Anda di halaman 1dari 85

1 dari koleksi Teater Sae

CALIGULA
karya Albert Camus
Terjemahan Asrul Sani

Diketik sesuai dengan naskah yang dikeluarkan oleh Bank Naskah - Dewan
Kesenian Jakarta, dari koleksi Teater Sae.

oleh:
Busyra Q. Yoga
bqyoga@gmail.com
bqyoga@indosat.net.id
http://www.serdadubumi.com

dari koleksi Teater Sae 2


CALIGULA DIPERTUNJUKKAN UNTUK PERTAMA KALINYA DALAM TAHUN 1945 di
“THEATRE – HEBERTOT” DENGAN PAUL OTTLY SEBAGAI PERENCANA MISE-EN-
SCENE, LOUIS MIQUEL PERENCANA DEKOR DAN MARIA VITON SEBAGAI
PERENCANA PAKAIAN. PERANAN CALIGULA DIMAINKAN OLEH GERALD
PHILIPE, KINI PEMAIN “THEATRE NATIONAL POPULAIRE” DAN SALAH SEORANG
BINTANG FILM PERANCIS TERKENAL.

PARA PELAKU

CALIGULA …………………………………..………….Umur antara 25 dan 29 tahun.


CAESONIA …………………………..……………..Gundik Caligula, umur 30 tahun.
HELICON ……………………………………Sahabat karib Caligula, umur 30 tahun.
SCIPION ……………………………………………………..……………………Umur 17 tahun.
CHEREA ……………………………………………………….………………….Umur 30 tahun.
BANGSAWAN TUA …………………………………….…………………….Umur 71 tahun.
MEREIA …………………………………………………….……………………..Umur 60 tahun.
MUCIUS …………………………………………………………………………..Umur 23 tahun.
BENTARA …………………………………………………..…………………….Umur 50 tahun.
BANGSAWAN I, BANGSAWAN II, BANGSAWAN III ………………………………..
……………………………………………………………Umur antara 40 sampai 60 tahun.
KESATRIA, PENGAWAL ISTANA, PESURUH2……………………………………………

3 dari koleksi Teater Sae


BABAK-I

Adegan Pertama

SEJUMLAH BANGSAWAN, DIANTARANYA SESEORANG YANG SUDAH SANGAT


TUA, BERKUMPUL DI BALAIRUNG SARI. MEREKA KELIHATAN GELISAH.

BANGSAWAN I:
Belum juga ada berita.

BANGSAWAN TUA:
Kemarin tidak, kinipun tidak.

BANGSAWAN II:
Tiga hari tidak ada kabar sedikitpun juga. Heran!

BANGSAWAN TUA:
Pesuruh pergi, pesuruh datang, jawab yang dibawa selalu geleng kepala “Tidak
ada”.

BANGSAWAN II:
Seluruh pedalaman sudah diperiksa. Apa lagi yang dapat dilakukan lebih dari
itu?

BANGSAWAN I:
Kita Cuma bisa menunggu. Tidak ada gunanya kelewat lekas bersusah hati.
Barangakali dia akan kembali sendiri, seperti dulu dia pergi.

BANGSAWAN TUA:
Ketika meninggalkan istana kulihat ada sinar ganjil di matanya.

BANGSAWAN I :
Aku pun melihatnya. Bahkan aku bertanya padanya apa yang kurang.

BANGSAWAN II:
Apa jawabnya?

BANGSAWAN I :
“Tidak ada-apa!”. Hanya itu.

SUNYI SEBENTAR, HELICON MASUK. IA LAGI MAKAN BAWANG.

BANGSAWAN II: (DENGAN SUARA YANG MASIH GELISAH)

dari koleksi Teater Sae 4


Gelisah kita jadinya!

BANGSAWAN I:
Ah, mengapa?! Memang begitu adat orang muda.

BANGSAWAN TUA:
Tuan benar. Mereka terlalu lemah hati. Tapi umur akan melicinkan segalanya.

BANGSAWAN II:
Begitukah kiraan tuan?

BANGSAWAN TUA:
Tentu. Satu gadis yang hilang selusin gantinya.

HELICON:
O! Jadi Tuan kira dibelakang ini ada soal perempuan?

BANGSAWAN I:
Apalagi kalau bukan itu!? Tapi untunglah kesedihan tidak berlangsung selama-
lamanya. Apakah ada diantara kita yang sanggup berdukacita karena
kehilangan seseorang lebih dari setahun?

BANGSAWAN II:
Aku tidak.

BANGSAWAN I:
Tak seorang jugapun yang dapat.

BANGSAWAN TUA:
Hidup akan pahit sekali kalau kita sanggup menjalankan itu

BANGSAWAN I:
Memang. Aku sendirilah misalnya, aku kehilangan istriku tahun yang lalu. Aku
menangis sejadi-jadinya. Sudah itu aku lupakan. Kadang-kadang aku masih
merasakan sekarang. Tapi untunglah keadaan ini tak sering.

BANGSAWAN TUA:
Ya. Alam adalah dukun yang baik. (CHEREA MASUK)

Adegan Kedua

BANGSAWAN I:
Bagaimana, ada kabar?

5 dari koleksi Teater Sae


CHEREA:
Belum.

HELICON:
Ayolah tuan-tuan! Tidak ada gunanya bercemas hati.

BANGSAWAN I:
Memang.

HELICON:
Biarlah susah keadaan tak akan berubah…. Sekarang sudah waktunya makan.

BANGSAWAN TUA:
Betul. kita jangan menyangka yang bukan-bukan

CHEREA:
Hatiku tak begitu senang. tapi segalanya kelihatan lancar. Sebagai seorang
Kaisar dia boleh disebut penjelmaan dari kesempurnaan.

BANGSAWAN II:
Ya, Kaisar yang sesuai betul dengan keinginan kita, hati-hati…dan tak
berpengalaman.

BANGSAWAN I:
Apa yang kau risaukan? Tidak ada alasan untuk meratap seperti itu. Apa
sebabnya maka ia berubah. Misalkan ia cinta pada Drusilla. Biasa. Drusilla
adalah saudaranya. Atau katakanlah bahwa cinta kepadanya melebihi cinta
kakak kepada adiknya. Memang menjijikkan, kuakui. Tapi kelewatan sekali
menjadikan Roma ribut hanya karena gadis itu meninggal.

CHEREA:
Mungkin. Tapi seperti kukatakan, hatiku tak begitu senang. Keadaan ini
menggelisahkanku.

BANGSAWAN TUA:
Memang. Tidak ada asap jika tidak ada api.

BANGSAWAN I:
Tapi bagaimanapun juga, demi kepentingan negara, ia tidak boleh
menjadikan….menjadikan, kita – katakanlah dulu perbuatan yang akan
disesalkan ini menjadi bencana umum. Memang hal itu mungkin telah terjadi.
Tetapi makin tidak dibicarakan, makin baik.

HELICON:
Bagaimana tuan tahu begitu pasti Drusila yang menjadi sebab?

dari koleksi Teater Sae 6


BANGSAWAN II:
Siapa lagi kalau bukan dia?

HELICON:
Mungkin juga bukan siapa-siapa. Begitu banyak alasan yang dapat
dikedepankan, mengapa justru alasan begini yang dipilih?

SCIPION MASUK. CHEREA BERJALAN MENEMUINYA

Adegan Ketiga

CHEREA:
Ada kabar?

SCIPION:
Belum juga ada. Kecuali kabar-kabar dari beberapa petani yang telah melihat
dia kemarin malam tidak jauh dari Roma, berlari dalam angin ribut.

CHEREA KEMBALI KE TEMPAT BANGSAWAN-BANGSAWAN TADI. SCIPION


MENGIKUTINYA.

CHEREA:
Dengan hari ini cukup tiga hari sudah, bukan, Scipion?

SCIPION:
Ya….aku ada di situ. Mengikuti dia seperti biasa. Ia hampiri jenazah Drusilla.
Dipukulnya dengan dua jari. Sudah itu ia seolah-olah tenggelam dalam
pikirannya. Kemudian ia berbalik lalu berjalan keluar dengan tenang….dan
sejak itu kita mencari dia - dengan sia-sia.

CHEREA: (SAMBIL MENGELENG-GELENGKAN KEPALANYA)


Anak muda itu terlalu asyik dengan kesusasteraan.

BANGSAWAN II:
Ah, maklumlah dalam umur begitu….

CHEREA:
Umur memang, tapi tidak dalam kedudukannya. Seorang Kaisar yang berjiwa
seni adalah sesuatu yang salah. Memang ada satu-dua; salah pasang selalu
saja bisa terjadi biar dalam sebuah kerajaan yang sebaik-baiknya sekalipun.
Tapi Kaisar-Kaisar yang ini cukup punya perasaan untuk mengingat bahwa ia
adalah abdi rakyat.

BANGSAWAN I:

7 dari koleksi Teater Sae


Dan menyebabakan keadaan jadi lancar.

BANGSAWAN TUA:
Satu manusia satu pekerjaan, begitulah seharusnya.

SCIPION:
Apa yang harus kita lakukan, Cherea?

CHEREA:
Tidak ada.

BANGSAWAN II:
Kita hanya bisa menunggu. Jika ia tidak kembali, maka gantinya harus kita
carikan. Diantara kita….tidak kurang calon.

BANGSAWAN I:
Memang. Tapi yang kurang adalah calon yang tepat.

CHEREA:
Misalkan ia kembali dengan hati yang berang.

BANGSAWAN I:
Ah, dia masih anak muda. Nanti kita tunjukan pikiran sehat padanya.

CHEREA:
Dan kalau ia tidak mau terima, bagaimana?

BANGSAWAN I: (KETAWA)
Dalam keadaan seperti ini sahabat, jangan lupa, bahwa aku pernah menulis
buku tentang revolusi. Di dalamnya dapat kau temui segala petunjuk.

CHEREA:
Nanti kuperiksa – kalau memang sudah waktunya. Tapi aku lebih suka
membaca buku-bukuku sendiri

SCIPION:
Saya permisi……..! (KELUAR).

CHEREA:
Dia marah.

BANGSAWAN TUA:
Scipion masih anak muda sekali. Anak muda selalu seperasaan

HELICON:
Ah, Scipion tak masuk hitungan

dari koleksi Teater Sae 8


SEORANG PENGAWAL ISTANA MASUK

PENGAWAL ISTANA:
Caligula kelihatan di kebun istana….!

SEMUA KELUAR.

Adegan Keempat

PANGGUNG SUNYI BEBERAPA SAAT. CALIGULA MASUK DENGAN DIAM-DIAM


DARI KIRI. KAKINYA PENUH LUMPUR, SEDANGKAN PAKAIANNYA KOTOR
SEKALI KELIHATANNYA. RAMBUTNYA BASAH DAN MATANYA NANAR. IA
MEMEGANG MULUTNYA BEBERAPA KALI DENGAN TANGANNYA. KEMUDIAN IA
MENDEKATI CERMIN YANG TERGANTUNG DI PANGGUNG ITU DAN TIBA-TIBA
TEGAK BERHENTI WAKTU MELIHAT BAYANGANNYA DI KACA. SETELAH
MENGUCAPKAN BEBERAPA PATAH KATA YANG TAK KEDENGARAN IA DUDUK DI
KANAN SAMBIL MEMBIARKAN TANGANNYA TERKULAI ANTARA KEDUA
LUTUTNYA. HELICON MASUK DARI KIRI. WAKTU MELIHAT CALIGULA IA
BERHENTI DIUJUNG PANGGUNG LALU MEMPERHATIKANNYA DENGAN HENING.
CALIGULA MEMBALIK LALU MELIHAT PADA HELICON. HENING SEKEJAP.

Adegan Kelima

HELICON: (DARI UJUNG PANGGUNG).


Selamat pagi, Caius.

CALIGULA: (DENGAN SUARA BIASA).


Selamat Pagi, Helicon.

HENING SEKEJAP.

HELICON:
Kau lelah kelihatannya.

CALIGULA:
Aku banyak berjalan.

HELICON:
Ya, kau telah pergi selama beberapa hari.

CALIGULA:

9 dari koleksi Teater Sae


Memang susah diperoleh

HELICON:
Apa yang susah diperoleh?

CALIGULA:
Apa yang kucari.

HELICON:
Apa itu?

CALIGULA: (DENGAN SUARA BIASA).


Bulan.

HELICON:
Apa??

CALIGULA:
Ya, aku ingin kan bulan.

HELICON:
Oh…..(DIAM SEBENTAR. KEMUDIAN HELICON MENDEKATI CALIGULA) Dan
mengapa kau inginkan bulan?

CALIGULA:
Ah, ya……itu satu barang yang aku belum punya.

HELICON:
O, begitu. Dan kini – sudah kau bereskan sehingga memuaskanmu?

CALIGULA:
Belum. Aku tidak dapat memperolehnya.

HELICON:
Sayang sekali.

CALIGULA
Ya. karena itu aku sangat lelah. (DIAM. KEMUDIAN) Helicon!

HELICON:
Ya, Caius.

CALIGULA:
Tak sangsi lagi. Menurut pikiran kau tentu aku gila.

HELICON:

dari koleksi Teater Sae 10


Kau sendiri tahu aku tidak pernah berpikir.

CALIGULA:
Ah, betul juga… Sekarang, begini! Aku tidak gila. malahaan rasanya belum
pernah aku setenang sekarang ini. Apa yang terjadi padaku adalah hal yang
biasa saja. Aku tiba-tiba didatangi keinginan yang mustahil. Cuma itu.
(DIAM). Menurut hematku, keadaan seperti adanya sekarang ini, jauh sekali
dari pada menyenangkan.

HELICON:
Banyak yang sependapat dengan kau.

CALIGULA:
Memang. Tapi dulu aku tidak sadari ini. Kini aku tahu dunia kita ini dengan apa
yang orang sebutkan susunannya, tidak bisa kita biarkan. Itu makanya aku
inginkan bulan, atau kebahagian, atau hidup abadi…..
Pendeknya sesuatu yang tak masuk akal kedengarannya. tapi yang tak dapat
digolongkan kepada dunia ini.

HELICON:
Dalam teori jelas sekali kedengarannya. Cuma dalam prakteknya hal seperti itu
tak bisa dilaksanakan

CALIGULA: (BERDIRI. TAPI MASIH TENANG SEPERTI TADI).


Kau khilaf. Karena tidak seorang pun yang berani mengikuti pikirannya sampai
ke ujung-ujungnya, makanya tak ada yang dicapai sampai sekarang. Satu-
satunya yang harus dilakukan – menurut hematku, terus berpikir lurus atau
logis, dengan mengorbankan segalanya. (MENGAMATI WAJAH HELICON). Aku
pun tahu apa yang kau pikirkan “Alangkah ributnya hanya karena seorang
perempuan telah meninggal!”. Tapi bukan itu. Ya, memang, aku agaknya ingat
bahwa beberapa hari lalu seorang perempuan telah meninggal. Seorang
perempuan yang kucintai. Tapi cinta, apakah itu? Soal tetek bengek! Dan aku
bersumpah pada kau, bukanlah kematian yang menjadi masalah di sini. Ia
tidak lebih dari suatu perlambang kebenaran, yang membuat bulan menjadi
penting bagiku. Suatu kebenaran yang sangat bersahaja, jelas bahkan hampir-
hampir edan. Tapi suatu kebenaran yang susah untuk didekati dan pahit untuk
dialami.

HELICON:
Tapi bolehkah aku tahu , kebenaran apakah yang telah kau temukan itu?

CALIGULA: (DENGAN MEMALINGKAN MATA DAN DENGAN SUARA YANG JEMU).


Manusia mati; dan mereka tidak berbahagia!

HELICON: (SETELAH DIAM SEBENTAR).

11 dari koleksi Teater Sae


Bagaimanapun juga, kebenaran itu adalah kebenaran yang dapat diterima
dengan tawakal. Coba lihat orang-orang di sana. Kebenaran kau tidak
mengurangkan kenikmatan yang mereka alami kala menyantap makanan
mereka.

CALIGULA: (DENGAN MARAH YANG TIBA-TIBA).


Segala itu membuktikan bahwa aku dikelilingi oleh dusta dan penipuan diri
sendiri. Aku sudah bosan! Aku mau manusia hidup dalam cahaya kebenaran.
Dan aku punya kekuasaan untuk melakukannya. Karena aku tahu apa yang
mereka inginkan dan apa yang mereka belum peroleh. Mereka tidak mengerti
dan mereka memerlukan seorang guru; seseorang yang betul-betul arif tentang
apa yang ia bicarakan

HELICON:
Jangan marah, Caius. Jika boleh aku menasehati kau sedikit….tapi nanti
sajalah. Sekarang kau harus istirahat dulu.

CALIGULA: (DUDUK KEMBALI. DENGAN SUARA RAMAH LAGI).


Tidak mungkin Helicon. aku tidak mungkin istirahat lagi!

HELICON:
Tetapi, ….mengapa?

CALIGULA:
Jika aku tidur, siapa yang akan memberikan bulan untukku?

HELICON: (SETELAH DIAM SEBENTAR).


Benar juga.

CALIGULA: (BERDIRI DENGAN SUSAH PAYAH).


Begini, Helicon. …..Aku dengar suara orang berjalan dan suara orang bicara.
Jangan katakan apa-apa. Lupakan kau telah bertemu denganku

HELICON:
Aku maklum.

CALIGULA: (BERJALAN KE PINTU, SAMBIL MENOLEH KE BELAKANG). Tolonglah


aku mulai dari saat ini.

HELICON:
Tidak ada alasan untuk tidak menolongmu, Caius. Tapi pengetahuanku sangat
sedikit dan perhatianku sangat terbatas. Dengan cara apa aku dapat menolong
kau?

CALIGULA:
Dengan cara…. yang mustahil

dari koleksi Teater Sae 12


HELICON
Aku akan berusaha

Adegan Keenam

CALIGULA KELUAR. SCIPION DAN CAESONIA MASUK DENGAN BERGEGAS.

SCIPION:
Tidak ada orang! Apa tidak kau lihat dia, Helicon?

HELICON:
Tidak.

CAESONIA:
Helicon, pasti benarkah kau bahwa ia tidak mengatakan apa-apa sebelum ia
pergi?

HELICON:
Aku bukan tempat ia mencurahkan rahasianya. Aku hanya menontonnya.
Begitu lebih baik

CAESONIA:
Jangan bicara begitulah.

HELICON:
Caesonia sayang, seperti kita semua tahu, Caius adalah seorang idealis. Ia
mengikuti pikirannya sendiri dan tidak seorang pun dapat meramalkan sampai
kemana ia akan dibawa pikirannya….! Tapi, permisi dulu, aku belum makan
siang. (HELICON KELUAR).

Adegan Ketujuh

CAESONIA DUDUK DENGAN HATI GUNDAH.

CAESONIA:
Seorang pengawal melihat ia lewat, seluruh warga kota melihat Caligula
dimana-mana. Dan Caligula, tentu tak melihat apa-apa selain pikirannya
sendiri.

SCIPION:
Pikiran apa?

13 dari koleksi Teater Sae


CAESONIA:
Bagaimana aku tahu, Scipion?

SCIPION:
Drusilla barangkali?

CAESONIA:
Barangkali. Satu hal pasti sudah; ia mencintainya. Memang pahit sekali
rasanya menerima kematian seseorang yang kemarin masih berada dalam
pelukan kita

SCIPION: (DENGAN MALU-MALU).


Dan kau?

CAESONIA:
Ah, aku adalah gundiknya yang sudah tua dan yang dapat dipercaya. Itu
bagianku.

SCIPION:
Caesonia, dia harus kita tolong

CAESONIA:
Jadi kau juga mencintainya?

SCIPION:
Ya. Ia sangat baik padaku. Ia hidup-hidupkan semangatku. Aku tak akan
pernah lupa hal-hal yang ia katakan kepadaku. Ia katakan padaku, hidup tidak
mudah, tapi masih ada penghiburnya: agama, seni dan cinta yang kita
timbulkan dalam diri orang lain. Ia sering berkata padaku, bahwa satu-
satunya kesalahan yang mungkin diperbuat dalam kehidupan ini ialah
menyebabkan orang sampai jadi menderita. Ia ingin menjadi seorang manusia
yang wajar.

CAESONIA: (BERDIRI).
Ia masih kanak-kanak. (IA PERGI KE KACA. LALU MEMPERHATIKAN DIRINYA
SENDIRI). Satu-satunya tuhan yang kuyakini, ialah tubuhku sendiri, dan kini
akan kuminta pada tuhanku ini supaya ia mengembalikan Caligula kepadaku

CALIGULA MASUK. WAKTU MELIHAT CAESONIA DAN SCIPION IA BIMBANG.


LALU MUNDUR BEBERAPA LANGKAH. PADA SAAT ITU DARI BERBAGAI ARAH
KAMAR ITU ORANG MASUK: BANGSAWAN-BANGSAWAN DAN PARA
PENGAWAL ISTANA. MEREKA BERHENTI TATKALA MEREKA MELIHAT CALIGULA.
CAESONIA BERBALIK. IA DAN SCIPION BERGEGAS KE ARAH CALIGULA, YANG
MENOLAK MEREKA DENGAN ISYARAT TANGANNYA.

dari koleksi Teater Sae 14


Adegan Kedelapan

PENGAWAL: (DENGAN SUARA YANG SANGSI-SANGSI).


Kami….kami telah mencari tuan hamba Caesar. Kemana-mana.

CALIGULA: (DENGAN UCAPAN PENDEK DAN AGAK KERAS).


O, begitu.

PENGAWAL:
Kami….artinya….

CALIGULA: (KASAR).
Mau apa kau?

PENGAWAL:
Kami merasa gelisah, Caesar.

CALIGULA: (BERJALAN KE ARAHNYA)


Urusan apa yang menyebabkan kau gelisah?

PENGAWAL:
Ya….e….! (IA BEROLEH ILHAM) Sebagai tuan hamba tahu, ada beberapa hal
yang harus dibereskan sehubungan dengan perbendaharaan.

CALIGULA: (GELAK TERBAHAK-BAHAK).


Ah, betul. Perbendaharaan. Betul juga. Perbendaharaan adalah soal yang
paling penting.

PENGAWAL:
Ya, tuan hamba.

