Anda di halaman 1dari 15

Makalah Hukum Perusahaan

Dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah


Hukum Perusahaan Kelas A

Oleh :
Indrawan Nugroho Utomo
E0005189

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2008
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Perseroan Terbatas (PT) merupakan bentuk usaha kegiatan ekonomi yang
disukai saat ini, disamping karena pertanggung jawabanya yang bersifat terbatas,
Perseroan Terbatas juga memberi kemudahan bagi pemilik (pemegang saham)
nya untuk mengalihkan perusahaanya (kepada setiap orang) dengan menjual
seluruh saham yang dimilikinya pada perusahaan tersebut.
Kata “perseroan” menunjuk kepada modal nya yang terdiri atas sero
(saham). Sedangkan kata “terbatas” menunjuk kepada tanggung jawab pemegang
saham yang tidak melebihi nilai nilai nominal saham yang diambil bagian dan
dimilikinya. Bentuk hukum seperti Perseroan terbatas ini juga dikenal di negara –
negara lain seperti Malaysia disebut Sendirian Berbad (SDN BHD), di Singapura
disebut Private Limited (Pte Ltd), di Jepang disebut Kabushiki Kaisa, di Inggris
disebut Registered Compaines, di Belanda disebut Naamloze Venootschap (NV),
dan di Perancis disebut Societes A Resposabilitie Limite (SARL).
Hal tersebut diatas ditegaskan dalam Pasal ! butir (1) Undang – Undang
Perseroan Terbatas:
“ Perseroan Terbatas yang selanjutnya disebut perseroan adalah badan
hukum yang didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan
modal dasar yang seluruhnya tebagi dalam saham dan memenuhi persyaratan
yang ditetapkan dalam undang – undang ini, serta peraturan pelaksanaanya”.

Sebagai badan hukum, perseroan harus memenuhi unsur – unsur badan


hukum seperti ditentukan dalam undang – undang Perseroan Terbatas (organisasi
yang teratur, kekayaan sendiri, melakukan hubungan hukum sendiri, mempunyai
tujuan sendiri).
B. Perumusan Masalah

Sebagai organisasi yang teratur perseroan mempunyai organ yang terdiri


Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), Direksi, dan Komisaris (Pasal 1 butir
(2) Undang-Undang Perseroan Terbatas) yang tiap-tiap organ mempunyai tugas
dan wewenang terhadap perseroan. Keteraturan organisasi dapat diketahui melalui
ketentuan Undang-Undang Perseroan Terbatas, Anggaran Dasar, Anggaran
Rumah Tangga perseroan, dan keputusan Rapat Umum Pemegang Saham.
C. Pembahasan

1. Rapat Umum Pemegang Saham.

RUPS maerupakan organ perseroan yang paling tinggi dan berkuasa untuk
menentukan arah dan tujuan perseroan. RUPS memiliki segala wewenang
yang tidak diberikan kepada direksi dan komisaris perseroan. RUPS
mempunyai hak untuk memperoleh segala macam keterangan yang diperlukan
yang berkaitan dengan kepentingan dan jalanya perseroan.

Kewenangan tersebut merupakan kewenangan eksklusif yang tidak dapat


diserahkan kepada organ lain yang bditetapkan dalam UUPT dan Anggaran
Dasar. Wewenang Eksklusif yang ditetapkan dalam UUPT akan ada selama
UUPT belum diubah. Sedangkan wewenang eksklusif dalam anggaran dasar
yang disahkan atau disetujui Menteri Kehakiman dapat diubah melalui
perubahan Anggaran Dasar sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan
UUPT.

Beberapa wewenang eksklusif RUPS yang ditetapkan dalam UUPT antara


lain:

- Penetapan perubahan anggaran dasar (pasal 14).

- Penetapan Pengurangan Modal (pasal 37).

