkan dari air laut.

IV SISTEM PENGENDAPAN DAN FASIES MODELS

IV.I Tata Letak Pengendapan

Sedimen karbonat terutama diendapkan pada paparan platform laut dangkal, termasuk
platform epirik yang dilingkupi oleh air dangkal. Karbonat platform dapat juga terjadi
pada tepi blok kratonik dalam cekungan intrakratonik, melintasi top bank-bank lepas
pantai, dan daerah daerah positif lainnya pada paparan (Wilson & Jordan, 1983).
Sedimen karbonat mungkin juga dijumpai pada beberapa bagian lingkungan laut
marginal, seperti pantai, dan tidal flats.

Pada bab ini, penulis membatasi hanya membahas sedimen karbonat paltform. Berdarkan
sifat tepi (edge) platform-nya, ada tiga tipe dasar platform karbonat yang dapat dikenali
(Harris Moore, & Wilson, 1985), yaitu :

• Paparan karbonat rimmed


• Paparan karbonat unrimmed, termasuk paparan terbuka dan karbonat ramps
• Karbonat platform terisolasi.

IV.I.I Paparan Karbonat Rimmed


Adalah plaform dangkal yang ditandai oleh perubahan lereng yang jelas pada bagian tepi
luarnya (outer) kedalam air yang lebih dalam. Pada daerah perubahan (break) ini
biasanya berupa barier yang hampir mendekati menerus disepanjang tepi platform. Barier
ini biasanya berupa tertumbu buildup karena koral tumbuh subur didaerah ini atau
gundukan pasir skeletal/ooids yang dapat menyerap atau menghalangi energi gelombang
dan membatasi sirkulasi air, sehingga menghasilkan lingkungan paparan energi rendah
kearah darat, yakni berupa lingkungan “lagoon” atau berpotensi terbentuknya
lingkungan evaporit. Kearah darat, lagoon tersebut berangsur ke lingkungan tidal flat
berenergi rendah dibanding dengan pantai zona pantai yang berenergi tinggi.

IV.I.2. Paparan Karbonat Unrimmed

Unrimmed atau open paltform adalah paparan yang tidak ditandai oleh barier marginal
yang jelas. Paparan ini biasanya terjadi pada bank-bank tropis besar yang dingin dan
dalam semua karbonat daerah dingin (James & Kendall, 1992).

Ramp adalah platform paparan unrimmed dengan kemiringan landai (kurang dari I
derajat) pada daerah endapan air dangkal menerus ke arah slope dengan hanya sedikit
perubahan (break) kemiringan ke dalam fasies yang lebih dalam. Perubahan kemiringan
pada ramp ini tidak ditandai oleh trend terumbu yang jelas, tetapi gundukan pasir
diskontinyu mungkin dijumpai disepanjang tepi paparan ini, dimana energi air tinggi.
Sirkulasi air yang melintasi platform unrimmed mungkin cukup untuk perkembangan
energi tinggi zona pantai disepanjang pantai moderat disamping formasi skeletal atau
gundukan pasir ooid-pellet sepanjang tepi paparan. Jadi, karbonat platform paparan
unrimmed dipengaruhi oleh proses fisika yang seperti paparan silisiklastik.

IV.1.3 Platform Terisolir

Platform terisolir (isolated platform) adalah platform air dangkal dengan kemiringan
landai, lebar sepuluh sampai ratusan kilometer, biasanya terletak pada lepas pantai
paparan kontenental dangkal, yang dikelilingi oleh air dalam yang bekisar dari beberapa
ratus sampai beberapa kilometer kedalamannya.

IV.2 Proses Pengendapan

Tidak seperti pengendapan sedimen silisiklastik, yang dikontrol terutama oleh


prosesfisika. Proses pengendapan karbonat terutama dikontrol oleh kombinasi proses
fisika, kimia, biokimia, dan biologi. Pengendapan batuan karbonat sebagian besar adalah
proses autochthonous, sedangkan silisiklastik sebagian besar allochthonous dimana
material diperoleh dari sumber ekstrabasinal.
Meskipun, proses pengendapan batuan karbonat umumnya dipengaruhi oleh proses kimia
dan biologi, namun distribusi selanjutnya batuan karbonat juga dipengarhi oleh energi
yang bekerja selama pembentukan dan pengendapan batuan tersebut.

IV.2.1 Endapan Badai

Badai sapat sangat cepat dan radikal merubah disribusi sedimen pada bagian-bagian
paltform. Diatas dasar gelombang badai. Meskipun pengaruhnya pada karbonat air
dangkal adalah sangat jelas, tetapi harus diingat bahwa gelombang yang dihasilkan oleh
badai dapat mencapai kedalaman yang sangat dalam. Nelson, dkk. (1982) mencatat
bahwa gelombang badai menghasilkan arus dengan kecepatan lebih dari 11 cm/detik
pada kedalaman dibawah 100 m di dataran Three King, New Zeland bagian utara.