CALIGULA: (SAMBIL MASIH TERTAWA. KEPADA CAESONIA).


Apakah kau tak sependapat dengan itu, sayang? Perbendaharaan adalah soal
yang maha penting.

CAESONIA:
Tidak Caligula. Tempatnya adalah di tempat kedua.

CALIGULA:
Itu hanya menandakan bahwa kau bodoh. Kami sangat sekali memperhatikan
soal keuangan kami. Semuanya penting: susunan pajak kita, susila umum,
politik luar negeri, perlengkapan tentara, hukum tanah. Percayalah, semuanya
penting-penting sifatnya. Dan semuanya sama tinggi dan sama rata. Kebesaran
Roma dan serangan encok kau..ha..ha..! Ya, ya, sekarang pikiranku akan

15 dari koleksi Teater Sae


kugunakan untuk kepentingan itu. Sebagai permulaan, …..Pengawal, coba
dengarkan baik-baik.

PENGAWAL:
Kami siap tuanku.

PARA BANGSAWAN MAJU BEBERAPA LANGKAH KE DEPAN.

CALIGULA:
Tuan-tuan setia kepada saya, bukan?

PENGAWAL: (DENGAN SUARA MENYESALI).


Wahai Caesar…!

CALIGULA:
Baiklah! Ada sesuatu yang akan kuusulkan. Kita akan mengadakan perubahan
lengkap dalam susunan ekonomi kita. Dalam dua tindakan. Cepat dan tegas.
Akan kuterangkan, pengawal,….jika tuan-tuan ini sudah pergi.

PARA BANGSAWAN KELUAR DAN CALIGULA DUDUK DEKAT CAESONIA SAMBIL


MEMELUKKAN TANGANNYA KEPINGGANG

Adegan kesembilan

CALIGULA:
Sekarang perhatikan baik-baik. Tindakan pertama: Setiap orang bangsawan,
setiap orang di seluruh kemaharajaan ini yang punya modal, baik besar atau
kecil, semuanya sama: tidak boleh mewariskan modal itu kepada anaknya.
Mereka harus menulis surat wasiat baru dan menyerahkan harta mereka
kepada negara jika mereka tidak ada lagi.

PENGAWAL:
Tapi, Caesar….

CALIGULA: (DENGAN KASAR).


Aku belum lagi beri izin kau bicara! (KEMBALI MELANJUTKAN SEAKAN TAK
TERGANGGU). Dan jika keadaan membutuhkan kita akan usahakan supaya
orang-orang ini meninggal dunia. Sebuah daftar akan kami buat dimana urutan
kematian mereka akan ditentukan. Jika keadaan menghendaki, maka kami
boleh merobah daftar itu. Dan dengan tentu, kami akan mengambil uang
mereka.

CAESONIA: (MELEPASKAN DIRI)


Tapi…….mengapa kau?

dari koleksi Teater Sae 16


CALIGULA: (DENGAN MERASA TAK TERGANGGU).
Jelas sekali bahwa urutan kematian mereka tidak begitu penting. Atau lebih
jelasnya: hukuman-hukuman bunuh ini semuanya sama pentingnya…artinya,
tidak satupun yang penting. Sungguh semua mereka ini sama saja, yang satu
sama salah dengan yang lain. (KEPADA PENGAWAL DENGAN KASAR). Kau
harus laksanakan tugas ini dengan tidak membuang waktu sedikitpun juga dan
periksa supaya ia dijalankan. Surat wasiat itu malam ini juga sudah harus
ditandatangani oleh penduduk Roma. Dan dalam satu bulan oleh setiap orang
di propinsi-propinsi. Kirimkan pesuruh-pesuruhmu segera.

PENGAWAL:
Caesar, aku sangsi apa tuanku menyadari….

CALIGULA:
Dengarkan baik-baik dungu! Jika perbendaharaan adalah maha penting, maka
jiwa manusia tidak penting sama sekali. Ini tentu jelas bagi kau. Orang yang
berpikir seperti kau harus menerima kebenaran perintah ini, dan karena uang
satu-satunya hal yang penting, karena itu kau tak akan menghargai jiwa kau
sendiri atau jiwa orang lain. Aku sudah memutuskan untuk berpikir logis dan
aku punya kekuasaan untuk memaksakan kemauanku. Sekarang akan kau lihat
artinya pikiran yang logis bagimu. Segala tentangan dan penentang akan
kutindas. Jika perlu aku akan mulai dengan kau sendiri.

PENGAWAL:
Caesar, aku bersumpah, kesetiaanku sanggup diuji.

CALIGULA:
Dan aku juga, percayalah. Lihatlah bagaimana bersedianya aku menerima
pandangan kau dan memberikan tempat terpenting kepada perbendaharaan
dalama rencanaku. Sebetulnya kau harus berterimakasih kepadaku: aku
mengikuti apa yang kau kehendaki dan aku jalankan apa yang kau maui. (IA
BERHENTI SEBENTAR KEMUDIAN MELANJUTKAN DENGAN SUARA YANG
LEMBAB). Bagaimana juga ada suatu sinar kecendekiawanan dalam
kebersahajaan rencanaku itu. Tak dapat disanggah! Kau beroleh tiga detik
untuk menghindarkan diri. Satu….(PENGAWAL PERGI).

Adegan Kesepuluh

CAESONIA:
Aku tidak percaya engkau yang bicara begitu. Ini Cuma olok-olok, bukan?

CALIGULA:
Tidak, Caesonia. Kita anggap saja sebuah pelajaran.

17 dari koleksi Teater Sae


SCIPION:
Tapi, Caius, ini tidak mungkin!

CALIGULA:
Karena itulah.

SCIPION:
Aku tidak mengerti.

CALIGULA:
Kuulangi lagi: ya, karena itulah. Sekarang aku menjelajah apa yang dianggap
orang tidak mungkin. Atau lebih baik kukatakan begini: Aku sedang berusaha
memungkinkan yang tak mungkin.

SCIPION:
Tapi ini permainan yang tak ada batasnya. Ini suatu hiburan orang gila.

CALIGULA:
Tidak, Scipion. Hiburan seorang maharaja. (IA MEREBAHKAN DIRI DI ATAS
SOFA DENGAN LELAH). Ah, kawan-kawan akhirnya aku mengetahui apa
gunanya kekuasaan. Ia dapat membuat yang mustahil terjadi. Mulai hari ini,
selama masih ada nyawa di badan, kebebasan tidak ada lagi batasnya

CAESONIA: (DENGAN SEDIH)


Aku sangsi apakah penemuanmu ini akan dapat membuat kita lebih bahagia.

CALIGULA:
Aku pun begitu. Tapi kukira kita harus menjalaninya.

CHEREA MASUK

Adegan Kesebelas

CHEREA:
Aku baru dengar kau telah kembali. Mudah-mudahan kau sehat.

CALIGULA:
Kesehatanku mengucapkan terima kasih padamu. (HENING. KEMUDIAN
DENGAN TIBA-TIBA). Pergilah Cherea, aku tidak ingin bertemu dengan kau.

CHEREA:
Kau mengherankan aku, Caius.

dari koleksi Teater Sae 18


CALIGULA:
TIdak ada yang perlu kau herankan. Aku tidak suka sastrawan-sastrawan dan
aku tidak suka dusta.

CHEREA:
Sekiranya kami berdusta, maka itu kami lakukan dengan tidak sadar. Aku tidak
bersalah.

CALIGULA:
Dusta memang tidak pernah terlihat salah. Dan dusta kau memberikan sifat
penting pada orang dan hal-hal. Itu yang tak dapat kuampuni.

CHEREA:
Dan kini – karena dunia ini satu-satunya dunia yang kita punya, apakah ia tidak
akan dibela?

CALIGULA:
Pembelaan kau terlambat, hukuman telah dijatuhkan. Dunia ini tidak lagi
penting. Sekali manusia menyadari itu, maka ia beroleh kemerdekaannya. (IA
BERDIRI). Itu makanya aku benci kau. Kau dan golonganmu. Karena kalian
tidak merdeka. Pada dirikulah kau melihat satu-satunya manusia yang merdeka
di seluruh kemaharajaan Roma. Kau
seharusnya gembira karena akhir-akhirnya diantaramu hidup seorang maharaja
yang dapat menunjukan jalan ke kemerdekaan. Pergilah Cherea, kau juga
Scipion, pergilah – karena apalah artinya persahabatan. Pergilah kalian dan
siarkan berita ke seluruh Roma, bahwa akhirnya kemeredekaan telah diberikan
kepadanya. Dan dengan pemberian ini, akan mulai suatu masa percobaan
besar.

MEREKA PERGI DAN CALIGULA BERPALING MENYEMBUNYIKAN WAJAHNYA

Adegan Keduabelas

CAESONIA:
Kau menangis?

CALIGULA:
Ya, Caesonia.

CAESONIA:
Apa sebetulnya yang berubah dalam hidupmu? Memang kau mencintai Drusilla,
tapi kau juga mencintai yang lain – aku sendiri misalnya – pada satu waktu. Ini
bukan sebab untuk membuat kau menjelajahi pedalaman selama tiga hari tiga
malam dan kembali….dengan membawa kengerian pada jiwamu.

19 dari koleksi Teater Sae


CALIGULA: (MEMBALIK KE ARAHNYA).
Omomg kosong apa ini!? Mengapa dibawa-bawa Drusilla? Kau kira cinta satu-
satunya hal yang menyebabkan seorang laki-laki mengucurkan air mata?

CAESONIA:
Maaf, Caius. Aku hanya berusaha memaklumi kau.

CALIGULA:
Laki-laki menangis, karena semua di dunia ini salah! (CAESONIA DATANG
MENGHAMPIRI CALIGULA). Tidak, Caesonia. (IA MUNDUR). Tetaplah di
tempatmu.

CAESONIA:
Segala kehendakmu akan kulakukan. (DUDUK). Dalam umurku sekarang ini
orang tahu hidup menyedihkan. Tapi mengapa dengan sengaja kita berusaha
mempersedihnya lagi.

CALIGULA:
Tidak, tidak ada gunanya; kau tidak mengerti. Tapi peduli apa? Barangkali aku
akan menemui jalanku. Aku merasa sesuatu bergerak dalam diriku, seolah-
olah hal yang belum lagi sempat diimpikan mendesak keluar – dan aku tak
dapat menghalanginya. (IA MENDEKATI CAESONIA). Caesonia, aku tahu orang
merasa takut, tapi aku tak tahu apa artinya kata takut itu. Seperti orang lain,
aku juga berpendapat bahwa takut adalah suatu penyakit pikiran – lain tidak.
Tidak, tubuhkulah yang sedang sakit. Sakit dimana-mana, didadaku, dikakiku
dan tanganku. Bahkan kulitku kasar, dan kepalaku pusing. Rasanya seakan-
akan aku hendak muntah. Tapi yang paling pahit dari segalanya ialah rasa
ganjil yang ada di lidahku. Bukan darah, atau maut, atau demam, tapi
campuran dari ketiga-tiganya. Aku cuma perlu menggerakkan lidahku lalu
dunia jadi gelap dan semua manusia kelihatannya mengerikan. Alangkah berat,
alangkah pedihnya upacara untuk menjadi manusia ini!

CAESONIA:
Yang kau butuhkan, sayang, ialah tidur yang panjang dan pulas.
Istirahatkanlah dirimu, dan hentikan pikiranmu. Aku akan menjaga selama kau
tidur. Dan jika kau bangun akan kau lihat bagaimana dunia telah kembali lagi
pada kebagusannya. Lalu kau harus mempergunakan kekuasaanmu untuk
hal-hal yang baik – untuk lebih mencintai lagi apa yang dapat kau cinta. Karena
yang mungkin pun patut pula diberi kesempatan.

CALIGULA:
Ah, kalau untuk itu, aku tak perlu tidur – untuk membiarkan diriku berbuat
sesukanya – dan itu adalah tak mungkin.

CAESONIA:

dari koleksi Teater Sae 20


Seseorang yang terlalu lelah selalu berpikir begitu. Suatu masa akan tiba
dimana pegangan seseorang akan menjadi kukuh kembali.

CALIGULA:
Tapi kita harus tahu dimana ia harus ditempatkan. Dan apa gunanya bagiku
sebuah pegangan yang kukuh, apakah gunanya kekuasaan besar yang ada
padaku, jika aku tak dapat memaksa matahari turun di Timur, jika aku tak
dapat mengurangi jumlah derita atau mengakhiri kematian? Tidak Caesonia,
tidur atau tidak bagiku serupa saja, jika aku tak punya kekuasaan untuk
mencampuri perjalanan dunia ini.

CAESONIA:
Tapi itu artinya sama dengan mau menyamai Tuhan. Itu suatu pekerjaan yang
gila.

CALIGULA:
Jadi, kaupun mengira, bahwa aku gila. Dan kini – siapakah Tuhan yang aku
ingin samai itu? Apak yang kutuju, yang kuingin dengan seluruh jiwa dan
ragaku, adalah sesuatu yang lebih tinggi, yang berada lebih jauh, lebih tinggi
dari tuhan. Aku mau merebut sebuah kerajaan dimana yang mustahil, yang tak
mungkin, menjadi raja.

CAESONIA:
Kau tak dapat melarang langit menjadi langit. Kau tak dapat menghalangi
sebuah wajah muda menjadi tua atau menghalangi supaya hati manusia
menjadi dingin.

CALIGULA: (DENGAN SEMANGAT BERTAMBAH).


Aku mau menenggelamkan langit dalam laut, aku mau menyemarakkan
keburukan dengan kebagusan, aku mau memeras ketawa dari kesakitan.

CAESONIA: (MENGHADAPINYA DENGAN SIKAPMEMOHON).


Ada yang jahat, ada yang baik, ada yang tinggi dan ada yang rendah, ada
kelaliman ada keadilan. Percayalah ini tak akan berubah.

CALIGULA: (DENGAN SUARA YANG SAMA).


Dan aku telah memutuskan untuk merubahnya. Aku akan memberikan sesuatu
yang besar kepada zaman ini: sama rata. Dan kalau semuanya telah disama-
ratakan, jika yang mustahil telah turun ke bumi dan bulan telah ada dalam
tanganku – lalu barangkali, aku akan berobah dan bersamaku dunia ini.
Manusia tidak lagi mengenal mati dan berbahagia selalu.

CAESONIA: (DENGAN SUARA TANGIS SEDIKIT).


Dan cinta? Apa kau akan mengingkari cinta?

CALIGULA: (DENGAN AMARAH YANG MELEDAK).

21 dari koleksi Teater Sae


Cinta, Caesonia? (MEMEGANG BAHU CAESONIA LALU MENGGONCANG-
GONCANGKANNYA) Aku sudah tahu apa yang disebutkan cinta; omong kosong,
omong kosong! Pengawal tadi benar – kau dengar apa yang dikatakannya,
bukan - yang penting cuma perbendaharaan. Puncak dari segalanya. Dan kini
aku mau hidup, hidup yang sebenarnya. Dan hidup, sayang, adalah lawan dari
cinta. Aku tahu apa yang kukatakan. Aku undang kau untuk menghadiri
sebuah pertunjukan yang paling indah, suatu kejadian besar. Untuk itu, aku
memerlukan orang banyak – penonton, korban-korban, penjahat-penjahat,
beratus bahkan beribu orang. (IA BERLARI KE GONG LALU MULAI MEMUKUL
MAKIN LAMA MAKIN KERAS DAN CEPAT). Biar datang semua yang terdakwa,
aku mau lihat penjahat-penjahatku. Ya, mereka semua penjahat! (MASIH
MEMUKUL GONG). Bawa masuk manusia yang terkutuk. Aku ingin penonton.
Hakim, saksi, terdakwa, semuanya dijatuhi hukuman mati tanpa diadili. Ya,
Caesonia aku akan perlihatkan pada mereka sesuatu yang sampai kini mereka
belum pernah lihat, satu-satunya manusia yang merdeka di kemaharajaan
Roma. (WAKTU MENDENGAR BUNYI GONG, WARGA DILUAR MULAI BERISIK
OLEH BERBAGAI BUNYI, BUNYI SENJATA BERADU, PELUIT, SUARA LANGKAH
KAKI, TERIAKAN. LANGKAH MAKIN CEPAT DAN DEKAT. SEMUA MASUK TAPI
SEMUA KELUAR LAGI). Dan kau Caesonia, akan mematuhi perintahku. Kau
tetap disampingku sampai saat terakhir. Alangkah hebatnya, kau lihatlah nanti.
Bersumpahlah Caesonia, engkau akan tetap disampingku

CAESONIA: (DENGAN LIAR DIANTARA DUA PUKULAN GONG).


Aku tidak perlu bersumpah. Kau tahu aku cinta kau

CALIGULA: (DENGAN SUARA TETAP).


Kau akan lakukan segala apa yang kukatakan!?

CAESONIA:
Segalanya. Segalanya Caligula, tapi hentikan itu.

CALIGULA: (MASIH MEMUKUL GONG).


Kau akan ganas!?

CAESONIA: (MENANGIS)
Ganas..

CALIGULA: (MASIH MEMUKUL GONG).


Berhati batu dan gelisah!?

CAESONIA:
Gelisah..

CALIGULA:
Dan kau juga akan menderita.

dari koleksi Teater Sae 22


CAESONIA:
Ya, ya, Caligula. Aku jadi gila barangkali.

BEBERAPA BANGSAWAN MASUK, DIIKUTI OLEH ABDI-ABDI ISTANA.


SEMUANYA KELIHATAN KAGET DAN CEMAS. CALIGULA MEMUKUL GONG UNTUK
PENGHABISAN KALI, LALU MENGANGKAT PEMUKULNYA, MEMBUAI-
BUAIKANNYA, BERPUTAR-PUTAR. LALU MEMANGGIL DENGAN SUARA YANG
SERAK DAN SEPARUH GILA.

CALIGULA:
Mariii..! Semuanya. Dekat. Dekat lagi. (IA GEMETAR KARENA TAK SABAR)
Raja kalian memerintahkan pada kalian supaya lebih dekat..!!! (MEREKA
MENDEKAT, PUCAT KARENA TAKUT). Cepat!!! Dan kau, Caesonia mari ke
dekatku. (DIPEGANGNYA TANGAN CAESONIA, DIBIMBINGNYA KE DEPAN
CERMIN DAN DENGAN AYUNAN LIAR DENGAN PEMUKULNYA IA HAPUS SEBUAH
BAYANGAN DI ATAS CERMIN ITU. TIBA-TIBA IA TERTAWA) Semua habis. Kau
lihat sayang….! Akhir dari segala kenangan. Akhir segala kedok. Tidak suatu-
pun, tidak siapapun yang tinggal. Tidak siapapun..?! Tidak, tidak benar masih
ada. Lihat Caesonia. Kemari semuanya! Lihat….!!! (IA BERDIRI DI DEPAN
CERMIN DENGAN TAMPAN DAN MEGAH).

CAESONIA: (MEMANDANG DENGAN KECUT KE ARAH CERMIN).


Caligula!

CALIGULA MELETAKKAN TANGANNYA/JARINYA DI ATAS CERMIN.


PANDANGANNYA BERHENTI TIBA-TIBA. DAN SEWAKTU IA BICARA TIBA-TIBA
BEROLEH BUNYI YANG BARU DAN BANGGA.

CALIGULA:
Ya…..Caligula!!!

LAYAR–TURUN

23 dari koleksi Teater Sae


B A B A K - II

Adegan Pertama

KAUM BANGSAWAN BERKUMPUL DALAM SEBUAH RUANG DI RUMAH CHEREA

BANGSAWAN I:
Ia hinakan kehormatan kita.

BANGSAWAN TUA:
Ia memangilku “Cintaku sayang!” Depan orang banyak, jangan lupa. Cukup
menjadikan aku buah tertawaan orang. Hukuman bunuh rasanya masih terlalu
baik buat dia.

BANGSAWAN I:
Ia memaksa kita berlari disamping tandunya jika ia lagi berjalan ke luar kota.

BANGSAWAN II:
Katanya itu latihan yang baik buat kita.

BANGSAWAN TUA:
Kelakuan seperti itu tidak bisa dimaafkan.

BANGSAWAN III
Tuan benar, hal yang seperti itu benarlah yang tidak bisa dimaafkan.

BANGSAWAN I:
Ia telah menyita hartamu Patricius. Ia telah membunuh ayahmu, Scipion. Ia
telah merebut istrimu dari sampingmu, Octavius, dan menyuruhnya kerja di
rumah pelacurannya. Ia telah membunuh anakmu, Lepidus. Aku mau bertanya
tuan-tuan, apakah tuan-tuan masih sanggup menahankan ini? Aku, bagaimana
pun juga, telah mengambil keputusan. Aku tahu resikonya, tapi aku juga tahu,
hidup yang penuh ketakutan ini tidak bisa ditahankan lagi. Lebih sakit dari
mati. Ya, seperti kukatakan, putusanku tetap sudah.

SCIPION:
Waktu ia membunuh ayahku, ia pun telah menetapkan keputusanku.

BANGSAWAN I:
Nah, apakah tuan-tuan masih sangsi?

SEORANG KESATRIA:

dari koleksi Teater Sae 24


Tidak, kami bersama tuan. Ia telah memberikan tempat duduk kami di Circus
kepada rakyat banyak dan menghasut kami supaya berkelahi dengan rakyat
jembel. Sekedar untuk beroleh alasan buat menghukum kami, tentunya.

BANGSAWAN TUA:
Ia pengecut!

BANGSAWAN II:
Ia kejam!

BANGSAWAN III:
Seorang pemain sandiwara.

BANGSAWAN TUA
Ia seorang yang mati pucuk.

SEBUAH ADEGAN KEKACAUAN LIAR. SENJATA DIHUNUS, SEBUAH MEJA


DIBALIKKAN. SEMUANYA BERLARI KE PINTU. WAKTU ITU MASUK CHEREA,
TENANG SEBAGAI BIASA, LALU MENGHENTIKAN KERIBUTAN MEREKA.

Adegan Kedua

CHEREA:
Mau kemana tuan-tuan?

SEORANG BANGSAWAN:
Ke istana!

CHEREA:
Ah, aku mengerti. Tapi tuan-tuan kira akan diberi izin masuk, tuan-tuan?

