Anda di halaman 1dari 9

Nama Anggota Kelompok

:
1. Harya Pratama, 0905050
2. Indhira S. Meliala, 0905050184
Mata Kuliah : Eksklusi Sosial

REVIEW
Explanations of Social Exclusion: Where Does Housing Fit In?
(Peter Somerville. Housing Studies. November 1998. UK: University of
Standford.)

I. Pendahuluan
Dalam review ini akan diulas mengenai eksklusi social terkait dengan masalah
housing, sesuai dengan judul artikelnya sendiri Explanations of Social Exclusion: Where
Does Housing Fit In? Sebelum ulasan berikut ini lebih mendalam membahas mengenai
eksklusi social dan housing, akan dipaparkan terlebih dahulu abstraksi mengenai eksklusi
social secara tersendiri.
Dari bahan bacaan, kita bisa mendapatkan informasi bahwa sudut pandang dari
penulisnya dalam melihat konsep eksklusi social telah terstruktur secara social dari tiga
kombinasi proses ekonomi, social dan politik dalam suatu masyarakat. Makna inti dari
eksklusi social yang dikemukakan di sini adalah suatu keterkaitan antara isolasi social
dan segregasi social dan argument yang dikemukakan dalam bahan bacaan pun berusaha
untuk menyuarakan bahwa analisis terhadap mobilitas social (atau di sini disebut
ketiadaan, lack) merupakan suatu hal yang sangat penting untuk dipahami guna
merumuskan isi dan extent dari konsep eksklusi social. Untuk itulah kemudian menjadi
penting juga di sini untuk mengetahui ataupun merefresh kembali pemahaman terhadap
makna, pendekatan-pendekatan, dan teori-teori dari ekslusi social.
Pemahaman pertama yang mendasar adalah definisi eksklusi social. Pada umumnya
terdapat dua definisi dari eksklusi social, yaitu 1) makna yang terkait dengan ekslusi
pasar pekerja dari negara-negara kapitalis (negara-negara maju), 2) makna yang terkait
dengan penolakan status social seorang anggota dari kelompok sosialnya sendiri. Namun,
kemudian Peter Somerville pun menggunakan sudut pandang bahwa eksklusi social

jalan keluar yang menyatakan harus adanya peningkatan kekayan secara material untuk semua orang justru akan memperbesar urang pemisah antara si kaya dan si miskin.adalah sesuatu yang terkonstruksi. social dan politik. Dari pengklsifikasian ke dalam tiga kelas ini. yaitu pendekatan analisa kelas (The Approach of Class Analysis). serta negara. kita tidak bisa melihat terbuka atau tertutupnya suatu struktur. banyak dipakai di Inggris. yang diyakini menjadi benang merah dari mereka adalah merasakan adanya isolasi social dan tersegregasi dari struktur formal yang sudah ada dan juga institusi ekonomi. pendekatan consumptionist (The Consumptionist Approach) dan juga pendekatan perbandingan internasional (The International Comparative Approach). Dari banyaknya variasi kelompok. Penekanan dari pendekatan ini adalah kemunculan middle mass benar-benar menjadi masyarakat yang terpisah dari masyarakat underclass yang terisolasi atau bahkan tidak memiliki suatu pengharapan. kemiskinan bahkan layak atau tidak layak dalam suatu kategori social. dan kelas pekerja. social. Pendekatan yang pertama adalah The Approach of Class Analysis. yang menekankan pada pentingnya melihat pola-pola kegiatan konsumsi yang menjadi sumber data dalam melihat stratifikasi social yang sebenarnya bermula dari kelas social. standarisasi budaya. dengan konsekuensi memunculkan banyak variasi kelompok-kelompok yang tereksklusi social. kemunculan middle mass. Untuk itulah dibutuhkan penjelasan mengenai pendekatan-pendekatan dalam melihat moblitas social. perlu diingatkan di sini bahwa konsep eksklusi social itu sendiri pada dasarnya harus kembali disesuaikan dengan konteks konstruksi social yang ada dalam suatu struktur masyarakat. Seperti yang tlah disebutkan sebelumnya bahwa makna dari eksklusi social merupakan hasil dari proses perpaduan antara ekonomi. mobilitas social dipahami sebagai suatu perubahan dalam posisi kelas dan orientasi individu. kelas menengah. maka untuk berikutnya akan dibahas mengenai mobilitas social. Namun kelemahan dari pendekatan ini bisa dilihat dari contoh pengklasifikasian kelas yang dikemukakan oleh Payne. Mobilitas social di sini bisa dilihat sebagai mobilitas untuk keluar dan masuk pasar kerja. Untuk kesekian kalinya. Yang menjadi penting dari kelas social ini adalah meningkatnya kenyamanan. kelas service. Pendekatan ini . Pendekatan yang kedua dalam mobilitas social adalah The Consumptionist Approach. Dengan melihat pada makna yang menekankan kepada hasil dari suatu proses. Dalam pendekatan ini.

