Anda di halaman 1dari 18

14

BAB II

BIOGRAFI MAHMUD YUNUS

A. Riwayat Kehidupan dan Latar Belakang Sosial Politik Kehidupan


Mahmud Yunus

Mahmud Yunus lahir pada Tanggal 30 Romadhan

1316 H,19 atau bertepatan dengan hari sabtu 10 Februari

1899 M. Di desa Sungayang Batu Sangkar Sumatra Barat,

dari pasangan Yunus bin Ice dan Hafsah binti Imam

Samiun, Meski terlahir dari sebuah daerah yang bukan

berbasisi Islam tetapi keluarga Mahmud Yunus termasuk

keluarga terpandang dan tokoh agama dikampung

tersebut.20

Bapak Mahmud Yunus (Yunus bin Icek) adalah

lulusan surau (pesantren) yang kemudian mengajar di

surau yang di dirikanya sendiri, Oleh adat negeri setempat

Yunus bin Icek diangkat sebagai Imam dan terkenal

sebagai orang yang jujur dan lurus, sedangkan Ibu

Mahmud Yunus bernama Hafsah binti Imam Samiun anak

Engku Gadang Muhammad tahir bin Ali pendiri serta

pengasuh surau di kampungnya.21

19
http://luluvikar.wordpress.com didukung oleh http://novrisy.co.nr
20
Didin Syafrudin, Tokoh dan Pemimpin Agama (Beografi Sosial Intelektual) Litbang
Depag RI dan PPIM, Jakarta, 1998, h.282
21
Ibid, h. 283
15

Karena ditinggal cerai orang tuanya Mahmud yunus

sejak kecil hidup dan tumbuh dilingkungan keluarga ibunya

yang notabene keluarga terpandang dan taat beragama

sehingga wajar jika dilihat pengalaman belajarnya Mahmud

Yunus tidak pernah mengenyam pendidikan sekolah

Belanda seperti HIS, MULO, AMS, apalagi melanjutkan

sekolah di Amsterdam Belanda sebagaimana yang menjadi

tren kalangan keluarga sekuler dan terpandang lainya

pada saat itu, Mahmud Yunus lebih dibesarkan dalam

kultur surau (pesantren).

Sebagai anak yang hidup di tengah keluarga yang

agamis dari kecil pada usia tujuh tahun (1906) Mahmud

Yunus sudah belajar agama di surau kakeknya Engku

Gadang M Tahir bin Ali, ini dilakukanya pada setiap pagi

dan malam hari sehingga dari surau inilah Mahmud Yunus

mengetahui bagaimana cara sholat, puasa, membaca Al-

qur’an serta pengetahuan pengetahuan agama lainya dan

pendidikan dasar inilah yang kemudian menjadi modal

perjalanan karir dan pengabdian Mahmud yunus

berikutnya.

Awal tahun 1970 kesehatan Mahmud Yunus menurun

dan bolak balik masuk rumah sakit. Tahun 1982, beliau

memperoleh gelar doctor honoris causa di bidang ilmu


16

tarbiyah dari IAIN Jakarta atas karya-karyanya dan jasanya

dalam pengembangan pendidikan Islam di Indonesia,

sepanjang hidupnya, Mahmud Yunus menulis tak kurang

dari 43 buku. Pada tahun 1982, Mahmud Yunus meninggal

dunia.22

B. Riwayat Pendidikan dan Karya-karya Mahmud Yunus

a. Riwayat Pendidikan Mahmud Yunus

Mahmud Yunus memulai pendidikan sekolah

dasarnya dari surau (pesantren) di desa kelahiranya

Sungayang Batu Sangkar, mulai dari usia tujuh tahun

Mahmud Yunus telah belajar Al-qur’an ini beliau tekuni

setiap pagi dan malam hari sehingga Mahmud Yunus kecil

mengetahui bagaimana cara sholat, puasa, membaca Al-

qur’an serta pengetahuan-pengetahuan dasar keagamaan

lainya.

Sejak masih kecil Mahmud yunus sudah terlihat akan

kecerdasan dan kepandainya, Mahmud Yunus lebih

22
http://ulama-minang.blogspot.com/2010/01/Prof.Dr.H Mahmud Yunus-1899-1992,htm/
17

menonjol di banding teman-teman sebayanya salah satu

kesenangan Mahmud Yunus ialah mendengarkan lagu

hikayat atau cerita yang apabila pada malamnya di

ceritakan kepadanya maka pada siangnya beliau telah bisa

menceritakanya lagi secara sempurna.