SEORANG BANGSAWAN:
Kami tidak perlu minta izin

CHEREA:
Lepidus tolong tutupkan pintu itu. (PINTU LALU DITUTUP. CHEREA BERJALAN
KE ARAH MEJA YANG DIBALIKAN TADI LALU DUDUK DI ATAS SEBUAH
SUDUTNYA. YANG LAIN MENGHADAP KEPADANYA) Soal ini tidak semudah yang
tuan-tuan kira, kawan-kawan. Tuan-tuan takut, tapi cemas tidak dapat
menggantikan tempat ketabahan dan pembebasan. Secara ringkas: Tuan-tuan
terlalu terburu nafsu.

SEORANG KESATRIA:
Kalau kau tidak mau ikut serta, suka hati kaulah! Tapi tutuplah mulutmu.

25 dari koleksi Teater Sae


CHEREA:
Rasanya aku ikut saudara-saudara. Tapi janganlah salah terima, tidak karena
alasan yang sama.

SEBUAH SUARA:
Cukup sudah omong kosong!

CHEREA:
Baik, cukup! Sekarang mari kita bicarakan kenyataan sebenarnya. izinkan
terlebih dulu aku mau memberikan penjelasan tentang diriku. Biarpun aku ikut
tuan-tuan, tak berarti aku sependapat dengan tuan-tuan. Aku berpendapat
tuan-tuan, bahwa tuan-tuan telah memilih jalan yang salah. Tuan-tuan belum
lagi membuat ukuran yang sebaik-baiknya dari musuh tuan-tuan. Ini jelas,
karena tuan-tuan telah melekatkan kepadanya alasan-alasan yang tetek
bengek. Tapi dalam diri Caligula tidak ada tetek bengek itu. Dan tuan-tuan
hanya mempersiapkan diri untuk jatuh. Tuan-tuan akan lebih dapat
mempersiapkan diri dengan baik jika tuan-tuan memandangnya sebagaimana
ia sebenarnya.

SUATU SUARA:
Kami memandang dia sebagaimana dia adanya, penindas yang gila.

CHEREA:
Tidak. Kita cukup kenal pada kaisar-kaisar yang gila. Tapi yang ini belum
cukup gila. Yang aku jijikan dalam dirinya adalah ini: ia tahu apa yang dia mau.

BANGSAWAN I:
Kamipun tahu: ia mau membunuh kita semua.

CHEREA:
Tuan khilaf. Kematian kita baginya bukan soal yang pokok. Ia memakai
kekuasaannya untuk kepentingan suatu nafsu yang lebih tinggi dan lebih
tajam. Nafsu ini mengancam segala yang kita anggap suci. Memang benar,
bukan inilah kali pertama Roma mengenal seseorang yang punya kekuasaan
tak terbatas. Tapi kali inilah baru terjadi seseorang yang tidak membatasi
pemakaian kekuasaan itu, dan yang menganggap manusia dan dunia yang kita
kenal tidak berharga samasekali. Ini yang mengerikanku terhadap Caligula dan
inilah yang mau kulawan. Kehilangan jiwa bukanlah soal yang besar. Jika
sampai waktunya aku pun cukup tabah untuk mengorbankan jiwaku. Tapi yang
tak sanggup diderita ialah jika dari hidup kita direnggutkan tujuannya, jika
kepada kita dinyatakan bahwa hidup ini tidak ada artinya sama sekali. Seorang
manusia tidak bisa hidup tanpa suatu tujuan.

BANGSAWAN I:
Pembalasan dendam adalah suatu tujuan

dari koleksi Teater Sae 26


CHEREA:
Ya, dan aku akan ikut dengan tuan-tuan, tetapi aku bukan mau menolong tuan-
tuan untuk membalaskan kemarahan yang tak berarti itu. Tidak, jika aku
menyatukan diri dengan tuan-tuan, maka ini adalah karena aku mau melawan
sebuah cita-cita besar – sebuah cita-cita – yang jika ia menang akan
memusnahkan segala-galanya. Aku tidak peduli jika tuan-tuan dijadikan olok-
olok, tapi aku tidak akan sampai hati membiarkan Caligula melaksanakan
pikirannya sampai ke akar-akarnya. Ia merubah filsafatnya jadi mayat manusia,
sedangkan filsafat ini – celakanya – mulai
dari awal sampai akhirnya cukup logis, cukup masuk akal. Kita akan memukul
jika pikiran kita tidak dapat lagi menjelaskan.

SEBUAH SUARA:
Kita harus bertindak.

CHEREA:
Kita harus bertindak, aku setuju. Tapi suatu serangan dari depan tidak ada
gunanya jika kita menghadapi seorang kaisar gila yang sedang berada di
puncak kebesarannya. Kita boleh mengangkat senjata melawan seorang
penindas, tapi muslihat diperlukan untuk menghancurkan suatu niat jahat. Kita
hanya dapat menganjur-anjurkan supaya mengikuti liku-liku pikirannya, dan
menunggu kesempatan sampai logikanya karam dalam suatu kegilaan yang
betul. Sebagai tuan-tuan lihat, aku lebih suka berterus terang, dan aku
peringatkan bahwa aku hanya sementara mengikuti tuan-tuan. Yang
kukehendaki hanya suatu ketenteraman pikiran dalam sebuah dunia yang
kembali telah memperoleh artinya. Yang mendorong aku bukan ambisi tapi
ketakutan, ketakutan yang wajar terhadap pandangan yang mengerikan
dimana kehidupan tidak lebih artinya dari pada secercah debu.

BANGSAWAN I: (SAMBIL MENDEKATI CHEREA).


Aku paham apa yang kau maksud, Cherea. Bagaimana pun juga yang penting
ialah bahwa kau juga merasa seluruh masyarakat terancam. Tuan-tuan aku kira
kita setuju dengan aku bahwa alasan kita yang terpenting bersifat moril.
Kehidupan kekeluargaan kini hancur luluh, rasa hormat terhadap pekerjaan
yang jujur tidak ada lagi, suatu gelombang kebobrokan moril memukul keras
seantero negara. Siapakah diantara kita yang tidak peduli terhadap panggilan
kesalehan nenek-moyang kita yang sedang terancam bahaya!? Sesama
pemberontak! Apakah tuan-tuan dapat membiarkan keadaan dimana kaum
bangsawan dipaksa berlari, seperti budak belian, di samping tandu Kaisar?

BANGSAWAN TUA:
Apakah kalian mau membiarkan diri dipanggil “Cintaku sayang”?

SEBUAH SUARA:
Dan istri kita direbut?

27 dari koleksi Teater Sae


SUARA LAIN:
Dan harta kita?

SEMUA BERSAMA:
Tidak!?

BANGSAWAN I:
Cherea, nasehatmu baik sekali. Dan usahamu menenangkan kami kusetujui
betul-betul. Waktu belum matang lagi untuk bertindak. Rakyat masih banyak
yang akan menentang kita. Sudikah kau bersama kami memeriksa - kapan
saat sebaiknya untuk memberikan pukulan —dan memukul dengan sekeras-
kerasnya?

CHEREA:
Ya, aku bersedia. Sementara ini biarkan Caligula mengikuti angan-angannya.
Atau sebaiknya mari kita anjurkan dia untuk melaksanakan rencananya yang
paling gila. Mari kita masukan suatu system ke dalam kegilaannya. Nanti, suatu
hari akan tiba, dimana ia tinggal sendiri. Seorang manusia lengang, di kerjaan
orang mati dan sanak keluarga orang mati.

TERDENGAR SUARA HIRUK PIKUK, BUNYI TEROMPET KEDENGARAN DI


LUAR. LALU DIAM, TAPI SUARA KECIL MEMBISIKAN NAMA:
“C A L I G U L A”

Adegan Ketiga

CALIGULA DAN CAESONIA MASUK DIIRINGKAN OLEH HELICON DAN BEBERAPA


ORANG PENGAWAL. SEMUA DIAM. CALIGULA BERHENTI DAN MEMANDANGI
PEMBERONTAK-PEMBERONTAK ITU. DENGAN TIDAK BERKATA SEPATAH KATA
PUN, IA PERGI DARI BANGSAWAN YANG SATU KE BANGSAWAN YANG LAIN, IA
LURUSKAN BUNGKUK BAHU SESEORANG, MUNDUR BEBERAPA LANGKAH
UNTUK MERENUNGI YANG LAIN, MELEMPARKAN PANDANG, KEMUDIAN
MENUTUP MATANYA DENGAN LENGAN LALU KELUAR DENGAN TAK
MENGUCAPKAN KATA SEPATAHPUN.

Adegan keempat

CAESONIA: (DENGAN IRONIS SAMBIL MENUNJUKAN KEKACAUAN YANG


TERDAPAT DALAM RUANG ITU)
Apa tuan-tuan habis berkelahi?

dari koleksi Teater Sae 28


CHEREA:
Ya, kami habis berkelahi.

CAESONIA: (DENGAN SUARA SAMA).


Ah, betulkah!? Boleh aku tahu apa yang tuan-tuan perkelahikan?

CHEREA:
Tidak apa-apa.

CAESONIA:
Jadi, kalau begitu tidak betul?

CHEREA:
Apa yang tidak betul?

CAESONIA:
Tuan-tuan tidak berkelahi.

CHEREA:
Kalau begitu katamu apa boleh buat. Kami tidak berkelahi.

CAESONIA: (TERSENYUM).
Barangkali lebih baik kau bereskan tempat ini, Caligula tidak suka pada tempat
yang kotor

HELICON: (KEPADA BANGSAWAN TUA)


Akhir-akhirnya tuan akan mati karena memaksa dia melakukan sesuatu diluar
wataknya.

BANGSAWAN TUA:
Maaf. Apa yang telah kami lakukan?

HELICON:
Tidak apa-apa. Justru tidak apa-apa. Mengagumkan betul perasaan sia-sia
dalam hal ini. Bisa menjadikan kita sakit syaraf. Coba, misalkan tuan-tuan jadi
Caligula. (DIAM SEBENTAR) Aku mengerti. Rupanya orang lagi asyik membuat
komplotan.

BANGSAWAN TUA:
Ini kelewatan. Aku berharap Caligula tidak akan mengira…..

HELICON:
Ia tidak mengira. Ia tahu. Tapi kukira, pada dasarnya, hal ini menyenangkan
hatinya juga. Tapi mari kita bereskan kamar ini.

SEMUANYA SIBUK. CALIGULA MASUK. IA MEMPERHATIKAN.

29 dari koleksi Teater Sae


Adegan Kelima

CALIGULA: (PADA BANGSAWAN TUA).


Selamat, cintaku sayang. (KEPADA YANG LAIN). Tuan-tuan, aku sedang menuju
pelaksanaan sebuah hukuman mati. Tapi aku merasa alangkah baiknya aku
mampir sebentar ke rumahmu Cherea, untuk bersantap sedikit. Aku sudah
memberikan perintah supaya dibawa makanan kemari untuk kita semua. Tapi
panggilah istri tuan-tuan dulu. (DIAM SESAAT). Rafius sebetulnya harus
bersyukur karena aku lapar. (DENGAN BERSIKAP MERAHASIA). Aku mau
mengatakan kepada tuan-tuan, Rafiuslah kesatria yang mau dihukum mati hari
ini. (DIAM LAGI). Ada apa ini? Tidak seorang pun diantara tuan-tuan yang
bertanya mengapa ia kusuruh dibunuh? (TIDAK SEORANG PUN YANG BICARA.
SEMENTARA ITU PELAYAN-PELAYAN MENGHIDANGKAN MAKANAN). Bagus,
bagus! Rupa-rupanya tuan-tuan sudah mulai agak cerdas sedikit. (IA
MENGUDAP SEBUAH BUAH ZAITUN). Rupanya tuan-tuan sudah mulai mengerti
bahwa seseorang untuk beroleh hukuman mati tidak perlu melakukan
perbuatan salah. (IA BERHENTI MAKAN, LALU MEMANDANG KEPADA YANG
HADIR). Prajurit-prajuritku, aku betul-betul bangga atas diri kalian. (TIGA
EMPAT PEREMPUAN MASUK). Bagus. Mari kita duduk. Hari ini tidak ada
protokol. (SEMUANYA DUDUK). Pendeknya tidak dapat disangsikan, bahwa
sahabat kita Rafius untung besar. Tapi aku tidak tahu apa ia senang dengan
pengunduran ini. Kematiannya kita undurkan beberapa jam. Itu sama nilainya
dengan emas! (IA MULAI MAKAN. YANG LAIN IKUT. CALIGULA
MEMPERLIHATKAN TATA TERTIB MAKAN YANG BURUK SEKALI. IA
MELEMPARKAN BIJI ZAITUN KE DALAM PIRING ORANG DI SAMPINGNYA,
MELUDAH SISA MAKAN KE ATAS MAKANAN, ATAU MENCUNGKIL GIGI DENGAN
JARI, ATAU MENGGARUKKAN KEPALA DENGAN SEJADI-JADINYA. SELAMA
MAKAN ITU DIA BERTINDAK DENGAN TIDAK MENUNJUKKAN RASA MINTA MAAF
SEDIKIT JUGAPUN. TIBA-TIBA IA BERHENTI MAKAN, MEMANDANG KEPADA
LEPIDUS, SALAH SEORANG YANG HADIR LALU BERKATA DENGAN KASAR). Kau
marah-marah kelihatannya, Lepidus. Apa barangkali karena anakmu kubunuh?

LEPIDUS: (DENGAN LEMBAB)


Tidak, Caius. Bahkan sebaliknya.

CALIGULA: (MENIRU LEPIDUS)


“Bahkan sebaliknya”. Aku selalu senang melihat wajah yang menyembunyikan
rahasia hati. Wajahmu suram, bagaimana hatimu? Bahkan sebaliknya, bukan
begitu, Lepidus?

LEPIDUS: (DENGAN SEDIKIT NGOTOT)


Bahkan sebaliknya, Caesar.

dari koleksi Teater Sae 30


CALIGULA: (YANG MAKIN LAMA MAKIN SENANG PADA KEADAAN SEPERTI)
Percayalah, Lepidus, tidak ada orang yang lebih kusenangi selain engkau. Kini
mari kita tertawa bersama-sama kawan. Coba ceritakan sebuah cerita yang
lucu.

LEPIDUS: (YANG TAK DAPAT MENAHAN LEBIH LAMA LAGI)


Caius…!

CALIGULA:
Baik, baik! Kalau begitu, aku saja yang cerita. Tapi kau Lepidus, kau akan
tertawa, bukan? (DENGAN PANDANGAN JAHAT) Biarpun untuk keselamatan
anakmu yang kedua. (TERSENYUM LAGI). Pendekanya, sebagaimana kau tadi
katakan, kau tidak berada dalam gundah. (IA MINUM LALU BERKATA LAYAKNYA
SEORANG GURU YANG MENUNJUKI MURIDNYA). Bahkan….bahkan…. Ah, Ayolah
lepidus…. bahkan…..

LEPIDUS: (DENGAN SUSAH PAYAH)


Bahkan sebaliknya, Caesar.

CALIGULA:
Bagus. (MINUM LAGI) Sekarang dengarkan. (DENGAN SUARA YANG RAMAH
DAN JAUH). Pada suatu ketika hiduplah seorang Kaisar yang muda yang tidak
dicintai oleh siapapun juga. Ia cinta pada Lepidus. Untuk memusnahkan cinta
ini dari hatinya, maka dibunuhnyalah anak Lepidus yang bungsu. (DENGAN
SUARA LEBIH KERAS). Tidak usah disebutkan, bahwa ini tidak betul sama
sekali. Tapi bagaimana pun juga cerita ini masih cukup lucu bukan? Tapi kau
tidak tertawa. Tidak seorang pun yang tertawa. Dengar! (DENGAN SUARA
AMARAH). Aku perintahkan supaya semua tertawa! Kau Lepidus, pimpin
paduan suara ini! Ayolah, berdiri semuanya dan ketawa! (IA MEMUKUL MEJA).
Apa kalian dengar yang kukatakan? Aku mau kalian semua tertawa! (SEMUA
YANG HADIR BERDIRI. SELAMA ADEGAN INI, SEMUA PEMAIN BERLAKU
SEPERTI BONEKA-BONEKA DALAM SEBUAH PERTUNJUKAN WAYANG, KECUALI
CALIGULA DAN CAESONIA. CALIGULA BERSANDAR KEMBALI KE BANTALNYA,
BERBINAR-BINAR KARENA RIANGNYA DAN TERTAWA TERBAHAK-BAHAK). Oh,
Caesonia, lihatlah! Permainan selesai sudah. Kehormatan, kecerdasan dan
martabat seluruh negara, hilang ditiup angin! Angin ketakutan telah
meniupnya sampai habis. Ketakutan, Caesonia – moga-moga kau setuju –
adalah suatu keharuan yang mulia, murni dan bersahaja, berdiri sendiri. Tidak
ada yang seperti itu. Ia beroleh cap kemuliaannya langsung dari perut. (IA
MEMUKUL KENINGNYA LALU MINUM LAGI. DENGAN BAHASA YANG RAMAH) Ya,
ya. Mari kita
bicarakan soal lain saja. Apa pikiranmu, Cherea? Kau diam betul selama ini.

CHEREA:
Aku sedia untuk bicara, Caius. Dengan izinmu.

31 dari koleksi Teater Sae


CALIGULA:
Bagus. Kalau begitu - jangan bicara. Aku lebih suka mendengar kawan kita
Mucius.

MUCIUS: (DENGAN ENGGAN)


Dengan segala senang hati, Caius.

CALIGULA:
Ceritakan sedikit pada kami perihal istrimu. Sebelum itu, suruh dia duduk di
sini, di sebelah kananku (ISTRI MUCIUS DUDUK DI SEBELAH CALIGULA). Nah,
Mucius! Kami menunggu.

MUCIUS: (HAMPIR-HAMPIR TAK TAHU APA YANG MESTI DIKATAKAN).


Istriku. Aku cinta padanya. (YANG LAIN KETAWA).

CALIGULA:
Tentu, sahabatku, tentu. Alangkah tololnya kau. Apa tidak ada ucapan yang
lebih cemerlang dari itu lagi. (IA BERSANDAR KEPADA ISTRI MUCIUS LALU
MENGGELITIK BAHUNYA DENGAN SENANG DENGAN LIDAHNYA. CALIGULA
YANG MAKIN LAMA MAKIN SENANG, BERKATA). Sambil lalu, waktu tadi aku
masuk, tuan-tuan rupanya sedang merencanakan sebuah komplot. Suatu
pemberontakan, hmm…manis, kan?

BANGSAWAN TUA:
Oh, Caius…..

CALIGULA:
Tidak apa, dik sayang. Usia yang lanjut akan dihormati. Aku tak akan gusar.
Tidak seorang pun diantara tuan-tuan yang punya kesanggupan untuk
menajadi pahlawan…. Ah, aku ingat, ada beberapa hal yang harus kubereskan.
Tapi sebelum itu, aku mau melepaskan hasrat tubuh dulu. (IA BERDIRI DAN
MENGAJAK ISTRI MUCIUS MASUK KE KAMAR SEBELAH.
MUCIUS BERDIRI DARI DUDUKNYA).

Adegan Keenam

CAESONIA: (DENGAN MANIS).


Oh, Mucius, tolong tuangkan buatku lagi anggur yang sedap itu (MUCIUS
MELAKUKAN APA YANG DIMINTA PADANYA; GERAKAN-GERAKAN HENDAK
MELAWAN YANG ADA PADANYA HILANG. SEMUA YANG HADIR TERCENGANG.
KURSI BERDERIK-DERIK. PERCAKAPAN DILANJUTKAN DENGAN SUARA YANG
KAKU. CAESONIA MENGHADAP PADA CHEREA). Cherea, coba ceritakan
mengapa kalian tadi berkelahi?

dari koleksi Teater Sae 32


CHEREA: (DINGIN).
Dengan segala senang hati, Caesonia. Percekcokkan kami timbul dari
perdebatan apakah puisi mestinya haus darah atau tidak.

CAESONIA:
Ah, masalah itu menarik sekali. Agak terlalu sulit buat otak perempuanku,
tentu. Tapi masih juga aku tercengang melihat kecintaan tuan-tuan kepada seni
dapat - menimbulkan perkelahian.

CHEREA: (DENGAN SUARA YANG SAMA)


Itu aku dapat mengerti. Aku ingat ucapan Caligula baru-baru ini. Katanya,
setiap kekhusukan selalu mengandung keganasan.

CAESONIA: (SAMBIL MAKAN).


Itu ada juga benarnya. Bagaimana tuan-tuan?

BANGSAWAN TUA:
Tentu. Caligula punya pandangan yang tajam terhadap segi-segi rahasia dari
hati manusia.

BANGSAWAN I:
Alangkah fasihnya ia waktu membicarakan semangat.

BANGSAWAN II:
Sebetulnya ia harus menuliskan pikiran-pikirannya itu. Tentu banyak sekali
gunanya.

CHEREA:
Dan apa yang lebih penting lagi dari itu, ia dapat mengisi waktunya. Terang
sudah ia memerlukan sesuatu untuk mengisi waktu kosongnya.

CAESONIA: (SAMBIL MAKAN).


Tuan-tuan akan gembira mendengar bahwa Caligula sepikiran dengan tuan-
tuan. Ia sedang mengerjakan sebuah buku kini. Mungkin sekali sebuah buku
yang besar.

Adegan Ketujuh

CALIGULA MASUK DIIRINGKAN ISTRI MUCIUS

CALIGULA:
Musicus, ini kukembalikan istrimu dengan ucapan terima kasih. Maafkan aku
masih ada pekerjaan. (IA KELUAR DENGAN CEPAT. MUCIUS JADI PUCAT DAN
BERDIRI).

33 dari koleksi Teater Sae


Adegan Kedelapan

CAESONIA: (KEPADA MUCIUS YANG MASIH BERDIRI).


Bukunya ini pasti sama tingkatnya dengan kita-kitab latin lama kita. Mucius,
kau dengar apa yang kukatakan?

MUCIUS: (PANDANGANNYA MASIH TERPAKU KE PINTU DARI MANA CALIGULA


KELUAR).
Ya, perihal apa buku itu, Caesonia?

CAESONIA: (DENGAN TAK PEDULI).


Oh, itu aku tak tahu.

