Anda di halaman 1dari 9

Refleksi Pergumulan Lahirnya Republik

NASIONALISME DAN REVOLUSI DI INDONESIA


George Mc Turnan Kahin

Pecahnya Revolusi

Desas-desus bahwa Jepang harus mengadakan kapitulasi dengan Sekutu memacu


aksi beberapa organisasi bawah tanah yang telah bersepakat untuk bangkit melawan
jepang bila Sekutu mendarat. Bahkan pada tanggal 10 Agustus 1945, setelah mendengar
siaran radio bahwa Jepang sudah memutuskan untuk menyerah, Sjahrir mendesak Hatta
agar dia bersama Soekarno, segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Dan
meyakinkan bahwa dia akan didukung para pejuang bawah tanah dan banyak unit Peta.

Sjahrir segera mengorganisasi kelompok-kelompok bawah tanah dan pelajar


Jakarta untuk mengadakan demonstrasi umum dan kerusuhan-kerusuhan militer.
Tembusan dan deklrasi yang anti Jepang itu sudah dikirim kesemua pelosok jawa untuk
segera diterbitkan begitu Soekarno memproklamirkan kemerdekaan yang diharapkan
bakal terlaksana pada tanggal 15 Agustus 1945. Namun Soekarno dan Hatta tidak
bersedia memproklamirkan kemerdekaan pada tanggal 15 karena pertimbangan akan
terjadinya genjatan senjata. Namun Sjahrir tidak dapat menghubungi semua pemimpin
organisasinya pada waktu yang tepat untuk memberitahukan pembatalan ini. Revolusipun
meletus secara terpisah di Cirebon pada tanggal 15 di bawah Dr. Sudarsono, tetapi
berhasil dipadamkan oleh Jepang.

Soekarno dan Hatta masih berharap untuk menghindari pertumpahan darah,


sedangkan kelompok-kelompok bawah tanah mengikuti tuntutan Sjahrir untuk segera
memproklamirkan kemerdekaan berdasarkan syarat-syarat yang begitu anti Jepang.

Sementara itu, gerakan bawah tanah pimpinan soekarni yang didukung oleh
sejumlah kelompok Persatuan Mahasiswa terlalu kehilangan kesabaran, dan pada tanggal
16, pukul 4.00 pagi, mereka menculik Soekarno dan Hatta untuk dibawa ke Garnisun
Peta di Rengasdengklok. Disana mereka meyakinkan Soekarno dan Hatta, bahwa Jepang
sudah benar-benar menyerah. Kemudian mereka berusaha mendesak keduanya untuk
segera memproklamirkan kemerdekaan.

Sementara itu, Jepang sudah mengetahui perihal penculikan itu, dan Subardjo yang
punya hubungan dekat dengan kelompok Sukarni, Pergi ke Rengasdengklok, jelas
sepengetahuan Mayeda untuk membujuk Sukarni dan para pemimpin mahasiswa itu
kembali dengan Soekarno dan Hatta ke Jakarta.

Begitu kembali ke Jakarta pada tanggal 16 tengah malam, Hatta melihat keadaan
Jepang yang sama sekali tidak menyetujui suatu deklarasi kemerdekaan oleh orang
Indonesia, maka satu-satunya jalan untuk mencapai kemerdekaan adalah dengan
menuruti saran dari Sjahrir, Sukarni, Wikana, dan pemimpin gerakan bawah tanah
lainnya untuk menghindari pertumpahan darah. Sjahrir telah memperoleh janji dari
Soekarno untuk memproklamirkan kemerdekaan.

Orang Jepang sekarang sudah waspada dan gerakan-gerakan semua pimpinan


Indonesia diawasi dengan ketat. Namun Marsekal Muda Mayeda menyediakan rumahnya
sebagai tempat rapat kaum nasionalis sehingga aman dari pasukan Jepang. Dalam rapat
tersebut telah ditentukan teks proklamasi yang akan dibacakan oleh Soekarno pada
tanggal 17 Agustus 1945 pagi dihadapan suatu kelompok kecil di depan rumah
pribadinya. Segera setelah itu bersama pesan pribadi Hatta kepada sahabat-sahabat
nasionalisnya, proklamasi itu disiarkan di seluruh radio Domai Indonesia dan jaringan
telegraf .