Minatnya yang besar terhadap study Al-Qur’an dan

baha Arab telah melahirkan hasratnya yang besar untuk

menulis Tafsir Al-Qur’an yang kemudian menjadi karya

monumentalnya sendiri yang tetap popular sampai saat ini.

Selain pendidikan dasar agama Mahmud Yunus

sempat masuk sekolah rakyat (1908) bersamaan ketika

pemerintah kolonial Belanda menggalakkan pendidikan

dasar, pada saat itu penduduk sungayang mendirikan

sekolah dasar yang berdekatan dengan surau (masjid),

yang desediakan untuk masyarakat pedesaan setempat.

Di sekolah Dasar ini Mahmud Yunus terkenal sebagai

seorang yang cerdas sehingga tak heran ketika di sekolah

rakyat ini Mahmud Yunus menjadi siswa terbaik yang

karena kecerdasanya dalam waktu empat bulan dari kelas

satu langsung di naikan kekelas empat tetapi kemudia

Mahmud Yunus merasa bosan karena banyak pelajaran

yang di ulang-ulang sehingga Mahmud Yunus keluar keluar

dari sekolah dasar ini dan setelah itu Mahmud Yunus


18

pindah ke Madras School (1910) atau sekolah agama yang

dibuka oleh HM. Thaib umar di surau Tanjung Pauh.23

Pada tahun 1910 Mahmud Yunus masuk ke Madras

School di surau Tanjung Pauh yang dibuka oleh HM. Thaib

Umar dan selama di sekolah ini beliau belajar ilmu-ilmu ke

Islaman seperti Nahwu Sharaf (Marfologi) berhitung dan

bahasa Arab pada malam harinya Mahmud Yunus belajar

Al-Qur’an di surau kakeknya Engku Gadang M Tahir bin Ali.

Pada bulan Mei 1911 karena tak tahan melihat

teman-temanya bermalam di surau Tantung Pauh tempat

Madras School berada dan setelah meminta izin kepada

kakek dan gurunya HM. Thaib Umar Mahmud Yunus

kemudian bergabung dengan teman-temanya sehingga

beliau bisa mempergunakan waktu sepenuhnya untuk

belajar ilmu-ilmu agama dan bahasa arab. Pada tahun

1917 dalam usia 19 tahun Mahmud yunus sudah di

percaya mengajar di madrasah terlebih ketika HM. Thaib

Umar menderita sakit sehingga tugas mengajar di

serahkan sepenuhnya kepada Mahmud Yunus, karir

mengajar ini beliau geluti sampai tahun 1923.

HM. Thaib Umar adalah guru yang paling di

hormatinya dan paling banyak mempengaruhi perjalanan

23
Hasbullah, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2009, h. 153
19

hidup Mahmud Yunus karena HM. Thaib Umar merupakan

tokoh pembaharu Islam di Minangkabau.24

Ketika mengajar Mahmud Yunus tidak hanya

mangajarkan kitab-kitab yang beliau pelajari dari gurunya

semata tetapi juga kitab-kitab baru yang beliau terima dari

Mesir separti kitab Bidayatul Mujtahid, Husul al Makmul,

Irsyat Al Fuhul bahkan pada tanggal 04 Oktober 1918

beliau telah menerapkan pendidikan sistem klasikal meski

untuk pelajar-pelajar dewasa beliau masih menerapkan

sistem halaqoh.

Dalam pengajaran malam, Mahmud Yunus

mengembangkan keaktifan murid. Beliau sendiri bertindak

sebagai fasilitator murid-murid di kumpulkan dalam satu

kelas yang besar kemudian mereka di tanya siapa yang

akan membaca teks bahasa arab pelajaran baru,

sementara yang lain menyimak setelah itu baliau meminta

yang lain untuk menerjemahkan dan menjelaskanya kalau

dirasa penjelasanya kurang barulah Mahmud Yunus sendiri

menambahkanya.

