Anda di halaman 1dari 14

V Astina Niki Anggraeni (02)

V Azizah Ummu Syaroh (05)


V Bagus Arianto (06)
V Bagus Febrianto Legowo (07)
V Choliso Turrizqiyah (18)
V Danes Miharja (19)
V Devi Mandasari (xx)
V Devi Wahyuningtyas (xx)
Sebagai proses sosial utama mempunyai dua bentuk
pokok, yaitu : (1) ï   
dan
(2) ï   

Merupakan bentuk interaksi sosial yang menguatkan ikatan sosial, jadi


bersifat mendekatkan atau positif. Mempunyai sifat sebagai berikut :
1. Didasarkan kepada kebutuhan yang nyata.
2. Memperhitungkan efektivitas.
3. Memperhatikan efisiensi.
4. Mendasarkan pada kaidah-kaidah atau nilai norma dan norma sosial
yang berlaku, dan
5. Tidak memaksa secara fisik dan mental.
Adapun proses asosiatif adalah sebagai berikut :
1. Kerjasama ‘ 
Adalah suatu usaha bersama orang perorangan atau kelompok untuk
mencapai tujuan bersama. Menurut Soerjono Soekanto, ada tiga bentuk
kerja sama, yaitu :
a. Bargaining
b. Co-optation
c. Coalition
2. Akomodasi ‘  
Berarti adanya keseimbangan interaksi sosial dalam kaitannya dengan
norma dan nilai yang ada di dalam masyarakat seringkali akomodasi
terjadi dalam situasi konflik pertentangan, entah dengan cara yang
menghargai kepribadian yang berkonflik atau bisa juga dengan cara
paksaan atau tekanan.
Tujuan akomodasi dapat berbeda sesuai dengan situasi yang
dihadapinya :
a. Untuk mengurangi pertentangan antara orang perorangan atau
kelompok sebagai akibat perbedaan paham atau bertujuan untuk
menghasilkan sintesa.
b. Untuk mencegah meledaknya suatu pertentangan, untuk sementara
waktu atau secara temporer.
Bentuk Bentuk Akomodasi, antara lain :
a) Koersi e) Konsilitasi
b) Kompromi f) Toleransi
c) Arbitrasi g) Statemate
d) Mediasi h) Ajudikasi
3. Asimilasi
Merupakan suatu proses sosial pada tahap lanjut. Artinya terjadi setelah
melalui tahap kerjasama dan akomodasi suatu asimilasi ditandai dengan
usaha-usaha mengurangi perbedaan anatara orang atau kelompok.
Adapun syarat-syarat agar terbentuknya asimilasi, yaitu :
a) Terdapat sejumlah kelompok yang memiliki kebudayaan berbeda.
b) Terjadi pergaulan antar individu atau kelompok secara intensif dan
dalam waktu yang lama.
c) Kebudayaan masing-masing kelompok tsb saling berubah dan
menyesuaikan diri.
Faktor-faktor yang mendorong terjadinya asimilasi, yakni :
a) Toleransi diantara sesama kelompok yang berbeda kebudayaan.
b) Kesempatan yang sama dalam bidang ekonomi.
c) Kesediaan menghormati dan menghargai orang asing dan kebudayaan
yang dibawanya.
d) Sikap terbuka dari golongan yang berkuasa dalam masyarakat.
e) Persamaan dalam unsur-unsur kebudayaan universal.
f) Perkawinan antara kelompok yang berbeda budaya.
g) Mempunyai musuh yang sama dan meyakini kekuatan masing-masing.
4. Akulturasi
Adalah suatu proses penerimaan dan pengelolaan unsur-unsur
kebudayaan asing menjadi bagian dari kebudayaan suatu kelompok
tanpa menghilangkan kepribadian kebuadayaan asli. Akulturasi
merupakan hasil perpaduan dua kebudayaan asing sama-sama
diterima oleh kelompok yang berinteraksi, selanjutnya diolah tetapi
tidak menghilangkan kepribadian asli kelompok itu.
Merupakan bentuk interkasi yang merusak ikatan sosial, bersifatkan
menjauhkan atau negatif. Proses disosiatif dapat dibedakan menjadi 3
bagaian yaitu :
1. Persaingan ‘  
Merupakan suatu proses sosial ketika ada dua pihak atau lebih saling
berlomba dan berbuat sesuatu untuk mencapai kemenangan tertentu.
Fungsi persaingan yaitu :
a) Menyalurkan kengininan individu atau kelompok yang sama-sama
menuntut dipenuhi, padahal sulit dipenuhi semuanya secara
serentak.
b) Menyalurkan kepentingan serta nilai-nilai dalam masyarakat,
terutama kepentingan dan nilai yang menimbulkan konflik.
c) Menyeleksi individu yang pantas memperoleh kedudukan serta
peranana yang sesuai dengan kemampuannya.
2. Kontroversial
Merupakan proses sosial yang ditandai oleh ketidakpastian, keraguan
penolakan, dan penyangkalan yang tidak diungkapkan secara terbuka.
Kontroversial adalah sikap menentang secara sembunyi-sembunyi,
agar tidak sampai terjadi persilisihan terbuka.
Penyebab kontroversial antara lain :
a) Perbedaan pendirian antara kalangan tertentu dengan kalangan lain
dalam masyarakat.
b) Perbedaan pendirian antara kalangan tertentu dengan pendirian
masyarakat.
Menurut Leopold Van Wiese dan Howard Becker terdapat 5 (lima)
bentuk kontroversial, yaitu :
a) Kontroversial umum. Misalnya : penolakan, keengganan,
perlawanan, protes, gangguan.
b) Kontroversial sederhana. Misalnya : menyangkal pertanyaan orang
di depan umum.
c. Kontroversial intensif. Misalnya : penghasutan, penyebaran desas-
desus.
d. Kontroversial rahasia. Misalnya : pembocoran rahasia, khianat.
e. Kontroversial taktis. Misalnya : provokasi dan intimidasi.
3. Konflik
Adalah suatu proses sosial antara dua orang atau pihak atau lebih,
dimana pihak yang satu berusaha menyingkirkan pihak lain dengan
cara menghancurkan atau membuatnya tidak berdaya.
Faktor-faktor penyebab konflik yaitu :
a) Perbedaan individu, yang meliputi perbedaan dan perasaan.
b) Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-
pribadi yang berbeda pula.
c) Perbedaan kepentingan antara individu dan kelompok di antaranya
menyangkut bidang ekonomi, politik, dan sosial.
Akibat konflik yaitu :
a) Meningkatkan solidaritas sesama anggota kelompok yang
memahami konflik dengan kelompok lain.
b) Keretkan hubungan antara anggota kelompok.
c) Perubahan kepribadian pada individu.
d) Kerusakan harta benda dan hilangnya nyawa manusia.
e) Dominan bahkan penaklukan salah satu pihak yang terlibat dalam
konflik.
Bentuk-bentuk interaksi asosiatif dapat terbagi atas bentuk
kerjasama, akomodasi, dan asimilasi. Kerjasama dan akomodasi dilakukan
untuk mencapai suatu kestabilan. Dan asimilasi terbentuk setelah
terjadinya kerjasama dan akomodasi. Sedangkan bentuk-bentuk interaksi
disosiatif terbagi atas bentuk, persaingan, kontravensi, dan pertentangan.
Untuk tahapan proses-proses asosiatif dan disosiatif Mark L.
Knapp menjelaskan tahapan interkasi sosial untuk mendekatkan dan
merenggangkan. Tahapan untuk mendekatkan : memulai ‘   ,
menjajaki ‘    , meningkatkan ‘  
  , menyatu padukan
‘   dan mempertalikan ‘   . Sedangkan tahapan untuk me -
renggangkan : membeda-bedakan ‘