Pada tanggal 19 Agustus, Soekarno dan Hatta yang didorong oleh kelompok bawah
tanah, mengadakan rapat raksasa yang dihadiri oleh orang-orang Indonesia yang antusias
di lapangan pusat Jakarta yang luas.

Bendera kebangsaan Indonesia dilarang oleh Jepang. Akan tetapi Soekarno yang
mnganggap bendera itu symbol revolusioner, memerintahkan untuk dikibarkan di semua
gedung umum. Para pemuda Indonesia mulai mempertaruhkan nyawanya untuk
mengibarkan bendera tersebut.

Pembentukan suatu pemerintahan untuk Republik yang baru saja diproklamirkan


itu berlangsung dengan cepat. Pada rapatnya yang pertama tanggal 18 Agustus 1945,
Panitia Persiapan Kemerdekaan memilih Soekarno dan Hatta masing-masing sebagai
Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Panitia tersebut mengadakan
perubahan-perubahan terakhir dan diperlukan dalam Undang-Undang Dasar Negara
mengenai perubahan social ekonomi, maupun politik, undang-undang dasar itu segera
menjadi symbol kekuasaan besar yang revolusioner, suatu pertanda hari yang cerah
setelah digulingkannya kekuasaan asing. Mereka juga menyusun cabinet pertama
Republik baru ini. Suatu kabinet dibawah Undang-Undang Dasar bertanggung jawab
kepada Soekarno selaku Presiden.

Soekarno membuat dekrit bahwa semua pegawai negeri Indonesia harus tidak
mempedulikan perintah-perintah Jepang, dan hanya patuh kepada perintah pemerintah
Republik saja.

Pada tanggal 29 Agustus, Panitia Persiapan Kemerdekaan dibubarkan oleh


Soekarno dan diganti dengan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Komite ini hanya
bertugas sebagai suatu badan penasehat Presiden dan kabinetnya.

Dengan suatu dekrit yang dikeluarkan oleh PPKI pasa tanggal 19 Agustus,
Indonesia sudah dibagi menjadi delapan provinsi beserta gubernunya yaitu: Jawa Barat,
Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Sunda Kecil.
Dan KNIP memberi mandate kepada salah seorang anggota dari masing-masing daerah
untuk membentuk KNI (Komite Nsional Indonesia) disetiap privinsi guna membantu para
gubernur dalam menjalankan pemerintahan.
Pada tanggal 29 Agustus, pemerintahan yang baru itu mulai mengorganisir suatu
angkatan perang. Berdasarkan unit-unit Peta yang dipersenjatai, dan dari jenjang
beberapa organisasi pemuda, dibentuklah BKR (Badan Keamanan Rakyat) yang
bermarkas besar di Jakarta. Dan mulai tanggal 5 Oktober 1945, nama angkatan perang
nasional diubah dari BKR menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Unit-unit ini segera
terlibat dalam perjuangan revolusioner. Mereka membantu merebut gedung-gedung
pemerintah dari orang Jepang.

Pasukan Inggris yang pertama mendarat di Jakarta pada tanggal 29 September


1945, tepat ketika usaha orang Indonesia merebut kekuasaan militer dan sipil dari Jepang
sedang memuncak. Pasukan Inggris memasuki kota Semarang pada tanggal 19 Oktober
setelah pasukan Indonesia mengorbankan sekitar 2000 orang untuk menumpas habis
garnisun Jepang.

