Anda di halaman 1dari 7

Tugas I Filsafat ilmu Nama : Sawaludin

Seluk-beluk filsafat (pengertian, Nim : 1006995


munculnya, dan klasifikasinya) SPS : Pendidikan Kewarganegaraan

SELUK-BELUK FILSAFAT, MENCAKUP PENGERTIAN, KEMUNCULANNYA,


KLASIPIKASINYA (FILSAFAT BARAT, FILSAFAT TIMUR, DAN FILSAFAT ISLAM)

Mempelajari filsafat berarti kita akan mulai berpikir mendalam, kritis, logis, dan
sistematis tentang apa yang kita lihat dan pelajari sehingga kita terbebas dari bentuk
perbudakan akal budi yang tidak terpuji. Selain itu juga bahwa berfilsafat berarti kita akan
mengoreksi diri, dan berterus terang tentang seberapa jauh kebenaran yang dicari setelah kita
jangkau. Namun banyak orang berpendapat bahwa belajar filsafat itu sulit atau susah karena
filsafat dianalogikan sebagai suatu perenungan yang tidak ada ujungnya. Akan tetapi kalau
diteliti lebih mendalam bahwa filsafat boleh dikatakan sebagai induk dari segala ilmu
pengetahuan (mater scientiarium).
Bertolak dari hal tersebut filsafat sebagai ilmu pengetahuan yang memang tidak akan
bisa terlepas dari kehidupan sehari-hari. Dan filsafat itu akan menjadi suatu motor penggerak
dalam kehidupan sehari-hari, baik sebagai manusia pribadi maupun sebagai manusia kolektif
dalam suatu masyarakat dan bangsa. Untuk itu, bagi manusia mempelajari filsafat merupakan
hal yang sangat penting, bahkan bisa kita katakan wajib.
Dalam tulisan ini membahas secara ringkas tentang seluk-beluk filsafat yang
mancakup pengertian filsafat, sejarah kemunculannya, dan klasifikasinya (filsafat barat,
filsafat timur dan filsafat islam). Pada bagian pengertian filsafat dibahas secara pendek yaitu
dengan melihat dari segi etimologi dan dari segi terminologi. Sedangkan dibagian sejarah
kemunculannya hanya dibahas tentang kapan kemunculan dan dimana filsafat itu muncul.
Bagian selanjutnya membahas bagaimana pengklasifikasian filsafat yaitu dilihat menurut
daerah geogarafis dan budaya.