contoh: dalam masalah ketenagakerjaan yang terjadi eksklusi terhadap perempuan. yaitu tidak mampu memberikan kriteria-kriteria guna mengidentifikasi dan mengukur mobilitas social itu sendiri. Setelah melihat pada pendekatan. legal/politik. politik. Setelah pembahasan secara keseluruhan mengenai definisi. dan lebih memfokuskan pada penyebab dari eksklusi social ketimbang dengan outcomes yang dihasilkan darinya. kita harus melihat pada teori yang kurang lebih menjelaskan mengenai eksklusi social. pendekatan ini lebih banyak menggunakan dimensi-dimensi seperti ekonomi. Level Pertama Kapitalis dan Social division dan eksklusi yang Domestic Labour didasarkan pada kelas. Level Kedua Institusi Sosial. Kekuasaan di antara kelompok. atau biasanya terjadi pada mereka yang merupakan orang asing. yang tidak memiliki keahlian atau disebut juga dengan pelaku ekonomi non-aktif. sex dan keahlian. pendekatan dan teori mengenai eksklusi. dan ideology) yaitu sebagai berikut: Level Konteks Bentuk Eksklusi 1. masyarakat kelas menengah dan kesejahteraan. pendidikan pekerja. serta moral/ideology dalam menerjemahkan eksklusi social. pemaparan yang terakhir pada bagian pendahuluan adalah mengenai pola-pola dari eksklusi social yang dihasilkan dari berbagai sumber (proses tenaga kerja. . pendekatan ini menekankan pada keluasan dan kedalaman dari bukti empiris dimana terdapat suatu pendekatan yang lebih pragmatis secara ideology dan teoretis berdasarkan asumsi.pun tidak luput dari kekurangan. Pendekatan yang terakhir adalah The International Comparative Approach. tingkat ketergantungan dengan negara. seperti hukum. contoh: para pekerja vs organisasi politik. Teori yang pertama adalah pendekatan structural dan cultural. imigran dan non kulit putih. Lebih lanjut lagi. 2. vs masyarakat kelas pekerja. dan juga tingkat kelayakan.

Contohnya ditingkat nasional. housing adalah bagian relevan untuk menjelaskan pertanyaan hubungan antara mobilitas sosial dan mobilitas spasial. yang mencangkup karakteristik jaringan (networks) dan pola-pola kegiatan. dan beberapanya dapat dikelompokkan dibawah bagian produksi dan distribusi. melalui bentuk dari kepemilikan rumah. Eksklusi sosial yang terjadi melalui housing apabila dalam proses housing tersebut terjadi suatu disfungsi kontrol sosial dalam kehidupan masyarakat sehari-hari atau secara luas serta menghalangi hak-hak mereka sebagai warga negara.3. Housing juga memberikan gambaran hubungan antara level proses labour dan level reproduksi sosial. Atau contoh . level eksklusi sosial melalui perencanaan housing yang mengabaikan design dan bangunan perumahan bagi penyandang cacat. Eksklusi Sosial dan Housing Production Eksklusi sosial melalui housing dapat terjadi dalam sejumlah cara yang berbeda. Karena karakternya yang pasti. yang merupakan hal lain yang menjadi sumber eksklusi sosial. di mana tiga level yang diidentifikasikan sebelumnya saling bersilangan. Level Ketiga Moral atau Idoelogi Eksklusi terjadi kepada mereka yang tidak memiliki karakteristik ataupun perilaku yang sesuai dengan norma- norma yang berlaku. II. Pembahasan Eksklusi Sosial dan Housing Housing dirasa tepat untuk mengilustrasikan teori hubungan sosial yang lebih spesifik. Hubungan antara Housing dengan eksklusi social dapat dianalisis dalam sebuah hubungan sosial. Proses housing dapat diartikan sebagai tipe proses-proses yang mengarah pada inklusi sosial atau berkontribusi pada eksklusi sosial. Hal ini dikarenakan housing terkait dengan elemen esensial dari domestic labour processes dan produk penting dari capitalist labour processes (industri pembangunan perumahan).

