Anda di halaman 1dari 5

Bina Desa

Sekilas WTO

Sekilas Tentang WTO Apa yang dimaksud dengan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO)?

Organisasi Perdagangan Dunia (WTO – World Trade Organisation) dibentuk pada tahun 1994 dan merupakan
satu-satunya badan internasional yang secara khusus mengatur perdagangan antar negara-negara di dunia dan
mempromosikan liberalisasi perdagangan. System perdagangan multilateral dalam WTO memiliki implikasi langsung
terhadap kebijakan perdagangan negara anggotanya. Selain itu WTO memiliki mandate harus bekerjasama dengan IMF,
Bank Dunia dan institusi internasional lainnya untuk pembuatan kebijakan ekonomi global.

Sebelumnya forum perdagangan barang dibicarakan pada Kesepakatan Umum tentang Tarif dan Perdagangan (GATT
– General Agreement on Tariffs and Trade), yang dibentuk pada tahun 1947. Pada tahun 1986, negara-negara
peserta yang disebut sebagai pihak-pihak yang terlibat dalam GATT memulai putaran perundingan baru untuk
memperluas cakupan kesepakatan. Setelah melewati proses perundingan panjang dan penuh kontroversi selama
delapan tahun, terjadi kesepakatan untuk mengesahkan organisasi baru yaitu WTO sebagai pengganti GATT. Saat ini
anggota WTO mencapai 149 negara di seluruh dunia dan sekretariatnya berpusat di Jenewa, Swiss.

WTO memiliki fungsi pokok menjamin terlaksananya kesepakatan-kesepakatan multilateral sebagai dasar hukum
perdagangan internasional. Oleh karena itu, pemerintah negara anggota dan pelaku usaha dituntut untuk memahami
dan melaksanakan seluruh aturan main yang ada dalam WTO.

Sejak WTO berdiri secara formal pada tahun 1995 berbagai perundingan dan negosiasi telah dilakukan oleh
anggotanya. Salah satu percepatannya adalah dengan lahirnya Paket Juli yang ditandatangani tanggal 1 Agustus 2004.
Paket ini merupakan kelanjutan dari Doha Development Agenda yang berisi framework isu pertanian (AOA), akses pasar
produk non pertanian (NAMA), Jasa (services), isu pembangunan (development issues) dan fasilitasi perdagangan.

Apa tujuan WTO?

WTO bertujuan untuk mendorong pertumbuhan arus barang dan jasa antar negara dengan mengurangi dan menghapus
berbagai hambatan perdagangan, tarif dan non-tarif (subsidi, bantuan ekspor, aturan-aturan yang menghambat ekspor
negara lain, dll). Selain itu, WTO juga memfasilitasi perundingan antar anggotanya dengan menyediakan forum-forum
perundingan yang permanen, membantu penyelesaian sengketa di antara anggota dan mengawasi pelaksanaan aturan-
aturannya di masing-masing negara anggota.

Apa yang diatur dalam WTO?

Berbeda dengan pendahulunya (GATT), WTO tidak hanya menetapkan standar minimal perdagangan barang namun
meluas ke sektor pertanian, jasa dan hak atas Kekayaan Intelektual (HAKI). WTO juga mengikat secara hukum, memiliki
badan penyelesaian sengketa yang terintegrasi dan dapat menerapkan sanksi silang. Secara sederhana, WTO
mengatur segala sesuatu yang berkaitan dengan perdagangan internasional. Dari perdagangan produk alas kaki, tekstil,
beras, buah-buahan, sandal dan sepatu, baja, barang dan jasa lingkungan, program televisi, jasa rumah sakit,
penyediaan air bersih, sampai penyusunan undang-undang kekayaan intelektual, seperti pengaturan hak cipta, merek
dagang, paten, rahasia dagang, program komputer dan lain-lain.

Apa Prinsip Dasar WTO?

Ada beberapa hal yang menjadi prinsip dasar WTO, yaitu perlakuan non-diskriminasi antar negara (most favoured
nations), dimana negara-negara anggota dilarang memberikan perlakuan berbeda kepada sesama negara anggota
WTO; prinsip non-diskriminasi di tingkat nasional (national treatment), yaitu negara anggota dilarang memberikan
perlakuan berbeda antara warga lokal dengan warga asing; prinsip transparansi, dimana negara-negara anggota harus
selalu mengumumkan perubahan-perubahan kebijakan atau aturan berkaitan dengan seluruh perjanjian WTO kepada
seluruh anggota.