Tugas pasukan Inggris yang baru dating itu sangat berat. Intruksi-intruksi kepada
Staf Sekutu yang dijabarkan oleh Lordi Mountbatten, panglima Sekutu untuk Asia
Tnggara, menyuruhnya menerima penyerahan kekuatan bersenjata Jepang, membebaskan
tawanan perang dan tahanan sipil, serta melucuti dan mengumpulkan orang jepang
sehingga siap untuk dikirim kembali ke Jepang. Disamping itu, mereka harus membentuk
dan menjalankan keamanan dan ketertiban di Indonesia, sampai pemerintah Hindia
Belanda berfungsi sendiri.

Namun pihak Republik telah curiga dan menentang pengumuman Patterson dan
Cristison, yang menganggap bahwa kedatangan pasukan Belanda itu berkeinginan untuk
menggulingkan Republik dan kembalinya status penjajahan di Indonesia.

Keadaan di Indonesia yang semakin mencekam dengan adanya barisan patroli


Belanda dan Ambon (serdadu KNIL) yang getol menembak. Mereka menembak yang
tampak mencurigakan. Kaum Nasionalis mendapatkan perintah bahwa setiap perlawanan
dari pihak mereka akan ditumpas oleh penguasa. Dengan kondisi seperti itu, Soekarno
memerintahkan agar semua orang Indonesia menyingkir dari jalan-jalan batavia pada
malam hari.

Aktivitas pasukan-pasukan Belanda terus mendarat dibawah perlindungan Inggris,


dan ini menunjukkan bahwa kemerdekaan Republik sedang ditantang dan ini memancing
reaksi mereka yang tajam.

Indonesia terus melakukan perlawanan-perlawanan. Dengan kemenangan Indonesia


dalam pertempuran di Surabaya yang merupakan suatu demonstrasi dihadapan Ingris
tentang kekuatan berperang dan kesediaan mengorbankan jiwa raga yang ada dibalik
gerakan yang sedang ditentang Inggris itu. Sehingga membuka jalan bagi diadakannya
perundingan-perundingan diplomatik selam tahun 1946 dan awal tahun 1947 antara
Belanda dan Indonesia.
Selama periode selanjutnya, pertempuran sama sekali tidak berhenti, tetapi
keadaanya yang umum dan intensitasnya sangat berkurang. Suatu peperangan yang
hasilnya dianggap sebagai penentu bagi hidup dan matinya Republik.

Selama beberapa bulan terakhir sebelum penarikan mundur pasukan pendudukan


Inggris pada akhir November, 1946, dan selama satu atau dua bulan setelah Perjanjian
Linggarjati pada tanggal 25 Maret 1947, merupakan masa yang relatif damai. Periode
gencatan satu-satunya yang lama adalah setelah perjanjian Renville tanggal 17 Januari
1948. Namun hampir seluruh periode ini dirasa tegang karena terus-menerus siaga
terhadap serangan Belanda besar-besaran, terutama setelah bulan Juni,l948. Pada
umumnya tekanan militer yang sesungguhan atau yang berupa ancaman dari luar oleh
musuh yang kuat, tetap merupakan faktor yang menentukan hubungan-hubungan politik
internal maupun eksternal Republik ini sejak kelahirannya hingga akhir tahun 1949.

Politik Dalam Negeri dari Masa Revolusi Hingga Aksi Militer Belanda
Pertama

Sjahrir dan kelompoknya pada awalnya menolak untuk mendukung proklamasi


kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus. Karena mereka beranggapan jika deklarasi
Soekarno dan Hatta terlalu lemah untuk membawa rakyat Indonesia ke puncak revolusi,
serta terang-terangan dalam menunjukkan sikap anti Jepangnya yang akan dimanfaatkan
oleh pihak sekutu.

