Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Sekalipun gerakan keluarga berencana sangat gencar di galakan, tetapi ada
sebagian kecuali masyarakat sangat mendambakan keturunan karena telah cukup waktu
untuk menanggungnya namun belum berhasil. Diperkirakan jumlah mereka sekitar 10 %
pasangan usia subur atau kurang sama dengan 7-8 juta orang. Kerisaun mereka
menyebabkan mereka sangat gelisah, dan terus berusaha dan pada berkali-kali berganti
dokter yang di dengarnya telah berhasil dalam menolong mereka yang mendambakan
kehamilan.
Penanganan pasangan mandul atau kurang subur ( infertilitas ) merupakan
masalah medis yang kompleks dan menyangkut beberapa disiplin ilmu kedokteran,
sehingga memerlukan konsultasi pemeriksaan yang kompleks pula.
Ilmu kedokteran masa kini baru berhasil menolong 50% pasangan infertile
memperoleh anak yang diinginkanya.itu berarti separuhnya lagi harus menempuh hidup
tanpa anak, mengangkat anak (adopsi), poligini atau bercerai. Berkat kemajuan teknologi
kedokteran, beberapa pasangan telah dimungkinkan memperoleh anak dengan jalan
inseminasi buatan donor, “ bayi tabung “, atau membesarkan janin didalam rahim wanita
lain.
Dalam makalah ini akan di uraikan mengenai definisi, penyebab, pemeriksaan
pasangan infertilitas sekunder, penangannya beserta dengan asuhan keperawatannya.

B. Tujuan Penulisan
a. Tujuan Umum
1) Mempelajari tentang gejala-gejala yang menyertai klien dengan
infertilitas sekunder, dan berbagai faktor yang diduga mempunyai
kaitan dengan gejala-gejala tersebut.

b. Tujuan Khusus
1) Untuk melakukan pengkajian pada klien dengan infertilitas sekunder

1
2) Untuk menegakkan diagnosa keperawatan pada klien dengan
infertilitas sekunder
3) Untuk melihat dan melaksanakan intervensi keperawatan pada klien
dengan infertilitas sekunder
4) Untuk melakukan evaluasi pada klien dengan infertilitas sekunder.

C. Manfaat Penulisan
a. Hasil penulisan ini diharapkan bisa menambah pengetahuan dan wawasan
bagi perkembangan ilmu keperawatan.
b. Hasil penulisan ini diharapkan bisa meningkatkan pengetahuan dan
sebagai bahan masukan bagi sekolah atau instansi kesehatan.
c. Hasil penulisan ini diharapkan bisa menambah pengetahuan bagi
Masyarakat umum mengenai pentingnya dukungan keluarga terhadap
klien dengan infertilitas sekunder
d. Hasil penulisan ini diharapkan bisa menjadi referensi untuk penulisan
selanjutnya.

2
BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. KONSEP DASAR PENYAKIT


1. DEFINISI

Infertilitas sekunder adalah kalau istri pernah hamil, akan tetapi


tidak terjadi kehamilan lagi walaupun bersenggama.

2. ETIOLOGI
Riwayat yang teliti bisa membantu mengarahkan evaluasi, tetapi
penting memeriksa hitung sperma, ada tidaknya ovulasi, dan patensi dari
tuba fallopii sebelum memulai sembarang pengobatan.
1) Sebab-sebab infertilitas:
• Penyakit saluran telur 25-50%
• Anovulasi 20-40%
• Factor pria 40%
• Factor seviks 5 - 10%
• Uterus / endometrium 5 - 10%
(mis : defek fase luteal )
Tidak diketahui 10% Kombinasi
2) Factor-faktor penyebab kemandulan adalah :
• Factor wanita sekitar 60% sampai 75%.
• Factor vagina 3% - 5%
• Serviks 1% - 10%
• Uterus 4% - 5%
• Tuba fallopii 65% - 80%
• Ovarium 5% - 10%
• Peritoneum 5% - 10%
3) Factor suami sekitar 30% sampai 40%
Sebab-sebab infertilitas pada pria :
 Infeksi
Prostatitis, epididimis, parotitis.

3
 Kerusakan pada testis
Varikokel
 Panas –suhu skrotum yang tinggi bisa menurunkan jumlah dan
mortiliyas sperma.
 Obat-obatan
• Mariyuana
• Kemoterapi
• Tembakau
• Alcohol : bisa menurunkan testiteron, juga bisa
mengurangi libido.
 Ejakulasi retrograde
 Hipospadia
 Radiasi
 Kongnital
 Kelainan kromosom
 Pernah vasektomi
 Anti body anti sperma
 Difungsi seksual.

3. PEMERIKSAAN PASANGAN INFERTILITAS SEKUNDER


a. Syarat-syarat pemeriksaan
Setiap pasangan infertile harus diperlakukan sebagai satu kesatuan.
Itu berarti, kalau istri saja sedangkan istrinya tidak mau di periksa, maka
pasangan itu tidak diperiksa.
Adapun syarat-syarat pemeriksaan pasangan infertil adalah sebagai
berikut :
1) Istri yang berumur antara 20-30 tahun baru akan diperiksa setelah
berusaha mendapat anak selama 12 bulan. Pemeriksaan bisa dilakukan
lebih dini bila :
a) Pernah mengalami keguguran berulang,
b) Diketahui mengidap kelainan endokrin,
c) Pernah mengalami rongga panggul atau rongga perut, dan
d) Pernah mengalami bedah ginekologi.