- Pemeriksaan persetujuan, dan pengesahan laporan tahunan (pasal 60)

- Penetapan Penggunaan Laba (pasal 62)

- Pengangkatan dan Pemberhentian Direksi dan Komisaris (Pasal 80,91,92)

- Penetapan mengenai penggabungan, peleburan dan pengambilalihan


(pasal105)
- Penetapan Pembubaran perseroan (pasal 105).

Penyelenggaraan RUPS

Pada pokoknya RUPS harus diselenggarakan ditenpat perseroan


berkedudukan atau tempat-tempat lain sebagaimana dimungkinkan dalam
anggaran dasar perseroan, selama dan sepanjang tempat tersebut masih
berada dalam wilayah Negara REpublik Indonesia.

Dalam tiap-tiap Rapat Umum Pemegang Saham yang harus dilaksanakan


minimum sekali, setiap lembar saham dalam perseroan dengan nilai nominal
terkecil, yang ditentukan dalam Anggaran Dasar, kecuali untuk saham-saham
tanpa suara, berhak mewakili / mengeluarkan satu suara dalam rapat.
Pelaksanaan dari hak suara ini dalam Rapat Umum Pemegang saham dapat
dilakukan sendiri oleh pemegang saham atau diwakilkan pada seorang pihak
ketiga selaku Kuasa Pemegang Saham. Namun demikian kuasa yang diberikan
oleh pemegang saham kepada :

- direksi.

- komisaris dan atau

- Karyawan Perseroan.

tidak memberikan kewenangan hak suara, meskipun kuasa tersebut


diperhitungkan dalam menentukan korum kehadiran.

Bergantung pada agenda Rapat Umum Pemegang Saham yang akan


diselenggarakan, undang-undang memberikan berbagai macam korum Rapat
yang berbeda satu dengan yang lainya.

Macam-macam RUPS.
a. Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan.

Seperti telah disebutkan berkali-kali pada uraian dimuka perseroan terbatas,


sebagai salah satu badan hokum yang memiliki hak, kewajiban, dan harta
kekayaan dari para pengurusnya maka sudah selayaknya jika pengurus
perseroan terbatas diwajibkan menyampaikan laporan mengenai
pelaksanaan dari setiap hak, pemenuhan dari setiap kewajiban, serta status
kedudukan dari harta kekayaan perseroan secara berkal. Ini tidak hana
diperlukan oleh pemegang saham perseroan, melainkan juga pihak ketiga
yang berkepentingan, untuk melaksanakan penilaian apakah perseroan telah
dijalankan, diurus dan dikelola dengan baik, sesuai dengan aturan main yang
telah ditetapkan. Laporan berkala tersebut menjadi masukan yang sangat
berharga bagi para pengusaha (businessmen)untuk mengevaluasi lebih lanjut
kinerja perseroan, sehingga mereka dapat memutuskan untuk melakukan
atau tidak melakukan suatu transaksi usaha (perdagangan,financial,dll)
dengan perseroan tersebut.

b. Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa.

Selain Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan yang wajib diselenggarakan


satu tahun sekali dalam jangka waktu yang telah ditentukan, Undang-
Undang dan praktek Perseroan juga mengenal Rapat Umum Pemegang
Saham Luar Bias, yang merupakan rapat-rapat diantara para pemegang
saham perseroan, yang khusus diselenggarakan untuk membahas hal-hal
tertentu yang dianggap perlu oleh pemegang saham, tetapi tidak terbatas
pada hal-hal yangberhubungan dengan perubahan anggaran dasar perseroan,
penggabungan, peleburan, maupun pengambil alihan perseroan terbata,
kepailitan perseroan, pembubaran perseroan, dan pengalihan maupun
penjaminan seluruh atau sebagian besar harta kekayaan perseroan.Selain
korum rapat yang telah ditentukan secara khusus dalam undang-undang
perseroan terbatas mengenai hal-hal rapat tersebut terdahulu, RUPS luar
biasa tunduk kepada korum sebagaimana disyaratkan bagi rapat pemegang
saham kepada umumnya, kecuali ditentukan lain dalam Anggaran Dasar
perseroan.

