Anda di halaman 1dari 6

MENANAM DALAM SEGALA KETERBATASAN

UNTUK MEWUJUDKAN HUTAN YANG LESTARI

Oleh :

Wahyu Catur Adinugroho1

PENDAHULUAN

Judul tersebut adalah sebuah potret gambaran yang terjadi di salah satu dusun yang ada di
Wonogiri. Potret ini penulis peroleh pada saat mendampingi peneliti dari Finlandia melakukan
penelitian, kurang lebih selama 3 (tiga) minggu berinteraksi dengan penduduk dan menyusuri
tiap lokasi hutan yang telah dibangun oleh masyarakat dengan segala keterbatasan (geologis dan
ekonomi).

Selopuro, itulah nama dusun yang menjadi potret penulis. Melihat namanya saja, orang jawa
pasti sudah mengetahui bagaimana kondisi dusunnya, karena pada umumnya nama suatu dusun
diambil dari sesuatu yang terjadi pada daerah tersebut atau keberadaan sesuatu yang khas pada
daerah itu. Selopuro berasal dari bahasa jawa yang terdiri dari 2 kata yaitu “selo” dan “puro”.
Dalam bahasa jawa, “selo” berarti batu dan “puro” dapat diartikan sebagai kerajaan sehingga
selopuro dapat diartikan sebagai kerajaan batu, ya memang kondisi inilah yang ada di dusun
selopuro. Hampir sebagian besar wilayah yang ada di dusun selopuro berupa areal perbukitan
yang dipenuhi dengan batu-batu sehingga masyarakat memerlukan kearifan tersendiri dalam
menyikapi untuk memenuhi kebutuhan hidup dari kondisi yang ada.

Gambar 1. Hutan diantara bebatuan yang dibangun oleh masyarakat selopuro

Ditengah maraknya upaya pemerintah untuk membangun hutan kembali dengan berbagai
program seperti , GERHAN, OMOT (One Man One Tree), gerakan menanam sepuluh pohon,
seratus pohon, sejuta pohon atau semilyar pohon, penulis melihat bahwa apa yang terjadi di
Selopuro adalah suatu motivasi bagi seluruh rakyat Indonesia untuk kembali membangun hutan.

1
Peneliti di Balai Penelitian Teknologi dan Perbenihan Samboja, Kalimantan Timur
Jl. Soekarno-hatta km 38 samboja
wahyuk2001@yahoo.com
KEARIFAN UNTUK MEMBANGUN HUTAN DALAM KETERBATASAN

Dengan apa yang telah dirasakan sebelum terbangunnya hutan (sebelum tahun 1960-an),
kesulitan mendapatkan sumber air, banjir dan longsor, kesejahteraan dan tingkat pendidikan
yang sangat rendah telah mendorong warga selopuro untuk bersikap arif terhadap kondisi
ekonomi dan geologis yang ada.

Beberapa kearifan tradisional yang dilakukan masyarakat selopuro karena keterbatasan geologis
dan ekonomis dalam membangun hutan, yaitu :

- Kondisi Geologis

Kondisi tanah yang berbatu tidak mematahkan semangat masyarakat dusun selopuro
untuk bertahan hidup. Disela-sela antara batu yang ada sedikit tanah mereka manfaatkan
untuk bercocok tanam, sehingga sedikit celah batu sangat berharga bagi mereka. Batu-
batu ditata dan dipindahkan sedemikian rupa membentuk teras-teras untuk mencegah
longsor, dan menahan hilangnya daun-daunan. Bekas-bekas batu yang dipindahkan inilah
yang selanjutnya digunakan untuk bercocok tanam.

Pohon-pohon jati, mahoni ditanam dipinggir teras sebagai batas dan mereka berharap
daun-daun yang jatuh dapat sebagai pupuk dan membentuk lapisan tanah yang nantinya
dapat ditanami.

Gambar 2. Teras yang dibuat untuk menyiasati kondisi geologis

- Kondisi Ekonomi

Dengan kondisi geologis yang ada, ternyata berdampak pada kondisi ekonomi
masyarakat. Sedikitnya lahan produktif telah membawa masyarakat dalam kondisi tingkat
kesejahteraan yang rendah. Kondisi ini menyebabkan masyarakat banyak yang
meninggalkan dusun , pergi merantau ke kota besar. Dilain pihak, masyarakat yang tetap
tinggal di dusun berusaha untuk tetap survive/arif dengan kondisi yang ada.