Gelombang badai dan arus menyebabkan pergerekan kembali sedimen-sedimen secara


intekstensif dan mentransportasi pasir dan lumpur ke arah cekungan. Lapisan grainstone-
packstone yang ditinggalkannya dengan struktur sedimen yang khusus akan berselang-
seling dengan wakstone-mudstone bioturbasi fairweather (gambar IV-!). Grainstone
hummocky cross stratification dan graded grainstone-packstone adalah dua jenis
tempestite (endapan badai ) yang biasanya terbentuk antara fairweather wave base dan
strorm. Lapisan tempestite dapat berkisar dari fairweater berkisar dari selang-seling
grainstone-mudstone sampai grainstone amalgamasi tergantung pada kedalaman air,
frekuensi dan intensitas badai, serta jarak daerah sumber atau garis pantai (Sami&
descrocers, 1992). Ciri-ciri lainnya yang terbentuk oleh badai pada sedimen tempestite
meliputi scoured based, swaly cross stratification, grading, gutter casts, interferensi ripple
caps, shelll cocuina dan horison-horison kondensasi (Kreisa 1981)

Endapan badai dapat dikenali dengan evalusasi bukti-bukti geomorfologi, stratigrafi, dan
biostratinomik. Bukti morfologi meliputi formasi pada spillover lobes offbank dan sand
lobe onbank (Aigner, 1985) yang nampak berkembang setelah lintasan topan melewati
daerah air dangkal (Iiine, 1977). Bukti stratigrafi meliputi lapisan skeletal sharp based
yang biasanya menutupi permukaan erosi dan sekuen menghalus keatas (Aigner, 1985).
Sedangkan bukti biostratinomik meliputi kerang-kerang (shells) yang bersambung
tersimpan sangat baik meskipun bergerak dari posisi asalan kehidupannya. Ini terjadi
karena kerang-kerang tertimbun dengan cepat oleh sedimen-sedimen yang tertranspor
oleh badai dan sedikit kesempatan untuk terpilah-pilah oleh proses biologi dan fisika.
Badai biasanya menstraportasinya atau menggerakan material skeletal massa besar dari
tempat pertumbuhannya. Jadi kepala koral dapat tertransport untukjarak tertentu sebelum
diendapkan pada tempet-tempet di platform. Proses ini mungkin dipercepat jika dasar
koral sebelumnya diperlemah oleh proses erosi biologi.

IV.3 Model Fasies Batuan Karbonat


Pembahasan model fasies karbonat ini, penulis hanya mendiskusikan model fasies
karbonat platform rimmed. Gambar IV-2, menunjukan fasies untuk platform unrimmed,
sebagai berikut :

Fasies laut dalam


Kedalaman air fasies ini biasanya lebih dari beberapa ratus meter, dan jadi dibawah dasar
gelombang (wave base). Kolom air seperti ini, umumnya, teroksigenasi, salinitas laut
normal, dan sirkulasi arus adalah baik tetapi tenang. Fauna bentonik air dalam dijumpai
dan mereka tersimpan sebagai abradeb dan seluruhnya fosil. Struktur pelubangan
berlimpah dan nodular bedding bisanya dijumpai.

Fasies Tepi Cekungan


Model fasies ini terletak diantara ujung slope dan dibawah platform yang memproduksi
karbonat. Sedimen yang diendapkan pada fasies ini diperoleh dari platform melalui
sedimen aliran gravitasi, sedimen slide/slumps, dan suspensi.

Fasies Foreslope
Fasies foreslope umumnya terletak diatas batas bawah air yang teroksigenasi dan dari
atas sampai dibawah dasar gelombang. Inklinasi slope lebih dari 40o dan umumnya tidak
stabil. Pengendapan dimulai dari proximal atau sedimen aliran gravitasi densitas tinggi
dan slides/slumps.

Fasies Tepi Platform


Reef-dominated
Ada tiga tipe profil organik buildup tepi paparan yang mungkin dijumpai (Gambar IV-3),
yaitu :

• Type 1 - downslope lime-mud accumulations


• Type II - Knol reefs sepanjang profil lereng landai
• Type III - Framebuilt organic reefs

Type I terbentuk oleh akumulasi karbonat lumpur dan akumulasi jatuhan organik yang
terdiri dari gamping lumpur bioklastik atau “belt mounds” pada foreslope tepi paparan
dengan slope atas berupa fasies pantai dan kepulauan, Fasies tepi Type II terdiri mounds,
organisme - organisme pembentuk kerangka organik berupa isolated clumps atau
encrusting sheets, atau organisme-organisme yang tumbuh diatas dasar gelombang (wave
base), dan akumulasi debris yang stabil. Sedangkan fasies tepi paparan type III adalah
pinggiran terumbu yang terbentuk oleh kerangka seperti kumpulan koral alga modren
dengan bentuk sessile berkembang melalui dasar gelombang kedalam zona ombak.
Contoh terumbu tepi seperti ini biasanya memiliki lereng yang terjal dan banyak debris
talus.