Bagaimana Struktur dan Kewenangan WTO?

Sebagai organisasi pemerintah, WTO dikelola oleh pemerintah negara anggotanya dan keputusan WTO adalah
keputusan anggotanya. Kewenangan tertinggi dalam WTO adalah konferensi Tingkat Menteri (KTM) yang bersidang
sedikitnya sekali dalam dua tahun. Kewenangan tingkat kedua adalah pada General Council, ketiga pada Dewan-Dewan
dan seterusnya (lihat lampiran tentang struktur WTO)

Apakah yang dimaksud dengan Konferensi Tingkat Menteri (KTM) WTO?

Konferensi Tingkat Menteri (KTM) merupakan badan tertinggi WTO yang bertemu sedikitnya sekali dalam dua tahun;
KTM I diadakan di Jenewa, Swiss (1996), KTM II di Singapura (1997), KTM III di Seattle, AS (1999) gagal, KTM IV di
Doha, Qatar (2001), KTM V di Cancun, Meksiko (September 2003) yang juga gagal menghasilkan kesepakatan baru dan
http://www.binadesa.or.id Menggunakan Joomla! Generated: 28 November, 2010, 16:04
Bina Desa

KTM VI di Hongkong (Desember 2005).

KTM IV di Doha, Qatar, menghasilkan Deklarasi Doha dan Agenda Doha. Dalam agenda tersebut, negara-negara
anggota bersepakat untuk mulai melakukan beberapa bentuk perundingan baru, termasuk tarif industri (juga sering
dikenal dengan sebutan Akses Pasar Produk-Produk Non-Pertanian (NAMA – Non-Agricultural Market Access)),
peraturan-peraturan anti-dumping dan subsidi, penanaman modal, kebijakan persaingan, fasilitasi perdagangan,
transparansi pada penyediaan barang pemerintah, perlindungan HAKI, isu-isu implementasi, dan isu perlakuan khusus
dan berbeda bagi negara-negara berkembang dan terbelakang (LDCs – Least Developing Countries).

Apa Saja Persetujuan-Persetujuan Dalam WTO?


Persetujuan dalam WTO antara lain:

§ Persetujuan Bidang Pertanian (AOA)


Bidang pertanian menjadi perhatian WTO karena selama ini sering terjadi distorsi perdagangan produk pertanian akibat
kuota impor dan pemberian subsidi baik domestik maupun ekspor. Tujuan dari persetujuan pertanian adalah untuk
melakukan reformasi perdagangan dalam sektor pertanian dan membuat kebijakan yang berorientasi pasar melalui: (1)
akses pasar; (2) subsidi domestik; dan (3) subsidi ekspor.

§ Persetujuan Mengenai Tekstil (ATC);


Mengatur tentang penghapusan kuota impor tekstil. Akibatnya negara pengimpor tidak memiliki kekuasaan untuk
menentukan jumlah impor dan menentukan eksportirnya.

§ Persetujuan Bidang Jasa (GATS);


Prinsip-prinsip GATS antara lain:
1. MFN (Most Favoured Nation) yaitu memberikan perlakuan yang sama kepada semua mitra dagang negara anggota
WTO. Bila suatu negara memperbolehkan pihak asing untuk bersaing dalam satu sektor, kesempatan yang sama juga
harus diberikan untuk negara anggota WTO lainnya.
2. NT (National Treatment) yaitu memberikan perlakuan yang sama atas produk impor dan domestik
3. Komitmen spesifik yaitu komitmen yang memuat daftar sektor yang dibuka dan berapa besar akses pasar diberikan
untuk sektor-sektor tersebut. Komitmen spesifik suatu negara dimuat dalam schedule of commitments
4. Liberalisasi progresif: perundingan lebih lanjut untuk proses liberalisasi dengan meningkatkan jumlah dan cakupan
komitmen dalam schedule of commitments

§ Persetujuan Hak Atas Kekayaan Intelektual (TRIPS)


Menurut WTO, pengetahuan dan pemikiran merupakan hal penting karena dapat menghasilkan uang. Buku, kaset,
komputer, obat-obatan, dan produk berteknologi tinggi menjadi sangat berharga karena memerlukan riset, pembaharuan
dsb. Oleh karena itu para pembuat barang memiliki hak untuk mencegah orang lain menggunakan penemuan mereka.

