Anda di halaman 1dari 5

c  


 

m  
 
c  
|
 
 
  

|

| |

|| 
 | || |
|| 
 | | || 
| 
| ||  | |
| ||| 
 | || |
|| 
 | | || 
| 
| ||
 | || |
|

m  
  

Waktu selalu berjalan terasa lebih cepat dari kebutuhan kita. Rasanya
baru kemarin aku menghadapi tangis istriku yang membuat aku gelagapan,
karena bingung harus berbuat apa untuk mendiamkannya. Aku masih ingat betul
bagaimana istriku pecah tangisnya ketika aku memutuskan untuk menikah lagi.
Berat memang, tapi semua harus terjadi. Apa yang kulakukan bukanlah sesuatu
yang dilarang oleh agama. Dan tak terasa, kini sudah setahun umur
pernikahanku yang ke-dua.

Meskipun berat serasa mau kiamat, namun pada akhirnya, Wulan istriku
bisa menerimanya. Kami bisa menjalani pernikahan ini dengan baik. Pertolongan
Allah yang begitu banyak menghampiri tanpa kami sadari.

Sebagai seorang suami, meskipun tidak sama persis, aku dapat merasakan
apa yang dirasakan oleh Wulan. Rasanya memang tidak akan pernah ada wanita
yang ikhlas untuk berbagi suami. Tidak akan ada wanita yang ikhlas apabila
cinta dan perhatian suaminya terbagi dengan wanita lain. Dan itulah yang
dirasakan Wulan. Namun berkat bekal tarbiyah yang dia miliki sejak kecil,
akhirnya Wulanpun bisa ikhlas menerima kenyataan. Walau terkadang tangisnya
kembali meledak. Apalagi kalau sedang mengalami masa-masa sensitif yang
biasa dialami wanita pada umumnya. Ditambah lelah mengurus dua anak hasil
pernikahan kami. Sebenarnya akupun tak tega jika melihat airmatanya tumpah.
Teringat bagaimana perjuangannya pada saat melahirkan, pada saat menyambut
dan melayaniku saat pulang kerja, meskipun dirinya sendiri telah merasakan
kelelahan setelah bekerja seharian. Tapi, yaa Rabb, akupun sangat mencintai
istri ke-duaku. Bukan karena kecantikannya, tapi karena kesolehan dan
ketaataannya. Itulah yang membuat aku berani menikahinya. Dan terus-
menerus berusaha meyakinkan Wulan, bahwa teman barunya itu bisa menjadi
teman dalam berdakwahnya. Karena kami sama-sama aktivis dakwah.

Dan akhirnya Wulanpun bisa menerima takdirnya, yang harus berbagi suami
dengan akhwat lain. Dan yang membuatku bangga, kini diantara keduanya telah
terjalin sebuah keakraban dua orang sahabat. Dan itu semakin membuatku
mencintai Wulan istriku. Aku bersyukur kepada Allah, karena telah
mengkaruniaiku istri shalihah yang begitu penyabar dan lapang dada.
Rasa cintaku kepada Wulan semakin besar, ketika suatu hari, ia pergi
untuk mengunjungi rumah salah seorang murid sekolahnya. Teguh.

Saat itu, sebuah ambulan memasuki halaman rumah Pak Dani, ayah Teguh.
Menurunkan sebuah kotak persegi panjang di lantai ruang tamu rumahnya. Tak
seorangpun berani membuka peti tersebut. Tidak juga Pak Dani sendiri. Semua
membisu. Hanya tetes-tetes airmata yang berjatuhan di pipi orang-orang yang
merasa kehilangan.

Mungkin tidak akan menjadi masalah untuk membuka peti tersebut jika
yang ada di dalamnya adalah jenazah utuh orang meninggal secara normal.
Namun karena di dalam peti tersebut adalah sosok tubuh yang telah hancur,
maka tak seorangpun yang berani membukanya. Tepatnya tidak tega.

´Semua ini gara-gara, Ayah!µ tiba-tiba seorang gadis belia yang masih
duduk di bangku SMP, histeris. Dia adalah kakak Teguh. ´Kalau tidak gara-
gara Ayah, tidak mungkin semua ini terjadi! Ayah kejam!µ

Beberapa orang berusaha menenangkan gadis itu, namun ia terus berontak.


Berteriak semaunya. Dan sebagian yang lainnya berusaha membawa Teguh,
yang masih sekolah TK, menyingkir dari tempat itu. Anak kecil yang masih
sangat polos, yang belum mampu memaknai apa yang sedang terjadi. Sementara
si gadis terus berteriak menangisi sosok yang telah menjadi penghuni peti
tersebut. Pemandanganpun semakin terasa menyayat. Hampir semua pelayat
ikut menangis menyaksikan keadaan itu.

Semua ini ini bermula ketika Nurjanah, ibu dari si gadis dan si kecil, yang
tidak lain adalah murid istriku, mempunyai penyakit yang aneh. Sudah dibawa
berobat kemana-mana, namun belum ada yang mampu mengobati. Sejak tujuh
bulan terakhir Nurjanah tidak pernah bisa tidur setiap malam. Berteman
gelisah disepanjang malam-malamnya.