Sand shoals
Fasies ini biasanya berbentuk beting (shoals) pantai, tidal bars, dan pulau pasir. Pasir
karbonat terakumulasi pada kedalamann air beberapa meter. Biasanya lingkungannya
teroksigenasi baik tetapi tidak baik untuk kehidupan laut karena perubahan dasar lapisan.

Fasies Paparan Laut Terbuka


Kedalaman airnya dangkal, beberapa puluh meter dan salinitas bervariasi dari laut normal
sampai beberapa variasi salinitas. Sirkulasi air moderat dan fauna laut relatif terbuka atau
fauna laut sedikit tertutup mungking dijumpai, tergantung pada kedalaman dan sirkulasi
air. Sedimen yang biasa dijumpai adalh grainstone sampai wakstone dengan struktur
burrowing sering dijumpai, Patch reef atau bioherm mungkin dijumpai juga jika kondisi
laut terbuka.

Fasies Paparan tertutup dan Pertida


Fasies ini umumnya dijumpai pada lingkungan paparan dalam tertutup, lagoons, tidal
flats, dan tidal chennels. Dalam linkungan yang subagueous, yang mungkin dijumpai
adalah wackstones, pacstone sampai grainstone. Sedangkan dalam lingkungan intertidal
sampai supratidal mungkin dijumpai peloidal wackstones sampai grainstone, unit-unit
stromatolitic, dan intraclastic endapan badai. Didaerah dimana aktivitas gelombang
terjadi, bioklastik dan oolitic grainstone mungkin dijumpai disepanjang garis pantai.
Fauna yang dijumpai terbatas, terutama gastropods, algae, foraminifera tertentu, dan
ostracods.

V. DIAGENESA

Setelah proses pengendapan, sedimen karbonat adalah menjadi subjak dari berbagai
proses diagenesa yang dapat menyebabkan perubahan kimiawi, mineralogi, yang paling
penting dalam reservoar adalah perubahan porositas. Sedimen karbonat umumnya rentan
(mudah mengalami) terhadap pelarutan (dissolution), rekristalisasi, dan replacement dari
pada mineral-mineral silikat. Jadi, mineral-mineral batuan karbonat cenderung
mengalami alterasi mineralogi. Sebagai contoh, mineral lumpur aragonit asal mudah
teralterasi seluruh menjadi kalsit selama diagenesa awal dan pembenan. Kalsit mungkin
digantikan seluruhnya atau sebaian oleh dolomit pada waktu berikutnya oleh proses
dolomitisasi.

VI. Regim Diagenesa karbonat

Secara umum tahapan diagenesa pada sedimen karbonat seperti pada sedimen
silissiklastik, yaitu eodiagenesis pada pembenan dangkal, mesodiagenesis pada
pembebanan dalam, dan telodiagenesis jika terjadi pengangkat dan uproofing. Jadi,
diagenesis menempati tiga atau realm utama (Gambar V-I), yaitu laut, meteorik, dan
regim bawah permukaan.
Regim Laut
Meliputi dasar laut dan bawah permukaan laut sangat dangkal. Lingkungan diagenetik ini
dicirikan oleh temperatur dan salinitas air laut yang normal. Proses diagenetik dasar pada
lingkungan seperti ini meliputi bioturbasi sedimen, modifikasi kerang karbonat dan
butiran lainnya oleh pemboran organisme, dan sementasi butiran dalam daerah air panas,
terutama pada terumbu, beting pasir tepi platform, dan endapan karbonat pantai.

Regim Meteorik
Regim ini terjadi dengan dua cara, yaitu : (1) oleh turunnya muka laut relatif, dan (2)
oleh cepatnya pengisian seimen pada cekungan karbonat dangkal. Batuan karbonat yang
lebih tua dapat juga masuk dalam regim ini oleh tahapan akhir pengangkatan atau
uproofing kompleks karbonat dengan pembebanan yang lebih dalam (teladiagenesis).
Regim meteorik dicirikan oleh hadirnya air tawar ; yang meliputi zona tidak jenuh (pori-
pori sedimen tidak terisi dengan air) diatas water table, dan zona jenuh air dibawah water
table. Air meteorik umumnya sangat tinggi dimuati dengan CO2, sehingga secara
kimiawi sangat agresif. Karenanya aragonit dan kalsit magnesium tinggi lebih muda
larut daripada kalsit, mereka larut dengan mudah dalam air korosive. Sebaliknya,
pelarutan (dissolution) aragonit dan kalsit magnesium tinggi dapat menjenuhi air dalam
kalsium karbonat berkenan dengan kalsit, yang menyebabkan aragonit kalsitdiendapkan.
Proses dissolution - reprecipitation menyebabkan aragonit dan kalsit kalsium tinggi
kurang stabil sehingga digantikan oleh kalsit yang lebih stabil.