CHEREA:
Apakah kiranya ia membicarakan kekuasaan berdarah dari puisi?

CAESONIA:
Ya, kira-kira begitulah.

BANGSAWAN TUA: (DENGAN RIANG).


Bagaimanapun juga, seperti dikatakan kawan kita Cherea, pekerjaan itu akan
mengisi waktunya.

CAESONIA:
Ya, sayang. Tapi ada sesuatu yang barangkali tak kau suka pada buku itu.
Titelnya.

CHEREA:
Apa titelnya?

CAESONIA:
Baja dingin.

CALIGULA MASUK DENGAN CEPAT

Adegan Kesembilan

CALIGULA:
Maaf, tapi ada kepentingan negara yang lagi mendesak. (KEPADA BENTARA).
Bentara, semua lumbung-lumbung buat umum harus kau tutup. Perintah
untuk itu sudah kutandatangani. Boleh kau ambil di ruang kerjaku

dari koleksi Teater Sae 34


BENTARA:
Tapi….

CALIGULA:
Besok, kelaparan akan mulai.

BENTARA:
Rakyat nanti akan berontak.

CALIGULA: (PERKASA DAN JELAS).


Kuulangi. Besok kelaparan mulai. Kita semua tahu apa arti kelaparan - suatu
bencana. Besok akan terjadi bencana, dan aku akan mengakhiri bencana ini
kapan aku kusukai. (IA MENERANGKAN KEPADA YANG LAIN). Padaku tak begitu
banyak cara untuk membuktikan kebebasanku. Jika kita mau bebas maka itu
cuma bisa atas kerugian orang lain. Gila kedengarannya, tapi memang sudah
begitu. (DENGAN SUATU KILATAN KEPADA MUCIUS). Cobakanlah prinsip ini
pada kecemburuanmu - nanti kau akan mengerti lebih baik. (DENGAN SUARA
KE DALAM). Sungguhpun begitu alangkah buruknya cemburu itu! Suatu
penyakit dari kekenesan dan angan-angan. Coba bayangkan, istri kita
sendiri…(MUCIUS MENGEPALKAN TINJUNYA DAN MEMBUKA MULUT UNTUK
BICARA, TAPI CALIGULA MEMOTONG DENGAN CEPAT). Nah, tuan-tuan,
sekarang kita teruskan persantapan kita. Tahukah tuan-tuan bahwa kami
dengan pertolongan Helicon telah bekerja keras? Kami menyelesaikan sebuah
tulisan kecil mengenai hukuman mati. Tentang ini tentu banyak yang tuan-tuan
mau katakan.

HELICON:
Coba, kami tanya pendapat kau..

CALIGULA:
Kau harus tahu basa-basi, Helicon. Antarkan mereka ke dalam rahasia-rahasia
kecil kita. Ayolah, berikan mereka sebuah contoh. Bagian ketiga, bab pertama.

HELICON: (BERDIRI MEMBACA DENGAN SUARA KERAS).


“Hukuman bunuh menentramkan dan membebaskan. Sifatnya universal,
bersifat memperkuat, dan tepat dalam pemakaiannya seperti dalam tujuannya.
Seorang manusia mati karena ia bersalah. Seseorang bersalah karena ia adalah
rakyat Caligula. Dengan begitu, maka semua orang bersalah dan harus mati.
Cuma soal waktu dan kesabaran”.

CALIGULA: (TERTAWA).
Bagaimana tuan-tuan? Kesabaran itu bagus juga dimasukkan, bukan?
Ketahuilah, yang paling aku senangi pada tuan-tuan ialah satu…kesabaran
tuan-tuan. Sekarang tuan-tuan dipersilakan pergi. Cherea tidak memerlukan
kalian lagi. Caesonia, aku mau kau tinggal di sini. Kau juga kau Lepidus. Juga

35 dari koleksi Teater Sae


sahabat kami Mereia. Saya mau bicara dengan tuan-tuan tentang rumah
pelacuran nasional. Jalannya tak begitu
Baik. Saya merasa khawatir perihalnya. (YANG LAIN KELUAR PERLAHAN.
CALIGULA MENGIKUTI MUCIUS DENGAN MATANYA).

Adegan Kesepuluh

CHEREA:
Dengan senang hati, Caius. Tapi apa sebabnya? Apakah pimpinannya tidak
cukup pandai?

CALIGULA:
Bukan, tapi pendapatan mundur.

MEREIA:
Kalau begitu naikkan saja bayaran masuk.

CALIGULA:
Ha, Mereia, kau melepaskan kesempatan yang bagus sekali untuk menutup
mulut. Kau tak tertarik pada soal ini. Untuk itu kau terlalu tua. Aku tidak perlu
pikiranmu.

MEREIA:
Kalau begitu, kenapa aku disuruh tinggal?

CALIGULA:
Karena, dengan segera aku akan memerlukan nasehat yang dingin dan tak
terburu-buru. (MEREIA MENGUNDURKAN DIRI).

CHEREA:
Kalau aku boleh mengutarakan pendapatku dengan nafsu, maka aku ingin
menyatakan, bahwa salah besar jika harga masuk dinaikkan.

CALIGULA:
Jelas sudah. Yang diperlukan adalah perputaran yang lebih besar. Aku telah
menceritakan rencana penganjuranku kepada Caesonia dan ia nanti akan
menceritakannya kepada kau. Aku sendiri rupanya terlalu banyak minum
anggur. Aku mengantuk. (IA MEREBAHKAN DIRI. LALU MENUTUP MATANYA).

CAESONIA:
Mudah sekali. Caligula telah menciptakan sebuah bintang jasa yang baru.

CHEREA:
Aku belum melihat hubungannya dalam soal ini.

dari koleksi Teater Sae 36


CAESONIA:
Belum? Ada hubungannya. Bintang ini akan dinamai bintang pahlawan sipil dan
akan dihadiahkan kepada mereka yang paling sering mengunjungi rumah
pelacuran Caligula.

CHEREA:
Akal ini luarbisa sekali.

CAESONIA:
Memang. Oh, aku lupa mengatakan, bahwa bintang itu akan diberikan setiap
bulan setelah pemeriksaan kartu masuk. Setiap rakyat yang belum memperoleh
bintang ini dalam 12 bulan akan dibuang atau dibunuh.

CHEREA:
Mengapa “atau dibunuh”?

CAESONIA:
Karena Caligula mengatakan keduanya sama saja. Yang penting ialah bahwa ia
punya hak memilih.

CHEREA:
Sabas! Perbendaharaan negara akan dapat mengatasi kekurangannya dalam
sedikit waktu.

CALIGULA MEMBUKA MATANYA SEDIKIT DAN MEMPERHATIKAN MEREIA YANG


SUDAH TUA, BERDIRI DI SUDUT. IA MENGELUARKAN SEBUAH BOTOL KECIL
DAN MULAI MEMINUM ISI BOTOL ITU SEDIKIT-SEDIKIT.

CALGULA: (MASIH SAJA BERBARING)


Apa yang kau minum Mereia?

MEREIA :
Obat asma, Caius.

CALIGULA: (TEGAK DAN SAMBIL MENOLAKKAN YANG LAIN KESAMPING, PERGI


KE TEMPAT MEREIA LALU MEMBAUI MULUTNYA)
Bukan! Ini tangkal racun.

MEREIA:
Bukan, Caius. Kau main-main. Malam hari aku sering sesak napas dan aku
sudah lama dalam rawatan dokter.

CALIGULA:
Jadi kau takut diracun, kan?

37 dari koleksi Teater Sae


MEREIA:
Asmaku….

CALIGULA:
Dusta! Mengapa sembunyi-sembunyi. Kau takut aku meracuni kau. Kau curiga
padaku. Kau mengintip-intip aku.

MEREIA:
Tidak betul. Demi segala dewa-dewa.

CALIGULA:
Kau curiga padaku. Kau tak percaya padaku.

MEREIA:
Caius…!

CALIGULA: (KASAR).
Jawab! (DENGAN SUARA YANG DINGIN SEPERTI ORANG BERHITUNG). Jika kau
minum tangkal racun, artinya kau memberikan niat padaku untuk meracuni
kau.

MEREIA:
Ya….maksudku….tidak.

CALIGULA:
Dan karena kau mengira aku akan meracuni kau, kau bersiap untuk
menggagalkan maksudku. curiga padaku, berartib kau siap menggagalkan
maksudku. (IA DIAM, SEMENTARA ITU CAESONIA DAN CHEREA TELAH
MUNDUR KE BAGIAN BELAKANG PANGGUNG. LEPIDUS MEMPERHATIKAN
MEREKA YANG SEDANG BICARA ITU DENGAN TAKUT). Itu berarti dua
kesalahan, Mereia, dan sebuah kesulitan yang tak dapat kau elakkan. Sekiranya
aku tak bermaksud meracuni kau, dalam hal ini dengan semena-mena kau
telah mencurigai aku. Kaisarmu. Dan kalau sekiranya aku memang
menginginkan kematianmu, maka dalam hal ini kau telah berusaha
menghalangi kemauanku. (DIAM LAGI. CALIGULA MERENUNGI ORANG TUA ITU
DENGAN GELI). Bagaimana Mereia? Apa pikiranmu tentang logikaku ini?

MEREIA:
Kedengarannya….cukup….cukup masuk akal, Caius. Cuma tidak ada
hubungannya dengan soal ini.

CALIGULA:
Kejahatan ketiga. Kau menganggap aku pandir. Duduklah dan dengarkan aku
baik-baik. (KEPADA LAPIDUS). Kau juga. (KEPADA MEREIA LAGI). Di antara
ketiga kejahatan ini hanya satu yang memberikan gengsi kau; yang kedua -
dengan menuduhku aku hendak melakukan sesuatu dan kemudian berusaha

dari koleksi Teater Sae 38


menggagalkannya, berarti kau telah melawan aku. Kau seorang pemberontak,
seorang pemimpin revolusi. Dan ini berarti keberanian. (DENGAN SEDIH). Aku
suka kepada kau Mereia. Karena itu kau akan dihukum berdasarkan kejahatan
nomor dua, dan bukan berdasarkan kedua yang lain. Kau akan mati terhormat
– kematian seorang pemberontak. (SEDANG IA BICARA ITU, MEREIA TELAH
REMUK REDAM DALAM KURSINYA). Tak usah berterima kasih. Itu sudah galib.
Ini (IA MENGELUARKAN SEBUAH BOTOL KECIL. SUARANYA RAMAH). Minum
racun ini. (MEREIA MENGGELENGKAN KEPALANYA. IA MENANGIS. CALIGULA
MENUNJUKKAN TANDA-TANDA BAHWA IA TAK SABAR). Jangan menghilangkan
waktu. Minum. Mereia. (MEREIA MENCOBA MELEPASKAN DIRI DENGAN SIA-
SIA. TAPI CALIGULA MELOMPAT DAN MEMEGANG DI TENGA-TENGAH
PANGGUNG DAN SETELAH BERGUMUL SEBENTAR LALU MENEKANNYA KE ATAS
SEBUAH BANGKU RENDAH. DIA MEMAKSAKAN BOTOL ITU ANTARA BIBIR
MEREIA LALU IA PECAHKAN DENGAN PUKULAN TINJUNYA. SETELAH
MENGGELEPAR-GELEPAR SEBENTAR, LALU MENINGGAL. MUKANYA
BERCUCURAN DARAH DAN AIR MATA. CALIGULA BERDIRI, MENGGOSOKKAN
TANGANNYA DENGAN HAMPIR-HAMPIR TAK SADAR, LALU MEMBERIKAN BOTO
MEREIA KEPADA CAESONIA). Apa isinya? Tangkal racun, bukan?

CAESONIA: (TENANG).
Tidak Caligula. Obat asma.

CALIGULA: (SAMBIL MERENUNGI MEREIA)


Tidak apa. Akhirnya toh sama juga. Kini atau besok…..(IA KELUAR TERBURU-
BURU MASIH MENGGOSOK-GOSOKKAN TANGANNYA).
TANGANNYA

Adegan Kesebelas

LEPIDUS: (DENGAN SUARA GEMETAR).


Apa yang harus kita lakukan?

CAESONIA: (DINGIN).
Angkat mayat ini dulu. Tidak enak melihatnya. (CHEREA DAN LEPIDUS
MENGGOTONG MAYAT KELUAR SAMPING).

LEPIDUS: (KEPADA CHEREA).


Kita harus bertindak cepat.

CHEREA:
Kita perlu sekurang-kurangnya dua ratus orang. (SCIPION MUDA MASU.
SETELAH MELIHAT CAESONIA IA MEMPERLIHATKAN GELAGAT SEOLAH-OLAH
HENDAK PERGI).

39 dari koleksi Teater Sae


Adegan Keduabelas

CAESONIA:
Mari.

SCIPION:
Perlu apa?

CAESONIA:
Kemarilah. (DIANGKATNYA DAGU SCIPION. DIAM SEBENTAR. KEMUDIAN
DENGAN SUARA YANG TENANG TANPA RASA HARU). Telah ia bunuh ayahmu,
kan?

SCIPION:
Ya.

CAESONIA:
Kau menaruh dendam padanya?

SCIPION:
Ya.

CAESONIA:
Kau mau membunuh dia?

SCIPION:
Ya.

CAESONIA: (SAMBIL MENARIK TANGANNYA).


Buat apa kau ceritakan padaku?

SCIPION:
Karena aku tak takut pada siapapun juga. Membunuh atau di bunuh sama saja.
Lagi pula kau tak akan mengkhianati aku.

CAESONIA:
Benar, aku tak akan mengkhianati kau. Tapi ada yang mau kuceritakan pada
kau – atau lebih baiknya, aku mau bicara hal yang terbaik yang ada dalam
dirimu.

SCIPION:
Yang terbaik dalam diriku, ialah dendam.

CAESONIA:

dari koleksi Teater Sae 40


Dengarkan baik-baik apa yang mau kukatakan. Brangkali agak susah dipahami,
tetapi sebetulnya ia jelas seperti siang. Tapi, kalau didengarkan baik-baik
ucapanku ini adalah suatu ucapan yang akan dapat menyelesaikan satu-
satunya revolusi terakhir dalam dunia ini.

SCIPION:
Cepat katakan.

CAESONIA:
Tunggu dulu. Coba gambarkan lukisan kematian ayahmu, kengerian dalam
wajahnya waktu orang merenggutkan lidahnya. Bayangkan darah yang
mengalir dari mulutnya, dan dengarkan kembali teriakannya, sebagai seekor
hewan yang disiksa.

SCIPION:
Ya.

CAESONIA:
Sekarang, coba pikirkan Caligula.

SCIPION: (DENGAN SUARA YANG PENUH KEBENCIAN).


Ya.

CAESONIA:
Sekarang dengarkan. Coba maklumi dia. (CAESONIA KELUAR, MENINGGALKAN
SCIPION DENGAN TERCENGANG-CENGANG. HELICON MASUK).

Adegan Ketigabelas

HELICON:
Caligula segera datang kemari. Kau pergilah dulu makan, penyair.

SCIPION:
Helicon, tolonglah aku.

HELICON:
Berbahaya, merpatiku. Dan puisi tak berarti bagiku.

SCIPION:
Kau dapat menolong aku. Pengetahuan kau banyak.

HELICON:
Aku tahu bahwa hari lalu juga dan bahwa orang-orang muda harus makan pada
waktunya. Aku juga tahu kau mau membunuh Caligula…. dan ia tidak akan
peduli. (CALIGULA MASUK, HELICON KELUAR).

41 dari koleksi Teater Sae


Adegan Keempatbelas

CALIGULA:
Oh, kau?! (IA BERHENTI. KELIHATANNYA SEOLAH-OLAH IA AGAK BINGUNG).
Sudah lama kau tak kelihatan. (SAMBIL MENDEKATI SCIPION LAMBAT-
LAMBAT). Apa kerjamu selama itu? Masih menulis? Boleh kulihat karanganmu
yang terakhir?

SCIPION: (KELIHATANNYA KIKUK. BIMBANG ANTARA KEBENCIAN DAN


PERASAAN YANG TAK BEGITU JELAS).
Aku menulis sajak, Caesar.

CALIGULA:
Tentang apa?

SCIPION:
Tidak tahu, Caesar. Tentang alam barangkali.

CALIGULA: (MERASA LEBIH BIASA)


Pokok yang bagus. Dan kuat. Dan apa yang telah dilakukan alam bagi kau?

SCIPION (MENGUMPULKAN SEGALA SEMANGATNYA, DENGAN SIKAP AGAK


IRONIS).
Ia tidak menghibur aku karena ia tidak menjadikan aku Caesar.

CALIGULA:
Betul? Jadi menurut hemat kau alam dapat menghiburku karena aku jadi
Caesar.

SCIPION: (DENGAN SUARA YANG SAMA).


Mengapa tidak? Alam telah menyembuhkan luka yang lebih besar dari itu.

CALIGULA: (DENGAN SUARA YANG MUDA DAN DATAR).


Luka, kata kau? Dalam suaramu tersimpul kemarahan. Apa karena ayahmu
kubunuh? Sekiranya tahu kau betapa tepat kata yang kau pakai itu. Luka!
(MEROBAH LANGGAM BICARA). Ya, ya tak ada yang lebih baik untuk
mengembangkan kecerdasa daripada kebencian dan dendam.

SCIPION: (KAKU)
Aku menjawab tanyamu tentang alam.

CALIGULA DUDUK, IA MENATAP SCIPION, LALU MEMEGANG PERGELANGAN


TANGANYA DENGAN KASAR LALU MEMAKSA DIA UNTUK BERDIRI.
DIPEGANGNYA WAJAH ANAK MUDA ITU DI ANTARA KEDUA TANGANNYA.

dari koleksi Teater Sae 42


CALIGULA:
Bacakanlah sajakmu untukku.

SCIPION:
Jangan! Jangan suruh aku.

CALIGULA:
Mengapa tidak!?

SCIPION:
Aku tidak ingat.

CALIGULA:
Apa tidak bisa kau ingat-ingat?

SCIPION:
Tidak!

CALIGULA:
Ceritakan saja isinya.

SCIPION: (MASIH DENGAN RASA BERMUSUHAN DAN ENGGAN).


Aku menulis tentang semacam keselarasan….

CALIGULA: (MEMOTONG DENGAN SUARA MURUNG).


Antara bumi dan telapak kita.

SCIPION: (HERAN, BIMBANG, SEBENTAR KEMUDIAN MELANJUTKAN).


Ya, hampir serupa itu, dan juga tentang raut yang ikal dari bukit-bukit Roma
dan getaran tiba-tiba dari damai yang dibawakan senja padanya.

CALIGULA:
……Dan kicir-kicir burung layang-layang di udara hijau.

SCIPION: (MAKIN DIIKAT OLEH KEHARUANNYA).


Ya, ya. Dan saat yang indah waktu langit disirami dengan merah dan warna
emas membalik dan memperlihatkan seginya yang lain, bertaburkan bintang.

CALIGULA:
Dan bau yang redup dan asap dan pepohonan dan air yang bercampur dengan
kabut yang menguap.

SCIPION: (DENGAN SEMACAM EKSTASE).


Ya, dan derik-derik jangrik, kenyamanan menyelundupi hawa panas, derak
derik gerobak dan teriakan-teriakan petani, anjing yang menyalak.

43 dari koleksi Teater Sae


CALIGULA:
Dan jalanan tenggelam dalam bayangan berliku antara kebun-kebun zaitun.

SCIPION:
Ya, ya. Serupa itu betul! Bagaimana kau tahu?

CALIGULA: (SAMBIL MENARIK SCIPION KE DADANYA)


Entahlah! Barangkali kita mencintai kebenaran yang sama.

SCIPION: (GEMETAR KARENA TERHARU, MENEKANKAN KEPALANYA KE DADA


CALIGULA)
Ah, peduli apa. yang aku tahu betul ialah, bahwa segala yang kurasa atau
kupikirkan akhirnya menjadi cinta.

CALIGULA: (SAMBIL MENGELUS-ELUSNYA).


Itu, Scipion, adalah hak istimewa dari hati yang mulia. Ah, ingin aku menyertai
kejernihan kau. Tapi kesukaanku terhadap hidup terlalu besar. Tidak mungkin
dipuaskan alam. Kau tak akan mengerti itu. Dunia kau adalah dunia yang lain.
Arah kau semata-mata buat kebaikan; arahku semata-mata untuk kejahatan.

SCIPION:
Aku mengerti.

CALIGULA:
Tidak. Ada sesuatu dalam diriku, sebuah danau keheningan, sebuah lubuk air
tak mengalir, tetumbuhan yang busuk. (DENGAN LAGAK YANG TIBA-TIBA
BERUBAH). Sajakmu itu memang bagus kedengarannya. Tapi kau suka
mendengarkan pendapatku yang sebenarnya….

SCIPION: (MASIH DENGAN SIKAP TADI).


Ya.

CALIGULA:
Sajakmu itu kurang darah.

SCIPION: (MOMPAT TIBA-TIBA, SEOLAH-OLAH IA DIGIGIT ULAR, LALU


MEMANDANG DENGAN NANAR DAN DENGAN GUAS KEPADA CALIGULA.
DENAN PARAI IA BERTERIAK)
Oh, buasnya!!! Makhluk buas yang menjijikan! Kau menipu aku lagi. Aku tahu.
Kau mempermainkan aku. Dan kini kau puas.

CALIGULA: (DENGAN SUARA MURUNG).


Ada juga benarnya apa yang kau katakan itu. Aku memang tadi bermain.

SCIPION: (DENGAN SUARA SAMA).

dari koleksi Teater Sae 44


Alangkah kotor dan hitamnya hatimu. Alangkah besarnya deritamu dibuatkan
oleh kejahatan dan kebencianmu itu!

CALIGULA: (LEMBUT).
Sudahlah.

SCIPION:
Jijiknya aku. Kasihan aku melihat kau!

CALIGULA: (MARAH)
Cukup, kataku!

SCIPION:
Alangkah getirnya kesunyian seperti kesunyianmu ini.