2. Direksi

Tidak ada rumuasan yang jelas dan pasti mengenai kedudukan. Direksi
dalam suatu perseroan terbatas,yang jelas Direksi merupakan badan pengurus
perseroan yang paling tinggi,serta yang berhak dan berwenang untuk
menjalankan perusahaan bertindak untuk dan atas nama perseroan, baik di
dalam maupun diluar pengadilan. Direksi bertanggung jawab penuh atas
pengurusan dan jalanya perseroan untuk kepentingan dan tujuan perseroan.
Didalam menjalankan tugasnya tersebut, Direksi diberikan hak dan kekuasaan
penuh,dengan konsekwensi bahwa setiap tindakan dan perbuatan yang
dilakukan oleh direksi akan dianggap dan diperlakukan sebagai tindakan dan
perbuatan perseroan, sepanjang mereka bertindak sesuai dengan apa yang
ditentukan dalam anggaran dasar perseroan. Selam direksi tidak melakukan
pelanggaran atas Anggaran Dasar perseroan, maka perseroanlah yang akan
menanggung dari akibat perbuatan direksi tersebut. Sedangkan bagi tindakan
direksi yang merugikan perseroan, yang dilakukanya diluar batas dan
kewenangan yang diberikan kepadanya oleh Anggaran Dasar, dapat tidak
diakui oleh Perseroan. Dengan ini direksi bertanggung jawab secara pribadi
atsa setiap tindakanya diluar batas kewenangan yang diberikan dalam
Anggaran Dasar Perseroan.

Beberapa pakar dan ilmuan hokum merumuskan kedudukan direksi dalam


perseroan sebagai gabungan dari dua macam persetujuan atau perjanjian,
yaitu:

- perjanjian pemberian kuasa, disatu sisi ;dan

- perjanjian kerja / perburuhan, disisi yang lain.


Dan karena itu pelaksanaanya harus ditafsirkan berdasarkan ketentuan pasal
1601 c Kitab Undang – Undang hokum perdata yang memberatkan pada
pelaksanaan perjanjian tersebut sebagai suatu perjanjian perburuhan.

Merumuskan kedudukan Direksi dalam dua hubungan hukum bukan


masalah, sepanjang kedua hubungan hukum tersebut dapat diterapkan secara
konsisten dan sejalan. Dalam Hubungan Hukum yang dirumuskan untuk
Direksi tersebut diatas ; direksi disatusisi diperlakukan sebagai penerima
kuasa dari pperseroan untuk menjalankan perseroan sesuai dengan
kepentinganya untuk mencapai tujuan perseroan sebagai mana telah
digariskan dalam anggaran dasar perseroan, dan disisi lain diperlakukan
sebagai karyawan perseroan karyawan perseroan dalam hubungan atasan-
bawahan dalam suatu perjanjian perburuhan yang mana berarti direksi tidak
diperkenankan untuk melakukan sesuatu yang tidak atau menjadi tugasnya.
Disinilah sifat pertanggung jawaban renteng dan pertanggung jawaban pribadi
Direksi menjadi sangat relevan, dalam hal direksi melakukan penyimpangan
atas “kuasa” dan “perintah” perseroan, untuk kepentingan perseroan.

Keanggotaan Direksi

Direksi merupakan suatu organ yang didalamnya terdiri dari satu atau
lebih direktur. Dalam perseroan memiliki lebih dari satu orang Direktur dalam
Direksi, maka salah satu anggota direkturnya diangkat sebagai direktur utama
(Presiden Direktur).

