Anda di halaman 1dari 9

COPYRIGHT

I. PENDAHULUAN

Manusia adalah makhluk yang dikaruniai akal dan pikiran. Dengan memanfaatkan akal dan
pikirannya, manusia berusaha mengembangkan ilmu pengetahuannya untuk memudahkan
pekerjaannya. Manusia belajar dan berusaha menemukan penemuan-penemuan (karya-karya) penting
yang dapat membantunya dalam menyelesaikan pekerjaannya secara efisien dan efektif atau
memberikan hiburan dan kesenangan bagi manusia. Tentunya dengan adanya karya-karya tersebut
akan mempercepat waktu pengerjaan, mengurangi biaya, dan masih banyak lagi keuntungan yang
diperoleh.
Penemuan/ penciptaan karya itu sudah ada sejak jaman dahulu. Karya tersebut tentunya
dipelajari dan ditiru dari kejadian-kejadian alam dan dari bahan yang sudah disediakan alam. Sebagai
contoh mesin uap yang ditemukan oleh James Watt diilhami oleh air mendidih yang menghasilkan
uap yang dimasak dalam ketel. Penemuan/ penciptaan karya-karya tersebut tentunya membutuhkan
kerja keras, waktu, dan biaya yang tidak sedikit. Oleh karena itu sudah sepantasnya diberikan imbalan
yang sepadan kepada inventor/ creator (penemu/ pencipta). Imbalan tersebut biasanya berupa
pemberian hak atas kekayaan intelektual. Tak dapat dipungkiri bahwa hak cipta memegang peranan
yang sangat penting dalam menghasilkan sebuah karya. Dengan adanya hak cipta, seseorang akan
termotivasi untuk menghasilkan sebuah karya. Namun benarkah demikian? Apakah hak cipta masih
sesuai dengan masa kini? Marilah kita bahas lebih detail!

II. PEMBAHASAN

DEFINISI

Hak Cipta (Inggris : copyright, Belanda: auteurrecht) adalah hak eksklusif bagi Pencipta atau
penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya atau memberikan izin untuk itu
dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang
berlaku [UUHAKII1]. Hak cipta (copyright) adalah salah satu dari hak-hak asasi manusia yang
tercantum dalam Universal Declaration of Human Rights (Deklarasi Umum Hak-hak Asasi Manusia )
dan UN International Covenants (Perjanjian internasional PBB) [HOZUMI1].

Simbol ini digunakan sebagai pemberitahuan hak cipta atas


semua hasil kerja kreatif (sastra, artistik, dll) yang diatur oleh Universal
Copyright Law. Durasinya bervariasi di tiap negara namun biasanya
hingga seumur hidup si pencipta + 70 tahun. Hak cipta merupakan salah satu jenis hak
kekayaan intelektual, namun hak cipta berbeda secara mencolok dari hak kekayaan intelektual
lainnya (seperti paten, yang memberikan hak monopoli atas penggunaan invensi), karena hak
cipta bukan merupakan hak monopoli untuk melakukan sesuatu, melainkan hak untuk
mencegah orang lain yang melakukannya.

Negara-negara di bawah sistem hukum Inggris dan Amerika Serikat menekankan segi hak
kekayaan intelektual dari hak cipta. Istilah “hak cipta” (copyright) yaitu hak menyalin (the right to
copy). Konsep ini menaikkan nilai hak kekayaan intelektual atas suatu ciptaan, dan hak cipta pada
dasarnya adalah hak memperbanyak/ menggandakan suatu ciptaan. Negara lain, seperti Prancis dan
Jerman, lebih menekankan hak moral (lebih mementingkan konsep melindungi alam intelektual si
pencipta) yakni “hak pencipta” (rights of the author)..

Beberapa hak eksklusif yang umumnya diberikan kepada pemegang hak cipta adalah hak untuk:

 membuat salinan atau reproduksi ciptaan dan menjual hasil salinan tersebut (termasuk, pada
umumnya, salinan elektronik),
 mengimpor dan mengekspor ciptaan,
 menciptakan karya turunan atau derivatif atas ciptaan (mengadaptasi ciptaan),
 menampilkan atau memamerkan ciptaan di depan umum,
 menjual atau mengalihkan hak eksklusif tersebut kepada orang atau pihak lain.

Yang dimaksud dengan "hak eksklusif" dalam hal ini adalah bahwa hanya pemegang hak ciptalah
yang bebas melaksanakan hak cipta tersebut, sementara orang atau pihak lain dilarang melaksanakan
hak cipta tersebut tanpa persetujuan pemegang hak cipta.