Regim Bawah Permukaan


Setelah periode awal diatas, sedimen karbonat secara berangsur terbebani kedalam dan
dalam regim ini terjadi peningkatan tekanan, temperatur tinggi, dan perubahan fluida
dalam pori-pori. Dibawah kondisi ini, sedimen karbonat mengalami kompaksi fisik,
kompaksi kimiawi, dan perubahan tambahan kimiawi/mineralogi yang meliputi
dissolution, sementasi, neomorphism, dan replcement. Sipat-sipat aksak perubahan yang
dialami selama diagenesa bawah permukaan dalam tergantung pada kondisi khusus
lingkungan pembebanannya, seperti temperatur, komposisi fluida pori, dan pH.
VI KESIMPULAN

• Ada tiga faktor utama yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan sedimen
batuan karbonat, yaitu : (1) paleomorfologi dan tektonik seting, dimana sedimen
tersebut diendapkan, (2) faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan internal
(carbonat factory) sedimen karbonat tersebut, dan (3) Energi yang bekerja selama dan
sesudah karbonat tersebut diendapkan.

• Faktor-faktor utama yang mempengaruhi pertumbuhan sedimen karbonat (carbonat


factory) adalah organisme biologi, iklim, kedalaman penetrasi cahaya, salinitas air,
temperatur dan lainnya.

• Kandungan mineraogi batuan karbonat dikontrol oleh organisme biologi yang


dikandungnya.
DAFTAR PUSTAKA

Aigner, T., 1995, Storm depositional systems : Spinger Verlag, 114p

Bosscher, H., 1992, Growth potential of Coral Reef and Carbonate Platform : Ph.D.
Dissertation, Virje University, Amsterdam, 159p.

Garrels, R.M., et al., 1971, Evolution of sedimentary rock : W.W. Norton, New York

Harris Moore & Wilson, 1985, Carbonate depositional environment, modern and
ancient : Colorado School of MineQuaterly, v80, no 4, PI-
60.

Heckel, P.H., 1972 , Recognition of ancient shallow marine environment, SEPM Special
Publication 16, p.226-286.

Hine, A.C., 1977, Lily Bank, Bahamas : history of active oolite sand shoal, Journal of
Sedimentary Petrology, V.42, p.1554-1581.

James & Kendall, 1992, Introduction to carbonate and evaporite fasies models : Fasies
model, respone to sea level change, Geological Association of
Canada

Nelson, et al., 1982, Shelf to basin, temperate skeletal sedimens, Journal of sedimentary
petrology, v.52, p. 717-732.
Roger G. Walker, 1992, Fasies models, response tosea level change, Geological
Associaion of Canada

Robertson Handford, 1995, Carbonate Depositional System and Sequence IAGI,


Yogyakarta.

Sam Boggs, Jr., 1995, Principle of sedimentology and stratigraphy, 2nd edition, Prentice
Hall inc

Scoffin, T.P., 1987, An Introduction to Carbonate Sediment and Rocks : New York,
Chapmn and Hall, 274p.

Wilson J.L., 1975, Carbonate facies ini Geologic History : New York, Springer Verlag

Wilson J.L. & C Jordan, 1983, Carbonate depositional environment : AAPG Mem 33

Gambar II-I : Penyebaran sedimen karbonat laut dangkal modern (Wilson, 1975)
Gambar II-3 : Pengaruh salinitas terhadap penyebaran binatang dan tumbuhan moderen
(Heckel, 1972)
Tabel III-I : Mineralogi kelompok besar yang dihasilkan oleh organisme karbonat
(setelah Scholle, 1978)
Gambar III-I : Menunjukkan komposisi kimia dan mineral pada batuan karbonat Garrels,
R.M., et al., 1971)

Gambar III-3: Diagram yang menggambarkan ukuran fraksi butiran yang dihasilkan
oleh :
(A) Pengrusakan mekanik pada Halimeda dan koral skeleton acropora
dan
(B) Pengrusakan secara biologi koral massive oleh sponge dan ikan
(Scoffin, 1987).

Gambar III-2A : Mikrostruktur skeletal yang dapat dilihat dalam penampang tipis
dibawah bidang cahaya terpolarisasi dan cross nikol (Scoffin, 1987).
Gambar III-2B : Mikrostruktur skeletal yang dapat dilihat dalam penampang tipis
dibawah bidang cahaya terpolarisasi dan cross nikol (Scoffin, 1987)

Gambar III - 4 : Lithoklast yang meliputi intraklast dan ekstraklast


Gambar III - 5 : Intraklast yang terdiri dari jenis torehan atas
Gambar III - 6 : Menggambarkan Grapestones, yaitu aggregat butiran dan resembles
bunches of grapes.

Gambar III - 7 : Menggambarkan jenis ooids modern dan purba


Gambar III - 8 : Peloids dan fecal pellets yang terbentuk karena eksresi, mikritisasi
butiran, atau sebagai intraklast kecil
Gambar IV-1 : Menunjukkan endapan badai (Tempestite), yang terdiri dari intraklastik
grainstone berbutir kasar berangsur ke atas grainstone berbutir halus
dan ditutupi oleh lapisan mudstone nodular.

Gambar IV-2 : Model Fasies untuk Platform Karbonat Rimmed (Wilson, 1975)
Gambar IV-3 : Tiga Tipe Karbonat tepi Platform : I - downslope lime mud accumulation,
II - knol reefs along gentle slopes, dan III - Framebuilt, organic reef rims
(Wilson, 1975).

