Anda di halaman 1dari 50

KONSULTAN PERIKANAN

BUDIDAYA, PENANGANAN PASCA PANEN & PENGOLAHAN

FUAD ANDHIKA RAHMAN, S.Pi, M.Sc

Riwayat Pendidikan
1. SDN 8 Mataram (1988 - 1994)
2. SMPN 1 Mataram (1994 – 1997)
3. SMAN 1 Mataram (1997 – 2000)
4. Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya (2000 – 2005)
5. Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (2007 – 2009)
Riwayat Magang dan Pelatihan
1. Magang Pembenihan Kerapu Tikus : Balai Budidaya Air Payau Situbondo (Agustus 2001)
2. Magang Pengalengan Ikan : PT Blambangan Muncar Banyuwangi (Februari – Maret 2002)
3. Magang Pembenihan Udang Windu : Balai Budidaya Air Payau Jepara (Juli – Agustus 2002)
4. Magang Pembenihan Udang Galah : Balai Budidaya Air Tawar Sukabumi (15 Juli – 04 Agustus 2003)
5. International Symposium On Ecology And Health Safety Aspects Of Genetically Modified Agricultural Products
(Brawijaya University, Malang 20 May 2002)
6. Pelatihan Pengukuran Kualitas Air (Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya 11 – 12 Mei 2002)
7. Pelatihan Best Management Practices Budidaya Udang Vanamei (BBAP Situbondo, 4 – 9 Juni 2007)
Riwayat Organisasi
1. Presiden Junior Achievement International (JAI) Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya Periode 2003 – 2004
2. KaDiv Litbang Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya Periode 2003 – 2004
3. Ketua Forum Pemberdayaan Mahasiswa dan Masyarakat Perikanan (FPMMP) Periode 2004 – 2005
4. Ko. Asisten Laboratorium Budidaya Perairan Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya Periode 2004 – 2005
Riwayat Publikasi dan Karya Tulis
1. Gynogenesis, Menciptakan Koi Seperti Indukan (Tabloid IndoFish Edisi 15/Oktober 2004)
2. Mengantisipasi Saat Virus Mewabah (Tabloid IndoFish Edisi18/Januari 2005)
3. Kumpulan e-book Rumput Laut (18 Buku) : akses di www.scribd.com / www.slideshare.com /www.jasuda.net
4. Skripsi : Pengaruh Umur Bibit dan Frekuensi Perendaman ZPT Agrogibb Yang Berbeda Terhadap Laju
Pertumbuhan Rumput Laut Eucheuma cottonii Dengan Menggunakan Metode Rakit Apung (2005)
5. Tesis : Perancangan Klaster Aquabisnis Rumput Laut Eucheuma cottonii di Kabupaten Lombok Timur (2009)
Head Office : Perumahan Puncang Hijau Blok R-06 Kecamatan Gunung Sari Kabupaten Lombok Barat NTB
Telp. (0370) 634234 – HP. 08175774979
Email/FB : zahraainoorrahman@yahoo.co.uk
Instansi :
1. Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTB (2005 – 2010)
2. Badan Koordinasi Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (Bakorluh) Provinsi NTB (2010 – sekarang)
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Nusa Tenggara Barat (NTB) merupakan salah satu dari 7 (tujuh) Provinsi pemasok
rumput laut nasional. Kondisi NTB yang merupakan Provinsi kepulauan sangat prospektif
untuk dijadikan daerah penghasil rumput laut, mengingat dari total luas wilayah NTB,
59,13% total wilayah berupa perairan. Adapun potensi tersebut hingga saat ini belum seratus
persen dimanfaatkan atau dikelola dengan baik. Hal ini bisa dilihat dari seluruh areal potensi
rumput laut yaitu 25.883 hektar, baru 7.812,88 hektar yang dimanfaatkan.
Areal rumput laut tersebar hampir di seluruh kabupaten/kota se - NTB, baik di Pulau
Lombok maupun di Pulau Sumbawa. Kondisi ini merupakan sebuah peluang sekaligus
tantangan untuk pengolahan rumput laut yang lebih baik dari sebelumnya. Namun
pemanfaatan dan pengolahan rumput laut itu belum maksimal. Untuk itu pemerintah Provinsi
NTB melalui program PIJAR (Sapi, Jagung, dan Rumput Laut) akan memaksimalkan semua
potensi yang ada untuk dikelola dengan baik. Sehingga NTB menargetkan diri menjadi salah
satu pemasok kebutuhan rumput laut baik domestik maupun ekspor. Secara nasional, NTB
menempati urutan kedua setelah Maluku Utara dan NTT menempati urutan ketiga.
Komoditas rumput laut makin menarik karena pemanfaatannya makin meluas. Dari
27 marga rumput laut dapat dimanfaatkan menjadi berbagai macam produk komersil mulai
dari agar-agar, pakan ternak, makanan olahan, obat-obatan atau farmasi, kosmetik, kertas,
tekstil, hingga pelumas untuk sumur pengeboran.
Ekspor rumput laut masih berupa bahan primer (mentah) sehingga harga jualnya
rendah. Meskipun demikian, angka produksi rumput laut kering NTB dari tahun ke tahun
terus mengalami peningkatan. Peningkatan produksi ini juga berimbas pada peningkatan nilai
ekonomi rumput laut nasional termasuk NTB. Berdasarkan data statistik, ekspor nasional
rumput laut sebesar 95.588 ton, dengan nilai sebesar 49.586.226 dollar U$. Pada tahun 2008,
nilai ekspor rumput laut dalam bentuk bahan primer bernilai 30 riliun. Produksi nasional
rumput laut terbanyak saat ini diraih oleh NTT, kemudian NTB diurutan kedua dan Maluku
Utara menempati posisi ketiga.
Dari semua potensi tersebut, hanya berkutat pada industri hulu (budidaya) sehingga
rumput laut yang diekspor masih berupa bahan primer. Untuk itu perlu pengembangan kearah
industri hilir (olahan). Kondisi indutri hilir rumput laut masih tergolong minim dan
terkonsentrasi di kota-kota besar saja seperti Surabaya dan jakarta. Minimnya industri hilir
Laporan Akhir Sementara
Study Kelayakan Industri Pengolahan Rumput Laut Provinsi NTB 1
dinilai merugikan terutama bagi industri hulu (budidaya) yang banyak tersebar di Kawasan
Timur Indonesia (KTI). Akselerasi industri hulu harus diimbangi dengan industri hilir
sehingga merubah orientasi pemasaran dalam bentuk bahan mentah menjadi bahan jadi atau
setengah jadi. Dengan demikian dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) bagi
daerah yang mengembangkan iklim investasi industri hilir rumput laut.
NTB sebagai daerah pemasok kebutuhan rumput laut nasional semestinya merubah
orientasi pemasaran rumput laut dengan mengembangkan industri hilir rumput laut. Sehingga
potential loss PAD dapat diminimalisir dan membuka peluang bagi pembudidaya untuk
menikmati nilai tambah.
Di Indonesia baru terdapat 12 (dua belas) pabrik pengolahan rumput laut. Direktorat
Industri, Agro dan Kimia pada Kementerian Perindustrian menyarankan agar Pemerintah
Provinsi Nusa Tenggara Barat melakukan studi kelayakan terhadap potensi industri rumput
laut. Untuk itu, sangatlah beralasan apabila NTB menjemput bola untuk mengembangkan
industri hilir (olahan) rumput laut. Sehubungan dengan itu, Pemerintah Provinsi NTB
melakukan Studi Kelayakan (Feasibility Study) Industri Pengolahan Rumput Laut Provinsi
NTB sebagai upaya sistematis dan berkelanjutan untuk menjawab tantangan sekaligus
peluang pengembangan rumput laut di NTB.

1.2 Tujuan dan Manfaat


Tujuan pelaksanaan Studi Kelayakan (Feasibility Study) Industri Pengolahan Rumput
Laut Provinsi NTB adalah adanya kajian atau studi kelayakan dan memberikan berbagai
rekomendasi teknis terkait industri pengolahan rumput laut di NTB.
Sedangkan manfaat pelaksanaan Studi Kelayakan (Feasibility Study) Industri
Pengolahan Rumput Laut Provinsi NTB adalah adanya kajian khusus yang dapat dijadikan
kerangka acuan terhadap industri pengolahan rumput laut di NTB.

1.3 Output Kegiatan


Output dari kegiatan ini adalah dihasilkannya suatu Studi Kelayakan (Feasibility
Study) Industri Pengolahan Rumput Laut Provinsi NTB yang berisi rencana implementasi
pasca Studi Kelayakan (Feasibility Study) Industri Pengolahan Rumput Laut Provinsi NTB.

Laporan Akhir Sementara


Study Kelayakan Industri Pengolahan Rumput Laut Provinsi NTB 2
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Definisi Study Kelayakan


Studi kelayakan merupakan suatu kebutuhan tentang ketersediaan dan persediaan
akan keunggulan dan kelemahan suatu sistem. Studi kelayakan dilakukan dengan survei yang
menghasilkan dokumen-dokumen kebutuhan. Berdasarkan dokumen kebutuhan dan studi
kelayakan, dapat disusun persyaratan perangkat lunak. Menentukan kemungkinan
keberhasilan solusi yang diusulkan. Berguna untuk memastikan bahwa solusi yang diusulkan
tersebut benar-benar dapat dicapai dengan sumberdaya dan dengan memperhatikan kendala
yang terdapat pada perusahaan serta dampak terhadap lingkungan sekeliling. Analis sistem
melaksanakan penyelidikan awal terhadap masalah dan peluang bisnis yang disajikan dalam
usulan proyek pengembangan sistem.

2.2 Aspek-Aspek Study Kelayakan


Kelayakan suatu proyek biasanya diukur dengan dua macam kelayakan, yaitu :
kelayakan teknis serta kelayakan ekonomi dan finansial. Kelayakan teknis berkaitan dengan
pertanyaan apakah secara teknis, proyek tersebut dapat dilaksanakan. Contoh : apakah
jembatan yang diusulkan dapat menahan beban lalu lintas yang akan terjadi diatasnya?
Sedangkan kelayakan ekonomi dan finansial berkaitan dengan biaya dan keuntungan.
2.2.1 Kelayakan Teknis
Dua kriteria prinsip yang termasuk dalam kategori teknis adalah : efektivitas dan
ketercukupan (adequacy). Efektif berarti proyek dapat mencapai tujuan yang diharapkan.
Cara paling langsung dan cepat untuk memprediksi kelayakan teknis adalah dengan cara
melihat apakah proyek seperti itu secara teknis dapat dilaksanakan di tempat lain.
Beberapa dimensi dalam keefektivitasan meliputi : langsung atau tidak langsung,
jangka panjang atau jangka pendek, bisa dikuantitatifkan atau tidak, mencukupi atau tidak.
Proyek dikatakan berpengaruh langsung bila pengaruh tersebut memang menjadi tujuan
proyek tersebut. Pengaruh tidak langsung merupakan pengaruh ikutan, yang sebenarnya
bukan menjadi tujuan proyek tersebut. Kategori pengaruh menjadi jangka panjang dan jangka
pendek tergantung macam program.
Seberapa jauh jangka panjang tersebut, sangat relatif, berbeda dari satu program ke
program lain. Sebagai rumus umum, jangka panjang berarti jauh ke masa depan, sedangkan
jangka pendek adalah waktu yang segera tiba. Beberapa pengaruh dapat diukur secara
Laporan Akhir Sementara
Study Kelayakan Industri Pengolahan Rumput Laut Provinsi NTB 3
kuantitatif, sedangkan sisanya perlu dicari dengan cara lain. Contoh : perubahan harga tanah
bisa dikuantitatifkan, sedangkan perubahan estetika lingkungan sulit untuk dikuantitatifkan.
Dalam hal ketercukupan, proyek mungkin tidak dapat mencukupi hal-hal yang
menjadi tujuan atau tidak cukup mengatasi permasalahan. Contoh : proyek tidak dapat
membiayai secara penuh semua kegiatan yang diperlukan, jadi harus dipilih kegiatan -
kegiatan utamanya saja (yang taktis).
2.2.2 Kelayakan Ekonomi dan Finansial
Tiga konsep yang sering dijumpai dalam kelayakan ekonomi, yaitu : kriteria yang
terlihat dan yang tidak terlihat, dapat atau tidak dapat diukur secara moneter, dan langsung
atau tak langsung diukur dengan analisis biaya - keuntungan (cost benefit analysis). Secara
umum, biaya dan keuntungan yang terlihat (tangible) adalah yang bisa dihitung dengan jelas.
Biaya dan keuntungan yang dapat diukur secara moneter (moneterizable) bahkan lebih jauh
lagi, yaitu dapat dinyatakan dalam ukuran satuan uang. Hal ini dimungkinkan karena kita
dapat mengukurnya di pasaran. Dalam hal langsung atau tidak langsung, tergantung pada
tujuan utama proyek. Keuntungan yang menjadi tujuan utama merupakan pengaruh langsung.
Cara yang populer untuk mengukur efisiensi adalah analisis perbandingan biaya
lawan keuntungan (cost - benefit analysis). Proyek dinilai efisien, apabila nilai keuntungan
yang (dapat) diperoleh melebihi nilai biaya yang (akan) dikeluarkan. Profitabilitas
(profitability) merupakan salah satu ukuran yang dipakai Pemerintah Daerah dalam mengkaji
usulan proyek atau program. Ukuran ini memperlihatkan selisih antara pendapatan yang akan
diterima Pemerintah, dikurangi biaya yang harus dikeluarkan berkaitan dengan proyek yang
diusulkan. Efektivitas biaya merupakan ukuran lain, yang berarti dapat mencapai tujuan
dengan biaya yang minimal. Salah satu yang paling sedikit memerlukan biaya itulah yang
paling tinggi efektif biayanya.

2.3 Minapolitan Rumput Laut


Minapolitan diartikan sebagai kota perikanan atau kota di daerah lahan perikanan atau
perikanan di daerah kota. Jadi minapolitan adalah kota perikanan yang tumbuh dan
berkembang karena berjalannya sistem dan usaha perikanan serta mampu melayani,
mendorong, menarik dan menghela kegiatan pembangunan ekonomi daerah sekitarnya.
Minapolitan berada dalam kawasan pemasok hasil perikanan (sentra produksi perikanan)
yang mana kawasan tersebut dapat memberikan kontribusi yang besar terhadap mata
pencaharian dan kesejahteraan masyarakatnya.