CALIGULA: (DENGAN AMARAH TIBA-TIBA, SAMBIL MEMEGANG LEHER BAJU


SCIPION, LALU MENGGONCANG-GONCANGKANNYA).
Kesunyian! Apa kau tahu tentang itu? Cuma kesunyian penyair dan segala
orang yang lemah. Kau mengoceh tentang kesunyian, tapi kau tidak tahu
manusia tidak pernah sendiri. Kita selalu diikuti oleh beban yang sama dari
kelampauan dan keakanan. Mereka yang kita bunuh selalu bersama kita. Tapi
mereka bukanlah halangan yang besar. Justru orang yang kita cintai, yang
mencintai kita dan orang yang tidak kita cintai. Justru itu sesal, rindu, getir,
kemanisan lonte dan segala rombongan dewa-dewa. Selalu, selalu mengikuti
kita (IA MELEPASKAN SCIPION DAN MUNDUR KE TEMPATNYA TADI). Sendiri!
Ah, sekiranya dalam kesunyian ini, dalam belantara yang dirasuki hantu,
sekiranya dalam hal ini aku dapat
mengenal, biarpun untuk sesaat, keheningan sebenarnya, kesunyian
sebenarnya, kesunyian pohon yang mendenyutkan! (DUDUK SEPERTI
KELELAHAN). Sunyi? Tidak, Scipion. Ia penuh dengan gertak-gertak gigi,
mengerikan karena suara dan bunyi yang memekik-mekik. Jika aku bersama
perempuan-perempuan yang kumiliki, dan gelap melingkupi dan aku berpikir;
kini tubuhku telah beroleh kepuasan, sehingga aku merasa diriku punyaku
sendiri, terombang-ambing antara hidup dan mati, kesunyianku penuh dengan
bau kenikmatan yang datang dari perempuan yang tergelimpang di sampingku.
(DIAM. CALIGULA KELIHATANNYA SUSAH DAN GUNDAH. SCIPION BERGERAK
DI BELAKANGNYA DAN DATANG MENDEKAT DENGAN BIMBANG. DENGAN
PERLAHAN DIULURKANNYA TANGANNYA KE ARAH CALIGULA DARI BELAKANG,
LALU DILETAKKAN DI ATAS BAHU CALIGULA. DENGAN TIDAK MEMBALIK
KEBELAKANG, CALIGULA MELETAKKAN TANGANNYA DI ATAS TANGAN
SCIPION).

SCIPION:
Setiap manusia punya penghibur dalam hidupnya. Sebagai penopang dalam
melanjutkan hidupnya. Ia selalu kembali pada itu jika cobaan sudah terlalu
besar.

45 dari koleksi Teater Sae


CALIGULA:
Betul Scipion.

SCIPION:
Apakah kau tak punya yang seperti itu dalam hidupmu? Apa tidak ada tempat
untuk lari, tidak adakah perasaan yang membuat air mata mengalir keluar? Tak
ada pembujuk?

CALIGULA:
Ada juga.

SCIPION:
Apa?

CALIGULA: (DENGAN TENANG)


Rasa anggapan rendah diri.

LAYAR–TURUN

dari koleksi Teater Sae 46


B A B A K - III

Adegan Pertama

SEBELUM LAYAR DIANGKAT KEDENGARAN BUNYI GUNG, MUNG-MUNGAN DAN


GENDANG. WAKTU LAYAR DIANGKAT KELIHATAN SEBUAH BILIK KECIL YANG
DIBERI LAYAR SEDANGKAN DI DEPANNYA TERDAPAT SEBUAH PROCENIUM
KECIL. DI ATAS PANGGUNG INI DUDUK CAESONIA DAN HELICON DIDAMPINGI
OLEH PENABUH-PENABUH GUNG DAN MUNG-MUNG. DI ATAS BANGKU-BANGKU
DENGAN MEMBELAKANGI PENONTON DUDUK BEBERAPA BANGSAWAN DAN
SCIPION.

HELICON: (DENGAN SUARA SEPERTI ORANG MENJUAL OBAT).


Ke sini tuan-tuan! Ke sini! (BUNYI GUNG). Sekali lagi para dewa telah turun ke
bumi. Caius, Kaisar dan dewa, terkenal dengan nama Caligula, yang menjadi
pemberi bentuk manusianya. Majulah ke sini, hai makhluk berasal dari tanah.
Keajaiban dewata akan berlangsung di depan matamu. Sebagai hadiah
keindahan, sebagai keistimewaan pemerintah Caligula yang terpuji, rahasia-
rahasia para dewa akan dibukakan di depanmu. (GUNG).

CAESONIA:
Ayulah tuan-tuan. Pujalah dia dan jangan lupa memberikan derma. Ini hari
keindraan dan segala kerahasiaannya akan mempertontonkan diri. Bayaran
disesuaikan dengan kesanggupan rakyat.

HELICON:
Olympus dengan segala rahasianya, kelicikannya dibukakan semua,
ketelanjangannya dan kegilaannya. Kemari! Kemari! Semua kebenaran tentang
dewa-dewa, tuan-tuan. (GUNG).

CAESONIA:
Puja dan berikan derma, tuan-tuan. Maju tuan-tuan! Permainan segera dimulai.
(BUNYI GUNG. BUDAK-BUDAK MELETAKKAN PELBAGAI BENDA DI ATAS
PANGGUNG KECIL).

HELICON:
Penggambaran kembali dari kebenaran yang tak akan terlupakan, suatu
pelaksanaan yang asli sampai ke perincian sekecil-kecilnya. Kebesaran dan
keagungan dewa-dewa dipertunjukkan untuk pertama kalinya. Hiburan
istimewa dan mewah: Kilat halilintar..! (BUDAK-BUDAK MEMBAKAR BUNGA
API), Guntur..! (ORANG-ORANG MENGGERAK-GERAKKAN SEBUAH TONG BERISI
BATU). Kejadian-kejadian dewata dalam perjalanan kebesarannya. Datanglah
menyaksikan. (IA MENARIK LAYAR KE SAMPING. DENGAN BERDANDAN
SEPERTI VENUS, CALIGULA TURUN DARI SEBUAH TEMPAT BERDIRI).

47 dari koleksi Teater Sae


CALIGULA: (DENGAN NADA DIMANIS-MANISKAN).
Ini hari aku jadi Venus.

CAESONIA:
Pemujaan mulai. Semua tunduk! (SEMUANYA TUNDUK KECUALI SCIPION). Dan
ucapkan do’a suci kepada Caligula-Venus: “Dewi duka dan kenikmatan….”

BANGSAWAN-BANGSAWAN:
“Dewi duka dan kenikmatan….”

CAESONIA:
“Terlahir di laut, getir dan terang karena busa….”

BANGSAWAN-BANGSAWAN:
“Terlahir di laut, getir dan terang karena busa….”

CAESONIA:
“Ya, dewi yang mengurniakan tawa dan sesal…..”

BANGSAWAN-BANGSAWAN:
“Ya, dewi yang mengurniakan tawa dan sesal…..”

CAESONIA:
“Dendam dan gairah….”

BANGSAWAN-BANGSAWAN:
“Dendam dan gairah….”

CAESONIA:
“Tunjuki kami ketidak-pedulian yang menyalakan cinta kembali….”

BANGSAWAN-BANGSAWAN:
“Tunjuki kami ketidak-pedulian yang menyalakan cinta kembali….”

CAESONIA:
“Ajarkan kepada kami kebenaran tentang dunia ini. Kebenaran yang sebetulnya
tidak ada…..”

BANGSAWAN-BANGSAWAN:
“Ajarkan kepada kami kebenaran tentang dunia ini. Kebenaran yang sebetulnya
tidak ada…..”

CAESONIA:
“Dan berilah kami kekuatan untuk hidup menurut kebenaran dari segala
kebenaran….”

dari koleksi Teater Sae 48


BANGSAWAN-BANGSAWAN:
“Dan berilah kami kekuatan untuk hidup menurut kebenaran dari segala
kebenaran….”

CAESONIA:
Sekarang istirahat.

BANGSAWAN-BANGSAWAN:
Sekarang istirahat.

CAESONIA: (SETELAH DIAM SEBENTAR).


“Kayakanlah kami dengan pemberianmu, dan siram wajah kami dengan sinar
kebengisanmu yang tak berpihak dalam kebencianmu yang sewenang-wenang.
Bukalah di atas mata kami tanganmu yang penuh bunga dan pembunuhan……”

BANGSAWAN-BANGSAWAN:
‘……tanganmu yang penuh bunga dan pembunuhan……”

CAESONIA:
“Terimalah kembali anak-anakmu yang telah mengembara ke dalam tempat
suci cintamu yang tak kenal hati dan tak kenal terimakasih. Berikan kepada
kami nafsu yang tak bertujuan, kekesalan yang tak punya sebab, dan
kegairahanmu yang tak punya tujuan….”

BANGSAWAN-BANGSAWAN:
“…….kegairahanmu yang tak punya tujuan….”

CAESONIA: (DENGAN SUARA LEBIH TINGGI).


“Wahai dewi, begitu kosong toh begitu bersemangat, begitu gaib toh begitu
bersifat duniawi. Mabukkan kami dengan anggur kesama hargaanmu. Dan
kenyangkan kami untuk selama-lamanya. Dalam kegelapan payau hatimu…..”

BANGSAWAN-BANGSAWAN:
“Mabukkan kami dengan anggur kesama hargaanmu. Dan kenyangkan kami
untuk selama-lamanya. Dalam kegelapan payau hatimu…..”
SETELAH BANGSAWAN-BANGSAWAN MENGUCAPKAN KALIMAT TERAKHIR INI,
MAKA CALIGULA YANG SAMPAI SAAT INI TAK BERGERAK SEDIKITPUN JUGA,
MENDENGUS DAN BERDIRI.

CALIGULA: (DENGAN SUARA KERAS).


Setuju, setuju anak-anakku. Doa kalian sudah dikabulkan. (IA DUDUK BERSILA
DI ATAS SEBUAH BANTAL. SEORANG DEMI SEORANG BANGSAWAN-
BANGSAWAN MENUNJUKKAN KEKHIDMATANNYA, MEMBERIKAN DERMA, LALU
KELUAR BERBARIS KE SEBELAH KANAN. YANG TERAKHIR LUPA MEMBERIKAN
DERMANYA. CALIGULA TEGAK). Hei, hei! Tunggu dulu, nak. Berdoa memang

49 dari koleksi Teater Sae


bagus, tapi memberikan derma lebih bagus lagi. Terimakasih. Kami sedia
berdamai lagi. Ah, kalau dewa-dewa tidak punya kekayaan lain kecuali cinta
yang kalian tunjukkan kepada mereka, tentu mereka akan sama melarat pula
seperti Caligula. Siarkanlah di luar negeri berita tentang keajaiban yang telah
tuan-tuan persaksikan. Kalian telah melihat Venus, kalian melihatnya dengan
mata kepala sendiri dan Venus sendiri telah bicara kepada kalian. Pergilah tuan-
tuan yang telah dikaruniai. (BANGSAWAN-BANGSAWAN ITU BERGERAK UNTUK
PERGI). Sebentar. Kalau mau keluar, lebih baik keluar ke sebelah kiri. Aku telah
menempatkan perajurit-perajurit di sebelah kanan itu dengan perintah untuk
memenggal kepala tuan-tuan.

BANGSAWAN-BANGSAWAN ITU KELUAR DENGAN CEPAT KE SEBELAH KIRI.


AGAK KACAU BALAU. BUDAK-BUDAK DAN PEMAIN MUSIK MENINGGALKAN
PANGGUNG.

Adegan Kedua

HELICON: (SAMBIL MENUNJUK DENGAN JARINYA PADA SCIPION).


Tingkah kau seperti tingkah anarkis lagi, Scipion.

SCIPION: (KEPADA CALIGULA).


Kau telah berbuat murtad, Caius.

CALIGULA:
Murtad? Apa itu?

SCIPION:
Kau telah menghina langit setelah mendarahi bumi.

HELICON:
Anak muda memang suka kata-kata besar!

IA BERBARING DI ATAS SEBUAH DIVAN.

CAESONIA: (DENGAN TENANG).


Kau sebaiknya hati-hati, Buyung! Saat ini di Roma orang bisa mati karena
mengucapkan perkataan yang tidak sekeras itu.

SCIPION:
Barangkali. Tapi aku telah memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya
pada Caligula.

CAESONIA:

dari koleksi Teater Sae 50


Kau dengar itu Caligula? Ini yang masih kurang dalam pemerintahanmu.
Seorang moralis muda yang berani.

CALIGULA: (SAMBIL MENGILASKAN MATA PADA SCIPION DENGAN PENUH


PERHATIAN).
Apa betul kau yakin pada Tuhan, Scipion?

SCIPION:
Tidak.

CALIGULA:
Kini aku lebih tidak mengerti. Kalau kau tidak yakin mengapa kau marah orang
berlaku murtad?

SCIPION:
Seseorang mungkin tidak merasa perlu untuk mengotorinya ataupun juga
meniadakan hak seseorang untuk yakin, biar pun seseorang itu adalah orang
yang ingkar.

CALIGULA:
Itu rendah hati namanya, itu tidak lain dari rendah hati. Ah, Scipion yang baik,
alangka puasnya aku dengan keadaan engkau. Bahkan sedikit iri hati lagi, kau
tahu. Rendah hati adalah satu-satunya rasa yang tidak pernah kumiliki.

SCIPION:
Kau bukan irihati padaku, tapi pada Tuhan.

CALIGULA
Kalau kau tak keberatan, itu akan tetap tinggal rahasia kami – teka-teki yang
besar dari pemerintahan kami. Kau tahu, jika orang mau menyalahkan aku,
orang hanya dapat menyalahkan aku karena satu hal saja, aku telah
melangkah selangkah lebih maju lagi diatas jalan kemerdekaan. Bagi seseorang
yang mencintai kekuasaan, persaingan Tuhan memang agak mengganggu.
Tapi aku telah membuktikan kepada dewa-dewa yang tak ada, bahwa setiap
manusia dengan tidak usah mendapat latihan lebih dulu, jika ia pergunakan
pikirannya untuk itu, akan dapat memainkan peranan dewa-dewa yang edan ini
sampai sempurna.

SCIPION:
Itulah, Caius, yang kumaksud dengan murtad.

CALIGULA:
Bukan, Scipion. Itu pikiran yang terang namanya. Aku telah menyadari berkali-
kali, hanya ada satu jalan untuk menyamai dewa-dewa ini. Orang harus berlaku
bengis seperti mereka.

51 dari koleksi Teater Sae


SCIPION:
Orang harus bertidak sebagai seorang zalim?

CALIGULA:
Coba katakan, sahabat baik. Apa sebetulnya yang dimaksud dengan orang
zalim itu?

SCIPION:
Suatu jiwa yang buta!

CALIGULA:
Belum tentu, Scipion. Seorang zalim adalah seorang yang mengorbankan
rakyat dan negara untuk kepentingan cita-cita dan angan-angannya sendiri.
Tapi aku tidak punya cita-cita. Dan bagiku tak ada yang ingin kucapai dengan
pertolongan kekuasaan dan kebesaran. Jika kekuasaanku kupergunakan, maka
itu hanyalah untuk mengimbangi.

SCIPION:
Mengimbangi apa?

CALIGULA:
Kedunguan dan kebencian para dewa.

SCIPION:
Benci tidak dapat mengimbangi benci. Kekuasaan bukan peyelesaian. Menurut
hematku hanya ada satu cara untuk mengimbangi keseteruan bumi ini.

CALIGULA:
Apa?

SCIPION:
Kemiskinan.

CALIGULA: (MEMBUNGKUK MELIHAT KAKINYA).


Aku juga harus coba itu.

SCIPION:
Sementara itu mayat bergelimpangan juga di sekeliling kau.

CALIGULA:
Ah, itu keliwatan. Cuma berapa? Kau tahu berapa kali aku menghindarkan
peperangan?

SCIPION:
Tidak.

dari koleksi Teater Sae 52


CALIGULA:
Tiga. Kau tahu mengapa kuhindarkan?

SCIPION:
Karena bagimu kebesaran nama tidak berarti sama sekali.

CALIGULA:
Bukan. Karena hormatku pada jiwa manusia.

SCIPION:
Kau berolok-olok, Caius.

CALIGULA:
Atau setidak-tidaknya, aku lebih menghormati itu dari pada kemenangan-
kemenangan militer. Tetapi memang benar, hormatku terhadap jiwa manusia
tidak melebihi hormatku kepada jiwaku sendiri. Jika aku menganggap
membunuh orang satu hal mudah, maka itu adalah karena aku tidak takut
mati. Tidak. Makin kupikirkan hal itu, makin jelas, bahwa aku bukanlah seorang
yang zalim.

SCIPION:
Apa bedanya, jika korban yang harus kami berikan sama banyaknya jika kau
betul seorang zalim.

CALIGULA: (AGAK KURANG SABAR).


Kalau kau mengerti angka-angka sedikit saja, kau akan melihat bahwa
peperangan yang bagaimana kecilpun juga yang dilakukan seorang zalim,
bagaimana sehatpun pikirannya, akan meminta korban beribu kali lebih banyak
dari tingkah – begitulah kita namakan dulu – dari segala tingkah pikiranku.

SCIPION:
Mungkin. Tetapi peperangan adalah sesuatu yang punya tujuan. Dan yang
dapat dimengerti.

CALIGULA:
Orang tidak mengerti nasib. Karena itu aku memainkan peranan nasib. Aku
pakai wajah jahat dan ajaib semi seorang dewa dalam dinas. Itulah yang dipuja
oleh semua lelaki yang tadi hadir bersama kau disini

SCIPION:
Dan itu adalah kemurtadan, Caius.

CALIGULA:
Bukan, Scipion. Itu yang dinamakan seni drama. Kesalahan manusia ialah
menganggap drama itu bukan sebagai sesuatu yang sungguh-sungguh. Jika hal
ini dipahami, setiap manusia akan dapat menjadi peran utama dalam sandiwara

53 dari koleksi Teater Sae


dewa-dewa ini dan kemudian menjadi dewa. Caranya, ia harus mengebalkan
hatinya.

SCIPION:
Kau mungkin benar, Caius. Tapi jika ini benar, maka kau telah melakukan
segala usaha yang diperlukan untuk mengerahkan sepasukan dewa-dewa
manusia menentang kau, yang gelisah seperti kau, yang akan
menenggelamkan dalam darah, kedewaanmu yang berumur sesaat itu.

CAESONIA:
Scipion!

CALIGULA: (DENGAN SUARA YANG TEGAR DAN TETAP).


Biarkan dia, Caesonia. Ya, Scipion, kau barangkali tak tahu telah menerka
suatu kebenaran. Aku telah melakukan segala usaha ke arah itu. Susah
bagiku untuk menggambarkan kejadian yang kau bicarakan itu. Tapi aku sering
memimpikannya. Dan segala wajah yang muncul dari gelap yang amarah itu,
penuh dengan takut dan benci, aku melihat dan aku gembira karena telah
melihatnya, satu-satunya dewa yang kupuja di atas dunia ini. Buruk dan dena
bagai hati manusia. Sekarang pergilah. Sudah cukup lama kau disini, lebih dari
cukup. (DENGAN SUARA YANG BEROBAH). Aku harus menginai jari kakiku.
Waktuku mendesak. (SEMUA PERGI KECUALI HELICON. IA BERPUTAR-PUTAR
SEKELILING CALIGULA YANG SEDANG ASYIK MEMERAHKAN KUKU KAKINYA).

Adegan Ketiga

CALIGULA:
Helicon!

HELICON:
Ya?

CALIGULA:
Bagaimana pekerjaan kau?

HELICON;
Pekerjaan apa?

CALIGULA:
Tentang itu…. Bulan.

HELICON:
Ah, betul juga. Bulan! Soal waktu dan kesabaran. Aku ingin bicara sedikit
dengan kau.

dari koleksi Teater Sae 54


CALIGULA:
Barangkali aku cukup sabar untuk mendengarkan, tapi waktuku mendesak.
Asal singkat saja.

HELICON:
Seperti kukatakan, aku akan berusaha sekuatnya. Tapi terlebih dahulu ada
sesuatu yang mau kukabarkan. Kabar penting.

CALIGULA: (SEOLAH-OLAH IA TAK MENDENGARKAN UCAPAN HELICON).


Ingat, ia pernah kudapat!

HELICON:
Siapa?

CALIGULA:
Bulan.

HELICON
Oh, tentu, tentu. Begini! Apa kau tahu orang-orang membuat komplot untuk
memusnahkan kau?

CALIGULA:
Lebihnya lagi, aku memiliki dia seluruhnya. Tapi Cuma dua atau tiga kali. Tapi
bagaimanapun juga aku pernah memilikinya.

HELICON:
Sudah lama aku hendak menyampaikan ini kepada kau.

CALIGULA:
Ini terjadi musim panas lalu. Aku tatap ia begitu lama, dan begitu sering ia
kuelus-elus di tiang-tiang marmer di kebun sehingga akhirnya ia mengerti.

HELICON
Jangan main-main juga lagi, Caius. Biarpun kau tak ingin mendengarkannya,
adalah kewajibanku untuk menyampaikannya pada kau. Sia-sia jika kau
mencoba menutup telingamu.

CALIGULA: (SAMBILMENGGINCUI KUKU KAKINYA).


Ah, gincu ini tidak baik. Tapi bicara kembali perihal bulan, …waktu itu adalah
malam bulan Agustus yang jernih. (HELICON MERUBAH ARAH PANDANGNYA
DAN BERDIAM DIRI). Ia kelihatannya tersipu-sipu. Aku sudah beradu. Mula-
mula ia merah darah, rendah di tepi langit. Kemudian ia mulai naik, makin lama
makin cepat, makin lama makin terang. Makin tinggi makin pucat kelihatannya.
Hingga akhirnya ia tak ubahnya sebuah kolam susu di tengah hutan kelam,
gemerisik karena bintang. Perlahan, dengan agak malu ia menghampir, lewat

55 dari koleksi Teater Sae


udara malam yang panas, lembut, ringan tak bertara dan telanjang. Ia langkahi
ambang pintu kamarku, meluncur ke dalam ranjangku, lalu dituangkannya
dirinya ke dalamku dan akhirnya direndamnya aku dengan senyumnya…..Aaah,
gincu ini betul-betul tidak beres….! Jadi kau tahu Helicon, dengan tidak
menyombong aku dapat mengatakan, bahwa aku pernah memilikinya.