Gambar V-I : Menggambarkan Regim Diagenesa Batuan Karbonat (Moore C.H., 1989)
Gambar V-2 : Memperlihatkan bebagai macam semen yang berbentuk dalam batuan
karbonat selama diagenesa. (James, N.P., et al., 1983)

Gambar V-3 : Kurva hipotetek yang menggambarkan hubungan porositas terhadap


kedalaman untuk berbagai proses diagenesa (Choquette, P.W.,et al).
LINGKUNGAN TERUMBU
(REEF)

III. PENDAHULUAN

Terumbu atau reef merupakan lingkungan yang unik yang sangat berbeda dari bagian
lingkungan pengendapan lainnya di lingkungan paparan (shelf). Terumbu ini umumnya
dijumpai pada bagian pinggir platform paparan luar (outer-shelf) yang hampir menerus
sepanjang arah pantai, sehingga merupakan penghalang yang efektif terhadap gerakan
gelombang yang melintasi paparan tersebut. Disamping terumbu berkembang seperti
massa yang menyusur sepanjang garis pantai diatas, juga dapat berkembang sebagai
“patch” yang terisolir dalam paparan bagian dalam atau inner-shelf (gambar I-I dan I-2).

Istilah lain untuk terumbu ini, ada yang menyebutnya dengan “carbonate buildup” atau
“bioherm”. Tetapi para pekerja karbonat tidak menyetujui penggunaan istilah terumbu
hanya dibatasi untuk carbonat-buildup atau inti yang kaku, pertumbuhan koloni
organisme, atau carbonat - buildup lainnya yang tidak memiliki inti kerangka yang kaku.
Wilson (1975) menggunakan istilah carbonat-buildup untuk tubuh yang secara lokal,
terbatas secara lateral, merupakan hasil proses relief tofografi, dan tanpa mengaitkan
dengan hiasan pembentuk internalnya. Sebelumnya Dunham (1970) mencoba
memberikan solusi dilema peristilahan ini dengan mengusulkan dua tipe terumbu, yaitu :

(a) Terumbu Ecologik : adalah terumbu yang dicirikan oleh bentuk kaku, struktur
tofografi yang tahan terhadap gelombang, dihasilkan oleh pembentukan aktif dan
pengikatan sedimen organisme.
(b) Terumbu Stratigrafi : dicirikan oleh batuan yang tebal, terbatas secara lateral, dan
merupakan batuan karbonat yang buruk sampai sangat buruk.

Selanjutnya Longman (1981) memodifikasi definisi Heckel (1974), yang mengatakan


bahwa terumbu sebagai karbonat yang tumbuh dipengaruhi secara biologi dan juga
mempengaruhi secara biologi dan juga mempengaruhi daerah sekitarnya.
II. TERUMBU MODEREN DAN LINGKUNGAN TERUMBU

II.I Letak Pengendapan

Kebanyakan terumbu terbentuk dalam lingkungan air dangkal,berupa terumbu linier yang
hampir kontinyu disepanjang tepi platform dan disebut juga sebagai “barrier-reef”
“Fringing - reef”, letaknya berlawanan dengan garis pantai yang terbentuk akibat paparan
yang sangat sempit. Sedangkan terumbu berbentuk seperti donat disebut “Atolls”, dimana
bagian luarnya merupakan penghalang gelombang lagoon yang dilingkarinya dan
terumbu yang lebih kecil lagi dan terisolisasi dinamakan “patch-reef” “pinnacle-reef, atau
“table - reef” yang terbentuk sepanjang beberapa tepi paparan, tersebar pada paparan
tengah (midle-shelf)

Disamping dalam air dangkal, terumbu juga dapat dijumpai dalam air yang lebih dalam,
seperti “mound” yang terbentuk secara organik dengan panjang 100 m dan tinggi 50 m
(Neuman, Kofoed), dan Keller, 1977) “Mound” ini mengandung lumpur yang mengikat
atau menyemen berbagai organisme air dalam, seperti : crinoid, ahermatypic hexacoral
dan sponga.

II.2 Organisme Terumbu

Hampir semua terumbu tersusun oleh koral, meskipun banyak organisme lain yang turut
menyumbang, seperti alga biru - hijau (cyanobacteria, alga merah coralline, alga hijau,
kerangka foramnifera, brozoa, sponga, dan moluska (Heckel, 1974; James dan
Macintyre, 1985). Dalam sejarah waktu geologi, beberapa kelompok organisme yang
membentuk terumbu meliputi : archaeocyathids, stromatoporoids, fenestethid bryozoans,
dan rudistid clams. Meskipun demikian, koral merupakan dominan terumbu modern, dan
ada dua jenis koral, yaitu :

