Anda di halaman 1dari 9

BAB VII

ENERGI AKTIVASI DAN PERSAMAAN ARRHENIUS


7.1. Tujuan percobaan
1. Memperhatikan bagaimana ketergantungan laju reaksi pada suhu.
2. Menghitung energi aktivasi (Ea) dengan menggunakan persamaan
Arrhenius.
7.1. Tinjauan Pustaka
Laju atau kecepatan reaksi adalah perubahan konsentrasi pereaksi ataupun
produk dalam satu satuan waktu. Laju suatu reaksi dapat dinyatakan sebagai laju
berkurangnya konsentrasi suatu pereaksi, atau laju bertambahnya konsentrasi
suatu produk.
(Keenan, 1992)
Laju reaksi kimia adalah jumlah mol reaktan per satuan volume yang
bereaksi dalam satuan waktu tertentu. Laju reaksi kimia dapat dinyatakan dengan
persamaan: ‒ dc dt= k1.c
Keterangan : dcdt= Laju diferensial
k1= konstanta laju reaksi
(Tony Bird, 1993)
Konstanta laju reaksi didefinisikan sebagai laju reaksi bila konsentrasi dari
masing-masing jenis adalah satu. Satuannya tergantung pada orde reaksi.
Suatu reaksi yang merupakan proses satu tahap disebut reaksi dasar, misalnya:
H+ + Cl2 HCl + Cl-
Suatu kumpulan dari reaksi-reaksi dasar yang memberikan produk yang
diperlukan atau menguraikan mekanisme suatu reaksi disebut reaksi kompleks,
misalnya:
2N2O5 4NO2 + O2
(Dogra, 1990)
Umumnya reaksi menjadi lebih cepat bila dipanaskan, jadi harga k semakin
besar. Hanya reaksi:
2 NO + O2 2 NO2
Yang mempunyai koefisien temperatur negatif. Menurut Arrhenius, pengaruh
temperatur terhadap k dapat dinyatakan dalam persamaan Arrhenius sebagai
berikut:
dlnkdt = ∆E*RT2 (persamaan Arrhenius)
(soekarjo, 1997)
Faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi:
1. Ukuran partikel/zat
Semakin luas permukaan maka semakin banyak tempat bersentuhan untuk
berlangsungnya reaksi. Luas permukaan zat dapat dicapai dengan cara
memperkecil ukuran zat tersebut
2. Suhu
Semakin tinggi suhu reaksi, kecepatan reaksi juga akan makin meningkat
sesuai dengan teori Arrhenius.
3. Katalis
Adanya katalisator dalam reaksi dapat mempercepat jalannya suatu reaksi.
Kereakifan dari katalis bergantung dari jenis dan konsentrasi yang digunakan.
(http://www.chem-is-try.org/11/19/2010)
Persamaan Arrhenius memberikan nilai dasar dari hubungan antara energi
aktivasi dengan laju proses reaksi. Dari Persamaan Arrhenius ini , energi aktivasi
dapat dinyatakan sebagai berikut :
Ea= -RT ln(kA)
Di dalam ilmu kimia, energi aktivasi merupakan sebuah istilah yang
diperkenalkan oleh Svante Arrhenius, yang didefinisikan sebagai energi yang
harus dilampaui agar reaksi kimia dapat terjadi. Energi aktivasi bisa juga diartikan
sebagai energi minimum yang dibutuhkan agar reaksi kimia tertentu dapat terjadi.
Energi aktivasi sebuah reaksi biasanya dilambangkan sebagai Ea, dengan satuan
kilo joule per mol (kj/mol).
Terkadang suatu reaksi kimia membutuhkan energi aktivasi yang teramat sangat
besar, maka dari itu dibutuhkan suatu katalis agar reaksi dapat berlangsung
dengan pasokan energi yang lebih rendah.
(http://id.wikipedia.org/wiki/Persamaan_Arrhenius/11/20/2010)
Walaupun partikel-partikel itu berorientasi dengan baik, Anda tidak akan
mendapatkan reaksi jika partikel-partikel tersebut tidak dapat bertumbukan
melampui energi minimum yang disebut dengan aktivasi energi reaksi.
Aktivasi energy adalah energi minimum yang diperlukan untuk melangsungkan
terjadinya suatu reaksi. Contoh yang sederhana adalah reaksi exotermal yang
digambarkan seperti di bawah ini:

