Anda di halaman 1dari 25

Mia Marella Rachman

20060310143
A. Latar Belakang
• Ileus merupakan kegawatan dalam bedah
abdominalis yang sering dijumpai.
• Merupakan 60-70% dari seluruh kasus akut
abdomen yang bukan apendisitis akut.
• Ileus memiliki mortalitas tinggi jika tidak
segera didiagnosis dan ditangani dalam 24
jam.
B. Tujuan Penulisan
Mengetahui lebih jauh tentang gambaran
radiologis pada ileus.
A. Pengertian
 Ileus merupakan suatu kondisi dimana
terdapat gangguan pasase (jalannya
makanan) di usus yang segera memerlukan
pertolongan atau tindakan.
 Ileus terutama dibagi dua berdasarkan
penyebabnya, yaitu ileus obstruktif dan
ileus paralitik.
 Ileus obstruktif  adalah kerusakan atau
hilangnya pasase isi usus yang disebabkan
oleh sumbatan mekanik.
 Ileus paralitik adalah hilangnya peristaltik
usus sementara akibat suplai saraf otonom
mengalami paralisis dan peristaltik usus
terhenti sehingga tidak mampu mendorong
isi sepanjang usus, contohnya amiloidosis,
distrofi otot, gangguan endokrin, seperti
diabetes militus, atau gangguan neurologis
seperti penyakit Parkinson.
B. Klasifikasi
a.) Ileus Mekanik
 Lokasi obstruksi :

 Letak tinggi : Duodenum-Jejunum


 Letak tengah : Ileum Terminal
 Letak rendah : Colon-Sigmoid-Rectum
 Stadium

 Parsial
 Simple/Komplit
 Strangulasi
b.) Ileus Neurogenik
 Adinamik : Ileus Paralitik
 Dinamik : Ileus Spastik

c.) Ileus Vaskuler


Iskemia saluran pencernaan
C. Etiologi
Berdasarkan letak kelainannya, etiologi dari
ileus dibagi menjadi 3, yaitu :
 Lesi ekstrinsik pada dinding usus : Adhesi,
Hernia, Neoplasma, Abses intraabdominal
 Lesi intrinsik : Kongenital, Inflamasi,
Neoplasma, Traumatik, Intusepsi
 Obstruksi intralaminal : Benda asing yang
tertelan, penyakit parasit, batu empedu,
bolus makanan yang besar, cairan mekonium
Berdasarkan klasifikasi ileus sendiri, yaitu:
1. Ileus Obstruktif
 Hernia Inkarserata
 Non hernia (penyempitan lumen usus,
adhesi, invaginasi, volvulus, tumor)
2. Ileus Paralitik
Pembedahan abdomen, trauma abdomen,
infeksi (peritonitis, appendisitis),
pneumonia, sepsis, serangan jantung,
ketidakseimbangan elektrolit, dsb.
D. Patofisiologi
 Lumen usus tersumbatusus distensi terisi
cairan dan gaspenimbunan
intralumenpeningkatan tekanan
intralumenmuntahkehilangan cairan dan
elektrolitsyok dan hipotensi
 Kolaps bag distal+peregangan usus bag
proksimaliskemia akibat distensi
ususpeningkatan permeabilitasabsorbsi
toksin dalam rongga peritonium dan sirkulasi
sistemikbakteriemia
E. Diagnosis
a.) Subjektif  Anamnesis
Gejala utama ileus adalah 4 tanda cardinal :
 Nyeri abdomen
 Muntah
 Distensi (perut kembung)
 Konstipasi
b.) Objektif  Pemeriksaan Fisik
 Strangulasi, ditandai dengan adanya lokal
peritonitis  Takikardi, demam, lokal
tenderness, rebound tenderness
 Obstruksi
 Inspeksi : Perut distensi, dapat ditemukan
kontur dan steifung. Benjolan pada regio
inguinal, femoral dan skrotum menunjukkan
suatu hernia inkarserata. Pada Intussusepsi
dapat terlihat massa abdomen berbentuk
sosis. Adanya adhesi dapat dicurigai bila ada
bekas luka operasi sebelumnya.
 Auskultasi : Hiperperistaltik, bising usus
bernada tinggi, borborhygmi. Pada fase
lanjut bising usus dan peristaltik melemah
sampai hilang.
 Perkusi : Hipertimpani
 Palpasi : Kadang teraba massa seperti pada
tumor, invaginasi, hernia.
 Rectal Toucher
F. Penatalaksanaan
 Konservatif
 Farmakologis : antibiotik spektrum luas
(bakteri aerob & anaerob), analgesik (jika
nyeri)
 Operatif
G. Komplikasi
 Nekrosis usus
 Perforasi usus
 Sepsis
 Syok-dehidrasi
 Abses
 Sindrom usus pendek dengan malabsorpsi dan
malnutrisi
 Pneumonia aspirasi dari proses muntah
 Gangguan elektrolit
 Meninggal
H. Prognosis
Prognosisnya tergantung dari penyakit yang
mendasarinya.
B. Gambaran Radiologi Ileus
Pemeriksaan radiologi yang dibutuhkan adalah
foto abdomen 3 posisi
a.) Ileus obstruksi letak tinggi
 Dilatasi di proksimal sumbatan (sumbatan
paling distal di illocecal junction) dan kolaps
usus di bagian distal sumbatan.
 Hearing bone appearance
 Air fluid level yang pendek-pendek
b.) Ileus obstruksi letak rendah
 Gambaran sama dengan ileus obstruksi letak
tinggi
 Gambaran penebalan usus besar yang juga
distensi tampak pada tepi abdomen
 Air fluid level yang panjang-panjang di kolon