4
2) istri yang berumur antara 31-35 tahun dapat diperiksa pada
kesempatan pertama pasangan itu datang ke dokter
3) pasangan infertile yang berumur 36-40 tahun hanya dilakukan
pemeriksaan infertilitas kalau belum mempunyai anak dari perkawinan
ini.
4) Pemeriksaan infertilitas tidak dilakukan pada pasangan infertile yang
tidak satu pasangan anggotannya mengidap penyakit yang
membahayakan kesehatan istri dan anaknya.

b. Rencana dan jadwal pemeriksaan

Rencana dan jadwal pemeriksaan infertilitas terhadap pasangan suami


dan istri selama 3 siklus haid istri.

c. Pemeriksaan masalah-masalah infertilitas


Masalah-masalah infertilitas yang penting adalah (1) masalah air mani,
(2) masalah vagina, (3) masalah serviks, (4) masalah uterus, (5) masalah
tuba, (6) masalah ovarium, dan (7) masalah peritoneum.

1. Masalah air mani


Air mani yang ditampung dengan jalan masturbasi langsung
kedalam botol gelas bersih yang bermulut lebar, setelah obstinensi 3-5
hari. Sebaiknya penampungan air mani itu dilakukan dirumah pasien
sendiri dan dibawa ke laboratorium setelah 2 jam.
Karateristik air mani
1) Koagulasi dan likuefaksi. Air mani yang di ejakulasi dalam bentuk
cair akan segera menjadi “agar” atau koagulum, untuk kemudian
melekuefaksi dalam 5-20 menit menjadi cairan yang agak pekat
guna memungkinkan spermatozoa bergerak dengan leluasa. Proses
koagulasi dan likuefaksi diatur oleh enzim.
2) Viskositas. Setelah berlikuefaksi, ejakulat akan menjadi cairan
homogen yang agak pekat, yang dapat membenang kalau dicolek
dengan sebatang lidi. Makin panjang membenangnya makin tinggi
viskositasnya. Pengukuran viskositas seperti itu sangat subyektif.

5
3) rupa dan bau. Air mani yang baru di ejakulasi rupanya putih-
kelabu, seperti agar-agar.baunya langu seperti bau bunga akasia.
4) volum. Setelah abstinensi selama 3 hari, volum air mani berkisar
antara 2,0-5,0 ml.
5) PH air mani yang baru diejakulasi PH-nya berkisar antara 7,3-7,7,
yang bila dibiarkan lebih lama akn meningkat karena penguapan
CO2-nya.
6) kecepatan gerak sperma 0,8-1,2 detik.
7) persentase gerak sperma motil 60%
8) uji fruktosa posiif.
Uji ketidak cocokan imunologik, Uji kontak air mani dengan
lender serviks (sperm cervical mucus contact test – SCMC test)
yang dikembangkan oleh Kremer dan Jager memperyunjukan
adanya antibody lookal pada pria atau wanita.

2. Masalah vagina
Kemampuan menyampaikan air mani kedalam vagina sekitar
serviks perlu untuk fertilitas. Masalah vagina yang dapat menghambat
penyampaian ini adalah adanya sumbatan dan peradangan. Sumbatan
psikosen disebut Vaginismus atau Disparenia, sedangkan sumbatan
anatomic dapat karena bawaan atau perolehan. Vaginitis karena
Kandida albikans atau Trikomonas vaginalis hebat dapat merupakan
masalah, bukan karena anti spermisidalnya, melainkan arti
sengamanya.

3. Masalah serviks
Infertilitas Sekunder yang berhubungan dengan fakto serviks
dapat disebabkan oleh sumbatan kanalis servikalis, lender serviks yang
abnormal, mal posisi dari serviks, atau kombinasinya. Kelainan
anatomis serviks misalnya ; cacat bawaan (atresia), polip serviks,
stenosis akibat trauma, peradangan serviks, sinekia setelah konisasi,
dan insenimasi yang tidak adekuat.

6
4. Masalah uterus
Prostaglandin memegang peranan penting dalam transportasi
spermatozoa kedalam uterus dan melewati penyempitan pada batas
uterus dan tuba itu, uterus sangat sensitive terhadap prostaglandin pada
akhir fase proliferasi dan permulaan fase sekresi. Dengan demikian,
kurangnya prostaglandin dalam air mani dapat merupakan masalah
infertilitas.
Masalah lain yang dapat mengangu transportasi spermatozoa
melalui uterus adalah distorsi kavum uteri karena sinekia, mioma atau
polip; peradangan endrometrium, dan gangguan kontraksi utrus.
Kelainan-kelainan itu dapat menggangu dalam hal implantasi,
pertumbuhan intra uterin, dan nutrisi serta oksigenasi janin.

5. Masalah tuba
Frekuensi factor tuba dalam infertilitas sangat bergantung pada
populasi yang diselidiki. Peranan factor tuba yang masuk akal adalah
25-50%. Dengan deikian factor tuba dapat dikatakan paling sering
ditemukan dalam masalah infertilitas. Oleh karena itulah, penilain
potensi tuba dianggap sebagai salah satu pemeriksaan terpenting
dalam pengobatan infertilitas.

6. Masalah ovarium
Deteksi tepat ovulasi kini tidak seberap penting lagi setelah
diketahui sperma dapat hidup dalam lender serviks selama 8 hari.
Deteksi tepat ovulasi baru diperlukan kalau akan dilakukan inseminasi
buatan, menentukan saat senggama yang jarang dilakukan, atau karena
siklus hidnya sangat panjang. Bagi pasangan-pasngan infertile yang
bersenggama teratur , cukup dianjurkan bersenggama dua kali sehari
pada minggu dimana ovulasi diharapkan akan terjadi.dengan demikian
nasehat senggama yang terlalu ketat tidak dianjurkan lagi.

7. Masalah peritoneum
Laparoskopi diagnostic telah menjadi bagian integral terahkir
pengelolaan infertilitas untuk memeriksa masalah peritoneum.

