Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

Anemia adalah penurunan jumlah massa eritrosit sehingga tidak dapat memenuhi
fungsinya untuk membawa oksigen dalam jumlah yang cukup ke jaringan perifer.
Anemia ditunjukkan oleh penurunan kadar hemoglobin, hematokrit, atau jumlah
eritrosit. Kadar hemoglobin dan eritrosit sangat bervariasi tergantung pada usia,
jenis kelamin, ketinggian tempat tinggal serta keadaan fisiologis tertentu seperti
kehamilan. Anemia tidak dapat dikatakan sebagai penyakit tersendiri karena
anemia merupakan suatu kumpulan gejala yang disebabkan oleh berbagai
penyebab. Pada dasarnya anemia disebabkan oleh gangguan pembentukan
eritrosit oleh sumsum tulang, perdarahan, penghancuran eritrosit dalam tubuh
sebelum waktunya (hemolisis).1,2

Anemia defisiensi besi merupakan penyebab anemia yang paling sering
pada anak-anak terutama di negara berkembang. Prevalensi anemia defisiensi besi
di dunia pada bayi diperkirakan sekitar 20%-25% dan berdasarkan data survei
Kesehatan Rumah Tangga di Indonesia tahun 1995 menunjukkan bahwa sekitar
40,5% balita mengalami anemia defisiensi besi. Berdasarkan penelitian yang
dilakukan pada bayi berumur 0-6 bulan di RSUD Banjar baru menunjukkan
bahwa dari 104 bayi lahir sekitar 41 bayi (39,4%) mengalami anemia dan 97,6%
diantaranya merupakan anemia defisiensi besi.3

Anemia defisiensi besi adalah anemia yang timbul akibat berkurangnya
penyediaan besi untuk eritropoesis, karena cadangan besi kosong yang pada
,
akhirnya mengakibatkan pembentukan hemoglobin berkurang. Banyak faktor
yang menyebabkan anemia defisiensi besi diantaranya adalah asupan yang kurang
seperti pada bayi dengan nutrisi yang kurang, kebutuhan besi yang meningkat
misalnya pada pertumbuhan, bayi prematur, bayi dengan berat badan lahir
rendah, ataupun anemia neonatal, gangguan penyerapan, atau perdarahan.1,2,3

ADB menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan karena oksigen yang
dihantarkan ke jaringan berkurang. Disamping itu, defisiensi besi meskipun tanpa

2 2 . Mengingat prevalensinya yang tinggi serta dampak negatifnya terhadap kesehatan. menurunkan produktivitas kerja. menurunkan tingkat kecerdasan bayi. maka pencegahan ADB menjadi sangat penting kalau kita ingin meningkatkan kualitas sumber daya manusia.anemia dapat menimbulkan dampak negatif karena besi merupakan trace elemen vital yang sangat dibutuhkan oleh berbagai macam enzim dan diperlukan dalam sistem kekebalan tubuh. dan meningkatkan kematian ibu yang sedang melahirkan.2 Defisiensi besi telah terbukti menurunkan kesegaran jasmani. meningkatkan timbulnya infeksi.

dibutuhkan sekitar 0. Pada 15 tahun pertama. Hal ini saling berkaitan antara asupan.4.3.5 gram. dan kadar hemoglobin) berkurang dan sediaan hapusan darah menunjukkan eritrosit yang kecil (mikrositik) dan pucat (hipokromik). Bayi yang mendapatkan ASI. Pada anak-anak dibutuhkan sekitar 1 mg besi diabsorbsi tiap harinya untuk pertumbuhannya.1 Definisi Anemia Defisiensi Besi Anemia defisiensi besi (ADB) adalah anemia yang timbul akibat kosongnya cadangan besi tubuh (depleted iron store) sehingga penyediaan besi untuk eritropoesis berkurang. MCH.3. sedangkan pada usia dewasa dibutuhkan sekitar 5 gram.5 2.4 Asupan besi kemungkinan kurang apabila bayi hanya minum susu sapi ataupun pemberian susu formula yang tidak mengandung besi.5. hemoglobin eritrosit rata-rata. kebutuhan dan pengeluaran makanan yang mengandung zat besi. tidak diberikan makanan tambahan.8 mg besi diabsorbsi tiap harinya.6. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. sehingga dibutuhkan tambahan asupan besi dari sumber makanan lain yang lebih sedikit dari pada bayi yang tidak mendapatkan ASI.7 Pada bayi lahir dengan berat lahir rendah (<2500 gram) 3 . besi diabsorbsi 2-3 kali lebih efisien dibandingkan dengan susu sapi. Pemberian makanan tambahan yang kaya besi sangat terbatas pada anak usia satu tahun. Bila hal ini terjadi dapat disebabkan oleh defek sintesis hemoglobin. yang pada akhirnya menyebabkan pembentukan hemoglobin berkurang.4 Defisiensi besi menyebabkan MCV. Asupan yang kurang biasanya terjadi pada bayi yang hanya minum susu.2 Etiologi Anemia dapat disebabkan oleh berbagai macam faktor. MCHC (volume eritrosit rata-rata.3. Tubuh seorang anak yang baru lahir memiliki kandungan besi sekitar 0. Pada masa pertumbuhan terutama pada usia 3-24 bulan kebutuhan besi sangat tinggi juga pada usia remaja kebutuhan besi meningkat karena berhubungan dengan kecepatan pertumbuhan.