24
HM. Thaib Umar sebagaimana dikatakan Mahmud Yunus lahir di Batu Sangkar tahun
1874 pendidikannya di mulai dari surau Batu Sangkar dan Suliki kemudian selama lima tahun
mukim di Mekah dan berguru kepada Syekh Ahmad Khatib seorang ulama Minangkabau yang
termashur di kota suci itu. Setelah kembali ke Sungayang Batu Sangkar HM. Thaib Umar
membuka pengajian kitab dan bersama dua pembaharu Islam Minangkabau lainya Abdullah
Ahmad dan Abdul Karim Amrullah, Ia mengasuh majalah Al Munir (1911) sebuah majalah yang
banyak melontarkan kritik tajam terhadap bid’ah, tahayul dan khurafat dan mengajak para
pembacanya untuk menggunakan akal dan surau-surau untuk mempelajari pengetahuan umum dan
mengecam surau yang mengajarkan fiqih saja. Lihat Mahmud Yunus, Sejarah Op. Cit,h. 141-142.
20

Dengan cara ini murid di arahkan menjadi lebih aktif

sehingga di harapkan murid-murid selama lima atau enam

tahun belajar disini akan mampu menggantikan gurunya,

hal ini yang membedakan dengan sistem pesantren-

pesantren di Jawa, Mahmud Yunus tidak mengambil jarak

dengan murid-muridnya.

Pengalaman mengajar di Madras School inilah yang

memungkinkan dan mendorong Mahmud Yunus untuk aktif

dan berkenalan dengan perkembangan pendidikan Islam di

Minangkabau yang pada tahap berikutnya melalui Madras

School dan HM. Thaib Umar Mahmud Yunus bukan hanya

merupakan produk Islam Sungayang Batusangkar tetapi

lebih jauh beliau telah menjadi bagian dari perkembangan

pendidikan Islam di Minangkabau secara keseluruhan.

Ketika Mahmud Yunus di Madras School Sungayang

Batusangkar (1917-1923) di Minangkabau sedang tumbuh

gerakan pembaharuan Islam yang di gerakan para alumni

Timur Tengah diantaranya melalui pendirian lembaga-

lembaga pendidikan Islam yang berorentasi pada

pembaharuan dan model pendidikan modern khususnya

dari Timur Tengah. Secara politis pembaharuan ini di ilhami

oleh persentuhan mereka pelajar-pelajar Indonesia dengan


21

gerakan pembaharuan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh

Islam di Timur Tengah.

Ketika berada di Timur Tengah para pelajar Indonesia

ini bertemu dengan kaum Muslim dari berbagai penjuru

dunia yang sama-sama mengalami penjajahan mereka

menyadari bahwa saat ini mereka (kaum Muslim) lemah

dan berada di bawah cengkraman penjajah Barat yang

kafir mereka mempunyai keinginan untuk memajukan

bangsanya dan melepaskan diri dari imperialisme Barat

yang membelenggu dan menyengsarakan rakyat, secara

intelektual mereka berkenalan dengan pemikiran-

pemikiran Ibnu Taymiyyah (1263-1328) Muhammad

Ibn’Abd alahab (1703-1787) ataupun pembaharu Islam

terkenal Muhammad Abduh (1849-1905).

Tokoh-tokoh Islam di Minangkabau yang aktif

melakukan pembaharuan di bidang keagamaan dan

pendidikan Islam ini diantaranya Syekh Taher Djalaluddin,

Abdullah Ahmad, Abdul karim Amrullah, Syekh Ibrahim

Musa, Zainuddin Labai Al Yanusi serta tokoh-tokoh lainnya.

Yang terpenting untuk diketehui dalam iklim pembaharuan

pendidikan Islam itulah Mahmud Yunus tumbuh dan

berkembang di Minangkabau di hormati oleh


22

masyarakatnya terlebih ketika sepulangnya dari

pendidikan di Mesir.

Setelah melalui waktu yang cukup lama di sertai

semangat dan keinginan yang kuat, pada tahun 1924

barulah Mahmud Yunus berhasil mengenyam pendidikan di

Al Azhar Mesir, sistem pembelajaran Al Azhar menurut

sistem lama di mulai dari Ibtidaiyah 4 tahun, Tsanawiyah 4

tahun dan tingkat ‘Aliah bernama Syahadah Alimiyah harus

di tempuh selama 12 tahun.

Pelajar-pelajar luar negeri boleh langsung mengikuti

ujian Syahadah Alimiyah bila sanggup memasukinya tanpa

harus menunggu 12 tahun persyaratanya mereka harus

menguasai sebanyak 12 mata pelajaran yaitu ilmu nahwu,

ilmu sharaf, ilmu fiqh, tafsir, hadits, tauhid, musthlahal

hadits, ilmu mantiq, ma’ani, bayan, ilmu badi’ dan ilmu

ushul fiqh. Sistem kedua adalah sistem baru yang terdiri

tiga tingkat hanya mata pelajaranya selain ilmu-ilmu

agama dan bahasa arab di tambah juga dengan

pengetahuan umum.