Yang tercakup dalam TRIPS antara lain;


- Hak cipta dan hak-hak lainnya yang terkait
- Paten
- Merek dagang termasuk merek jaasa
- Design industri dll

§ Persetujuan Plurilateral
Terdiri dari 4 persetujuan;
· Perdagangan pesawat sipil; persetujuan ini menghapuskan tarif impor mesin, komponen pesawat dan simulator
terbang.
· Pengadaan/pembelian pemerintah (government procurement); persetujuan ini untuk menjamin prinsip kompetisi yang
adil. Pemerintah diminta agar prosedur tender berjalan adil.
· Produk susu olahan (dairy product)
· Daging olahan (bovine meat)

Perkembangan Perundingan:

Perundingan Sektor Pertanian (AOA)

Perundingan sektor pertanian di WTO tetap menjadi kunci dalam proses perundingan di dalam lembaga perdagangan
multilateral ini. Kealotan proses perundingan sektor pertanian juga berdampak terhadap berbagai perundingan yang
terjadi di sektor-sektor lainnya, termasuk perundingan sektor tarif industri dan jasa. Bagi negara-negara berkembang,
sektor pertanian merupakan sektor yang sangat penting bagi mereka. Hal ini tak lain karena sektor pertanian
memperkerjakan hampir lebih dari 75 persen penduduk di negara-negara berkembang, dan terhitung lebih dari setengah
produk domestik bruto (PDB) negara-negara tersebut.

Ketidakadilan yang terjadi dalam proses perundingan sektor pertanian cukup jelas. Negara-negara maju tetap
http://www.binadesa.or.id Menggunakan Joomla! Generated: 28 November, 2010, 16:04
Bina Desa

mempertahankan kepentingan mereka agar dapat tetap mensubsidi para petani mereka secara besar-besaran. Pada
saat yang sama, mereka menginginkan adanya akses pasar yang luas di negara-negara berkembang sembari menutup
pasar mereka dari produk pertanian negara berkembang lewat bermacam-macam hambatan non-tarif yang mungkin.
Apa yang mereka lakukan bahkan secara jelas melecehkan prinsip pasar bebas. Mulut mereka mengucapkan
‘pasar bebas’, tetapi kebijakan yang mereka ambil adalah proteksionisme.

Melihat alotnya proses perundingan di sektor pertanian, negara-negara maju, seperti AS dan UE, mulai menyatakan
kesediaannya untuk menurunkan subsidi mereka. Akan tetapi, kita tidak sepenuhnya menolak adanya subsidi. Subsidi
seharusnya ‘diarahkan’ hanya bagi petani kecil/petani keluarga dan bukan untuk pertanian eksport; dan
tidak sekedar diturunkan atau dihapuskan, seperti yang muncul dalam berbagai proposal AS dan UE belakangan ini.
Subsidi sektor pertanian yang berlebihan di AS dan UE sebenarnya sebagian besar adalah untuk perusahaan-
perusahaan agribisnis berorientasi eksport mereka yang menyebabkan harga dumping ke pasar dunia dan
menyingkirkan pertanian di negara-negara tujuan ekspor tersebut.

Perundingan tentang NAMA (Non Agriculture Market Access)

Perundingan akses pasar produk-produk non-pertanian, atau juga dikenal sebagai perundingan tarif industri, merupakan
satu perundingan dalam WTO yang bertujuan untuk menurunkan tarif dan hambatan non-tarif sektor industri, khususnya
produk-produk yang menjadi kepentingan negara-negara berkembang. Cakupan produk yang akan diikutsertakan
didalam perundingan NAMA diharapkan akan menyeluruh, yakni melibatkan semua produk-produk non-pertanian, dan
tanpa pengecualian (misalnya, tidak adanya pengenaan status sensitif bagi produk-produk non-pertanian).