Dan satu malam yang dingin, di atas jam dua belas malam, ketika anak-
anak sudah tidur semua, seperti biasa, Nurjanah keluar untuk mencari udara.
Seperti biasa pula, Pak Dani, suaminya dengan setia menemani. Namun entah
mengapa, malam itu setelah beberapa jam menemani berjalan dan duduk-duduk,
Pak Dani merasa kelelahan dan sangat mengantuk. Sehingga dia minta izin
untuk pulang, tidur. Karena benar-benar sudah tidak kuat. Maka Nurjanahpun
mengizinkan.
Dan ketika subuh tiba, Pak Dani bangun dalam keadaan terkejut. Istrinya
belum ada di sampingnya. Kedua anaknya memanggil-manggil. Seketika Pak Dani
keluar rumah untuk mencari istrinya.

Tempat utama yang ia tuju adalah yang biasa mereka duduki. Tak
ditemukan. Di tempat yang biasa mereka lalui ketika berjalan-jalanpun tiada.
Dan ketika matahari sudah mulai naik, bumi sudah kembali diceriakan oleh
sinarnya, saat itulah beberapa orang berkerumun di sekitar rel kereta api. Ada
tubuh hancur di sana .

Seketika, pagi yang cerah dan tenang berubah menjadi sontak dengan
berita hilangnya Nurjanah dan diketemukannya tubuh hancur itu. Pak Dani,
was-was, jangan-jangan itu adalah istrinya. Tapi jika benar itu tubuh istrinya,
bagaimana dia bisa ada di sana ? Sengaja? Tidak mungkin. Nurjanah adalah
wanita shalihah yang taat beribadah. Taat mengunjungi pengajian ibu-ibu di
majelis sekitarnya. Dia tidak mungkin melakukan kesengajaan untuk
mencelakakan dirinya sendiri. Dia tidak mungkin bunuh diri. Begitu Pak Dani
Berfikir.

Namun setelah diadakan penyelidikan, ternyata fakta menyatakan bahwa


itu memang tubuh Nurjanah istrinya.

Innalillahiwainnailaihirojiuun«tak ada yang bisa dilakukan oleh Pak Dani.


Kecuali pasrah menerima ketentuan ini. Nurjanah ditemukan telah hancur tak
berbentuk terlindas kereta api. Ya, semua orang mengira Nurjanah tergilas
kereta api karena sebuah kecelakaan. Namun Rabb« setelah dilakukan
penyelidikan lebih lanjut, ternyata wanita itu melakukannya dengan sengaja.
Seorang saksi melihat Nurjanah dengan sengaja berjalan ke arah rel kereta
api. Juga sebelum menjemput kematiannya, Nurjanah sempat melepas
pakaiannya dan menaruhnya di satu tempat agar dikenali.

Muslimah yang taat beribadah itu, Muslimah yang aktif di majelis


pengajian itu, meninggal dunia akibat bunuh diri. Naudzubillah.

Beberapa hari kemudian, ketika aku sedang beristirahat di salah satu


ruang dalam rumahku, tiba-tiba Wulan istriku mendekat,
´Abi.µ Panggilnya.
´Ya, Ummi?µ aku menyambut.
´Setelah diselidiki,µ ucapnya. Aku menunggu. ´ternyata benar, Bi.
Nurjanah bunuh diri karena stress, akibat suaminya menikah lagi.µ

´Masya Allah,µ gumamku. Seketika kupeluk tubuh Wulan. Erat. Erat


sekali. Tubuhku gemetar. Aku menangis. Sebegitu dahsyatnya efek berpoligami
bagi seorang wanita yang tidak siap. Sehingga wanita yang terkenal
keshalihahannyapun bisa nekat melalukan tindakan yang paling dikutuk oleh
Allah. Aku semakin erat memeluk tubuh istriku, dalam limpahan syukur yang
membuncah, karena Allah telah mengkaruniakan seorang istri shalihah seperti
Wulan. Wanita beriman yang taat kepada Allah.

Mungkin jika yang kunikahi lima tahun yang lalu bukan Wulan, entah apa
yang akan terjadi sekarang. Lima tahun dia menjadi istriku, dia tak pernah
protes ataupun mengeluh ketika kutinggal keluar hingga bermalam hitungannya.
Demi dakwah, dia ikhlas menjaga kedua buah hati kami tanpa aku selalu bisa
bersamanya. Tapi, aku masih juga kurang bersyukur dengan anugerah besar ini.
Aku masih menyakiti hatinya dengan menikahi satu wanita lain, meskipun
akhirnya dia meredhai. Rabb, ampuni aku«

Semoga ini bisa menjadi pelajaran dan kehati-hatian bagi para ikhwan yang
hendak memilih pasangan hidup. Pilihlah wanita shalihah yang benar, agar jika
suatu hari jika menghadapi masalah, apapun permasalahannya, dia akan tetap
berpegang teguh pada tali-Nya. Mengembalikan semuanya hanya kepada-Nya.

Terima kasih Rabb, Engkau telah memilihkanku seorang istri yang shalihah,
lemah lembut dan penyabar seperti Wulan. Aku akan selalu menyayanginya.
Selamanya«

Tulisan ini dalam rangka ikut kontes blog bersama|