HELICON:
Maukah kau mendengarkan dan menyadari bahaya apa yang sedang
mengancam kau?

CALIGULA: (BERHENTI MENGURUS KAKINYA, DAN MEMANDANG HELICON


DENGAN NANAP).
Aku cuma inginkan bulan, Helicon. Selanjutnya aku tahu sudah dari dulu apa
yang mengancamku. Belum lagi kuhabiskan segala yang dapat membuat aku
dapat hidup terus. Itu makanya aku inginkan bulan. Dan kau tak usah kembali
ke sini sebelum bulan kau peroleh untukku.

HELICON:
Baiklah……! Tapi aku akan melakukan kewajibanku dan mengatakan padamu
apa yang kuketahui. Sebuah komplotan sedang disusun untuk menentang kau.
Pemimpinnya Cherea. Aku menemukan dokumen ini, dimana dituliskan segala
yang harus kau ketahui. Kuletakkan di sini. (IA LETAKKAN DOKUMEN ITU DI
ATAS SALAH SEBUAH KURSILALU PERGI).

CALIGULA:
Kau mau kemana, Helicon?

HELICON: (DARI AMBANG PINTU).


Mencari bulan untuk kau.

Adegan Keempat

DI PINTU SEBERANG TERDENGAR BUNYI GEMERISIK SEPERTI SUARA TIKUS.


CALIGULA BERBALIK LALU MELIHAT BANGSAWAN TUA.

BANGSAWAN TUA: (DENGAN BIMBANG).


Maaf, Caius.

CALIGULA: (DENGAN TAK SABAR).


Masuklah. (SAMBIL MANATAPINYA). Bagaimana, sayang. Kepingin lihat Venus
lagi?

BANGSAWAN TUA:

dari koleksi Teater Sae 56


Bukan itu. Eeeh! Maaf Caiaus, maksudku….Aku sebetulnya sangat setia pada
kau. Satu-satunya kenginanku ialah mengakhiri hidupku dalam segala
ketenangan.

CALIGULA:
Cepat..! Cepat..!

BANGSAWAN TUA:
Begini….(DENGAN CEPAT). Soal ini sangat penting.

CALIGULA:
Tidak. Tidak penting.

BANGSAWAN TUA:
Apa maksudmu, Caius?

CALIGULA:
Kita bicara perkara apa, manis?

BANGSAWAN TUA: (MEMANDANG DENGAN GELISAH SEKELILINGNYA).


Maksudku…(IA GERAH DAN AKHIRNYA KELUAR JUGA). Orang bikin komplotan
menentang kau, Caius.

CALIGULA:
Nah, kan! Seperti kukatakan tadi, tidak penting sama sekali.

BANGSAWAN TUA:
Caius,mereka mau bunuh kau.

CALIGULA: (DATANG MENDEKAT LALU MEMEGANG BAHUNYA).


Tahu kau, mengapa aku tidak percaya pada kau?

BANGSAWAN TUA: (MENGANGKAT TANGAN SEOLAH-OLAH MAU BERSUMPAH).


Demi para dewa, Caius.

CALIGULA: (DENGAN TEGAS TAPI RAMAH MENDORONGNYA KEMBALI KE


PINTU).
Jangan bersumpah. Dengarkan baik-baik. Misalkan saja apa yang kau beritakan
ini betul. Jadi boleh kuanggap kau telah mengkhianati kawan-kawanmu sendiri.
Begitu bukan!?

BANGSAWAN TUA: (DENGAN SUARA KECIL).


Maksudku, Caius, karena kasihku pada kau…..

CALIGULA: (DENGAN SUARA TAK BEROBAH).

57 dari koleksi Teater Sae


Itu tidak mungkin masuk akalku. Aku begitu benci kepada sikap pengecut
seperti ini, sehingga aku tidak pernah dapat menahan diri untuk menjatuhkan
hukuman mati pada pengkhianat-pengkhianat macam kau. Tapi aku kenal kau,
kawan baik. Dan aku yakin kau tak ingin mati, juga tak ingin berkhianat.

BANGSAWAN TUA:
Tentu, Caius. Tentu..!

CALIGULA:
Kau lihat sendiri. Pada tempatnya betul aku tak mempercayai kau. Kau bukan
orang pengecut, ya kan?

BANGSAWAN TUA:
Tidak, oh tentu tidak…

CALIGULA:
Juga bukan pengkhianat?

BANGSAWAN TUA:
Kau sendiri tahu, Caius.

CALIGULA:
Jadi, kalau begitu tidak ada komplotan sama sekali. Yang kau ceritakan itu
hanya olok-olok, kan?

BANGSAWAN TUA: (DENGAN LEMAH).


Ya, ya. Hanya olok-olok. Olok-olok…?

CALIGULA:
Jadi tidak ada orang yang mau membunuh aku, ya?

BANGSAWAN TUA:
Tidak ada. Tidak ada sama sekali.

CALIGULA: (MENGAMBIL NAFAS BESAR DAN BICARA LAMBAT-LAMBAT).


Kalau begitu, pergilah sayang. Seorang lelaki yang punya kehormatan sekarang
ini adalah seekor hewan yang begitu jarang kelihatan, sehingga aku tak tahan
melihatnya lama-lama. Aku ingin bersendiri menikmati pengalaman yang luar
bisa ini.

Adegan Kelima

CALIGULA MEMANDANG NANAR DENGAN TAK BERGERAK BEBERAPA

dari koleksi Teater Sae 58


SAAT LAMANYA KE ARAH DOKUMEN ITU. KEMUDIAN DIAMBILNYA, LALU IA
BACANYA. KEMUDIAN IA MENARIK NAFAS PANJANG. SESUDAH ITU IA PANGGIL
PENGAWAL ISTANA.

CALIGULA:
Bawa Cherea kemari. (PENGAWAL ITU PERGI). Sebentar. (PENGAWAL ITU
BERHENTI). Perlakukan ia dengan sopan. (PENGAWAL ITU KELUAR. CALIGULA
MONDAR-MANDIR, MENDEKATI CERMIN). Jadi kau telah memutuskan untuk
berpikir logis, dungu! Logis untuk selama-lamanya. Soalnya kini: Kemana kau
akan sampai dengan ini? (IRONIS). Jika bulan dapat dibawa kemari, maka
segalanya akan lain. Begitu ‘kan? Lalu yang mustahil akan jadi mungkin. Dalam
sekejap mata semuanya akan berubah. Mengapa tidak, Caligula? Siapa tahu.
(IA MEMANDANG SEKELILING). Makin lama makin sedikit orang di sekitarku.
Aku heran, kenapa bisa begitu? (BERBICARA KEPADA KACA, DENGAN SUARA
DITEKAN). Kebanyakan yang mati. Ini yang membuat kosong. Tetapi tidak,
biarpun aku beroleh bulan, aku tak akan dapat lagi mengulangi jalanku. Bahkan
biarpun segala mereka yang mati menggetar kembali di bawah belaian
matahari, si pembunuh tak akan masuk tanah karena itu (DENGAN SUARA
MARAH). Logika, Caligula….! Ikutkan dia terus. Kekuasaan sampai ke akhir-
akhirnya. Keinginan tiada batas. Tidak, tidak ada jalan kembali. Aku harus
terus, terus sampai sempurna.

Adegan Keenam

CALIGULA DUDUK DIKURSINYA, SAMBIL MENYELIMUTI DIRINYA DENGAN


MANTEL.

CHEREA:
Kau memanggil aku, Caius?

CALIGULA: (DENGAN SUARA LUNAK).


Ya, Cherea. (DIAM SEBENTAR).

CHEREA:
Ada yang mau kau katakan?

CALIGULA:
Tidak, Cherea. (DIAM LAGI)

CHEREA: (DENGAN SUARA AGAK JENGKEL).


Tapi kau tahu betul kau memerlukan kehadiranku di sini.

CALIGULA:

59 dari koleksi Teater Sae


Ya, Cherea. (DIAM LAGI. KEMUDIAN, SEOLAH-OLAH IA MENEMUKAN DIRINYA
KEMBALI). Maaf bahasaku kelihatannya agak kasar. Aku lagi mengikuti
pikiranku. Duduklah! Kita bercakap-cakap. Aku ingin betul bercakap-cakap
dengan seorang cendekia. (CHEREA DUDUK. UNTUK PERTAMA KALINYA SEJAK
SANDIWARA INI DIMULAI, CALIGULA MEMPERLIHATKAN SEOLAH-OLAH IA
BERADA DALAM PIKIRANNYA YANG SESUNGGUHNYA). Cherea, apa kau percaya
dua orang yang sama sifat dan keangkuhannya, akan dapat berbicara dari hati
ke hati? Biarpun hanya untuk sekali? Dapatkah mereka membuka diri
seluruhnya, mengenyampingkan prasangka mereka, kepentingan diri sendiri
dan segala dusta yang jadi modal hidupnya?

CHEREA:
Ya, Caius, kukira mungkin saja. Tapi kau tak akan sanggup melakukan itu.

CALIGULA:
Kau benar, Cherea. Aku Cuma ingin tahu apa kau sependapat dengan aku.
Kalau begitu, mari kita pakai topeng kita kembali, dan kita siapkan segala
dusta kita. Dan kita akan bciara seperti dua orang panglima berkelahi.
Dilindungi dengan perisai di segenap bagian tubuhnya. Cherea, mengapa kau
tidak suka padaku?

CHEREA:
Karena tidak ada yang dapat disukai darimu, Caius. Perasaan seperti itu tidak
dapat dipesan. Dan karena kau kupahami betul. Seseorang tidak mungkin
menyukai suatu sifat dari orang itu sendiri yang selama ini selalu ia coba
sembunyikan.

CALIGULA:
Tapi mengapa kau benci padaku?

CHEREA:
Kau salah sangka, Caius. Aku tidak benci pada kau. Aku menganggap kau jahat
dan bengis, cuma sayang pada diri sendiri dan sombong. Tapi aku tak mungkin
membenci kau. Aku tak yakin kau berbahagia. Dan aku tak dapat menghina
kau, karena aku tahu kau bukan pengecut

CALIGULA:
Kalau begitu, mengapa kau mau bunuh aku?

CHEREA
Telah aku katakan mengapa. Karena menagnggap kau merusak. Aku
memerlukan dan menginginkan ketentraman. Bahagian terbesar dari manusia
adalah seperti aku. Orang tidak bisa hidup dalam satu dunia dimana pada satu
saat sebuah pikiran yang edan bisa menjadi kenyataan – dimana ia selalu
mungkin memasuki kehidupan mereka, seperti sebuah belati ke dalam jantung.

dari koleksi Teater Sae 60


Akupun seperti mereka. Aku tidak suka hidup dalam dunia seperti itu. Aku ingin
tahu di mana aku berada dan aku inginkan keamanan.

CALIGULA:
Keamanan dan logika itu tidak sejalan.

CHEREA:
Itu benar. Memang tidak sesuai dengan logika, tapi dapat diterima akal.

CALIGULA
Terus?

CHEREA
Tidak ada lagi. Aku tidak bisa tertolong oleh logikamu itu. Pendapatku tentang
kewajibanku sebagai manusia berbeda sama sekali. Tapi aku tahu sebagian
besar rakyatmu sependapat denganku. Perasaan mereka yang dalam telah kau
perkosa. Sudah pada tempatnya sekali jika kau…enyah!

CALIGULA:
Semuanya itu cukup jelas dan cukup masuk akal. Kuakui, untuk sebagian besar
manusia hal itu adalah wajar. Tapi kau. Kau orang pintar. Karena beroleh
kepintaran ini orang harus membuat pilihan. Satu diantara dua: membayar
harga kepintarannya itu atau melepaskannya sama sekali. Kalau aku, aku
membayarnya. Tapi kau, mengapa kau tak suka membayar dan tak suka
melepaskannya?

CHEREA:
Karena yang kuinginkan hanya hidup dan kebahagiaan. Menurut hematku,
adalah juga tidak mungkin, jika orang mendorongkan keedanan itu sampai ke
keputusannya yang logis. Seperti kau lihat aku adalah manusia bisa. Memang,
pada saat-saatnya, supaya aku bebas dari mereka, kuinginkan kematian dari
orang-orang yang kucintai, atau aku menginginkan perempuan yang sebetulnya
tak boleh kujamah karena hubungan-hubungan keluarga. Sekiranya logika
mutlak sifatnya, maka pada saat itu aku tentu akan membunuh. Tapi aku
menganggap pikiran-pikiran sesat itu tidak penting sama sekali. Jika setiap
orang menurutkannya, maka dunia ini tidak akan dapat didiami, dan
kebahagiaanpun juga tidak akan pernah ada. Inilah, kukatakan sekali lagi, yang
kuanggap penting.

CALIGULA:
Jadi, kalau aku tak salah, kau yakin pada azas-azas lebih agung?

CHEREA:
Ya. Aku percaya bahwa suatu perbuatan, lebih tinggi martabatnya – misalnya –
dari perbuatan yang lain.

61 dari koleksi Teater Sae


CALIGULA:
Dan aku percaya, semua orang berada di kedudukan yang sama.

CHEREA:
Itu aku tahu, Caius. Karena itu aku tak benci pada kau. Aku mengerti, bahkan
sampai batas tertentu, aku sependapat dengan kau. Tapi kau mendatangkan
celaka dan karena itu kau harus pergi.

CALIGULA:
Itu benar. Tapi mengapa kau korbankan nyawamu dengan menceritakan ini
padaku.

CHEREA:
Karena orang lain akan menggantikan aku, dan karena aku tak suka berdusta.
(DIAM SEBENTAR).

CALIGULA:
Cherea!

CHEREA:
Ya, Caius.

CALIGULA:
Percayakah kau, bahwa dua orang yang sama sifat dan kebanggaannya,
biarpun hanya untuk sekali dalam hidup mereka, dapat bicara dari hati ke hati?

CHEREA:
Kiraku, itulah yang baru ini kita lakukan.

CALIGULA:
Ya, Cherea. Tapi kau mengira aku tak sanggung melakukannya.

CHEREA:
Aku khilaf, Caius. Kuakui itu. Terimaksih. Kini kutunggu hukumanku.

CALIGULA: (DENGAN AGAK HERAN).


Hukuman? Ah, aku mengerti…. (IA KELUARKAN DOKUMEN ITU DARI SAKU
MANTELNYA). Kau tahu ini Cherea?

CHEREA:
Aku tahu ia berada di tangan kau.

CALIGULA:
Kau tahu ia berada di tangaku!? Jadi terus terangmu itu hanya sekedar
sandiwara belaka. Kedua sahabat ini tidak membukakan hatinya masing-
masing. Ya, ya! Tapi itu tidak penting. Sekarang, kita berhenti main terus

dari koleksi Teater Sae 62


terang dan mulai hidup atas dasar yang lama kembali. Tapi terlebih dulu ada
sesuatu yang kuminta pada kau. Berusahalah supaya bersabar lebih lama
dengan segala tingkah lakuku dan ketiadaan kebijaksanaanku. Begini, Cherea.
Dokumen ini adalah satu-satunya bukti yang ada.

CHEREA:
Caius, lebih baik aku pergi. Aku sudah bosan dengan lelucon seperti ini. Aku
kenal betul padanya, dan aku sudah muak.

CALIGULA: (DENGAN SUARA YANG SAMA DAN TELITI).


Jangan. Tunggu, Cherea! Dokumen ini satu-satunya bukti, jelas?

CHEREA:
Bukti? Setahuku kau tak memerlukan itu untuk menyuruh membunuh
seseorang.

CALIGULA:
Betul. Tapi untuk pertama kalinya aku ingin membantah diriku sendiri. Tidak
ada orang yang akan keberatan. Sekali-kali enak juga membantah diri sendiri.
Rasa aku beristirahat. Aku perlu istirahat, Cherea.

CHEREA:
Aku tidak mengerti. Lagipula aku tidak suka dengan teka-teki seperti ini

CALIGULA:
Aku tahu Cherea, …aku tahu. Kau manusia bisaa. Kau tak ingin hal-hal luar
bisa. (KETAWA). Kau ingin hidup dan berbahagia. Cuma itu!

CHEREA:
Sudahlah, Caius! Cukup sekian saja.

CALIGULA:
Belum. Sabar sedikit. Kau lihat ini, dokumen bukti itu? Aku telah menentukan
pendirian, bahwa aku tak dapat menjatuhkan hukuman atas engkau tanpa
bukti ini. Ini pikiranku dan istirahatku. Nah, kau lihat apa jadinya dengan
sebuah tanda bukti dalam tangan seorang maharaja. (DIHADAPKANNYA
DOKUMEN ITU PADA SEBUAH DIAN. CHEREA MENDEKAT. DIAN ITU BERADA
DIANTARA MEREKA. DOKUMEN ITU MULAI TERBAKAR). Kau lihat,
pemberontak! Dokumen ini mulai hancur. Sedang ia berangkat hancur itu suatu
pandangan kesucian bercahaya di wajahmu. Alangkah indahnya keningmu,
Cherea. Dan alangkah indahnya dan susahnya ditemui wajah seseorang yang
tak berdosa! Kagumilah kekuasaanku. Bahkan para dewa tidak bisa
mengembalikan kesucian dengan tidak menghukum lebih dulu. Tapi Kaisarmu
hanya memerlukan sebuah dian untuk membersihkan kau dan memberikan
harapan baru. Teruskan Cherea. Teruskan ajaran yang baru kami dengar tadi,

63 dari koleksi Teater Sae


biarpun sampai kemana kau ia bawa. Sementara itu Kaisarmu menunggu
istirahatnya. Ini caranya hidup dan berbahagia.

CHEREA MEMANDANG DENGAN TERCENUNG, HERAN, PADA CALIGULA. IA


MEMPERLIHATKAN GERAKAN YANG SAMAR, RUPA-RUPANYA MENGERTI
KEMUDIAN MEMBUKA MULUTNYA UNTUK BICARA DAN PERGI DENGAN TIBA-
TIBA. TERSENYUM SAMBIL MENGACUNGKAN DOKUMEN ITU KE API DIAN,
CALIGULA MENGIKUTI TOKOH YANG PERGI ITU DENGAN PANDANGANNYA.

LAYAR–TURUN

dari koleksi Teater Sae 64


B A B A K - IV

Adegan Pertama

PANGGUNG SETENGAH GELAP MASUK CHEREA DAN SCIPION. CHEREA


MENYEBERANG KE KANAN KEMUDIAN KEMBALI KE KIRI KEPADA SCIPION.

SCIPION: (DENGAN LAGAK YANG TEGAS)


Apa yang kau inginkan?

CHEREA:
Waktu mendesak. Kita harus tegas mengenai yang akan kita lakukan.

SCIPION:
Siapa yang mengatakan aku tak tegas.

CHEREA:
Kemarin kau tidak datang mengunjungi pertemuan kita.

SCIPION: (MENGALIH PANDANG)


Itu betul, Cherea.

CHEREA:
Scipion, aku lebih tua dari kau. Bukan kebisaaanku untuk minta pertolongan
orang lain. Tapi kali ini aku perlu kau. Pembunuhan ini harus disokong oleh
orang-orang terhormat. Di antara mereka yang martabatnya dirusakkan oleh
ketakutan yang keji, hanya kita berdua yang punya alasan-alasan yang bersih.
Jika kau membelakangi kami kau akan tutup mulut. Tapi bukan itu soalnya.
Yang kuinginkan adalah supaya kau ikut kami.

SCIPION:
Aku mengerti. Tapi itu, tidak bisa kulakukan.

CHEREA:
Jadi kau sebelah dia?

SCIPION:
Bukan. Aku tidak bisa menentang dia. (DIAM. KEMUDIAN DENGAN SUARA
LEMBUT). Biarpun ia kubunuh, hatiku masih tetap akan bersama dia.

CHEREA:
Ia telah membunuh ayahmu!

SCIPION:
Ya, pada waktu itulah semua ini mulai dan waktu itu juga segalanya berakhir.

65 dari koleksi Teater Sae


CHEREA:
Ia mengingkari apa yang kau yakini. Ia injak-injak segala apa yang kau anggap
suci.

SCIPION:
Aku tahu Cherea. Tapi sesuatu dalam diriku tetap lekat padanya. Api yang
sama, menyala dalam hati kami berdua.

CHEREA:
Ada masa-masanya kita harus memilih. Aku sendiri telah membisukan segala
yang ada dalam hatiku, yang mungkin membuat aku lekat pada dia.

SCIPION:
Tapi aku tidak bisa memilih. Aku punya kesedihan sendiri, tetapi bersama dia
aku juga ikut menderita. Aku menyertai kesakitannya. Aku maklum segala itu.
Itu kesulitanku.

CHEREA:
Jadi begitu. Kau telah memilih pihaknya.

SCIPION: (DENGAN PENUH NAFSU)


Tidak, Cherea. Aku minta, kau jangan kau kira aku begitu. Aku tidak mungkin
lagi memilih pihak siapapun juga.

CHEREA: (DENGAN EMOSI MENDEKATI SCIPION).


Tahu kau, aku lebih membencinya lagi karena ia telah menjadikanmu seperti
sekarang ini.

SCIPION:
Ya, ia mengajari aku untuk menerima segala apa dalam hidup ini.

CHEREA
Bukan, Scipion. Ia telah mengajarkan kau berputus asa. Meracuni suatu jiwa
yang masih muda dengan putus asa adalah kejahatan yang lebih busuk dari
kejahatan yang sampai kini ia lakukan. Scipion, itu saja sudah cukup untuk
membenarkan aku membunuhnya. (IA PERGI KE PINTU. HELICON MASUK)

Adegan Kedua

HELICON:
Aku mencari-cari kau kemana-mana, Cherea. Caligula mau mengadakan
kumpulan di sini. Hanya buat sahabat-sahabat karibnya saja. Ia mengharapkan
kau hadir. (KEPADA SCIPION). Kau tidak diundang, nak. Pergilah!

dari koleksi Teater Sae 66


SCIPION: (PERGI SAMBIL MEMANDANG KEPADA CHEREA).
Cherea…

CHEREA: (DENGAN RAMAH).


Ya, Scipion.

SCIPION:
Cobalah maklumi.

CHEREA: (DENGAN SUARA YANG LUNAK SEPERTI TADI).


Tidak, Scipion. (SCIPION DAN HELICON KELUAR).