Setelah Mahmud Yunus mengetahui untuk

mendapatkan Syahadah ‘Alimiyah hanya melewati 12 ilmu

saja yang di ujikan, Mahmud Yunus berfikir bahwa Ia

sanggup menguasainya karena ke-12 ilmu tersebut sudah


23

di pelajarinya bahkan telah pula mengajarkanya dalam

beberapa tahun lamanya (1915-1923). Kelemahan

Mahmud Yunus hanya dalam komunikasi dalam bahasa

Arab tetapi dengan keyakinan dan semangat tinggi setelah

Ia mampu berkomunikasi dalam bahasa Arab Ia langsung

mendaftarkan diri untuk mengikuti ujian, Ia hanya di beri

waktu 12 hari untuk mempersiapkan segalanya untuk

menempuh ujian.

Sesudah melewati ujian yang dari setiap pertanyaan

di jawab dengan cukup membuat pengujinya kagum

dengan selalu mengatakan mubruk (bagus) Mahmud Yunus

akhirnya dinyatakan lulus dengan cukup memuaskan ini

berarti Ia adalah orang kedua dari Indonesia,25 yang

mendapat Syahadah ‘Alamiyah dari Al Azhar yang di

tempuhnya hanya setahun di lembaga pendidikan Islam

tertua ini.

Setelah berhasil mendapatkan Syahadah ‘Alamiyah

Mahmud Yunus kemudian melanjutkan ke Dar al-Ulum

(1925-1929) sebuah lembaga pendidikan yang berada di

kota yang sama yang dalam orentasi pembelajaran lebih

menekankan pada pengetahuan umum. Mata pelajaran

yang diajarkan di Dar al-Ulum di samping kelompok ilmu-


25
Sebelumnya orang pertama yang mendapat Syahadah ‘Alamiyah dari Al Azhar adalah
Janam Thoib (1924) seorang mahasiswa Indonesia yang pernah menjadi pimpinan redaksi Seruan
Azhar.
24

ilmu agama seperti tafsir, hadits, ushul fiqh, mantiq, dan

kelompok bahasa muthola’ah, mahfuzot, insya,

kesusastraan dan sejarahnya, quwaid (nahwu sharaf) dan

balaghah.

Akan tetapi pengetahuan umum yang di pelajari di

Dar al-Ulum ialah ilmu hayat, ilmu kesehatan, sejarah

politik (politik Islam dan dunia), ilmu-ilmu politik, ilmu bumi

(alam), ilmu falak, berhitung, al-jabar, ilmu ukur, ekonomi,

ilmu alam(fisika), ilmu kimia, psikologi, praktek mengajar,

khat, menggambar, bahasa asing (bahasa inggris), dan

gerak badab (olah raga).

Ketika menjadi mahasiswa Dar al-Ulum Mahmud

Yunus adalah satu-satunya mahasiswa asing dan pertama

dari Indonesia yang sekolah disana karena keseluruhan

mahasiswanya adalah kebangsaan Mesir dan ketika

Mahmud Yunus masih menjadi mahasiwa Dar al-Ulum

inilah Mahmud Yunus mengarang buku pelajaran bahasa

Arab untuk pelajar Indonesia yaitu Darus Al- Lughah Al

‘Arabiyah yang menggunakan metode Direct Method (Al

Thoriqoh Al Mubasyaroh) yang kemudian buku ini menjadi

buku wajib di Normal Islam sekolah guru yang di pimpinya

sepulangnya dari Mesir.


25

Setelah menyelesaikan kuliahnya kurang lebih 4

tahun (1925-1929) pada tahun 1929 Mahmud Yunus

menjadi alumni Dar Al Ulum pertama dari Indonesia dan

memperoleh Ijazah Diploma guru dengan spesialisasi

bidang Ilmu kependidikan hingga Ia kembali ke Indonesia.