7
Menurut Albano, indikasi untuk melakukan laparoskopi dignostik
adalah :
a) Apabila selama 1 tahun pengobatan belum juga terjadi kehamilan
b) Kalau siklus haid tidak teratur, ataun suhu basal badan monofasik;
c) Apabila istri pasangan infertile berumur 20 tahun lebih,atau
mengalami infertilitas selama 30 tahu lebih.
d) Kalau terdapat riwayat laparotomi
e) Kalau pernah dilkukan histerosalpingografi dengan media kontras larut
minyak.
f) Kalu terdapat riwayat apendititis
g) Kalau pasturbasi beulang-ulang abnormal;
h) Klau di diagnosa endrometriosis;
i) Kalau nakan dilkukan inseminasi buatan.
Kalau hasil pemeriksaan laparoskopi sangat meragukan, dapat dilakukan
pemeriksaan histeroskopi.

4. PROGNOSIS INFERTILITAS

Menurut Behrman & Kistner, prognosis terjadinya kehamilan tergantung


pada umur suami, umur istri dan lamanya dihadapkan kepada kemungkinan
kehamilan. Fertilitas maksimal wanita dicapai pada umur 24 tahun, kemudian
menurun perlahan –lahan sampai 30 tahun., dan setelah itu menurun dengan
cepat.
Menurut MacLeod, fertilitas maksimal pria di capai pada umur 24-35
tahun. Hamper pada setiap golongan umur pria proporsi terjadinya kehamilan
dalam waktu kurang dari 6 bulan meningkat dengan meningkatnya frekueansi
senggama.
Penyelidikan jumlah bulan yang di perlukan untuk terjadinya kehamilan
tanpa pemakaian kontrasepsi telah dilakukan di Taiwan dan Amerika Serikat
dengan kesimpulan 25% akan hamil dalam satu bulan pertama, 63% dalam bulan
pertama, 75% dalam9 bulan pertama, 80% dalam 12 bulan pertama, dan 90%
dalam 18 bulan pertama.dengan demikian makin lama pasangan kawin tanpa
hasil, makin turun prognosi kehamilannya.
Hasil penyelidikan Dor et al, menunjukan apabila umur istri akan
dibandingkan dengan angka kehamilanya, maka pada infertilitas primer akan

8
terjadi penurunan yang tetap setelah umur 30 tahun.pada infertilitas sekunder juga
terjadi penurunan, akan tetapi tidak securam seperti infertilitas primer.
Jones & Pourmand berkesimp[ulan sama, bahwa pasangan yang telah
dihadapkan kepada kemungkinan kehamilan selama 3 tahun kurang, dapat
mengharapkan kehamilan sebesar 50%; yang lebih dari5 tahun, menurun menjadi
30%.
Turner et at. Menyatakan pula bahwa lamanya infertilitas sangat
mempengaruhi prognosis terjadinya kehamilan.

5. PENANGANAN INFERTILITAS
Penanganan terhadap infertilitas diarahkan kepada penyebab. Saluran telur
yang tidak paten biasanya disebabkan oleh penyakit radang panggul
(PRP). Tiap episode PRP meningkatkan risiko infertitlitas. Dengan PRP
episode pertama terdapt 10-15% risiko kemandulan ; dengan episode
kedua risiko meningkat menjadi 25%, dan setelah episode ketiga resiko
meningkat lagi menjadi 50%. Melepaskan adhesi-adhesi (lisis) saluran
telur dan rekonstruksinya dengan laparotomi atau laparoskopi bisa
mengembalikan patensi tuba. Namun, patensi tuba tidak menjamin
kebersihan menjadi hamil.
Anovulsi atau oligo-ovulasi adalah penyebab infertilitas yang
paling umum. Keberhailan pengobatan anovulasi bergantung kepada
penyebabnya. Adalah penting untuk menyingkirkan latar belakang
gangguan-gangguan endokrin sebelum terapi. Wanita yang kegemukan
seringkali mempunyai penyakit ovarium polikistik disertai anovulasi.
Pasien-pasien ini mempunyai kadar LH yang tetap tinggi dengan kadar
androgen yang tinggi, yang menyebabkan anovulasi. pengobatan dengan
sitras klommifen diindikasikan sebagai langkah pertama wanita yang
terlalu kurus (anoreksia nervosa, penari balet, penari, dsb)seringkali akan
mengalami anovulasi, tetapi mekanisme yang menyerti anovulasi pada
mereka berbeda dengan mekanisme pada pasien-pasien gemuk.
Terapi terhadap anovulasi haruslah pertama-tama mencari dan
mengoreksi sembarang latar belakang kelainan endokrin. Bila kelainan
endokrin tidak ada, selanjutnya diindikasikan untuk melakukan induksi

9
ovulasi. Klomifen dimulai pada hari kelima dari siklus dan diberikan
selama 5 hari.
Human menoupousal gonadotropin (hMG) disediakan dalam
bentuk ampul yang mengandung 75 atau 150 IU untuk masing-masing
LH dan FSH (pergonal) dan urofolitropin disediakan dalam bentuk ampul
yang mengandung 75 IU FSH manusia yang di murnikan (metrodin)

10
6. PENATALAKSANAN INFERTILITAS

PASANGAN MANDUL (INFERTILITAS)


Merupakan kesatuan biologis.

ANAMNESA UMUM KECANDUAN DALAM


• Berapa lama kawin • Perokok
• Tentang hubungan seks • Peminum
• Apakah infeksi • Narkotik
-penyakit hubungan seks
-operasi alat kandungan
genetalia luar

PEMERIKSAAN DASAR UMUM


• Fisik umum suami/istri
• Laboratorium dasar
• Roentgen/ultrasonografi.