dan hal ini yang membuat adanya akibat eksklusioner. Sedangkan berdasarkan council housing akses berdasarkan pada kebutuhan dan kemampuan untuk menunggu. mereka yang tidak mampu mengatur sewa atau mendapatkan sewa. Owner occupation sebagai tenure lebih merefleksikan dan memperkuat ketimpangan sosial yang ada dan eksklusi yang berasal dari proses dual labour. terutama perumahan keluarga berpendapatan rendah. harga lebih menetukan. Berdasarkan owner occupation. kelompok etnis. Eksklusi Sosial dan Housing Tenure Ball dan Harloe berpendapat bahwa ada perbedaan “struktur ketentuan perumahan”. sehingg orang-orang yang tidak mampu membeli akan tereksklusikan. Pada dasarnya. Harloe menyatakan bahwa bentuk decommodified ketentuan perumahan sedikit berpotensial mengakibatkan eksklusioner daripada bentuk commodified. dan banyak perempuan yang tidak mampu untuk membeli rumah. meskipun kebutuhan beberapa kelompok. karena akses pada tiap tenure didasarkan pada perbedaan kriteria. Hasilnya adalah eksklusi pada mereka yang tidak dapat menunggu. Asumsinya bahwa karena secara umum komoditas produksi dan pertukaran meningkatkan pembagian eksklusi sosial. di mana sewa tidak ditentukan oleh pasar. owner occupation lebih eksklusioner karena menghalangi akses sejumlah besar rumahtangga miskin.lainnya adalah strategi pembangunan berdasarkan area yang mengeksklusikan pembangunan housing baru dari area. akses didasarkan pada pendapatan dan kesehatan. Misalnya. tinggal sementara. Owner occupation dan council housing mengimplikasikan proses eksklusi yang berbeda. Terdapat kasus di mana owner occupation yang tinggal dalam kondisi rumah yang miskin dan tidak mampu melakukan perbaikan pada rumahnya atau tinggal dalam . sementara itu council housing hanya mengeksklusikan kelompok-kelompok tertentu dari mereka. seperti orang-orang muda yang single biasanya diabaikan. jadi pada council housing. dan mereka yang kebutuhannya tidak diakui dalam kategori alokasi council. pekerja yang berskill sepertinya akan lebih mampu untuk membeli rumah daripada pekerja yang tidak berskill. dan orang-orang yang memiliki masalah dengan kesehatan mental. misalnya orang- orang yang tidak mampu.