Energ
Gambar 7.2.1. Proses reaksi eksotermal
i
Jika partikel-partikel bertumbukan dengan energi yang lebih rendah dari energi
Energi
aktivasi, tidak akan terjadi reaksi. Mereka akan kembali Aktivasi semula. Anda
ke keadaan
(EA)
dapat membayangkan energi Reaktanaktivasi sebagai tembok dari reaksi. Hanya
tumbukan yang memiliki energi sama atau lebih besar dari aktivasi energi yang
Panas
dapat menghasilkan terjadinya reaksi. Produk
selama
Di dalam reaksi kimia, ikatan-ikatan
reaksi dipisahkan (membutuhkan energi) dan
membentuk ikatan-ikatan baru (melepaskan energi). Umumnya, ikatan-ikatan
Kemajuan
harus dipisahkan sebelum yang baru terbentuk. Energi aktivasi dilibatkan dalam
menceraikan beberapa dari ikatan-ikatan tersebut.
Ketika tumbukan-tumbukan tersebut relatif lemah, dan tidak cukup energi untuk
memulai proses penceraian ikatan. mengakibatkan partikel-partikel tersebut tidak
bereaksi.
(http://www.chem-is-try.org/ 11/20/2010)
7.1. Alat dan Bahan
1. Alat-alat yang digunakan :
- batang pengaduk
- beakerglass
- botol aquadest
- corong kaca
- erlenmeyer
- gelas arloji
- karet penghisap
- neraca digital
- pipet tetes
- pipet volume
- stopwatch
- tabung reaksi
- termometer
- waterbath
2. Bahan-bahan yang digunakan :
- Aquadest (H2O)
- Kalium iodida (KI)
- Kaliumperokdisulfat (K2S2O8)
- Larutan kanji 3 % (C6H10O5)n
- Natriumtiosulfat (Na2S2O3. 5H2O)

7.2. Prosedur Percobaan


1. Menyediakan 2 buah tabung reaksi yang berisi
Tabung I Tabung II
2- -
S2O8 I S2O32- Kanji
H2O
(0,04 M) (0,1 M) (0,001 M) (3%)
5 mL 5 mL 10 mL 1 mL 1 mL
2. Mendinginkan kedua tabung tersebut dalam piala gelas yang berisi air
dan es (tinggi cairan dalam tabung harus lebih rendah dari cairan dalam
beakerglass) sampai suhu kedua larutan dalam tabung sama (T1).
3. Setelah itu, mencampurkan larutan dalam tabung II ke dalam tabung I
dan pada saat yang bersamaan menyalakan stopwatch sampai timbul
warna biru.
4. Pada saat timbul warna biru, mematikan stopwatch dan mencatat
waktunya(t) dan suhu larutan (T2).
5. Mengulangi langkah 1-4 diatas sebanyak 5 kali dengan suhu awal (T1)
yang berbeda.
7.5. Data Pengamatan
Tabel 7.5.1 Data Pengamatan Energi Aktivasi pada suhu dalam Celcius
t
T1 T2 1Trata-
No. Trata-rata (detik 1t ln 1t = ln k
(°C) (°C) rata
)
0,02
1
0,02
1 7 16 11,5 0,08696 48,1 -3,87328
2
2 10 18 14 0,07143 46 -3,82864
0,02
3 15 20 17,5 0,05714 36 -3,58352
8
4 20 24 22 0,04545 33,2 -3,50255
0,03
5 25 26 25,5 0,03922 25 -3,21888
0
0,04
0

Tabel 7.5.2 Data Pengamatan Energi Aktivasi pada suhu dalam Kelvin

t ln = ln k
T1 T2 1 1
No. Trata-rata (detik 1
(K) (K) Trata− rata t
) t
1. 280 289 284,5 0,00351 48,1 0,021 -3.87328
2. 283 291 287,0 0,00348 46,0 0,022 -3.82864
3. 288 293 290,5 0,00344 36,0 0,027 -3.58352
4. 293 297 295,0 0,00338 33,2 0,030 -3.50255
5. 298 299 298,5 0,00335 25,0 0,040 -3.21888

7.6. Hasil Perhitungan


1.Membuat larutan KI 0,1 N sebanyak 100 mL
N = WMR×1000V
0,1 = W166×1000100
W = 1,66 gr
Jadi, untuk membuat larutan KI 0,1 N sebanyak 100 mL adalah dengan cara
menimbang 1,66 gram KI lalu melarutkannya dengan aquadest sampai 100
mL
2.Membuat larutan K2S2O8 0,04 N sebanyak 50 mL
N = WMR×1000V
0,04 = W270,33×1000V
W = 0,54 gr
Jadi, untuk membuat larutan K2S2O8 0,04N sebanyak 50 mL adalah
dengan cara menimbang 0,54 gram K2S2O8 lalu melarutkannya dengan
aquadest sampai 50 mL