I. SELUK-BELUK FILSAFAT
1. Pengertian Filsafat
Istilah filsafat berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri dari dua kata yaitu:
philos (cinta) atau philia (persahabatan, tertarik kepada) dan shopia (hikmah,
kebijaksanaan, pengetahuan, keterampilan, pengalaman praktis, intelegensi) sehingga
digabungkan menjadi philosophia yang dalam bahasa inggris disebut philosophy. Jadi
secara etimologi, filsafat berarti cinta kebijaksanaan atau kebenaran. Dalam Kamus
Bahasa Indonesia, kata filsafat menunjukkan pengertian yang dimaksud, yaitu
pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakekat segala yang ada,
sebab asal dan hukumnya.
Secara umum filsafat berarti upaya manusia untuk memahami segala sesuatu
secara sistematis, radikal, dan kritis. Berarti filsafat merupakan sebuah proses bukan
sebuah produk. Maka proses yang dilakukan adalah berpikir kritis yaitu usaha secara
aktif, sistematis, dan mengikuti prinsip-prinsip logika untuk mengerti dan
mengevaluasi suatu informasi dengan tujuan menentukan apakan informasi itu
diterima atau ditolak. Dengan demikian filsafat akan terus berubah hingga satu titik
tertentu (Takwin, 2001).
Adapun beberapa pengertian pokok tentang filsafat menurut kalangan filosof
adalah:
a. Upaya spekulatif untuk menyajikan suatu pandangan sistematik serta lengkap
tentang seluruh realita.
b. Upaya untuk melukiskan hakikat realitas akhir dan dasar secara nyata.
c. Upaya untuk menentukan batas-batas dan jangkauan pengetahuan sumber daya,
hakekatnya, keabsahannya, dan nilainya.
d. Penyelidikan kritis atas pengandaian-pengandaian dan pernyataan-pernyataan
yang diajukan oleh berbagai bidang pengetahuan.
e. Disiplin ilmu yang berupaya untuk membantu anda melihat apa yang anda
katakan dan untuk menanyakan apa yang anda lihat.
Plato (427-348 SM) filsafat ialah pengetahuan yang bersifat untuk mencapai
kebenaran yang asli. Sedangkan Aristoteles (382-322 SM) mendefinisikan filsafat
ialah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmu-
ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika. Sedangkan
filosof lainnya Cicero (106-043 SM) menyatakan filsafat ialah ibu dari semua ilmu
pengetahuan lainnya.
2. Munculnya Filsafat
Filsafat muncul pertama kali di Yunani semenjak kira-kira abad ke-7 SM yaitu
ketika orang-orang mulai berpikir-pikir dan berdiskusi akan keadaan alam, dunia, dan
lingkungan disekitar mereka dan tidak menggantungkan diri kepada agama lagi untuk
mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini.
Orang yunani pertama yang bisa diberi gelar filosof ialah Thales dari Mileta,
sekarang dipesisir barat Turki. Tetapi filosof-filosof Yunani yang terbesar tentu saja
ialah: Socrates, Plato, dan Aristoteles.
3. Klasifikasi Filsafat
Pada dewasa ini filsafat biasa dibagi menjadi: filsafat barat, filsafat timur, dan
filsafat islam.
a. Filsafat Barat
Filsafat Barat adalah ilmu yang biasa dipelajari secara akademis di universitas-
universitas di Eropa dan daerah-daerah jajahan mereka. Filsafat ini berkembang
dari tradisi falsafi orang Yunani kuno.
Menurut Takwin (2001) dalam pemikiran barat konvensional pemikiran yang
sistematis, radikal, dan kritis, seringkali merujuk pengertian yang ketat dan harus
mengandung kebenaran logis. Misalnya aliran empirisme, positivisme, dan filsafat
analitik memberikan kriteria bahwa pemikiran dianggap filosofis jika
mengandung kebenaran korespondensi dan koherensi.
Beberapa tokoh dalam filsafat barat yaitu:
 Wittgenstein menpunyai aliran analitik (filsafat analitik) yang dikembangkan
di negara-negara yang berbahasa inggris, tetapi juga diteruskan di Polandia.
Yang menjadi obyek penelitian filsafat analitik sebetulnya bukan barang-