Selanjutnya transferin digunakan untuk sintesis hemoglobin. Anak umur lebih dari 5 tahun anemia defisiensi besi sering kali disebabkan akibat ankilostomiasis karena kebersihan personal dan lingkungan yang kurang bersih. mioglobin 5-10 %. cenderung mempunyai kadar hemoglobin yang lebih rendah dibandingkan dengan baik yang lahir dengan berat >2500 gram.7 Gangguan absorbsi juga dapat menyebabkan defisiensi besi. Besi dalam makanan terikat pada molekul lain yang lebih besar. Ion fero diabsorpsi jauh lebih mudah daripada ion feri. Sintesis besi yang kurang (transferin rendah) juga menyebabkan defisiensi besi. Pengangkutan besi dari rongga usus hingga menjadi transferin. ataupun nutrisi yang kurang. Ion fero inilah yang akan diabsorpsi saluran mukosa usus. 2.3 Patofisiologi Jumlah besi pada anak kira-kira 400 mg yang terbagi sebagai berikut : massa eritrosit 60%. besi plasma 0. terutama bila makanan mengandung vitamin atau 4 . Faktor- faktor yang mempengaruhi dalam penyerapan adalah jumlah besi dalam diet.3.1 %. Di dalam usus halus. yaitu suatu ikatan besi dan protein di dalam darah terjadi dalam beberapa tingkat. misalnya proporsi besi yang diserap akan lebih sedikit seiring dengan meningkatnya asupan makanan kaya besi. feritin dan hemosiderin 30%.7 Anak umur 1-5 tahun anemia defisiensi besi sering disebabkan karena infeksi berulang. Sebagian akan disimpan sebagai persenyawaan feritin dan sebagian masuk ke peredaran darah berikatan dengan protein yang disebut transferin. KEP). reseksi usus. Bayi yang lahir berat >2500 gram dari ibu yang anemia mempunyai kadar hemoglobin yang lebih rendah dibandingkan dengan anak yang lahir 2500 gram dari ibu yang tidak anemia. ion feri diubah menjadi ion fero oleh pengaruh alkali. Pada penelitian sebelumnya mengenai bayi prematur didapatkan bahwa bayi yang lahir dengan rata-rata berat badan 1650 gram dan tidak mendapat suplementasi besi sejak lahir memiliki kadar feritin serum yang lebih rendah pada usia 2 bulan dibandingkan dengan bayi yang mendapat suplemen besi. Di dalam lambung besi akan dibebaskan menjadi ion feri oleh pengaruh asam lambung (HCL). Bentuk besi dalam makanan juga mempengaruhi absorbsi yang kurang (diare kronis.

Jadi. iritabel. Tidak ada pembesaran hati atau limpa dan hepar dan tidak terdapat diathesis hemoragik. (4) disfagia. yaitu kuku sendok. sedangkan fosfat. dan dasar kuku. (2) atrofi papil lidah. daya ingat.2. penyediaan besi untuk eritropoisis berkurang. telapak tangan. Pada anak yang mengalami ankilostomiasis akan memperlihatkan perut buncit (pot belly) dan dapat terjadi edema. dan konsentrasi akibat aktifitas enzim aldehide-oksidase di dalam otak 5 . Gejala yang tampak pada anak dengan anemia defisiensi besi adalah anak tampak sangat lemas. (3) stomatitis angularis. mudah tersinggung serta menurunnya kemampuan memperhatikan sesuau.6 2. sehingga menimbulkan gangguan pada bentuk eritrosis. Tampak pucat pada mukosa bibir dan faring. Adaya perubahan mental dan perilaku anak menjadi apatis. Papil lidah tampak atrofi. yaitu nyeri menelan karena kerusakan epitel hipofaring. sakit kepala. konjungtiva mata tampak kebiruan atau utih mutiara (pearly white). sering berdebar. Apabila jumlah besi menurun terus maka eritropoesis semakin terganggu sehingga kadar hemoglobin mulai menurun. bergaris-garis vertikal dan menjadi cekung. sehingga timbul anemia defisiensi besi. yaitu peradangan pada sudut mulut.2. dalam tubuh yang normal kebutuhan besi sedikit.5 Besi yang dilepas pada pemecahan hemoglobin dari eritrosit yang sudah mati akan masuk kembali ke iron pool dan akan digunakan kembali untuk sintesa protein.4 Cadangan besi menurun ditandai oleh penurunan kadar feritin serum.5. saturasi transferin menurun. peningkatan kadar free prothrombin.4 Manifestasi Klinis Gejala khas anemia defisiensi besi antara lain (1) koilonychia. oksalat. dan total iron binding capacity meningkat. dan sebagainya. Pada anemia berat dan berlangsung lama dapat menyebabkan payah jantung. (5) atrofi mukosa gaster. Jika kekurangan besi terus berlanjut. fitat menghambat absorpsi besi. kuku menjadi rapuh. yaitu permukaan lidah menjadi licin dan mengkilap karena papil lidah menghilang. Pada MEP yang berat baru ditemukan hepatomegali diatesis hemorhagik. pucat. lekas lelah. fruktosa yang alan membentuk suatu komplek besi larut.