Sjahrir dan hampir seluruh kelompok pendukungnya yang kuat itu menyingkir serta
menolak untuk mendukung Soekarno Hattaa, dan pemerintah baru yang mereka pimpin
itu. Selama tiga minggu mereka mempertahankan sikapnya, Sjahrir melakukan perjalan
berkeliling Jawa untuk memperoleh kepastian tentang sikap rakyat. Ia melihat bahwa
Replubik yang baru saja diproklamirkan itu memperoleh dukungan yang hebat dan
penuh semangat dari rakyat dimana-mana. Seluruh rakyat brjuang untuk merdeka dan
dalam perjuangan ini, mereka terutama memandang Soekarno sebagai pemimpin mereka.
Melihat kenyataan ini, Sjahrir tidak bisa menyangkal revolusi yang dipimpin Soekarno,
dan begitu kepulangannya ke Jakarta, ia menerima permintaan Soekarno dan Hatta untuk
bergabung memimpin revolusi.

Percobaan Demokrasi, 1950-7

Indonesia akhirnya merdeka. Kini saatnya menhadapi prospek menentukan masa


depannya sendiri. Dengan keadaan negeri yang masih menunjukan adanya kemiskinan,
rendahnya tingkat pendidikan dan peninggalan tradisi-tradisi otoriter, dengan sejarah
bangsa indonesia sejak tahun 1950 tentang kegagalan rentetan kepemimpinan rasanya
sulit untuk menjadikan negara ini menjadi negara demokrasi.

Dibuktikan pada tahun 1957 percobaan demokrai tersebut telah mengalami


kegagalan, korupsi tersebar luas, kesatuan wilayah negara terancam, keadilan sosial
belom tercapai, masalah-masalah ekonomi belum terpecahkan, dan banyak harapan yang
ditimbulkan oleh revolusi tidak terwujud. Dasar untuk dapat membangun demokrasi
perwakilan hampir tidak ditemukan. Dari Belanda dan Jepang, Indonesia mewarisi
tradisi-tradisi, asumsi-asumsi, dan struktur hukum sebuah negara polisi. Rakyat Indonesia
yang kebanyakan buta huruf, miskin, terbiasa dengan kekuasaan yang otoriter dan
peternalistik, dan tersebar dikepulauan yang sangat luas, berada dalam posisi yang sulit
untuk memaksa pertanggungjawaban atas perbuatan para politisi di Jakarta.

Antara tahun 1953 dan 1960, pendidikan diberi prioritas utama dan jumlah lembaga
pendidikan meningkat drastis. Sektor pendidikan mulai meningkat, semakin banyak nya
orang dewasa yang sudah melek huruf. Lalu pemakaian bahasa indonesia di seluruh
sistem pendidikan, dan juga komunikasi resmi dan media massa benar-benar
memantapkan kedudukannya sebagai bahasa nasional.

Akan tetapi, pada saat perkembangan yang penuh harapan itu membawa hasil,
sistem demokrasi konstitusional yang dapat didukung oleh perkembangan-perkembangan
itu sudah hampir kehilangan kepercayaan.

Diantara masalah-masalah yang dihadapi negara baru ini ialah apa yang harus
dilakukan dengan tentara. Inilah sumber dari persoalan-persoalan yang mendominasi
sebagian besar sejarah Indonesia setelah tahun 1950, siapakah yang menguasai tentara,
bagaimana tentara akan dibentuk, dan apakah peranannya dalam kehidupan bangsa? Pada
tahun 1950, para politisi sipil beranggapan bahwa menentukan urusan militer adalah hal
mereka. Para panglima tentara terpecah-pecah diantara mereka sendiri, mereka tidak pasti
akan peranan mereka sebenarnya, kurang terpelajar jika dibandingkan dengan para
politisi terkemuka.

Para politisi sipil membentuk banyak partai politik, tetapi hanya beberapa partai
saja yang benar-benar mempunyai arti penting di Jakarta. Sjahrir tetap memimpin Partai
Sosialis Indonesia (PSI) yang didukung oleh kaum intelektual Jakarta tetapi hanya
mendapat sedikit dukungan umum di luar Jakarta.

Masyumi mewakili kepentingan-kepentingan politik islam dan dianggap merpakan


partai yang terbesar di negara ini, walaupun sampai terselenggaranya pemilihan umum
hal ini hanya dapat menjadi anggapan belaka.