Adegan Ketiga

SUARA PEDANG DI BELAKANG LAYAR. DUA ORANG PRAJURIT MASUK DARI


KAKAN, MENGGIRING BANGSAWAN TUA DAN BANGSAWAN I. KEDUANYA
TAMPAK KETAKUTAN

BANGSAWAN I: (KEPADA SALAH SEORANG PRAJURIT ITU DENGAN SUARA


YANG DIUSAHAKANNYA SUPAYA TIDAK GEMETAR). …Per….perlu apa dia pada
kami pada diwaktu yang begini larut?

PENGAWAL:
Duduk di sana. (LALU MENUNJUK KE SEBUAH KURSI YANG TERLETAK DI
SEBELAH KANAN).

BANGSAWAN I:
Kalau ia cuma mau membunuh kami seperti yang lain-lain, buat apa persiapan
seperti ini.

PENGAWAL:
Duduk, keledai!

BANGSAWAN TUA:
Lebih baik kau turuti perintahnya. Dia tidak tahu apa-apa.

PENGAWAL:
Ya, cintaku, jelas sekali. (PERGI).

BANGSAWAN I:
Kita harus bertindak lebih pagi, seperti yang sering kukatakan. Kini yang kita
dapat cuma siksaan lagi.

PERAJURIT ITU KEMBALI LAGI DENGAN CHEREA, LALU PERGI LAGI.

67 dari koleksi Teater Sae


Adegan Keempat

CHEREA: (DUDUK DAN TENANG).


Apa yang terjadi?

BANGSAWAN TUA:
Komplotan kita ketahuan.

CHEREA:
O? Lalu?

BANGSAWAN TUA:
Kini kita akan disiksa.

CHEREA: (MASIH SAJA TENANG).


Aku ingat, sekali waktu Caligula menghadiahkan uang sebanyak 81.000
Sesterces kepada seorang budak, karena ia mau mengakui pencurian yang
telah ia lakukan, biarpun ia disiksa setengah mati.

BANGSAWAN I:
Boleh juga hiburan begitu.

CHEREA:
Bagaimanapun juga kejadian itu membuktikan bahwa ia hormat pada
ketabahan. Yang bagusnya lagi waktu ditanya “mengapa 81.000 sesterces?”. Ia
menjawab “..dan mengapa harus 80.000 atau 79.000?”. (KEPADA BANGSAWAN
TUA). Dengan hormat, sudikah kau menghentikan gemeletuk gigi kau itu?
Bunyi itu aku paling tidak suka.

BANGSAWAN TUA:
Maaf….

BANGSAWAN I
Jangan main-main. Nyawa kita sekarang terancam.

CHEREA: (DINGIN).
Tahu kau ucapan apa yang paling disukai Caligula?

BANGSAWAN TUA: (SEDANG AIR MATANYA SUDAH HENDAK KELUAR).


Ya, ia katakan pada algojo: “Bunuh dia perlahan, supaya tahu ia bagaimana
rasanya mati!”

CHEREA

dari koleksi Teater Sae 68


Bukan, bukan itu. Ada lagi yang lebih bagus. Setelah suatu pembunuhan, ia
menguap lalu berkata dengan sungguh-sungguh: “Yang paling kukagumi ialah
kekebalan perasaanku”.

BANGSAWAN I:
Apa itu? (TERDENGAR BUNYI SENJATA).

CHEREA:
Ucapan itu menunjukan suatu kelemahan rencananya.

BANGSAWAN TUA:
Aku minta dengan hormat supaya kau berhenti berfilsafat. Itu pekerjaan yang
paling kubenci. (SEORANG HAMBA MASUK LALU MELETAKKAN SEBILAH PISAU
DI ATAS SEBUAH BANGKU).

CHEREA: (YANG TAK MELIHAT KEJADIAN ITU).


Filsafat? Susah untuk memberikan nama filsafat padanya. Tapi bagaimana pun
juga, tidak bisa diingkari pengaruh orang ini atas siapa saja yang berhubungan
dengan dia. Ia memaksa seseorang untuk berpikir. Ia memaksa seluruh dunia
ini berpikir. Ketidak-pastian: Tidak ada yang lebih bisa merangsang orang untuk
berpikir selain itu. Karena itu ia begitu dibenci.

BANGSAWAN TUA: (DENGAN TELUNJUK YANG GEMETAR).


Lihat!!

CHEREA: (MELIHAT PISAU-PISAU ITU: SUARANYA SEDIKIT BEROBAH).


Barangkali kau benar.

BANGSAWAN I:
Ya, sebetulnya kita tidak boleh menunggu. Kita harus bertindak segera.

CHEREA:
Ya, sesal itu selalu kemudian datangnya.

BANGSAWAN TUA:
Tapi ini gila namanya! Aku tidak mau mati.

IA TEGAK LALU MENCOBA UNTUK LARI. DUA ORANG PERAJURIT DATANG, DAN
SETELAH MENAMPAR MUKANYA LALU MEMAKSA DIA DUDUK KEMBALI.
BANGSAWAN I GELISAH DI ATAS KURSINYA. CHEREA MENGUCAPKAN
BEBERAPA PATAH KATA YANG TIDAK KEDENGARAN. TIBA-TIBA MUSIK YANG
AJAIB KEDENGARAN DI BELAKANG LAYAR, BUNYI KECAPI DAN GUNG.
BANGSAWAN-BANGSAWAN ITU SALING BERPANDANGAN DENGAN DIAM.
DENGAN BERBENTUK BAYANG-BAYANG KELIHATAN CALIGULA, MENARI LALU
KEMUDIAN MENGUNDURKAN DIRI. IA MEMAKAI ROK YANG BIASA DIPAKAI
PENARI BALET DAN KEPALANYA DIMAHKOTAI DENGAN BUNGA. TAK LAMA

69 dari koleksi Teater Sae


KEMUDIAN SEORANG PERAJURIT BERSERU DENGAN SUARA BERAT: “TUAN-
TUAN PERTUNJUKAN SUDAH SELESAI”. SEMENTARA ITU DENGAN DIAM-DIAM
CAESONIA MASUK DI BELAKANG BANGSAWAN-BANGSAWAN YANG ASYIK
MENONTON ITU. IA BICARA DENGAN SUARA BIASA, TAPI MEREKA ITU MASIH
JUGA KAGET KARENANYA.

Adegan Kelima

CAESONIA:
Caligula memerintahkan kepadaku untuk mengatakan kepada tuan-tuan,
bahwa jika ia selama ini mengumpulkan tuan-tuan untuk kepentingan negara,
hari ini tuan-tuan ia undang untuk menyertainya dalam suatu keharuan seni.
(DIAM SEBENTAR. KEMUDIAN IA LANJUTKAN DENGAN SUARA SAMA).
Selanjutnya ia menambahkan, bahwa siapa yang tidak ikut menyertai akan
dipenggal kepalanya. (MEREKA DIAM). Maafkan jika aku mendesak, tapi aku
harus menanyakan apakah tuan-tuan suka pada tarian yang baru tuan-tuan
lihat ini?

BANGSAWAN I: (SETELAH SANGSI SEBENTAR)


Suka, e…suka sekali, Caesonia!

BANGSAWAN TUA: (DENGAN PENUH PERSAAN)


Indah. Indah bukan main.

CAESONIA:
Kau Cherea?

CHEREA: (DENGAN DINGIN)


Seni yang bermutu.

CAESONIA
Baik. Sekarang kusampaikan kepada Caligula. (IA KELUAR).

Adegan Keenam

CHEREA:
Kita harus bertindak sekarang. Tuan-tuan tinggal dulu di sini. Sebelum fajar,
sudah harus ada 200 orang di sini. (IA KELUAR).

BANGSAWAN TUA:
Jangan, biar aku yang pergi. (MENGHIRUP UDARA). Di sini bau mayat.

BANGSAWAN I:

dari koleksi Teater Sae 70


Dan dusta. (SEDIH). Aku mengatakan tarian itu bagus.

BANGSAWAN TUA: (DENGAN NADA TAWAKAL)


Dilihat dari satu sudut, ….memang asli.

BEBERAPA ORANG BANGSAWAN DAN KESATRIA MASUK.

Adegan Ketujuh

BANGSAWAN II:
Ada apa, hah? Kaisar memanggil kami kemari.

BANGSAWAN TUA: (DENGAN LENA)


Untuk melihat tarian barangkali.

BANGSAWAN II:
Tarian apa?

BANGSAWAN TUA:
Maksudku, keharuan seni.

BANGSAWAN III:
Kudengar Caligula sakit keras.

BANGSAWAN I:
Ia sakit sekali, memang.

BANGSAWAN III:
Sakit apa? (DENGAN SUARA GEMBIRA). Demi Tuhan, apa ia akan mati?

BANGSAWAN I:
Kukira tidak. Penyakitnya berbahaya cuma untuk orang lain.

BANGSAWAN TUA:
Ya, itu benar.

BANGSAWAN II:
Aku mengerti. Apa tidak ada penyakitnya yang lain, yang agak kurang parah
tapi yang lebih menguntungkan kita?

BANGSAWAN I:
Tidak. Penyakit yang ia derita itu tidak ada tandingannya. Maaf, aku mau lihat
Cherea sebentar. (IA KELUAR).

71 dari koleksi Teater Sae


CAESONIA MASUK. DIAM.

Adegan Kedelapan

CAESONIA: (DENGAN SUARA TAK PEDULI).


Jika tuan-tuan ingin tahu, Caligula sekarang sakit perut. Sebentar ini ia muntah
darah. (BANGSAWAN-BANGSAWAN ITU BERKUMPUL SEKELILINGNYA).

BANGSAWAN II:
Ya, Tuhan. aku berjanji akan mendermakan 200.000 sesterces kepada
perbendaharaan, sebagai tanda syukur jika ia sembuh.

BANGSAWAN III: (SECARA BERLEBIHAN).


Jupiter, ambilah nyawaku sebagai ganti nyawanya.

CALIGULA MASUK DAN MENDENGARKAN SEBENTAR APA YANG MEREKA


UCAPKAN.

CALIGULA: (SAMBIL MENDEKATI BANGSAWAN II).


Dermamu kuterima Lucius. Terimakasih banyak. Bendaharaku besok akan
datang ke rumahmu. (MENDEKATI BANGSAWAN III LALU MEMELUKNYA). Aku
sangat terharu, sangat terharu. (DIAM SEBENTAR. KEMUDIAN DENGAN NADA
SAYANG). Jadi begitu benar cintamu kepadaku, Cassius?

BANGSAWAN III: (DENGAN PENUH EMOSI).


Wahai Caesar, tidak ada di dunia ini yang tak akan kukorbankan untuk
kepentingan kau.

CALIGULA: (MEMELUKNYA LAGI).


Ini terlalu tinggi, terlalu mulia. Aku tidak patut menerima cinta yang begitu
besar. (CASSIUS MENUNJUKKAN GERAKAN HENDAK MEMPROTESNYA). Betul,
aku tidak pantas, pemberian itu terlalu tinggi. (IA MEMANGGIL DUA ORANG
PRAJURIT). Bawa dia! (KEPADA CASSIUS DENGAN MANIS) Pergilah, sahabat
mulia dan jangan lupa, Caligula telah jatuh hati padamu.

BANGSAWAN III: (DENGAN SANGSI DAN GELISAH).


Mau dibawa kemana aku?

CALIGULA
Ah, ketiang gantungan tentu. Tawaranmu yang mulia itu diterima dan kini aku
sembuh. Bahkan rasa anyir darah di lidahkupun sudah hilang. Kau yang telah
menyembuhkan aku, Cassius. Mujarab sekali. Alangkah bangganya rasa hatimu
kini, karena telah mengorbankan nyawamu untuk kepentingan seorang

dari koleksi Teater Sae 72


sahabat. Apalagi kalau sahabat itu bernama Caligula! Kau lihat kini aku sudah
segar kembali dan siap untuk menghadiri satu malam gembira.

BANGSAWAN III: (BERTERIAK, WAKTU IA DIGIRING KELUAR).


Tidak. Tidak! Aku tidak mau mati. Kau berolok-olok, Caius.

CALIGULA: (DENGAN SUARA MERENUNG, DIANTARA TERIAKAN BANGSAWAN


III).
Segera jalan di pesisir pantai laut akan diselimuti mimosa. Perempuan-
perempuan akan memakai pakaian mereka yang paling tipis. Dan langit terang
dan cerah, Cassius. Itulah seyum kehidupan. (CASSIUS SUDAH SAMPAI KE
DEKAT PINTU. CALIGULA MEMBANTU MENDORONGKANNYA DENGAN SAYANG.
TIBA-TIBA SUARANYA MENJADI SUNGGUH-SUNGGU). Kehidupan ini, sahabat
baik, adalah sesuatu yang harus dicintai. Kau tak
akan mempermainkannya begitu mudah, kalau cintamu padanya cukup besar.
(CASSIUS DIBAWA PERGI. CALIGULA KEMBALI KE DEKAT MEJA). Yang kalah
harus membayar. Tidak ada jalan yang lain. (DIAM SEBENTAR). Mari Caesonia.
(IA MENGARAH KEPADA YANG LAIN). Kebetulan aku beroleh pikiran yang baik.
Begitu baik, sehingga aku ingin tuan-tuan juga tahu. Sampai saat ini
pemerintahanku terlalu berbahagia. Tidak ada bencana penyakit, tidak ada
perburuan agama, bahkan pemberontakan tak ada – pendeknya tidak ada yang
dapat membuat kami patut diperingati. Baik tuan-tuan tahu, karena itu
makanya aku mencoba menghilangkan kejahatan nasib. Maksudku – hmm, aku
tidak tahu – apakah tuan-tuan sudah mengerti. Maksudku (DENGAN SENYUM
SEDIKIT), akulah yang menggantikan bencana yang tidak ada itu. (DENGAN
MERUBAH SUARA). Sekian saja. Kulihat Cherea datang. Gilranmu kini,
Caesonia. (CALIGULA KELUAR. CHEREA DAN BANGSAWAN I MASUK).

Adegan Kesembilan

CAESONIA BERGEGAS KE ARAH CHEREA

CAESONIA:
Caligula telah mangkat. (IA BERPALING SEOLAH-OLAH HENDAK
MENYEMBUNYIKAN AIR MATANYA. MEMANDANG NANAP KEPADA YANG LAIN.
YANG HADIR DIAM. SEMUANYA KELIHATAN TAKUT, TAPI KARENA SEBAB LAIN).

BANGSAWAN I:
Kau…. Kau tahu betul kemalangan ini? Mustahil! Baru sebentar ini ia masih
menari.

CAESONIA:

73 dari koleksi Teater Sae


Justru karena itu. Rupanya terlalu berat untuk dia (CHEREA BERJALAN DARI
SEORANG KE SEORANG. TAK SEORANGPUN YANG BICARA). Tak adakah yang
mau kau katakan Cherea?

CHEREA: (DENGAN LEMBUT).


Kemalangan besar, Caesonia. (CALIGULA MASUK DENGAN KASAR, DAN PERGI
KEPADA CHEREA).

CALIGULA:
Bagus, bagus sekali Cherea! (IA BERPUTAR DAN MEMANDANG YANG LAIN
DENGAN KESAL) Sial! Yang diharapkan tak terjadi. (KEPADA CAESONIA) Jangan
lupa apa yang kukatakan. (IA KELUAR).

Adegan Kesepuluh

CAESONIA MEMANDANG SEDIH KEPERGIANNYA DENGAN TAK MENGUCAPKAN


KATA SEPATAHPUN.

BANGSAWAN TUA:
Apa ia sakit Caesonia?

CAESONIA: (DENGAN PANDANGAN TAK SENANG).


Tidak, cintaku. Tapi kau tak tahu bahwa tidurnya tidak lebih dari dua jam.
Selebihnya ia menjalani seluruh gang-gang istana ini sepanjang malam. Hal
lain yang kau juga belum tahu dan barangkali tak pernah kau pikirkan; pikiran
apa yang bisa muncul dalam dirinya pada jam-jam getir antara tengah malam
dan fajar. Sakit? Tidak. Tidak sakit - kecuali jika kau punya nama dan obat
untuk bisul hitam yang bersarang di dalam jiwanya

CHEREA: (RUPA-RUPANYA TERHARU OLEH KATA-KATA CAESONIA).


Betul, Caesonia. Kita semua tahu, Caius….

CAESONIA: (DENGAN CEPAT).


Ya, kau tahu. Tapi seperti mereka yang kekurangan jiwa. Kau tak mau
menyokong mereka yang punya jiwa terlalu banyak. Orang yang begitu
mengganggu, bukan? Karena itu ia disebutkan penyakit: dengan demikian
semua mereka yang cerdik dapat dibenarkan dan merasa puas. (DENGAN
SUARA YANG LAIN). Cherea, cinta, apa itu ada artinya bagimu?

CHEREA: (TELAH BIASA KEMBALI).


Kita sekarang terlalu tua untuk menelaah itu kembali, Caesonia. Lagipula
Caligula belum tentu akan memberi kita cukup waktu.

CAESONIA: (YANG TELAH MENDAPATKAN KETENANGANNYA KEMBALI).

dari koleksi Teater Sae 74


Betul. (IA DUDUK). Oh, hampir aku lupa, Caligula menyuruhku menyampaikan
sesuatu kepada tuan-tuan. Tuan-tuan tahu bahwa hari ini adalah hari seni.

BANGSAWAN TUA:
Menurut penanggalan?

CAESONIA
Bukan! Menurut Caligula! Ia telah memanggil beberapa orang penyair. Ia
akan meminta mereka membawakan sajak berdasarkan tema yang diberikan.
Dan ia mengingini dengan sangat supaya penyair yang hadir di antara tuan-
tuan hari ini akan ikut serta. Ia terlebih-lebih menginginkan Scipion dan
Mettelus.

METTELUS:
Tapi kami belum siap lagi.

CAESONIA: (DENGAN SUARA DATAR, SEOLAH-OLAH IA TAK MENDENGAR


UCAPAN ITU. Tak usah dikatakan, bahwa nanti akan diberikan hadiah. Juga
akan ada hukuman. (TERDENGAR SUARA-SUARA YANG GELISAH). Antara kita
sama kita, dapat kukatakan, hukuman itu tak begitu berat. (CALIGULA MASUK.
MUKANYA LEBIH MURUNG DARI BIASA).

Adegan Kesebelas

CALIGULA:
Semua siap?

CAESONIA:
Semua. (KEPADA SEORANG PERAJURIT). Suruh masuk para penyair.

MASUK, BERBARIS DUA-DUA, SELUSIN PENYAIR, MEREKA BERBARIS DI


PANGGUNG SEBELAH KANAN.

CALIGULA:
Dan yang lainnya?

CAESONIA:
Mattelus dan Scipion!

KEDUA MEREKA INI MENYEBERANGI PANGGUNG LALU MENGAMBIL TEMPAT DI


SAMPING PENYAIR-PENYAIR ITU. CALIGULA DUDUK DI BAGIAN BELAKANG
KIRI, BERSAMA CAESONIA DAN PARA BANGSAWAN. DIAM SEBENTAR.

CALIGULA:

75 dari koleksi Teater Sae


Acara: Maut. Waktu: Satu menit.

PENYAIR-PENYAIR MENULIS DENGAN BERGEGAS DI ATAS WARKAH MEREKA.

BANGSAWAN TUA:
Siapa yang jadi juri?

CALIGULA:
Aku sendiri. Apa itu belum cukup?

BANGSAWAN TUA:
Oh, tentu, tentu cukup.

CHEREA:
Mengapa kau sendiri tak ikut, Caius?

CALIGULA:
Tidak perlu. Sajak tentang ini sudah lama kutulis.

BANGSAWAN TUA: (ANTUSIAS).


Di mana sajak itu dapat diperoleh kini?

CALIGULA:
Tidak perlu dicari. Aku membacakannya setiap hari. Menurut caraku sendiri.
(CAESONIA MEMANDANG KEPADANYA DENGAN GELISAH. CALIGULA MELIHAT
KEPADANYA HAMPIR-HAMPIR DENGAN LIAR). Apa ada kau lihat sesuatu dariku
yang tak menyenangkan hatimu?

CAESONIA: (DENGAN MANIS).


Maaf.

CALIGULA:
Dengan segala hormat, jangan merendah diri. Demi segala-galanya, janganlah
merendahkan dirimu, Caesonia. Seperti kau sekarang ini, kau sudah cukup
menyusahkan. (CAESONIA MENGUNDURKAN DIRI DENGAN TENANG. CALIGULA
MEMANDANG KEPADA CHEREA). Kulanjutkan. Sajak itu adalah satu-satunya
yang pernah kubuat. Tapi ini telah membuktikan bahwa di Roma ini akulah
satu-satunya seniman sejati. Percayalah, aku adal satu-satunya yang telah
mengawinkan pikiran dengan perbuatan.

CHEREA:
Soalnya di sini apa kita punya kekuasaan atau tidak.

CALIGULA:

dari koleksi Teater Sae 76


Tepat. Seniman-seniman yang lain mencipta untuk menimbangi ketiadaan
kekuasaan mereka. Aku tidak perlu menciptakan suatu hasil seni: aku
menghidupinya. (DENGAN KASAR). Apa semuanya selesai?

METTELUS:
Kiraku sudah.

YANG LAIN:
Sudah.

CALIGULA:
Bagus. Sekarang dengar baik-baik. Seorang demi seorang harus meninggalkan
barisan dan tampil dihadapanku. Aku akan meniup peluit. Lalu nomer satu
mulai membacakan sajaknya. Kalu peluit kutiup ia harus berhenti. Lalu yang
berikutnya. Demikian seterusnya. Penyair yang sajaknya tidak diputus oleh
bunyi peluit, itulah yang menang. Siap…! (SAMBIL MENGHADAP KEPADA
CHEREA. IA BERBISIK). Kau lihat, organisasi diperlukan buat segalanya,
bahkan buat. (IA MENIUP PELUIT).

PENYAIR I:
Maut, di belakang pantaimu gelap…(BUNYI PELUIT. PENYAIR ITU MUNDUR KE
KIRI, YANG LAIN MELAKUKAN PROSEDUR YANG SAMA. GERAKAN-GERAKAN
HARUS DIBUAT DENGAN SUATU PROSESI YANG MEKANIS).