Pada tahun 1931 sepulangnya dari Mesir Mahmud

Yunus mendirikan dua lembaga pendidikan Islam yaitu

Jami’ah Al Islamiyah di sungayang dan Normal Islam

(Kuliyah Mu’alimin Islamiyah) di padang. AL Jami’ah Al

Islamiyah adalah Madras School yang didirikan HM. Thaib

Umar yang di ambil alih dan di kembangkan oleh Mahmud

Yunusmeski kemudian kerena kekurangan guru pada tahun

1933 di integrasikan ke Normal Islam. Di kedua lembaga

pendidikan Islam inilah Mahmud Yunus menerapkan

pengetahuan dan pengalaman dari Dar Al Ulum Cairo.

Disamping mengajar di beberapa lembaga pendidikan

yang beliau dirikan sendiri Mahmud Yunus juga aktif dalam

gerakan pembaharuan pendidikan Islam di Indonesia

bersama kawan-kawannya melanjutkan jejak pembaharu

Islam sebelumnya.

Secara singkat dari gambaran periodesasi pendidikan

Mahmud Yunus diatas sebagai berikut :

1. 1908 : SD di Batusangkar
26

2. 1910 – 1916 : Madrasah / Pesantren di

Batusangkar

3. 1924 – 1925 : Al Azhar University Alimiyah,

Kairo, Mesir.

4. 1926 – 1930 : Darul Ulum ‘Ulya Diploma Guru,

Kairo, Mesir.

b. Karya-karya Mahmud Yunus

Yang tak kalah menariknya dari sosok Mahmud

Yunus meski di percaya dan memangku jabatan-jabatan

penting di banyak tempat beliau sangat produktif dengan

banyak menulis di beberapa surat kabar atau majalah

termasuk dalam bentuk buku, tak kurang 43 buku di

tulisnya dalam berbagai bidang kajian,26 mulai dari

membaca Al-Qur’an, tafsif Qur’an 30 juz, pelajaran Sholat

dan Haji, Bahasa Arab, tentang pendidikan Islam sejak

zaman Rosululloh sampai di Indonesia, di samping bidang-

bidang lain seperti bahasa, sejarah, tauhid, akhlaq, hukum,

dan peribadatan, tafsir, hadits, perbandingan agamadan

lainya baik yang di tulis dalam bahasa Indonesia maupun

dalam bahasa Arab.

26
Didin Syafrudin, Op. Cit,h.320-325
27

Dari karya-karya tersebut yang menyangkut

pengantar agama islam (17 buku) pelajaran Al-Qur’an (12

buku) pendidikan dan pengajaran (9 buku) dan bahasa

Arab (5 buku) dan di bawah ini beberapa karya tulis-nya di

atas dapat penulis gambarkan sebagai berikut :

1. Riwayat Hidup Prof. Dr. H. Mahmud Yunus, tahun 1982

Buku ini merupakan Autobiografi Mahmud Yunus sendiri

yang menceritakan riwayat hidup, keluarga, sosial,

pendidikan dan pengalaman karirnya dalam empat

masa yaitu masa penjajahan kolonial Belanda dan

Jepang serta masa orde lama Suekarno dan orde baru

Sueharto baik di dunia pendidikan maupun dunia sosial

keagamaan lainya.

2. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, pada tahun 1979,

cetakan kedua, buku ini secara luas menggambarkan

tentang sejarah pertumbuhan dan perkembangan

pendidikan Islam di beberapa daerah di Indonesia

termasuk pertumbuhan dan perkembangan lembaga-

lembaga pendidikan Islam mulai dari surau / langgar,

pesantren, madrasah, maupun sekolah-sekolah Islam

lainya di samping itu menceritakan tokoh dan organisasi

Islam yang tumbuh dan berkembang di akhir abad 19

dan awal abad 20.


28

3. Sejarah Pendidikan Islam, pada tahun 1992, cetakan

ketujuh, buku ini secara khusus menjelaskan sejarah

pendidikan Islam pada masa Nabi SAW, Khulafaur

Rosyidin, Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah sampai

zaman mamluks dan Usmaniyah Turki. Selain itu juga

menjelaskan lembaga-lembaga pendidikan Islam

pertama dengan sistem halaqohnya, madrasah serta

lembaga pendidikan Islam modern seperti Al Azhar Kairo

dan sebagainya yang di lengkapi dengan tokokh-tokoh

intelektual muslim (ulama’) ternama pada saat itu.

4. Metodik Khusus Pendidikan Agama, tahun 1983,

cetakan ketiga, secara garis besar buku ini hanya

sebuah panduan bagi guru atau calon guru yang akan

mangajarkan pendidikan agama di sekolah-sekolah

dengan pendekatan dan metode yang digunakan dalam

menyampaikan materi-materi ke Islaman.