Laporan Akhir Sementara


Study Kelayakan Industri Pengolahan Rumput Laut Provinsi NTB 4
Program pengembangan kawasan minapolitan adalah program pembangunan
perekonomian yang berbasis perikanan di kawasan agribisnis yang dirancang dan
dilaksanakan dengan cara mensinergikan berbagai potensi yang ada untuk mendorong
berkembangnya sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing, berbasis kerakyatan,
berkelanjutan dan terdesentralisasi, yang digerakkan oleh masyarakat dan difasilitasi oleh
Pemerintah. Kawasan minapolitan diharapkan mampu meningkatkan pertumbuhan
perekonomian wilayah dalam sektor perikanan serta mampu mencukupi kebutuhan ikan
dalam skala regional dan nasional. Minapolitan rumput laut dapat didefinisikan menjadi suatu
kawasan pengembangan ekonomi berbasis perikanan yang dikembangkan secara bersama
oleh pemerintah, swasta dan organisasi non pemerintah di suatu wilayah atau kawasan yang
ditetapkan untuk mengembangkan bisnis rumput laut, untuk menciptakan kondisi yang lebih
baik, meningkatkan pertumbuhan ekonomi lokal dan penciptaan lapangan kerja.
Program minapolitan rumput laut merupakan salah satu bentuk program percepatan
(acceleration) dengan tujuan untuk mencapai populasi, produksi dan produktivitas rumput
laut secara optimal sesuai dengan daya dukung sumberdaya lahan yang tersedia di NTB.
Program percepatan tersebut berangkat dari capaian kinerja program reguler beberapa tahun
terakhir yang tercermin pada kondisi 2008 (existing conditioner).
Tujuan minapolitan rumput laut NTB diharapkan dapat tercapai pada tahun 2013 atau
selama 5 (lima) tahun anggaran (2009 – 2013). Sasaran pengembangan adalah terbentuknya
sentra – sentra bisnis rumput laut yang disebut sebagai “kawasan minapolitan rumput laut”,
yang memiliki komponen budidaya dan pasar yang lengkap (terdapat produsen dan
pengumpul/konsumen yang terbentuk karena adanya produksi). Tahapan pelaksanaannya
adalah adanya areal target yang diyakini sesuai untuk ditanami rumput laut dan dapat
diterapkan teknik budidaya rumput laut dengan pilihan metode budidaya tertentu. Selanjutnya
dilaksanakan kegiatan sosialisasi, karena sifat laut yang common properties dan open acces,
sehingga harus ada penetapan para pembudidaya dan pelaku bisnis, sehingga dapat
memobilisasi penduduk secara non permanen. Setelah ada para pembudidaya yang permanen
dan pelaku bisnis yang lengkap, maka selanjutnya difasilitasi menjadi kawasan minapolitan
rumput laut (Blue Print Minapolitan Rumput Laut, 2009).

2.4 Rumput Laut Euchuema Cottonii


2.4.1 Taksonomi dan Morfologi
Menurut Meiyana et.al. (2001), taksonomi dari Eucheuma cottonii dapat diklasifikasikan
sebagai berikut :

Laporan Akhir Sementara


Study Kelayakan Industri Pengolahan Rumput Laut Provinsi NTB 5
Phylum : Rhodophyta
Kelas : Rhodophyceae
Ordo : Gigartinales
Family : Soliericeae
Genus : Eucheuma
Species : Eucheuma cottonii Lin
Menurut Meiyana et.al. (2001), rumput laut jenis Eucheuma sp tergolong dalam kelas
Rhodophyceae (alga merah). Ciri-ciri umum antara lain : terdapat tonjolan-tonjolan (nodules) dan
duri (spines), thallus berbentuk silindris atau pipih, bercabang-cabang tidak teratur, berwarna
hijau kemerahan bila hidup dan bila kering berwarna kuning kecoklatan.

Gambar 1. Rumput Laut Eucheuma cottonii

2.4.2 Ekologi dan Daerah Penyebaran


Rumput laut Eucheuma cottonii mempunyai habitat yang khas, yaitu daerah yang
memperoleh aliran air laut yang tetap dan mempunyai variasi suhu harian yang kecil. Alga jenis
ini tumbuh mengelompok dan bersimbiosis terutama dalam penyebaran spora (Aslan, 1991).
Tabel 1. Daerah Penyebaran Rumput Laut Kelas Rhodophyceae di Indonesia

Jenis Lokasi
Acanthophora sp. Kep. Kangean, Lombok, Sumatera Utara, Kep. Seribu, Bawean
Corallopsis minor Bali
Eucheuma cottonii Bali, Maluku, Sulawesi Tengah, Selat Alas, Sumba
Kep. Seribu, Jawa Tengah, Bali, Madura, Sumatera Utara, Riau, Sulawesi,
Eucheuma edule
Maluku, Lombok, P. Komodo
Eucheuma muricatum Seram, P. Komodo, Bali, Sulawesi, Kep. Seribu
Sumatera Utara, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Kep. Seribu,
Eucheuma spinosum
Maluku, Jawa Tengah, Bali, NTT, NTB
Eucheuma striatum Kep. Seribu
Gracillaria lichenoides Bangka, Maluku, NTB
Gelidium sp. Jawa, Ambon, Riau, Sumatera Utara, Bali, NTB, NTT
Gracillaria coronopifolia Sumatera Utara, Jawa Tengah
Gracillaria sp Pantai Selatan Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur

Laporan Akhir Sementara


Study Kelayakan Industri Pengolahan Rumput Laut Provinsi NTB 6
Rumput laut jenis Eucheuma cottonii berasal dari perairan Sabah (Malaysia) dan
Kepulauan Sulu (Filipina). Kemudian dikembangkan ke berbagai negara sebagai tanaman
budidaya. Penyebarannya hampir merata di seluruh Indonesia khususnya di daerah Lampung,
Maluku, dan Selat Alas.

2.4.3 Perkembangbiakan
Meiyana et.al., (2001) menjelaskan, reproduksi rumput laut dapat terjadi melalui dua
cara yaitu :
a. Reproduksi Generatif
Pada peristiwa perbanyakan secara generatif, rumput laut yang diploid (2n) menghasilkan
spora yang haploid (n). Spora ini kemudian menjadi dua jenis rumput laut yaitu jantan
dan betina yang masing-masing bersifat haploid (n) yang tidak mempunyai alat gerak.
Selanjutnya rumput laut jantan akan menghasilkan sperma dan rumput laut betina akan
menghasilkan sel telur. Apabila kondisi lingkungan memenuhi persyaratan akan
menghasilkan suatu perkawinan dengan terbentuknya zygot yang tumbuh menjadi
tanaman rumput laut.
b. Reproduksi Vegetatif
Proses perbanyakan secara vegetatif berlangsung tanpa melalui perkawinan, dimana
perkembangbiakannya dapat dilakukan dengan cara stek/memotong cabang-cabang
rumput laut dengan syarat : potongan rumput laut tersebut merupakan thallus muda,
masih segar, berwarna cerah dan mempunyai percabangan yang banyak, tidak tercampur
lumut atau kotoran, serta bebas atau terhindar dari penyakit.

2.4.4 Kandungan dan Manfaat


Karaginan biasanya diproduksi dalam bentuk garam Na, K, Ca. Tingkat
pemanfaatannya diestimasi mencapai hampir 80%, terutama dalam bidang industry makanan,
farmasi dan kosmetik. Pada industri makanan, karaginan dipergunakan sebagai stabilizer,
emulsifier serta bahan pengental. Selain itu juga berfungsi sebagai bahan tambahan makanan
dalam pembuatan coklat, saos tomat, sup, susu, puding, makanan kaleng dan bakery. Di
bidang farmasi, karaginan kerap dipergunakan sebagai pengsuspensi, pengemulsi serta
penstabil pada produk pasta gigi, obat-obatan dan minyak alami (Istini dkk, 2007).
Kandungan utama rumput laut Eucheuma cottonii adalah kappa karaginan. Iota karaginan
diperoleh dari Eucheuma spinosum, sedangkan lambda karaginan diperoleh dari Eucheuma
striatum, Gigartina dan Chondrus crispus.

Laporan Akhir Sementara


Study Kelayakan Industri Pengolahan Rumput Laut Provinsi NTB 7
Karaginan merupakan senyawa polisakarida yang tersusun dari unit D-galaktosa dan
Lgalaktosa 3,6 anhidrogalaktosa yang dihubungkan oleh ikatan 1-4 glikosidik Setiap unit
galaktosa mengikat gugusan sulfat. Kappa karaginan tersusun dari (1 - > 3) D-galaktosa-4 sulfat
dan (1 - > 4) 3,6 anhydro-D-galaktosa. Iota karaginan mengandung 4-sulfat ester pada setiap
residu D-galaktosa dan gugusan 2 sulfat ester pada setiap gugusan 3,6 anhydro-D-galaktosa.
Sedangkan lambda karaginan memiliki sebuah residu disulphated (1-4) D-galaktosa (Istini dkk,
2007). Struktur kimia kappa, iota dan lambda karaginan ditunjukkan gambar 2 berikut :

Gambar 2. Struktur Kimia Kappa, Iota dan Lambda Karaginan

2.5 Karakteristik Mutu Rumput Laut Eucheuma cottonii


2.5.1 Kadar Air
Kadar air menyatakan jumlah air serta bahan-bahan volatil yang terkandung dalam
rumput laut. Tinggi rendahnya nilai kadar air ditentukan oleh kondisi pengeringan,
pengemasan serta cara penyimpanan. Kondisi penyimpanan, pengeringan dan pengemasan

Laporan Akhir Sementara


Study Kelayakan Industri Pengolahan Rumput Laut Provinsi NTB 8
yang kurang rapat berpotensi meningkatkan kandungan air sehingga mutu rumput laut yang
dihasilkan menjadi menurun (Syamsuar, 2006).
Rumput laut kering dengan kadar air yang tinggi akan lebih mudah rusak. Rumput
laut bersifat higroskopis sehingga penyimpanan pada tempat yang lembab akan menyebabkan
kerusakan menjadi lebih cepat terjadi. Standard kadar air rumput laut Eucheuma cottonii
berdasarkan SNI 01-02690-1992, ditetapkan maksimum 35% (Syamsuar, 2006).
2.5.2 Kandungan Rumput Laut Bebas Benda Asing/Salt Free Dry Matter (SFDM) dan
Salt And Sand (SS)

Salt Free Dry Matter (SFDM) didefinisikan sebagai jumlah (%) material rumput laut
kering yang bebas dari benda asing, setelah dibersihkan dari kotoran berupa garam, pasir,
plastik, kaca dan benda-benda asing lainnya, termasuk Eucheuma spinosum (Neish, 2007).
Kadar SFDM yang dipersyaratkan industri pengolahan (processor) minimal sebesar 34%
(b/b) (Anonymousm, 2008).
Salt didefinisikan sebagai material yang hilang/larut setelah direndam dan dicuci.
Sedangkan Sand adalah material yang tidak hilang/larut setelah direndam dan dicuci (Neish,
2007). Salt And Sand (SS) adalah jumlah (%) benda asing yang terikut pada rumput laut yang
harus dihilangkan. Benda asing tersebut dihitung sebagai bagian dari pasir (termasuk pula
didalamnya kotoran dan material tanaman) (Neish, 2007). Kadar SS yang dipersyaratkan
industri pengolahan (processor) maksimal 28% (b/b) (Anonymousm, 2008).
2.5.3 Sand Determination (SD)
Sand Determination (SD) adalah penentuan berat substrat pada rumput laut kering
tanpa garam yang merupakan berat total yang dihitung sebagai bagian dari pasir (termasuk
pula didalamnya kotoran dan material tanaman) yang terdapat dalam sampel (Neish, 2007).
Kadar SD yang dipersyaratkan industri pengolahan (processor) berkisar antara 2-5% (b/b)
(Anonymousm, 2008).
2.5.4 Kadar Karaginan
Kadar karaginan menyatakan kandungan total polisakarida yang terkandung dalam
rumput laut merah (Rhodopyceae) kering, melalui proses ekstraksi dengan menggunakan air
panas (hot water) atau larutan alkali pada suhu tinggi (Anonymousm, 2008).
Karaginan merupakan getah (mucillages) rumput laut yang terdapat dalam dinding sel
rumput laut atau matriks intraselulernya. Karaginan merupakan bagian penyusun yang besar
dari berat kering rumput laut dibandingkan dengan komponen yang lain (Hellebust dan
Cragie, 1978). Kadar karaginan yang dipersyaratkan industri pengolahan (processor) minimal
sebesar 25% (b/b) (Anonymousm, 2008).
Laporan Akhir Sementara
Study Kelayakan Industri Pengolahan Rumput Laut Provinsi NTB 9
2.6 Karakteristik Mutu Karaginan
2.6.1 Gel Strength
Gel strength (kekuatan gel) merupakan salah satu parameter kualitas yang
menentukan harga karaginan di pasaran. Menurut Fardiaz (1989), pembentukan gel adalah
suatu fenomena penggabungan atau pengikatan silang rantai-rantai polimer sehingga
terbentuk suatu jala tiga dimensi bersambungan. Selanjutnya jala ini menangkap atau
mengimobilisasikan air di dalamnya dan membentuk struktur yang kuat dan kaku. Sifat
pembentukan gel ini beragam dari satu jenis hidrokoloid ke jenis lain, tergantung pada
jenisnya. Gel mempunyai sifat seperti padatan, khususnya sifat elastis dan kekakuan.
Kappa karaginan dan iota karaginan merupakan fraksi yang mampu membentuk gel
dalam air dan bersifat reversible yaitu meleleh jika dipanaskan dan membentuk gel kembali
jika didinginkan. Proses pemanasan dengan suhu yang lebih tinggi dari suhu pembentukan
gel akan mengakibatkan polimer karaginan dalam larutan menjadi random coil (acak). Bila
suhu diturunkan, maka polimer akan membentuk struktur double helix (pilinan ganda).

Gambar 3. Pembentukan Gel Pada Karaginan


Apabila penurunan suhu terus dilanjutkan maka polimer-polimer ini akan terikat
silang secara kuat dan dengan makin bertambahnya bentuk heliks akan terbentuk agregat
yang bertanggung jawab terhadap terbentuknya gel. Jika diteruskan, kemungkinan proses
pembentukan agregat terus terjadi dan gel akan mengerut sambil melepaskan air (syneresis)
(Anonymousm, 2008). Kemampuan pembentukan gel pada kappa karaginan dan iota
karaginan terjadi pada saat larutan panas yang dibiarkan menjadi dingin karena mengandung
gugus 3,6-anhydrogalaktosa. Adanya perbedaan jumlah, tipe dan posisi gugus sulfat akan
mempengaruhi proses pembentukan gel (Anonymousm, 2008).
Kappa karaginan dan iota karaginan akan membentuk gel hanya dengan adanya
kation-kation tertentu seperti K+, Rb+ dan Cs+. Kappa karaginan sangat sensitif terhadap ion
kalium dan membentuk gel kuat dengan adanya garam kalium, sedangkan iota karaginan