PENYAIR II:
Dalam gaunmu, ketiga adik kakak….(PELUIT)

PENYAIR III:
Kupanggil kau maut….(PELUIT. PENYAIR IV MAJU DAN MEMBUAT GERAKAN
YANG DRAMATIS. TAPI SEBELUM IA MEMBUKA MULUT PELUIT SUDAH
BERBUNYI).

PENYAIR V:
Kala aku masih budak kecil.

CALIGULA: (BERTERIAK).
Stop! Apapula hubungan masa budak seorang dungu dengan acara yang
kuadakan ini? Hubungannya apa?

PENYAIR V:
Aku baru saja mau mulai, Caius… (PELUIT).

PENYAIR VI: (DENGAN SUARA TINGGI).


Gelisah ia jalani…. (PELUIT)

PENYAIR VII: (DENGAN MISTERIUS).

77 dari koleksi Teater Sae


Ucapan rahasia dan menyebar… (PELUIT MEMOTONG).

SCIPION MAJU DENGAN TAK MEMEGANG APA-APA.

CALIGULA:
Mana catatan?

SCIPION:
Aku tidak memerlukan.

CALIGULA:
Cobalah! (KELIHATAN IA MENGUNYAH-NGUNYAH PELUITNYA).

SCIPION: (BICARA DEKAT-DEKAT PADA CALIGULA DAN MENGUCAPKAN


SAJAKNYA DENGAN TAK MELIHAT PADA CALIGULA).
Perburuan bahaya yang memurnikan hati,
Langit karut-marut karena cahaya,
Pesta luar biasa dan liar,
Keadaan tanpa harapan……!

CALIGULA: (DENGAN LEMBUT).


Cukup begitu. Yang lain tak usah lagi bertanding. (KEPADA SCIPION). Umur
kau masih terlalu muda untuk mengetahui pelajaran yang dapat kita peroleh
dari maut.

SCIPION: (NANAP MEMANDANG KEPADA CALIGULA).


Aku masih terlalu muda waktu ayahku dibunuh orang.

CALIGULA: (MENGALIHKAN WAJAHNYA DENGAN CEPAT).


Yang lain baris! Seorang penyair yang palsu adalah siksaan terlalu berat bagiku.
Sampai saat ini aku masih berniat menjadikan kalian serikatku. Kadang-
kadang kubayangkan bagaimana sekumpulan penyair-penyair yang berani
melindungi aku di pertahanan terakhir. Satu impian lagi hilang. Kalian terpaksa
kuanggap musuh. Nah, jadi penyair pun kini menjadi musuhiku. Artinya,
segalanya berakhir sudah. Sekarang, baris dengan teratur! Waktu kalian
melintas di depanku kalian harus menjilati tulisan kalian sampai bersih. Siap!
Maju…jalan! (MENIUP PELUITNYA MENURUT IRAMA-IRAMA PENDEK. SAMBIL
BERBARIS TERATUR KE KANAN, PARA PENYAIR ITU MENJILAT TULISAN
MEREKA. CALIGULA KEMUDIAN MENGATAKAN DENGAN SUARA RENDAH).
Sekarang tuan-tuan boleh pergi.

DI PINTU WAKTU MEREKA KELUAR, CHEREA MENJAMAH BAJU BANGSAWAN I,


LALU BERBISIK KE TELINGANYA.

CHEREA:
Masanya telah datang.

dari koleksi Teater Sae 78


SCIPION YANG MENDENGAR ITU, BERHENTI DI AMBANG PINTU LALU PERGI
PADA CALIGULA.

CALIGULA: (DINGIN).
Apa kau tak bisa membiarkan aku sendiri, seperti yang telah dilakukan
ayahmu?

Adegan Keduabelas

SCIPION:
Tak ada gunanya, Caius. Aku tahu kini kau telah menentukan pilihanmu.

CALIGULA:
Biarkan aku.

SCIPION:
Ya aku akan pergi. Aku akan meninggalkan kau karena kini aku telah mengerti
kau. Tidak ada jalan lain buat kita – kau dan aku, aku yang begitu menyerupai
kau dalam banyak hal. Aku akan pergi jauh mencari makna dari segala hal ini.
(IA MEMANDANG CALIGULA BEBERAPA SAAT. KEMUDIAN DENGAN EMOSI).
Selamat tinggal, Caius. Jika semua telah berakhir, jangan lupa, aku sayang
pada kau (IA PERGI. CALIGULA MEMBUAT GUNDAM YANG SAMAR. KEMUDIAN,
HAMPIR TIBA-TIBA DIKUMPULKANNYA KEKUATANNYA LALU MELANGKAH KE
ARAH CAESONIA).

SCIPION: (SAMBIL PERGI).


Kau telah memilih, Caligula

CAESONIA:
Apa katanya?

CALIGULA:
Kau tak akan mengerti.

CAESONIA:
Apa yang kau pikirkan?

CALIGULA:
Dia. Dan kau. Tapi sama saja.

CAESONIA:
Mengapa dia?

79 dari koleksi Teater Sae


CALIGULA: (SAMBIL MEMANDANG CAESONIA).
Scipion telah pergi. Habis dengan segala persahabatan. Tapi kau, aku bertanya,
mengapa kau masih ada di sini….?

CAESONIA:
Karena aku suka pada kau.

CALIGULA:
Tidak. Barangkali aku bisa mengerti kalau kau kubunuh.

CAESONIA:
Ya, itu baik sekali. Lakukanlah….! (DIAM. LALU TIBA-TIBA). Mengapa,
mengapa kau tidak bisa tenang barang sesaat dan hidup bebas, tanpa
tertekan?

CALIGULA:
Telah bertahun-tahun aku lakukan hidup bebas itu

CAESONIA:
Maksudku bukan kebebasan seperti kau artikan. Maksudku, apakah tidak bisa
kau hidup dan bercinta dalam kemurnian hati?

CALIGULA:
Kemurnian hati yang kaubicarakan - setiap orang memperolehnya dengan
caranya sendiri. Kemurnian hatiku ialah untuk mengikuti hal-hal yang azazi
sampai ke ujung-ujungnya benar. Sungguhpun begitu aku tak merasa terhalang
untuk membunuh kau. (TERTAWA). Ia akan membulatkan kehidupanku. Satu
puncak yang sempurna. (IA BERDIRI LALU DITARIKNYA CERMIN KE ARAH
DIRINYA. KEMUDIAN IA BERJALAN MENGITAR, MEMBIARKAN LENGANNYA
TERGANTUNG. HAMPIR TAK BERGERAK; ADA SESUATU YANG LIAR PADA
LANGKAHNYA ITU. IA BICARA TERUS SAMBIL BERJALAN). Aneh! Jika aku tak
membunuh, aku merasa sendiri. Yang hidup rupanya tak sanggup meramaikan
hidupku dan menghilangkan keisenganku. Rasanya aku merasa kosong benar,
jika kau dan yang lain itu hadir di sini. Mataku hanya menampak udara yang
hampa. Tidak. Aku cuma senang jika dikawani orang-orang yang kubunuh (IA
MENGHADAP PENONTON, AGAK MEMBUNGKUK SEDIKIT KE DEPAN. IA LUPA
BAHWA CAESONIA HADIR DI SITU). Hanaya mereka yang telah mati yang
betul-betul nyata. Mereka segolongan dengan aku. Kulihat mereka menunggu
aku, menggamit ke arahku. Percakapanku panjang sekali dengan lelaki ini..atau
itu…yang berseru kepadaku, supaya diampuni. Lidah mereka kemudian
kupotong.

CAESONIA:
Kemarilah! Baring dekat aku. Letakkan kepalamu di pangkuanku. (CALIGULA
MENGIKUTI PERMINTAAN ITU). Begitu lebih baik. Sekarang tenanglah.
(BEBERAPA SAAT KEMUDIAN). Senyap betul di sini.

dari koleksi Teater Sae 80


CALIGULA:
Senyap? Kau terlalu melebih-lebihkan, sayang. Dengarlah! (KEDENGARAN
SUARA BESI SENJATA DAN BAJU ZIRAH DARI JAUH). Kau dengar bunyi halus
yang beribu banyaknya di sekeliling kita? Dendam sedang menyebar benih!
(BUNYI GEMERISIK ORANG BERJALAN DAN RENGUNG-RENGUNG SUARA
MANUSIA).

CAESONIA:
Tidak ada yang berani…

CALIGULA:
Ada. Kebodohan.

CAESONIA:
Kebodohan tidak membunuh. Ia memperlambat manusia bertindak.

CALIGULA:
Ia bisa berbahaya sekali, Caesonia. Seorang dungu tidak bisa dihalangi jika ia
merasa martabatnya tersinggung. Bukan mereka yang ayahnya atau anaknya
telah kubunuh yang akan membunuhku. Mereka, bagaimanapun juga cukup
mengerti. Mereka di pihakku. Mereka mengecap rasa yang sama di mulut
mereka. Tapi yang lain. Yang telah kujadikan buah tertawaan. Aku tidak bisa
bertahan terhadap kekenesan mereka yang tersinggung.

CAESONIA: (DENGAN SEMANGAT).


Kami akan membela kau. Yang mencintai kau masih banyak.

CALIGULA:
Kalian makin hari makin sedikit. Tidak heran. Akulah yang jadi sebab. Lagi pula,
secara terus terang, bukan saja kebodohan yang menentang aku sekarang. Tapi
juga keberanian dan keyakinan manusia yang bersahaja untuk beroleh
kebahagiaan.

CAESONIA: (DENGAN SUARA YANG SAMA).


Tidak, mereka tidak akan membunuh kau. Jika mereka coba juga, api akan
turun dari langit dan akan menghanguskan mereka sebelum kau dapat mereka
singgung.

CALIGULA:
Langit!? Langit tidak ada, cintaku yang malang. (IA DUDUK). Tapi mengapa kau
tiba-tiba jadi saleh? Kalau aku tidak salah, ini tidak termasuk dalam perjanjian
kita.

CAESONIA: (BERDIRI DAN BERJALAN MEMUTAR. MUNDAR-MANDIR).

81 dari koleksi Teater Sae


Belum cukupkah buat kau lagi? Melihat kau membunuh orang, sedang aku tahu
bahwa kaupun akan dibunuh orang? Belum cukupkah aku merasakan dirimu
yang keras dan bengis, meluap karena kegetiran, jika aku sedang memangku
engkau? Menciumi bau pembunuhan jika kau meniduri aku? Hari demi hari
kulihat kemanusiaan yang ada pada dirimu mati sedikit demi sedikit. (IA
BERBICARA KEPADANYA). Oh, ya. Aku tahu, aku tahu sudah tua dan
kecantikanku habis. Tapi kau, hanya kau yang kuruhkan sekarang. Bagitu rupa
hingga aku tidak lagi memikirkan apakah kau cinta padaku atau tidak. Aku
Cuma ingin supaya kau sehat kembali. Kau masih budak. Hidup yang akan kau
hadapi masih panjang. Coba katakan, apakah yang berharga lagi dari seluruh
kehidupan?

CALIGULA: (BERDIRI DAN MEMANDANG NANAP).


Kau sudah lama sekali bersama aku.

CAESONIA:
Betul. Tapi kau tak akan melepaskan aku, bukan?

CALIGULA:
Aku tidak tahu. Aku cuma tahu, jika kau sekarang masih bersamaku, maka itu
adalah karena malam-malam yang kita alami bersma. Malam kemikmatan yang
tak mengandung kegembiraan. Karena hanya kau yang tahu bagaiamana
sebenarnya aku. (IA PANGKU CAESONIA, LALU DITENGADAHKANNYA
KEPALANYA SEDIKIT KE BELAKANG DENGAN TANGAN KANANYA). Umurku kini
29 tahun. Masih belia sekali. Tapi hari ini jika nyata bahwa umurku hanya
sampai segitu, yang penuh oleh goresan dan tarikan masa lampau, begitu
lengkap dengan kejadian, kau akan tetap tinggal sebagai saksi terakhir. Aku tak
bisa mencegah diriku untuk merasakan semacam rasa sayang terhadap
seorang perempuan yang tak lama lagi akan jadi tua.

CAESONIA:
Katakan kau masih menginginkan aku, sayang.

CALIGULA:
Aku tidak tahu. Yang aku tahu cuma perasaan sayang ini – bagaimanapun
memalukan rasanya - adalah satu-satunya rasa jujur yang diberikan hidupku
padaku. (CAESONIA MELEPASKAN DIRI DARI PANGKUAN CALIGULA. CALIGULA
MENGIKUTI DIA. CAESONIA MENEKANKAN BADANNYA KE DADA CALIGULA.
DAN CALIGULA MELINGKARKAN TANGANNYA KE TUBUH CAESONIA). Apakah
tidak lebih baik jika saksi terakhir juga menghilang?

CAESONIA:
Itu tidak penting. Ucapan kau membuat aku bahagia. Tapi mengapa aku tak
dapat lagi membagikan kebahagiaanku dengan kau?

CALIGULA:

dari koleksi Teater Sae 82


Siapa yang mengatakan aku tidak bahagia?

CAESONIA:
Bahagia sifatnya baik, ia tidak merusak

CALIGULA:
Kalau begitu, bahagia ada dua macam. Dan aku telah memilih bahagia yang
membunuh. Karena dengan membunuh aku jadi bahagia. Ada masanya aku
mengira telah mencapai puncak dari keperihan. Tapi tidak, orang bisa pergi
lebih jauh lagi. Dibalik batas keperihan itu terbentang bahagia yang indah tapi
tak hidup. Pandanglah aku. (CAESONIA MENGARAH KEPADANYA). Aku mau
tertawa rasanya, Caesonia, jika melihat bagaimana seluruh Roma
menghindarkan untuk mengucapkan nama Drusilla. Seluruh Roma sudah salah
terka. Cinta tidak cukup bagiku. Waktu itu telah kusadari. Ini haripun kusadari
lagi, jika aku memandangi wajahmu. Mencintai seseorang berarti kita bersedia
menjadi tua di samping seseorang itu. Cinta seperti ini ada di luar susunanku.
Lebih baik Drusilla mati daripada melihat ia menajdi tua. Kebanyakan orang
mengira bahwa seseorang menderita karena oleh kematian baru direnggutkan
pada perempuan yang kita cintai. Tapi penderitaannya yang sebenarnya lebih
banyak mempunyai arti. Derita ini datangnya dari penemuan bahwa kesedihan
pun tak panjang umurnya. Juga kesedihan adalah suatu kekenesan. Kau lihat,
tak ada yang dapat kujadikan alasan: Bukan bayangan dari suatu cinta yang
murni, juga bukan kegetiran, juga bukan penyesalan yang jujur. Tak ada yang
dapat dijadikan alasan untuk melepaskan diri. Tapi hari-hari ini kau lihat aku
lebih merdeka - dari tahun-tahun yang sudah. Merdeka dari kenangan dan
harapan. (IA TERTAWA DENGAN PAHIT). Aku tahu, tahu bahwa tidak ada yang
berlangsung selamanya. Alangkah besar artinya pengetahuan ini. Dalam
sejarah hanya ada dua yang betul-betul mencapai kemerdekaan ini, kau telah
melihat sebuah drama yang jarang sekali terjadi. Sudah waktunya layar
diturunkan buat kau

IA BERDIRI DI BELAKANG CAESONIA KEMBALI, SAMBIL MEMAGUTKAN


LENGANNYA KELILING LEHER CAESONIA.

CAESONIA: (DENGAN TAKUT).


Tidak. Tidak mungkin. Bagaimana kau dapat menyebut kemerdekaan yang
bengis ini, kebahagiaan..???

CALIGULA: (YANG MAKIN LAMA MAKIN MEMPERKERAS PAGUTAN LENGANNYA


PADA LEHER CAESONIA).
Itu adalah kebahagiaan, Caesonia. Aku tahu apa yang kau ucapkan. Karena
kemerdekaan ini aku jadi manusia yang puas. Hanya berkat itu aku dapat
merebut pencerahan dewata dari kesunyian. (KEGEMBIRAAN BERTAMBAH
BESAR SEDANGKAN LENGANNYA SEMAKIN KERAS MENGEPIT LEHER CAESONIA
YANG TIDAK MENCOBA MEMBELA DIRI, TAPI MEMBIARKAN DIRI DAN
TANGANNYA. SAMBIL MEMBUNGKUKKAN KEPALANYA, CALIGULA TERUS

83 dari koleksi Teater Sae


BICARA KE TELINGA CAESONIA). Aku hidup, aku membunuh dengan penuh
nafsu kekuasaan seorang perusak. Kekuasaan jika dibandingkan dengan kuasa
sang pencipta, maka yang terakhir ini tidak lebih dari mainan anak-anak. Dan
ini, inilah kebahagian. Tidak ada lagi yang lain – pembebasan yang tak dapat
dibiarkan ini, penghinaan yang menghancurkan, darah, dendam di
sekelilingku. Penyisihan besar dari seorang laki-laki yang selama hidupnya
mengelus-elus dan mengasyiki kegembiraan, yang tak dapat dikatakan dari
seorang pembunuh yang tak dihukum. Logika yang gelisah yang
menghancurkan hidup manusia. (IA KETAWA). Yang menghancurkan hidupmu
juga, Caesonia. Sehingga akhirnya sempurna kesunyian yang dikehendaki
hatiku.

CAESONIA: (MENGGELEPAR DENGAN LEMAH).


Caius..!

CALIGULA: (MAKIN LAMA MAKIN BERNAFSU).


Jangan, jangan..! Jangan jadi lemah! Aku harus selesaikan ini. Waktu
mendesak, Caesonia sayang! (CAESONIA TERENGAH-ENGAH, LALU MATI.
CALIGULA MEMBAWANYA KE DIVAN DAN MENJATUHKANNYA DI SANA. IA
MEMANDANG DENGAN LIAR KEPADANYA; SUARANYA JADI GARAU DAN
BERDERAK). Kau juga, berdosa. Tapi pembunuhan bukan penyelesaian.

Adegan Ketigabelas

CALIGULA BERPUTAR DAN MEMANDANG NANAR DENGAN LIAR KEPADA KACA.

CALIGULA:
Caligula! Kau juga, kau juga berdosa. Tidak apa – sedikit banya sedikit kurang?
Kini siapa yang bisa mengutuki aku di dunia ini dimana tidak ada hakim,
dimana semua orang berdosa? (IA DEKATKAN MATANYA KEPADA BAYANGAN
MUKANYA). Kau lihat, kawan yang malang. Helicon telah meninggalkan kau.
Aku tak akan memperoleh bulan. Tidak kapanpun juga. Pahit sekali
mengetahui segala ini dan mejalani segala penyelesaiannya. Dengarr! Bunyi
senjata! Yang tak berdosa mengangkat senjata dan yang tak berdosa akan
menang. Mengapa aku tidak di sana bersama mereka? Apa aku takut? Ini yang
paling celaka, setelah menghina orang kemudian mengetahui diri sama
pengecutnya dengan mereka. Ah, tidak apa. Ketakutanpun punya akhir. Segera
akan kuperoleh kekosongan yang mengatasi segala pengertian. Di mana hati
dan jiwa dapat beristirahat. (IA MUNDUR BEBERAPA LANGKAH, KEMUDIAN
KEMBALI KE CERMIN. IA KELIHATANNYA LEBIH TENANG. WAKTU BERBICARA
KEMBALI SUARANYA TERDENGAR MANTAP DAN TETAP). Sebetulnya sangat
mudah. Jika kudapat bulan, jika cinta cukup, semuanya tidak akan seperti
sekarang. Tapi dimana dapat kulepaskan dahaga ini? Hati manusia yang mana,
dewa yang mana, yang akan memberikan padaku kedalaman sebuah danau?

dari koleksi Teater Sae 84


(BERLUTUT, LALU MENANGIS). Tidak ada di dunia ini atau dunia sana yang
sesuai dengan aku. Dan kini aku tahu, kau pun tahu. (SAMBIL MENANGIS,
DIJANGKAUKANNYA TANGANNYA KE KACA). Yang kuperlukan hanya yang tak
mungkin, yang mustahil. Aku telah mencarinya di setiap sudut dunia, dalam
liku-liku rahasia hatiku. Kuulurkan tanganku….(SUARANYA MENAJDI
TERIAKAN). Lihat, kuulurkan tanganku tapi selalu kau yang kujumpai. Cuma
kau, yang menghadapi aku. Aku pada kau! Aku telah memilih jalan yang salah.
Jalan yang tak mengantarkan aku kemana-mana. Kemerdekaanku, bukanlah
kemerdekaan yang sebenarya….. Belum…! Belum apa-apa lagi. Wahai…,
beratnya kegelapan ini. Helicon tidak datang. Kita akan selalu berdosa. Udara
malam ini berat sekali seperti diisi dengan jumlah segala kesedihan manusia.

LAGA-LAGA SENJATA DAN BISIK-BISIK KEDENGARAN DI BALIK LAYAR.


CALIGULA TEGAK. IA AMBIL SEBUAH KURSI LALU IA KEMBALI KE KACA LAGI.
SAMBIL BERNAPAS DENGAN BERAT, IA RENUNGKAN DIRINYA SENDIRI.
MELOMPAT SEDIKIT KE DEPAT DAN SAMBIL MEMPERHATIKAN GERAKANNYA DI
KACA ITU, DIPUKULKANNYA KURSI ITU PADA KACA, SAMBIL BERTERIAK.

CALIGULA:
Masuki sejarah, Caligula….! (KACA PECAH DAN PADA SAAT ITU PARA
PEMBERONTAK MASUK. MEREKA BERSENJATA. CALIGULA BERBALIK LALU
MENGHADAPI MEREKA DENGAN KETAWA YANG GILA. SCIPION DAN CHEREA
YANG BERADA DI DEPAN MENYERBU LALU MENIKAM MUKA CALIGULA. KETAWA
ITU BERTUKAR JADI SUARA TERENGAH-ENGAH. SEMUANYA MENIKAM DAN
MEMUKUL TAK BERATURAN. DALAM TERENGAH-ENGAH, KETAWA DAN
KESESAKAN NAFAS, CALIGULA MEMEKIK).

CALIGULA:
Aku masih hidup…..!!!!

LAYAR–TURUN

SELESAI

85 dari koleksi Teater Sae