(a) Hermatypic (zoanthellae) hexacoral : merupakan koral utama air dangkal yang
melakukan hubungan simbiotik dengan beberapa macam organisme unicelluler
terutama alga, yang kemudian dinakan secara kolektif sebagai zooxanthellae. Alga ini
hidup dalam atau antara kehidupan sel koral dan mendapatkan energi dari proses
photosistesis (Cowen, 1988). Selama proses photosintesis alga ini melepaskan CO2,
sehingga membutuhkan sinar matahari, oleh karenanya coral hermatypic ini terbatas
hidupnya hanya dalam air sangat dangkal.
(b) Ahermatypic (azooxanthellae coral : coral ini hidupnya tidak terbatas pada air
dangkal saja, tetapi dapat tersebar hingga pada kedalaman melebihi 2000m (stanley
dan Cairs, 1988) dan jarang mempunyai hubungan simbotis, sehingga merupakan
organisme utama sekarang yang membentuk “carbonat-buildup” dalam air yang lebih
dalam.

Bentuk pertumbuhan terumbu yang terbentuk oleh organisme sangat dipengaruhi oleh
energi air yang bekerja terhadap terumbu tersebut. Organisme yang hidup dalam energi
air yang rendah akan cenderung menghasilkan terumbu terbentuk delicate, branching, dan
plate-like. Sedangkan yang hidup dalam zona energi air yang lebih tinggi, terumbu
cenderung berkembang membentuk hemisperical, encruting, dan tabular (Gambar II-I)
dan biasanya lebih baik untuk untuk bertahan terhadap aksi gelombang yang kuat.

II.3. Lingkungan Terumbu Energi Tinggi

II.3.I Lingkungan Terumbu Energi Tinggi

Pada gambar II-2, ditunjukkan secara skematik pembagian sub-fasies terumbu platform
(platform margin reef), terdiri dari bagian inti tengah “Reef-framework”, yang berangsur
kearah terumbu. Pada bagian lebih atas mendekati datar dan dangkal terdiri dari “reef-
slope”, dan “fore-reef talus” berupa akumulasi jatuhan terumbu. Pada bagian lebih atas
mendekati datar dan dangkal terdiri dari “reef-flat” dan lebih kearah darat berupa “back-
reef coral algal sands “ dan “endapan lagoon sub-tidal” (Longman, M.W., 1981).

Secara fisiografis, James (1983) membagi terumbu kedalam zona “fore-reef”, “reef-
front”, “reef-crest’ “reef-flat” dan “back-ref” . Masing-masing zona dicirikan oleh jenis
material karbonat berbeda (Gambar II-3), sebagai berikut :

• Kata “rudstone”, “floatstone”, “bafflestone” “bindstone” dan “frameston” mula-mula


digunakan oleh Emery dan Klovan (1971) sebagai modifikasi klasifikasi batu
gamping yang diusulkan oleh Dunham (1962)
• “Floatstone” dan “rudstone” adalah butiran karbonat yang tidak terikat san
mengandung lebih dari 10 % butiran berukuran lebih dari 2 mm, beda keduanya
adalah “floatsone” merupakan mud-suported, sedangkan “rudstone’” adalah grain-
suported.
• “Bufflestone” adalah komponen karbonat yang terbentuk pada waktu pengendapan
berupa tangkai atau batang organisme yang terperangkap kedalan sedimen oleh
aktifitas buffle. “Binstone” terbentuk selama pengendapan oleh pengerasan dan
terikat organisme, seperti pengererasan foraminifera dan bryozoas, sedangkan
“framestone” tersusun oleh organisme seperti lokal yang membentuk struktur
kerangka yang kaku.

Energi air, proses sedimentasi utama, jenis organisme, persentase komponen kerangka,
ukuran butiran serta pemilahan sedimen berubah-ubah dalam setiap zona (fasies)
terumbu. Pada tabel II-1 diperlihatkan ringkasan karakteristik seperti itu untuk setiap
fasies atau zona yang ditunjukkan pada gambar II-2. Pada zona “reef-crest” dimana
energi air paling tinggi, maka persentase kandungan kerangka paling tinggi. Kemudian
pada kedua arah “fore-reef” dan “back-reef” energi air akan menurun, yang diikuti oleh
penurunnan kandungan kerangka. Perlu diperhatikan bahwa seluruh komponen kerangka
terumbu biasanya sangat lebih kecil volumenya dari pada volume kandungan non-
kerangka.
Longman (1981) membandingkan struktur terumbu dengan mudah, yang memiliki inti
tengah atau kerangka dikelilingi oleh “edible fruit”. Fraksi non-kerangka terumbu terdiri
dari organisme seperti echinodermata, alga hijau, dan moluska tidak membentuk struktur
kerangka, bersamaan dengan pecahan bioklas dari terumbu yang terkena aktivitas
gelombang dan dalam zona terumbu dengan energi lebih rendah, beberapa lumpur
gamping (lime mud). Zona fore-reef, talus-slope, dan back-reef coral algal sands
seluruhnya tersusun oleh kandungan non-kerangka yang terdiri dari terutama bioklas dan
beberapa organisme yang relatif hidup pada zona ini.