PEMERIKSAAN KHUSUS WANITA PEMERIKSAAN KHUSUS


• Cairan serviks • Penis –kelainan anatomi
-Imunologis -ejakulasi terbalik
-Shim Huhner • Testis – kelainan anatomi
• Mikrokuretage -kelinan pem. darah
• Partubasi
• Hiteroskopi
• Histerosalpingografi
• Tes terjadinya ovulasi
• laparoskopi

PENGOBATAN PASANGAN KURANG SUBUR


• Bersifat spesialis
• Pengobatan kompleks
• Dengan obat khusus
• Dengan tindakan operasi

SIKAP BIDAN DI DESA/POLINDES


• Melakukan rujukan
• Memberikan nasehat

11
B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

Proses keperawatan adalah suatu metode sistematik untuk mengkaji respon


manusia terhadap masalah-masalah dan membuat rencana keperawatan yang
bertujuan untuk mengatasi masalah – masalah tersebut. Masalah-masalah
kesehatan dapat berhubungan dengan klien keluarga juga orang terdekat atau
masyarakat. Proses keperawatan mendokumentasikan kontribusi perawat dalam
mengurangi / mengatasi masalah-masalah kesehatan.

Proses keperawatan terdiri dari lima tahapan, yaitu : pengkajian, diagnosa


keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.

a) Pengkajian

a. Data diri klien

b. Data biologis/fisiologis : Keluhan utama, riwayat keluhan utama

c. Riwayat kesehatan masa lalu

d. Riwayat kesehatan keluarga

e. Riwayat reproduksi : Siklus haid, durasi haid

f. Riwayat obstetric

g. Pemeriksaan fisik

h. Data psikologis/sosiologis : Reaksi emosional setelah penyakit


diketahui

1. Anamnesa umum( bersama ) :


• Berapa usia perkawinan
• Umur istri dan suami
• Frekuensi hubungan seks
• Tingkat kepuasan seks
• Tehnik hubungan seks
• Apakah masing-masin pernah kawin

12
• Apakah dari perkawinan tersebut mempunyai anak
• Kalau punya berapa umur anak terkecil
• Apakah pernah menderita penyakit yang mungkin dapat
menurunkan kesuburan seperti penyakit hubungan seks atau pernah
mengalami oprasi.

2. Anamnesa khusus :
a. Anamnesa khusus istri :
• Berapa umur saat menarche
• Apakah haid teratur
• Berapa lama terjadi pendaraha.
o Apakah terdapat gumpalan darah
o Apakah disertai rasa nyeri saat menstruasi
o Apakah keputihan
• Apakah terdapat kontak berdarah.
• Riwayat alat reprodruksi.
o Apakah pernah mengalami oprasi alat genetelia
o Apakah pernah memakai KB-IUCD
o Apakah pernah keguguran.
o Apakah pernah infeksi genetelia.

b. Anamnesa suami :
• Bagaimana tingkat ereksi
• Apakah pernah mengalami penyakit hubungan seksual
• Apakah pernah menderita penyakit mump (parotitus epidemika) waktu
kecil
• Infertilitas primer yaitu suatu pasangan yang sudah menikah selama 1
tahun dan bersenggama namun belum menghasilkan keturunan.

b) Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan adalah penilaian klinis tentang respon


individu, keluarga atau komunitas terhadap proses kehidupan/ masalah kesehatan.

13
Aktual atau potensial dan kemungkinan dan membutuhkan tindakan keperawatan
untuk memecahkan masalah tersebut. Adapun diagnosa keperawatan yang
muncul pada pasien infertilitas adalah sebagai berikut :

1) Ansietas b.d ketidaktahuan tentang hasil akhir proses diagnostic


2) Gangguan konsep diri; harga diri rendah b.d gangguan fertilitas
3) Gangguan konsep diri; gangguan citra diri b.d perubahan struktur
anatomis dan fungsional organ reproduksi
4) Resiko tinggi terhadap kerusakan koping individu / keluarga b.d metode
yang digunakan dalam investigasi gangguan fertilitas
5) Konflik pengambilan keputusan b.d terapi untuk menangani infertilitas,
alternatif untuk terapi
6) Perubahan proses keluarga b.d harapan tidak terpenuhi untuk hamil
7) Berduka dan antisipasi b.d prognosis yang buruk
8) Nyeri akut b. d efek tes dfiagnostik
9) Efek tes diagnostic ketedakberdayaan b.d kurang control terhadap
prognosis
10) Resiko tinggi isolasi social b.d kerusakan fertilitas, investigasinya, dan
penataklaksanaannya

c) Perencanaan

Setelah merumuskan diagnosa keperawatan, maka intervensi dan aktivitas


keperawatan perlu ditetapkan untuk mengurangi, menghilangkan, dan mencegah
masalah keperawatan penderita. Tahapan ini disebut perencanaan keperawatan
yang meliputi penentuan prioritas, diagnosa keperawatan, menetapkan sasaran
dan tujuan, menetapkan kriteria evaluasi dan merumuskan intervensi dan aktivitas
keperawatan.

d) Pelaksanaan
Pelaksanaan adalah tahap pelaksananan terhadap rencana tindakan keperawatan
yang telah ditetapkan untuk perawat bersama pasien. Implementasi dilaksanakan
sesuai dengan rencana setelah dilakukan validasi, disamping itu juga dibutuhkan
ketrampilan interpersonal, intelektual, teknikal yang dilakukan dengan cermat dan

14
efisien pada situasi yang tepat dengan selalu memperhatikan keamanan fisik dan
psikologis. Setelah selesai implementasi, dilakukan dokumentasi yang meliputi
intervensi yang sudah dilakukan dan bagaimana respon pasien.

e) Evaluasi

Evaluasi merupakan tahap terakhir dari proses keperawatan. Kegiatan


evaluasi ini adalah membandingkan hasil yang telah dicapai setelah implementasi
keperawatan dengan tujuan yang diharapkan dalam perencanaan.
Perawat mempunyai tiga alternatif dalam menentukan sejauh mana tujuan
tercapai:
1. Berhasil : prilaku pasien sesuai pernyatan tujuan dalam waktu atau tanggal
yang ditetapkan di tujuan.
2. Tercapai sebagian : pasien menunujukan prilaku tetapi tidak sebaik yang
ditentukan dalam pernyataan tujuan.
3. Belum tercapai. : pasien tidak mampu sama sekali menunjukkan prilaku yang
diharapakan sesuai dengan pernyataan tujuan.

