Anda di halaman 1dari 2

Watching Generation [Generasi Penonton]

Baru sekitar lima persen dari kurang lebih 300.000 SD hingga SLTA di seluruh
Indonesia yang memiliki perpustakaan (Kompas, 15 Mei 2002). Dan hanya sekitar satu
persen dari kurang lebih 260.000 SD Negeri di Indonesia yang memiliki perpustakaan
(Kompas, 25 Juli 2002).
Louis L Amour menyatakan bahwa buku adalah kemenangan terbesar yang telah dapat
diraih manusia. Mengapa dunia pendidikan kita seakan tidak peduli akan keberadaan
sebuah buku, hasil kemenangan peradaban manusia?
Saat ini, dunia memang telah berubah. Dan perubahan itu menghasilkan sesuatu yang
sering disebut dengan global values (nilai-nilai global). Sementara itu salah satu
ekses dari global values adalah semakin pragmatisnya perilaku manusia. Dalam
konteks demikian, buku dan terutama kegiatan membaca buku tidak terlalu memiliki
fungsi yang signifikan. Sebaliknya televisi atau media audio visual seumumnya
sebagai representasi dari kegiatan menonton, justru mempunyai hubungan yang
relevan. Inilah potret dominan realitas sosial yang menjadi setting para siswa dan
generasi penerus bangsa yang ada saat ini.
Dalam realitas seperti itu, yang kemudian terjadi adalah apa yang sering disebut
para pemikir sejarah kebudayaan sebagai “lompatan tradisi”. Meskipun sebagian
pendapat menyatakan bahwa perjalanan sejarah tidak selalu linear, peradaban Barat
yang terbangun lewat tradisi yang berurutan, yakni tradisi tutur, baca, tulis, dan
baru menonton, telah menunjukkan keunggulannya.
Dalam beberapa dekade terakhir, di Barat memang begitu marak aspek tontonan dan
hiburan (showbiz entertainment), tetapi mengapa peradaban mereka tidak bangkrut?
Sebagaimana disinyalir Neil Postman bahwa hiburanlah yang akan membawa
kebangkrutan peradaban suatu bangsa.
Salah satu jawabannya, yakni tradisi membaca mereka telah tertanam kuat dan yang
lebih penting lagi, dapat tetap dipertahankan hingga saat ini. Ini tentu tak bisa
lepas dari tradisi orang Barat yang menghargai betul eksistensi sebuah buku. Kalau
kita lihat penataan interior rumah-rumah orang Barat, hampir dapat dipastikan
selalu saja ada tempat buku di salah satu sudut ruangan. Dan, kita percaya itu
bukan hanya suatu bentuk etalase (pajangan) belaka sebagaimana kebanyakan rumah
orang Indonesia yang dipenuhi lukisan atau patung karya seniman terkenal yang
sekadar sebagai simbol status sosial.
Dengan demikian, tesis Neil Postman yang menyatakan bahwa dunia hiburan bisa
menyebabkan kebangkrutan budaya sebuah bangsa, kiranya terutama ditujukan pada
bangsa yang tidak memiliki tradisi membaca dan penghargaan terhadap buku yang
kuat. Dan bangsa Indonesia yang lahir dari sebuah revolusi kemerdekaan lebih dari
setengah abad serta telah mengalami proses reformasi menjelang milenium baru abad
21, ternyata masih memandang remeh keberadaan buku. Terutama belum mampu membentuk
suatu tradisi masyarakat gemar membaca (reading society).
Bangsa Indonesia masih tergolong ke dalam bangsa dengan tradisi tutur yang kental,
bahkan masih banyak yang lebih mempercayai dongeng daripada fakta, serta lebih
percaya cerita dari mulut ke mulut dibanding data ilmiah. Bangsa yang baru akan
beranjak dari tradisi tutur (lisan) menuju tradisi membaca dan menulis ini, tiba-
tiba diserbu oleh tradisi hiburan (menonton) sebagai konsekuensi logis produk
budaya industri, utamanya industri media audio visual.
Kalau kita sedikit menengok ke belakang tentang gelombang peradaban, menurut Alvin
Tofler dibagi tiga, pertama teknologi pertanian (800 SM – 1500 M), kedua teknologi
industri (1500 M – 1970 M), dan ketiga teknologi informasi (1970 M – 2000 M), maka
yang sedang kita alami kini adalah dampak dari teknologi industri dan informasi.
Menurut Prof (Ing) Iskandar Alisjahbana (Kompas, 28 Juni 2000), gelombang ketiga
tersebut akan diteruskan dengan era industri rekreasi dan hiburan (recreation and
entertainment), yang menjadikan budaya manusia di berbagai belahan dunia dipenuhi
aspek hiburan.
Selanjutnya Prof (Ing) Iskandar Alisjahbana menyatakan bahwa, era industri hiburan
akan mencapai klimaksnya sekitar tahun 2015, dan peradaban dunia akan digantikan
era bioteknologi yang akan mulai sekitar 50 tahun yang akan datang, saat bangsa
Indonesia memasuki usia seabad kemerdekaan. Bagi bangsa yang telah memiliki
tradisi baca-tulis yang kuat, kiranya tak menjadi soal menyambut datangnya pasca
era industri hiburan. Tetapi, bagi bangsa yang belum memiliki tradisi baca-tulis
yang kuat, dan bahkan ditambah dengan kenyataan suatu generasi tanpa buku
(bookless generation), bagaimanakah kiranya yang akan terjadi?
Wallahu a’lamu . . . . . . . . . . . . . .

Ditulis oleh: Kadarsih, alumnus IAIN Sunan Kalijaga, guru SMU Ma’arif Wates,
Kulonprogo, Yogyakarta.