Undang-Undang secara umum menyatakan bahwa perseroan sekurang –


kurangnya harus diurus oleh satu orangatau lebih anggota direksi, dengan
pengecualian bagi bagi perseroan yang bidang usahanya melakukan
pengerahan dana masyarakat, perseroan yang menerbitkan surat pengakuan
utang atau perseroan terbatas terbuka sekurang-kuranganya dua orang anggota
Direksi.
Tidak ada suatu pembatasan mengenai keanggotaan Direksi dalam
perseroan. Tidak hanya Warga Negara Indonesia, melainkan juga Warga
Negara Asing yang memenuhi syarat yang ditetapkan oleh Departemen
Tenaga Kerja dapat menjadi anggota direksi perseroan. Undang – undang
perseroan terbatas mensyaratkan bahwa anggota direksi haruslah orang
perseorangan. Ini berarti dalam system hukum perseroan Indonesia tidak
dikenal adanya pengurusan perseroan oleh badan hukum perseroan lainya
maupun oleh badan usaha lain, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak
berbadan hukm. Selanjutnya orang perorangan tersebut adalah mereka yang
cakap untuk bertindak dalam hukum, tidak pernah dinyatakan pailit oleh
pengadilan, maupun menjadi Anggota Direksi maupun Komisaris Perseroan
lain yang pernah dinyatakan bersalah telah menyebabkan pailitnya perseroan
tersebut, dan belum pernah dihukum karena melakukan tindak pidana yang
merugikan keuangan Negara dalam jangka waktu 5 (lima) tahun terhitung
sejak tanggal pengangkatanya. Setiap anggota direksi yang bersalah atau lalai
dalam menjalankan tugasnya dalam melakukan kepengurusan perseroan untuk
kepentingan dan usaha perseroan akan bertanggung jawab penuh secara
pribadi untuk seluruh harta kekayaanya.

Mesikipun masa jabatan keangotaan masing – masing anggota direksi


telah ditentukan dalam anggaran dasar perseroan, namun ketentuan tersebut
tidaklah membatasi hak dari Rapat Umum Pemegang Saham untuk setiap saat
memberhentikan salah satu atau lebih anggota direksi sebelum berakhirnya
masa jabatan yang ditentukan dalam anggaran dasar, baik dengan mengangkat
penggantinya baru maupun dengan hanya memberhentikan keanggotaan
Direksi yang besangkutan saja, selama dan sepanjang syarat minimum jumlah
anggota direksi sebagaimana ditentukan dalam anggaran dasar maupun
peraturan perundang undangn lainya yang berlaku, tetap dipertahankan.
Keputuasan Rapat Umum Pemegang Saham tersebut hanya dapatdiambil
setelah anggota direksi yang hendak diberhentikan tersebut diberikan
kesempatan untuk membela diri maupun menyatakan pendapatnya dalam
Rapat Pemegang Saham tersebut

Tugas Dan Tanggung Jawab Direksi Dalam Perseroan Terbatas.

Undang – undang perseroan terbatas nomor 1 tahun 1995 mendefinisikan


Perseroan Terbatas sebagai suatu badan hukum yang didirikan berdasarkan
perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya
terbagi dalam saham. Perseroan memperoleh status badan hukum setelah
disahkan oleh Menteri Kehakiman. Selanjutnya sebagi badan hukum,
Perseroan Terbatas melaksanakan kegiatanya melalui organ – organ yang
dimilikinya, yang terdiri dari : Rapat Umum Pemegang Saham, Direksi, dan
Komisaris.

Sebagai organ perseroan terbatas, Direksi bertanggung jawab penuh atas


kegiatan pengurusan perseroan untuk kepentingan dan dalam mencapai tujuan
Perseroan, serta mewakili Perseroan dalam segala tindakanya baik didalam
maupun diluar pengadilan.

Direksi melakukan kepengurusan atas Perseroan Terbatas, dan


bertanggung jawab penuh atas pengurusan tersebut, untuk kepentingan dan
dalam mencapai tujuan Perseroan, serta mewakili perseroan dalam segala
tindakanya, baik didalam maupun diluar pengadilan. Dalam melaksanakan
kepengurusan terhadap Perseroan tersebut. Direksi tidak hanya bertanggung
jawab tehadap perseroan dan para pemegang saham Perseroan; Melainkan
juga terhadap setiap pihak (ketiga) yang berhubungan hukum, baik langsung
maupun tidak langsung dengan perseroan.

Kuasa Direksi.