3.Membuat larutan Na2S2O3.5H2O 0,001 N sebanyak 50 mL


N = WMR×1000V
0,001 = W248,18×100050
W = 0,0124
Jadi, untuk membuat larutan Na2S2O3.5H2O 0,001 N sebanyak 50 mL adalah
dengan cara menimbang 0,0124 gram Na2S2O3.5H2O lalu melarutkannya
dengan aquadest sampai 50 mL
Tabel 7.6.1 Regresi linear
(x)
No. 1 ln k (y) x.y x2
T rata− rata

1. 0,00351 -3,87328 -0,01361 1,24×10-5


2. 0,00348 -3,82864 -0,01334 1,21×10-5
3. 0,00344 -3,58352 -0,01234 1,18×10-5
4. 0,00338 -3,50255 -0,01187 1,15×10-5
5. 0,00335 -3,21888 -0,01078 1,12×10-5

∑ 0,017182 -18,00687 -0,06195 5,91×10-5

Rumus : y = bx + a
Perhitungan :
a =
( Σ y ) ( Σ x 2 ) − ( Σx )( Σxy)
n ( Σx 2 ) − ( Σx )
2

=
( - 18,00687) (5,91× 10-5 ) − ( 0,017182)( - 0,06195)
5( 5,91× 10-5 ) − (0,000295)

= 8,711×10-79,041×10-8
= 9,63507

b =
n ( Σ xy) − ( Σx )( Σy )
( )
n Σx 2 − ( Σx )
2

=
5( - 0,06195) − ( 0,017182)( - 18,00687)
( )
5 5,91× 10-5 − ( 0,000295)

= -3,484×10-49,041×10-8
= -3853,92929
Jadi, persamaan garis yang didapat adalah y = -3853,92929x-9,63507
Dimana
Rumus : y = bx + a
Dimana: y = ln K
b = EaR
x= 1T
a = ln A

ln k = EaR×1T + ln A

ln k = ln A- EaRT

b= - EaR
R
- 3850 =
Ea
1,9872 (gcal/gmol.K)

Ea = -7650,72 gcal/gmol.K
a = ln A
ln A = 9,62826
A = 15187,986
Tabel 7.6.2 Data hubungan antara temperatur dan energi aktivasi
No. T rata-rata ln k k EA

1 284,5 -3,87328 0,02079 6331,495


2 287,0 -3,82864 0,02174 6361,649
3 290,5 -3,58352 0,02778 6297,702
4 295,0 -3,50255 0,03012 6347,847
5 298,5 -3,21888 0,04000 6254,881

7.6. Grafik

Grafik 7.7.1. Hubungan antara 1/T rata-rata (°C) dengan ln k

Grafik 7.7.2. Hubungan antara 1/T rata-rata (°K) dengan ln k

7.8. Pembahasan
A. Secara teoritis diketahui bahwa semakin tinggi suhu maka laju reaksi juga
akan semakin cepat begitupun sebaliknya. Dari hasil percobaan diketahui
bahwa jika suhu dinaikkan dari 280 K sampai 298 K dan waktu yang
dibutuhkan untuk bereaksi semakin kecil maka laju reaksinya akan semakin
cepat. Hal ini dapat kita amati dari grafik 7.7.1 yang menunjukkan
hubungan antara k dan T. Sehingga hasil percobaan sesuai dengan teori
yang ada.
B. Menentukan energi aktivasi
Secara teoritis semakin tinggi temperatur maka energi aktivasinya akan
semakin kecil, semakin sedikit waktu yang diperlukan sehingga akan
memperbesar harga laju reaksi. Pada percobaan ini, semakin tinggi suhunya
maka energy Aktivasinya akan semakin kecil. Hal ini dapat dilihat pada
Grafik 7.7.1 yang menunjukkan bahwa harga ln k berbanding terbalik
dengan harga 1/T . Semakin besar ln k maka haga 1/T rata-rata akan
rata-rata

semakin kecil.
7.9. Kesimpulan
1. Laju reaksi akan semakin cepat jika suhu dinaikkan
2. Dari hasil percobaan diperoleh harga Ea sebesar -7650,72 gcal/gmol.K dan
A sebesar 15187,986