Laporan Akhir Sementara


Study Kelayakan Industri Pengolahan Rumput Laut Provinsi NTB 10
akan membentuk gel yang kuat dan stabil bila ada ion Ca2+, akan tetapi lambda karaginan
tidak dapat membentuk gel (Anonymousm, 2008).
Potensi membentuk gel dan viskositas larutan karaginan akan menurun dengan
menurunnya pH, karena ion H+ membantu proses hidrolisis ikatan glikosidik pada molekul
karaginan (Angka dan Suhartono 2000). Gel strength dipengaruhi beberapa faktor antara lain
jenis dan tipe karaginan, konsistensi, adanya ion-ion serta pelarut yang menghambat
pembentukan hidrokoloid (Towle, 1973).
2.6.2 Viskositas
Viskositas adalah daya aliran molekul dalam sistem larutan. Viskositas suatu
hidrokoloid dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu konsentrasi karaginan, suhu, jenis
karaginan, berat molekul dan adanya molekul-molekul lain (Anonymousm, 2008). Viskositas
larutan karaginan terutama disebabkan oleh sifat karaginan sebagai polielektrolit. Gaya
tolakan (repulsion) antar muatan-muatan negative sepanjang rantai polimer yaitu gugus
sulfat, mengakibatkan rantai molekul menegang. Karena sifat hidrofiliknya, polimer tersebut
dikelilingi oleh molekul- molekul air yang terimobilisasi, sehingga menyebabkan larutan
karaginan bersifat kental. Nilai viskositas berbanding lurus dengan kandungan sulfat namun
berbanding terbalik dengan nilai gel strength (Anonymousm, 2008).
Viskositas karaginan meningkat secara logaritmik pada kenaikan konsentrasi. Adanya
garam-garam yang terlarut cenderung menurunkan muatan bersih sepanjang rantai polimer.
Penurunan muatan ini menyebabkan penurunan gaya tolakan (repulsion) antar gugus-gugus
sulfat, sehingga sifat hidrofilik polimer semakin lemah dan menyebabkan viskositas larutan
menurun (Anonymousm, 2008).
Peningkatan suhu menyebabkan penurunan viskositas akibat depolimerisasi yang
dilanjutkan oleh degradasi karaginan. Waktu ekstraksi yang pendek akan menghasilkan
larutan karaginan yang encer. Pada konsentrasi 1,5% dan suhu 75oC, nilai viskositas
karaginan berkisar 5 - 800 cP (Anonymousm, 2008). Adapun nilai viskositas minimal
karaginan yang dipersyaratkan menurut standard Uni Eropa dan Cina yakni sebesar 5 cP
(Anonymousm, 2008).
2.6.3 Kadar Abu
Rumput laut merupakan bahan pangan yang memiliki kandungan mineral yang cukup
tinggi seperti Na, K, Cl dan Mg. Kadar abu tidak begitu memberikan pengaruh nyata
terhadap lama ekstraksi karaginan (Anonymousm, 2008). Abu adalah zat anorganik sisa hasil
pembakaran bahan organik. Kadar abu suatu bahan adalah kadar residu hasil pembakaran
semua komponen–komponen organik di dalam bahan. Kadar abu tidak selalu mewakili kadar
Laporan Akhir Sementara
Study Kelayakan Industri Pengolahan Rumput Laut Provinsi NTB 11
mineral dalam bahan karena sebagian mineral rusak dan menguap atau saling bereaksi satu
dengan lainnya selama proses pengabuan pada suhu amat tinggi (Sudarmadji, 1996). Kadar
abu karaginan yang dipersyaratkan Uni Eropa dan Cina berkisar antara 15 – 40%
(Anonymousm, 2008).
2.6.4 Kadar Sulfat
Kadar sulfat merupakan parameter yang digunakan untuk membedakan berbagai jenis
polisakarida hasil ekstraksi rumput laut merah. Polisakarida ini merupakan galaktan yang
mengandung ester asam sulfat antara 20 - 30% dan saling berikatan dengan ikatan (1,3) : β
(1,4) D glikosidik, dengan bentuk susunan berselang seling.
Menurut deMan (1989), untuk dapat diklasifikasikan sebagai karaginan, polisakarida
harus mengandung setidaknya 20% sulfat berdasarkan berat kering. Dilanjutkan oleh Doty
(1987), berdasarkan kandungan sulfatnya, karaginan dibedakan menjadi dua fraksi yaitu
kappa karaginan (kandungan sulfat < 28%) dan iota karaginan (kandungan sulfat > 30%).
Kandungan sulfat pada rumput laut Eucheuma cottonii dipengaruhi oleh jenis bahan
baku, umur panen serta metode ekstraksi (Syamsuar, 2006). Kadar sulfat karaginan yang
dipersyaratkan Uni Eropa dan Cina berkisar antara 15 – 40% (Anonymousm, 2008).

Laporan Akhir Sementara


Study Kelayakan Industri Pengolahan Rumput Laut Provinsi NTB 12
BAB III
METODOLOGI

3.1 Ruang Lingkup Kegiatan

Ruang lingkup kegiatan ini adalah menganalisa kelayakan pembangunan industri


pengolahan rumput laut di 3 (tiga) calon lokasi yaitu di Pengantap (Kabupaten Lombok
Barat), Gerupuq (Kabupaten Lombok Tengah) dan Teluk Ekas (Kabupaten Lombok Timur).

3.2 Jenis Data

3.2.1 Data Primer

Data primer untuk sektor budidaya diperoleh melalui survei terhadap 41 responden
(pembudidaya rumput laut) secara purposive sampling, masing-masing 15 pembudidaya
rumput laut di Pengantap, 15 pembudidaya rumput laut di Gerupuq dan 11 pembudidaya
rumput laut di Teluk Ekas.

3.2.2 Data Sekunder

Data sekunder diperoleh melalui bahan publikasi yang diterbitkan oleh dinas/instansi
terkait maupun sumber lain yang berhubungan langsung dengan pembangunan industri
rumput laut.

3.3 Metode Pengambilan Data

3.3.1 Kuisoner

Kuisioner merupakan teknik pengumpulan data dengan menggunakan daftar


pertanyaan yang terstruktur dan sistematis terhadap responden. Responden ditetapkan sebagai
pembudidaya rumput laut, pedagang pengumpul dan pedagang besar.

3.3.2 Wawancara

Wawancara dilakukan terhadap pihak-pihak yang berkompeten terkait perancangan


industri pengolahan rumput laut, seperti : dinas/instansi pemerintah, tokoh masyarakat (tokoh
adat), pembudidaya rumput laut, pedagang pengumpul dan pedagang besar.

Laporan Akhir Sementara


Study Kelayakan Industri Pengolahan Rumput Laut Provinsi NTB 13
3.4 Analisis Aspek-Aspek Dalam Study Kelayakan

3.4.1 Analisis Kelayakan Sektor Budidaya


Meliputi sertifikasi Cara Budidaya Yang Baik (CBYB), profil pembudidaya, profil
usaha budidaya rumput laut, pendapatan, tingkat pendapatan dan taraf hidup, margin
pemasaran
3.4.2 Analisis Pasar dan Pemasaran
Meliputi segmentasi dan deskripsi produk, nilai tambah produk, kebutuhan pasar
nasional, kompetitor, spesifikasi produk
3.4.3 Analisis Teknik Produksi
Meliputi penentuan lokasi, kapasitas perancangan produksi, teknologi proses, layout,
peralatan dan kebutuhan utilitas
3.4.4 Analisis Manajemen dan SDM
Meliputi jadwal dan komposisi pekerja, badan hukum
3.4.5 Analisis Kelayakan Finansial
Meliputi modal investasi, modal kerja, modal investasi total, sumber modal, biaya
produksi total, proyeksi pendapatan
3.4.6 Analisis Kelayakan Kinerja Finansial
Meliputi Profit Margin PM), Break Even Point (BEP), Return On Investment (ROI),
Pay Back Period (PBP), Net Present Value (NPV), Internal Rate Of Return (IRR),
Profitability Index (PI)

Laporan Akhir Sementara


Study Kelayakan Industri Pengolahan Rumput Laut Provinsi NTB 14
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Aspek Budidaya

4.1.1 Penilaian Pedoman dan Daftar Isian Sertifikasi Cara Budidaya Yang Baik
(CBYB)
Hasil penilaian Form Pedoman dan Daftar Isian Sertifikasi Cara Budidaya Yang Baik
(CBYB), menunjukkan bahwa sektor budidaya rumput laut di Pengantap, Gerupuq dan Teluk
Ekas, berada pada pada tingkat IV, dengan definisi tidak lulus sertifikasi. Untuk lebih
jelasnya diterangkan pada tabel 2 berikut :

Tabel 2. Tabulasi Jumlah Ketidaksesuaian Pada Sektor Budidaya Rumput Laut

No Parameter Kesesuaian Ketidaksesuaian


Minor Mayor Serius Kritis
1. Lokasi 2 0 0 0 1
2. Tata Letak 2 0 0 0 1
3. Kebersihan Fasilitas 3 1 1 0 4
4. Persiapan Media Budidaya 2 0 0 0 0
5. Air Laut 1 0 3 0 1
6. Pemilihan dan Pengangkutan Bibit 0 1 0 0 3
7. Identifikasi Jenis Rumput Laut 2 0 0 0 1
8. Penanaman 1 0 0 0 1
9. Perawatan 0 0 0 2 0
10. Pemanenan 0 0 0 0 1
11. Pengangkutan Hasil Panen 1 0 0 0 0
12. Sortasi 4 0 0 0 2
13. Pengeringan 0 0 0 0 3
14. Pengepresan/Pengepakan 1 0 0 0 0
15. Pelabelan dan Keutuhan Kemasan 2 0 0 0 2
16. Verifikasi Alat Timbang 1 0 0 0 1
17. Penyimpanan (Penggudangan) 0 0 0 0 3
18. Pengangkutan 3 0 0 0 0
19. Penggunaan Green Tonik/ZPT 9 0 0 0 0
20. Bahan Kimia, Biologi dan Obat-Obatan Ikan 11 0 1 0 0
21. Tindakan Perbaikan 0 0 0 0 1
22. Pencatatan/Dokumentasi 0 0 0 0 4
23. Pelatihan 0 0 1 0 0
24. Kebersihan Personil 0 7 0 0 0
Jumlah 45 9 6 2 29

Penilaian CBYB dilakukan untuk mengetahui kondisi kesiapan peran sektor budidaya
di ketiga lokasi, sebagai industri komponen penunjang bagi industri pengolahan rumput laut.
Selain itu, guna mengetahui kondisi riil serta permasalahan-permasalahan yang terjadi,
khususnya terkait teknik budidaya dan penanganan pasca panen. Hal ini penting untuk
ditelaah, mengingat keberlangsungan industri pengolahan rumput laut kedepan, sangat
Laporan Akhir Sementara
Study Kelayakan Industri Pengolahan Rumput Laut Provinsi NTB 15
bergantung pada kontinuitas jumlah dan mutu bahan baku rumput laut kering yang
dihasilkan.

Mengacu pada konsep klaster sebagaimana tercantum dalam booklet PIJAR (Sapi,
Jagung dan Rumput Laut) Provinsi NTB, sektor budidaya merupakan komponen industri
yang terkait langsung dengan proses peningkatan nilai tambah (value adding production
chain). Dalam sasaran jangka panjang, diharapkan main point dalam perancangan
minapolitan dapat tercapai, yakni dihasilkannya produk dengan kualitas dan daya saing
tinggi, serta memiliki tingkat produksi yang stabil.

Kondisi sektor budidaya rumput laut di ketiga lokasi yang berada pada tingkat IV,
lebih disebabkan tingginya ketidaksesuaian pada kategori kritis. Ketidaksesuaian yang tinggi
pada kategori ini, mayoritas disebabkan oleh penerapan Standard Operational Procedures
(SOP) yang menyimpang, yakni sebesar 88%. Sedangkan parameter air laut, tata letak dan
lokasi masing-masing berkontribusi sebesar 4%.

Gambar 4. Kontribusi Standard Operational Procedures (SOP) Terhadap Jumlah


Ketidaksesuaian Pada Kategori Kritis
Standard Operational Procedures (SOP) yang mengalami penyimpangan meliputi :
kebersihan fasilitas (14%), pemilihan dan pengangkutan bibit (10%), identifikasi jenis rumput
laut (4%), penanaman (3%), pemanenan (3%), sortasi (7%), pengeringan (10%), pelabelan

Laporan Akhir Sementara


Study Kelayakan Industri Pengolahan Rumput Laut Provinsi NTB 16
dan keutuhan kemasan (7%), verifikasi alat timbang (3%), penyimpanan/penggudangan
(10%), tindakan perbaikan (3%) serta pencatatan/dokumentasi (14%).

4.1.2 Struktur Pendapatan Pembudidaya

4.1.2.1 Profil Pembudidaya

Variabel yang dipergunakan dalam melihat profil pembudidaya rumput laut antara
lain : umur, tingkat pendidikan, jumlah anggota keluarga, pengalaman budidaya dan luas
usaha. Hal ini terkait dengan keterampilan manajemen usaha, yang pada akhirnya
mempengaruhi kuantitas dan kualitas bahan baku yang dihasilkan. Untuk lebih jelasnya
seperti tertera pada tabel 3 berikut :

Tabel 3. Profil Pembudidaya Rumput Laut

No Uraian Pengantap Gerupuq Teluk Ekas


Jumlah % Jumlah % Jumlah %
1. Umur Petani
a. < 30 Tahun 13 86,7 1 6,7 2 18,2
b. 31 – 40 Tahun 2 13,3 6 40,0 7 63,6
c. 41 – 45 Tahun 0 - 6 40,0 1 9,1
d. 51 – 60 Tahun 0 - 2 13,3 1 9,1
e. > 60 Tahun 0 - 0 - 0 -
2. Tingkat Pendidikan
a. SD/Tidak Sekolah 11 73,3 14 93,3 4 36,4
b. SLTP 3 20,0 0 - 2 18,2
c. SLTA 1 6,7 1 6,7 3 27,3
d. Diploma 0 - 0 - 2 18,2
e. Sarjana 0 - 0 - 0 -
3. Tanggungan Keluarga
a. < 3 Jiwa 8 53,3 2 13,3 4 36,4
b. 3 – 6 Jiwa 7 46,7 11 73,3 7 63,6
c. > 6 Jiwa 0 - 2 13,3 0 -
4. Sumber Pendapatan
a. Rumput Laut 14 93,3 13 86,7 10 90,9
b. Rumput Laut dan Usaha Lain 1 6,7 2 13,3 1 9,1
5. Σ Petani Berdasarkan Luas Usaha
a. 1 Unit 1 6,7 0 - 0 -
b. 2 – 5 Unit 0 - 4 26,7 0 -
c. 6 – 9 Unit 2 13,3 2 13,3 2 18,2
d. > 10 Unit 12 80,0 9 60,0 9 81,8

Mayoritas pembudidaya rumput laut di ketiga lokasi, berada pada kisaran umur
produktif (30 – 45 tahun), dengan tingkat pendidikan Sekolah Dasar (SD) atau tidak sekolah,
berada pada persentase tertinggi (93,3%). Sedangkan aspek pengalaman budidaya, memiliki
persentase tertinggi pada kisaran 10 – 15 tahun. Terkait hal tersebut, terdapat beberapa hal
yang patut dicermati, diantaranya :
Laporan Akhir Sementara
Study Kelayakan Industri Pengolahan Rumput Laut Provinsi NTB 17
a. Tingkat pendidikan yang rendah, berdampak pada lemahnya kemampuan mengadopsi
teknologi dan informasi. Dari hasil kuisioner diketahui bahwa, pembudidaya di ketiga
lokasi mengaku melakukan penjualan rumput laut kering berdasarkan mutu, dengan
persentase mencapai 100% (Pengantap dan Gerupuq) serta 90,9% (Teluk Ekas).

Kondisi ini pada dasarnya mencerminkan kurangnya pemahaman pembudidaya terhadap


standard mutu itu sendiri. Mengingat kondisi di lapangan sangat bertolak belakang,
dimana proses budidaya hingga penanganan pasca panen, dilakukan tanpa mengindahkan
Standard Operational Procedure (SOP) yang berlaku, seperti umur panen muda (30 – 40
hari), sortasi (pemurusan), pengeringan (pasir, waring, alas terpal), penggudangan (tanpa
alas kayu, bercampur dengan bahan lain) hingga pengangkutan.

Dalam konteks pembangunan industri, diperlukan peran penyuluh, baik penyuluh


swadaya (penyuluh pabrik) maupun penyuluh Pemerintah, dalam melakukan pembinaan
menyangkut teknis budidaya dan penanganan pasca panen, hingga mampu menghasilkan
bahan baku (rumput laut kering) dengan kualifikasi mutu yang sesuai.

b. Pengalaman budidaya yang cukup lama, mengindikasikan adanya pola usaha secara
turun temurun, sekaligus mencerminkan stagnansi usaha, mengingat pembudidaya
memiliki luas areal usaha ≤ 0,1 ha. Terkecuali di Teluk Ekas, dengan rata-rata
kepemilikan mencapai 0,15 ha (1 rakit = 10 x 10 m). Luas areal usaha yang dimiliki
pembudidaya di ketiga lokasi, belum memenuhi kriteria ekonomis (≥ 0,5 ha),
sebagaimana diatur dalam Revitalisasi Perikanan DKP RI Tahun 2005 – 2009.