Undang - Undang perseroan terbatas memungkinkan pelaksanaan


kewenangan bertindak untuk dan atas nam perseroan oleh penerima kuasa
direksi, sebagai mana termuat dalam pasal 89 UU PT yang berbunyi:
“Direksi dapat memberi kuasa tertulis kepada 1 (satu) orang karyawan
perseroan atau lebih atau orang lain untuk dan atas nama perseroan
melakukan perbuatan hukum tertentu.”

Dari rumusan tersebut, dan dalam hubunganya dengan ketentuan pasal 83


ayat (1) Undang – undang Perseroan Terbatas, dapat kita simpulkan, kecuali
ditentukan secara lain dalam undang – undang (Perseroan Terbatas) dan
Anggaran dasar perseroan, masing – masing anggota direksi berhak untuk
memberikan kuasa tertulis kepada pihak ketiga diluar anggota direksi untuk
melakukan suatu tindakan hukum tertentu untuk bertindak mewakili
perseroan.

Satu hal yang perlu diperhatikan disini adalah apakah pemberian kuasa
tersebut hanya diberikan khusus dalam hal (seluruh anggota) Direksi
berhalangan hadir guna menanda tangani suatu akta atau perjanjian tertulis
yang bersifat mengikat perseroan; ataukah kuasa demikian dapat juga
diberikan untuk pengurusan dan atau pengelolaan atas jalanya perseroan
kepada satu atau lebih pihak ketiga (secara terbatas) Untuk hal yang kedua
tersebut, dapatkah direksi perseroan mencantumkan satu atau lebih syarat
khusus dalam pemberian kuasanya; serta jika demikian hanya sampai seberapa
jauhkah perseroan akan bertanggung jawab atau dimintakan pertanggung
jawabanya atas setiap perbuatan hukum yang dilakukan berdasarkan kuasa
yang demikian.

3. Komisaris.

Dalam Undang-undang Perseroan Terbatas perkataan komisaris meliputi


baik dua pengertian, yang pertama adalah organ perseroan yang lazimnya
dikenal dengan nama Dewan Komisaris, dan anggota Dewan Komisaris
tersebut. Undang-undang Perseroan Terbatas tidak mengatur mengenai tugas,
wewenang maupun hak dan kewajiban dari komisaris. Undang-undang
Perseroan Terbatas memberikan hak sepenuhnya kepada para pendiri maupun
pemegang saham perseroan untuk menentukan sendiri wewenang dan
kewajiban Komisaris dalam perseroan.

Undang-undang Perseroan Terbatas menugaskan Komisaris untuk


mengawasi kebijaksanaan Direksi dalam menjalankan perseroan serta
memberikan nasihat kepada Direksi perseroan.Pada umumnya dalam praktek
kegiatan perseroan, Komisaris diberikan kewenangan untuk menyetujui atau
tidak menyetujui tindakan-tindakan tertentu yang akan dilakukan oleh direksi
pereroan, termasuk untuk menyetujui Laporan Tahunan yang akan
disampaikan kepada pemegang saham untuk dibahas dalam Rapat umum
Pemegang Saham Tahunan Perseroan.

Selain itu Undang-undang Perseroan Terbatas membuka kemungkinan


bagi komisaris untuk dalam hal-hal tertentu (seperti dalam halnya terdapat
pertentangan kepentingan antara direksi perseroan dan perseroan atau dalam
hal terjadi kelowongan jabatan Direksi dalam Perseroan) untuk bertindak
mewakili perseroan dan bertindak untuk dan atas nama perseroan. Dalam hal
yang demikian maka ketentuan yang berlaku bagi direksi perseroan berlaku
pula bagi Komisaris Perseroan.