c.) Ileus paralitik


 Dilatasi usus secara menyeluruh dari gaster
sampai rectum
d.) Ileus Spastik
 Obstruksi pada usus akan menyebabkan
udara, cairan, dan makanan akan terhenti
sehingga usus di sebelah proksimal obstruksi
akan menggulung seperti pegas
 Tampak air fluid level yang pendek-pendek
sebagai gambaran anak tangga
Foto radiologi dengan barium menunjukkan
penebalan dan dilatasi dinding usus yang
disebabkan karena obstruksi pada usus. Pada
foto terlihat gambaran heering bone
appearance.
Pada radiograf menunjukkan menunjukkan
perut membesar berisi cairan, ini disebabkan
oleh penyumbatan (obstruksi) dalam usus.
Media kontras (barium) terlihat mengisi bagian
usus pada radiograf (seri GI atas).
Foto X-Ray menunjukkan gambaran Heering
bone appearance yang disebabkan karena
penebalan dan dilatasi dinding usus.
 Ileus merupakan suatu kondisi dimana
terdapat gangguan pasase (jalannya
makanan) di usus.
 Merupakan kegawatan dalam bedah
abdominalis dan ileus lebih sering terjadi
pada usus halus daripada usus besar.
 Adhesi, hernia, dan tumor mencakup 90%
etiologi kasus obstruksi mekanik usus halus.
 Penegakan diagnosis pada illeus meliputi
anamnesis dengan 4 gejala cardinal yaitu
nyeri abdomen (kolik abdomen), muntah,
distensi dan konstipasi
 Pada pemeriksaan fisik akan ditemukan
takikardia, demam, nyeri tekan abdomen,
nyeri lokal pada perut, dan distensi perut.
 Salah satu pemeriksaan penunjang pada
illeus adalah pemeriksaan radiologi.
 Gambaran radiologi :
 Gambaran pengumpulan gas dalam lumen
usus yang melebar (dilatasi)
 Dinding usus menebal membentuk gambaran
heering bone appearance
 Air fluid level (+)
1. American Gastroenterological Association.
2003. Reviews : Postoperatives Ileus :
Etiologies and Interventions. University of
California San Fransisco : California.
2. Askep Ileus Paralitik. Juli 2008.
3. Guyton & Hall. 2000. Fisiologi Kedokteran.
EGC : Jakarta.
4. Price & Wilson. 2002. Patofisiologi
Kedokteran. EGC : Jakarta.
5. Purnawan, Iwan. 2009. Ileus. Universitas
Jenderal Soedirman Purwokerto.