Kondisi tersebut terutama disebabkan oleh tingginya jumlah anggota keluarga


pembudidaya. Dari hasil kuisioner diketahui bahwa, jumlah anggota keluarga di
Pengantap < 3 jiwa (53,3%), relatif lebih kecil dibandingkan Gerupuq dan Teluk Ekas,
yang berada pada kisaran 3 – 6 jiwa, dengan persentase berturut-turut sebesar 73,3% dan
63,6%.

Jumlah anggota keluarga menyatakan banyaknya orang yang berada dalam manajemen
rumah tangga, diluar kepala keluarga. Dalam jumlah yang tinggi, akan mempengaruhi
alokasi biaya untuk kegiatan budidaya akibat kebutuhan konsumsi sehari-hari, yang pada
akhirnya akan mempengaruhi aspek pendapatan bersih (net income).

Disisi lain, budidaya rumput laut sebagai sumber penghasilan utama (Pengantap 100,0%
; Gerupuq 86,7% ; Teluk Ekas 90,9%), sangat rentan terhadap fluktuasi produksi, akibat
Laporan Akhir Sementara
Study Kelayakan Industri Pengolahan Rumput Laut Provinsi NTB 18
kondisi alam yang sulit diprediksi maupun kegagalan panen. Sedangkan alternatif
pendapatan lain, hanya bersumber dari kegiatan penangkapan ikan/kepiting, toko
kelontong maupun buruh bangunan. Hal tersebut menyebabkan pada kondisi musim
tertentu, pola ijon (hutang) menjadi alternatif dalam memenuhi kebutuhan konsumsi
keluarga.

4.1.2.2 Profil Usaha Budidaya Rumput Laut

Profil usaha budidaya rumput laut seperti tertera pada tabel 4 berikut :

Tabel 4. Profil Usaha Budidaya Rumput Laut (Per Rakit/Tahun)

No Uraian Pengantap Gerupuq Teluk Ekas


Fisik Nilai (Rp) Fisik Nilai (Rp) Fisik Nilai (Rp)
1. Rata-Rata Kepemilikan Rakit (Buah) 10 - 10 - 15 -
2. Sarana Produksi
a. Bibit (Kg Basah) 313 625.000 360 720.000 445 890.000
b. Perawatan 5 25.000 6 60.000 6 40.000
c. Komunikasi 5 50.000 6 60.000 6 60.000
d. Karung Plastik (Buah) 15 15.000 18 18.000 16 16.000
e. Pengangkutan 5 225.000 6 240.000 6 140.000
3. Maintenace Alat (10% Per Tahun) 1 1.636.500 1 1.642.250 1 3.309.102
4. Penyusutan 1 5.895.835 1 5.280.000 1 10.103.502
5. Tenaga Kerja (Orang/Rakit/Tahun) 2 150.000 2 180.000 2 240.000
TOTAL 8.622.335 8.200.250 14.798.604

Kepemilikan rakit rumput laut menggambarkan tingkat kesejahteraan pembudidaya.


Semakin tinggi jumlah kepemilikan rakit, semakin tinggi tingkat produksi dan pendapatan
yang diterima. Sarana produksi merupakan jumlah biaya yang dikeluarkan oleh pembudidaya
untuk membeli bibit, perawatan, komunikasi, karung plastik, pengangkutan dan tenaga kerja.

Penggunaan sarana produksi oleh petani tidak jauh berbeda pada ketiga lokasi,
dikarenakan harga dan jumlah sarana produksi yang relatif sama. Khusus untuk tenaga kerja
lebih banyak digunakan untuk kegiatan panen dan pasca panen dengan menggunakan sistem
sewa.

Biaya pengadaan peralatan dipengaruhi oleh jumlah kepemilikan rakit. Hal ini
mempengaruhi nilai maintenance alat dan penyusutan, yang merupakan komponen terbesar
dari biaya investasi total, mencapai Rp. 7.532.335 atau 87,36% (Pengantap), Rp. 6.922.250
atau 84,42% (Gerupuq) dan 13.412.604 atau 90,63% (Teluk Ekas). Dilihat dari segi efisiensi,
pengadaan peralatan budidaya di Gerupuq lebih efisien dibandingkan Pengantap dan Teluk
Ekas.
Laporan Akhir Sementara
Study Kelayakan Industri Pengolahan Rumput Laut Provinsi NTB 19
4.1.2.3 Aspek Pendapatan

Pendapatan merupakan penghasilan bersih yang diterima pembudidaya, yang dihitung


dari selisih antara penerimaan dengan sarana produksi, maintenance alat dan penyusutan.
Penerimaan diukur dari rata-rata produksi yang dihasilkan, kemudian dikonversi sesuai
dengan harga jual yang berlaku setempat. Untuk lebih jelasnya seperti tertera pada tabel 5
berikut :

Tabel 5. Rata-Rata Produksi, Pendapatan/Tahun dan Pendapatan Sampingan/Tahun

No Uraian Pengantap Gerupuq Teluk Ekas


1. Produksi (Kg) 4.000 4.800 7.200
2. Nilai (Rp) 32.000.000 33.600.000 57.600.000
3. Biaya Produksi (Rp/Tahun) 10.900.000 12.780.000 20.790.000
4. Pendapatan (Rp/Tahun)
a. Rumput Laut 13.567.665 13.897.750 23.397.396
b. Sampingan - 1.350.000 2.400.000
Total Pendapatan 13.567.665 15.247.750 25.797.396
5. B/C Ratio 1,2 1,1 1,1

Harga rata-rata rumput laut kering di Pengantap mencapai Rp. 8.000/kg, dengan
produksi rata-rata 10 rakit selama 5x musim tanam, mencapai 4.000 kg/tahun. Sehingga
pendapatan bersih pembudidaya sebesar Rp. 13.567.665/tahun, dengan nilai B/C ratio 1,2.

Harga rata-rata rumput laut kering di Gerupuq mencapai Rp. 7.000/kg, dengan
produksi rata-rata 10 rakit selama 6x musim tanam, mencapai 4.800 kg/tahun. Sehingga
pendapatan bersih pembudidaya sebesar Rp. 13.897.750/tahun, dengan nilai B/C ratio 1,1.

Harga rata-rata rumput laut kering di Teluk Ekas mencapai Rp. 8.000/kg, dengan
produksi rata-rata 10 rakit selama 6x musim tanam, mencapai 7.200 kg/tahun. Sehingga
pendapatan bersih pembudidaya sebesar Rp. 23.397.396/tahun, dengan nilai B/C ratio 1,1.

Berdasarkan nilai B/C ratio lebih besar dari satu (B/C > 1) maka usaha budidaya
rumput laut di ketiga lokasi tersebut, dapat memberikan keuntungan sehingga dikategorikan
layak untuk dikembangkan.

Terkecuali di Pengantap, pembudidaya memiliki usaha sampingan dari kegiatan


penangkapan ikan/kepiting, toko kelontong dan buruh bangunan. Rata-rata pendapatan usaha

Laporan Akhir Sementara


Study Kelayakan Industri Pengolahan Rumput Laut Provinsi NTB 20
sampingan yang diperoleh pembudidaya di Gerupuq sebesar Rp. 1.350.000 atau 8,85% dari
total pendapatan. Sedangkan pembudidaya di Teluk Ekas sebesar Rp. 2.400.000 atau 9,30%
dari total pendapatan. Hal ini diatas mengindikasikan bahwa pendapatan dari usaha budidaya
rumput laut merupakan pendapatan utama.

4.1.2.4 Tingkat Pendapatan dan Taraf Hidup Pembudidaya

Dalam analisa usaha, pendapatan pembudidaya digunakan sebagai indikator penting,


karena merupakan sumber utama dalam mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Hasil
analisis tingkat pendapatan dan pendapatan per kapita per tahun tertera pada tabel 6 berikut :

Tabel 6. Tingkat Pendapatan dan Pendapatan Per Kapita/Tahun

No Uraian Pengantap Gerupuq Teluk Ekas


1. Pendapatan/Tahun (Rp) 13.567.665 15.247.750 25.797.396
2. Tanggungan Keluarga (Orang) 2,3 4,5 3,0
3. Pendapatan/Kapita/Tahun
a. Nilai (Rp) 5.898.985 3.388.389 8.599.132
*)
b. Setara Kg Beras 787 452 1.147
Keterangan Tidak Miskin Nyaris Miskin Tidak Miskin
*) Asumsi Harga Beras = Rp. 7.500/Kg

Tingkat pendapatan pembudidaya di Teluk Ekas sebesar Rp. 25.797.396 atau setara
dengan 1.147 kg beras, dengan tanggungan keluarga rata-rata 3 (tiga) orang. Nilai ini 1,46
dan 2,54 kali lebih tinggi dibandingkan pembudidaya Pengantap dan Gerupuq. Pembudidaya
Gerupuq pada dasarnya memiliki pendapatan yang lebih tinggi (Rp. 15.247.750),
dibandingkan pembudidaya Pengantap (Rp. 13.567.665 ; setara 787 kg beras). Namun
tanggungan keluarga yang lebih tinggi (rata-rata 4,5 orang), menyebabkan penurunan
pendapatan, hingga hanya setara dengan 452 kg beras.

Mengacu hasil tersebut, kehidupan pembudidaya di Pengantap dan Teluk Ekas


berada diatas garis kemiskinan. Sebaliknya, pembudidaya Gerupuq berada dibawah garis
kemiskinan. Dengan kata lain, usaha budidaya rumput laut di Gerupuq, belum mampu secara
optimal memperbaiki taraf hidup pembudidaya.

4.1.3 Farmer Share

Bagian harga yang diterima pembudidaya (farmer share) merupakan perbandingan


harga yang diterima oleh pembudidaya dengan harga di tingkat lembaga pemasaran yang
Laporan Akhir Sementara
Study Kelayakan Industri Pengolahan Rumput Laut Provinsi NTB 21
dinyatakan dalam persentase. Farmer Share untuk ketiga lokasi ditunjukkan pada gambar 5
dan gambar 6 berikut :

Gambar 5. Farmer Share Pembudidaya Rumput Laut di Pengantap dan Teluk Ekas
Dari gambar diatas diketahui bahwa, nilai farmer share relatif merata terhadap
pedagang pengumpul dan pedagang besar, berturut-turut sebesar 90,91% dan 80,00%. Hal ini
diakibatkan rendahnya margin pemasaran (biaya pemasaran dan selisih keuntungan) yang
didapatkan keduanya.
Sedangkan nilai farmer share eksportir Bali relatif sedang (64%), mengingat adanya
biaya tambahan berupa biaya pengiriman rumput laut kering dari lokasi budidaya hingga
lokasi eksportir berada.
Yang patut dicermati adalah nilai farmer share pembudidaya terhadap processor RC
selaku industri pengolahan rumput laut. Rendahnya nilai farmer share (10,00%),
mengindikasikan bahwa peningkatan nilai tambah yang didapatkan processor kurang
tertransmisikan ke tingkat pembudidaya. Akibatnya, harga di tingkat pembudidaya rendah
dan kurang memberikan insentif bagi perkembangan kinerja usaha.
Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa penguasaan teknologi pengolahan rumput
laut (karaginan), masih sepenuhnya menjadi dominasi pihak processor. Sehingga nilai tawar
komponen pemasaran lokal (pembudidaya, pedagang pengumpul dan pedagang besar)
menjadi lemah.
Hal ini semakin menegaskan perlunya dibangun industri pengolahan rumput laut di
Provinsi NTB, guna mendongkrak harga beli rumput laut dari pembudidaya hingga mencapai
level ideal bagi pekembangan usaha pembudidaya kedepan.

Laporan Akhir Sementara


Study Kelayakan Industri Pengolahan Rumput Laut Provinsi NTB 22
Gambar 6. Farmer Share Pembudidaya Rumput Laut di Gerupuq
Hal serupa didapatkan di Gerupuq, dimana nilai farmer share untuk pedagang
pengumpul, pedagang besar, eksportir Bali dan processor RC berturut-turut sebesar 89,74% ;
77,78% ; 60,87% dan 8,75%. Adanya perbedaan lebih disebabkan harga beli rumput laut
kering dari pembudidaya yang lebih rendah dibandingkan Pengantap dan Teluk Ekas.

4.2 Aspek Pasar dan Pemasaran

4.2.1 Segmentasi dan Deskripsi Produk

Produk intermediate olahan rumput laut memiliki banyak ragam, namun umumnya
yang beredar di pasaran meliputi 3 (tiga) produk utama yaitu :

4.2.1.1 ATC (Alkali Treated Chip)

Produk ini sering pula disebut chip rumput laut. Didapatkan melalui proses
pengolahan yang relatif sederhana, dimulai dari pencucian dan pemasakan rumput laut
dengan menggunakan larutan alkali (NaOH, KOH, KCl) pada suhu < 80oC selama 2 (dua)
jam. Kemudian dicuci dengan air tawar dan dipotong dengan ukuran sekitar 3 – 5 cm.

4.2.1.2 SRC (Semi Refined Carrageenan)

Produk ini sering pula disebut karaginan setengah murni, dikodekan dengan EU407/a.
Dikatakan demikian karena pada proses pengolahannya, karaginan di dalam rumput laut
diupayakan tidak larut, melalui manipulasi pH dan suhu. Sedangkan komponen yang
diupayakan larut adalah selulosa, yang notabene merupakan lapisan luar. Kendati demikian,
kandungan selulosa pada produk akhir, umumnya masih tinggi. Hal ini yang menyebabkan

Laporan Akhir Sementara


Study Kelayakan Industri Pengolahan Rumput Laut Provinsi NTB 23
produk SRC lebih banyak dipergunakan pada produk non-pangan seperti cat tembok,
kosmetik, pengharum ruangan, pelapis keramik, hingga makanan hewan.

Proses pembuatan SRC diawali dengan perendaman pada larutan alkali (NaOH, KOH,
KCl) pada suhu 30 – 35oC. Kemudian dikeringkan dan dimasak kembali menggunakan
larutan alkali selama 2 (dua) jam pada suhu < 80oC (dibawah titik leleh karaginan).
Selanjutnya dibilas dengan air tawar dan dipotong dalam keadaan basah (ukuran 3 – 5 cm).
Potongan rumput laut dikeringkan hingga kadar airnya menjadi < 20% dan dihaluskan
menggunakan mesin giling (grinder/crusher) hingga menjadi tepung.

4.2.1.3 RC (Refined Carrageenan)

Produk ini sering pula disebut karaginan murni, dikodekan dengan EU407.
Perbedaan utama dengan SRC adalah karaginan dan selulosa rumput laut, diproses dalam
suhu tinggi sehingga larut dalam larutan alkali, untuk kemudian dipisahkan melalui proses
penyaringan. Karena tidak mengandung selulosa, produk RC banyak dipergunakan pada
produk pangan seperti susu kental manis, jelly, pasta ikan, kecap, saus dan lain sebagainya.