saturasi transferin rendah. pemeriksaan fisik disertai pemeriksaan laboratoriun yang tepat Terdapat tiga tahap diagnosis anemia defisiensi besi. Ada beberapa kriteria diagnosis yang dipakai untuk menegakkan diagnosis Anemia defisiensi besi (ADB). MCHC<30%). 6 .5 Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan darah ditemukan anemia hipokromik mikrositer dengar penurunan kadar hemoglobin mulai ringan sampai berat. Tahap kedua adalah memastikan adanya defisiensi besi. Konsentrasi Hb eritrosit rata-rata < 31 % (Normal: 32-35%). Jumlah retikulosit yang menurun. TIBC meningkat. 2.Tahap ketiga adalah menentukan penyebab dari defisiensi besi.6 Diagnosis Untuk menegakkan diagnosis anemia defisiensi besi harus dilakukan anamnesa. 2. pucat dan terdapat kelainan bentuk dan ditemukan sel target. • Kriteria Diagnosis ADB menurut WHO: 1. Terkadang anak dengan ADB memiliki nafsu makan yang aneh seperti memakan tanah. dengan pengecatan khusus timbangan Fe berkurang. Kadar Hb kurang dari normal sesuai usia. Tahap pertama menentukan adanya anemia dengan mengukur kadar hemoglobin dan hematokrit. Pemeriksaan radiologi tulang akan menunjukkan pelebaran diploe dan penipisan tubula eksterna sehingga mirip dengan perubahan tulang tengkorak dari thalasemia. SI menurun. peningkatan serum feritin rendah. Eritrosit yang terlihat kecil. MCV dan MCHC menurun (MCV<80fL. Kadar Fe serum < 50 ug/dl (Normal: 80-180 ug/dl). 4. Anemia Hipokromik Mikrositer. 2. Saturasi Transferin < 16%. yang berkurang. yaitu sebagi berikut. Saturasi Transferin < 15% (Normal • Kriteria Diagnosis ADB menurut Cook dan Monsen: 1. 3. 2. Pada pemeriksaan sumsum tulang didapatkan peningkatan aktifitas eritropoietik dengan sel normoblast polikromatofil.

5. Ditemukan serum besi menurun.7 Diagnosis Banding 1. Tertundanya maturasi sitoplasma. Pemeriksaan apusan darah tepi menghasilkan anemia hipokromik mikrositer yang dikonfirmasi dengan kadar MCV ( < 80 fl). Untuk kepentingan diagnosis. MCH (< 27 pg) dan MCHC (< 27) yang menurun. FEP meningkat. minimal 2 dari 3 kriteria (ST. 4. TIBC meningkat. Kadar hemoglobin meningkat rata-rata 0.25 -0. Kadar feritin serum < 12 ug/dl. Nilai FEP > 100 ug/dl eritrosit. b. Sumsum tulang: a. Pada pewarnaan sumsum tulang tidak ditemukan besi atau besi berkurang. 2. RDW > 17 %. Retikulosis mencapai puncak pada hari ke 5-10 setelah pemberian besi. Fe serum menurun. Anemia yang terjadi bersifat ringan dengan MCV atau MCH yang normal atau sedikit menurun. Respon terhadap pemberian besi: a. Cara lain untuk menentukan adanya ADB adalah dengan trial pemberian preparat besi. 6. TIBC yang 7 . 3. Bila dengan pemberian preparat besi dosis 6 mg/kg/BB/hari selama 3-4 minggu terjadi peningkatan kadar Hb 1-2 g/dl maka dapat dipastikan bahwa terjadi ADB. ST < 16%.4 g/dl hari atau PCV meningkat 1%/hari. 7. Feritin serum menurun. 2. Penentuan ini penting untuk mengetahui adanya ADB subklinis dengan melihat respons Hb terhadap pemberian preparat besi. b. Feritin serum dan FEP harus dipenuhi). 3. 4. Anemia akibat penyakit lain. • Kriteria diagnosis ADB menurut Lanzkowsky: 1.