   , membatasi ‘ -


  , memacetkan ‘   , menghindari ‘   , dan memutus -
kan ‘   .
Berdasarkan sifatnya, interaksi sosial dibedakan dalam 2 bentuk, yaitu :
1. ï   dan
2. ï   
Adalah proses interaksi sosial yang berlangsung di lingkungan
keluarga dan teman sebaya. Melalui interaksi primer, anak dapat
mengenali dirinya, orang tuanya (ayah, ibu), saudara-saudaranya (kakak,
adik), dan teman ² temannya.
Melalui interaksi sosial dalam lingkungan keluarga, seorang anak
mengenal dan memahami nilai dan norma yang berlaku di lingkungan
keluarganya. Peran orang tua dalam proses interaksi sosial sangatlah
penting dan menentukan. Proses interkasi primer yang berlangsung secara
normal dan wajar di lingkungan keluarga berpengaruh positif terhadap
pembentukan kepribadian anak. Proses interaksi primer yang tidak normal
dapat membentuk kepribadian yang menyimpang.
Adalah proses interaksi sosial yang dilakukan seseorang di
lingkungan masyarakat, seperti sekolah, di tempat kerja, dan masyarakat
umum. Dasar-dasar yang diperoleh dari interaksi primer, merupakan
persiapan untuk memasuki interaksi sekunder. Apabila tokoh yang
berperan dalam interaksi primer adalah orang tua dan saudaranya, maka
dalam interaksi sekunder yang berperan, antara lain teman sebaya, guru,
dan warga masyarakat lainnya.
Di sekolah siswa mempelajari berbagai ilmu pengetahuan,
ketrampilan, norma-norma dsb yang harus dipahami dan dikembangkan
dalam kehidupan masyarakat. Misalnya, siswa diajari gurunya tentang
tata krama pergaulan, ilmu agama, bahasa, dsb. Setelah menamatkan
pendidikan di SMA/SMK, ia akan memasuki lingkungan baru, yaitu
lingkungan pekerjaan atau perguruan tinggi.