Banyak negara mengakui adanya hak moral yang dimiliki pencipta suatu ciptaan, sesuai
penggunaan Persetujuan TRIPs WTO (yang secara inter alia juga mensyaratkan penerapan bagian-
bagian relevan Konvensi Bern). Secara umum, hak moral mencakup hak agar ciptaan tidak diubah
atau dirusak tanpa persetujuan, dan hak untuk diakui sebagai pencipta ciptaan tersebut.

Hak cipta di Indonesia juga mengenal konsep "hak ekonomi" dan "hak moral". Hak ekonomi
adalah hak untuk mendapatkan manfaat ekonomi atas ciptaan, sedangkan hak moral adalah hak yang
melekat pada diri pencipta atau pelaku (seni, rekaman, siaran) yang tidak dapat dihilangkan dengan
alasan apa pun, walaupun hak cipta atau hak terkait telah dialihkan [2]. Contoh pelaksanaan hak moral
adalah pencantuman nama pencipta pada ciptaan, walaupun misalnya hak cipta atas ciptaan tersebut
sudah dijual untuk dimanfaatkan pihak lain. Hak moral diatur dalam pasal 24–26 Undang-undang Hak
Cipta.
Hak cipta berlaku pada berbagai jenis karya seni atau karya cipta atau "ciptaan". Ciptaan
tersebut dapat mencakup puisi, drama, serta karya tulis lainnya, film, karya-karya koreografis (tari,
balet, dan sebagainya), komposisi musik, rekaman suara, lukisan, gambar, patung, foto, perangkat
lunak komputer, siaran radio dan televisi, dan (dalam yurisdiksi tertentu) desain industri.

Hak cipta merupakan salah satu jenis hak kekayaan intelektual, namun hak cipta berbeda
secara mencolok dari hak kekayaan intelektual lainnya (seperti paten, yang memberikan hak monopoli
atas penggunaan invensi), karena hak cipta bukan merupakan hak monopoli untuk melakukan sesuatu,
melainkan hak untuk mencegah orang lain yang melakukannya.

Hukum yang mengatur hak cipta biasanya hanya mencakup ciptaan yang berupa perwujudan
suatu gagasan tertentu dan tidak mencakup gagasan umum, konsep, fakta, gaya, atau teknik yang
mungkin terwujud atau terwakili di dalam ciptaan tersebut. Sebagai contoh, hak cipta yang berkaitan
dengan tokoh kartun Miki Tikus melarang pihak yang tidak berhak menyebarkan salinan kartun
tersebut atau menciptakan karya yang meniru tokoh tikus tertentu ciptaan Walt Disney tersebut,
namun tidak melarang penciptaan atau karya seni lain mengenai tokoh tikus secara umum.

Di Indonesia, masalah hak cipta diatur dalam Undang-undang Hak Cipta, yaitu, yang berlaku
saat ini, Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002. Dalam undang-undang tersebut, pengertian hak cipta
adalah "hak eksklusif bagi pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak
ciptaannya atau memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan
menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku" (pasal 1 butir 1).

ANALISA KASUS

Dibawah ini adalah contoh kasus yang terjadi terkait dengan pelanggaran hak cipta :

Tahun 2009 lalu Korea Selatan memperkenalkan peraturan baru seputar


pelanggaran hak cipta online. Hukumannya cukup berat, termasuk putus hubungan
dengan internet. Setelah itu, penjualan digital melonjak lebih dari 50 persen. Akan
tetapi, di saat yang sama, pelanggaran juga tercatat meningkat pesat. Dari laporan
terakhir, Korea Selatan kini berada di posisi kedua sebagai negara pembajak musik
terbesar di dunia. Music Matters, perusahaan asal Hong Kong melakukan penelitian
terhadap 8.500 orang di 13 negara. Hasilnya, di tahun 2009 lalu, warga Korea
Selatan berada di belakang warga China sebagai warga yang paling banyak
melanggar hak cipta musik online.
Menurut laporan Music Matters, seperti VIVAnews kutip dari Torrentfreak,
31 Januari 2010, 68 persen pengguna internet di China mengaku telah
mendownload musik tanpa membayar. Sebanyak 60 persen warga Korea Selatan
menyatakan demikian. Di posisi berikutnya adalah Spanyol. Sekitar 46 persen
warganya mengaku mendownload musik ilegal. Meski demikian, laporan tersebut
diragukan validitasnya oleh Ministry of Culture, Sports and Tourism. Sampai
dilakukan penelitian terhadap laporan tersebut, pemerintah Korea Selatan meminta
laporan tersebut untuk diabaikan.