dan suksinat. Kadar besi seruma didapatkan normal. saturasi transferin menurun. Pemberian preparat besi peroral yang tersedia yaitu berupa ferous glukonat. Pada pemeriksaan sumsum tulang ditemukan positif dengan ring sideroblast. diantara dua waktu makan namun dapat memberikan efek samping pada saluran cerna sehingga pemberiannya bisa dilakukan pada saat makan atau segera setelah makan walaupun absorpsinya berkurang. Pada pemeriksaan sumsum tulang didapatkan hasil yang positif dan kadar feritin serum yang normal. Pemberian oral memiliki kelebihan lebih aman. Ferous sulfat merupakan preparat yang sering dipakai karena harganya yang lebih murah. 2. dengan TIBC normal atau menurun. Dosis obat yang terlalu besar akan menimbulkan efek samping pada saluran pencernaan namun tidak memberikan efek penyembuhan yang lebih cepat. Absorpsi besi yang terbaik adalah pada saat lambung kosong. Thalassemia Berbeda dengan anemia defisiensi besi terjadi peningkatan jumlah sel darah merah feritin yang normal atau sedikit meningkat dan kemampuan pengikatan yang normal. fumarat. tetapi sama efektifnya dengan pemberian parenteral. Feritin seruma didapatkan hasil meningkat. Preparat besi ini harus terus diberikan selama 2 bulan setelah anemia teratasi.8 Penatalaksanaan Prinsip penatalaksanaan pada kasus ADB adalah mengetahui penyebab dan mengatasinya serta memberikan terapi penggantian dengan preparat besi. Preparat besi ini bisa diberikan melalui oral ataupun parenteral. murah. menurun. 2. Saturasi transferin yang meningkat. Dosis sehari biasanya dibagi menjadi 2-3 dosis pemberian. 3. Respon pengobatan biasanya didapatkan dengan pemberian dosis besi 4-6 mg/kgBB/hari. Berikut tabel respon terhadap pemberian preparat besi secara oral : 8 . Anemia Sideroblastik Anemia yang terjadi bersifat ringan sampai berat dengan MCV dan MCH normal atau menurun. Respon treapi pemberian preparat besi ini bisa dilihat dari perbaikan klinis dan hasil pemeriksaan laboratorium.

9 Pencegahan Karena tingginya prevalensi anemia defisiensi besi di masyarakat maka diperlukan suatu tindakan pencegahan yang terpadu. Preparat yang sering dipakai adalah dekstran besi yang mengandung besi 50mg/ml. namun tidak memberikan efek penaikan kadar besi yang lebih baik dari pada pemberian oral. Waktu setelah Respons pemberian besi 12-24 jam Penggantian besi intraselular. Pemberian tranfusi darah jarang diperlukan kecuali pada kasus anemia yang berat (Hb<5g/dL). misalnya tentang pemakaian jamban. pemberian dilakukan perlahan-lahan dalam jumlah yang cukup untuk menaikan kadar Hb sampai tingkat aman sambil menunggu respon terapi preparat besi. Umumnya anemia berat dengan Hb<4g/dL diberikan dosis PRC 2-3 ml/kgBB per sekali pemberian dan disertai dengan pemberian diuretik. limfadenopati regional. Kekurangan dari pemberian ini yaitu dapat menimbulkan rasa sakit pada saat diberikan. Tindakan pencegahan dapat berupa : • Pendidikan kesehatan : . reaksi alergi. keluhan subjektif berkurang.Kesehatan lingkungan. 9 . pemakaian alas kaki sehingga dapat tercegah dari infeksi cacing tambang. Pemberian PRC pada kasus anemia yang berat tidak dilakukan dengan secepatnya karena akan mengakibatkan hipervolemia dan dilatasi jantung. nafsu makan bertambah 36-48 jam Respon awal dari sumsum tulang yaitu hiperplasia eritroid 48-72 jam Retikulosis (puncaknya hari ke 5-7) 4-30 hari Kadar Hb meningkat 1-3 bulan Penambahan cadangan besi Pemberian pereparat besi secara parenteral biasanya dilakukan melalui intramuskuklar. 2.

• Suplemental besi yaitu dengan pemberian besi profilaksis pada penduduk yang berisiko seperti ibu hamil dan balita. . yaitu mencampurkan besi pada bahan makan. • Fortifikasi bahan makanan dengan besi. 10 .Penyuluhan gizi untuk mendorong konsumsi makanan yang membantu mengabsorbsi besi • Pemberantasan infeksi cacing tambangdengan cara pengobatan missal dengan antihelmintik dan perbaikan sanitasi.