Adanya pembagian secara spasial. tapi kebanyakkan terjadi pada level lokasl. penduduk dalam lingkungan . tapi hal yang lebih signifikan adalah aspek kapitalis dengan proses domestic labour adalah pembagian secara spasial. Marcuse menekankan bahwa hasil dari pengungkungan ini adalah eksklusi dari berbagai pasar dan pelayanan vital bagi perkembangan manusia dan pencarian kehidupan yang layak. Eksklusi Sosial dan Spasial Di US. Misalnya. sama halnya jika mereka miskin. Ambang batas didefinisikan sebagai struktur skill market labour dan rumah tangga. Meskipun tidak tereksklusikan secara owner occupation. Lingkungan memakibati karena adanya interaksi sosial yan terjadi pada level ini dan karena karakteristik area. khususnya jarak kediaman. Dapat dikatakan bahwa proses labour melekat sekali dengan spasialisasi. jarak. tapi dari segi rumah tangga ia tereksklusikan. Hal ini dapat terjadi level lokal. rumah tangga yang tidak mampu membeli rumah sendiri mungkin tidak tereksklusi secara sosial jika dapat menemukan kualitas rumah yang terjamin dengan sewa yang mampu dibayar. menjadi masalah penting sebagai penyebab eksklusi sosial. Jadi inklusi yang dilakukan owner occupation tidak sama halnya dengan inklusi sosial. dan gender. nasional. Sejumlah penulis berkomentar bahwa meratanya diskriminasi institusional dalam council housing. dan sudah meluas melalui ideologi kehormatan. Isolasi dan eksklusi sosial akan terjadi kemudian apabila melebihi ambang batas. yang bukan lagi fenomena baru.kondisi rumah yang sangat ramai tapi tidak dapat membeli rumah yang cukup besar sesuai dengan kebutuhannya. Diskriminasi dapat terjadi pada kelas. Akibat ini menjadi kuat ketika kesempatan penduduk untuk berinteraksi dibatasi oleh lingkungan. ras. Secara tradisional. Sama halnya dengan eksklusi yang dilakukan oleh owner occupation tidak sama dengan eksklusi sosial. Di lain sisi tidak dapat begitu saja dikatakan inklusi dalam hal penyewaan rumah sebagai inklusi sosial. regional. dan internasional. Banyak argumen menyatakan bahwa pengungkungan orang-orang miskin kedalam lingkungan yang spesifik. menempatkan dan membantu mendefinisikan level lokal adalah reproduksi wage-labour yang dialienasikan dari eksploitasi (dan sama halnya dengan eksploitasi pekerja domestik dialienasikan dari makna reproduksi).

yaitu orang yang memanage hidupnya sesuai dengan norma dan ‘banned’ dan mereka yang tidak tereksklusikan. Hal ini menyebabkan hanya ‘organised’.... Seperti Eksklusi Sosial dan Rumah . Tenure mempengaruhi cara setiap penduduk dalam suatu rumah tangga terinklusi atau tereksklusikan. penduduk yang pindah tempat tinggal meskipun yang tereksklusikan adalah ‘trapped’. dan studi nasional mengenai mobilitas housing life-course menemukan level substansial mobilitas council housing yang berakibat pada tekanan tenure dari hak (right) menjadi pembelian (buy). hal ini adalah proses eksklusi yang terjadi dalam konteks tenure yang berbeda tipe. memberikan hasil yang berbeda untuk rumah tangga dari tipe yang berbeda. Watt dengan tesisnya ‘trapped tenants’.” Meskipun mereka menjual council housing. mereka tidak perlu keluar dari area tersebut. Studi mengenai mobilitas dan council housing dalam Guildford dan Camden. memiliki nilai substansial mengenai mobilitas intergenerasional dari council housing.. Ideologi pemisah antara dua kelompok dapat dijelaskan sebagai proses dual labour.... Housing tenure berfungsi sebagai struktur kesempatan yang berbeda bagi penduduk di berbagai lingkungan. tapi kontribusi eksklusi dan inklusi sosial adalah kompleks dan tergantung pada susunan institusional yang spesifik dan kondisi perumahan rumah tangga. Literatur mengenai masalah perumahan estate merupakan suatu lingkungan penduduk miskin yang kelompoknya tidak homogen. menyatakan bahwa “tidak hanya anak laki-laki dan perempuan dari council tenants. Eksklusi sosial dan Mobilitas Kediaman Isu yang penting dari mobilitas perumahan bagi eksklusi sosial telah diuji dalam hubungannya dengan council housing di Britania.yang miskin dapat dibagi menjadi ‘respectables’ atau cukup baik dan ‘roughs’ atau buruk. sedangkan yang tereksklusi adalah orang-orang yang secara ekonomi tidak aktif dan rumah tangga ‘non-tradisional’. Pada akhirnya. antara ‘organised’ secara ekonomi terdiri dari orang-orang mampu dan merupakan rumah tangga nuclear family. lingkungan miskin bukan tenure-spesifik. Paugam membedakan antara ‘organised’.