Partai Nasional Indonesia (PNI) dianggap merupakan partai terbesar kedua. Basis
utamanya ialah didalam birokrsi dan kalangan pegawai kantor. Di daerah pedesaan Jawa,
partai ini memiliki daya tarik yang sangat besar bagi masyarakat muslim abangan,
sebagian karena partai ini dianggap sebagai partai Soekarno dan sebagian karena partai
ini dianggap merupakan imbangan utama terhadap keinginan-keinginan politik Islam.

Partai Komunis Indonesia (PKI), yang dihancurkan namun tidak dilarang pada
tahun 1948, hampir siap muncul kembali secara paling menakjubkan dalam sejarah yang
berganti-ganti. Pada mulanya, basis PKI terutama adalah kaum buruh perkantoran dan
buruh prusahaan pertanian. Kemudian partai ini melebarkan sayap ke sektor-sektor
kemasyarakatan lainnya, termasuk kaum tani, yang menjadikannya kehilangan banyak
sifat proletarnya.
Pada tahun 1950, para politisi Jakarta tentu saja membentuk suatu sistem
parlementer. Kabinet bertanggungjawab kepada parlemen satu majelis (Dewan
Perwakilan Rakyat).

Kabinet pertama (September 1950-Maret 1951) dibentuk oleh Natsir dan berintikan
Masyumi dengan dukungan PSI setelah usaha membentuk koalisi Masyumi–PNI gagal.
Pada bulan September 1950, Indonesia diterima menjadi anggota Perserikatan Bangsa-
Bangsa. Pemerintahan Natsir menghadapi keadaan ekonomi yang paling menguntungkan
selama masa demokrasi konstitusional sampai pertengahan tahun 1953.

Perdana Menteri berikutnya (April 1953- Februari1952) adalah Sukiman


Wiriosandjoyo yang berhasil membentuk koalisi Masyumi – PNI yang oleh banyak rang
dianggap sebagai bentuk pemerintahan yang wajar. Soekarno lebih senang dengan
susunan itu, paling tidak karena kabinet memberinya anggaran belanja yang lebih besar
dan juga kebebasan yang lebih besar untuk berpidato. Tak seorang pun pengikut Natsir di
dalam Masyumi atau pimpinan PSI masuk didalamnya, dengan demikian, kelompok-
kelompok yang sangat bersimpati kepada pimpinan tentara pusat ditempatkan diluar
kabinet. Tidak masuknya Hamengkubuono IX dalam kabinet untuk pertama kalinya sejak
tahun 1946 telah melemahkan hubungan tentara –kabinet.

Kabinet Sukiman menjadi paling terkenal dengan dilakukannya satu-satunya usaha


yang serius pada masa itu untuk menumpas PKI. Kaum komunis menjadi marah dengan
bersedianya PNI berkoalisi dengan Masyumi, karena strategi mereka tergantung pada
masih terus bertikainya kedua partai itu satu sama lain.

Karena merasa tidak pasti terhadap PNI sebagai sekutu, maka PKI juga mulai
mencari dukungan Soekarno. Meskipun segala kebencian pribadi mereka terhadap
Presiden. Akhirnya, kabinet Sukiman jatuh karena terjadinya suatu krisis kebijakan luar
negeri.

Hatta dan Sjahrir, yang pada tahun 1931 telah dikeluarkan dari Perhimpunan
Indonesia oleh kaum komunis, menganggap PKI pengikut dan pengagum mereka dalam
Masyumi dan PSI menjadi semakin benar-benar anti-PKI dan kedua partai itu semakin
erat hubungannya. Partai-partai tersebut dipersatukan pula oleh persamaan keduanya
yang memiliki kaum intelektual Sumatera yang berpendidikan. Belanda sebagai
pemimpin-pemimpin nasional.