Proses pengolahannya diawali dengan pemasakan rumput laut dalam larutan alkali
selama 2 (dua) jam pada suhu > 80oC (diatas titik leleh karaginan), sembari dilakukan
pengadukan hingga terbentuk pasta. Pasta kemudian disaring dengan mesin penyaring untuk
menghilangkan ampas (selulosa) hingga didapatkan filtrat (sari) karaginan. Selanjutnya filtrat
karaginan dikurangi kadar airnya melalui beberapa cara :

a. Pembekuan pada suhu <15oC, sehingga hasilnya berupa jelly kaku


b. Penambahan KCl sehingga hasilnya berupa jelly
c. Penambahan alkohol yang hasilnya berupa serat

Jelly/serat tersebut kemudian dikeringkan hingga terbentuk pellet/serat pada suhu 60 –


70oC (tray dryer) dan dihancurkan menggunakan mesin giling (grinder/crusher) hingga
menjadi tepung karaginan kasar. Tepung karaginan kasar kemudian diayak hingga
menghasilkan tepung karaginan halus dengan ukuran yang seragam.

4.2.2 Nilai Tambah Produk


Pengembangan komoditas unggulan dengan berbasis industri hulu (budidaya) semata,
pada dasarnya merugikan. Mengingat nilai tambah (adding value) dari rumput laut justru

Laporan Akhir Sementara


Study Kelayakan Industri Pengolahan Rumput Laut Provinsi NTB 24
berada pada industri hilir (pengolahan). Kondisi tersebut apabila dibiarkan berlarut, dapat
mengakibatkan hilangnya peluang stokeholders terkait terutama pembudidaya, untuk
menikmati nilai tambah produk. Adapun estimasi nilai tambah produk olahan rumput laut di
ketiga lokasi ditunjukkan pada tabel 7 dan tabel 8 berikut :

Tabel 7. Estimasi Nilai Tambah Produk Olahan Rumput Laut di Gerupuq

Produk Rata-Rata Harga Biaya Bahan Mentah Nilai


Rendemen (Rp/Kg) Per Kg Produk Akhir Tambah
(Rp) (%)
Rumput Laut 12% 7.000 - -
Kering (dari RL Basah)
ATC Chip 31,5% 60.000 22.222 270,0
(Industrial Grade) (dari RL Kering)
ATC Powder 28,5% 65.000 24.561 264,6
(Industrial Grade) (dari RL Kering)
SRC 25% 80.000 28.000 285,7
(Food Grade) (dari RL Kering)
RC 23,6% 200.000 29.661 674,3
(Food Grade) (dari RL Kering)
Karaginan 25% 95.000 28.000 339,3
Kertas (dari RL kering)

Tabel 8. Estimasi Nilai Tambah Produk Olahan Rumput Laut di Pengantap dan Teluk Ekas

Produk Rata-Rata Harga Biaya Bahan Mentah Nilai


Rendemen (Rp/Kg) Per Kg Produk Akhir Tambah
(Rp) (%)
Rumput Laut 12% 8.000 - -
Kering (dari RL Basah)
ATC Chip 31,5% 60.000 25.397 236,3
(Industrial Grade) (dari RL Kering)
ATC Powder 28,5% 65.000 28.070 231,6
(Industrial Grade) (dari RL Kering)
SRC 25% 80.000 32.000 250,0
(Food Grade) (dari RL Kering)
RC 23,6% 200.000 33.898 590,0
(Food Grade) (dari RL Kering)
Karaginan 25% 95.000 32.000 296,9
Kertas (dari RL kering)

Dari data diatas, diketahui bahwa produk olahan rumput laut Semi Refined
Carrageenan (SRC), hanya memberi nilai tambah sebesar 285,7% (Gerupuq) dan 250%
(Pengantap dan Teluk Ekas). Sedangkan produk Refined Carrageenan (RC), dengan tingkat
teknologi produksi yang lebih kompleks, memberi nilai tambah 2,4 kali lebih tinggi dari SRC
(674,3% ; Gerupuq serta 590% ; Pengantap dan Teluk Ekas). Mengacu pada estimasi nilai

Laporan Akhir Sementara


Study Kelayakan Industri Pengolahan Rumput Laut Provinsi NTB 25
tambah diatas, jenis industri pengolahan rumput laut yang diusulkan untuk didirikan adalah
pengolahan Refined Carrageenan (RC) kategori Food Grade.

4.2.3 Kebutuhan Pasar Nasional

Menurut Rahman (2009), proyeksi produksi karaginan Indonesia pada tahun 2009
diperkirakan sebesar 4.572,93 ton (trend kenaikan 2,92% per tahun). Dari jumlah produksi
tersebut, Indonesia masih mengalami ketergantungan impor sebesar 80% atau equivalen
dengan 18.291,70 ton.

Berdasarkan angka ketergantungan impor tersebut, dapat diprediksi jumlah impor


karaginan oleh industri hilir nasional berdasarkan tingkat penggunaannya, seperti ditunjukkan
pada tabel 9 berikut :

Tabel 9. Prediksi Jumlah Ketergantungan Impor Industri Hilir Nasional Berdasarkan


Tingkat Penggunaan

No Produk Tingkat Pemakaian (%) Tingkat Pemakaian (Ton)


1. Tekstil 15 2.743,76
2. Kosmetik 15 2.743,76
3. Es Krim 10 1.829,17
4. Sherbets 3 548,75
5. Flavor 12 2.195,00
6. Meat Products 12 2.195,00
7. Pasta Ikan 10 1.829,17
8. Produk Saus 10 1.829,17
9. Industri Sutera 10 1.829,17
10. Lain-lain 3 548,75
TOTAL 100 18.291,70

Dalam konteks pembangunan indutri pengolahan rumput laut di Provinsi NTB,


terdapat peluang pasar yang cukup tinggi bagi pemasaran produk karaginan (ATC/SRC/RC).
Mengingat kebutuhan karaginan industri hilir nasional seperti tertera pada tabel diatas, masih
sepenuhnya mengandalkan impor.
4.2.4 Kompetitor

Di Indonesia, saat ini terdapat beberapa industri pengolahan karaginan yang


berpeluang menjadi kompetitor, diantaranya : PT Gumindo Perkasa, PT Galic Artha Eahar,
PT Bantimururik Indah, PT Seamatec, PT. Surya Indoalgas, PT. Cahaya Cemerlang. Industri-
industri tersebut memiliki data resmi kapasitas produksi karaginan, seperti tertera pada tabel
10 berikut :

Laporan Akhir Sementara


Study Kelayakan Industri Pengolahan Rumput Laut Provinsi NTB 26
Tabel 10. Kapasitas Produksi Industri Karaginan di Indonesia

No Perusahaan Kapasitas (Ton/Bulan) Produk


1. PT. Gumindo 3.000 SRC
2. PT. Galic Artha Eahar 1.600 Petfood, RC
3. PT. Bantimururik Indah 1.000 ATC
4. PT. Seamatec 720 Petfood, ATC
5. PT. Surya Indoalgas 600 RC, Jelly
6. PT. Cahaya Cemerlang 500 ATC

Sedangkan beberapa industri kompetitor lain seperti : PT Amarta Sarilestari, PT


Indonusa Algaemas Prima, PT Giwang Citra Laut, PT Indo Marina Alga, PT Seatech
Carageenan dan PT Bina Makmur Sejahtera, belum mencantumkan kapasitas produksi
karaginan secara resmi.

Dari tabel 10 diatas terlihat bahwa, kompetitor produk ATC dan SRC relatif tinggi
dengan kapasitas berkisar antara 500 – 3.000 ton per bulan. Sedangkan produk RC relatif
rendah dengan kisaran antara 600 – 1.600 ton per bulan. Perlu dicatat bahwa, kapasitas RC
merupakan kapasitas gabungan dengan produk turunan RC seperti jelly dan petfood.
Sehingga kapasitas produksi riil RC, diestimasi lebih rendah dari kapasitas yang tercantum.
Mengacu pada kondisi tersebut, diusulkan agar industri pengolahan rumput laut yang akan
didirikan, mengambil segmen produk Refined Carrageenan (RC).

4.2.5 Spesifikasi Produk

Adapun spesifikasi produk Refined Carrageenan (RC) yang berlaku di pasaran,


sebagaimana mengacu pada standar yang dirilis oleh SEA-Plant berikut :

Tabel 11. Spesifikasi Produk Refined Carrageenan (RC)


No Parameter Satuan Nilai
Sifat Fisik dan Fungsional
1. Kadar Air % ≤ 12
2. Viskositas (1,5% ; @ 75oC ; Brookfield LVT) cps ≥5
3. pH Larutan - 7 – 10
4. Ukuran Partikel MS 120/160
5. Tanpa Penambahan Gula, Penampakan Halus, Warna Putih, Larut Air Panas
Kemurnian Kimiawi
1. Sulfat (SO42-) % db 15 – 40
2. Alkohol % 0,1
3. Kadar Abu (@ 550oC) % db 15 – 40
4. Kadar Abu Tidak Larut Asam % db ≤1
5. Bahan Tidak Larut Asam % db ≤2
6. Arsen (As) ppm ≤3
7. Timbal (Pb) ppm ≤5

Laporan Akhir Sementara


Study Kelayakan Industri Pengolahan Rumput Laut Provinsi NTB 27
8. Merkuri (Hg) ppm ≤1
9. Kadmium (Cd) ppm ≤1
10. Logam Berat (sebagai Pb) ppm ≤ 20
Kemurnian Mikrobiologi
1. Total Viable Count (TVC) cfu/gr ≤ 5.000
2. Total Yeast And Mould Count cfu/gr ≤ 300
3. E. Coli (@ 5 gr) cfu/gr 0
4. Salmonella (@ 25 gr) cfu/gr 0
5. Staphaureus (@10 gr) cfu/gr 10
6. Total Enterobacteriaceae Count cfu/gr ≤ 100
7. Kemasan : 25 kg net (multiply paper sack with moisture barrier/polythene inner)

4.3 Aspek Teknis Produksi

4.3.1 Penentuan Lokasi

Penentuan lokasi industri pengolahan rumput laut dilakukan dengan


mempertimbangkan beberapa faktor, yang terbagi menjadi 2 (dua) yaitu :
4.3.1.1 Faktor Primer
Faktor ini merupakan faktor yang berkontribusi secara langsung terhadap tujuan
utama pembangunan industri pengolahan rumput laut, yang meliputi produksi dan distribusi
produk. Yang termasuk dalam faktor utama adalah :

a. Letak Pasar
Konsumen/pasar produk karaginan adalah industri hilir di pulau Jawa, sehingga
kedekatan akses dengan infrastruktur transportasi baik darat, laut maupun udara
(Pelabuhan Lembar di Kabupaten Lombok Barat, Pelabuhan Internasional Labuhan Haji
di Kabupaten Lombok Timur dan Bandara Internasional Lombok di Kabupaten Lombok
Tengah) menjadi vital. Industri yang letaknya dekat dengan pasar, relatif lebih cepat
dalam hal pelayanan konsumen, biaya pengangkutan lebih rendah serta terkait dengan
pemantauan perubahan keinginan pasar. Hasil akhir produk karaginan dapat dipasarkan
langsung ke pulau Jawa ataupun dipergunakan sebagai bahan baku pembuatan produk
turunan karaginan seperti dodol dan soft jelly, yang telah berkembang di NTB.

b. Bahan Baku
Karakteristik bahan baku yang diamati meliputi sumber, mutu, kapasitas, transportasi,
harga, alternatif dan keberadaan spekulan. Mutu bahan baku dapat diketahui berdasarkan
level sertifikasi CBYB yang diterapkan pembudidaya. Kapasitas lebih didasarkan pada
data produksi riil di tingkat pendagang pengumpul. Transportasi mencakup tingkat
kerusakan jalan pada jalur utama pasokan. Harga didasarkan pada harga pembelian

Laporan Akhir Sementara


Study Kelayakan Industri Pengolahan Rumput Laut Provinsi NTB 28
tingkat processor di Surabaya. Sedangkan alternatif didasarkan pada keberadaan
pembudidaya didaerah sekitar dan diluar lokasi, guna mengantisipasi kelangkaan bahan
baku akibat spekulasi maupun kegagalan panen.
Rumput laut dalam kondisi kering dan pengemasan yang baik, tahan terhadap kerusakan
serta tidak mengalami penyusutan berat/volume secara drastis selama penyimpanan. Daya
simpan rumput laut kering (kadar air 20 - 30%) berkisar antara 2 - 3 tahun, sehingga
proses pengolahannya tidak harus dilakukan dengan segera. Oleh karena itu, lokasi
industri yang jauh dari sumber bahan baku, tidak terlalu mempengaruhi proses produksi.
Namun jauhnya sumber bahan baku dapat berimplikasi pada beberapa hal diantaranya :
penambahan biaya produksi berupa biaya pengangkutan dan biaya penyimpanan, resiko
terjadinya kerusakan selama pengangkutan akibat kondisi jalan yang banyak mengalami
kerusakan, serta kemungkinan terjadinya kelangkaan bahan baku akibat kompetisi dengan
spekulan.
Oleh karena itu, faktor monitoring secara periodik harus diperhitungkan, mengingat
spekulan umumnya memiliki jaringan pemasaran yang luas dan pada kondisi tertentu
berani memberi penawaran harga yang lebih tinggi langsung kepada pembudidaya.
c. Fasilitas Pengangkutan
Ketersediaan fasilitas pengangkutan baik untuk bahan baku maupun produk akhir, dapat
dilakukan dengan menggunakan angkutan darat (truk), angkutan laut maupun udara.

d. Tenaga Kerja
Pengolahan rumput laut lebih banyak membutuhkan tenaga kerja tidak terdidik (unskilled
labour) dibandingkan tenaga kerja terdidik (skilled labour). Tenaga kerja terdidik
merupakan jenis tenaga kerja dengan jenis pekerjaan (job description) yang bersifat
kualitatif, terutama pada aspek-aspek yang berkaitan dengan manajerial, pengendalian
mutu, pengendalian proses maupun pemasaran (marketing). Sedangkan tenaga kerja tidak
terdidik lebih ditekankan pada jenis pekerjaan yang bersifat kuantitatif seperti tenaga
sortasi, petugas ekstraksi, pengawas (mandor) maupun keamanan (satpam).

Dalam konteks diatas, penempatan industri pengolahan rumput laut sebaiknya


memperhitungkan ketersediaan tenaga kerja produktif, dalam artian turut
memperhitungkan karakteristik budaya, mata pencaharian pokok serta kebiasaan hidup
masyarakat sekitar yang heterogen sehingga dapat mengeliminir terjadinya inefisiensi
yang dapat mempengaruhi kelancaran proses produksi.

Laporan Akhir Sementara


Study Kelayakan Industri Pengolahan Rumput Laut Provinsi NTB 29
e. Infrastruktur Penunjang
Infrastruktur penunjang meliputi jaringan listrik dan jaringan telepon. Kebutuhan listrik
yang tinggi dapat dipenuhi dari PLN maupun generator diesel (untuk mengantisipasi
kondisi pemadaman), sehingga kedekatan dengan sumber bahan bakar (SPBU) menjadi
vital. Selain itu, akses informasi (telepon/internet) patut diperhitungkan terutama dalam
akses komunikasi dan pemantauan pasar.

