Anda di halaman 1dari 2

Mataram, 1 Desember 2010

”Metafora Akademisi”
By. Aryo Dwiatmojo Raksa Buana

Wahai Para Kaum Intelektual ( Komunitas Langit) yang diutus untuk


menuntut ilmu setinggi-tingginya, yang diutus juga untuk menggali
pengetahuan baru guna memperkaya khazanah pendidikan, tujuan kalian
tidak lain dan tidak bukan adalah agar kalian mampu berbahasa manusia
pada mahluk dibumi, bukan berbahasa Dewa ataupun berbahasa Malikat
pada kaum hinadina dalam komunitas jelata yang awam.
Banyak Cendikiawan dan para kaum Intelektual yang berbusana
santun, dibahunya terdapat lencana emas, dan di kepalanya ada Mahkota
intan berlian, yang dihadiahkan oleh para Pejabat Langit sebagai
penghormatan atas jerihpayah mereka dalam menimba ilmu.. Faktanya
kudapati ketika salah seorang penduduk Bumi coba memasuki Istana
penduduk langit, kulihat mereka ditolak dengan perlakuan yang benar-benar
menyedihkan, mereka dipaksakan harus berbusana selayaknya penduduk
langit. Para Penduduk langit lupa akan filosofi yang ada dalam atribut slogan
mahkota itu sendiri.
Busana lusuh mereka, wajah pucat tanpa ilmu, dan rayuan bodoh
mereka, ditolak dengan santainya. Dikatakan oleh penduduk langit bahwa
mahluk bumi itu tidak pantas untuk didik bahkan diberi setetes ilmu, karena
mereka lupa menggunakan asesoris etika, dan perlengkapan logistik yang
memenuhi standar kelayakan untuk memasuki istana para Pejabat langit. Ku
rasa Presiden ataupun Raja para Pejabat langitpun tidak pernah berharap
Penduduk langit salah dalam memaknai atribut slogan mahkota itu.
( Mahkota itu pengejewantahan rasa santun, Keajegan, dan keharmonisan
antara Wongcilik dan Rajanya) bukan sebuah pengkultusan atas Hak
prerogatif dalam penjustifikasian Hitam dan putihnya seorang wongcilik.
Wahai para Mahaguru yang ku sebut juga sebagai Caleg ( Calon
Legislatif Akademisi ), yang dengan Mahkota intan permata kalian, dan
seperangkat assesoris yang melekat dibahu kalian sebagai bintang jasa atau
kusebut juga ” Bintang Griliya Komunitas Akademisi”, yang dengan susah
payahnya kalian cari, yang tidak jarang membuat perasaan kalian dongkol
dan Geram, Bahkan juga terkadang hampir nyaris membuat kalian gagal
dalam pencapian itu. Tapiiii......!!! Aku kecewa saat Ku pijakan kakiku ke
dunia, aku sedih...!!! Ada perlakuan yang sungguh berbeda ku dapati, kulihat
adik-adiku mengeluh, menangis bahkan putus asa karena perlakuan para
Penduduk langit, Mereka tidak mendapatkan Perlakuan yang sama seperti
ketika aku memijakan kakiku di Langit, suatu diskriminasi yang transparan.
Kental dengan nuansa Feodalisme pendidikan dalam ranah etika. Dan
parahnya lagi Banyak dari penduduk langit tak menyadari Hal itu. Mungkin
mereka tidak pernah mendengar doa penduduk bumi yang teraniaya oleh
mereka. ”Sesekali Cobalah mendengar”
Ingin Ku bertanya, ” Apa bedanya mereka dengan para mahluk langit ?
”, Yang membuat mereka berbeda hanya perangkat assesoris dan atribut
parameter yg tidak substantif. Kharisma Kalian (penduduk langit) tidak akan
hilang Karena Mahkota Kalian tersentuh oleh tangan bodoh mereka,
Pandanglah mereka, lihat mereka, Kalian itu Orang tua mereka, yang perlu
mengasuh mereka dengan Kebijaksanaan, selayaknya Ibu dan bapak kepada
anaknya. Aku khawatir disuatu kulminasi kalian lupa akan filosofi Pendidik
bahwa kalian adalah Pesan Moral bagi Mereka, Kalianlah bapak Ibu mereka,
Kalianlah tempat mereka berkeluh kesah, Hapuskan restriksi formalitas itu,
Mereka penduduk Bumi ingin kalian menjadi Pemimpin yang disegani karena
Kharisma kalian, bukan karena Kekuasan yang kalian miliki. Mudah-mudahan
kenyataan ini hanya sebagian dari prilaku oknum. Karena ku Yakin banyak
juga diantara mereka ( Penduduk langit) yang dicintai Penduduk Bumi,
adalah mereka yang sukses dalam karirnya sebagai Ketua DPR di langit.