II.3.2 Lingkungan atau Fasies terumbu Energi Rendah

Pada lingkungan energi tinggi, fasies moderen terumbu type tepi platform umumnya
terdiri dari inti kerangka tengah yang mengandung sebagianbesar coral dan coralline alga.
Inti berangsur ke arah laut melalui zona fore-reef talus sampai lumpur gamping pada air
yang lebih dalam atau shales. Dan ke arah darat melalui back-reef coral algal sand sampai
endapan lagoon dengan butiran yang lebih halus. Model ini menyajikan alasan yang baik
untuk perkembangan terumbu energi tinggi dalam banyak posisi; meskipun beberapa
bentuk terumbu energi yang lebih randah juga dijumpai.

Pembagian zona karakteristik terumbu energi rendah tidak begitu baik berkembang
seperti terumbu energi tinggi dan terumbu cenderung membentuk bidang datar melingkar
sampai elip. Pertumbuhan organisme pada terumbu energi rendah umumnya didominasi
oleh bentuk-bentuk delicate, branching (gambar II-I), dan tersusun oleh pasir dan lumpur
karbonat yang sederhana dengan organisme yang sangat mirip bagi komposisi organisme
tipe terumbu (James, 1984). Bentuk pertumbuhan (buildups) energi rendah lainnya
tersusun sebagian besar oleh organisme non-terumbu yang terdiri dari tiang-tiang
fragmen skeletal berbentuk gundukan atau “mound” dan / atau lumpur gamping
bioklastik yang kaya organisme skeletal dengan sedikit organisme boundstone. Bentuk
struktur semacam ini dinamakan “reef-mound” atau “simply-mound”.

James dan Bourque (1992) mengelompokkan “mound” seperti diatas kedalaman tiga tipe
utama, yaitu :
(a) Microbial-mounds, yang mengandung calcimicrobes, stromatolities, dan
thrombolities.
(b) Skeletal-mounds, mengandung sisa-sisa organisme yang terperangkap atau buffed
dalam lumpur.
(c) Mud-mounds, terbentuk oleh akumulasi lumpur plus berbagai sejumlah fosil.

III. TERUMBU PURBA

Terumbu purba biasanya dapat dibagi hanya menjadi fasies utama yaitu :
(a) Inti - terumbu (“reef-core”), terdiri dari kerangka terumbu masif, tak berlapis,
organisme pembentuk terumbu yang terkandung tersemen dalam matriks lumpur
gamping atau lime mud.
(b) Sayap-terumbu (“reef-flank”), biasanya terdiri dari gamping konglomeratan atau
breksi taluis, berlapis, pemilahan buruk, dan atau gamping pasiran yang menipis dan
miring menjauhi inti-terumbu.
(c) “Inter-reef”, mengandung butiran halus, gamping lumpuran sub-tidal, atau
kemungkinan lumpur silisiklastik.

Salah satu contoh yang baik yang menggambarkan karakteristik umum kompleks
terumbu purba adalah “carbonat-buildup di bagaian utara Meksixo disebut dengan
Golden Lane ‘ Atol”, yang memperlihatkan perubahan biofasies dan lithofasies (Wilson,
1975). Pada bagian inti terumbu yang berada beberapa puluh meter diatas fasies karbonat
yang lebih dalam, terdiri dari “rudistid clams”, “colonial corals”, “stromatoporoids”, dan
“encrusting algae”. Beransur kearah pantai, terumbu berupa “oolitic-biogenic grainstone”
sampai mikrit “back-reef” “foraminiferal grainstone”, dan “bioturbated wackstone”
dengan fauna menunjukkan sirkulasi terbatas, dan lebih kearah pantai berubah kedalam
fasies yang lebih terbatas, dan lebih kearah pantai perubah kedalam fasies yang lebih
terbatas berupa endapan evaporit. Selanjutnya kearah laut (basinward), fasies terumbu
berubah ke fasies sayap-terumbu (“reef-flank”) yang terdiri dari interklastik kasar sampai
boulder biogenik yang tertanam dalam mikrit, dan lebih kedalam lagi fasies terdiri dari
batugamping mikrit dengan fauna organisme pelagik.

Kandungan organisme pembentuk terumbu juga tergantung pada umur terumbu tersebut.
Organisme utama pembentuk terumbu purba sangat berbeda dengan organisme terumbu
moderen. Koral hermtypic yang mendominasi pembentukan terumbu koral moderen,
pertama-tama muncul pada umur Mesozoik dan bukan komponen terumbu yang lebih
tua. Terumbu yang lebih tua dari Mesozoik umumnya didominasi oleh organisme
pembentuk terumbu lainnya seperti : koral tabular, “stromatoporoids”, “hydrozoans”,
“sponga”, “encrusting bryzoa”, “coralline algae”, dan “blue-green algae” (Stanley dan
Fagerstrom, 1988).

IV. KESIMPULAN

• Terumbu atau reef adalah batuan sedimen yang sangat unik dengan karakteristik dan
komponen penyusunan yang beragam dan umunya terbentuk pada lingkungan
paparan, khususnya tepi paparan atau shelf margin.