4.3.1.2 Faktor Sekunder


Faktor ini merupakan faktor yang berkontribusi secara tidak langsung, diantaranya :

a. Harga Tanah dan Gedung

Harga tanah dan gedung terkait dengan perencanaan industri jangka panjang. Harga yang
murah, memungkinkan untuk mendapatkan luasan tanah yang lebih luas guna
mengakomodir kemungkinan perluasan areal produksi kedepan. Harga gedung terkait
dengan tinggi rendahnya biaya investasi yang harus dikembalikan selama kurun waktu
produksi tertentu.

b. Kemungkinan Perluasan
Kondisi lahan yang luas serta ada tidaknya industri lain di sekitar lokasi, menjadi bahan
pertimbangan dalam menentukan solusi bagi perluasan areal produksi. Pada lokasi sempit
dan padat, alternatif yang dimunculkan adalah perluasan pada lokasi lain. Sebaliknya
pada lokasi yang relatif luas, perluasan dapat dilakukan menyatu dengan bangunan utama.

c. Fasilitas Servis
Fasilitas servis yang dimaksud meliputi : perbengkelan, rumah sakit, sekolah, tempat
ibadah, olahraga dan rekreasi. Perbengkelan terutama ditujukan apabila industri
pengolahan rumput laut tidak memiliki bengkel dan tenaga mekanik sendiri. Outsourcing
untuk aspek ini dimungkinkan selama mampu diakomodir dalam biaya investasi.
Sedangkan fasilitas lain lebih ditujukan sebagai daya tarik bagi pekerja, guna menjaga
kondisi kesehatan fisik dan mental sehingga efisiensi kerja dapat dipertahankan.

d. Fasilitas Finansial
Fasilitas finansial yang dimaksud meliputi bank, koperasi maupun lembaga keuangan
lain. Termasuk didalamnya kemudahan yang diberikan oleh Pemda setempat dalam akses
mendapatkan pinjaman.

Laporan Akhir Sementara


Study Kelayakan Industri Pengolahan Rumput Laut Provinsi NTB 30
f. Ketersediaan Air

Pengolahan karaginan membutuhkan air tawar dalam jumlah banyak terutama pada
proses pencucian dan ekstraksi. Selain digunakan pula untuk non operasional seperti
pencucian peralatan, kebutuhan domestik rumah tangga pekerja hingga laboratorium.
Suplai air tawar dapat dipasok dari sungai, tandon air hujan maupun sumur artesis dengan
mengandalkan pemompaan. Ketersediaan air bersih akan lebih terjamin apabila disuplai
dari PAM.

g. Peraturan Daerah
Peraturan Daerah baik di tingkat Provinsi maupun Kabupaten, harus mendukung
perkembangan industri dilihat dari aspek kebijakan, hukum, teknis maupun kemudahan
permodalan.
h. Respon Masyarakat
Respon masyarakat turut menentukan keberlanjutan pabrik kedepan terkait keselamatan
dan keamanan produksi, potensi konflik menyangkut rekruitment tenaga kerja hingga
social cost yang kerap muncul terutama pada era otonomi daerah seperti saat ini.

i. Iklim Lokasi
Industri pengolahan rumput laut membutuhkan kestabilan iklim ditinjau dari segi teknis.
Frekuensi hujan dan kemarau cenderung tidak memfluktuasikan suhu. Hal ini
berhubungan dengan proses pengolahan, penyimpanan bahan baku dan produk akhir.
Pada kondisi tertentu, kondisi ekstrem (hujan, kelembaban tinggi) dapat dimanipulasi
dengan perlakuan tertentu pada gedung dan peralatan. Namun berdampak terhadap
adanya tambahan biaya operasional. Disamping itu, kondisi iklim juga dapat
mempengaruhi gairah dan keaktifan pekerja.

j. Keadaan Tanah
Sifat-sifat mekanik tanah dan tempat pembangunan pabrik harus diketahui. Hal ini
berhubungan dengan rencana pondasi untuk alat-alat, bangunan gedung dan bangunan
pabrik.

k. Perumahan
Fasilitas perumahan bagi pekerja dapat diakomodir sendiri oleh industri pengolahan
rumput laut. Namun dukungan perumahan di sekitar lokasi, tetap diperlukan guna
meringankan biaya investasi.

Laporan Akhir Sementara


Study Kelayakan Industri Pengolahan Rumput Laut Provinsi NTB 31
Adapun kuantifikasi terhadap faktor primer dan sekunder tesebut diatas, dituangkan
dalam bentuk skoring terhadap 3 (tiga) alternatif lokasi industri pengolahan rumput laut yakni
Pengantap (Kabupaten Lombok Barat), Gerupuq (Kabupaten Lombok Tengah) dan Teluk
Ekas (Kabupaten Lombok Timur), seperti ditunjukkan pada tabel 12 berikut :
Tabel 12. Skoring Penilaian Pemilihan Lokasi Industri Pengolahan Rumput Laut

No Parameter Bobot Nilai


Pengantap Gerupuq Teluk Ekas
A. Faktor Primer 70 42 43 47
1 Letak Pasar (Pulau Jawa Jalur Darat) 14.0 14.0 14.0 14.0
2 Bahan Baku 14.0 7.0 8.0 8.0
a. Lokasi Sumber Bahan Baku 2.0 2.0 2.0 2.0
b. Mutu Bahan Baku 2.0 0.0 0.0 0.0
c. Kapasitas Bahan Baku 2.0 2.0 2.0 2.0
d. Transportasi Bahan Baku 2.0 0.0 1.0 0.0
e. Harga Bahan Baku 2.0 1.0 1.0 1.0
f. Alternatif Bahan Baku 2.0 1.0 1.0 2.0
g. Keberadaan Spekulan 2.0 1.0 1.0 1.0
3 Fasilitas Pengangkutan 14.0 7.0 7.0 7.0
4 Tenaga Kerja 14.0 14.0 14.0 14.0
a. Kuantitas Tenaga Kerja 7.0 7.0 7.0 7.0
b. Upah Minimum Daerah 7.0 7.0 7.0 7.0
5 Pembangkit Tenaga Listrik (Pabrik) 14.0 0.0 0.0 3.5
a. PLN 7.0 0.0 0.0 0.0
b. SPBU 7.0 0.0 3.5 3.5
B. Faktor Sekunder 30 21.0 21.0 23
6 Harga Tanah dan Gedung 3.0 3.0 1.5 3.0
7 Kemungkinan Perluasan 3.0 3.0 3.0 3.0
8 Fasilitas Servis 3.0 0.0 1.5 1.5
9 Fasilitas Finansial 3.0 0.0 0.0 0.0
10 Ketersediaan Air 3.0 1.5 1.5 1.5
11 Peraturan Daerah 3.0 3.0 3.0 3.0
12 Respon Masyarakat 3.0 3.0 3.0 3.0
13 Iklim Lokasi 3.0 3.0 3.0 3.0
14 Keadaan Tanah 3.0 3.0 3.0 3.0
15 Perumahan 3.0 1.5 1.5 1.5
TOTAL 100 63.0 67.5 69.0

Keterangan
• 80 – 100 : Sangat Layak
• 70 – 79 : Layak
• 60 – 69 : Layak dengan perbaikan pada parameter-parameter yang kurang baik
• < 60 : Tidak layak

Berdasarkan skoring penilaian lokasi diatas didapatkan bahwa, Teluk Ekas memiliki
tingkat kesesuaian tertinggi dibandingkan Gerupuq dan Pengantap, dengan nilai skoring
berturut-turut sebesar 69,0 ; 67,5 dan 63,0. Perlu digarisbawahi bahwa, kondisi skoring
kumulatif untuk ketiga lokasi berada level 60 - 69. Dengan kata lain, ketiga lokasi layak
dipergunakan sebagai lokasi pembangunan industri rumput laut, dengan terlebih dahulu
dilakukan perbaikan pada beberapa parameter yang kurang baik.
4.3.2 Teknologi Proses
Pada prinsipnya, metode pengolahan karaginan terbagi menjadi 2 (dua) jenis yaitu
metode kimiawi dan metode fisikawi. Perbedaan keduanya terletak pada proses untuk

Laporan Akhir Sementara


Study Kelayakan Industri Pengolahan Rumput Laut Provinsi NTB 32
menghasilkan karaginan. Metode kimiawi menggunakan pelarut non polar tertentu untuk
mengendapkan karaginan secara cepat pada kondisi suhu kamar. Gel yang terbentuk akan
terkoagulasi (mengendap) dan dapat dipisahkan dari air melalui proses penyaringan. Fungsi
utama pelarut non polar tersebut adalah memutus kontak antara medium terdispersi
(karaginan) dengan medium pendispersi (air). Penamaan metode ini mengikuti jenis pelarut
yang dipergunakan, yakni metode presipitasi IPA (untuk semua jenis karaginan) dan metode
presipitasi KCl (khusus untuk jenis kappa karaginan).

Sedangkan metode fisikawi merupakan pemisahan dengan memanfaatkan


kemampuan pembentukan gel karaginan pada suhu rendah. Penggunaan suhu dan kecepatan
pembentukan gel (berbanding terbalik), serta adanya rangkaian proses tambahan pasca
pembentukan gel, turut mempengaruhi penamaan metode.

Metode freeze thaw merupakan metode pembentukan gel dengan pembekuan pada
kisaran suhu antara (-30oC) – (-20oC), dan diikuti proses penguapan (sublimasi dari fase
padat – uap). Metode press merupakan metode pembentukan gel pada kisaran suhu -10oC ≤ t
≤ 6oC, diikuti dengan proses pengepresan (pemberian tekanan untuk mengeluarkan air dari
gel) dan pengeringan. Sedangkan metode gantung merupakan metode pembentukan gel pada
kisaran suhu antara -10oC ≤ t ≤ 34oC, diikuti pengeluaran air dengan memanfaatkan gravitasi,
dan dilanjutkan dengan pengeringan.

Tabel 13. Perbandingan Metode Pengolahan Karaginan

Parameter IPA KCl Freeze-Thaw Press Gantung


Tipe Kimiawi Kimiawi Fisikawi Fisikawi Fisikawi
Kesesuaian Semua Tipe Kappa Semua Tipe Semua Tipe Semua Tipe
Metode Presipitasi Presipitasi Titik Gel- Titik Gel-Tekanan- Titik Gel-Sublimasi-
(Karaginan) (Titrasi) (Titrasi) Sublimasi Pengeringan Gravitasi-Pengeringan
Tingkat Kesulitan Tinggi Tinggi Sedang Rendah Rendah
Penjedalan Cepat Cepat Sedang-Cepat Sedang Lambat
Kecepatan Produksi Tinggi Tinggi Sedang-Tinggi Lambat-Sedang Lambat-Sedang
Suhu Kamar Kamar (-30oC) – (-20oC) -10oC ≤ t ≤ 6oC -10oC ≤ t ≤ 34oC
Bentuk Antara Serat Jelly Gel Padat (Beku) Lembar Basah Pellet
Efisiensi Recovery 80% - - - -
Jenis Manual- Manual- Manual - Manual - Manual -
Alat Bantu Mekanis Mekanis Mekanis Semi Mekanis Semi Mekanis
Aspek Umumnya Kadar Abu Umumnya Umumnya Umumnya
Mutu Standar Tinggi Standar Standar Standar
Investasi (Relatif) Mahal Sedang Mahal Rendah-Sedang Rendah
Scale Up Industri Besar Besar Besar RT-Besar RT-Besar

Berdasarkan pertimbangan diatas, metode pengolahan rumput laut yang diusulkan


untuk diterapkan adalah metode press. Kelebihan utama metode ini yakni dapat diterapkan
mulai dari skala rumah tangga (teknologi sederhana dan tepat guna) hingga industri besar.
Laporan Akhir Sementara
Study Kelayakan Industri Pengolahan Rumput Laut Provinsi NTB 33
Selain itu, dibandingkan metode kimiawi (presipitasi IPA/KCl) metode ini tidak
membutuhkan kemampuan (skill) yang tinggi, kebutuhan daya (listrik untuk proses
pendinginan) relatif lebih rendah dibandingkan metode Freeze Thaw, jenis peralatan yang
dipergunakan mayoritas manual dan semi-mekanis, serta nilai investasi relatif sedang.

Kekurangan metode ini terletak pada rangkaian proses yang lebih panjang, kecepatan
produksi yang lebih lambat (namun lebih cepat dibandingkan metode gantung), serta adanya
penambahan peralatan pendukung (cetakan gel, pendingin, mesin press lembar karaginan
basah). Namun semua kekurangan tersebut dapat diminimalisir melalui manajemen waktu
produksi serta modifikasi bentuk-bentuk peralatan sederhana yang relatif murah dan
terjangkau dari sudut investasi.

Perlu digarisbawahi bahwa, selain dipengaruhi oleh pemilihan metode, kualitas


maupun kuantitas karaginan sangat dipengaruhi oleh teknik pengolahan. Dalam konteks
industri, tidak terdapat acuan yang seragam terkait teknik pengolahan. Hal ini dipengaruhi
oleh trial and error, efisiensi produksi, kapasitas pengolahan maupun kapasitas permodalan.

4.3.3 Kapasitas Perancangan Produksi

Dasar penentuan kapasitas pabrik adalah prediksi jumlah ketergantungan impor


industri hilir nasional tahun 2009 sebagaimana ditunjukkan pada tabel 14 berikut :
Tabel 14. Prediksi Jumlah Ketergantungan Impor Industri Hilir Nasional Pada Tahun 2009
Berdasarkan Tingkat Penggunaan
No Produk Tingkat Pemakaian (%) Tingkat Pemakaian (Ton)
1. Tekstil 15 2.743,76
2. Kosmetik 15 2.743,76
3. Es Krim 10 1.829,17
4. Sherbets 3 548,75
5. Flavor 12 2.195,00
6. Meat Products 12 2.195,00
7. Pasta Ikan 10 1.829,17
8. Produk Saus 10 1.829,17
9. Industri Sutera 10 1.829,17
10. Lain-lain 3 548,75
TOTAL 100 18.291,70

Ketergantungan impor karaginan oleh industri es krim/pasta ikan/produk saus (tingkat


pemakaian 10%) diketahui sebesar 1.829,17 ton. Dalam konteks mengurangi ketergantungan
impor, pada tahap awal ditargetkan market share sebesar 1%. Oleh karena itu, industri
pengolahan rumput laut yang akan didirikan harus mampu menghasilkan 18,29 ton
karaginan. Industri hilir es krim/pasta ikan/produk saus dipilih dengan pertimbangan bahwa,
Laporan Akhir Sementara
Study Kelayakan Industri Pengolahan Rumput Laut Provinsi NTB 34
produk Refined Carrageenan (RC) lebih sesuai untuk diaplikasikan pada produk hilir
kategori pangan (food grade), terkait minimnya kandungan selulosa.

Dengan asumsi bahwa metode press mampu menghasilkan rendemen sebesar 25%,
sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan oleh Departemen Perindustrian (1989), maka
sektor budidaya harus mampu menyediakan bahan baku rumput laut Eucheuma cottonii
sebesar 73,17 ton (berat kering).

Nilai rasio berat kering : berat basah sebesar 1 : 6. Atau didapatkan nilai konversi
sebesar 439,02 ton rumput laut Eucheuma cottonii (berat basah). Dengan asumsi umur panen
30 hari dan 8 (delapan) kali musim tanam per tahun, maka dibutuhkan 30 klaster petani
dengan tingkat produksi masing-masing klaster sebesar 1,83 ton/30 hari (berat basah). Nilai
ini equivalen dengan 0,31 ton rumput laut Eucheuma cottonii kering/hari, yang sekaligus
merupakan kapasitas pengolahan industri pengolahan rumput laut. Nilai ini equivalen dengan
93 ton rumput laut kering/tahun (asumsi 300 hari kerja).

Produktivitas budidaya dengan menggunakan bibit strain Tembalang diketahui


sebesar 0,67 ton/ha/hari. Sehingga untuk memproduksi rumput laut Eucheuma cottonii
sebesar 1,83 ton/klaster/30 hari (berat basah), dibutuhkan lahan seluas 2,73 ha/kluster.