diantaranya labour processes. Misalnya. eksklusi sosial dalam konteks perumahan meningkat di mana sistem eksploitasi domestik telah di perinci. domestic labour mencangkup ongkos dan semua perawatan perumahan itu sendiri. Hampir sama dengan kondisi tersebut. eksploitasi yang dilakukan oleh orangtua pada anak-anak akan memberatkan mereka. mungkin beberapa rumah sudah bermasalah terlebih dahulu di mana homelessness lah yang menjadi solusinya. bagian dari bentuk keseharian dan generalisasi reproduksi kegiatan manusia ini. Hal ini disebabkan karena housing production processes memberikan pengaruh pada pola-pola hubungan masyarakat yang dalam hal ini hubungan tersebut dapat digambarkan seperti pada pola- pola produksi pada sistem kapitalis. Dalam perkembangan teori. Faktor yang meningkatkan homelessness adalah konteks yang berbeda yang mungkin kegagalan untuk mempertahankan stabilitas proses domestic labour. suatu konstruksi social yang tercipta dari adanya eksklusi sosialdapat dijelaskan ke dalam tiga level. . politico-legal interactions. proses housing menciptakan adanya hubungan antara labour dengan actor kapitalis yang dalam hal ini terkait dengan developer dalam proyek pembangunan perumahan. Homelessness legislation adalah legitimasi bagi rumah tangga untuk meninggalkan tempat tinggal bila tidak ingin lagi mendiaminya. Lebih lanjut lagi hubungan social yang tercipta juga identik dengan sistem kelas. Perumahan adalah elemen yang krusial dari proses domestik labour. Kemudian. Homelessness sendiri diidentikan dengan eksklusi sosial. ras. Kemudian. Hal ini memperlihatkan permulaan premature dari sebuah rumah atau rusaknya rumah tangga meningkatkan eksklusi sosial. Ini menyebabkan adanya inklusi sosial. dan gender. jauh sebelum homelessness menjadi masalah di mana perumahan adalah solusinya. misalnya. Pada kenyataannya. rumah tangga perempuan tunawisma sebagai single mother mungkin dikarenakan hubungan yang sudah berakhir di mana seorang ayah sudah tidak mampu lagi menjadi pencari nafkah. Penutup Housing menjadi salah satu factor penyebab munculnya eksklusi social didasarkan pada hubungan social yang berlaku di dalam masyarakat. tapi hanya bagi keluarga nuklear.

tetapi juga dialami oleh orang-orang yang tergolong eksklusif secara status social ekonomi. Adapun seperti disebutkan juga dengan kondisi fisik. eksklusi juga ternyata tidak hanya dapat dikaitkan dengan orang-orang yang tersingkir dari suatu masyarakat atau lingkungan socialnya. serta orang-orang/pekerja yang tidak memenuhi criteria tertentu dan dibutuhkan dalam proses tersebut. yakni konsep duality of interrelated labour processes. Dari setiap penjelasan di atas dapat dikatakan bahwa eksklusi terjadi tidak hanya dari hubungan antara kapitalis dengan pekerja dari proses pembangunan perumahan yang bisa dikatakan unskilled. lokasi yang eksklusif. serta harga mahal yang membuat hanya orang-orang tertentu saja yang sanggup membeli memberikan kesan bahwa lapisan masyarakat ini tereksklusi karena keeksklusifannya. kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa proses pembangunan. Sehingga dari setiap penjelasan di atas. Lebih lanjut lagi. Pada dasarnya konsep mengenai social exclution from housing ini terkait dengan konsep-konsep yang banyak diadopsi oleh para Marxian. . Ini dibuktikan dengan adanya proses eksklusi terhadap orang-orang ‘high-class’ dimana terjadinya proses eksklusi didasarkan pada criteria tempat tinggal yang dipunya. menjadi suatu stimulant bagi terciptanya eksklusi social di masyarakat dan tidak hanya dialami oleh orang-orang yang tertindas saja.dan cultural atau ideological formation. sebagai contoh pada salah satu perumahan elit di Jakarta yang pada awal dibangunnya mengharuskan untuk merelokasi masyarakat setempat di pinggiran Jakarta sehingga dalam hal ini masyarakat tersebut tereksklusi dari kehidupan social dan tempat tinggal asal mereka. Kemudian. unwaged. khususnya perumahan. proses eksklusi juga dirasakan pada masyarakat asli setempat yang tereksklusi dari lingkungan mereka akibat adanya proses pembangunan perumahan sehingga pada akhirnya mereka harus mencari lokasi lain untuk tempat tinggal mereka.