Sultan Hamengkubuwana IX menjadi menteri pertahanan lagi dalam kabinet


Wilopo. Kerjasama yang erat dengan kelompok-kelompok profesional dalam pimpinan
pusat tentara pun pulih lagi. Walaupun Sultan, Nasution, Simatupang, dan sebagian besar
pendukung terdekat mereka di Jakarta adalah orang-orang nonpartai, namun mereka
mempunyai hubungan informal yang kuat dengan Sjahrir dan PSI. Akan tetapi, Nasution
sendiri terutama lebih terikat pada tentara daripada kelompok sipil mana pun. Tokoh-
tokoh ini kini memulai dengan suatu rencana sentralisasi dan demobilisasi untuk
mengurangi jumlah anggota tentara yang memerlukan banyak anggaran.
Sementara itu, salah satu lawan PKI, yaitu tentara, sedang sibuk mengurusi
urusannya sendiri. Kelompok-kelompk di dalam tentara menyadari bahwa mereka harus
menyelesaikan pertikaian-pertikaian mereka apabila mereka ingin menghadapi para
politisi sipil dan PKI. Akan tetapi, persatuan korps perwira yang baru sangat rapuh.

Saat pertikaian-pertikaian politik di Jakarta menjadi semakin sengit dan ketegangan


di desa-desa semakin meningkat, pemilihan umum yang lama ditunggu-tunggu akhirnya
terlaksana juga. Jumlah orang yang hadir dalam pemilihan umum untuk memilih
anggota-anggota DPR pada bulan September 1955 sangat banyak.

Pemilihan tersebut menimbulkan beberapa kekecewaan dan kejutan. Jumlah partai


bertambah banyak dan bukannya berkurang. Akan tetapi, hanya empat partai yang
mendapat lebih dari delapan kursi, yaitu PNI, Masyuni, NU, dan PKI.

Pemerintah memulai lagi perundingan-perundingannya dengan Belanda pada akhir


tahun 1955, tetapi sia-sia. Pada bulan Februari 1956, pemerintah membubarkan Uni
Belanda-Indonesia.

Ironi yang terbesar selama kurun waktu 1950-7 ialah bahwa negara Indonesia
terpecah-pecah. Jarang sekali motto nasional Bhinneka Tunggal Ika dikumandangkan.