15
BAB III
TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN Ny. D.K


DENGAN INFERTILITAS SEKUNDER DI PAVILIUN MARIA
RSU BETHESDA TOMOHON
OKTOBER 2010.

a. PENGKAJIAN
I. Identitas Diri Pasien
Nama : Ny. D.K
Umur : 25 Tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Alamat : Desa Woloan, Kec. Tomohon Utara.
Status perkawinan : Nikah
Agama : Kristen Protestan Pentakosta
Suku /Bangsa : Minahasa / Indonesia
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Tgl. MRS/Tgl operasi : 12 Oktober Jam : 07.00 wita
Tgl. Pengkajian : 12 Oktober 2010. Jam : 10.00 wita
Sumber informasi : Pasien

Keluarga yang dapat


dihubungi : Suami
Nama : Tn. E.D
Umur : 30 Tahun
Pendidikan : SMP
Pekerjaan : Tani
Alamat : Desa Woloan, kec. Tomohon Utara.

16
II. Status Kesehatan saat ini
a. Keluhan Utama
Saat dikaji klien mengeluh nyeri perut.
b. Riwayat keluhan utama
Keluhan dirasakan pada daerah perut, karena haid tidak teratur, selama 4 hari
sejak tanggal 12 Oktober 2010.
c. Riwayat keluhan MRS.
Klien MRS dengan keluhan nyeri pada bagian perut, karena haid yang tidak
teratur, pusing, kepala terasa melayang dan nyeri seperti ditusuk-tusuk secara
hilang timbul. Pada tanggal 12 Oktober 2010 Jam 07.00 Wita klien dibawa
ke RSU Bethesda Via UGD dan dipindahkan ke Paviliun Maria Jam 12.00
Wita.

III. Riwayat Kesehatan Masa Lalu


a. Penyakit yang pernah dialami
o Kanak-kanak : Demam, batuk
o Kecelakaan : Belum pernah
o Pernah dirawat : Belum pernah
o Operasi : Belum pernah
o Obat-obatan : Menggunakan obat-obatan yang dijual
bebas untuk mengobati sakit.

b. Pola Nutrisi
o Sebelum Sakit
BB : 49 kg TB : 157 cm
Jenis makanan : 4 sehat 5 sempurna
Makanan yang tidak disukai : Tidak ada
Makanan yang disukai : Lalapan.
Makanan pantangan : Tidak ada
Nafsu makan : Baik
o Perubahan setelah sakit
Intake cairan : ± 2500 ml

17
Output cairan : ± 1500 ml
Porsi makan : 2 x/hari, masih rasa mual
Nafsu makan : Tidak ada

c. Poal Eliminasi
o Sebelum Sakit
BAB : Frekuensi : 1-2 x/hari Konsistensi : Lembek
waktu : pagi penggunaan pencahar : Tidak ada
BAK : Frekuensi : 4-5 x/Hari
Warna : Kuning
Bau : Ammonia
o Perubahan setelah sakit
BAB : Saat dikaji klien mengatakan belum BAB
BAK : Melalui kateter.

d. Pola Tidur dan Istirahat


o Sebelum Sakit
Waktu tidur : 6-7 Jam/Hari
Kebiasaan pengantar tidur : Menonton TV
Kesulitan dalam tidur : Tidak ada
o Perubahan setelah Sakit
Waktu tidur : 9-10 Jam/Hari
Kesulitan tidur : Tidak ada
e. Pola Aktivitas dan Latihan
Kegiatan dalam pekerjaan : Sebagai IRT
Olahraga : Tidak pernah
Kegiatan diwaktu luang : Menonton TV

IV. Riwayat Reproduksi


a. Pertama kali haid Umur : 15 tahun, lamanya 6-7 hari, teratur warna darah
merah, konsiotensi cair tanpa gumpalan.
b. Pertama kali menikah usia 20 tahun, kehamilan banyaknya 2 x
Abortus : tidak pernah
section cesarra : tidak pernah

18
c. Menjadi peserta KB

V. Riwayat Keluarga
Genogram :

: Laki-laki

: Perempuan

* : meninggal

: tinggal bersama

/serumah

Komentar :
Dikeluarga klien tidak ada yang menderita penyakit ini, hanya klien yang
menderita penyakit ini. Mengenai penyakit turunan seperti : hipertensi, DM,
disangkal oleh keluarga. Penyakit menular seperti : TBC, dan infeksi daerah
kewanitaan disangkal oleh keluarga.

VI. Riwayat Lingkungan


Klien tinggal dilingkungan rumah yang bersih dan masyarakat yang terbuka, jauh
dari bahaya radiasi dan polusi. Klien pernah mengalami ataupun terpajan dengan
udara bahaya dan polusi.