Berdasarkan regulasi yang diatur dalam Renstra DKP RI Tahun 2005 - 2009, luasan
areal budidaya rumput laut maksimal yang diizinkan tanpa IUP, baik kepada badan usaha
atau perorangan, adalah sebagai berikut :

a. Metode patok dasar : ≤ 20 unit (1 unit = 100 m2)

b. Metode rakit apung : ≤ 20 unit (1 unit = 20 rakit ukuran 2,5 x 5 m/rakit)

c. Metode longline : ≤ 40 unit (1 unit = 20 longline ukuran 100 m x 0,20 m/longline)

Atau jika disederhanakan seperti terlihat pada tabel 15 berikut :

Tabel 15. Luasan Areal Budidaya Rumput Laut Maksimal Tanpa IUP

No Metode Unit Luas Lahan/Unit Equivalensi Luas Lahan


Budidaya Usaha Usaha (m2) (Ha)
1. Patok Dasar 20 100 0,2
2. Rakit Apung 400 12,5 0,5
3. Longline 800 20 1,6

Laporan Akhir Sementara


Study Kelayakan Industri Pengolahan Rumput Laut Provinsi NTB 35
Mengacu pada regulasi tersebut, maka jumlah lahan dan petani yang dibutuhkan dapat
dikalkulasi seperti ditunjukkan pada tabel 16 berikut :

Tabel 16. Kebutuhan Lahan dan Petani

No Metode Equivalensi Kebutuhan Jumlah Total Kebutuhan Total


Budidaya Luas Lahan Lahan/Klaster Klaster Kebutuhan Petani/Klaster Kebutuhan
(Ha) (Ha) Petani Lahan (Ha) (Orang) Petani (Orang)
1. Patok Dasar 0,2 2,73 10 27,3 14 140
2. Rakit Apung 0,5 2,73 10 27,3 6 60
3. Longline 1,6 2,73 10 27,3 2 20
TOTAL 30 81,90 22 220

4.3.4 Design Process

Gambar 7. Skema Teknologi Proses Pengolahan Karaginan Metode Press

4.3.5 Lay Out

Perancangan tata letak (lay out) bangunan dan peralatan membutuhkan lahan seluas
35 m x 15 m, dengan komponen penyusun meliputi : ruang gudang bahan baku (5 x 4) m,
ruang gudang produk (5 x 4) m, kantor (4 x 3,5) m, musholla (4 x 2) m, toilet (4 x 2,25) m,
kantin (4 x 2,5) m, laboratorium uji (4 x 2,75) m, bengkel (4 x 2) m, ruang genset (4 x 3) m,

Laporan Akhir Sementara


Study Kelayakan Industri Pengolahan Rumput Laut Provinsi NTB 36
serta ruang alat dan mesin (± 35 x 11) m. Untuk lebih jelasnya ditunjukkan pada gambar 8
berikut :

Gambar 8. Layout Industri Pengolahan Karaginan Kapasitas 93 Ton/Tahun


Keterangan :
1. Mesin Pencuci (Drum Washing) 10. Alat Press Karaginan (Static Press)
2. Meja Sortasi 11. Meja Pembungkusan
3. Mesin Pengering Rumput Laut (Dryer Box) 12. Mesin Pengering Karaginan (Tray Dryer)
4. Mesin Penepung Rumput Laut (Grinder) 13. Mesin Penepung Karaginan (Grinder)
5. Tangki Ekstraksi (Mixing and Cooking Tank) 14. Meja Pengayakan
6. Tangki Pemanas (Heater Tank) 15. Meja Pengemasan
7. Mesin Penyaring (Catridge Filter) A. Tangki KOH
8. Mesin Pendingin (Freezer) B. Tandon Air
9. Cetakan Gel

4.3.6 Peralatan dan Kebutuhan Utilitas

Berikut ini adalah tabel-tabel yang menunjukkan spesifikasi peralatan dan kebutuhan
utilitas pabrik pengolahan karaginan :
Tabel 17. Tabulasi Peralatan Pengolahan Karaginan
Proses Jenis Alat Waktu Kebutuhan Daya Kebutuhan
Operasional Per Hari (kWh) BBM/Minyak Tanah
Per Hari (Jam) Per Hari (Liter)
Peralatan Utama
Pompa Air 5 0,44 -
Pencucian Tandon Air 10 Ton 8 - -
Mesin Semprot 4 - 3,20
Drum Washing 4 - -
Pengeringan Dryer Box (With Fan) 23 51,45 69*)
Penepungan Grinder 8 5,97 -
Ekstraksi Mixing dan Cooking Tank 18 268,56 -
Pengontrolan Suhu Heater Tank 4 29,84 -

Laporan Akhir Sementara


Study Kelayakan Industri Pengolahan Rumput Laut Provinsi NTB 37
Penyaringan Catridge Filter 8 10,08 -
Air Compressor 8 - 6,40
Pencetakan Cetakan Gel 6 - -
Pendinginan Freezer 1 PK 6 36,00 -
Pembungkusan Kain Maribi 6 - -
Pengepresan Static Press 8 - -
Pengeringan Tray Dryer 14 123,20 -
Penepungan Grinder 8 5,97 -
Pengayakan Manual Siever 8 - -
Pengemasan Manual Hand Sealer 8 3,20 -
Genset 290 DuroPower 60 kWh 24 - 201,85
Peralatan Pendukung
Viscometer VT-03 1 0,03 -
Laboratorium Manual Texture Analyzer 1 0,4 -
Komputer 10 2,5 -
Hot Plate 2 0,6 -
TOTAL 539,99 211,45
Keterangan : *) Minyak Tanah Industri

Tabel 18. Perhitungan Utilitas Pengolahan Karaginan


Utilitas Kebutuhan
Per Hari Per Bulan Per Tahun
Daya (kWh) 539,99 13.499,75 161.997,00
Solar (Liter) 201,85 5.046,19 60.554,25
Bensin (Liter) 9,60 240,00 2.880,00
Minyak Tanah (Liter) 69,00 1.725,00 20.700,00
Air (Untuk Proses) 14.432,02 360.800,50 4.329.606,00

4.3.7 Jadwal dan Komposisi Pekerja

Tabel 19. Jadwal Kerja dan Komposisi Pekerja


Tenaga Kerja Jam Kerja Istirahat I Istirahat II Jumlah (Orang)
MANAJER 1
PROSES
Pencucian 21.30 – 05.30 00.30 – 00.45 03.30 – 03.45 1
Sortasi 21.30 – 05.30 00.30 – 00.45 03.30 – 03.45 1
Pengeringan 22.30 – 06.30 01.30 – 01.45 04.30 – 04.45 1
Penepungan 11.30 – 19.30 17.30 – 17.45 20.30 – 20.45 1
Ekstraksi 15.30 – 23.30 18.30 – 18.45 21.30 – 21.45 1
Pra Penyaringan 15.30 – 23.30 18.30 – 18.45 21.30 – 21.45 1
Pengontrolan Suhu 16.30 – 00.30 19.30 – 19.45 22.30 – 22.45 1
Penyaringan 16.30 – 00.30 19.30 – 19.45 22.30 – 22.45 1
Pencetakan 17.30 – 01.30 20.30 – 20.45 23.30 – 23.45 1
Pendinginan 17.30 – 01.30 20.30 – 20.45 23.30 – 23.45 1
Pembungkusan 23.30 – 07.30 02.30 – 02.45 05.30 – 05.45 1
Pengepresan 23.30 – 07.30 02.30 – 02.45 05.30 – 05.45 1
Pengeringan 12.30 – 20.30 15.30 – 15.45 18.30 – 18.45 1
Penepungan 02.30 – 10.30 05.30 – 05.45 08.30 – 08.45 1
Formulasi dan Pengayakan 03.30 – 11.30 06.30 – 06.45 09.30 – 09.45 1
Pengemasan 04.30 – 12.30 07.30 – 07.45 10.30 – 10.45 1
KEAMANAN
Shift I 07.30 – 15.30 10.30 – 10.45 13.30 – 13.45 1
Shift II 15.30 – 23.30 18.30 – 18.45 21.30 – 21.45 1
Shift III 23.30 – 07.30 02.30 – 02.45 05.30 – 05.45 2
ANALIS
Laboratorium Mutu 07.30 – 15.30 10.30 – 10.45 13.30 – 13.45 1
Laboratorium R&D 07.30 – 15.30 10.30 – 10.45 13.30 – 13.45 1
MEKANIK
Shift I 07.30 – 15.30 10.30 – 10.45 13.30 – 13.45 1
Shift II 15.30 – 23.30 18.30 – 18.45 21.30 – 21.45 1
Shift III 23.30 – 07.30 02.30 – 02.45 05.30 – 05.45 1
TOTAL 26

Laporan Akhir Sementara


Study Kelayakan Industri Pengolahan Rumput Laut Provinsi NTB 38
4.4 Aspek Badan Hukum

Dalam mendirikan industri pengolahan rumput laut, terdapat beberapa alternatif badan
hukum yang umum dipraktikkan di Indonesia, diantaranya : Perusahaan Perorangan,
Persekutuan dengan Firma, Persekutuan Komanditer (CV), Perseroan Terbatas (PT),
Koperasi, Perusahaan Negara, Perusahaan Daerah.

Mengacu pada program PIJAR provinsi NTB, maka bentuk badan hukum industri
pengolahan rumput laut yang akan didirikan adalah koperasi, khususnya koperasi produksi.
Bentuk koperasi dipilih mengingat kelembagaan ini dijalankan melalui kemitraan dengan
azas saling menguntungkan, akibat adanya feedback secara materi dalam bentuk Sisa Hasil
Usaha (SHU), sesuai dengan persentase kepemilikan saham pembudidaya terhadap industri
pengolahan rumput laut, sebagaimana diatur dalam PP 33/1998. Bentuk Koperasi juga
dianggap representatif dalam mengatasi permasalahan terkait kesenjangan kesejahteraan yang
tinggi (farmer share) antara pembudidaya dan industri pengolahan.

Terkait bentuk badan hukum, diperlukan adanya produk regulasi setingkat Perda guna
mengatur pewajiban Koperasi sebagai bentuk badan hukum investasi dalam minapolitan
rumput laut. Mengingat dalam kondisi riilnya, bentuk badan hukum Koperasi relatif jarang
dipergunakan dalam industri, khususnya industri pengolahan rumput laut. Sejauh ini, baru
Kabupaten Malang yang mempergunakan model Koperasi dalam pengembangan komoditas
unggulan daerahnya (pengolahan susu sapi). Selain itu, didalam Perda juga diatur mengenai :

a. Peran industri pengolahan sebagai avalis/penjamin modal dari lembaga permodalan


kepada pembudidaya

b. Persentase proporsional kepemilikan saham pembudidaya dengan mengacu pada PP


33/1998 tentang Penyertaan Modal Koperasi

c. Hubungan tripartit antara Pemda, Koperasi dan Perguruan Tinggi. Didalamnya mengatur
mengenai komponen pengurang pajak, ppH khusus bagi Koperasi, hingga kontribusi
silang ketiga komponen tersebut

d. Standar harga bahan baku dan standar mutu. Didalamnya meliputi revisi terhadap SNI
Rumput Laut Kering Tahun 1992 serta mekanisme pemantauan harga nasional.

e. Regulasi-regulasi tambahan seperti dana bergulir (KUR), penggratisan perijinan


Koperasi, hingga insentif-insentif khusus.
Laporan Akhir Sementara
Study Kelayakan Industri Pengolahan Rumput Laut Provinsi NTB 39
Terkait pendanaan (investasi) dalam pembangunan industri pengolahan rumput laut,
dapat menggunakan 2 (dua) alternatif skema yakni BUMD (Badan Usaha Milik Daerah) dan
BOT (Built Operate Transfer). Dalam sistem BUMD, investasi dan operasionalisasi
sepenuhnya mengandalkan dana APBD/APBN. Dalam pelaksanaannya, dapat dikelola
sendiri oleh Pemerintah Daerah ataupun dilakukan privatisasi oleh pihak swasta yang
berkompeten, menggunakan sistem bagi hasil.

Sementara dalam sistem BOT, kontribusi pemerintah lebih banyak pada aspek
investasi fisik seperti penyediaan lahan. Sedangkan pembangunan gedung, penyediaan
peralatan hingga operasionalisasi, mengandalkan kontribusi pihak swasta. Untuk itu, perlu
dibentuk konsorsium antara pihak swasta dengan pihak Pemerintah Daerah.

4.6 Aspek Finansial

4.5.1 Modal Investasi/Capital Investment (CI)

Modal investasi total adalah seluruh modal untuk mendirikan industri pengolahan
rumput laut mulai dari menjalankan usaha hingga mampu menarik hasil penjualan. Modal
investasi meliputi modal yang diperlukan untuk pengadaan infrastruktur (tanah, bangunan,
peralatan utama, peralatan pendukung) serta modal yang diperlukan pada saat pendirian
pabrik (construction overhead) berlangsung, termasuk didalamnya import peralatan dan
instalasi. Dari hasil perhitungan seperti tertera pada lampiran 10, diperoleh modal investasi
sebesar Rp. 10.475.627.200,-.
4.5.2 Modal Kerja/Working Capital (WC)
Modal kerja adalah modal yang diperlukan untuk memulai usaha hingga mampu
menarik keuntungan dari hasil penjualan dan memutar keuangan. Jangka waktu pengadaan
modal kerja umumnya antara 3 – 4 bulan, namun tidak tertutup kemungkinan lebih lama (1
tahun), jika skema badan usaha yang dipilih adalah BUMD (Badan Usaha Milik Daerah).
Jika skema terakhir yang dipilih, maka besarnya modal kerja sama dengan biaya produksi
tahunan yaitu Rp. 2.871.314.633,43,-.
4.5.3 Modal Investasi Total/Total Capital Investment (TCI)
Berdasarkan perhitungan pada lampiran, maka Modal Investasi Total dihitung sebagai
berikut :

Total Modal Investasi = Modal Investasi + Modal Kerja


= Rp. 10.475.627.200 + Rp. 2.871.314.633,43

Laporan Akhir Sementara


Study Kelayakan Industri Pengolahan Rumput Laut Provinsi NTB 40
= Rp. 13.346.941.833,43,-.
4.5.4 Sumber Modal

Untuk skema BUMD maupun BOT, modal investasi total seperti tertera diatas dapat
berasal dari modal pribadi atau APBD/APBN dengan proporsi modal 60 : 40 dengan pihak
perbankan, dengan perhitungan sebagai berikut :

a. Modal Pribadi/APBD/APBN (60%) = 60/100 x Rp. 13.346.941.833,43


= Rp. 8.008.165.100,06,-
b. Pinjaman Bank (40%) = 40/100 x Rp. 13.346.941.833,43
= Rp. 5.338.776.733,37
4.5.5 Biaya Produksi Total/Total Cost (TC)

4.5.5.1 Biaya Tetap/Fixed Cost (FC)

Biaya tetap adalah biaya yang jumlahnya tidak tergantung pada jumlah produksi. Dari
hasil perhitungan pada lampiran 10, didapatkan biaya tetap sebesar Rp. 1.072.923.083,-

4.5.5.2 Biaya Variabel/Variabel Cost (VC)

Biaya variabel adalah biaya yang jumlahnya tergantung pada jumlah produksi. Dari
hasil perhitungan pada lampiran 10, didapatkan biaya variabel sebesar Rp. 1.798.391.550,-

Biaya Produksi Total = Biaya Tetap (FC) + Biaya Variabel (VC)


= Rp. 1.072.923.083 + Rp. 1.798.391.550
= 2.871.314.633,43
4.5.6 Proyeksi Pendapatan

Pendapatan diperoleh dari hasil penjualan produk karaginan dengan nilai sebesar Rp.
8.602.500.000,-. Sehingga laba penjualan adalah :

Laba = Pendapatan – Biaya Produksi


= Rp. 8.602.500.000 - 2.871.314.633,43
= Rp. 5.731.185.367,- (tanpa risk)
Sedangkan laba penjualan dengan risk (asumsi total produksi terjual 90%), didapatkan
sebesar Rp. 4.296.672.440,-. Perlu dicatat bahwa laba penjualan, sudah mencakup biaya
produksi tak terduga sebesar 12%.