barang, peristiwa-peristiwa, melainkan pernyataan, aksioma, dan prinsip, dan
yang menjadi pokok perhatian filsafat analitik ialah analisa logika bahasa
sehari-hari, maupun dalam mengembangkan sistem bahasa buatan.
 Imanuel Kant mempunyai aliran atau filsafat “kritik” yang tidak mau
melewati batas kemungkinan pemikiran manusiawi. Kant terkenal karena tiga
tulisan: (1) Kritik atas rasio murni. (2) Kritik atas ratio praktis. (3) Kritik atas
daya pertimbangan.
 Rene Descartes berpendapat bahwa kebenaran terletak pada diri subyek.
Mencari titik pangkal pasti dalam pikiran dan pengetahuan manusia, khusus
dalam ilmu alam. Metode untuk memperoleh kepastian ialah menyaksikan
segala sesuatu. Hanya satu kenyataan yang tidak dapat disangsikan, yakni aku
berpikir, jadi aku ada.
b. Filsafat Timur
Filsafat Timur adalah tradisi falsafi yang terutama berkembang di Asia, khususnya
di india, tiongkok, dan daerah-daerah lain yang pernah dipengaruhi budaya.
Sebuah ciri khas filsafat timur ialah dekatnya hubungan filsafat dengan agama.
Nama-nama beberapa filosof timur adalah sebagai berikut: Lao Tse, Kong Hu Cu,
Zhuang Zi, dan lain-lain.
Pemikiran filsafat timur sering dianggap sebagai pemikiran yang tidak rasional,
tidak sistematis, dan tidak kritis. Hal ini disebabkan pemikiran timur lebih
dianggap agama dibanding filsafat. Belakangan ini, beberapa intelektual barat
telah beralih kefilsafat timur, misalnya Fritjop Capra, seorang ahli fisika yang
mendalami taoisme, untuk membangun kembali bangunan ilmu pengetahuan yang
sudah terlanjur dirongrong oleh relativisme dan skeptisisme (Bagir, 2005).
Skeptisisme terhadap metafisika dan filsafat dipelopori oleh Rene Descartes dan
William Ockham.
c. Filsafat Islam
Filsafat islam ini sebenarnya mengambil tempat yang istimewa. Sebab dilihat dari
sejarah, para filosof dari tradisi ini sebenarnya bisa dikatakan juga merupakan ahli
waris tradisi Filsafat Barat (Yunani).
Menurut Kartanegara (2006) dalam filsafat islam ada empat aliran yaitu:
a) Peripatetik (memutar atau berkeliling). Ciri khas aliran ini secara metodologis
atau epistimologis adalah menggunakan istilah logika formal yang berdasarkan
penalaran akal (silogisme), serta penekanan yang kuat pada daya-daya rasio.
b) Aliran Iluminasionis (israqi). Aliran ini memberikan tempat yang penting bagi
metode intuitif (irfani). Baginya Tuhan adalah cehaya sebagai satu-satunya
realitas sejati (nur al-anwar), cahaya di atas cahaya.
c) Aliran irfani (tasawuf). Tasawuf bertumpu pada pengalaman mistis yang
berdifat supra-rasional. Jika pengenalan rasional bertumpu pada akal maka
pengenalan sufistik bertumpu pada hati.
d) Aliran hikmah muta’aliyyah (Teosofi Transeden). Aliran ini merupakan aliran
yang mensintesiskan ketiga aliran diatas, dan aliran ini diwakili oleh seorang
filosof syia’ah yang bernama Muhammad Ibnu Ibrahim Yahya Qawami.
II. ANALISIS
Pengertian filsafat, dalam sejarah perkembangan pemikiran kefilsafatan,
antara satu ahli dengan ahli filsafat yang lainnya selalu berbeda, dan bahkan hampir
sama banyaknya dengan ahli filsafat itu sendiri. Contohnya saja antara guru dan
murid seperti Plato dan Aristoteles. Plato mengatakan filsafat merupakan pengetahuan
yang bersifat untuk mencapai kebenaran yang asli. Sedangkan Aristoteles sebagai
muridnya mengatakan bahwa filsafat ialah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran
yang terkandung di dalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi,
politik, dan estetika. Selain itu juga filosof lain mengatakan bahwa filsafat dikatakan
sebagai induk ilmu pengetahuan (the mother of sciences)(Zuhairini, 1994, hlm. 7).
Dengan banyaknya pengertian tersebut Surajiyo dalam bukunya menarik