VII. Aspek psikososial


a. Pola pikir dan persepsi menggunakan bantuan dengan menurunkan sensitifitas
pengaruh sakit, saat ini lebih berfokus dengan kondisi penyakit dengan
harapan dapat sembuh dan berkumpul kembali dengan keluarga besar
dirumah.
Suasana hati tidak terbebani dengan kondisi penyakit, banyak mendapat
dukungan, Dokter, Perawat dan teman.

b. Hubungan/komunikasi

19
Bicara relevan, jelas dan mampu mengekspresikan, menggunakan adat
istiadat lebih dominant suku tombulu.
Pola komunikasi langsung, pola keuangan memadai, biaya hidup ditanggung
oleh suami, kesulitan dalam keluarga tidak ada.

c. Pertahanan/mekanisme koping
Pengambilan keputusan adalah suami dan dibantu oleh klien sebagai istri,
mampu memecahkan masalah, selau mencari jalan keluar dalam setiap
permasalahan yang dihadapi.

d. System dan nilai kepercayaan


Yakin dan percaya terhadap TYME dan agama yang dianutnya yakni agama
Kristen Protestan Pentakosta.

e. Tingkat perkembangan
Usia : tahun karakteristik : dalam tahap perkembangan dewasa muda.

VIII. Pemeriksaan Fisik


a. Keadaan umum
Kesadaran : Compos mentis
TD : 110/90 mmHg
N : 84 x/mnt
R : 24 x/mnt
SB : 36,6 0C
b. Kepala
Bentuk : Bulat simetris
Keluhan : Tidak ada
c. Mata
Reaksi terhadap cahaya : Baik
Bentuk : Bulat isokor, tepi rata
Konjugtiva : Anemis
Fungsi penglihatan : Baik
d. Hidung
Nasal septum : Centralis

20
Cancha : tidak kemerahan, tidak ada pembengkakan,
Tidak ada pengeluaran lendir.
Mulut dan kerongkongan : Tidak ada peradangan,
kesulitan menelan : Tidak ada.
e. Dada dan paru-paru
Suara nafas : Bronchoveskuler batuk : tidak ada
Ronchi/wheezing : Tidak ada sputum : tidak ada
Pola nafas : Thorax
Mamae : Agak Simetris

f. Jantung dan Sirkulasi


Irama : Sinkron dengan irama jantung
Nyeri : Tidak ada
g. Abdomen
Inspeksi : Terdapat luka operasi secara Horizontal.
Palpasi : Nyeri tekan.
Auskultasi : Bising usus

h. Status neurology : GCS : E4 V5 M6 = 15


i. Genetalia :
Inspeksi : Labio mayor menutupi labio minor yang tampak
kemerahan Orivisium uretra terpasang kateter
j. Ekstremitas
o Ekstremitas atas
Kesimetrisan : Simetris
Cyanosis : Tidak ada
Hiperpigmentasi : Tidak ada
Edema : Tidak ada
Akral : Hangat
o Eksremitas bawah
Kesimetrisan : Simetris
Cyanosis : Tidak ada
Hiperpigmentasi : Tidak ada
Edema : Tidak ada

21
Akral : Hangat
o Terpasang IVFD Sol Ringle Laktat : 20 gtt/mnt
o Lokasi : Tangan kanan

IX. Data Penunjang


Pemeriksaan laboratorium
Ureum : 20 mg/dl
Kreatinin : 0,8 mg/dl
Albumin : 3,8 mg/dl
Hb : 11,5 mg/dl

X. Klasifikasi data
a. Data subjektif
1. klien mengatakan nyeri daerah perut.
2. klien mengatakan cemas dengan keadaan penyakitnya.
3. klien mengatakan tidak ada nafsu makan.
b. Data objektif
1. Nyeri tekan pada daerah abdomen
2. Wajah Meringis
3. Cemas dengan keadaan penyakit
4. Tanda-tanda vital
TD : 110/90 mmHg R : 24 x/menit
N : 84 x/menit SB : 36,6 0C.
XI. Analisa Data
DATA ETIOLOGI MASALAH

22
1. DS : klien mengatakan nyeri Nyeri perut Nyeri Akut
daerah perut. ↓
DO : Merangsang reseptor nyeri
- wajah tampak meringis mengeluarkan zat kimia
- TD : 110/90 mmHg ↓
- N : 84 x/mnt Dikirim dalam bentuk impuls
- R : 24 x/mnt elektrokimia ke dorsal karena pola
spiral cord

Diantar ke thalamus sebagian pusat
rasa

Dialirkan ke cortex serebri

Persepsi nyeri

Nyeri akut

2. DS : klien mengatakan Infertilitas Cemas


cemas dengan keadaan ↓
penyakitnya. Kurang pengetahuan pasien dan
DO : Pasien dan keluarga mengenai proses
keluarga sering bertanya penyakitnya
pada dokter dan ↓
perawat tentang Merupakan stressor bagi pasien
penyakitnya ↓
Cemas

XII. DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Nyeri akut berhubungan dengan reseptor nyeri
2. Kecemasan berhubungan dengan kurang pengetahuan mengenai proses
penyakit

23
DX HARI/TGL IMPLEMENTASI EVALUASI
I Selasa, 13 Tanggal 13 Oktober 2010 Jam :
Oktober 08.30 wita
2010 1. Mengatur posisi pasien
dengan cara posisi kepala S : Pasien mengatakan nyeri
lebih tinggi dari badan pada daerah perut

2. Observasi TTV dengan hasil O : Ekspresi wajah pasien tampak


T D : 110/90 mmHg Meringis.
N : 84 x/mnt
R : 24 x/mnt A : Masalah belum teratasi
SB : 36,6 0C
P : Tindakan lanjut.
3. Mengkaji tingkat nyeri
pasien.
Hasil : tingkat nyeri 4-7 =
nyeri sedang dengan durasi
2-3 menit.
4. Mengajarkan pasien
relaksasi dalam dan
dilakukan saat pasien
merasakan nyeri
Hasil : nyeri belum
berkurang