5. Pengambangan Pendidikan Islam di Indonesia, tahun

1977

Buku ini manggambarkan secara singkat fase

perkembangan pendidikan islam di Indonesia mulai fase

pertumbuhan pendidikan Islam tradisional, fase lahirnya

madrasah-madrasah dan terakhir fase modernisasi


29

lembaga-lembaga pendidikan Islam (madrasah) di

Indonesia.

6. Metodik Khusus Bahasa Arab (bahasa Al-Qur’an) tahun

1979, cetakan kedua, uraian buku ini di bagi dalam dua

bagian pertama menjelaskan cara pengajaran Al-Qur’an

dengan metode yang di gunakannya kedua

menerangkan pengajaran dasar-dasar bahasa Arab dan

metode penyampaiannya.

7. Tarbiyah Wat Ta’lim (pokok-pokok Pendidikan dan

Pengajaran), tahun 1978, cetakan kesebelas, buku ini

secara mendetail menerangkan pokok-pokok atau

dasar-dasar pendidikan dan pengajaran bagi calon atau

para guru, dalamnya juga menerangkan berbagai

kecakapan dan keahlian yang harus dimiliki oleh

seorang guru sebelum menjalankan profesinya selaku

pengajar.

8. Durus Al Lughoh, tahun 1992 buku ini terdiri dari tiga

juz yang secara garis besar berisi tentang pengenalan

dan pengajaran bahasa Arab yang di lengkapi dengan

contoh atau tamrinat sehingga memudahkan siswa

(santri) untuk memahaminya.

9. Sejarah Islam di Minangkabau (Sumatra Barat) 1971

cetakan kesembilan, lebih khusus buku ini membahas


30

tentang sejarah awal mula Islam datang ke

Minangkabau Sumatera Barat, perkembangan dan

gerakan pembaharuan islam, tokoh gerakan, organisasi

Islam serta lembaga-lembaga pendidikan islam lainya.

10. Tafsir Al-Qur’an Karim (Prof. Dr. H. Mahmud Yunus)

tahun1985, cetakan ketujuh puluh enam, penulisan

buku tafsir Qur’an ini terilhami ketika Mahmud Yunus

sekolah di Darul Ulum Mesir, ketika itu seorang gurunya

memberikan fatwa yang membolehkan bahkan

dianjurkan penulisan terjemahan Al-Qur’an berdasarkan

bahasa daerah setempat yang diperuntukan bagi

mereka yang tidak memahami bahasa arab sehingga

sepulangnya Mahmud Yunus dari Mesir (1935) beliau

menulis buku ini.

11. Kitab Pemimpin Pengajaran Agama di Sekolah Rakyat,

tahun 1955, buku ini sebagai pedoman dalam

mengajarkan agama di sekolah-sekolah rakyat di

seluruh Indonesia sebagai karya yang bertujuan

memudahkan masyarakat untuk mempelajari agama

Islam, pembahasan berkisar soal keimanan, akhlaq dan

ibadah seperti sholat, puasa dan hafalan Al-Qur’an,

pelajaran semacam ini merupakan pelajaran Islam

setandar yang berisi pengetahuan-pengetahuan


31

keagamaan yang dapat di temukan dan di pelajari di

berbagai surau, pesantren, madrasah atau sekolah.

12. Kamus Arab-Indonesia, tahun 1989 Buku kamus ini

diperuntukan bagi para pelajar (santri) yang ingin

mempelajari bahasa Arab tetapi tidak memahami ilmu

sharaf, selain berisi mufradat-mufradat Arab juga di

sertai penjelasan atau tafsir kata-kata sulit yang tidak di

ketahui qoidah dan wazan (timbangan)nya kecuali

didengar langsung dari penutur asli atau native speaker

(kata sama’i).

13. Serta karya-karya lain baik yang ditulis dalam bahasa

Indonesia maupun bahasa Arab seperti : Perbandingan

Pendidikan Modern di Negara Islam dan Intisari

Pendidikan Barat (1965), pengembangan Pendidikan

Islam di Indonesia (1982), Pemimpin Pelajaran Agama

untuk Sekolah (SLTP), Kesimpulan Isi Al-Qur’an, Kitab

Sholat (1921), Jalan Selamat (1922), Terjemah Al-Qur’an

Jilid I dan II (1922), Hikayat Nabi Muhammad (1922).