• Bentuk pertumbuhan terumbu ini sangat bervariasi tergantung letak dan besarnya
energi air yang bekerja selama perkembangannya. Disamping itu komponen kerangka
penyusunnya juga berbeda untuk setiap energi air dan posisinya.

• Berdasarkan energinya itu, ada dua jenis koral penyusun utama terumbu, yaitu :
pertama hermatypic coral, yang hidup pada air dangkal karena membutuhkan sinar
matahari dalam hidupnya dan yang kedua ahermatypic coral yang dapat hidup dalam
air yang lebih dalam bahkan melebihi kedalaman 2000m, sehingga memungkinkan
terbentuknya “carbonat-buildup” pada air dalam.
• Komposisi utama pembentukan terumbu disamping berubah dengan posisi dan energi
air yang bekerja selama pembentukannya, juga berbeda dengan umur terbentuknya
terumbu tersebut, seperti “hermatypic coral” mendominasi pembentukannnn utama
terumbu moderen yang muncul pada umur Mesozoik, sedangkan terumbu sebelum
Mesozoik didominasi oleh koral tabular, “stromatoporoids”, “hydrozoans”,
“sponga”, “encrusting bryzoa”, “coralline algae”, dan “blue-green algae”.

IV DAFTAR PUSTAKA

• Terumbu atau reef adalah batuan sedimen yang sangat unik dengan karakteristik dan
komponen penyusunannya yang beragam dan umumnya terbentuk pada lingkungan
paparan, khususnya tepi paparan atau shelf margin.
• Bentuk pertumbuhan terumbu ini sangat bervariasi tergantung letak dan besarnya
energi air yang bekerja selama perkembangannya. Disamping itu komponen kerangka
penyusunannya juga berbeda untuk setiap energi air dan posisinya.
• Berdasarkan energinya itu, ada jenis koral penusun utama terumbu, yaitu : pertama
hermatypic coral, yang hidup pada air dangkal karena membutuhkan sinar matahari
dalam hidupnya dan yang kedua ahermatypic coral yang dapat hidup dalam air yang
lebih dalam bahkan melebihi kedalaman 2000m, sehingga memungkinkan
terbentuknya “carbonat-buildup” pada air dalam.
• Komposisi utama pembentuk terumbu disamping berubah dengan posisi dan energi
air yang bekerja selama pembentukkannya, juga berbeda dengan umur terbentuknya
terumbu tersebut, seperti “hermatypic coral” mendominasi pembentuk utama terumbu
modern yang muncul pada umur Mezozoik, sedangkan terumbu sebelum Mesozoik
didominasi oleh koral tabular, “stramotoporids”, “hydrozoans”, “sponga”, “encrusting
bryzoa”, “coralline algae”, dan “blu-green algae”

IV DAFTAR PUSTAKA

• Sam Boggs, Jr, 1992, Principles of Sedimentology and Stratigraphy 2nd edition,
Pretice-Hall Inc., New Jersey.
• Roger G. Walker and Noel P. James, 1992, facies Models : Response to sea level
change, Geological Association of Canada.
Gambar I-I : Menunjukkan profil skematik lingkungan paparan (shelf) karbonat dengan
pembagian sub-lingkungan fasiesnya, 1. Basin; 2. Open-sea shelf, 3. Deep-
sea shelf; 4. Foreslofe ; 5. Organic buildup; 6 Winnowed platform edge
(sands);7.Open-circulation shelf; 8. Restricted-circulation self, dan 9.
Evaporites (P.A. Scholle, D.G. Bebout, dan C.H. Moore, Carbonate
depositional environment: AAPG Mem. 33, Tulsa, Okla).
Gambar 1-2 :Skematik tampak datar paparan karbonat moderen, rimmed, tropical yang
menunjukkan posisi relatif terumbu, lime-sand shoal, lagoon, dan tidal - flat
(James, N.P. 1984)

Gambar II-1:Menunjukkan bentuk pertumbuhan organisme pembentuk terumbu energi


dan tipe lingkungannya (James, N.P. 1983)

Gambar II-2:Menunjukkan idealisasi fasies terumbu moderen, terumbu koral dengan


perkembangan kerangka terumbu yang baik (Longman,-M.W., 1981)
Gambar II-3:Menunjukkan penampang zona hipotek terumbu tepi (marginal-reef) dengan
jenis batugamping dan bentuk pertumbuhan oarganismenya (Longman,
M.W., 1981)

Gambar II-4: Menunjukkan diagram skematik zonasi sebagai respon terhadap perbedaan
kondisi energi, berkisar dari air tenang sampai air bergelombang (James,
N.P., 1984).
Tabel II-I: Proses Pengendapan dan karakteristik fasies utama dalam kompleks terumbu
modern (modifikasi dari Longman, M.W., 1981)
Gambar III-1: Menunjukkan karakteristik umum biofasies dan lithofasies kompleks
terumbu purba pada penampang melintang “carbonat-buildup” berumur
kapur Tengah, Mexsiko Tengah (Wilson, J.L., 1975).