Tanaman pepohonan yang ditanam di pinggir yang semula hanya jadi batas, lama
kelamaan tumbuh besar dan memberikan hasil. Melihat hasil yang diperoleh, masyarakat
melihat sebuah potensi dari menanam pohon/kayu untuk memenuhi kebutuhan hidup
mereka. Masyarakat mulai cermat menentukan lahan yang produktif untuk pertanian,
lahan-lahan yang semula untuk pertanian tetapi kurang memberikan hasil yang optimal
akhirnya mereka ganti menjadi kebun kayu. Semuanya dikerjakan dengan swadaya,
karena keterbatasan ekonomi, bibit mereka cari dengan cara mencabut bibit-bibit yang
tumbuh alami di hutan-hutan yang jaraknya cukup jauh dari dusun mereka. Pupuk
menjadi barang yang mahal sehingga hanya serasah daun dan jika punya kotoran ternak
yang mereka manfaatkan untuk mempercepat pertumbuhan.

Upaya yang telah dilakukan tersebut kini telah membuahkan hasil, dulu lahan yang
berupa batu-batuan dan kurang produktif untuk pertanian telah berubah menjadi lahan
yang ditumbuhi oleh pohon-pohon besar jati dan mahoni. Sehingga terbentuklah sebuah
hutan di sekitar rumah-rumah. Keberadaan hutan ini telah dirasakan banyak manfaatnya,
masyarakat tidak kesulitan lagi mendapat air, tidak terjadi longsor, erosi dan yang utama
telah merubah perekonomian masyarakat.

KEARIFAN UNTUK MENJAGA KELESTARIAN HUTAN

Masyarakat seakan takjub dengan kondisi yang ada sekarang ini, dulunya berupa lahan berbatuan
dan gersang kini telah berubah menjadi hutan mahoni dan jati yang hijau. Pengalaman tahun
sebelum 1960-an ternyata masih membekas dan menimbulkan trauma yang mendalam sehingga
mereka tetap berupaya untuk mempertahankan hutan yang telah ada. Hal ini ditunjukkan dengan
kearifan dalam memanen kayu dan keinginan untuk tetap menanam sehingga tidak ada areal
yang terlantar, meskipun kondisinya berbatu. Upaya untuk melestarikan hutan ini juga
mendapatkan dukungan dari pemerintah daerah dan beberapa NGO (Non Government
Organization).

- Masyarakat

Masyarakat selopuro memiliki sudut pandang yang berbeda dalam memaknai sebuah
pohon. Pohon adalah tabungan bagi mereka, terlebih pohon jati. Masyarakat sebagian
besar hanya akan menebang pohon jika memeliki kebutuhan mendesak dan besar yang
tidak tercukupi dari hasil pertanian/peternakan. Menebang pohon adalah benar-benar
menjadi pilihan terakhir. Beberapa alasan menebang kayu yang diungkapkan oleh
masyarakat diantaranya adalah untuk membayar sekolah, berobat dan membangun
rumah. Penebangan dilakukan dengan memilih pohon-pohon yang sudah tua dan paling
besar, sehingga secara tidak langsung masyarakat telah melakukan teknik tebang pilih.
Kondisi inilah yang memungkinkan hutan rakyat di selopuro tetap lestari.

Faktor yang lain dari perilaku masyarakat dalam menjaga kelestarian hutan adalah
kesadaran masyarakat untuk tetap menanam, sehabis menebang masyarakat akan
melakukan penanaman kembali, bahkan diungkapkan terdapatnya kesepakatan dari
masyarakat, apabila seseorang karena kelalaiannya (mis : menggembala ternak) sehingga
merusak pohon yang yang ditanam, diwajibkan untuk mengganti dengan melakukan
penanaman sebanyak 10 pohon.

Upaya penanaman yang telah dilakukan telah


mengubah selopuro menjadi hutan karena
regenerasi secara alami telah terjadi khususnya
mahoni, sehingga dengan mengatur regenerasi
yang ada, melakukan penjarangan akan
meningkatkan produktivitas kayu. Sedangkan pada
jenis jati, regenerasi juga telah terjadi, tegakan
yang ditebang akhirnya semai kembali dan tumbuh
besar kembali menjadi pohon. Berbagai
improvisasi telah dilakukan masyarakat untuk
meningkatkan pertumbuhan dan kualitas pohon,
masyarakat memanfaatkan serasah dan pupuk
kandang sebagai pupuk, melakukan pemangkasan
pada tanaman jati, melakukan penebangan jati
sependek mungkin mendekati tanah untuk
menghasilkan semai yang bagus, dan ada juga
yang berimprovisasi melakukan pemangkasan
pucuk pada saat pohon sudah besar dengan Gambar 3. Mahoni yang tumbuh
harapan akan dihasilkan batang yang punya di celah batu hasil
diameter pangkal dan pucuk hampir sama. regenerasi alami