Satu hal penting yang perlu diketahui bahwa perundingan NAMA seharusnya mengedepankan kepentingan negara-
negara miskin dan berkembang. Hal ini diatur dalam paragraf 16 Mandat Doha, dibawah naskah untuk Akses Pasar
untuk Produk-Produk Non-Pertanian, yang menyebutkan bahwa perundingan NAMA harus memberikan perlakuan
khusus dan berbeda bagi kedua jenis negara tersebut. Hal ini dapat dilakukan melalui pemberian fleksibilitas bagi
negara-negara berkembang dan miskin dalam komitmen mereka untuk menurunkan tarif. Selain itu, bagian dari Mandat
Doha tersebut juga menekankan bahwa negara-negara miskin harus diberikan bantuan sehingga mereka dapat
berpartisipasi secara efektif didalam perundingan-perundingan NAMA.

Dalam perkembangannya terakhir, perundingan sektor NAMA masih memperdebatkan penggunaan metode penurunan
tarif yang tepat. Pada awalnya, setiap negara masih diberikan kesempatan untuk mengajukan berbagai macam proposal
yang mereka anggap sesuai untuk menurunkan tarif industri negara-negara anggota. Akan tetapi, sejak awal tahun 2005
ini mulai terlihat kecenderungan bahwa proposal penurunan tarif yang diajukan oleh negara-negara majulah, seperti
formula model Swiss formula, yang digunakan sebagai tolak-ukur dari perdebatan sektor NAMA. Penggunaan metode
penurunan tarif model ini sangat berbahaya bagi negara-negara berkembang karena metode ini cenderung memotong
tingkat tarif yang paling tinggi lebih drastis dibanding tingkat tarif yang rendah. Dengan kata lain, metode ini memang
digunakan untuk memotong tarif sektor-sektor yang dianggap sensitif di negara-negara berkembang.

Pada intinya, ada beberapa bentuk kekhawatiran yang patut diperhatikan dalam perundingan NAMA: (1) perundingan
NAMA yang terjadi sejauh ini masih belum mengedepankan kepentingan negara berkembang. Berbagai formula yang
diajukan negara-negara maju cenderung mengarahkan de-industrialisasi di negara-negara berkembang; (2) hasil
perundingan NAMA dapat meningkatkan produksi dan konsumsi produk-produk yang dapat mencemari lingkungan; (3)
hasil perundingan NAMA dapat memperlemah posisi negara dalam mengatur sektor-sektor industri dalam negara
mereka; (4) hasil perundingan NAMA juga berpotensi merubah peraturan nasional yang dianggap menghambat
perdagangan internasional; (5) banyak negara-negara berkembang yang masih memerlukan tarif sebagai bahan
pemasukan keuangan mereka.

Perundingan Tentang Jasa (GATS)


Kesepakatan Umum atas Perdagangan Sektor Jasa (GATS – General Agreement on Trade in Services)
mengatur bagaimana sektor jasa di seluruh 149 negara anggota WTO di liberalisasi. Sektor ini menjadi kepentingan
Negara maju karena sekitar 75 persen dari pasokan jasa di dunia berasal dari Negara-negara tersebut. Oleh karenanya
pembukaan pasar jasa memang diinginkan oleh negara maju dan menguntungkan pemasok jasa yang terutama berasal
dari perusahaan-perusahaan multinasional.

Sektor jasa yang diliberalisasi untuk pemasok dari negara lain adalah semua sektor tanpa kecuali. Perundingan jasa
telah melewati satu periode awal dimana setiap negara telah membuat komitmen berdasarkan tingkat dan kapasitas
pasokan jasa yang dimilikinya. Komitmen ini disusun ketika WTO disahkan tahun 1994. Walaupun ‘komitmen
berdasar kapasitas’ masing-masing Negara mungkin bias, karena sebagian besar Negara berkembang tidak
mengetahui secara persis kapasitas pasokan jasa dan nilai impor yang sebenarnya. Sifat perdagangan jasa yang tidak
terlihat apalagi jika dibandingkan dengan perdagangan barang, membuat sektor ini sulit dihitung secara tepat. Misalnya
Indonesia dikenal ‘mengekspor’ jasa tenaga kerja ke berbagai Negara, nilai pendapatannya haruslah
diperhitungkan dengan devisa yang harus dibayar Indonesia untuk tenaga kerja asing yang bekerja di Indonesia.

Untuk komitmen pertama, Indonesia mencantumkan jadwal liberalisasi untuk sektor telekomunikasi, pariwisata,
http://www.binadesa.or.id Menggunakan Joomla! Generated: 28 November, 2010, 16:04
Bina Desa

keuangan, transportasi maritim, dan jasa industri dalam tingkatan yang berbeda-beda.