1. Mencatat masalah Tanggal 14 Oktober 2010 jam :


Rabu, 14 medis/psikologis 08.30 wita
Oktober hasil : adanya nyeri
2010 2. Mencatat adanya sakit, S : Klien mengatakan nyeri
karakteristik, intensitasdan masih terasa.
durasi
Hasil : nyeri tekan dan lepas O : Nyeri tekan durasi 1-2 dtk
2-3 detik meningkat dengan TD : 110/90 mmHg

24
penekanan dan pergerakan N : 84 x/mnt
berlebih pada perut . R : 20 x/mnt
3. Mengkaji TTV
hasil : A : Masalah belum teratasi
TD : 110/90 mmHg
N : 24 x/mnt P : Lanjutkan intervensi,
R : 84 x/mnt
4. Mengkaji ketidaknyamanan
yang berasal dari perut
Hasil : klien merasakan
nyeri hanya di daerah perut
5. Menganjurkan teknik
relaksasi, menarik nafas
dalam
Hasil : klien mampu
mempraktekkan dan merasa
sedikit nyaman.

1. Mencatat adanya sakit,


karakteristik, intensitas dan
durasi Tanggal 15 Oktober 2010 jam :
Hasil : nyeri tekan, 1-2 detik 08.30 wita
Kamis, 15 meningkat dengan
Oktober pergerakan S : Klien mengatakan nyeri
2010. 2. Mengkaji TTV berkurang
Hasil : O :
TD : 110/90 mmHg TD : 110/90 mmHg
N : 84 x/mnt R : 24 x/mnt
R : 24 x/mnt N : 84 x/mnt
3. Menganjurkan penggunaan Klien mampu mempraktekkan
teknik relaksasi teknik relaksasi nafas dalam
Hasil : klien mengatakan
sudah praktekkan teknik A : Masalah belum teratasi
relaksasi, tarik nafas dalam P : Lanjutkan Tindakan.

25
setiap merasa nyeri

1. Mencatat adanya sakit,


karakteristik
Hasil : klien mengatakan Tanggal 16 Oktober 2010 jam :
nyeri berkurang 08.30 wita
2. Mengkaji TTV S : Klien mengatakan nyeri
Jumat, 16 Hasil : hilang.
Oktober TD : 120/80 mmHg
2010. N : 80 x/mnt O :
R : 24 x/mnt TD : 120/90 mmHg
memberikan obat sesuai indikasi N : 80 x/mnt
R : 20 x/mnt

A : Masalah teratasi
P :-

II 17 Oktober 1. Mengkaji tingkat kecemasan Tanggal 17 oktober jam : 09.00


2010 pasien wita
Hasil : pasien tidak cemas
lagi dan pasien tampak S : pasien mengatakan tidak
tenang cemas lagi dengan keadaannya

2. Memberikan penjelasan O : Pasien memahami dan


mengenai penyakit mengerti dengan keadaannya
Hasil : pasien mengerti
dengan penjelasannya A : Masalah teratasi.

3. Menganjurkan keluarga P : -
untuk memberikan support
atau dukungan pada pasien.
4. Memberikan dorongan

26
spiritual terhadap pasien

XIII. DIAGNOSA KEPERAWATAN (KRITERIA NANDA, NOC, NIC)


1. NYERI AKUT BERHUBUNGAN DENGAN RESEPTOR NYERI.
1) NANDA (ACUTE PAIN, 1996)
Domain : 12 – Kenyamanan : perasaan sejahtera atau tentram
Class : 1 – kenyamanan fisik : perasaan sejahtera atau nyaman
dan atau bebas dari rasa nyeri
Diagnosa : Nyeri Akut
Pengertian : pengalaman emosional dan sensori yang tidak menyenangkan
yang muncul dari kerusakan jaringan secara aktual atau potensial yang
menunjukkan adanya kerusakan jaringan (association study of pain) :
serangan mendadak atau perlahan dari intensitas ringan sampai berat yang
dapat diantisipasi atau prediksi durasi nyeri kurang dari 6 bulan.
Batasan karakteristik :
• Melaporkan nyeri secara verbal atau nonverbal
• Menunnjukkan kerusakan
• Posisi untuk mengurangi nyeri
• Gerakan untuk melindungi
• Tingkah laku berhati-hati
• Muka topeng
• Gangguan tidur (mata sayu, tampak capek, sulit atau gerakan
kacau, menyeringai)
• Fokus pada diri sendiri
• Fokus menyempit (penurunan persepsi waktu, kerusakan proses
berpikir, penurunan interaksi dengan orang dan lingkungan).
• Tingkah laku distraksi (jalan-jalan, menemui orang lain, aktivitas
berulang)
• Respon otonom (diaporesis, perubahan tekanan darah, perubahan
nafas, nadi, dialatasi pupil).
• Perubahan otonom dalam tonus otot (dalam rentang lemah ke
kaku)

27
• Tingkah laku ekspresif (gelisah, merintih, menangis, waspada,
iritabel, nafas panjang, mengeluh)
• Perubahan dalam nafsu makan.