- Pemerintah

Tentu saja keberhasilan membangun hutan ini tidak terlepas dari campur tangan
pemerintah, meskipun inisiasi awal dilakukan oleh masyarakat sendiri, pada akhirnya
pemerintah melihat apa yang telah dilakukan masyarakat perlu di dorong untuk menjaga
kelestarian hutan yang telah dibangun. Beberapa hal yang dilakukan diantaranya adalah :
o Mendorong masyarakat untuk tetap menanami lahan kosong melalui program
GERHAN.
o Mengeluarkan kebijakan pengaturan penebangan yang disusun berdasarkan
masukan dari masyarakat. Tercatat terdapat 2 (dua) peraturan daerah yang
mengupayakan untuk menjaga kelestarian hutan melalui pengaturan penebangan.

1. Peraturan daerah Kabupaten Wonogiri No. 13 tahun 2002 tentang retribusi


izin pengangkutan kayu rakyat, bahwa dalam peraturan tersebut dicantumkan
ukuran pohon minimum yang boleh ditebang (Tabel 1).
Tabel 1. Ukuran Pohon Minimum Yang Diijinkan Ditebang

No Jenis Kayu Keliling (1,3 m)


1 Jati > 80 cm
2 Mahoni > 90 cm
3 Acacia > 90 cm
4 Sono > 90 cm
5 Jenis lain > 80 cm

2. Keputusan Bupati Wonogiri No. 161 tahun 2006 tentang tata cara pemberian
ijin menebang pohon milik rakyat, bahwa dalam peraturan tersebut dijelaskan
yaitu camat menjadi penanggung jawab dalam pemberian ijin menebang
pohon (Gambar 4).

“Surat Persetujuan
Ijin Menebang”

Pemohon KADES Camat

“Surat Keterangan Kec, Desa, PKL,


Ijin Menebang” Perhutani

“Berita Acara
Pemeriksaan
Pohon Milik
Rakyat”

Gambar 4. Bagan Alur Perijinan Menebang Pohon Milik Rakyat

- NGO (Non Government Organization)

Upaya yang telah dilakukan masyarakat dan menunjukkan keberhasilan mendorong


beberapa NGO tahun 2000-an melakukan upaya untuk membantu masyarakat dalam
melestarikan hutan diantaranya melalui program sertifikasi hutan yang difasilitasi oleh
LEI, WWF, PERSEPSI. Gelar hutan tersertifikasi akhirnya diraih oleh warga selopuro
pada tahun 2004. Upaya sertifikasi diharapkan dapat meningkatkan nilai jual dari kayu
yang berasal dari selopuro dan didapatnya insentif lain dalam upaya menjaga kelestarian
hutan. Satu set peralatan lengkap industri kerajinan kayu/mebel telah diperoleh warga
selopuro sebagai salah satu insentif dari sertifikasi, peralatan ini digunakan untuk
mengembangkan industri mebeler yang ramah lingkungan dengan memanfaatkan limbah
kayu jati, seperti ranting dan cabang yang pada umumnya hanya dimanfaatkan sebagai
kayu bakar. Pengembangan usaha ini diharapkan juga untuk menciptakan lapangan kerja
baru sehingga dapat menekan angka urbanisasi, pengangguran dan meningkatkan
kesejahteraan masyarakat. Tetapi sangat disayangkan manfaat sertifikasi ini belum dapat
dirasakan oleh seluruh masyarakat karena tidak adanya nilai tambah dari kayu dan
sementara insentif yang ada belum dapat dinikmati oleh seluruh masyakat, ya memang
tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk membuat masyarakat merasakan
manfaat dari sertifikasi hutan. Upaya yang telah dilakukan NGO layak untuk diapresiasi
dengan melakukan pendampingan secara terus menerus untuk mendorong masyarakat
tetap melestarikan hutan dan predikat hutan bersertifikasi tetap disandang oleh warga
selopuro. Meski demikian upaya untuk memeratakan manfaat dari sertifikasi harus
dilakukan untuk mencegah kecumburuan sosial yang mungkin dapat terjadi.

Gambar 5. Hasil Kerajinan/mebeler Memanfaatkan Limbah Kayu Jati