Sejak tahun 2000, Negara-negara anggota sepakat untuk memperbesar dan memperluas tingkat liberalisasi yang telah
dilakukan. Metode yang digunakan adalah request dan offer dimana setiap Negara menyampaikan permintaan sector
jasa yang diinginkan kepada Negara-negara lain untuk dibuka. Negara anggota juga harus menyampaikan penawaran
(offer) sektor yang menurut mereka siap dibuka pasarnya untuk pemasok asing.

Tenggat waktu penyusunan initial request dan offer ini beberapa kali mengalami perubahan. Terakhir pada bulan juni
2005 dan berubah lagi. Ini nampaknya dikarenakan negara-negara anggota terutama negara berkembang seperti
Indonesia mengalami kesulitan dalam menjawab request dan menyampaikan offer, sektor apa yang bisa ditawarkan,
serta seberapa dalam dan seberapa luas. Untuk daftar penawaran yang dilakukan pada Mei 2005, Indonesia telah
menyampaikan initial offer yaitu : professional services : legal services, construction services, educational services,
financial services, health services, maritime services, energy services ; dan initial request yaitu proffesional services,
educational services, health services, tourism services dan maritime services. Initial request lebih banyak ditujukan untuk
mode 4 (perpindahan manusia-movement of natural persons).

Selain perundingan untuk memperluas dan meperdalam pembukaan pasar jasa dalam negeri, GATS juga masih
merundingkan aturan-aturan (rules), seperti pengaturan regulasi domestik, subsidi, penyusunan assessment (penilaian)
dan mekanisme pengamanan darurat (emergency safegueards measures). Berbeda dengan suasana perundingan
dalam pembukaan pasar dimana negera maju dinamis dan bersemangat dalam mendorong negara berkembang
menyusun daftar penawaran dan permintaan, maka dalam perundingan mengenai aturan ini, negara berkembanglah
yang bersemangat. Dengan demikian terlihat bahwa perundingan berjalan tidak cukup seimbang, dimana perundingan
perluasan pasar lebih mengemuka dibandingkan mengenai aturan-aturan. Tetapi Negara maju berpendapat lain. Dalam
satu laporan perundingan yang disampaikan ketua perundingan jasa pada Juni 2005 lalu, disebutkan bahwa kualitas
penawaran negara-negara anggota tidak memuaskan atau buruk. Negara maju berpendapat bahwa penawaran yang
disusun oleh negara berkembang tidak sesuai dengan tingkat liberalisasi yang diinginkan, sedangkan negara
berkembang kecewa karena negara maju tidak cukup serius membuka pasar jasa yang menjadi kepentingan negara
berkembang.

Kekecewaan negara maju atas ‘kualitas’ penawaran pembukaan pasar jasa inilah yang dijadikan alasan
untuk menerapkan metode baru dalam perundingan jasa, terutama untuk membuka pasar semakin dalam dan luas.
Pendekatan ini dikenalkan oleh kelompok Negara maju seperti Uni Eropa, Kanada, Selandia Baru dan lain-lain.
Dinamakan pendekatan komplementer (complementary) atau sering disebut pendekatan ‘tolak ukur’
(benchmarking). Pendekatan ini menekankan perlunya disusun target baik kualitatif maupun kuantitatif dalam
pembukaan pasar jasa. Sehingga menurut kalangan pendukungnya, akan semakin meningkatkan perdagangan jasa.

Pendekatan ini kemudian mendapat tentangan dari negara berkembang karena dianggap tidak sesuai dengan aturan
GATS, dimana setiap negara bisa menentukan tingkat komitmen yang disusun sesuai dengan tujuan pembangunan
nasionalnya. Penentuan target membuat fleksibilitas yang dimiliki berkurang.

Mengapa KTM Ke-6 di Hong Kong Penting?