Oleh karena itu wajarlah jika dalam Undang-undang Perseroan Tarbatas


dikatakan bahwa Komisaris wajib dengan iktikad baik dan penuh tanggung
jawab menjalankan tugas untuk kepentingan perseroan. Segala kesalahan dan
kelalaian oleh Komisaris dalam melaksanakan tugasanya melahirakan
pertanggung jawaban pribadi dari komisaris bersangkutan kepada perseroan
dan pemegang saham perseroan. Ketentuan mengenai hak untuk melakukan
“derivative suit”yang dimiliki oleh pemegang saham perseroan yang mewakili
sekurang kurangnya 1/10 (satu persepuluh) bagian dari seluruh saham dengan
hak suara yang sah, untuk dan atas nama perseroan melakukan gugatan kepada
komisaris perseroan yang karena kesalahan atau kelalaianya merugikan
perseroan berlaku juga dalam hal ini. Demikian juga hak dari masing masing
pemegang saham untuk secara langsung menggugat komisaris yang
merugikan kepentinganya sebagai pemegang saham dalam perseroantetap
berlaku dan diakui.

Sebagai konsekwensi dari “turut sertanya” Komisaris dalam mengawasi


jalanya perseroan dan dalam hal – hal tertentu “turut membantu” jalanya
perseroan, sebagaimana halnya anggota Direksi perseroan, Komisaris juga
diwajibkan untuk melaporkan saham – saham yang dimiliki olehnya atau
keluarganya pada perseroan maupun perseroan terbatas lainya.

Keanggotaan Komisaris

Semua seperti halnya keanggotaan Direksi dalam Perseroan keanggotaan


(Dewan) Komisaris dalam perseroan ditentukan dalam Rapat Umum
Pemegang Saham perseroan. Meskipun masa jabatan dari keanggotaan
masing-masing komisaris telah ditentukan dalam anggaran dasar perseroan
namun Rapat Umam Pemegang Saham Perseroan dapat setiap saat
memberhentikan satu atau lebih anggota (Dewan) Komisaris sebelum
habisnya masa jabatanya, baik dengan mengangkat penggantinya atau tidak.
Dalam rapat tesebut, komisaris yang hendak diberhentikan diberikan hak
untuk membela diri.

Selain itu Undang – Undang Perseroan Terbatas juga menyatakan bahwa


ketentuan mengenai pemberhentian sementara anggota Direksi berlaku pula
dalam hal ini, hanya saja hak untuk memberhentikan sementara hanya ada
pada Rapat Umum Pemegang Saham. Ketentuan ini sebenarnya tidak banyak
artinya , oleh karena adalah suatu “waste” bagi pemegang saham untuk
mengadakan dua kali Rapat Umum Pemegang Saham dalam jangka waktu 30
hari untuk membahas satu hal yang sama, yaitu mengenai pemberhentian satu
atau lebih komisaris perseroan.
Sealanjutnya dalam Undang-undang Perseroan Terbatas juga dikatakan
bahwa seluruh syarat – syarat yang berlaku bagi orang perorangan untuk dapat
dikatakan bahwa seluruh syarat-syarat yang berlaku bagi orang perorangan
atau dapat diangkat menjadi anggota Direksi berlakujuga bagi pengangkatan
komisaris perseroan. Walau demikian berbeda dengan hubungan direksi –
perseroan, yang dirumuskan secara jelas sebagai hubungan kerja dalam
Undang-undang Perseroan Terbatas tidak memeberikan suatu aturan yang
jelas mengenai hubungan hukum Komisaris – Perseroan. Yang jelas selama
Komisaris bertindak sebagai mana layaknya Direksi perseroan, maka seluruh
hubungan hukum direksi – perseroan berlaku juga bagi diri Komisaris
tersebut.
DAFTAR PUSTAKA

1. Yani Ahmad, Widjaja Gunawan.2000.Seri Hukum Bisnis :


PT.Jakarta:Raja Grafindo Persada.Cet Ke 2 Ed1.
2. Muhammad Abdulkadir.2002.Hukum Perusahaan
Indonesia.Bandung:Citra Aditya Bakti.Cet Ke 2 Ed1.
3. Kansil C.S.T.1995.Hukum Perusahaan – Perorangan.Jakarta:Pradnya
Paramita.Cet ke 5 Ed1.