Sebelum ini, di tahun 2009 lalu, Korea Selatan tercantum dalam daftar
priority piracy watchlist oleh International Intellectual Property Alliance (IIPA).
Anggotanya, termasuk Recording Industry Association of America (RIAA) dan Motion
Picture Association of America (MPAA) pertengahan tahun lalu telah meminta
pemerintah untuk melakukan tindakan tegas.

Masalah-masalah yang timbul sehubungan dengan adanya copyright ini sangat marak
belakangan ini. Hal itu dikarenakan makin banyaknya jaringan internet, jaringan computer.
Kemampuan computer dalam menggandakan dan mencetak ditambah dengan kemampuan internet
dalam memberikan informasi menjadikan proses penggandaan menjadi lebih mudah. Factor-faktor
yang menyebabkan maraknya penggandaan adalah

1.      format seperti MP3 dapat diperbanyak dan disimpan dengan ukuran yang kecil

2.      pengubahan bentuk format dari yang tidak digital menjadi digital sangat mudah,
dengan adanya scanner.

3.      harga alat-alat penyimpanan informasi dalam bentuk digital harganya relative murah

4.      .adanya kemudahan dalam pengambilan materi dari internet.

Karena banyaknya pelanggaran yang terjadi, maka upaya perlindungan hak cipta selain
perlindungan hukum dilakukan oleh produsen karya.contohnya dalam industri software
dilakukan cara seperti berikut:

1.      pembeli software harus memasang suatu hardware pada computer, untuk
menjalankan software tersebut dan memastikan bahwa software yang dibeli hanya
dijalankan pada 1mesin saja.
2.      memasang copy protection pada disket, sehingga software tidak dapat dicopy.

3.      watermarking, yaitu menyisipkan watermark pada intelektual property multimedia.

Pembajakan software secara illegal banyak dilakukan di Indonesia baik dalam perusahaan
kecil atau besar.dalam UU hak cipta yang baru, pelaku pembajakan software bisa dikenai
sanksi paling berat 5 tahun penjara atau denda Rp. 500 juta.

Penyebab pelanggaran hak cipta yang terjadi saat ini dikarenakan ketertarikan
konsumen dengan barang palsu yang murah dengan kualitas yang sama dengan barang
aslinya. Kekurang pahaman konsumen terhadap pembelian barang illegal mengakibatkan
kerugian ekonomi yang besar bagi Negara, karena tidak melalui perpajakan yang seharusnya.

Untuk menghindari adanya kejahatan pembajakan ini maka diperlukan kesadaran


masyarakat akan hukum hak cipta, serta sikap pemerintah yang harus tegas dalam menyikapi
barang-barang illegal, seperti melakukan razia dan mencari agen besar yang menyalurkan
barang-barang tersebut.

KEBIJAKAN

Kebijakan-kebijakan Pemerintah Untuk Menghilangkan Pembajakan

a. Undang-undang No. 19 Tahun 2002 tentang hak cipta

Dari bunyi pasal 1 butir 1 Undang-undang No. 19 Tahun 2002 tentang hak cipta,
mengandung banyak unsur yang terkandung didalamnya baik bagi berhubungan dengan
pencipta, penerima, karya ciptanya dan pengertian semata-mata diperlukan bagi
pemegangnya sehingga tidak ada pihak lain yang boleh memanfaatkan hak tersebut tanpa
izin pemegangnya.

b. Peraturan Pemerintah No 29/2004 tentang Cakram Optik (PP Cakram Optik).

PP Cakram Optik mulai diberlakukan 5 Oktober 2004. Untuk mendukung PP ini,


Menteri Perindustrian dan Perdagangan menerbitkan Keputusan Menteri No 648/ 2004.
Lalu disusul oleh Peraturan Menteri Perdagangan No 05/2005 yang mulai berlaku 15 Juni
2005. Tujuan utamanya, mencegah beredarnya cakram optik ilegal (bajakan) serta
menghindari persaingan tidak sehat antarindustri cakram optik dalam negeri.
c. KEPUTUSAN FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor : 1/MUNAS
VII/MUI/15/2005 Tentang PERLINDUNGAN HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL
(HKI)

Majelis Ulama Indonesia (MUI), dalam Musyawarah Nasional VII MUI, pada 19-22
Jumadil Akhir 1426H. / 26-29 Juli 2005M., Memutuskan menetapkan fatwa tentang
perlindungan hak kekayaan intelektual (HKI). Yang didalamnya membahas tentang
ketentuan hukum terhadap Hak Kekayaan Intelektual.

d. Tim Nasional Penanggulangan Pelanggaran Hak atas Kekayaan Intelektual (Timnas


HaKI).

