Anda di halaman 1dari 2

rgs-mitra 1 of 2

29 Juli 2001
Nomor : 2441/D/T/2001
Lampiran : 2 (dua) rekaman pemberitaan
Perihal : Pernyataan Rektor ITB di Kompas
dan Media Indonesia

Kepada Yth.
Rektor Institut Teknologi Bandung
Jl. Taman sari No. 64
Bandung

Kami sampaikan dengan hormat adanya pemberitaan di harian Kompas tanggal 18 Juli
2001 halaman 9 dan Media Indonesia tanggal 18 Juli 2001 halaman 22 tentang kelas
jauh ITB (rekaman pemberitaan terlampir). Sehubungan dengan hal tersebut dan
dalam rangka meluruskan kemungkinan adanya kesalahan interpretasi, perlu kami
sampaikan beberapa hal sebagai berikut :

1. Pemberitaan dalam 2 harian tersebut ada kemungkinan tidak sama dengan ucapan/
ungkapan Rektor ITB yang sebenarnya, mengingat sering kali terjadi perbedaan
atau salah interpretasi yang dilakukan oleh para wartawan.
2. Seandainya pemberitaan tersebut benar adanya maka perlu kami tegaskan bahwa
penyelenggaraan kelas jauh yang dilakukan oleh ITB adalah bertentangan dengan
ketentuan yang ada baik ditinjau dari peraturan pemerintah nomor 60 tahun
1999 maupun beberapa edaran Dirjen Dikti mengenai larangan kelas jauh.

3. Itikad baik ITB untuk menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang dimilikinya (yang
memang terkenal cukup canggih) patut dihargai namun harus menggunakan metode/
tatacara/kaidah/norma yang elegan, tidak dengan menyebarkan dosen-dosen ke
berbagai daerah untuk mengajar di kantor pemerintah daerah, perusahaan, atau
menyewa tempat di berbagai kota.
4. Kendali mutu merupakan kepedulian kami sehingga penyelenggaraan kelas jauh
tidak dapat ditolerir. Banyak contoh menunjukkan bahwa kelas jauh terpaksa
dijalankan oleh tenaga yang tidak kompeten (bukan dosen) atau dijalankan
dengan cara dipadatkan (hanya mengejar jumlah jam bukan SKS).

5. Prinsip "Menjemput Bola" yang diterapkan oleh ITB perlu ditinjau kembali,
karena ITB sebagai institusi yang sudah mempunyai reputasi nasional bahkan
internasional pasti akan memperoleh calon mahasiswa yang terbaik dan animo
calon mahasiswa yang ingin berkuliah di ITB sangat tinggi. Tidak hanya itu,
banyak sekali institusi/lembaga/sektor industri yang sangat memerlukan jasa
dan layanan ITB yang bermutu.
6. Yang patut menjadi pertanyaan adalah kecenderungan yang saat ini berkembang
yaitu semua orang ingin memperoleh gelar S2 (umumnya dalam bidang manajemen)
dan mereka umumnya sudah bekerja dan berpenghasilan baik ingin memperoleh S2
tanpa harus meninggalkan pekerjaannya. Jika yang dikejar hanya gelar S2 maka
hal ini perlu diwaspadai dan ITB tidak seharusnya terlibat dalam kondisi ini.

7. Secara riil perlu dicontoh lembaga pendidikan tinggi yang mempunyai reputasi
terhormat di berbagai negara di mana mereka tidak menyelenggarakan kelas jauh.
Pendidikan jarak jauh (distance learning) memang dikembangkan secara baik
oleh institusi ternama seperti halnya Open University di Inggris dengan suatu
metode yang telah teruji ampuh, tidak dengan cara kelas jauh.

8. Seyogyanya perguruan tinggi di Indonesia, khususnya ITB, dapat menjadi contoh


bagi perguruan tinggi lainnya dan juga bagi masyarakat secara umum dalam hal
taat asas, tertib hukum dan akuntabilitas.

Atas perhatian dan kerjasama yang diberikan, kami sampaikan terima kasih.
rgs-mitra 2 of 2

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi

ttd

Satryo Soemantri Brodjonegoro


NIP 130 889 802

Tembusan Yth.
1. Menteri Pendidikan Nasional (sebagai laporan)
2. Sekretaris Jenderal Depdiknas
3. Inspektur Jenderal Depdiknas
4. Para Rektor Universitas/Institut Negeri
5. Para Ketua Sekolah Tinggi Negeri
6. Para Direktur Politeknik Negeri
7. Koordinator Kopertis Wilayah I s/d XII
8. Ketua Umum Pengurus Pusat APTISI