KTM Ke-6 di di Hong Kong pada tanggal 13-18 Desember 2005 penting karena pada pertemuan tersebut menentukan
masa depan organisasi perdagangan multilateral tersebut. Setelah mengalami dua kali kegagalan, yakni pada KTM di
Seattle (1999) dan KTM di Cancun (2003), nyawa WTO dipertaruhkan di Hongkong. Apabila KTM WTO Ke-6 gagal
kembali, akan menimbulkan pertanyaan tentang relevansi sistem perdagangan di bawah naungan organisasi
perdagangan dunia ini. Sembilan belas hari menjelang KTM berlangsung, perbedaan tajam masih terjadi antara negara-
negara maju dan berkembang. Salah satu penyebabnya adalah kritikan dari negara berkembang yang merupakan
anggota terbesar bahwa WTO seringkali tidak mewakili kepentingan masyarakat negara berkembang. Apalagi
Dekalarasi Doha tahun 2001 yang menjadi dasar dari perundingan selama ini disebut sebagai Agenda Pembangunan
Doha (Doha Development Agenda).

Pertanyaan mendasar yang masih sulit dijawab oleh negara anggota WTO adalah, mampukan KTM Hongkong
membawa agenda pembangunan bagi masyarakat di negara berkembang dan miskin, seperti yang pernah
dideklarasikan di Doha?

Apa Hasil KTM VI di Hongkong?

KTM di Hongkong yang berlangsung dari tanggal 13-18 Desember 2005 pada akhirnya menunjukkan bahwa negara
maju memiliki kekuatan yang sangat besar untuk menguasai negara berkembang. Negara –negara berkembang
terdikte dalam perundingan trade off antara pertanian (AOA) dengan jasa (GATS) dan tarif industri (NAMA).

Dibidang pertanian, persetujuan atas SPs dan SSM yang diserahkan kepada masing-masing negara dan pemotongan
subsidi ekspor serta bebas kuota untuk kapas seolah-olah telah mengakomodasi kepentingan negara berkembang
sementaran subsidi untuk negara maju belum tentu dihapus. Padahal, semua itu masih sangat minimal untuk melindungi
http://www.binadesa.or.id Menggunakan Joomla! Generated: 28 November, 2010, 16:04
Bina Desa

pertanian dan produk non pertanian bagi negara berkembang.

Untuk akses pasar produk non Pertanian (NAMA) juga sangat menguntungkan negara maju karena akses pasar negara
maju tidak lagi terhambat oleh tingginya tarif di negara berkembang. Perluasan pasar jasa secara agresif bagi negara
maju juga menuntut negara berkembang untuk segera menambah schedule of commitmentsnya. Namun sebaliknya,
akses pasar negara berkembang sangat terhambat oleh tingginya subsidi di negara maju dan hambatan non tarif
lainnya. Sektor yang termasuk dalam NAMA adalah perikanan, kehutanan, elektronika, perhiasan, sepatu dan industri
manufaktur lainnya. Dengan perkembangan perundingan tentang NAMA maka laju liberalisasi perdagangan yang
berbasis sumberdaya alam menjadi semakin tak terbendung. Hasil KTM Hongkong ini nyata-nyata tidak mengakomodasi
tuntutan negara berkembang atas pembangunan berkelanjutan, kedaulatan pangan dan pembangunan pedesaan yang
tealh diperjuangkan selama ini dan ‘seolah-olah’ mendapat angin segar dari negara maju.

KTM Hongkong telah berakhir, dan pada akhir pertemuan secara lugas John Tsang mewakili Hongkong sebagai
penyelenggara dan memimpin perundingan selama KTM berlangsung membacakan Ministerial statement yang berisi;
· “We have secured an end date for all export subsidies in agriculture, even if it is not in a form to
everybody’s liking.
· “We have an agreement on cotton.
· “We have a very solid duty-free, quota-free access for the 32 least-developed country members.
· “In agriculture and NAMA (non-agricultural market access), we have fleshed out a significant framework for full
modalities.
· “And in services, we now have an agreed text that points positively to the way forward.”

Dwi Astuti

Sumber:
http:www. wto.org
Dokumen WTO, Direktorat Perdagangan Multilateral, Departemen Luar Negeri, 2004.
Ministerial Declaration, Ministerial Conference, Sixth Session, Hong Kong, 13 - 18 December 2005
Hongkong Ministerial Conference, 13-18 December 2005
Globalizing Governance, Walden Bello, Focus on the Global South, Bangkok, 2003
http:www.globaljustice.org
Hasil Perundingan NAMA, Radja Siregar, Desember 2005

http://www.binadesa.or.id Menggunakan Joomla! Generated: 28 November, 2010, 16:04