Pemerintah membentuk tim khusus untuk menangani pelanggaran terkait HaKI ini
lewat kelompok kerja yang diberi nama Tim Nasional Penanggulangan Pelanggaran Hak
atas Kekayaan Intelektual (Timnas HaKI), tim yang dibentuk berdasarkan Keputusan
Presiden no 4 tahun 2006.

e. TRIPs (Trade Related Aspect of Intellectual Property Rights)

yaitu perjanjian Hak-Hak Milik Intelektual berkaitan dengan perdagangan dalam


Badan Perdagangan Dunia (WTO) yang harus tunduk pada perjanjian internasional itu.
Berdasarkan Trade Related Aspect Of Intellectual Property Rights (TRIPs) yang
merupakan perjanjian Hak-Hak Milik Intelektual berkaitan dengan perdagangan dalam
Badan Perdagangan Dunia (WTO), HKI ini meliputi copyrights (hak cipta), dan industrial
property (paten, merek, desin industri, perlindungan integrated circuits, rahasia dagang
dan indikasigeografis asal barang).

KELEMAHAN

Masalah hak cipta menjadi permasalahan yang kompleks, ambiguitas dan menimbulkan
dilema. Dengan adanya hak cipta, kreativitas seseorang diakui dan dihargai, yang tentunya
memotivasi orang tersebut untuk menciptakan karya-karya, dan karena itu, sepantasnya apabila
kepada pencipta/ inventor yang bersangkutan diberikan imbalan (berupa royalti) yang sepadan atas
segala jerih payah, waktu, dan biaya yang telah dikeluarkannya untuk menghasilkan suatu invensi.
Hal ini wajar, kita sebagai manusia masih membutuhkan materi apalagi invensi tersebut berhubungan
dengan profesi kita yang diandalkan untuk memenuhi hidup.
Namun bukan berarti hak cipta tidak mempunyai pengaruh negatif dalam kreativitas
masyarakat. Sebagai contoh, Wira, seorang siswa SMA, sangat berbakat dalam meng-arransemen
lagu. Dia ingin meng-arransemen lagu “We Are The Champion” milik grup The Queen. Bisa
dibayangkan berapa mahal royalti yang harus dibayarkannya karena lagu tersebut sangat populer.
Karena terbentur masalah royalti yang sangat mahal, Wira akhirnya tidak jadi meng-arransement lagu
tersebut.

Masalah diatas merupakan salah satu contoh terhambatnya kreativitas masyarakat yang
diakibatkan oleh hak cipta. Pemberian hak cipta di era sekarang ini tidak lagi memotivasi invensi,
tetapi sudah mendemotivasi. Dimana-mana sekarang ini semuanya serba dilindungi hak ciptanya,
mulai dari iklan-iklan, poster, lagu-lagu, dll. Padahal setiap orang berpotensi menjadi new inventor /
creator. Bisa dibayangkan, betapa banyak karya-karya yang tertunda bahkan hilang sama sekali hanya
karena terhambat hak cipta.

III. KESIMPULAN

- Hak cipta adalah hak eksklusif Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk mengatur
penggunaan hasil penuangan gagasan atau informasi tertentu. Pada dasarnya, hak cipta
merupakan "hak untuk menyalin suatu ciptaan". Hak cipta dapat juga memungkinkan
pemegang hak tersebut untuk membatasi penggandaan tidak sah atas suatu ciptaan. Pada
umumnya pula, hak cipta memiliki masa berlaku tertentu yang terbatas.

- Dengan semakin bertambahanya pelanggaran hak cipta didalam masyarakat, penanaman


kesadaran diri terhadap hak cipta dalam seluruh lapisan masyarakat sangatlah penting
untuk mencegah bertambahnya pelanggaran tersebut.

- Pemerintah membuat beberapa kebijakan dalam perundang-undangan untuk melindungi


hak cipta warga negaranya.

- Salah satu kelemahan suatu hak cipta terhadap usernya terletak pada bagian dimana
masyarakat umum akan kesulitan menciptakan sebuah karya yang mengandung karya lain
yang telah di-copyright-kan, karena harus membayar sejumlah royalti kepada pemilik
karya tersebut.
MAKALAH
TUGAS MATA KULIAH
ILMU, PROFESI DAN MASYARAKAT

disusun oleh :
Kelompok 2

Ketua : Manyang Megantara (09/283618/PA/12634)


Sekretaris : Dani Wulansari (09/289182/PA/12926)
Anggota : Indra Susilawati (07/252993/PA/11490)
Ginanjar Erwin Wicaksono (09/281152/PA/12368)
Egrit Nurcahyo W (09/283394/PA/12542)
Yossafat Reinas (09/283823/PA/12716)
Sani Pramudita (09/289065/PA/12902)

Prodi Elektronika dan Instrumentasi


Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Gadjah Mada
2010