benang merah sebagai kesimpulan bahwa “filsafat adalah ilmu pengetahuan yang
menyelidiki segala sesuatu yang ada secara mendalam dengan menggunakan akal
sampai pada hakekatnya”(surajiyo, 2005, hlm 1). Jadi, objek dari filsafat itu tidak
terbatas pada suatu penomena atau gejala-gejala dari suatu hal melainkan segala
sesuatu yang tak tebatas.
Pada mulanya filsafat berawal dari orang-orang Yunani yang mengatakan
bahwa filsafat timbul karena ketakjuban (kagum dan heran), kesangsian, dan
kesadaran akan keterbatasan. Rasa kagum dan heran ini mendorong manusia untuk
berpikir lebih mendalam, menyeluruh dan kritis untuk memperoleh kepastian dan
kebenaran yang hakiki. Berpikir secara mendalam, menyeluruh dan kritis seperti ini
disebut dengan berfilsafat.
Plato (filsuf Yunani, guru dari Aristoteles) menyatakan bahwa: Mata kita
memberi pengamatan bintang-bintang, matahari, dan langit. Pengamatan ini memberi
dorongan kepada kita untuk meyelidiki. Dan dari penyelidikan ini berasal filsafat.
Berbeda dengan Plato; Agustinus dan Rene Descartes beranggapan lain. Menurut
mereka, berfilsafat itu bukan dimulai dari kekaguman atau keheranan, tetapi sumber
utama mereka berfilsafat dimulai dari keraguan atau kesangsian. Ketika manusia
heran, ia akan ragu-ragu dan mulai berpikir apakah ia sedang tidak ditipu oleh panca
inderanya yang sedang keheranan?
Selain itu ada beberapa pemikiran dari para tokoh filsafat mengenai asal-usul
menculnya filsafat (alhikmahkajen.blokspot.com.2010).
1. Thales (624-546 SM). Thales dikenal sebagai “Bapak Filsafat” karena dialah
orang yang pertama berfilsafat. Dia mengatakan bahwa air sebagai asal alam
semesta karena ia melihatnya sebagai suatu yang sangat diperlukan dalam
kehidupan dan ia juga mangatakan bumi ini terapung diatas air.
2. Anaximenes (610-640 SM). Beliau mengatakan bahwa segala sesuatu berasal dari
udara. Udara melahirkan semua benda dalam alam semesta karena suatu proses
pemadatan dan pengenceran (condensation and rarefaction).
3. Herakleitos (544-484 SM) mengatakan alam semesta ini selalu dalam keadaan
berubah, sesuatu yang dingin berubah manjadi panas, yang panas berubah manjadi
dingin.
4. Pythagoras (572-497) dasar pemikirannya adalah bilangan matematis, sehingga
dia mengatakan bahwa alam semesta itu merupakan satu keseluruhan yang teratur,
sesuatu yang harmonis seperti dalam musik.
5. Socrates (469-399 SM) ajarannya berisi bahwa tidak semua kebenaran itu relatif,
sebagian kebenaran memang relatif tatapi tidak semuanya. Dia menyakini bahwa
menegakkan moral merupakan tugas filosof berdasarkan idea-idea rasional dan
keahlian dalam pengetahuan. Kemudian pendapatnya ini diperkuat oleh muridnya
yaitu Plato.
Dilihat dari penjelasan ini bahwa asal-usul munculnya filsafat adalah dari
pemikiran yang sangat mendalam yang berawal dari keingintahuan dari masing-
masing filosof tersebut, sehingga mereka berpikir dari segi pandang masing-masing
kemudian timbul perbedaan-perbedaan pendapat. Selain dari cara pandang yang
berbeda pemikiran filsafat juga banyak dipengaruhi oleh lingkungan. Namun pada
dasarnya fislasat baik di Barat, di Timur, dan di dunia Islam muncul dari sifatnya
religius. Yunani dengan mitosnya, di India dengan kitab wedanya (Agama Hindu) dan
di Cina dengan confusiusnya. Demikian juga dengan filsafat Islam yang pemikiranya
didasarkan pada pemikiran tentang ketuhanan dan alam.
DAFTAR REFERENSI
Hand Out. Halaman 1-10.
Surajiyo. 2005. Ilmu Filsafat, Suatu Pengantar. Jakarta: Bumi Aksara.
Zuhairini, dkk. 1994. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.
http://kajad-alhikmahkajen.blogspot.com/2010/07/asal-usul-munculnya-filsafat.html