2) NOC : NOC : Anxiety Control (1402)


Domain : Psychososial Health (III)
Class : self Control (O)
Scale : Never Demonstrated To Consistenly
Demonstrated (m)

Indikasi :
140201 Kontrol instensitas cemas
140202 Eliminasi tanda cemas
140206 Menggunakan strategi koping efektif
140207 Menggunakan teknik relaksasi untuK
Menekan Kecemasan

3) NIC : ACTIVITY THERAPY (4310)


Aktivitas :
 Sepakat dengan pasien utuk membatasi tingkat aktivitas
pasien
 Pantau dan dokumentasikan perubahan status Pasien
 Pantau tingkat kesadaran pasien
 Orientasikan pada orang, waktu dan situasi dalam setiap
interaksi

2. CEMAS BERHUBUNGAN DENGAN KURANG PENGETAHUAN


TENTANG PROSES PENYAKIT.
1) NANDA ( ANXIETY ; 1973, 1982,1998 )
Domain : 9 – koping/toleransi terhadap stress : daya tampung
terhadap peristiwa atau proses kehidupan
Class : 2 – respon koping : proses dalam mengelola stress
lingkungan.
28
Diagnosis : Cemas
Pengertian : Perasaan tidak nyaman atau ketakutan yang tidak jelas dan
gelisah disertai dengan respon otonom (sumber terkadang tidak spesifik atau
tidak diketahui oleh individu), perasaan yang was-was untuk mengatasi
bahaya. Ini merupakan sinyal peringatan akan adanya bahaya dan
memungkinkan individu untuk mengambil langkah untuk menghadapinya.

Batasan karakteristik :
a) Perilaku
a. Penurunan produktivitas
b. Gelisah
c. Insomnia
d. Resah

b) Afektif
a. Kesedihan yang mendalam
b. Takut
c. Gugup
d. Mudah tersinggung
e. Nyeri hebat
f. Ketakutan
g. Distres
h. Khawatir
i. Cemas
c) Fisiologi
a. Goyah
b. Peningkatan respirasi (simpatis)
c. Peningkatan keringat
d. Wajah tegang
e. Anoreksia (simpatis)
f. Kelelahan (parasimpatis)
g. Gugup (simpatis)
h. Mual (parasimapatis)
i. Pusing (parasimpatis)

29
d) Kognitif
a. Bingung
b. Kerusakan perhatian
c. Ketakutan terhadap hal yang tidak jelas
d. Sulit berkonsentrasi

2) NOC : Anxiety Control (1402)


Domain : Psychososial Health (III)
Class : self Control (O)
Scale : Never Demonstrated To Consistenly Demonstrated (m)

Indikasi :
140201 Kontrol instensitas cemas
140202 Eliminasi tanda cemas
140206 Menggunakan strategi koping efektif
140207 Menggunakan teknik relaksasi untuk menekan kecemasan

3) NIC : Counseling (5240)


Aktivitas :
1) Beri dorongan kepada pasien untuk mengungkapkan pikiran dan
perasaan untuk mengeksternalisasikan kecemasan.
2) Bantu pasien untuk menfokuskan pada situasi saat ini, sebagai alat untuk
mengidentifikasi mekanisme koping yang dibutuhkan untuk mengurangi
kecemasan.
3) Sediakan pengalihan melalui televise, radio, permainan serta terapi
okupasi untuk mengurangi kecemasan dan memperluas focus.
4) Sediakan penguatan yang positif ketika apsien mampu meneruskan
aktivitas sehari-hari dan lainnnya meskipun mengalami kecemasan.

30
BAB IV
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Di bidang reproduksi, infertilitas diartikan sebagai kekurang
mampuan pasangan untuk menghasilkan keturunan, jadi bukanlah
ketidakmampuan mutlak untuk memiliki keturunan. Jadi, pasangan suami istri
dikategorikan mengalami infertilitas bila tidak juga mengalami pembuahan,
sekalipun sudah melakukan hubungan seksual secara teratur - tanpa kontrasepsi
- dalam periode setahun. Sedangkan kemandulan atau sterilitas adalah perempuan
yang rahimnya telah diangkat atau laki-laki yang telah dikebiri
(dikastrasi).infertilitas terbagi menjadi infertilitas primer dab inrfertilitas
sekunder. Infertilitas primer adalah bila pasangan tersebut belum pernah
mengalami kehamilan sama sekali, sedangkan infertilitas sekunder adalah bila
pasangan tersebut sudah memiliki anak, kemudian memakai kontrasepsi namun
setelah di lepas selama satu tahun belum juga hamil.

B. SARAN

Setiap pasangan suami istri pasti mendambakan anak dari hasil


perkawinannya itu, anak adalah merupakan suatu pelengkap dari sebuah keluarga
inti,tanpa anak pasangan suami istri tersebut belum bisa dikatakan sebuah
keluarga inti/lengkap. Namun, sebuah keluarga berencana demi kesehatan tidak
pernah lengkap tanpa penanggulangan masalah infertilitas. Ditinjau dari sudut
kesehatanya, keluarga berencana harus meliputi pencegahan dan pengobatan

31
infertilitas, apalagi kalau kejadiannya sebelum pasangan memperoleh anak-anak
yang diharapkan.

Beberapa saran untuk pasangan kurang subur :

• Mengubah tehnik hubungan seks, dapat memperhatikan masa subur istri.


• Memilih makanan yang dapat meningkatkan kesuburan suami-istri.
• Menghitung masa minggu subur dengan jalan menggunakan termokauter
khusus atau menghitung melalui hari pertama dating bulan.

DAFTAR PUSTAKA

32
 Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan & Keluarga Berencana untuk Pendidikan

Bidan.oleh Prof. Ida Bagus Gde Manuaba, SpOG.

 Ilmu Kandungan, Editor ketua Prof. Hanifa Wiknjosatro, dr , DSOG. Editor Prof.

Abdul Bari saifudin, dr, DSOG, MPH & Trijatmo Rachimhadhi, dr, dsog,edisi

kedua.(yayasan bina pustaka sarwono prawirohardjo. Jakarta, 1994.

 Kapita selekta Kedokteran, Edisi Ketiga Jilid Pertama. Editor Arief Mansjoer,

Kuspuji Trianti, Rakhmi Savitri, Wahyu Ika Wardhani, Wiwiek Setio Wulan.

 Dikutip Dari : www.google.com

33