Laporan Akhir Sementara


Study Kelayakan Industri Pengolahan Rumput Laut Provinsi NTB 41
4.6 Aspek Kinerja Finansial

4.6.1 Profit Margin (PM)

Profit Margin adalah persentase perbandingan antara keuntungan sebelum pajak


penghasilan (PPh) terhadap total penjualan.

PM = Laba Sebelum Pajak x 100%


Total Penjualan
PM = Rp. 5.731.185.367 x 100%
Rp. 8.602.500.000
PM = 66,62%
4.6.2 Break Even Point (BEP)

Break Even Point adalah kondisi produksi pada saat hasil penjualan hanya dapat
menutupi biaya produksi. Dalam keadaan ini, dikatakan titik impas (tidak untung dan tidak
rugi).

BEP = Biaya Tetap x Total Penjualan


Total Penjualan – Biaya Variabel
BEP = Rp. 1.072.923.083 x Rp. 8.602.500.000
Rp. 8.602.500.000 – Rp. 1.798.391.550
BEP = Rp. 1.356.507.012,- (Rupiah)
BEP = 6.783 kg (produksi/tahun)
BEP = 22,61 kg (produksi/hari)
4.6.3 Return On Investment (ROI)

Return On Investment adalah besarnya persentase pengembalian modal tiap tahun dari
penghasilan bersih.

ROI = Laba Setelah Pajak x 100%


Modal Investasi Total
ROI = Rp. 4.153.747.628 x 100%
Rp. 13.346.941.833,43
ROI = 31,12%

Laporan Akhir Sementara


Study Kelayakan Industri Pengolahan Rumput Laut Provinsi NTB 42
Analisa ini dilakukan untuk mengetahui laju pengembalian modal investasi total
dalam pendirian industri pengolahan rumput laut. Kategori resiko pengembalian modal
adalah :

a. Resiko pengembalian modal rendah : ROI ≤ 15%

b. Resiko pengembalian modal rata-rata : 15 ≤ ROI ≤ 45%

c. Resiko pengembalian modal tinggi : ROI ≥ 45%

Dari hasil perhitungan diperoleh nilai ROI sebesar 31,12% yang artinya industri
pengolahan rumput laut yang akan didirikan, tergolong resiko pengembalian modal rata-rata.

4.6.4 Pay Back Period (PBP)

Metode Payback Period (PP) merupakan teknik penilaian terhadap jangka waktu
(periode) pengembalian investasi suatu proyek atau usaha. Berdasarkan hasil perhitungan
didapatkan bahwa modal akan kembali setelah 5 tahun operasional.
4.6.5 Net Present Value (NPV)

Net Present Value merupakan metode analisis keuangan yang memperhatikan adanya
perubahan nilai uang karena faktor waktu. Proyeksi cash flow dapat dinilai sekarang (periode
awal investasi) melalui pemotongan nilai dengan faktor pengurang yang dikaitkan dengan
biaya modal (persentase bunga). Adapun kriteria penilaian NPV adalah :
a. Jika NPV > 0, maka investasi layak
b. Jika NPV < 0, maka investasi tidak layak
Dari perhitungan didapatkan bahwa nilai NPV sebesar Rp. 576.420.216,-. NPV ini
bernilai positif dan nilainya > 0, sehingga rencana pembangunan industri pengolahan rumput
laut dikategorikan layak.

4.6.6 Internal Rate Of Return (IRR)

Internal Rate Of Return adalah persentase yang menggambarkan keuntungan rata-rata


bunga per tahun dari semua pengeluaran dan pemasukan. Adapun kriteria penilaian IRR
adalah :
a. Jika IRR > dari suku bunga yang telah ditetapkan, maka investasi layak
b. Jika IRR < dari suku bunga yang telah ditetapkan, maka investasi tidak layak

Laporan Akhir Sementara


Study Kelayakan Industri Pengolahan Rumput Laut Provinsi NTB 43
Dari hasil pehitungan diperoleh nilai IRR sebesar 16,81%, sehingga secara ekonomi
menguntungkan karena lebih besar dari bunga deposito bank (14 – 16%).

4.6.7 Profitability Index (PI)

Indeks profitabilitas adalah rasio atau perbandingan antara jumlah nilai sekarang arus
kas selama umur ekonomisnya dan pengeluaran awal proyek. Adapun kriteria untuk PI
adalah :
a. Dinilai layak jika PI > atau = 1,00
b. Dinilai tidak layak jika PI < 1,00
Dari hasil perhitungan didapatkan nilai PI sebesar 1,04. Berarti bahwa pembangunan
industri pengolahan rumput laut layak dilakukan atau diterima karena nilai PI > 1.

4.7 Rencana Implementasi

1. Tahap Pra Minapolitan (Tahun ke-1)


Tahap pra minapolitan merupakan tahap pembentukan payung hukum dalam
implementasi minapolitan rumput laut. Lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan
tahap pra minapolitan adalah 12 (dua belas) bulan.
Pada rentang waktu tersebut, pihak-pihak yang berkedudukan sebagai Pembina,
seperti Dinas Koperasi, Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Perindustrian, Biro Hukum
serta lembaga lain yang ditunjuk, berperan sebagai konseptor dan fasilitator, meliputi
beberapa langkah diantaranya :
a. Penyusunan, pembahasan dan pengesahan Perda terkait pewajiban Koperasi sebagai
bentuk badan hukum minapolitan rumput laut, dengan mengacu pada PP 33/1998
tentang Penyertaan Modal Koperasi
b. Proses mediasi dengan sumber-sumber pembiayaan dengan perbankan maupun
lembaga keuangan lainnya terkait skema pembiayaan minapolitan
Tabel 20. Time Schedule Tahap Pra-Minapolitan
No Kegiatan Bulan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1. Penyusunan Perda Koperasi
(mengacu pada PP 33/1998)
2. Pembahasan Perda Koperasi
3. Pengesahan Perda Koperasi
4. Proses mediasi sumber
pembiayaan dengan lembaga
keuangan terkait

Laporan Akhir Sementara


Study Kelayakan Industri Pengolahan Rumput Laut Provinsi NTB 44
2. Tahap Awal Minapolitan (Tahun ke-2)
Tahap awal minapolitan meliputi penyiapan komponen-komponen yang terlibat dalam
minapolitan rumput laut. Lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tahap ini adalah
12 (dua belas) bulan, meliputi beberapa langkah diantaranya :
a. Penyusunan studi kelayakan
b. Penyusunan business plan
c. Identifikasi, verifikasi dan penetapan Kelompok Pembudidaya tingkat pemula dan
Koperasi Primer yang akan dilibatkan dalam minapolitan
d. Pembahasan Juklak dan Juknis Dana Penyertaan (DPM) yang akan dipergunakan
Koperasi Primer selaku perwakilan Kelompok Pembudidaya, dalam pembelian saham
Koperasi Sekunder/Produksi
Tabel 21. Time Schedule Tahap Awal Minapolitan
No Kegiatan Bulan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1. Penyusunan Studi Kelayakan
2. Penyusunan Business Plan
3. Identifikasi Kelompok
Pembudidaya dan Koperasi
Primer
4. Verifikasi Data Kelompok
Pembudidaya dan Koperasi
Primer
5. Penetapan Kelompok
Pembudidaya dan Koperasi
Primer Minapolitan
6. Penyusunan Juklak Juknis
Dana Penyertaan Modal

3. Tahap Operasional Minapolitan (Tahun ke-3)


Pada tahap operasional minapolitan, terdapat beberapa kegiatan yang berjalan secara
beriringan (paralel) pada tingkat Kelompok Pembudidaya, Koperasi Primer dan Koperasi
Sekunder selaku komponen utama minapolitan rumput laut.

Laporan Akhir Sementara


Study Kelayakan Industri Pengolahan Rumput Laut Provinsi NTB 45
Kegiatan pada Kelompok Pembudidaya berupa persiapan pengaturan pola tanam
sesuai dengan asumsi perancangan kapasitas pengolahan industri pengolahan rumput laut.
Dalam hal ini perlu dibentuk minimal 30 (tiga puluh) klaster dengan pola tanam bergilir.

Gambar 9. Model Pengaturan Pola Tanam

Berdasarkan gambar diatas diketahui bahwa, diperlukan 30 (tiga puluh) klaster


Kelompok Pembudidaya yang terdiri dari 10 klaster rakit apung, 10 klaster patok dasar dan
10 klaster longline, dengan tingkat produksi minimal 0,31 ton rumput laut kering/30
hari/klaster. Setiap 10 klaster bernaung pada 1 (satu) Koperasi Primer sehingga dibutuhkan 3
(tiga) Koperasi Primer dengan kapasitas penampungan 3,1 ton/bulan.
Rumput laut kering yang ditampung dalam gudang bahan baku milik Koperasi
Primer, baru dapat didistribusikan kepada Koperasi Sekunder/Produksi apabila telah
mencapai batas minimal pengolahan yakni 60% kapasitas equivalen = 55,8 ton rumput laut
kering, dengan total waktu yang dibutuhkan 6 (enam) musim tanam per Koperasi Primer.
Selama kurun waktu tersebut, pengucuran Dana Penyertaan Modal (DPM) dan
pembelian bahan baku kepada Koperasi Primer dapat mulai dilakukan, guna mencegah
spekulasi maupun penjualan kepada pihak lain. Koperasi Primer sebagai Gabungan
Kelompok Pembudidaya, berperan sebagai penampung bahan baku sekaligus memberi nilai
tambah melalui perbaikan mutu (sortasi ulang, pengeringan kembali dan pengepresan).
Pembangunan unit usaha dan gudang bahan baku Koperasi Primer diperkirakan memakan
waktu selama 4 (empat) bulan.

Laporan Akhir Sementara


Study Kelayakan Industri Pengolahan Rumput Laut Provinsi NTB 46
Pembangunan Koperasi Sekunder/Produksi selaku industri pengolahan rumput laut
hingga siap dioperasikan, diperkirakan memakan waktu 12 (dua belas) bulan. Selama rentang
waktu tersebut dilakukan proses trial error terhadap design process maupun peralatan untuk
mencapai efisiensi produksi yang diinginkan.
Tabel 22. Time Schedule Tahap Operasional Minapolitan
No Kegiatan Bulan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1. Penyaluran DPM
2. Kelompok Pembudidaya
3. Koperasi Primer
a. Pembangunan gudang
b. Penampungan bahan baku
4. Koperasi Sekunder/Produksi
a. Pembelian bahan baku
b. Pemesanan mesin
c. Penyiapan lahan
d. Pembangunan gedung
e. Konstruksi pabrik
f. Produksi percobaan (trial error)
g. Produksi komersil

Laporan Akhir Sementara


Study Kelayakan Industri Pengolahan Rumput Laut Provinsi NTB 47
BAB V
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

5.1 Kesimpulan

a. Berdasarkan hasil penilaian terhadap aspek pemasaran, teknis, manajemen


operasional dan kinerja finansial, diperoleh bahwa pendirian industri pengolahan
rumput laut Eucheuma cottonii di Provinsi NTB dikategorikan LAYAK. Sedangkan
dilihat dari kesiapan sektor budidaya dalam menerapkan sertifikasi CBYB,
dikategorikan TIDAK LAYAK
b. Industri pengolahan rumput laut Eucheuma cottonii, diusulkan dibangun di Teluk
Ekas (Kabupaten Lombok Timur), dengan didahului perbaikan pada aspek sertifikasi
CBYB, akses transportasi, fasilitas finansial dan pembangkit tenaga listrik
(PLN/SPBU)
c. Karakteristik industri pengolahan rumput laut Eucheuma cottonii yang akan dibangun
meliputi : pabrik Refined Carrageenan (RC) ; metode press ; kapasitas bahan baku 93
ton rumput laut kering/tahun : market share 1% ; bentuk badan hukum Koperasi
Produksi ; skema pembangunan model BUMD/BOT ; total modal investasi Rp.
13.346.941.833,43,- (rasio modal : bank = 60/40) ; tenaga kerja 26 orang
d. Nilai tambah pembangunan industri rumput laut Eucheuma cottonii bagi
pembudidaya berupa : penyerapan tenaga kerja utama 220 orang ; peningkatan harga
beli bahan baku pada kisaran 56,3% - 78,6% ; feedback berupa Sisa Hasil Usaha
(SHU) sesuai dengan persentase kepemilikan saham
e. Kelayakan kinerja finansial industri pengolahan rumput laut Eucheuma cottonii yang
akan dibangun meliputi : PM = 66,62% ; BEP (Rp) = Rp.1.356.507.012,- ; BEP (Kg)
= 6.783 per tahun ; ROI = 31,12% ; PBB = 5 tahun ; NPV = Rp.576.420.216,- ; IRR =
16,81% dan PI = 1,04

5.2 Rekomendasi
a. Pembangunan industri pengolahan rumput laut Eucheuma cottonii agar segera
dilaksanakan dengan mengacu pada rencana implementasi dan rencana anggaran yang
telah disusun
b. Dalam proses pembangunan industri pengolahan rumput laut Eucheuma cottonii,
disarankan untuk lebih selektif dalam mengeluarkan biaya investasi guna menjaga

Laporan Akhir Sementara


Study Kelayakan Industri Pengolahan Rumput Laut Provinsi NTB 48
kelayakan neraca, mengingat nilai IRR (16,81%) mengindikasikan tingkat sensitivitas
usaha yang cukup tinggi
c. Pemerintah Provinsi NTB disarankan untuk segera menyusun Peraturan Daerah
(Perda) sebagai payung hukum dalam derivatisasi penjabaran teknis, terkait pewajiban
bentuk badan hukum Koperasi bagi implementasi minapolitan rumput laut
d. Untuk mensuplai bahan baku secara kontinyu, menghindari intervensi spekulan dan
praktik ijon, disarankan untuk merekrut pembudidaya tingkat pemula melalui sistem
kemitraan berbasis Koperasi
e. Perlu dilakukan studi kelayakan lanjutan dan berkala diantaranya : survey kelayakan
industri pengolahan rumput laut segmen RC dengan metode IPA dan KCl, survey
kelayakan industri pengolahan rumput laut segmen ATC dan SRC, analisa tingkat
partisipasi kemitraan pembudidaya rumput laut dan Koperasi Sekunder/Produksi,
analisa penyertaan modal pembudidaya rumput laut, analisa dampak sosial ekonomi
pembangunan industri pengolahan rumput laut, AMDAL (Analisis Masalah Dampak
Lingkungan) serta struktur pendapatan pembudidaya pasca pembangunan industri
pengolahan rumput laut

Laporan Akhir Sementara


Study Kelayakan Industri Pengolahan Rumput Laut Provinsi NTB 49

Anda mungkin juga menyukai