Demokrasi Terpimpin, 1957-1965

Di tengah-tengah krisi tahun 1957, diambillah langkah-langkah pertama menuju


suatu bentuk pemerintahan yang oleh Soekarno dinamakan “ Demokrasi Terpimpin”. Ini
merupakan suatu sistem yang paling kacu dalam sejarah Indonesia sejak Revolusi.
Demokrasi terpimpin didominasi oleh Soekarno, walaupun prakarsa pelaksanaannya
diambilnya bersama-sama dengan pimpina angkatan bersenjata. Sekarno sebagai diktator
dan ketika sikapnya semakin berapi-api. Dia adalah ahli manipulator rakyat dan
manipulator lambang-lambang. Dia dapat berpidato kepada khalayak ramai atau
membuat terpesona musuh yang potensial dengan sama mudahnya.
Meledaknya jumlah penduduk serta terjadinya revolusi dibidang komunikasi dan
tekhnologi membuat potensi munculnya suatu tatanan dalam negeri yang otoriter semakin
jauh lebih besar. Rakyat dapat diamati, diberi informasi, dimobilisasi, atau dipaksa
dengan lebih berhasil dari pada disetiap kerajaan dahulu.
Pada tahun 1957, partai-partai politik berada pada posisi defensif, tetapi asa saling
bermusuhan satu sama lain terlalu berat bagi mereka untuk bekerja sama dalam
mempertahankan sistem parlementer.
Dengan terbentuknya sistem pemerintahan baru tersebut, PKI dan tentara mngambil
langkah-langkah untuk memperkuat posisi mereka.Setidak-tidaknya pada tahun 1957,
seorang anggota rahasia PKI mulai menyusup ke tubuh militer melalui kontak dengan
perwira-perwira intelejen yang juga berusaha menyusup kedalam tubuh PKI.
Sukarno mencari cara baru bagi pembentukan organisasi massa. Pada bulan Juni
1957, dia memuji-muji sistem satu partai dari Uni Soviet dan mengatakan bahwa dia
lebih menyukai struktur seperti itu.
Gagalnya resolusi PBB secara langsung mengakibatkan terjadinya ledakan
radikalisme anti-Belanda yang dikobarkan oleh Soekarno. Pada tanggal 3 Desember,
serikat-serikat buruh PKI dan PNI mulai mengambil alih perusahaan-perusahaan dan
kantor-kantor dagang Belanda.
Pada tanggal 13 Desember 1957, Nasution mengambil kendali atas keadaan
tersebut dengan memerintahkan agar pihak tentara bersedia mengelola perusahaan-
perusahaan yang telah disita itu. PKI dan SOBSI, yang ingi sekali menghindarkan
terjadinya konfrontasi dengan pihak tentara, menjanjikan dukungan mereka untuk
menjaga supaya perusahaan-perusahaan itu tetap berjalan. Ini meruakan suatu
perkembangan yang menentukan, karena kini pihak tentara mulai berperan sebagai
ekonomi yang penting.
Akan tetapi, manfaat pengambilalihan itu terhadap perekonomian dan tentara tidak
terlihat. Terjadi banyak salah urus dan ketidak efisienan, terutama sebagai akibat adanya
kecenderungan Nasution untuk menugaskan pr perwira yang sudah tua dn kurng cakp
memimpin perusahaan-perusahaan, sementra para panglima yang lebih cakap tetap
ditugskan memimpin pasukan.
Gelombang radikal terus berlangsung selama bulan Desember 1957 dan Januari
1958. Pada bulan Desember, Natsir dan tokoh-tokoh Masyumi lainya kbur dari Jakarta
karena adanya intimidasi dari kelompok-kelompok pemuda.
Pada tanggal 10 Februari 1958, kaum pembangkang Padang mengirimkan suatu
ultimatum lima hari kepada pemerintah; kabinet harus dibubarkan. Hatta dan Sultan
Hamengkubuwana IX harus ditunjuk untuk membentuk kabinet karya baru sampai
terselenggaranya pemilihan umum, dan Soekarno harus kembali ke posisi
konstitusionalnya sebagai presien lambang saja. Kabinet segera menolak ultimatum
tersebut dan para perwira penting yang terlibat diberhentikan dengan tidak hormat karena
merencanakan pemberontakan dan berupaya membunuh Soekarno di Cikini.
Pihak militer dan Nasution semakin menguasai keadaan, walaupun Soekarno telah
merebut prakarsa dan adanya ketidak populeran tentara sendiri. Soekarno menginginkan
supaya kampanye untuk merebut Papuamenjadi alat untuk menggembleng Indonesia
kedalam momentum massa yang ia pandang sangat penting artinya bagi revolusi yang
berkesinambungan dan sangat cocok dengan bakat bakat kepemimpinannya. PKI juga
melihat adanya kesempatan untuk meningkatkan peranan nasionalnya. Akan tetapi, ada
bahaya bahwa pihak tentara akan menguasai keadaan lagi. Oleh karena itulah maka
Soekarno maupun PKI ingin mencegah jangan sampai perang Papua menjadi suatu
operasi militer sepenuhnya.
PKI-lah yang menempuh langkah-langkah paling dramatisuntuk merebut prakarsa.
Karena adanya banyak pengaruh hubungan dan intrik di dalam negeri maupun dikancah
internasional yang melingkupi urusan-urusan Indonesia pada masa itu, maka motivasi
yang yang tepat dari ketegasan PKI yang baru tidaklah jelas.
Akan tetapi. Kesulitan-kesulitan yang dihadapi PKI segera menjadi jelas. Cina
segera merasa yakin akan pengaruhnya di Jakarta dengan tingkat perintah-perintah,
sehingga dukungannya kepada kebijakan-kebijakan pedesaan PKI mungkin dikuranginya.